Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

8 Januari 2010/Sulh 1389 HS di Masjid Baitul Futuh, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ()

Man dzal-ladzî yuqridhul-Lôha qordhon hasanan fa-Yudhô’ifahû lahû adh’âfan katsîroh, wal-Lôhu Yuqbidhu wa Yabsuthu wa –ilay-Hî turja’ûn

“Siapakah yang mau memberikan pinjaman yang baik kepada Allah agar Dia melipatgandakan? Dan, Allah mengambil dan memperbanyak harta, dan kepada-Nya kalian akan dikembalikan. (Al-Baqarah : 246 )

Modal atau uang sangat perlu dan sangat penting untuk menjalankan sistem apapun di dunia, baik itu yang berkaitan dengan nizam duniawi, nizam agama maupun organisasi sehingga dapat memenuhi keperluan negara, sosial masyarakat, Jemaat dan juga hak-hak terhadap sesama. Dalam menjelaskan perkara tersebut, di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Permulaan candah (iuran) bukanlah dari Jemaat ini. Melainkan, di zaman para nabi juga sudah ada pengumpulan candah saat ada keperluan-keperluan harta. Ada suatu zaman ketika sedikit saja ada isyarat supaya mengumpulkan candah, maka semua harta yang ada di rumah dipersembahkan. Utusan Allah saw telah bersabda bahwa hendaknya memberi sesuai kemampuan. Dan maksud beliau saw adalah, lihatlah! Siapa dan berapa banyak yang dikorbankan.”

“Pengorbanan dari satu orang saja tidak ada artinya, tetapi di dalam pengorbanan secara bersama-sama senantiasa ada keberkatan. Kerajaan-kerajaan besar juga pada akhirnya senantiasa berjalan di atas iuran. Perbedaannya hanya dalam hal kerajaan-kerajaan dunia secara paksaan memungut pajak dan lain sebagainya. Sementara di sini kita menyerahkannya di atas ridha dan keinginan sendiri. Dengan memberikan candah, terdapat kemajuan dalam keimanan dan merupakan bukti kecintaan serta keikhlasan.”[2]

Pendek kata, nizam candah yang berlaku dalam Jemaat berasaskan pada peraturan-peraturan supaya keperluan-keperluan Jemaat dapat terpenuhi, dan untuk itulah anggota Jemaat membayar candah. Di dalam nizam candah Jemaat, terdapat sebagian candah-candah wajib seperti: Zakat, Candah Wasiyat, Candah Aam, Candah Jalsah Salanah dan selain itu juga ada sebagian candah-candah lainnya yang tidak wajib.

Nizam zakat merupakan salah satu rukun (pondasi dasar) Islam. Ketika mulai ada perintah Allah Ta’ala tentang zakat, Rasulullah saw memperhatikan itu secara khusus. Setelah wafat Rasulullah saw, ketika sekelompok orang yang meskipun adalah orang Islam namun menolak untuk membayarnya, maka Hadhrat Abu Bakar ra menindak mereka dengan tegas dan kemudian mengumpulkan zakat dari mereka.[3] Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi siapa yang wajib zakat untuk membayarnya. Dan demikian juga walaupun telah ada kewajiban membayar zakat dan juga pemungutan zakat, terkadang Rasulullah saw senantiasa menggerakkan suatu bentuk lain pengorbanan tambahan untuk keperluan-keperluan sangat penting.[4]

Kemudian dalam Jemaat ‑ sebagaimana telah saya katakan ‑ terdapat Nizam Wasiyat juga. Candah Wasiyat ini satu candah yang berjalan seiring dengan berjalannya Nizam Wasiyat. Sebagaimana kita ketahui pada tahun 1905, setelah mendapatkan perintah dari Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as memulai nizam wasiyat ini. Dan bagi setiap peserta lembaga wasiyat ini, perlu menetapkan untuk mewasiyatkan mulai 1/10 hingga 1/3 penghasilan dan harta kekayaan mereka. Sesudah berwasiyat, dia berjanji, “Saya akan membayar 1/10 hingga 1/3 dari penghasilan saya.”

Begitu juga, dia amanatkan kepada para ahli warisnya untuk melunasi perjanjian sesuai dengan janjinya, jika tidak dibayar di masa hidupnya, maka sesudah wafatnya dapat dibayarkan dengan tetap sesuai ukuran yang telah diajukannya. Dari setiap pewasiyat inilah yang diharapkan, yaitu sejalan dengan tetap berada pada jalur ketakwaan, dia membayar candah dari penghasilannya yang sesungguhnya. Berkaitan dengan itu, janganlah mencari alasan dan helah apa pun. Umumnya pewasiyat tidak melakukan hal itu.

Ringkasnya, setiap orang yang berwasiyat harus senantiasa memeriksa dirinya sendiri tiap waktu. Hal itu artinya, di mana pun dia berada, jangan sampai dirinya lepas dari ketakwaan. Dia harus berpikir, “Jika saya menghendaki sebagian dari penghasilan yang sudah saya sisihkan untuk perjanjian, betapapun itu sangat sedikit atau kecil, itu berarti telah timbul keinginan untuk mengambil sesuatu dari perjanjian yang telah dilakukan terhadap Allah Ta’ala. Apakah kita tidak sedang berkhianat? Iya, itu pengkhianatan.”

Karena itu, para mushi dan mushiah dalam Jemaat merupakan kelompok pembayar candah, yang sehubungan dengan itu, mereka dianggap sebagai orang-orang yang berusaha meraih standar ketakwaan yang tertinggi. Dari segala segi mereka adalah penegak standar pengorbanan-pengorbanan yang tertinggi. Mereka persembahkan dengan senang hati sebagian dari penghasilan dan harta kekayaannya, untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Mereka begitu memperhatikan amal-amalnya dan adalah orang-orang yang berusaha untuk itu. Mereka berusaha menjadikan taraf ibadah-ibadahnya sampai ke tingkat yang tinggi. Mereka berusaha menata akhlaknya dengan cara yang terbaik dan mereka orang-orang yang melangkahkan kaki sembari berusaha menjadi beriman hakiki. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan semangat kepada setiap mushi untuk membayar wasiyat dan menjadi orang yang menegakkan hal itu.

Perihal zakat telah saya kemukakan sedikit beberapa saat tadi. Selanjutnya saya akan membahas mengenai candah ‘aam. Candah ini telah berjalan sesuai peraturan dalam Jemaat yang ukurannya adalah 1/16 (seperenam belas) dari penghasilan bulanan, dan di masa Khilafat yang ke-2, nizam candah ‘aam ini berjalan dengan ketentuan secara teratur. Candah ini juga pada hakikatnya telah berlangsung pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan sangat menekankan berkenaan dengan hal itu. Beliau as bersabda, “Wajibkanlah itu bagi diri kalian masing-masing dan bayarlah setiap bulan walaupun hanya satu sen.”[5]

Jika disabdakan tadi bahwa seseorang hendaknya menetapkan pada dirinya sendiri maka janganlah ia salah paham bahwa mengapa ada ukuran 1/16? Terkait dengan itu jelas ini sesuai dengan kondisi saat itu, penambahan terjadi secara berkelanjutan. Pertama, setengah sen kemudian menjadi satu sen, lalu empat sen dan kemudian menjadi enam sen. Hadhrat Masih Mau’ud as juga di satu tempat bersabda: “Demi melakukan pengorbanan harta dan secara teratur, jika kalian memakan empat roti, maka korbankanlah satu roti untuk agama.”[6]

Beliau as bersabda bahwa dengan mengorbankan satu roti itu, ini sama dengan mengorbankan 25% (1/4 atau seperempatnya), tidak lagi ukurannya 1/16 (atau 6,25%). Seperenam belas (1/16) ini merupakan batas minimal. Jadi, membayar candah hanya satu sen atau semaunya sendiri merupakan hal yang keliru.

