Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 19 Oktober 2018 (Ikha 1397 Hijriyah Syamsiyah/09 Safar 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ ()

Terjemahan ayat ini sebagai berikut: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk.” (Surah At-Taubah: 18)

Alhamdulillah (segala puji bagi Allah Ta’ala) Yang telah memberikan taufik kepada kita untuk dapat membangun Masjid pertama di kota ini dan pada hari ini telah diresmikan. Telah diketahui bersama bahwa peresmian sebuah bangunan duniawi atau bangunan yang dibangun guna meraih keuntungan duniawi, ialah dengan menyatakan kebahagiaan yang sifatnya duniawi sesuai dengan tradisi dunia khususnya di negeri-negeri ini dan pada umumnya di seluruh dunia. Setelah itu, mereka mengumumkan besarnya keuntungan yang akan didapat dari bangunan tersebut. Namun ketika kita membangun sebuah Masjid atau meresmikannya, disertai dengan pemikiran bahwa kita ingin meraih keridhaan Allah Ta’ala dan yang menjadi tujuan pembangunan Masjid ini seyogyanya ialah hanya untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala semata.

Guna meraih keridhaan Allah Ta’ala, penting bagi kita mengamalkan apa-apa yang Allah Ta’ala perintahkan untuk kita amalkan. Diantara kewajiban yang pertama dan utama adalah menunaikan hak (kewajiban) beribadah kepada Allah Ta’ala dan melaksanakannya dengan cara yang telah Allah Ta’ala ajarkan kepada kita. Ayat yang saya tilawatkan tadi sebagaimana terjemahannya pun telah saya bacakan telah memberitahukan kepada kita apa yang seyogyanya menjadi tujuan ketika membangun Masjid? Atau dalam kata lain, siapakah yang dapat disebut sebagai orang yang melaksanakan hak (kewajiban) pembangunan Masjid?

Maka, mereka adalah orang-orang yang senantiasa berpikiran untuk memakmurkannya, mereka yang selalu berpikiran untuk menjaga keadaannya tetap baik dan bersih, mereka yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Semua orang menyatakan dengan ucapan, “Kami beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir.”

Namun, Allah Ta’ala berfirman bahwa suatu kepastian juga adanya praktek nyata dari itu dan hal itu akan terwujud ketika menampilkan amal praktis iqamatush shalat (penegakan shalat).

Dalam hal ini ada pertanyaan mengenai apa iqamatush shalat itu dan bagaimana mutu praktek nyatanya? Atau, bagaimanakah kita dapat menegakkan shalat?

Hal pertama dalam hal praktek nyata iqamatush shalat adalah dengan mendirikan shalat berjamaah. Hal kedua ialah menegakkan kekhusyuan dan tawajjuh dalam shalat. Hal itulah yang kita ketahui dari sabda-sabda dan tafsir Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dengan demikian, orang-orang yang menegakkan shalat secara hakiki adalah mereka yang terbiasa shalat berjamaah dan shalat dengan menjaga pengarahan segala perhatiannya murni kepada Allah semata. Mereka melakukan shalat yang dalam shalat itu mereka iringi dengan doa-doa kepada Allah, beristighfar kepada-Nya dan menjaga fokus perhatian mereka. Jika ketika shalat perhatian kita kesana-kemari, arahkanlah kepada Tuhan. Setiap kita dapat mengevaluasi diri, sejauh mana kita berusaha untuk meraih standar iqamatush shalat tersebut?

Dalam dunia yang penuh kebendaan ini kebanyakan manusia tidak menaruh perhatian pada shalat berjamaah dengan sebenarnya. Jika pun datang ke Masjid, perhatian mereka tidak tertuju untuk menjaga perhatian yang merupakan hak shalat baik itu shalat fardhu atau pun sunnah. Jika kondisi kita seperti itu, kita sendiri yang dapat memperkirakan apakah benar kita termasuk golongan orang-orang yang membangun Masjid dan melaksanakan haknya dalam pandangan Allah Ta’ala ataukah tidak?

Kemudian, Allah Ta’ala berfirman, “Mereka membayar zakat. Mereka berkorban harta demi agama. Mereka melakukan sesuatu demi kebaikan makhluk Allah Ta’ala juga dan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada mereka.”

Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Selain kepada Allah Ta’ala, mereka tidak takut kepada siapapun. Mereka selalu khawatir jangan sampai Allah ta’ala murka disebabkan suatu amalan mereka sehingga mahrum (kehilangan) kasih sayang-Nya. Mereka menyelesaikan amal mereka sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang Allah Ta’ala arahkan dan senantiasa memperhatikan hukum-hukum yang Allah Ta’ala perintahkan dan apa yang Dia terangkan dalam Al-Quranul Karim kepada setiap Muslim hakiki.”

Jadi, ini bukanlah tanggung jawab yang kecil bagi seorang Muslim yang mu-min (beriman). Setelah berdirinya Masjid ini, tanggung jawab para Ahmadi yang tinggal di sini atau mereka yang menisbahkan dirinya dengan Masjid ini semakin bertambah dari sebelumnya. Anda harus melaksanakan kewajiban kepada Allah dan juga kewajiban kepada sesama makhluk, dengan begitu anda akan terhitung dalam pandangan Allah Ta’ala sebagai orang yang mendapat petunjuk dan kedalam golongan yang kepada mereka kasih sayang Allah Ta’ala selalu tertuju.

Pada ayat sebelum ayat ini, Allah Ta’ala berfirman bahwa orang-orang musyrik tidak memiliki hak untuk membangun Masjid-Masjid atau memakmurkannya. Sebab, hati mereka dipenuhi oleh wujud-wujud selain Allah. Adapun siapa yang hatinya dipenuhi oleh wujud selain Allah, ia tidak akan dapat melaksanakan hak Allah Ta’ala begitu juga hak makhluk-Nya.

Syirik terdiri dari beragam jenis. Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam suatu kesempatan bersabda, “Syirik terdiri dari banyak macam. Pertama, syirik yang nyata (jelas) yang jika manusia menjadikan seseorang manusia lainnya, batu, benda mati, kekuatan, dewa-dewi khayalan sebagai tuhan (sesembahan). Meskipun syirik tersebut masih ada di dunia ini secara lahiriah namun akal manusia di zaman ini sedemikian rupa dipenuhi cahaya dan pendidikan sehingga mulai memandang syirik jenis tersebut dengan pandangan kebencian. Meskipun hal-hal yang termasuk syirik ini ada di dunia ini, namun pendidikan telah membuat akal manusia menyadari sehingga tidak mengakui bahwa patung dewa atau berhala dapat berbuat sesuatu untuk kita. Hal itu sama sekali tidak diterima akal sedikit pun.

Namun, ada syirik jenis lainnya yang berdampak seperti racun secara tersembunyi. Pada zaman ini hal itu semakin meningkat, yaitu sama sekali tidak tersisa lagi adanya kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan.”

Beliau (as) menjelaskan hal tersebut bahwa seseorang mempunyai rasa percaya kepada sarana kebendaan dan sesuatu yang lain melebihi kepada Tuhan dan ia lebih fokus kepada pekerjaannya, bisnisnya dan kesibukan duniawinya. Begitu juga, ia tidak ada perhatian kepada shalat dan memakmurkan Masjid. Alhasil, kita harus berdoa kepada Allah Ta’ala dengan segala kerendahan hati, “Ya Tuhan! Jadikanlah kami mukmin yang sempurna!” Sebab, untuk menjadi mukmin pun bergantung kepada karunia Ilahi sehingga dengan meminta kepada-Nyalah maqam tersebut dapat diraih.

Kita hendaknya tidak lantas bahagia bahwa kita telah membangun Masjid yang indah di Philadelphia, di kota ini. Melainkan sembari menunaikan hak-hak Masjid, ketika hadir di hadapan Allah semoga kita dapat mendengarkan, “Merekalah orang-orang yang telah membangun Masjid karena Allah dan juga berusaha untuk melaksanakan hak-hak Masjid.”

