Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)

Pada Jumat, 06 Oktober 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Saya sering sekali menceritakan kisah inspiratif tentang keimanan atau pengalaman ruhani yang luar biasa dari para Mubayyin Baru setelah mereka menerima Ahmadiyah. Banyak orang Jemaat meminta agar saya terus menceritakan peristiwa tersebut karena kisah-kisah semacam itu bisa diserap dan berfaedah bagi para anak-anak Ahmadi, menolong para muda/mudi Ahmadi dalam memperbaiki diri di bidang keagamaan dan keruhanian, bahkan mendorong para orang dewasa Ahmadi untuk memperbaiki diri juga dan memperelok keadaan mereka. Sebagian Ahmadi keturunan juga mengatakan bahwa keadaan para Ahmadi baru secara keruhanian dan tingkat kedekatan mereka dengan Allah menimbulkan perasaan malu atas kondisi mereka (para Ahmadi keturunan ini) dan mengingatkan mereka keharusan usaha menambah keimanan. Sebagian Mubayyi’ baru juga mengatakan kisah-kisah itu menambahkan keimanan mereka.

Namun, terdapat segolongan orang Jemaat yang tinggal di Barat atau yang menyangka dirinya terpelajar dan maju yang datang dari Pakistan, terikat dengan keduniaan dan terlibat asyik dengan kesibukan duniawinya menjadi lalai terhadap Allah Ta’ala atau dan tidak menaruh perhatian sedikit pun pada ajaran Masih Mau’ud atau tidak menaruh perhatian terhadap Allah sebagaimana itu wajib bagi para Ahmadi; sebagaimana itu haq Allah atas para hamba-Nya; sebagaimana itu fardhu atas mereka yang telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka cenderung mengabaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah Ta’ala dan terhadap Jemaat yang Dia dirikan atau menaruh perhatian tapi belum selayaknya.

Mereka cenderung mengabaikan kewajiban-kewajiban keagamaan. Mereka tidak memikirkan perbaikan keadaan keagamaan mereka atau menaruh perhatian dengan layak. Mereka adalah orang-orang yang ketika mendengarkan kisah-kisah para Mubayyi’ baru atau peristiwa-peristiwa yang menambah keruhanian seseorang dengan satu atau lain cara; mereka membicarakannya dalam corak mengajukan keberatan, mengapa peristiwa-peristiwa yang menyegarkan keimanan semacam itu hanya terjadi di Afrika, di negara-negara Arab atau di Asia? Mengapa bukan terjadi di kalangan orang-orang yang tinggal di Eropa? Mengapa orang-orang Barat tidak mendapat petunjuk kearah kebenaran melalui mimpi-mimpi dan kasyaf-kasyaf? Mengapa mereka tidak mengenal kebenaran atau menaruh perhatian terhadapnya melalui pembacaan buku-buku Jemaat? Mengapa mereka tidak mengalami pengalaman-pengalaman ruhaniah?

Hal pertama sebelum membicarakan hal-hal lainnya, orang-orang dari Eropa yang cenderung tertarik pada agama juga mengalami hal yang seperti itu. Tuhan telah menampakan tanda-tanda-Nya kepada mereka dan menyediakan sarana-sarana dari-Nya demi menambah keimanan mereka. Di Britania juga banyak Mubayyi’ baru atau warga asli Inggris yang berbaiat sudah sejak lama. Mereka bertambah dalam keimanan setiap hari. Mereka yang baru baiat pun atau baru bergabung dengan Jemaat juga mengalami pengalaman-pengalaman yang menyegarkan keimanan dan menambah keyakinan kepada Allah seperti terungkapnya kebenaran Jemaat kita lebih banyak kepada mereka, bertambahnya keikhlasan, kesetiaan dan ketulusan mereka kepada Khilafat secara berkelanjutan. Mereka ada yang dari kalangan pria dan juga wanita. Mereka menyampaikan kisah-kisahnya dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Lajnah Imaillah, Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah. Sebagaimana juga kisah mereka ditayangkan oleh saluran televisi kita, MTA. Ringkasnya, mereka yang perhatian terhadap agama dari kalangan orang-orang Barat maka Allah Ta’ala perlihatkan pada mereka tanda-tanda-Nya dan Dia ungkap pada mereka kebenaran Ahmadiyah.

