Khutbah tanggal 15-6-2001 Khu-16 14 h.

            Surah Al-ahzab ayat 73-74: Terjemah sederhananya adalah,”Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada seluruh langit  dan bumi dan gunung-gunung maka mereka semua enggan untuk memikulnya dan mereka takut kepadanya, sedangkan manusia sempurna memikulnya. Sesungguhnya dia sangat aniaya terhadap dirinya dan sama sekali tidak menghiraukan akibat-akibat dari tanggung jawab.

            Supaya Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan orang-orang musyrik perempuan dan supaya Allah sambil menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dia cenderung kepada mereka .Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

            Topik sifat-sifat Tuhan yang masih sedang berjalan ini adalah merupakan samudera yang tidak berujung. Dimana seberapapun  melakukan perjalanan terus menerus tidak akan pernah berakhir. Dan saya mendapat peluang bahwa dengan refrensi topik ini saya terus menerus memberikan dares-dares singkat. Dan banyak masaalah-masaalah yang tidak ada dalam benak orang-orang,itu  lewat refrensi topik ini secara singkat saya terangkan kepada mereka.

Dalam rangkaian yang berkaitan dengan amanat mula pertama saya menyajikan satu kutipan Hazrat Masih Mauud a.s.:”Pada dasarnya hakekat amanat dan Islam adalah satu,yakni,katakan amanat atau katakan Islam pada hakekatnya adalah satu benda.Islam yang ditawarkan, yang dari itu gunung-gunung besar dunia,yakni manusia-manusia  bagaikan gunung pun  merasa ketakutan.Amanat dan Islam pada dasarnya adalah benda yang terpuji. Dan ini adalah merupakan point yang sangat indah/menarik bahwa  Islam dan amanat adalah merupakan nama dari satu benda,maka ini adalah benda yang dicintai dan indah. Dari itu tidak ada maksud untuk menakut-nakuti.Disini tidak ada sisi takut/khawatir,bahkan dengan senang hati manusia bisa mengangkat /memikul amanat itu. Tapi,zhaluwman jahuwla-dia sangat aniaya terhadap dirinya dan abai terhadap akibat-akibat.Apabila dua benda itu disambung,maka sama sekali akan menjadi jelas bahwa  maksud orang yang sangat aniaya terhadap dirinya  bukanlah maksudnya  orang yang terlibat dalam dosa-dosa,bahkan untuk selalu menghindarkan diri dari dosa-dosa  aniaya terhadap dirinya..Dan sebagai dampak berlaku keras terhadap pribadinya,apapun akibat-akibat tidak menghiraukannya.

 Jadi bersabda,”Orang yang menerima benda terpuji dan disukai dan tidak memalingkan muka dari perintah Tuhan dan mendahulukan kehendak-Nya dari keinginannya sendiri,dia kenapa layak untuk dicela ? Dan hendaknya diingat bahwa di ayat selanjutnya Tuhan berfirman,”liyu’adzdziballahul munaafiqiyn wal munafiqaati wal musyrikiyna wal musyrikaati wa yatuwballahu ‘alal mu’miniyna wal mu’minaat wakaanallahu gafuwra-rrahiyma-yakni manusia yang menerima amanat Tuhan maka dari itu menjadi seharusnya/lazim bahwa orang-orang  yang munafiq laki-laki dan munafik perempuan dan musyrik laki-laki dan musyrik perempuan yang hanya menerima dengan ucapan  dan secara amal mereka tidak mentaatinya  mereka itu diazab. Dan orang-orang mu’min laki-laki dan orang-orang mu’min perempuan yang sambil/seraya menerima amanat mereka mengitaatinya juga,mereka menjadi tempat turunnya rahmat Ilahi.Ayat dengan sangat terang  dan jelas mengatakan  bahwa dalam ayat yang disebut ini maksud dari zhalum dan jahul adalah orang mu’min

Selain itu Hazrat Masih Mauud a.s.menyebut secara terinci para ahli-ahli fiqih dan ulama-ulama lainnya,.yang mana perincian itu saya tinggalkan. Secara singkat cukup. ”Selain itu bukan  hanya yang lemah ini saja yang mengartikan. Yakni,  zhalum dan jahul yang saya artikan,yaitu “demi untuk Tuhan orang yang aniaya terhadap dirinya dan demi untuk Tuhan sebagai dampak  aniaya ini orang yang tidak menghiraukan akibat-akibat (buruk).Bersabda,”Sesuai dengan itu untuk semua perkara-perkara /hal-hal itu –yakni  banyak para peneliti dan orang-orang ‘alim yang ahli dalam bahasa dari antara itu adalah penulis Futuhatulmakiyah,yang juga merupakan ahli bahasa. Dia menulis dalam kitabnya “Tafsir” yang diterbitkan  di Mesir yang banyak tersebar luas. Dia mengartikan  Al-insan/ manusia di bawah tafsir ayat wahamalahal insaan innahuw kaana zhaluman jahula Disini  arti  zhalum dan jahula adalah sebagai pujian.Yakni, orang yang aniaya, bukan aniaya kepada orang lain,bahkan terhadap dirinya.Dan jahul sebagai akibat aniaya terhadap ego/jiwa itu,apapun akibat-akibatnya tidak menjadi dihiraukan.

Kemudian Hazrat Masih Mauud a.s.  menulis,”Kita hendaknya terhadap amanat kita seperti halnya amanat hendaknya dikembalikan. Di hadapan semua makhluk  langit dan bumi itu ditawarkan, semua ingkar untuk memikul amanat itu dan mereka takut pada itu bahwa dengan mengambil amant itu jangan ada timbul kerusakan. Dan manusia memikul amanat itu dipundaknya karena dia adalah zhalum dan jahul.Kedua kata ini untuk manusia adalah pada posisi sebagai pujian, bukan sebagai celaan,yakni, digunakan sebagai pujian bukan untuk hinaan.Dan artinya adalah bahwa di dalam fitrah manusia ini ada satu  sifat yang demi untuk Tuhan terhadap dirinya dia bisa aniaya dan bersikap keras.Dan sedemikian rupa  dia bisa tunduk di hadapan Tuhan,sehingga tidak menghiraukan diri/egonya. Oleh karena itu, dia telah mengabulkan /menerima bahwa semua wujudnya kembali kepada amanat dan amanat itu dengan  membelanjakannya di jalan Allah dia mengembalikannya  kepada Allah”

Dalam kaitan ini hal ini secara khusus perlu diingat bahwa maksud dari “Al-insan” adalah orang mukmin juga dan mungkin nabi-nabi terdahulu,tapi maksud dari yang sebenarnya dari al-insan adalah Rasulullah saw. Karena amanat yang beliau pikul adalah amanat Al-quran dan orang yang mengangkat amanat Al-quran jelas tidak bisa dalam posisi tercela. Dia telah mengangkat beban yang berat di pundaknya. Inilah mafhum ayat ini. Maka maksud “manusia” adalah manusia sempurna,yakni, Rausulullah saw. Beliai dalam menunaikan  hak amanat ini,segala bentuk kesulitan dan kekerasan beliau telah hadapi.Dan sepanjang umur/kehidupan Rasulullah saw. menjadi saksi atas hal ini bahwa segala macam kekerasan dalam m menyampaikan pesan Al-quran beliau telah hadapi. Sebelum kemenangan Mekah juga, di kehidupan Mekah juga dan di kehidupan Madinah juga dan dalam kesempatan  manapun beliau tidak pernah merasakan ketakutan. Namun, pesan Tuhan dengan penuh keberanian, yang sebagai amanat turun di hati beliau itu beliau terus sampaikan. Jadi,dari segi  dalam posisi sebagai pujian,”manusia sempurna” maksud  saya  adalah Hazrat Muhammad Rasulullah saw..

