Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba) tanggal 14 Juni 2013

===============================================

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (البقرة 112-113)

“Dan mereka berkata, ‘Tidak akan pernah masuk surga kecuali orang Yahudi atau Kristen.” Ini adalah hasrat sia-sia mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian memang benar. ” Tidak, barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sementara ia berbuat baik, pahalanya ada di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut akan menimpa mereka, tidak pula mereka akan bersedih hati. ” (QS.2:112-113).

Seseorang baru-baru menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih mengungkapkan keprihatinan mereka atas pemerintahan baru di Pakistan, dan menduga-duga apakah seperti pemerintahan sebelumnya, rezim ini juga akan menganiaya para Ahmadi dan kondisinya akan tetap sama.

     Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi, bagaimanapun — baik itu pemerintah saat ini atau pemerintah lainnya — dengan adanya undang-undang anti-Ahmadiyah di Pakistan, tidak perlu khawatir seperti ini, sebab ini merupakan penyebab keprihatinan terus-menerus bagi para Ahmadi Pakistan, yang hendaknya terdorong untuk berdoa dalam hal ini.

Hanya Bergantung Pada Allah Swt.

      Jika kita memiliki suatu harapan dari pemerintahan duniawi maka kita mungkin memiliki sudut pandang seperti ini, tetapi jika kita bergantung sepenuhnya pada Allah, yang memang seharusnya demikian, maka tidak ada perlunya menerka-nerka bahwa situasi akan lebih baik jika si A dan si B berkuasa atau situasi akan memburuk jika si C dan si D berkuasa. Tidak ada perlunya khawatir dalam hal ini jika kita bertawakal dan bergantung hanya pada Tuhan. Pemerintah duniawi ini akan melakukan penganiayaan, beginilah situasinya sejak undang-undang tersebut diumumkan di Pakistan. Penentangan telah berlangsung sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Meskipun pada waktu itu tidak pada level pemerintahan, tapi tetap saja para aparatur pemerintahan biasa membuat rencana melawan kita.

Bagaimanapun, entah itu pemerintahan dari satu ideologi atau ideologi lain, dalam anggapan mereka, mereka telah mengeluarkan Ahmadiyah dari kelompok Islam dan pemerintahan manapun yang datang, itu melakukan penganiayaan terhadap para Ahmadi, bahkan penganiayaan itu semakin meningkat.

Kami tidak mengharapkan kebaikan apapun dari pemerintah duniawi ini, tidak pula kami memerlukan pengesahan mereka untuk disebut Muslim. Seorang Muslim sejati adalah orang yang Muslim dalam pandangan Allah, yang beriman pada Keesaan Tuhan dan menerima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi pembawa syariat terakhir dan Khaataman nabiyyiin.

Dalam hal ini Ahmadiyah adalah Muslim dari segi keyakinan maupun amalan, bahkan mereka adalah Muslim yang lebih baik daripada selainnya.

“Muslim Konsitusional” dan “Muslim Hakiki”

Jika Muslim ‘konstitusional’ [yang resmi/diakui UU Pemerintah], atau pemerintahan, atau menteri atau aparat mereka melakukan penindasan, mereka berdosa di hadapan Tuhan dan berdasarkan ini kita lebih dekat kepada Allah, karena tentu saja hal ini membawa Ahmadi lebih dekat kepada Tuhan.

Dalam menjelaskan istilah Muslim ‘konstitusional’ kepada mereka yang mungkin tidak tahu, Hadhrat Khalifatul Masih besabda, “Menurut konstitusi Pakistan, Ahmadiyah bukan Muslim dalam pengertian konstitusi dan agama. Sungguh tidak masuk akal bahwa pemerintahan demokratis memutuskan masalah agama. Setelah undang-undang anti-Ahmadiyah tahun 1974 di Pakistan, seorang penguasa militer yang zalim semakin meningkatkan kekerasan.

 Singkatnya, menurut amandemen konstitusi ini, Ahmadiyah adalah non-Muslim di Pakistan terlepas dari kenyataan bahwa gambaran Islam yang benar sedang disebarkan di dunia oleh para Ahmadi, sementara yang lainnya, yang secara konstitusional Muslim sedang memburukkan nama Islam.”

