Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 16 Januari 2004

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا(23)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam hidupmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Bani Israil 24-25

Allah sangat menekankan berkait dengan berbuat baik kepada kedua orang tua,kecuali keduanya mencegah beribadah pada Allah atau mengajarkan syirik. Selain itu terdapat perintah untuk itaat dalam setiap hal. Dan perintah ini (untuk itaat ini)ada karena pengkhidmatan yang mereka lakukan untuk kita di masa kanak-kanak, kita tidak akan dapat membalasnya. Karena itu terdapat perintah bahwa sejalan dengan pengkhidmatan terhadap mereka panjatkanlah juga doa-doa untuk mereka agar Allah mengasihi mereka dan dalam usia lanjutnya ini dari pihak kita jangan ada semacam kesusahan yang menimpa mereka. Hendaknya juga diingat bahwa kendatipun adanya pengkhidmatan dan doa yang kita panjatkan jangalah menduga bahwa kita telah banyak melakukan pengkhidmatan dan hak mereka telah terbayar. Kendati demikian anak-anak belum tepat (dapat dikatakan) mereka dapat membalas kebaikan kedua orang tua yang mereka lakukan pada saat mereka masih kanak-kanak.

Dalam kaitan ini, dua ayat yang saya telah tilawatkan di dalamnya Allah berfirman: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam hidupmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”(tidak ada ikatan) dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Di dalam ayat ini hal pertama yang diterangkan adalah janganlah menyembah siapapun kecuali Allah dan Dia-lah Tuhan yang telah mengirim kamu ke dunia dan sebelum mengirim Dia telah memperhatikan segala macam keperluan- keperluanmu dan menyiapkannya. Dan kemudian dengan beribadah pada-Nya, dengan bersyukur pada-Nya kamu dinyatakan sebagai waris karunia-karunia-Nya dan karunia yang paling besar yang Dia telah anugerahkan pada kita adalah bahwa Dia telah menganugerahkan kepada kamu ibu bapak yang telah merawat kamu /kita di masa kanak-kanak,telah melakukan pengkhidmatan yang tidak terhingga, semalam suntuk dia bangun memeluk kamu di pelukannya. Saat sakitmu dan saat kamu diliputi keresahan ibumu telah melewati malam-malanya dengan resah dan gelisah,telah mengurbankan tidurnya, telah membersihkan kekotoran- kekotoranmu. Singkatnya pengkhidmatan dan pengorbanan yang manakah yang ibumu tidak lakukan untukmu. Karena itu hari ini tatkala mereka memerlukan bantuanmu janganlah kamu berlalu dengan memalingkan muka,janganlah kamu menghuni duniamu sendiri (tidak perduli) dan jangan sampai terjadi bahwa kamu sama sekali tidak menghiraukannya. Dan jika dia mengatakan untuk keperluannya padamu maka kamu mulai membentak mereka. Bersabda jangan,bahkan ingatlah waktu tatkala ibumu dengan menahan segenap penderitaan dia telah menempuh segenap tahapan-tahapan kelahiranmu. Kemudian pada saat kamu sama sekali tidak memiliki kekuatan macam atau dalam corak apapun dia telah merawat dan memelihara kamu,memenuhi keperluanmu, baik yang boleh (diperbolehkan) maupun yang tidak boleh dan jika hari ini dia mencapai umur dimana mereka memerlukan pertolonganmu, yang dari segi itu kini dia seperti dalam usia masa kanak-kanaknya, sebab lanjut usiapun serupa dengan masa kanak-kanak. Mereka perlu perlindunganmu. Kalian mengakatan, tidak , bahwa kami sibuk dengan anak istri kami,kami tidak dapat melakukan pengkhidmatan. Jika karena tuanya mereka mengatakan kata-kata yang kamu tidak sukai,maka kamu mulai memarahinya,dan hingga memukulnyapun kamu tidak hindari- sejumlah orang juga sampai tega memukul bapaknya, saya sendiri telah melihat orang yang seperti itu- yang benar-benar merupakan pemandangan yang mengerikan. Maksud jangan mengatakan “ah” adalah jangan merupakan keinginanmu sendiri , bahkan andaikata itu bertentangan dengan keinginanmu sekalipun, kamu tetap tidak akan mengatakan”ah”(membentak mereka). Jika ke dua orang tua terus menyatakan kasih sayang, segala sesuatu dia iyakan /mereka taati, setiap saat berkurban untukmu, terus menyayangimu dan memanjakanmu, maka jelas kamu jangan sampai mengatakan “ah” (marah padanya ). Bersabda, andaikata hal-hal itu bertentangan dengan keinginanmu, maka tetap saja dengan lemah lembut, dengan rasa hormat kamu harus memuliakannya . Bahkan kamu harus mengkhidmatinya.Dan dengan sedemikian kasih dan dengan rasa cinta dan rendah hati mengkhidmati mereka, sebagaimana layaknya seorang pengkhidmat/pelayan dapat lakukan. Dan andaikata ada contoh pengkhidmatan yang paling banyak terdapat di dunia ini, maka itu adalah pengkhidmatan seorang ibu pada anak-anaknya. Kini mereka yang bermukim disini,memiliki pola fikir barat,bahkan di negara-negara kita juga ,di anak benua India, sejumlah orang menulis bahwa mereka tidak dapat mengkhidmati ibu bapak mereka, mereka menganggap itu sebagai satu beban dan mereka menulis bahwa Jemaat seyogianya membuka pusat-pusat penampungan lansia seperti itu dimana orang-orang yang lanjut usia dimasukkan disana,sebab kami bekerja,istripun juga bekerja,anak-anak pergi ke sekolah dan tatkala mereka datang ke rumah maka akibat kedua orang tua mereka yang sudah tua mereka menjadi terganggu karena itu susah untuk mengurusnya. Hendaknya mereka takut pada Tuhan. Al-Quran mengatakan hormatilah mereka,muliakanlah mereka dan dalam umur seperti itu perlakukan mereka dengan lemah lembut. Sebagaimana pada masa kanak-kanak, mereka dengan menahan segenap musibah mereka melindungi kamu. Jika ada yang berupaya menimpakan kesusahan maka ibu bagai singa betina segera menerjang. Kini mereka memerlukan bantuanmu maka kalian mengatakan supaya Jemaat yang merawat mereka. Jemaat dengan karunia Allah merawat mereka, tetapi lansia yang tidak mempunyai anak atau yang tidak ada lagi keluarga dekatnya. Tetapi bagi lansia yang memiliki anak-anak untuk merawat mereka tentu merupakan kewajiban anak-anak mereka untuk melakukan perawatan terhadap ibu bapak mereka. Nah, orang-orang yang memiliki pola fikir seperti itu seyogianya merubah karakter dan pola pikir mereka. Jangan terjadi bahwa selama mengambil faedah dari kedua orang tua,tidak ada waktu yang disia-siakan(terus sibuk memafaatkan),rumah dan harta benda sudah diatas namakan atas nama mereka,baru sekarang mereka disingkirkan. Siapapun orang Ahmadi jangan ada yang berpola fikir seperti ini. Hadhrat Masih Mauud a.s. adalah datang untuk menyebarkan dan menanamkan kembali ajaran Islam yang telah dilupakan oleh ummat manusia,beliau dibangkitakan untuk menunjukkan pada dunia kecemerlangan keindahannya,bukan untuk menyuruh mengamalkan yang bertentangan dengan itu.

