Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 24 Ikha 1393 HS/Oktober 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧) 

Dua hari yang lalu, saat membaca edisi terbaru suratkabar Al-Fadhl Internasional, saya mendapati di dalamnya sebagian dari pidato Hadhrat Khalifatul Masih II radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu pada tahun 1937 yang berisi pengarahan perhatian bahwa mengingat masih banyaknya para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam yang masih hidup, suatu keharusan untuk mengumpulkan dari mereka kenangan-kenangan beliau as dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan beliau as. Beliau ra mengatakan bahwa kebutuhan akan hal-ihwal itu yang tersusun dengan baik akan menjadi sangat jelas di kemudian hari. Beliau ra menceritakan suatu contoh, seorang Sahabat ra mengatakan bahwa ketika beliau ra masih sangat kecil, suatu hari beliau ra memegang tangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan dilakukan beberapa lamanya. Setelah beberapa waktu Hadhrat Masih Mau’ud as melepaskan tangannya dan beliau as terlibat dalam beberapa pekerjaan yang membutuhkan perhatiannya.

Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis, Sahabat tersebut mengatakan, “Meskipun saya seorang sahabat, hanya ini yang saya ingat,” tapi bahkan dari pernyataan seperti itu banyak pelajaran yang dapat disimpulkan. Misalnya dari pernyataan kecil ini, kita belajar, bahkan, anak-anak kecil harus dibawa ke pertemuan orang tua. Juga bahwa ketika suatu kebutuhan untuk melakukan pekerjaan penting muncul, dengan penuh kasih tangannya dilepaskan. Hadhrat Masih Mau’ud as terus memegang tangan beliau ra, tetapi ketika kebutuhan untuk melakukan sesuatu muncul, beliau as dengan penuh kasih melepaskan tangannya sehingga tidak menimbulkan kesan keras terhadapnya. Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis bahwa hal-hal seperti itu memberikan jawaban untuk pertanyaan yang muncul kemudian. Jadi, hal-hal terkecil yang diriwayatkan oleh para sahabat yang terjadi dengan Hadhrat Masih Mau’ud as mengandung pelajaran, yaitu tempatkanlah pegangan tangan anak-anak dengan kecintaan, janganlah mengabaikannya. Bila keperluan mendesak muncul untuk melakukan suatu pekerjaan lain, maka dengan suatu cara yang penuh kecintaan menyuruhnya melepaskan tangan kita sehingga tidak menimbulkan bekas pengaruh atau kesan buruk.[2]

Sebelumnya, saya telah menguraikan peristiwa-peristiwa para Sahabat. Hadhrat Khalifatul Masih II ra juga telah menyebutkan dalam pidato-pidato dan tulisan-tulisan beliau ra beberapa peristiwa yang beliau terlibat di dalamnya. Itu juga mengandung pelajaran, nasihat, dan sejarah. Itu juga mengandung informasi tentang kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan membaca apa yang nampak kepada kita itu juga mengandung beberapa aspek dari hidup beliau as. Dan semua hal ini harus memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Itu semua harus dapat membuat hidup kita jauh lebih baik.

Salah seorang waqif zindegi kita, Tn. Habibur Rehman, sedang mencoba untuk mengumpulkan semua ini dengan mengambil dari berbagai sumber yang dapat ditemukan. Ini adalah upaya yang baik, tapi ini tidak cukup, karena susunan tulisan beliau tanpa menyebutkan siyaaq dan sabaqnya (konteks latar belakang peristiwa sebelum dan sesudahnya), beliau hanya mengumpulkan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu, kita harus membuat beberapa ushul (prinsip-prinsip pokok, aturan) dan menempatkan beberapa metode untuk melakukan ini secara benar. Pendeknya, ketika ini diterbitkan dalam bentuk dan corak khas yang sebaik-baiknya diharapkan bahwa ini akan menjadi tambahan yang bagus untuk literatur buku-buku kita.

Pada saat ini, saya telah memilih beberapa peristiwa dan beberapa hal untuk dijelaskan di sini hari ini. Itu adalah peristiwa yang berkaitan dengan Hadhrat Khalifatul Masih II ra sendiri, atau peristiwa yang berhubungan dengan orang lain, tetapi disebutkan oleh beliau ra. Seperti telah saya sebutkan, itu semua mengandung nasehat dan penjelasan berbagai hal. Saya hendak jelaskan beberapa peristiwa yang semuanya bukan satu topik khusus melainkan berbagai peristiwa yang berbeda-beda dan di masa mendatang pun saya akan sampaikan sesuai situasi dan kondisi yang tepat dan cocok. Insya Allah. Saya telah dan terus menyebutkan peristiwa-peristiwa ini di dalam khotbah karena melalui MTA, Khotbah Jumat paling banyak disimak oleh anggota Jemaat Ahmadiyah seluruh dunia dan karena ini dapat sangat membantu dalam memahami beberapa situasi. Jadi, sangat penting bahwa informasi ini mencapai semua orang Ahmadi dan Khotbah Jumat adalah cara terbaik untuk dilakukan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan, “Suatu kali seekor anjing datang ke pintu rumah kami dan saya berdiri di sana. Di dalam rumah ada Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah melihat anjing di sana, saya berbicara kepada anjing itu sambil membuat gerakan dan berkata, ‘Tipu!’ ‘Tipu!’ Setelah mendengar hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as keluar dan dengan sangat marah beliau berkata kepada saya, “Apakah engkau tidak malu! Orang Inggris, dikarenakan permusuhan mereka [terhadap Tipu Sultan], telah memberi nama anjing mereka dengan nama Tipu, yang merupakan nama seorang Muslim sejati dan engkau meniru mereka, menyebut anjing dengan sebutan Tipu! Berhati-hatilah! Engkau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi.’”

Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis, “Usia saya pada saat itu adalah mungkin 8 atau 9 tahun. Itu adalah hari pertama bagi saya untuk menaruh kecintaan kepada Sultan Tipu dan saya menyadari bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh Sultan Tipu tidak sia-sia. Allah Ta’ala memberkati nama beliau sehingga Imam zaman utusan-Nya sedemikian rupa penuh dengan rasa hormat dan cemburu secara kehormatan bagi beliau.”[3]

Kemudian beliau ra menulis, “Dari kejadian ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap perkataan dan tindakan seorang anak tidak boleh semuanya hanya ditanggapi positif atau semuanya diterima dengan santun, lembut dan dalam sikap mendiamkan, tanpa memberikan perhatian betul-betul atasnya. Itu dari satu segi, sementara dari segi lainnya, kita juga melihat dari kejadian ini betapa gejolak semangat dan kehormatan yang sangat besar dari Hadhrat Masih Mau’ud as bagi umat-nya, sesama Muslim. Anak ini yang pernah membakar dan dalam sekejap menghancurkan naskah yang Hadhrat Masih Mau’ud as mungkin telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya bahkan beberapa malam untuk menulisnya dan hal mana rasa kehilangan beliau abaikan atas hal itu. Beliau menanggung dengan penuh kesabaran, dan tidak begitu cemas memikirkan kesulitan-kesulitan beliau as sebagai akibat dari hal itu.”[4]

Peristiwa yang dimaksud ialah kejadian saat beliau ra masih anak-anak. Suatu kali saat bermain-main dengan anak-anak lainnya beliau membakar lembaran-lembaran naskah tertulis untuk sebuah buku yang sedang disusun oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun, beliau as sama sekali tidak berkata apa pun atas hal ini.[5] Berkebalikan dari itu, Hadhrat Masih Mau’ud as tidak bisa menerima bahwa seorang pemimpin dari kaum Muslim tidak dihargai. Serendah apa pun level pemimpin tersebut. Tetapi, Tipu Sultan adalah seorang Sultan Muslim yang telah menjadi syahid karena beliau memiliki qaumi hammiyat (kehormatan kebangsaan, nasionalisme).