Ada satu ayat yang yang pada akhirnya di dalamnya ada disebutkan “gafuwru-rrahiym” Ya ayyuhannabiyyu innaa ahlalna laka azwajakal laatity aataeta ujurahunna wama malakat yamiynuka mimma aafaa allahu ‘alaeka wa banaa ti ammika wa banaati ammaatika wa banaati khaalika wa banati khalaatikallaatiy hajarna ma’ak wam raatan mu’minatan in wahabaat nafsaha linnabiyyi in araadan nabiyyu an yastankihaha khaalisatan laka min duwni mu’miniyn qad ‘alimna ma faradhna ‘alihinna fi azwajihim wama malakat imaanuhunn likaela yakuwna ‘alaika kharaj wakanallahu gafuw rarrahiyma-   Ini adalah satu ayat surah Al-ahzab 51.Terjemah sederhananya adalah,”Hai nabi,kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang kamu telah berikan maskawinya dan hamba sahaya perempuan yang kamu miliki yang dianugrahkan padamu sebagai ganimah/ apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu dan anak –anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu,anak  perempuan dari saudara perempuan bapakmu,anak -anak perempuan dari saudara laki ibumu,dan anak –anakdari saudara perempuan ibumu  yang turut berhijrah bersamamu dan perempuan mu’min yang meyerahkan dirinya kepada nabi dengan syarat  nabi mau menikahinya.Ini adalah khusus bagimu ,bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami telah wajibkan bagi mereka tentang istri-istri mereka dan berknaan dengan hamba sahaya perempuan yang mereka miliki.Ini diterangkan   supaya tidak terjadi kesempitan bagimu dengan memikirkan itu dan adalah Allah Maha Pengampun maha Penyayang.

Mafhum ayat ini saya akan sampaikan dihadapan saudara.Hazrat Rasulullah saw. diberikan izin bahwa dalam waktu yang bersamaan dapat beristri sampai sembilan dan kepada para sahabah diizinkan sampai empat istri lebih dari itu jangan. Dan kebiasaan beristri empat pun setiap sahabah tidak mempunyai kemampuan.Pada dasarnya untuk mengurus satu istripun mereka anggap sulit. Maka apa yang difirmankan dengan tertuju kepada Rasulullah saw. dalam  firman-Nya “Supaya kamu jangan  merasa kesempitan”.Sebab utama  yang harus dimengerti untuk  kalian adalah bahwa Rasulullah saw. adalah datang untuk memenangkan hati seluruh Arab. Dan cara untuk memenangkan hati itu caranya ada  dua. Satu adalah dengan cara rohani bahwa beliau adalah sangat pengasih dan pengayang dan wujud yang mencintai dan sangat banyak menderita demi untuk mereka yang sebagai dampaknya secara otomatis hati akan ditaklukkan. Tapi untuk memenangkan hati kaum yang sangat keras bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu Tuhan berfirman,”lau linta lahum -jika engkau lembut sekalipun bagi mereka, maka tetap tidak akan mungkin engkau bisa menguasai hati yang keras itu ,kecuali Tuhan mengasihani dan Tuhan memutuskan. Maka hati orang-orang Arab yang Rasulullah saw. telah kuasai,itu murni merupakan belas kasih Tuhan yang khusus,yang karenanya Rasulullah saw. di berikan kesempatan untuk itu.

Kini hal yang kedua adalah menyatukan suku-suku.Di dalam  suku-suku Arab ada kebiasaan/Peraturan bahwa yang anak –anakperempuannya pergi/nikah ke tempat orang lain maka mereka  menjadi  itaat padanya. Dan sama sekali tidak bisa tahan kalau kepada anak-anak mereka dizalimi.Jadi, Rasulullah saw. oleh karena itu diberikan izin untuk istri lebih banyak karena beliau akan mengambil banyak istri-istri dari banyak suku dan tujuannya untuk mempersatukan suku-suku itu. Dan para orintalis yang berkata lancang bahwa ini adalah ada unsur hawa nafsi pribadi adalah dusta belaka. Sebabnya adalah bahwa ayat yang turun ini adalah turun pada era akhir Madinah. Dan Rasulullah saw. telah nikah dengan perempuan yang umurnya tinggi dari beliau dan dengan penuh cinta kasih beliau meliwati standar  kesetian itu. Jika ada unsur hawa nafsu pribadi maka umur pada kehidupan Mekah  hendaknya beliau nikah,tapi pada waktu itu beliau tidak nikah .Jadi meninikahnya Rasulullah saw. pada kehidupan Madinah  ini merupakan dalil bahwa di dalam ini tidak ada unsur hawa nafsu pribadi Rasulullah saw. Pada  waktu itu beliau  telah tua ketika beliau diberikan izin. Jadi dari izin ini yang mana para orintalis mengambil kesimpulan yang tidak benar, ini pada dasarnya adalah sama sekali merupakan keaniayaan. Kepada wujud Rasulullah saw. yang suci sama sekali tidak bisa bisa dituduhkan tududuhan yang semacam itu.

Kini dari kitab Imam Bukhari Sahih Bukhari kitabutafsir berkenaan dengan ayat suci ini saya menerangkan kata Hazrat Ibni Abbas.Hadis adalah yang diterangkan dari Rasulullah saw. Atsar (jejak)adalah yang dimana ada seorang ssepuh sahabah yang dari dirinya dengan mengerti pembawaan Rasulullah saw. berkenaan dengan beliau saw mereka berbicra.Jadi ini adalah atsar Hazrat  Ibni Abbas,yakni hadis bukanlah diriwayatkan dari Rasulullah saw., bahkan berkenaan dengan Rasulullah saw. satu hadis seorang sahabah yang terhormatyang  diriwayatkan.

Hazrat Said r.a. menerangkan bahwa ada seorang berkata kepada Hazrat Ibni Abbas bahwa di dalam Al-quran ada sebagian perkara-perkara yang saya tidak mengerti. Dan sebagai misal dia meenyebutkan mengenai sifat-sifat Tuhan ini kaanallahu gaafuwrarrahima, kaanallahu ‘azizan haakiyma, kaanallahu sami’an bashira. Dia bertanya kepada Hazrat Ibni Abbas,disini tidak dimengerti bagian fi’il madhi yang digunakan  madhi (telah),seolah-olah  Tuhan di suatu masa dulu adalah gafuwrurrahiym kini tidak lagi,seolah-olah  Tuhan di suatu masa Maha perkasa Maha Mulia kini tidak lagi,seolah-olah di suatu zaman Tuhan Maha Mendengar dan Maha Melihat kini tidak lagi demikian lagi. Dari kaana dia mengambil mafhum. Atas hal itu Hazrat ibni Abbas bersabda,”Disini kata “ kaana” adalah  sifat Tuhan ini mulai dari sejak azali.Yakni keluarkanlah pandangan ini  dari hati bahwa kini Dia adalah gafuwrurrahiym.Masudnya adalah Dia  untuk selama-lamanya Dia adalah gafuwrurrahiym. Jadi, yang selalu gafuwrurrahiym  untuk yang akan datangpun akan tetap gafuwrurrahiym. Tafsir yang indah ini Hazrat ibni Abbas yang telah mentafsirkan. Oleh karena itu disebut atsar.,yakni menafsirkan dari diri beliau yang  mutlak benar .

