Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 30 September 2011 di Masjid Baitun Nashir, Furuset, Oslo, Norwegia.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

 

[Setelah mengucapkan tasyahud, taawudz, bismillah dan tilawat Surah Al Fatihah], Hudhur (Atba) menilawatkan ayat Al Quran Karim ini: (Q.S. 9 / Al Taubah: 18);

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (التوبة 18)

Kemudian Hudhur bersabda: [‘Alhamdulillah, setelah melalui masa penantian yang panjang], Jamaat Norwegia pada akhirnya dapat meresmikan penggunaan Masjid yang indah ini. [Mengapa harus menunggu sedemikian lama, ialah] dikarenakan harus terlebih dahulu menghadapi dan menyelesaikan berbagai macam rintangan yang memperlambat proses pembangunannya, sehingga anda sekalian pun memerlukan waktu yang lama dalam menantikan peresmian Masjid ini. Namun, pembangunan Masjid-masjid tidaklah tergantung kepada peresmiannya. Karena sesungguhnya, saya meresmikan Masjid [lengkap dengan Resepsinya dengan para undangan terhormat, insya Allah nanti malam], ini sebagai ungkapan nyata sikap tasyakur kita kepada Allah, yang telah memerintahkan kita agar menunjukkan rasa syukur manakala Dia memberikan berbagai macam rahmat dan karunia-Nya. Sehingga, Allah Ta’ala pun berkenan untuk menjadikan kita sebagai pewaris berbagai macam rahmat dan karunia-Nya yang lebih besar. Dan salah satu ungkapan rasa syukur tersebut adalah melalui banyak berdoa dan Salat. Sedangkan cara lainnya adalah dengan sikap eksplisit [seperti ini]. Namun, sikap tasyakur yang haqiqi adalah dengan cara memakmurkannya dengan berbagai macam Salat dan doa.

Ini adalah kewajiban setiap orang Muslim Ahmadi untuk senantiasa mengingat kaidah yang sangat penting ini. Sehingga, Allah Ta’ala pun niscaya akan memberikan ganjaran pahala-Nya yang berlipat ganda.

Di dalam sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a.; Hadhrat Rasulullah Saw bersabda: ‘Barangsiapa yang datang ke Masjid di waktu Fajr ataupun Maghrib, maka Allah Ta’ala akan menyiapkan suatu sambutan ramah tamah yang baik baginya di alam surga al-Jannah sebanyak ia datang ke Masjid, baik di waktu Fajr maupun Maghrib.’ (Bukhari).[2]

Maka berdasarkan pernyataan Hadith tersebut, dapat dibayangkan ganjaran pahala yang bakal diterima bagi mereka yang datang ke Masjid sebanyak 5 (lima) kali sehari di sepanjang rentang kehidupannya (yakni, mendirikan Salat selama 50 hingga 60 tahun). Ketika kita mengkhidmati tamu yang datang ke rumah, maka kita pun akan berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik, meskipun sebenarnya kemampuan kita terbatas. Sedangkan khazanah karunia Allah Ta’ala itu tak terbatas. Maka bayangkanlah pelayanan Ilahi seperti apa yang kelak akan kita terima [di kemudian hari]. Oleh karena itu, berusahalah mencari setiap kesempatan untuk itu, sehingga, kita pun dapat meraup berbagai janji karunia Ilahi tersebut. Maka saya berharap agar setiap orang Ahmadi akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh berbagai karunia Allah Ta’ala ini, dan juga berusaha untuk memenuhi kewajiban terhadap haququllah dan حقوق العباد haququl-ibad. Sebab, berbagai macam usaha tersebut dapat melapangkan jalan pembangunan masyarakat yang sakinah di lingkungan sekitar.

