Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

19 Mei 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Ajaran Islam, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, memberikan kita panduan berkaitan dengan segala perkara dan urusan kehidupan. Jika setiap dari kita bertindak laku sesuai dengan ajaran ini, maka masyarakat yang indah dan cemerlang dapat terbentuk dan supaya dunia non Muslim – mereka yang berkeberatan terhadap Islam dan terhadap perilaku umat Muslim – mengambil keteladanan umat Muslim dalam kehidupan mereka dan menerima kebenaran Islam, bukannya mengkritik umat Muslim dan hal itu menjadi penyebab mereka berpegang teguh dengan ajaran Islam dalam corak yang benar. Namun, amat disayangkan, mayoritas umat Muslim membaca hukum-hukum Allah Ta’ala dan memandangnya dengan penghargaan dan penghormatan namun mereka melewatkannya ketika waktu pengamalannya.

Ada banyak perintah-perintah dalam Al-Quran. Namun, Allah Ta’ala menghimpun semua perintah itu dalam satu kalimat firman-Nya: لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21) “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang sempurna.” (Surah Al-Ahzab, :22). Karenanya, keberhasilan sejati hanya dapat diraih jika kita meletakkan teladan ini didepan kita dalam perkara kecil maupun besar.

Jika kehidupan Nabi saw dimulai dari rumah hingga hubungan-hubungan sosial kemasyarakatan yang luas ialah teladan atas semua ketentuan Alquran. keberhasilan nyata tidak dapat dicapai kecuali hanya jika kita menetapkan keteladanan yang diberkati ini dalam segala kehidupan kita. Kadang-kadang orang memperlihatkan keteladanan cemerlang dalam hal-hal besar sementara mengabaikan hal-hal – yang oleh pandangan umum seperti tidak penting sama sekali -, padahal itu hal yang penting secara mutlak. Nabi saw pada masanya menekankan tentang perkara ini dalam corak ucapan maupun keteladanan juga. Jika kita ingin membuat hidup kita aman penuh ketenangan dan jika kita ingin mendapatkan karunia dari Allah SWT, maka kita sangat perlu untuk mencontohi setiap hal yang diperlihatkan oleh Junjungan kita dan yang kita taati, Muhammad Rasulullah saw dan yang mana penjelasan tentang itu diuraikan dan diberikan kepada kita di era ini oleh ghulam shadiq (pelayan sejati) beliau saw dan beliau as menekankan pengamalannya.

Dalam hal ini, sekarang saya akan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan tanggungjawab-tanggungjawab kaum laki-laki dalam berbagai kapasitas. Seorang laki laki memiliki tanggungjawab-tanggungjawab yang melekat padanya dalam kapasitasnya sebagai pelindung dan pemelihara rumah tangga. Ia mempunyai tanggungjawab-tanggungjawab sebagai seorang suami, sebagai seorang Ayah, dan juga sebagai seorang anak. Jika setiap laki-laki memahami tanggungjawab-tanggungjawab ini dan berusaha untuk memenuhinya, maka hal tersebut dapat menjadi sarana kedamaian dalam masyarakat yang lebih luas dan penegakkan cinta kasih dan harmoni. Ini juga akan menjadi sarana tarbiyat anak-anak dalam corak yang benar, untuk menyebarkan anak-anak keturunan supaya berpegang teguh dalam prinsip-prinsip keamanan dan penegakan hak-hak kemanusiaan. Keamanan dan ketentraman rumah tangga juga dapat didirikan melalui perkara-perkara ini.

Dari banyak pengaduan yang datang kepada kami belakangan ini kita dapat melihat banyak masalah rumah tangga yang terjadi, dan rata-rata hal ini berlaku disebabkan kaum lelaki menganggap diri mereka ketua keluarga dan berkuasa (memiliki kewenangan tak terbatas), dengan anggapan mereka boleh berbuat apa sahaja yang mereka mau. Mereka tidak hormat terhadap isteri, tidak memberikan kepada istrinya hak-haknya yang disyariatkan dan tidak memberikan tarbiyat kepada anak-anak. Bahkan, ada juga pengaduan dari kaum perempuan Jemaat di India dan Pakistan bahwa suami mereka memukul mereka dengan pukulan yang parah hingga tubuh mereka berdarah dan wajah juga bengkak. Bahkan, sebagian mereka yang telah tinggal di Negara-negara Barat ini juga terlihat dalam perbuatan seperti itu. Sebagian kaum bapak juga berlaku zalim terhadap anak-anak mereka juga.

Jika sebagian orang masih tetap berkelakuan bodoh walaupun telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, sebagaimana sebagian orang Muslim yang tidak berilmu soal agama atau masih tetap bertingkah laku seperti orang-orang jahil memperlakukan istri dan anak-anak mereka, maka tidak memberi faedah janji baiat yang dilafazkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yaitu ‘akan mengubah keadaan sendiri (melakukan perubahan suci)’ dan bergabung dengan Jemaat beliau as. Benarkah kaum laki-laki tersebut menunaikan kewajiban terhadap Allah dan memenuhi tanggungjawab meninggikan derajat amal perbuatan mereka? Jika iya, tentu takkan melakukan kekejaman (kekerasan) tersebut di rumah-rumah mereka.

