Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 21 Maret 2008/Aman 1387 HS

Di Baitul Futuh, Morden, London, Inggris.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Telah difirmankan bahwa ciri khas orang-orang beriman adalah mereka yang banyak menyerap sifat-sifat Allahswt pada diri mereka. Dan Allahswt menganugerahkan banyak sekali sifat-sifat-Nya kepada para nabi-Nya. Hal itu supaya beliau-beliau itu berhasil dalam memperbaiki umat manusia dan menjadi contoh tauladan bagi mereka. Dan Nabi yang paling banyak menerima anugerah sifat-sifat Ilahi dari Allahswt adalah Nabi Muhammadsaw sehingga beliausaw menjadi contoh paling mulia bagi ummat manusia di seluruh dunia untuk sepanjang zaman.

Akan tetapi, sekalipun betapa cemerlangnya sifat-sifat Allahswt telah mewarnai wujud beliausaw namun orang-orang yang tidak simpati bahkan memusuhi beliausaw dan memusuhi Agama Islam tidak dapat melihat keadaan beliausaw yang cemerlang dengan sifat-sifat Ilahi itu.

Diterangkan beberapa riwayat tentang sifat-sifat Allahswt yang ditunjukkan oleh Rasulullahsaw di hadapan para sahabat bahkan di hadapan kaum musyrik Mekkah ketika itu. Pada suatu hari seorang utusan dari suatu daerah telah datang kepada Rasulullahsaw dan dia berulang kali menarik-narik jubah beliau sampai janggut beliau ‑yang beberkat‑ itupun dipegang-pegangnya, sehingga menimbulkan kemarahan terhadap para sahabat yang menyaksikan pada waktu itu khususnya Hadhrat Umarr.a.. Karena sangat marahnya, Hadhrat Umarr.a. berkali-kali telah menghunus pedang hendak memukul utusan itu. Namun Hadhrat Rasulullahsaw menahan Hadhrat Umarr.a.supaya jangan membalas perbuatan kasar orang itu. Sehingga Hadhrat Umarr.a.berkata : “Ya Rasulullah! Orang ini sangat tidak sopan terhadap engkau, saya hendak memukul kepalanya dengan pedang ini!” Namun sesungguhnya Hadhrat Rasulullahsaw sangat sabar dan sangat berbaik hati dalam menyikapi orang yang telah berbuat tidak sopan dan kasar itu kepada beliau. Sambil senyum, Rasulullahsaw melarang Hadhrat Umarr.a.untuk tidak membalas perbuatan kasar orang itu.

Didalam sebuah riwayat lain lagi, dikatakan bahwa Zaid Bin Sun’ah seorang Alim Yahudi yang berpengetahuan tinggi datang dari Madinah kepada Rasulullahsaw  Kisah ini Zaid Bin Sun’ah sendiri menceritakannya, katanya : “Ketika saya berjumpa dengan Hadhrat Muhammad Rasulullahsaw, saya melihat semua keindahan akhlaq dan sifat-sifat luhur beliau kecuali dua hal (dua sifat) beliau yang belum terlihat oleh saya. Pertama sifat حِلْمٌ (hilm) yang mengalahkan dan menguasai kemarahan. Kedua, betapa kerasnya seorang diperlakukan tidak sopan dan kasar oleh orang lain namun sifat sabar dan kasih sayang-nya semakin nampak cemerlang. Saya ingin sekali menyaksikan kedua sifat ini pada diri beliau. Sambil duduk dekat beliausaw, saya ingin mempergunakan kesempatan untuk menyaksikan kedua sifat itu pada diri beliausaw. Saya betul-betul ingin mengetahui apakah ada atau tidak ada sifat ini pada diri beliausaw  seperti telah disebutkan didalam nubuatan yang pernah saya ketahui.”