Pada beberapa hari yang lalu, berbagai [wartawan] dari stasiun radio, televisi dan surat kabar mewawancarai saya setibanya di kota Oslo. Salah satu pertanyaan yang mereka ajukan, adalah: ‘Apakah maksud dan tujuan didirikannya sebuah Masjid ? Kegiatan apa saja yang akan dilakukan di dalamnya ? Saya jawab: ‘Dengan didirikannya sebuah Masjid, artinya lingkungan di sekitarnya akan menjadi cerminan kehidupan surgawi. Yakni, keindahan ajaran Islam, yang tiada lain adalah pesan perdamaian dan kasih sayang akan tumbuh berkembang di dalam masyarakat tersebut. Dengan dibangunnya sebuah Masjid, artinya pesan kasih sayang, kedamaian dan ukhuwah tali persaudaraan yang haqiqi akan menyebar-luas di lingkungan sekitarnya, di kota tersebut, lalu meluas lagi hingga ke seluruh negeri. Maka berdasarkan pandangan ini, adalah menjadi tanggung jawab setiap orang Ahmadi untuk memenuhi kewajiban mereka dengan lebih baik lagi dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Pihak media telah memberikan berbagai laporan yang baik tentang Peresmian Masjid ini.

Inilah yang menjadi alasan lainnya mengapa kita perlu memperlihatkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. Sikap tasyakur ini seumpama air [danau] yang beriak; yang bergerak dan meluas hingga jarak yang jauh, hingga lenyap ketika sampai di tepian. Akan tetapi, berbagai rahmat dan karunia Allah Ta’ala itu lain. Ia akan senantiasa meningkat. Bahkan bila pun kehidupan di dunia ini menjadi fana, rahmat dan karunia Ilahi akan tetap baqa. Yakni, akan berlangsung terus hingga ke kehidupan Akhirat nanti. Namun, berbagai rahmat Allah Ta’ala dikaruniakan sesuai dengan kadar usaha kita. Oleh karena itulah kita perlu menangkap setiap peluang [penghidmatan amal shalih] yang tengah ada di hadapan kita. Inilah yang dimaksudkan oleh ayat Al Quran yang telah saya tilawatkan di awal Khutbah tadi; yang artinya: ‘Sesungguhnya, yang memakmurkan Masjid-masjid Allah, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan Hari Kemudian, dan tetap mendirikan Salat, dan membayar Zakat, serta tidak takut kecuali kepada Allah; maka mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk [untuk mencapai tujuannya].” (9:18). Ayat ini menerangkan, bahwa untuk dapat meraih ganjaran pahala tersebut, syarat pertamanya adalah, ‘aamana billah…’, yakni, memiliki keimanan yang teguh kepada Allah Swt; yang tidak hanya berupa pernyataan lisan belaka. Melainkan, keimanan haqiqi yang tertanam di dalam qalbu. Hal ini terkait dengan ayat Al Quran berikut ini:

yakni, “Orang-orang Arab gurun berkata, ‘Kami telah beriman.’

Katakanlah, “Kamu belum beriman”; oleh karena itu kamu hendaknya berkata, ‘Kami telah menerima Islam,’ karena iman haqiqi belum masuk ke dalam qalbumu. Akan tetapi, bila kamu itaat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Dia pun tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amalmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. 49 / Al Hujurat: 15). Maka berdasarkan rujukan ayat ini, itaat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah langkah awal untuk meng-infuskan keimanan ke dalam diri masing-masing. Sekarang ini, kaum Ahmadi dijadikan bulan-bulanan sebagai non-Muslim yang didzalimi. Akan tetapi, kita memiliki keimanan yang haqiqi. Oleh karena itu, kita ini adalah kaum Muslimin yang sejati.

