Mencari Keridhaan Allah Taala

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) 08 Desember 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم 

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين 

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

“Ditampakan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah sebaik-baiknya tempat kembali.” (Surah Ali Imran, 3:15)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menerangkan tentang orang yang melupakan Allah Ta’ala dan begitu terbenam dalam kecintaan dunia. Kenikmatan duniawi lah yang menjadi satu-satunya tujuan mereka. Ketika manusia melupakan Allah Ta’ala maka ia terbelenggu oleh Setan. Semua kenikmatan tersebut diciptakan oleh Tuhan, dan itu semua merupakan dari antara rahmat Allah yang harus diambil manfaatnya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Ingatlah, bahwa Tuhan sama sekali tidak menghendaki kalian benar-benar mememutuskan diri kalian dengan dunia ini. Sebaliknya keinginan-Nya adalah  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ‘Sungguh beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya.’” [Asy-Syams, 91:10]

Tidak menikah adalah suatu kesalahan. Lihatlah, para sahabat Nabi saw juga menikah tapi perhatian mereka kepada Allah Ta’ala tidak terbelokkan oleh urusan-urusan duniawi mereka.

Beliau as selanjutnya bersabda:

“Lakukanlah perniagaan, pertanian, pekerjaan sebagai tenaga buruh atau sebagai tenaga ahli. Bekerjalah sesuai dengan apa yang kamu sukai. Tapi berusahalah sekuat tenaga mencegah nafs-mu (hasratmu) dari tidak menaati  Allah Ta’ala. Lakukanlah pensucian sedemikian rupa supaya hal-hal tersebut tidak membuatmu lengah terhadap-Nya.”

Jangan sampai kecintaan duniawi kalian malah membakar/melenyapkan kecintaan kalian terhadap Allah Ta’ala.

Pada kesempatan lain Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“[Memenuhi] hak-hak diri sendiri itu diperbolehkan namun membuat pelanggaran pada diri sendiri (berbuat dosa) itu tidak boleh.” Maka dari itu, seorang mukmin harus senantiasa mencamkan kata-kata ini dalam benaknya supaya kecintaan pada benda-benda materi tidak tumbuh sedemikian rupa sehingga membuatnya melupakan Tuhan.

Syahwat berarti hasrat atau nafsu akan sesuatu dan kekhawatiran yang terus-menerus akan hal tersebut. Kata itu pun menunjukkan suatu hal atau tujuan, yang semata-mata didasarkan pada keegoisan, kekotoran; dan bahkan sesuatu atau seseorang dengan rasa nafsu yang meningkat juga dapat dijelaskan dengan menggunakan kata syahwat. Jadi, ketika Allah berfirman [dalam ayat yang disebutkan di atas] bahwa hasrat akan hal-hal semacam itu telah ditempatkan di dalam hati manusia, bukan berarti cinta dan hasrat-hasrat semacam itu berasal dari Allah, bahkan sebaliknya itu adalah hasrat-hasrat setan karena hasrat-hasrat tersebut membawa mereka jauh dari Tuhan.

Sebagaimana pada ayat diatas, setan membuat kecintaan terhadap syahwat begitu tampak indah dari hal apapun. Syahwat adalah tujuan pribadi yang apabila tanpa batas bisa memadamkan rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Ketika manusia tenggelam dalam kecintaan dunia maka ini adalah gerakan setan.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang biasa kita amati di antara orang-orang duniawi. Demi memperoleh kekayaan, status duniawi dan demi hubungan yang tidak sah dengan wanita, orang-orang ini menabrak semua batasan yang terlarang. Bahkan jika mereka menikah, mereka melakukannya untuk mendapatkan kekayaan. Mereka ingin mencari istri kaya. Demikian pula, dalam hal pertunangan mereka hanya ingin meraih keuntungan duniawi.

Sangat disayangkan sekali bahwa meskipun Allah Ta’ala menganugerahi umat Islam ajaran yang indah lagi murni dan juga memperingatkan mereka untuk melindungi diri mereka dari usaha-usaha semacam itu, namun kita amati bahwa mayoritas dunia Muslim asyik dalam kecintaan terhadap dunia dan mengejar benda-benda keduniawian tersebut serta melupakan tujuan dari diciptakannya mereka.