Pada suatu hari ketika sedang duduk-duduk dengan beliausaw  datanglah seorang dusun (kampung) mengendarai seekor unta menghadap Rasulullahsaw lalu ia berkata: “Ya Rasulullah! Kampung kami sudah masuk Islam semuanya. Sebelum masuk Islam, saya katakan kepada mereka ‘jika kalian masuk Islam, kalian akan mendapat rizki banyak sekali dari Allahswt. Kebetulan kampung itu sekarang sedang dilanda kelaparan karena kekeringan sudah lama tidak turun hujan. Saya takut sekali jangan-jangan mereka ini masuk Islam betul-betul mengharapkan turunnya rezki yang banyak dari Allahswt Saya takut mereka akan mendapat pertolongan dari orang lain, lalu mereka meninggalkan Islam. Sebab mereka masuk Islam mungkin untuk mendapatkan rizki yang banyak itu dari Allahswt. Ya Rasulullah! Kami mohon agar mereka itu dibantu supaya mereka tetap berpegang pada keimanan mereka dan jangan lari dari Islam.”

Waktu itu Hadhrat Alir.a. pun sedang duduk bersama Hadhrat Rasulullahsaw  Lalu beliausaw bertanya kepada Hadhrat Ali r.a. “Hai Ali! Apa permohonan orang ini bisa dipenuhi?” Hadhrat Ali menjawab : “Wahai Rasulullah! Kami sedang tidak mempunyai apa-apa, kita tidak bisa memberi bantuan apa-apa kepada mereka”.  Zaid Bin Sun’a berkata kepada Rasulullahsaw, “Hai Muhammad! Jika kebun kurma milik si Fulan itu diberikan kepada saya sebagai jaminan sewa dan ditetapkan waktunya untuk dibayar, saya bisa memberi bantuan kepada kampung orang ini”. Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda kepada saya (Zaid Bin Sun’a) : “Hai Yahudi! Kurma yang telah ditetapkan sebelumnya itu boleh saja diberikan, namun syarat yang engkau sebutkan itu tidak bisa dikabulkan bahwa kurma itu harus diambil dari kebun si Fulan!”. Mendengar jawaban dari Hadhrat Rasulullahsaw ini, Zaidpun setuju. Lalu ia membuka pundi-pundi berisi uang dan memberikan sejumlah uang-nya kepada Rasulullahsaw sambil berkata: “Uang ini harus dikembalikan pada waktu yang telah ditetapkan menurut perjanjian sebelumnya.” Maka uang itu diambil oleh Hadhrat Rasulullahsaw dan diberikan kepada orang kampung itu untuk dibagikan kepada orang-orang kampung yang sedang ditimpa kelaparan.

Zaid bin Sun’a selanjutnya mengatakan : Beberapa hari sebelum kurma itu diambil dari kebun, saya sudah datang untuk menagih hutang itu kepada Rasulullah saw. Saya tarik kain serta jubah beliausaw sambil berkata : “Hai Muhammad! Apakah hak saya mau dibayar atau tidak? Demi Allah saya tahu betul keadaan kakek engkau Abdul Muthalib yang sangat kikir; Ia selalu mengundur-undur perjanjian dalam urusan hutang. Dan saya juga tahu tentang engkau hai Muhammad! engkau sentiasa melambat-lambatkan janji!” Hadhrat Umarr.a. yang sedang duduk di dekat Rasulullahsaw sangat marah dan tidak tahan mendengar penghinaan ini, dan berkata sambil marah kepada saya (Zaid Bin Sun’a), katanya: “Hai musuh Allah! Mengapa engkau berani berkata sangat kasar dan tidak sopan kepada seorang Rasul Allah? Demi Allah jika aku tidak takut kepada beliausaw sudah aku pukul kepala engkau dengan pedang-ku ini.”

Walaupun suasana sangat tegang akan tetapi Hadhrat Rasulullahsaw menghadapi suasana itu dengan sabar dan tenang, kemudian berkata sambil senyum kepada Hadhrat Umarr.a.: “Hai Umar! Janganlah engkau marah kepadanya! Lebih baik kita bayar hutang itu kepadanya! Pergilah engkau Umar bersama Zaid Bin Sun’a ini dan bayarlah utang kepadanya. Dan ingat! Tambahlah 20 Sa’ (44 kg) lagi sebab engkau telah memarahi sambil mengancam dan menakut-nakuti dia! “

