بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 15 Aman 1392 HS/Maret 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ * رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ * قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ * إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ * فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ * إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

Yakni, mereka para penentang akan berkata bahwa, “Ya Tuhan kami, nasib buruk kami telah menguasai kami, dan kami adalah suatu kaum yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya, maka jikalau kami kembali kepada kedurhakaan, maka sungguh kami orang yang aniaya.” Dia, Allah, akan berfirman, “Enyahlah kamu, tinggallah terhina di dalamnya, dan janganlah berbicara dengan Daku.  Sesungguhnya ada segolongan di antara hamba-hamba Kami yang berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka ampunilah kami atas dosa-dosa kami, dan kasihanilah kami, dan Engkau-lah Pemberi rahmat yang sebaik-baiknya.” maka kamu jadikan mereka cemoohan, sehingga cemoohan terhadap mereka menyebabkan kamu lupakan mengingat-Ku dan kamu terus-menerus menertawakan mereka.”   Sesungguhnya aku telah mengganjar mereka pada hari ini atas kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah yang memperoleh kemenangan.

Dalam khotbah yang lalu saya telah menjelaskan berdasarkan kutipan-kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – yang saya bacakan pada awal-awal sekali khotbah – berkenaan dengan apakah doa itu, bagaimanakah ketenangan dan ketentraman bisa didapatkan melalui doa, apakah falsafah dari doa dan bagaimanakah hendaknya doa itu dipanjatkan. Yakni, bagaimanakah standar pemanjatan doa yang harus dicapai oleh seorang mukmin.

Pada dasarnya, ruh dan falsafah doa adalah penjelasan yang ada dalam Al-Quran itu sendiri, yang mana Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (a.s.) telah membukakannya ke hadapan kita dengan ilmu yang beliau dapatkan dari Allah Ta’ala. Berkenaan dengan hal ini, ada juga beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang lainnya, yang mana meskipun merupakan sabda-sabda yang sangat singkat, akan tetapi merupakan tata cara dan sarana untuk berdoa dan mengetahui hakikat dari doa, yang dengan mengamalkannya seorang manusia akan meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala dan mengetahui hakikat dari doa.

Kesucian Diri dan Pengabulan Doa

Beliau dalam suatu majlisnya bersabda: “Hal ini adalah penting juga untuk pengabulan doa, bahwa manusia harus menciptakan perubahan suci dalam dirinya. Jika dia tidak bisa menghindar dari keburukan-keburukan dan melanggar batasan-batasan Allah Ta’ala maka tidak ada lagi pengaruh dalam doa-doanya.”[2]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam sebuah kesempatan bersabda: “Untuk menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala diperlukan suatu peleburan (fana). Kami berulang kali memerintahkan kepada Jema’at kami untuk senantiasa teguh dalam hal ini. Karena selama seseorang tidak memutuskan hubungan dengan dunia dan kecintaan terhadapnya menjadi dingin, dan di dalam fitratnya tidak tercipta ghairat alami dan peleburan (fana) kepada Allah Ta’ala, maka selama itu tidak akan ada keteguhan.”[3]

Yakni inilah ghairat alami, yang meneguhkan dan mempererat hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya. Walhasil, hendaknya kita berusaha untuk menciptakan ghairat alami itu dan menghadapkan perhatian (tawajjuh) secara sempurna kepada Allah Ta’ala. Ghairat alami ini juga – dengan  karunia Allah Ta’ala –  akan tercipta dengan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala.”

 

Saat Terbaik Memanjatkan Doa dan Keberkatan Pagi

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Ketika doa dipanjatkan dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala  maka doa-doa itu akan menimbulkan pengaruh yang luar biasa. Akan tetapi hendaknya diingat, bahwa pengabulan doa adalah semata-mata datang dari Tuhan, dan ada waktu-waktu tertentu untuk doa. Sebagaimana pagi hari adalah waktu yang khas, di waktu ini ada kekhususan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lainnya. Demikian juga ada waktu-waktu tertentu yang meningkatkan pengabulan dan pengaruh dalam doa.”[4]

Setiap pekerjaan yang dikerjakan seseorang dalam kondisi segar di pagi hari akan memberikan hasil yang terbaik. Tidak seperti orang-orang pada masa-masa sekarang ini, yang begadang  sepanjang malam, atau duduk di depan televisi dan internet sampai larut malam, atau yang selalu sibuk dalam pekerjaan-perkerjaan duniawi lainnya, tidur mereka di malam hari tidak cukup. Ketika mereka bangun di pagi harinya, maka dalam keadaan setengah tersadar dan terkantuk-kantuk bagaimana mungkin shalat dapat dikerjakan? Dan pekerjaan-pekerjaan mereka yang lainnya pun tidak akan ada keberkatan.

Setiap orang – termasuk juga orang-orang duniawi – untuk pekerjaan-pekerjaan terbaiknya berusaha untuk mengerjakannya dalam kondisi segar, sehingga dapat bekerja dengan penuh konsentrasi dan mendapatkan hasil yang terbaik. Singkat kata, beliau bersabda bahwa kita hendaknya mencari waktu-waktu yang terbaik untuk memanjatkan doa-doa kita. Doa-doa itu akan terkabul ketika kaifiat (kualitas) itu tercipta.