Demi untuk menimbun kekayaan, para pemimpin ini memperoleh kursi di pemerintahannya dengan mengangkat slogan-slogan yang berbunyi untuk melayani rakyat. Namun, setelah itu, mereka merampas semuanya dengan kedua tangan mereka dengan cara yang tidak bisa dipahami. Para ulama kurang memperhatikan akan pendidikan agama dan moral masyarakat. Sebaliknya, dengan mengatas-namakan agama, mereka bertujuan untuk membuat masyarakat dapat mengikuti mereka, dan dengan meraih kursi di pemerintahan mereka bisa  mengeksploitasi pemerintah tersebut dengan mengumpulkan kekayaan dan propertinya.

Mereka berteriak-teriak membawa-bawa nama Allah Ta’ala tapi tidak tampak dari perilaku mereka bahwa mereka pribadi yang takut kepada Allah Ta’ala. Hal semacam ini kita dapat lihat di Pakistan. Mereka membunuh orang yang tidak berdosa seperti halnya memotong sayuran lobak dan wortel.

Apa sebabnya negara-negara Islam berada dalam keadaan mengerikan seperti itu, padahal mereka memiliki kekayaan dan sumber daya alam. Hari ini, boleh dikatakan bahwa Arab Saudi adalah negara kaya. Namun, bahkan di sana pun, kemiskinan terus meningkat. Meski kaya akan minyak, tapi angka kemiskinan telah melampaui batas. Hanya kondisi para pangeran, orang-orang kaya dan para pemimpin saja yang hidup dalam kemakmuran. Mereka bisa menghabiskan beberapa juta dolar hanya dalam satu hari.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kebijakan kepada para pemimpin, raja dan semua orang yang menggerogoti kekayaan tersebut, sehingga bukannya sibuk menimbun kekayaan tersebut, mereka mampu menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan kekayaan mereka dengan cara yang benar. mereka sebaiknya memikirkan hajat hidup orang banyak. Dengan melakukan hal tersebut, mereka tidak hanya akan memperoleh keridhaan Allah Ta’ala, namun juga akan memperoleh kekuasaan duniawi. Dengan cara demikian, bukannya mengikuti perintah dari kekuatan non-Muslim dan bertindak sesuai keinginan mereka, sebaliknya pemerintah non-Muslim yang akan mulai mendengarkan mereka.

Beberapa hari belakangan ini terjadi kegemparan besar sejak Presiden Amerika Serikat yang mengumumkan bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Dia memerintahkan agar kedutaannya dipindahkan ke Yerusalem dan telah menyatakannya sebagai ibukota yang diakui. Secara praktis semua kantor Israel sudah ada di sana. Namun, dunia luar tidak menerima dan mengakui hal tersebut.

Kini, setelah keputusan tersebut muncul protes penentangan di seluruh dunia. Namun, semua kekacauan, kerusuhan, dan penentangan dari pemerintahan-pemerintahan tertentu ini merupakan akibat kelemahan umat Islam karena sesama negara Muslim sendiri tidak bisa bersatu. Mereka begitu lemah, sehingga memberi kesempatan kepada negara macam Amerika untuk mengumumkan hal-hal semacam ini.

Arab Saudi sekarang [pura-pura memprotes] menyatakan keputusan presiden Amerika Serikat (AS) sama sekali tidak dapat diterima namun mereka telah berkolusi dengan AS guna melawan Iran, dan telah meminta AS membantu mereka untuk terus-menerus menyerang Yaman. Demi memperoleh ketentuan duniawi yang sementara, mereka meninggalkan perintah-perintah Allah Ta’ala. Maka, hal ini sebentar lagi akan memberikan dampak kepada mereka disebabkan mereka tidak menaati perintah-perintah Allah Ta’ala, inilah yang sedang kita amati saat ini. Pada dasarnya orang-orang semacam ini sedang menyembelih diri mereka sendiri. Ini adalah akibat dari kemarahan Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengumpamakan seseorang yang kerjanya hanya ingin mendapatkan keuntungan dari dunia ini adalah seperti seorang pria dengan rasa gatalnya’, yang merasa enak dengan menggaruk gatal-gatalnya yang tanpa henti itu. Tapi garukan tersebut hanya memberikannya rasa enak yang sementara, setelah itu akan merusak kulitnya, meninggalkan goresan dan membuatnya berdarah.

Tuhan telah menyebutkan hal ini di tempat lain sebagai berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Surah al-Hadid :21)

Oleh karena itu, adalah kewajiban bagi seorang mukmin untuk memohon ampun dan berserah diri kepada Allah Ta’ala daripada harus merasa bangga dengan harta duniawi dan mencurahkan segala upaya mereka demi mengejar hal-hal duniawi semacam itu. Mereka seharusnya tidak menghancurkan hidup dan kehidupan duniawi mereka setelah kematian dengan bertindak layaknya seseorang yang menderita gatal-gatal.