Permintaan candah adalah sesuai dengan keperluan-keperluan Jemaat dan sesuai dengan pengeluaran-pengeluaran. Seiring dengan dibuatnya program-program baru, sesuai dengan hal itu pula, dibukalah beberapa gerakan-gerakan pengorbanan. Oleh karena itulah, meskipun telah ada candah-candah tersebut, ketika terdapat bertambahnya pengeluaran-pengeluaran, tatkala program-program Jemaat dan target-targetnya meluas dan bertambah; ketika timbul keharusan pembiayaan pengeluaran-pengeluaran dalam rangka menyebarkan amanat Islam yang hakiki, yang untuk itu Allah Ta’ala telah mengirim Imam pada zaman ini; sementara di sisi lain, ketika dari candah-candah tersebut yang merupakan candah-candah wajib tidak dapat memenuhi pengeluaran-pengeluaran itu maka para Khalifah mencanangkan gerakan-gerakan pengorbanan lain.

Satu gerakan pengorbanan besar yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah canangkan adalah gerakan Tahrik Jadid. Tatkala pihak-pihak yang memusuhi Jemaat telah bertekad bulat untuk membumi-hanguskan Qadian, pada saat itulah beliau ra menyampaikan satu program tabligh supaya Jemaat memperluas pertablighannya. Yaitu harus keluar dari negeri kita (Qadian –peny), kemudian menyebarkan amanat Ahmadiyah yang merupakan Islam yang hakiki. Kemudian, sesudah terbentuknya negara Pakistan, Hadhrat Khalifatul Masih II ra telah mencanangkan satu lagi gerakan pengorbanan dengan nama Waqf-e-Jadid pada tahun 1957. Di dalam gerakan ini, beliau ra meminta para pewakaf yang sedikit banyak memahami ilmu agama supaya mewakafkan diri dan secara langsung tidak berada di bawah sebuah kantor mana pun, melainkan bekerja di bawah beliau.[7]

Tugas para waqif tersebut ke kampung-kampung dan melakukan pertablighan di sebagian wilayah-wilayah khusus. Jadi, sebagaimana halnya dengan perantaraan Tahrik Jadid, misi-misi berdiri di dunia, maka dengan perantaraan Waqf-e-Jadid, di dalam negeri juga mereka ditugaskan secara khusus di wilayah Sind. Di Pakistan saat itu, melalui perantaraan para muallim tersebut, yang Hadhrat Khalifatul Masih II ra telah tempatkan mereka dibawah komando beliau dan mereka diberikan tarbiyat sementara; mereka melakukan pekerjaan tabligh dan tarbiyat kepada para pengikut berbagai mazhab (agama). Di sana, diusahakan sepenuhnya menyampaikan amanat Islam kepada kalangan orang-orang Hindu dan non-Muslim, dan di sana cukup besar pekerjaan yang sudah dikerjakan.

Namun, gerakan Waqf-e-Jadid ini juga lama-kelamaan menjadi berkembang. Sebelumnya hanya satu dua muallim yang bekerja untuk sementara, kemudian terus terjadi penambahan. Saat itu, penambahan sumber daya Muallin hanya dengan memberikan kursus pendidikan kepada mereka beberapa bulan, lalu mereka dikirim ke medan tugas. Selanjutnya, didirikanlah lembaga yang lebih permanen untuk tarbiyat dan pendidikan para Muallim itu. Dan kini, dengan karunia Allah Ta’ala, ada sebuah madrasah yang permanen di Rabwah bernama Madrasatuzh Zhafr tempat para Muallim disiapkan. Kurang lebih tiga tahun pendidikan diberikan kepada mereka di tempat ini. Sesudah adanya anak-anak Waqf-e-Nou, madrasah itu menjadi bertambah luas lagi dan dalam jumlah juga terus bertambah.

Singkatnya, gerakan Waqf-e-Jadid ini ‑ sebagaimana yang telah saya katakan ‑ pada umumnya dulu itu adalah untuk Pakistan. Dan di dalam gerakan pengorbanan itu, penekanan pada pembayaran candah Waqf-e-Jadid juga hanya diberikan pada Pakistan. Jika dengan senang hati di negara-negara di luar Pakistan memberikan [pengorbanan tersebut] maka itu baik. Tetapi, sebagaimana telah saya katakan juga, karena meningkatnya keperluan-keperluan, maka para Khalifah mencanangkan gerakan-gerakan pengorbanan lain. Sebagai contoh, dengan memperhatikan pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan tabligh dan khususnya untuk memperluas pekerjaan di sebagian wilayah-wilayah Afrika dan Hindustan, sesudah itu, Hadhrat Khalifatul Masih IV rh. mengumumkan gerakan pengorbanan ini menjadi umum untuk Jemaat di luar Pakistan juga. Dengan karunia Allah Ta’ala, mereka berlomba-lomba mulai ambil bagian dalam gerakan pengorbanan ini.[8]

Sebagaimana kita ketahui, setiap tahun ada pengumuman tahun baru Waqf-e-Jadid di bulan Januari dan pada kesempatan itu disebutkan pengorbanan harta Waqf-e-Jadid. Ini merupakan kebaikan Allah Ta’ala pada Jemaat, yaitu, di kalangan anggota Jemaat telah Dia ciptakan satu kecintaan khusus untuk berlomba dalam pengorbanan harta dan telah Dia ciptakan satu keasyikan di dalamnya. Ruh dan semangat terus dibangun demi pekerjaan itu. Para anggota Jemaat berusaha memahami maksud pengorbanan harta. Mereka berusaha memahami firman Allah Ta’ala yang baru saja saya tilawatkan dan di dalam Al-Quran Syarif serta di beberapa tempat lain juga disebutkan. Kepada seorang beriman yang hakiki diterangkan, kemudian dibukakan tentang hakikat pengorbanan harta. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat ini, terjemahannya adalah “Barangsiapa yang memberi pinjaman yang baik kepada Allah, maka Dia membalasnya beberapa kali lipat, dan Allah juga menyempitkan rezeki dan melapangkan rezeki (Dia juga berkuasa menahan rezeki) dan Dia juga melapangkan, dan kepada Dialah, kalian akan dikembalikan.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah membahas kata يُقْرِضْ – yuqridh dengan merujuk berbagai kitab lughat dan kamus. مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یُقۡرِضُ اللّٰہَ قَرۡضًا حَسَنًا… — Man dzal-ladzî yuqridhul-Lôha qordhon hasanan – Seperti inilah beliau ra mengartikan ayat tersebut, yaitu, “Siapakah yang memberikan sebagian dari hartanya di jalan Allah Ta’ala?” Yang kedua adalah, “Siapakah yang menaati perintah-perintah Allah Ta’ala dalam corak dia mengharapkan ganjarannya dari-Nya?”[9]

