Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 1 Juli 2005 di Central International, Toronto, Kanada.

Alhamdulillah, dengan karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Kanada telah selesai diselenggarakan pada hari Minggu lalu dengan sangat baik. Pada Jalsah-Jalsah tersebut ada suasana yang mana orang-orang dari berbagai lingkungan dan lapisan berkumpul demi maksud tertentu. Orang-orang yang punya ikatan sangat lemah dengan Jemaat, manakala di suatu kesempatan datang ke Jalsah, maka mereka menyaksikan dalam diri mereka terdapat keikhlasan dan hubungan dengan Jemaat dan Khilafat serta penambahan dan kebaikan dalam kesetiaan. Lalu, tugas-tugas berbagai bidang masih berlanjut karena keberadaan saya i sini. Diantara mereka juga ada orang-orang yang dalam hari-hari biasa tidak punya ikatan dengan tugas-tugas yang diserahkan dalam Jalsah, mereka menjalankan tugasnya yang berbeda dengan pekerjaannya sehari-hari. Semua orang merasakan satu kebanggaan dengan mengkhidmati para tamu Jalsah. (Hudhur Anwar meminta keterangan tentang suara menggema yang sampai kepada para Ahmadi di sini)

Saya terangkan bahwa dengan karunia Allah Ta’ala Jalsah berjalan dengan baik dan dalam Jalsah ini para Ahmadi yang lemah, ketika hadir, maka dalam diri mereka lahir ikatan yang khusus. Berkenaan dengan tugas, berbagai level orang sedang menjalankan tugasnya. Semua orang ini sedang melayani para tamu dengan semangat tinggi. Karena tamu-tamu yang datang adalah tamu-tamu Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as, tamu-tamu yang datang untuk mendengarkan firman-firman Tuhan. Banyak orang Ahmadiyah yang tinggal di ‘peace village’ (kampung perdamaian, suatu komplek permukiman Ahmadi di Kanada), bahkan saya katakan bahwa hampir setiap keluarga menyediakan rumahnya untuk para tamu dan merasakan sebuah kebahagiaan, karena Allah Ta’ala sedang menganugerahkan taufik kepada mereka untuk melayani para tamu Jalsah. Bahkan, selain itu juga, banyak tamu yang menetap di rumah-rumah orang Ahmadiyah di tempat-tempat lain dan semuanya melayani para tamu dengan bahagia sekali. Mungkin, banyak sekali tamu yang datang, karena mereka menganggap bahwa tempat kediaman saya ada di sini.

Pendeknya, pemandangan-pemandangan kecintaan, keikhlasan, pelayanan antara satu dengan yang lain dan pengkhidmatan kepada tamu di dalam Jemaat nampak terlihat, karena Jemaat diuntai dalam sebuah rantai dan mereka menyintai dan memiliki ikatan dengan Nizham Khilafat. Orang-orang berdiri dan duduk atas instruksi Khalifah. Pemandangan-pemandangan ini tidak dapat terlihat oleh kita di luar Jemaat Ahmadiyah. Ikatan anggota Jemaat dengan Khilafat dan hubungan para anggota dengan Khalifah adalah sebuah ikatan yang berada di luar jangkauan orang-orang duniawi (materialistik). Mereka tidak dapat menjangkau dan melampauinya.

Hadhrat Khalifatul Masih III rh tepat sekali bersabda bahwa Jemaat dan Khalifah adalah satu wujud yang memiliki dua nama. Ringkasnya, hubungan Jemaat dan Khilafat ini nampak pada Jalsah-Jalsah ini. Alhamdulillah, saya berbahagia, dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat Kanada semakin maju dalam ikatan keikhlasan dan kesetiaan. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meningkatkan hubungan mereka ini dan ikatan ini tidak bersifat semangat dan gairah sementara saja. Saudara-saudara semua selamanya memperlihatkan kecintaan dan kesetiaan. Pada tanggal 27, ketika saya menyampaikan khotbah menguraikan perihal Khilafat, dari berbagai tempat, secara Jemaat dan secara pribadi, paling pertama dan paling banyak surat kesetiaan dan ikatan khusus, saya terima dari Kanada. Semoga pengungkapan dan pendakwaan kecintaan dan kesetiaan ini bukan karena gejolak sementara, melainkan selamanya dan abadi serta selalu ada dan tegak pada keturunan saudara-saudara.