Tipu Sultan tidak ada hubungan apa-apa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as selain iman Islam secara umum, namun Hadhrat Masih Mau’ud as tidak bisa menolerir terhadap seorang anak yang bahkan sama sekali tidak tahu bahwa mengulang-ulang memanggil namanya dengan cara seperti itu, yaitu memanggil nama beliau kepada seekor anjing akan menunjukkan sikap tidak hormat, bahkan penghinaan bagi beliau (Tipu Sultan). Hadhrat Masih Mau’ud as tidak bisa menerima hal ini. Dalam kejadian ini ada juga pelajaran bagi orang-orang yang memiliki keberanian untuk menamai Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai agen Inggris. Beliau as (Pendiri Jemaat Ahmadiyah) seorang pribadi yang mempunyai hati penuh semangat patriotik dan sedemikian sangat menghormati Sultan Fateh Ali Tipu, seorang Sultan yang bukannya membungkukkan lehernya di depan Inggris, beliau mengorbankan hidupnya sebagai seorang yang gagah berani. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki ghuyur (kecemburuan dalam menghormati seseorang) seperti yang ditampilkan oleh beliau as harus dianggap sebagai agen bangsa asing.[6]

Kemudian di tempat lain Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis, “Menurut saya tidak ada musuh anak-anak yang lebih besar dari para orang tua yang tidak mengajarkan dan membiasakan anak-anak mereka untuk melaksanakan shalat berjamaah. Saya masih ingat suatu peristiwa ketika pada suatu waktu Hadhrat Masih Mau’ud as agak sakit, jadi beliau as tidak bisa pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat-nya. Saya pada waktu itu belum dewasa sehingga perintah-perintah yang relevan untuk orang dewasa harus berlaku untuk saya. Namun demikian, saya saat itu sedang ke masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat ketika seorang pria bertemu saya. Kendati pun saya tidak ingat perawakan orang itu karena umur saya masih kecil, namun saya ingat wajahnya sampai sekarang karena pengaruh yang besar dari peristiwa ini melekat pada saya. Namanya Muhammad Bakhsh, dia sekarang tinggal di Qadian. Saya bertanya kepadanya, ‘Anda pulang kembali dari masjid, apa shalat telah dilaksanakan?’ Dia menjawab, ‘Ada banyak orang di masjid dan tidak ada ruang lagi di masjid dan saya kembali.’ Setelah mendengar jawaban ini, saya juga kembali dan melaksanakan shalat saya di rumah. Setelah melihat ini Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya, ‘Mengapa engkau tidak pergi ke masjid untuk shalat?’

Ini adalah karunia Allah Ta’ala kepada saya bahwa sejak kecil saya menghormati Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai seorang Nabi Allah. Saya melihat bahwa ada terkandung kekerasan dalam cara beliau mengajukan pertanyaan, dan dari wajah beliau as saya bisa mendeteksi tingkat tertentu dari kemarahan. Pertanyaan beliau kepada saya dengan cara ini memiliki dampak yang besar pada saya. Dalam jawaban, saya katakan, ‘Saya pergi ke masjid tapi karena tidak ada ruang, saya pulang kembali.’ Setelah mendengar ini, Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi diam. Setelah melaksanakan Shalat Jumat, Hadhrat Maulwi Abdul Kareem Sahib ra datang untuk menanyakan tentang kesehatan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hal pertama yang Hadhrat Masih Mau’ud as tanya adalah, apakah ada banyak orang di masjid hari ini? Pada saat itu, saya menjadi sangat cemas karena saya tidak pergi ke masjid. Saya tidak tahu, apakah orang yang telah mengatakan kepada saya telah membuat kesalahan dalam penilaian ataukah saya yang tidak memahaminya dengan benar. Saya menyimpulkan dari apa yang ia katakan bahwa tak ada ruang lagi di dalam masjid karena masjid sudah penuh. Saya menjadi khawatir jika saya telah membuat kesalahan dalam memahami atau jika orang yang memberitahu saya telah membuat kesalahan, dalam kasus kedua, saya akan menjadi seorang yang tercela karena saya berbohong. Maulwi Abdul Kareem Sahib ra menjawab, ‘Ya, Hudhur, benar-benar ada banyak orang saat ini.’ Saya masih tidak tahu, apa yang sebenarnya, apakah Allah membuat persiapan bagi saya untuk diselamatkan dan Maulwi Sahib telah mengkonfirmasi apa yang saya katakan atau apakah benar-benar hari itu banyak orang memang datang ke masjid. Namun demikian, ini adalah salah satu peristiwa yang meninggalkan kesan tak terhapuskan pada saya. Dari sini, kita bisa belajar betapa Hadhrat Masih Mau’ud as sangat memikirkan ditunaikannya shalat berjamaah di masjid.”[7]

Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan peristiwa ringan lainnya dari masa-masa kecil beliau dan berkaitan dengan pendidikan beliau. Beliau mengatakan, “Jasa terbesar terhadap saya berkaitan dengan pendidikan saya ialah upaya mendidik Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) terhadap diri saya. Karena beliau adalah seorang dokter juga, beliau tahu bahwa kesehatan saya sepertinya tidak mengizinkan saya untuk berkonsentrasi pada sebuah buku untuk jangka waktu yang lama; jadi latihannya saya harus duduk di sampingnya dan beliau akan berkata, ‘Mian, saya akan membaca dan Anda harus hati-hati mendengarkannya.’

Penyebab hal ini adalah bahwa di masa kecil saya, mata saya menderita penyakit serius dan mata saya terus menderita sakit terus-menerus selama tiga atau empat tahun. Kedua mata saya begitu menderita sakitnya sehingga para dokter mengatakan bahwa penglihatan saya akan hilang. Setelah mendengar ini, Hadhrat Masih Mau’ud as mulai berdoa untuk kesehatan saya secara lebih intens dan khas dan juga berpuasa. Saya tidak ingat berapa hari beliau menjalankan puasa, tapi saya percaya bahwa itu adalah tiga atau tujuh hari. Ketika tiba waktunya untuk berbuka puasa pada hari terakhir, dan beliau memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya untuk berbuka, pada saat itu tiba-tiba saya membuka mata saya dan saya berteriak, ‘Saya bisa melihat!’

Tetapi keparahan penyakit dan serangan terus menerus dari penyakit ini mengakibatkan penglihatan di salah satu mata saya menjadi begitu banyak terpengaruh sehingga mata kiri saya tidak memiliki pandangan apapun di dalamnya. Saya bisa melihat jalan, tapi aku tidak bisa membaca buku. Jika ada seseorang yang saya kenal duduk 2-4 meter dari saya, maka saya bisa mengenalinya dengan melihatnya, tetapi jika ada seseorang yang tidak saya kenal, duduk pada jarak seperti itu, saya tidak bisa mengenalinya hanya dengan melihat padanya. Hanya mata kanan saya yang berfungsi sepenuhnya, tetapi ini juga menderita oleh penyakit yang sama sedemikian rupa sehingga saya akan tetap terjaga beberapa malam karena itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah berkata kepada semua guru saya bahwa studi saya akan tergantung pada minat dan keinginan saya sendiri. [Dari ini juga menjadi jelas, bagaimana Allah memenuhi nubuatan tentang diri beliau ra bahwa beliau akan dipenuhi dengan pengetahuan tentang ilmu lahiriah dan batiniah. Meskipun kondisi beliau ra sakit. Beliau ra menulis di tempat lain, beliau ra telah membaca ribuan buku dan beliau bisa membaca sangat cepat.] Bagaimana pun, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengatakan, ‘Biarkan ia belajar sebanyak yang ia mampu sesuai keinginannya dan jika tidak belajar, tidak boleh terlalu banyak ditekan karena kesehatannya tidak mengizinkannya menanggung banyak beban studi.’ Perihal yang ditekankan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as berulang kali dengan mengatakan kepada saya supaya belajar terjemahan makna-makna dari Al-Quran dan [kitab hadis] Bukhari Sharif dan saya mempelajarinya dari Hadhrat Maulwi NurudDin Sahib, Khalifatul Masih Awal. Selain itu, beliau as juga bersabda, ‘Pelajarilah tentang pengobatan dari beliau karena ini adalah tradisi ketrampilan keluarga kita.’

