Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 23 September 2011/ Tabuk 1390 HS

 di Gross Gerau, Darmstadt, Hesse, Deutschland (Jerman)

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Hudhur Menyampaikan khotbah Jumat ini dari Jerman. Sejak acara Ijtima Khudam dan Lajnah minggu lalu. Hudhur banyak sekali menerima surat dari orang-orang yang tersentuh hatinya ketika mendengarkan Pidato Hudhur saat acara Ijtima tersebut. Sudah sepantasnya hal itu terjadi, sebagai seorang Ahmadi kita harus memaknai setiap nasihat ataupun peringatan yang datang untuk manfaat diri kita.

Begitu banyak respon yang datang atas khotbah-khotbah Hudhur sebagai pancaran cahaya dari Al-Qur’an suci: وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا  ”Dan orang-orang yang apabila diperingatkan tentang tanda-tanda Tuhan mereka, tidak akan terjerumus kedalamnya sebagai orang-orang yang tuli dan buta”.[Surat Al-Furqaan (25): 74].

Setengah dari yang hadir di Ijtima itu berasal dari Khudam dan Lajnah, dan apabila sebahagian mereka yang hadir itu melakukan perubahan yang shaleh pada diri mereka, maka mereka akan menjadi perpanjangan tangan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mengadakan revolusi besar pada dunia.

Orang-orang yang tersentuh oleh Khotbah Hudhur perlu perenungan atas diri mereka secara terus-menerus. Badan-Badan (Ansar, Khudam dan LI) juga harus segera secara regular memfasilitasi anggotanya, kalau tidak antusiasme akan karunia kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as ini akan memudar.

Banyak juga orang terpengaruh khotbah Hudhur melalui MTA. Seorang ibu menulis surat ke Hudhur bahwa anaknya yang masih kecil menyembunyikan wajahnya ke bantal kursi ketika dia mendengar Hudhur mengatakan suatu masalah dimana dia merasa semua itu ditujukan Hudhur padanya. Inilah semangat anak Ahmadi dimana mereka merasa malu dan berusaha untuk memperbaiki diri. Sebagian anak juga meninggalkan telepon seluler (HP) mereka setelah mendengarkan khotbah Hudhur dan segala keinginan untuk games dan fasilitas lainnya dari gadget mendadak hilang. Hudhur mengatakan bahwa bagi yang sudah dewasa dibutuhkan refleksi diri yang terus-menerus dan bagi orangtua untuk senantiasa mengingatkan anak-anak mereka untuk tetap berperilaku baik dalam kehidupan mereka. Kenikmatan sesaat tidak penting, jika kita tidak tetap mengadakan perubahan suci maka kita tidak akan bisa ambil bagian dalam revolusi besar yang diusung Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hudhur mengatakan beliau begitu takjub atas perhatian Lajnah dan Nasirat dalam mendengarkan khotbah beliau yang jauh lebih lama dari yang biasa beliau sampaikan di depan mereka. Namun Lajnah jangan merasa cukup puas bahwa mereka sudah melaksanakan Ijtima dengan baik dan mendapat pujian. Namun mereka harus tetap mengembangkan cara kerja mereka dan berusaha menjadi umat yang diridhoi Allah Ta’ala sesuai dengan janji Rasulullah saw dan tidak membedakan antara orang-orang awal dan orang-orang akhir.

[Dalam teks lengkap khotbah Urdu Hudhur V atba bersabda: “Para pengurus harus memeriksa dan mengoreksi dirinya sendiri, begitu juga para anggota. Bila hal itu dilakukan maka saat itulah mereka menjadi orang-orang yang dapat menolong Hadhrat Masih Mau’ud as, dan mereka juga dapat digolongkan menjadi orang-orang pada zaman yang disabdakan oleh Nabi saw, ‘Perumpamaan umatku seperti hujan, tidak diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.’[2] (Yakni, masing-masing dari kedua zaman itu memiliki keagungannya yang tersendiri).

Apakah itu zaman akhir yang yang dihubungkan oleh Nabi saw dengan zaman awal? Ketahuilah, zaman tersebut adalah zaman akhir yang secara khusus disebut dalam al-Qur’an ini sebagai zaman akharin. Di zaman ini, Asyiq Shadiq dan Ghulam Shadiq Hadhrat Rasulullah saw diutus dan mempertemukan antara orang-orang awwalin dan akhirin. Dia membawa agama turun kembali dari bintang Tsurayya. Dia menegakkan lagi kerajaan rohaniah Hadhrat Rasulullah saw. Makna atau pengertiannya bukanlah demikian bahwa والعياذ بالله – wal ‘iyaadz billaah, na’udzu billaah – nabi yang diutus di zaman akhir itu sama dengan Hadhrat Rasulullah saw dalam hal derajatnya. Itu adalah hal yang sangat sulit untuk membuat batasan bahwa yang ini lebih utama atau yang itu lebih baik. Hal itu tidak mungkin dapat demikian. Satu pihak adalah Aqa (Sayyid, Majikan, Junjungan, yaitu Nabi Muhammad saw) sedangkan yang satu lagi adalah ghulam (pelayan, yaitu Pendiri Jemaat). Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa setelah cahaya tersebar luas di zaman beliau, akan ada masa kegelapan setelahnya. Akan kita dapati banyak hadits mengenainya.

