Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 29 November 2013

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

 

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda: “Allah Ta’ala telah menciptakan manusia supaya ia bisa meraih pengetahuan dan kedekatan dengan Tuhan. “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka menyembah kepada-Ku’. (51:57). Bagaimana lagi seseorang bisa diperlakukan, yang tidak memperhatikan tujuan sebenarnya ini dan siang malam tenggelam dalam keduniawian, memperoleh tanah ini dan itu, membangun rumah ini dan itu, memiliki properti ini dan itu, kecuali dipanggil kembali dari dunia ini setelah jeda singkat? Hati manusia harus merasakan untuk meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala yang karenanya ia menjadi layak dalam pandangan Tuhan. Jika ia tidak memiliki kepedihan ini dan hanya peduli tentang dunia dan semua yang ada di dalamnya, ia akan dimatikan setelah sedikit tenggang.”[2]

Hadhrat Masih Mau’ud as Selanjutnya bersabda: “Sayangnya, bukannya memahami kewajiban mereka dan memperhatikan maksud serta tujuan hidup mereka, setelah mencapai usia dewasa kebanyakan orang di dunia ini meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada dunia. Mereka begitu terpikat oleh kekayaan dan reputasi dunia sehingga mereka menyisakan bagian yang sangat kecil untuk Allah Ta’ala. Mereka hanya asyik pada dunia dan tunduk padanya dan tidak tahu bahwa Tuhan juga ada.”[3]

Hadhrat Khalifatul Masih V bersabda ini adalah makna dan penjelasan dari ayat Al-Qur’an: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” Ibadah sejati adalah memperhatikan keridhaan Allah dalam setiap masalah. Ibadah sejati kepada Allah adalah ketika mencari nafkah juga dilakukan sesuai dengan perintah Allah dan tidak dengan kebohongan dan penipuan dan sambil melupakan Tuhan. Kewajiban ibadah kepada Allah tidak terpenuhi hanya dengan mengerjakan Shalat. Hal ini telah dijelaskan dalam khotbah Jumat lalu. Jika perintah-perintah Allah lainnya tidak diperhatikan, maka mengerjakan Shalat tidak ada gunanya. Sebagai contoh jika kebenaran tidak ditegakkan dalam segala hal, maka datang ke masjid untuk mengerjakan Shalat tidak akan menjadi ibadah sejati kepada Allah. Demikian pula dendam, kebencian, kecemburuan dan banyak penyakit lainnya menghancurkan intisari ibadah kepada Allah.

Seseorang menjadi hamba sejati Allah ketika keridhaan Allah diperhatikan dalam segala hal. Hadhrat Khalifatul Masih V bersabda, beliau sering menjelaskan mengenai hal ini untuk menarik perhatian orang-orang dan hari ini beliau akan mengambil manfaat dari khotbah yang disampaikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Gaya beliau adalah menjelaskan masalah dengan menceritakan kejadian yang mengungkapkan bagaimana prinsip-prinsip dapat diterapkan dalam kehidupan.

Sebelum menguraikan masalah tersebut, Hudhur menyampaikan kutipan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang menjelaskan kedudukan beliau dan ini akan bermanfaat bagi orang-orang muda serta Mubayyi’in baru.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda pada Majlis Syura tahun 1936: “Ada jenis Khilafat dimana Allah Ta’ala membuat orang memilih khalifah dan Dia kemudian menerimanya. Namun, Khilafat ini bukan yang seperti itu. Artinya, saya bukan Khalifah karena sehari setelah wafatnya Hadhrat Khalifatul Masih I, orang dari Jemaat Ahmadiyah secara kolektif sepakat pada kekhalifahan saya. Sebaliknya, saya juga seorang khalifah karena, bahkan sebelum kekhalifahan Hadhrat Khalifatul Masih I, berdasarkan wahyu Ilahi Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa saya akan menjadi Khalifah. Jadi, saya tidak [hanya] seorang khalifah, bahkan saya seorang khalifah yang telah dijanjikan kedatangannya. Saya bukan utusan Tuhan (nabi), tetapi suara saya adalah suara Allah Ta’ala karena Allah Ta’ala menginformasikan hal ini melalui Hadhrat Masih Mau’ud as. Kedudukan Khilafat ini adalah antara kedudukan utusan Tuhan dan Khilafat. Kesempatan ini adalah sedemikian rupa sehingga Jemaat Ahmadiyah tidak bisa sukses di hadapan Allah Ta’ala jika tidak memanfaatkan itu. Sama seperti memang benar bahwa Nabi tidak datang setiap hari, benar juga bahwa seorang Khalifah yang dijanjikan juga tidak datang setiap hari.”[4]

Pada tingkatan pribadi, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga menjadi saksi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Makrifat Ilahi beliau, yang telah Allah beritahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sebelumnya, harus diambil manfaatnya oleh anggota Jemaat melalui membaca. Hudhur bersabda, beliau dari waktu ke waktu menyampaikan hal ini dengan mengacu pada berbagai pembahasan. Beberapa saat yang lalu Hudhur menyampaikan sebuah khotbah berdasarkan khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan hari ini sekali lagi Hudhur akan mengutip salah satu khotbah beliau dan sebagian mengintisarikan pembahasan beliau.

