Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 27 Syahadat 1391 HS/ April 2012

Di Masjid Darul Amaan, Greenheys Lane, Hulme Manchester-UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ * رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

Terjemahan ayat-ayat ini adalah “Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan pondasi-pondasi Rumah khusus itu (Baitullah, sembari mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah ini dari kami; Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan jadikanlah dari antara keturunan kami satu umat yang menyerahkan diri kepada Engkau. Dan tunjukanlah kepada kami cara-cara ibadah, dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkau-lah Penerima Taubat, Maha Penyayang. ‘Ya Tuhan kami, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang rasul di antara mereka yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau, dan yang mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan akan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Surah Al-Baqarah, 2:128–130)

            Ayat-ayat ini mengandung (tema tentang) contoh yang agung dan penjelasan mengenai doa-doa yang didalamnya terdapat kerendahan hati, inkisaari (keshalihan), pengorbanan dan kesetiaan, perhatian untuk memikirkan dan doa-doa bagi anak keturunan agar senantiasa menjalin ikatan dengan Allah; petunjuk dan bimbingan bagi dunia; pemikiran dan doa agar menjadi hamba-hamba Sang Rahmaan dan penegakkan standar yang tinggi dari doa. Bagian pertama ayat tersebut menyebut-nyebut pengorbanan besar yang dilakukan oleh Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as. Yakni, tiap-tiap batu yang mereka letakkan sebagai dinding khanah Ka’bah yang mereka dirikan, menunjukkan hal ini, bahwa sang ayah menempatkan sang anak serta generasi penerus yang lahir darinya di lembah yang kering dan tak berpenduduk itu. Kepada sang anak, beliau as mengisyaratkan hal ini, “Sekarang engkau harus tinggal di lembah sunyi tak berpenghuni dan kering (tiada tumbuh-tumbuhan) ini supaya Rumah ini nanti dapat diramaikan.” Kedua manusia agung itu, kedua utusan Allah Ta’ala itu sangat meyakini, bahwa pada suatu hari, Rumah ini akan menjadi pusat seluruh dunia, namun belum tahu kapankah waktunya? Pada waktu itu yang nampak hanya pengorbanan dan hanya pengorbanan [mereka sangat menyadari, bahwa untuk itu harus memberikan pengorbanan-pengorbanan] namun meskipun demikian [hal tersebut sudah merupakan suatu pengorbanan yang besar], mereka justru memperlihatkan kerendahan diri yang sangat memuncak. Yakni, ketika mereka berdoa kepada Allah Ta’ala seperti ini, “Kami yang telah melakukan pembangunan Rumah Engkau ini; semua itu semata-mata berkat karunia Engkau. Oleh karena itu, terimalah pengorbanan ini.” Tidak tersirat sedikitpun bahwa pengorbanan mereka itu penting dengan mengatakan, “Pekerjaan yang telah kami lakukan ini; membuat kami berhak untuk mendapatkan sesuatu ganjaran atau segera mendapatkan pahalanya.” Melainkan, “Ya Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (As-Samii’ dan Al-‘Aliim)! Yang Maha Mendengar doa-doa! Dengarkanlah doa-doa kami! Apa-apa yang ada pada kami yang untuk dikorbankan itu telah kami lakukan pengorbanannya; kami juga berjanji akan senantiasa melakukan pengorbanan di masa-masa yang akan datang. Bahkan, kami menginginkan agar anak keturunan kami ikut serta dalam pengorbanan ini.” Itulah dia doa yang dipanjatkan oleh dua orang mulia itu. Selanjutnya mereka mengatakan kepada Allah Ta’ala, “Kami meletakkan hakikat hati kami di hadapan Engkau. Engkau adalah ‘Aliim, Engkau Maha Mengetahui bahwa apa-apa yang kami lakukan atau kami katakan, hanya dan hanya semata-mata untuk meraih keridhaan Engkau. Maka, terimalah pengorbanan kami supaya Engkau menjadikannya rumah yang adalah Rumah Engkau dan sebagai berkat dari Rumah Engkau ini maka padang pasir yang liar ini menjadi ramai berpenghuni. Kami pun sesuai perintah Engkau, kami telah membangun Rumah ini dalam pengerjaannya secara lahiriah sesuai pemahaman kami supaya ia menjadi markas (pusat) para penduduk (peradaban), akan tetapi peradabannya yang hakiki. Ya Allah, semua berpulang kepada karunia Engkau. Karuniakanlah basharat dan bashirat (mata rohani) kepada orang-orang yang secara lahiriah menghuni Rumah ini yang dapat menyampaikan kepada Engkau dan memajukan kerohanian.” Inilah dia ruh (niat dan langkah yang benar), yang hendaknya kaum Muslimin mengikutinya manakala mereka membangun masjid-masjid. Jika tidak, keindahan bangunan fisik saja tiadalah artinya. Hadhrat Muhammad Rasulullah saw bersabda bahwa tidak boleh ada sesuatu dekorasi maupun benda-benda yang menarik perhatian [di dalam Masjid] seperti para pemeluk agama lainnya yang menghias tempat-tempat ibadah mereka. [2]

Namun demikian, kita menyaksikan banyak sekali masjid yang dihias, yaitu masjid-masjid yang dibangun oleh raja-raja dan para hartawan (orang-orang kaya), bahkan ada berbagai benda tempelan yang terbuat dari campuran emas. Padahal, hal-hal itu bukanlah keindahan sebuah Masjid, baik campuran aliran emas maupun hiasan-hiasannya. Keindahan masjid-masjid adalah dengan para warga jamaahnya yang memakmurkannya. Mereka memakmurkannya dengan murni untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala.

            Suatu kali Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menceritakan pengalaman beliau di suatu tempat mungkin menceritakan tentang Mesir, “Saat saya berada di satu negeri Arab, saya berkunjung ke suatu Masjid agung nan indah. Di sana saya menyaksikan empat atau lima orang saja yang melaksanakan Shalat di salah satu sudut Masjid tersebut. Saya bertanya, ‘Bagaimanakah kisah sebenarnya?’ Imam Masjid yang tadi memimpin shalat menjawab, ‘Orang-orang tidak datang ke Masjid ini untuk melaksanakan shalat dan dikarenakan saya merasa malu jika harus berdiri di Mihrab [biasanya ruangan kecil terbuka tempat imam] untuk memimpin shalat karena bila ada orang baru datang dan melihat hal itu ia akan mengatakan, “Masjid ini demikian besar dan indah namun yang shalat hanya empat atau lima orang saja.” Maka kami pun mendirikan Shalat di pojokan Masjid, sehingga orang yang datang kemudian menganggap bahwa shalat utama [fardhu lima waktu] sudah selesai dan selanjutnya kami ini adalah orang-orang yang datang setelahnya untuk shalat.’” [3]

            Akan tetapi gambaran lainnya ialah orang-orang biasa pergi ke masjid, pun masjid-masjid tampak makmur (ramai), tapi dibangun dengan qalbu yang kosong. Sudah ada pamrih duniawi dari sejak awalnya. Tidak murni tawajjuh (fokus) kepada Allah.