Kini terkait dengan hak-hak kedua orang tua dan terkait dengan perlakuan baik terhadap mereka ada beberapa riwayat saya akan sajikan.

Seorang datang kepada nabi saw lalu berkata,Ya Rasul Allah ! saya menghajikan ibu saya dengan memikul beliau dari Yaman di atas punggung saya. Saya mentawafkan beliau sambil memikul beliau di atas punggung saya,saya membawa beliau untuk melakukan Sai’ diantara shafa dan Marwa,saya membawa beliau ke Arafah, kemudian dalam kondisi seperti itu saya membawa beliau sampai di Muzdalifah lalu melempar Jumrah di Mina. Dia sangat lanjut usia sedikitpun dia tidak dapat bergerak, saya mengerjakan semua ini sambil memikul beliau di atas punggung saya,maka apakah saya telah memenuhi haknya ? Beliau bersabda : Tidak, haknya belum terlunasi. Orang itu kembali bertanya :” Kenapa ? “.Karena pada saat masa kanak-kanakmu dia telah menahan segenap derita untukmu dengan tujuan supaya kamu dapat hidup, tetapi apa yang kamu lakukan padanya itu kamu telah lakukan dalam keadaan mengangan-angakan kematiannya.Kamu mengetahui benar bahwa dia merupakan tamu hanya untuk beberapa hari.(tidak lama lagi akan mati) Al-Wa’yu al’dad 58 assanatulkhaamisah

Kini orang secara umum dapat saja menduga bahwa semua apa yang telah dia kurbankan dengan menanggung sekian banyak derita itu artinya dia telah melakukan pengorbanan yang sangat besar.Tetapi beliau bersabda tidak. “Kenyataan sebenarnya ialah bahwa hak belum terbayar”.(syair)

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat bahwa Hisyam bin Urwah memberitahukan kepada kami bahwa bapak saya memberitahukan kepada saya:Bahwa Asma’ Binti Abi Bakar memberitahukan kepada beliau : Pada zaman Rasulullah saw ibu saya datang kepada saya ingin untuk menemui saya,ingin menyambung ikatan tali kekerabatan, maka saya menanyakan pada nabi berkenaan dengan itu, apakah saya boleh menyambung tali silaturrahmi dengan baik dengan ibu saya yang musyrik itu ? Rasulullah saw bersabda”ya”. Bukhari kitaabul hibbah baabul hadiyyatil- musyrikiin

Jadi, sejauh berkaitan dengan urusan kemanusiaan bukanlah hanya sekedar menyangkut persoalan ibu, perlakuan baik terhadap dia sudah merupakan suatu keharusan, perlakuan baik jelas harus. Tetapi disini kasusnya adalah apabila masaalahnya menyangkut kasus kemanusiaan,timbul persoalan harus memperlakukan dengan baik kepada orang lain atau timbul masaalah yang menyangkut melakukan pertolongan, maka terdapat perintah juga supaya kepada karib kerabat dan kepada orang lainnya pun harus diperkukan dengan baik.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat bahwa dari Abu Usaid Assa’idi r.a meriwayatkan bahwa kami hadir di hadapan Rasulullah saw lalu datang seorang dari Bani Salmah menanyakan,ya Rasulullah saw ! sesudah wafat kedua orang tua saya, apakah ada kebaikan yang saya dapat lakukan untuknya ? Beliau bersabda ya , kenapa tidak. Panjatkanlah doa-doa untuknya.Mohonlah ampunan untuknya,penuhilah janji yang pernah dia lakukan/berjanji dengan orang lain. Dan perlakukanlah keluarga dekat dan orang yang dicintainya dengan baik sebagaimana dimasa hidupnya dia telah lakukan terhadap mereka. Hormati dan muliakanlah kawaan-kawannya dengan baik . Abu Daud Kitabul adab. Bab fi birril waalidain