Salah satu hadits dalam hadits Muslim riwayat Imran bin Hushain menyebutkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang hidup pada masaku. Kemudian orang-orang pada masa berikutnya. Kemudian orang-orang pada masa berikutnya. Kemudian orang-orang pada masa berikutnya. Imran berkata; ‘Saya tak tahu apakah Rasulullah menyebutkan ‘orang-orang sesudah masa beliau’ dua atau tiga kali.’” Pendeknya, setelah itu beliau saw bersabda, “Setelah orang-orang itu (generasi-generasi terbaik yang disebut Nabi saw), akan datang orang-orang yang memberikan kesaksian padahal mereka tidak dimintai kesaksian. Mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya (meninggalkan kejujuran). Mereka bernazar tanpa meIaksanakannya. Mereka tidak jeli dalam menepati janji. Diantara mereka tampak gemuk-gemuk [dikarenakan kemewahan hidup dan kesukaan bersenang-senang yang mereka jalani].”] [3]

Di Hadist lain lagi Rasulullah saw memaparkan bahwa akan tiba waktu ketika kegelapan menerpa umat Muslim dan muncullah Al- Masih yang merupakan cahaya dimana-mana.

Masa Rasulullah saw merupakan masa keemasan dari ajaran beliau. Abad Al-Masih adalah masa ketika Penyempurnaan Nubuatan ajaran Rasulullah saw. Kedua masa ini diberkati karena keduanya saling berhubungan.

Tanggung-jawab besar dari penyempurnaan Nubuatan (Janji) ini berada di pundak kita. Para sahabat dan para Muslim saf awal menunjukkan contoh hebat dari hubungan antara Ilahi dan moral yang tinggi sehingga mendatangkan pujian dunia. Kemudian, para pedagang dan ulama membawa ajaran Islam sampai ke China dan mengajak orang melalui perilaku mereka yang baik dan kini sudah ada ratusan ribu umat Muslim di China. Saat ini sulit membawa ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as secara langsung ke China. Namun karena ini adalah masa Penyempurnaan Nubuatan, Allah selalu memberikan jalan untuk itu. Jemaat Jerman telah mendapat kesempatan istimewa untuk mengenalkan Ahmadiyah dalam suatu pameran di China. Mereka juga menyiapkan literature literatur dalam bahasa China, yang tanpa itu tugas ini tentu tidak mungkin dilaksanakan. China Desk di London bekerja dengan baik, dimana tuan Usman Chou bertanggung-jawab untuk itu sehingga Jemaat Jerman bisa membawa misi ini ke China.

Sama juga halnya dimana Al-Qur’an suci dan literature-literature banyak yang disebarkan di negara-negara yang jauh, dalam bahasa mereka. Kesemuanya ini adalah karena sekarang adalah masa yang penuh berkah sehingga orang yang ambil bagian di dalamnya juga diberkati. Antusias sesaat tidaklah cukup, apa yang dibutuhkan adalah usaha yang total.

Jemaat Jerman sukses memberikan pelayanan di China dan beberapa negara di sekitarnya. Seperti yang ditulis dalam surat ke Hudhur, dibutuhkan ribuan orang untuk mengadakan revolusi ini, sesuai seperti yang Rasulullah saw sudah dikhabarkan, beliau mengatakan bahwa nanti masa di akhir zaman pun penuh berkah.

Diantara khabar suka pada umatnya, Nabi saw bercerita tentang Khilafat, yang merupakan aspek utama dalam kemajuan umat. Sekarang para cendikiawan Muslim mulai mengatakan bahwa Khilafat dibutuhkan oleh umat, karena mereka menyadari keabadian umat tidak akan mungkin tanpa Khilafat.

Mereka tidak bisa memaknai suatu perintah dari Allah yaitu tentang Khilafat yang tertera dalam ajaran nabi-nabi Allah yang terdahulu dan baru sekarang terbukti maknanya. Saat ini di negara-negara Muslim orang senantiasa menyeru ke jalan Allah Ta’ala dan Nabi saw, karena hanya itulah jalan keluar dari kegelisahan saat ini.