            Oleh karena itu hendaklah senantiasa diingat oleh kita bahwa ketika membangun sebuah masjid hendaklah menjadi orang yang menundukkan diri di hadhirat Allah dan menjadi orang yang memperoleh keridhaan-Nya; dan bagi mereka yang berkorban untuk membangun masjid; hendaknya atas hal itu bersyukur kepada Tuhan bukan merasa bangga dalam corak apa pun. Sebab, pengorbanan yang kita persembahkan ini, seberapapun besarnya ia, tidak mencapai seperseribu bahkan lebih kecil dari itu dibandingkan pengorbanan besar yang telah berhasil dipersembahkan oleh Hadhrat Ismail as. Sebab, pengorbanan kita terbatas kepada pengorbanan harta benda yang pada umumnya masih terjangkau. Tidak dipungkiri, dalam situasi dunia yang serba materialistis seperti sekarang ini, berkorban besar dalam berinfaq dan membangun masjid adalah amal yang terpuji. Dan nyatanya, mereka yang melakukannya, telah memperoleh ganjaran pahalanya dari Allah Ta’ala. Dan dengan karunia Allah, Jemaat kita telah demikian bersemangat untuk membangun Masjid di berbagai negara Barat. Sedemikian rupanya [ghairah mereka ini] sehingga mereka rela untuk menanggung beban demi untuk dapat membangun Masjid-masjid. Namun, hendaknya kita tetap ingat untuk tidak memperlihatkan sesuatu sikap bangga.

            Jumlah total biaya pembangunan Masjid ini adalah 12 Lakh Pound (sama dengan £1,200.000; satu juta dua ratus ribu Pound) dan Jemaat telah berjanji membiayainya sejumlah itu dan dengan karunia Allah pelunasan perjanjiannya telah dan sedang berjalan. Sebesar 75 % dari perjanjiannya juga telah dilunasi, Sebagian dari anggota Jemaat ini telah memberikan suatu pengorbanan yang besar. Saya menyaksikan sendiri ada perorangan yang memberikan infaqnya sebesar £ 84,000 atau £ 78,000. Ada juga yang sebesar £ 15,000 hingga £ 30,000. Sekitar  11 orang saya lihat yang total perjanjiannya mencapai £ 300,000 lebih. Ini semua adalah suatu pengorbanan yang besar yang dilakukan oleh orang Jemaat di hari-hari dan di zaman seperti sekarang ini. Namun, hendaknya tiap pengorbanan mengarahkan kita untuk tetap bersikap ‘aajizii (merendahkan diri). Sebab, dibandingkan dengan contoh [Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as] yang Allah Ta’ala telah kemukakan kepada kita, pengorbanan-pengorbanan kita demikian rendah, tiada artinya.

            Dan juga, faedah lainnya dari pengorbanan-pengorbanan itu keberadaannya baru terlihat apabila Masjid tersebut dimakmurkan [diramaikan dengan para ahli ibadanya]. Lokasi Darullah tersebut awalnya dibangun di suatu tempat yang terpencil dan tidak berpenduduk, di sana dibangun sebuah Rumah Allah dan dari segi pandangan rohani, Belahan Dunia Barat kini pun sebenarnya tidak ubahnya seperti tanah yang kosong; yang untuk itu wajib kita suburkan kondisi kerohaniannya. Untuk tujuan inilah kita membangun Masjid-masjid di Eropa. Pendeknya, ini adalah pekerjaan besar yang pikiran kita harus selalu tetap mengarah padanya. Namun, Masjid-masjid tersebut hendaknya tidak dimakmurkan pada Hari Jum’at saja, melainkan pada shalat-shalat lainnya juga dan saat pembukaan masjid ini kita lakukan, panjatkanlah doa رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ  ‘Rabbana, taqabbal minnaa, innaka antas Samii’ul Aliim, – “Ya Rabb kami, terimalah ini dari kami; Sesungguhnya Engkau-lah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

            Jadi, pengorbanan harta kita pada waktu itu akan mendapatkan derajat pengabulan tatkala kita berjanji kepada Tuhan dalam hal ini dan berdoa, “Setelah Engkau menerima pengorbanan-pengorbanan tersebut, bekalilah kami dengan sarana-sarana untuk kemajuan kerohanian kami dan berilah kami taufiq untuk dapat memelihara kemakmuran Masjid ini. Sebab, Engkau Maha Mengetahui bahwa Masjid ini tengah dibangun murni hanya semata-mata karena Engkau dan jadikanlah supaya orang-orang yang maju dalam kerohaniannya bermukim di sekitarnya [di sekitar masjid guna memakmurkannya, Red.]. Sebab, masjid ini telah dibangun untuk mengingat Engkau sepenuhnya. Pendek kata, semoga Engkau berkenan untuk menerima pengorbanan kami, kemudian menyampaikan kami ke maqam (kedudukan) kerohanian itu yang melalui sarana itu menjadikan kami dekat dengan Engkau, supaya dengan mendapatkan ni’mat-ni’mat Engkau, Engkau menjadikan kami sebagai pewaris surga Engkau.”

            Hadits-hadits memberitahukan demikian. Sebuah hadits dari Musnad Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, “Pada Hari Kiamat, Allah Ta’ala akan menyatakan bahwa semua manusia yang dikumpulkan akan mengetahui siapakah di antara mereka yang dimuliakan dan dihormati.” Seseorang bertanya, “Siapakah mereka yang mulia itu, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang suka berkumpul untuk berdzikr (mengingat Allah) di masjid-masjid.” [4]

            Kemudian satu hadits Bukhari yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah ra. Hadhrat Rasulullah saw pun bersabda, “Seseorang yang rajin pergi ke Masjid setiap Fajar dan Maghrib, Allah Ta’ala akan menyambut mereka dengan jamuan di surga.” [5]

            Maka, seharusnya masjid-masjid kita menjadi penegak standar kemuliaan dan keagungan. Semoga Allah menjadikan masjid ini dan mereka yang memakmurkannya di sisi Allah adalah orang-orang yang disukai Allah. Mereka adalah orang-orang yang semata-mata mencari keridhaan Allah Ta’ala. Di surga kelak mereka akan mendapat bagian sambutan dan jamuan dari Allah Ta’ala. Maka sungguh beruntunglah mereka yang ikut membangun Masjid dengan niat ini dan mereka melangkah ke masjid atas niat tersebut. Sehingga, mereka pun tidak hanya memperoleh surga di dunia ini saja, bahkan mereka mendapatkannya di dunia yang itu juga (akhirat nanti) yang merupakan dunia kedua. Disebabkan mereka berusaha untuk mendapatkan keduanya. Atau katakanlah, ‘Jika engkau mau tidak hanya mencari surga dunia yang itu yang telah disebut-sebut dalam hadits-hadits bahkan juga mencari surga dunia ini.’ Seringkali di dalam kubah masjid-masjid kita termasuk juga di masjid ini terdapat lafadz اَلَا بِذِکۡرِ اللّٰہِ تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ ‘Alaa bidzikrillaahi tathma’innul quluub.’… dan ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram…’ (Surah Ar-Ra’d, 13:29). Maka surga besar apalagi selain mereka yang di dalam qalbunya memperoleh ketenteraman ini? Dewasa ini di dunia ini telah terjadi berbagai kerusakan dikarenakan manusia telah melupakan Allah Ta’ala. Ada pun mereka yang senantiasa berdzikr kepada Allah (mereka yang ingat kepada-Nya) mereka dengan lisan mereka melantunkan dzikirnya; mereka bersedia menanggung berbagai kesulitan demi Tuhan semata. Mereka menjadikan kesulitan-kesulitannya itu justru sebagai sarana untuk memperoleh keridhaan Ilahi, yang atas dasar itu, menjadi pembangkit ketenteraman hati mereka. Sebaliknya, disebabkan gagal menghadapi sesuatu musibah, ada ratusan orang yang setiap harinya mati bunuh diri di dunia ini. Ada pula sebagian lainnya yang tewas terkena serangan jantung yang fatal ketika menghadapi musibah ataupun keterkejutan yang luar biasa. Sebagaimana yang baru-baru ini terjadi, seseorang dari Pakistan menulis kepada saya, “Di daerah Syaikhupura terjadi taufan yang sangat kencang dan merusak dan tanaman-tanaman milik orang-orang di situ yang siap panen pun rusak. Seorang petani mengunjungi ladangnya untuk melihat, ia sangat terkejut menyaksikan kerusakan itu, sehingga ia pun wafat terkena serangan jantung.” Inilah kesedihan-kesedihan duniawi; dikarenakan kerugian-kerugian duniawi orang-orang (jamaah) Ilahi tidak akan terjadi seperti demikian. [setiap bentuk derita duniawi tidak sampai mempengaruhi jiwanya hingga rusak.] Sebaliknya, justru membuat dirinya berlari ke arah kecintaan dan pangkuan Allah Ta’ala.