Jadi, inilah perlakuan baik terhadap kedua orang tua yang siapa yang ingin melakukannya pada masa hidup tentu pasti akan dikerjakan ,tetapi setelah wafat pun doakanlah untuknya,mohonlah ampunan untuknya dan selain itu penuhi pulalah janji-janjinya dan bayar pulalah hutang-hutang mereka. Terkadang sejumlah musi dan musiah wafat. Mereka – kasian – telah wafat, mereka telah mewasiatkan jaidadnya 1/10, tetapi sampai bertahun tahun anak-anaknya, kerabatnya tidak melunasi bagian wasiatnya bahkan terkadang mereka mengingkarinya sambil berkata bahwa mereka/anak-anak itu tidak dapat taufik untuk melunasi itu. Seolah-olah mereka tidak memenuhi janji-janji kedua orang tua mereka dan tidak menghargai wasiat yang telah ditulis oleh mereka. Mamfaat mereka terus petik dari harta-harta benda kedua orang tua mereka, tetapi janji-janji yang tadinya akan dilunasi dari harta-harta/jaidad itu mereka tidak menaruh perhatian untuk melunasinya, padahal sepersepuluh jaidad itu benar-benar bukanlah milik anak-anak itu, sebelumnya itu telah diwasiatkan. Jadi, apa yang bukan milik mereka itupun tidak mereka berikan. Semoga Allah menganugerahi akal dan pemahaman kepada anak seperti itu supaya mereka dapat menjadi orang-orang yang memenuhi janji-janji kedua orang tua mereka.Disini terdapat perintah bahwa tidak hanya memenuhi janji-janji mereka bahkan kawan-kawannyapun hormatilah, merekapun harus dimuliakan dan perlakuan yang pernah kedua orang tua lakukan pada mereka perlakuan baik itu teruslah lakukan.

Kemudian tertera sebuah riwayat bahwa ibu susuan beliau, Halimah datang ke Mekah. Dan setelah berjumpa dengan Hudhur saw beliau menyampaikan prihal terjdinya pacikelik dan matinya hewan-hewan piaraan. Hudhur saw meminta musyawarah dari Hadhrat Khadijah r.a lalu beliau memberikan kepada ibu susuan beliau 40 ekor kambing dan seekor unta yang penuh dengan muatan harta benda.Tabaqaat Ibni Sa’ad jilid hal 113 Terbitan Beirut 1960

Kini pengkhidmatan tidak hanya terhadap kedua orang tua yang hakiki belaka,bahkan contoh mulia junjungan kita Hadhrat Muhammad saw ialah melakukan pengkhidmatan sebanyak-banyaknya juga terhadap ibu susuan beliau pada saat diperlukan. Dan senantiasa dalam upaya bagaimana cara supaya saya /beliau dapat melakukan itu. Dan disini dalam riwayat ini karena harta adalah milik Hadhrat Khadijah r.a, beliau seorang perempuan yang kaya raya dan kendatipun beliau telah menyerahkan segenap harta beliau pada Rasulullah saw, telah menyerahkan di bawah ikhtiar beliau, beliau memiliki izin sebagaimana yang beliau ingin lakukan beliau dapat melakukan- tetapi tetap saja beliau meminta musyawarah dari Hadhrat Khadijah dan memberikan sebuah pelajaran pada kita. Sejumlah orang begitu saja berupaya memiliki harta kekayaan istri-istrinya yang bukan juga dalam wewenangnya ,untuk mereka ini juga merupakan pelajaran.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Tufail bahwa saya melihat Rasulullah saw berada di Ju’ranah. Beliau pada saat itu tengah membag-bagi daging. Pada saat itu seorang perempuan datang maka Hudhur membentangkan selimut beliau untuknya dan perempuan itu duduk diatas itu. Saya bertanya kepada orang-orang siapa gerangan perempuan itu yang sedemikian rupa Hudhur memuliakannya ? Orang-orang memberikan jawaban bahwa perempuan ini adalah ibu susuan Hudhur saw. Abu Daud Kitabul adab bab fi birrilwaalidain

Pada suatu saat Hudhur datang maka bapak susuan beliau datang. Maka Hudhur membentangkan satu sudut/sebagian selimut beliau kemudian ibu susuan beliau datang, maka beliau melebarkan sudut yang kedua. Kemudian datang saudara susuan beliau maka beliau berdiri dan beliau mendudukkannya di hadapan beliau. Sunan Abu Daud kitabul adab bab birril waalidain.Sepenuhnya, selimut beliau bentangkan untuk keluarga susuan beliau dan beliau bergeser duduk di satu tempat. Jadi ini merupakan kehormatan, kemuliaan dan penghormatan yang contohnya Rasulullah saw telah tampilkan. Beliau tidak hanya menghormati ibu susuan beliau bahkan tatkala saudara susuan beliau datang maka beliau pun dengan penuh perhatian mengosongkan tempat untuknya. Dan semua kehormatan dan kemuliaan ini adalah karena air susu perempuan yang untuk beberapa lama beliau minum, orang lainpun menjadi ada ikatan dan beliau menjadi kesayangan mereka juga. Dewasa ini di sejumlah tempat disaksikan bahwa andaikata kerabat yang dicintai sekalipun yang datang jika anak-anak duduk di atas kursi maka dia akan terus duduk disana. Tidak ada tempat yang dia kosongkan. Dan orang tua anak itu yang tuapun tidak mengatakan pada anak itu bahwa bangunlah anak, orang yang tua datang, kosongkanlah tempat untuknya. Jadi misal ini tidak diberikan hanya sekedar kisah dan cerita ,tetapi adalah untuk diamalkan. Ajaran yang indah ini adalah untuk kita untuk diamalkan.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda,hinalah orang itu, hinalah orang itu (kalimat ini tiga kali beliau ulangi) Orang-orang bertanya siapa itu,Hudhur ? Beliau bersabda: Orang yang mendapatkan ibu bapaknya yang tua dan kemudian setelah berkhidmat padanya mereka tidak dapat masuk ke dalam surga (tidak mengkhimatinya dengan baik). Muslim Kitabul birri wasshilah baabu ragmi anfi man adraka abawaihi