Hadhrat Rasulullah saw, sebagai pelindung dan pemelihara keluarga, setelah menjelaskan pentingnya penegakan Tauhid (Keesaan Tuhan) membuat amal perbuatan berdasarkan keesaan Allah Ta’ala didirikan oleh keluarga beliau sebagai hal yang pertama dan yang utama. Namun, beliau melakukannya dengan cinta kasih dan kasih sayang, tidak dengan paksaan dan kekerasan. Walaupun dengan kesibukan agung beliau memperbaiki dunia dan mendirikan syariat, – dalam status beliau saw sebagai kepala keluarga – tetap saja dapat melakukan tugas-tugas penunaian kewajiban-kewajiban terhadap keluarga di rumah dengan kesantunan, kecintaan dan kelembutan. Dan sebagai seorang ketua keluarga, tanggungjawab lelaki juga ialah mentauhidkan Allah dan beribadat. Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan, “Rasulullah saw bangun untuk mendirikan nawafil dan sebelum Subuh baginda saw memercikkan air ke muka saya supaya saya sendiri pun menunaikan hak Allah Ta’ala.”

Bagaimanakah Nabi Muhammad memenuhi hak-hak keluarganya? Beliau saw membantu keluarganya dalam hal yang berkaitan dengan pekerjaan khusus istri. Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan, كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ ـ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ ـ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ‏‏ pada waktu manapun beliau saw ada di rumah, beliau saw selalu sibuk menyelesaikan (membantu) pekerjaan-pekerjaan di rumah yang merupakan kesibukan biasa istri-istri beliau saw. Bila waktu shalat tiba, beliau saw pun keluar menuju Masjid.[1]

Inilah keteladanan yang hendaknya kita perelok diri kita dengan itu, bukannya memperlakukan mereka dengan perlakuan yang menzalimi. Hadhrat Aisyah ra menyebutkan mengenai beliau saw rincian perbuatan yang biasa beliau lakukan [setelah ditanyakan soal itu oleh penanya lalu beliau ra menjawab], مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، يَخْصِفُ نَعْلَهُ ، وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ ، وَيَرْقَعُ دَلْوَهُ  “[Beliau saw melaksanakan sendiri pekerjaan yang biasa seseorang lakukan untuk keluarganya] Beliau menambal sulam sendiri pakaian beliau yang sudah robek. Beliau saw menggosok sendiri terompahnya [menyemir sepatunya] dan menambal ember untuk menampung air.”[2]

Karena itu, dengan mempertimbangkan contoh keteladanan beliau saw ini, banyak suami yang harus mengevaluasi kembali apa saja perilaku mereka di rumah. Demikian pula penting untuk diperhatikan apakah hal-hal tersebut telah diikuti di rumah mereka atau belum?

Nabi saw memberikan kepada para sahabatnya nasehat tentang tugas-tugas suami dan perilaku etis mereka, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: “‏ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا ‏”‏ ‏ “Orang beriman yang imannya paling sempurna ialah yang termulia dalam akhlak. Diantara kalian yang terbaik adalah yang terbaik dalam perlakuannya kepada istrinya.”[3] Karena itu, mereka yang perlakuan terhadap istrinya belum semestinya maka harus mengoreksi diri sebab Nabi Muhammad saw tidak menganggap biasa terhadap akhlak elok dan perlakuan baik pada istri melainkan itu adalah pertanda kehebatan standar keimanan seseorang.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai kewajiban-kewajiban para suami dan perlakuan suci terhadap istri mereka, “Selain daripada perbuatan yang keji, keburukan- keburukan dan kelemahan-kelemahan yang lain dari para perempuan haruslah toleran menghadapinya. Saya pikir ini suatu hal yang bertentangan sepenuhnya dengan muruah (kehormatan) kita sebagai laki-laki untuk bertengkar dengan kaum wanita. Allah Ta’ala telah menciptakan kita sebagai laki-laki dan pada hakikatnya itu penyempurnaan nikmat atas kita. Kita bersyukur atas hal itu dengan kita berlaku lemah lembut dan kasih sayang kepada kaum wanita.”

Satu kali beliau as mendapat pengaduan mengenai seseorang yang bertindak kasar dan keras serta berkata buruk terhadap istrinya, maka beliau menasihatkan, anggota jemaat kita tidak seharusnya berbuat seperti itu.

Beliau as menampakkan rasa kurang senang dalam waktu lama sekiranya ada sahabat beliau as berbuat seperti itu. Beliau as akhirnya bersabda, “Adapun saya suatu kali berkata dengan meninggikan suara saya pada istri saya dan saya merasa suara tinggi ini mengandung serangan pahit terhadap hatinya, (Hudhur as bersuara tinggi dan berpikiran nada tinggi tersebut menyakitkan juga) meskipun pada kalimat itu tidak ada kata-kata kasar yang menyakitkan. (Dengan semua itu, beliau bersabda) saya terus kemudian beristighfar kepada Allah untuk waktu yang lama, dan shalat nawafil dengan khusyu’ dan khudhu’, dan memberi sedekah; pemikiran saya ialah kekerasan suara ini dalam berbicara dengan istri berakibat dosa tersembunyi bagi saya.”[4]