            Seorang mu’min dalam kesedihannya memperoleh ketenteraman qalbu dengan senantiasa datang ke pangkuan Tuhan. Tuhan berfirman di satu tempat dalam Alqur’an Karim Surah ar-Rahman وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ‘wa liman khaafa maqaama rabbihi jannataan’ – “Orang yang berdiri di hadapan Tuhan dengan rasa takut; baginya ada dua surga.” (Surah Ar-Rahmaan, 55:47). Jadi, bagi orang-orang yang menyebut-nyebut Allah Ta’ala dengan rasa takut kepada-Nya; mereka orang-orang yang beribadah kepada-Nya; mereka mendapatkan hati yang tenang lalu meraih surga dunia ini juga. Selanjutnya surga di dunia ini yang didapatkan oleh karena seorang hamba menjadi ‘abdur Rahman’ (hamba Sang Rahman) maka mereka pun dijadikan-Nya pewaris surga di alam yang akan datang.

            Kemudian ayat selanjutnya yang telah saya tilawatkan [di awal Khotbah ini]. Di dalamnya terkandung doa-doa permohonan Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as ini رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ ‘Rabbanaa waj’alnaa muslimaini lak’ – “Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua hamba-hamba yang baik [yang benar-benar menyerahkan diri kepada-Mu]!” Perhatikanlah juga, maqam aajizii (kondisi merendahkan diri) yang diungkapkan di sini sedemikian mulianya. Meskipun mereka telah berkorban besar, meskipun mereka adalah orang-orang yang diutus oleh Allah Ta’ala, tetap saja berdoa demikian, “Ya Tuhan, jadikanlah kami sebagai hamba-hamba Engkau yang baik!” Meskipun Hadhrat Ibrahim as berdasarkan perintah Allah telah meninggalkan anak dan istri beliau di padang terpencil, namun dalam keadaan demikian beliau memohon, “Jadikanlah hamba sebagai orang yang berserah diri kepada Engkau (Muslim)!” Demi Allah Ta’ala, beliau as telah memberikan (mengorbankan) segala sesuatu. Anak-anak telah dikorbankan, demikian pula istri. Beliau tetap berdoa agar dikaruniakan menjadi orang yang betul-betul taat, “Jadikanlah saya sebagai orang yang patuh (taat) dengan sempurna!” Demikian pun sang putra as, meskipun telah bersiap sedia memberikan lehernya untuk disembelih (dikorbankan) murni dan ikhlas demi Allah Ta’ala semata, tetap saja beliau as berdoa, “Jadikanlah kami orang-orang yang menaati setiap perintah Engkau, berserah diri dan hamba-hamba yang baik!”

            Pendek kata, inilah maqam (kedudukan) yang setiap orang Mu’min harus meraihnya yaitu tidak pernah merasa bangga dalam corak apa pun; tidak mengandalkan amal perbuatan diri sendiri. Tidak pernah merasa pengorbanannya sudah diterima. Melainkan, senantiasalah menundukkan diri di hadapan-Nya seraya memohon dengan penuh perasaan takut, “Ya Allah! Amal kami sedikit pun tiada arti. Hanya dengan karunia Engkau sajalah, kami dapat menjadi hamba-hamba Engkau yang saleh dan dapat menjadi ‘abdur Rahman (hamba Tuhan Yang Maha Pemurah).” Pendek kata, permohonan kita, doa-doa kita; permohonan kita yang penuh kerendahan diri supaya kita ditegakkanlah diatas kebaikan-kebaikan dan dijadikan-Nya sebagai orang yang setia menjalin hubungan dengan-Nya dan menjadi orang yang berjalan dibawah naungan keridhaan-Nya karena inilah maksud agung yang untuk itu manusia telah diciptakan-Nya. Tambahan lagi, doa-doa tidak sebatas untuk diri kita sendiri, melainkan terus berlanjut hingga generasi mendatang. Doa itu ialah وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ ‘…..wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatan (l) lak….’ – “…dan jadikanlah dari antara keturunan kami satu umat yang menyerahkan diri kepada Engkau.”

            Oleh karena itu, setelah berhasil membangun sebuah Masjid, yang adalah Rumah Allah, konsentrasi kita untuk memakmurkannya tidak terbatas hanya pada kehidupan kita saja, melainkan senantiasa berdoa memohon, “[Ya Allah!] Jadikanlah senantiasa dari antara keturunan kami orang-orang yang memakmurkannya, meraih karunia rohani darinya dan menjadi orang-orang yang taat dengan sempurnya kepada Engkau.” Inilah seharusnya doa seorang yang beriman.

            Jadi, inilah pelajaran saat ini untuk kita bahwa Masjid tidak cukup hanya berkaitan dengan para sesepuh dan yang punya waktu saja. Melainkan, mereka yang sibuk pun hendaknya dapat meluangkan waktu mereka dengan datang ke sini dan meramaikannya. Hendaknya kita mengusahakan agar tumbuh (tercipta) hubungan [dengan masjid] itu di kalangan keturunan kita. Hendaknya tumbuh (tercipta) gairah semangat beribadah kepada Allah diantara para pemuda dan anak-anak keturunan kita. Untuk [mencapai hal] itu, di satu segi sangat penting mengusahakan secara fisik, dan di segi yang lain sarana yang sangat besar adalah dengan banyak berdoa. Allah Ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Mendengar; Dia Maha Mendengar doa-doa yang muncul dari niat-niat yang benar yang ada di hati. Oleh karena itu, berdoalah sedemikian rupa agar tatkala telah terbangun ibadah kepada-Nya, telah terbangun pengamalan atas hokum-hukum Allah Ta’ala kemudian ini berlanjut terus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika diri sendiri pun malas (mengabaikan) dalam mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya ini, maka generasi penerusnya pun akan malas pula.  Kemudian, doa Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ‘…wa arinaa manaasikanaa wa tub ’alainaa…..’ – “…..dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah taubat kami.” Hal ini bagi kita merujuk kepada perhatian akan tarbiyat diri sendiri dan ibadah-ibadah dan juga perhatian akan mengantarkan (membawa) anak-anak kita menuju keadaan yang jauh lebih baik. Makna dari kata مَنَاسِكَنَا ialah ibadah-ibadah, kewajiban-kewajiban dan segala hal yang harus kita tunaikan di hadapan Allah [perintah Ilahi lainnya yang harus dilaksanakan] Jadi, bersamaan dengan ibadah, kita juga harus mengarahkan perhatian kepada penunaian semua hak-hak Allah (kewajiban-kewajiban kepada Allah) dan selanjutnya hendaknya setelah mengamalkan ibadah dan kewajiban-kewajiban kepada Allah tidak lantas merasa, “Saya sudah mengerjakan sesuatu yang besar.” Doa ini تُبْ عَلَيْنَا ‘tub ’alaina’  – “Terimalah taubat kami! Perhatikanlah kami! Terimalah taubat yang demikian yang bila kami melakukan kesalahan kecil agar dimaafkan. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