Ingatlah! Dimana ada hati yang dipenuhi kecintaan, di sana ada juga setan yang menimbulkan fitnah, yang berusaha untuk mematahkan ikatan ini atau mengganggu ikatan ini. Jadi, saudara-saudara hendaknya waspada dari orang-orang seperti ini. Saudara-saudara harus memperhatikan lingkungan saudara-saudara. Dari mana saja saudara-saudara mendengar hal-hal yang bertentangan dengan [atau menentang] wibawa Jemaat atau kehormatan Khilafat, maka segeralah laporkan kepada para pengurus, sampaikanlah kepada Amir dan informasikanlah kepada saya. Karena kadang-kadang secara lahiriah banyak hal yang terlihat sepele, tetapi di dalamnya [esensi masalahnya] ternyata matang [sangat penting]. Lalu, itu menjadi faktor yang merusak beberapa orang yang bertabiat lemah. Para pengurus juga harus menanamkan kebiasaan dalam dirinya bahwa ketika mereka mendengar hal-hal seperti itu, segeralah menelitinya atau sekurang-kurangnya mencari tahu daripada dilihat begitu saja. Jika satu kali mendengar, maka catatlah dalam benak dan jika sudah dua kali mendengar, pokoknya itu harus diperhatikan. Beritahukanlah kepada Amir, kemudian sampaikanlah kepada saya. Hal demikian karena, kadang-kadang sebagaimana telah saya katakan, itu terlihat seperti hal sepele sehingga, oleh karenanya setiap orang tidak menaruh perhatian terhadapnya, tidak mengetahui latar belakangnya. Dasar-dasarnya [akar permasalahannya] itu berada di tempat lain. Karenanya, jangan pernah menganggap fitnah sebagai hal sepele. Jika ada suatu hal yang sementara, menurut saudara-saudara hanya hal yang biasa saja dan seseorang mengatakan dengan emosi, maka itu harus diketahui. Berusahalah untuk menjauhkan (menghilangkan) keluhan-keluhan dan aduan-aduan yang sementara. Ini juga harus dilakukan oleh para pengurus.

Para pengurus harus memperhatikan hal ini dan mendengarkan hal-hal seperti ini, supaya ketidakpedulian tidak menjadi sumber yang menimbulkan kesenjangan (jarak) antara anggota Jemaat dengan para pengurus. Tetapi, sebagaimana saya telah katakan, kapan pun ada permasalahan yang disinggung dalam majelis-majelis dan diungkit-ungkit dengan tujuan menyebarkan kejelekan, maka itu harus dicari tahu.

Ringkasnya, kapan pun saudara-saudara mendengar suatu hal yang berbau pertentangan terhadap Nizham dalam bentuk apapun, saudara-saudara harus memperhatikannya. Oleh karena itu, saya katakan kepada para pengurus dan para Amir di seluruh dunia termasuk di sini, janganlah saudara-saudara membatasi diri saudara-saudara sampai batas tertentu, terbatas sampai satu batas, terbendung sampai satu pagar dimana hanya ada orang-orang yang memberikan laporan ‘semua baik-baik saja’ di sekitar saudara-saudara. Melainkan, laporan setiap orang Ahmadiyah harus sampai ke setiap Amir dan para pengurus yang bersangkutan supaya saudara-saudara memiliki ikatan langsung dengan orang-orang di sekitar dan juga di daerah.

Kadang-kadang sebagian pemuda memberikan laporan dan mengatakan suatu hal logis yang tidak terbetik dalam benak orang-orang dewasa atau orang-orang yang sudah berpengalaman. Oleh karena itu, janganlah menghinakan atau memandang rendah ucapan seorang pemuda atau orang yang kurang pengetahuan. Janganlah dibiarkan begitu saja, bahkan setiap ucapannya harus disimak. Lalu, kadang-kadang muncul pertanyaan dalam benak para pemuda dan di lingkungan ini serta di benak para pemuda sekarang ini selalu muncul, kenapa begitu dan kenapa tidak begini? Oleh karena itu, Khuddamul Ahmadiyah, Lajnah Imaillah dan para pengurus Jemaat harus memberikan ketenangan kepada para pemuda/pemudi seperti ini. Berikanlah jawaban yang memuaskan kepada mereka, supaya mereka tidak punya peluang untuk memunculkan hal yang berbau fitnah.