Dalam menjelaskan masalah وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku’ Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Banyak filsuf dan orang-orang berpendidikan mempertanyakan mengenai tujuan agung yang untuk itu manusia diciptakan dan menanyakan apakah tujuan ini telah berhasil dan telah Allah SWT mengambil tugas itu dari umat manusia yang untuk itu dia diciptakan. Tujuan Allah Taala ketika menciptakan manusia adalah: وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (51:57) Artinya, mereka diciptakan untuk ibadah atau untuk menjadi hamba Tuhan. Orang-orang bertanya apakah umat manusia memang maju kearah ini dan mereka benar-benar layak disebut hamba Allah, jawabannya adalah tidak. Orang-orang kemudian bertanya jika (memang) ada Pencipta umat manusia mengapa Dia tidak berhasil dalam hal ini! Harus diingat dalam hal ini bahwa nabi Allah datang untuk menjawab pertanyaan ini dan menimbulkan gelombang kesalehan di dunia, yang dengan melihatnya bahkan para pencela mengakui bahwa tujuan tersebut telah terpenuhi dan bahkan menunggu seribu hari tidak terlalu berlebihan untuk itu. Waktu para nabi Allah sangat berharga sehingga tidak dapat dihargai secara memadai. Allah Ta’ala juga menyebut masa para Nabi Allah dengan sebutan ‘Lailatul Qadr’ (Malam Takdir) dan telah menyatakan: “خير من ألف شهر” ‘Malam Takdir itu lebih baik dari seribu bulan.’ (97:4)… Beberapa waktu yang lalu saya menyampaikan khotbah mengenai reformasi amal dan menarik perhatian Jemaat bahwa kita perlu memberikan pengorbanan besar untuk tujuan agung yang untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as datang. Kita telah meyakinkan dunia mengenai kepercayaan kita; namun, kita masih perlu meyakinkan dunia tentang Islam dalam hal praktek kita karena tanpa ini para penentang tidak dapat benar-benar dipengaruhi.

Sebuah contoh kecil tentang amal [baik] adalah tentang kejujuran. Hal ini dapat dirasakan oleh musuh sekalipun, yang tidak bisa melihat ketulusan hati dan keimanan, tetapi dapat melihat kejujuran. Sebuah insiden sebelum kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as berkaitan dengan kasus pengadilan tentang properti keluarga kami. Ini adalah tentang teras rumah di mana sekarang kantor Sadr Anjuman Ahmadiyah berada. Tanah teras tersebut milik keluarga kami tapi pemilik rumah menguasainya dalam jangka waktu lama. Abang Hadhrat Masih Mau’ud as memulai kasus pengadilan atas kepemilikannya dan seperti kebiasaan orang-orang duniawi, ketika ada kasus pengadilan tentang tanah dan lain-lain di mana mereka menganggap mereka memiliki hak, mereka memberikan kesaksian benar dan palsu untuk mendapatkannya. Saudara beliau juga memberikan kesaksian benar dan palsu untuk membuktikan kepemilikannya. Menanggapi hal itu pemilik rumah mengatakan mereka tidak perlu bukti apapun, adiknya hendaknya dipanggil untuk memberikan kesaksian dan mereka akan setuju dengan apa pun yang beliau katakan. Hadhrat Masih Mau’ud as datang sebagai saksi dan ketika beliau ditanya apakah ia telah melihat orang-orang datang dan pergi lewat jalan ini dan juga tinggal disana untuk jangka waktu lama, beliau menjawab ya. Atas hal ini, pengadilan memenangkan keputusan untuk mereka (pemilik rumah). Kakak Hadhrat Masih Mau’ud as menganggap ini sebagai penghinaan dan sangat marah tapi Hadhrat Masih Mau’ud berkata bagaimana ia bisa menyangkal apa yang merupakan fakta!

Demikian pula, sebuah kasus pengadilan diajukan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau telah menipu Kantor Pos. Pada zaman itu undang-undangnya adalah bahwa jika ada yang menaruh surat dalam paket, itu dianggap sebagai menipu Kantor Pos dan itu dianggap sebagai tindak pidana yang bisa dihukum penjara… Hadhrat Masih Mau’ud as mengirim paket berisi bahan untuk dicetak di surat kabar dan secara tidak sengaja menempatkan surat di paket tersebut memberikan instruksi tentang pencetakan. Orang-orang pers itu mungkin orang-orang Kristen dan mereka melaporkan masalah tersebut dan kasus pengadilan diajukan. Pengacara Hadhrat Masih Mau’ud as berkata kepada beliau bahwa maksud dari penggugat jelas dan kesaksian mereka dalam hal ini tidak kuat, dan jika Hadhrat Masih Mau’ud as membantah hal ini, tidak ada yang bisa dilakukan…Hadhrat Masih Mau’ud as berkata, “Tidak bisa begitu, bagaimana saya bisa menyangkal sesuatu yang telah saya lakukan?” Ketika beliau dihadapkan ke pengadilan, beliau ditanya apakah beliau telah meletakkan surat dalam paket dan beliau menjawab, ya. Kejujuran seperti ini pasti mempengaruhi orang lain, ini mempengaruhi pengadilan juga dan Hadhrat Masih Mau’ud as dibebaskan. Pengadilan mengatakan bagaimana orang yang demikian jujur ​​dapat dihukum karena kejahatan terminologis (secara istilah) [yakni bukan kejahatan murni-pent].