            Jadi, tujuan utama didirikannya sebuah Masjid akan terpenuhi apabila doa ini diamalkan dengan terus-menerus. Menumbuhkan diantara kita untuk memperhatikan usaha-usaha menunaikan hak guna mencapai keridhaan Allah Ta’ala sehingga hal ini pun mendorong kita untuk berusaha agar anak-anak kita masuk di jalan ini dan kita akan menemukan karunia keberkatan dan rahmat yang demikian luhurnya sebagaimana yang Allah Ta’ala telah alirkan di dunia sebagai natijah dari pengabulan doa-doa yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as; yang mana keberkatan-keberkatan ini telah mendatangkan bagi dunia sebuah inqilaab (revolusi) yang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati [rohaniahnya]; memancarkan sumber-sumber mata air baru kerohanian; tegaknya standar (mutu) peribadatan yang sedemikian rupa tidak pernah disaksikan dan didengar oleh siapa pun. Maka diutuslah  Rasul Agung itu saw yang berdiri diatas puncak peribadatan. Beliau berada diatas puncak kesetiaan [kepada Allah Ta’ala]; beliau yang berdiri diatas puncak penunaian hak-hak Allah dan kemudian beliau mencapai derajat pengabulan Allah Ta’ala; semua ini telah beliau saw capai diatas kedudukan itu bersamaan dengan itu Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada beliau saw yang adalah Rasul Tersayang Hadhrat Khatamul Anbiyaa Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan  قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

‘Qul inna shalaatii wa nusukii wahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiin.’ – “Umumkanlah oleh engkau wahai Muhammad, ‘Sesungguhnya, shalatku, dan pengorbananku, dan kehidupanku, serta kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’ (Surah Al-An’am, 6:163).

            Jadi, mengenai hal ini dalam pandangan Allah Ta’ala, standar peribadatan, pengorbanan, dan amalan telah ditegakkan (ditetapkan) sedemikian rupa, yang belum pernah terlihat ataupun terdengar sebelumnya seperti telah saya katakan tadi. Inilah mi’raaj (puncak kemuliaan/ketinggian) yang telah dikaruniakan kepada majikan kita Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumumkan kepada dunia agar menyatakan bahwa saat ini kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya hanya dapat diperoleh dengan cara mengikuti sepenuhnya Rasul Agung itu, bukan mengikuti yang lain. Uswah Hasanah (Teladan Terbaik) ini dalam diri beliau saw telah tegak standar peribadatan dan pengorbanan. Selanjutnya, mereka yang berusaha memperoleh karunia langsung dari quwwat qudsiyah beliau saw maka terbukalah pintu-pintu baru bagi mereka karunia-karunia Allah Ta’ala sebagai buah dari perjalanan mereka mengikuti keteladanan beliau saw itu. Muncullah orang-orang yang biasa sibuk beribadah di malam hari. Muncullah mereka yang melakukan pengorbanan semata-mata demi agama di siang hari. Orang-orang yang dulunya mati dari segi rohani mendapatkan kehidupan yang sangat luhur. Inilah dia Sang Nabi Agung itu yang diutus hingga Hari Qiamat, untuk seluruh bangsa dan untuk setiap masa. Pendek kata, keberkatan ini pun masih berlangsung sekarang ini. Uswah Hasanah (Teladan Terbaik) ini masih bercahaya dan terang benderang di masa kini juga sebagaimana dulu. Ajaran mulia yang turun kepada beliau saw, yang beliau saw datang untuk membawanya masih bersinar terang (berlaku) hingga kini dan seterusnya. Nabi Agung ini saw telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala di zaman ini ‘ghulam shadiq’ yang diutus diantara orang-orang aakhariin[6]; yang selanjutnya Dia menyuruhnya menjalankan tugas-tugas Hadhrat Rasulullah saw juga yaitu menilawatkan ayat-ayat atau Tanda-tanda Ilahi dibacakan, tazkiyah nafs (penyucian jiwa), mengajarkan Kitab (Alqur’an) dan menjelaskan hikmah dari hukum-hukumnya; dan selanjutnya orang-orang yang menerima ‘ghulam shadiq’ ini berusaha sekuat tenaga mewarnai diri peribadatan mereka dan amal perbuatan mereka sesuai dengan uswah hasanah (keteladanan terbaik) Aqa o Muthaa’ (Majikan dan Junjungan yang ditaati saw) mereka; dan menjunjung tinggi ajaran-ajaran Islam sedemikian rupa sehingga pihak penentang Ahmadiyah pun terpaksa mengakui, “Jika ingin melihat teladan pengamalan syiar-syiar Islam, lihatlah diantara orang-orang [Ahmadiyah] itu!”. Inilah dia standar yang ditegakkan oleh para pendahulu kita yang bukan hanya membungkam mulut para penentang bahkan dari mereka sendiri menyampaikan pernyataan, “Perhatikanlah! Gambaran pengamalan Islam yang sebenarnya ada di kalangan para anggota Jemaat Ahmadiyah.” Inilah saat ini yang menjadi tujuan utama kita yang harus kita sampaikan ke depan yang dengan tetap menyampaikannya kita mampu menutup mulut (membungkam) dunia. Kita harus mencondongkan dunia kearah ajaran Islam yang indah dengan amal perbuatan kita yang baik. Kita harus menyerap karunia-karunia Allah Ta’ala dengan membasahi tempat-tempat sujud kita dengan ibadah-ibadah kita dan dengan shalat-shalat kita. Kemudian kita pun perlu menjadikan anak-anak kita sebagai orang-orang yang menunaikan hak tujuan [tujuan membangun Masjid] ini dengan mengikatkan mereka kepada Masjid. Segera setelah kita mendapatkan keberkatan doa – رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ  ‘Rabbana, taqabbal minnaa, innaka antas Samii’ul Aliim, – “Ya Rabb kami, terimalah ini dari kami; Sesungguhnya Engkau-lah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” – saat itulah kita dapat dikatakan telah memenuhi dengan benar hak-hak (kewajiban-kewajiban) baiat kepada Imam Zaman. Segera setelah kita mengikuti dengan hakiki kepada ‘Mahbuub Khuda’ – Sang Kekasih Tuhan, yakni Hadhrat Muhammad Mushthafa saw, saat itu kita pun memperoleh kecintaan Allah Ta’ala, dan kita juga memperindah kehidupan kita di dunia ini maupun di akhirat.

            Ringkasnya, saat ini bersamaan dengan dibangunnya Masjid ini, mereka yang bertabiat [rohaninya] lemah, hendaknya memperkuat jalan-jalan baru mereka yang merupakan jalan-jalan untuk menyempurnakan janji-janji [baiat]; jalan-jalan untuk membuktikan kebenaran da’wa (pengakuan) hubbi Rasul (mencintai Hadhrat Muhammad Rasulullah) saw; jalan-jalan penuh semangat dalam cinta kepada Allah Ta’ala. Demikian pula, mereka yang sudah mencapai standar (mutu, kualitas kerohanian) yang lebih baik yang selalu tetap menaruh perhatian kepada shalat-shalat; senantiasa datang ke masjid; senantiasa menjaga agar tetap memakmurkan masjid; mereka pun untuk meraih tingkatan yang tinggi dalam hal-hal itu harus tetap berusaha meraih standar setinggi-tingginya dalam menunaikan hak-hak Allah dan ibadah-ibadah mereka.

