Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 21 Februari 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Kemarin ialah tanggal 20 Februari. Dalam sejarah Jemaat hari itu ialah hari yang terkait dengan nubuatan mengenai Mushlih Mau’ud, hari yang secara khas amat penting. Di hari itu, Hadhrat Masih Mau’ud ’alaihish shalaatu was salaam memberi kabar tentang kelahiran seorang putra, yang baik, shaleh dan mempunyai banyak sekali sifat istimewa. Di dalam Jumat yang lalu juga saya telah menerangkan tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as. Hari ini juga saya menganggap tepat sekali bahwa karena Hari Jumat ini sangat dekat dengan tanggal 20 Februari, saya akan menjelaskan nubuatan itu, yang telah dinyatakan sebagai tanda yang sangat agung oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Dalam menjawab tuduhan para penentang, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Kalian melemparkan tuduhan dan kritikan kepada saya, padahal sesungguhnya nubuatan itu diwahyukan oleh Allah Ta’ala di luar kekuatan dan kemampuan manusia, bukan hanya mengenai sekedar kelahiran seorang anak, melainkan seorang anak yang akan memperoleh umur panjang dan akan lahir di dalam kehidupan saya.”

Beliau bersabda: “Jika pengumuman ini dilihat dari sudut pandang yang dalam, maka tidak ada keraguan sedikitpun dalam kedudukannya sebagai Tanda Ilahi.”

Beliau as bersabda kepada para penentang bahwa, jika para penentang itu merasa ragu, maka mereka ditantang untuk mengemukakan sebuah nubuatan serupa yang mengandung Tanda Ilahi seperti itu. Beliau as bersabda, “Dalam hal ini harus dilihat dengan mata terbuka, bahwa ini bukan hanya sekedar sebuah nubuatan, melainkan sebuah Tanda Ilahi yang agung.”

(Sebagaimana tujuan kebangkitan beliau as adalah untuk membuktikan kebenaran agama Islam dan keagungan martabat Hadhrat Rasulullah saw, di sini Hadhrat Masih Mau’ud as mengemukakan nubuatan dan Tanda Ilahi itu bukan untuk membuktikan kebenaran beliau as sendiri, melainkan beliau bersabda,)

“Allah Ta’ala Yang Maha Agung telah menampakkan Tanda Samawi ini, untuk menampilkan kebenaran dan keagungan Nabi kita yang Mulia, yang penyantun dan pengasih, Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hakikatnya, tanda-tanda ini ratusan kali lipat lebih tinggi dan lebih agung, lebih afdhal dan lebih sempurna dari pada tanda menghidupkan kembali manusia yang sudah mati. Menghidupkan kembali orang yang sudah mati hanya memanggil kembali ruh manusia dalam waktu yang sebentar saja seperti tertulis di dalam Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) mengenai Nabi Isa as dan beberapa orang nabi lainnya sekalipun atas hal itu terdapat kritik atau keberatan dari pihak penentang mereka.

Jika dipercayai bahwa yang sudah mati itu betul hidup kembali, sedikitpun tidak memberi faedah kepada dunia. Namun, di sini dengan karunia-Nya Yang Maha Tinggi dan berkat Hadhrat Khatamul Anbiya saw, Tuhan Yang Maha Mulia telah mengabulkan doa hamba yang lemah ini dan telah berjanji untuk mengirim ruh yang penuh keberkatan, yang berkat-berkatnya yang nampak dan yang tersembunyi akan tersebar ke seluruh pelosok dunia.”

Beliau bersabda lagi: ”Hai manusia! Apalah artinya diri saya ini, dan apa hakikatnya? Siapa saja yang menyerang saya, bukan menyerang saya, melainkan sebetulnya ia menyerang Hadhrat Rasulullah saw. Namun dia harus ingat bahwa manusia tidak bisa melemparkan segenggam debu ke atas matahari, melainkan debu itulah yang akan menimpa kepalanya, matanya dan mukanya dan menjadikannya hina-dina. Kemegahan serta keagungan Nabi kita yang Mulia saw tidak akan berkurang sedikit pun disebabkan permusuhan dan kedengkian kalian, melainkan, sebaliknya Allah Ta’ala akan menampakan kemegahan dan keagungan beliau sebanyak-banyaknya. Apakah manusia dapat menahan matahari yang hampir terbit di waktu fajar? Demikianlah pula sedikit pun manusia tidak dapat merusak Matahari kebenaran Hadhrat Rasulullah saw, Semoga Allah Ta’ala menghilangkan kebencian dan kedengkian kalian.”

Dalam perbuatan mengritik dan melemparkan tuduhan-tuduhan itu, selain Non Muslim, orang-orang Muslim sendiri juga termasuk di dalamnya, yang telah ditantang dan diberi peringatan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Dengan demikian sebagaimana kita semua tahu sesuai dengan nubuatan itu, pada bulan Januari 1889 putra yang dijanjikan itu lahir, kemudian ia telah melaksanakan karya agung demi supremasi Islam dan menegakkan keagungan dan kemuliaan Hadhrat Rasulullah saw yang akan dikenang manusia sampai akhir dunia dan diakui oleh orang-orang ghair juga.

Sebelum menguraikan karya-karya agung Hadhrat Mushlih Mau’ud ra saya menganggap perlu untuk membacakan nubuatan seluruhnya, agar kenangan itu berulang kali tampil di hadapan kita, dan kita memahami keagungan, keluhuran serta hakikatnya.

Pada tanggal 20 Februari 1886 Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as dengan kalam beliau sendiri menulis sebuah selebaran dengan nama ‘Risalah Siraj Munir bar Nisyaan hae Rabbi Qadir’ [Risalah Terang Benderang mengenai Tanda-Tanda Tuhan Yang Maha Kuasa] yang dimuat dalam surat kabar Riyadh-e-Hind di Amritsar, terbit pada 1 Maret 1886 sebagai lembar tambahan. Di dalam isytihar itu beliau menulis: “Dari 3 jenis nubuatan yang insya Allah akan dijelaskan dengan detail uraiannya dalam selebaran ini, nubuatan pertama berkaitan dengan ahqar (hamba yang paling hina-dina) ini. Hari ini, 20 Februari 1886, bersamaan dengan tanggal 15 Jumadil Ula, saya membatasi diri menuliskan kalimat ilhamiyah saja secara penuh.” (secara ringkas saya tuliskan dengan padat) “ada pun detail penjelasannya akan dijelaskan secara rinci dalam selebaran kemudian, insya Allah Ta’ala.