Para pengurus dalam Nizham Jemaat bukan saja pengurus untuk jabatan saja, melainkan ditetapkan untuk melayani (berkhidmat). Mereka adalah satu rantai Nizham Jemaat yang merupakan bagian dari Nizham Khilafat. Setiap pengurus bertanggung jawab untuk menyelesaikan sebaik mungkin kewajiban yang diberikan oleh Khalifah dan Nizham Khilafat dan diserahkan kepada mereka. Jadi, seorang pengurus harus mengerjakan tugasnya dengan kerja keras, jujur dan memenuhi tuntutan keadilan. Mereka harus menganggap dirinya sebagai pengurus-pengurus yang dicintai orang-orang. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah saw bersabda, خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ ‘khiyaaru aimmatikum ulladziina tuhibbuunahum wa yuhibbuunakum wa yushalluuna ‘alaikum wa tushalluuna ‘alaihim.’ – “Para pemimpin terbaik diantaramu adalah mereka yang dicintai olehmu dan mereka mencintaimu. Mereka mendoakanmu dan kamu mendoakan mereka.”[2]

Jika para pengurus menjalankan kewajiban-kewajibannya seraya berjalan pada ketakwaan dan ketika mau memberikan keputusan, mereka memutuskan dengan pikiran tidak memihak, memutuskan tanpa berat sebelah. Sebagaimana sebelumnya juga saya berulang kali katakan bahwa yang dimaksud ketakwaan adalah jika harus memberikan kesaksian bertentangan dengan diri sendiri atau kerabat sendiri, maka berilah kesaksian. Tetapi, ketika mereka memenuhi tuntutan keadilan, maka para pengurus seperti ini menjadi kekasih Allah, sebagaimana disinggung dalam sebuah hadis. Hadhrat Abu Sa’id ra menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda, إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ. ‘inna ahabban naasi ilaLlahi yaumal qiyaamati wa adnaahum minHu majlisan Imaamun ‘Aadilun wa abghadhan naasi ilaLlahi wa ab’adahum minHu majlisan Imaamun Jaa-ir.’ “Pada hari Kiamat, orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Allah Ta’ala adalah imam (pemimpin, hakim) yang adil dan yang paling dibenci dan paling jauh adalah pemimpin yang zhalim.”[3]

Di sini memang bukan hakim, tetapi jabatan yang diserahkan kepada saudara-saudara, tanggung jawab yang diserahkan kepada saudara-saudara. Di suatu ruang lingkup, saudara-saudara dijadikan sebagai pengawas. Jadi, peluang-peluang berkhidmat yang diberikan bukan untuk menjalankan perintah, bahkan untuk melayani orang-orang dalam mewakili Khalifah dengan memenuhi tuntutan keadilan.

Berkenaan dengan kewajiban-kewajiban Khalifah, Allah Ta’ala berfirman kepada kita dalam Alquran Al-Karim: فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِاْلحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعِ اْلهَوَى فَيُضِلُّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ Yakni, “Maka putuskanlah diantara orang-orang dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsumu. Hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Shad: 27)

Jadi, ketika para pengurus dipercaya oleh Khalifah-e-Waqt dan diharapkan dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan adil, karena setiap keputusan Khalifah sangatlah sulit sampai menjangkau ke setiap tempat, tidaklah mungkin, maka jika para pengurus yang di dalamnya terdapat para qadhi atau para pengurus lain tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan memenuhi tuntutan-tuntutan keadilan, mereka berada di bawah cengkeraman Allah. Menurut hemat saya, mereka terang-terangan berdosa. Mereka telah melakukan dosa secara terang-terangan. Pertama, mereka tidak dapat menyelesaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik. Kedua, melukai kepercayaan Khalifah-e-Waqt, dengan sepengetahuan Khalifah, mereka tidak menyampaikan masalah yang sebenarnya.

Dengan status sebagai perwakilan, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya juga, menjadi kewajiban para pengurus untuk menyampaikan segala perkara kepada Khalifah. Terkadang, sebagian orang karena kebodohannya mengatakan, termasuk para pengurus juga, “Apa perlunya kita menyampaikan segala hal kepada Khalifah dan merepotkannya?” Orang-orang biasa juga, sebagaimana telah saya katakan, mengatakan, “Jangan menuliskan masalah-masalah yang merepotkan.” Mereka mengatakan bahwa ini adalah masalah-masalah sepele. Ini adalah kerisauan-kerisauan belaka. Sebenarnya ini masalah-masalah Jemaat yang bisa membuat mereka semakin gelisah. Ingatlah! Menurut hemat saya, semua itu angan-angan setan, pemikiran-pemikiran yang keliru.