            Pendek kata, dengan adanya Masjid ini, hendaknya membawa sebuah inqilaab (perubahan revolusioner) kepada segenap Jemaat lokal di sini. [Mengenai kompleks bangunan Masjid Darul Amaan ini], berdasarkan laporan yang saya terima bahwa Ruangan Kaum Prianya dapat menampung 760 orang. Demikian pula laporan yang saya terima menyebutkan ruangan Kaum Wanita menampung sebanyak 560 orang. Dua hall (ruangan tersebut) pada waktu darurat dapat dikembangkan lagi hingga dapat menampung tambahan sebanyak 680 orang. Yakni, masjid ini secara penuh dapat menampung sekitar 2.000 orang. Namun, ungkapan ‘dapat menampung 2.000 orang untuk shalat’ di sini hendaknya sungguh-sungguh diusahakan berubah menjadi ‘orang-orang yang shalat sejumlah 2.000 orang’ sesegera mungkin. Saat itulah akan dapat tertunaikan hak-hak ibadah dan hak-hak pembangunan masjid. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada saudara-saudara (saudari-saudari) untuk melaksanakannya.

            Dengan karunia Allah, Jemaat UK maupun Jemaat di Eropa [Daratan] tengah giat membangun Masjid-masjid akan tetapi keindahan pembangunannya harus disertai dengan adanya para namaazinya (orang-orang yang shalat di dalamnya). Keindahan masjid-masjid itu tergantung kepada adanya para namaazinya. Saya menganalisa bahwa sebelum tahun 2003 ketika Masjid Darul Futuh diresmikan, masjid tetap hanyalah satu yaitu Masjid Fadhl (the Fazl Mosque). Setelah itu, Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada Jemaat UK untuk mendirikan 14 unit Masjid baru lainnya, yang adalah masjid tetap/permanen juga. Demikian pula, pada 7 atau 8 tahun lalu hanya ada 13 unit Masjid di Eropa [Daratan] dan sekarang telah ada menjadi sekitar 57 buah unit masjid. Saya mengatakan perkiraan termasuk 1 buah yang masih dalam proses penyelesaian. Sekarang telah siap 57 unit Masjid dan artinya di berbagai Negara di Eropa dalam 7 atau 8 tahun ini telah dibangun 44 unit masjid. Sebagian besar Masjid tersebut berada di wilayah Negara Jerman. Namun, sekali lagi saya ingatkan, bahwa keindahan suatu Masjid tidak sekedar membangunnya saja. Melainkan dimakmurkan oleh para namazinya. Oleh karena itu, saya mengatakan kepada para Ahmadi di Benua Eropa, bahwa kebanggaan kita tidak dalam hal membangun Masjid. Nubuatan tentangnya [yaitu orang-orang yang berbangga-bangga karena membangun masjid, red.] telah disabdakan oleh Hadhrat Rasulullah saw bahwa di satu masa akan datang dimana masjid-masjid akan dibangun untuk kebanggaan akan tetapi kebanggaan ini tidak ada kaitannya dengan karya orang-orang yang memiliki ikatan dengan ‘asyiq shadiq’ Hadhrat Rasulullah saw. Orang-orang Muslim yang lain tidak ragu lagi lalu berbangga karena hal itu. Tujuan utama kita akan tercapai apabila tiap-tiap Masjid tersebut dimakmurkan sedemikian rupa sehingga terasa sempit. Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufiq untuk dapat melaksanakannya demikian.

            Selanjutnya saat ini saya ingin menyampaikan beberapa riwayat orang-orang (para sahabat) yang mendapatkan berkat dari pecinta sejati ini (Hadhrat Masih Mau’ud as) yang terkait dengan keterkaitan hati mereka terhadap ibadah dan standar ibadah-ibadah mereka itu; saya mengambilnya dari riwayat-riwayat. Mereka selalu cenderung kepada shalat-shalat. Simaklah peristiwa-peristiwa ini.

 

[1] Hadhrat Jaan Muhammad Shahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu yang adalah putra dari Abdul Ghaffar Shahib Daskawi meriwayatkan, “Saat menunaikan shalat Maghrib di lantai masjid Mubarak (pada waktu Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian); Mirza Nizhamuddin bersama teman-temannya sejumlah 8 atau 9 orang membentuk sebuah pertemuan duduk-duduk di halaman sebelah barat mihrab Masjid Mubarak sambil menghisap hookah (semacam merokok. Ia adalah penentang Jemaat. Kendatipun termasuk keluarga Hadhrat Masih Mau’ud namun amat keras menentang beliau as. Tidak tertarik akan agama. Bahkan, mengingkari Tuhan.) Minuman keras juga ada pada mereka. Mereka sambil duduk-duduk di atas carpay (semacam dipan).  Tatkala kami memulai shalat maka bersamaan kami menyerukan takbir, mereka membunyikan alat-alat musik sambil bernyanyi padahal di Masjid sedang ada orang yang shalat. Namun demikian, dalam keadaan shalat, kami tidak terpancing untuk marah. Bahkan berpikir pun tidak [mencari tahu] apa yang sedang terjadi. Mereka tetap mengganggu tetapi kami tidak menghentikan ibadah kami atau pecah konsentrasi karena hal itu (tetap shalat dengan khusyu’).” [7]

           

            [2] Hadhrat Hakim Ali Shahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu menceritakan mengenai perubahan diri beliau setelah baiat, “Setelah itu (setelah baiat) kecintaan dalam diri saya mencapai tingkat tergila-gila. Kami membangun sebuah masjid kecil di dekat rumah dan saya biasa mengerjakan shalat tahajjud di masjid itu dan saya datang ke masjid itu saat shalat Isya. Beberapa waktu, sehingga dapat menghabiskan waktu hingga berjam-jam lamanya untuk beribadah kepada Allah. Sehingga doa-doa saya pun cepat terkabul.” [8]

            Ada banyak sekali orang yang datang ke sini untuk mendapatkan asylum. Dari antara mereka ada yang berumur lanjut duduk-duduk menganggur. Hendaknya bagi mereka bukannya menyia-nyiakan waktunya melainkan sebaiknya memfokuskan diri pada ibadah-ibadah mereka. Inilah standar ibadah yang harus menjadi teladan bagi kita.