Kasih Sayang Tuhan

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Kasihsayang Tuhan beserta orang-orang yang takut kepada Tuhan di waktu baik, seperti halnya mereka merasa takut ketika musibah menimpa mereka. Barangsiapa yang di waktu baik tidak melupakan Tuhan, maka Tuhan tidak akan melupakan mereka di saat musibah. Sedangkan orang yang menghabiskan waktu baik mereka dalam keadaan berleha-leha dan baru berdoa di saat tertimpa musibah, maka doa-doanya pun tidak akan dikabulkan. Ketika azab Ilahi datang, maka pintu taubat menjadi tertutup.

Jadi, betapa beruntungnya orang yang sibuk dalam berdoa jauh sebelum datangnya musibah dan memberikan sedekah serta mengagungkan perintah ilahi.“ —  yakni berusaha untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Tuhan dengan penuh penghormatan — ”dan mengasihi makhluk-makhluk Allah serta memperindah amalan-amalannya. Inilah tanda-tanda kebaikan. Pohon dikenal dari buahnya, demikian juga mudah untuk mengenali mana orang yang baik dan mana orang yang jahat.”[5]

            Yakni, amal-amal shaleh orang yang berfitrat baik adalah seperti halnya buah yang manis dan sangat lezat, yang dengan melihat dan mengecap buahnya itu semua orang akan berkata bahwa “ini adalah pohon yang menghasilkan buah yang manis.” Orang yang jahat itu adalah orang bernasib sial, yang amalan-amalannya tidaklah menunaikan hak-hak Allah Ta’ala, dan tidak pula menunaikan hak hamba-hamba-Nya, seolah-olah pohon yang menghasilkan buah yang pahit dan berbau tidak sedap.

Perbedaan Mukmin Hakiki dan Bukan Mukmin Hakiki

            Walhasil, beberapa kutipan ini saya sampaikan dengan tujuan supaya kita mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan dengan Allah Ta’ala, dan agar kita mengetahui jalan dan tata cara untuk berdoa, supaya di dalam diri kita timbul perhatian ke arah perbaikan diri, dan supaya setelah melihat perbedaan antara kebaikan dan keburukan, kita memberikan perhatian ke arah amal-amal shaleh, supaya dengan mengetahui  tata cara berdoa yang benar selanjutnya  kita dapat memberikan perhatian yang lebih lagi terhadap doa, sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengambil bagian dari kebaikan-kebaikan (hasanah) di dunia ini dan juga kebaikan-kebaikan (hasanah)  di akhirat, serta menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala dalam meraih tujuan-tujuan pribadi maupun tujuan-tujuan  Jemaat ini.

            Singkatnya, ini adalah merupakan suatu pokok bahasan yang penting – dimana seorang Muslim yang telah mengimani seorang pecinta sejati Rasulullah Saw., serta mendapatkan karunia mengambil baiat di tangan Masih dan Mahdi Mau’ud – hendaknya ia berusaha untuk memahami dan mengamalkan perkara-perkara itu, sehingga di dalam dirinya timbul perbedaan antara seorang mu’min yang hakiki dengan orang yang hanya sekedar mendakwaan imannya saja, dan menjadi jelaslah, siapa mukmin yang hakiki dan siapa yang hanya sekedar mendakwakan diri sebagai seorang mukmin.

Manusia  Membutuhkan Doa dan Pentingnya Menjadi “Manusia yang Bermanfaat”

            Al-Quran al-Karim telah menggambarkan masalah doa di banyak tempat, yang hendaknya kita berusaha memahaminya dan untuk itu – sebagaimana telah saya katakan – kita harus melihatnya dari sudut pandang Hadhrat Masih Mau’ud a.s., sehingga dengan memahami hikmah dan falsafah doa serta tata caranya, kita akan memberikan perhatian kepada doa, dan bahkan bukan hanya memberikan perhatian terhadap doa, melainkan juga berusaha untuk meraih hasil (natijah) yang baik dari doa tersebut. Doa-doa seperti inilah yang akan membuahkan hasil, karena tanpanya hidup ini tidak bertujuan. Manusia membutuhkan hasil (natijah) yang baik dari doa ini untuk memperbaiki dan memperindah kehidupannya. Tuhan tidak membutuhkan apakah kita beribadah kepada-Nya atau tidak, dan berdoa kepadanya atau tidak. Kitalah yang memerlukan doa yang membuahkan hasil itu, bukan Allah Ta’ala, karena dia Maha Kaya dan berkecukupan. Oleh karena itu Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw.:  قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ — “Katakanlah, Tuhan kamu tidak akan peduli kepadamu, jika kamu tidak berdoa” (Al-Furqaan: 78).