Nubuatan pertama, bi ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (dengan perantaraan ilham dan pemberitahuan dari Allah Ta’ala) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim (Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepadaku lewat ilham, ‘Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat kepada engkau sesuai dengan permohonan engkau kepada-Ku. Telah Ku-dengar rintihan doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan doa engkau telah Ku-kabulkan dan perjalanan engkau [perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka, telah diberikan kepada engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat (kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau mendapat kunci Fath (kemenangan) dan kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan). Hai Muzhaffar (0rang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas engkau!”

Demikianlah yang difirmankan oleh Tuhan, “Supaya mereka yang menghendaki kehidupan terselamat dari cengkeraman maut dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari padanya, dan supaya nampak kepada manusia kemuliaan agama Islam dan keagungan Kalam Allah, dan supaya kebenaran tegak bersama semua berkat-berkatnya dan supaya kebatilan jauh sirna bersama kesialannya. Dan, supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir (Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku. Supaya manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku ada bersama engkau. Dan, supaya orang-orang yang tidak beriman kepada Wujud Tuhan dan memandang dengan pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya nampak jelas jalan orang-orang berdosa.

Maka, kabar sukalah bagi engkau! Seorang anak lelaki yang mulia dan bersih akan dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki suci yang akan lahir dari benih keturunan engkau. Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu engkau. Namanya Emanuel dan Bashir.

Kepadanya diberikan ruh yang disucikan. Dia suci bersih dari dosa dan kotoran. Dia adalah Nur Allah. Penuh keberkahanlah dia yang datang dari langit. Dia didampingi fadhl (karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan, wilayah), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan).

Dia akan datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi Nafs (jiwa, ruh Masih) dan Ruhul Haqq-nya dia akan menyembuhkan banyak orang dari penyakit-penyakit mereka. Dia adalah Kalimatullaah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut, dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu pengetahuan zhahiri dan bathini, dan dia akan merubah 3 menjadi 4.” Beliau as menulis: (Saya tidak memahami maknanya)

“Hari Senin! Beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan terhormat, مَظهر الأول والآخِر، مظهَرُ الحقّ والعلاء ، كأن الله نزل من السماء ‘mazhharul awwali wal aakhiri, mazhharul haqqi wal ‘ulaa-i, ka-annaLlaaha nazala minas samaa’ Mazhhar al-Awwal wal Akhir (manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Ulaa-i (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha Tinggi), ka-annaLlaha nazala minas samaa’ seakan-akan Allah turun dari langit. Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi sebab penampakan kegagahan Ilahi [jalaali Ilahi].

Cahaya datang. Cahaya yang Tuhan telah sirami dengan air harum keridhaan-Nya. Akan Kami masukkan ruh Kami ke dalamnya dan naungan Tuhan akan selalu diatas kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan dan menjadi pembebas orang-orang yang terbelenggu, dan dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok bumi, dan bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat dari padanya sampai titik jiwanya diangkat kearah langit. وكان أمرًا مقضيًّا – ‘wa kaana amram maqdhiyya. maka sempurnalah seluruh pekerjaan.

Itulah keistimewaan yang akan dimiliki oleh putra yang dijanjikan itu dan kemudian dunia telah menyaksikan putra yang dijanjikan itu lahir dan dianugerahi tampuk Khilafat selama 52 tahun, kemudian meninggalkan dunia ini setelah membuktikan keistimewaannya di berbagai bidang kepada dunia. Jika kita dengan tekun mempelajari keistimewaan dan menganalisa kehidupan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Mushlih Mau’ud ra maka untuk itu perlu menulis banyak sekali buku. Semua kehidupan dan hasil karya agung beliau tidak mungkin dapat dirangkum dalam suatu khotbah atau pidato.

Setiap tahun pada tanggal 20 Februari Jemaat memperingati Hari Mushlih Mau’ud. Pada kesempatan itu para ulama Jemaat menyampaikan pidato sesuai dengan ilmu pengetahuan dan pandangan ruhani mereka. Di sini juga saya telah berulang kali menjelaskan masalah ini. Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. dan Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h. juga telah menjelaskannya. Tetapi, kita tidak dapat mengatakan bahwa kehidupan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan nubuatan tentang beliau telah diuraikan secara sempurna atau semua orang telah memahaminya. Demikian juga pada hari ini saya hendak menguraikan salah satu aspek dari nubuatan dan riwayat hidup Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan ilmu irfaan beliau sangat mengesankan orang-orang Jemaat sendiri dan juga orang-orang ghair.

Pertama, saya ingin memberi satu tinjauan tentang buku-buku, lecture (kuliah) dan pidato-pidato Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Pada waktu itu tidak ada sistim recording (perekaman), banyak di antara pidato beliau terpelihara dan kebanyakan tidak terpelihara, kadang-kala sebagian orang menulis pidato-pidato beliau itu. Kendatipun demikian, kumpulan buku, kuliah dan pidato Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sedang dibukukan oleh Yayasan Fadl-e-Umar untuk diterbitkan dengan nama Anwarul ‘Ulum (cahaya ilmu pengetahuan). Sampai saat ini, Anwarul ‘Ulum telah diterbitkan sebanyak 24 jilid merangkum 633 pidato, kuliah dan buku Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Rencana Yayasan Fadl-e-Umar memperkirakan untuk menerbitkannya sampai 32 jilid. Jumlah semua kuliah, pidato dan buku akan sebanyak 850 buah.