           

[3] Hadhrat Mir Mahdi Husain Shahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu menceritakan, “Pada masa-masa awal Masjid Mubarak terdiri dari tiga ruangan sempit (masjid kecil diantara 3 pintu) tiap-tiap ruangan memuat 2 shaf, satu shaf di depan dan di belakangnya. Satu shaf dapat memuat 6 orang. Di sebelah kanan luar masjid ada halaman rumput yang agak kecil yang saat ini adalah tempat tinggal Hadhrat Ummul Mu-miniin ‘alaihas salaam (istri Hudhur as, saat perawi menceritakan kisah ini). Di situ Malik Ghulam Husain memasak naan (roti) dan Muhammad Akbar Khan Sanauri Marhum mengatur roti-roti dan salen (kuah berdaging dan bersayur) duduk berdua di situ. Malik Ghulam Husain memberiku sepiring kecil berisi nasi yang berasa dan dia juga memberiku roti. Saat sedang memakan 2 atau 3 suap terdengarlah suara iqamah tanda mulai shalat yang dipimpin oleh Maulwi Abdul Karim Sialkoti. Segera saya meninggalkan makanan saya dan masuk ke masjid. Maka pemasak roti itu dengan keras menegur saya, ‘Mian (saudara)! Makanlah rotinya setelah itu baru shalat.’ Dalam bahasa Punjabi ia berkata lalu berkata ‘Berarti kamu hanya akan kebagian dua roti besok siang.’ Saya menjawab, ‘Saya datang ke sini bukan untuk makan dan minum. Shalat adalah segalanya dan saya tidak bisa meninggalkannya [tidak bisa meninggalkan shalat berjamaah].’ Setelah itu saya segera bergabung dengan orang-orang yang sedang shalat Isya.” [9]

 

[4] Hakim Fazlur Rahman Shahib mengisahkan mengenai sikap ayah beliau yang bernama Hafiz Nabi Bakhsh Shahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Dalam diri beliau terdapat sebuah isyq (kecintaan) terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan beliau mempunyai tabiat sangat hati-hati yaitu apabila beliau memperdengarkan (menceritakan) peri keadaan Hudhur as beliau selalu berkata, ‘Saya tidak percaya penuh terhadap daya ingatan saya, jangan-jangan saya salah dalam mengutarakan sesuatu tentang Hudhur as.’ Beliau bekerja sebagai pengawas irigasi (pengairan). Beliau bekerja keras setiap hari. Pada bulan Juni di kala musim panas sangat sekali beliau harus berjalan jauh berkeliling mengawasi daerah pengairan beliau. Oleh karena itu badan beliau menjadi sangat penat dan lelah. Namun demikian, pada malam hari beliau pasti bangun untuk menunaikan shalat tahajjud. Kami anak-anak (anak-anak dan usia remaja) juga dengan diminta tegas [harus ikut bangun untuk shalat tahajjud]. Di musim panas yang sangat terik juga beliau tetap berpuasa di bulan Ramadhan dengan teratur. Di musim dingin beliau bangun tahajjud dan biasanya beliau membaca ayat-ayat Alqur’an di waktu tahajjud dengan suara keras (membaca dengan suara tinggi) dan anak-anak juga semuanya diajak shalat tahajjud bersama. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang Hafiz Alqur’an. Beliau sangat menekankan agar kami, anak-anak semua melaksanakan puasa Ramadhan dan menunaikan shalat. Beliau mengawasi kami dalam pelaksanaan kewajiban itu. Beliau sangat marah jika melihat kami malas. Dengan teratur beliau sendiri yang mengajar kami Alqur’an dan apabila pada siang hari tidak ada waktu disebabkan sibuk dengan pekerjaan beliau maka beliau mengajar kami di waktu malam.” [10]

            Hal ini merupakan contoh yang baik untuk para orang tua. Hendaknya kita menerapkan contoh ini dalam hal tarbiyat kepada anak-anak. Demikian pula dalam hal ibadah-ibadah kita masing yang dilaksanakan oleh para orang tua tentu para anak-anak akan menyerap contoh tersebut. Di negara-negara ini (Barat) masyarakatnya sudah dan sedang menjauh dari agama, yang sebagian anak-anak kita pun terpengaruh oleh kecenderungan tersebut.  Oleh karena itulah melihat dari segi itu sangat penting untuk melakukan usaha yang lebih banyak. Tidak hanya mampu menjaga menegakkan keagamaan kita, bahkan meningkatkan standar kita masing-masing serta kemudian lebih penting dari itu ialah melainkan juga menjaga anak-anak dan perhatian akan tarbiyat untuk mereka.Bila kalangan dewasa berusia 40 tahun ke atas yang saya lihat hanya sibuk menonton TV atau duduk di depan internet hingga larut malam; banyak keluhan dari para istri mereka yang datang [kepada Hudhur], maka apa yang dapat mereka kerjakan untuk tarbiyyat anak-anaknya?

            Jadi, ini adalah tantangan bagi para Ahmadi yang hidup di negara-negara itu (Barat) khususnya, dan juga bagi para Ahmadi di seluruh dunia pada umumnya. Sebab, setan telah sedemikian merajalelanya di zaman sekarang ini dan kita harus menghadapinya dan ini tidak akan berhasil jika tanpa adanya pertolongan Allah Ta’ala. Pertolongan Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan cara beribadah kepada-Nya. Maka kita haruslah lebih banyak menaruh perhatian ke arah itu.

           

[5] Syaikh Nuruddin Shahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu menjelaskan keadaan beliau setelah baiat, “Beberapa waktu kemudian saya pergi ke Amritsar. Di sana dikarenakan kesibukan bisnis kelalaian pun muncul dan keadaan agama saya tidak bagus. Siang itu sangat panas dan pada waktu tengah hari saya tidur. Diketahui keadaannya demikian. Dalam keadaan tertidur di waktu akhir suatu keadaan muncul dan di dalam mimpi saya mendengar percakapan orang-orang tetapi saya tidak bisa menjawab. Saya menyaksikan gambaran penuh tersebut bahwa tubuh saya sedang dimandikan lalu dipakaikan kain kafan. Kemudian saya dimakamkan. Dimasukkan ke liang lahat. Ketika orang-orang telah pulang setelah menguburkan saya maka kubur dari dua sisinya telah memendam saya demikian kuat sehingga saya tidak kuasa bergerak. Beberapa waktu kemudian saya melihat seperti dengan mata sendiri Hadhrat Masih Mau’ud ’alaihissaalam sedang berdiri dan menunjukkan jari telunjuk beliau ke arah saya sembari berkata, ‘Inikah janji-janji yang telah engkau berikan kepada kami?’ Satu segi saya merasa berat dan segi yang lain kata-kata Hadhrat Shahib [menambah berat penderitaan saya]. Saya menangis keras dan berkata, ‘Hudhur, saya telah lupa. Maafkanlah saya. Saya bertobat. Di masa datang saya tidak akan memperlihatkan kelemahan-kelemahan (kemalasan-kemalasan) ini.’ Hadhrat Shahib pun pergi.” Kata beliau, “Mata saya terbuka (bangun tidur). Keadaan itu kembali lagi namun rasa takut pun terjadi dan menjadi terasa menderita tanpa bisa dijelaskan. Air mata pun keluar dan terasa sangat mar’uub (menyaksikan keagungan yang luar biasa). Setelah itu saya menghadap kiblat dan mulai mendirikan shalat. Sampai beberapa periode peristiwa itu sangat berpengaruh kepada diri saya. Sangat menderita dan begitu sakit.” [11]

            Jadi, pada masa itu ada juga orang-orang yang baik yang melakukan kelalaian maka Allah Ta’ala ingin merahmati mereka yang dengan sarana itu Dia memberikan pelajaran kepada mereka. Maka ini adalah juga salah satu perlakuan Allah yang penuh kecintaan kepada hamba-hamba-Nya sehingga Dia tidak membiarkan mereka dalam kerusakan.

            Selanjutnya berikut ini adalah contoh yang baik bagi Kaum Wanita. Beberapa waktu ada sebagian wanita yang berdalih (menyampaikan alasan-alasan) tidak bisa shalat tepat waktu. Kaum wanita di beberapa waktu menjadikan berbagai alasan. Sebagian mereka dalam keadaan demikian, sedangkan di lain pihak saya menyaksikan ada kaum wanita yang melebihi kaum pria dalam shalat mereka dan dalam perhatian ke arah itu.