Saat berbicara di salah satu majelis tentang syarat dan ketentuan dari kehidupan duniawi, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Semakin manusia terhindar dari keadaan penuh gejolak nafsu, semakin banyak keinginannya terpenuhi.” Itulah perjuangan untuk menjauhkan diri dari hasrat (tak bermoral) duniawi.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) lebih jauh bersabda:

“Ada api dari dalam hati orang-orang yang ingin menjauhkan diri dari mendapatkan benda-benda [duniawi], dan mereka diliputi dalam kesulitan tersebut. Seseorang hanya dapat menemukan ketentraman di dunia ini dengan membebaskan diri dari segala hasratnya yang terus menerus [untuk mendapatkan hal-hal duniawi]. ” Seseorang seharusnya tidak melulu mengejar duniawi kecuali yang memang diperlukan [untuk hidup].

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Suatu kali, seorang pria tengah mengendarai kuda. Dia melihat seorang pengemis yang mengenakan pakaian yang nyaris tidak menutupi tubuhnya. Penunggang kuda itu bertanya pada sang pengemis: “Hai tuan, bagaimana kabarmu?” Si pengemis menjawab: “Sama seperti seseorang, yang semua keinginannya terpenuhi?”

Penunggang kuda heran mendengar jawaban itu dan bertanya: “Bagaimana bisa semua keinginanmu terpenuhi?” Pengemis itu menjawab: “Ketika seseorang meninggalkan semua hasratnya, maka ia seakan-akan telah meraih semuanya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Kesimpulannya adalah, ketika seseorang ingin mendapatkan segalanya, maka itu menjadi sumber ketidaknyamanan (penderitaan) baginya, namun, ketika seseorang merasa cukup (puas) dan meninggalkan semua [keinginan], maka rasanya seolah-olah mereka telah meraih segalanya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Kebebasan dan keselamatan adalah ketika seseorang merasakan sukacita (kelezatan) dan bukan dukacita (penderitaan). Kehidupan yang penuh kesusahan tidak baik dalam kehidupan ini atau yang akan datang.”

Orang-orang yang bekerja keras dan membersihkan kalbu mereka, seolah-olah mereka menguliti diri sendiri, sebab kehidupan ini walau bagaimana pun akan habis (berakhir), karena ia seperti sepotong es, bagaimana  pun kalian menyimpannya di dalam peti-peti dan dibalut dalam kain, tetap saja dia meleleh.

Seperti itu jugalah, betapa pun hebatnya upaya dilakukan untuk menegakkan kehidupan, yang benar (pasti) adalah ia akan habis. Hari demi hari sedikit banyak akan terjadi perubahan padanya. Di dunia ini terdapat para dokter dan juga para tabib, namun tidak satu pun ada yang memberi resep umur kekal.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 422).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Setelah 60 tahun manusia mulai melemah. Terkadang ada ucapan menghibur diri, ‘Ah, baru berumur 60 tahun.’ Manusia ketika muda lupa bahwa mereka kelak akan tua dan mati.”

Demikian juga, orang yang sedang berkuasa merasa kekuasaannya tersebut akan bertahan selamanya. Ia terus-menerus melakukan kejahatan dan pada akhirnya ketika ia menyadari akan perbuatannya itu, ia tidak dapat bertindak apa-apa. Makanya, kita harus melihat tahun-tahun masa muda sebagai ibarat harta karun. Waktu yang telah berlalu tidak bisa dikembalikan, segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya sementara.”

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan:

Suatu kali ada Raja sedang jalan-jalan dan menangis melihat anak-anak. Padahal dia sedang melihat anak-anak yang tertawa dan bermain tanpa beban. Sang raja teringat masa kecilnya yang tanpa beban apa-apa. Inilah keadaan manusia, bahkan seorang raja sekalipun tidak tenang akan hidupnya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Satu-satunya adalah seseorang harus menyadari masa tuanya adalah masa yang sulit dan pada waktu itu teman dekatnya bahkan keluarganya ada yang berharap agar orang tersebut meninggal, namun sebelum kematiannya, Kekuatan tubuh orang itu telah meninggalkannya.”

Berkenaan dengan kehidupan itu sendiri, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Terlepas dari semua itu, ketika seseorang itu masih muda dan penuh energi, ketika  ia memiliki kekuatan untuk mendapatkan uang, ia masih tetap tidak sadar akan yang terjadi di masa depan. Ketika sadar, ia baru menyadari hidupnya telah dilalui dengan sia-sia. Inilah saatnya [kesadaran] itu dingat bahwa akan lebih baik jika ia mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjalani hidupnya sesuai dengan perintah tersebut, bukannya terkurung oleh dunia dan mengabaikan Allah Ta’ala.”