Inilah teladan beliau as. Beliau menunjukkan rasa prihatin ketika menyebutkan soal kekerasan salah seseorang terhadap keluarganya. Lalu beliau as menghadapi orang itu dan menasihatinya memberi pengertian kepada orang-orang yang karena hal-hal yang paling sepele, bertengkar dengan istri dan memukul mereka. Seperti yang telah saya katakana, beberapa dari mereka (kaum laki-laki) juga melakukan pemukulan. Mereka harus merenungi hal ini. Sebab, iman mereka – sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw – tidak sempurna, mereka harus memperhatikan iman mereka. Karena sabda Nabi Muhammad saw inilah, Hadhrat Masih Mau’ud as takut akan tidak mencapai standar tinggi. Hal-hal ini, seperti yang saya katakana, terlihat hal kecil dan biasa, tetapi tidak sederhana dan tidak kecil. Di negara ini hal-hal ini [kekerasan rumah tangga di internal Jemaat] telah sampai ke polisi juga, dan kemudian memperburuk reputasi (nama baik) Jemaat juga. Dan kemudian orang-orang seperti mereka menghadapi hukuman duniawi dan juga menarik murka Allah, juga.

Beberapa orang laki-laki mengatakan, “Dalam diri wanita-perempuan itu ada banyak keburukan, sebab itu mereka hendaklah diajar keras.” Saya katakan dalam menanggapi mereka: dari sisi ini harus laki-laki untuk menguji dirinya sendiri terlebih dahulu, apakah mereka menyadari dan memenuhi tuntutan agama?

Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati kaum laki-laki dalam hal ini, “Jika lelaki sendiri tidak baik, bagaimana mungkin perempuan dapat menjadi baik? (Kondisi pertama adalah seorang laki-laki itu berlaku saleh, baru kemudian istrinya) Namun, jikalau lelaki berusaha menjadi baik, maka kemungkinan besar perempuan mengikut jejak langkahnya. Jangan hanya cukup menasehati dengan ucapan saja bahkan biasanya mereka hanya terpengaruh dengan cara pelajaran yang bersifat perbuatan. Jika seorang suami berjalan menurut perintah Allah, ia sangat memberikan pengaruh kepada istrinya. (artinya, jangan hanya menasehati dengan kata-kata dan celaan saja, melainkan buktikan dengan perbuatan kalian bahwa kalian laki-laki yang saleh dan tiap langkahnya mengikuti perintah-perintah Ilahi. Dalam hal ini sajalah maka perbuatan kalian akan berpengaruh.) Rata-rata perempuan tidak akan mudah menerima apa yang diucapkan. Apalagi jika lelaki mempunyai keburukan atau kelemahan dan perempuan itu yang menjadi saksinya. Jika seorang laki-laki tidak takut pada Allah, maka bagaimana mungkin istrinya akan takut padanya. Perempuan sukar menerima pelajaran dari ulama-ulama atau suami seperti itu karena yang berpengaruh pada mereka ialah keteladanan perbuatan. Misalnya, apabila suami bangun malam untuk berdoa (shalat tahajjud), maka isteri akan belajar daripadanya, terpengaruh dan akan terbiasa melakukannya. Tabiat perempuan ialah mendapatkan pengaruh banyak-banyak. Sekolah pun takkan dapat memperbaiki mereka sebanyak pengaruh suaminya. Berbagai cara untuk mempengaruhi wanita, tetapi amal perbuatan seorang suami sudah cukup baginya sebagai pelajaran. (Sekolah dan Universitas tidak ada keperluannya dalam memperbaiki kaum perempuan. Jika kaum laki-laki ingin memperbaiki mereka, perbaikilah diri mereka sendiri terlebih dahulu. Tunjukkanlah keteladanan secara perbuatan, niscaya secara otomatis kaum wanita akan menjadi baik.)

Allah Ta’ala telah menciptakan wujud lelaki dan perempuan sebagai entitas tunggal, suatu kesalahan kaum laki-laki bila beri kesempatan kepada kaum perempuan mengetahui keburukan mereka sehingga kaum perempuan mengatakan ‘dalam diri kamu ada kekurangan ini’. (Seorang pria harus tidak memberi kesempatan pada istrinya untuk berkata demikian. Namun, berusahalah menjadi suci sedemikian rupa) sehingga perempuan kepenatan dalam mencari kelemahan kamu, namun tidak menjumpainya. Dengan itu, kalau perempuan sebelumnya tidak beragama sekali pun, sekurang-kurangnya mereka ada kecenderungan ke arah agama dan pemahamannya.”

Di sini, saya telah memperhatikan kaum perempuan di sini lebih banyak beragama daripada kaum lelaki sampai-sampai kaum perempuan selalu mengadu bahwa suami mereka tidak memberi perhatian terhadap agama. Dari satu segi, inilah hal yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari orang-orang yang baiat dan pada sudut yang lain ini pula yang kita dengar dari pengaduan kaum perempuan , yaitu suami mereka kurang dalam mendirikan shalat, tidak shalat berjamaah di rumah di di tempat lain, lemah dalam pengetahuan agama, lemah dalam membayar candah, asyik dalam menonton acara-acara TV yang kurang pantas lagi melalaikan. Tetapi kalau mereka (para suami) ingin memperlihatkan kuasa sebagai ketua keluarga, maka biasanya dengan teriakan dan pukulan. Bukannya mengajarkan pada para wanita, yang terjadi ialah kaum perempuan pula yang menasihati mereka supaya tidak berpengaruh pada kerusakan anak-anak. Biasanya anak-anak yang rusak adalah berpunca dari keadaan rumah tangga yang bermasalah.

