بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 15 Tabligh 1392 HS/Februari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Rangkaian peristiwa dan riwayat sahabat-sahabat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam yang telah saya mulai, mengenainya saya telah menjadikannya beberapa topik yang terus menerus telah saya jelaskan, pada hari ini adalah khotbah terakhir dari rangkaian khotbahnya. Begitulah saya telah menanyakan departemen yang terkait yang membidangi hal ini,   dicek lagi registrasinya, kalau masih ada bagian riwayat sahabat yang tertinggal maka di lain waktu akan  disampaikan lagi.

            Ini adalah kesesuaian yang sangat luar biasa bahwa rangkaian riwayat ini ditutup pada bulan Februari dan ditutup dengan riwayat mengenai Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a.. Satu dua buah riwayat telah saya sampaikan dalam khotbah yang lalu dan pada hari ini kurang lebih seluruhnya adalah riwayat-riwayat yang berkenaan dengannya atau ru’ya yang berkenaan dengan Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a..

Lima hari lagi hari Mushlih Mau’ud akan dirayakan. Yakni Jemaat akan merayakannya pada tanggal 20 Februari. Hal ini bukan disebabkan hari kelahiran Mushlih Mau’ud bahkan dikarenakan pada tanggal 20 Februari adalah hari sempurnanya nubuwwatan mengenai Mushlih Mau’ud pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Karenanya Jemaat merayakannya untuk menandai sempurnanya nubuwwatan tentang Mushlih Mau’ud yang merupakan bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s., karena Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. tidak dilahirkan pada 20 Februari.

Ringkasnya, riwayat-riwayat yang disampaikan hari ini di dalamnya menceritakan bagaimana divine assurance (jaminan Ilahi) diberikan kepada orang-orang [yaitu para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud] terkait Khilafat Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a.. Orang-orang yang awalnya ghair mubayyi’ (tidak baiat kepada Khalifah ke-2), kemudian Allah Ta’ala membimbing mereka lalu mereka baiat kembali.

Pada masa hidup Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a., beliau melewati masa-masa yang sangat sulit dan keras. Sejak masa awal, fitnah yang dahsyat muncul pada saat pemilihan khilafat. Ketika orang-orang yang dikenal sebagai ulama-ulama besar dalam Jemaat dan juga dekat dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., mereka memisahkan diri dengan membawa serta khazanah Jemaat. Kemudian setelah masa itu berlalu kemudian di berbagai macam waktu fitnah-fitnah, baik dari dalam maupun dari luar bermunculan, tapi pertolongan Ilahi selalu beserta beliau dan sang Ulul ‘Azmi (Orang yang sangat teguh ini) menghadapi semuanya dengan sangat gagah berani. Pendek kata dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat pada akhirnya terus maju yang besertanya ada pertolongan Allah Ta’ala dan bagi yang ada ikatan dengan khilafat-Nya, dan pada hari ini kita sedang menyaksikan bagaimana Jemaat ini terus berkembang. Riwayat-riwayat di hari ini yang saya terangkan adalah:

Menjadi Pengikut yang Pertama dalam Ru’ya

[1] Hadhrat Syaikh Muhammad Ismail Shahib radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu [selanjutnya disingkat r.a.]. Beliau  baiat pada tahun 1894. Beliau berkata, “Saya melihat dalam mimpi pada masa kehidupan Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. mengenai khilafat Hadhrat Mahmud. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. terluka dan menderita sakit di pinggangnya…”  —  Penyakit ini adalah ada pembekuan darah  atau ada suatu keluhan penyakit di badannya dan lain-lain juga ada kerusakan di dalam perut beliau (akibat terjatuh dari kuda pent.). Pendek kata beliau merasa sakit di pinggangnya, “….maka [dalam mimpi] saya meletakkan tangan saya pada tangan Mia Mahmud dan menyatakan, ‘Saya adalah pembantu tuan yang pertama.’ Beliau berkata pada saya, ‘Saya tidak mengerti maksud anda.’ Syekh Yaqub Ali Irfani memberitahukan beliau, ‘Beliau telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala lewat ru’ya atau ilham yang ditujukan kepada beliau yang berarti, “Kami telah menjadikan Mahmud Khalifah.”’”[2]

Kulit Kacang Kering Bersuara Keras lalu Berjatuhan

[2a] Hadhrat Amir Muhammad Khan Sahib r.a.: Dalam riwayat-riwayat yang lalu juga ada riwayatnya. Saya selalu membaca nama beliau dengan Amir Khan Sahib. Seorang kerabat beliau telah menulis surat kepada saya bahwa namanya Amir Muhammad Khan. Pendek kata penulis riwayat sejak awal menulisnya adalah Amir Khan. Tetapi dalam riwayat yang akan datang ada disinggung sebuah suratnya. Dari sana diketahui, bahwa nama sebenarnya adalah Amir Muhammad Khan.  Singkatnya beliau baiat pada tahun  1903.

Beliau menceritakan, “Pada tanggal 23 November 1913 saya melihat sebuah mimpi dimana banyak kulit kacang kering tergantung di pohon dan bersuara sangat keras sehingga sangat sulit mendengar suara lainnya. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan hujan lebat dan semua kulit kacang kering berjatuhan. Pada waktu itu Hadhrat Ulul ‘Azam bersabda (yakni Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda dalam mimpi), ‘Rumah setan sudah hancur, sudah berantakan. Sekarang tumbuh-tumbuhan hijau akan tumbuh di  bumi dan biji-bijian akan tumbuh dan buah-buahan akan mulai tumbuh.’

 Sebagian orang bertanya kepada beliau sambil mengisyarahkan kepada kacang kering, ‘Kenapa Tuan  menyebutnya rumah setan?’ Dalam jawabannya Hadhrat Ulul ‘Azmi bersabda, ‘Bukan saya saja yang mengatakan semua itu sebagai rumah setan. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga menyebut setan kepada semuanya.’

Setelah itu saya melihat Tn. Hakim Muhammad Umar memperdengarkan nubuwwatan-nubuwwatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada orang-orang dengan suara lantang…”  (ini masih dalam mimpi) – “yang telah sempurna, dan sedang menyampaikannya sebagai dalil akan kebenaran nubuwwatan di masa yang akan datang, yang dengan mendengarnya menimbulkan pengaruh yang menenangkan dan menggembirakan.”

Beliau berkata, “Alhamdulillah, mimpi ini sempurna dengan sendirinya pada masa pemilihan khilafat kedua dan  ketika Maulwi Muhammad Ali dan teman-temannya telah menimbulkan banyak keributan menentang Khilafat, melepaskan diri dari Jemaat bahkan telah keluar dari Qadian, dan setelah keluarnya mereka, Ahmadiyah tersebar ke empat penjuru alam dengan perantaraan Khilafat Tsaniah.” [3]

Penobatan “Mubarak yang Dijanjikan

[2b] Hadhrat Amir Muhammad Khan Sahib r.a. juga menjelaskan dalam sebuah mimpi, “Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. bersabda kepada saya mengenai mimpi yang saya lihat pada tanggal 24 Februari 1912 di malam hari Rabu, ‘Ini adalah yang dinubuwwatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s, (mimpi yang sedang diceritakan, inilah mimpi di masa hidup Hadhrat Khalifatul Masih awal), ketika Mubarak yang dijanjikan datang  maka akan diadakan acara penobatan untuk beliau.’