Ada juga dari mereka yang tidak baiat bergabung dnegan Jemaat namun mereka menjadi kenal akan keagungan Islam dan kebaikannya melalui kita. Banyak sekali kisah-kisah semacam itu yang saya ceritakan sepulang dari lawatan atau Jalsah dari berbagai negara. Poin kunci yang harus diingat disini adalah Allah Ta’ala hanya membimbing orang-orang yang benar-benar berusaha mencari keberadaan wujud-Nya. Dia sama sekali tidak perduli terhadap orang-orang matrealistis yang tidak memiliki kecenderungan kepada-Nya.

Sejarah para Nabi memberitahukan pada kita bahwa orang-orang lemah dan miskinlah yang tertarik kepada agama dan mengimaninya. Pada umumnya mereka merendah hati dan miskin lebih banyak rindu ingin berjumpa dengan Allah dan takut kepada-Nya. Adapun mereka yang tenggelam dalam keduniaan dengan membanggakan kekuatan dan kelebihan-kelebihannya, mereka berkata kepada para Nabi secara merendahkan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya [kaum Hud]: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.’” (Surah Hud, 11:28) Artinya mereka berkata, “Orang-orang yang mengikuti Anda itu kami perhatikan ialah yang paling rendah diantara kami sebagaimana tampak di mata kami.”

Dengan demikian, orang-orang yang materialistis (duniawi) terjangkit kesombongan, hal pertama, disebabkan kecongkakan; lalu karena mereka amat mendalam terlibat dalam hal-hal duniawi; menjadikan mereka tidak mencari kesempatan dan menaruh minat serta perhatian terhadap agama. Mayoritas orang-orang Eropa atau Negara maju adalah orang-orang yang tidak ber-Tuhan. Ketika mereka sepenuhnya menjauh dari Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan akan berbalik ke arah mereka dan membimbing mereka?

Hadhrat Masih Mau’ud menggambarkan keadaan orang-orang duniawi tersebut, “Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Surah al-‘Ashr contoh kehidupan orang-orang yang ingkar dan orang-orang beriman. Kehidupan orang-orang ingkar ialah seibarat hewan ternak yang kerjanya hanya makan, minum dan melampiaskan hawa nafsu saja, sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُالْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ‘…dan orang-orang yang ingkar bermewah-mewah dan makan sebagaimana binatang ternak makan…’ (Surah Muhammad, 47:13) namun, perhatikanlah jika binatang ternak itu tetap saja makan-makanan lalu pada masa menanam tetap saja diam diri diatas bumi (tidak mau bekerja) maka akan bagaimanakah akhirnya? (Pada masa itu para petani membajak tanah pertanian dengan bantuan binatang ternak (sapi atau kerbau) sebagai masa persiapan untuk menanam. Di sini (Inggris), orang-orang juga pada masa lalu menggunakan kuda-kuda untuk membajak tanah pertanian) Jika demikian, hewan-hewan yang tidak berguna seperti itu akan diambil oleh petani dan dijual kepada tukang jagal. (disembelih)

Demikian pula, Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang yang tidak mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghabiskan hidupnya dalam kefasikan dan dosa, قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ (Surah al-Furqan, 25:77) ‘Tuhanku takkan peduli terhadap kalian hingga kalian berdoa.’ Artinya, Dengan bagaimana Dia tidak mempedulikan kalian jika kalian tidak beribadah kepada-Nya? Allah Ta’ala tidak mempedulikan kecuali terhadap orang-orang yang bersujud kepada-Nya dan memohon petunjuk dan pertolongan dari-Nya.”