Perintah Allah Ta’ala secara langsung adalah untuk Khalifah. Disebabkan menyebarnya pekerjaan-pekerjaan, lambat-laun semakin meluas dan melebar [pekerjaan-pekerjaan itu]. Khalifah menetapkan perwakilan-perwakilannya, supaya mudah dalam menunaikan tugas. Tetapi, tanggung jawab pada dasarnya diemban oleh Khalifah. Ketika Allah Ta’ala menetapkan tanggung jawab kepada Khalifah, maka Dia siap untuk menolongnya. Karena Khalifah itu dijadikan oleh-Nya. Tidaklah mungkin bahwa Allah Ta’ala sendiri yang menjadikan Khalifah, meletakkan tanggung jawab kepadanya, lalu tidak membentangkan sayap pertolongan dan dukungan-Nya kepada Khalifah tersebut.

Karena itu, ini pemikiran yang keliru dengan menganggap, “Jangan merepotkan Khalifah!” Tanggung jawab Khalifah dan semangat untuk mendengarkan hal-hal yang menyusahkan atau nikmat khilafah yang diberikan kepadanya, tidak akan diberikan lagi kepada yang lain. Oleh karena itu, semua tanggung jawab ini akan dilaksanakan oleh Allah Ta’ala dengan karunia-Nya. Pendeknya, Dia akan meningkatkan semangat tersebut. Oleh karena itu, pemikiran yang keliru bahwa jangan merepotkan. Tidak ada yang direpotkan. Merepotkan sampai batas tertentu adalah diperbolehkan. Bahkan, kewajiban setiap orang. Jadi, para pengurus yang berpikir bahwa Khalifah akan merasa direpotkan, harus menjauhkan pikiran itu dari benaknya, menyelamatkan saya dari dosa dan mereka sendiri harus terhindar dari dosa.

Jika demi ishlah (perbaikan dan kebaikan) harus dilakukan proses juga bagi orang besar (pimpinan dalam Jemaat), maka lakukanlah dan tentu jangan mempedulikan, apa pengaruh yang akan terjadi? Jika keputusan itu dilakukan berdasarkan ketakwaan dan niat yang tulus, maka ingatlah! Dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala akan senantiasa menyertai saudara-saudara. Jika tidak, ingatlah! Jika Jemaat Ahmadiyah merupakan Jemaat Ilahi dan memang sesungguhnya merupakan Jemaat Ilahi, maka Allah Ta’ala membimbingnya dan akan terus membimbingnya. Sampai batas tertentu, beberapa pengurus akan dimaafkan tetapi, jika selanjutnya Allah Ta’ala memasukkan kedalam hati Khalifah-e-Waqt atau dengan cara lainnya, mencabut kesempatan pengkhidmatan pengurus tersebut [memberhentikan dari jabatan di Jemaat], dia akan diluputkan dari pengkhidmatan. Karena itu, para pengurus harus senantiasa melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan menempuh ketakwaan. Keputusan atau pekerjaan saudara jangan berada di bawah pengaruh hawa nafsu. Semoga Allah memberikan taufik kepada semuanya. [Aaamiin]

Perkara lain yang hendak saya sampaikan kepada para anggota Jemaat, sebagaimana saya telah katakan sebelumnya bahwa jumlah yang amat besar dengan karunia Allah Ta’ala menjalin hubungan kesetiaan dan keikhlasan dengan Khilafat. Tetapi, ingatlah! Regulations, surat dan janji setia ini akan dianggap benar jika terbukti benar, ketika saudara-saudara menjadikan pengakuan tersebut sebagai bagian hidup saudara-saudara. Janganlah bersorak-sorai dengan semangat sementara. Ketika saat pengorbanan-pengorbanan tetap tiba, ketika waktu harus dikorbankan, ketika jiwa harus dikorbankan, maka gundukan masalah-masalah berada di hadapan saudara-saudara.

Jadi, jika saudara-saudara menyatakan bahwa saudara-saudara mencintai Khilafat demi Allah Ta’ala, maka saudara-saudara juga harus menaati sepenuhnya Nizham Jemaat yang merupakan bagian dari Nizham Khilafat. Anjuran yang ditetapkan oleh Khalifah-e-Waqt untuk tetap teguh pada ketakwaan dan sesungguhnya ini sesuai dengan hukum-hukum Allah Ta’ala, itu harus diamalkan. Allah Ta’ala telah menjanjikan nikmat-nikmat Khilafat dalam surah An-Nur, di ayat-ayat sebelumnya diterangkan suatu pokok permasalahan bahwa taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan takutlah kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya, maka kalian akan beruntung. Jika tidak, pengakuan yang kosong belaka bahwa kita akan melakukan ini dan kita akan melakukan itu. Kita akan berperang di depan dan kita akan berperang di belakang. Dalam ayat-ayat itu Allah Ta’ala berfirman:

 وَ مَنْ يُّطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ يَخْشَى اللهَ وَ يَتَّقْهِ فَاُولئِكَ هُمُ اْلفآئِزُوْنَ-وَ اَقْسَمُوْا بِاللهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ لَئِنْ اَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ-قُلْ لاَّ تُقْسِمُوْا طَاعَةٌ مَّعْرُوْفَةٌ-اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka inilah orang-orang yang beruntung dan mereka bersumpah kepada Allah dengan sumpah yang kuat bahwa jika Engkau memerintahkan kepada mereka, maka mereka pasti akan keluar. Katakanlah bahwa janganlah kalian bersumpah. Taatlah sesuai dengan aturan. Sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang kalian lakukan. (An-Nur: 53-54)

Walhasil, pada hakikatnya, jika ini merupakan pengakuan benar, maka yang dimaksudkan dengan ketakwaan adalah membayar hak-hak (memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap) Allah Ta’ala, menunaikan hak-hak para hamba-Nya, berupaya untuk mengamalkan nasehat-nasehat yang disampaikan pada hari-hari Jalsah, menciptakan perubahan-perubahan suci dalam diri masing-masing, mengamalkan janji bahwa kita akan berusaha untuk mengamalkan setiap keputusan yang ma’ruf. Jika tidak, janji ini, pengakuan ini adalah kosong belaka. Dalam hal pengorbanan, kalian dapat mengatakan dengan lidah kalian sendiri, “Kami akan melunasinya.” Tetapi, ingatlah! Allah Ta’ala Mengetahui hakikat pengakuan-pengakuan saudara-saudara. Dia mengetahui isi. Dia mengetahui kondisi hati setiap orang. Dia mengetahui hakikat perkataan yang sebenarnya. Karena itu, Dia tidak dapat ditipu.

Jadi, setiap Ahmadi hendaknya berupaya untuk mengarungi hidupnya dengan menanamkan rasa takut kepada Allah dalam hatinya. Jika kalian mengarungi hidup demikian, maka hubungan kalian dengan Khilafat semakin kuat. Dikarenakan hubungan ini terjadi demi keridhaan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan senantiasa menganugerahkan karunia-Nya kepada kalian. Allah Ta’ala telah menetapkan orang-orang yang mengerjakan amal-amal shaleh sebagai orang-orang yang meraih limpahan dari nikmat Khilafat. Jadi, syarat untuk mengikatkan diri kepada Khilafat adalah amal-amal shaleh. Khilafat Ahmadiyah insya Allah akan senantiasa berdiri tegak. Ini adalah janji Allah Ta’ala. Tetapi, Nizham Khilafat berkaitan denan orang-orang yang berjalan pada ketakwaan dan mengerjakan amal-amal shaleh. Jika kita perhatikan, maka akan nampak kepada saudara-saudara bahwa rumah-rumah yang di dalamnya shalat dilaksanakan dengan dawam, rumah-rumah tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan Nizham.

Orang-orang yang mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala, mereka juga memiliki ikatan yang kuat dengan Khilafat dan Nizham. Rumah-rumah yang di dalamnya shalat tidak dilaksanakan dengan rutin, rumah-rumah yang di dalamnya tidak ada tekanan khusus untuk berjalan pada hukum-hukum Allah Ta’ala, meskipun mereka itu Ahmadi, tetapi mereka tidak menghormati Nizham Jemaat. Mereka yang tidak menunaikan hak-hak sesama secara benar, merekalah orang-orang yang duduk di rumahnya dan memberikan komentar-komentar negatif terhadap Khalifah-e-Waqt. Mereka menganggap dirinya sendiri melebihi Nizham Jemaat dan para pengurus Jemaat. Orang-orang seperti ini mulai berkomentar. Timbul juga hal lain dari para pengurus yang sampai kepada Khalifah-e-Waqt. Ketika keputusan Jemaat sampai kepada mereka, mereka malah merasa keberatan, bukannya beristighfar. Padahal, di dalam Nizham Jemaat terdapat kemudahan melalui Khilafat bahwa jika seseorang berpikir bahwa keputusan diberikan terhadap suatu pihak [menganggap bahwa keputusan pimpinan Jemaat memihak dan tidak adil], maka urusan itu dapat disampaikan langsung kepada Khalifah-e-Waqt.