Orang sering menyampaikan kepada Hadhrat Khalifatul Masih, seperti dalam tur (lawatan) beliau baru-baru ini ke Amerika beliau ditanya, bahwa Muslim lainnya tidak menganggap kita sebagai Muslim sedangkan praktek (amal perbuatan) mereka juga berkebalikan [dengan ajaran Islam itu sendiri], sedangkan para Ahmadi menyatakan bahwa mereka akan mengadakan revolusi [perubahan] di dunia, bagaimana itu akan terjadi?

 Sebagai tanggapan Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan kepada mereka bahwa “Itu (perubahan revolusioner) memang sedang terjadi, karena ratusan ribu orang masuk ke dalam Islam sejati setiap tahun dan kami akan melanjutkan tugas kami sampai kami meyakinkan dunia bahwa Islam adalah agama perdamaian dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul perdamaian yang ketinggian (kedudukannya) tidak ada yang menyamainya.”

 Hudhur juga memberitahu mereka bahwa, “Bukan hak seorang individu untuk menentukan agama orang lain. Setiap orang memutuskan keyakinannya sendiri. Pemerintah bisa menganggap kita sebagai Muslim atau tidak, itu tidak masalah.” Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan kepada mereka bahwa beliau adalah seorang Muslim dan mereka yang telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam juga adalah Muslim, dan Muslim yang lebih baik daripada mereka yang belum menerima Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam.

Islam Adalah “Agama Perdamaian”

Jika ada pemerintahan, menteri atau aparaturnya melakukan kekejaman, mereka akan menghinakan pemerintahan mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan kita (para Ahmadi) jika pemerintahan terhina, meskipun [para Ahmadi ada yang] orang Pakistan, itu menyakiti kita karena para Ahmadi telah memberikan pengorbanan besar untuk Pakistan. Dengan membunuh orang atas nama agama, tidak hanya orang-orang ini menghinakan Pakistan, mereka juga membawa memburukkan nama Islam yang merupakan agama perdamaian. Sungguh, Allah menyatakan bahwa keadilan harus ditegakkan bahkan jika seseorang berurusan dengan musuh:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ (المائدة: 9)

“… dan janganlah permusuhan orang-orang yang mendorong kalian untuk bertindak selain dengan keadilan. Jadilah selalu hanya, itu lebih dekat kepada kebenaran. Dan bertakwalah kepada Allah … “(QS.5:9).

Demikianlah ajaran Islam dan kita membungkam para penentang Islam dengan menginformasikan mereka tentang hal itu. Seorang Muslim sejati selalu sadar akan rasa takut pada Tuhan dan tidak mungkin bagi seorang Muslim sejati terlibat dalam ketidakadilan dan kekejaman. Masalahnya adalah bahwa mereka yang memimpin negara [Pakistan] tidak memiliki ketakwaan (kebenaran), dan kekejaman dan ketidakadilan dapat diperkirakan dari mereka.

Beberapa hari yang lalu acara diadakan di Gedung Parlemen Inggris untuk menandai 100 tahun Jama’at Inggris. Acara ini dihadiri oleh 42 anggota parlemen, termasuk wakil Perdana Menteri dan 6 menteri, diplomat dan tokoh-tokoh lainnya. Hadhrat Khalifatul Masih memberikan presentasi tentang Islam sejati berdasarkan ajaran Islam yang indah dan teladan beberkat Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para hadirin merespon dengan baik dan berkomentar bahwa sementara sudut pandang Ahmadiyah adalah perdamaian dan keamanan, sedangkan perbuatan sebagian umat Muslim lainnya mengkhawatirkan.

Beberapa politisi menyampaikan pendapat seperti itu dengan terus terang sementara yang lain sedikit hati-hati. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih mendasarkan pidato beliau pada Al Quran dan teladan beberkat Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya.

Menanggapi pidato Hudhur itu, seorang diplomat Kristen mengatakan bahwa setiap kata menyentuh hatinya. Dia sering menghadiri acara kita dan akrab dengan kita. Hudhur mengatakan kepadanya bahwa pesannya tidak dimaksudkan untuk dia sendiri dan memintanya untuk menyebarkannya di lingkungannya, dan dia bilang dia sudah melakukannya dan akan terus melakukannya.