Kami dulu mengartikan bahwa ini adalah tentang penobatan raja George V, tetapi sekarang kami tahu bahwa Mubarak yang dijanjikan adalah Sahibzada Mia Mahmud dan penobatannya adalah kekhalifahan beliau. Kemudian timbul pemikiran di masa kekhilafatan beliau bahwa hendaknya ada suatu tanda luar biasa di bumi atau di langit. Kemudian difahami bahwa tanda-tanda pun telah sempurna.

Dengan menyinggung Khilafat Sahibzadah (Khilafat Mushlih Mau’ud) wajah Hadhrat Khalifatul Masih I nampak gembira dan saya juga gembira, dan saya berkata bahwa saya dulu mengira munculnya Mubarak yang dijanjikan akan terjadi lama kemudian, tetapi saya bersyukur kepada Tuhan karena waktu yang menggembirakan saya mengalaminya juga di masa hidup saya.

Kemudian timbul pemikiran dalam mimpi bahwa [yang dimaksud] Khalifah [saat itu] adalah Hadhrat Maulwi Sahib [Hakim Nuruddin]. Bagaimana Mia Mahmud bisa menjadi Khalifah? Kemudian saya juga paham bahwa Khalifah Awwal tidak akan hidup sampai tua sebab kekasih Tuhan tidak hidup sampai usia yang sangat tua [pikun].”[4]

Bagi sebagian orang mempertanyakan Mau’ud (yang dijanjikan) maka pada zaman itu Allah Ta’ala memberitahukan kepada mereka dengan perantaraan mimpi.

Khawatir Dijadikan “Sembahan

[3a] Hadhrat Khairuddin (Khair Din) r.a. yang baiatnya pada tahun 1906 berkata, “Suatu kali saya melihat bahwa tangan kanan Hadhrat Khalifatul Masih II ayyadahullahu ta’ala panjangnya 11 karm…” (Karm adalah satu ukuran yang dipergunakan untuk mengukur tanah orang kampung.  Sekitar 55 kaki) Dikatakan di dalam mimpi bahwa Tuhan telah memberikan kekuatan yang luar biasa kepada beliau, yang siapapun tidak akan dapat melawannya.

Aku melihat keadaan seperti ini yaitu wajah beliau menghadap ke barat dan di satu tembok  kecil yang sangat ramai, air mata beliau mengalir dari matanya. Saya bertanya, ‘Mengapa Hudhur menangis?’ Beliau menjawab, ‘Sebabnya aku menangis adalah  jangan-jangan orang-orang akan menjadikan aku sebagai sembahan.’”[5]

Orang-orang   yang Kedudukannya di Langit

[3b] Hadhrat Khaerudin r.a. meriwayatkan, “Beberapa hari yang lalu saya bermimpi bahwa Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. memberikan nota pada orang-orang. Nota  itu diberikan pada mereka yang kedudukannya di langit. Setiap orang diberikan sesuai dengan kedudukannya.

Saya berpikir saya akan tanyakan pada Hudhur yaitu adakah bagi saya suatu kedudukan di langit? Selanjutnya saya bertanya: ‘Hudhur, apakah ada juga bagi saya kedudukan di langit?’ Beliau menjawab, ‘Ya, bagi engkau juga ada satu tempat di langit.’ Dari semua hal itu saya memahami, bahwa apapun yang saya lihat atau yang sedang saya lihat ini adalah pengaruh dari cahaya-cahaya, nur-e-nubuwwat (cahaya kenabian).”[6]

Anak  Kecil Berusia 43 Tahun

[4] Hadhrat Khalifah Nuruddin Shahib r.a. penduduk Jammu yang baiat pada 1891 menceritakan: “Pada 1931 saya melihat seorang anak kecil dalam kasyaf. Setiap orang sangat sayang kepadanya. Saya juga meletakkannya di pangkuan saya dan menyayanginya. Meskipun anak itu masih kecil orang-orang berkata bahwa dia berusia 43 tahun. Saya terinspirasi dan menyadari bahwa Hadhrat Khalifatul Masih II berusia 43 tahun. Dalam sebuah bait syair bahasa Urdu Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  menceritakan mengenai nubuwwatan seorang putranya, digunakan kata eik (satu, bahasa Urdu. Pent).

بشارت دی كہ اك بیٹا ہےتیرا

   جو ہو گا ایك دن محبوب میرا

Bisyarat di keh eik beta he tera

Jo hoga eik din mahbub mera.

Aku beri kabar suka kepada engkau satu anak engkau

Yang suatu hari nanti akan menjadi kesayangan-Ku

Kata “ايك” eik juga adalah isyarat kepada tahun 1931 karena dengan perhitungan abjad “ايك” adalah 31. Yakni kata eik melambangkan bilangan 31 menurut aturan huruf Arab, dimana setiap setiap huruf memiliki nilai angka tertentu. Kesempurnaan rohaniah juga dimulai setelah berumur 40 tahun, inilah kenapa anak tersebut diperlihatkan dalam kasyaf berusia 43 tahun.”[7]

Tubuh Maulwi Muhammad Ali  Mengkerut Mengecil

[5] Hadhrat Rehm Din Sahib r.a., putra Jamal Din Sahib: Beliau baiat pada tahun 1902, beliau menceritakan, “Saya mendapat kasyaf pada masa Khilafat Ahmadiyah ke-2. Saya melihat Maulwi Muhammad Ali dan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a.  ada bersama.  Ketika itu, tubuh Maulwi Muhammad Ali mulai mengkerut, sampai sebesar tubuh anak kecil. Sementara tubuh Hadhrat Khalifatul Masih II mulai membesar sedemikian rupa sehingga lebih besar dari badan biasa dan memancarkan wibawa dan keagungan. Pagi harinya semua keraguan saya lenyap dan saya baiat pada beliau.”[8]

“Orang Terbang” dan “Sejenis Kuda Turun dari Langit”

[2c] Kemudian riwayat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a. Katanya, “Beberapa hari sebelum Khilafat Hadhrat Amirul Mukminin Khalifatul Masih  Ats- Tsani r.a.. Pada hari-hari itu dalam mimpi saya melihat bahwa orang-orang Muslim dikepung orang kafir. Ketika sudah tidak berdaya, maka salah seorang di antara kami terbang ke langit dan ia datang dari langit bersama dengan makhluk kuat sejenis kuda akan tetapi   lebih besar dari kuda yang dengan kedatangannya membuat lari orang-orang kafir.”

Selanjutnya saya menulis surat menceritakan mimpi ini kepada Hadhrat Ulul ‘Azm yang waktu itu sedang dalam perjalanan beberkat beliau ke Mekkah dan Madinah sembari mendoa, ‘Semoga perjalanan Hudhur ini menjadi sarana mencari keridhaan Tuhan dan mendapatkan kedekatan-Nya.’ Dalam mimpi orang yang melihat seseorang pergi ke langit maksudnya adalah perjalanan haji beliau, sedangkan turunnya makhluk kuat sejenis kuda yang lebih besar dari kuda adalah turunnya malaikat-malaikat dengan perantaraan doa-doa Allah Ta’ala menjadikan orang-orang kafir tidak berdaya. Selanjutnya setelah kembali dari ibadah Haji Hudhur memberikan ceramah di masjid Nur dimana surat saya pun disinggung di sana.”[9]

Kumpulan Orang-orang Suci dan Khalifatul Masih II r.a.

[2d] Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a. meriwayatkan, “Pada tanggal 20 Januari 1913 saya berdoa dalam shalat Isya yaitu, ‘Ya Allah anugerahilah saya bermimpi berjumpa dengan Rasul Karim s.a.w. dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga orang-orang suci lainnya”. Ketika saya tidur maka apakah yang saya lihat? Yaitu di suatu lapangan banyak sekali orang suci dalam agama sedang berkumpul dan semuanya sedang sibuk dalam berdoa, di sana ada juga Hadhrat Khalifatul Masih II r.a.