Rumah yang mana anak-anak tidak mendapatkan pendidikan (tarbiyat) ialah karena para pria tidak begitu tertarik akan tarbiyat atau ia melakukan perlakuan keras terhadap istri dan anak-anak tanpa pembenaran. Kadang-kadang anak-anak mengeluh kepada saya juga bahwa perlakukan para ayah mereka terhadap mereka atau terhadap ibu mereka, tidak baik. Jika Anda ingin dalam rumah Anda mengarah pada perdamaian dan keamanan dan ingin mendidik generasi masa depan dan ingin tetap berpegang teguh dengan agama maka kaum pria harus memperbaiki diri.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menasehati kaum laki-laki: “Imam di rumah adalah kaum lelaki. Jika mereka memberikan pengaruh yang tidak baik, maka betapa menularnya pengaruh buruk itu. (yaitu, di kalangan anak keturunan juga tertanam pengaruh yang kurang baik.) Seorang laki-laki harus menggunakan kekuatannya pada tempatnya dan dalam kesempatan yang halal. Contohnya kekuatan kemarahan. Apabila kemarahan sudah melebihi batas maka dikhawatirkan ia menghampiri junun (kegilaan). Dan jika sudah melampaui batas maka ia boleh menjadi gila. Kemarahan dan gila itu sangat tipis perbezaannya. Kebijaksanaan akan ditarik dari orang yang kemarahannya memuncak. Dengan penentang pun tidak boleh bertindak dalam keadaan marah. Dalam menghadapi penentang pun tidak boleh keluar kata-kata kesat dari mulut seorang beriman. Tanzeem harus memperhatikan perkara ini dan Sekretari Islah wa Irshad juga perlu peka. Ilmu dan tabligh pada jalan Allah tidak ada faedahnya jika di rumah sendiri berada dalam keadaan huru hara.

(Perlu diperhatikan bahwa seseorang tidak boleh menciptakan sendiri penentangan dengan kemarahan dan selain itu juga terhadap keluarganya, ini adalah norma yang dituntut. Seseorang harus tidak hanya marah dengan keluarganya saja, tetapi tidak boleh juga berbicara dengan penentang dalam kemarahan dan kehilangan hal yang benar. Tidak boleh keluar dari mulut seorang beriman kata-kata kekerasan dan kemarahan dalam sanggahan terhadap kata-kata penentang. Seperti yang saya katakan sebelumnya yang ditulis kepada saya dari kaum perempuan dari India dan Pakistan tentang keluhan mengenai suami mereka, di kedua negara, Pakistan dan Qadian, India, lembaga Nazharat Ishlah dan Irsyad dan juga sub-organisasi (badan-badan) harus memperhatikan ini. Di negara-negara lain di dunia juga harus mengintensifkan upaya tarbiyat. Jika Anda sibuk dalam tabligh dan mempelajari masalah-masalah agama dan seiring itu di rumah Anda berbuat rusuh maka tidak ada layaknya tabligh dan ilmu agama Anda tersebut).

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai kejiwaan kaum perempuan, “Seorang perempuan biasanya memperhatikan setiap perbuatan dan sifat seorang lelaki. Maka, ia melihat dalam diri suaminya sifat-sifat ketakwaan seperti ini dan itu, contohnya kedermawanan, kesantunan dan kesabaran demikian pula ia mendapat kesempatan untuk menemukan sifat-sifat ins el.itu. (Ia di rumah setiap hari) Sebab itu, perempuan dikatakan sebagai sariqah (pencuri). Ini karena dia akan secara diam-diam mencuri akhlak secara keseluruhan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.”

Ada sebuah peristiwa tentang seseorang laki-laki Muslim telah menjadi Kristen, istrinya pun sama masuk Kristen. Mereka mulai minum arak. Istrinya pun sama. Ia membuka pardahnya dan mulai bebas bergaul dengan kaum laki-laki bukan mahramnya. Suami akhirnya sadar dan mula kembali masuk Islam. Sang suami berkata kepada istrinya agar masuk Islam lagi. Tapi, istrinya mengatakan, “Islam sekarang sudah berat untuk saya amalkan. Susah untuk kembali. Adat kebiasaan minum minuman keras ini dan lain-lainnya sudah melekat kuat. Susah untuk meninggalkannya.”

Laki-laki tersebut telah mencapai puncaknya dan memeluk Masihiyah (Kristen). Tetapi, terdapat banyak lelaki yang tidak mau meninggalkan Islam namun atas nama kebebasan, mereka tenggelam di dalamnya. Mereka menamakan diri orang Islam namun terlihat dalam perilaku-perilaku buruk yang telah saya sebut. Kemudian, kaum perempuan juga terpengaruh lingkungan itu sendiri atau dengan kata-kata kaum lelaki. Setelah beberapa waktu lama, para suami sadar bahwa istri mereka telah sangat bebas. Saat mereka berusaha untuk membuat istri mereka kembali dari kebebasan tersebut, maka timbul pertengkaran dan kekerasan. Di sini juga terjadi kejadian serupa, seperti telah saya katakan, polisi datang dan masuk ke wilayah ini seperti wilayah hak-hak kaum perempuan dan hak anak-anak. Pihak berwenang juga turut melaksanakan pekerjaan mereka, rumah tangga menjadi hancur, anak-anak tidak tentu arah jadinya. Para suami semacam itu harus menyadari tanggungjawab yang agama Islam bebankan di pundak mereka sebelum rumah tangga mereka hancur dan anak-anak tersia-siakan.