Beliau as menambahkan dengan bersabda, “Kebenaran ialah sesuatu yang agung dan tanpa itu amal-amal saleh takkan sempurna. Allah Ta’ala tidak mengosongkan sunnah-Nya dan manusia (yang rusak) tidak menginginkan meninggalkan jalan-jalan-Nya. Maka Dia berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ  ‘Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, pasti Kami akan membimbing mereka pada jalan kami.’ (Surah al-Ankabut, 29:70)

Orang-orang  yang secara tetap dan terus-menerus berupaya untuk mencari agama yang benar dari Allah akan terbimbing dan menambah keimanan mereka serta lebih maju dalam hal itu.  Ada juga dari mereka yang Allah anugerahi mereka kemuliaan dengan karunia yang khas dikarenakan keluhuran budi dan amal saleh, sehingga sehingga Dia memperlihatkan kepada mereka jalan yang lurus. Sebagian peristiwa berkenan dengan hal tersebut hendak kita uraikan ilah contoh orang-orang yang berupaya mencari jalan lurus atau mereka yang – seperti telah saya katakan –  Allah anugerahi mereka kemuliaan dengan karunia yang khas dikarenakan keluhuran budi dan amal saleh – Dia bimbing merek a ke jalan yang lurus.Pada hari ini telah saya susun juga sebagian peristiwa tersebut yang menjadi contoh kemajuan dalam keimanan, keikhlasan dan keruhanian.

Amir Jemaat kita di Burkina Faso melaporan, “Salah satu Mubaligh kita bertabligh di sebuah desa di Burkina Faso yang bernama desa Laki. Hanya seorang wanita berumur yang baiat di sana. Muballigh tersebut memberitahukan kepada para penduduk desa bahwa masjid kita berjarak 15 kilometer dari desa itu dan jika ingin mengetahui lebih banyak mengenai Ahmadiyah, dapat ke sana dan juga dapat melaksanakan shalat Jumat. Satu ketika aliran sungai yang terletak diantara desa itu dan masjid Jemaat meluap menggenangi desa tersebut. Wanita tua yang biasa shalat Jumat di Masjid kesulitan untuk bisa sampai ke Masjid. Ia terpaksa shalat sendiri di tepian aliran sungai yang meluap sambil berpikir dalam hati, ‘Saya telah shalat bersama para Ahmadi karena dari awal niatnya demikian.’ Mubaligh baru mengetahuinya satu bulan kemudian saat wanita itu memberitahukan ke pusat Jemaat setelah air surut. Peristiwa tersebut memperlihatkan tingginya derajat keimanan wanita tersebut.

Setelah mendengarkan kisah itu, Muballigh berkunjung lagi ke desa tersebut dan mengatakan kepada penduduk setempat, ‘Perhatikanlah wanita yang telah berumur ini yang mencari kebenaran dan mendapatkannya dengan karunia Allah. Ia telah berkorban demi itu sampai-sampai pergi tiap Jumat dan pulang lagi dikarenakan air meluap. Inilah keikhlasannya.’ Setelah Muballigh menyampaikan hal itu, 30 orang dari desa tersebut bergabung ke dalam Jemaat dikarenakan keikhlasan wanita itu. Sebagian dari mereka ialah keluarga wanita itu. Demikianlah Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana petunjuk.”

Berkenaan dengan orang-orang yang masuk kedalam Ahmadiyah melalui mimpi, saya ingin menceritakan kisah seorang wanita Perancis, Asia. Wanita itu mengatakan bahwa ia masuk Ahmadiyah karena tidak sengaja menyaksikan arguments yang kuat tentang kewafatan Yesus melalui program MTA berbahasa Arab “Al-Hiwarul Mubasyir”. Hal tersebut mengingatkannya kembali pada mimpinya, dimana saat itu ia hampir jatuh ke dalam sebuah sumur, tiba-tiba beberapa burung menyelamatkannya. Ketika ia membaca literature Jemaat. Ia yakin bahwa Hadhrat Masih Mau’ud adalah Imam Mahdi dalam Islam. Ia pun Istikharah dan akhirnya dibimbing kepada Ahmadiyah.

Seorang wanita lainnya dari Turki, Ibu Amirah menceritakan bahwa ia kenal Ahmadiyah pada tahun 2010 setelah menyaksikan program MTA [yaitu program dialog bahasa Arab]. Setelah itu ia beserta anak perempuan dan menantu perempuannya berbaiat tatkala Tn. Abdul Qadir Audah (Odeh, salah seorang pengurus Arabic Desk) berkunjung ke Turki .