Ada banyak kejadian lain selama kasus-kasus pengadilan di mana para pengacara yang bersangkutan menjadi sangat menghormati Hadhrat Masih Mau’ud as. Dalam satu kasus pengadilan Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menyewa Sheikh Hamid Ali Sahib sebagai pengacara beliau. Dia (pengacara itu) menulis bahwa ia menyesal bahwa ia tidak disewa, bukan karena ia punya maksud secara keuangan tetapi karena ia telah kehilangan kesempatan untuk melayani (beliau). Bahkan musuh tidak bisa terlepas mengakui kebenaran dan kejujuran. Sheikh Hamid Ali Sahib tetap menjadi ghair Ahmadi sepanjang hidupnya dan tidak Baiat tapi ketulusannya secara lahiriah kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tidak kurang dari orang Ahmadi.

Ketika Maulwi Karam Din mengajukan kasus pengadilan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as di Jhelum, seorang pengacara Hindu Lala Bheem Sen (Bimasena) Sahib menulis surat mengatakan bahwa anaknya baru saja lulus ujian Barrister [hukum, lawyer] dan ia ingin anaknya mendapat kesempatan untuk mengkhidmati Hadhrat Masih Mau’ud as [dalam perkara hukum]. Jadi, jika diizinkan anaknya bisa mewakilinya…dia membuat permintaan tulus ini karena ia memiliki kesempatan bergaul dengan Hadhrat Masih Mau’ud as di Sialkot dan ia melihat kejujuran beliau..

Para Nabi Allah datang ke dunia ini untuk menegakkan kebenaran dan kejujuran dan menegakkan teladan, dimana orang yang melihatnya pasti terkesan olehnya… Rasulullah saw tidak menciptakan kanon dan senapan mesin. Apa yang beliau berikan kepada dunia, yang merupakan tanggung jawab para pengikut beliau untuk melindunginya? Itu adalah ruh kejujuran dan akhlak luhur. Ini telah hilang pada zaman itu; beliau pertama-tama mendapatkannya dan kemudian memberikan harta ini kepada dunia. Tanggung jawab para sahabat beliau, anak-anak mereka dan anak-anak dari anak-anak mereka adalah untuk menjaga hal-hal ini.

Ketika wahyu pertama diturunkan kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… beliau gelisah… bagaimana beliau akan menyempurnakan tugas agung ini. Beliau pulang ke Hadhrat Khadijah ra dalam kondisi ini. Beliau merasa dingin karena emosi yang memuncak dan ketika beliau memasuki rumah beliau, beliau bersabda kepada Hadhrat Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku”. Hadhrat Khadijah ra bertanya apa yang mengganggu beliau dan beliau menceritakan seluruh kejadian tersebut. Hadhrat Khadijah menjawab: “Sudah pasti, Tuhan tidak akan pernah mengecewakan Anda karena Anda memiliki sifat ini dan itu.” Salah satu sifat yang beliau sebutkan adalah bahwa Rasulullah saw telah menanamkan akhlak yang telah yang hilang di dunia ini dalam diri beliau, dan dengan demikian beliau telah menemukan harta umat manusia yang telah hilang, bagaimana mungkin Allah menyia-nyiakan orang seperti beliau? Ini adalah tujuan dari munculnya para nabi Allah dan ini adalah amanat yang diberikan kepada orang-orang mukmin dan adalah kewajiban mereka untuk menjaganya.

Tidak diragukan lagi orang-orang mukmin sangat menyintai para nabi Allah. Namun, pada hakekatnya keagungan para Nabi Allah adalah pada cahaya ruhani yang untuk itu Allah Ta’ala mengutus mereka dan yang harus mereka sebarkan di dunia. Keagungan mereka berasal dari pesan Tuhan yang mereka bawa. Karena itu, ketika para pengikut seorang Nabi Allah mengorbankan nyawa mereka untuk melindunginya, apakah mereka tidak siap untuk menjaga pesannya!

Membaca peristiwa-peristiwa pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan para sahabat untuk melindungi nyawa Rasulullah saw membuat rambut berdiri dan melihat kecintaan mereka, bahkan hari ini pun gelombang kecintaan berkembang. Selama pertempuran Uhad ada saat ketika hanya satu sahabat (Hadhrat Thalhah ra) yang masih tetap bersama Rasulullah saw sementara musuh melontarkan anak panah dan batu dalam jumlah besar. Sahabat menaruh tangannya di depan wajah beberkat Rasulullah saw dan tangannya terkena begitu banyak panah dan batu sehingga tidak bisa digunakan selamanya. Suatu kali seseorang bertanya kepada sahabat tersebut apa yang terjadi pada tangannya dan dia mengatakan bahwa suatu kali Rasulullah saw diserang dan dia meletakkan tangannya di depan wajah beberkat beliau dan tangannya terkena oleh begitu banyak panah dan batu hingga lumpuh. Dia ditanya apakah dia tidak mengucapkan sepatah katapun menunjukkan rasa sakit. Dia memberikan jawaban yang indah dan mengatakan bahwa rasa sakit itu begitu kuat sehingga ia ingin mengerang tapi dia tidak membiarkan hal itu terjadi karena jika ia mengucapkan suara tangannya mungkin bergeser dan anak panah mungkin mengenai Rasulullah saw. Renungkanlah derajat pengorbanan ini dan pikirkan bagaimana seseorang berteriak jika jarinya terluka, tapi tangan sahabat ini terkena oleh begitu banyak anak panah sehingga cacat selamanya.

