Ikhtisar Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 25 Ikha 1392 HS/Oktober 2013

Di Masjid Baitul Masroor, Brisbane, Australia.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ (الأعراف: 30)

“Katakanlah, ‘Tuhanku telah memerintahkan berbuat adil. Dan arahkan perhatian kamu di setiap waktu dan tempat ibadah, dan berdoalah kepada-Nya, jadikan diri kamu tulus kepada-Nya dalam agama. sebagaimana Dia menjadikan kamu, seperti itulah kamu akan kembali.” (QS.7:30).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (الأعراف: 32)

“Hai anak Adam, pakailah perhiasan kamu di setiap waktu dan di tempat ibadah dengan pakaian ketakwaan kepada Allah, dan makan dan minumlah tetapi jangan melampaui batas; sesungguhnya, Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.7:32).

Dengan karunia-Nya Allah telah memberi taufik kepada para Ahmadi Brisbane dan Ahmadi Australia untuk membangun sebuah mesjid di Brisbane, Australia. Kita tidak dapat bersyukur secara memadai sepenuhnya kepada Tuhan untuk karunia ini.

Area ini dibeli sekitar lima belas tahun yang lalu dan rumah misi dan ruang shalat dibangun. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih mengunjungi Brisbane untuk pertama kalinya pada tahun 2006 beliau merasa bahwa meskipun adanya bangunan-bangunan tersebut, area tersebut tidak memiliki semangat keaktifan yang sekarang dapat dirasakan dengan didirikannya mesjid.

Ini adalah karunia Allah bahwa ia telah membentuk hubungan yang kuat antara Jemaat dan Khilafat, hubungan yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Hal ini berdasarkan bai’at dan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as, yang menyebutkan ikatan kecintaan, persaudaraan dan ketaatan dalam syarat bai’at beliau, dan ikatan ini sekarang juga merata di kalangan Jemaat dan sistem Khilafat yang beliau dirikan.

Mesjid juga merupakan kebutuhan kita dan akan dibangun sesuai dan ketika Jemaat membutuhkannya. Khilafat disebutkan karena mesjid ini juga dibangun sebagai tanggapan atas inspirasi dari Khalifah-e-Waqt. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa beliau telah menarik perhatian kepada hal ini bahwa mesjid merupakan sumber (pusat) Tabligh.

Selama kunjungan beliau dari Brisbane pada tahun 2006 beliau bersabda bahwa pusat shalat itu sangat baik, tetapi sebuah mesjid yang sebenarnya harus dibangun. Jemaat menanggapi dengan patuh dan dengan kasih karunia Allah, mesjid dibangun di area tersebut. Berbagai hambatan yang dihadapi selama pembangunan mesjid akan memberikan orang di sini ukuran pandangan yang sangat berbeda dari yang dimiliki orang lain terhadap mesjid.

Meskipun beberapa tetangga keberatan dengan pembangunan masjid, setelah upaya selama delapan sampai sembilan bulan Dewan Lokal memberikan izin untuk pembangunan dan dengan demikian pembangungan dimulai pada Desember 2012 dan sekarang kita memiliki sebuah mesjid yang indah.

Pembangunan baru serta renovasi bangunan sebelumnya menghabiskan biaya 4,5 juta dolar Australia. Anggota-anggota Jemaat memberikan dengan sangat murah hati untuk proyek tersebut. Salah satu anggota menyumbang 125.000 dolar AS, sementara yang lain memberikan 100.000 dolar. Semua orang memberikan kontribusi dengan apa yang mampu mereka berikan, mungkin lebih dari yang mereka mampu. Seperti tradisi wanita Ahmadi, di sini juga mereka menyumbangkan perhiasan mereka untuk membangun mesjid. Semoga Tuhan memberkati semua orang yang memberikan pengorbanan!