Mubaligh di Benin berkata bahwa ketika ia pergi tabligh ke sebuah desa. Orang-orang di desa itu memintanya untuk datang lagi pada hari Jumat. Di hari itu ia menerangkan tentang makna surah al-fatihah, dan dalil-dalil tentang kedatangan Imam Mahdi, setelah penjelasan tersebut banyak dari warga desa tersebut yang berbaiat karena mereka belum pernah mendengarkan penjelasan yang indah seperti itu. Tokoh agama setempat berusaha sebisa mungkin mencegah warga setempat menerima Ahmadiyah, namun tidak bisa. Demikian pula Jemaat berdiri di wilayah lainnya yang diakibatkan dari penyebaran brosur. Penentangan dari Ulama Sunni setempat tidak mampu menghentikan jumlah masyarakat setempat untuk menerima Ahmadiyah. Kini sedang berlangsung proses pembangunan sebuah Masjid.

Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana petunjuk bagi orang-orang – yaitu yang menyintai agama dengan sebanarnya – dengan berbagai cara. Amir Jemaat Burkina Faso menuliskan laporan bahwa mereka bertabligh di desa Nabir. Banyak orang yang berbaiat, dengan karunia Allah. Di kawasan  itu didirikanlah Masjid dari tanah liat dan seorang Muballigh ditempatkan di sana. Shalat Jumat pun didirikan secara teratur. Tokoh agama setempat mencoba mengusir (menghalang-halangi) anggota Jemaat dari Masjid, namun tatkala usahanya tersebut tidak berhasil, ia membangun Masjid bersebrangan dengan milik kita, dan berkoar bahwa Masjid Ahmadiyah segera akan menjadi bangunan yang tidak lebih dari tempat cagar alam. Akan tetapi orang-orang terus menerus bertambah jumlahnya di Masjid Ahmadiyah, sementara di Masjid sang Kiyai, hanya dia dan keluarganya yang melaksanakan Shalat. Dan jumlah yang hadir untuk Juma’tan berkisar 200 sampai 250 orang.

Perihal bagaimana Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan pengabulan doa, Mubaligh dari Benin, Tn. Anshar menulis bahwa 200 orang baiat di sebuah desa. Putri dari ketua Jemaat yang tinggal di desa lain sakit. Meski sudah dibawa berobat dan ke rumah sakit, setiap orang yang merawatnya di sana sudah putus harapan akan kesembuhannya. Ia sudah tidak bisa bergerak juga berbicara. Beberapa tokoh agama juga didatangkan untuk mendoakannya. Penduduk desa itu sudah yakin wanita itu akan meninggal dan membawa wanita yang sakit itu ke rumah ayahnya (yang sudah Jemaat) di desa sebelah. Ayah wanita itu lalu memohon kepada Jemaat agar mendoakan putrinya. Ia juga menulis surat kepada saya (Hudhur) untuk mendoakan anak kepala desa tersebut. Dengan karunia Allah ta’ala gadis tersebut sehat wal afiyat hingga hari ini. Ini juga tanda kebenaran Masih Mau’ud.

Di Burkina Faso ketika Mubaligh kita, Tn. Fenzi pergi ke sebuah desa,  sesepuh di desa tersebut berkata bahwa dahulu di kampung tersebut, sebagian orang telah masuk Ahmadiyah melalui mubaligh sebelumnya namun tidak semua masuk Ahmadiyah. Mereka mengundang para Mubaligh untuk bertabligh kembali sehingga seluruh desa baiat. Inilah bukti kebenaran Jemaat, dimana Rahmat Allah Ta’ala terlimpah atas orang-orang tersebut sehingga hati mereka menerima kebenaran ini. Hal itu disebabkan karena mereka sungguh-sungguh dengan agama dan keyakinan mereka.

