Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 8 Aman 1392 HS/Maret 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ayat yang pertama saya baca tadi terjemahannya adalah sebagai berikut: “Dan diantara mereka ada yang berkata: Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naar‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia begitu juga kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari api.’ (Surah Al-Baqarah, 2:202)

Ayat yang kedua saya baca terjemahannya adalah: “Allah tidak membebani seorang hamba di luar kemampuannya, dia akan mendapatkan ganjaran dari apa yang ia usahakan, dan ia akan mendapatkan hukuman dari apa yang ia lakukan. Wahai Tuhan kami, janganlah menghukum kami jika kami lupa atau kami keliru; dan wahai Tuhan kami, janganlah memberikan beban kepada kami seperti yang Engkau berikan pada orang-orang sebelum kami; dan wahai Tuhan kami, janganlah membebani kami dengan beban yang kami tidak mampu menanggungnya; dan maafkanlah dosa-dosa kami yang telah lalu dan ampunilah kami dan kasihilah kami; Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Surah Al-Baqarah, 2 : 287).

Doa dan Kebahagiaan Sejati

Ini adalah dua doa Qurani, mengenai keduanya ada sedikit yang akan saya sampaikan tetapi sebelumnya perlu diperhatikan apa hakikat doa itu? Apa filosofinya? Saya akan membacakan  sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Beliau bersabda sebagai berikut: “Orang yang berdoa kepada Tuhan pada masa kesulitan dan musibah kemudian meminta pemecahan kesulitan-kesulitannya dari-Nya akan mendapat ketenteraman dan kesejahteraan sejati dari Allah Ta’ala, dengan syarat dia berdoa sampai pada batas puncak kesempurnaan. Meskipun dia tidak mendapatkan apa yang dia mohonkan, dan selamanya tidak menemukan apa yang menjadi cita-citanya, dia akan dianugerahi semacam thuma’inah (kepuasan) dan sakinah (ketenteraman) yang merupakan ‘inayah (pertolongan) dari Allah Ta’ala. Selain itu, keimanannya akan semakin kuat disertai kemajuan yang berarti dan keyakinannya bertambah. Tetapi orang yang ketika berdoa tidak memiliki perhatian pada Tuhan, dia akan tetap buta sepanjang waktu hidupnya, dan mati dalam keadaan buta.”

Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Dalam penjelasan kami ini bernilai sebagai jawaban yang cukup terhadap keberatan orang-orang yang dikarenakan kesalahan wawasan (yakni, dikarenakan kesalahan pemikiran atau hanya melihat sisi lahiriah saja) mereka yang mengatakan, ‘Ada banyak sekali orang yang meskipun sedemikian rupa fana dalam berdoa baik dengan perkataan dan perbuatannya namun terdapat juga kekurangan dan kekosongan dalam cita-cita yang mereka ingin capai. (mereka tidak berhasil dalam hal-hal yang mereka inginkan kendatipun telah bertekun keras dalam doa) Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak percaya dengan doa dan tidak beriman kepada Tuhan namun mereka berhasil memperoleh kemenangan.’ Mereka meraih keberhasilan-keberhasilan besar.”

Selanjutnya yang baru saja telah saya isyaratkan, maksud pokok ialah diraihnya ketentraman, kenikmatan, dan kebahagiaan hakiki dengan doa. Orang-orang yang melihat dengan mata lahiriah menyaksikan bahwa seorang yang giat berdoa ternyata tidak meraih apa-apa yang ia cita-citakan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda bahwa seseorang hendaknya memiliki syarat pertama, yaitu doa harus mencapai titik kesempurnaannya, dan orang yang pada hakikatnya berdoa tidak hanya melihat hal-hal lahiriah.

Orang-orang beriman yang dalam diri mereka terdapat adanya firasat penuh keimanan dan yang mengetahui sifat hubungan dengan Allah Ta’ala, dia tidak hanya melihat hal ini saja, “Ketika saya memohon sesuatu keperluan maka saya mendapatkannya”, melainkan “memperoleh ketentraman dan kebahagiaan sejati.”

 

Pentingnya ‘Inayah (Pertolongan)  Tuhan

Beliau bersabda lagi: “Dan hal ini selamanya tidak benar bahwa kebahagiaan sejati kita hanya terletak pada pencapaian segala urusan (terkabulnya keinginan) yang tercapai melalui doa-doa. Melainkan, Tuhan lebih mengetahui dalam bentuk apa sebenarnya kebahagiaan sejati kita? Dia menaungi kita dengan inayah-Nya (pertolongan-Nya) setelah doa yang sempurna dipanjatkan.” (Yakni jika telah mengerti doa yang sempurna, dalam corak benar, dalam warna hakiki, sesuai dengan apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala yang mengetahui kesejahteraan sejati dalam corak yang bagaimana, Dia akan menganugerahinya demikian.)

Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Orang yang berdoa dengan ruh ketulusan (jiwa yang tulus lagi lurus), tidak mungkin dia tidak mencapai maksudnya secara hakiki, bahkan Allah Ta’ala sesuai kehendak-Nya menganugerahinya kebahagiaan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan kekayaan, kekuasaan, dan kesehatan, melainkan kebahagiaan itu berada di tangan Tuhan semata, dimana Dia memberikan ‘inayah-Nya (pertolongan-Nya) dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki. Ya pasti, melalui doa-doa yang sempurna, ia akan diberikan ‘inayah (pertolongan). Jika Allah Ta’ala menghendaki, seorang mukhlis lagi benar, di tengah-tengah musibah sekali pun ia memperoleh kelezatan, hal mana tidak dapat dinikmati seorang raja di atas singgasana kerajaannya. Jadi, demikianlah sebutan untuk pencapaian sejati yang akhirnya diperoleh dari orang-orang yang berdoa.”[2]

Menurut beliau, kelezatan semacam ini diperoleh oleh para pendoa, hal itu bisa diperoleh hanya pada saat-saat yang sulit. Dan menurut beliau, bahwa seorang raja tidak akan bisa memperolehnya. Pendek kata, inilah hakikat doa dan sebagaimana telah saya katakan bahwa ini adalah falsafah ringkas dari doa. Ini adalah ruh doa dan hendaknya seorang mukmin sejati menjadikannya sebagai wawasan pemikirannya dan seharusnya kita mengedepankan hal ini pada setiap waktu.