Meskipun dianiaya sedemikian rupa, kaum Ahmadi tetap bersabar dan istiqamah. Selama kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan maqom keimanan kita, maka kita pun tetap sebagai kaum Mukminin haqiqi. Tak diperlukan sesuatu sertifikat dari seorang mufti, maulwi ataupun suatu Negara yang menyatakan seseorang itu Muslim. Keabsahan untuk itu hanya datang dari Allah Swt saja. Hadhrat Imam Mahdi a.s. bersabda: ‘Seorang Muslim sejati dapat menjadi pewaris berbagai karunia Allah Ta’ala apabila ia khusyu dan tawadhu dalam melaksanakan amal shalihnya.’ Menerima kebenaran pendakwaan Al Masih Muhammadi Akhir Zaman tidaklah cukup, sebelum melanjutkannya dengan jihad untuk meningkatkan taraf ta’aluq billah kita. Dan Allah Ta’ala telah memberitahu beberapa ciri khas seorang Mukmin haqiqi. Yakni, Pertama, dia itu ‘…asyaddu hubballillah…’, ialah lebih mencintai Allah dibandingkan cintanya kepada makhluk atau sesuatu hal lain, yang terbukti nyata dalam bentuk dipenuhinya Masjid-masjid oleh para ahli ibadah [sebagaimana dinyatakan di dalam ayat Al Quran ini].

“Dan di antara manusia ada yang mengambil sekutu-sekutu selain dari Allah, lalu mencintai mereka seperti mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaannya kepada Allah. Dan sekiranya orang-orang aniaya dapat melihat ketika mereka akan menyaksikan azab, maka mereka akan mengetahui bahwa segala kekuatan itu milik Allah, dan sesungguhnya azab Allah sangat keras.” (Q.S. 2 / Al Baqarah: 166).

Anak-anak pun akan terpengaruh, bila kita berusaha untuk memperlihatkan contoh yang baik kepada mereka. Sehingga, generasi demi generasi akan menjalani jalan ‘shiratal mustaqim’ ini. Maka hal ini mutlak menjadi kewajiban kita untuk menanamkan rasa cinta kepada Allah di kalangan anak-anak dan generasi penerus kita sebagaimana kita pun berusaha dengan segala cara untuk menanamkannya di dalam qalbu kita. Manakala manusia mencintai Allah, maka Allah pun akan mencintainya juga, bahkan menjadi Walinya. Dan jika Allah Ta’ala telah menjadi Wali, maka tak akan ada besaran atau jenis kedzaliman, atau pun kebencian yang akan berdampak kepadanya. Malah, pihak yang berusaha menyusahkan atau menghalang-halangi jalan mereka itulah yang akan merasa letih. Atau, orang-orang yang berfitrat suci di antara mereka, justru akan bergabung dengan [Jamaah] kita. Oleh karena itu, seruan yang yang kuat mengenai pentingnya mencintai Allah di atas segala hal lainnya, perlu disampaikan ke seluruh dunia. Ciri khas Kedua dari seorang Mukmin haqiqi adalah: yang artinya, “Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya supaya dia menghakimi di antara mereka itu, ialah mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang menang.” (Q.S. 24 / Al Nur: 52). Yakni, keberhasilan kaum Mukminin terletak kepada keitaatan mereka kepada Allah Ta’ala.