Pendeknya, iuran atau pajak yang dipungut oleh pemerintahan-pemerintahan duniawi adalah dalam rangka menjalankan pekerjaannya. Hal itu sebatas hanya pada pengumpulan harta guna menyempurnakan sasaran atau target dan memajukan program-progam bagi maslahat (kebaikan) bangsa dan negara, juga untuk memperbaiki keadaan moral umum warganya. Tidak ada perencanaan dalam pemerintahan untuk menciptakan perhatian warganya kepada Allah Ta’ala. Tetapi, yang Allah Ta’ala firmankan untuk keperluan-keperluan lembaga sosial-keagamaan dan kelompok-kelompok agama ialah, “Lakukanlah pengorbanan harta, berilah pinjaman kepada Allah Ta’ala”, maka itu tidak hanya terbatas pada pemungutan harta saja, melainkan termasuk juga amal-amal lainnya, yang menjadi faktor kemajuan kerohanian seorang beriman. Artinya, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, seorang beriman mempersembahkan harta dan amal-amalnya kepada-Nya. Dan tatkala harta serta amal-amal ini dipersembahkan dengan tulus di hadapan-Nya, maka Dia akan mengembalikannya dengan berlipat ganda. Ini merupakan janji-Nya. Allah Ta’ala tidak perlu terhadap benda apa pun. Untuk pengorbanan harta, Allah Ta’ala berfirman, “Dikarenakan seorang beriman membelanjakan harta di jalan Allah, maka Dia memberikan karunia kedekatan. Tatkala amal-amal itu dilakukan demi untuk Allah Ta’ala, itu akan menjadi faktor untuk kedekatan kepada Allah Ta’ala.”

Allah Ta’ala tidak berfirman: “Berilah pinjaman kepada-Ku, karena Aku memerlukan.” Dia berfirman: “Berilah Aku demi ridha-Ku, supaya Aku mengembalikannya kepada kalian dengan melipatgandakan beberapa kali lipat. Tatkala kalian melakukan pengorbanan untuk keperluan-keperluan Jemaat, maka Aku akan memberikan ganjarannya kepada kalian.” Jadi, ketika membelanjakan harta demi mencari ridha Allah Ta’ala dengan tulus maka di hati orang-orang yang membelanjakan, hendaknya jangan ada perasaan tertekan pada saat membayar candah-candah. Hendaknya yakin sepenuhnya, “Saya berkorban harta di jalan Allah Ta’ala dengan senang hati.” Dan kemudian di dalam hati jangan pernah terpikir, “Saya telah memberikan sejumlah candah. Untuk itulah, hendaknya para pengurus atau Jemaat mengucapkan terima kasih kepada saya.”

Tidak diragukan lagi pengurus Jemaat yang bertugas memungut candah menerima iuran itu dan menyampaikan terima kasih kepada orang yang membayar candah. Di kuitansi pun tertulis kata ‘Jazakumullah’. Tetapi, bagi orang yang memberikan candahnya hendaknya ingat bahwa tidak ada ihsan yang dia lakukan. Dia telah berjual beli dengan Allah Ta’ala untuk memperbanyak hartanya. Dia melakukan jual beli yang tidak hanya memperbanyak hartanya sedemikian rupa, bahkan itu akan tertulis di dalam kebaikan-kebaikannya, lalu sesudah mati pun akan bermanfaat untuknya.

Tertera dalam sebuah hadits, Hadhrat Mathraf meriwayatkan dari bapaknya, “Saya hadir di hadapan Rasulullah saw ketika itu beliau saw sedang membaca surah: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ — Alhâkumut-takâtsur — Setelah membaca ayat tersebut, beliau saw bersabda: ‘Anak Adam mengatakan, “Hartaku! Hartaku!” ‘Wahai anak cucu Adam, apakah kamu memiliki harta? Selain harta yang telah engkau makan dan habiskan, atau yang engkau pakai dan telah jadi tua dan busuk atau yang engkau telah sedekahkan dan telah engkau kirimkan terlebih dahulu untuk kehidupanmu kelak (di akhirat).’”[10]

Hakikatnya, harta yang telah dipergunakan itu pun telah menjadi habis. Orang-orang banyak membelanjakan uang untuk pakaian, baju, jubah, kemeja. Hal itu pada satu hari akan usang lalu menjadi habis. Jika dipakai beberapa lama, lalu diberikan pula kepada seseorang maka bagaimana pun juga, itu tidak lagi ada pada diri kita. Dan seberapapun harta yang dibelanjakan, itu pun pergi kepada orang lain. Kemudian apa yang dibelanjakan di jalan Allah Ta’ala, adalah dibelanjakan untuk meraih ridha Allah Ta’ala, itu merupakan harta yang telah dia kirim (ditabung) lebih dahulu, yang kemudian akan berguna baginya di kehidupan mendatang. Seorang insan yang membelanjakannya akan terhitung dalam kebaikannya. Satu kali Rasulullah saw menyuruh menyembelih seekor kambing. Sesampainya di rumah beliau saw bertanya “Apakah ada sedikit yang tersisa dari daging itu?” Beliau saw memperoleh jawaban bahwa ada satu kaki yang tersisa. Semuanya telah dibagi-bagikan ke sana-sini. Beliau saw bersabda, “Selain satu kaki kambing, semua itu telah selamat.”[11]

Apa yang seseorang belanjakan di jalan Allah Ta’ala pada hakikatnya itu akan berguna di masa mendatang. Karena itu diterima di jalan Allah Ta’ala. Karena itu, orang yang membelanjakan apapun hartanya hendaknya tidak pernah terpikir di dalam hatinya, “Saya telah melakukan kebaikan.” Allah Ta’ala mendatangkan faedah padanya di dunia ini juga dan di akhirat kelak. Ini merupakan janji-Nya.

Orang yang meminjam hutang di kehidupan dunia ini, maka ia mengembalikan hutangnya seberapa banyak hutang yang dipinjam. Biasanya pula dalam pembayaran hutangnya diperlambat dengan berbagai alasan. Tetapi, Allah Ta’ala mengembalikannya dengan berlipat-ganda. Oleh karena itulah, tatkala ingin membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala hendaknya memberikannya seraya berpikiran, “Saya sedang memberikan di jalan Allah, Pemilik dan Pencipta langit dan bumi. Jika Dia meminta maka Dia meminta bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan demi faedah bagi diri saya, faedah orang yang memberi. Manakala atas nama-Nya, Dia menuntut agar saya memberikan harta demi kemajuan Jemaat-Nya, maka saya harus memberi tanpa ragu-ragu dan memberikan sesuatu yang terbaik. Di dalamnya jangan ada corak khianat macam apapun. Jangan ada pelanggaran janji. Apa yang telah saya janjikan menjadi hal yang wajib bagi saya. Dalam melunasinya semoga saya tidak mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi.”