Diantara beliau dan di depan saya ada bunga Yasmin yang darinya kami menyium aroma wanginya. Hadhrat Khalifatul Masih II berkata pada saya, ‘Ketika mencium bunga janganlah ditempelkan pada hidung akan tetapi hendaknya berikanlah sedikit jarak dengan hidung supaya wanginya bunga dapat tercium dengan baik.’”[10]

 

Mimpi “Mendapat Pekerjaan di Rumah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.”

[2e] Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a. meriwayatkan, “Pada malam di bulan Desember 1913 saya bermimpi diperlihatkan pada saya berada di pinggir Hadhrat Mia Shahib Ulul ‘Azm. Diperlihatkan pemandangan berupa rumah-rumah yang di bawahnya mengalir rembesan (tirisan) air laut dan hal itu tanpa disadari oleh mereka bahwa kehancuran telah mendekatinya. Ta’bir dari mimpi ini telah sempurna pada pengingkar khilafat dengan mengingkari khilafat.[11]

Kemudian beliau juga menceritakan, “Di pertengahan malam tanggal 13 dan 14 Februari 1930 saya melihat mimpi dimana saya sedang memanjat sebuah tangga dan di belakang saya Hadhrat Ummul Mu’minin r.a juga sedang memanjat.  Ketika saya melihat kepada Hudhur maka saya gemetaran disebabkan perasaan hormat saya pada beliau…” (yakni setelah melihat Hadhrat Ummul Mu’minin maka gemetaran). “…Akan tetapi Hadhrat Umul Mu’minin  dengan kasih sayang bersabda, “Jangan takut,  engkau juga anak saya”.

Kemudian saya naik tangga lainnya pergi ke rumah lain yang juga rumah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Apa yang saya lihat yaitu di sana saya mendapatkan pekerjaan dari keluarga Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan tetapi  gajinya jauh lebih rendah dari pada gaji pekerjaan saya sebagai Sub Inspector (wakil pengawas), yang setelah bermusyawarah saya menerimanya.

Kemudian seseorang bertanya kepada saya, ‘Mengapa kau tinggalkan pekerjaan yang sebelumnya?’ Saya berkata, ‘Seseorang telah menipu saya.’ Kemudian seseorang atau orang itu bertanya pada saya, ‘Mengapa engkau terlambat datang?’ Saya menjawab, ‘Tamu saya datang. ia sakit. Karena saya merawatnya maka saya terlambat datang.’ Dikarenakan hal ini Hadhrat Umul Mu’minin bersabda, ‘Merawat orang sakit memang memerlukan waktu.’

Setelah itu saya melihat bahwa beberapa orang memasuki rumah Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a dan ingin  menciptakan masalah. Di tangan saya ada pedang.  Mereka semua mundur  karena  pedang saya. Kemudian ketika saya kembali masuk ke dalam maka saya melihat seseorang masuk ke dalam sambil mengacungkan pedang. Saya mematahkan pedangnya dengan pedang saya, dan ia menyerah.

Pada waktu itu ada beberapa orang lainnya sedang mengepung Hadhrat Khalifatul Masih Tsani. Hadhrat Khalifatul Masih Tsani memanggil saya dan saya membubarkan orang-orang itu, dan ada satu orang lain lagi yang merupakan pimpinan penyebar fitnah, ia ingin membunuh dengan pedangnya akan tetapi setelah itu ia memalingkan diri dari saya  meloncat ke belakang. Saya maju melangkah ke depannya hingga saya menyergap dan membunuhnya.

Kemudian ketika saya masuk kembali ke dalam maka Hadhrat Umul Mu’minin dan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani memberikan saya minum susu. Seseorang berkata pada saya setelah melihat saya minum susu, ‘Mengapa engkau minum susu?’ Saya menjawab, ‘Apakah meminum susu itu buruk? Meminum susu adalah sangat baik.’ Lalu mata saya terbuka [bangun tidur].

 Kemudian saya mengirim surat berisi mimpi saya ke hadapan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani yang beberkat. Pada tanggal 05/03/30 dengan perantaraan Sekretaris Pribadi beliau  ditulis jawabannya, ‘Mimpi yang baik. Allah Ta’ala akan memberikan kemampuan pada tuan dalam mengkhidmati Jemaat.’ Setelah itu pada bulan April tahun 30 saya menulis surat pada Hudhur:

‘Ke hadapan yang mulia Sayyidina wa Imaamana Hadhrat Amirul Mu’minin,

Assalamu ’alaikum…

(kemudian ditulis Syair berbahasa Persia ini…)

ہر بلا كين قوم را حق داده است

           زير آن گنج كرم بنهاده است

Har bala kees qaum raahiq daadah ast

Zeer aan ganj karm nahaadah ast.[12]

Setiap kali Tuhan menguji satu kaum dengan sesuatu

Maka, Dia jadikan di akhirnya keadaan yang lebih baik dan karunia yang sangat banyak.

Setelah fitnah keburukan disebarkan oleh para cendekia Jemaat Lahore, dan tindak-tanduk tercela dari polisi, membuat hati saya tidak kuat. Beberapa saat yang lalu saya melihat dalam mimpi sekelompok orang-orang nakal berkumpul mengelilingi Hudhur. Yang dengan perantaraan pedang saya mengusir mereka dan membunuh pimpinannya.’ Saya menuliskan mimpi ini pada Hudhur yang atas itu beliau menulis, ‘Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada tuan dalam mengkhidmati agama.’ Saya sangat ingin dapat berkhidmat tapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tidak ada cara lain yang dapat saya lakukan  selain berdoa dan bertasbih pada Allah Ta’ala. Adapun permohonan saya pada Hudhur, ‘Doakanlah untuk saya supaya Tuhan memaafkan kelemahan-kelemahan saya sehingga mengabulkan doa-doa saya, dan saya diberikan kesempatan dalam pengamalan mengkhidmati agama. Wassalam, Amir Muhammad Khan.’

 Alhamdulillaah tsumma Alhamdulillaah setelah tujuh tahun mimpi saya huruf demi huruf menjadi sempurna. Yakni tahun 1924  saya meninggalkan pekerjaan saya atas saran seorang pegawai yang berkedudukan tinggi yang memberitahu saya.  Yang setelah itu diketahui, bahwa ia menipu saya karena  oleh beberapa sebab berkata kepada saya, ‘Saya juga akan meninggalkan pekerjaan saya, engkau pun tinggalkanlah.’ Akan tetapi diketahui, bahwa sampai saat ini ia tidak meninggalkan pekerjaannya.

Setiap bulannya saya mendapatkan penghasilan 90 Rupee dan sekarang di Qadian saya hanya memperoleh Rp 20 Rupee seperti disebutkan dalam mimpi, diberitahukan pada saya pekerjaannya seperti ini dan pekerjaannya juga bukan di Anjuman melainkan di Tahrik-i Jadid yang merupakan gerakan dari Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a..

Sejak tahun 1934 setelah keluar dari pekerjaan, hingga akhir tahun 1936 menjalani usaha perniagaan, lalu tinggal di Gharbar, dan sekarang setelah saya tinggal di sini dapat melihat fitnah yang dilancarkan oleh orang-orang Khawarij (orang-orang yang keluar dari khilafat) dan juga mendapat taufik untuk berdoa dan dapat juga melihat peristiwa terbunuhnya tn. Fahruddin Multani, pemimpin para pemfitnah.