Dari Hudzaifah ra Rasululah saw bersabda, ”Bahwa kenabian itu akan tegak atau akan ada diantara kalian selama Allah menghendaki; kemudian apabila Dia berkehendak maka Dia akan mengangkatnya; kemudian selama Tuhan menghendaki Khilafat di bawah mekanisme kenabian akan ada; kemudian manakala Dia menghendaki Dia akan mengangkatnya; kemudian kapan Dia menghendaki maka Dia akan mengangkat nikmat itu; kemudian kerajaan yang menyakitkan akan selama Tuhan menghendaki; kemudian Dia akan mengangkatnya kapan Dia menghendaki; kemudian akan berdiri kerajaan yang lebih zalim dari itu selama Tuhan menghendaki kemudian Dia akan mengangkatnya selama Tuhan menghendaki; kemudian sesuah itu aan berdiri Khilafat di bawah cara atau mekanisme kenabian kemudian beliau diam.” [4]

Hudhur mengatakan bahwa inilah tugas kita di dunia, khususnya di negara-negara Islam. Walau kita senantiasa dianiaya tanpa rasa iba, para Ahmadi tetap menyampaikan pesan Al-Masih kepada seluruh umat. Inilah ajaran Nabi Suci saw bagi orang-orang yang bergabung di akhir zaman dan menjadi bagian dari umat yang diberkati.

Seperti sebelumnya, Hudhur mengingatkan kembali tentang refleksi diri. Beliau menanyakan berapa orang diantara kita yang senantiasa menginstropeksi diri terhadap kewajiban kita selaku murid Hadhrat Masih Mau’ud as, sekali sehari, sekali seminggu atau sekali sebulan? Apa yang kita persembahkan pada Allah? Peran apa yang sudah kita lakukan dalam menegakkan Khilafat? Hadhrat Masih Mau’ud as diutus sebagai bukti tanda Pengasihnya Allah Ta’ala dan Allah mengizinkan kita untuk menerimanya. Namun apakah hal itu sudah cukup bagi orang yang sudah baiat? Sebenarnya, ketika Nabi Suci saw mengatakan bahwa di akhir zaman nanti akan penuh kebaikan dan berkah sama seperti masa awalnya Islam, maka maksud beliau saw adalah bagi yang ambil bagian dalam revolusi rohaniah dengan menerapkan perubahan suci, beramal baik, memperbaharui perjanjian dan menyempurnakan tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as. Penting bagi para pengikut Al-Masih untuk ambil bagian pada revolusi besar ini. Inilah tugas setiap Ahmadi untuk ikut ambil bagian dalam gerakan di akhir zaman ini.

Renungkanlah perintah Al-Qur’an dan lanjutkan dengan melaksanakannya adalah suatu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu revolusi. Dunia ini akan menjadi syurga. Sekarang kita lemah dan senantiasa teraniaya dimana- mana. Kalau kita tetap tegak untuk memaknai arti baiat yang sesungguhnya, maka andaikata bukan orang-orang ini yang baiat sekarang, pasti generasi mendatang mereka akan bergabung bersama kita.

Hudhur sejak awal mengatakan perhatiannya pada Waqafeen-e-Nou. Sebahagian dari kita mengira bahwa anak Waqafeen-e-Nou cukup belajar di Jamiah saja. Sepertinya mereka tidak mengerti hal ini secara detail. kini para Waqifeen-e-Nou banyak yang belajar di Universitas. Setelah berkonsultasi dengan Hudhur atau Jemaat, mereka berjanji, setelah menyelesaikan pendidikan mereka akan mewaqafkan diri pada Jemaat.

Dalam hal pengorbanan harta. Hudhur menceritakan kemarin seorang wanita datang dan menyerahkan pada Hudhur setumpuk emas. Ketika Hudhur memintanya (wanita) itu untuk menyimpan emasnya, si wanita itu mengatakan bahwa dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyerahkan ini pada Jemaat sehingga emas itu haram bagi dia sekarang. Hadhrat Masih Mau’ud as sudah membuat suatu revolusi bagi para pengikutnya. Mereka juga patuh kepada perintah syariah.