Ada ayat lain dari surah Al-ahzab ayat 60,”ya ayyuhannabiyyu qul liazwajika wa banatika wa nisaail mu’miniyna yudniyna ‘alihinna min jalabiyhinna dzalika adna anyu’rafna fala yu’dzain wakaa nallahu gafuwrarrahiyma-Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu dan kepada anak –anakmu dan kepada perempuan-perempuan mu’min bahwa kebawahkanlah  kerudung tebal kalian, ini adalah lebih dekat untuk mereka  dikenal dan mereka  tidak disakiti. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.Disini oleh karena itu  disebutkan Maha Pengampun dan Maha Penyayang karena mereka juga berkali-kali menyakiti Rasulullah saw. dan perempuan-perempuan Islam.Dan meskipun demikian Tuhan terus menyembunyikan kesalahan mereka dan mengampuni mereka dan kemudian dari merekalah lahir orang-orang siap mengorbankan jiwanya untuk Islam. Maka maksud dari rahiyma adalah Yang berkali-kali berbelas kasih dan berkali-kali memberikan kesempatan dan berkali-kali memperlakukan dengan rahmat-Nya.

Dalam kaitan ini ada satu tafsir Hazrat Khalifatul Masih 1 saya sajikan di hadapan kalian. Merupakan tafsir yang sangat halus yang Hazrat Khalifatul Masih Awwal tafsirkan,”Maksud dari ayat dan kisahnya adalah bahwa sebagian orang-orang pereman/nakal Madinah menganggu perempuan-perempuan Islam.Dan setelah menyakiti  perempuan-perempuan Islam menyakiti orang-orang berkenaan dengan mereka.. Karena meskipun secara zahir mereka mengaku sebagai mu’min oleh karena itu ketika di tangkap maka mereka membuat alasan bahwa kami tidak mengenal mereka. Oleh karena itu diberikan tanda bahwa  renungkanh kalimah Al-quran ini yu’rafna fala yu’zain dan sebelumnya  betapa  jelas diberitahukan bahwa selimut besar adalah satu   tanda dan dari itu jelas,yakni, dari tanda-tanda itu jelas bahwa Islam lah yang membendung  kenakalan.Oleh karena itu sesudah tanda ini berfirman,”Bahwa kini jika orang-orang nakal tidak menghindar dari kenakalan maka kami akan memberikan hukuman yang mengerikan.Namun sangat disayangkan terhadap tanda-tanda dan hal yang benar ini diajukan keberatan-keberatan. Apa keberatan yang dilakukan, perinciannya tidak ditulis oleh Hazrat Khalifatul Masih 1. Namun keberatan ini adalah satu  keberatan dari keberatan-keberatan yang lain bahwa Rasulullah saw. telah bersikap keras terhadap orang-orang yang telah melakukan kezaliman kepada perempuan-perempuan Islam. Dan mereka juga di ancam untuk dikeluarkan dari Madinah dan kepada mereka juga selain itu diperingatkan bahwa kepada kamu juga azab ini akan diturunkan. Sebagai jawaban dari keberatan ini adalah ayat suci. “Coba lihatlah bahwa kalian telah melanggar batas dalam kezaliman,tidak hanya aniaya kepada istri-istri nabi bahkan terhadap perempuan-perempuan Islam yang umum pun kalian berbuat aniaya.dan sesudahnya kalian membuat alasan bahwa kami tidak mengetahui ini siapa.ini. Kami menganggap bahwa mereka  adalah perempuan Madinah pada umunya,yakni,bisa juga  perempuan-perempun Yahudi atau perempuan Musyrik. Sesuai dngan itu  ayat ini turun,yang maksudnya adalah bahwa kini secara jelas diberikan tanda bahwa mereka akan selalu menggunakan kerudung kecil, sebagaimana  perempuan-perempuan ketika berjalan mengeluarkan/menutupkan kerudung kecil  tipis seperti itu pula  ini akan selalu menggunakan kerudung tipis penutup muka. Nah, kini kamu untuk mengenalnya bahwa ini siapa, ya ini adalah  perempuan Islam hendaknya tidak ada kesulitan. Dan meskipun demikian kamu melakukan kenakalan maka kamu dengan  sangat keras kamu akan di lipat/dihukum. Tapi ingatlah,  meskipun semua kezaliman yang kamu lakukan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang .

Hazrat imam Bukhari dalam Kitab Bukhari kitab Tafsir dalam menerangkan tafsir ini beliau bersabda.”Hazrat ibni Abbas r .a.menerangkan bahwa dari orang-orang musyrik sebagian dari  yang dengan sangat banyak terlibat dalam  pembunuhan dan perzinahan, mereka  hadir di hadapan Rasulullah saw. dan mereka berkata bahwa apa yang Huzur katakan dan kepada apa yang huzur serukan itu adalah sangat baik,kiranya Tuan memberikan kepada kami bahwa apa yang kami telah lakukan apakah ada kaffarahnya atau tidak. Atas hal itu turun ayat walladziyna la yad’uwna ma’allahi ilahan akhara wala yaqtuluwnannafsallatiy harranmallahu illa bil haq- dan sesudah itu turun ayat qul yaa ‘ibaadiyalladzina asrafu ‘ala anfusihim la taqnatuw minrahmatillah .Mafhum ayat yang kedua  ini adalah bahwa  keaniyaan yang telah kamu lakukan terhadap dirimu.Disini bertolak belakang arti zaluman jahuwla yang dimaksudkan,yakni demi untuk jiwa-jiwa sendiri kamu berlaku  lemah lembut terhadapnya  dan kalian telah terlibat dalam dosa dan kepada yang lain kalian telah melakukan kezalinman. Sedemikian rupa kalian melakukan kezaliman. Ingatlah,berfirman qul yaa ‘ibaadiyalldziyna asrafuw ‘ala anfusihim -engkau katakanlah hai Muhammad saw.”Hai hamba-hambaku yang telah aniaya terhadap dirinya sendiri dan berlebihan terhadap dirinya la taqnathuw min rahmatillah janganlah putus asa dari rahmat Allah

Hazrat Imam Bukhari dalam kitab beliau Sahih Bukhari kitabuttafsir dibawah ayat suci ini menulis sebuah hadis. Hazrat Mujahid menerangkan bahwa Hazrat “Ala bin Ziyad sedang berbicara dengan orang-orang berkenaan dengan neraka. Kemudian seorang berkata kepada beliau, kenapa tuan menebarkan keputusasaan kepada orang-orang. Yakni sedemikian rupa kerasnya  mengancam tentang neraka,yang karenanya semua orang-orang akan mnjadi putus asa bahwa kami tidak akan bisa diampuni.Beliau berkata bahwa saya tidak bisa menebarkan keputusasaan kepada orang-orang. Apa yang difirmankan Allah qul yaa ‘ibaadiyalladziyna asrafuw ‘ala anfusihim la taqnathuw min rahmatillah bagaimana saya bisa menebarkan keputusasaan sedangkan Allah telah menjanjikan,”Hai hambaku ,yang telah aniaya terhadap dirinya sendiri, janganlah putus asa dari rahmat Allah .Dan juga berfirman, “wa innal musyrikiyn hum ash haabunnar-bahwa orang-orang yang bersikeras dalam berlebih-lebihan dan terus melakukan pelanggran,  mereka sesungguhnya adalah dari orang-orang ahli neraka”.Tapi kamu menginginkan bahwa meskipun keburukan amal kamu, kamu diberikan habar suka akan surga, ini tidak mungkin, sedangkan Allah dengan menjadikan Muhammad Rasulullah saw. sebagai pemberi habar suka untuk orang yang itaat kepada beliau dan menjadikan beliau sebagai pemberi peringatan  untuk orang yang tidak itaat kepada beliau.