Dan kemudian sebagaimana dalam maknanya telah kita lihat maksudnya juga yaitu, “Siapakah yang menaati perintah Allah Ta’ala lalu dia mengharapkan ganjaran dari Allah Ta’ala?” Setelah mengorbankan harta, seorang beriman tidak menjadi bebas, melainkan setelah berkorban harta, bersamaan dengan syarat-syarat itu,. –sebagaimana yang telah saya sebutkan– kemudian perlu juga memperhatikan amal-amalnya dan dengan merenungkannya, yakni mentaati perintah-perintah-Nya demi Allah Ta’ala. Ikatan yang kuat dengan nizam Jemaat juga adalah untuk diri saya.

Betapa indahnya perlakuan kasih sayang Allah Ta’ala dengan hamba-Nya bahwa Dia memberikan perintah-perintah pada hamba-hamba-Nya agar bertumbuh dalam kebaikan-kebaikannya. Kemudian, tatkala hamba melaksanakan perintah-perintah itu maka Dia berfirman bahwa engkau telah melakukan kebaikan ini demi untuk Aku seolah-olah engkau telah memberikan pinjaman yang baik kepada-Ku. Kini pinjaman itu Aku akan kembalikan padamu beberapa kali lipat. Yakni setiap amal yang manusia lakukan Allah Ta’ala telah mengatakan sebagai pinjaman yang baik dan dari segi itu Dia mengembalikannya kepada hamba. Ini merupakan ihsan Allah Ta’ala. Betapa agung Tuhan kita ini. Betapa Dia Maha Pengasih bagi hamba-hamba-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat bersabda: “Seorang yang tuna ilmu mengajukan keberatan, ‘مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا… ‑-Man dzal-ladzî yuqridhul-lôha qordhon hasana(n)— “Siapakah yang memberikan pinjaman kepada Allah.” Pemahaman dia seolah-olah nauzubillah Allah Ta’ala itu lapar dan membutuhkan sesuatu.’ (inilah penjelasan orang bodoh itu) “Orang bodoh itu pun tidak paham juga dari mana kata ‘menjadi lapar’ (arti itu) keluar?” (dari perkara itu, keluarlah pemahamannya bahwa Allah itu membutuhkan. Oleh karena itu, Dia meminjam) “Melainkan, dalam hal ini makna kata pinjaman pada dasarnya adalah sesuatu yang sedemikian rupa ada janji untuk mengembalikannya.” (maksudnya adalah sesuatu yang sedemikian rupa ada janji untuk mengembalikannya.) “Bersamaan dengan itu orang tuna ilmu itu melekatkan kata ‘melarat’ (membutuhkan) dari diri mereka sendiri.”

Beliau as bersabda: “Di bahasan ini maksud kata pinjaman ialah sesiapa yang menegakkan amal saleh demi Allah Ta’ala, Dia akan memberikan ganjaran padanya dengan beberapa kali lipat. Ini adalah selaras dengan keagungan Tuhan yang ada bersama rangkaian ubudiyyat (penghambaan) dengan rabbubiyyat (pemeliharaan Tuhan). Dengan merenungkan itu maknanya ini dipahami dengan jelas. Karena Allah Ta’ala memelihara semuanya sama-sama tanpa memperhitungkan suatu kebaikan, doa dan permohonan mereka serta tanpa membedakan kafir dan beriman.”

(Beliau as. bersabda: hanya satu maksudnya yang jelas nampak bahwa apa saja pekerjaan yang dikerjakan demi untuk-Nya, maka sebagai ganjarannya, Allah Ta’ala melipat-gandakannya beberapa kali lipat. Kini ini pun merupakan kebesaran Allah Ta’ala bahwa renungkanlah perkara yang terkait hubungan hamba dengan Allah Ta’ala, maka dengan jelas ini dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala memelihara setiap orang tanpa kebaikan, doa dan permohonan serta tanpa perbedaan antara kafir dan beriman pun. Dia memberi kepada orang-orang tanpa mereka meminta-Nya.)

Beliau as bersabda: “Dengan berkat rabbubiyat dan rahmaniyat-Nya, Dia mendatangkan keberkatan kepada semua orang. Kemudian pernahkah Dia akan menyia-nyiakan kebaikan seseorang? (Tatkala keberkatan secara umum mengalir di setiap tempat maka bagaimana bisa Dia menyia-nyiakan kebaikan orang yang melakukan kebaikan) Tanda Keagungan-Nya adalah فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ — famay-ya’mal mitsqôla dzarrotin khoyroy-yaroh (Az-zilzal : 8) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah sekalipun, ganjarannya pun niscaya Dia akan anugerahkan. Dan barangsiapa yang melakukan sedikit saja keburukan maka dia akan menemukan akibat keburukannya. Inilah makna mendasar dari kata ‘pinjaman’ yang didapatkan dari ayat ini. Karena makna sebenarnya dari kata pinjaman adalah didapatkan dari itu. Oleh karena itu, inilah yang dikatakan: مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا… ‑-Man dzal-ladzî yuqridhul-lôha qordhon hasana(n)—‘Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah.’ (Al-Baqarah 246). Dan tafsirnya terdapat dalam ayat ini, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ — famay-ya’mal mitsqôla dzarrotin khoyroy-yaroh— ‘Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat zarah, ia akan melihat hasilnya.’”[12]

Jadi, tatkala Allah Ta’ala tidak meninggalkan ganjaran terhadap amal yang sekecil-kecilnya, maka bagaimana Dia akan meninggalkan tanpa ganjaran terhadap pengorbanan-pengorbanan besar yang diberikan untuk-Nya? Kelapangan dalam hal harta dan taufik untuk melakukan amal saleh juga berada di tangan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya senantiasa tunduk di hadapan-Nya. Tatkala Allah Ta’ala berfirman:… وَ اللّٰہُ یَقۡبِضُ وَ یَبۡصُۜطُ… ‑‑Wallôhu yuqbidhu wa yabshuthu—‘Dia juga menahan [rezeki] dan memberi kelapangan [rezeki] juga’, maka seorang beriman hendaknya pandangannya senantiasa terfokus kepada Tuhan dan berusaha membuat-Nya ridha dengan melakukan amal-amal baik supaya diperoleh kelapangan dalam harta, dan di dunia ini juga kebaikan-kebaikan didapatkan, dan sesudah wafat pun ridha-Nya tetap diperoleh.

Inilah hakikat yang seorang beriman hendaknya senantiasa mengingat nasehat ini. Dengan karunia Allah Ta’ala di kalangan orang-orang Ahmadi, dalam jumlah yang banyak senantiasa menempatkannya di hadapan mereka. Semoga Allah menjadikan semangat ini selalu tetap tegak dalam diri kita, dan selama ini tetap tegak, kita akan selalu menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala.