Berkenaan dengan hak perempuan dan cara memperlakukan mereka, Hadhrat Masih Mau’ud as berkata, “Tidak ada satu agama pun seperti Islam yang dapat mempersembahkan pemeliharaan hak-hak wanita. Allah Ta’ala berfirman (Surah al-Baqarah, 2:229), وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ  artinya, sebagaimana terdapat hak-hak kaum lelaki terhadap wanita, demikian juga hak-hak perempuan terhadap kaum lelaki. Telah didengar dari sebagian orang bahwa mereka menganggap para wanita yang malang itu seperti sepatu dan memakai mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang sangat hina. Mereka mencaci dan memandangnya dengan merendahkan. Mereka menerapkan pada kaum perempuan hokum-hukum hijab dengan jalan yang salah dan seolah-olah itu sebuah pertunjukan.”

Artinya, keras dalam menyuruh menerapkan pardah hingga sangat sulit bagi mereka untuk bahkan bernapas. Hal ini tidak diperbolehkan kekejaman seperti itu, Islam adalah agama yang inklusif dan komprehensif, dan di sisi lain, kaum perempuan juga harus berpegang teguh moderasi dan tidak menuntut kebebasan terlalu banyak dari kewajaran dengan dalih meringankan pardah. Perlu dicatat bahwa beberapa perempuan telah menjadi terlalu bebas tidak lagi berpardah, tetapi hanya nama saja pardah. Ini juga kesalahan. Kaum perempuan juga harus ingat untuk menutup kepala dan tubuh sesuai tuntutan kesopanan yang tepat diperlukan, dan ini adalah hukum Allah, yang harus diperhatikan.

Apa yang harus menjadi standar hubungan antara pasangan suami-istri? Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan hal ini bersabda: “Hubungan antara seorang suami dan istrinya seharusnya seperti dua orang sahabat dekat nan tulus. Seorang istri ialah saksi pertama perihal akhlak suaminya dan hubungan suaminya dengan Tuhannya. Jika hubungannya dengan sang istri tidak baik, bagaimana sang suami bisa baik dalam hubungannya dengan Tuhan? (Jika hubungan seorang suami dengan istrinya di rumah itu tidak baik maka sulit untuk membuat baik hubungannya dengan Tuhan dan menjalankan hukum-hukum-Nya) Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “‏ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي ‏” “Orang yang terbaik diantara kalian adalah ia yang terbaik kepada istrinya; dan saya ialah yang terbaik perlakuannya terhadap keluarga saya.’.”[5]

Ini adalah standar yang harus diraih oleh masing-masing orang. Lebih lanjut lagi, para suami perlu memahami tanggung jawab – tanggung jawab mereka sebagai seorang Ayah. Janganlah berpikiran mendidik anak adalah tanggung jawab seorang ibu saja. Tidak diragukan lagi bahwa anak menghabiskan sekian lama dari waktunya dengan ibunya dalam hidupnya, dan pendidikan dari seorang ibu bagi anaknya di usia muda si anak itu memainkan peran penting, tapi itu tidak membebaskan para ayah dari kewajiban mereka. Tidak demikian! Para Ayah harus memainkan peran mereka dalam mendidik dan membesarkan anak. Khususnya, ketika anak-anak laki-laki berumur 7 atau 8 tahun, mereka sangat perlu perhatian dari ayahnya. Jika tidak, tentu akan bertambah kemungkinan kerusakan khususnya di lingkungan sekitar. Akan berlaku prinsip pokok itu dengan sendirinya yaitu yang telah saya sebutkan saat membicarakan mengenai kaum perempuan bahwa kaum laki-laki dan para Ayah haruslah memberi contoh yang baik. Pada satu segi para Ayah harus menunjukkan rasa hormat dan kepedulian kepada anak-anak mereka guna membangun akhlak yang baik dalam diri mereka; demikian pula para Ayah juga perlu mengawasi secara mendalam terhadap mereka dalam rangka melindungi mereka dari sisi buruk pengaruh masyarakat. Dengan demikian, hubungan yang baik antara ayah dan anaknya merasuk ke perasaan si anak sehingga sia anak merasa diayomi dan dilindungi.