Dalam Tirmidzi Kitabuttafsir tafsirul-quran ada satu riwayat trtulis. “Hazrat Asma bin Yazid meriwayatkan bahwa saya mendengar Rasulullah saw.membaca ayat qul yaa ‘ibaadiyalladziyna asrafuw la taqnatuw min rahmatillah innallah yagfirudzdzunuwba jami’an-yakni hai hamba-hambaku,yang telah aniaya terhadap dirinya sendiri,janganlah putus asa pada rahmat Allah sesunggunya semua dosa kamu itu akan Dia maafkan dan Dia tidak menghiraukan juga.

Hazrat Masih Mauud a.s.  dalam mentafsirkan ini menulis,”Katakanlah pada mereka ,hai hamba-hambaku yang telah israf/berlebih-lebihan terhadap dirinya sendiri,yakni maksud dari ishraf adalah melakukan dosa-dosa besar, kamu janganlah putus asa dari rahmat Allah.Dia akan mengampuni semua dosa-dosa kamu. Disini jelas bahwa bani Adam  bukanlah hamba-hamba  Hazrat Rasulullah saw. ,tapi semua nabi dan lain –lainnya adalah hamba-hamba  Allah. Namun karena Rasulullah saw.telah meraih kedekatan yang sempurna, yakni, telah meraih kedekatan  ketiga maka didalam perkataan ini pun telah terjadi penggunaan  bentuk jamak.

Disini hal yang perlu direnungkan adalah bahwa “di dalam perkataan/perintah inipun telah terjadi (penggunaan)posisi jama’.” Apa maksudnya ini.? Maksudnya adalah bahwa hamba yang merupakan milik Allah, Hazrat Rasulullah saw. yang merupakan  hamba Allah yang sedemikian rupa sempurna sehingga   kepada beliau  saw. diberikan izin untuk  menyeru “Hai hamba-hambaku“. Namun dengan satu syarat bahwa ketika kita mengatakan hamba Tuhan maka maksudnya adalah hamba yang Allah telah ciptakan  .Apabila kita mengatakan “hamba Muhammad”, maka maksudnya adalah “sahaya Muhammad”. Karena ‘abd mempunyai dua  arti. .Jadi, apabila Hazrat Rasulullah saw.  bersabda,”Ya ‘ibaadiy-hai hamba- hambaku”,maka bukanlah maksudnya “ hai hamba-hambaku yang telah saya ciptakan”,tapi maksudnya adalah “hai sahaya-sahaya ku /orang-orang yang itaat kepadaku,orang yang berjalan di jalanku”.

Hazrat Masih Mauud a.s.  selanjutnya bersabda,”Manusia pada dasarnya adalah hamba atau sahaya/budak. Pekerjaan sahaya adalah apa saja yang majikan perintahkan  itu diterima.Begitu juga kalau kamu menginginkan kamu meraih berkat Rasulullah saw. maka kamu harus menjadi sahayanya.Di dalam Al-quran Allah swt. berfirman,” qul yaa ‘ibadiyalladziyna asrafuw ‘ala anfusihim –disini maksud dari hamba-hamba  adalah sahaya/budak, bukan makhluk.Untuk menjadi sahaya dari Rasulullah saw. perlu membaca selawat untuk beliau dan jangan tidak mengitaati apapun perintah  beliau,selalulah  mengamalkan semua perintah-perintahnya.

Kemudian dalam melanjutkan tafsir ayat ini Hazrat Masih Mauud a.s.  bersabda,”Katakanlah hai sahaya-sahayaku,yang telah aniaya terhadap dirinya,disini mafhum yang dimbil adalah “sahaya” bukan maksudnya hamba,kamu janganlah putus asa dari rahmat Tuhan.Tuhan akan memaafkan semua dosa-dosa. Di dalam ayat ini bukannya berfirman qul ya ‘badillah, yang artinya adalah hai hamba-hamba Allah,bahkan berfirman qul yaa ‘ibaadiy –yakni katakanlah hai sahaya-sahaya ku. Di dalam menggunakan cara ini rahasianya adalah bahwa ayat ini oleh karena itu diturunkan supaya Allah memberikan habar suka  akan Maha Pengampun Tuhan dan orang –orang yang berputus asa karena  banyak melakukan dosa, mereka diberikan kertenteraman. Maka Allah swt di dalam ayat menghendaki supaya meunjukkan satu contoh rahmat-Nya dan kepada hamba-hamba diperlihatkan bahwa sampai dimana Saya menganugerahkan  tanda-tanda khusus kepada hamba-hamba Saya yang setia. Maka di dalam kata “qul yaa ‘ibaadiy-hai hamba-hambaKu”  dizahirkan bahwa lihatlah  Rasul Saya yang Saya cintai,betapa  hamba Saya yang terpilih dengan keitaatan yang sempurna sampai dimana dia telah mncapai kedudukan.Sehingga  kini apa yang milik Saya telah menjadi miliknya.Dan orang yang ingin meraih keselamaatan maka hendaknya dia menjadi sahayanya,yakni sedemikian rupa dia itaat padanya seolah-olah dia menjadi sahayanya.Seorang sahaya sempurna dalam itaat kepada majikannya.,yakni apa saja yang milik sahaya itu  bukanlah miliknya bahkan semuanya adalah milik majikannya Langkah demi langkah dia berjalan mengikuti jejak  majikannya .Jadi, karena Rasulullah saw. sedemikian rupa  mengikuti Allah yang mana beliau selangkah demi selangkah beliau mengikuti sifat-sifat Allah dan secara sempurna beliau melangkahkan kaki secara sempurna dalam keredhaan Tuhan,.oleh karena itu bersabda,”Hendaknya kamu menjadi sahaya-Nya. Seolah-olah adalah sahaya-Nya sehingga betapapun dia seorang yang berdosa akan dimaafkan.,dengan syarat sebelumnya upayakanlah menjadi sahaya Rasulullah saw. Hendaknya diketahui bahwa dalam  bahasa Arab kata ‘abd di sebutkan juga dalam arti “sahaya” .