Perlu diingat bahwa semangat pengorbanan, cinta, ketulusan dan ketaatan tidak boleh timbul dari rasa ghairat sementara dalam diri seorang Ahmadi tetapi harus abadi dan juga harus ditanamkan pada generasi kita berikutnya. Memang, ghairat dan semangat hanya akan bertahan bila perhatian diberikan kepada perintah-perintah Allah, ketika seseorang menjalin hubungan sejati dengan Allah, ketika hak-hak mesjid dipenuhi, ketika kewajiban bai’at kepada pecinta sejati Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi, barulah kita juga akan dapat memenuhi kewajiban terhadap mesjid ini.

Khotbah hari ini didasarkan pada beberapa perintah Tuhan untuk mendorong kita dan generasi berikutnya untuk terus memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut. Ayat-ayat yang dibacakan di awal adalah ayat-ayat 30 dan 32 dari Surah Al-A’raaf dan itu adalah mengenai mesjid. Ayat itu menyebutkan apa yang diharapkan dari orang mukmin serta menasehati mereka bahwa orang yang memiliki hubungan dengan mesjid akan mencapai rahmat Tuhan jika mereka menjadi penyembah sejati Tuhan.

Pertama dan terpenting, diperintahkan tentang keadilan, menegakkan keadilan yang dimulai dari batu-bata pertama bangunan masyarakat, yaitu keluarga sampai ke tingkat internasional. Inilah yang dibutuhkan untuk perdamaian pada setiap tingkat di dunia, dan kegagalan menegakkan hal inilah yang dapat menciptakan kekacauan dan memang demikian. Keadilan tidak hanya diperlukan dalam hal sosial dan di antara orang-orang, pada kenyataannya keadilan juga menuntut bahwa kewajiban perintah-perintah Allah dipenuhi dan kewajiban ibadah kepada Allah seperti yang seharusnya ditunaikan.

Keuntungan ibadah semacam ini didapatkan oleh orang yang melakukannya saja. Setiap mukmin sejati harus memperhatikan hal ini, dan hal ini menjadi mungkin ketika shalat lima waktu dilaksanakan dan perubahan murni dirasakan dalam diri seseorang ketika berusaha untuk memenuhi hak-hak umat manusia.

Memenuhi hak-hak umat manusia bisa berupa menjalankan perintah-perintah yang diberikan untuk para suami supaya memberikan hak-hak istri-istri mereka, memperhatikan kebutuhan mereka, bersikap lembut kepada mereka dan menjaga ikatan kekeluargaan mereka, menghormati orang tua, saudara kandung dan kerabat lainnya dari istri, tidak mengharapkan kekayaan dan penghasilan istri dan cermat dalam hal (melaksanakan atau memberikan) pendidikan dan pelatihan kepada anak-anak. Menjadi panutan bagi anak-anak mereka sehingga mereka tetap terhubung dengan agama. Perlu diingat, bahwa anak-anak akan memiliki penghormatan kepada agama, terutama pada usia 13 sampai 14 tahun, biasanya ketika melihat ayah mereka juga menghormati agama, ketika sang ayah dawam mengerjakan shalat dan membaca Al-Quran.

Umumnya terlihat bahwa ibu lebih peduli tentang anak-anak mereka dalam hal agama atau setidak-tidaknya mereka mengungkapkan tentang hal ini kepada Hadhrat Khalifatul Masih. Demikian pula, setiap istri memiliki tanggung jawab untuk bersikap adil terhadap tugasnya. Tanggung jawab utamanya adalah keluarganya, menghormati suami dan hubungan kekeluargaan, menjaga anak-anak dan pendidikan akhlak mereka.

Harus ada perhatian khusus dalam membesarkan anak-anak di lingkungan ini dan adalah tugas kedua orang tua untuk melakukan pendidikan agama anak-anak mereka. Menanamkan pada anak-anak bahwa mereka adalah Muslim Ahmadi, dan untuk ini orang tua harus menjadi panutan dan mendidik anak-anak tentang perbedaan antara mereka dengan yang lain [yang bukan Ahmadi]. Jika orang tua tidak membimbing dengan teladan, mereka tidak menegakkan keadilan.