Telah saya sebut, hingga sekarang 24 jilid dari Anwarul ‘Ulum telah terbit. Jilid ke-25 sampai ke-29 sudah siap, namun sampai sekarang belum dicetak. Jilid ke-25 sampai ke-29 berisi 163 buah pidato, kuliah dan buku. Setelah jilid ke-29, masih ada 3 jilid selanjutnya. Dengan demikian jumlah buku dan pidato beliau diatas 800 buah. Sebagai tambahan dari itu, ada khotbah Jumat, khotbah Idul Fitri dan Idul Adha serta khotbah nikah jumlahnya sebanyak 2076 buah. Khotbah-khotbah itu tersusun dengan nama Khutubaat-e-Mahmud dan telah selesai dicetak sebanyak 1602 buah khotbah dalam 28 jilid. Selebihnya, khotbah dari tahun 1948 sampai 1959 akan dicetak kemudian, terdiri dari jilid ke-29 sampai jilid ke-39 yang merangkum sekitar 500 buah khotbah lainnya. Ini semua gambaran singkat yang menunjukkan betapa luasnya karya ilmu pengetahuan beliau ra. Jika kita baca dan kita dengar setiap khotbah atau setiap kuliah beliau, itu semua penuh dengan hikmah dan ilmu pengetahuan rohaniah laksana samudra mutiara berserakan, yang sangat mengherankan manusia.

Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. juga suatu ketika memberi sebuah pandangan terhadap salah satu nubuatan, “Ia akan dikaruniakan penuh ilmu-ilmu duniawi dan ruhani.” Beliau bersabda, “Seandainya kita menyebut-nyebut karya Hudhur II ra dari segi ini saja, kita tidak akan mampu menyelesaikan penguraiannya.”

Sehubungan dengan itu sebagai bukti beliau mengemukakan Tafsir Kabir Al-Quranul Karim yang luar biasa. Siapapun yang telah membaca sebagian dari padanya dengan tekun dan penuh konsentrasi pasti akan mengakuinya bahwa, jika di dunia lahir seorang suci yang menerbitkan sebagian dari Tafsir Al-Quranul Karim dengan penjelasan-penjelasannya secara rinci maka cukuplah dunia mengakui beliau ini sebagai bukti seorang suci dari antara sejumlah orang-orang paling suci di dunia ini. Namun tidak cukup sampai di situ, beliau telah banyak menulis tentang Kitab Suci Al-Quranul Karim. Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. bersabda: “Saya kira Hudhur ra telah menulis sebanyak 10.000 sampai 12.000 halaman tentang Al-Quranul Karim. Tafsir Kabir yang ada sekarang sebanyak 10 jilid terdiri dari tidak kurang 6000 halaman. Di samping itu catatan-catatan tentang nama Surah-surah, banyak sekali penjelasannya beliau buat.

Mengenai Kalam (tentang akidah), Hadhrat Khalifatul Masih II, Mushlih Mau’ud ra telah menulis 10 buah kitab dan rísalah.

Tafsir Kabir terdiri dari 10 jilid. Sepuluh jilid ini mencakup Surah Al-Fatihah dan Al-Baqarah dibahas dalam 2 jilid pertama. , kemudian Surah Yunus sampai Surah Al Ankabut, surah ke 10 sampai 29. Sesudah itu tidak dibuat tafsir, kemudian Tafsir dari Surah An-Naba sampai Surah An-Naas. Jumlahnya 59 Surah yang telah ditafsirkan oleh beliau, terdiri dari 6000 halaman, ditulis dengan font (ukuran huruf) yang kecil. Jika ditulis dengan font yang sedang berlaku sekarang tentu akan menjadi 10.000 sampai 12.000 halaman. Tafsir Kabir edisi baru sedang dicetak ulang, insya Allah Ta’ala tidak lama lagi akan selesai. Masih tertinggal 55 buah surah lagi yang tafsirnya tidak sempat beliau tulis.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menulis 10 buah buku dan risalah tentang ilmu Kalam, 31 buah buku dan risalah tentang akhlaq, kerohanian dan akidah Islam. Beliau telah menulis sebanyak 13 buah buku dan risalah tentang Sirat (riwayat hidup) Hadhrat Rasulullah saw. Tentang sejarah (tarikh) telah ditulis 4 buah buku dan risalah, 3 buah buku dan risalah tentang Fiqih, 25 buah buku dan risalah tentang persoalan politik sebelum India terbagi dua (India dan Pakistan), dan 9 buah buku dan risalah-risalah mengenai politik setelah terbentuk negara Pakistan. Beliau menulis 15 buah buku dan risalah politik tentang Kashmir, dan beliau tulis 100 buah buku dan risalah mengenai Pergerakan Ahmadiyah yang meliputi 100 macam pokok pembahasan. Selain dari itu, banyak lagi karya tulis yang beliau susun yang membahas berbagai topik seperti telah saya jelaskan detailnya, perkiraan jumlahnya sekitar 800 buku, risalah dan naskah pidato.

Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. bersabda, “Sebagaimana telah dinubuatkan bahwa “Akan dikaruniakan penuh ilmu-ilmu duniawi dan ruhani kepadanya”, jika kita merenungkannya maka akan nampak ilmu-ilmu pengetahuan lahiriah dan juga ilmu bathini, dan keistimewaan dari semua itu adalah, apabila beliau menulis sebuah buku atau sebuah risalah, setiap orang yang membacanya berkata, ‘Tidak akan ada orang yang mampu menulis lebih baik dari kitab ini.’ Setiap kali beliau memimpin satu masalah politik atau bila saja beliau memberi musyawarah tentang kepemimpinan, maka betapa pun kuat dan besarnya orang menentang beliau, namun akhirnya mereka menyerah dan terpaksa mengakui tidak mampu menandingi kebijaksanaan dan kemampuan beliau.”

Pendeknya, aspek dari “Akan dikaruniakan penuh ilmu-ilmu duniawi dan ruhani kepadanya” sungguh jelas dan rinci sekali sehingga kita tidak mampu menyelaminya walaupun hanya satu per seratus ribu (1/100.000) bagian dari padanya.”

Sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. telah bersabda bahwa “Untuk membuat orang mengakui betapa tinggi kedudukan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra hanya dengan penjelasan Tafsir Al-Qur’anul Karim saja sudah cukup. Sesungguhnya jika timbul tanggapan baru mengenai terbukanya rahasia sangat dalam mengenai Tafsir-tafsir, ilmu dan makrifat akan selalu menjadi bagian dari ilmu pengetahuan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra.