Master Faqirullah Shahib (Tuan Guru Faqirullah), yang telah diberkati untuk bergabung dengan kami di tahun ini (sebelumnya selama beberapa waktu bergabung dengan golongan Non-Mubayin, ghair Mubayyi’in, yaitu orang-orang yang berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan Khalifatul Masih I ra namun tidak berbaiat kepada Khalifatul Masih II ra), beliau menjadi guru matematika kami dan untuk mengajar anak-anak matematika, dia akan menggunakan papan tulis untuk memecahkan soal. Namun karena ada masalah dengan penglihatan saya, saya tidak bisa membacanya. Papan tulis terasa terlihat begitu jauh sehingga mata saya tidak bisa melihat dan juga saya tidak bisa mempertahankan atau tetap terus melihatnya lama-lama. Jadi, karena hal itu saya pikir tak ada faedahnya untuk duduk di kelas. Jika saya ingin saya akan pergi dan kadang-kadang saya tak pergi dari kelas. Akibatnya, Tn. Guru Faqirullah mengeluhkan tentang saya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sambil mengatakan, ‘Hudhur, dia tidak belajar sama sekali. Kadang-kadang ia datang ke sekolah dan kadang-kadang tidak.’

Saya (Hudhur II ra) ingat bahwa ketika Tn. Guru Faqirullah membuat keluhan ini kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, saya pergi bersembunyi karena ketakutan Hadhrat Masih Mau’ud as akan marah setelah mendengarnya. Tapi ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mendengarnya dan berkata kepada Tn. Guru Faqirullah, ‘Saya sangat berterima kasih kepada Anda atas perhatian Anda kepada anak saya. Saya senang mendengar ini dari Anda bahwa ia kadang-kadang pergi ke sekolah karena menurut saya kesehatannya sama sekali tidak begitu baik baginya untuk dapat belajar.’ Lalu dengan senyum di wajahnya beliau as berkata, “Kami tidak akan menyuruhnya untuk membuka toko bahan-bahan makanan sehingga diperlukan baginya untuk menguasai ilmu hitung (matematika). Apakah dia belajar matematika atau tidak, tidak masalah. Apakah Rasulullah saw dan para sahabatnya ra menguasai ilmu hitung? Jika ia (Mian Mahmud) pergi ke sekolah, itu baik. Tetapi tidak boleh dipaksa untuk melakukannya.’”

[Di kesempatan ini saya (Hudhur V) ingin memberitahukan penguasaan matematika beliau ra begitu baik bahkan selama pidato pernah melakukan perkalian dan pembagian jumlah ratusan ribu dan dengan mudah memberitahukan hasilnya.]

Setelah mendengar ini, Master Shahib (Tn. Guru) pulang kembali dan saya mulai mengambil manfaat dari sikap lunak Hadhrat Masih Mau’ud as ini dan bebas pergi ke sekolah sama sekali sehingga pernah hanya sekali dalam sebulan. Ringkasnya, inilah bagaimana pendidikan saya berlangsung. Bahkan, saya juga sebenarnya juga kena terpaksa demikian karena di masa kecil saya, selepas dari kesulitan masalah mata saya, saya juga menderita sakit di liver saya dan kadang-kadang selama berbulan-bulan saya mengkonsumsi kacang-kacangan yang dihaluskan dan daun-daun sawi yang direndam. Kemudian ada beberapa penyakit lain yang saya derita yang terkadang mempengaruhi saya sampai berbulan-bulan. Dari hal-hal ini semua orang bisa mengukur bagaimana kondisi pendidikan saya.

Pada satu kesempatan, kakek saya Hadhrat Mir Nasir Nawab Sahib (ayahanda dari ibunda beliau) mengambil pemeriksaan ujian kompetensi saya dalam bahasa Urdu. Bahkan, sekarang pun tulisan tangan saya masih tidak begitu baik. Lebih-lebih lagi pada waktu itu tulisan tangan saya begitu buruk sehingga hampir benar-benar tidak terbaca. Beliau (kakek) berusaha sangat keras untuk membaca apa yang saya tulis, tapi tidak bisa mencerna juga. Beliau adalah orang yang bertabiat keras dan cepat marah. Beliau menjadi marah dan langsung pergi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya berada di rumah juga pada waktu itu. Kami sudah takut akan sifat cepat marahnya dan ketika beliau pergi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dengan keluhan saya menjadi lebih takut lagi, tidak tahu kini apa yang akan terjadi.

Mir Nasir Nawab Sahib datang dan berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Anda tidak memberikan perhatian terhadap pendidikan Mahmud. Saya telah mengujinya dalam bahasa Urdu. Lihatlah kertas ujiannya. Tulisan tangannya sangat buruk, sehingga tidak ada yang dapat membaca apa yang telah ditulisnya.’ Kemudian dengan semangat yang sama, beliau berkata lagi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Anda sama sekali tidak mengurus dan usia anak itu sedang benar-benar sia-sia.’ Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat Mir Nasir Nawab Sahib dalam keadaan semangat, beliau as berkata, ‘Mari kita panggil Hadhrat Maulwi Sahib.’ [Kapanpun Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi masalah, beliau selalu memanggil Hadhrat Khalifatul Masih I ra.] Hadhrat Khalifatul Masih I sangat mengasihi saya. Beliau ra datang, dan seperti biasa dengan kepalanya menunduk berdiri di satu sisi. Beliau ra tidak pernah berdiri dengan kepala tegak di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, ‘Maulwi Sahib, saya memanggil Anda karena Mir Sahib telah mengatakan tulisan Mahmud tidak dapat dibaca. Keinginan saya adalah kita harus memeriksanya.’ Sembari mengatakan ini, Hadhrat Masih Mau’ud as mengambil sebuah pena. Setelah menulis dua atau tiga kalimat; beliau as memberikan tulisan itu kepada saya dan meminta saya untuk menyalinnya. Ini adalah pemeriksaan yang Hadhrat Masih Mau’ud as ambil. Saya memberikan perhatian besar dan mulai menyalin apa yang diberikan kepada saya. Pertama-tama, tulisan yang disalin tidak terlalu panjang. Kedua, saya hanya harus menyalin dan menyalin jauh lebih mudah, karena tulisan yang akan disalin terlihat jelas di depan dan selain itu, saya lakukan penyalinan dengan sangat lambat. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat tulisan saya, beliau berkata, ‘Saya sangat prihatin mendengar kata-kata Tn. Mir Nasir Nawab tapi tulisan tangannya tampak kepada saya mirip tulisan tangan saya sendiri.’ Hadhrat Khalifatul Masih I ra positif cenderung ke arah saya dan mengatakan, ‘Mir Sahib telah menjadi bersemangat tanpa alasan karena tampak jelas tulisan tangannya baik-baik saja.’

Setelah wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Khalifatul Masih I ra mengatakan kepada saya bahwa saya harus menyelesaikan pembelajaran Kitab Hadis Al-Bukhari dari beliau. Bahkan, saya mengatakan kepadanya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as biasa memberitahu saya untuk mempelajari terjemahan Al-Quran dan Al-Bukhari dari beliau. Saya telah memulai belajar kedua Kitab ini dari Hadhrat Khalifatul Masih I ra selama masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as dan meskipun terkadang saya absen (tidak pergi) kepada beliau ra untuk belajar. Saya juga sudah mulai mempelajari pengobatan dari beliau sejak masa Hadhrat Masih Mau’ud as.”[8]

Kemudian, ketika Hadhrat Khalifatul Masih II memulai majalah “تشحيذ الأذهان” Tasyhidzul Adzhaan, mengenai bagaimana tanggapan dan perlakuan Hadhrat Khalifatul Masih I ra, beliau ra menulis, “Beberapa waktu lalu saya memulai menerbitkan Tasyhidzul Adzhaan bersama teman-teman. Saat saya menulis beberapa makalah untuk Tasyhidzul Adzhaan tentang tujuan majalah ini sebagai perkenalan, beliau ra memujinya di depan Hadhrat Masih Mau’ud as dan disampaikan, ‘Artikel ini layak dibaca oleh Hudhur.’ Hadhrat Masih Mau’ud as meminta dibawakan majalah tersebut dari masjid Mubarak dan beliau as meminta Hadhrat Maulwi Muhammad Ali Sahib untuk membaca artikel tersebut dengan keras. Setelah menyimaknya, beliau as memujinya. Tapi, ketika saya bertemu Hadhrat Khalifatul Masih I ra setelah itu, beliau ra mengatakan, ‘Mian, artikel engkau sangat bagus, tapi hati saya tidak merasa senang. Di negeri kami ada satu pepatah yang sangat terkenal,  ‘Unta harganya empat puluh dan toda” harganya 42’; dan kau belum memenuhi tuntutan pepatah ini.’ Saya (Hudhur II ra) tidak tahu bahasa Punjabi dengan cukup baik untuk memahami kalimat beliau ra ini.