Setiap pria dan wanita yang ingin dianggap sebagai mukmin sejati harus berusaha dan memenuhi hak-hak satu sama lain dalam hal hubungan masyarakat umum, entah itu hubungan bisnis atau masalah lain. Penting untuk bersikap jujur dan adil. Allah telah menjadikan masyarakat orang mukmin sebagai satu kesatuan.

Standar ini akan tegak bila setiap orang sadar akan penderitaan orang lain, dan ketika keadilan terpenuhi. Nyeri pada satu bagian tubuh dirasakan oleh seluruh tubuh, dan inilah hendaknya bagaimana kita harus menyadari rasa sakit orang lain.

 Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa seseorang harus merasakan penderitaan orang lain. Kita memberitahu dunia tentang hubungan persaudaraan kita, kita harus juga menunjukkan dalam amalan.

Dalam resepsi peresmian mesjid yang diadakan untuk tamu Australia beberapa hari lalu, pidato Hadhrat Khalifatul Masih berpusat pada subjek bahwa jika hak-hak manusia tidak diberikan maka ibadah kepada Allah adalah sia-sia. Ketika hak-hak manusia diberikan maka setiap tindakan menjadi suatu tindakan ibadah dan semakin meningkatkan ibadah kepada Tuhan.

Muslim yang memahami pentingnya ibadah akan selalu berusaha untuk memenuhi syarat hak-hak umat manusia, dan para Ahmadi memahami konsep ini dengan sangat baik karena mereka telah menerima Imam Zaman, sehingga mereka dapat mengumpulkan karunia Allah, memenuhi kewajiban ibadah kepada Allah dan mengenali tujuan penciptaan manusia.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Bersikap kasih-sayang dan simpatik kepada kemanusiaan adalah amalan ibadah besar. Ini adalah sumber yang luar biasa untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.”

Ajaran indah ini membuat kita memenuhi syarat keadilan dan mendekatkan kita kepada Tuhan. Ketika manusia pergi ke mesjid dengan pikiran-pikiran ini, dia datang dalam pelukan kecintaan Allah. Upaya seorang mukmin untuk menjalankan: وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ “… Dan arahkan perhatian kamu di setiap waktu dan tempat ibadah… “ akan mengumpulkan karunia Allah.

Seperti kita ketahui, setiap upaya kita diikuti oleh tindakan Allah, dan kita tidak bisa mencapai suatu kebajikan hanya melalui kekuatan kita sendiri, dan kita tidak dapat mencapai kesucian tanpa tindakan Tuhan. Keinginan baik dan upaya untuk melakukan kebaikan yang terus menarik perhatian kita kepada Tuhan serta pertolongan yang kita mohon dari-Nya akan membuat kita layak untuk dihitung di antara mereka yang: “…tulus kepada-Nya dalam agama…” dan orang-orang tersebut dapat melihat pesan Allah yang bercahaya: أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ — ” … aku menjawab doa orang yang berdoa ketika dia berdoa kepada-Ku … “ (QS.2:187).

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hal ini juga penting untuk pengabulan doa bahwa manusia menanamkan perubahan murni dalam dirinya. Jika dia tidak dapat menghindari perbuatan buruk dan melanggar batas-batas Allah Taala, maka tidak akan ada efek dalam doa.”