Zaid Bin Sun’a meneruskan kisahnya, katanya saya pergi dengan Hadhrat Umarr.a. untuk menerima pembayaran kurma itu sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Namun Umar memberi 44 Kg lebih kepada saya. Lalu saya tanya : “Umar! Mengapa kau beri lebih 44 Kg kepada saya, untuk apa?”, Umar menjawab : “Ini perintah Hadhrat Rasulullahsaw untuk diberikan kepada engkau karena saya telah memarahi, mengancam dan menakut-nakuti engkau!” Saya berkata kepada Umarr.a.: “Hai Umar! Tahukah engkau siapa aku ini?” Umar menjawab : “Saya tidak tahu siapa engkau!”, lalu saya jawab ”Saya ini Zaid Bin Sun’ah!”, Umar berkata lagi : “Zaid Bin Sun’ah orang Yahudi yang Alim itu?” Saya jawab : “Ya itulah saya!” Umar berkata lagi: “Mengapa engkau seorang alim dan berilmu tinggi, engkau telah berkata sangat kasar dan tidak hormat kepada seorang Rasul Allah?” Saya (Zaid Bin Sun’ah) jawab, “Umar! Setelah saya melihat wajah Hadhrat Muhammadsaw, saya lihat semua ciri-ciri dan tanda-tanda kenabian beliau, tetapi dua buah ciri lagi pada waktu itu belum nampak kepada saya. Yaitu pertama sifat حِلْمٌ  (hilm) yang mengalahkan dan menguasai kemarahan. Kedua, berapa kerasnya seorang diperlakukan tidak sopan dan kasar oleh orang lain namun sifat sabar dan kasih sayang-nya semakin nampak cemerlang. Oleh itu saya mau tahu betul kedua sifat beliau itu dan pada sa’at ini saya sedang mendapat kesempatan yang baik untuk membuktikannya. Hai Umar! Sekarang saya jadikan engkau sebagai saksi! Aku beriman kepada Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agama-ku dan Muhammad saw adalah Rasul Allah! Dan saya sangat gembira karena semua keinginan saya itu telah terpenuhi, dan karena itu separuh dari harta saya yang saya miliki saya serahkan kepada ummat Muhammadsaw.”

Jadi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa sempurnanya sifat حِلْمٌ  (hilm)  lemah-lembut, pengasih dan pemaaf Hadhrat Rasulullahsaw maka Zaid Bin Sun’ah orang alim Yahudi itu telah masuk Islam.

Peristiwa semacam itu bukan hanya satu atau dua kali terjadi, akan tetapi sering sekali terjadi bahkan tidak terhitung banyaknya. Dan kisah-kisah beliau seperti itu tidak atau belum sampai kepada kita. Sebuah kisah lagi yang ingin saya sampaikan kepada hadirin semua adalah masih sebuah peristiwa yang menggambarkan sifat  حِلْم  hilm beliau itu.

Pada suatu ketika Rasulullahsaw harus membayar hutang kepada seorang orang kampung. Orang itu telah datang kepada Hadhrat Rasulullah untuk menagih hutang itu dengan suara keras dan sangat tidak sopan. Para sahabat yang sedang duduk bersama Hadhrat Rasulullahsaw marah; semua bangkit untuk memukul orang itu. Melihat perilaku para sahabah demikian itu, beliausaw bersabda: “Biarkanlah dia! Orang yang mempunyai piutang itu (orang yang menagih hutang itu) mempunyai hak untuk berbicara. Sekarang belilah seekor ternak yang sama umurnya dengan ternak yang dia pinjamkan itu kepada kita.” Para sahabah berkata : “Ya Rasulullah! Kita mempunyai seekor hewan lebih baik dan lebih gemuk dari pada hewan yang telah dia pinjamkan kepada kita”. Hadhrat Rasulullahsaw barsabda : “Berikanlah hewan itu untuk membayar hutang kepadanya. Orang yang paling baik dari antara kalian adalah orang yang membayar hutangnya dengan cara yang sangat baik.”

حِلْم  hilm artinya sabar dan pengasih juga. Dari peristiwa itu semua nampaklah betapa sabar dan pengasihnya Hadhrat Rasulullahsaw itu. Didalam kehidupan rumah tangga, beliau juga sentiasa menunjukkan sifat sabar dan lembut serta pengasih terhadap isteri-isteri beliau.