Artinya, apapun tanggung jawab yang diamanahkan kepada mereka, akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Contohnya, Pengurus harus dapat mengorbankan waktunya [untuk Jamaat] dengan adil, dan juga memastikan, bahwa hak-hak semua anggota terpenuhi. Seorang anggota Pengurus Jamaat hendaknya tidak menganggap dirinya sama dengan sesuatu fungsi jabatan duniawi. Melainkan, semata-mata sebagai pelayan mereka. Sebab pada faktanya, manakala mereka bermulaqat kepada saya, mereka pun berkata: ‘Hudhur, aku ini menjabat sebagai Sekretaris anu di Jamaat.’ Maka saya pun seringkali mengingatkan mereka: ‘Hendaknya tuan tanamkan di dalam pikiran tuan, dan berkata, bahwa: ‘Aku telah mendapat karunia Ilahi untuk mengkhidmati Jamaat di Bidang anu.’ Penggunaan kata ‘jabatan’ berkonotasi merasa menduduki suatu jabatan penting. Sedangkan jika mengatakan, bahwa: ‘Aku ini hanyalah sebagai pengkhidmat Jamaat’, akan lebih mengarah kepada kerendahan hati. Yakni, manakala seorang [anggota] Ahmadi diberi tanggung jawab suatu jabatan kepengurusan, maka segeralah mereka sadari, bahwa mereka itu akan melaksanakan tugas kewajibannya dengan lebih besar. Dalam kaitan ini, khususnya bagi kaum Lajnah Imaillah, dengan ini pula saya ingatkan agar memperhatikan kewajiban menjaga Pardah. Ada beberapa kegiatan yang membuat kaum pria dan kaum wanita menjadi berbaur. Kemudian mereka pun mulai saling memanggil sebagai Abang (atau Akang), atau Adik, atau Bapak atau Paman (Mang / Bibi), dlsb; yang semuanya itu tidak didukung kebenarannya oleh Al Quran. Oleh karena itu, para Pengurus [Jamaat], mulai dari tingkat Kelompok, hingga ke tingkat nasional (PB) hendaknya menerapkan pardah ini dengan sebaik-baiknya. Sikap akhlak mereka hendaknya sesuai dengan ajaran Al Quran Karim.   Sehingga mereka pun dapat menjadi contoh yang baik bagi anggota Lajnah lainnya, dan juga bagi anak keturunan mereka.

Ada setengah orang yang mengatakan, bahwa pardah atau jilbab (hijab) tidak diperlukan lagi di dunia [modern] sekarang ini. Maka dengan ini saya tegaskan kembali, bahwa semua perintah di dalam Al Quran tetap berlaku sampai sekarang, [bahkan seterusnya] hingga Hari Qiamat. Dan adalah berkat mempraktekkan berbagai amal shalih muttaqi yang membuat kita tetap terikat dalam menegakkan Khilafat. yakni, “Dan mereka bersumpah atas nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka, bahwa jika engkau perintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan keluar segera. Katakanlah: ‘Janganlah bersumpah; apa yang dituntut dari kamu, adalah taat kepada yang benar. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 24 / Al Nur: 54).

Berdasarkan keterangan dari ayat ini, berbagai perintah di dalam Al Quran Karim dan Rasulullah Saw haruslah ditaati. [Terkait dengan masalah pardah ini], bahkan kaum pria telah lebih dulu diperintahkan – sebelum kepada kaum wanita – untuk menundukkan pandangan mata mereka. Q.S. 24 / Al Nur: 31). Dan jangan pula berbaur semaunya dengan kaum wanita.