Setelah melihat tanda-tanda keheranan dan kurangnya pemahaman di wajah saya, beliau ra berkata, ‘Mungkin engkau belum memahami arti dari pepatah itu. Ini ungkapan dari negeri kami. Dikatakan, seorang pria menjual unta dan di sampingnya juga ada bayi unta yang dalam bahasa negeri kami adalah toda”. Seseorang bertanya kepada penjual tentang harga unta dan ia mengatakan harga unta adalah 40 rupee tapi harga toda” adalah 42 rupee. Ketika pembeli bertanya, hikmah apa di balik ini, orang itu menjawab, “Yang satu adalah unta saja, sedangkan yang satu lagi adalah unta dan toda, bayi unta.” Di hadapanmu, ada Hadhrat Masih Mau’ud as, penulis Barahin-e-Ahmadiyah. Ketika beliau as menulis buku itu, di depan beliau tidak ada literatur Islam yang seperti itu. Tetapi, engkau memiliki buku tersebut tepat di hadapanmu sendiri dan ada harapan bahwa engkau akan membawa sesuatu tulisan yang lebih baik dari itu.’

Suatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk memunculkan sesuatu ilmu yang lebih baik daripada apa yang telah dibawa oleh para utusan Allah. Namun, ia masih mungkin bisa untuk menggali dan menyajikan harta perbendaharaan tersembunyi para Nabi tersebut. Makna dari apa Khalifatul Masih I ra katakan adalah pekerjaan orang-orang yang datang kemudian ialah untuk terus meninggikan dasar bangunan yang telah ada sebelum itu yang dibangun generasi sebelumnya. Inilah hal yang jika generasi yang akan datang mengingatnya, mereka akan diberkati dengan rahmat dan karunia Allah. Mereka juga akan menjadi sarana yang mendatangkan rahmat dan berkat-berkat Allah atas rakyat mereka. Tapi mereka harus memajukan hal-hal yang baik dari para pendahulu mereka masing-masing. Seharusnya tidak terjadi anak seorang pencuri, memulai juga dalam hal pencurian. Anak-anak dari orang tua yang teguh dalam melaksanakan shalat-shalat harus berusaha untuk mengungguli orang tua mereka dalam melaksanakan shalat-shalat mereka.”[9]

Kemudian di tempat lain, beliau menyatakan sehubungan dengan posisi tinggi Al-Quran sebagai berikut: “Saya ingat contoh kebodohan masa kecil saya. Ketika saya masih anak kecil, para penentang datang ke majlis Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengangkat keberatan-keberatan terhadap beliau. Karena Hadhrat Masih Mau’ud as sering berbicara dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti, saya kadang-kadang berpikir mungkin beliau tidak mampu untuk menghadapi kelicikan serangan orang seperti itu. Tapi ketika pihak lawan meningkat dalam penentangannya, akan tampak seolah-olah kekuatan surgawi memegang beliau dan beliau merespon kritikannya sedemikian rupa sehingga majelis akan menjadi benar-benar diam. Suatu jenis kurangnya pemahaman sebagian orang di masa sekarang ialah ketika timbul tuduhan atau kritik terhadap Al-Quran, mereka mengatakan, ‘Diamlah atau kalau tidak iman Anda akan rusak!’ (Umumnya ketika berbicara dengan orang ghair atau para Maulwi ghair demikianlah kata-kata mereka saat mereka tidak mengerti masalahnya. Banyak mubayyi’ baru yang datang kepada para Maulwi berkata, ‘Saat mereka tak memahami masalah, mereka akan mengatakan, “Anda tidak mampu memahaminya. Diamlah! Kalau tidak, iman Anda akan hilang.”’)

Tapi, ini adalah sembrono, pernyataan sia-sia. Apa yang diperlukan adalah bahwa kritik yang dilontarkan terhadap Al-Quran harus ditanggapi dengan jawaban yang bahkan pihak lawan terpaksa untuk mengakui kebenarannya. Bukan hal ini bahwa orang harus dilarang untuk membuat kritik dan keraguan dalam hatinya harus dibiarkan untuk tetap di sana. Saya ingat dengan sangat baik pernyataan Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya telah mendengar dengan telinga saya sendiri langsung dari beliau berkali-kali. Beliau sering mengatakan bahwa jika semua orang di dunia ini seperti Hadhrat Abu Bakar ra, Al-Quran yang begitu agung ini tidak akan diperlukan. Hanya ب ‘baa’ dari “بسم الله” ‘bismillah’ saja sudah cukup. Turunnya Al-Quran, kalam yang penuh dengan ma’rifat ini adalah karena adanya Abu Jahal saja. Jika tidak ada orang-orang seperti Abu Jahal, Al-Quran yang sedemikian rinci itu tidak akan diperlukan.

Singkatnya, Al-Quran adalah firman Allah. Seberapa banyak kritik yang dilontarkan terhadapnya sebanyak itu pula keistimewaannya yang agung terungkap sebagai hasilnya. Merupakan satu keraguan setaniah dengan menyangka bahwa jika kritik tersebut sangat kuat, bagaimana dapat menanggapi hal itu. Apakah firman Allah yang membela dan menjaga iman kita ataukah kita yang menjaga firman Allah? Kitab yang membutuhkan manusia untuk menjaganya, adalah kitab palsu, layak ditinggalkan dan tidak ada gunanya bagi kita. Namun, Al-Quran yang berguna bagi kita itu tidak membutuhkan manusia untuk menjaganya, melainkan, Allah sendiri Yang menjaganya. Tuduhan apapun yang dilontarkan terhadapnya harus dapat ditanggapinya sendiri dan harus menampakkan kemuliaannya sendiri. Demikianlah keistimewaan Al-Quran kitab kita itu.[10]

Lalu berbicara tentang bagaimana seseorang harus berurusan atau menghitung-hitung dengan kelemahan dirinya, atau bagaimana seseorang mengendalikan dirinya sendiri, beliau mengatakan, “Ini adalah peristiwa di masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri. Suatu kali di sebuah jalan di Lahore seseorang mendorong Hadhrat Masih Mau’ud as begitu keras sehingga beliau as terjatuh. Melihat ini orang-orang yang menyertai beliau as menjadi sangat bersemangat dan mereka hampir akan menyerang orang ini, tapi Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Jangan apa-apakan dia! Dia telah melakukan ini berdasarkan persangkaannya yang dalam keadaan bersemangat mendukung kebenaran.’ Jadi, jelas bahwa para nabi Allah tidak berbicara dari kebutuhan ego mereka sendiri. Melainkan mereka berbicara demi kehormatan dan kebesaran Tuhan. Karena itu, kita hendaknya tidak berpikir bahwa para nabi Allah berperilaku sebagai orang biasa berperilaku. Ada perbedaan besar antara para nabi Allah dan orang-orang biasa. Mereka bertindak untuk Allah dan orang-orang biasa bertindak untuk diri mereka sendiri.”