Di dunia yang materialistis ini, keinginan menjadi orang shaleh dan senantiasa teguh dalam berdoa, pasti membuat seseorang menerima kebahagiaan dari Allah Ta’ala. Banyak juga orang di Jemaat yang mengikuti cara ini namun hendaknya lebih banyak lagi. Al-Qur’an menyebutkan: وإِذَا الجَنّةُ أُزْلِفتْ ‘wa idzal jannatu izlifat’ – ”Dan ketika surga sudah didekatkan”. (At-Takwiir, 81:14). Menurut Hudhur ayat ini tentang masa Hadhrat Masih Mau’ud as dan suatu karunia bagi orang-orang yang termasuk dalam berkat ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa Allah tidak menghendaki satu sisi kesalehan saja yang membuat kita mendapat karunia dari Allah namun harus secara penuh. Kita harus senantiasa mengawasi amalan kita. Kita sudah menerima Imam Zaman yang membawa kita dekat pada Allah dan sesama manusia. Beliau menghimbau para pengikutnya untuk menjadi Wali (Saint) dan Pir (Orang suci) dari pada menjadi Pemuja orang suci (Hierolatry). Hudhur mengatakan bahwa ini adalah masalah yang sangat besar untuk mengajak orang menjadi Wali atau Pir. Yang pasti bukan menjadi seorang Pir seperti Pir sekarang ini.

Banyak sekali orang seperti ini; wali seperti ini dan orang-orang yang dimuliakan seperti ini yang tidak membawa kepada petunjuk, bahkan membawa manusia kepada kesesatan.

Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani (II) menceritakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih al-Awwal (I) ra biasa menceritakan bahwa saudara perempuan beliau adalah murid seorang Pir.  Beliau ra mentablighinya, memintanya agar takut terhadap Allah, menghiasi kehidupan dunianya dengan amal saleh dan memintanya untuk menjadi Ahmadi, tetapi saudari beliau menjawab bahwa dia sudah baiat di tangan Pir Fulan yang tertinggi derajatnya dan tidak perlu menjadi Ahmadi. Tuan Pir telah menjelaskan pada wanita itu, “Amal-amal baik tidak penting lagi bagi murid-muridku. Engkau telah menjadi muridku yang sejati dan semua dosa kamu ditanggung olehku.”

Pandangan mengenai kaffarah (penebusan dosa) ternyata tidak hanya ada dalam orang-orang Kristen, para Pir Muslim pun memunculkannya juga lantas apakah orang-orang itu layak disebut umat terbaik?

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal lalu berkata kepada saudarinya, “Tanyakanlah lagi kepada Tn. Pir, ‘Pada Yaumul Hisaab (Hari Perhitungan) tiap-tiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amal-amalnya dan mereka akan menerima pukulan karena dosa-dosanya, mungkinkah anda dapat bayangkan bahwa karena anda menanggung dosa murid-murid anda lantas sampai berapa kali pukulan anda akan menerimanya?’”

Begitulah, akhirnya ia bertanya kepada Pirnya. Beberapa waktu setelah berjumpa, Hudhur I ra bertanya kepada saudarinya, “Apakah pertanyaan tersebut telah ditanyakan kepada Pir engkau itu?” ia menjawab, “Iya. Saya tanyakan. Masalah yang begitu besar bagi engkau itu akan diselesaikan dengan mudah dalam hitungan menit oleh Pir saya.” Beliau bertanya, “Bagaimana caranya?” Ia menjawab, “Pir berkata, ‘Kalau malaikat menanyakan soal dosa-doa kamu katakanlah, “Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Saya adalah pengikut Tn. Pir dan Sayyidzada Pulan [yang adalah keturunan Nabi saw],” maka malaikat itu akan membuka jalan bagi kamu, tidak akan memandang kamu, ia menunduk dan engkau akan masuk surga dengan cepat.

Adapun bilamana pertanyaan yang sama ditujukan pada saya (pada tn. Pir) maka saya akan menjawab [kepada malaikat] dengan marah dan mata memerah, “Tidak cukupkah bagi engkau [wahai malaikat] pengorbanan-pengorbanan yang telah dipersembahkan oleh leluhur saya, Imam Husain di medan Karbala, sehingga sekarang engkau datang untuk menyusahkan kami? Orang-orang di dunia telah menyusahkan kami dan sekarang engkau datang juga untuk menyusahkan kami.” Maka Malaikat-malaikat akan [merasa bersalah] malu karenanya dan akan meninggalkan jalan itu, dan saya akan pergi ke surga dengan perasaan senang dan bangga.’”[5]

Hudhur mengatakan bahwa surga yang didekatkan pada manusia di zaman sekarang adalah Hadhrat Masih Mau’ud as yang senantiasa menyeru kita kepada cahaya ajaran Al-Qur’an suci. Sampai saat ini, sekumpulan besar orang di negara Muslim, dari rakyat biasa sampai yang berpendidikan termasuk pemimpin politik, setahu Hudhur masih percaya pada Pir. Mereka tidak menganjurkan shalat atau baca Al-Qur’an tapi cukup dengan taat pada Pir maka doa-doa mereka cukup kuat.