Jika keputusan itu diberikan kepada seseorang karena beberapa saksi atau kata-kata manis seseorang, maka itu harus diterimanya dan tidak merasa keberatan terhadap Nizham tanpa alasan tertentu. Karena keberatan ini lambat-laun akan sampai pada atasan. Pada kesempatan-kesempatan seperti itu, hendaklah hadits ini ditanamkan di dalam benak dan diperhatikan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang meminta keputusan tentang dirinya melalui diriku karena kata-kata manisnya, padahal dia tidak benar, maka dia sedang memasukkan bola api ke dalam perutnya. Yakni, dia sedang mewajibkan jahannam terhadap dirinya dan hampir Allah Ta’ala menjerumuskannya ke dalam kehinaan di dunia ini karena perbuatan tersebut. Dia akan mengalami beberapa kesedihan karena beberapa cara. Dia terjerumus dalam kesulitan-kesulitan karena beberapa faktor.”

Pendeknya, seperti telah saya katakan sebelumnya kepada para pengurus, mereka harus memberikan keputusan dengan memenuhi tuntutan keadilan. Tetapi, saya katakan kepada kedua belah pihak bahwa saudara-saudara juga harus berprasangka baik (husnuzh zhann) dan jika keputusan itu bertentangan [dengan keinginan satu pihak], serahkanlah urusan itu kepada Allah. Sebagaimana tertera dalam hadis bahwa biarkanlah pihak kedua untuk mengisi perutnya dengan bola api [jika hasil keputusan memihaknya karena kata-kata manisnya, padahal ia salah].

Daripada memperpanjang perselisihan dan di berbagai tempat membicarakan Nizham Jemaat, lebih baik mengamalkan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu berlakulah dengan benar dan jujur dan bersikaplah seperti seorang pendusta yang hina. Allah Ta’ala akan menciptakan semangat pada semuanya dan dia akan menjadi orang yang menunaikan hak-hak satu sama lain.

Tetapi, di sini saya hendak menjelaskan suatu hal kepada para Amir, khususnya kepada para pengurus bahwa di negara-negara Barat ini, sebagaimana telah saya singgung dalam pidato Jalsah, jumlah keretakan rumah tangga atau pertikaian antara suami-istri semakin meningkat. Keretakan ini terjadi, dan meskipun tahu dan memiliki rasa simpati, Nizham Jemaat tidak dapat berbuat apa-apa karena beberapa batasan. Sebab, dalam beberapa bentuk, hukum negara memberikan banyak hak kepada satu pihak dikarenakan itu hak-hak syariatnya, meskipun secara tidak benar [dalam menjalankan haknya itu]. Oleh karena itu, para suami zalim yang melakukan penganiayaan dan mengusir istri-istrinya dari rumahnya tidak memandang apa itu kekerasan.