Kemudian beliau ra mengatakan, “Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyebutkan shalat Hadhrat Muawiyah bahwa satu kali beliau pernah tertinggal melaksanakan shalat Fajar pada waktu yang ditetapkan, tetapi sebagai konsekuensi dari kesalahan ini, beliau tidak jatuh, tidak, bahkan naik ke ketinggian baru. Hal demikian karena orang yang sadar telah melakukan dosa, mereka selamat dari dosa itu. Orang yang tidak sadar telah melakukan dosa, itu menjadi penyebabnya terjerumus kedalam dosa. Seorang mukmin harus merenungkan dan memahami doa, اهدنا الصراط المستقيم ‘bimbinglah kami pada jalan yang lurus’, dan dia harus menyadari bahwa dia belum menemukan tempat perlindungan dari segala bahaya. Dia bisa aman hanya ketika ia mendengar suara firman Tuhan menegaskan demikian kepadanya. Seseorang harus selalu terus mengevaluasi kelemahannya. Bagi orang seperti itu pintu kemajuan rohani membuka kepadanya. Orang yang tidak melakukan hal ini maka pintu kemajuan rohani menjadi tertutup baginya dan orang seperti itu akhirnya menjadi sesat.”[11]

Penentangan terhadap Jemaat, penentangan terhadap para nabi tersebut menjadi sarana bagi kemajuan. Beliau ra menulis, “Kami mendengar dari Hadhrat Masih Mau’ud as di banyak kesempatan. Beliau sering mengatakan bahwa caci-maki dari pihak lawan dan permusuhan mereka terhadap kita menimbulkan gejolak harapan dalam diri kita bahwa semoga jiwa-jiwa yang diberkati dari antara mereka akan datang ke arah kita. Tapi ketika mereka berhenti memusuhi kita dan tidak mencaci kita serta  menjadi benar-benar diam, maka ini menjadi sumber penyebab kesusahan bagi kita. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa mengatakan bahwa perumpamaan seorang Nabi itu seperti seorang wanita tua yang terkenal bahwa dia agak gila. Anak-anak dari warga kota biasa mengganggunya dan ia biasa mencaci mereka dan mengutuk mereka. Akhirnya orang tua dari anak-anak tersebut menyusun rencana agar anak-anak harus dicegah dari aniaya wanita tua sehingga mereka memberi pemahaman kepada anak-anak dan menyarankan mereka untuk berhenti; tapi mereka anak-anak, mereka tidak akan berhenti. Jadi rencana ini sia-sia dan akhirnya orang tua memutuskan anak-anak harus tidak diperbolehkan untuk pergi ke luar dan pintu rumah akan tetap tertutup.

Ringkasnya, mereka mulai melaksanakan rencana ini dan selama dua atau tiga hari tidak membiarkan anak-anaknya untuk pergi keluar. Ketika wanita tua ini melihat anak-anak tidak lagi datang mengganggunya, dia mendatangi ke setiap rumah di mana tinggal anak-anak itu dan berkata, ‘Dimanakah anak kalian? Apakah ular telah menggigitnya ataukah ia telah meninggal karena kolera, atau atap rumah menjatuhinya atau dia telah disambar petir?’ Pendek kata, dia akan pergi ke setiap pintu dan berbicara berbagai macam hal-hal buruk kepada mereka sedemikian rupa hingga orang menyadari bahwa wanita tua itu telah mulai mencaci dan mengutuk (berdoa buruk) bagi mereka lebih dari sebelumnya. Mereka berkata, ‘Jadi apa yang telah kita dapatkan dengan menjaga anak-anak semua terkunci di dalam rumah?’ Mereka memutuskan untuk melepaskan anak-anak dan memungkinkan mereka untuk pergi ke luar. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa mengatakan bahwa inilah keadaan setiap Nabi. Ketika penentangan meningkat sampai puncaknya, ia merasa sangat prihatin saat itu; dan ketika lawan diam, ia juga merasa sedih, karena tanpa adanya penentangan, perhatian orang-orang tidak tertarik terhadap gerakan Jemaat Ilahi.”[12]

Tentu saja, seorang Nabi tidak melemparkan cacian kepada orang-orang, dan yang keluar dari mulutnya di tiap keadaan hanya doa-doa untuk mereka. Tapi, ketika penentangan meningkat, maka dia berdoa untuk lawan juga supaya jiwa-jiwa yang diberkati dari antara mereka dapat menerima kebenaran.

Kemudian, berbicara mengenai penentangan sebagai sumber kemajuan, Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengatakan, “Suatu kali seorang Maulwi Sahib datang dan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Maulwi Sahib ini adalah seorang penyair terkenal dan penulis. Nawab Sahib (Kepala Daerah) dari Rampur telah mempercayakannya untuk menulis kamus frase ungkapan bahasa Urdu. Nawab Rampur Sahib memiliki naskah Penyair Terkenal Minai.[13] Dia telah menyusun kamus yang sangat besar dari bahasa Urdu, tetapi dia tidak selesaikan itu karena Nawab Sahib meninggal. Nawab Sahib Rampur yang menggantikannya telah memberi saya naskah-naskah itu dan mengarahkan saya untuk menyelesaikannya. Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda tertarik untuk melakukan baiat sementara Anda seorang penduduk dari daerah Rampur yang terkenal dengan penentangan keras?’

Dia mengatakan, ‘Seseorang telah memberi saya salinan Durre-Samin [kumpulan puisi dari Hadhrat Masih Mau’ud as] dan karena saya sendiri adalah seorang penyair, saya membaca puisi dan saya menjadi sangat terkesan dengan itu karena saya menemukannya benar-benar dipenuhi dengan kecintaan kepada Rasulullah saw. Maulwi Sanaullah Sahib datang ke sana dan ia menyampaikan ceramah dan dalam ceramah ini ia memberitahu kami bahwa Mirza Sahib adalah musuh ekstrim Islam dan ia menghina Rasulullah saw. Ketika saya mendengarkan pidatonya, saya menyadari bahwa Mirza Sahib pasti benar. Jika tidak, apa perlunya Maulwi Sahib mengucapkan kebohongan besar seperti itu. Orang yang memiliki kecintaan kepada Nabi dalam hatinya sehingga puisinya begitu sangat penuh ekspresi cinta itu, jika beberapa Maulwi mengatakan tentang orang tersebut bahwa ia adalah musuh besar Nabi saw, maka para Maulwi itu pasti pembohong. Dan orang yang ia tuduh tidak menghormati Nabi itu pasti benar, jika tidak, tidak perlu penceramah tersebut untuk menyajikan argumen palsu dalam mendukung pernyataannya itu. Maulwi itu harus menyatakan kebenaran, yaitu, “Meskipun ia telah memuji Nabi Muhammad saw dalam Durr-e-Sameen, dan memuji Tuhan secara luar biasa, tapi dia tetap seorang pendakwa yang bohong.” Jika ia mengatakan hal seperti itu, maka itu tidak terlalu buruk. Tapi sebaliknya, ia membuang kejujuran dan mengatakan, “Orang itu (Pendiri Jemaat) menghina Allah dan Rasul-Nya.” Segera setelah mendengarkan pidatonya saya kemudian menyadari bahwa Mirza Ghulam Ahmad Sahib benar dalam klaimnya dan saya siap untuk melakukan baiat di tangan Anda.’ Jadi kenyataannya adalah banyak sekali para penentang mencoba untuk membangkitkan hasutan di kalangan masyarakat untuk menentang orang mu-min, tapi bukannya berhasil dalam usahanya, malahan kalimat-kalimat mereka itu terbukti bermanfaat dalam mendukung orang mu-min.

Dalam peristiwa lain, beliau ra mengatakan, “Pada masa-masa awal da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as dan saya masih sangat kecil beberapa sahabat yang sangat tulus tinggal di desa Baogestpur dekat Chak Sikandar di wilayah Gujarat. Saya ingat dengan baik para saudara Jemaat tersebut biasa datang dan duduk bersama Hadhrat Masih Mau’ud as dengan semangat besar. Mereka sangat menikmati percakapan dan kebersamaan dengan beliau as tersebut. Ada ipar dari Hadhrat Masih Mau’ud as dengan nama Mirza Sher Ali (dia adalah saudara dari istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as). Karena Hadhrat Masih Mau’ud as menikah dengan Hadhrat Ummul Mukminin (Nushrat Jahan Begum, ibunda Hudhur II ra) sesuai dengan perintah Allah Ta’ala, kerabat dari istri pertama beliau as mulai menentangnya. Istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang wanita yang sangat salehah.[14] Orang-orang ada yang berkata, ‘Seorang perempuan yang menyayangimu melebihi ibumu sendiri adalah seorang yang penuh makar (rencana tertentu) dan penipu.’ Padahal, hakekatnya, saya telah menyaksikan sendiri memang beliau begitu menyayangi kami, sehingga di masa kecil kami, kami biasa berpikir bahwa beliau mengasihi kami lebih dari ibu kami sendiri. (Jadi kesan salah yang ada di antara beberapa orang bahwa beliau ra tidak ada jalinan komunikasi dengan istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as juga adalah tidak benar).

Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengatakan, “Ketika kakak perempuan kami, Ismat meninggal, Hadhrat Ummul Mukminin (istri Hadhrat Masih Mau’ud as dari pernikahan kedua, ibunda Hudhur II ra) mengatakan kepada kami, ‘Ketika Ismat sakit dan kondisinya menjadi sangat ekstrim, kondisinya seperti ayam ketika disembelih. (sakit sekarat) Ismat dalam keadaan menyedihkan. Ismat berkali-kali berkata, ‘Panggilkan ibu!’ Maksudnya ibu besar (istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as). Hadhrat Masih Mau’ud as pun memanggilnya. Ketika datang, beliau (istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as) meletakkan tangannya di tangan Ismat. Ismat menjadi sangat puas dan tenang. Kemudian ia pun menghembuskan nafas yang terakhir. Beliau seorang wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak dari istri kedua suaminya. Beliau juga sangat menyintai Hadhrat Masih Mau’ud as dan memperlakukan beliau as dengan penghargaan tinggi. Beliau tidak akan menolerir bila mendengar sesuatu yang buruk tentang beliau as (suaminya) dari siapa pun.

 Tapi saudara laki-lakinya yang sangat berprasangka berusaha untuk menipu orang-orang yang datang berkunjung. Mereka akan mengatakan, ‘Saya adalah saudara dan kerabatnya, dan saya tahu bahwa ia baru saja mendirikan toko untuk menjual dan membeli dan tidak ada yang lain.’ Ini adalah apa yang akan mereka katakan tentang Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ia telah menetapkan segala hal ini dengan cara bisnis dan klaim kenabiannya hanya penipuan dan mendengar hal-hal ini, orang-orang beriman yang lemah akan tertipu dan berpikir bahwa jika saudara mengatakan hal-hal ini, itu pasti benar. Suatu kali lima saudara yang telah saya sebutkan tadi [tinggal di dekat Chak Sikander] datang ke Qadian dari arah Khariyan. Sampai saat itu, Bahisyti Maqbarah belum dibangun. Kejadian ini adalah terjadi jauh lebih awal dari itu dan pada saat itu orang-orang sering datang ke Qadian, untuk mutabarruk (mencari berkah dari tempat-tempat) di Qadian, mereka akan pergi ke masjid Mubarak atau pergi dan duduk bersama Hadhrat Khalifatul Masih I ra atau pergi dan duduk di taman kakek kami. Mereka biasa berpikir bahwa karena itu adalah taman ayah dari Hadhrat Masih Mau’ud as, sehingga tempat ini juga merupakan tempat yang diberkati.

Dalam perjalanan ke taman ini ada tempat yang menjadi lokasi untuk Guest House (rumah tamu) dan sebelum ini dibangun, tanah ini adalah milik Mirza Sher Ali Sahib, saudara dari istri pertama Hadhrat Masih Mau’ud as. Ia suka mempercantik tempat ini dengan sebuah taman kecil di dalamnya. Dia akan selalu membawa tongkat besi yang panjang di tangannya. Wajahnya berjenggot lebat, tapi dia adalah seorang penentang keras Jemaat. Dia akan selalu membuat bagaimana agar setiap Ahmadi yang ia temui bisa dibuat berubah pikiran.

Suatu kali lima bersaudara tersebut datang ke Qadian dan memulai perjalanan mereka untuk melihat taman. Seorang dari antara mereka melangkah cepat memimpin di depan. Mirza Sher Ali mengenali mereka adalah orang luar Qadian yang datang berkunjung. Ia memanggil mereka dengan suara nyaring, ‘Saudara-saudara! Kemarilah dan dengarkan saya!’ orang yang memimpin pergi kepadanya. Mirza Sher Ali bertanya, ‘Mengapa Anda datang ke sini?’ Dia menjawab, ‘Kami telah mendengar Tn. Mirza telah mengklaim sebagai Masih dan Mahdi, jadi kami datang ke sini untuk melihatnya karena nampak bagi kami beliau benar dalam klaimnya.’ Dia mengatakan, ‘Bagaimana mungkin Anda telah jatuh ke dalam penipuannya. Apakah Anda tidak tahu bahwa orang itu telah membuat sebuah usaha bisnis untuk mencari nafkah sehari-hari dengan da’wa yang dibuatnya itu? Dia adalah keluarga saya dan saya tahu keadaannya dengan sangat baik. Anda adalah orang-orang yang tinggal di luar Qadian. Pengetahuan apa yang Anda miliki tentang keadaan yang sebenarnya. Janganlah Anda jatuh pada penipuan semacam itu, jika tidak ingin mengalami kerugian.’

Mendengarkan pernyataannya ini, orang Ahmadi itu mulai bergerak ke arahnya dengan penuh semangat dan memintanya untuk berjabat tangan. Sher Ali Sahib berpikir, ‘Pernyataan saya memiliki pengaruh besar pada dirinya dan ia telah menjadi yakin terhadap kebenaran saya.’ Karena kebiasaannya saat berbicara sering menyela dengan ucapan, SubhanAllah’ dan Alhamdulillah’ di tengah-tengah kalimat. Jadi, dia mengulurkan tangan ke arahnya dengan semangat besar dan dirinya berpikir, ‘Hari ini saya telah menangkap mangsa yang berharga.’ Saudara Ahmadi yang berada di depan memegang tangannya dengan kuat dan mulai memanggil saudara-saudaranya yang lain dengan keras untuk datang dengan cepat sambil berkata, ‘Saya punya hal penting untuk saya tunjukkan pada kalian.’

Paman kami (Mirza Sher Ali) berpikir, ‘Orang ini telah sangat terpengaruh oleh pernyataanku dan sekarang dia memanggil saudara-saudaranya, sehingga ia dapat memberitahu mereka bahwa apa-apa yang kukatakan adalah benar. Saya merasa sangat senang karena saat ini penentangan saya telah menemukan keberhasilan.’ Tapi, ketika empat bersaudara lainnya tiba dan menjadi lima bersama-sama, yang pertama mulai mengatakan, ‘Kita biasa membaca dalam Al-Quran dan Hadits bahwa ada setan di dunia, tapi kita tidak pernah bisa menemukannya. Tapi hari ini, semata-mata sebuah nasib baik bagi kita bahwa kita telah menemukan setan yang mencoba untuk menyesatkan kita.’”[15]

Kemudian di tempat lain, beliau ra bersabda, “Tidak ada keraguan bahwa Rahmat Allah adalah seperti sebuah sungai besar dan jika setetes air diambil darinya, apakah itu dapat mengurangi air sungai tersebut? Ini adalah kemalangan manusia itu sendiri bahwa ia menghalangi dirinya dari menjadi penerima rahmat Allah dan memalingkan wajahnya. Ketika seorang ma-mur (orang yang mendapat tugas dari Allah) muncul, orang-orang menganggapnya tidak signifikan (tidak ada artinya), mereka berpaling darinya dan tidak mempedulikannya.

Orang tua dari Baba Nanak biasa memandang rendah kepada beliau dan biasa mengatakan, ‘Ia telah merusak bisnis kita. Anak tidak berguna ini telah lahir di rumah kita.’ Jika orangtuanya datang kembali hidup dan melewati zaman ini dan melihat bahwa anak yang mereka biasa anggap tidak signifikan itu dihormati oleh ratusan dan ribuan orang yang siap untuk mengorbankan nyawa mereka demi beliau dan di antara mereka terdapat banyak jutawan, mereka akan heran melihat ini. Tetapi orang-orang, karena ketidaktahuan dan kebodohan mereka sendiri, berpikir, ‘Pembohong itu tidak berarti dan dengan menerimanya, apa yang kita dapatkan.’ Tapi Allah Ta’ala memilih hanya orang-orang yang tampaknya tidak signifikan di mata orang-orang. Namun, akan datang masanya ketika ratusan ribu orang siap sedia untuk mengorbankan nyawanya demi nama mereka.