Banyak para ayah mengeluh bahwa anak-anak mereka tumbuh dalam ketakutan atau kurangnya kepercayaan pada diri sendiri atau mulai berbohong ketika ditanya. Pada waktu para ayah dituntut untuk dekat dengan anak-anak mereka dan membangun hubungan pribadi dengan mereka atau hubungan persahabatan dengan anaknya maka umumnya kelemahan anak laki-laki tampak mulai hilang. Dalam rangka penciptaan perasaan dalam diri anak laki-laki bahwa mereka dijaga dan terlindungi dari pengaruh luar maka para ayah harus meluangkan waktu pergi bersama anak-anak mereka ke luar. Maka itu juga adalah tugas para ayah ketika mendidik anak-anak untuk menaruh perhatian dalam mendoakan mereka. Hal ini juga diperlukan untuk memperhatikan pendidikan agama.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai tarbiyat anak dan berdoa bagi mereka, “Tarbiyat yang hakiki adalah pekerjaan Allah. Berlaku sangat keras dalam mendesak-desak dan melampaui batas di setiap perkara; maksud saya, mencerca terhadap anak-anak dan mencela mereka dalam setiap hal kecil dan hal besar dan seolah-olah kita-lah pemberi mereka petunjuk dan hidayah ke jalan yang kita inginkan adalah satu syirik tersembunyi yang mana setiap sahabat saya hendaklah menghindarinya. Adapun saya maka saya berdoa untuk anak-anak saya dan dan pada masa yang sama juga berusaha menjadikan mereka untuk mengikuti serangkaian hal-hal pokok mendasar dan adab belajar dalam corak sementara waktu (yaitu memberitahukan mereka apa saja ajaran-ajaran kita, peraturannya, sopan-santunnya dan prinsip-prinsipnya kemudian mengarahkan mereka agar berpegang teguh dalam hal itu dan tidak ada yang lebih dari itu). Selanjutnya, saya bertawakkal penuh kepada Allah Ta’ala dengan keyakinan seberapa pun yang ada pada seseorang, benih baik akan tumbuh subur apabila sampai masanya yang tepat dan layak.”[6]

Kita harus ingat Hadhrat Masih Mau’ud as ketika bersabda, “Saya berdoa.” Maka tingkat kedudukan doa-doanya itu pun demikian sangat tinggi. Janganlah memandangnya biasa-biasa saja. Untuk mencapainya, maka usaha keras harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Itu bukan hal kecil. Para ayah harus menaruh perhatian atas hal itu. Sebagai seorang ayah, apa yang seharusnya dilakukan untuk mendidik anak-anak? Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang itu secara rinci: “Ada yang berpendapat, ‘Kami akan tinggalkan harta untuk anak-anak kami.’ Mengherankan saya mereka langsung tidak berpikir apakah anak mereka saleh atau tidak? Mereka tidak peduli akan hal ini. Mereka berusaha mengumpulkan harta dan tidak perhatian akan perbaikan diri mereka semasa hidup, mereka sanggup melakukan apa saja demi anak-anak. Lalu mereka pun mengeluh tentang anak-anak mereka dan menghadapi banyak masalah karena akhlak buruk anak-anak mereka tersebut. Harta kekayaan yang telah diperoleh dengan berbagai cara dan jalan akhirnya habis oleh anak-anak mereka untuk perbuatan buruk dan minum-minuman keras. Anak-anak mereka dari segi ini telah menjadi pewaris kejahatan dan keburukan ayahnya.

Ujian perihal anak-anak sangatlah rentan berbahaya. Jika anak-anak itu saleh maka seseorang tidak akan menghadapi hal yang mencemaskan. Allah Ta’ala sendiri berfirman (Surah Al-A’raf, 7:197) وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ  artinya, Dia sendiri akan menjamin orang-orang saleh dan melindungi mereka. Jika terdapat anak-anak yang rusak dan kalian mewariskan jutaan harta pada mereka maka itu akan mereka habiskan dalam keburukan dan mereka menjadi orang-orang bankrut dan miskin lalu mereka menghadapi berbagai masalah dan kesulitan yang dipastikan akan mereka alami. Mereka yang menjadikan kehendaknya itu sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala dan ridha-Nya akan menjadi pembimbing bagi anak-anaknya. Dalam rangka itu, ia harus berusaha keras dan berdoa bagi kebaikan dan perbaikan mereka. Dalam hal ini Allah Ta’ala Sendiri akan menjamin mereka dan memperbaiki mereka. Berusahalah untuk perbaikan mereka. (artinya, sadarilah baik-baik pendidikan atas mereka)

Hadhrat Daud as mengatakan: ‘Aku dahulu anak kecil, lalu kini sudah tua. Aku tidak pernah melihat seorang penyembah Tuhan berada dalam kondisi hina, dan tidak pula aku melihat anak-anaknya mengemis di pintu-pintu rumah meminta makanan.’ [7]

Tampak bahwa Allah Ta’ala juga bertanggungjawab terhadap anak-anak keturunan orang muttaqi (bertakwa). Berlakulah dengan cara yang menjadi teladan kesucian, kebaikan dan ketakwaan bagi anak-anak.”

Beliau as melanjutkan, “Berusahalah dengan sungguh-sungguh dan berdoalah agar mereka (anak-anak) menjadi orang yang bertakwa dan teguh hati. Sebagaimana kalian begitu bekerja keras untuk mengumpulkan harta demi anak-anak, pada masa yang sama usahakanlah juga tarbiyat anak-anak dengan serius. Berlakulah dengan cara yang dapat menjadi contoh teladan sempurna bagi anak anak. Dan untuk hal ini, adalah sangat penting bagi seseorang untuk mereformasi (merubah) diri mereka sendiri. Jika kalian menjadi orang bertakwa dan memelihara diri hingga ke tingkat tertinggi dan Allah ridha pada kalian, dalam hal itu menjadi yakin bahwa Allah memperlakukan dengan baik anak-anak kalian setelah kalian.”