Dalam peristiwa serupa dari sahabat yang lain, juga pada saat pertempuran Uhud, beberapa sahabat berkumpul setelah dipaksa mundur, Rasulullah saw meminta mereka untuk melihat siapa yang telah syahid dan yang terluka. Beberapa sahabat pergi untuk memeriksa medan perang. Seorang sahabat melihat seorang Anshar terluka di tanah. Setelah semakin dekat dengan dia melihat bahwa kaki dan lengannya telah terpotong dan ia sedang menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi lebih dekat lagi dan bertanya apakah ia punya pesan untuk teman-teman dan keluarga yang dapat disampaikan kepada mereka. Orang Anshar yang terluka itu mengatakan bahwa ia sedang menunggu teman untuk lewat sehingga ia bisa memberikan pesan untuk teman-teman dan keluarga. Jadi, sampaikan pesan saya kepada teman-teman dan keluarga bahwa Rasulullah saw adalah amanat yang berharga. Selama kita hidup, kita melindunginya dengan nyawa kita dan sekarang karena kami akan meninggal saya berharap bahwa mereka akan memberikan pengorbanan yang lebih besar dari kita untuk melindungi amanat yang berharga ini.

Patut direnungkan bahwa pada saat kematian ketika ia tahu ia tidak punya waktu untuk memberikan pesan kepada istri dan anak-anak, waktu ketika orang berpikir tentang penyelesaian masalah properti dan transaksi dan ketika orang-orang cemas tentang kemajuan orang-orang yang ditinggalkan, sahabat ini hanya berpikir bahwa meskipun ia memberikan hidupnya untuk melindungi Rasulullah saw, ia juga berharap bahwa orang lain juga akan menapak di jalan yang sama dan tidak akan peduli tentang kehidupan mereka dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah saw. Mereka yang membuat pengorbanan ini untuk wujud Rasulullah, pengorbanan apa yang tidak bisa mereka lakukan untuk menjaga pesan yang telah beliau bawa dan apa yang tidak bisa mereka lakukan!

Berkenaan dengan ini peristiwa wafatnya Rasulullah saw disampaikan. Ketika berita kewafatan beliau menyebar, karena kecintaan mereka yang mendalam kepada beliau, seolah-olah kesedihan yang sangat besar menimpa para sahabat. Begitu rupa sehingga beberapa sahabat berpikir bahwa berita itu tidak benar karena saat kewafatan beliau belum datang karena masih ada beberapa orang munafik di kalangan umat Islam. Hadhrat Umar ra juga berpikir demikian dan menghunus pedangnya mengatakan dia akan membunuh siapa saja yang menyatakan bahwa Rasulullah saw telah wafat, beliau telah pergi ke langit dan akan kembali untuk menghabisi orang-orang munafik dan baru kemudian akan wafat. Banyak sahabat bergabung dengannya dan mengatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan siapapun mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Di permukaan, ini adalah ungkapan kecintaan, tapi ini bertentangan dengan ajaran yang telah Rasulullah saw bawa karena Al-Qur’an dengan jelas menyatakan: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ (آل عمران: 145)  ‘…maka jika dia meninggal atau terbunuh, apakah kalian akan berbalik pada tumit kalian?…” (3:145)

Hadhrat Abu Bakar radhiyAllahu ‘anhu sudah pergi ke suatu tempat, ketika ia menerima berita itu, ia segera kembali dan langsung pergi ke rumah di mana tubuh beberkat tersebut berada. Dia membuka penutup wajah dan melihat bahwa memang Rasulullah saw telah wafat. Dia membungkuk dan mencium dahi dan mata beliau berkaca-kaca, dan berbicara kepada tubuh suci itu, dia berkata, “Saya mengorbankan kedua orangtua saya untuk anda, Allah Ta’ala tidak akan mematikan anda dua kali.” Artinya, pertama adalah kematian secara lahiriah dan kedua jika ajaran yang beliau bawa dihapus [ajaran beliau tidak akan mati]. Dia kemudian keluar ke tempat semua sahabat berkumpul dan Hadhrat Umar radhiyAllahu ‘anhu yang penuh semangat mengumumkan dengan pedang di tangannya bahwa siapa pun yang mengatakan Rasulullah telah wafat adalah munafik dan ia akan membunuh orang tersebut.

Hadhrat Abu Bakar ra meminta orang-orang untuk tenang dan berkata dengan keras kepada Hadhrat Umar, ‘Tenang, biarkan aku bicara.” Beliau membacakan ayat: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ (آل عمران: 145) “Dan Muhammad hanyalah seorang rasul. sungguh semua rasul-rasul telah berlalu sebelumnya. Jika kemudian dia meninggal atau dibunuh, apakah kalian akan berbalik pada tumit kalian?” Dan apakah kalian berpikir agama kalian cacat? Dia kemudian berkata dengan penuh semangat , ‘Hai orang-orang, di antara kalian yang menyembah Allah Ta’ala hendaknya gembira bahwa Allah kita hidup dan tidak pernah bisa mati. Tapi siapa pun yang menyembah Muhammad, Rasul Allah, hendaknya mendengar bahwa beliau telah wafat.”