Ini adalah persis keadaan ketika Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian. Di Qadian sebelumnya, tidak ada stasiun kereta api, tidak ada kantor pos, juga tidak ada lembaga pendidikan agama atau sekuler. Hadhrat Masih Mau’ud as tidak memiliki ketinggian duniawi apapun dan dari semua penampilan, pendidikan yang telah beliau capai juga sangat sederhana. Jadi, ketika beliau mengklaim sebagai Masih dan Mahdi, orang-orang mengangkat keributan, ‘Naudzubillah orang ini adalah orang yang bodoh. Bagaimana bisa ia menjadi Mahdi?’ Orang-orang juga biasa mengatakan, ‘Bagaimana bisa seorang utusan Allah dibesarkan di satu desa kecil? Jika seorang utusan ditakdirkan untuk datang, ia harus muncul di beberapa kota besar seperti Lahore atau Amritsar dan lain-lain.’ Jadi, orang-orang mulai melontarkan penentangan dan orang-orang yang, setelah mendengar klaim beliau, ingin datang ke Qadian untuk melihat beliau, upaya-upaya akan dilakukan untuk menghentikan mereka datang. Jika mereka tidak berhenti, mereka akan menghadapi segala macam kesulitan dan mendapatkan berbagai macam musibah dan kedukaan. Tapi, meskipun adanya semua hambatan, Hadhrat Masih Mau’ud as menerima wahyu dari Allah,

‘Seorang pemberi peringatan telah datang ke dunia dan dunia tidak menerimanya, tapi Tuhan menerimanya dan akan memanifestasikan kebenaran melalui tanda-tanda yang dahsyat.’ Masih Mau’ud as menerima wahyu ini ketika tidak seorang pun belum menerimanya. Kemudian beliau as menerima ilham,  ‘Aku akan menyampaikan tabligh engkau sampai ke sudut-sudut dunia.’

Pada hari-hari itu, Hadhrat Masih Mau’ud as mempunyai seorang pembantu yang dipanggil Pira. Pria ini begitu kurang akalnya sehingga ia mencampur minyak parafin dalam makanan dan meminumnya. Hadhrat Masih Mau’ud as sering kali mengirimnya untuk tugas ini dan itu ke Batala. Pada satu kesempatan tersebut, ia kebetulan menemukan Maulwi Muhammad Hussain Batalwi Sahib yang dikenal sebagai pemimpin Ahli Hadis dan dianggap sebagai Maulwi kenamaan dan hebat. Pekerjaan utamanya pada masa itu adalah bahwa ketika orang datang ke Batala untuk pergi ke Qadian, ia akan menemui mereka dan akan mengatakan kepada mereka, ‘Orang itu (Masih Mau’ud) telah membuka bisnis dan ia adalah pendusta. Apa yang akan Anda capai dengan pergi ke Qadian?’ Namun, meskipun demikian, orang-orang masih saja tetap datang ke Qadian dan tidak berhenti datang ke Qadian dan upaya dari Maulwi Muhammad Hussain Batalvi Sahib untuk menghentikan mereka tidak dapat menghentikan mereka.

Pada hari tertentu, dia tidak bisa menemukan orang lain kecuali Pira, sehingga dia mendatanginya dan berkata, ‘O Pira, engkau tidak harus tinggal dengan orang itu dan membiarkan iman engkau dirusakkan. Orang yang malang itu (Pira) tidak bisa mengerti apa-apa tentang apa yang Maulwi Sahib katakan, tapi paham betul pokok masalah yang disampaikan oleh Maulwi Sahib, yaitu tinggal dengan Mirza Sahib tidak baik untuknya. Ketika Maulwi Sahib telah menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, Pira menjawab, ‘Saya sebenarnya betul-betul orang bodoh dan tidak dapat memahami jenis-jenis perkataan dan masalah. Namun demikian, saya telah paham sedikit hal bahwa Anda mengatakan, Tn. Mirza adalah orang jahat. Tapi, saya mengerti satu hal dengan jelas, yaitu Anda pergi berjalan berkeliling di Batala ini sambil mengatakan kepada orang-orang supaya mereka tidak pergi ke Qadian dan Anda berusaha untuk menghentikan mereka, bahkan orang-orang yang datang dari wilayah lain untuk pergi ke Qadian terus Anda upayakan untuk menghentikan mereka. Tapi, saya melihat dengan sangat jelas Allah menyertai beliau dan Dia tidak menyertai Anda karena meskipun semua upaya Anda untuk menghalangi, tetap saja orang dalam jumlah ratusan berjalan kaki pergi ke Qadian. Namun, tidak ada satu pun yang menyulitkan diri untuk datang kepada Anda.’

Jadi, hamba Allah itu as tampak kecil dan tidak signifikan di masa awalnya dan mereka yang memandang hal-hal materi memandang rendah terhadap beliau as. Ini adalah apa yang dipikirkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as juga. Tapi hari ini, [Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis pada waktu itu], Jemaat telah menyebar ke berbagai penjuru bumi [dan sekarang, tentu saja, dengan karunia Allah telah menyebar lebih lebih luas]. Di masa Hadhrat Masih Mau’ud as sejumlah 700 orang datang pada kesempatan Jalsah terakhir dari masa hidup beliau as.” [Hadhrat Khalifatul Masih II mengatakan saat Khotbah Jumat waktu itu di masjid Aqsa lebih dari 4.000 orang yang berpartisipasi untuk hadir. Sedangkan pada saat ini di berbagai bagian dunia, lebih dari 5 atau 6 ribu orang menyimak khotbah di masjid ini melalui MTA.]

Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda, “Pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, semua bangsa dan agama di India menentang beliau as dengan cara yang paling intens, tapi meskipun semua penentangan, Jemaat kita berkembang di India dan juga Jemaat-Jemaat didirikan di negara-negara luar India. Kini misi kita bekerja di berbagai negara di seluruh dunia. Di Inggris, Amerika, Afrika, Cina, Jepang, Jawa, Sumatra, dan di semua negara di Eropa misi kita telah didirikan dan karya pertablighan sedang berlangsung. Orang-orang Afrika sedang mempelajari pesan misi dakwah tersebut. Orang-orang Amerika dan Eropa yang sejak dulu terlibat dalam menyekutukan Allah, sedang memeluk Islam secara berbondong-bondong. Alasan untuk ini adalah hanya karena Allah telah mendirikan keimanan baru di dalam hati kita melalui utusan-Nya hal mana orang-orang selain kita luput dari itu.”

Kemudian, beliau ra mengatakan, “Anggota Jemaat kita yang sangat terhormat, Hadhrat Sahibzada Abdul Latif Shaheed adalah salah seorang dari antara orang-orang seperti itu yang datang ke Qadian setelah mendengar da’wa (klaim, pernyataan) dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau meninggalkan rumahnya dengan tujuan melakukan haji, dan setelah mendengar undangan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau datang ke Qadian dan melakukan baiat. Setelah baiat, beliau pulang ke rumah dan Raja Afghanistan menjatuhkan hukuman rajam sampai mati hanya karena alasan bahwa beliau telah melakukan baiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Orang-orang melakukan semua jenis usaha supaya beliau harus mengubah keyakinannya, tapi beliau tidak menerima permintaan mereka karena kebenaran telah menjadi jelas bagi beliau. Pada akhirnya, Raja menguburkan sebagian tubuh beliau di tanah dan beliau dirajam sampai mati. Beliau syahid dengan cara yang paling menyakitkan, tetapi tidak mengucapkan suara keluhan dan mengorbankan hidupnya di jalan Allah. Tepat sebelum rajam mulai, menteri tertinggi pemerintah datang kepadanya dan mengatakan, ‘Dalam hati Anda, Anda dapat terus memegang keyakinan tersebut, tetapi Anda hanya diminta untuk mengucapkan penolakan dengan lidah Anda saja.’ Tetapi, beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa mengucapkan kebohongan. Jadi, beliau mati syahid dan segera setelah kewafatannya, kolera timbul di negara itu dan ribuan tewas. (Dan sampai sekarang lihat bagaimana kerusakan yang terus menyebar di Afghanistan)