            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Seorang hamba yang sempurna adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Akan tetapi, dalam ayat ini terdapat penjelasan yang lebih lagi…”  — yaitu menjelaskannya dengan lebih gamblang —  ”Yakni katakanlah [hai Rasulullah Saw.] kepada orang-orang itu, bahwa “Jika kalian tidak menyeru Tuhan, maka bagaimana mungkin Tuhan-ku peduli kepada kalian?” Atau dengan kata lain bisa dikatakan bahwa Dia hanya peduli terhadap hamba-Nya.”[6]

            Dia peduli terhadap orang-orang yang berdoa dan beribadah kepada-Nya. Jadi, jika kita ingin menjalin hubungan dengan Tuhan, dan [ingin] melihat penyempurnaan keinginan-keinginan baik kita dan menyaksikan kegagalan-kegagalan musuh kita, maka kita perlu berusaha untuk menjadi hamba yang sejati. Kita harus berusaha memberikan perhatian untuk menjadi seorang hamba yang hakiki. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk menjadi hamba-Nya yang hakiki dan menciptakan ruh ini di dalam diri kita, sehingga kita bisa melihat kesudahan yang buruk para musuh kita.

 

Para Mullah (Ulama) Pakistan dan India

            Dewasa ini, orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan permusuhan, kedengkian dan kebencian terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s., khususnya di Pakistan dan juga di beberapa daerah di India, pengaruhnya telah mencapai daerah-daerah di Afrika. Para mullah dan ulama yang hanya sekedar namanya saja yang berasal dari Pakistan itu seolah-olah berada di barisan pertama. Mereka tidak melepaskan satu kesempatan pun untuk mencela dan menghina Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Mereka selalu mencari-cari kesempatan untuk menyakiti hati orang-orang Ahmadi. Kecintaan para Ahmadi kepada  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berakar dari kenyataan bahwa beliau adalah seorang pecinta sejati Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang terbesar. Inilah “dosa” para Ahmadi. Hubungan kesetiaan dan kecintaan para Ahmadi dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini dikarenakan di zaman ini beliau telah menciptakan di dalam diri kita kecintaan yang hakiki terhadap Hadhrat Rasulullah saw..

            Hubungan kecintaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini adalah dikarenakan kita telah mendapatkan pemahaman Tauhid yang hakiki dengan perantaraan beliau. Jadi, orang-orang yang melampaui batas dalam permusuhannya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebenarnya menentang sang pecinta sejati Rasulullah saw. dan sang penyeru Tauhid; seseorang yang Tuhan peduli kepadanya. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Allah Ta’ala peduli kepada hamba-Nya, dan pada zaman ini tidak ada hamba (‘aabid) yang lebih besar daripada Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

            Di masa lalu pun kita melihat kesudahan para musuh, dan dewasa ini pun kita sedang menyaksikannya. Di Pakistan, orang-orang yang sangat keras mencaci-maki Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah dihukum oleh Tuhan dengan sedemikian rupa, sehingga hal ini tentu saja akan menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Orang-orang yang bisa melihat pun sedang menyaksikan di Pakistan.

Kehinaan Berbalik Menimpa Diri Para Penghina

            Saya tidak meyebutkan nama tempat secara khusus di mana peristiwa-peristiwa itu terjadi, di mana Allah Ta’ala telah menghukum orang-orang yang melakukan kekasaran dan kekurangajaran itu. Orang-orang yang berlaku kurang ajar ini ada berbagai macam jenisnya; ada orang-orang yang merasa dirinya shaleh dan suci, diusir dengan hina dari wilayah mereka oleh orang-orang mereka sendiri – yang dulunya menganggap mereka suci – atas tuduhan suatu tindak kejahatan, bahkan oleh tindak kejahatan itu sendiri (bukan sekedar tuduhan).

Atau Allah Ta’ala menghinakan mereka dengan cara lain yang karenanya para pendukung mereka menjadi malu. Dengan ini pun iman para Ahmadi menjadi kuat. Tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan sangatlah kotor, sehingga beberapa orang yang menuliskan kejadian-kejadian itu kepada saya dan terkadang surat-surat kabar pun menulis bahwa mereka tidak dapat menjelaskan hal tersebut di surat kabar mereka, karena begitu kotornya tuduhan-tuduhan itu.

Sebagian besar mayarakat di Pakistan tidak peduli atau merasa takut. Demikian juga yang sedang terjadi di beberapa wilayah di India. Dengan melihat semua ini pun orang-orang tidak juga bisa mengambil pelajaran, bahwa kehinaan yang menimpa orang-orang Islam yang sekedar namanya saja yang berbuat zalim tersebut adalah dikarenakan permusuhan mereka terhadap seseorang yang diutus oleh Tuhan. Jika saja mereka lebih merenungkannya, maka hal ini akan menjadi pelajaran bagi mereka.

       Sebagaimana yang telah saya katakan, bahwa di negeri-negeri lainnya seperti Afrika, terkadang juga terdapat permusuhan-permusuhan, akan tetapi orang-orang Islam setelah melihat kebobrokan para ulama mereka itu, maka kemudian mereka mereka tertarik kepada Ahmadiyah.

       Di banyak tempat di Afrika Ahmadiyah tersebar dikarenakan hal ini. Mereka mengenal agama yang benar setelah melihat keadaan ulama-ulama mereka. Di dalam diri mereka terdapat keberanian bahwa mereka harus mengambil pelajaran dari tingkah laku para ulama mereka yang hanya sekedar namanya saja itu dan mencari kebenaran.