Naib Da’wah ilaLlah lokal di India menceritakan sebuah peristiwa di sana, “Saya kenal seorang pria bernama Abdus Sattar dari Lekhimpur yang ketika saya berbincang dengannya dengan berurai air mata bercerita, ‘Kami tingal di desa Karnpur. Kami memiliki tanah pertanian yang cukup luas dan usaha dagang yang bagus. Kami telah baiat 12 tahun yang lalu. Namun setelah baiat kami mengalami penganiayaan yang berat. Para penentang melempari rumah kami dengan batu-batu. Anak saya dipukuli. Mereka menghalangi istri saya menolongnya. Permusuhan begitu berat hingga membuat kami harus meninggalkan kampung halaman dan pergi ke kota lain untuk tinggal di sana. Tanah kami dibeli dengan harga murah. Usaha dagang kami hancur. Kami pindah ke kota Lekhimpur. Kami mulai tinggal di sana, di sebuah rumah kecil. Namun, para penentang pun ternyata tidak rela melepas penentangannya terhadap kami. Mereka mengikuti kami ke kota yang baru itu. Mereka menyebarkan provokasi di kalangan Muslim di kota itu untuk memusuhi kami hingga menyebabkan terjadinya pemboikotan di tengah-tengah masyarakat secara menyeluruh. Tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan kami di kota itu. Mereka pun menyakiti kami saat di jalan-jalan. Mereka mencegah kami menjalin kontak dengan Jemaat juga namun Allah Ta’ala menunjukkan sebuah tanda agung bagi kebenaran Jemaat. Beberapa waktu kemudian, sebuah bus yang penuh dengan para penentang Ahmadiyah tertabrak kereta api. Jumlah mereka yang menjadi korban ialah 28 orang. Sejumlah lainnya luka-luka. Keadaan korban tabrakan sangat mengerikan sehingga anggota tubuh mereka berpencaran ke sana kemari. Hal tersebut menyebabkan sulit mengenali mereka. masyarakat setempat menyadari kesalahan yang mereka perbuat. Ada sebuah keluarga yang kehilangan 9 orang tewas.

Mengetahui hal ini, saya segera ke rumah sakit untuk menengok para korban dan keluarga. Keluarga para penentang menutupi wajah mereka karena malu terhadap kami. Setelah kejadian ini, Imam Masjid agung di kota Lekhimpur berdoa bagi para penentang yang selamat demikian pula bagi keluarga Abdus Sattar. Ia berkata kepada para penentang, “Kalian harus meminta maaf kepada para Ahmadi. Mereka telah merasa susah dan menderita karena permusuhan kalian. Hentikanlah permusuhan kalian.” Setelah hal ini api penentangan pun mereda. Meski ikatan kami dengan Jemaat telah berhenti namun kami Ahmadi di dalam hati kami. Kami pun amat senang telah dapat lagi kembali menjalin ikatan dengan Jemaat. Keluarga kami seluruhnya telah baiat. Allah Ta’ala menguatkan keimanan mereka yang bergabung dengan Jemaat setelah memahami hakikatnya.’”

Mubaligh dari Kosovo menulis bahwa ada seorang cendikiawan yang sangat terkenal, Tn. Syafji Karskhi. Ia merupakan Imam Masjid Agung dan juga seorang profesor di Universitas Islamic Studies. Ia telah berkata sesuatu yang provokatif tentang Hadhrat Masih Mau’ud (as), mengucapkan perkataan fitanah terhadap Jemaat dan menayangkan doa-doa laknatnya terhadap Jemaat di internet. Beberapa waktu kemudian, pria ini dikeluarkan dari jabatannya dan dituduh memiliki karakter buruk, ia ditangkap oleh polisi atas berbagai tuduhan termasuk memberikan perlindungan kepada teroris dan keterlibatannya dalam uang ilegal. Belum pernah terjadi di negara kami bahwa Ulama yang terkenal dan terkemuka dihinakan hingga derajat seperti itu. Dengan demikian, Allah menguatkan keimanan para Ahmadi di sana.”