Demikian pula, ketika orang-orang menentang Hadhrat Masih Mau’ud as, Allah menunjukkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa suatu bentuk yang sangat ampuh dari wabah Tha’un akan pecah di negeri itu dan ini adalah apa yang terjadi dan ribuan orang meninggal sebagai akibatnya. Bahkan, selama wabah ini terjadi, meskipun fakta bahwa terjadinya wabah itu guna mendukung kebenaran beliau, namun beliau as adalah sebagai mujassam rahmat (wujud penuh rahmat), beliau memanjatkan doa-doa sekuat-kuatnya di hadhirat Allah supaya bencana ini ditunda atau tertunda. Beliau berdoa begitu sungguh-sungguh dan dengan gairah sehingga Maulwi Abdul Karim Sahib ra yang dulu tinggal di bagian atas masjid Mubarak mengatakan, “Suatu hari saya mendengar suara tangis yang sangat penuh kesedihan dan penuh kesakitan seperti seorang ibu kesakitan saat melahirkan. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian dan menemukan ternyata Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berdoa kepada Tuhan, menangis sungguh-sungguh sambil mengatakan, ‘Ya Allah, jika semua orang mati, lalu siapa yang akan tertinggal untuk percaya padaku.’ Hal ini juga merupakan dalil yang sangat dahsyat untuk kebenaran beliau as. Allah Ta’ala telah mengirim wabah sebagai tanda kebenaran beliau as, tapi hati beliau as tergerak untuk berdoa meminta belas kasihan. Ini adalah mutu tinggi kualitas rahmat (sifat belas kasihan) dalam diri seorang Nabi Allah.”[16]

Semoga Allah melimpahkan diini ghairat (kehormatan, gairah, kecemburuan pada agama) di hati setiap Ahmadi. Semoga Dia menyebabkan setiap orang untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Tuhan. Semoga Dia mengembangkan kesabaran dan ketabahan dalam diri setiap orang. Dan semoga Dia memberkati kita kemampuan untuk berdoa guna menyelamatkan umat manusia juga. Semoga Dia memberikan kepada kita kemampuan untuk mengatasi ego kita dengan kerendahan hati kita dan membuat kita berjalan di jalan yang mengarah kepada ridha-Nya dengan cara yang lengkap. Semoga kita menjadi orang-orang yang mengikuti cara-cara yang akan memungkinkan kita untuk mencapai misi Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan semoga kita menjadi orang-orang yang melakukan segala sesuatu yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah harapkan atau inginkan kepada pengikutnya untuk dilakukan. Aamiin. (Ata’ul A’la & Dildaar)

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Al-Fadhl International, 24-30 Okt 2014, h. 4, Anwarul Ulum jilid 14, h. 552-555.

[3] Al-Fadhl Rabwah, 1 April 1958, h. 3, jilid 47, nomor 76.

[4] Sawanih Fadhl Umar, jilid awal, h. 78, terbitan Yayasan Fadhl Umar.

Tambahan dari Redaksi: Nama asli Tipu Sultan ialah Fateh Ali. Lahir di Bangalore pada 20-11-1750 dari rahim istri kedua Haydar Ali. Seorang Wali Muslim memberinya nama Tipu Sultan. Ayahnya, perwira militer kerajaan Mysore, mayoritas Hindu. Haydar Ali, naik karirnya hingga menjadi penguasa penuh Mysore pada 1761. Sejak umur 15 tahun, Tipu menemani ayahnya berperang dan memimpin sekelompok prajurit. British East Indian Company (EIC), Perusahaan Dagang Inggris di India berambisi memperluas kendalinya di India bagian selatan dengan diplomasi mempermainkan raja-raja dan para pangeran lokal. Terjadi 2 kali perang (1767-1769 dan 1780-1784), Mysore dibantu Perancis menghadapi invansi Inggris yang dibantu kerajaan lokal India lainnya. Mysore memenangkan beberapa pertempuran. Inggris terpaksa dua kali menandatangi perjanjian damai. Tipu menjadi Sultan pada Desember 1782 setelah ayahnya wafat. Tanpa bantuan Prancis, Perang ketiga, antara 1789-1792. Inggris mengalahkan Mysore. Setengah wilayah Mysore diambil alih dan dua putra Tipu ditawan. Perang keempat, Februari-Mei 1999. Sejumlah 50.000 pasukan Inggris dan sekutunya menyerbu ibukota Mysore yang dipertahankan oleh 30.000 orang. Tipu Sultan syahid dalam usaha mempertahankan kerajaannya. Jenazah beliau ditemukan dibawah tumpukan mayat para prajuritnya. Di hari terakhir itu beliau berpakaian sangat bagus dan dihiasi dengan perhiasan berharga seperti permata dan sebagainya. Semuanya dijarah prajurit Inggris. Walau diijinkan oleh Inggris untuk dimakamkan dengan hormat, istana beliau dijarah, keluarga beliau diasingkan dan penguasa baru pro-Inggris didatangkan. Di zaman modern, baik India maupun Pakistan menghormati beliau sebagai pahlawan dan pejuang kemerdekaan.

[5] Sirah Hadhrat Masih Mau’ud as oleh Hadhrat Maulwi Abdul Karim Shahib ra, hl. 20-21, penerbit Abul Fadhl Mahmud, Qadian.

[6] Sawanih Fadhl Umar, jilid awal, h. 78, terbitan Yayasan Fadhl Umar.

[7] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 9, h. 163-164

[8] Al-Mau’ud Anwarul Ulum, jilid 17, h. 565-569

[9] Harian al-Fadhl Qadian, 26-02-1931, h. 9, no. 99, j. 18; Khuthubaat-e-Mahmud, jilid III, h. 456

[10] Qur’an karim parhne parhaane ke muta’alliq takid, Anwarul Ulum 18, 160

[11] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 18, halaman 141-142.

[12] Rasul Karim ki zindegi ke tamam ehem waqi’aat (Peristiwa-Peristiwa Penting dalam kehidupan Rasul yang Mulia saw), Anwarul Ulum, jilid 19, halaman 153

[13] Amir Ahmad Minai atau Meenai, penyair terkemuka bahasa Urdu dan Persia. Lahir di Lucknow, 1828 dan wafat di Hyderabad, 1900. Buku yang ditulisnya melebihi 50 buah. Naskah-naskahnya banyak yang belum diterbitkan.

[14] Istri pertama Pendiri Jemaat ialah Hurmat Bibi binti Mirza Jami’at Baig, putri paman beliau dari pihak ibu beliau, anak saudara kandung dari ibu beliau atau sepupu beliau. Pernikahan berlangsung pada 1852 di saat usia beliau as 16 tahun. Putra beliau dari istri pertama ini ialah Hadhrat Mirza Sultan Ahmad (1853-1931, baiat pada masa Hudhur II ra) dan Mirza Fazal Ahmad (1955-1904, 49 tahun, tidak baiat). Pernikahan ini pecah atau berakhir dengan perpisahan pada usia beliau 21 tahun atau sekitar tahun 1856-1857. Nama Hurmat Bibi cukup banyak di kalangan kerabat beliau. Abang kandung beliau, Mirza Ghulam Qadir juga menikah dengan Hurmat Bibi binti Mirza Ghulam Muhyiddin. Ghulam Muhyiddin adalah saudara sepupu ayah beliau.

Pada 17 November 1884, sekitar 28 tahun kemudian, setelah mendapatkan ilham dan wahyu berisi kabar suka tentang pernikahan kedua dan anak-anak yang akan lahir, saat berumur 49 atau 50 tahun, beliau menikah dengan Nushrat Jahan Begum (saat itu berumur 19 tahun, 1865-1952), anggota keluarga Sayyid terkenal dan terkemuka dari Delhi. Pasangan ini menghasilkan 10 orang anak. Lima diantaranya wafat saat kecil dan lima lagi hidup hingga usia tua. Sumber: website resmi Jemaat www.alislam.org pada kata ‘Hurmat Bibi’ dan ‘Nusrat Jahan’.

[15] Al-Fadhl Rabwah, 31 Agustus 1956, h. 5-6, no. 204, jilid 10/45

[16] Khuda ta’ala dunya ki hidayat ke liye hamesyah nabi mab’uts fermata he – Tuhan selalu mngutus nabi demi mmberi petunjuk kpd dunia, Anwarul ‘Ulum 18, h. 510-514.