Hadhrat Umar ra berkata, ketika Hadhrat Abu Bakar membaca ayat tersebut ia merasa seolah-olah langit telah terbelah dan kakinya goyah hilang kekuatan dan tanpa daya dia jatuh ke tanah. Ketika itulah ia menyadari bahwa Rasulullah saw memang telah wafat. Perhatikanlah betapa Hadhrat Abu Bakar ra sangat menyintai Rasulullah saw. Ketika beliau menyadari bahwa beliau saw telah wafat, spontan beliau mencium kening beberkat beliau saw dan matanya berkaca-kaca. Di sisi lain, beliau ra juga sangat menyintai kebenaran yang telah Rasulullah saw bawa. Ketika seorang yang gagah berani seperti Hadhrat Umar ra berdiri dengan pedang, mengatakan ia akan membunuh siapa pun yang mengatakan Rasulullah telah wafat dan banyak sahabat menyetujui pemikiran ini. Tanpa rasa takut beliau ra [Hadhrat Abu Bakr ra] berkata, “Siapa yang berkata Rasulullah masih hidup, seolah-olah ia menganggap diri beliau saw sebagai tuhan, aku beritahu padanya, bahwa beliau saw telah wafat. Tapi Tuhan yang ibadah kepada-Nya beliau ajarkan, masih hidup.” Ini adalah pengaruh kebenaran yang Rasulullah saw telah tanamkan pada para sahabat beliau sehingga dari antara mereka yang berdiri dengan pedang terhunus, menundukkan kepala dan mengakui bahwa ya, beliau memang telah wafat…

Kecintaan tak tertandingi Hadhrat Abu Bakar kepada Rasulullah saw terlihat dari peristiwa berikut. Tepat sebelum kewafatan beliau, Rasulullah saw telah menyiapkan sebuah ekspedisi untuk pergi dan menghukum beberapa pemberontak di Suriah. Pasukan belum berangkat ketika Rasulullah wafat. Setelah kewafatan beliau, Hadhrat Abu Bakar ra menjadi Khalifah dan banyak sahabat berpendapat dan menyampaikan kepada beliau untuk menunda ekspedisi karena ada berita tentang pemberontakan di seluruh Arabia dan shalat berjamaah baru dikerjakan di Makkah, Madinah dan satu desa lainnya. Orang-orang mulai mengatakan mereka tidak akan membayar zakat. Para sahabat membahas masalah tersebut dan mengutus Hadhrat Umar ra kepada Hadhrat Abu Bakar ra meminta beliau menghentikan ekspedisi untuk sementara waktu karena [jika pergi] hanya orang tua dan anak-anak yang akan tetap berada di Madinah, bagaimana mereka akan melawan gerombolan pemberontak? Namun, Hadhrat Abu Bakar ra menjawab, ‘Apakah putra Abu Qahafah memiliki kekuasaan untuk menghentikan sebuah ekspedisi yang disiapkan oleh Rasulullah saw? Apakah Anda ingin bahwa tugas pertama yang saya lakukan setelah kewafatan beliau adalah menghentikan ekspedisi yang beliau rencanakan? Demi Allah! Bahkan jika pemberontak memasuki Madinah dan anjing akhirnya menyeret mayat para wanita kita, ekspedisi pasti tetap akan berangkat.’

Ini menunjukkan kecintaan sejati Hadhrat Abu Bakar ra kepada Rasulullah saw, tetapi karena ia telah mencapai kedudukan mengatakan kebenaran murni, ia tahu bahwa keagungan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah bahkan lebih tinggi dari ini. Orang-orang tersebut mengambil ajaran ini dan berdiri teguh padanya, sedemikian rupa sehingga bahkan musuhpun mengakui bahwa ia belum diubah sama sekali. Kristen, Hindu, Yahudi, singkatnya semua penentang mengakui bahwa tidak ada satu titik pun telah diubah dalam Al-Qur’an…Di zaman ini, Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menegakkan akhlak luhur, kecintaan sejati kepada Rasulullah saw dan Syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dan kita harus sadar bahwa kita harus menjaga semua ini seperti yang para sahabat lakukan. Harus ada perbedaan yang jelas antara kita dan orang lain sehingga dapat disadari bahwa kita telah memegang teguh amanat ini.

Jemaat seperti itu ada pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, tapi pertanyaannya adalah, apakah generasi mendatang memiliki semangat yang sama? apakah seorang yang berakal menyukai bahwa meskipun ia mendapat sesuatu yang baik, tetapi anak-anaknya mahrum dari itu? Bagaimana bisa kemudian kalian menggambarkan bahwa seseorang yang memahami nilai ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as akan menyukai bahwa ahli warisnya tidak menerimanya, tapi menerima tanah dan properti ayah mereka? Allah Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an: وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ  اِلَّا  لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ  لَلدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۳۲﴾”Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permaian dan hiburan…’ (6:33)

Ini adalah hiburan seperti sepak bola, kriket dan hoki. Adakah orang yang mau jika pemerintah menyita tanah, rumah dan harta bendanya dan memberikan pemukul dan bola kepada putranya atau memberikan bola sepak usang atau raket tenis rusak atau tongkat hoki untuk anak-anaknya? Allah Ta’ala menyatakan bahwa hal duniawi hanyalah hiburan dan perbandingan antara keimanan dan keduniawian adalah sama seperti antara hal yang nyata dan hiburan semata. Bagaimana orang bisa mengharapkan anak-anaknya tidak mendapatkan warisan berharga tapi menerima hal-hal hiburan! Namun, tidak adakah orang di antara kita yang secara amalan melakukan ini ? Ketika putra mereka berbicara dusta, atau mencuri atau melakukan kejahatan, mereka mendukungnya… diam-diam orang tua berusaha melindungi mereka. Pertama mereka tercela karena memahrumkan anak-anak mereka dari ajaran agama dan jika mereka menganggap kesalehan sesuatu yang bernilai, mereka tidak akan memahrumkan anak-anak mereka darinya dan jika mereka lalai, maka mereka harus berhenti mendukung kejahatan. Allah Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an: وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾  “…Dan tolong-menolonglah satu sama lain dalam kebaikan dan ketakwaan, tapi jangan tolong-menolong satu sama lain dalam dosa dan pelanggaran…’ (5:3)