Jadi sebagaimana beliau a.s. sabdakan, untuk mencapai terkabulnya doa memerlukan status (keadaan) doa yang mencapai batas kesempurnan, dan setelah sampai pada maqam (kedudukan) itu atau doa telah dikabulkan, yang orang itu sedang meminta kepada Allah Ta’ala maka pengaruh dari doanya sudah mulai nampak, atau pun selanjutnya hati sedemikian rupa tenang dan sakinah (tentram, damai) sehingga kesedihan manusia yang karena itu dia berdoa menjadi sirna dan menjauh dari dirinya. Satu jenis kedamaian yang luar biasa didapatkannya sehingga: “Sekarang juga apa-apa saja yang menurut Allah Ta’ala terbaik bagi saya, itu akan terjadi.”

Ini adalah sebuah pemikiran yang ada pada seorang mukmin hakiki. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk mencapai maqam (martabat) ini. Taufiq ini juga dapat diperoleh hanya melalui karunia Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita harus berdoa juga untuk meraihnya.

Hasanah (Kebaikan) di Dunia dan Hasanah di Akhirat

Pada kesempatan ini, saya akan tunjukkan dua buah doa Qurani. Sebagaimana saya telah katakan bahwa doa-doa ini terdapat dalam ayat-ayat yang telah saya tilawatkan tadi. Kita juga membacanya. Banyak dari kita semua juga telah mengetahui doa ini. Salah satu dari doa itu adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Rabbanaa aatina fid dunya hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar – “Wahai Tuhan kami! Anugerahkanlah pada kami kebaikan di dunia dan di akhirat juga dan peliharalah kami dari api.”

Hadhrat Rasulullah s.a.w. juga secara khusus mengajarkan doa ini.[3]  Demikian pula para sahabat juga sangat memperhatikannya serta juga mengajarkannya.[4] Dalam suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri juga menarik perhatian para anggota jemaah beliau untuk membaca doa ini pada rakaat terakhir setiap shalat, ketika berdiri dari posisi ruku’ (i’tidal). [5] Hadhrat Khalifatul Masih II radhiyallahu Ta’ala ‘anhu juga menjelaskannya dalam satu khotbahnya bahkan dalam berbagai khotbah pada kesempatan yang berbeda. Beliau r.a. menjelaskan doa ini dan mengajarkannya pada jamaah serta menjelaskan tafsirnya juga. Jadi doa ini sangatlah penting.

Doa ini memiliki manfaat sedemikian rupa untuk setiap masa dan setiap waktu, akan tetapi secara khusus kita harus membacanya ketika hari-hari yang penuh dengan fitnah dan kekejian di segala arahnya. Arti dari kata ‘hasanah‘ adalah kebajikan, kebaikan dan manfaat, yang di dalamnya tidak terdapat keburukan dan kekurangan, segala seginya muncul hanya akibat kebajikan dan sesuai dengan ridha Allah Ta’ala.

Untuk para Ahmadi – dalam keadannya sebagai Ahmadi –  sedemikian rupa menghadapi keadaan [penentangan] di berbagai negara Muslim yang membuat mereka perlu secara khusus membaca doa ini. Para penentang Ahmadiyah ingin meluputkan para Ahmadi dari setiap nikmat Tuhan sampai-sampai kita dimahrumkan dari hak-hak dalam kehidupan ini juga. Dalam situasi semacam ini doa ini perlu dimohonkan: ”Ya Allah, kami mohon pertolongan dari segala macam makar dari setiap orang-orang duniawi, karena mereka menginginkan supaya kami mahrum (luput) dari segala jenis ‘hasanah’ (kebaikan) Engkau, kami sangat berharap ‘hasanah’ itu disebabkan karunia dari sisi Engkau. Kami juga memohon kepada Engkau agar menjadikan segala amal kami di dunia ini sebagai sarana untuk meraih ‘hasanah‘ pada akhirat kami sebagai akibat dari keberhasilan kami mendapatkan ridha Engkau, dan jadikanlah kami orang-orang yang meraih ridha Engkau pada setiap perbuatan yang kami lakukan di dunia ini.

Sesungguhnya para musuh kami berkeinginan membuat kerugian pada usaha-usaha kami, maka anugerahilah kami ‘hasanah‘ sehingga ‘hasanah’ itu menyentuh kami dengan jalan sedemikian rupa sampai-sampai segala makar musuh menemui kegagalan secara total. Mereka menginginkan berkurangnya rezeki kami supaya kami berbalik dari keimanan kami, maka anugerahkanlah kami ‘hasanah’ dengan cara sedemikian rupa, sehingga kami memperoleh rezeki yang thayyib dan halal lebih daripada sebelumnya dan supaya para tetangga kami menjadi orang-orang yang tidak mendatangkan kedukaan pada kita.

Semoga orang-orang di lingkungan kami tidak menyakiti kami. Jadikanlah para penduduk kota kami sebagai ‘hasanah‘ bagi kami. Jadikanlah para penduduk negeri kami sebagai ‘hasanah‘ bagi kami. Semoga kejahatan orang yang berbuat jahat kepada kami kembali berbalik menimpa kepada mereka. Jadikanlah para penguasa kami sebagai orang-orang yang penuh kasih-sayang, penuh takwa dan menjadi manusia yang adil. (Kita ketahui bahwa di beberapa negara Muslim orang yang ada di pemerintahan adalah orang-orang yang menjadi kesengsaraan bagi masyarakat.)

Anugerahkanlah taufik kepada para penguasa dan pihak berwenang diantara kami agar memenuhi hak-hak orang-orang yang bekerja di bawah mereka. Jika dalam pandangan Engkau orang yang berkuasa saat ini tidak mampu melakukan perubahan menuju perbaikan, anugerahilah kami penguasa yang tepat yang memiliki sifat-sifat istimewa supaya melalui perantaraan mereka kami mendapatkan faedah-faedah duniawi dan mereka menjadi  ‘hasanah’ bagi kami. Setiap faedahnya sedemikian rupa sehingga menjadikan kami meraih keridhaan Engkau.

Selanjutnya, anugerahilah kami sahabat-sahabat yang sedemikian rupa tulus, penuh kecintaan, yang menyertai kami kala duka dan yang membalas kebaikan kami dengan kebaikannya.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga menerangkan hal ini  dengan penjelasan yang begitu detail.

Penculikan Orang Ahmadi dan Jaminan Penyelamatan dari Sahabat Bukan Ahmadi

Tidak diragukan lagi bahwa sebagian masyarakat di Pakistan mengikuti para maulwi, dan dengan mengikuti mereka, ingin menyakiti para Ahmadi. Bagaimanapun, ada juga orang-orang yang menunaikan hak-hak persahabatan. Kita tidak bisa berbicara buruk tentang setiap orang Pakistan atau di tempat lain manapun di dunia dimana kesulitan ditimpakan kepada para Ahmadi, kita tidak boleh berbicara buruk tentang semua orang. Seperti telah saya katakan, ada juga orang-orang [bukan Ahmadi] yang menunaikan hak-hak persahabatan, bersimpati, menolong kita di kala kita dalam kesulitan.