Hadhrat Aisyahr.a. menceritakan sebuah kisah, katanya pada suatu hari beberapa orang tamu datang ke rumah Rasulullahsaw. Saya mempersiapkan makanan untuk mereka itu. Hadhrat Safiyah juga menyediakan makanan dan mengirimkannya lebih awal dari pada saya. Saya merasa kurang senang melihat demikian dan saya telah menyuruh pembantu untuk menumpahkan makanan yang telah dibawa oleh Hadhrat Safiyah itu. Diapun mengambilnya lalu pinggan berisi makanan itu jatuh tertumpah dan pecah berkeping-keping. Kemudian Rasulullahsaw dengan tenang memunguti makanan yang terjatuh itu dan diletak diatas pinggan lain lalu beliaupun memakannya dari pinggan itu dengan tenang. Kepingan-kepingan pinggan yang pecahpun dikumpulkan dan lantai dibersihkan kembali oleh beliau. Sesudah itu pinggan saya beserta makanannya dikirimkan kepada Hadhrat Safiyah sebagai gantinya. Pada waktu itupun wajah Hadhrat Rasulullah saw sedikitpun tidak berobah dan tidak pula menunjukkan rasa kesal atau marah kepada siapapun.

Contoh dan tauladan Hadhrat Rasulullahsaw tentang sifat حِلْم  hilm  itu bukan hanya berlaku untuk orang-orang di zaman itu saja, melainkan berlaku untuk kita semua dan untuk orang-orang yang akan datang juga. Bukan hanya didengar, dibaca atau dilihat namun untuk ditunjukkan secara amaliah apabila waktunya tepat untuk diamalkan. `

Saya telah menerima banyak keluhan, diantaranya ada yang melaporkan tentang perbuatan aniaya dan kejam terhadap amah (pembantu rumah) atau suami-suami berbuat kejam terhadap isteri-isteri mereka. Sampai ada perempuan yang dipukuli melampaui batas sehingga terpaksa harus dibawa ke rumah sakit. Di Eropa ini memang sering terjadi bahkan sudah biasa, jika terjadi krisis rumahtangga, polisi pun turun tangan dan menangkap mereka yang berbuat terlalu berlebihan, sehingga timbul masalah baru dan harus menghadap ke pengadilan. Jadi berlaku lemah-lembut, kasih sayang dan toleransi adalah contoh-contoh Hadhrat Rasulullahsaw yang harus diikuti oleh semua orang.

Sekarang di rumahtangga sering terjadi, bukan saja suami yang berbuat marah atau berbuat aniaya terhadap isterinya, namun kakak ipar perempuan dan mertuanya juga ikut memarahi dan memukul menantunya itu. Dalam situasi demikian semua pihak harus berhati-hati dan harus berusaha menahan perasaan marah. Rasulullahsaw bersabda: “Apabila seseorang sedang marah sambil berdiri, hendaklah ia duduk. Jika ia duduk hendaklah berbaring sambil membaca istighfar banyak-banyak dan membaca hawla walâ quwwata illa billahil-‘aliyyil ‘adzîm, kemudian basuh muka sambil berwudhu supaya perasaan marah menjadi hilang.”

Mengenai peristiwa Fatah Mekkah, untuk menjelaskan lebih jauh lagi bagaimana Hadhrat Rasulullahsaw menunjukkan sifat حِلْم  hilm , pemaaf dan kasih-sayang beliau. Sambil berdiri dimuka pintu Ka’bah beliausaw berseru kepada para penduduk Mekkah yang pada waktu itu sedang merasa ketakutan bersembunyi di dalam rumah-rumah mereka. Dengan suara keras beliau menyeru, “Wahai orang-orang Quraisy! Perlakuan apa yang kalian harapkan dariku?” Mereka berkata : “اَنْتَ كَرِيْمٌ اِبْنُ كَرِيْمٍ  ‑anta karîm ibnu karîm‑ Wahai Muhammad! engkau orang terhormat; anak dari seorang yang terhormat! Kami mengharapkan perlakuan baik dari pada engkau! Rasulullahsaw bersabda atas jawaban mereka itu,  اِذْهَبُوْا اَنْتُمُ تُّلقَاء لاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْمُ اْليَوْمَ  ‑idzhabû antumut-tulqô-u, lâ tatsrîba ‘alayhim‑ Pergilah kalian dengan bebas! Kalian semua Telah aku ma’afkan. Tidak ada sedikitpun tuntutan lagi diatas kalian!”