Jadi, perhatikanlah betapa diperingatkan, bagaimana beliau menyatakan berlepas diri bahkan dari satu segi di timpakan laknat pada orang yang seperti itu, yang kendatipun mendapat peluang – peluang untuk masuk surga (yakni jika berkhidmat dengan baik ) faedah tidak dipetik dari itu, sehingga laknat Tuhan turun. Semoga Allah membawa pada jalan yang lurus orang-orang yang rusak moralnya yang telah memperlakukan buruk terhadap ibu bapaknya.

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda :” Barangsiapa yang memperlakukan buruk seperti itu /tidak berbuat baik seperti itu pada kedua orang tuanya dia bukanlah dari Jemaat-ku … sebagaimana berfirman barangsiapa yang tidak menghormati kedua orang tuannya dan pada perkara yang makruf yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dia tidak mengitaatinya maka dia bukanlah dari Jemaatku dan tidak acuh untuk mengkhidmatinya dia bukanlah dari Jemaatku.Bahtera Nuh Ruhani Hazain jilid 19:19

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa seorang hadir di hadapan Rasulullah saw lalu bertanya: Siapakah orang yang lebih berhak untuk mendapatkan perlakuan baik saya ? Beliau menjawab:Ibumu. Kemudian dia bertanya siapa ? Beliau bersabda: Ibumu. Dia kembali bertanya siapa ? Beliau bersabda: Ibumu.Untuk ke empat kalinya dia bertanya. Sesudah itu siapa ? Beliau bersabda ibu kamu. Dia bertanya untuk keempat kalinya, sesudah itu siapa ? Beliau bersabda ,sesudah ibu yang paling berhak atas perlakuan baikmu adalah bapakmu. Kemudian setingkat-demi setingkat adalah keluargamu. Bukhaari kitabul adab man ahaqqunnaas bihusnisyuhbati

Tertera sebuah riwayat yang merupakan ungkapan dari Hadhrat Abdullah bin Umar bahwa: Keredhaan Allah terletak pada keredhaan bapak dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan bapak. Al-Adaabulmufrad lil bukhari bab kauluhu taala wawashainal insaana biwaalidaihi husna

Tertera sebuah riwayat dari Hadhrat Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah saw bersabda : Mencela/memaki-maki kedua orang tua adalah merupakan dosa besar. Sahabah bertanya: Ya Rasulullah ! Apakah ada juga orang yang bisa memaki kedua orang tuannya. Bersabda: Ya, dia mencela kedua orang tua orang lainnya maka artinya dia mencela kedua orang tuan sendiri. (Sahih Muslim kitabul iman ) sebab dia pun akan memberikan caci makian sebagai jawaban. Jadi jelas dari itu terdapat pelajaran bahwa jangan mencaci maki dan apabila ingin supaya orang lain mendoakan kedua orang tua maka perlihatkanlah contoh akhlak yang mulia. Supaya orang yang ada ikatan dengan kalian mengatakan bahwa semoa Allah menganugerahi ganjaran pada kedua orang tuanya yang telah mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang sedemikian luhurnya.

Pada perang Hunain kurang lebih sebanyak 6000 tahanan dari suku Hawazan berada di tangan orang Islam. Diantara mereka terdapat suku Hadhrat Halimah dan juga keluarganya yang datang berupa rombongan di hadapan Hudhur saw. Dan dengan menyebutkan bahwa Hudhur merupakan sesusuan mereka,mereka memohon kebebasan ( Yakni mereka memberikan rujukan bahwa Hadhrat Halimah adalah dari suku mereka, Rasulullah saw telah minum air susu beliau/Halimah) Rasulullah saw sesudah bermusyawarah dengan para ansor baru membebaskan mereka. Tabaqat Ibnu Saad Jili I:144 Beirut 1960

Inilah merupakan perlakuan baik beliau. Sedikit saja ada hubungan maka beliau memberikan perlakuan seperti itu.

Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menghendaki panjang umurnya dan dimurahkan rezekinya maka seyogianya dia berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan membiasakan menjalin tali silturrahmi. Musnad Ahmad Bin Hanbal jili III:266 terbitan Beirut