Baru-baru ini seorang Ahmadi yang telah diculik di Pakistan, dia katakan dalam suratnya kepada saya bahwa para penculik menginginkan tebusan yang besar dalam waktu singkat dan tidak mungkin bagi keluarganya menyiapkannya pada waktunya. Sedangkan dia pun tahu bahwa di sana para penculik begitu nekat dan tidak tersentuh hukum. Para penculik kemudian meminta sejumlah uang dibayarkan tepat waktu dan sisanya dijamin tetapi oleh orang yang bukan Ahmadi. Dalam hal ini seorang teman non-Ahmadi memberikan jaminan dan Ahmadi yang diculik dibebaskan. Sungguh teman non-Ahmadi tersebut telah membahayakan nyawanya sendiri untuk menjamin pembebasan. Demikianlah ada orang-orang yang bersedia melakukan pengorbanan untuk para Ahmadi, melakukan kebaikan dan menunaikan hak-hak pertemanan meskipun dengan adanya situasi sekarang yang diciptakan oleh para ekstrimis dan para mullah. Teman-teman yang baik merupakan sebuah ‘hasanah’ dari antara ‘hasanah’ dunia yang bisa dijumpai.

Hal serupa terjadi, ada laporan dari seorang Muballigh yang pernah juga suatu waktu saya sebutkan. Di Mali kita baru saja mendirikan stasiun radio yang menjadi sarana tabligh yang sangat luas. Para maulwi penentang yang mendengar kabar ini, mereka disokong dana oleh negara-negara Muslim dan Arab berseru untuk menghentikan tabligh Ahmadiyah, dan sampai-sampai mereka mulai melakukan upaya-upaya merugikan para Ahmadi secara duniawi, kemudian para mauwi ini menelepon para muballigh kita juga sambil mengatakan, “Kami akan melakukan begini dan begitu kepada anda.”

Kita berbuat aksi maka mereka berbuat reaksi. Bahkan, para penentang kita juga melakukan propaganda melawan kita, “Jangan dengarkan kata-kata para Ahmadi dan mereka kafir, dan seterusnya.” Penentangan dan permusuhan mereka sampai melampaui batas. Dalam kondisi semacam itu ketika beberapa orang non-Ahmadi yang baik, tenang, dan berpengaruh mengetahui apa yang terjadi, mereka mengirim pesan [jaminan keamanan] kepada muballigh kita, “Jangan khawatir! Lanjutkan  apa-apa yang anda lakukan! Inilah Islam yang merupakan Islam sejati yang sedang anda sebarluaskan dan tidak ada satupun yang mampu menghentikan kalian atas pekerjaan itu.”

Demikianlah Allah Ta’ala  sedang menganugerahi kita teman-teman yang baik di setiap tempat, walaupun mereka bukan Ahmadi juga namun mereka dengan rela berpartisipasi dalam penyebaran penyampaian pesan Ahmadiyyat. Seperti telah saya katakan, ini juga ‘hasanah’ (kebaikan).

Makna Hasanah (Kebaikan) Dunia dan Akhirat

Pendek kata, setiap kali kita meluaskan dalam pembahasan tentang ‘hasanah’ (kebaikan) maka menjadi bertambah jelas bagi kita pemaknaannya yang semakin bertambah banyak. Jadi apa saja karunia untuk setiap sendi kehidupan dunia dan nikmat-nikmat kemudahan yang kita minta kepada Allah Ta’ala, itu semua dikategorikan sebagai ‘hasanah’. Sebagai contoh dalam kehidupan pribadi, adanya istri yang baik, suami yang baik, anak yang saleh, kehidupan yang terjaga dari penyakit. Ringkasnya, segala sesuatu yang di sisi Tuhan baik bagi kita dan bermanfaat, itulah sebagai ‘hasanah’ dunia.

Demikianlah harapan dan keinginan seorang mukmin bahwa Allah Ta’ala memenuhi segala sesuatu yang dikehendakinya. Segala sesuatu yang baik dan bermanfaat baginya baik hal-hal lahiriah maupun batiniah. Dikarenakan Tuhan sendiri yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun yang nyata, maka hanya Dia Yang bisa memutuskan apa yang terbaik bagi kita. Kita bisa membuat sesuatu jenis pilihan yang salah tapi Tuhan tidak. Kadang-kadang timbul kejadian dimana teman yang secara lahiriah terlihat terpercaya namun menimbulkan kerugian dan kerusakan. Beberapa hubungan pergaulan ialah demikian, dimana seseorang sudah demikian dipercaya, menjadikannya mitra dalam bisnis, tetapi dia pulalah yang menjadikannya rugi. Kita menjadikan seseorang sebagai penguasa dengan sangkaan ia baik dan bermanfaat bagi kita, tetapi ternyata kemudian terbukti bahwa kita menyaksikannya menyulitkan kita. Selain itu, dari masalah-masalah yang berkaitan dengan Jemaat [kelompok] juga, kita melihat dalam kehidupan sehari-hari beberapa orang menjadi sumber masalah dan mendatangkan berbagai kesulitan. Jadi, corak yang benar dari doa Rabbanaa aatina fid- dunya hasanah yang dimintakan agar diterima (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala ialah agar seseorang bisa selamat dari masalah-masalah yang berkaitan dengan pribadi dan Jemaat [individu dan kelompok]. Bukan hanya selamat saja, bahkan bisa menjadi pewaris nikmat-nikmat dari Allah Ta’ala juga. Bisa juga menjadi pewaris keridhaan Ilahi.

Kemudian firman-Nya: وفي الآخرة حسنة “Anugerahilah kami segala sesuatu yang ‘hasanah’ (kebaikan) di akhirat juga.” Yakni, “Berikanlah segala sesuatu yang dari segi lahiriah dan batiniah adalah baik di sana.” Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallaahu ‘anhu menjelaskan di satu kesempatan, “Orang-orang beranggapan bahwa di akhirat, hanya ada segala sesuatu yang baik. Ketika manusia sedang berdoa memohon tentang akhirat dan Allah Ta’ala mengabulkannya maka itulah ‘hasanah’. Apa makna dari kebaikan lahiriah dan batiniah.”