Coba perhatikanlah, penggunaan satu kata dalam berbagai  kesempatan memberikan arti yang berbeda. Apabila dikatakan hamba Allah maka maksudnya adalah hamba makhluk Allah. Dan apabila mengarakan hamba Muhammad saw.maka maksudnya adalah sahaya Muhammad saw.bukan hamba  Muhammad saw. Sebagaimana Allah swt. berfirman,” wala ‘abdun mu’minun khaerun min musyrikin dan di tempat lain pun kata ‘abd ini diterangkan dengan terang bahwa ‘abd/sahaya mu’min adalah lebih baik daripada seorang musyrik yang merdeka. Dan di dalam ayat ini merupakan isyarah bahwa orang yang menginginkan keselamatan dirinya maka dia hendaknya menciptakan penghambaan diri dengan nabi itu,yakni jangan keluar dari perintahnya dan mengetahui dirinya mempunyai ikatan itaat dengannya,sebagaimana seorang sahaya mngetahui hal itu, baru dia akan meraih keselamatan.

Di tempat ini sangat disayangkan sekali pada orang-orang  Muwhhid/pengikut tauhid yang tidak mengerti sampai sedemikian rupa mereka mebenci   sehingga menurut mereka nama seperti Gulam Nabi,Gulam Rasul,gulam Mustafa,Gulam Ahmad,Gulam Muhammad adalah syirik.

Jadi aneh sekali bahwa dikalangan orang Islam sendiri ada satu kelompk ekstrim yang mana nama itu pun mereka anggap syirik..”Gulam-hamba/sahaya” hamba Muhammad,hamba nabi,hamba Mustafa,semua hal itu mereka anggap syirik.karena mereka mnganggap hanya Allah lah yang bisa mempunyai hamba.Padahal hamba Muhammad saw. adalah bukan dalam arti ‘abd/hamba(ciptaan)Dan dari segi ini  di dalam ini sedikitpun tidak ada  ada unsur syirik. Dari ayat ini dapat diketahui bahwa pusat/tumpuan keselamatan adalah nama ini.Dan berhubung dalam mafhum ‘abd termasuk arti supaya manusia keluar dari setiap kebebasan/hidup bebas dan mementingkan diri sendiri,yakni Rasulullah saw.’abd/hamba dalam arti bahwa segala corak  kemerdekaan ditinggalkan demi untuk keredhaan Tuhan dan secara sempurna  menjadi hamba Tuhan.Dan bukannya  menjalani kehidupan kotor tapi berjalan pada  jalan pada  yang Allah telah perintahkan. Dan menjadi pengikut yang sempurna bagi majikannya.Oleh karena itu untuk yang mencari kebenaran didorong bahwa jika ingin meraih keselamatan ,maka ciptakanlah mafhum ini di dalam diri kalian.Dan pada hakekatnya ayat ini dan ayat kadua ini qul inkuntum tuhibbunallah fattabi’uwni yuhbib kumullah wayagfir lakum dzunuwbakum mafhumnya adalah satu. Karena menjadi pengikut yang sempurna  adalah harus dalam corak  pelarutan dan  keitaatan yang sempurna,yang terdapat dalam mafhum ‘abd/hamba Bahasan. dua ayat ini sebagaimana Hazrat Masih Mauud a.s.  sabdakan secara mendasar adalah satu.”Ikut/menjadi pengikut yang sempurna adalah harus  dalam corak fana/pelarutan dan keitaatan yang sempurna”. Menjadi pengikut dalam arti yang  sempurna tidak akan bisa  dan tidak pula fana/larut dalam arti sempurna, yakni dalam arti sepenuhnya menyibukkan/memfanakan  diri dalam mengingant satu zat. Ini tidak akan mungkin selama tidak ada keitaatan yang sempurna dan sepenuhnya manusia tidak ikut dalam pengabdian terhadap wujud itu.Inilah rahasia sebagaimana dalam ayat pertama janji pengampunan ,bahkan ada habarsuka untuk menjadi kekasih Tuhan.Seolah-olah  ayat qul yaa ‘ibaadiy di kata-kata  lain adalah seperti “qul yaa muttabi’iy,yakni, hai orang yang mengikuti saya.Yakni Rasulullah saw. tidak mengatakan “hamba-hambaku”,bahkan beliau bersabda “hai orang-orang yang mengikuti saya”,yang banyak sekali terlibat dalam dosa-dosa,janganlah putus asa dari rahmat Tuhan bahwa karena engkau mengikuti saya semua dosa-dosa kamu akan dimaafkan.dan jika maksud ‘ibaad diambil maksudnya adalah hamba-hamba Allah.Maka artinya akan menjadi rusak.Karena sama sekali tidak benar bahwa Allah tampa adanya hak dan syarat iman  dan syarat mengikuti semua orang-orang musyrik dan orang –orang kafir dimaafkan begitu saja.Arti  seperti itu adalah bertentangan dengan ayat –ayat yang terang dari Alquran”

Nah, ibarat/kata-kata ini pun untuk orang-orang umum layak dimengerti dengan baik.Kemudian Rasulullah saw. bersabda bahwa disini maksud dari ‘ibaadiy-hamba-hambaku tidak bisa dalam arti “hamba-hamba Allah”.Kata-kata hamba-hamba Allah mengacu juga kepada orang-orang musyrik dan mengacu juga kepada orang-orang kafir.Yahudi dan Kristen semua adalah berhak untuk ikut mengena dengan kata ini. Karena mereka adalah hamba-hamba/makhluk  yang  Tuhan telah ciptakan..Maka kepada semuanya itu apakah Allah telah memberikan habar suka bahwa apa saja yang kamu ingikan kerjakan ,lakukanlah dosa-dosa besar,namun dengan berkah Muhammad saw Saya akan memaafkan kamu. Ini sama sekali merupakan hal yang tidak ada hubungannya. Berkat Rasulullah saw. hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang mengikuti Rasulullah saw.

Kemudian Hazrat Masih Mauud a.s bersabda,” Orang-orang yang dalam arti sepenuhnya,jiwa raganya  menjadi hamba/sahaya engkau/ Rasulullah saw.,kepada mereka akan dianugerahi nur iman,cinta dan kefanaan yang akan menyelamatkan mereka dari selain Tuhan dan akan meraih keselamatan dari dosa-dosa.Dan di dunia ini sendiri mereka itu akan dianugerahkan kehidupan yang suci.Dan mereka akan dikeluarkan dari kuburan gejolak hawa nafsu yang gelap dan sempit. Ke arah inilah hadis ini mengisyarahkan anal hasyirulladziy yusyarunnasu ‘ala qadamiy.-Yakni saya adalah yang mengangkat orang-orang yang mati yang di telapak kakinya orang-orang akan dibangkitkan/dikumpulkan.

Di dalam surah Azzumar juga ada ayat yang berkaitan topik dengan ayat ini.”qul yaa ‘ibaadiyalladziyna asrafuw ‘ala anfusihim la taqnatuw min rahmatillah innallah yagfirudzdzunuwba jamiy’a innahu huwal gaffarurrahiym-Kamu katakanlah hai hambaku,yang telah aniaya terhadap dirinya  janganlah putus asa dari rahmat Tuhan. Sesungguhnya Allah dapat mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Dialah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Hazrat Imam Bukhari dalam Kitabu -ttafsir menulis. Diriwayatkan dari Hazrat ibni Abbas r.a.  bahwa sebagian dari orang-orang musyrikin yang banyak terlibat dalam pembunuhan dan perzinahan datang kepada Rasulullah saw. bahwa apa yang engkau katakan dan ke arah mana engkau panggil itu sangtlah baik,.kiranya tuan memberitahukan kepada kami bahwa apakah apa yang kami telah perbuat  kami harus mmabayaar kaffarahnya ? Atas hal itu turun ayat walladziyna yad’uwna ma’allah ilahan aakhara wala yaqtuluwnannafsalltiy harramallahu illa bil haq wala yaznuwna dan turun  ayat qul yaa ‘ibaadiyalladziy na asrafuw ‘ala anfusihim la taqnatuw min rahmatillah dan disini ayat ini tidak perlu diterangkan.