Hudhur mengatakan jika surga bisa dicapai dengan jalan seperti ini maka tidak akan ada artinya Al-Qur’an. Hudhur mengatakan banyak sekali yang minta doa pada beliau namun ketika ditanya apakah mereka shalat, mereka menjawab tidak. Hudhur menasihatkan agar mereka shalat buat mereka sendiri dan dengan shalat mereka menjadi penolong Hudhur juga.

Pada suatu kali seorang sahabat meminta doa pada Rasulullah saw dan beliau menjawab bahwa beliau saw akan mendoakan sahabat itu tetapi dia juga harus mendoakan Rasulullah dalam shalatnya.[6]

Hudhur mengatakan siapa yang minta didoakan maka dia harus juga berdoa untuk dirinya. Doa akan dikabulkan apabila sesuai dengan sunnah Rasulullah saw dan dalam doanya dia harus mengetengahkan kecenderungan kepada keimanan. Selanjutnya Hudhur membacakan beberapa cuplikan karya Agung Hadhrat Masih Mau’ud as yang menguraikan cara mereformasi diri. [7]

Semoga Allah Ta’ala mengizinkan kita untuk membentuk jati diri kembali sesuai dengan yang diinginkan Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga kita benar-benar bisa ambil bagian dalam revolusi yang merupakan tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Amtsal (mengenai perumpamaan); Dari Anas berkata: “Rasulullah saw bersabda: :«مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ لاَ يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ». ‘Matsalu ummatii matsalul mathari laa yudraa awwaluhu khairun am akhiruhu.’ – ‘Perumpamaan umatku seperti hujan tidak diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.’”

[3] Shahih Muslim, Kitab Fadhailish Shahaabah (Keutamaan para Sahabat), bab fadhlish shahaabah tsummalladziina yaluunahum (bab tentang keutamaan para sahabat dan generasi setelahnya). Riwayat Imran bin Hushain: أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلا أَدْرِي أَقَالَ رَسُولُ اللهِ بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاثَةً ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلا يُوفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ.

[4] Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Kuffiyyiin (kabar-kabar dari orang-orang Kufah) Musnad An-Nu’man bin Basyir, jilid no. 6 halaman 285,Hadits nomor 19596 Alamul Kutub, Beirut-Lebanon, 1998.  تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.

’Takuunun nubuwwatu fiikum maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatun ‘alaa minhaajin nubuwwati fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a Allahu ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan ‘aadhdhan fayakuunu maasyaa Allahu ay yakuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan jabariyyatan fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatan ‘alaa minhaajin nubuwwati tsumma sakata.’

[5] Tafsir Kabir Jilid Haftam halaman 208-209.

[6] Musnad Ahmad ibni Hanbal jilid 5 hlm 517, Musnad Makkiyyin (penduduk Makkah) hadis khadimun Nabiyyi, no. 16173 ‘Alamul Kitab, Beirut (Lebanon) 1998.

عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ مَوْلَى بَنِي مَخْزُومٍ عَنْ خَادِمٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٍ أَوْ امْرَأَةٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يَقُولُ لِلْخَادِمِ أَلَكَ حَاجَةٌ قَالَ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَاجَتِي قَالَ وَمَا حَاجَتُكَ قَالَ حَاجَتِي أَنْ تَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا قَالَ رَبِّي قَالَ إِمَّا لَا فَأَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Ziyad bin Abi Ziyad, seorang ghulam (pelayan) dari kabilah Bani Makhzum mendengar dari pembantu Nabi saw bahwa Nabi saw biasa menanyakan kepada pelayan beliau saw, ‘Adakah keinginan engkau?’ Suatu hari si pelayan berkata: ‘Ya Rasulullah, aku memiliki suatu permintaan.’ Nabi saw menanyakan, ‘Apakah keinginan engkau itu?’ Si pelayan menjawab, ‘Saya mohon Anda bersedia memberi syafaat kepada saya pada Hari Kiamat.’ Rasulullah saw bertanya, ‘Siapakah yang menyebabkan Anda tertarik kepada perkara ini ?’ Sahabat itu menjawab: ‘Tuhanku.’ Rasulullah saw menjawab: ‘Mengapa tidak?! Akan tetapi, Anda pun hendaknya membantu saya dengan banyak-banyak bersujud (beribadah) kepada Allah Ta’ala.’

[7] Malfuzhat, jilid 4, h. 320, edisi 2003. Malfuzhat, jilid 4, h. 213-214, edisi 2003