Banyak orang yang sepertinya meraih keberhasilan secara duniawi, tapi anak-anaknya menjadi tidak baik. Pada saat demikian barulah dia menyesal, “Saya sudah melakukan kesalahan, coba seandainya saya mentarbiyati anak-anak saya pasti tidak akan seperti ini jadinya.”

Di beberapa agama orang-orang membuat dewa-dewa dan berhala-berhala secara fisik, namun beberapa orang lainnya mengambil benda-benda duniawi seperti anak-anak, kekuatan dan kekuasaan sebagai sekutu Tuhan. Lalu ada persekutuan atau seperti contoh yang saya berikan bahwa beberapa negara ingin mencari perlindungan kepada negara-negara kuat lainnya. Mereka menjadikan Negara-negara adidaya tersebut sebagai tuhan-tuhan mereka tapi semua hal ini pasti akan berakhir dan sebagaimana Allah Ta’ala firmankan bahwa tempat tinggal mereka adalah neraka.

Dalam surat kabar di Jerman tertulis: Washington yang tadinya dianggap sebagai model bagi dunia, tampaknya sekarang sudah mulai ditinggalkan. Sekarang ini Beijing (RRT, Republik Rakyat Tiongkok/Cina) tampaknya yang akan menjadi model dunia.

Maka dari itu, adalah kewajiban orang beriman untuk mengkhawatirkan keadaanya pada hari kiamat nanti dan juga agar dapat meraih kasih sayang Tuhan, bukan sebaliknya, yang sibuk mengkhawatirkan hal-hal keduniawian. Satu-satunya tuhan kita adalah Dia, Allah  yang merupakan Tuhan kita yang sejati.

Ingatlah, hanya Tuhan-lah yang setia, semua akan meninggalkan kalian tapi Tuhan tidak akan meninggalkan kalian selama kalian tidak meninggalkan-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Hendaknya diingat dengan baik, siapa pun yang menjadi milik Allah Taala, maka Dia menjadi miliknya. Dan tidak ada satu pun orang yang dapat menipu Allah Taala. Sungguh bodoh jika seseorang berpikiran dapat menghindari Allah Taala dengan kepura-puraan. Hal tersebut hanya menipu dirinya sendiri. Kecintaan dan keindahan duniawi merupakan asal berbagai pelanggaran. Hal tersebut telah membutakan manusia dan membuatnya lupa akan kemanusiaan dan ia tidak menyadari apa yang ia sedang lakukan dan apa yang hendaknya ia lakukan. Apabila manusia yang cerdas saja tidak tertipu oleh trik seseorang maka bagaimana mungkin Allah bisa ditipu?

Namun, akar perbuatan buruk tersebut ialah kecintaan terhadap dunia yang begitu kuat. Penyebab terbesar yang menimbulkan kehancuran bagi dunia Islam ialah dosa kecintaan terhadap dunia. Terlihat mereka terjerat dalam hal itu. Kecintaan terhadap dunia menjadi perhatian utama dan sebab kedukaan mereka dalam berdiri, duduk, tidur dan bangun mereka bahkan setiap momen dari malam dan siang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah mereka mati dan masuk ke dalam kubur. Andai saja mereka takut akan Allah, niscaya pada mereka terdapat kepedulian dan kesedihan demi agama yang akan bermanfaat besar bagi mereka.”

Kewajiban seorang beriman adalah, dari pada dirinya tenggelam dalam kecintaan terhadap dunia, lebih baik dia sibuk untuk mengumpulkan bekal Akhirat. Orang beriman harus lebih mencintai Allah Ta’ala dan kecintaan Allah-lah yang akan membawa ketakwaan dan kebahagiaan dalam diri manusia. Allah Ta’ala sendiri telah mengatakan kepada kita mengenai tanda orang beriman adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang terdepan dalam kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman:  والَّذِيْنَ امَنُوْ اَشَدُّ حُبّاً لِلّه (walladziina aamanuu asyaddu hubbal Lillah…”) “Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” Surat Al-Baqarah ayat 165

Hadhrat Masih Mau’ud as:

“Allah Ta’ala sangat cemburu ketika ada orang yang menduakan-Nya. Orang Mu’min adalah orang yang mencintai Allah Ta’ala melebihi apapun. Apakah Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan shalat dan puasa yang biasa-biasa saja? Sama sekali tidak. Allah Ta’ala diperoleh dengan perjuangan yang tanpa lelah.”