Beliau r.a. menjelaskan bahwa di akhirat segala sesuatunya sebagai kebaikan, akan tetapi, di akhirat ada sebagian hal adalah demikian bahwa secara batiniah ia baik namun dalam lahiriahnya [nampaknya] buruk. Sebagai misal adanya neraka. Menurut Al-Quran neraka adalah sarana perbaikan bagi manusia. Dari satu segi ia juga buruk. Jadi ketika Allah Ta’ala menggunakan kata ‘hasanah’ (kebaikan) juga untuk akhirat, maka kalian hendaknya berdoa, “Wahai Ilahi! Janganlah kami diperbaiki dengan neraka melainkan perbaikilah kami dengan karunia Engkau, dan di akhirat janganlah kami hanya diberikan kebaikan dalam hal batin (tersembunyi) saja, sebagaimana neraka juga merupakan kebaikan secara batin, sehingga melalui perantaraannya diperoleh kedekatan dengan Allah Ta’ala. Namun demikian, neraka secara lahiriah adalah buruk karena ia adalah azab. ‘Hasanah’ (kebaikan) di akhirat hanyalah surga, dimana kebaikan lahiriah ada dan kebaikan batiniah pun ada.”[6]

 

Hasanah Dunia: Selamat Jasmani dan Rohani

Dalam hal ini kita hendaknya senantiasa ingat bahwa ‘hasanah’ di dunia ini bisa menjadi sumber penyebab ‘hasanah’ di akhirat. Jika di dunia segala sesuatu yang lahiriah itu baik dan juga yang batiniah juga baik, serta berjalan menuju ridha Ilahi maka dia akan mendapatkan kebaikan di akhirat yang lahiriah dan batiniahnya juga sama-sama baik.

Di suatu tempat pada satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa: “Manusia bergantung pada dua hal untuk kesejahteraan pribadi. Pertama, aman dari segala musibah, kesulitan, bala kesengsaraan di kehidupan dunia yang singkat ini. Kedua, dia mendapatkan keselamatan dari kefasikan, dosa-dosa dan penyakit-penyakit rohaniah yang menjauhkannya dari Tuhan. Maka, ‘hasanah’ di dunia ini, yakni, manusia senantiasa terjaga secara jasmaniah dan rohaniah, dari segala bala bencana, kehinaan dan kehidupan yang penuh dengan kekotoran dosa. خُلق الإنسان ضعيفا ‘… manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah.”[7]

Satu kukunya yang terluka saja telah membuat kehidupannya sudah kesusahan. Begitu juga, ketika kehidupan seorang insan menjadi busuk, seperti misalnya segolongan para pelacur yang mana kondisi kehidupannya sedemikian gelapnya dan sudah seperti binatang layaknya (Kehidupan menyerupai binatang, serba bebas). Tuhan dan akhirat pun tidak dikenal.

‘Hasanah’ dunia hanyalah demikian ini, yakni Tuhan menjaga seorang ‘abid (hamba) dari bala bencana dan dari setiap jenis keburukan, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ada pun ‘hasanah’ yang disebut dalam ‘fil aakhirati hasanah’ (dan kebaikan di akhirat) adalah hasil (buah) dari ‘hasanah’ dunia. Jika manusia mendapatkan ‘hasanah’ dunia, ini adalah pertanda baik untuk baiknya akhiratnya. Salah jika orang mengatakan, ‘Untuk apa ‘hasanah’ dunia diminta, hanya ‘hasanah’ akhirat yang mesti diminta.’”

Beliau bersabda: “Kesehatan jasmani yang baik dan lain-lain sedemikian rupa yang menimbulkan kenyamanan dalam kehidupan manusia, dan dengan sarana itu semua seseorang dapat melakukan sesuatu yang berarti untuk akhiratnya dan oleh karena itulah dapat dikatakan bahwa dunia adalah ‘mazra’ah’ (pertanian) akhirat….” —  Yakni dapat dikatakan sebagai pertanian akhirat, bercocok tanam di dunia maka di akhirat akan bisa memetik hasilnya, panen  — “Pada hakekatnya, siapapun yang dianugerahi kesehatan, kemuliaan, anak, afiat, kedamaian di dunia, dan ia senantiasa beramal saleh, diharapkan bahwa akhiratnya juga akan baik.”[8]

Azab (Siksaan) Api di Dunia dan di Akhirat

Demikianlah Allah Ta’ala berfirman di akhir ayat itu, وقنا عذاب النار wa qinaa ‘adzaaban naar’, berdoalah begini, “Selamatkanlah kami api. Di dalamnya tidak hanya mengisyarahkan azab api di akhirat melainkan juga menunjuk kepada perlindungan dari api dunia ini juga. Di dunia ini juga terdapat azab api. Ringkasnya, doa ini bisa untuk memohon perlindungan azab api dunia dan akhirat kedua-duanya. Azab api dunia terdiri bermacam-macam jenisnya, musibah-musibah terlihat, yang jika Tuhan berkehendak  maka azab akan berganti menjadi ‘hasanah‘ (kebaikan). Salah satu misal azab api di dunia adalah sebagaimana yang pernah saya katakan ialah keadaan dewasa ini di banyak negara. Tidak ada yang tahu kapan, bahwa ketika sedang duduk di rumah atau sedang jalan di pasar, sebuah ledakan atau sebuah peluru bisa melukai atau membunuh dirinya sehingga manusia berlumuran darah atau meninggalkan kehidupannya. Banyak nyawa tersia-siakan dengan mengalami peristiwa seperti itu.

Bila seorang insan berdoa agar terselamatkan dari adzab naar, sedangkan ia hidup di tepi bahaya seperti yang telah disebutkan dan ia beramal sedemikian rupa supaya Allah Ta’ala menyelamatkannya, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan dengan memberikan perlindungan-Nya dari hal-hal itu. Dewasa ini para teroris melancarkan kekejian, maka doa wa qinaa adzaban naar (dan selamatkanlah kami dari azab api) juga untuk menghindari berbagai serangan kekejian tersebut.

Dalam beberapa hari baru-baru ini terjadi di Karachi sebagai berikut, seorang Ahmadi kita berumur 40 atau 50-an tahun yang keluar untuk membeli bahan makanan, setelah 2 atau 4 menit kemudian di sana terjadi ledakan bom yang menewaskan 50 orang, di dalam hal demikian dia juga telah syahid.