Tebasan “Pedang Doa”

Saya ingin mengatakan kepada para para Ahmadi, bahwa janganlah khawatir dengan gerakan-gerakan dan serangan-serangan para penentang Ahmadiyah. Beberapa hari yang lalu, seorang Ahmadi dari Pakistan menulis kepada saya: “Penentangan di daerah kami sudah sedemikian rupa kerasnya, sehingga mereka melakukan segala macam cara yang keji dalam hal ini. Orang-orang ini merusak foto Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan menghinakannya dengan perlakuan-perlakuan buruk lainnya yang sangat menyayat hati kami.

Kami tidak tahan lagi melihat kejahilan ini, sepertinya hati ini akan meledak. Mereka memasang poster-poster yang demikian keji, sehingga beberapa orang bukan Ahmadi yang berfitrat baik pun menurunkan poster-poster yang menempel di dinding-dinding rumah mereka. Mereka berkata bahwa ini sudah sangat keterlaluan.”

Selanjutnya ia menulis bahwa melihat hal ini ia menangis meraung-raung. Saya menulis kepadanya supaya ia menghadapinya dengan sabar dan doa. Semakin buruk permusuhan mereka, semakin kita diajarkan untuk berpaling kepada Tuhan dan memfanakan (meleburkan) diri kepada-Nya. Walhasil, kita hendaknya senantiasa mengedepankan pelajaran ini dan berusaha untuk lebih banyak lagi berdoa daripada sebelumnya. Ini merupakan sebuah pelajaran yang meningkatkan hubungan kita dengan Allah Ta’ala dan membuat kita fana (larut) kepada-Nya.

 Orang-orang yang seperti ini mengundang mautnya (kematiannya) sendiri. Orang-orang yang menghina utusan Allah Ta’ala senantiasa hancur dan binasa. Orang-orang ini juga apabila mereka tidak jera dari perlakuan mereka, maka sebagaimana dahulu pedang doa telah menebas Lekh Ram, dengan seizin Allah Ta’ala pedang ini juga akan menebas mereka.

Jadi, serahkanlah segala kedukaan, rasa sakit dan rintihan anda itu ke hadapan Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala menjadikan orang-orang yang jahat ini sebagai pelajaran yang menyadarkan bagi yang lainnya.

Doa Ilhami Untuk Kebinasaan Para Penentang yang Kezalimannya telah Memuncak

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam sebuah majlis yang diadakan pada tanggal 15 April 1904, bersabda: “Ketika saya sedang berdoa untuk Jemaat saya dan untuk Qadian, maka turunlah sebua ilham, “Mereka telah dijauhkan dari keindahan dunia,  فَسَحِّقْهُمْ تَسْحِيْقًا yakni, maka hancurkanlah mereka hingga luluh-lantak.”

Beliau bersabda, “Aku merenung mengapa tindakan melumatkan ini dinisbahkan kepadaku? Tidak berapa lama kemudian pandangan saya tertuju pada sebuah doa yang sudah setahun tertulis di dinding Baitut Du’a, dan doa itu adalah

يَارَبِّ فَاسْمعْ دُعَائِى وَمَزِّقْ اَعْدَائَكَ وَاَعَدَائِى وَاَنْجِزْ وَعْدَ كَ وَانْصُرُْعَبْدَ كَ وَاَرِنَااَيَّامَكَ وَشَهِّرْلَنَاحُسَامَكَ وَلَا تَذَ رْمِنَ الْكَافِرِيْنَ شَرِيْرًا

‘Rabbi fasma’ du‘aa-ii wa mazziq a’daa-aka wa a’daa-ii wanjiz wa’daka wanshur ‘abdaka wa arina ayyamaka wa syahhir lanaa husaamaka wa laa tadzar minal kaafiriina syariira.’

Yakni, “Ya Tuhanku, dengarlah doaku, hancurkanlah musuh-musuh Engkau dan musuh-musuhku, sempurnakanlah janji Engkau, tolonglah hamba Engkau, perlihatkanlah kepada kami hari-hari Engkau, tajamkanlah pedang Engkau untuk kami dan jangan biarkan seorang pun pengacau dari antara orang-orang yang ingkar.”

Orang-orang yang ingkar sangatlah banyak, akan tetapi ada sebagian dari mereka yang kejahilannya telah mencapai puncaknya. Jadi, doa ini adalah untuk mereka. Beliau bersabda: “Dengan melihat doa ini dan adanya ilham ini nampaklah bahwa inilah waktunya bagi pengabulan doaku.”