Pada waktu ini saya akan mengemukakan beberapa pendapat orang-orang terkemuka tentang mutu ilmu Tafsir-tafsir beliau. Allamah Niaz Fatah Puri Sahib menulis sepucuk surat kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a katanya: “Tafsir Kabir jilid III sekarang ada di hadapan saya.” — Allamah Niaz Fatah Puri Sahib bukan seorang Ahmadi – “Saya sedang menelaahnya dengan tekun dan saya tidak menemukan suatu keraguan sedikitpun, bahkan Tuan telah menciptakan porsi pandangan baru di dalam Tafsir ini seluruhnya dan dari segi kedudukan dan pandangan-pandangannya adalah Tafsir yang sungguh-sungguh baru. Yang telah menunjukkan kerjasama yang erat antara akal dan argumentasinya. Dan saya merasa bahwa ini adalah bentuk Tafsir pertama di dalam bahasa Urdu.

Lautan ilmu Tuan, pandangan bathin Tuan yang sangat luas, pikiran dan firasat Tuan yang luar biasa, cara Tuan mengemukakan dalil yang sangat indah, setiap perkataan nampak sangat cemerlang. Dan saya menyesal sekali mengapa sampai saat ini saya tidak mengetahui semua Tafsir ini. Alangkah baik nasib saya jika dapat membaca semua jilid.

Kemarin setelah membaca Tafsir Tuan tentang Nabi Luth hati saya menggigil dan terpaksa saya menulis kepada Tuan bahwa dalam mentafsirkan ayat هؤلاء بناتي (ini anak perempuanku) yang dijadikan pembahasan di kalangan para Mufassirin, Tuan telah menjelaskan tafsirnya dengan sangat tepat dan indah sekali, dan sangat berbeda dengan tafsir yang dikemukakan oleh para Mufassirin lain, sehingga saya tidak mampu memberi pujian yang memadai kepada Tuan. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi Tuan dengan selamat sejahtera selama-lamanya.”

Di dalam suratnya yang lain, Tn. Allamah Niaz Fatah Puri menulis, “Saya selalu menelaah Tafseer-e-Kabir. Di waktu malam dengan hati yang tulus saya terus-menerus menelaahnya. Apa yang saya peroleh dari padanya, jika dijelaskan akan panjang sekali ceritanya. Tetapi ringkasnya, menurut pendapat saya, Tafsir ini merupakan Tafsir pertama dalam bahasa Urdu yang dapat memberikan ketentraman terhadap alam pikiran manusia sampai batas jangkauan yang sangat luas. Tidak ragu lagi, wawasan khidmat Islam yang Tuan lakukan sangat luhur dan agung sekali, sekalipun hebatnya gelombang permusuhan para penentang Tuan, mereka tidak mampu membantah, apalah lagi menandinginya.”

Kepala departemen Bahasa Urdu, Tn. Akhtar dari Universitas Patna mengirimkan Tafsir Kabir kepada Tn. Abdul Mannan, Profesor Bahasa Persia di Universitas Patna. Setelah membaca Tafsir itu beliau sangat terkesan. Beliau kemudian memberikan beberapa bagian dari Tafsir itu kepada para sesepuh Madrasah Arabiyyah Syamsul Huda, Patna. Suatu hari para sesepuh itu dipanggil untuk dimintai pendapat mereka tentang Tafsir itu. Seorang Syekh berkata: “Tafsir seperti ini tidak ada di dalam Bahasa Persia.”

Tn. Profesor Abdul Mannan bertanya, “Bagaimana pendapat Shekh tentang Tafsir dalam Bahasa Arab?” Semua Shekh terdiam. Tidak lama kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Semua Tafsir dalam bahasa Arab tidak ada di Patna. Setelah menelaah Tafsir di Mesir dan Syam baru akan dapat dikemukakan suatu pendapat yang benar.” Tn. Profesor Abdul Mannan mulai menelaah Tafsir dalam Bahasa Arab kemudian berkata, “Tafsir Tn. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad di manapun dan di dalam bahasa apapun tidak terdapat tandingannya. Cobalah Tuan-tuan memesan tafsir-tafsir terbaru dari Mesir dan juga dari Syam (Suriah dsk) kemudian setelah beberapa bulan bicaralah dengan saya.” Akhirnya para ulama ahli bahasa Farsi dan bahasa Arab itu, semuanya terdiam keheranan.

Sayyid Jafar Husain Sahib seorang Pengacara menulis surat pembaca yang jelas dan ringkas dan mengirimkan kepada Editor Surat Kabar ‘Shidq Jadid’ (Ketulusan Baru), “Demi memperjuangkan dan menjadikan negeri India sebagai Darus Salam (Negeri Perdamaian, Negara Islam), saya dimasukkan ke dalam penjara. Pada hari ketiga, sebab-sebab saya dipenjara telah disediakan secara tertulis yakni kutipan pidato-pidato saya beberapa tahun yang lalu sebagai bukti pelanggaran. Saya dituduh akan menggulingkan pemerintah India untuk kemudian diganti dengan pemerintah Islam. Saya heran sekali, saya seorang manusia lemah tidak berdaya dan tuduhan itu begitu besar laksana sebuah gunung. Tetapi lambat-laun saya menyadari bahwa dari pidato-pidato saya itu memang dapat diambil kesimpulan demikian.

Sudah berkata kepada Tuan bahwa saya ini seorang musafir yang tersesat, tujuan perjalanan telah ditentukan tetapi kemana arah jalannya tidak tahu. Kasus ini mengena kepada semua, baik itu Dewan Ittihadul Muslimin mau pun yang lainnya. Pada hari berikutnya di penjara saya mulai menelaah Tafsir Kabir yang saya peroleh sebelumnya dari pemberian seorang teman. Di dalam Tafsir itu nampak kepada saya Islam yang hidup (dia bukan seorang Ahmadi). Dari Tafsir itu saya mendapatkan semua yang sedang saya cari. Setelah membaca Tafsir Kabir itu untuk pertama kali saya kenal dengan Al-Quranul Karim. Meninggalkan pendirian sendiri kemudian memilih masuk Ahmadiyah sebuah Jemaat yang dibenci dan dimusuhi oleh semua Ulama Islam, bukan perkara kecil dan remeh.