 

Berpaling kepada Allah Ta’ala,

Bukan Pemerintahan Duniawi

“Demikianlah, kita mempengaruhi orang luar tapi pesan kita tidak menimbulkan perbedaan pada para Maulwi yang keras kepala selain membuat mereka semakin keras kepala. kita berusaha menghilangkan gambaran yang salah tentang Islam yang disebabkan oleh beberapa orang, dan Insya Allah akan terus melakukannya. Namun para politisi dan orang-orang terpelajar dari negara-negara Muslim mengikuti para Maulwis dalam menganiaya para Ahmadi atas nama Islam.

 Inilah yang mereka lakukan. sebagaimana kita akan melanjutkan apa yang kita lakukan, demikian pula mereka. Kita hendaknya tidak khawatir tentang mereka dan tidak memiliki harapan terhadap mereka dan tidak pula melihat mereka.

Jika mereka menegakkan keadilan, mereka akan diganjar oleh Allah, jika tidak, Tuhan kita beserta dengan kita. Dia akan memberikan anugerah kepada kita, sesuai dengan janji-Nya,  di dunia ini serta akhirat,  dan mereka yang melakukan kekejaman pasti akan diazab.

Daripada melihat ke pemerintah duniawi ini, kita harus berpaling kepada Allah dan mengikuti perintah-perintah-Nya. Adapun pernyataan para pemuka agama — bahwa siapa pun yang tidak mengikuti mereka terkutuk dan pasti menjadi penghuni neraka — karena itu mereka telah memberikan kebebasan kepada orang-orang mereka untuk melakukan apapun yang mereka inginkan kepada para Ahmadi, yang memang demikian yang sedang terjadi, pemerintah yang berbicara tentang supremasi hukum pada kenyataannya mendukung para penganiaya.

Dua hari yang lalu seorang Ahmadi disyahidkan di Karachi dan ada juga percobaan pembunuhan pada Ahmadi di Jhelum yang terluka parah dan dirawat di rumah sakit. Semoga Allah memberinya kesembuhan. Teman-teman non-Ahmadi dari Ahmadi ini juga terjebak dalam serangan ini.

Di Karachi dua orang teman dari syuhada yang bersamanya di dalam mobil terluka parah dan dirawat di rumah sakit, salah satunya dalam kondisi kritis. Seorang teman non-Ahmadi juga terluka dalam serangan di Jhelum dan sekarang konidisinya lebih baik. Semoga Allah memberi mereka kesembuhan.

Cara Meraih Keridhaan Tuhan

Allah menyatakan, ini bukan hal yang baru, para pemuka agama terdahulu juga serupa. Namun, Tuhan menyatakan bahwa siapapun yang menyerahkan diri kepada Tuhan dan berbuat baik pahalanya ada di sisi Tuhannya. Membunuh seseorang atas nama agama  atau sebuah lembaga, tidak akan bisa memberikan sertifikat untuk masuk ke surga atau neraka. Tuhan telah menyatakan, bahwa orang yang berbuat baik untuk meraih keridhaan Tuhan dan bai’at kepada Imam Zaman karena Tuhan telah memerintahkan begitu, tidak punya alasan untuk takut atau berduka. Setiap perbuatan orang seperti ini yang (dilakukan demi) meraih keridhaan Tuhan akan akan menganugerahkannya keridhaan Tuhan.

Setiap Ahmadi yang telah bai’at dengan cara ini adalah jelas Muslim dan merupakan orang yang meraih kecintaan Tuhan. Kedudukannya sebagai Muslim tidak memerlukan pengesahan politik apapun. Menurut ayat dibacakan pada awal khotbah, Muslim adalah seseorang yang menyatakan bahwa ia adalah seorang Muslim dan: ‘man aslama wajhahuu lillaahi’  ‘… barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah …’  tidak dinyatakan bahwa orang lain perlu mengumumkan siapa yang Muslim dan siapa yang tidak.