Jadi dewasa ini teroris telah memasang perangkap api dimana-mana. Sangat memerlukan doa yang dipanjatkan kepada Allah Ta’ala untuk perlindungan dari situasi seperti ini. Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui bahwa di satu waktu akan terjadi apa. Oleh karena itulah, seorang insan memohon demikian, “Ya Allah, jadikanlah tinggalnya saya di rumah dan keluarnya saya dari rumah menjadi sarana penyebab ‘hasanah’ (kebaikan) bagi saya, dengan karunia Engkau dan terhindar dari berbagai azab. Seperti itu juga selamatkanlah saya dari azab akhirat.”

 

Macam-macam Api di Dunia

Saya hendak membacakan satu lagi kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Beliau  bersabda: “Keperluan akan doa harus dengan perhatian, yang mana seluruh hasrat dikerahkan sepenuh jiwa dan tidak setengah-setengah, tidak karena muncul ketakutan, doa hendaknya keluar dari hati yang paling dalam…”

Dalam khotbah sebelumnya, saya telah menyampaikan sedikit petunjuk dari Hadhrat Mushlih Mau’ud a.s. juga, maka Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa doa orang yang memerlukan harus dilakukan dengan perhatian, yang mana seluruh hasrat dikerahkan sepenuh jiwa dan tidak setengah-setengah, tidak karena muncul ketakutan, doa hendaknya keluar dari hati yang paling dalam.

Pendek kata, doa ini Rabbana aatina fid dunya hasanah (Ya Tuhan kami  berilah kami kebaikan di dunia) dan seterusnya, akan bekerja hanya kepada orang-orang yang berdoa doa demikian, yaitu mereka yang telah memahami bahwa hanya Tuhanlah sebagai Rabb (Tuhan Pemelihara) mereka, dan mereka yakin hanya kepada Rabb ini saja sedangkan yang selain-Nya adalah kebatilan.”

Sabdanya lagi: “Api yang dimaksud tidak hanya api yang muncul setelah kiamat, bahkan orang yang telah berumur lama di dunia ini juga menyaksikan bahwa ribuan api yang ada di dunia ini juga. Pengalaman membuktikan bahwa di dunia ini banyak terdapat jenis api. Berbagai keadaan azab adalah: ketakutan, darah (pembunuhan), keadaan sangat miskin, kelaparan, penyakit-penyakit, kegagalan dalam hidup, kehinaan dan di bawah tekanan/penindasan orang, ribuan jenis kesedihan, kesusahan karena anak-anak dan istri serta kekisruhan berkaitan dengan kerabat. Perhatikanlah, itu semua adalah api, maka seorang mukmin perlu berdoa demikian, “Selamatkanlah kami dari segala jenis api ini. Selama kami berpegang dalam perlindungan Engkau, maka selamatkanlah kami dari segala hal yang menjadikan kehidupan menjadi pahit yang bagi manusia berkedudukan seperti neraka.”[9]

Makna “Lupa” dan “Khilaf

Doa kedua yang sangat perlu untuk kita karena sangat penting juga, terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat akhir yang saya telah bacakan, di situ Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kita untuk berdoa seperti ini :  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا  Rabbanaa laa tu-akhidnaa in- nasiinaa aw akhtha-naa — Ya Tuhan kami, jangan menghukum kami, jika kami lupa atau melakukan kesalahan (khilaf).”

Makna dari lupa di sini ialah tidak melakukan sesuatu yang harus dilakukan. Pertama, hal demikian bukan karena tahu dan sengaja meninggalkannya, tetapi karena lupa. Kedua, “Kami tidak sadar akan pentingnya suatu hal bila dilakukan dan dampaknya bila tidak melakukannya atau melakukan sesuatu pada waktunya, dan berpikir, “Begini saja tidak apa-apa, memangnya kenapa kalau tidak dilakukan toh ini perkara sepele.” Oleh karena itu, hendaknya berdoa kepada Allah Ta’ala supaya diselamatkan dari kondisi lupa dan salah/khilaf.

Tetapi juga, kadang-kadang orang tidak menyadari pentingnya sesuatu pekerjaan, “Dengan mengerjakannya apa  pengaruhnya terhadap kemajuan kehidupan rohaniah kami dan apa bedanya dalam hal kedekatan dengan Allah Ta’ala.” Jadi, “Ya Allah selamatkanlah kami dari kesalahan semacam ini. Jika kami terlanjur melakukan kesalahan-kesalahan itu, maka janganlah Engkau menghukum kami, melainkan maafkanlah kesalahan-kesalahan kami dan setelah memaafkan kami, selamatkanlah kami dari dampak buruk kesalahan tersebut dan dari keengganan  kami.” Tetapi jika kita berbuat salah kemudian tidak berupaya memperbaiki diri dengan segala kemampuan dan memanjatkan doa demikian juga, maka ini bukanlah sebuah doa melainkan itu adalah sama saja dengan akan mengolok-olok Tuhan dan doa.

Jadi, untuk hasil yang lebih baik dari doa-doa maka janganlah menguji Tuhan. Doa akan menjadi doa yang hakiki tatkala doa ini dipanjatkan dengan disertai amal perbuatannya juga, dan sebagaimana disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa “berdoalah hingga sampai batas kesempurnaan.”

 

Makna “Beban Tanggung Jawab

Doa tersebut berlanjut dengan memohon supaya tidak diberi beban seperti yang diberikan pada orang-orang sebelumnya, yang karenanya mereka dihukum, رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ’Rabbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa ishran kamaa hamaltahu ‘alal- ladziina min qablinaa’ – ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani atas kami tanggungjawab yang telah engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami.

Di sini saya mengingatkan untuk memperhatikan hal ini bahwa ayat ini tidaklah mengenai salat-salat dan perintah-perintah Al-Quran al-Karim lainnya. Mengenainya tidak dikatakan, “Beban yang kami tanggung ini luar biasa berat.” Allah Ta’ala sebelumnya berfirman Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa (Allah tidak membenani sesuatu jiwa kecuali sesuai kemampuannya), yang maksudnya bahwa Allah Ta’ala memberikan perintah-perintah-Nya disesuaikan dengan kapasitas kekuatan dan keluasan manusia itu sendiri.