Atha kiye Tu ne meri sab muraadaat

Karm se Tere dusyman ho gae maat

Semua yang kuinginkan telah Kau anugerahkan

Dengan kasih-sayang Engkau, semua musuh telah hancur.

(Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, h. 152-156, iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a.)

 

Perawat Merpati yang Marah kepada Merpatinya

[6] Hakim Atha Muhammad Sahib r.a.: Beliau baiat  pada tahun 1901 katanya, “Kurang lebih sebulan setelah pembaiatan kepada Hadhrat Khalifatul Masih II r.a., Tn. Hakim Ahmad Diin datang dari Syahdarah ke rumah saya di Lahore, dan berkata, ‘Marilah, hari ini kita berdiskusi masalah kenabian dengan Maulwi Muhammad Ali.’ Saya pergi bersamanya. Di masjid, Tn. Hakiim Ahmad Diin memulai diskusi yang bersahabat dengan Tn. Maulwi Muhammad Ali. Diskusi ini berlangsung sekitar 15 – 20 menit. Membahas masalah ‘Apakah Hadhrat Masih Mau’ud a.s nabi ataukah bukan?’ Setelah itu kami pergi ke rumah masing-masing. Malam itu saya berdoa, ‘Wahai  Tuhan! Apa yang telah dijelaskan Maulwi Muhammad Ali itu sekurang-kurangnya ada benarnya — (yakni ada sedikit keraguan mengenai kenabian Hadhrat Masih Mau’ud) —  Engkau jaga jugalah   hatiku.’   Saya melihat mimpi malam itu dimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan gelisah cepat-cepat datang kepada saya  dan berkata, ‘Lihatlah itu!’ Saya melihat seorang perawat merpati melihat dengan marah pada seekor merpati yang pergi dan hinggap di bawah naungan  payung perawat merpati lainnya.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, ‘Lihatlah!   Perawat merpati merasa jijik melihat merpati yang hinggap di bawah payung perawat merpati lainnya. Karena itu, engkau jangan pergi ke Gedung Paigham.’ — yakni  lokasi dimana para ‘Ahmadi’ yang menolak khilafat Ahmadiyah   “Saya berkata, Hudhur, ‘Kapan pun saya tidak akan pergi.’ Kemudian saya terbangun dan bersyukur kepada Tuhan atas karunia-Nya.”[13]

Dua Masjid, Salah Satunya terdapat Air Wudhu Bersih Yang Berubah Menjadi Sangat Kotor

[7] Hadhrat Dr. Abdul Ghani Sahib r.a. Beliau baiat pada 1907. Beliau bercerita: “Zaman terus berlalu dan Hadhrat Khalifatul Masih Awwal wafat. Pada waktu itu seluruh Ahmadi Nairobi (Afrika) berbaiat pada Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. akan tetapi  alm. Tn. Muhammad Husain dan Tn. alm. Khawajah Qomaruddin masih tertinggal, dan beberapa orang lainnya mahrum (tidak baiat). Setelah itu saya mendapat kesempatan pergi ke Hindustan maka saya meninggalkan pekerjaan saya.

Tetapi karena mulai terjadi perang [perang dunia pertama] jadi saya terus tinggal di Hindustan. Kemudian di Hindustan, saya memperoleh pekerjaan di Medical College Lahore sebagai assisten Perpustakaan. Pada hari-hari itu saya sering mengunjungi gedung Paigham sehingga akhlak dan pemikiran pun bersama dengan penghuni gedung Paigham. Di sana saya senantiasa mengerjakan shalat dan di sana juga mendengarkan daras dan waktu demi waktu mendiskusikan berbagai hal. Pada suatu ketika saya bertanya kepada Tn. Dr. Mirza Yaqub Beg: ‘Dalam perselisihan ini menurut pandangan tuan siapakah yang paling benar?’ Dalam jawabannya tuan dokter berkata: ‘Semua orang terpelajar ada di pihak kita.’ (Banyak  orang terpelajar semuanya telah datang pada kita, grup Lahore).

 Pada hari-hari itu saya sering pergi ke toko milik Haji Musa dan di sana juga saya sering berjumpa dengan Tn. Munsyi Mahbub Alam yang sekarang bekerja di Rajput Cycle Works, dan berdiskusi panas mengenai masalah-masalah kontroversial. Tn. Munsyi Mahbub sedikit mempergunakan kata-kata yang keras, akan tetapi saya beranggapan bahwa Tn. Munsyi adalah pengguna perkataan keras. (yakni sudah menjadi adat kebiasaannya menggunakan perkataan keras itu). Selanjutnya Tn. Munsyi suatu kali bertanya pada saya, ‘Apa yang engkau kerjakan ketika pergi ke Paigham Building?’ Saya menjawab, ‘Untuk mendengarkan daras Quran Majid.’ (saya pikir hendaknya terus mendengarkan). Selanjutnya ia berkata, ‘Setiap hari engkau pergi ke sana, hari ini pergilah bersama saya untuk mendengar Quran Majid.’ Pada hari-hari itu shalat selalu diadakan di rumah Tn. Mia Chiraghuddin (Sirajuddin), dan daras juga diadakan di sana. Di tempat ini daras selalu diberikan oleh Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki.

Ketika pertama kali saya pergi (hadir), baru diberikan pelajaran ruku’ pertama dari juz “سيقول السفهاء…” “Sayaquulus- sufahaa (pasti segera orang-orang bodoh berkata). Tn. Mln. Rajky memberikan tafsir dengan cara yang sangat masuk akal dan fasih, yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Pada waktu itu yang nampak di wajah tuan Maulwi ketika saya melihat wajahnya maka saya berpikir, beliau adalah  seorang yang penuh dengan ilmu-ilmu kerohanian. Pelajaran apakah yang beliau berikan? Tetapi keheranan saya tidak terhingga ketika saya melihat poin-poin dan ilmu kerohanian tuan Maulwi mengalir bak sungai makrifat, kemudian ketika saya berada di dekat tuan Munsyi Mahbub Aalim r.a. juga memuji tuan Maulwi. Mendengar hal ini beliau berkata, ‘Maulwi anda, Muhammad Ali  juga mempelajari ilmu Qur’an dari beliau.’

 Dalam kondisi ragu pada hari-hari itu, pada hari itu saya melihat sebuah mimpi ada mesjid seperti mesjid jami’ di Batala dan saya duduk di tengah-tengah masjid. Saya berpikir, dari manakah mendapat air untuk shalat setelah berwudhu. Setelah melihat ke sana-ke mari tapi tidak ada air yang tersedia — (sambil duduk di masjid berpikir bahwa tidak ada air di masjid).

Oleh karena itu saya keluar mencari air  maka diketahui  bahwa saya mendapati diri saya  di dalam sebuah masjid  mirip masjid Paighami Building [di Lahore], di sana terdapat kran air.  Ketika saya akan berwudhu di sana saya membuka kran maka diketahui  bahwa pertama-tama keluar air bersih tetapi kemudian berubah menjadi kotor, yang didalamnya terdapat sesuatu makhluk kecil yang dalam bahasa Punjabi disebut ’panah dan dalam bahasa Inggrisnya disebut algae (ganggang).

Air itu keluar dan mengucur di tangan saya, yang mengenainya saya pikir ini adalah air yang sangat kotor. Kemudian airnya berhenti. Setelah itu saya memutuskan untuk kembali ke masjid itu (mesjid pertama, dimana saya duduk). Karena tembok pagarnya tinggi saya memanjatnya tetapi dokter Sayyid Muhammad Husain Syah datang dari belakang  menangkap kaki saya dan bertanya, ‘Kenapa engkau datang ke [mesjid] ini? Jangan  datang ke sini lagi!’ Saya ceritakan kepadanya keadaan di mesjid ini [masjid di Paighami Building, tempat pertemuan grup Lahore] ketika saya akan berwudhu.