Lebih mencintai yang lain dari pada Allah Ta’ala, apakah itu cinta kepada istri, keluarga, teman dan lainnya maka ini adalah kekafiran.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda jadilah seorang Muttaqi (orang benar) dan yang paling khusyu dalam beribadah.

Baru saat itulah cinta dan rasa takut Allah Ta’ala berkembang di dalam hatinya dan baru kemudian manusia akan bisa memenuhi hak-hak ibadah Allah Ta’ala. merupakan tugas seorang hamba sejati untuk membangun kebahagiaan.

Hadhrat Rasulullah (saw) mengatakan bahwa jika kalian membangun kebahagiaan maka kalian akan harus bersyukur.

Orang-orang mengatakan bersyukur kepada Tuhan, namun ternyata lenyap dalam usaha mengejar benda-benda materi yang terjerat dalam (cinta akan hasrat kebendaan). Mereka tidak pernah bisa bersyukur sama sekali.

Takwa dan Qana’ah (merasa cukup) adalah hal yang penting bagi seorang Mu’min. Ketika seseorang Qana’ah maka dia akan menjadi hamba yang bersyukur dan rasa syukur ini begitu sangat penting bagi seorang Mu’min.

Dalam menggambarkan orang-orang materialistis ini, Rasulullah (saw) pernah bersabda

“Jika anak Adam memiliki satu buah lembah yang penuh dengan emas, dia ingin menambah lagi sehingga memiliki dua lembah, namun tidak ada yang dapat memuaskan hasratnya hingga ia masuk liang kubur.”[1]

Beliau selanjutnya bersabda “Allah Ta’ala menerima tobat seseorang yang bertobat. Jadi, selama hidupnya seseorang harus bertobat jika dia melakukan kesalahan.”

Dalam hal menjelaskan standar kepuasan seorang mukmin, Rasulullah (saw) bersabda,

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa di antara kalian berpagi hari dalam keadaan mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.”[2]

Jadi, inilah tingkat kepuasan orang beriman. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita Qanaah (kebahagiaan dan merasa cukup) dan ketakwaan. Semoga tujuan kita adalah guna meraih kecintaan Allah Ta’ala bukan meraih kecintaaan akan hal-hal materi dan semoga kita menerima ampunan dan keridhaan Allah Ta’ala.

Setelah ini saya ingin mengalihkan perhatian kepada doa. Kini, orang-orang Islam harus belajar dari pengumuman yang dibuat oleh Amerika Serikat tersebut. Amerika menggeser kedutaannya ke Yerusalem semata-mata hanya untuk memperkuat hubungannya dengan Israel serta untuk memberi mereka lebih banyak kekuatan, juga supaya reputasinya tetap utuh.

Namun, upaya umat Islam untuk melawan balik dalam keadaan seperti itu hanya akan meningkatkan mereka lebih jauh. Lihatlah, kekuasaan dunia ini hanya sementara. Amerika selalu sibuk mengadu domba umat Islam. Oleh karena itu umat Islam juga seharusnya sadar. Inilah sebabnya mengapa kita harus berdoa untuk dunia Muslim agar Allah Ta’ala menganugerahi mereka pemahaman, mereka menjadi satu kesatuan dan supaya perang antar negara Islam dihindari.

Selain itu, pertempuran antara negara-negara Islam, di mana ribuan orang, bahkan menurut beberapa survei mengatakan hingga ratusan ribu nyawa hilang, semoga Allah menganugerahi mereka pemahaman dan memungkinkan mereka untuk hidup sebagai satu bangsa. Semoga Dia mengakhiri perselisihan ini sehingga musuh-musuh Islam tidak mengambil keuntungan apapun dari itu.

Marilah kita semua berdoa agar orang-orang Islam tersebut menerima Al-Masih dan Al-Mahdi yang diutus Tuhan, dan dengan mengikatkan diri terhadapnya akan dapat membangun kedamaian di antara mereka dan di dunia pada umumnya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada umat Islam agar mereka menjauhi perang saudara, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada musuh Islam untuk menyerang Islam. Dan yang paling penting adalah semoga mereka mengenal Imam Zaman, agar dapat tercipta dunia yang aman sentosa. Aamiin

 

Penerjemah: Yusuf Awwab

Penyusun : Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi: www.alislam.org (terjemahan audio Mln. Mahmud Wardi) dan terjemahan Saefullah Mubarak Ahmad


[1] Abdullah ibnu Az Zubair pernah berpidato di Makkah, lalu ia mengatakan, يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

[2] Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141; dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary

(Visited 102 times, 1 visits today)