Kemudian beliau bersabda, “SunatulLaah senantiasa berjalan seperti ini, yakni orang-orang yang merintangi di jalan para utusan-Nya, maka Dia akan meyingkirkan mereka. Inilah hari-hari di mana berlimpahnya karunia Allah Ta’ala, yang dengan melihatnya keimanan dan keyakinan terhadap Wujud Allah Ta’ala semakin bertambah, bahwa bagaimana Dia menzahirkan semua perkara itu.”[7]

“Kebenaran Bisu” dan Peningkatan Kesabaran dan Doa

Dan pemandangan ini, pada hari ini juga sedang diperlihatkan kepada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Di satu sisi ada cacimaki, maka di sisi lain ada kemajuan. Tentu saja di negeri-negeri ini juga terdapat orang-orang yang baik, yang seperti saya katakan tadi bahwa mereka mencopot poster-poster yang menempel di dinding-dinding rumah mereka. Akan tetapi kebanyakan yang ada di dalam diri mereka itu adalah kebaikan yang bisu. Sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih al-Tsalits rh. bersabda bahwa “Kebaikan itu memang ada, namun itu adalah kebaikan bisu, yang tidak bisa berkata-kata.”

Akan tetapi, sekelompok orang terpelajar telah menulis di surat-surat kabar berbahasa Inggris, mereka telah mulai angkat suara menentang kezaliman yang telah melampaui batas ini. Bagaimana pun, untuk menyelamatkan negara ini kita hendaknya membaca doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang berdasarkan ilham ini, supaya orang-orang jahat itu mencapai kesudahannya. Supaya orang-orang baik di negara tersebut selamat dari keburukan orang-orang yang jahat ini. Dan yang paling penting adalah para Ahmadi terjaga (terpelihara) dari keburukan orang-orang yang jahat itu.

Jadi, sebagaimana yang telah saya katakan, adalah penting bagi setiap Ahmadi untuk menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran dan doa lebih dari sebelumnya. Di beberapa kota dan di beberapa daerah masih terus terbelenggu oleh makar orang-orang jahat yang menentang para Ahmadi. Akan tetapi Tuhan kita adalah Sebaik-sebaik perencana (Khairul-maakiriin). Dia akan membalikkan rencana-rencana (makar-makar) jahat mereka itu terhadap diri mereka sendiri, dan ini sedang terus terjadi. Dia-lah Yang hingga sekarang menjaga kita dari makar-makar mereka yang menakutkan. Maka sebagaimana telah saya katakan janganlah kita meninggalkan Tuhan kita.

 Beberapa waktu yang lalu pun saya telah menarik perhatian ke arah hal ini, bahwa kita harus membentuk amalan-amalan kita supaya sesuai dengan ridha Ilahi dan dalam corak berjama’ah menundukkan diri di hadapannya. Maka dengan itu insya Allah Ta’ala dalam waktu yang tidak lama dapat segera terjadi sebuah revolusi.

Mencium  Wangi “Aroma  Pertolongan Ilahi”

            Tidak bosan-bosannya dalam hal menarik perhatian ke arah doa ini  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:  “Selama jangka waktu antara doa dan pengabulannya terkadang datang musibah demi musibah, yang sebagiannya sedemikian rupa  beratnya seolah-olah mematahkan tulang punggung. Akan tetapi seseorang yang teguh dalam keyakinannya dan berfitrat baik, dalam cobaan dan kesulitannya itu ia mencium aroma pertolongan-pertolongan Ilahi, dan dengan pandangan firasatnya ia melihat adanya pertolongan Ilahi  setelah itu.

Dalam musibah-musibah itu pun terdapat sebuah rahasia, yakni meningkatnya semangat untuk berdoa, karena semakin besar kegetiran dan kepedihan yang dirasakan, maka jiwanya  akan semakin luluh. Dan ini adalah merupakan salah satu sarana pengabulan doa.

Jadi, janganlah pernah takut, dan janganlah berburuk sangka terhadap Tuhan dengan ketidaksabaran dan kegelisahan. Janganlah timbul pemikiran bahwa doa kita tidak dikabulkan dan tidak akan dikabulkan, sebab dengan adanya prasangka seperti itu maka ini menjadi pengingkaran terhadap Sifat Allah Ta’ala bahwa Dia adalah Sang Pengabul doa.”[8]

Yakni jika dalam diri seseorang timbul pemikiran semacam ini, maka secara tanpa terasa ia telah mengingkari sifat pengabul doa Allah Ta’ala. Walhasil, hendaknya ada keteguhan hati dalam setiap pekerjaan-pekerjaan kita. Kita harus berdoa dengan memperhatikan syarat-syaratnya, yang mana sebagiannya telah saya jelaskan tadi melalui kutipan sabda-sabda Hadhrat Masih mau’ud a.s.. Kita harus senantiasa yakin bahwa firman Allah Ta’ala tidak pernah salah. Ketika Allah Ta’ala berfirman bahwa:أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ    – “Aku  mengabulkan doa  apabila   berdoa kepada-Ku – Al-Baqarah 187). Yakni, “panjatkanlah doa dengan memperhatikan syarat-syaratnya, maka Aku akan mengabulkannya.” Maka tidak ada lagi alasan untuk kita berputus asa. Ya, memang, waktu untuk pengabulan doa itu Allah Ta’ala sendiri yang menentukan. Apabila dalam setiap musibah kita bersujud di hadapan Tuhan, maka insya Allah Ta’ala kita akan melihat pengabulan doa-doa kita.