Kejahatan pertama yang mereka lakukan adalah bahwa Allah Ta’ala menyatakan : یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا قُوۡۤا  اَنۡفُسَکُمۡ  وَ اَہۡلِیۡکُمۡ  نَارًا “…selamatkan dirimu dan keluargamu dari Api (neraka)…” (66:7) Tetapi mereka tidak melakukan hal ini dan kejahatan kedua adalah bahwa mereka melanggar perintah Ilahi : ‘…tapi jangan tolong-menolong satu sama lain dalam dosa dan pelanggaran…’. Allah Ta’ala menyatakan bahwa agama adalah berkat, tapi Jemaat yang mendakwakan mendahulukan agama atas hal-hal duniawi, di dalamnya terdapat orang-orang yang, pertama memahrumkan anak-anak mereka dari agama dan ketika anak-anak melakukan kejahatan, mereka membantunya. Meskipun mereka melakukan kejahatan tertentu yang bertentangan dengan kemanusiaan dan kesusilaan mana mungkin Ahmadiyah dan agama menolerir kejahatan semacam itu! Tapi orangtua penjahat tersebut, saudara-saudara, kerabat, bahkan teman-teman mereka membantunya dan tidak memikirkan bagaimana agama dapat bertahan hidup dengan melakukan hal demikian. agama orang semacam ini telah musnah!

Perhatikan, bahwa suatu kali seseorang memohon keringanan kepada Rasulullah saw untuk seorang kriminal, atas hal itu beliau bersabda, “Demi Tuhan, bahkan jika putriku Fatimah mencuri, dia tidak akan bisa menghindari hukuman’. Ketakwaan dan kesucian adalah berkat sehingga seseorang hendaknya tidak merasa malu melakukan pengorbanan apapun dalam hal ini. Kekayaan yang telah kita terima dari Hadhrat Masih Mau’ud as adalah akhlak luhur dan adalah tugas kita untuk menjadikan anak-anak kita pewaris hal ini. Jika karena kelalaian ada yang melakukan kesalahan, maka orang mukmin diwajibkan untuk tidak tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Sebaliknya ia harus melepaskan dirinya dari orang yang telah melakukan kejahatan. Allah Ta’ala telah menunjukkan contoh orang-orang mukmin dan tidak ada yang bisa mengatakan, tidak mungkin melakukan ini.

Syed Hamid Shah Sahib adalah seorang Ahmadi yang sangat tulus dan Hadhrat Masih Mau’ud as memanggil beliau salah satu dari dua belas Hawari (murid) beliau as. Ketika beliau as menyebutkan nama-nama murid-murid beliau di depan saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra), namanya berada di antara mereka dan kesudahan beliau yang baik mengesahkan kedudukan beliau yang luhur. Suatu kali seseorang terbunuh oleh anak beliau, tetapi pembunuhan itu terjadi dalam kondisi sedemikian rupa sehingga masyarakat bersimpati pada anak beliau. Sebenarnya orang yang matilah yang salah, yang telah memulai perkelahian dan anak beliau telah memukulnya, yang membunuh orang itu. Wakil komisaris Sialkot pada saat itu adalah seorang Inggris dan termasuk di antara para pejabat yang ingin memberikan hukuman baik kejahatan terbukti atau tidak supaya ru’ubnya menjadi tegak. Dia berpikir bahwa Mir Hamid Shah Sahib adalah seorang pengawas di kantornya, jika ia menghukum anak beliau, rasa keadilannya akan menjadi terkenal. Dia memanggil Shah Sahib dan bertanya apakah anak beliau benar-benar telah melakukan pembunuhan. Beliau menjawab bahwa beliau tidak hadir pada saat itu tetapi telah mendengar bahwa ia telah membunuh. Dia mengatakan, panggil dia dan minta dia untuk mengaku sehingga orang tahu, bahwa kita tidak berpihak pada siapa pun. Beliau memanggil anak beliau dan bertanya apakah dia telah membunuh orang itu. Dia menjawab bahwa ya, ia telah membunuhnya. Beliau mengatakan maka ia harus mengakui kebenarannya. Orang-orang bertanya kepada beliau mengapa beliau ingin putra beliau pergi ke tiang gantungan tapi beliau menjawab bahwa hukuman di dunia ini lebih ringan dari hukuman di akhirat dan menasehati anak beliau untuk mengaku. Meskipun anak beliau mengakui kejahatannya, tapi dia adalah pemain kriket dan hakim yang menangani kasus tersebut juga bermain kriket dan telah menemukan fakta-faktanya di klub kriket. Karena hukum mengizinkan bahwa jika hakim merasa yakin, tidak perlu menanyai pelaku kejahatan. Dia memeriksa saksi-saksi pihak penuntut sedemikian rupa sehingga ketidakbersalahan pemuda itu terbukti dan ia membebaskannya tanpa menanyainya.