Sebagaimana saya sudah katakan bahwa setelah hijrah ke London, Hadhrat Khalifatul Masih IV rha merasakan program-program Jemaat perlu perluasan khususnya pertablighan dan tarbiyat di negara-negara Afrika dan di Hindustan. Mereka juga telah mulai membayar candah. Pengeluaran-pengeluaran berupa harta dan uang perlu untuk semua kegiatan. Pekerjaan tersebut tidak terealisasi dari anggaran umum Jemaat, pengeluaran-pengeluaran menjadi tidak terpenuhi, sehingga beliau rha mengembangkan candah Waqf-e-Jadid untuk seluruh dunia. Yaitu kepada semua Jemaat di seluruh dunia; khususnya kepada Amiir Jemaatong par (Jemaat-Jemaat kaya), beliau ra telah meletakkan tanggung jawab ini supaya mereka memberikan perhatian kepada pembayaran candah ini. Sesuai dengan itu, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, Jemaat telah mengucapkan ‘labbaik’ [menyambut seruan itu]. Setiap tahun dengan karunia Allah Ta’ala terus terjadi penambahan dalam pembayaran gerakan pengorbanan ini. Mengenai perhitungan jumlahnya, akan saya kemukakan di bagian akhir.

Dengan karunia Allah Ta’ala, keikutsertaan secara menyeluruh dalam Waqf-e-Jadid menjadikan perkembangan sangat besar dalam program-program pertablighan. Tahrik Jadid tentunya tengah melakukan tugas sebelumnya kemudian juga sekarang. Karena Waqf-e-Jadid-lah, candah-candah Waqf-e-Jadid negara-negara Eropa dan Amerika tengah melakukan peran yang sangat besar dalam mendorong dan memajukan pekerjaan-pekerjaan di Hindustan dan khususnya di Afrika dan tempat lain.

Hendaknya jangan ada Ahmadi yang berpikiran bahwa orang-orang Ahmadi yang tinggal di negara-negara lain mungkin tidak memberikan pengorbanan. Di dalam Jemaat di negara-negara Afrika juga seperti negara-negara lainnya timbul ruh pengorbanan-pengorbanan dan dengan karunia Allah Ta’ala hal itu terus bertambah. Dengan karunia Allah Ta’ala orang-orang ini berusaha memenuhi pengeluaran-pengeluaran mereka. Begitu juga Jemaat-Jemaat di Hindustan khususnya dalam dua tahun ini dengan sangat cepat timbul perhatian ke arah pengorbanan harta. Semoga Allah Ta’ala juga terus meningkatkan standar pengorbanan-pengorbanan.

Pada saat ini, di hadapan saudara-saudara, saya akan menceriterakan beberapa peristiwa di Afrika, mengenai program-program kita. Oleh karena itu [saya akan menggambarkan] bagaimana pekerjaan di sana tengah berjalan dan bagaimana sedang terjadi perhatian orang-orang.

Dari Tn. Said Jibril di Ghana diperoleh laporan bahwa di wilayah-wilayah tempat para mubayyiin baru dan di Jemaat-Jemaat baru ‑ dengan karunia Allah Ta’ala ‑ ada 9 masjid yang sedang dibangun. Dua masjid telah selesai. Di daerah-daerah baru tersebut terdapat program pembangunan 25 masjid. Saat ini tengah diberikan tarbiyat kepada 30 orang imam yang masuk kedalam Ahmadiyah dan kepada mereka sedang diberikan kursus. Ada 48 pemuda dipilih dari kampung-kampung mereka lalu diberikan pendidikan untuk menjadi imam. Setelah kursus, mereka akan dikirim menjadi imam di wilayah-wilayah mereka. Dibawah Waqf-e-Jadid sebagaimana para muallim sebelumnya diberikan kursus sementara, seperti itulah para muallim di sana diberikan kursus. Di sana mereka disebut imam dan sebagian disebut muallim. Ini merupakan laporan bulan yang lalu.

Kemudian Tn. Amir Sierre Leon menulis, “Makini adalah ibu kota provinsi Narorin. Sampai waktu yang panjang dikarenakan masjid tidak ada di sana, maka shalat-shalat dilakukan di teras Rumah missi. Sebagian Ahmadi juga pergi ke masjid-masjid ghair Ahmadi dan hanya beberapa anggota Jemaat saja yang datang shalat berjemaah. Karena tidak adanya masjid yang dikelola Jemaat sehingga para Ahmadi juga shalat ke sana kemari. Tetapi tatkala masjid Makini telah dibangun maka ‑dengan karunia Allah Ta’ala‑ tidak hanya orang Ahmadi yang datang kembali bahkan banyak sekali terjadi pembaiatan baru. Kini pada hari Jumat, masjid ini menjadi terasa kecil. Dan dari sana terjadi kemajuan yang luar biasa dalam candah-candah.”

Sebagai hasil dari [mendirikan] masjid, satu tempat telah diperoleh untuk mereka dan timbul kekuatan dalam keimanan. Sebelumnya mereka pergi kesana-kemari. Dengan alasan itulah timbul perhatian untuk melakukan kebaikan-kebaikan lainnya, maka timbul pula perhatian ke arah pembayaran candah-candah. Dan beliau mengatakan bahwa seperti itulah alasan pembangunan masjid ini.

“Di daerah lainnya di kota Makini sendiri, dalam rangkaian tabligh, dengan karunia Allah Ta’ala, telah berdiri satu Jemaat lagi yang kokoh. Jemaat juga memperoleh sebuah masjid baru dibangun. Mereka ini pun membayar candah sesuai ketentuan. Dan setiap hari, di sana, para muballigh lokal yang juga sebagai muallim menyelenggarkan kelas tarbiyat bagi para anggota. Maka satu masjid dibangun, Allah Ta’ala telah menambahnya. [Masjid] yang kedua Dia sendiri telah menganugerahkannya.”

Saya telah katakan kepada Tn. Amir Uganda bahwa pada tahun 2009-2010 bangunlah 25 masjid. Di antaranya 10 masjid akan dibangun dari pengeluaran Jemaat Uganda sendiri sementara Pusat akan menyediakan 30 juta Shiling untuk 15 masjid. Beliau menulis bahwa dengan demikian di 25 tempat telah dimulai pekerjaan pembangunan masjid dan di tempat-tempat tersebut telah timbul ruh baru di kalangan para mubayiin baru. Dengan penuh semangat mereka melakukan wikari amal untuk pembangunan masjid mereka masing-masing. Ruangan permanen dan lainnya juga mereka bangun.

Selain itu, ada beberapa tempat lagi. Di tempat-tempat lain di Kamulizon telah diperoleh izin untuk pembangunan empat masjid. Di sana pun orang-orang tengah melakukan pengorbanan harta. Demikian pula di tempat-tempat lainnya juga. Di Ambalezon, seorang Ahmadi kaya, Mukarram Tn. Sulaeman Mufabi telah membelanjakan 15 ribu dolar Amerika, beliau mendirikan masjid yang megah lalu menyerahkannya kepada Jemaat dan beliau juga menyediakan sistem loud speaker-nya. Di sana orang-orang yang telah tinggal menjadi Ahmadi, mereka tengah maju dalam pengorbanan-pengorbanan. Pembangunan ini tidak tergantung pada pengorbanan di sini. Inilah sahabat kita di Ambale tengah membangun masjid yang besar di satu tempat dan mereka berjanji bahwa setiap tahun mereka akan meneruskan rangkaian pembangunan masjid-masjid. Inilah ruh pengorbanan yang tengah berkembang di kalangan orang-orang itu.