Oleh karena itu, baik kaum pria maupun kaum wanita haruslah mengindahkan batas pardah ini. Disebabkan keterbatasan waktu yang tersedia, saya tidak dapat menyampaikan lebih rinci lagi berbagai ciri khas lain dari seorang Mukmin sejati. Namun, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut: Yakni, kewajiban penting lainnya yang telah diamanatkan kepada kita, adalah untuk menggunakan hak pilih. Dan ini adalah terkait erat dengan Janji Baiat yang telah diikrarkan, sehingga akan dihisab pelaksanaannya. Lalu, kita pun harus berusaha keras untuk menjauhi sikap takabur. Sebaliknya, tanamkanlah jiwa kerendahan hati. Dan memenuhi qalbu kita dengan rasa takut kepada Allah. Kemudian, kita pun hendaknya dapat memusatkan perhatian kepada berbagai ajaran Qurani, yang hanya akan dapat berhasil apabila dapat memahami segala apa yang tersurat di dalam Kitab Al Quran. Oleh karena itu, setiap orang Ahmadi hendaknya membaca Al Quran setiap hari. Berusahalah untuk dapat memahami artinya. Kemudian mempraktekkannya. Setiap orang Ahmadi hendaknya senantiasa ingat, bahwa iman kepada Akhirat adalah wajib bagi setiap orang Muslim, yang kita semua akan dihisab atas semua amal kehidupan kita di dunia ini, di Akhirat nanti. Setiap orang Ahmadi hendaknya berusaha dengan berbagai cara untuk menerapkan semua perintah Allah Swt dalam kehidupannya. Dan juga senantiasa ingat bahwa tujuan utama penciptaan manusia ini adalah untuk menyembah Allah. Maka sebuah Masjid pun akan menjadi tempat yang mencitrakan pelaksanaan berbagai perintah tersebut, yang akan mengarahkan tegaknya Tauhid Ilahi, dan ibadah yang haqiqi kepada Allah Swt. Kemudian, untuk memenuhi kewajiban terhadap haququllah dan حقوق العباد haququl-ibad, diperlukan berbagai sumber daya; yang untuk itu, kaum Ahmadi senantiasa berada di saf awwal dalam hal pengorbanan harta benda. Walhasil, maksud dan tujuan utama dibangunnya Masjid-masjid adalah tetap sama, yakni: Demi untuk memperoleh ridha Ilahi. Adapun pengorbanan harta benda Jamaat Norwegia dalam pembangunan Masjid [Baitul Nashir] ini mencapai 104 juta Krones (=US$ 17.73 juta, atau k.l. Rp 158,69 Milyar). Pada tahun 2005, (atau 6 tahun) yang lalu, ketika saya menyeru kepada Jamaat untuk membangun Masjid ini yang sebetulnya sudah dimulai tetapi terhambat oleh satu dan lain hal, banyak [anggota] dari kaum pria maupun kaum wanita yang memberikan pengorbanan besar harta benda mereka. Ada yang menjual rumahnya. Ada yang menjual mobil miliknya. Ada pula yang bekerja lembur, yang semuanya itu demi untuk dapat mempersembahkan dana pembangunan Masjid. Adapula yang berkorban in-natura dalam bentuk karpet untuk seluruh lantai Masjid. Ada yang untuk kelengkapan furniture-nya, dlsb. Maka dengan ini saya mendoakan bagi mereka semua yang telah memberikan pengorbanan itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran pahala-Nya yang berlipat ganda. Amin ! Namun, saya pun mengingatkan kembali tanggung jawab besar sehubungan dengan telah didirikannya Masjid ini. Yakni, saat ini, selain memang waktunya untuk bersuka-cita, tetapi sekaligus juga untuk bertafakur. Yakni, setiap orang Ahmadi hendaknya berusaha untuk sungguh-sungguh memahami untuk memenuhi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Yakni, pengorbanan ini bukanlah pengorbanan yang bersifat terpisah atau tersendiri. Melainkan, daya upaya yang terus berkelanjutan. Hadhrat Imam Mahdi a.s. bersabda: ‘Keindahan haqiqi sebuah Masjid adalah terletak pada para ahli ibadahnya yang mukhlisin. Jika tidak, tentulah masjid tersebut tetap terasing dan kosong [dari petunjuk].’

Bandingkanlah dengan Masjid Nabawi [Saw; yang dulu pertama kali dibangun]. Sederhana dan kecil saja. Tetapi senantiasa dimakmurkan oleh jamaah yang ibadurahman sejati. Jadi, maksud dan tujuan utamanya adalah untuk memperoleh maqom keTaqwaan yang setinggi-tingginya, sesuai dengan ajaran Al Quran Karim. Berbagai macam Salat akan mendatangkan faedah yang haqiqi apabila dilaksanakan atas jiwa Taqwa. Jika tidak, justru akan mengarahkan kepada celaka jahannam. Keimanan akan tumbuh menguat seiring dengan meningkatnya Ketaqwaan. Yakni, Ketaqwaan itulah yang mengairi [Keimanan]-nya hingga hingga menjadi tumbuh subur. Dan Jamaat ini didirikan hanya semata untuk menanamkan sikap Taqwa di qalbu umat manusia. Orang yang memiliki jiwa Taqwa itulah yang berada di dalam Jamaat kita. Maka dengan ini saya ingatkan kembali kepada setiap Ahmadi: ‘Sebelum anda mengisi qalbu anda dengan sikap Taqwa, maka akan dihisab untuk itu.’ Semoga Allah Ta’ala senantiasa mengasihi kita semua. Amin !