Beban disini jangan dimaknai bahwa Allah Ta’ala memberikan hukuman kepada para manusia di masa lalu karena melakukan beberapa kesalahan sehingga, “Janganlah Engkau turunkan kepada kami hukuman-hukuman itu, dan janganlah membuat kami melakukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sebelumnya sehingga membuat mereka hancur binasa. Jika kami juga sedang melakukan berbagai kesalahan kemudian kami katakan, ‘Kami tidak mendapatkan hukuman sebagaimana dulu pernah diturunkan kepada orang-orang sebelumnya.’” Tidak bisa demikian. Ini bertentangan dengan qanun (ketetapan/peraturan) umum dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, doa ini, bersamaan dengan usaha-usaha menghindari perbuatan buruk sekaligus-lah yang menyelamatkan manusia dari hukuman. Orang-orang terdahulu, dikarenakan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, mereka dikuasai oleh pemerintahan-pemerintahan yang sedemikian rupa tidak memperhatikan hak-hak mereka. Karenanya, selamatkanlah kami dari para penguasa semacam itu yang menjadi hukuman bagi kami dan hukuman ini dikarenakan murka-Mu atas kami. Jika ini adalah akibat dari murka Engkau, maka, kami memohon dengan hati yang sangat pedih. Bila ini hanyalah sebuah cobaan, maka kami juga memohon agar cobaan ini diringankan.”

Selanjutnya doa ini, رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ  — Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii – “Ya Tuhan kami, jangan membebani kami dengan sesuatu yang kami tidak mampu menanggungnya” mengajarkan bahwa dalam beberapa waktu siksaan (bencana) terhadap seseorang/sekelompok orang berpengaruh kepada orang lainnya, atau, entah dengan jalan bagaimana pengaruhnya sampai kepada orang lain. Dalam peperangan atau pertempuran, pihak-pihak yang di luar sasaran sering menjadi terdampak dari serangan pihak penyerang sehingga mereka meninggal. Anak-anak tak berdosa tewas.

Makna  “Sesuatu yang Kami Tidak Dapat Memikulnya

Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. pernah bersabda: “Makna dari syarat (kondisi) maa laa thaaqata lanaa bihii (sesuatu yang  kami tidak dapat memikulnya) tidak berkaitan dengan kemurkaan (Tuhan) melainkan mengenai masalah-masalah dan cobaan-cobaan duniawi. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satu pun yang dapat memikul beban kemurkaan Tuhan walau sedikit saja, sedangkan musibah biasa pada umumnya dapat ditanggung siapa pun. Ringkasnya, mengenai hukuman secara kerohanian doa ini berarti: ‘Kami tidak bisa menanggung beban kemurkaan Engkau seberapa pun ukurannya.’ Namun, terkait kesulitan-kesulitan duniawi, Dia mengajarkan doa ini agar pendoa mengatakan, ‘Saya tidak mengeluh terhadap besar kecilnya ujian. Saya tidak berkata, “Perjalankanlah kami di jalan nan penuh bebungaan,” karena untuk menguji manusia Allah Ta’ala berfirman, “Aku pasti akan memberikan ujian.” Pastinya, hamba menyeru agar ujian-ujian duniawi tidak menjadi penyebab turunnya kemurkaan Engkau, dan ujian yang senantiasa datang di dunia ini doa hamba ialah agar ibtila (cobaan) itu tidak di luar kemampuan saya.’ Seorang beriman tidaklah mengharap akan datangnya cobaan, tetapi sebagaimana telah saya [Hudhur II] katakan, Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku pasti menguji orang-orang mukmin,’ untuk itulah Dia juga mengajarkan doa supaya mudah melalui cobaan.”[10]

Kemudian Dia berfirman, “Panjatkan doa ini: “واعف عنا” wa’fu ‘annaa — maafkanlah kami, dan selamatkanlah kami dari dampak buruk dosa-dosa,” “واغفر لنا”  – wa- ghfirlanaa — yakni apapun kesalahan amal yang telah kami lakukan, semoga kami diselamatkan dari akibat buruknya dan semoga segala perbuatan kami yang salah itu ditutupi dan menjadi seolah-olah  kami tidak pernah melakukannya.”

Makna dari ‘afw adalah rahim (penyayang) juga, dan bila ada kekurangan (aib, cela) pada manusia, corak penghapusannya hanya Dialah yang menyediakannya [mengaturnya]. Jadi dalam firman ini wa’fu ‘annaa (maafkanlah kami) terkandung makna “[Ya Rabb! Aturlah] Sediakankanlah dengan kasih sayang dan karunia Engkau sesuatu yang menutupi kekurangan dalam amal dan perbuatan kami.” “وارحمنا”  wa-rhamnaa – dan kasihanilah kami, yakni segala kesalahan saya dan yang menghambat di jalan kemajuan saya atau dikarenakan diri saya sehingga kemajuan Jemaat terpengaruh karenanya, kasihanilah hamba berkenaan dengan kesalahan-kesalahan itu dan jauhkanlah hambatan-hambatan di jalan kemajuan.” أنت مولانا (anta mawlanaa) artinya “Engkaulah Pembimbing kami, Tuan kami. Orang-orang mengaitkan kepada Engkau atas segala kelemahan kami.”

Saat ini Jemaat inilah satu-satunya Jemaat yang menyatakan dirinya, “Kami adalah Jemaat.” Setiap kali ada pergerakan dari seorang Jemaat maka pengaruhnya kepada Jemaat secara umum. Jadi, “Wahai Tuhan, orang-orang mengaitkan kelemahan-kelemahan kami terhadap Engkau, mereka mengatakan, ‘Inilah Jemaat yang mengaku Jemaat Ilahi, tetapi lihatlah bagaimana mereka sama saja dengan lainnya, mereka pun mendapatkan kesulitan-kesulitan dan siksaan.’ Wahai Maula (Penolong) kami, Engkaulah Junjungan kami, kami ini adalah hamba Engkau, maka untuk itu kasihanilah kami, dan tutupilah kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan kami, supaya jangan sampai orang-orang beranggapan, ‘Mereka hanya mengaku-ngaku saja, pengakuan mereka berat padahal kosong, mereka tidak ada kaitannya dengan Tuhan.’ sehingga muncullah penghambat diatas jalan kami dalam rangka upaya tabligh dan usaha-usaha penyebarluasan hidayat (petunjuk) sehingga dampaknya orang-orang pun luput dari petunjuk. Oleh karena itu, kami memohon kasih-sayang Engkau, kami mengakui segala kesalahan dan kekurangan kami. Kami memohon ampunan dan kasih sayang Engkau.”

 فانصرنا على القوم الكافرين ’fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin’ – maka, “Pandanglah kami secara istimewa dan anugerahilah kami kemenangan diatas kaum kafir.” Orang-orang yang sedemikian rupa berbuat mencari kesempatan untuk menghentikan laju kemajuan Islam, untuk itu unggulkanlah kami atas mereka, dan berilah kami taufik untuk menjadi penebar nama Engkau dan tabligh Engkau.”