Kemudian, di Makonozon dengan karunia Allah Ta’ala terbentuk satu tim Ahmadi pribumi beranggotakan 5 orang. Mereka orang-orang kaya yang mengambil tanggung jawab membangun 3 masjid setiap tahun. Sepanjang tahun mereka bangun masjid-masjid. Setelah pembangunan masjid-masjid itu sempurna, mereka memilih [membangun masjid di] Jemaat lainnya. Inilah semangat yang bangkit untuk membangun masjid-masjid. Sebelumnya mereka bergantung kepada pusat. Sekarang mulai timbul ruh juga di dalam diri mereka.”

Tn. Amir Benin menulis, “Di Dasa, di wilayah kami, dewasa ini penentangan sedang gencar-gencarnya. Para penentang telah datang ke Jemaat-Jemaat, kemudian mereka gencar melakukan penghasutan kepada orang-orang dalam melakukan permusuhan terhadap Jemaat. Mereka menjanjikan pembangunan masjid-masjid kepada Jemaat yang belum mendirikan masjid. Mereka menghasut orang-orang supaya meninggalkan Jemaat. Dari sebagian negara-negara Arab, mereka ini mengambil uang dari negara-negara itu. Di sana terdapat perencanaan besar melawan Jemaat. Sebagai contoh di Dasa yang kurang lebih 20 km dari Jemaat Igangba satu delegasi mullah datang ke sana dan melakukan permusuhan terhadap Jemaat. Orang-orang Jemaat ini mencegah mereka dan mengatakan, ‘Sejak beberapa tahun yang lalu, kami adalah orang Islam. Kalian tidak pernah memberikan tarbiyat atau mengajarkan puasa dan shalat kepada kami. Kini orang-orang Ahmadi memulai pekerjaan ini. Jika kalian datang untuk membangun masjid, pergilah dari sini. Jika masjid akan dibangun, maka seharusnya adalah Jemaat Ahmadiyah yang membangunnya.’”

Kemudian, dari Brazzaville, Kongo, ada laporan muballigh Jemaat, “Dengan karunia Allah Ta’ala pada tahun 2009 di 51 kampung telah diperoleh taufik untuk menanam benih pertama Jemaat dan ada 22 Jemaat telah berdiri. Program tabligh yang telah dimulai di sana itu tengah berdiri. Pada tahun lalu, kita telah mendirikan masjid pertama. Dan pada tahun itu juga di daerah Kiossi kita sedang membangun dan akan sempurna dalam satu bulan. Demikian juga di tempat-tempat yang lainnya juga masjid-masjid akan terus menerus dibangun. Di negara-negara itu, tugas pertablighan ini merupakan pekerjaan besar yang tengah dilakukan. Sarana-prasarna dari mereka sendiri sedemikian rupa tidak ada pada mereka sehingga kegiatan itu diberikan bantuan keuangan dari Pusat.”

Di Ghana pekerjaan tabligh dan tarbiyat berjalan di negara bagian selatan dan utara keduanya wilayah itu. Laporan Tn. Jibril Said bahwa pada saat ini bagian Utara Ghana di Akyim dan satu lagi di wilayah Akuapim pekerjaan tabligh sedang berjalan. Di wilayah Utara juga, di wilayah Yendi ada satu tim tabligh yang sedang melakukan tugas tabligh dan tarbiat dan selain itu di Wale-wale ada satu wilayah itu. Di wilayah Overseas (seberang laut) ada 15 mualiimin yang sedang memberikan pendidikan tarbiat. Nama Overseas ini nampak aneh tetapi akan diberikan penjelasan kemudian. Demikian juga di pinggir sungai Wulta pekerjaan sedang berjalan. Dengan karunia Allah Ta’ala ada 10 Jemaat yang telah berdiri di sini. Di sana juga ada program untuk mengirim tim tarbiat.

Perkara yang perlu dijelaskan juga adalah istilah Overseas yang telah disebutkan. Ini merupakan daerah yang sangat luas dan terbentang pada kawasan yang sangat luas. Di dalamnya sama sekali tidak terdapat sarana-sarana di sebagian besar kampung-kampung. Banyak kekurangan. Akibat kesulitan dalam perjalanan dan jauhnya jarak, nama wilayah ini dikenal dengan nama ‘Overseas’. Bilamana melakukan perjalanan ke sana dengan berjalan kaki maka baru terasa bahwa hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Tetapi, sampai di Kalepani rasanya seperti menyeberangi 7 lautan untuk sampai ke sana. Wilayah ini benar-benar sesuai namanya.

Di Kukua ini untuk pertama kalinya ada sekitar 50 orang yang baiat. Dan, selain dua perumahan keluarga Ahmadi, selebihnya adalah bukan Islam pada awalnya. Kebanyakan mereka telah menjadi Muslim Ahmadi. Pada waktu program Jemaat tengah berlangsung di wilayah-wilayah itu tiba juga hari Jumat. Tetapi, di seluruh wilayah mana pun di situ tidak ada masjid. Di wilayah ini tidak pernah ada orang yang menunaikan shalat Jumat dan tidak pula ada yang mengimami shalat. Pada kesempatan itu, beliau (Tn. Jibril Said) mengatakan, “Pertama kali saya mengimami shalat Jumat di bawah pohon. Seperti itulah shalat Jumat pertama kali dilakukan berkat adanya Ahmadiyah di daerah yang jauh itu.” Kini di wilayah itu ada program pembangunan sebuah masjid dan insya Allah, dengan cepat akan dimulai.

Dari muballigh kita, di Brazzaville, Kongo, menulis, “Dengan perantaraan program-program kita dan majlis tanya jawab kita di TV dan Radio berlangsung terus. Di satu program, seorang Ateis mengatakan, ‘Saya tidak mengerti bahwa Tuhan itu ada, tuan berilah pemahaman kepada saya bahwa Tuhan itu ada maka saya akan menjadi seorang Muslim.’ Allah Ta’ala memberikan taufik kepada saya untuk menguraikan bahasan yang dimintanya sehingga dalam waktu setengah jam dia mengerti Tuhan itu ada dan di forum yang besar itu dengan berdiri dia mengumumkan, ‘Sampai hari ini tidak ada seorang Kristen pun yang bisa memberikan pengertian kepada saya perihal mendasar ini. Tetapi, seorang muballigh Islam-lah yang telah memberikan kepuasan kepada saya. Hari ini saya masuk Islam.’”

Demikian juga, di negeri itu, seorang muallim kita yang setelah mendapat kursus lalu bekerja untuk tujuan tabligh. Ia pergi ke sebuah rumah dan memberitahukan kepada pemilik rumah, “Saya datang membawa amanat Islam.” Begitu pemilik rumah itu mendengar nama Islam, dia menjadi marah-marah dan mulai melontarkan kata-kata kotor dan orang-orang pun berkumpul. Muallim kita mengatakan, “Baiklah terserah apapun yang tuan anggap. Tetapi sekali lagi dengarlah kata-kata saya.” Orang-orang mengatakan, “Ayo dengarkan apa yang dia katakan?” Muallim kita pertama-tama menyampaikan akidah-akidah Kristen yang salah berdasarkan Bibel. Kemudian dia mengemukakan ajaran Islam yang indah yang mana hal itu berpengaruh secara khusus kepada orang-orang itu. Pada saat itu orang itu tidak bicara. Tetapi hari kedua dia datang kepada Muallim kita dan dia meminta maaf, “Kemarin apa yang telah saya lakukan itu tidak benar. Sekarang saya telah mengerti.”