Ada satu ayat dari surah Haam miym assajidah,”innalladziyna qaluw rabbunallahu tsummas taqasmu tatanazzalu ‘alaihimul malaaiakati an la takhafuw wala tahdzanuw wa absyiruw bil jannatillatiy kuntum tuw ‘aduwn nahnu auliyaa ukum fiddunya wa fil aakhirah walakum fiyha ma tasytahiy anfusakum walaku fiha matadda’uwn nuzulan mingafuwrirrahiym.Inilah ayat yang selalu saya baca pada waktu Isya. Berkenaan dengan itu sebelumnya saya akan membacakan terjemah sederhananya.”Sesungguhnya orang yang mengangatakan bahwa Tuhan kami adalah adalag Allah kemudian mereka bersiteguh, kepada mereka banyak  malaikaat-malaikat turun bahwa janganlah takut dan jangan sidih dan berbahagialah dengan mendapatkan surga yang kamu telah dijanjikan..Kesimpulan  pertama dari ini adalah bahwa mereka yang mengatakan bahwa wahyu tertutup.Kini ayat ini mau dibawa dari mana  kemana ? Malaikat-malaikat turun bukanlah malaikat-malaikat yang bisu, bahkan seraya berbicara.dan setelah turun mereka memberikan habar suka bahwa janganlah takut,apa yang kamu telah lakukan dimasa lalu atas hal itu janganlah kamu sedih, bahagialah dengan mendapatkan surga yang kamu dijanjikan.. Kemudian wahyupun sedemikian rupa dimana malaikat-malaikat menjanjikan untuk tinggal bersama-sama untuk selama-lamanya,yakni,kami di dalam kehidupan dunia ini pun bersama kamu dan di akhirat juga.dan di dalam ini untuk kamu segala-galanya akan ada yang dirimu inginkan dan di dalam ini untukmu segala sesuatu yang kamu cari/inginkan.Ini adalah sebagai pelayanan  dari Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.

Hazrat Masih Mauud a.s.  bersabda,”Bahwa orang-orang yang berkata ,”Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka bersiteguh, yakni mereka tidak berpaling dari ucapannya dan berbagai macam goncangan datang kepada mereka namun keteguhan itu dia tidak lepaskan dari tangannya, malikaat-malaikat turun kepada mereka sambil mengatakan, kamu sama sekali janganlah takut dan janganlah sedihdan berbahagilah dengan surga yang kamu dijanjikan oleh –Nya,yakni surga itu kamu telah peroleh dan kehidupan surga kini telah mulai.yakni kehidupan surgawi di dunia inipun diperoleh.Maka orang yang membayangkan bahwa orang yang ingin melewatkan khidupan kotor nanti selanjutnya akan mendapatkan surga, ini sama sekali dusta. Orang yang benar di dunia ini juga pasti akan mendapatkan kehidupan surgawi dan kepada mereka malaikat-malaikat juga turun dan sedemikian rupa turun, yangmana selalu akan bersama mereka dan dengan mereka akan berbicara dalam berbagai corak.

Hazrat Masih Mauud a.s.  bersabda,”Kehidupan surgawi kini telah mulai. Bagaimana itu mulai nahnu auliyaaukum dengan corak kami menjadi penjaga/yang mengurus kamu di dunia ini dan di akhirat juga.Dan untuk kamu di dalam kehidupan surgawi  apa yang kamu minta itulah yang ada,ini adalah merupakan pelayanan dari Tuhan Yang Maha Pengampun Maha Penyayang. Dengan kata nuzulan/pelayanan adalah mengisyarahkan kepada buah dalam ayat yang difirmankan tu’tiy ukulaha kullahiynin.

Kini di dalam isyarah yang singkat ini sangat panjang topik yang Hazrat Masih Mauud a.s.telah terangkan. Maksud tu’tiy ukulaha kullahiynin-memberikan buahnya setiap saat adalah pohon suci yang sesuai dengan perintah Allah berbuah dalam setiap musim.Apakah musim panas atau musim bunga itu tidak ada pengaruhnya untuknya. Meskipun akar-akarnya menancap di bumi namun cabang-cabangnya berbicara dengan langit.Dan Allah menganugerahinya dengan buah-buah yang yang terbaik. Jadi, inilah asal tafsir  ayat ini yang Hazrat Masih Mauud a.s.telah  tafsirkan.

 Dalam surah asysyura ayat 6 Allah berfirman,”takaadussamawawatu yatafaththarna min fauqihim wal malaaikatu yusabbihuna bihamdi rabbihim wayastagfiruwna liman fil ardhi ala innallaha huwal gafuwrurrahiym-hampir langit menjadi pecah dari atas mereka dan malaikat-malaikat seraya  memuji Tuhan mereka mereka bertasbih pada-Nya dan yang ada di bumi memohon ampunan untuknya .Waspadalah, sesungguhnya Tuhanlah Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.

“Malaikat-malaikat membantu manusia dan memohon ampunan baginya” maksudnya adalah bahwa manusia percaya pada kata-kata malaikat, maka untuknya malaikat akan memohon ampunan untuknya. Jika setiap  gerakan malaikat manusia terus tolak maka malaikat tidak memohon ampunan untuknya.Dan yang kedua arti yang harus diperhatikan adalah bahwa manusia pada dasar/zatnya dengan memohon sendiri ampunan tidak akan memperoleh ampunan,kecuali hamba-hamba Allah yang suci yang disebut nabi yang tidak berdosa.Manusia umum dengan mengatakan, ampunan, ampunan tidak akan memperoleh ampunan.Ketika dengan gerakan malaikat dia malakukan kebaikan maka sebagai hasil dari gerakan malaikat-malaikat itu, malaikat-malaikat akan mendoakan untuknya.Dan apabila malaikaat mendoakan maka Allah akan mengabulkan doa itu.Kenapa, karena Dia adalah huwalgafuw-rurrahiym bahwa Dia Maha Pengampun Maha Penyayang.

Ada satu ayat surah saba’ “ya’lamu ma yaliju fil ardhi wa ma yakhruju minha wama yanzilu minassamaa wama yakhruju fiyha wa huwa-rrahiymul gafuwr Di dalam ayat ini “rahiym”yang  disebut duluan dan “gafuwr” kemudian. Ini hal yang perlu dilihat kenapa terjadi demikian. Secara sepintas saya tidak mendapat peluang untuk merenungkannya tapi saya hanya sebelumnya akan membacakan terjemah”Dia mengetahui apa yang masuk di bumi dan yang keluar dari itu dan yang turun dari langit dan yang naik di dalam itu. Dia adalah Maha Penyayang dan Maha Pengampun.

Disini rahiym kurang lebih oleh karena itu di letakkan lebih dahulu karena yang turun dari langit kemudian naik kesana, itu tidak terjadi satu kali, bahkan barkali-kali itu terjadi terus seperti itu Setiap saat ada bahan/zat yang terbang ke langit dan terus tertulis dan kemudian kuasa Tuhan berkali –kali terus menurunkannya ke bumi.Jadi, ini adalah topik rahimiyat bahwa Tuhan terus mengulangi rahim-Nya dan bersama rahimiyat Dia Maha Pengampun juga ketika manusia terlibat dalam dosa-dosa.Allah bisa memaafkannya jika Dia menghendaki.