Adapun data dan fakta mengenai Masjid [Baitul Nashir] ini adalah sebagai berikut: Total luas lahan: 9.563 meter persegi. Luas bangunan Masjid: 7.759 m2. Ruangan Masjid kaum pria: 880 m2. Namun, Hall di lantai Basement pun dapat menampung 850 orang jamaah. Kemudian ada bangunan terpisah, yakni Apartemen (guest house) ber-Kamar Tidur 3 (tiga) dan fasilitas tersendiri. Sedangkan bagian Teras dari Hall tersebut dapat menampung 800 hingga 1.000 orang jamaah. Sehingga, jumlah keseluruhan jamaah yang dapat ditampung oleh bangunan Masjid yang berkubah setinggi 5 meter ini, adalah 2.250 orang. Kemudian tersedia juga sebuah Perpustakaan dan beberapa Ruangan Kantor untuk Jamaat [dan Badan-badan]. Sedangkan Perpustakaan dan Kantor Lajnah Imaillah, menempati bangunan yang terpisah. Tersedia pula Langar Khanah yang besar. Sempat ada beberapa kesulitan untuk mendapatkan IMB-nya dari Kotapraja. Antara lain adalah adanya syarat harus membangun jalan lingkar [penghubung dari jalan raya] menuju ke Masjid. [Kompleks] Masjid [Baitul Nashir] ini terletak di pinggir jalan raya [bebas hambatan] menuju ke Airport Oslo, dan tampak jelas dari berbagai sudut pandang. Sekira 80.000 kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya bebas hambatan tersebut setiap harinya. Bederkatan pula dengan stasiun kereta dan terminal bus. Pendek kata, lokasinya benar-benar berada di titik sentral. Bil-akhir, saya mendoakan, semoga Masjid ini dapat menjadi sumber khazanah berbagai Salat dan doa, serta jalan yang mengarahkan menuju ke Ketaqwaan.             Dan semoga pula dapat menjadi hal yang mengikat erat kepada Tauhid Ilahi, yang menyebabkan setiap orang dapat hidup dalam suasana harmonis satu sama lain; sehingga menjadi contoh yang baik dalam hidup bermasyarakat yang damai, ukhuwah dan silih asih. Amin !

Kemudian saya sampaikan berita duka sehubungan dengan disyahidkannya tuan Safir Ahmad Butt bin Hamid Ahmad Butt Sahib di Jamaat Karachi, Pakistan. Almarhum yang adalah cucu dari Hafiz Abdul Wahid Sahib dan dilahirkan pada tahun 1972 ini, berhasil meraih gelar sarjana mudanya di Sindh. Kemudian masuk ke Kepolisian dengan pangkat terakhir Ajun Inspektur. Pada tanggal 25 September yang lalu itu, setelah menerima telepon, beliau pun segera menuju ke TKP dengan mengendarai motor. Namun kemudian ditembak hingga syahid. Almarhum adalah seorang perwira kepolisian yang berani dan satria. Di Pakistan, kaum Ahmadi didzalimi bukan hanya disebabkan alasan keyakinan agama; namun juga dikarenakan sudah tiadanya kepastian hukum. Kaum Ahmadi senantiasa berada di barisan depan dalam mengorbankan jiwa raga mereka untuk Negara. Namun mereka tetap menuduhnya sebagai tak setia. Semoga Allah Swt memberikan maqom yang mulia kepada arwah almarhum di surga al-Jannah-Nya. Amin

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, bab fadhl man ghada ilal masjid

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ” (صحيح البخاري، كتاب الأذان).

(Visited 54 times, 1 visits today)