Begitu pula di Nigeria pekerjaan pertablighan besar sedang berjalan. Seluruh imam semuanya sedang bekerja. Para muallim dalam Jemaat ini tengah bekerja. Di Kinshasa tengah terjadi banyak pekerjaan. Amanat tabligh Islam sampai ke daerah-daerah yang jauh-jauh. Tabligh juga berjalan. Juga sedang diupayakan untuk membangun masjid-masjid.

Tn. Amir Burkina Faso menulis, “Ada satu peristiwa berkaitan dengan radio kita. Di bulan Desember ada seorang tokoh sesepuh bernama Taroretmugu. Ia berusia 85 tahun. Ia datang di rumah missi Ahmadiyah dan memberitahukan bahwa dia ingin baiat. Dari sejak lama dia mendengarkan radio Ahmadiyah dan kini kehidupan tidak dapat dipastikan sampai kapan karena itu dia memutuskan untuk baiat dan pada 10 Desember 2009 dia baiat. Pada bulan berjalan 40 orang datang ke missi Bobojalaso dan kemudian masuk kedalam Ahmadiyah. Mereka memberitahukan bahwa dengan perantaraan radio, dakwah Ahmadiyah sampai kepada mereka.”

Muballigh di wilayah Wayugia, Burkina Faso, menulis, “Di satu kampung bernama Pobemangau saya membagi-bagikan majalah Review of Religion yang di dalamnya terdapat gambar Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika saya memberi majalah itu kepada seseorang bernama Sawadogu Adam, begitu dia melihat foto Hadhrat Masih Mau’ud as dia mengatakan, ‘Tokoh suci ini beberapa kali saya jumpai dalam mimpi.’ Maka saya memberitahukan kepadanya bahwa beliau ini adalah pendiri Jemaat Ahmadiyah dan Hadhrat Masih Mau’ud as. Atas penjelasan itu orang tersebut baiat lalu masuk ke dalam Jemaat.”

Singkatnya, banyak sekali peristiwa yang seperti itu. Tetapi, mengingat waktu yang tersedia sedikit maka saya hendak kemukakan Laporan Waqf-e-Jadid. Sembari mengemukakan laporan ini saya juga mengumumkan tahun baru Waqf-e-Jadid. Semoga Allah Ta’ala menjadikan tahun ini membawa berkat yang tidak terhitung dan Jemaat memperoleh taufik untuk melakukan pengorbanan lebih dari sebelumnya. Ini merupakan tahun ke-52 Waqf-e-Jadid. Dengan karunia Allah Ta’ala, pada tahun ini Jemaat telah mempersembahkan pengorbanan sebanyak £ 3.521.000. Alhamdulillah. Jumlah ini lebih £ 345.000 dari tahun sebelumnya.

Sesuai tahun lalu, Pakistan berada pada posisi pertama. Dengan karunia Allah Ta’ala walaupun mereka merupakan orang-orang yang dalam keadaan miskin, namun mereka tetap melakukan pengorbanan-pengorbanan dan pada saat ini delapan ribu orang peserta baru ikut serta dalam gerakan Waqf-e-Jadid. Amerika menduduki posisi kedua. Mereka juga telah menambahkan 62 ribu dolar dan Inggris menduduki posisi ketiga. Inggris juga tahun ini telah menambahkan £ 18.000 dibanding tahun sebelumnya dan 2.000 orang yang ikut bergabung dalam gerakan pengorbanan ini.

Amerika dan Inggris berada pada posisi ke-2 dan ke-3. Di Inggris juga perhatian tertuju ke masjid-masjid, di Amerika juga perhatian ke arah itu. Tetapi saya menganggap dari satu segi, Inggris berada pada posisi kedua. Di Amerika, beberapa orang telah memberikan candah secara tidak lazim (dalam jumlah besar), pada akhirnya candah mereka bisa menutupi kekurangan. Karena alasan itu, pengorbanan mereka menjadi naik beberapa ribu dolar atau poundsterling. Tetapi secara umum, dengan melihat hal itu, dapat diketahui bahwa perhatian dan kerja keras orang-orang yang ikut ambil bagian dalam pengorbanan itu, Jemaat Inggris-lah yang lebih banyak. Dan usaha mereka itu cukup layak diberikan apresiasi. Maka dari segi itu jika empat, lima dan enam orang-orang yang memberikan pengorbanan yang luar biasa di Amerika tidak diikut sertakan, maka Inggris menduduki posisi ke-2. Pengorbanan-perngorbanan 5 – 6 orang itu juga ada faedahnya. Tetapi dari secara keseluruhan ini jelas bahwa nizam yang ada di Amerika tidak memberikan perhatian ke arah itu dan tidak bekerja keras sebagaimana telah dilakukan di Inggris. Karena itu, menurut saya –insya Allah Ta’ala— tahun depan dari segi itu Inggris akan menjadi di depan dan akan menempati posisi ke-2.

Peringkat ke-4 adalah Jerman yang pada tahun yang lalu telah turun posisinya dari nomor 4 ke peringkat 5. Pada tahun ini mereka juga telah menambahkan 109.000 Euro. Kanada pada posisi ke-5. Kanada bekerja keras untuk mengikutsertakan anak-anak dalam daftar. Kemudian India, India juga pada posisi 6. Mereka juga menambahkan 29.000 rupees. Ini juga sebagaimana saya telah katakan mereka tengah maju dalam pengorbanan. Tadinya mereka tidak ada nama. Kini sedikit-sedikit mereka mulai naik ke atas. Kemudian posisi ketujuh Indonesia, kedelapan Australia, dari ke-sepuluh menjadi posisi ke-delapan. Kemudian yang kesembilan adalah Belgia, kesepuluh Prancis dan Swistzerland.

Dari segi mata uang, jika dilihat di mata uang lokal maka dibandingkan tahun lalu ada lima Jemaat yang banyak mendapatkan penerimaan. Mereka yang bertambah banyak adalah Australia telah menambah 48 % dan India dengan menambah 47,5%, mereka berada pada posisi dua. Jerman telah menambah 26,6 %. Inggris telah manambah 20,18 %. Belgia telah menambah 12,05 %.

Dari segi pembayaran per orang, Amerika berada pada posisi pertama. Sebagaimana saya telah katakan di sana ada beberapa orang kaya yang dengan memberi uang lebih, maka memenuhi kekurangan ini. Perancis berada pada posisi kedua £ 43 dan Inggris pada posisi ketiga £ 38 atau anggaplah 39, Switzerland pada posisi keempat dan Kanada pada posisi kelima.

Di Afrika, dari segi penerimaan secara keseluruhan lima Jemaat besar adalah Ghana, Nigeria, Mauritius, Burkina Faso. Burkina Faso dari segi itu layak mendapat pujian karena jumlah pertambahan pesertanya 43 % lebih. Inilah yang telah saya katakan bahwa pada dasarnya di kalangan pendatang baru dan di kalangan anak-anak juga timbul ruh pengorbanan, yang untuk di Burkina Faso telah diupayakan secara khusus. Posisi ke-5 adalah Benin. Selain itu banyak lagi negara-negara yang tengah cukup berusaha.