Sebaliknya setiap orang harus menyerahkan diri kepada Tuhan, kemudian menyatakan bahwa ia adalah seorang Muslim melalui pilihan sendiri dan siap untuk melakukan tanggung jawab yang telah Allah bebankan pada dirinya sebagai seorang Muslim. Selain itu, dinyatakan bahwa ia harus: “wa huwa muhsinun’ – dan ia berbuat baik (ihsan) …”, yaitu, amalannya sehari-hari sangat baik dan ia menghindari segala sesuatu yang buruk. Ketika itulah dia akan mendapatkan ganjaran Tuhannya dan tidak akan merasa takut atau sedih. Amalan baik yang terus menerus, menghindari hal-hal yang buruk dan mengutamakan agama di atas hal-hal duniawi menyelamatkan seorang mukmin dari kesalahan masa depan.

Menjadi Milik Allah Secara Akidah dan Amalan

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam menulis: “Makna lughat Islam dijelaskan dalam ayat: ‘Tidak, barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, sementara ia berbuat baik (ihsan), pahalanya ada di sisi Tuhannya.

“Tidak ada rasa takut akan menimpa mereka, tidak pula mereka akan bersedih”  ini berarti bahwa seorang Muslim adalah orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak Allah Ta’ala, yakni, seseorang yang mengabdikan dirinya kepada Allah Ta’ala, untuk mengikuti kehendak-Nya dan meraih keridhaan-Nya, dan kemudian teguh dalam berbuat baik Demi Allah Ta’ala dan mencurahkan seluruh kemampuannya untuk itu. Dengan kata lain, ia sepenuhnya menjadi milik Allah Ta’ala baik secara akidah maupun amalan.

Menjadi milik-Nya secara akidah berarti bahwa seseorang harus menganggap dirinya sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala dan taat kepada-Nya dan mencari kecintaan dan keridhaan-Nya.

Menjadi milik-Nya secara amalan berarti melakukan semua kebaikan yang berhubungan dengan setiap kemampuan seseorang dengan penuh ghairat dan perhatian seolah-olah dia melihat Wajah sang Kekasih sejati di dalam cermin ketaatannya.” “(Essence of Islam, Vol. I, hal . 18 – 19)

Ini adalah kedudukan yang harus kita capai secara akidah maupun secara amalan. Jika kita mereformasi diri kita dan memiliki iman yang kuat dan mencoba untuk menjalani hidup kita sesuai dengan apa yang membuat Tuhan ridha, maka setiap penindasan yang dilakukan dengan dalih hukum tidak akan merugikan kita, meskipun itu menimbulkan kerugian duniawi, kita akan diterima oleh Allah.

Dengan menyampaikan kejadian orang-orang terdahulu Al-Qur’an telah meneguhkan hati kita. Pengikut Musa as. datang sebagai penyihir tetapi kemudian yakin dan berbicara [kepada Firaun]:

فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (طه: 73)

“… maka putuskanlah apa yang engkau putuskan, Engkau hanya bisa memutuskan mengenai kehidupan ini saja … ‘(Thaa Haa [20]:73). Jika ada pemerintah ingin melakukan kekejaman, di hadapan mereka ada akhir kehidupan Fir’aun,  sementara kita harus memperlihatkan keimanan yang tidak takut terhadap orang-orang duniawi.

 

Standar Seorang  Muslim

 Standar orang-orang yang menyatakan diri mereka sebagai Muslim digambarkan dalam ayat ini:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً (النساء: 126) 

“Dan siapakah yang lebih baik imannya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dan mengikuti agama Ibrahim, yang tulus ikhlas? Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai seorang sahabat karib. “(An-Nisa [4]:126)

Allah telah menyatakan kelebihan Hadhrat Ibrahim dalam Al-Qur’an sebagai: وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (النجم: 38) ‘wa Ibraahiima ladzii wafaa’ “Dan Ibrahim yang memenuhi perintah? – ( An-Najm 53:38).

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam menulis bahwa Hadhrat Ibrahim as. meraih kedekatan dengan Tuhan karena kejujuran, kesetiaan dan ketulusan. Untuk setia dan tulus kepada Allah membutuhkan suatu macam kematian. Kualitas ini tidak dapat ditanamkan kecuali seseorang benar-benar meninggalkan semua kesenangan dan kemegahan duniawi, dan siap untuk menanggung setiap kehinaan demi Tuhan.