Saya telah menyampaikan contoh penindasan terhadap Ahmadi baru di India sedemikian rupa dan keteguhan mereka dalam kebenaran. Di Uttar Pradesh penentangan sedemikian rupa sehingga ketika anak-anak Ahmadi meninggal, para penentang tidak mengizinkan mereka menguburkan anaknya di kuburan. Seorang Ahmadi mengubur anaknya di halaman rumahnya sendiri. Ketika ia kembali menghubungi Jemaat dan ditanya kenapa tidak menghubungi Jemaat dahulunya, ia menjawab bahwa para penentang menyebarkan berita bohong bahwa pusat-pusat Jemaat telah ditutup. Namun, mereka tetap dalam keimanannya. Tatkala hidayah telah ditakdirkan dari Allah, maka Dia akan membuat orang itu teguh dalam keimanannya. Sementara itu, mereka yang bergabung dengan Jemaat demi kepentingan tertentu maka mereka akn berbalik lagi dan meninggalkan Jemaat.

Di Pantai Gading, seorang Ahmadi diancam akan dibunuh oleh saudara laki-lakinya sendiri saat menerima Ahmadiyyat ‘sesuai Syariah Islam’. Namun, dia tetap teguh.

Ada sebuah kejadian mengenai pengaruh khotbah Jumat saya. Allah Ta’ala telah mengaruniai kemudahan kepada kita melalui MTA yang mana itu mengikatkan seluruh dunia. Pidato saya juga sampai ke seluruh tempat di dunia dan orang-orang non Ahmadi menyimaknya. Amir Perancis menulis kisah tentang seorang Mubayyin Baru yang tinggal di Pulau Mayotte sebelum menerima Ahmadiyah. Imam masjid di sana biasa memperlihatkan dan menyimak pidato saya (Hudhur) di MTA. Dalam salah satu khotbah tersebut, menjelaskan tentang kematian Yesus (as), yang memiliki dampak besar pada dirinya. Ia kemudian menemukan terjemahan bahasa Prancis dari pidato sebenarnya yang disampaikan oleh saya tentang Nabi Isa as. Ia kemudian menjadi Ahmadi. Kemudian bersamanya baiat juga tujuh puluh orang.

Berkenaan dengan efek atau dampak dari buku-buku Jemaat kepada orang-orang non-Muslim. Seorang Mubayyin Baru dari Kongo Brazzaville menulis bahwa saat ia mengunjungi saudaranya, ia menemukan sebuah buku berjudul “The True Story of Jesus”, yang kemudian dipinjamnya. Buku tersebut membuka matanya dan ia menyatakan baiat setelah membaca kembali buku tersebut dan mencari rujukannya dalam Alkitab. Saudaranya mengantarnya ke Jemaat Ahmadiyah dan juga mengajaknya ke Jalsah Jerman.

Saya amati para Mubayyi’ mengalami perubahan suci setelah baiat. Seorang pria dari Uzbekistan, Zhahir Wahid, kualitas ibadahnya (shalat) berubah setelah membaca Tafsir tentang Surah Al Fatihah karya Hadhrat Masih Mau’ud. Ia juga kagum dengan penjelasan Hadits yang menguraikan makna-makna ihsan yang mana belum dipahami sebelumnya.

Perihal kemajuan kerohanian para Mubayyin Baru,  Mubaligh dari Kosovo menulis “Para Mubayyin Baru maju dalam hal keikhlasan dan pengorbanan setiap harinya. Salah satu darinya mengkhidmati Jemaat siang malam dan selalu bersedia mengorbankan waktunya, ia pun ambil bagian dalam Waqf Ardhi dengan mengunjungi negara tetangga, sehingga banyak lahan tabligh baru yang telah terbentuk melalui dirinya. Ia terus saja tabligh meski kondisi sakit, dengan keras kepala ia mengatakan bahwa ia harus mengambil bagian dalam program tabligh tersebut meski bagaimanapun kondisinya.” Inilah semangat dan ghairat para Mubayyi’ baru untuk bertabligh.

Seorang Mubayyin Baru lainnya, Tn. Ibrahim dari Kongo, saat masuk Ahmadiyah langsung berhenti dari mengucapkan kata-kata kotor nan kasar, serta dari mengkonsumsi Alkohol.