Jadi, disini diberitahukan metode untuk bertambahnya umur dan bertambahnya rezeki atau murahnya rezeki bahwa jika kamu menghedaki kemudahan,ingin menyaksikan kebahagian anak-anakmu sampai jauh-jauh maka perlakukanlah kedua orang tua dengan baik. Ingatlah kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan terhadap kamu. Ingatlah bahwa pada masa kanak-kanak mereka telah memelihara kamu dengan susah payah. Jika mereka tidak memberikan perhatian terhadap kalian,maka sabda Hadhrat Masih Mauud a.s – pada saat itu kamu dalam kondisi seperti anak yatim;kamu tidak dapat melakukan apa-apa ,sebab tidak ada yang ingin menanya kepada kamu . Hanya ibu bapak itulah yang mau menanya/memperhatikan pada anak-anak seperti itu,menanyakan dengan rasa perih. Maka bilamana kamu mulai beranjak usia remaja/ besar maka mereka mulai memberikan perhatian pada upaya pendidikan baca tulismu. Mereka rela menanggung segenap kesulitan dan mengajarkan kamu. Banyak ibu bapak yang siap menahan lapar dalam upaya supaya anak-anak mereka menjadi anak yang terpelajar supaya setelah besar mereka dapat tinggal dalam masyarakat dengan hormat dan mulia, supaya kondisi mereka jangan seperti kami. Tetapi ada sejumlah anak-anak yang durhaka terhadap ibu bapaknya dan sial bahwa setelah mendapatkan segala sesuatunya dari ibu bapaknya, setelah mendapatkan pendidikan mereka menjadi orang besar maka mereka mulai menghuni dunianya sendiri dan kemudian sama sekali tidak ada perhatian terhadap kedua orang tuanya.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s memberikan sebuah contoh bahwa ada seorang Hindu yang setelah menahan susah payah dia berhasil menyekolahkan anaknya sampai mendapat gelar BA dan MA /serjana S I. Dan setelah mendapat gelar itu sang anak berhasil menjadi wakil kepala polisi. Dewasa ini menjadi wakil kepala polisi tidak dianggap mempunyai kedudukan, tetapi pada saat itu menjadi wakil kepala polisi juga merupakan hal yang hebat. Terfikir oleh bapaknya bahwa anak saya telah menjadi wakil kepala polisi, sayapun juga mau berjumpa dengannya. Sesuai dengan itu pada saat dia sampai di majlis dan duduk untuk berjumpa dengan anaknya, maka pada waktu itu lebih dulu telah duduk para pengacara dan para barrester/ ahli hukum dll . Sang bapak inipun duduk di suatu tempat dengan mengenakan kainnya yang kumal.Diantara tamu yang hadir perbincangan terus berlanjut,seorang dari antara orang-orang merasa terganggu dengan kehadiran seorang yang duduk dengan mengenakan pakaian yang kotor di tempat itu dan dia menanyakan siapa yang duduk di pertemuan kita ini. Mendengar perkataannya ini wakil kepada polisi (sang anak) untuk menghindari rasa malu berkata bahwa ini adalah pelayan kami. Mendengar perkataan anaknya ini emosi sang bapak menjadi memuncak lalu sambil membetulkan letak kainnya dia berdiri lalu berkata. Tuan- tuan! saya ini bukanlah pelayannya, tetapi saya adalah pelayan ibunya”. ( Hadhrat Muslih Mauud r.a sambil menuturkan peristiwa ini bersabda) Tatkala orang-orang yang ada disana mengetahui bahwa ini adalah bapak dari wakil kepala polisi itu, maka mereka mencaci makinya dan berkata bahwa jika tuan memberitahukan pada kami sebelumnya maka kami akan menghormatinya dengan selayaknya dan kami mendudukkannya dengan sopan dan hormat. Walhasil pemandagan seperti itu setiap hari terlihat oleh kita bahwa orang-orang enggan berjumpa dengan keluarganya supaya jangan sampai terpengaruh pada kedudukan tinggi mereka. Seolah-olah jangankan mengharumkan nama kedua orang tua, bahkan sebaliknya mereka merupakan faktor tercemarnya nama baik keluarga, kecuali orang-orang yang menghormati kedua orang tua atas dasar sudut pandang bahwa menghormati kedua orang tua itu merupakan perintah Allah. Di kalangan orang-orang dunia sangat jarang sekali orang-orang yang melakukan hal seperti itu, yakni mereka menghormati kedua orang tua sepenuhnya dan di kalangan para pemilik tanah dan kalangan orang-orang yang berpendidikan keduanya inilah kondisi yang terlihat. Demikian pula sejumlah orang diantara mereka tidak ingin merawat ke dua orang tua mereka dan apabila ditanyakan maka didapatkan jawaban bahwa tabeat ibu sngat keras dan dengan istri saya dia tidak cocok. (Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda)’ (Berbeda tabeat) Ini tidak apa-apa sebab ibu pun bagaimanapun juga memiliki suatu kedudukan. Jadi jauhkanlah kekurangan yang mengerikan itu dan lakukanlah pengkhidmatan terhadap kedua ibu bapak. Kalau tidak kalian akan luput dari surga yang diletakkan di bawah telapak kaki ke dua orang tuamu. Tafsir Kabir jilid 5:593

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda… وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ( Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Ad-Dahr 9) Di dalam ayat ini yang dimaksud miskin adalah orang tua juga,sebab mereka setelah menjadi tua dan lemah mereka menjadi tidak berdaya apa-apa dan mereka tidak tepat lagi bekerja keras untuk mencari nafkah. Pada saat itu mengkhidmati mereka sama coraknya dengan mengkhidmati orang miskin. Dan demikian pula anak-anak (sendiri) yang lemah dan tidak dapat melakukan apa-apa jika tidak menyiapkan sarana untuk tarbiat dan perawatannya maka mereka itu seolah-olah adalah yatim. Jadi jika kesiapan perawatan dan pemeliharaan mereka dilakukan atas dasar peraturan-peraturan itu maka pahala akan didapatkan”. Malfuzhat jilid 3:599 Edisi Baru

Dari hal ini mungkin ada yang memandang bahwa dalam kondisi lanjut usia, mereka orang tua termasuk dalam kelompok miskin dan mereka /anak tidak melakukan sesuatu (pada mereka) sebab dia melakukan pengkhidmatan pada ibu bapak sebagai (sekedar) sedekah. Tetapi termasuk merupakan kewajiban-kewajiban kalian pengkhidmatan terhadap mereka . Sebab kondisi kalian pada saat masa kanak-kanak itu adalah dalam kondisi yatim piatu. Ibu bapak kalian tidak memelihara dengan menganggap kalian sebagai anak yatim, bahkan mereka mengkhidmati kalian karena gejolak cinta. Kini tiba saatnya bahwa kamupun atas dasar cinta dan atas dasar semangat itulah kamu harus mengkhidmati ibu bapak kemudian hendaknya harus pula mendoakan untuk kedua orang tua. Sebagaimana doa bapak terkabul untuk anak-anaknya dan sebagaimana setiap langkah doa-doa orang tua terus menerus berguna bagi anak-anak, demikian pula doa-doa anak-anak pun memperoleh tingkat pengabulan untuk kedua orang tua.