Sulit untuk menanamkan kejujuran dan ketulusan tanpa siap untuk mengalami segala macam kesulitan di jalan Tuhan. Tuhan menghendaki perbuatan dan senang dengan perbuatan, sementara perbuatan bisa menyakitkan. Namun ketika seseorang siap menanggung kepedihan untuk Tuhan, Dia tidak akan membiarkannya menderita.

 Untuk membuat hati seseorang bebas dari yang lain kecuali Tuhan dan mengisi hatinya dengan kecintaan kepada Tuhan, dan mengikuti kehendak Allah dan tunduk kepada-Nya seperti bayangan tunduk kepada wujud asli sedemikian rupa sehingga tidak ada perbedaan antara kehendak Allah dan apa yang dia inginkan, adalah hal yang bisa dicapai melalui doa.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam juga bersabda bahwa hakikat Islam dapat diwujudkan pada diri seseorang ketika semua wujudnya benar-benar diberikan kepada Tuhan dengan segenap kekuatan lahiriah maupun batiniah, dan apa pun yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dikembalikan kepada Dia.

Bukan hanya secara akidah tetapi juga secara amalan  gambaran Islam yang sejati ditampilkan. yaitu, seseorang yang mengaku menjadi Muslim membuktikan bahwa semua anggota badan, kecerdasan, wawasan, semua kekuatan jasmani dan rohani, kehormatan dan harta bendanya, dan segala sesuatu yang lain dari kepala ke jari-jari kakinya, yang nampak maupun tidak, termasuk niat dan ketakutan hatinya tunduk kepada Tuhan seperti anggota badan seseorang berada di bawah kendalinya.

Inilah kedudukan yang setiap Ahmadi harus berusaha untuk mencapainya, dan hanya dapat mengklaim sebagai Muslim sejati ketika telah berupaya, dan ketika itulah ia akan ada dalam perlindungan Tuhan. Sebagai sebuah Jemaat, semoga Allah menjadikan sebagian besar dari kita seperti ini. Semoga kita berpaling kepada doa dan sepenuhnya diwarnai oleh warna Islam.

Semoga kita menarik rahmat Tuhan dan termasuk ke dalam orang-orang yang mengenainya Tuhan telah menyatakan: وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ‘wa busyraa lil mu’miniina’ ‘. … Kabar suka bagi orang-orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan “(QS.16:90).

Semoga Tuhan menjadikan sebagian besar dari kita ditarik ke arah doa, bahkan semoga setiap Ahmadi ditarik ke arah doa dan semoga kita memiliki hubungan yang tulus dengan Tuhan dan juga segera melihat kesudahan para penentang kita!

 

Pensyahidan  Chaudhry Hamid Sami Sahib  

 

Ahmadi yang disyahidkan di Karachi pada tanggal 11 Juni itu Chaudhry Hamid Sami Sahib syahid. Ahmadiyah masuk ke dalam  keluarga beliau melalui kakek beliau yang juga mengalami penentangan keras setelah menerima Ahmadiyah. Ayah beliau biasa menyiapkan kayu ranjang di tangannya dan tidur di ranjang itu. Hamid Sahib lahir di Lahore. beliau berusia 48 tahun bekerja sebagai akuntan. Pada hari pensyahidan beliau, beliau bepergian di dalam mobil dengan dua teman non-Ahmadi ketika para penyerang tak dikenal melepaskan tembakan.

Tampaknya para penyerang mengendarai sepeda motor, dan menyerang dari kedua sisi mobil. Almarhum terkena beberapa peluru di sekujur tubuhnya sementara teman-teman beliau terluka oleh peluru yang memantul. Hamid Sahib berkhidmat di Jama’at di departemen maal. Beliau orang yang ceria, sopan, yang sangat perhatian kepada keluarga beliau dan orang lain. Beliau meninggalkan seorang janda dan tiga anak. Semoga Tuhan menjadi Pelindung mereka dan semoga Dia mengangkat kedudukan Almarhum.

Penerjemah                          : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor                                     : Dildaar Ahmad

Referensi                               : www.alislam.org