           

[6] Hadhrat Ma’i Kako Shahibah radhiyallahu ta’ala ‘anha meriwayatkan, “Suatu kali saya beserta beberapa orang wanita lainnya dari Sikhwan datang untuk mulaqat dengan Hudhur ‘alaihissalam (Hadhrat Masih Mau’ud as). Ibunda dari Maulwi Qamaruddin Shahib bertanya kepada saya, ‘Kita terpaksa melakukan shalat maghrib di waktu shalat Isya dikarenakan kesibukan pekerjaan kita, apa yang harus kita lakukan. Bertanyalah meminta fatwa kepada Hadhrat Shahib!’ Saya pun hadir di hadapan Hudhur dan bertanya, ‘Hudhur, dikarenakan kesibukan suatu kegiatan mengurus anak, kami kaum ibu terlambat mengerjakan shalat Maghrib, [harus menjamak Shalat Maghrib dengan Shalat Isya.] Apa yang kami harus lakukan?’

Beliau as menjawab, ‘Saya tidak tahu apakah jika seluruh upaya telah dilakukan, maka masihkah akan tertunda. Akan tetapi, jika memang terpaksa harus demikian, kaum wanita hendaknya menjamak Shalat Isya bersamaan dengan pelaksanaan shalat Maghrib [dikerjakan di waktu shalat Maghrib]. Karena sebagaimana para Malaikat datang di waktu Shubuh demikian pula mereka turun di waktu Maghrib.“ (Demikianlah, sekiranya shalat Maghrib dan Shalat Isya terpaksa dijamak maka lebih baik dilakukan di waktu Maghrib)

Riwayat Ma’i Kako Shahibah selanjutnya menyebutkan, “Sejak saat itu sampai sekarang kami biasa mengatur hal ini yaitu mengatur penyediaan makanan dan memberi makan anak-anak jauh sebelum waktu Maghrib kemudian barulah menyibukkan diri untuk shalat Maghrib.” (Rejister Riwayat…, op.cit., jilid 12, h. 209 riwayat Mai Kako Shahibah ra) Demikianlah keteladanan dari orang-orang itu. Hendaknya tidak memfokuskan diri pada menjamak shalat melainkan berusahalah bagaimana mengupayakan cara agar melaksanakan shalat secara teratur, perhatikanlah hal ini. Jadi, para ibu yang adalah contoh bagi anak-anak bagi mereka hendaknya memperhatikan agama dalam hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,          “Islam menyajikan [menyampaikan ajaran tentang] Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Suci dari segala macam kelemahan yang kepada-Nya kita dapat mengajukan permohonan doa-doa dan dapat menyempurnakan harapan-harapan yang besar. Untuk itulah Dia telah mengajarkan doa dalam surah al-Fatihah, ‘Mintalah kalian kepada-Ku!’ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ‘ihdinash shiraathal mustaqiim’ – ‘Wahai Ilahi perlihatkanlah untuk kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang itu yang kepada mereka Engkau berikan kenikmatan dan karunia yang besar-besar.’ Doa ini juga dengan melaluinya Dia mengajarkan, ‘Kalian semua hendaknya tidak hanya duduk-duduk saja sembari mengatakan, “Kami telah beriman.” Bahkan, seharusnya kalian melakukan amal-amal perbuatan sehingga dapat meraih kenikmatan-kenikmatan yang diraih oleh hamba-hamba Tuhan yang dekat dengan-Nya.”[12]

            Bersabda, “Siapa saja yang datang kepada Allah Ta’ala dengan gairah semangat yang benar, sepenuh ketulusan (kejujuran) dan keikhlasan dia tidak akan disia-siakan. Ini adalah hal yang meyakinkan dan benar bahwa mereka yang menjadi milik Tuhan maka Tuhan pun menjadi milik mereka dan di tiap medan Dia menolong dan mendukung mereka. Bahkan, Dia demikian rupa menurunkan kenikmatan dan kemuliaan kepada mereka hingga orang-orang pun mencari berkat dari pakaian mereka. Allah Ta’ala yang mengajarkan doa اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ‘ihdinash shiraathal mustaqiim’ melalui doa ini dikatakan, ‘Bukalah mata kalian! Lihatlah! Saksikanlah natijah (dampak, buah-buah) dari perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan.” Bersabda, “Bila seseorang melakukan satu perbuatan dan tidak ada apa-apa sebagai dampaknya maka seharusnya ia merevisi (melihat lagi) amal-amalnya. (Hendaknya melihat bagaimanakah kiranya amal-amalku) amal yang bagaimanakah itu yang sedikit pun tidak ada natijahnya.“[13]

            Selanjutnya beliau as bersabda menjelaskan khulashah (ringkasan) dari pokok-pokok ibadah, “Sebenarnya khulashah dari pokok-pokok (prinsip-prinsip) ibadah adalah kalian masing-masing berdiri (shalat) sedemikian rupa seolah-olah masing-masing dari kalian sedang menyaksikan Tuhan atau Tuhan sedang menyaksikan kalian. Sucikanlah (bersihkanlah) diri kalian dari segala macam syirik dan renungkanlah keagungan dan rabbubiyyat-Nya. Banyak-banyaklah mengajukan permohonan doa kepada Tuhan dengan ad’iyah matsurat dan juga doa-doa yang selain itu.[14] Banyak-banyaklah beristighfar (memohon pengampunan) dan sering-seringlah menampakkan kelemahan kepada-Nya supaya tercipta tazkiyah nafs (penyucian jiwa) dan ta’alluq (ikatan) dengan Tuhan dan cenderung dalam kecintaan hanya kepada-Nya saja. Dan inilah khulashah dari seluruh shalat dan ini semua tercantum dalam Surah Al-Fatihah. ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin’ – ‘Saya menyatakan kelemahan-kelemahan saya dan dimohonkan pertolongan hanya kepada Tuhan dan dicari bantuan dan pertolongan dari Tuhan dan selanjutnya dimohonkan permohonan doa agar berjalan di jalan para nabi dan rasul dan dimohonkan pula agar mendapatkan kenikmatan-kenikmatan mereka; yang telah zahir di dunia ini dengan perantaraan para nabi dan rasul; dan dapat diraih dengan mengikuti mereka dan menapaki thariqah (jalan) mereka.’ Selanjutnya dimohonkan doa kepada Tuhan, ‘Selamatkanlah kami dari jalan orang-orang itu yang mengingkari (menolak) para rasul dan nabi Engkau dan memperlakukan beliau-beliau (para nabi) dengan sombong dan jahat. Di dunia ini pulalah telah turun kemurkaan atas mereka dan mereka yang telah menganggap dunia ini sebagai tujuan dan maksud hidup mereka serta menjauhi jalan yang lurus.’ Maksud pokok dari shalat adalah doa dan untuk tujuan itu hendaknya seseorang berdoa [memohon kepada Tuhan] supaya dalam dirinya tumbuh keikhlasan dan kecintaan sempurna kepada Tuhan dan supaya ia membenci maksiat yang adalah bencana besar yang merusak amal perbuatan seorang insan dan supaya Ruhul Qudus mendukung dan menguatkannya. Hendaknya bagi seorang manusia supaya mendahulukan Allah Ta’ala diatas segala sesuatu di dunia ini baik berupa kewibawaan, harta benda, kehormatan dan penghormatan. Wajib baginya bahwa Allah adalah yang paling dicintai dan disayangi serta didahulukan dibandingkan semua yang dicintai dan dikasihinya. Adapun ia yang berdiri diatas amal perbuatan lainnya mengikuti kisah-kisah (dongeng-dongeng) dan khurafat yang tidak disebutkan dalam Kitab Allah maka sesungguhnya ia seorang yang jatuh lagi pendusta. Pada dasarnya shalat adalah sebuah doa yang dikerjakan seseorang dan cara-caranya telah diajarkan [oleh Allah] yakni pada saat berdirinya seorang yang shalat, tatkala melakukan ruku dan ketika bersujud. Seseorang yang tidak memahami ashliyat (hal yang mendasar dari shalat) maka sebenarnya ia hanya mengupas (mendapatkan) kulitnya saja.” [15]