Tertera dalam Malfuzhat bahwa Hadhrat Masih Mauud a.s berjumpa dengan seorang yang baru masuk jemaat pada saat shalat zuhur dan beliau menegaskan bahwa teruslah berdoa untuk ibu bapak anda yang anti Jemaat itu. Dia menjawab Hudhur, saya biasa mendoakan untuk mereka dan kepada Hudhur -pun saya terus menulis untuk didoakan . Hudhur Aqdas bersabda: Berdoalah dengan sungguh-sungguh, doa bapak untuk anak dan doa anak untuk bapak senantiasa terkabul, jika Tuan juga berdoa dengan penuh perhatian maka pada waktu itu doa kitapun akan ada pengaruhnya”.Malfuzhat jilid 2:502 Edisi Baru

Pada saat perjalanan ke Batala Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s terus menanyakan kepada Syekh Abdurrahman Qadiani berkenaan dengan bapak beliau sambil mensehatkan bahwa :

“Dari segala segi berdoalah untuknya dan yakinkanlah dia akan kebenaran (Islam/al-quran) dengan menunjukkan kepada mereka ribuan kali lebih banyak akhlak dan contoh kesucian diri anda. Contoh akhlak merupakan mukjizat sedemikian rupa yang mana mukjizah yang lain tidak dapat menandinginya. Ini merupakan standar (Islam ) bahwa manusia dijadikannya berada pada tingkatan derajat akhlak yang tinggi dan dia menjadi orang yang dapat membedakan atau diistimewakan . Mungkin dengan perantaraan kamu Allah memasukkan kecintaan (Islam) di dalam kalbunya. Islam tidak mencegah untuk mengkhidmati ibu bapak.Urusan dunia yang tidak berpengatuh dari segala segi pada agama seyogianya harus mengitaatinya. Khidmatilah dia sepenuh hati.Malfuzhat jilid2:492 Edisi Baru

Kemudian bersabda:Para sahabah juga terkadang mengalami kesulitan- kesulitan seperti itu bahwa akibat keterpaksaan – keterpaksaan agama terjadi perselisihan diatara mereka dan dengan ibu bapak mereka. Walhasil, kalian dari pihak kalian sendiri senantiasalah bersiap sedia untuk kesehatan dan perawatan mereka kapan kalian memperoleh peluang, janganlah membiarkan hilang peluang itu dari kalian. Kalian akan meraih pahala dari niat kalian. Jika hanya untuk agama demi untuk mendahulukan keredhaan Tuhan terpaksa harus berpisah dengan kedua orang tua, maka ini merupakan sebuah keterpaksaan. Ingatlah perbaikan sebagai tujuan utama dan perhatikanlah kebersihan niat, dan berdoalah terus menerus untuk mereka.Kejadian ini bukanlah hari ini baru terjadi Hadhrat Ibrahim a,s pun mengalami peristiwa seperti itu. Singkatnya hak Tuhan adalah yang lebih utama.Jadi, dahulukanlah Tuhan dan seyogianya teruslah dalam upaya memenuhi hak-hak kedua orang tua dan perhatikanlah supaya niat senantiasa bersih.Al-Hakam jilid 2:16 tanggal 2 Maret 1808:4 refrensi Tafsir Hadhrat Massih Mauud a.s jilid 3:60-61

Kemudian bersabda: Jika karena agama timbul perselisihan, maka bukanlah maksudnya bahwa kalian meninggalkan untuk memenuhi hak-haknya. Anda lakukanlah atau penuhilah kewajiban-kewajiban anda dan berdoalah senantiasa untuknya. Mungkin pada suatu saat doa kalian akan didengar Allah dan Allahpun menunjukkan padanya jalan petunjuk sehingga mereka pun dapat mengetahui.

Kemudian berkenaan dengan ibu Mlv Abdul Karim bahwa dia datang ke Qadian. Beliau menerangkan apa pengkhidmatan yang beliau lakukan kepada ibu beliau akibat usia lanjut ibu beliau dan lemahnya ibu beliau,yakni terkait dengan lemah dan usia tua yang Hadhrat Masih Mauud telah sebutkan.

“Pengkhidmatan pada orang tua merupakan amal baik yang sangat berhaga . Tertera dalam hadis bahwa orang yang sangat malang adalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan lalu Ramadhan lewat tetapi dosanya tidak dimaafkan, dan kedua adalah yang mendapatkan ibu bapak dan ibu bapaknya lewat/wafat dan dosanya tidak dimaafkan.Manakala dibawah naungan kedua orang tua anak lahir maka segenap duka dan deritanya kedua orang tua yang menanggungnya /memikulnya. Apabila manusia itu sendiri sibuk dalam urusan-urusan dunia baru manusia dapat mengetahui akan nilai kedua orang tua. Allah di dalam Al-Quran telah mandahulukan ibu,sebab demi untuk anaknya ibu banyak menanggung penderitaan. Betapapun anak diserang penyakit menular,baik itu penyakit pes atau diare atau taun, ibu tidak dapat meninggalkan anaknya.