Kemudian ada satu ayat dalam kaitan topik ini surah assajidah ayat 6-7 yudabbirul amra minassamaa ilal ardhi tsumma ya’ruju ilahi fi yaumin kaana miqdaruhu alfa sanatin  minma ta’udduwn dzaalika ‘aalimul gaibi wasysyahaadati ‘azizirrahiym Terjemah,” Dia menurunkan keputusan dari langit ke bumi dengan tadbir/usaha, kemudian di dalam satu hari yang sedemikian rupa kembali padanya yang dari segi hitungan kamu sama dengan seribu tahun.Ini adalah Yang maha Mengetahui yang gaib dan yang zahir Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang. Disini sedemikian rupa  topik  khusus yang diterangkan yang ke arah itu pada umumnya pandangan para ahli tafsir tidak tertuju ke arah itu. Apa yang di firmankan “sesuai dengan hitungan kamu  sama dengan seribu tahun”. Maksudnya adalah bahwa yang kamu hitung “satu hari”,itu di dalam hitungan kamu adalah satu hari, namun di sisi Tuhan  setiap hari itu adalah sama dengan seribu tahun.Maka seberapa hari dalam satu tahun  seolah-olah sedemikianlah ribuan tahun yang difirmankan.Dan kemudian  dengan hitungan Tuhan lima puluh ribu tahun juga yang diciptakan. Maka yang lima puluh ribu tahun itu coba perkalikan dengan hari-hari itu. Maka saya telah menghitungnya.Dari segi para ahli sain/ilmuwan yang ketika alam raya  langit dan bumi ini akan digulung/dimusnahkan itu kurang lebih diantara delapan belas dan dua puluh miliar tahun.Jadi semua masa/waktu ini adalah keluar dari ayat ini/hitungannya keluar dari ayat ini..Jadi cara keterangan Al-quran adalah sangat mengherankan.Sedemikian fasih dan jelasnya sehingga manusia menjadi heran.Jika manusia merenungkannya baru akan mengerti bahwa dengan perbedaan yang kecil-kecil apa arti yang diambil.

Kemudian surah Yasin  ayat  2-7  “ya siyn wal quraani hakiym –hai penghulu/majikan, yakni Rasulullah saw. walquranilhakiym -dan saya mengemukakan kesaksian Al-quran innaka laminal mursaliyn –Bahwa engkau sesungguhnya  dari orang-orang yang diutus. Nah,  kesaksian Al-quran bagaimana terjadi.Orang-orang yang tidak mempercayai Al-quran kenapa kesaksiannya akan diakui.Masaalahnya adalah di dalam Al-Quran sedemikian rupa tanda-tanda ada terdapat di dalamnya. Al-quran  mempunyai kemampuan untuk menjadikan orang-orang kafir untuk mempercayainya. Sedemikian rupa ayat suci itu yang jika diterangkan maka akan terbukti dengan jelas bahwa Rasulullah saw. tidak bisa mengatakan hal ini  dari diri beliau sendiri. Sedemikian rupa agungnya nubuatan berkenaan dengan zaman yang akan datang yang berkenaan dengan itu manusia pada waktu itu di dalam benaknya dan khayalan pun tidak terbetik.sehingga ada juga firman yang berbunyi bahwa di langit juga kami menjadikan makhluk yang berjalan..Coba beritahukanlah, di zaman Rasulullah saw. pandangan mengaenai langit itu adalah merupakan ucapan yang yang didalamnya ada bintang-bintang yang berdempetan/ikat mengikat,namun sama sekali tidak bisa direnungkan bahwa di dalam itu akan ada makhluk yang berjalan/hidup .Al-quran menubuatkan bahwa itu ada dan bersama makhluk kamu yang adalah makhluk  bumi, bumi itu di satukan/kumpulkan.Apakah dengan perantaraan pesan-pesan  berkumpul atau akan  berkumpul secara jasmani.Maka sedemikian jelas nubuatan berkenaan dengan langit yang terdapat dalam Al-quran yangmana Rasulullah saw. dari diri beliau sendiri sama sekali tidak akan bisa lakukan. Oleh karena itu berfirman bahwa Al-quran menjadi saksi bahwa  innaka laminal mursaliyn -sesungguhnya engkau adalah dari orang-orang yang diutus.’ala shiratim mustaqiym- persis yang berjalan di atas jalan yang lurus tanzilal ‘aziziirrahiym tanzil/diturunkannya  Al-quran ini  adalah dari Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia dan Maha Penyayang.Untuk apa ? litundziru qauman ma undzira aabaa uhum fahum gafiluwn- supaya kamu memberi peringatan kepada kaum yang nenek moyang mereka tidak diperingatkan- yakni dari sejak waktu yang lama.fahum gaafiluwn dengan sebab mereka itu lalai.

Kemudian dalam surah Addukhan ada ayat inna yaumal fasli kaana miwqatun ajma’iyn yaumala yugniy maulan an maulan syaiun walahum yunsharun illa man rahimallah innahuw huwal ‘azizurrahiym-yakni hari keputusan, untuk semua adalah waktu yang telah ditentukan.Pada hari ketika tidak teman yang akan bisa mnolong teman lainnya dan tidak pula mereka akan ditolong,kecuali yang Allah kasihani sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang.

Dan ketika datang hari keputusan.,maksudnya pertama, di dunia ini ada hari keputusan.Di dunia ini juga di antara bangsa-bangsa juga terjadi konflik/perselisihan kemudian datang satu hari keputusan.Jadi bersabda bahwa apakah. hari keputusan itu disini atau sesudah hari kiamat itu sudah ditetapkan dan itu tidak bisa dihindari Pada hari itu tidak ada teman yang bisa berguna bagi teman lainnya.Kekeluargaan seseorang tidak akan berguna dan tidak juga persahabatan dan tidak pula hubungan darah,kecuali yang Allah telah kasihani atasnya Terhadap yang Allah kasihani, dia akan dianugerahi keselamatan dari keputusan hari itu.

Jadi Hazrat Masih Mauud a.s.  bersabda,” Akan ada api,namun semua yang mempunyai kecintaan kepada Tuhan Yang memiliki keajaiban-keajaiban akan diselamaatkan dari api itu”. Memang akan ada api, yakni perang atom telah terjadi.Lebih dari itu  musibah apa yang lebih berbahaya  dari itu. Namun di dalam  itu juga orang yang mencintai Tuhan dalam arti yang hakiki akan diselamatkan. Ini merupakan nubuatan yang akan sempurna,yang sebelumnya juga telah sempurna  berkali-kali.