Mubayyin Baru lainnya dari Burkina Faso, Tn. Suri Hamido menulis bahwa dahulu ia selalu terlilit banyak kesulitan, dan anak-anaknya senantiasa meninggal pada usia muda. Ketika bergabung dengan Jemaat, Allah Ta’ala menyingkirkan semua kesulitannya dan juga menganugerahinya anak-anak yang sehat walafiyat. Ketika ditanya oleh seorang Mubaligh, ia mengatakan bahwa ia amat bersyukur, karena ia juga dianugerahi anak-anak yang hidup selamat.

Berkenaan dengan manfaat Radio, seorang Mubaligh dari Benin menulis bahwa Seorang pria Kristen menelepon ke program Ahmadiyah dalam sebuah radio dan bertanya tentang kedatangan kedua Yesus (as). Pria itu yakin sudut pandang Ahmadiyah benar dan kemudian menerima Ahmadiyah.

Mubaligh dari Bolivia, Tn. Ghalib menulis, “Ada seorang pendeta Kristen dari golongan Saksi Yehowa, Tn. William Syahin. Ia orang Arab asal Lebanon. Ia seorang Kristen sejak lahir dan tinggal di Bolivia sejak 3 tahun lalu. Saya ingin mempelajari banyak tentang Saksi Yehowa dan mengadakan pertemuan dengannya. Ketika bertemu terjadilah diskusi tentang Islam dan Ahmadiyah. Saya menjelaskan semuanya dan mengundangnya untuk menghadiri sholat Jumat. Tapi, ia takut terjadi penentangan dari keluarga dan gerejanya. Ia cemas memikirkan bahwa bila ia bergabung dengan Jemaat maka ia terpaksa harus mencari pekerjaan lain namun di sisi lain ia menyadari pentingnya mencari kebenaran juga. Ia paham bahasa Arab, dan setelah membaca materi bahasa Arab lebih lanjut secara online, ia merasa telah menemukan kebenaran yang dicarinya. Kemudian ia baiat pada saat shalat Jumat. Ia tidak mencemaskan lagi soal penentangan dari keluarga dan tempat kerjanya (pendeta di gereja) serta kerugian yang akan dihadapinya.”

Apakah seseorang tersebut melakukan bai’at atau tidak, namun tabligh Ahmadiyah tentunya mempengaruhi orang tersebut.

Tn. Kamran Mubashar dari Australia menulis tentang seorang pria Australia yang awalnya sangat memusuhi semua orang-orang Islam, juga agama Islam. Lalu Ia diberitahu tentang moto Jemaat “Cinta untuk semua, tidak ada kebencian terhadap siapa pun”, ia pun melunak, bahkan setelah itu ia datang ke rumah misi.

Beberapa waktu lalu telah saya katakan bahwa para pencari suaka harus meluangkan waktunya untuk bertabligh. Seorang pencari suaka di Jerman telah menuliskan laporang kepada saya, “Saya berjumpa dengan seorang hakim yang bertanya, ‘Anda telah menyebarkan brosur mengenai Jemaat Anda?’ Saya jawab, ‘Iya.’ Dia bertanya, ‘Dimana?’ Lalu, saya menyebutkan nama-nama sejumlah tempat. Lalu, hakim itu berkata, ‘Benar. Kebetulan saya juga pernah menerima brosur tersebut di tempat tersebut. Baiklah saya terima permohnan suaka anda.’” Demikianlah, Tabligh menjadi sarana keputusan yang positif.

Orang-orang di Inggris sudah paham akan Jemaat Ahmadiyah, oleh karenanya para anak-anak muda kita tidak lagi malu. Namun, di beberapa tempat hal ini tidak terjadi. Ada peristiwa lain yang diceritakan oleh Muballigh kita di Australia, Tn. Kamran,  “Sebagian anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyah ragu-ragu melakukan suatu program dan saling bertanya, ‘Apa yang akan orang-orang katakan jika kita lakukan ini?’ Namun, dengan karunia Allah, pengenalan Jemaat di sini di wilayah kami dalam lingkup luas telah terjadi. Orang-orang mengenal nama Jemaat sehingga keraguan hilang di benak sebagian para Khuddam. Jika pun ada, itu di tempat lain. Program Tabligh kami bekerja sama dengan para Khuddam. Saat itu para Khuddam diberi tahu untuk mengenakan kaos yang bertuliskan informasi tentang Jamaat, kemudian mengabarkan pesan tersebut kepada publik.