 

Pentingnya Istiqamah (Keteguhan) dalam Berdoa

Saya juga akan menyampaikan sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang lainnya. Beliau bersabda: “Ingatlah, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil faedah dari doa selama ia tidak memperlihatkan kesabaran yang sempurna dan tidak teguh dalam doa-doanya. Hendaknya ia jangan  berprasangka buruk terhadap Allah Ta’ala dan menganggap Dia sebagai Sang Pemilik segala kekuasaan dan iradah (kehendak). Yakinlah, kemudian berdoalah terus dengan sabar, tidak lama lagi akan tiba masanya di mana Allah Ta’ala akan mendengar doa-doanya.

Barang siapa yang menggunakan resep ini, niscaya dia tidak akan pernah gagal dan luput dari karunia-karunia ilahi. Bahkan, sungguh dia akan berhasil dalam tujuan-tujuannya. Tuhan mempunyai kekuatan dan kekuasaan tidak terbatas dan Dia telah menetapkan aturan kesabaran yang panjang di jalan pengabulan apa yang manusia inginkan.

Dia tidak pernah mengubah aturan ini, jadi barangsiapa yang menginginkan supaya Dia mengubah aturan ini untuknya, seolah-olah dia telah berani lancang dan kurang ajar di hadapan Allah Ta’ala, kemudian hendaknya juga diingat, bahwa sebagian orang sangat tidak sabar, dan menginginkan semuanya terjadi begitu saja dalam sekejap seperti aksi tukang sulap. Saya katakan bahwa jika ada seseorang yang tidak sabar, maka apa pengaruh dari ketidak sabarannya itu terhadap Allah Ta’ala? justru akan merugikan dirinya sendiri. Lihatlah, dia akan pergi ke mana dengan ketidaksabarannya itu.”

Selanjutnya beliau bersabda, “Lihatlah, ketika Hadhrat Yusuf a.s.” – yang merupakan putra kesayangan Hadhrat Ya’kub a.s. – “dikarenakan kejahatan saudara-saudaranya, dipisahkan dari beliau (yakni Hadhrat Ya’kub a.s.), maka beliau berdoa selama 40 tahun untuk putra beliau tersebut. Jika beliau tidak sabar dan tergesagesa, maka tidak akan membuahkan hasil.

Beliau terus menerus sibuk dalam berdoa selama 40 tahun dan percaya kepada kudrat kekuasaan Tuhan. Akhirnya setelah 40 tahun doa-doa itu membawa Hadhrat Yusuf as. kembali. Dalam masa penantian yang panjang itu orang-orang yang tidak sabar berkata kepada beliau, “Tidak ada gunanya engkau mengingat-ingat Yusuf”, namun beliau mengatakan bahwa beliau mengetahui  dari Tuhan apa yang mereka tidak ketahui. Memang, beliau tidak mendapat kabar apa-apa namun beliau berkata: إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ  — “Sesungguhnya aku mencium wanginya Yusuf..”  Surah Yusuf, 12:95).

Pertama-tama telah diketahui bahwa masa pengabulan doa itu memang lama. Jika Allah Ta’ala Ingin memahrumkan (meluputkan) doa-doa, maka Dia akan segera memberikan jawaban. Namun lamanya masa penyempurnaan doa itu menjadi bukti bahwa doa itu akan dikabulkan. Karena seseorang yang baik hati tidak akan membiarkan seorang pengemis pulang dengan kosong setelah membiarkannya menunggu lama. Bahkan orang yang paling pelit sekali pun tidak melakukan hal seperti itu. Dia pun akan memberikan sesuatu kepada  pengemis itu apabila ia telah menunggu lama di depan pintu.”[9]

Sementara itu rintihan dan luka di hati kita ini bukanlah dikarenakan kezaliman terhadap kita secara pribadi, melainkan kita adalah yang menjadi sasaran dari kezaliman itu. Kita menjadi sasaran dari kezaliman itu dikarenakan kita telah menerima utusan dan kekasih Tuhan di zaman ini. Jadi, sungguh kita menanggung semua ini adalah untuk Tuhan. Jika kita menanggung semua ini semata-mata demi Dia  maka pasti Dia akan mendengar doa-doa kita. Kemajuan yang diraih oleh Jemaat ini adalah bukti hidup bahwa Allah Ta’ala bersama kita. Sebagaimana telah saya katakan bahwa makar-makar musuh sangatlah keras. Ini semata-mata karunia Tuhan dan janji yang telah diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., serta untuk menguatkan keimanan kita Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan ini bahwa di berbagai tempat rencana-rencana musuh telah digagalkan. Tidak hanya di Pakistan, di berbagai negara di dunia pun terjadi penentangan, akan tetapi kemajuan Jemaat ini tidak bisa dibendung.