Sebuah kasus pengadilan yang serupa diajukan terhadap adik Chaudhary Zafrulla Khan Sahib beberapa waktu lalu. Chaudhary Sahib berada di London pada waktu itu, ia menulis kepada saudaranya bahwa ini adalah waktu ujian keimanan dan jika dia bersalah maka sebagai kakaknya ia menyarankan kepadanya bahwa hukuman di akhirat adalah lebih keras daripada hukuman di dunia ini, karena itu ia harus bertahan dan mengatakan kebenaran…Seorang teman dari Sialkot, yang masih hidup, mendapati setelah menjadi Ahmadi bahwa suap adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Ia pergi ke setiap keluarga untuk mengembalikan suap yang telah ia ambil. Hal ini menyebabkan dia berutang banyak tetapi dia tidak peduli tentang hal itu.

Ada contoh-contoh yang sangat baik di Jemaat kita mengenai semua amalan yang mengenainya dapat dikatakan bahwa mereka adalah gambaran dari para sahabat. Namun, kita hendaknya tidak hanya senang atas hal ini, tetapi harus berusaha supaya seluruh Jemaat menjadi seperti ini…Saya menarik perhatian teman-teman untuk menghargai amanat yang telah diberikan kepada mereka. Hadhrat Masih Mau’ud as tidak datang untuk memberikan kita suatu kekayaan, suatu pemerintahan duniawi, beliau tidak menciptakan sesuatu (penemuan), tidak memberikan kita kemewahan, yang beliau berkan kepada kita adalah kejujuran, betapa sangat disayangkan jika kita kehilangan hal ini juga, dan kita akan membuang rahmat dengan tangan kita sendiri yang diturunkan setelah seribu tiga ratus tahun. Hadhrat Masih Mau’ud as memberi Islam kepada kita dan memberi kita akhlak luhur dan memberitahu kita dengan contoh bahwa ini dapat diamalkan.

Mr. Martyn Clark menyatakan di pengadilan bahwa Mirza Sahib mengirim orang untuk membunuhnya. Orang-orang yang dikenal sebagai ulama (pemimpin agama) di kalangan umat Islam juga bergabung dalam kegemparan tersebut; dan Maulwi Muhammad Hussain Batalwi bahkan datang sebagai saksi melawan Hadhrat Masih Mau’ud as. Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa seorang Maulwi akan mewakili para penentang tetapi Allah Ta’ala akan menghinakannya. Namun, terlepas dari wahyu yang menubuatkan kehinaannya, dan sangat penting untuk melakukan usaha secara lahiriah untuk pemenuhan wahyu tersebut, tapi Maulwi Fazl Din Sahib, yang adalah seorang pengacara dari Lahore dan yang mewakili Hadhrat Masih Mau’ud as dalam kasus ini, secara pribadi mengatakan kepada saya bahwa ketika ia ingin mengajukan pertanyaan kepada Maulwi Muhammad Hussain yang akan mempermalukannya, Hadhrat Masih Mau’ud as Melarangnya mengajukan pertanyaan itu… Beliau as bersabda bahwa kita tidak bisa mengajukan pertanyaan seperti itu. Maulwi Fazl Din mengatakan kepada beliau bahwa pertanyaan ini akan melemahkan kasus terhadap beliau dan jika tidak ditanyakan bisa timbul kesulitan… tapi Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, tidak, kita tidak bisa mengizinkan pertanyaan ini diajukan.

Maulwi Fazl Din Sahib bukanlah Ahmadi. Dia adalah seorang Hanafi dan pemimpin Mazhab Hanafi dan anggota aktif Anjuman Numania dll. Oleh karena itu dari segi agama ia berseberangan. Namun, setiap kali pribadi Hadhrat Masih Mau’ud as diserang di majelis non-Ahmadi, dia akan membantahnya dengan tegas dan mengatakan bahwa masalah-masalah keyakinan adalah masalah berbeda tapi ia telah melihat bahwa akhlak Hadhrat Masih Mau’ud as adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada ulama mereka yang bisa bersaing dengan beliau. Dia mengatakan dalam hal akhlak ia sendiri telah menguji Hadhrat Masih Mau’ud as pada kesempatan-kesempatan semacam itu, bahwa tidak ada Maulwi bisa menyamai kedudukan beliau… Namun, Allah yang telah memberitahu bleiau mengenai kehinaan Maulwi Muhammad Hussain, menegakkan kehormatan beliau dengan, di satu sisi memperlihatkan akhlak beliau dan di sisi lain menciptakan situasi yang luar biasa untuk menghinakan Maulwi Sahib.