Jumlah orang yang membayar candah Waqf-e-Jadid dengan karunia Allah Ta’ala telah melebihi 573.000 orang. Peserta baru 36.323 orang. Di Pakistan dari segi candah athfal dan para remaja yang baru akil baligh dihitung secara terpisah. Diusahakan juga untuk itu bagi mereka laporan ini juga perlu disampaikan. Di kalangan remaja yang baru akil baligh 3 Jemaat besar adalah Lahore, Karachi ke-2, dan Rabwah ke-3. Di kalangan para remaja yang baru akil baligh 10 besar kabupaten adalah Sialkot, Rawalpindi, Islamabad, Faisalabad, Syikhapura, Gujranwala, Multan, Sargodha, Gujrat dan Umarkot. Di kalangan Atfal 3 besar adalah Karachi pertama, Lahore ke-2, Rabwah ke-3. Ada 10 besar tingkat kabupaten. Pertama Sialkot, Islamabad ke-2, Rawalpindi ke 3, Sikhapura ke 4, Gujranwala ke, 5, Faisalabad ke 6, Narawal ke 7, Sargodha ke 8 , Gujrat 9, dan Bahawalanagar ke10.

Dari segi penerimaan secara keseluruhan lima besar Jemaat di Amerika adalah: 1. Sillicon Valley, 2. Los Angeles Timur, 3. Detroit, 4. Los Angeles Barat, 5. Los Angeles timur on land empire. Sepuluh besar Jemaat di Inggris. Ini untuk mereka ada memperoleh perhatian sementara yang lain lima-lima. Untuk kalian ditetapkan 10 [besar Jemaat disebut di kesempatan ini]. Masjid Baitul Fazal London pertama, ke-2 Woster park, ke-3 Sten, ke-4. Newmodern, ke-5. Westhill, ke-6 Tootingham, ke-7 Anepark, ke-8. Baitul Futuh, ke-9 Sarbeten, ke-10 London tenggara. Dari segi wilayah kawasan London pertama, Madland kedua, dan Wilayah Northeast ketiga. Perbandingan ini dikemukakan untuk memberitahukan bahwa pengorbanan-pengorbanan ini yang kalian telah berikan. Pada prinsipnya pengorbanan-pengorbanan yang orang-orang beriman lakukan adalah untuk mencari ridha Allah Ta’ala.

Di Jerman, ada 5 Jemaat lokal yang menonjol, Hamburg, Grausgrau, Frankrurt, Mainz, Waizbaun, Darmsadt. Di Kanada sebagimana saya telah katakan mereka berusaha menghitungnya secara terpisah. Di antaranya orang-orang baligh yang sudah besar, dari segi candah mereka ada lima Jemaat adalah Markhum, Brimpthen, Springdel, Atwa, Toronto Pusat, Kelgeri, South West. Dan dari segi Athfal adalah Beri, Markham, Westen Islington, Weston South, Westorn North East. Semoga Allah Ta’ala mengabulkan semua pengorbanan orang-orang yang melakukan pengorbanan. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan yang tidak terhingga di dalam harta dan jiwa mereka. Semoga keimanan dan keikhlasan mereka selalu terus bertambah.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Kewajiban ini termasuk kepada seluruh bangsa dan merupakan keharusan bagi semua untuk memperhatikan husnul khatimah (akhir yang baik) masing-masing di zaman ini, yang penuh dengan bahaya dan fitnah yang menggoncang ikatan iman yang sangat halus dengan hentakan yang sekeras-kerasnya. Ikatan tersebut hendaknya ada diantara Allah dan hamba-Nya sebagai hasil keimanannya kepada-Nya. Dan, raihlah amal saleh yang padanya bergantung keselamatan dengan mengorbankan harta yang kalian cintai dan waktu berharga kalian. Takutlah pada hukum yang tidak berubah dan abadi yang telah Dia firmankan dalam kalam-Nya yang mulia: لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ … —lan tanâlul-birro hattâ tunfiqû mimmâ tuhibbûn– Kalian sekali-kali tidak akan meraih kebajikan hakiki yang menyampaikan pada keselamatan kecuaIi kalian membelanjakan harta dan benda-benda yang kalian cintai (3:93).”[13]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan taufik kepada kita untuk perbuatan-perbuatan baik. Kita senantiasa siap berkorban demi meraih ridha Allah Ta’ala dan kita senantiasa menjadi orang yang memajukan misi kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as.

[Informasi Pensyahidan Tn. Profesor Muhammad Yusuf (65 tahun) putra Tn. Imamuddin dari Ricnatown. Dzikr khair almarhum dan shalat jenazah gaib yang dilakukan setelah shalat Jumat. اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ — innâ lillâhi wa innâ ilayhi rôji’ûn — Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. dst.]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuzhaat, jilid 3, hal. 361, Edisi Baru dan cetakan baru

[3] Shahih Bukhari, Kitab istitaabatul murtadin, bab qatala man aba qabulal faraaidh, hadis no.6925

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ قَالَ عُمَرُ يَا أَبَا بَكْرٍ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا قَالَ عُمَرُ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ رَأَيْتُ أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ لِلْقِتَالِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ

[4] As-Sirah al-Halabiyyah, jilid 3, Perang Tabuk, hlm. 183-184, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut, 2002. Infak-infak besar dari para sahabat untuk keperluan tersebut.

[5] Diambil dari Malfuzhat, jilid 3, hlm. 358, Edisi cetakan Rabwah

[6] Malfuzhat, jilid 3, hlm. 361, Edisi Baru cetakan, Rabwah

[7] Khutbah ‘idul adha, tgl. 9 Juli 1957 dengan referensi khutbah-khutbah waqfi jadid, hal. 2-3, Edisi pertama 2008, penerbit Nizamat irsyad Waqfi Jadid, Cetakan Rabwah.

[8] Diambil dari Khutbah Jumat, 27-12-1985, rujukan Khutbah Waqfi Jadid, hal. 297, Edisi pertama 2008, Distributor Nizhamat Irsyad, Waqfi Jadid, Cetakan Rabwah.

[9] Tafsir Kabir, hlm. 550, Terbitan Rabwah

[10]Shahih Muslim, Kitabuz Zuhd war Raqaaiq, babud dunya sijnul lil mukminin wajannatul lil kaafirin (dunia penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ».

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ: {أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ} قَالَ: «يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي- قَالَ- وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ».

[11] Sunan ibnu Majah Kitabul Qiamah warraqaaiq, Bab 33/98, Hadits, 2470

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهُمْ ذَبَحُوا شَاةً فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ مَا بَقِيَ مِنْهَا ‏”‏ ‏.‏ قَالَتْ مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلاَّ كَتِفُهَا ‏.‏ قَالَ ‏”‏ بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا ‏”‏ ‏.‏

[12] Malfuzhat, jilid awwal, h. 147-148, edisi baru, terbitan Rabwah.

[13] Fatah Islam, Ruhani Khazain, jilid 3, hal. 37-38