Seorang musuh Islam yang sangat keras bernama Safwan bin Umayyah telah melarikan diri ketakutan karena dituntut hukuman. Umair bin Wahab datang menghadap Hadhrat Rasulullahsaw dan berkata : “Ya Rasulullahsaw! Safwan bin Umayyah seorang pemimpin kaum, ia telah lari karena takut dan ia sedang menuju ke arah laut untuk menyeberang ke negeri Yaman. Ya Rasulullahsaw! Sudilah tuan memaafkan dia! Maka Rasulullahsaw -pun memaafkannya.“

Ketika Safwan bin Umayyah dihubungi Umair bin Wahab dan diberi tahu kepadanya bahwa ia telah dimaafkan, Ia meminta tanda bukti bahwa Rasulullahsaw telah memaafkannya. Maka melalui Umair bin Wahhab Rasulullahsaw mengirimkan kepadanya sorban yang beliau pakai ketika kembali memasuki Mekkah diwaktu fatah Mekkah, untuk meyakinkan bahwa Safwan telah dimaafkan oleh beliausaw. Ketika Umair bin Wahhab memberikan sorban itu kepada Safwan bin Umayyah, dia sedang bersiap-siap naik perahu mau pergi ke Yaman, mula-mula ia menolaknya karena masih merasa ragu dan takut apakah benar-benar Rasulullahsaw telah memaafkannya, mengingat dia telah banyak melawan dan menganiaya para pengikut Rasulullahsaw dimasa lampau secara ganas dan kejam. Akhirnya ia pergi dan menghadap kepada Rasulullahsaw dan berkata kepada beliau: “Hai Muhammad! Betulkah yang dikatakan Umair bin Wahhab, bahwa engkau telah memaafkan saya?”  Rasulullahsaw menjawab: “Apa yang telah dikatakan Umair itu betul!” Sofwan berkata lagi: “Kalau begitu berilah saya waktu selama dua bulan sebelum saya menyatakan masuk Islam. Rasulullahsaw bersabda : “Saya beri waktu empat bulan, kalau memang engkau berminat untuk masuk Islam”.

Demikianlah contoh dan tauladan Hadhrat Rasulullahsaw yang telah diperlihatkan kepada kita semua supaya kita sentiasa berusaha menerapkan sifat hilm itu dan juga akhlaq fadillah beliau pada diri kita masing-masing.

Terdapat suatu riwayat dari Abu Hurairahr.a. katanya Rasulullahsaw bersabda: “Seorang yang gagah berani bukanlah seorang yang telah dapat menaklukkan lawannya sampai jatuh, akan tetapi seorang yang gagah berani adalah dia yang dapat menaklukkan hawa nafsunya diwaktu ia sedang marah.Rasulullahsaw tidak pernah marah jika beliau dihina atau dimaki-maki oleh siapapun. Akan tetapi beliau sangat marah apabila ada orang yang memaki Islam dan Penciptanya yaitu Allahswt.

Pada suatu ketika seorang datang kepada Rasulullahsaw dan berkata: “Ya Rasulullah! Saya selalu berbuat baik dan menaruh kasihan kepada saudara-saudara saya dan kerabat saya, akan tetapi mereka sebaliknya selalu berbuat buruk dan berbuat kejahilan kepada saya, mereka membenci saya. Maka Rasulullahsaw bersabda : “Jika engkau benar berbuat seperti yang telah engkau katakan maka Allahswt senantiasa akan menolong engkau untuk menghadapi keburukan mereka selama engkau tetap berbuat baik seperti engkau katakan kepada-ku! Jadi sebetulnya untuk membalas perbuatan apapun kepada orang lain, manusia harus meminta pertolongan kepada Allahswt, jika tidak syaitan akan menambah buruk keadaan.”