(Ringkasnya, tidak ada keraguan untuk berpegang pada ajaran Islam dengan memenuhi hak anak yang dalam hal itu saja-lah menjadikan generasi mendatang menapaki jalan yang lurus dan penyejuk mata bagi orang tuanya.) Jadi, Islam memerintahkan seorang ayah untuk memperhatikan pendidikan anak-anak, terus berdoa dan juga memerintahkan anak-anak, “Ada banyak kewajiban yang dipikulkan di pundak kalian ketika kalian mencapai usia dewasa dan kalian harus memenuhinya.”

Singkatnya, ada lingkaran berbeda untuk serangkaian kekerabatan yang jika dipelihara hubungannya akan menciptakan masyarakat yang aman. Setiap orang beriman harus menyadari pentingnya kewajiban-kewajiban terhadap orangtua dan memenuhinya. Hadhrat Rasulullah saw telah menyebutkan bagaimana seorang anak itu harus menunaikan hak-hak (kewajiban terhadap) orang tua.

Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr yang berkata; “Pernah
seseorang mendatangi Nabi Muhammad saw lalu minta izin untuk berjihad. Beliau saw bertanya: أَحَىٌّ وَالِدَاكَ a-hayyu waalidaaka? “Apakah kedua
orangtua engkau masih hidup?”, orang itu menjawab: نَعَمْ “Iya”, beliau bersabda: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
“Berjihadlah (berjuanglah) dalam mengurus keduanya.”[8]

Dari hal ini seseorang dapat menilai betapa pentingnya mengkhidmati orangtua. Tidak hanya itu, bahkan Nabi saw memerintahkan memperlakukan teman-teman dari orang tua kita dalam rangka menyebarluaskan kecintaan dan saling menyayangi. Beliau saw bersabda, إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ “Termasuk kebaikan seseorang ialah memperlakukan dengan baik keluarga orang-orang yang dikasihi oleh ayahnya setelah kematian ayahnya itu.”[9]

Kemudian beliau saw menjelaskan subyek itu lebih banyak dalam sebuah riwayat: Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata: “Tatkala kami sedang bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ‘Ya Rasul Allah apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya setelah keduanya wafat?’ Nabi menjawab: نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ‘Ya, dengan mendoakan keduanya, memohon ampun untuknya, memenuhi janji-janji yang mereka buat pada orang lain dan engkau harus menunjukkan kebaikan hati dan kasih sayang kepada semua saudara dan teman-teman mereka.’”[10]

Lantas pada kesempatan yang lain Hadhrat Rasulullah saw bersabda: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ‏‏.‏ “Siapapun yang menginginkan hidup berumur panjang dan agar pendapatan (rezeki) mereka diberkati, maka mereka harus menunjukkan kebaikan hati dan kasih sayang kepada orang tua mereka dan menunjukkan rasa hormat kepada sanak saudara mereka.”[11]

Oleh karena itu, anak-anak harusnya tidak hanya menuntut kepada orang tua, melainkan ketika mereka mencapai kedewasaan, mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban tertentu yang harus mereka tunaikan terhadap orang tua mereka. Khususnya setelah menikah, seseorang harus lebih memperhatikan lagi akan akan tanggung jawab – tanggung jawab ini. Jika seorang suami dengan kebijaksanaan memenuhi hak-hak istri, juga mengkhidmati orang tua suami itu sendiri, menghormati perasaan istrinya dengan hikmah, memiliki perilaku yang menghormati pada mertuanya dan para iparnya maka ajarkan juga isteri supaya melakukan perkara yang sama sehingga tidak akan pernah ada perselisihan apapun di dalam rumah tangga selamanya. Sesuatu yang terkadang terlihat ialah perselisihan orangtua dengan anak-anaknya karena perbedaan keyakinan. Terkadang para Mubayyi’ baru mengajukan pertanyaan ini [beda agama atau kepercayaan dengan orangtua mereka]. Saya katakan, dalam keadaan itu juga para anak harus memperlakukan dengan baik orangtua mereka dan mengkhidmatinya.

Selama perjalanan ke Batala, Hadhrat Masih Mau’ud as terus saja menanyakan Sheikh Abdul Rahman tentang kondisi ayahnya yang terhormat dan menasihatinya, “Anda harus mendoakan beliau dan membesarkan hatinya sekuat tenagadan meyakinkan beliau mengenai kebenaran Islam dengan cara menyajikan contoh tulus tertinggi dalam moral yang baik dan teladan luhur ribuan kali lipat dari sebelumnya. Keteladanan akhlak ialah keajaiban yang tak tertandingi oleh mukjizat lainnya. Kriteria Islam yang benar adalah manusia naik ke atas landasan pacu tertinggi moralitas yang baik, dan menjadi seseorang yang spesial, semoga Allah mengalirkan di dalam hatinya kecintaan terhadap Islam melalui usaha Anda. Islam tidak melarang mengkhidmati orang tua, Anda harus mematuhi mereka dalam hal-hal duniawi penuh yang tidak bertentangan dengan agama. Khidmatilah mereka dengan sepenuh hati dan jiwa.”