Dewasa ini bukan hanya non-Muslim dan orang-orang yang tidak mempercayai Tuhan saja yang bertindak menentang Islam, malahan segolongan dari antara orang-orang Islam itu juga muncul sebuah gerakan yang berupaya dengan berbagai cara untuk senantiasa merintangi tabligh Islam. Parahnya lagi, sedemikian banyaknya perilaku dan perbuatan dari kalangan Muslim yang membuat buruk nama Islam sehingga pihak non Muslim berupaya untuk menghentikan tabligh kita di dunia. Nama Islam dibuat sedemikian rupa dibenci orang karena apa-apa yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menyukai kekerasan, orang-orang inilah yang sedang mempersembahkan Islam dalam versi mereka, hal ini mempengaruhi terhadap usaha tabligh kita. Jadi sangat perlu berdoa yang khas kepada Allah Ta’ala juga gigih untuk ini semua.[11]

Kemudian ada sebuah doa dari antara doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang diilhamkan kepada beliau: “ربِّ كلُّ شيء خادمُك، ربِّ فاحفَظْني وانصرني وارحمني” Rabbi kullu syai’in khaadimuka rabbi fahfazhni, wanshurni warhamni.’ – “Ya Rabb, segala sesuatu adalah hamba Engkau, maka lindungilah aku, tolonglah aku, dan kasihanilah aku.”[12]

Yakni, Semoga Allah Ta’ala menempatkan kita dalam perlindungan-Nya; menolong dan mengasihi kita. Semoga Dia menganugerahi kita dengan hasanah’ (kebaikan) dunia akhirat. Doa ini juga yang sangat diperlukan pada masa dewasa ini. Saya juga secara khusus mengajak Jemaat untuk memperhatikan doa ini. Oleh karena itu, setiap Ahmadi harus memanjatkan doa ini. Semoga Allah Ta’ala menjaga setiap Ahmadi dari setiap jenis kejahatan dimanapun mereka berada; menganugerahi kita dengan ‘hasanah’ (kebaikan) agama, dunia dan akhirat, senantiasa berdiri dengan tegak dalam kebaikan, memaafkan segala kelalaian dan dosa kita serta senantiasa melindungi kita darinya (dari kelalaian dan dosa-dosa) di masa mendatang.

Saya katakan juga secara khusus kepada para Ahmadi Pakistan untuk memberikan perhatian khusus ke arah perihal [doa] ini sembari mengintrospeksi diri sendiri dan berusaha secara istimewa untuk membaca doa-doa ini dalam shalat. Setiap Ahmadi hendaknya menanamkan ruh dari doa sebagaimana yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sabdakan bahwa “memanjatkan doa sampai batas kesempurnaan.” Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk melakukan ini.

 

Dzikr Khair dan Shalat Jenazah Gaib:

(1) Mubasyir Abbasi Sahib

Sebagaimana saya telah katakan bahwa di Karachi ada seorang Ahmadi yang disyahidkan dalam serangan bom bunuh diri oleh teroris. Demikian pula di Pakistan juga ada lagi seorang  yang telah wafat, dia merupakan seorang khuddam kita, saya akan melakukan shalat jenazah gaib untuk keduanya. Ikhtisar hal-ihwal perihal mereka berdua akan saya sampaikan. Yang telah syahid bernama Mukarram wa muhtaram  (yang terhormat) Mubasyir Ahmad Abbasi Sahib ibnu Mukarram Nadir Bakhs Abbasi Sahib. Beliau disyahidkan pada 3 Maret 2013. Diantara keluarga almarhum Mubasyir Ahmad Abbasi Sahib yang pertama kali mengenal Ahmadiyah melalui Mukarram wa Muhtaram Tunagar Ali Abbasi Sahib yang merupakan kakek buyut almarhum syahid. Beliau baiat di tangan beberkat Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

 Keluarga beliau berasal dari Alipur Khera, Uttar Pradesh, India. Dalam keluarga beliau terdapat dua buyut yakni Muhammad Sadiq Arif Sahib dan Mukarram Muhammad Yusuf Sahib Gujrati Darwesy Qadian. Sedangkan kakek beliau merupakan seorang Polisi India. Segera setelah pensiun, beliau mewakafkan diri sebagai Waqif Zindegi dan mendapatkan taufiq berkhidmat di Qadian sebagai Inspektur Baitul Maal. Mubasyir Ahmad Abbasi Sahib yang telah syahid lahir pada 1968 di Gujranwala. Umur beliau 45 tahun saat disyahidkan. Atas rekomendasi atasannya beliau pindah tugas ke Karachi pada 1982.

Saat disyahidkan beliau sedang bekerja di Perusahaan Garment. Pada tanggal 3 Maret 2013 petang hari setelah Maghrib di kota Abbas Town, Karachi terjadi sebuah letupan bom, sejurus kemudian 50-an orang pun tewas dan banyak lagi yang luka-luka [karena bom tersebut]. Tempat tinggal beliau juga di Abbas Town. Beliau keluar dari rumah sekitar 5 menit sebelum  kejadian bermaksud untuk mengambil obat dan lain-lain. Terjadilah ledakan bom. Sungguh luar biasa, Mubasyir Abbasi Sahib wafat sangat dekat dengan tempat tinggalnya dan mendapatkan anugerah martabat syahid. Tadinya tidak diketahui informasi tentang beliau sama sekali, setelah itu pihak Rumah Sakit baru memberitahukan tentang identitas beliau melalui telephon [kabar kewafatan beliau kepada keluarganya, memakan waktu karena proses otopsi, Redaksi.].

Mubasyir Abbasi Sahib dikenal dengan akhlak yang baik, ramah dan mudah bergaul. Memiliki hubungan yang harmonis  dengan anak-anak dan istri serta saudara perempuan dan laki-laki. Beliau meninggalkan seorang putri yang sudah dewasa bernama Khadijah Mubasyir dan seorang putra. Selain itu ada 3 saudara perempuan sekaligus 3 laki-laki.

(2) Mukarram Dr. Sayyid Sultan Mahmud Sahib

Jenazah yang kedua adalah seorang Khadim senior Jemaat, Mukarram Dr. Sayyid Sultan Mahmud sahib wafat pada 3 Maret pada usia 90. اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاِجِعُوْنَ. Beliau terlahir pada tanggal 16 Oktober 1923 di Syah Miskin, Shaikhupura. Bapak beliau yang bernama Hadhrat Sayyid Sardar Ahmad Syah Sahib merupakan Sahabah dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Orang tuanya telah mewaqafkan beliau mulai sebelum dilahirkan. Setelah beliau menyelesaikan pendidikan di Islamiyah College Lahore pada tahun 1946 dan mendapat gelar BSc, melanjutkan pendidikannya di Universitas Aligarh dan menyelesaikan ujian kimia dan mendapat gelar MSc. Setelah menggondol gelar MSc beliau menghadap kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. untuk berkhidmat, maka Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menempatkan beliau sebagai Lecturer (dosen) Chemistry (kimia) di Talimul Islam College Qadian. Dan dari sini beliau mendapatkan anugerah kehormatan sebagai sebagai Dosen perintis di College tersebut.