Tetapi, setelah kebenaran terbuka, saya tidak takut kepada siapapun, kecuali Tuhan. Maka sambil merebahkan diri dan bersujud di hadapan Allah Ta’ala saya berdoa kepada-Nya, ‘Ya Allah tunjukkanlah shirathal mustaqim kepada saya!’ Setelah berdoa beberapa bulan dalam keadaan demikian saya nyatakan dengan yakin bahwa bumi tempat saya bersujud basah dengan air mata. Saya yakin sekali bahwa doa-doa itu telah terkabul sebab kebenaran akidah Ahmadiyah sudah tertanam sangat teguh sekali di dalam hati saya. Saya telah memohon melalui surat kepada Hadhrat Mian Wasim Ahmad Sahib bahwa saya mau baiat.

Sebagian besar waktu tahanan saya di penjara adalah di penjara Secunderabad. Di sana Kepala Penjara seorang Muslim terpelajar, semua surat-menyurat para tahanan diketahui oleh beliau, sebab semua surat yang keluar masuk harus ditanda tangani beliau. Walaupun hal itu tidak baik, akan tetapi disebabkan kurang keberanian, saya selalu berusaha surat keluar masuk ke atau dari Qadian jangan sampai diketahui oleh para petugas penjara.

Majlis Ittihadul Muslimin di Hyderabad, India, adalah sebuah Jemaat (organisasi) yang sangat terkenal sehingga semua Staf dan semua orang tahanan penjara berlaku baik dan sangat hormat terhadap saya. Selain dengan penjaga penjara saya tidak bisa bertemu dengan siapapun. Tanpa sepengetahuan penguasa, surat-menyurat saya ke Qadian dikirim dengan Pos. Namun surat yang datang dari Qadian harus jatuh ke tangan penguasa penjara. Ketika formulir baiat datang dari Qadian timbullah kesusahan, tidak dapat dirahasiakan lagi. Akhirnya penguasa penjara datang kepada saya, sambil memegang surat saya bersama formulir baiat di tangannya.

Beliau bercakap-cakap dengan nada sangat simpati dengan saya dan bertanya, ‘Apa yang sedang Anda lakukan? Tinggalkanlah membaca Tafsir Al-Quran itu, saya akan memberi Tafsir yang lebih baik, yaitu Tafsir Maulana Abul Kalam Azad dan Maulana Maududi, semua pikiran dan pendapat Anda akan menjadi baik dan lurus.‘

Lalu beliau memberikan dua buah tafsir oleh kedua Maulana itu, sesungguhnya hanya terjemah saja dan hanya di beberapa tempat terdapat tafsirnya. Sebelum mengirimkan formulir baiat ke Qadian saya menelaah tafsir dari kedua ulama itu sampai selesai. Seorang siswa (pembelajar) Tafsir Kabir dapat meraih kemampuan luar biasa sehingga dapat mengeritik pandangan semua tafsir. Maka saya beritahu penguasa penjara itu, bahwa di dalam kedua tafsir itu di mana terdapat ayat yang artinya mubham (meragukan) disana terdapat terjemah yang salah dan terdapat makna yang sangat terbatas. Sedangkan saya merasa mudah sekali untuk memahaminya sebab di dalam Tafsir Kabir ini terdapat makna Loghat Qur’an juga. Sebab Allah Ta’ala berfirman; لا يمسه إلا المطهرون ‘laa yamassuhu illal muthahharuun.’ – “Hanya orang-orang muthahhar (yang disucikan) yang dapat memahami ayat-ayat Alqur’an.” (Al Waaqi’ah ayat; 80).

Saya berikan penjelasan secara rinci, supaya tuduhan-tuduhan terhadap saya dapat dihapuskan dan jangan sampai melambatkan baiat saya. Saya membaca Tafsir orang-orang lain juga disamping Tafsir Kabir, kemudian saya bandingkan sehingga saya betul-betul paham. Setelah formulir baiat dikirimkan ke Qadian saya terus-menerus berdoa, apakah baiat saya itu dikabulkan atau tidak. Perkiraan saya tidak salah. Sebelum baiat saya dikabulkan, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengirim sepucuk surat dan berkata kepada saya: “Kewajiban seorang Ahmadi Muslim harus setia kepada Pemerintah yang berlaku sekarang, bekerja sambil tunduk kepada Undang-undang Negara.”

Saya jawab kepada beliau: ”Hudhur, semua perkara yang dijelaskan di dalam Tafsir Al-Quran dari Hudhur telah menanamkan kesan-kesan yang sangat baik di dalam kalbu saya.” Setelah beberapa hari kemudian, saya mendapat berita dari Qadian bahwa baiat saya sudah dikabulkan. Maka saya pun langsung merebahkan diri dan bersujud di hadapan Allah Ta’ala untuk bersyukur kepada-Nya.”

Dalam Tafsir Kabir saya membaca di satu tempat bahwa Khalifah yang akan menjadi Mushlih Mau’ud, akan menjadi sumber pembebas orang-orang yang terkurung di dalam belenggu penjara. Maka, saya memohon kepada Hudhur untuk mendoakan saya agar saya segera dibebaskan dari penjara. Hadhrat Khalifah berdoa untuk saya: ‘Semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana kebebasan bagi Anda.’ Maka dengan karunia Allah Ta’ala setelah beberapa hari kemudian saya pun dibebaskan dari penjara. Alhamdulillaah! Saya adalah Tanda yang hidup dari bagian nubuatan tentang Mushlih Mau’ud, yaitu ‘Ia akan menjadi sumber pembebas orang-orang terkurung di dalam belenggu penjara.’”

Banyak para ahli pikir Barat di antaranya dari Amerika dan beberapa orang dari Eropa. Saya akan mengemukakan sebuah contoh, yaitu A. J. Arberry. Beliau ahli Ketimuran dari Britania (Inggris Raya), sarjana Bahasa Arab, Farsi dan Agama Islam. Dia berkata, “Terjemahan dan Tafsir baru Al-Quranul Karim lima Jilid, sebuah karya sangat agung dan merupakan karya pertama tingkat paling tinggi derajatnya. Kira-kira 15 tahun yang lalu para peneliti ulama Ahmadi telah memulai merintis karya agung ini, dan pekerjaan ini dilakukan atas pengawasan dan bimbingan penuh langsung dari Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad Sahib.