Selanjutnya, para lelaki penganiaya [para suami Jemaat yang kejam] juga menutup mata bahwa pada masa kekerasan dari mereka berlangsung, anak-anak berada dalam pangkuan ibunya sampai beberapa bulan. Nizham Jemaat hendaknya membantu para perempuan melawan (menghadapi) orang-orang seperti ini. Jika kasus tersebut harus tercatat dibawa ke kepolisian, maka harus didaftarkan ke sana. Jangan bertindak demikian, yaitu kita akan putuskan dalam Jemaat dan tidak akan dibawa keluar. Setelahnya [setelah pelaporan ke kepolisian], jika keputusan dapat dilakukan dalam Jemaat, maka kasus tersebut dapat ditarik kembali. Tetapi, untuk tindakan pertama harus dilaporkan. Selanjutnya, perempuan-perempuan yang tidak punya ahli waris dan sebatang kara yang tinggal di negara-negara ini, karena ibu-bapaknya tidak ada di sini dan tinggal di rumah orang lain, maka Jemaat harus mengurusnya. Jemaat harus mengatur tempat tinggalnya. Bagi mereka perlu diatur penasehat hukum. (jika secara lahiriah masalah itu perlu ditutup-tutupi, itu masalah lain.) Hukuman (sanksi) Jemaat harus direkomendasikan (dikirim usulannya) kepada saya perihal suami-suami kejam seperti ini. Dengan segera para Amir Amerika dan Kanada harus membuat daftar. Begitu juga negara-negara Barat yang lain. Beritahukanlah melalui Lajnah dan perempuan-perempuan seperti ini harus diberi hak-haknya. Perempuan-perempuan yang hak-haknya tidak ditunaikan dan Nizham Jemaat tidak bergerak dalam hal ini, maka perempuan-perempuan itu harus menulis surat memberitahukannya secara langsung kepada saya.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban kita dalam corak yang sangat baik dan menjadi bagian terpenting Jemaat dengan berjalan pada ketakwaan. Kita menjadi orang-orang yang memenuhi tujuan, yang untuk itu Allah Ta’ala telah membangkitkan Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita harus melahirkan perubahan-perubahan suci dalam diri kita sebagaimana yang diharapkan oleh beliau as dari kita. Kita membentuk contoh-contoh baik, supaya orang-orang luar juga perhatian kepada kita karena teladan-teladan baik tersebut. Dengan sarana itulah kita mendapat taufik untuk membawa seluruh dunia di bawah panji Hadhrat Rasulullah saw. Oleh karena itu, kita harus menyempurnakan keimanan-keimanan kita. Jika dalam pikiran-pikiran ada kebengkokan, maka itu harus dijauhkan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Allah Ta’ala telah berjanji bahwa ketika seseorang menjadi mu’min yang sempurna, maka Dia membuat pembeda antara dia dengan yang lain. Karena itu, pertama-tama jadilah seorang mukmin. Demikian juga, jangan sekali-kali mencampur-adukkan tujuan-tujuan dunia dengan tujuan-tujuan murni baiat yang bergantung pada ketakutan kepada Tuhan dan ketakwaan. Dawamkanlah mengerjakan shalat-shalat dan sibukkanlah diri dalam tobat dan istighfar. Peliharalah hak-hak sesama manusia dan jangan melukai seseorang. Tingkatkanlah dalam kejujuran dan kesucian. Allah Ta’ala akan menganugerahkan segalam macam karunia.”[4]

Inilah harapan-harapan yang diinginkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari kita. Jauhilah kezaliman-kezaliman satu sama lain demi hal-hal duniawi. Maju dalam kejujuran dan kesucian adalah sarana mengantarkan diri kepada Allah Ta’ala dan sarana penarik karunia-karunia Allah Ta’ala. Ketika kita menjadi penarik karunia-karunia Allah Ta’ala, maka kita akan mendapatkan bagian terbesar dari karunia dan kenikmatan tersebut yang Allah Ta’ala jalankan dalam corak Khilafat dalam diri kita. Jika kita mengklaim akan melaksanakan segala pengorbanan untuk tetap berdirinya Khilafat Ahmadiyah, tetapi melakukan penipuan kepada Khalifah-e-Waqt dalam ucapan dan perkataan, maka Allah Ta’ala akan menjalankan hukum-Nya.

Penganiaya dapat terhindar dari orang-orang dunia karena kezhaliman-kezhalimannya. Dia dapat terhindar dari makhluk Allah Ta’ala yang ilmunya terbatas. Tetapi, tidak dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya memperbaiki diri sendiri dari segi tersebut. Bagaimana cara kita harus melahirkan kebaikan-kebaikan dalam diri kita sendiri? Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda: “Ibadah nafal-nafal senantiasa memenuhi dan menyempurnakan amal-amal baik dan ini adalah faktor kemajuan-kemajuan. Definisi seorang mukmin adalah dia melaksanakan kebaikan-kebaikan, sedekah-sedekah dan lain-lain yang telah ditetapkan wajib oleh Tuhan dan dia memiliki kecintaan pribadi dalam melakukan segala perbuatan yang baik dan tidak dicampuri sikap yang dibuat-buat, pamer dan riya.

Kondisi seorang mukmin demikian ini mengungkapkan keikhlasan dan hubungan sejatinya dan melahirkan ikatan yang kuat dan kokoh dengan Allah Ta’ala. Pada waktu itu, Allah Ta’ala menjadi lidahnya yang dengannya ia berbicara. Dia menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar dan Dia menjadi tangannya yang dengannya dia bekerja. Ringkasnya, setiap perbuatannya dan setiap gerak diamnya menjadi milik Allah. Pada waktu itu, orang yang memusuhinya, dia memusuhi Tuhan.”[5]