Demikian pula terjadi bahwa wakil komisaris yang sebelumnya adalah penentang keras, berubah hatinya setelah melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as; dan meskipun adanya fakta bahwa beliau dihadapkan kepadanya sebagai penjahat, ia menyiapkan sebuah kursi dan ditempatkan di sampingnya dan mempersilahkan Hadhrat Masih Mau’ud as duduk di sana. Ketika Maulwi Muhammad Hussain datang untuk bersaksi ia datang dengan anggapan bahwa mungkin Hadhrat Masih Mau’ud as akan diborgol atau setidak-tidaknya harus berdiri dengan kehinaan. Melihat Hadhrat Masih Mau’ud as duduk di kursi di sebelah wakil komisaris membuatnya marah dan dia segera menuntut supaya ia juga diberi kursi. Pengadilan mengatakan bahwa dia tidak memiliki hak untuk minta kursi… ketika dia berkeras meminta kursi, hakim menyuruhnya diam dengan sangat kasar. Kehormatan Hadhrat Masih Mau’ud as tegak melalui akhlak luhur beliau. Bertentangan dengan ini, berapa banyak teman-teman dari Jemaat kita yang dapat melakukan pengendalian diri saat marah. Perhatikan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as bahkan tidak bisa mempermalukan musuh berat beliau berdasarkan pada informasi yang benar, tapi teman-teman kita (Ahmadi) menjadi marah dan mengucapkan kata-kata kasar dan juga mulai memukul orang lain…’

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga menceritakan kejadian Lekh Ram ketika Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menanggapi salamnya. Hal ini karena kata-kata Lekh Ram yang sangat kasar terhadap Rasulullah saw. Namun, di sisi lain demikianlah kasih sayang Hadhrat Masih Mau’ud bahwa untuk hal yang berkaitan dengan diri beliau sendiri, ia tidak membiarkan sesuatu yang akan menghinakan Maulwi Muhammad Hussain.

“Ingat, orang yang tidak mengajarkan akhlak saleh kepada anak-anaknya tidak hanya mengadakan permusuhan terhadap anak-anaknya, tapi melakukan permusuhan terhadap misi, permusuhan terhadap Rasulullah saw dan mengadakan permusuhan terhadap Allah Ta’ala.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau memberikan banyak nasihat dan memberikan khotbah-khotbah, Hudhur menambahkan bahwa hal ini terus berlanjut di setiap Khilafat seperti sekarang, ketika rangkaian khotbah berlangsung beberapa pengaruh dapat dilihat tetapi begitu rangkaian khotbah berhenti, atau setelah beberapa saat, pengaruh itu hilang. Beliau memberi contoh mainan Jack-in-the-box dalam hal, dimana sebuah boneka lentur dalam kotak tetap tenang ketika penutupnya ditutup tetapi ketika tutupnya dibuka dia melompat keluar.

Beliau ra bersabda kondisinya sama dengan orang-orang ini. Jika mereka diberi nasihat, efeknya tetap tetapi jika nasihat dihentikan mereka kembali ke cara lama. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, ‘Tuhan tidak memberi setiap orang waktu sedemikian rupa sehingga ia dapat memberikan khotbah sedemikian rupa. Masalah sebenarnya adalah bahwa seseorang menjadi mukmin, maka rangkaian ini berakhir karena perjuangan ini hanya tetap ada selama belum ada keimanan… Yang dibutuhkan adalah bahwa Jemaat menyadari bahwa dengan mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as Allah Ta’ala telah menempatkan tanggung jawab besar pada mereka. Bahkan jika seseorang memiliki banyak sekali penyakit, tidak sulit untuk menyingkirkannya mereka jika dia bertekad melakukannya. Sebuah sabda terkenal Yesus as. adalah bahwa bahkan jika kamu memiliki iman sebiji sawi pun di dalam hatimu, kamu dapat memindahkan gunung. Ini berarti bahwa bahkan jika dosa-dosa kalian sebesar gunung, jika seseorang menanamkan sedikit keimanan, itu dapat menerbangkan gunung-gunung itu. Hari ketika seorang beriman bertekad, tidak ada lagi hambatan yang tersisa di jalannya… Saya ingin mengatakan saat ini bahwa teman-teman harus memperbaiki anak-anak mereka sendiri dan anak-anak lain dari Jemaat. Tinggalkan kedustaan, muslihat, kecurangan, penipuan, menusuk dari belakang dan lain-lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk, sedemikian rupa sehingga siapa pun yang berurusan dengan kalian merasa bahwa orang-orang ini sangat baik…

Ingat baik-baik bahwa berkat ini memerlukan seribu tiga ratus tahun untuk kembali dan jika kita tidak menghargainya dan ini berakhir seribu tiga ratus tahun yang lain, kita akan dikutuk oleh semua generasi sampai masa itu. Oleh karena itu berusahalah dan wariskan semua kebajikan kalian kepada anak-anak kalian dan mereka terus mewariskannya dan dengan demikian amanat ini tetap terjaga untuk suatu jangka panjang sehingga kita diganjar selama ribuan tahun untuk ini. Karena Rasulullah saw bersabda bahwa seseorang diganjar untuk kebajikan yang tegak karena dia dan dia juga diganjar selama itu tetap tegak di dunia dan selama banyak orang terus mengamalkannya. Dengan demikianlah ganjarannya juga besar dan amanatnya sendiri juga besar.

Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita untuk menunaikan kewajiban amanat ini! Semoga kita menghormati kewajiban amanat yang diberikan kepada kita oleh orang tua kita dan semoga orang-orang yang telah menerima amanat ini juga menghormatinya. Semoga amanat ini terus dihormati dari generasi ke generasi!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuzhat, jilid IV, halaman 222, edisi 2003, terbitan Rabwah

[3] Malfuzhat, jilid cehaaram, halaman 222, edisi 2003, terbitan Rabwah

[4] Laporan Majlis Musyawarah 1936, halaman 17, bi hawalah Sawaneh Fadhl Umar, jilid 4, halaman 508, Penerbit Yayasan Fadhl Umar.