Setelah hijrah (dari Qadian, India) sebelumnya beliau di Lahore dan kemudian ketika pindah ke TI College Rabwah maka di sana beliau turut berpartisipasi sebagai guru tetap. Kemudian tahun 1956 beliau datang ke sini, London, dan pada tahun 1958 memperoleh anugerah gelar Phd dalam bidang kimia dari Universitas London. Kembali ke Rabwah, mengajar TI [Talimul Islam] College sampai tahun 1963, pada tahun yang sama 1963 beliau datang lagi ke London dan tahun 1964 mengambil gelar post doctorate dari Universitas London, menjadi anggota staff di Real Institute Chemical Society dan sebagai professor di Talimul Islam College Rabwah dari tahun 1964 hingga 1978, kepala departemen Chemistry dan sampai beberapa waktu bekerja sebagai Principal Incharge. Pada tahun 1972 ketika College dan Departemen Talimi Jemaat mendapat tekanan dari Pemerintah, maka beliau dipindahkan ke Government College [milik pemerintah] di Rawalpindhi. Kemudian untuk kedua kalinya menjadi Principal [kepala] dari dua college [Sekolah Tinggi].

Beliau pensiun pada 1986. Setelah itu, menyaksikan keadaan mundurnya pendidikan di sekolah-sekolah negeri di Rabwah, beliau membuka sekolah-sekolah beliau sendiri mulai dari Taman Kanak-Kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah juga. Dan hingga beberapa waktu kemudian, ketika kedua kalinya beliau ke sana tadinya ada sekolah Jemaat yang tidak buka maka beliau berperan besar memperbaikinya, dan mendorong anak-anak bersemangat.

Tuan Doktor seorang yang memiliki tabiat sederhana lagi dermawan. Beliau memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih sayang. Beliau berkhidmat menyokong orang-orang yang sangat membutuhkan. Beliau membantu orang yang kesulitan dalam pendidikan. Dalam memberikan musyawarah (saran dan pendapat), beliau kemukakan dengan penuh keikhlasan, dimana beliau juga menyampaikan wawasan pandangan yang sangat luas.

Pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih Ats Tsaalits, beliaulah yang meletakkan dasar perkuliahan di bidang sains di Jamiah Nushrat College di Rabwah yang murid-muridnya ialah para wanita [setingkat sekolah tinggi]. Setelah berdirinya Pakistan [1947], beliau terpilih menjadi Sekretaris Islah-o-Irsyad Lahore. Dari tahun 1956 sampai 1958 pernah juga menjabat Qaid Khuddamul Ahmadiyah di London. Di periode itu, beliau menjabat jabatan penting juga sebagai Sekretaris Maal Jemaat London. Beliau senantiasa memelihara hubungan dengan penuh hormat lagi setia terhadap khilafat.

Beliau meninggalkan dua anak perempuan dan dua anak laki-lakinya. Metode pengajaran beliau sangat sederhana. Saya juga dalam beberapa hari pernah belajar pada beliau (Dr. Sayyid Sultan Mahmud Sahib), metode pengajaran beliau dengan menjadikan seseorang sebagai murid dan sekaligus teman, sungguh luar biasa.

Pada suatu kesempatan, [salah seorang Jemaat], Mujib Ashgar sahib menulis surat tentang beliau kepada saya, “Suatu waktu saya bertugas di Langgar Khana di Pakistan [Jalsah Salanah]. Beliau datang untuk menyajikan makanan kepada para tamu, para pelayan hendak memberikan roti hangat kepada beliau dan mereka berkata, ‘Dimanakah pakaian khusus untuk menaruh roti?’ Beliau  mengatakan, ‘Saya tidak membawa bajunya.’ Kemudian beliau menunjuk kemeja beliau sambil berkata, ‘Acha!’ – “Baiklah! Taruh saja roti-roti itu di saku kemeja ini.” Kemudian beliau mengambil roti-roti itu ke dalam kemeja beliau tanpa merasa keberatan berjalan membawanya sedemikian rupa, dikarenakan beliau berpikir sedang membawanya untuk para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau orang yang sangat simpel dalam perilaku.”

Semoga Allah meninggikan derajat almarhum, memberikan ampunan-Nya. Demikian pula semoga Dia juga meninggikan derajat sang syahid. Semoga Dia menganugerahkan kesabaran dan keteguhan kepada anak-anak beserta keluarga yang ditinggalkannya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Ayyam-us-Sulh, Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 237

[3] Shahihul Bukhari kitab ad Dakwah, bab qaulin Nabi saw rabbanaa aatina fid dunya hasanah, hadits 6389. Dari Anas berkata, “Bahwa doa paling banyak yang dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah Allahumma Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qi naa ‘adzaaban naar.”  عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ».

[4] Mushanif Ibnu Abi Syaibah, jilid 7, halaman 52, kitab Ad Du’a, bab man kana yajibu… Hadits 3, Mathbu’ah Darul Fikri, Beirut

[5] Malfuzhat, jilid 1, shafhah 6, edisi 2003, Mathbu’ah Rabwah

[6] Tafsir Kabir, jilid 2, halaman 446

[7] Surah An-Nisaa:29

[8] Malfudzhat, jilid 2, halaman 600, edisi 2003, penerbit Rabwah. Dunia adalah tanah ladang untuk akhirat. ‘ad-dunya mazra’atul akhirah الدنيا مزرعة الآخرة

[9] Mafudzhat, jilid 3, halaman 145, edisi 2003, Mathbu’ah Rabwah

[10] (Ma khudza az tafsir kabir, jilid 2, halaman 659)

[11] Upaya gigih Jemaat Ahmadiyah mendakwahkan Islam cinta damai dan toleran benar-benar mendapatkan hambatan besar karena pergerakan-pergerakan sekelompok orang Islam yang senang kekerasan dan teror. Hal tersebut membuat orang-orang non Islam dan orang-orang yang tidak percaya agama beranggapan buruk terhadap Islam.

[12] Tadzkirah, halaman 363, Edisi IV, Nazarat Isyaat Rabwah