Disabdakan [oleh Hadhrat Masih Mau’ud as], dalam setiap pekerjaan baik harus ada kecintaan pribadi. Suatu perbuatan baik harus dilakukan dengan gejolak semangat, bukan dengan terpaksa dan dibuat-buat. Kebaikan itu ada bukan untuk mengelabui dunia. Bukan juga untuk menampilkan diri (pamer). Jadi, inilah definisi melaksanakan amal-amal baik dan tegak pada ketakwaan. Ketika kita melaksanakan amal-amal dengan cara itu, kita akan menjadi orang-orang yang mendapatkan bagian dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya. Walhasil, untuk meraih bagian dari nikmat-nikmat tersebut ada sebuah amal yang berkesinambungan dan tetap yang harus ditempuh oleh seorang mukmin.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada saudara-saudara semua supaya senantiasa menjadikan berkat-berkat hari-hari sebelumnya yang telah saudara-saudara raih sebagai bagian dari kehidupan dan saudara-saudara menjadi orang-orang yang menjauhkan kebencian-kebencian satu sama lain yang berkembang di berbagai tempat di lingkungan masyarakat. Kita harus senantiasa memperhatikan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as ini. Suatu kali beliau as bersabda dengan penuh rintihan, “Orang-orang Jemaat kita hendaknya jangan mencemarkan nama baikku setelah menjadi muridku.”

Selanjutnya, beliau as bersabda, “Jemaat kami hendaknya memperlihatkan suatu hal yang berbeda. Jika seseorang datang berbaiat dan tidak memperlihatkan suatu hal yang berbeda-dia memperlakukan istrinya seperti dahulu kala dan tampil kepada keluarga dan anak-anaknya seperti dahulu kala-maka ini bukanlah suatu hal yang bagus. Jika setelah baiat keburukan akhlak, perlakuan buruk dan kondisinya seperti dulu, lalu apa faedah dari berbaiat? Setelah baiat dia harus terlihat menjadi contoh keteladanan bagi orang-orang lain, kaum kerabat dan tetangganya, sehingga mereka angkat bicara, ‘Kini dia tidak seperti dahulu.’ Ingatlah sebaik-baiknya bahwa jika kalian melakukannya dengan benar, maka wibawa kalian pasti akan melekat pada orang lain.”[6]

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada semuanya untuk memenuhi hak baiat, menjadi orang-orang yang senantiasa maju dalam kebaikan-kebaikan, menjadi orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan-kebaikan, menjadi orang-orang yang membayar hak-hak Allah Ta’ala, menjadi orang-orang yang membayar hak-hak para hamba [menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap sesama makhluk] dan naungan karunia-karunia Allah Ta’ala senantiasa berada di atas kita.

Ini adalah Jumat terakhir lawatan saya di sini, di Kanada. Secara singkat, saya singgung di sini bahwa kesetiaan, kasih sayang dan keikhlasan yang saya lihat dan rasakan dalam diri saudara-saudara, semoga hal ini senantiasa ada. Semoga keteladanan dan kesan-kesan kebanyakan dari antara saudara-saudara yang unggul dalam keikhlasan dan kesetiaan membawa serta orang-orang yang lemah untuk ikut menyatu dengan mereka dan melindungi dari segala fitnah. Semoga Allah menjaga saudara-saudara dari setiap fitnah dan menganugerahkan taufik kepada saudara-saudara, supaya menjadi orang-orang yang menyampaikan pesan Ahmadiyah dan Islam hakiki kepada orang-orang di kawasan tersebut dan menjadi orang-orang yang memperlihatkan jalan yang membawa makhluk Allah Ta’ala menuju Allah. Semoga Allah senantiasa mengantarkan kabar-kabar bahagia dari saudara-saudara kepada saya. Khuda haafizh (Semoga Tuhan menjaga anda), Assalaamu ’alaikum.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Muslim, kitab Al-Imarah, bab Khiyar Al-A’imah Wa Syirarihim (siapa itu sebaik-baik pemimpin dan siapa itu seburuk-buruk pemimpin). Sahabat Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik penguasa (pemerintah) kalian adalah pemerintah yang kalian sayangi mereka dan mereka menyayangi kalian. Kalian senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. (Adapun) sejahat-jahat pemerintah adalah mereka yang kalian membencinya, dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.”

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

[3] Tirmidzi, Abwab Al-Ahkam, bab Maa Ja’a Fi Al-Imam Al-‘Adil

[4] Malfuzhat, jilid 3, halaman 434, edisi baru; Al-Hakam, 17 Oktober 1903, halaman 2

[5] Malfuzhat, jilid 3, halaman 343, edisi baru; Al-Hakam, 30-06-1903, halaman 10-11

[6] Malfuzhat, jilid 5, halaman 282-283, edisi baru; Al-Hakam, 2409-1907, h. 3-4