Sebuah riwayat lagi yang diceritakan oleh Hadhrat Suhailr.a. dari kakek beliau katanya Rasulullahsaw bersabda, “Barangsiapa yang menahan amarahnya sewaktu ia sedang dalam keadaan sangat marah, pada waktu itu dia memang bisa melakukan kemarahan namun dia tahan sekuat tenaga sehingga tidak jadi marah, maka pada hari qiamat dia akan dipanggil dihadapan orang banyak untuk diperlihatkan bahwa orang ini sangat dekat dengan Tuhan.”

Hadhrat Alir.a. meriwayatkan katanya Rasulullahsaw bersabda kepada saya  “Hai Ali! maukah engkau aku ajari kalimat-kalimat, jika kalimat-kalimat ini engkau ucapkan, maka Allahswt akan mengampuni engkau? Kalimat-kalimat itu adalah :

لاَ اِلَهَ اِلاّ اللهُ اْلحَلِيْمُ اْلكَرِيْم لاَ اِلَهَ اِلاّ اللهُ اْلعَلِيُ اْلعَظِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ ألسَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ اْلعَظِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَلَمِيْنَ

‑lâ ilâha illal-lâhul-hakîmul-karîm. Lâ ilâha illal-lâhul-‘aliyul-‘adzîm. Subhânallâhi robbis-samâwâtis-sab’I wa robbil-‘arsyil-‘adzîmil-hamdu lillâhi robbil-‘âlamîn‑

Artinya :  Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Halim (Maha Pengasih) dan Karim (Maha Mulia) Tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Tinggi Maha Agung. Maha Suci Allah Rab sekalian langit dan bumi dan Rab Arasy Yang Agung, semua puji bagi Allah Rab sekalian Alam.

Inilah do’a-doa yang menjadi sarana pengampunan dari Allah swt.

Sebagaimana telah saya jelaskan bahwa menurut lughat ([Kamus] Bahasa Arab)  حِلْمٌ  (hilm) artinya kesabaran, kasih sayang, bersikap pema’af, toleransi, kebaikan dan menekan perasaan marah. Semua nilai akhlak ini sangat penting sekali untuk terciptanya suasana masyarakat yang baik; terlebih lagi bagi kehidupan ruhani manusia yang harus diupayakan oleh setiap orang Ahmadi.

Terdapat beberapa peristiwa yang terjadi dimasa kehidupan Hadhrat Masih Mau’uda.s. dalam menta’ati nasihat dan arahan dari Hadhrat Rasulullahsaw.. Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda : “Semua kelemahan dan perlakuan cepat marah dari pihak perempuan di rumah tangga harus dihadapi dengan sabar dan penuh toleransi, kecuali jika melakukan perbuatan yang tak pantas. Adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan jika seorang lelaki harus berkelahi (bertengkar) dengan perempuan di rumah. Tuhan telah menjadikan kita lelaki. Sesungguhnya bagi kita satu karunia dan nikmat dari Allahswt yang harus disyukuri dengan cara berlaku sangat lembut dan kasih sayang kepada perempuan di rumah.”[1]

Hafiz Hamid Ali Sahib bertahun-tahun telah berkhidmat sebagai khadim (pembantu) dirumah Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Ia menceritakan, “Betapa luhurnya sopan-santun dan ramah-tamah yang beliau lakukan kepada saya sehingga tidak ada tandingannya, dan saya tidak pernah mendengar beliau berkata-kata kasar kepada saya atau kepada siapapun, sekalipun kadang-kadang saya malas atau saya lambat melakukan sesuatu tugas yang beliau berikan kepada saya, namun beliau tidak pernah berlaku keras dan kasar kepada saya. Walaupun ketika beliau sedang sakit, tidak pernah ternampak dari wajah beliau perangai yang menimbulkan rasa tidak senang terhadap perasaan orang lain. Pada suatu hari ketika beliau sedang menderita sakit kepala yang sangat keras, diatas beranda rumah beliau, disana sedang ada percakapan dengan suara riuh dan bising, namun Hadhrat Masih Mau’uda.s.  tidak pernah meminta kepada orang-orang di sekeliling beliau itu untuk tidak berbuat bising. Ketika beliau sehat ataupun sedang sakit, keadaan sikap dan perangai beliau tidak berubah, selamanya lembut dan ramah-tamah.