 

Menjawab Pertanyaan Wartawan Yang Masih dalam Benak

Ketika saya pergi ke Parlemen Eropa, seorang wartawan bertanya, “Apa kedudukan anda sekalian dibanding  Muslim yang lainnya? Berapa jumlah anggota Jema’at ini? Di manakah anda sekalian menempatkan diri?” Saya merasa bahwa setelah ia menanyakan fakta jumlah anggota Jemaat ini, kemudian dia akan bertanya bahwa, “Ajaran yang anda bawa, wacana tentang perdamaian yang anda bicarakan dan yang ingin anda sebarkan di dunia ini, dengan jumlah yang sekecil ini apa yang bisa anda lakukan?” Tiba-tiba terlintas di pikiran saya jawaban Hadhrat Khalifatul Masih al-Tsalits (III) yang beliau berikan kepada seorang wartawan Eropa dalam menjawab pertanyaan yang serupa, yakni,  berapakah jumlah anggota Jemaat beliau? Maka beliau menjawab bahwa “Satu orang pada 93 tahun yang lalu itu kini telah mendekati jumlah 10 juta orang. Sekarang hitunglah, akan menjadi berapa jumlah kami dalam beberapa tahun yang akan datang.”[10] Maka saya pun berkata kepadanya bahwa Jemaat Ahmadiyah ini telah berdiri selama 123 tahun, dan dengan karunia Allah Ta’ala sekarang kami telah mencapai jumlah puluhan juta. Dan insya Allah Ta’ala telah dekat masanya, dimana dunia akan melihat kami sebagai sebuah Jemaat yang berpengaruh. Ketika saya memberikan jawaban ini dan mengatakan kepadanya bahwa inikah maksud dari pertanyaannya dan apakah ia telah puas dengan jawaban tadi? Dia menjawab bahwa memang inilah yang ada di benaknya.

Akan tetapi hendaknya kita ingat, bahwa tujuan kita bukanlah untuk mendapatkan pengaruh di dunia ini, melainkan untuk menegakkan kerajaan Tuhan di muka bumi, dan untuk menyebarkan kecintaan dan kasih sayang di dunia ini. Jadi, bagaimana pun kita tidak perlu khawatir kezaliman para penentang akan menghalangi kita dari tugas-tugas kita dan menghambat tujuan-tujuan kita. Allah Ta’ala sedang memperlihatkan kemajuan itu kepada kita, dan tidak hanya itu, bahkan Allah Ta’ala dalam Al-Quran al-Karim telah memberikan gambaran mengenai kehidupan yang akan datang dan keadaan orang-orang yang menjalin hubungan dengan para kekasih-Nya serta yang menentang mereka, dan memberikan sarana-sarana ketenangan dan ketentraman untuk kita.

Penjelasan Ayat-ayat Al-Quran di Awal Khotbah: Allah Ta’ala Menolak Permohonan Orang-orang Kafir

Ayat yang saya tilawatkan di awal tadi, memberikan gambaran berkenaan dengan hal ini, firman-Nya:

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ *

Yakni, mereka para penentang akan berkata bahwa, “Ya Tuhan kami, nasib buruk kami telah menguasai kami, dan kami adalah suatu kaum yang sesat.” (Al-Mu’minun: 107)

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ *

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya, maka jikalau kami kembali kepada kedurhakaan, maka sungguh kami orang yang aniaya.” (Al-Mu’minun: 108)

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ *

“Dia, Allah, akan berfirman, “Enyahlah kamu, tinggallah terhina di dalamnya, dan janganlah berbicara dengan Daku.” (Al-Mu’minun: 109)

إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ *

“Sesungguhnya ada segolongan di antara hamba-hamba Kami yang berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka ampunilah kami atas dosa-dosa kami. Dan kasihanilah kami. Dan Engkau-lah pemberi rahmat yang sebaik-baiknya.” (Al-Mu’minun: 112)

فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ *

“Maka kamu jadikan mereka cemoohan, sehingga cemoohan terhadap mereka menyebabkan kamu lupakan mengingat-Ku dan kamu terus-menerus menertawakan mereka.” (Al-Mu’minun: 113)

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya aku telah mengganjar mereka pada hari ini atas kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah yang memperoleh kemenangan.” (Al-Mu’minun: 112)

            Walhasil, inilah kesudahan orang-orang yang menjauh dari tujuan hidup mereka. Ketika mereka berada di alam akhirat maka menjadi jelaslah kepada mereka hakikat yang sebenarnya. Kemudian mereka akan berkata bahwa nasib buruk mereka telah mengepung mereka, sehingga membawa mereka ke tempat (neraka) itu. Mereka memohon kepada Allah Ta’ala supaya dikembalikan lagi ke bumi untuk kedua kalinya, dan mereka berjanji tidak akan melakukan kedurhakaan lagi, dan jika mereka melakukan itu maka mereka akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang aniaya. Allah Ta’ala berfirman bahwa, “Ini bukanlah peraturan Kudrat-Ku. Sekarang rasakanlah hukuman atas apa yang telah kamu lakukan, enyahlah dari hadapan-Ku dan tempat tinggal kamu adalah neraka dan kamu akan masuk di dalamnya. Sekarang Aku tidak akan mendengar perkataan dan teriakan-teriakan kamu.”