Hazrat Masih Mauud a.s., yang menubuatkan gempa –gempa bumi  dan azab-azab,dari itu. orang-orang ahmadi yang merupakn sahaya Hazrat Masih Mauud a.s. dalam arti  yang sejati telah diselamatkan dengan cara yang luar biasa.  Peristiwa itu sedemikian rupa mengherankan yang mengakibatkan  tidak ada sesuatu yang dapat diperbuat/dimengerti. Misalnya gempa yang terjadi di Kahari memporak porandakan perkampungan yang sangat luas Ada  perkampungan yang dimana satu rumah pun tidak ada yang tersisa semua itu telah menjadi musnah.Dan  penduduk semuanya  mati.Tiba-tiba dari satu-satunya rumah orang ahmadi yang ada disana keluar satu keluarga orang ahmadi bersama anak -anaknya dengan selamat. Secara kebetulan pada waktu itu mereka mencari perlindungan di bawah tempat tidur dan diatas tempat  tidur tidak ada sesuatu yang jatuh.Apapun yang jatuh dari reruntuhan tembok dan atap, itu jatuh disekitarnya dan mereka itu keluar dari itu dalam keadaan hidup.

Inilah nubuatan yangmana Hazrat Masih Mauud a.s.  dengan sangat tertarik sekali menanyakannya kepada orang-orang.Yaitu,”Kamu datang darimana ? Disana   terjadi gempa bumi,ya ? Ya,   gempa bumi  terjadi. Bagaimana kondisinya ? Semua, seluruh kampung musnah.Kemudian bagaimana ? Kami semua orang ahmadi  selamat. Kami, sesuai dengan nubuatan Tuan  telah selamat.Maka inilah ‘azizurrahiym. ’aziz- Yang Maha Perkasa , Unggul dan kemenangan –Nya dengan cara sedemikian rupa menjadi sempurna yangmana dalam azab  yang sedemikian rupa dimana  dunia menjadi musnah,siapa yang Dia inginkan Dia selamatkan huwal ‘azizurrahiym Dia adalah Maha unggul yang abadi Maha Mulia dan Maha penyayang.

Kini ayat 56 surah Yasiyn sampai 59.inna ashhabal jannaaati yauma fiy syugulin fakihuwn -sesungguhnya orang-orang ahli surga pada hari itu akan sibuk dalam kerja mereka.Maksud  fakihuwn adalah bersenang-senang/bahagia menikmati hobi mereka .hum wa azwajuhum mereka juga dan istri –istri mereka fi zhilalin ‘alal araaiki muttakiuwn-mereka akan berada dibawah naungan dan  bersender dengan bantal-bantal sambil bertelekan lahum fiyha ma faakihaatun walahum  ma yadda’uwn-untuk mereka di dalamnya segala macam buah-buahan dan apa yang mereka inginkan mereka akan dianugerahi salamun qaulan min rabbirrahiym –ini adalah keselamatan/ucapan selamat dari Tuhan  engkau yang rahiym.Yakni perkataan salam adalah dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Kini disini  perlu diingat bahwa bukanlah maksudnya ada surga yang secara zahir ada orang-orang memakan buah-buahan.setiap saat  mereka duduk bersender.Kalau demikian tentu itu  merupakan surga orang-orang  malas dan titik,tidak ada pekerjaan hanya bersender di bantal dan sambil berhada-hadapan satu dengan yang lain mereka membicarakan hal yang menyenangkan. Ini semua adalah merupakan permisalan.Dan berkenaan dengan surga hendaknya diingat bahwa ini adalah merupakan nubuatan yang bersifat permisalan dan begitu juga keadaan neraka.Adapun berkenaan dengan gambaran lobang neraka yang ada dalam benak kalian itu bukanlah seperti itu.Satu kali ada satu ayat Al-quran yang turun bahwa ‘ardhuha ka ardhissamaawati wal ardh-Yakni kebesaran/luasnya langit dan bumi itu adalah sesuai dengan besar/luasnya langit dan bumi.Yakni di semua alam raya surga itu terbentang luas.Yang ke arah surga mana kamu diseru oleh Rasul Allah.

Ketika ayat ini turun maka seorang sahabah dengan penuh keheranan bertanya.Ya,Rasulullah saw.,jika surga tersebatr di seluruh tempat, tersebar di seluruh jagad raya maka Jahannam dimana ?Beliau bersabda,”Itu pun disitulah berada.walakin latasy’uruwn-tapi kamu tiak bisa merasakan.

Ini  merupakan hal yang di dalam zaman ini  dapat dimengerti dengan cara kenisbian/sistim kerelatifan.Namun  pada zaman Rasulullah saw. tidak  ada gambaran kenisbian(tergantung  siapa yang memandang),tapi lihatlah Tuhan bagimana Tuhan menyuruh mengatakan kepada beliau hal-hal yangmana ulama-ulama besar di zaman ini merasa  bangga menerangkannya.

Hazrat Masih Mauud a.s. bersabda,”Salam/keslamatan adalah yang datang dari Tuhan. Salam Tuhan adalah yang telah menyelamatkan Ibrahim dari api. Kepada siapa yang tidak ada salam(ucapan selamaat) dari Tuhan ribuan kali hamba-hamba/makluk menyatakan salam padanya   tidak akan berguna baginya.Di dalam Al-quran Tuhan berfirman salamun qaulam min rabbirrahiym-Salam ini adalah merupaka ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Dan perlu diingat bahwa ini adalah surah Yasiyn.Dan berkenaan dengan ini dikatakan bahwa ini dibacakan  kepada orang  hidup yang dekat waktu kematiannya.Dan  diterangkan pula bahwa orang yang akan diperlakukan dengan ampunan dan rahmat Tuhan yang khusus maka mereka akan mati/napasnya hilang ketika kata ini keluar “salamun qaulan min rabbirrahiym.” Dalam hal ini saya sendiri yang menjadi saksinya. Ketika Hazrat Mir Muhammad Ishaq r.a.  dalam kondisi sakaratulmaut pada waktu itu surah ini yang ditilawatkan kepada beliau.Persis  nafas beliau berakhir ketika seorang qari sampai pada ayat salamun qaulan min rabbiirrahiym.Dan inipun merupakan tanda Tuhan yang aneh,semoga  setiap orang yang mati mempunyai pengalaman ini bahwa ketika dibaca “salamun qaulan” jiwanya/nafasnya  berakhir.

Kini yang terakhir saya mengambil dua ayat Ham mim Assajadah dari 2-4 tiga ayat. Hamidun Majiyd, haam miym.Yang layak dipuji dan yang Maha Mulia.Diturunkannya adalah dari Tuhan yang Maha Pengasih Maha Penyayang.Yakni diturunkannya Al-quran adalah dari Tuhan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.Dari segi Rahman Al-quran telah turun dan sebagai hasil dari rahmaniyat lah Al-quran itu turun dan memberikan pesan rahimiyat, yakni rahmaniyat yang untuk ummat manusia bersifat umum untuk setiap manusia.Rahimiayat adalah khusus untuk orang-orang yang sebagai hasil rahmaniat apapun yang dianugerahkan berkali-kali kemudian akan terus dianugerahkan.Sebagaimana kondisi musim. Ada musim dimana buah-buahan keluaar.Ada musim musim panen.Dan itu datang dan pergi. Sebagai akibat dari rahmaniyat itu diperoleh.Kita tidak menciptakannya sendiri. Tapi ketika pergi  maka itu   datang kembali dan datang kembali. Setiap saat manusia memperoleh peluang untuk kedua kalinya mereka mengambil faedah dari itu.

Berfiman,” Ini adalah merupakan ayat kitab yang diterangkan dengan terang dan jelas dalam bentuk surah Al-quran yang sangat fasih dan jelas untuk faedah orang-orang yang mempunyai ilmu.

Qamaruddin syahid