Pekerjaan itu sangat tinggi dan agung mutunya, yaitu menerbitkan edisi Al-Quran terjemahan bahasa Inggris yang harus betul-betul tepat disertai dengan tafsir pada setiap ayat. Jilid pertama yang sekarang ada di depan saya (A. J. Arberry) mencakup 9 buah surah. Dimulai dengan pengantar yang sangat elok dan panjang sekali yang ditulis oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad Sahib sendiri.

Di dalam Pengantar ini Hadhrat Mirza Sahib menulis, ‘Apapun yang telah dijelaskan di dalam Tafsir ini mengemukakan bagian dari ma’rifat rohaniah yang telah dijelaskan oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as yang kemudian diberi penegasan dan penjelasan lebih lanjut oleh Hadhrat Khalifatul Masih Awal atau oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad sendiri, yang menjadi Khalifatul Masih II Jemaat Ahmadiyah. Karena itu, kami dapat mengatakan bahwa terjemahan dan Tafsir ini adalah persepsi penuh dari Jemaat Ahmadiyah.”

Bukan hanya itu, seorang Arab dari Suriah juga bernama Dr Muhammad Anas menulis: “Dalam mencari hak dan nur kebenaran saya telah membaca kitab-kitab dan Tafsir dari berbagai ulama, diantaranya adalah Sulthaanul ‘Aarifiin, Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, Muhammad ibn Ali Al-Hatimi ath-Thaa-i dan banyak lagi Tafsir lainnya.

Tetapi, dalam Tafsir-tafsir itu tidak terdapat kelebihan dan tidak ada perasaan lezat di waktu membacanya, tidak seperti yang terdapat di dalam Tafsir Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad Sahib. Sebelum ini saya sedang mencari Tafsir mengenai pengalaman kasyaf tentang diri pribadi dan ruh saya, kemudian setelah menelaah Tafsir dari Ahmadiyah yang terdapat di dalam Website, maka nampak kepada saya nur dan kebenaran yang telah memikat hati saya sepenuhnya.”

Selanjutnya, Tuan Jamal Aghzul dari Marakesh (Maroko), yang banyak melakukan surat-menyurat dengan Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h. untuk waktu yang cukup panjang berkata, “Hasil dari surat-menyurat dengan beliau, saya mendapat kiriman dari Markaz Jemaat sebagai hadiah berpa Tafsir Kabir Jilid pertama. Ketika saya membaca Tafsir itu dan membandingkannya dengan tafsir-tafsir yang lain, saya lihat perbedaannya luar biasa jauhnya seperti jauhnya langit dengan bumi. Di dalam Tafsir ini terdapat penjelasan tentang makrifat Ilahi, hikmah-hikmah yang sangat dalam dan Tafsir Kabir itu merupakan intisari Syari’at Islam, sedangkan Tafsir-tafsir yang lain hanya merupakan kulit semata. Dengan menelaah Tafsir Kabir ini hati saya telah dihiasi dengan gambar-gambar tentang Islam yang sangat indah dan menarik sekali yang langsung masuk ke dalam ruh saya.

Selain itu, banyak pidato Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang memikat dan mengesankan hati banyak sekali orang ghair Ahmadi dan mereka mengakui betapa luas dan dalamnya ilmu pengetahuan beliau. Beberapa contohnya akan saya sampaikan sekarang ini. Sayyidina Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menyampaikan dua buah lecture (kuliah, pidato) di kota Lahore atas permintaan Gerakan Literary, Punjab, yang Pemimpinnya adalah Rektor Universitas Punjab sendiri. Pidato pertama Hudhur ra tentang “Bagaimana kedudukan Bahasa Arab di tengah-tengah Bahasa-bahasa lainnya di dunia,” diselenggarakan pada 31 May 1934 di YMCA Hall di Mall Road, Lahore Pakistan, dipimpin oleh Dr Barkat Ali Qureshi MA, PhD, Principal Islamia College, Lahore.

Pidato Hudhur ra berlangsung selama 30 menit dan hadirin mendengarkannya dengan semangat dan penuh perhatian. Setelah Pimpinan pertemuan Dr Barkat Ali Qureshi Sahib menyampaikan penghargaan dan terima kasih, beliau memberi nasihat kepada hadirin untuk merenungkan dan mengambil faedah sebaik-baiknya. Akhirnya, Dr Barkat Ali Qureshi Sahib juga mengharapkan agar di masa datang dapat mendengar lagi pidato bertajuk ilmiah seperti itu.

Hadirin terdiri dari berbagai tingkatan manusia berpendidikan tinggi. Lala Kamar Singh Sahib, mantan Chief Justice of Kashmir, hadir juga di dalam pertemuan tersebut. Setelah pernyataan terima kasih dari Dr Barkat Ali Qureshi Sahib, pimpinan sidang, kemudian Lala Kamarsingh Sahib mantan Chief Justice of Kashmir itu memberi tanggapan sambil menyatakan terimakasih kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra di dalam bahasa Inggris.

Ia berkata, “Pada hari ini seorang pakar dan fasih berpidato telah memberikan kuliah yang sangat menarik dan sangat berbobot mengenai ketinggian dan kelebihan bahasa Arab. Saya sangat senang dan gembira sekali mendengar pidato ini. Ketika saya datang untuk mendengar pidato ini, mula-mula saya pikir mungkin tajuk ini akan dijelaskan dengan gaya kuno seperti orang-orang menjelaskan ayat-ayat suci Al-Quran. Terkenal sekali sebuah kisah seorang Arab ketika ditanya tentang kelebihan bahasa Arab. Orang Arab itu berkata, ‘Bahasa Arab mempunyai tiga macam kelebihan. Pertama, saya seorang bangsa Arab, kedua, Al-Quran diturunkan di dalam bahasa Arab dan ketiga, bahasa Arab adalah bahasa pengantar di Surga.’ Saya pikir akan diterangkan kelebihan bahasa Arab seperti itu.