Rintihan dan Permohonan Taubat” di Dunia; Akhirat ialah tempat dibalasnya dari amal-amal di dunia  

            Jadi yang akan didengar oleh Allah Ta’ala adalah rintihan, panggilan dan perkara-perkara yang di dengar-Nya di dunia ini yang merupakan amal-amal shaleh. Bukan orang-orang yang setelah berbuat zalim di bumi ini, barulah di akhirat mereka memanggil-manggil Tuhan. Oleh karena itu, inilah perlakuan Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang menentang para utusan-Nya. Tuhan Yang setiap saat senantiasa menanti permohonan taubat dari hamba-Nya itu, di akhirat nanti Dia tidak akan menerima lagi permohonan taubat itu, karena waktunya sudah terlambat. Ketika mereka telah di akhirat, maka di sana mereka akan mendapatkan balasan dari amalan-amalan mereka.      Amalan-amalan yang mereka lakukan di dunia ini, tindakan-tindakan mereka di dunia ini yang menyakiti hati para hamba-Nya dan orang-orang yang bersujud kepada-Nya, serta perlakuan buruk mereka terhadap orang-orang yang berusaha menegakkan keagungan agama-Nya serta berusaha merintangi usaha mereka dalam menyampaikan pesan Ilahi.

            Tidak hanya mencegah orang lain dari mendengar perkataan mereka, bahkan memperlakukan mereka dengan begitu kejamnya. Mereka menertawakan orang-orang yang membaca Kalimat Allah dan menjadikannya bahan perolokan, bahkan bermain-main dengan darah mereka, maka sekarang bagaimana mungkin mereka akan dimaafkan? Sekarang (di akhirat) tidak akan lagi didengar perkataan mereka, mereka akan dimasukkan ke dalam jahanam, tempat tinggal mereka. Dia akan berfirman bahwa sesungguhnya pada hari ini hamba-hamba-Nya yang beriman kepada utusan-Nya  yang datang sesuai dengan perintah dan janjiNya, maka layaklah bagi mereka untuk mendapatkan kasihsayang-Nya, Dia akan mendengar perkataan mereka dan menempatkan mereka di surga. Dia akan mengganjar penganiayaan yang mereka tanggung dengan kasihsayang. Ganjaran mereka akan dilipat gandakan.

Orang-orang yang meraih Keberhasilan

            Tuhan akan berfirman bahwa orang-orang yang menganiaya hamba-hamba-Nya begitu dibutakan sehingga mereka bahkan lalai dari mengingat-Nya. Mereka telah lupa kepada perintah Tuhan bahwa dengan menyakiti orang-orang mukmin dan membunuh mereka secara sengaja, akan membawa mereka ke dalam api jahanam. Mereka telah melupakan janji untuk memberikan hak Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Mereka telah mengikrarkan hal ini, tetapi mereka lupa.  Ketika mereka lupa terhadap perintah-perintah Tuhan, lupa dari mengingat-Nya dan melanggar perintah Tuhan dengan sekehendak mereka, maka Tuhan tidak ada lagi ikatan dengan mereka.

            Mereka merampas harta benda orang-orang yang teraniaya, membumi-hanguskannya, mengganggu bisnis mereka, dan jika melakukan kerjasama bisnis, mereka memakan yang menjadi bagiannya. Singkatnya, ada daftar panjang kejahatan-kejahatan mereka. Sekarang neraka jahanam adalah hukum yang ditakdirkan bagi mereka. Ini adalah apa yang dinyatakan Al-Quran, yakni tidak ada gunanya lagi mereka berbicara  dengan-Nya tentang kelembutan dan ampunan. Tuhan akan berfirman kepada orang-orang yang beriman, dan yang memohon rahmat dan ampunan-Nya, bahwa karena kesabaran dan kuatnya keyakinan mereka, karena hubungan mereka dengan-Nya, karena mereka bersujud kepada-Nya dan karena mereka menjadi hamba-Nya, maka mereka akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meraih keberhasilan dan menerima kasihsayang, kecintaan dan ampunan-Nya.

            Walhasil, berdasarkan ayat tersebut, inilah perbedaan antara orang yang beriman dan tidak beriman. Semoga Allah Ta’ala menutupi semua kesalahan dan kelemahan kita, dan semoga perhatian kita tetap terarah kepada berdoa dengan keteguhan,  dan semoga kita termasuk ke dalam golongan Faaizuun, yakni orang-orang yang memperoleh kemenangan.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuuzhaat, Jilid IV, hal. 21, edisi 2003, Rabwah

[3] Malfuuzhaat, Jilid IV, hal. 33, edisi 2003, Rabwah

[4] Malfuuzhaat, Jilid IV, hal. 309, edisi 2003, Rabwah)

[5] Malfuuzhaat, jilid IV, hal. 539, edisi 2003, Rabwah

[6] Malfuuzhaat, jilid II, hal. 221, edisi 2003, Rabwah

[7] Tadzkirah, hal.426-427, Rabwah, 2004

[8] Malfuuzhaat, Jilid II, hal. 707-708, edisi 2003, Rabwah

[9] Malfuuzhaat, Jilid II, hal. 151-152, edisi 2003, Rabwah

[10] Dikutip dari: Daurah Maghrib, 1400 H, hal. 211-213