Terhadap orang-orang yang memusuhi beliau juga, sifat حِلْمٌhilm‑ beliau selalu tetap nampak cemerlang. Banyak orang-orang yang memusuhi beliau lalu mengeluarkan kata-kata dengan bahasa yang sangat kasar dan kotor, namun beliau dengar kata-kata mereka itu dan tidak menjawabnya kecuali dengan tersenyum. Beliau selalu menunjukkan kepribadian dan akhlak yang luhur dan terpuji. Sungguh benar bahwa jiwa beliau sudah menjadi Muslim sehingga siapapun yang hingga sepanjang tahun terus mencaci-maki beliau dengan kata-kata yang sangat kasar dan kotor, mereka itu tidak bisa mengalahkan jiwa beliau itu, bahkan mereka yang mencaci-maki itu akan merasa malu sendiri.

Pada suatu ketika telah dimuat sebuah artikel di dalam surat kabar yang sepenuhnya mencaci-maki Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Namun beliaua.s. menganjurkan kepada Jema’at supaya berlaku sabar atas perbuatan mereka itu. Dengan caci-maki itu apa yang diharapkan oleh mereka? Kemudian beliau mengisyarahkan kepada keadaan di zaman Rasulullahsaw.ketika orang-orang musyrik Mekkah mencaci dan menghina beliau dengan kata-kata yang sangat kasar dan kotor, Rasulullahsaw.sentiasa bersabda kepada para sahabah beliau: “Apa yang mereka kehendaki dan inginkan dengan caci-maki mereka menggunakan kata-kata kotor terhadap-ku. Allahswt sendiri telah memberi-ku nama yang sangat indah sekali yaitu Muhammadsaw (orang yang sangat terpuji)?”

Hadhrat Masih Mau’uda.s.  bersabda: “Demikian juga Allahswt telah mengutusku dan Dia telah memanggil-ku dengan firman-Nya kepada-ku :

يَحْمَدُكَ اللهُ مِنَ اْلعَرْشِ

Artinya : Allah memuji engkau dari atas Arsy. [2]

Terdapat sebuah nazm/syair gubahan Hadhrat Masih Mau’uda.s. dalam Bahasa Urdu yang berbunyi :

 گالياںسُن کردعآ ديتا ھوں ان لوگوں کو

رحم ھے جوش ميں  اور غيض گھٹايا ھم نے

Mendengar caci maki mereka aku balas dengan do’a

Kasihku bergelora dan mengungguli angkara murka.

Dijelaskan beberapa peristiwa lainnya lagi dengan apanjang lebar tentang kesabaran, lemah lembut dan pema’af Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam menunjukkan sifat hilm beliaua.s.. Hadhrat Masih Mau’uda.s. menasihatkan kepada kita jika ada tamu atau siapapun datang mencaci-maki dan berkata-kata yang tidak sopan dan kasar harus dihadapi dengan penuh sabar dan toleransi tinggi, sebab orang-orang itu bukan dari anggota Jema’at kita. Hadhrat Masih Mau’uda.s. menganggap dosa jika seseorang menunjukkan rasa tidak senang terhadap orang yang datang kepada kita sebagai tamu.

Orang yang paling luhur dalam menunjukkan sifat Halîm Allahswt tiada lain hanyalah Hadhrat Muhammad Mustafasaw. Dan pada zaman sekarang ini Hadhrat Masih Mau’uda.s telah mengikuti jejak-langkah Hadhrat Rasulullahsaw. dalam memanifestasikan sifat hilm tersebut dan beliau telah menunjukkan sifat itu dihadapan kita demi perbaikan dan perobahan kita semua.  Semoga Allah swt memberi kemampuan kepada kita semua untuk menyerap sifat-sifat Allahswt sebanyak-banyaknya. Amin!

[1] Malfuzat jld I halaman 307

[2] Wahyu ini terdapat didalam Kitab Barahin Ahmadiyya.