‘Kenapa engkau datang ke sini? Engkau jangan datang ke sini,’ katanya. Saya menjawab, ‘Saya tidak ingin kembali ke sini.’  Setelah itu saya kembali ke mesjid pertama dan mendapati di sana sebuah bak air bersih, dan Hadhrat Maulwi Ghulam Rasul  Rajiki r.a. sedang memberikan daras kitab Hadist yang dicetak dalam kertas indah, dan catatan kakinya pun dicetak bersamanya. Saya berpikir, ‘Begitu banyak air tersedia di sini dan saya lupa (tidak melihat) sebelumnya.’

 Pendek kata, ketika saya mengangkat tangan dalam berwudhu maka putra tuan Mistri Muhammad Musa r.a.    yang bernama Muhammad Husain berdiri dengan pedang berada di dekat saya.  Saya merasa bahwa Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. telah memerintahkan kepadanya mengenai saya, sebab saya seorang munafik,  saya akan dibunuh.

Saya memutarkan kepala melihat Muhammad Husain dan berkata, ‘Engkau mengangkat pedang untuk membunuh seorang mukmin. Apakah engkau tidak mengetahui kalau saya seorang mukmin?’ Setelah itu pemandangan berubah dan diketahui di tangan saya ada memegang sebilah pedang dan melihat anak-anak muda memakai seragam berwarna merah dan putih sedang melakukan perayaan mencambuki dirinya sendiri, dan diketahui itu adalah hari Muharram. Saya datang pada anak-anak itu sambil membawa pedang lalu berkata, ‘Marilah kemari!’ Selanjutnya mereka kabur.

Setelah itu diketahui sedemikian rupa, saya berada rumah putra saya, ketika saya ingin masuk ke salah satu kamarnya kemudian nampak sepasukan polisi telah datang untuk memeriksa rumah putra saya dan saya merasa bahwa mereka telah datang mencari pedang saya yang tidak ada surat izinnya. Tetapi kemudian saya berpikir bahwa saya telah membawa pedang itu dari Afrika. Saya kemudian terbangun.

Mungkin saya sudah memperdengarkan ruya’ ini kepada beberapa orang dan mungkin tuan Mustari Muhammad Musa r.a. berkata, ‘Mudah-mudahan dibunuh dalam mimpi maknanya sangat baik, bahwa kemunafikan benar-benar disingkirkan.’’’ (setelah melihat mimpi itu juga beliau tidak langsung baiat) Beberapa waktu kemudian beliau berkata, “Setelah itu saya baiat pada Hadhrat Khalifah Tsani r.a., kemudian saya dengan karunia Allah Ta’ala terus maju dalam keikhlasan dan kecintaan pada Jemaat.”[14]

Melihat Yusuf dan Syer Muhammad Berbaring 

[3c] Hadhrat Khaeruddin r.a. berkata, “Ketika fitnah golongan Ahrar sedang bergolak ramai, hamba yang lemah (saya) melihat Hadhrat Amirul Mu’minin Khalifah Tsani, di sisi beliau terbaring seseorang bernama Yusuf dan di sisi lain berbaring Syer Muhammad. Seolah-olah Tuhan memberitahukan pada saya lewat mimpi mengenai hal ini bahwa beliau seperti Yusuf, akan tetapi sebagian orang merasa panas hatinya melihat kemajuan yang diperoleh Hudhur, tetapi dikarenakan ada kekuatan Tuhan yang luar biasa bersama beliau karena itu orang yang membuat suasana membara tidak akan dapat berbuat apa-apa. Seakan-akan mimpi ini sesuai dengan bait syair Hadhrat Masih Mau’ud.

Yusuf to sun cuke ho ik cah me gira tha

Ye cah se nikaale jis ki shada yehi he

Telah kita dengar Yusuf yang dulu dijatuhkan ke dalam sumur

Akan tetapi [Yusuf zaman] ini menyeru orang-orang untuk keluar dari sumur kesesatan.[15]

 

Melihat “ Peti Emas dan Mahkota Turun dari Langit”

[7] Hadhrat Doktor Nemat Khan Sahib r.a. Baiat pada 1896, menerangkan, “Ketika tiba masanya Khilafat Tsaniah maka saya menulis surat baiat ke hadapan Hadhrat Amirul Mu’minin, dan pada hari-hari saya sedang beristirahat di rumah saya di daerah Naduun Kecamatan Nagrah, saya teringat surat beliau datang….” Yakni ini sedang menceritakan tentang tn. Hadhrat Mlv Ghulam Husain Peshawari, mertua Hadhrat Sahibzadah Mirza Basyir Ahmad akan tetapi sejak semula ia tidak baiat bahkan memihak Paigham Jemaat [grup Lahore].

Beliau berkata, “Suratnya datang pada saya dan beliau menulis berkenaan dengan pembatalan baiat yakni, ‘Batalkanlah baiat!’ Yakni batalkanlah baiat yang telah disampaikan kepada Hadhrat Khalifah Tsani. Karena persahabatan kami dengan beliau sudah cukup lama maka maka dalam keadaan tidak memahami hal yang sebenarnya saya mengumumkan pembatalan baiat yang dimuat dalam ‘Paighami Sulh’  (Piagam Perdamaian, majalah grup Lahore), dan saya sudah bersamanya yakni sudah bersama [berada dalam grup] Paighami. Akan tetapi   ini adalah kebaikan dari Allah Ta’ala dimana kepada keluarga nubuwwat (keluarga Hadhrat Masih Mau’ud a.s., pent) pemikiran-pemikiran saya selalu berada seperti semula dan saya kapan pun tidak pernah mengeluarkan ucapan yang tidak pantas….” Yaitu tidak mengeluarkan perkataan yang tidak pantas kepada keturunan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Hadhrat Khalifatul Masih Tsani dan lain-lain. “Keadaan ini terus berjalan panjang. Satu dua kali saya mengikuti jalsahnya…” (yang sejak tadi disebut Mlv Ghulam Husain tidak baiat akan tetapi pada tahun 1940 kemudian baiat dan bersama mereka yang baiat senantiasa datang ke Qadian.)

Pendek kata berkata, “Saya ikut serta dalam jalsah mereka [grup Lahore]. Sebelum tahun 1930, suatu malam saya bermimpi dimana saya berada di istana yang berada di tepi laut yang luas dan air mengalir dengan deras dan gaduh bertabrakan dengannya [dengan bangunan istana]. Sangat gaduh. Maulwi Muhammad Ali keluar dari dalam istana maka apa yang saya lihat? Wajahnya sebagian putih dan sebagian hitam. Bersamaan dengan itu, terbetik dalam pikiran saya bahwa setengah dari awal hidupnya yakni di masa hidupnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beliau [Maulwi Muhammad Ali] ialah seorang saleh dan setelah kewafatan beliau a.s. ia menjadi buruk.