Akan tetapi pidato yang disampaikan ini sangat intelektual, akademis dan keluhuran filosofi yang luar biasa. Saya ingin meyakinkan Hadhrat Mirza Sahib bahwa saya mendengarkan setiap kata dari pidato itu dengan semangat dan penuh perhatian. Saya mengambil banyak sekali faedah, semoga kesan pidato ini tetap tersimpan di dalam kalbu saya untuk selama-lamanya.”

Tn. Sayyid Abdul Qadir, Naib Principal Islamia College, Lahore, menulis tajuk ‘Islam and Communism’ dalam surat kabar. Di sebagian dari tulisannya itu disisipkan pernyataan: “Saya mendapat kehormatan hadir di Majlis untuk mendengarkan pidato Mirza Bashiruddin Sahib, Imam Jemaat Ahmadiyah dengan tajuk ‘The Economic System of Islam and Communism’. Pidato ini juga seperti pidato beliau yang lainnya yang telah saya dengar, sangat ilmiah dan membuat hati bertambah terang dan sarat dengan informasi. Mirza Sahib memiliki kemampuan khas, anugerah dari Tuhan dan setiap aspek dalam tajuk itu beliau betul-betul kuasai dan menjelaskan-nya dengan sangat menakjubkan, kami sangat menghargainya dengan penuh perhatian.”

Buku itu sangat perlu untuk disebarkan ke berbagai tempat di seluruh dunia. Sebab pada umumnya manusia menganggap bahwa ‘Nizam Ekonomi Islam’ pertama kali dikemukakan oleh Maulana Maudoodi Sahib, padahal jauh sebelum itu sebuah pidato ilmiah tentang ‘The Economic System of Islam and Communism’ telah disampaikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra dan telah dicetak berupa buku kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan sekarang juga dapat diperoleh dan harus dibaca oleh orang-orang yang bercakap bahasa Inggris dan buku ini harus dibagikan kepada orang-orang yang tertarik dengan masalah Ekonomi.

Selanjutnya, Lala Ram Chand Sahib menganggap dirinya sangat beruntung mendapat kesempatan untuk mendengarkan pidato sangat berharga oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II r.a tentang Islam ka Iqtishadi Nizam (Nizam Ekonomi Islam). Saya sangat gembira menyaksikan Gerakan Ahmadiyah sedang berderap maju dan maju dengan cemerlang sekali. Pidato yang telah Saudara-saudara dengar pada waktu ini, di dalamnya terdapat perkara-perkara yang sangat istimewa dan berharga sekali yang Hadhrat Sahib telah menerangkannya dengan sangat jelas sekali, dan saya memperoleh banyak sekali faedah dari pidato ini. Mula-mula saya mempunyai anggapan yang salah bahwa di dalam peraturan dan Undang-undang Islam, hanya memikirkan kesejahteraan orang Islam sendiri, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap orang-orang Non Muslim. Akan tetapi semenjak hari ini setelah mendengar pidato Hadhrat Imam Jemaat Ahmadiyah saya mengetahui dengan jelas bahwa Islam mengajarkan persamaan terhadap manusia seluruhnya.

Saya sangat gembira setelah mendengar pidato ini dan akan saya beritahukan kepada kawan-kawan Non Muslim bahwa apa halangannya bagi kalian menghormati dan menghargai orang-orang Muslim seperti ini. Saya berulang kali menyampaikan penghargaan, bahkan ratusan ribu penghargaan kepada Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad Sahib, Imam Jemaat Ahmadiyah, yang telah menyampaikan pidato yang sangat berharga dan berfaedah bagi kita semua.

Jadi, itu semua hanya salah satu aspek dari nubuatan: “Akan dikaruniakan penuh ilmu-ilmu duniawi dan rohaniah kepadanya.” Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk membaca dan mempelajari khazanah ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan yang telah beliau jelaskan kepada kita. Dan, sebagaimana berkat-berkat yang tersimpan di dalam berbagai macam tajuk yang telah beliau jelaskan itu semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk mengambil faedah sebanyak-banyaknya, dan semoga ilmu dan irfan kita semakin bertambah meningkat. [Aamiin!]

Pada hari ini saya akan memimpin salat jenazah gaib untuk Hadhrat Sahibzada Mirza Hanif Ahmad Sahib, putra Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra yang lahir dari kandungan Hadhrat Sarah Begum Sahibah dan wafat pada tanggal 17 Februari 2014 di Tahir Heart Institute Rabwah pada umur 82 tahun. إنا لله وإنا وإليه راجعون. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Beliau adalah paman saya dari pihak ibu. Beliau lahir pada 24 Maret 1932. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah mewaqafkan beliau semenjak masih kecil, seperti terhadap semua putra beliau.

Hudhur ra telah menyalurkan beliau ke arah pendidikan sesuai dengan tujuan beliau ra Sahibzada Sahib mendapat pendidikan agama dari Madrasah Ahmadiyya dan Jamia Ahmadiyya, Qadian India. Beliau lulus Matric (setara SMU) secara private, tahun 1957 meraih gelar BA dan tahun 1962 memperoleh pendidikan di Lahore Law Colledge dan meraih gelar LLB dengan syarat tidak boleh praktek sebagai ahli Hukum. Pada tahun 1962 beliau pergi keluar Negeri untuk berkhidmat kepada Jemaat dan menjalankan tugas sebagai kepala secondary school (Sekolah Menengah) di Siera Leone, Afrika dari tahun 1962 sampai 1969.

Beliau sangat terpelajar. Setelah 20 tahun bekerja keras mengadakan penelitian, beliau menyusun sebuah buku berkenaan dengan Al-Quran bersumber kepada kumpulan dari selected Promised Messiah’s (on whom be peace) valuable pronouncements and poetic verses in Urdu, Persian and Arabic and his revelations, yakni: pilihan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang sangat berharga dan syai’ir-sya’ir dalam Bahasa Urdu, Farsi dan Bahasa Arab serta wahyu-wahyu beliau as. Beliau menyusun buku itu dengan nama: Ta’lim fahimul Qur’an Hadhrat Masih Mau’ud as Buku itu cukup tebal dan mutunya sangat baik sekali, dicetak pada tahun 2004. Beliau menyusun dan mencetak sebuah buku lain lagi berisikan sya’ir-sya’ir Hadhrat Masih Mau’ud as di dalam bahasa Urdu, Farsi dan bahasa Arab. Buku itu sebagai buku panduan.