Kemudian dengan memberikan contoh Hadhrat Ammajan beliau bersabda: Pada suatu saat anak kami terserang diare. Beliau (Hadhrat Ammajaan) membawa muntah dll dengan tangan beliau sendiri. Ibu ikut menemani anak dalam semua penderitaan anak.Ini merupakan kecintaan yang alami,yang mana tidak ada kecintaan yang dapat menandinginya. Ke arah itulah di dalam Al-Quran Allah mengisyarahkan.

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

)Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.An-nahl 91( Malfuzhat jilid 4:289-290 Edisi Baru

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s bersabda: Kondisi pertama nasib baik manusia adalah bahwa dia menghormati ibu. Untuk Uwis Qarni terkadang Rasulullah saw menghadapkan wajah beliau ke arah Yaman sambil bersabda bahwa saya mencium aroma harumnya Tuhan dari arah Yaman. Beliau bersabda bahwa karena setianya pada ibunya dia senantiasa sibuk dan karena itulah sehingga dia tidak dapat juga datang menemui saya.Secara lahir ini merupakan hal yang mana Rasulullah saw ada pada saat itu, tetapi beliau /Uwis tidak dapat berziarah pada beliau saw. Hanya karena akibat kesibukan sepenuhnya dalam pengkhidmatan dan kesetiaan terhadap ibu beliau. Tetapi saya melihat bahwa Rasulullah saw menyuruh menyampaikan assalaamu’alakum secara khusus hanya kepada dua orang. Atau kepada Uwes Qarni atau kepada Masih. Ini merupakan suatu hal yang aneh yang orang lain tidak dapatkan secara istimewa ini. Oleh karena itu tatkala Hadhrat Umar r.a pergi untuk menjumpai beliau maka Uwes berkata bahwa saya senantiasa sibuk dalam mengkhidmati ibu saya dan unta saya malaikat yang menggembalakannya. Satu sisi adalah terdapat orang-orang yang dalam pengkhidmatan pada ibunya sedemikian rupa dia berupaya dan kemudian dia mendapatkan pengabulan dan kemuliaan, dan satu lagi adalah yang karena uang serupiah dua rupiah/ribuan saja mereka menyeret orang tua mereka ke pengadilan dan mereka menyebut nama orang tua mereka sedemikian buruk sehingga mungkin kaum yang paling kotor sekalipun tidak sedemikian kotor menyebut nama orang tua mereka. Apa ajaran kita ? hanya memberitahukan petunjuk suci Allah dan Rasul. Jika orang yang menzahirkan ikatan dengan kami tidak ingin mengimani/mengikuti, maka kenapa dia masuk ke dalam jemaat kami ? Orang lain akan tersandung dengan contoh seperti itu dan mereka akan melontarkan kritikan bahwa ini adalah orang yang sampai ibu bapak mereka pun tidak mereka hormati”.

Bersabda: Saya katakan pada kalian dengan sebenar-benarnya bahwa orang yang menyakiti ibu bapaknya tidak akan melihat kebaikan dan keberkatan. Jadi, dengan niat yang tulus dan dalam corak keitaatan penuh dan kesetiaan bersiaplah untuk mengamalkan sabda-sabda Allah dan Rasul. Disinilah terdapat kebaikan,kalau tidak terserah, kewajiban kami hanya unutuk memberikan nasehat. Malfuzhat jilid I:195-196 Edisi Baru

Kisah Hadhrat Uwes Qarni telah diterangkan berkenaan dengan itu sedikit saya ingin jelaskan. Bahwa sementara orang terkadang dengan corak yang salah mereka memaparkan dalil mereka masing-masing bahwa jika kamu katakan bahwa ada pekerjaan agama atau ada keperluan Jemaat, luangkanlah waktu untuk itu, maka mereka mulai mengambil dalih mengkhidmati kedua orang tua. Padahal pekerjaan duniawi mereka seperti itulah mereka lakukan. Sampai sampai berhari-hari mereka sama sekali tidak menanya mengenai ibu bapak mereka.Dan setelah selesai dari kepentingan- kepentingan dunianya, sedikit ada waktu luang maka kemudian dengan (tergesa-gesa) duduk di dekat ibu – pada pandaggan mereka, mereka tengah melakukan pengkhidmatan. Namun disini disebutkan bahwa Uwes Qarni setiap saat mengkhidmati ibunya. Setiap saat dia sibuk dalam pengkhidmatan itu Dia sama sekali tidak tersentuh dengan pekerjaan-pekerjaan dunia, sebab untuk menggembala untanya dan hewan-hewan lainnya Allah sendiri yang bertanggung jawab sebagaimana berkata bahwa pekerjaan saya malaikat yang melakukan. Jadi bukanlah bahwa untuk pekerjaan-pekerjaan dunia kita mempunyai banyak waktu dan apabila penting untuk pekerjaan-pekerjaan agama maka mereka mulai memberikan misal Uwes Qarni. Kemudian lihat pulalah orang yang mendakwakan mencintai ibu bapak dan mereka melakukan pengkhidmatan tetapi apabila terkait dengan keuntungannya maka dia mulai mengucapkan kata-kata yang kasar dan mereka menzahirkan kemarahan mereka dan mereka kadang-kadang melontarkan kata-kata keji,padahal mengucapkan kata keras saja dihadapan ibu bapak adalah dilarang. Jadi, terkadang untuk tidak melakukan pengkhimatan terhadap agama atau untuk tidak menunaikan hak-hak istri dan anak dicari alasan untuk mengkhidmati orang tua. Oleh karena itu setiap saat harus senantiasa mengintrospeksi diri sendiri bahwa jangan-jangan atas nama mengkhimati orang tua ego tengah menipu kita dan manusia luput dari pengkhidmatan agama.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s kepada seorang bersabda:

“Hak ibu sangat besar dan itaat adalah wajib.Tetapi seyogianya sebelumnya ini harus ditanyakan apakah di kedalaman kemarahan itu ada hal lain lagi yang membebaskan dari perintah Allah akibat keitaatan terhadap ibu yang seperti itu. Misalnya, jika ibu marah karena suatu urusan agama dia melakukan seperti itu atau karena mengitaati peraturan shalat dan puasa dia melakukan seperti itu maka tidak perlu mengitaati dan menuruti perintahnya. Dan jika apabila ada suatu perkara yang diperbolehkan syareat tidak terlarang, (Yakni,berkenaan dengan istri dia menanyakan bahwa ibu mengatakan ini) maka istri itu sendiri menjadi wajib harus ditalak.