Setelah itu, ketika itu juga Allah Ta’ala membawa hamba-Nya kepada petunjuk maka diciptakan-Nya juga keadaan berikut ini yang menjadi penyebab petunjuk. Pada tahun 1932 saya berada di rumah saya. Keluarga saya berada di Sargodha, saat itu datang surat Dr. Muhammad Yusuf, beliau warga Amerika, yang juga adalah keluarga kami, ‘Cepatlah datang ke Qadian, karena saya harus pergi ke Amerika dan pembuatan rumah adalah tanggung jawab anda.’ — (rumah yang sedang dibuat di Qadian,  andalah penanggungjawab pengawasannya)

Beliau berkata: “Karena hal ini pada bulan April 1932 saya datang ke Qadian dan menyiapkan pembangunan rumah. Keluarga saya juga datang ke sini. Setelah datang ke sana kami melihat keadaan yang menakjubkan. Mulai terlihat pemandangan langit baru dan bumi baru. Melaksanakan shalat berjamaah. Mendengar khotbah Hadhrat Sahib [Khalifah ke-2] dan mendengar ceramah-ceramah. Semua itu telah demikian terpengaruh sehingga keraguan yang telah ditanamkan kepada saya perlahan-lahan   menjauh. Secara kebetulan saya pergi dari Qadian ke Naduun, yang mana Mahasyah Muhammad Umar datang ke sana untuk tabligh. Di tengah-tengah percakapan ia berkata kepada saya, ‘Tuan isilah formulir baiat!’ Setelah saya mengisi formulir baiat hilanglah segala macam kotoran di hati, dan saya berada dibawah karunia Allah Ta’ala.

Saya dianugerahkan kehidupan lagi dimana saya keluar dari kedalaman jurang dosa-dosa.  Kalau tidak, saya bisa menjadi seperti halnya teman-teman saya yang terjerumus dalam kehinaan kesombongan. Di dalam hati mereka, mereka merasa telah berbuat kesalahan tetapi secara lahiriah mereka melarang untuk menerima kebenaran dan inilah jahanam bagi mereka yang setiap saat membakar mereka. Hati mereka menginginkan beriman akan tetapi yang ada adalah ketakutan. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada mereka.

Mengenai keadaan saya, Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya yang khas. Kurang lebih sudah 2 tahun yang lalu suatu hari saya melihat mimpi, dari langit turun sebuah peti berwarna emas sangat cemerlang dan bersinar. Tergantung di udara. Pada saat itu turun sebuah mahkota yang bersinar dan ia ingin berhenti di atas peti. Saya terbang dan menangkapnya dengan kedua tangan saya. Saya memegang dengan kedua tangan saya  hingga terdengar satu bahasa suara berasal dari seluruh pelosok, ‘Kemenangan Islam!’ Demikian kerasnya suara itu hingga mata saya terbuka. Dan sejak saat itu terpatri dalam hati saya bahwa mahkota itu adalah Britania (Inggris).”[16]

 

Rasullah s.a.w. Menunggangi Unta Menuju Qadian

 

[8a] Hadhrat Mia Sohney Khan r.a. berkata, “Saya baiat pada bulan Mei 1938 ketika pertentangan golongan Ahrar sedang  berada di puncaknya, dan pada saat itu saya mulai berdoa dan mulai banyak membaca Shalawat.” —  Ahrar banyak sekali mengganggu dalam menentang jemaat  — yaitu saya berdoa, ‘Wahai Allah! Lindungilah kehormatan kepada guru suciku.’

Sangat keras sekali permusuhan dari penentang. Saya bermimpi dikunjungi oleh Hadhrat Muhammad Musthafa s.a.w. Apa yang saya lihat? Yaitu 3 ekor unta. Pada satu unta terdapat Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w. dan Abu Bakr juga ada di sana. Sahabat-sahabat yang lain duduk di unta-unta yang lainnya. Rasul Karim s.a.w. bersabda, ‘Sohnay Khan, engkau sudah datang? Berjalanlah dengan langkah perlahan-lahan supaya menimbulkan perasaan takut pada musuh.’ Maka khadim Hudhur (saya) berjalan di depan. Ketika sudah melangkah 10 langkah maka diperintahkan, ‘Sonia Khan, ke belakanglah engkau. Langkah kaki engkau berisik.’

 Setelah Sarwar-i-Kaainaat s.a.w. turun dari unta, beliau dengan gagah berjalan di depan. Ketika sampai di masjid Mubarak (masjid Mubarak Qadian) maka semua sahabat turun dari unta dan Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w. juga pergi ke masjid. Setelah meninggalkan semua sahabat masjid…” – yaitu para sahabat yang bersama beliau yang pergi ke dalam masjid Mubarak — “beliau s.a.w. kemudian lewat jendela yang ada di masjid Mubarak pergi ke rumah Khalifah Tsani.” (Mimpinya berakhir sampai di sini.)[17]

Melihat Khalifatul Masih Tsani Naik ke Langit

[3d] Hadhrat Khaeruddin r.a. menerangkan, “Suatu ketika saya melihat Amir Kabul berkata, ‘Saya sudah mengirim uang saya. Saya juga akan datang setelahnya.’ Ketika para Mistri  menyebarkan sebuah fitnah…” — fitnah para cendekia ini adalah fitnah di Qadian, fitnah dalam, yaitu mereka membuat keributan —  “maka pada waktu itu saya melihat Hadhrat Khalifah Tsani sedang naik ke langit. Keadaan ini seakan-akan diberitahukan oleh Allah, bahwa kedudukan (derajat) beliau demikian tinggi hingga untuk sampai dimaqamnya adalah hal yang sangat sulit, seakan-akan maqam itu tidak mungkin dapat diraih. Hal inipun dapat diketahui, yaitu seberapa besarpun keinginan orang-orang dunia kerahkanlah untuk menyusahkan beliau tetapi dengan karunia Ilahi beliau tidak akan dapat disusahkan, karena langkah-langkah beberkat beliau berada pada ketinggian yang sangat. Hal ini tertulis dalam syair Hudhur a.s., آسمان كى رهنى والون كو زمين سى كيا نقار Aasmaan ki rehne walong ko zamin si kiya niqaar

Apa yang ada pada penghuni bumi dan apa yang ada pada penghuni langit [18]

Melihat Dua Buah Bulan

[8b] Hadhrat Mia Sohney Khan r.a. berkata, “Sekarang saya ingin menerangkan kebenaran Khalifah Tsani r.a. yang muncul atas diri saya. Ketika golongan Ahrar di puncak kekerasannya dan para cendikia golongan Lahore memberikan tuduhan dusta pada Hudhur, saya mulai berdoa yaitu: ‘Ya Allah, berikanlah kemuliaan pada Guru Rohaniku, beliau adalah putra Masihku.’ Saya sangat banyak berdoa. Banyak mengucapkan shalawat, juga membaca surah Al-Fatihah dan terus menerus berdoa. Di alam mimpi yang demikian nyata (penglihatan kasyaf), seseorang datang kepada saya. Ia menerangkan bahwa seorang maulwi sedang datang dari arah timur di kampung Badha. Ia berkata: ‘Kami akan potong orang-orang Ahmadi dari akar-akarnya [maksudnya menghapuskannya].’