Ini adalah satu peraturan umum yaitu Anda menggunakan kata-kata yang lembut dan memperlihatkan akhlak mulia dalam bidang tabligh. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjawab dalam satu peristiwa, mengenai pertanyaan seperti itu secara rinci. Diketahui bahwa orangtua orang yang disebut dalam kisah ini keduanya Muslim. Riwayatnya sebagai berikut: “Ada seseorang bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Hudhur, Allah Ta’ala telah mewajibkan ketaatan dna pengkhidmatan terhadap orangtua. Tetapi orangtua saya sangat marah dengan saya karena saya baiat dengan Anda sampai-sampai mereka tidak mau melihat muka saya. Saat saya telah berbaiat, mereka berkata, “Jangan pernah lagi menyurati kami. Kami tidak ingin melihat muka kamu sejak sekarang.” Maka apa yang perlu saya buat demi menunaikan yang telah Allah Ta’ala wajibkan ini [berbakti kepada orangtua]?’ Beliau as menjawab, ‘Al-Quran juga menyatakan tentang perkara ini yaitu ketaatan dan pengkhidmatan terhadap orang tua.

Namun, Dia juga berfirman, رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا “Tuhanmu Lebih mengetahui apa-apa yang ada di hatimu. Jika kamu saleh maka Dia Maha Pengampun pada mereka yang kembali kepada-Nya.” (Surah Al-Isra, 17:25) Para Sahabat Nabi saw telah menghadapi situasi sulit seperti itu yaitu sengketa antara mereka dengan orang tua mereka yang terjadi karena perbedaan agama. Anda harus selalu siap untuk memberikan yang baik kepada mereka dan jangan biarkan lewat tiap kesempatan dalam hal ini. Ganjaran atas niat kamu akan kamu perolehi. Jika seseorang dipaksa harus melepaskan diri dari orang tua dalam rangka mengutamakan ridha Allah, maka ini terpaksa. Anda harus menaruh perhatian tentang reformasi diri dan itikad baik, dan teruslah berdoa untuk mereka. Ini bukan hal baru, bahkan Hadhrat Ibrahim juga menghadapi situasi yang sama. Kewajiban terhadap Allah diutamakan dalam hal apapun, utamakanlah Allah, teruslah  bertekun dalam menunaikan hak-hak orang tua, teruslah berdoa untuk mereka dan perhatikanlah senantiasa pada kebenaran dan ketulusan niat.”

Ada banyak orang yang menanyakan pertanyaan ini hari ini juga dan mengatakan, “Terdapat kewajiban-kewajiban orang tua, bagaimana kami dapat menunaikannya?” Dalam jawaban yang telah disebutkan cukup bagi mereka. Pada keadaan apapun, suatu keharusan bagi para pria untuk berusaha memenuhi berbagai tanggung jawab yang ada pada diri mereka dalam aspek-aspek yang berbeda. Selalu berikan teladan di rumah yang menciptakan atmosfir cinta dan kasih sayang. Pada satu segi, seorang pria adalah seorang suami, pada segi lain, juga seorang ayah dan segi lainnya lagi ialah seorang putra. Karena nya, seseorang harus memahami tanggung jawab-tanggung jawab mereka sesuai dengan kapasitas mereka yang berbeda. Demikian pula ada sejumlah segi lainnya dari kehidupan seorang pria dan saya telah jelaskan tiga segi tadi diantaranya. Keamanan dalam masyarakat terjamin selama terdapat keamanan yang berlaku di suatu kesatuan rumah tangga secara mendasar. Berusahalah menciptakan kesatuan ini secara baik dan elok sebanyak mungkin. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik pada kita (Semoga Allah memberikan semua orang kekuatan untuk mencapai hal ini). آمين.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar dan Salahuddin bin Syed Ali, Muballigh Gombak, Malaysia.

[1] Shahih al-Bukhari, Kitaab al-Iman, Bab Man kaana fi hajati ahlih fa uqimatish shalat fa kharaja (siapa yang sedang memenuhi keperluan keluarganya lalu terdengar adzan maka ia keluar menuju masjid untuk shalat.) no. 676.

[2] Shahih Ibnu Hibban صحيح ابن حبان » كِتَابُ الْحَظْرِ وَالإِبَاحَةِ » بَابُ التَّوَاضُعِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ, no. 5793; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 8 halaman 313, Baqi Musnad Anshar, Hadits Sayyidah Aisyah ra; Sirah Nabawiyah Jam’il wasaa-il fi syarhisy syamaa-il جمع الوسائل في شرح الشمائل    karya علي بن سلطان محمد القاري

[3] Jami’ at Tirmidzi, Kitab tentang penyusuan, bab hak istri terhadap suaminya, no. 1162

[4] Al-Hakam, Vol 4, No. 2, 17/1/1900, p 1 -.. 4

[5] Badr, Volume 2, Nomor 18, 22 / 5/1903, h. 137

Hadits tercantum dalam Sunan Ibni Majah, Kitab tentang pernikahan, no. 1977

[6] Malfuzhat, jilid 2, h. 4-5

[7] Kitab Perjanjian Lama, Mazmur, 37:23-26; “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.”

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jihad, bab jihad itu seizin orangtua, no. 3004

[9] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Adab, bab berbuat baik terhadap orangtua, no. 5143

[10] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Adab, bab berbuat baik terhadap orangtua, no. 5142

[11] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab, bab tentang memperluas rezeki dengan shilaturahim (menjalin tali kasih sayang), no. 5986

(Visited 197 times, 1 visits today)