Batas-batas Allah dapat dipahami dari perintah-perintah Al-Quran, perintah-perintah ini adalah batas-batas yang dengan mengikutinya seseorang meraih kedekatan dengan Allah dan juga menyaksikan pengabulan doa. Ayat kedua menyatakan kepada anak cucu Adam untuk menghiasi diri ketika pergi ke mesjid dan perhiasan setiap orang mukmin adalah pakaian takwa.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan: “Keindahan rohaniah manusia adalah dengan berjalan di sepanjang semua jalan halus ketakwaan. Mereka adalah segi-segi menarik keindahan rohani. Hal ini jelas bahwa berhati-hati terhadap amanat Tuhan Yang Maha Esa, dan memenuhi semua janji keimanan, menggunakan semua kemampuan dan anggota badan baik yang nyata, seperti mata, telinga, tangan, kaki dan lain-lain; dan yang tersembunyi seperti pikiran dan kemampuan serta sifat lainnya pada kesempatan yang tepat serta menahannya dari bertindak pada kesempatan yang tidak tepat, berhati-hati terhadap serangan halus keburukan dan berhati-hati terhadap hak-hak sesama manusia, adalah cara menyempurnakan keindahan ruhani seseorang.

Allah Taala dalam Al-Quran telah menggambarkan ketakwaan sebagai pakaian, libas-ut-taqwa (pakaian takwa) adalah ungkapan Al-Quran. Ini merupakan isyarat bahwa keindahan dan perhiasan ruhani diraih melalui ketakwaan.

 Ketakwaan berarti bahwa seseorang harus menjaga dengan cermat bahkan terhadap rincian terkecil amanat Ilahi dan juga semua amanat serta perjanjian terhadap sesama manusia, sedapat mungkin. Artinya, kita harus berusaha memenuhi, sebaik kemampuan seseorang, semua persyaratan sampai rincian yang terkecil”.[2]

Seperti disebutkan sebelumnya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah lebih jauh menguraikan dalam kutipan ini bahwa pertama, seseorang harus menjaga terhadap amanat dan perjanjian. Amanat yang diberikan kepada para Ahmadi yang mereka diperintahkan untuk mengamalkannya adalah mendahulukan iman atas hal-hal duniawi.

Jika hal ini diikuti maka ibadah kita kepada Allah akan sedemikian rupa, sehingga akan memberikan kedekatan kepada Allah dan kita akan melihat tanda-tanda pengabulan doa, dan setiap tindakan kita akan menjadi untuk mencari keridhaan Allah. kita akan datang ke mesjid murni demi Allah dan kita akan memenuhi hak-hak masyarakat begitu mesjid dibangun.

Allah memerintahkan untuk pergi ke mesjid dengan berhias yang akan meningkatkan keindahan takwa, dan seperti dijelaskan dalam kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as, takwa mewujud ketika hak-hak Allah dan manusia dipenuhi, ketika upaya-upaya dilakukan untuk meningkatkan standar ibadah kepada Allah, ketika shalat seseorang terjaga dan dia sadar akan kesucian mesjid.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa banyak orang memohon doa tetapi beberapa wajah jelas menunjukkan bahwa mereka hanya memintanya sebagai adat kebiasaan atau setidaknya mereka sendiri tidak tertarik untuk berdoa dan shalat. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih bertanya kepada mereka tentang mengerjakan shalat lima waktu, mereka membuat alasan sebagai jawabannya. Ini adalah sikap yang sangat salah, dengan meminta orang lain untuk berdoa tetapi dia sendiri tidak berdoa.

Kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah untuk menghidupkan kembali Islam, untuk menciptakan bumi yang baru dan langit yang baru, dan ini tidak akan terpenuhi kecuali kita masing-masing — pria, wanita, tua dan muda — menghormati amanat kita dengan ketakwaan.

Jika Hadhrat Khalifatul Masih diminta untuk berdoa maka dia sendiri juga harus berdoa. Memang, Hadhrat Muhammad Rasulullah saw bersabda kepada salah seorang sahabat beliau yang telah memohon didoakan, supaya ia pun membantu beliau saw. dengan doa dan amalannya sendiri.