Saya (yakni Mia Sohney Khan) berkata: “Barkat Ali Ahmadi dan Fatah Ali Ahmadi  bersama saya  pergi ke arahnya, dari mana maulwi datang. Ketika sampai di Maudhu Panddri Qad  saat itu waktunya shalat Ashar. Saya menjadi imam, mulai mengimami shalat kedua Ahmadi itu. Pada saat itu Khiru Khan dan Ghulam Ghaus Ahmadi Phaglanah juga datang. Saya melihat ke langit. Di langit ada dua buah bulan, satu bulan bercahaya sangat terang yang lain yang padanya tertutup sesuatu, tanpa nur, ia tidak bercahaya. Saat saya sedang melihat dan terus melihat ke bulan itu cahayanya mulai bersinar — maksudnya adalah bulan itu mulai bersinar sama dengan bulan yang lainnya — saya berdoa: keduanya ini satu jenis sinarnya. Pada waktu itu datang suara pada saya, ‘Bulan yang pertama tuan Mirza, Masih Mau’ud dan bulan yang keduanya ini yang sekarang sudah bersinar dan ini adalah Mia Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifah Tsani.’[19]

Penjelasan Khalifah tentang Fitnah Para Mistri

Seperti telah saya katakan, para mistri (para tukang) telah melancarkan fitnah yang besar di Qadian, di mana orang-orang memberikan tuduhan dusta kepada Khalifah Tsani r.a. dan menuntut beliau diajukan ke pengadilan. Saya hendak menyampaikan sedikit ringkasannya karena mungkin kebanyakan dari anda tidak mengetahui. Penjelasan detailnya bisa dibaca. Hadhrat Khalifah Tsani r.a bersabda: “Satu kasus pengadilan baru-baru ini telah ditujukan kepada saya dimana seakan-akan saya telah menyuruh orang untuk membunuh orang-orang tertentu. Orang-orang ini [yang menuntut] adalah yang ada kaitannya dengan Machine Sowayyah Shop [semacam bengkel atau pabrik di dalamnya terdapat mesin untuk membuat tepung dari biji-biji gandum], dan tuntutan itu datangnya dari mereka, dan tuntutan pengadilan yang lainnya adalah untuk masa yang akan datang, jaminan saya tidak bisa diterima.”

Selanjutnya beliau bersabda, “Memerintahkan orang untuk membunuh adalah kasus besar padahal saya belum pernah berdoa buruk untuk mereka. Akan tetapi mereka telah mengada-adakan dugaan ini dari dalam diri mereka sendiri. Akhir-akhir ini, disebabkan beberapa alasan yang muncul dari khayalan mereka —  (banyak beberapa sebab yang mengada-ada dan dugaan belaka) – mereka merasa bahwa saya sedang membuat makar melawan mereka. (mereka merasa Khalifatul Masih sedang berupaya menentang mereka) Mereka melakukan berbagai macam pergerakan yang tak patut dengan beberapa latar belakang sebagaimana telah dijelaskan oleh suratkabar-suratkbar.”

Kemudian beliau bersabda, “Orang-orang yang telah jatuh dalam akhlaknya dalam rangka melakukan pembalasan dendam kebenciannya tanpa malu-malu telah mengambil jalan tak berakhlak. Sebagai dampaknya, mereka mulai mengatakan perkataan yang bersifat menuduh dan menyerang diriku.”

Banyak sekali tuduhan-tuduhan kotor yang dialamatkan kepada beliau, namun beliau tidak menanggapinya. Secara ringkas saya hendak menjelaskan apa-apa yang tertulis dalam tarikh Ahmadiyah. Menyaksikan keberhasilan-keberhasilan Jemaat dan pengakuan (penerimaan) terhadap Hadhrat Khalifatul Masih Tsani di tiap tempat dan di tiap tingkatan yang semakin bertambah, maka orang-orang yang tidak memandang keagungan silsilah Jemaat dan popularitas beliau r.a., maka mereka memulai permusuhannya yang dahsyat. Oleh karena itu, untuk tujuan tersebut beberapa mistri Qadian yang menjalankan Machine sowayyah shop telah dijadikan alat oleh mereka. Selain menuntut di pengadilan dengan tuduhan pembunuhan kepada Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, mereka juga melalui surat kabar ‘Mubahalah’ yang dikelola dari Qadian melontarkan tuduhan-tuduhan hina lagi memalukan kepada wujud beliau yang suci. Diciptakanlah satu taufan keburukan dalam menentang beliau dengan cacian dan api kemarahan untuk menentang Jemaat.

Pada dasarnya fitnah ini adalah hasil dari konspirasi (persekongkolan) rapi yang di belakangnya bekerja unsur-unsur penentang Jemaat. Mereka menggunakan segala macam senjata hina untuk membuat buruk nama Ahmadiyah bahkan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghancurkannya. Adanya fitnah ini dari satu segi menyingkap bagaimana pihak-pihak yang memusuhi Ahmadiyah berpola pikir kotor dan bersifat menyerang, dan dari segi lainnya, bagaimana Hadhrat Khalifatul Masih Tsani menampakkan tanda keagungan Yusufi. Beliau memperlihatkan keteladanan yang dapat dijadikan anutan dalam hal kesabaran, tahan uji dan ketangguhan sampai-sampai orang-orang mulia di negeri itu dengan penuh keheranan menyatakan dengan terbuka kebencian dan keprihatinan mendalam kepada para pelaku fitnah yang kotor dan agresif ini.[20]

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. dalam ceramah Jalsah Salanah pada tahun 1927 mengisyarahkan ke arah itu, beliau bersabda, “Hal-hal seperti ini selalu berada dibawah sunnah Allah Ta’ala bersama dengan silsilah Jemaat ini. Hendaknya kita tidak gelisah (gentar takut) dengan hal ini, kewajiban kita adalah bekerja. Bukanlah pekerjaan kita merasa gentar menghadapi kejahatan penentang. Sesuatu yang adalah kepunyaan Allah, Dia sendiri yang akan memberikan kemenangan. Allah sendiri yang akan menjaga milik-Nya. Kalau silsilah Jemaat ini adalah silsilah buatan manusia maka mengapakah ia masih ada sampai sekarang? Ini adalah Jemaat Tuhan yang di masa sebelumnya Dia senantiasa menjaganya, dan demikian juga di masa yang akan datang. (Insya Allah). Allah berfirman kepada saya, ‘Syaukat-o-salaamati, sa’aadat aur terqi ka zamaanah ‘anqarib ane wala he.’ – ‘Zaman keagungan, keselamatan, kebahagiaan dan kemajuan sudah sangat dekat.’ Berkata orang-orang yang berkata, ‘Lihatlah bagaimana mungkin Jemaat ini mendapat kemajuan.’ Akan tetapi saya juga akan melihat manakah yang akan sempurna, perkataan Tuhanku yang sempurna atau perkataan orang-orang itu.”[21]

Selanjutnya dengan mengherankan fitnah itu juga berakhir hingga orang itu [penentang] yang sebagian pemegang pemerintahan telah menyokongnya ternyata berbalik bertentangan dengan pemerintahan, dan dunia melihat bahwa perkataan Tuhan telah sempurna dan fitnah ini mati dengan sendirinya dan telah mati dengan keburukannya. Sekarang juga, kapan pun mereka membuat rencana buruk menentang Jemaat. Membuat rancangan konspirasi, membuat program-program menentang kita. Kalau pemerintahan membantu mereka maka mereka akan menjadi penentang pemerintahan. Inilah yang telah kita saksikan. Singkatnya, semoga Allah Ta’ala menjaga Jemaat ini dari segala macam ujian fitnah, dan memperlihatkan kemajuan kepada kita secara terus-menerus.

Para sahabat yang telah disebutkan tadi, derajat mereka telah ditinggikan, dan juga anak keturunannya menjadi pewaris doa-doa mereka, dan mereka dianugerahi taufik berjalan pada langkah-langkah mereka. Semoga setiap Jemaat diselamatkan dari segala macam kejahatan dan fitnah, dan semuanya dianugerahi ikatan yang kuat dengan khilafat Ahmadiyah.