Ada seorang khuddam yang datang kepada saya merasa malu dengan mengenakan kaos bertuliskan ‘Jemaat Islam Ahmadiyah’. saya katakan, ‘Kaos ini akan menjadi penyebab banyak orang tertarik pada kita. Kenakanlah dan lihatlah apa yang akan terjadi.’ Dengan karunia Allah, ketika sejumlah Khuddam keluar dengan memakai kaos tersebut, banyak orang yang mulai berfoto dengan para khuddam dan pesan Islam pun tersebarkan. Khadim yang disebutkan tadi mengatakan, ‘Awalnya saya merasa malu mengenakan kaos tersebut namun sekarang saya tahu bahwa semua keberkatan terkandung dalam nama Jemaat saja.’”

Ringkasnya, Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana bagi Tarbiyat para muda/mudi Jemaat dan untuk  bertabligh juga dalam segi ini.

Allah Yang Maha Kuasa mengungkapkan kata-kata berikut kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as): فحان أن تعان وتُعرَف بين الناس hal mana ilham ini secara jelas menyatakan, ‘Waktunya sudah dekat ketika engkau akan ditolong dan nama engkau akan dikenal dengan kemuliaan di antara orang-orang.’ Allah Ta’ala mengabarkan kepada beliau as pertama kali wahyu ini pada tahun 1883. selanjutnya, diilhamkan lagi dua kali. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Bisakah pekerjaan ini dilakukan atau dirancang oleh manusia? Tentu saja tidak! Hanya Allah Ta’ala yang dapat melakukan hal seperti itu, Dialah yang mengabarkan tentang sebuah peristiwa sebelum terjadi, hanya Dia yang memiliki pengetahuan tentang yang tak terlihat, dan hanya Dia yang dapat mengungkapkan berita apa saja.” Beliau (as) lebih lanjut bersabda: “Tanda ini terpenuhi setiap harinya.” Artinya, orang-orang ada saja yang mengenal Al-Masih yang dijanjikan dan orang-orang mengambil berbaiat kepadanya.

Selanjutnya beliau (as) bersabda: “Allah SWT memberi kabar gembira, ‘Suatu saat akan datang dimana engkau akan menjadi terkenal di dunia ini.’”

Hal tersebut sedang berlangsung saat ini. Kita menyaksikan hari ini kenyataannya. Kita lihat sendiri, dengan karunia Allah Ta’ala, nama Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad), nama Jemaat (Ahmadiyah), dan nama Islam semuanya tersebar di seluruh dunia. Suara yang datang dari dataran yang jauh, daerah terpencil, telah mencapai banyak negara di dunia. Suara tersebut telah mencapai ke 210 negara di seluruh dunia.

Saya ingin menjelaskan di kesempatan ini terkait jumlah negara-negara tersebut. Sebagian orang menyangka Jemaat Ahmadiyah melebih-lebihkan dalam hal ini padahal di dunia ini tidak terdapat jumlah negara yang disebutkan karena anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNO) hanya berjumlah 190. Saya katakan bahwa anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNO) memang hanya berjumlah 190 hingga 195 negara namun total jumlah Negara di seluruh dunia sekitar 220 negara. Baru-baru ini BBC (kantor berita resmi Inggris) di salah satu program olahraganya menyebutkan bahwa acara tersebut disaksikan di 220 negara di dunia. Maka dari itu, tidak benar penyebutan jumlah anggota PBB dalam corak itu lalu mengatakan Jemaat Ahmadiyah melebih-lebihkan dalam hal ini dengan menambah-nambah jumlah negara. Sebagian pemuda yang terbesit di pemikiran mereka soal melebih-lebihkan tersebut harus menghapus persangkaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk menyebarkan pesan ini, pesan yang telah diinstruksikan oleh-Nya kepada kita, yaitu menyebar misi yang dibawa Al-Masih Al-Mau’ud. \

Penerjemah: Dildaar Ahmad dan Yusuf Awwab

________________________________

[1] Al-Hakam, 10 Agustus 1902 hlmn 7.

(Visited 165 times, 1 visits today)