            Bersabda, “Banyak juga orang yang pergi ke masjid. Mereka menunaikan shalat dan juga mengamalkan rukun-rukun Islam lainnya namun mereka tidak mengikutsertakan bantuan dan pertolongan Tuhan dan mereka tidak memperlihatkan perubahan berkualitas dalam hal akhlak dan adat mereka yang dengan itu dapat diketahui bahwa ibadah mereka hanya ibadah ritualitas rutinitas tradisi belaka. Tidak ada hakekat di dalamnya (kosong). Sebab, pengamalan hukum-hukum Ilahi adalah ibarat sebuah benih yang pengaruhnya menerpa ruh dan wujud kedua-duanya. Seseorang yang menggarap ladang dan dengan rajin ia menanam benih bila kemudian selama satu atau dua bulan ia menganggurkannya (tidak mempedulikannya) maka sayang sekali untuk diketahui bahwa benih itu akhirnya menjadi rusak. Begitu pulalah keadaannya dengan ibadah. Bila seseorang meyakini Tuhan Maha Tunggal tanpa sekutu, mengerjakan shalat, mengerjakan puasa, dan mengamalkan hukum-hukum lahiriah dari Ilahi lainnya sebanyak-banyaknya akan tetapi ia tidak menyertakan dengan memohon pertolongan khas kepada Allah maka ketahuilah bahwa benih yang sedang ia tanam itu rusak adanya. Inilah dia shalat-shalat yang dengan mengerjakannya banyak sekali orang telah menjadi quthb dan abdaal[16]. Namun apakah yang telah terjadi dengan kalian sehingga sekalipun telah mengerjakannya namun pengaruhnya tidak kelihatan sedikit pun. Kaidah dari hal ini adalah tatkala engkau menggunakan sebuah obat dan bila ia tidak bermanfaat maka akhirnya dapat diketahui bahwa obat ini tidak tepat. Inilah keadaan yang seharusnya dipahami tentang shalat-shalat tersebut.“[17]

            Semoga Allah menjadikan kita untuk memahami pesan ini dan menjalani kehidupan kita berdasarkan hal itu. Semoga pula Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya (dalam corak yang hakiki) dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang meraih keridhaan-Nya. [Aamiin]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan Ibni Maajah Kitab al-Masaajid, Bab Tasy-yidil Masaajid.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ».

Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Laa taquumus saa’atu hatta yattabaahan naasu fil masaajid.’ – “Tidak akan tegak (terjadi) as-Saa’ah (saat kehancuran, kiamat rohani) hingga manusia saling bermegah-megah (saling berbangga) dalam hal menghias/memperindah bangunan masjid.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرَاكُمْ سَتُشَرِّفُونَ مَسَاجِدَكُمْ بَعْدِي كَمَا شَرَّفَتِ الْيَهُودُ كَنَائِسَهَا وَكَمَا شَرَّفَتِ النَّصَارَى بِيَعَهَا».

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Araakum satusyarrifuuna masaajidakum ba’dii kamaa syarrafal yahuudu kanaaisahaa wa kamaa syarrafan Nashaara baya’ahaa.’ – “[Dalam kasyaf] Aku melihat kalian sepeninggalku akan mengagungkan masjid-masjid kalian seperti orang-orang Yahudi mengagungkan kenisah-kenisah (sinagog) mereka atau seperti orang-orang Kristen menghias gereja-gereja mereka.”

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا سَاءَ عَمَلُ قَوْمٍ قَطُّ إِلاَّ زَخْرَفُوا مَسَاجِدَهُمْ».

Dari Umar bin al-Khaththab berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Maa saa-a ‘amalu qaumin qaththu illaa zakhrafuu masaajidahum.’ – “Cukuplah keburukan suatu kaum dengan mereka menghiasi masjid-masjid mereka.”

[3] Dikutip dari Tafsir Kabir, jilid 5 halaman 357

[4] Musnad Ahmad, Kitab Baqi Musnad al-Muatsiriin,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ، يَقُولُ الرَّبُّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: سَيُعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ مِنْ أَهْلِ الْكَرَمِ، فَقِيلَ وَمَنْ أَهْلُ الْكَرَمِ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ فِي الْمَسَاجِدِ. (مسند أحمد)

[5] Shahih al-Bukhari, Kitabul Adzan, bab fadhl man ghada ilal masjid wa raha

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نُزُلَهُ مِن الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ. (صحيح البخاري، كتاب الأذان)

[6] Ghulam shadiq ialah pelayan sejati nan tulus yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad saw oleh Allah Ta’ala. Pelayan sejati ini adalah Hadhrat Masih Mau’ud as, pendiri Ahmadiyah.

[7] Rejister Riwayat Shahabah ghair mathbu’ah jilid 7 halaman 48 riwayat Hadhrat Jaan Muhammad Shahib Daskawi ra

[8] Rejister Riwayat…, op.cit., h. 364 riwayat Hadhrat Hakim Ali Shahib ra

[9] Rejister…, op.cit., h. 407 riwayat Hadhrat Mir Mahdi Husain Shahib ra

[10] Rejister…, op.cit., jilid 12 h. 1-2, peri keadaan Hafizh Nabi Baksh Shahib ra putra dari Hafizh Karim Baksh Shahib ra

[11] Rejister…, op.cit., jilid 12, h. 9-10 riwayat Hadhrat Syaikh Nuruddin Shahib Tajir (pengusaha) putra dari Syaikh Miran Baksh Shahib ra

[12] Malfuuzhaat jilid 5, halaman 386, edisi 2003, terbitan Rabwah

[13] Malfuuzhaat jilid 5, halaman 387, edisi 2003, terbitan Rabwah

[14] Ad’iyah ma’tsurat (ad’iyah ialah jamak dari doa, doa-doa; ma’tsurat (bahasa Arab), berasal dari kata ‘atsara’, yang berarti: naqalal hadits (mengutip ucapan/sunnah Nabi saw), ta’tsir (efek/pengaruh), Secara umum, Ad’iyah ma’tsurat yaitu do’a/dzikir yang memiliki atsar/menjadi sunnah Nabi saw.

[15] Malfuuzhaat jilid 5, halaman 335, edisi 2003, terbitan Rabwah

[16] Kebalikan dari hal tadi, para wali dan orang-orang saleh mengamalkan hukum-hukum Ilahi dengan kerendahan hati dan selalu memohon doa kepada-Nya sehingga pengaruh ibadah itu nampak dari akhlak mereka. Mereka beribadah dengan benar dan sempurna bukan hanya pengamalan secara lahiriah saja, red.

[17] Malfuuzhaat jilid 5, halaman 386-387, edisi 2003, terbitan Rabwah