Beliau menikah pada tahun 1959 dengan Tahirah Begum Sahibah, putri Hadhrat Zainul Abidin Waliullah Shah Sahib ra, paman Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h. dan mereka mempunyai empat anak. Salman Ahmad Sahib tinggal di America, Amatul Momin Hina Sahibah seorang doktor, Meena Mubarakah Sahibah dan Amatul Samee Sahibah. Istri beliau menceritakan peristiwa di Siera Leone, ketika untuk pertama kalinya dibangun science block di Ahmadiyya school Bo City, dengan kerja keras sepanjang hari beliau berdiri mengawasi pembangunan science block itu.

Tuan Qamar Sulaiman yang telah mengunjungi Siera Leone mengatakan, “Masyarakat Sierra Leone sangat mengenang Sahibzada Sahib sampai sekarang.”

Beliau menaruh perhatian penuh terhadap anak-anak yatim dan menolong mereka secara diam-diam. Beliau juga sangat menaruh perhatian terhadap kawan-kawan beliau sehingga ketika salah seorang kawan dekat beliau meninggal dunia beliau mengayomi anak-anaknya yang ditinggalkan dan masih kecil-kecil, sangat memperhatikan mereka dan setelah dewasa beliau mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pernikahan mereka dan beliau mengikat tali persahabatannya yang sangat baik dengan mereka.

Diantara keturunan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, beliau yang paling cakap memahami bahasa Farsi sehingga beliau dapat menguasai percakapan bahasa Farsi dengan fasih. Beliau rajin menelaah secara mendalam buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Itulah sebabnya beliau telah berhasil menyusun sebuah buku mengenai pengertian Al-Quran yang berjudul “فهمُ تعاليم القرآن” ‘Fahmu Ta’aalimil Qur’aan’. Tanpa menelaah buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as secara mendalam tidak akan dapat menyusun sebuah buku seperti yang telah beliau susun.

Istri beliau berkata, “Beliau sendiri memberi tahu, bahwa beliau telah membaca sebagian besar dari buku Hadhrat Masih Mau’ud as sebanyak 20 sampai 25 kali. Beliau mencintai Qadian luar biasa, beberapa tahun yang lalu beliau sering pergi ke sana sekali pun kesehatan beliau sangat terganggu.”

Beliau sangat yakin terhadap doa. Salah seorang putri beliau berkata, “Beliau menceritakan seorang Sahabat, beliau melihat di dalam mimpi, derajat Sahabat itu semakin tinggi. Sahabat itu berkata, ‘Jika anak-anak shaleh engkau yang ditinggalkan setiap waktu mendoakan engkau maka derajat engkau akan semakin meningkat.’ Sebab itu beliau selalu menasihati putra-putri beliau agar berdoa untuk beliau setelah beliau wafat.”

Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada semua putra-putri beliau agar tetap berpegang teguh pada kebaikan-kebaikan, sesuai dengan doa yang selalu dipanjatkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bagi anak-keturunan beliau dan bagi Jemaat beliau. Semoga mereka menjadi buah terkabulnya doa-doa beliau ra; untuk putra-putri beliau, anggota-anggota lain dari keluarga Hadhrat Masih Mau’ud as begitu juga bagi semua anggota Jemaat.

Doa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra kepada Allah Ta’ala bagi semua putra-putri beliau, “Ya Allah, aku mohon agar anak-anakku dan anak-anak dari anak-anak mereka menjadi amanat Engkau yang tidak dapat dikhianati oleh setan dan menjadi orang-orang yang selalu mendahulukan urusan agama diatas urusan dunia.”

Semoga Allah Ta’ala memperlakukan dengan penuh maghfirah-Nya atas Sahibzada Mirza Hanif Ahmad Sahib, mengasihi beliau dan meninggikan derajat beliau. Semoga Dia juga memberi taufiq kepada putra-putri beliau untuk memenuhi hak keturunan yang kepadanya mereka menghubungkan diri mereka. Beliau sangat banyak dan erat sekali mengikat hubungan dengan saya. Sejak sebelum dan sesudah Khilafat juga hubungan kecintaan dengan saya sangat mendalam. Namun, dalam menjalin hubungan dengan saya, beliau sangat tinggi dalam hal kelemah-lembutan, selalu merendahkan diri dan menunjukkan keikhlasan dan kesetiaan yang luar biasa. Semoga Allah Ta’ala selalu meninggikan derajat beliau dan Dia memberi taufiq kepada semua putra-putri beliau untuk menjalin hubungan khas dengan Khilafat.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2]

[3]

[4] Majmuu’ah Isytihaaraat (Kumpulan Selebaran Pengumuman) jilid awwal halaman 95-96, isytihaar (pengumuman) number 33 ‘isythaar 20 Februari 1886’, Cetakan Rabwah.

[5] Bulanan ‘Ansharullah’, Hadhrat Mushlih Mau’ud, Mei-Juni-Juli, 2009, halaman 64-65.

[6] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 8, halaman 157, terbitan Rabwah

[7] Tafsir Kabir, jilid 7, catatan pengantar/perkenalan, terbitan Rabwah.

[8] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 8, halaman 157-158, terbitan Rabwah.

[9] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 8, halaman 159-161, terbitan Rabwah.

[10] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 9, halaman 862-863, terbitan Rabwah.

[11] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 6, halaman 180-181, terbitan Rabwah.

[12] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 9, halaman 626, terbitan Rabwah.

[13] Tarikh Ahmadiyyat, jilid 9, halaman 622-623, terbitan Rabwah.

[14] Meri Sarah (My Sarah atau Sarahku), Anwarul ‘Ulum jilid 13, halaman 189, terbitan Yayasan Fadhl Umar, Rabwah.