Tujuan Jemaat Ilahi adalah supaya setiap individu memiliki hubungan dengan Tuhan. Seperti yang Hadhrat Khalifatul Masih sebutkan dalam khotbah sebelumnya bahwa kita harus menjadi Wali (sahabat Allah) dan Pir (tokoh spiritual) bukannya pengikut Pir. Hak-hak ibadah kepada Allah serta hak-hak umat manusia harus dipenuhi.

Hal ini juga harus diingat bahwa maksud Hadhrat Khalifatul Masih untuk menjadi Wali dan Pir tidak berarti bahwa seseorang memberikan diri mereka sendiri status keruhanian Wali atau Pir, sebaliknya, itu menunjukkan hubungan dengan Tuhan dan kemudian hubungan dengan Khilafat. Hadhrat Muhammad Rasulullah saw menubuatkan kemenangan bagi mereka yang terhubung dengan Jemaat.

Dengan pembangunan mesjid di Brisbane tanggung jawab telah meningkat, karena mesjid juga perlu diisi dengan perhiasan yang merupakan perhiasan dalam pandangan Allah. Ini adalah tanggung jawab Jemaat lokal untuk memenuhi kewajiban masing-masing dan menyampaikan pesan Islam Ahmadiyah kepada orang-orang di wilayah ini.

Jika semua ini dilakukan maka Tuhan pasti akan menerima pengorbanan yang dilakukan dalam membangun mesjid ini. Sebuah hadits menceritakan, bahwa orang-orang yang datang ke mesjid dengan semangat untuk beribadah kepada Tuhan siang dan malam akan mendapatkan kemurahan Allah.

Waktu antara satu shalat dan berikutnya harus dijalani seakan-akan seseorang menjaga perbatasan, menjaga dirinya terhadap setan, dan dia harus pergi ke mesjid dengan pakaian takwa. Ini adalah tanggung jawab setiap Ahmadi untuk menegakkan standar ini di dunia materialistik ini. Jika kita memahami hakikat ini, kita akan menjadi penerima karunia Allah lebih dari sebelumnya.

Ayat kedua yang dibacakan di awal juga menyatakan: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ “… makan dan minumlah tetapi jangan melampaui batas, sesungguhnya, Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas …” Salah satu arti dari ini adalah mengambil jalan tengah dalam diet, dan memakan makanan yang halal dan thayyib secara seimbang, karena diet mempengaruhi pikiran dan perasaan seseorang.

Terlalu banyak makan membuat orang malas serta lamban, dan terlalu rakus pada waktu makan malam dapat mengakibatkan tidak bangun untuk shalat Subuh. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa orang-orang kafir hanya memikirkan makanan dan minuman seperti yang dilakukan hewan, sedangkan tujuan orang beriman lebih tinggi.

Makanan dan minuman telah dibuat untuk manusia tetapi makan hendaknya tidak hanya menjadi tujuan, melainkan keridhaan Allah-lah yang harus dicari. Hal ini menjadi mungkin ketika seseorang tidak terlalu tenggelam dalam hal-hal duniawi. Allah tidak menyukai keberlebih-lebihan, dimana makan dan minum dan kesenangan semacam itu menguasai pikiran seseorang.

Memang, Dia tidak melarang untuk mencari nafkah, bahkan Dia berfirman “Lakukan pekerjaan kalian dengan penuh perhatian”. Tetapi ketika mencari nafkah menjadi sebab melupakan agama maka seseorang dimahrumkan (diluputkan) dari berkat-berkat. Semoga Allah menyelamatkan masing-masing kita dari sikap berlebih-lebihan tersebut yang membuat kita jauh dari Tuhan!

Ini adalah karunia Allah bahwa mayoritas para Ahmadi memahami tanggung jawab ini dan seperti yang disebutkan sebelumnya, setelah memahami hakikat pengorbanan harta memberikan kontribusi besar; mereka tidak hanya menghabiskannya untuk diri mereka sendiri. Namun, Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan bahwa beliau telah berkali-kali menyatakan keprihatinannya untuk meramaikan mesjid, karena itu semangat serupa harus ditunjukkan dalam meramaikan mesjid.