 

Shalat Jenazah  Alm. Ahmad Khan Bharwanah Sahib

Hari ini juga setelah shalat Jum’at saya akan mengimami  shalat jenazah ghaib untuk Yth. Tn Sardar Muhammad Bharwanah yang wafat pada tanggal 7 Februari 2013 pada usia 73 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Ayahanda beliau adalah Tn. Ahmad Khan Bharwanah, penduduk Cand Bharwanah Thethah Syereka. Di zaman Hadhrat Khalifah Tsani beliau baiat pada tahun lima puluhan ketika almarhum berumur sekitar 10 tahun. Beliau menyenangi tabligh sejak usia kanak-kanak yang terus bertahan hingga akhir. Beliau tidak memiliki keistimewaan dalam pendidikan duniawi, hanya sampai SMA tapi beliau sangat mendalami buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan buku-buku para khalifah, khususnya beliau mendalami buku-buku karya Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a..

Berdomisili di tengah-tengah lingkungan pertanian di Jhang beliau menyiapkan dalil-dalil kebenaran Ahmadiyah sesuai selera orang-orang [di sana], beliau juga biasa menyampaikannya dalam bahasa lokal Jhang yang sangat mengesankan bagi yang mendengarnya. Beliau selalu diutus oleh Jemaat Jhang ke berbagai tempat untuk berdiskusi. Dalam masalah tabligh beliau demikian beraninya hingga kapanpun tidak mempedulikan orang-orang juga tempat, dan di tengah-tengah pihak-pihak yang memusuhi, tanpa perasaan takut terus saja pertablighan berlangsung, menzahirkan kebenaran Ahmadiyah.

Beberapa kali dalam berdiskusi, beliau memakai senjata dalil-dalil yang tidak mempan dibantah, tetapi walaupun demikian hal ini tidak menjadikan berhentinya pertablighan beliau dan dalam menzahirkan jalan kebenaran. Banyak orang mengenal beliau dari adat kebiasaannya. Dengan keberadaan beliau kapan juga tidak ada orang berani menentang Jemaat. Untuk bertabligh, beliau di manapun tempatnya, kapan juga waktunya, apabila dipanggil maka tidak pernah menolak, bahkan beliau tiba di sana dengan meninggalkan semua kesibukannya.

Satu putra beliau Abdul Syaafi Bharwanah sebagai muballigh di Sierra Leone (Afrika) dan beliau hanya memiliki anak tunggal. Beliau menulis, “Satu ketika saya dibawa beliau kepada teman beliau, dan sepanjang malam memberikan pengertian mengenai kebenaran Ahmadiyah kepada satu temannya yang pada hari-hari itu selalu datang ke Jhang. Seluruh pertanyaannya dijawab dengan sangat mudah. Kemudian beliau berkata kepadanya, ‘Katakanlah kalau ada sesuatu hal yang menghalangi engkau menerima Ahmadiyah.’ Kemudian setiap pertanyaannya dijawab dengan cukup jelas, dan diskusi ini terus berlangsung hingga subuh. Sepanjang malam diskusi itu terus berlangsung seperti itu.

Ketika teman itu kembali ke daerahnya maka ia baiat setelah di daerahnya. Kemudian ia menulis satu surat kepada keluarganya yang diperlihatkan kepada saya oleh penghuni rumah, dalam surat itu ditulis bahwa: Saya berjumpa dengan orang kampung yang sepanjang siang harinya sibuk dengan pekerjaan merawat ternak. Akan tetapi satu malam saya mendengar pembicaraannya maka saya menampak dirinya bagaikan sebuah sungai ilmu. Tidak diragukan lagi semua ilmu ia peroleh dengan muthala’ah [penelaahan mendalam] dari buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan diperoleh dengan membacanya berulang kali.

Seperti saya katakan, beliau hanya mempunyai satu putra dan satu putri. Anak laki-laki satu-satunya menjadi muballigh.   Dewasa ini  bertugas di Sierra Leone [Afrika]. Minggu yang lalu di sana diadakan Jalsah, dan dikarenakan kesibukannya dan dikarenakan  banyak tugas lainnya ia tidak dapat pergi. Ia tak dapat bertemu dengan jenazah ayahnya, tidak dapat turut serta dengan jenazah ayahnya. Bahkan beliau sampai tidak meminta izin bagi kepergiannya [ke Inggris dari Sierra Leone] pada saya dikarenakan kesibukan Jalsah.[22]

Sesuai dengan keinginan orang tuanya, semoga Allah Ta’ala diberikan taufik mengkhidmati Jemaat ini pada beliau tanpa batas. Allah memberikan kesabaran dan kecakapan dan menjadi pewaris doa-doa bagi yang mewakafkan kehidupannya dan Allah Ta’ala memberikan pengampunan pada almarhum, menganugerahkan derajat yang tinggi  dan bagi yang ditinggalkan mereka dianugerahkna kesabaran yang indah.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, halaman 75-76 iz riwayaat Hadhrat Syaikh Muhammad Isma’il

[3] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, halaman 147-148 iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib

[4] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, halaman 142-143 iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib

[5] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 7, h. 161, iz riwayaat Hadhrat Khair Din Shahib r.a.

[6] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 7, h. 161, iz riwayaat Hadhrat Khair Din Shahib r.a.

[7] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 12, h. 84-85, iz riwayaat Hadhrat Khalifah Nuruddin Shahib r.a. Saknah Jammu. [huruf-huruf Arab memiliki nilai angka tersendiri penjumlahan nilai angka pada huruf “أ” “ي” “ك” yang membentuk kata “ايك” ialah 31.] Terjemahan bahasa Arabnya ialah “لقد بشرني بأنه سيكون لك ابن يكون حبيبا لي في يوم من الأيام”

[8] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number67, h. 34, iz riwayaat Hadhrat Rehm Din Shahib r.a.

[9] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, h. 141, iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a.

[10] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, h. 143-144, iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a.

[11] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 6, h. 149, iz riwayaat Hadhrat Amir Muhammad Khan Shahib r.a.

[12] Terjemahan bahasa Arab dari syair Farsi (Persia) ini ialah

“كلما ابتلى الله قوما بأمر جعل وراءه أفضالا ونِعَما كثيرة”

[13] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 7, h. 179, iz riwayaat Hadhrat Hakim Atha Muhammad Shahib r.a.

[14] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 12, h. 221-227, iz riwayaat Hadhrat Abdul Ghani Shahib Karak r.a.

[15] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 7, h. 160, iz riwayaat Hadhrat Khair Din Shahib r.a.

كنا قد سمعنا أن يوسف الأول قد ألقي في البئر ولكن يوسف هذا العصر ينادي الناسَ ليخرجهم من بئر الضلالة.

[16] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 4, h. 4-6, iz riwayaat Hadhrat Doktor Ne’mat Khan Shahib r.a.

[17] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid 12, h. 200-201, iz riwayaat Hadhrat Mian Sohney Khan Shahib r.a.

[18] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid 7, h. 160, iz riwayaat Hadhrat Khair Din Shahib r.a.ما لأهل السماء ولأهل الأرض.

[19] Register Riwaayaat Shahabah, ghair Mathbu’ah, jilid number 12, h. 199-200, iz riwayaat Hadhrat Mian Sohney Khan Shahib r.a.

[20] Tarikh Ahmadiyah

[21] Tarikh Ahmadiyah jilid ceharam (IV), halaman 627-629, terbitan Rabwah

[22] Muballigh Jemaat ke luar negeri harus atas izin Hadhrat Khalifah. Demikian pula kalau keluar tempat tugas di internal Negara masing-masing perlu dan harus seizin atau sepengetahuan atasannya masing-masing.