…Yang paling ingin supaya anak laki-laki berumah tangga adalah ibu dan dalam hal itu yang paling tertarik adalah ibu. Dengan sangat girang dengan susah payah membelanjakan ribuan jutaan rupiah dia menikahkan anak lakinya maka apakah patut dari itu dapat timbul harapan dan keinginan bahwa dia /ibu tampa alasan yang tidak benar ingin bertikai dengan istri anaknya dan ingin menghancurkan rumah tangga anaknya … merupakan kedungungan dan kebodohan anak laki seperti itu juga yang mengatakan ibu memang marah tetapi saya tidak marah… Dalam kasus ibu dan istri, jika tidak ada sebab agama maka kenapa sampai melakukan sikap tidak mengenal sopan santun seperti itu. Jika ada sebab dan faktor lain maka seyogianya segera dijauhkan … Sejumlah perempuan terlihat secara sepintas dari luar sangat lembut tetapi dari dalam dia menyemburkan bisanya/sangat kejam. Jadi seyogianya menjauhkan sebab /penyebab dan sebab kemarahan itu hendaknya disingkirkan dan seyogianya membahagiakan orang tua. Lihatlah singa, srigala dan binatang buas lainnya juga dengan menggerakkan (tangan) hewan itu menjadi bergerak dan menjadi tidak berbahaya. Dengan musuh sekalipun dapat dilakukan persahabatan. Jika ditempuh jalan damai/dilakukan rembukan maka kemudian apa sebabnya atau kenapa ibu dibiarkan/ dijadikan terus marah”. Malfuzhat jilis 5:497-498 Terbitan Rabwah

Karena pria memiliki strusktu organ tubuh yang kuat sebagai pengawas, karena itu jika di rumah timbul suatu penyebab perselisihan maka situasi itu seyogianya diperbaiki dengan memberikan pengertian dengan cinta dan kasih sayang . Demikian pula anak-anak perempuan yang masih muda dan mantu-mantu juga seyogianya menaruh perhatikan bahwa organ fisik orang-orang lanjut usia itu menjadi lemah dan jika dari mereka ada perkataan yang keras sekalipun maka tahanlah itu dan sabarlah atas dasar bahwa ingin meraih keredhaan Allah dan kesukaan-Nya. Maka Tuhan juga akan menganugerahkan kekuatan dan takad dan akan timbul suasana yang ceria dan- insyaallah –suasana akan terus menjadi demikian.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s bersabda:

َلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمً

(Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia).Yakni janganlah mengatakan kepada orang tua perkataan yang menyatakan tidak ada hubungan dan janganlah melakukan hal-hal yang sedemikian rupa dengan mereka yang dari itu kemuliaannya (sebagai orang tua) seakan tidak diperhatikan .Ayat ini dialamatkan pada Rasulullah saw tetapi yang dituju adalah kepada ummat Islam sebab bapak Rasulullah saw dan ibu beliau saw wafat pada saat umur beliau masih kanak-kanak (sedang perlu perawatan). Dan di dalam perintah itu terdapat sebuah rahasia dan itu adalah bahwa dari ayat ini seorang yang bijak dapat memahami sedangkan yang dialamatkan adalah Rasulullah saw bahwa (hai Muhammad saw ) hormatilah ibu bapakmu dan dalam setiap pembicaraanmu perhatikanlah martabat kemuliaannya, maka betapa pentingnnya bagi yang lain bahwa merupakan kewajiban menghormati ibu bapak mereka dan ke arah itulah ayat yang kedua/yang lain isyarahkan

 وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا – Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya….jika Tuhan membolehkan bahwa boleh menyembah siapapun selain Dia maka Dia akan memerintahkan bahwa kamupun sembahlah ibu bapakmu. Sebab dia adalah merupakan Rabb bayangan. Dan setiap orang secara almi sehingga burung dan binatang buas sekalipun melindungi anak-anaknya untuk jangan menjadi hacur di masa masih memerlukan makan dan minum. Jadi sesudah rabbubiat (pemeliharaan) Tuhan, dia (ibu bapak) juga memiliki rabbubiatnya dan gejolak serta semangat rabbubiat (keinginan memelihara dan merawat) juga adalah dari Tuhan. Hakikatul wahyi 204-205

Semoga Allah menganugerahi kita taufik untuk mengamalkan nasehat-nasehat itu dan kita menjadi orang yang mengkhidmati kedua orang tua dan menjadi orang yang berbuat baik padanya dan semoga Allah menjalankan kita pada jalan-jalan keredhaan-Nya. Hari ini di Bangladesh sedang berlangsung Jalsah Salanah.Mereka tengah menggelar Jalsah Salanah mereka dalam kondisi yang sangat tidak mendukung. Doakanlah juga untuk mereka. Semoga dari segala segi Allah memberkati Jalsah ini.

Qamaruddin Syahid