Mesjid baru di Brisbane sangat indah dan dengan karunia Allah area tertutupnya (area yang dibangun) cukup besar. Aula lama telah direnovasi dengan indah dan sekarang 1000 jamaah dapat mengerjakan shalat di mesjid.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa mungkin 500 jamaah yang hadir pada shalat Jumat, jadi ada ruang untuk menampung lebih banyak. Banyak Ahmadi mungkin telah melakukan perjalanan dari Sydney dan daerah lainnya untuk shalat Jumat dan jika hanya Ahmadi lokal datang, mesjid mungkin tampak tidak terisi.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa beliau berdoa semoga jumlah Jemaat lokal tumbuh, dan kebahagiaan sejati akan dirasakan ketika perkembangan ini bukan karena Ahmadi Pakistan namun karena penduduk lokal Australia menerima Islam Ahmadiyah. Namun keinginan ini tidak dapat terpenuhi tanpa usaha tabligh. Peningkatan upaya dan doa dalam hal ini harus dilakukan. Semoga kita melampaui kapasitas mesjid ini. Pembangunan mesjid ini bukanlah tujuan akhir di wilayah tersebut, sebenarnya ini adalah langkah pertama. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa mesjid merupakan sumber mengenalkan Islam.

Semoga Allah membuat penduduk setempat segera tertarik ke mesjid, Insya Allah, diharapkan mereka akan tertarik. Di mana pun di dunia dimana kita telah membangun mesjid baru, profil kita telah meningkat berlipat ganda. Untuk itu tanggung jawab ini harus dihargai.

Mereka yang telah hijrah dari Pakistan [ke Australia], sebagian besar telah hijrah karena [di Pakistan] mereka tidak diizinkan untuk mengamalkan keyakinan mereka dengan bebas, tidak bisa bebas beribadah di mesjid, tidak bisa bebas menyebut diri mereka Muslim Ahmadi. Untuk berusaha dan mencapai tujuan ini di sini, kecintaan Allah harus dicari sehingga ajaran Islam yang indah dapat disampaikan kepada orang-orang. Mayoritas para Ahmadi tidak di Australia karena kepentingan pribadi, melainkan mereka ada disana karena penentangan terhadap Ahmadiyah di Pakistan.

Kenyataan ini juga harus disampaikan kepada generasi berikutnya sehingga mereka menghargainya. Syukur atas karunia Allah ini adalah dalam bentuk memberikan perhatian terhadap meramaikan mesjid ini dan memenuhi hak-haknya serta memberikan perhatian kepada tabligh.

Di Pakistan setiap hari beberapa kejahatan atau yang lain dilakukan terhadap para Ahmadi. Beberapa hari yang lalu Hadhrat Khalifatul Masih menerima surat bahwa dua orang telah mendaftarkan FIR (‘first incident report’ – ’laporan kejadian pertama’ dari kejahatan) di sebuah desa, karena mereka melihat menara dan kubah dan kemudian menemukan bahwa menara dan kubah itu milik mesjid ‘Qadiani’ sehingga “perasaan mereka terluka.” Mereka mencari tahu selama empat hari siapa yang membangun mesjid dan kemudian mendapati bahwa delapan orang beribadah di sana. Para Ahmadi diminta untuk menurunkan menara dan kubah. Ketika para Ahmadi tidak setuju, FIR telah didaftarkan!

Demikianlah kondisi kehidupan para Ahmadi di Pakistan, dan beberapa Ahmadi di Australia telah meninggalkan kondisi seperti itu. Kondisi ini hendaknya tidak dilupakan dan hak-hak mesjid harus ditunaikan. Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita semua untuk melakukannya!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Barahin Ahmadiyah,bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 209-210 –Essence of Islam, Vol. II, hal347-348