Hal ini menjadikan mereka tergolong kelompok orang yang mendapat petunjuk dan diridhai oleh Tuhan. Wahasil, kita harus berusaha untuk menimbulkan pemikiran tersebut. Jika pemikiran itu ada dan berupaya, maka di dunia ini pun kita akan merasakan limpahan karunia dan keberkatan dari Masjid ini, anak-anak kita dan generasi keturunan kita akan melekat dengan agama dan kita pun akan tergolong sebagai orang yang menyebarkan pesan Allah Ta’ala di daerah ini, di kota ini, sebagai orang-orang yang menegakkan Tauhid dan mengibarkan panji Rasulullah (saw) di dunia ini.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menjelaskan satu tujuan dari membangun Masjid yakni Jika kalian ingan menyampaikan ajaran Islam dan pesan Islam yang hakiki di suatu daerah, maka buatlah Masjid di daerah tersebut. Beliau (as) bersabda, “Jemaat kita pada masa ini sangat memerlukan pembangunan Masjid-Masjid. Masjid adalah rumah Allah. Ketahuilah! Ketika sebuah Masjid dibangun di sebuah desa atau di sebuah kota bagi kita maka dasar kemajuan Jemaat telah diletakkan. Jika ada sebuah desa atau sebuah kota yang tidak ada orang Islam di sana atau hanya ada sedikit orang Muslim di sana, dan kalian harapkan adanya kemajuan Islam di tempat tersebut, maka bangunlah Masjid di sana. Allah Ta’ala sendiri yang akan menarik orang-orang Muslim ke Masjid tersebut.

Namun, syarat atau niat di balik pembangunan Masjid tersebut harus niat yang baik dan tulus ikhlas bukan untuk tujuan riya’ (pamer). Tidak membangun kecuali semata-mata demi memperoleh ridha Allah. Tidak boleh ada unsur hawa nafsu, keburukan, kekacauan ataupun kepentingan tertentu. (Jika demikian) maka Allah akan memberkahi perbuatan tersebut dengan berkah yang banyak.”[1]

Dengan demikian, kita harus senantiasa memperhatikan jika kita membangun Masjid dan berkorban harta untuk Masjid, jangan sampai pamer, melainkan harus disertai niat bahwa jika Masjid telah selesai dibangun nanti, maka kita akan menunaikan hak (kewajiban) ibadah kepada Allah Ta’ala sehingga anak keturunan kita terjaga dan melekat dengan agama.

Jadi, seiring dengan membangun dan memakmurkan Masjid, bertambah satu lagi tanggung jawab bagi para Ahmadi di sini untuk menjadikan Masjid ini sebagai sarana tabligh Islam. Menurut informasi yang kami dapat, jumlah Masjid atau pusat-pusat Islam di kota ini sebanyak 47 buah namun Masjid kita ini adalah Masjid pertama yang dibangun secara resmi sebagai Masjid. Walhasil, ketika Masjid kita ini dibangun di kota ini secara resmi sebagai Masjid, bukanlah hanya demi memberitahukan kepada orang-orang bahwa bentuk Masjid umat Muslim seperti ini melainkan untuk mengabarkan bahwa dari Masjid ini akan memancar keindahan Islam dan wajah asli ajaran Islam yang cinta damai di hadapan dunia.

Kitalah yang menyebarkan pesan Islam yang hakiki kepada dunia disertai doa-doa dan ibadah-ibadah dan sekarang di sini kami akan menyebarkannya dengan kekuatan lebih dari sebelumnya melalui perantaraan teladan amal perbuatan nyata kita. Kita juga akan membuat bertambah jumlah penduduk Ahmadi Muslim dengan menampilkan corak keteladanan amal perbuatan ajaran Islam di daerah ini.

Namun saya mendapatkan laporan bahwa rumah para Ahmadi di sini pada umumnya berjarak jauh dari Masjid, kecuali satu atau dua rumah saja. Saya sudah berbincang dengan Amir Jemaat di sini. Beliau menyampaikan bahwa di lahan tempat Masjid berada terdapat sepetak tanah yang luas. Di atas lahan tersebut kita dapat memperoleh izin untuk membangun. Jika diatas lahan ini kita dapat membangun flat dan rumah atau para Ahmadi mendapatkan izin untuk membangun rumah maka akan bertambahlah jumlah mereka yang tinggal di dekat Masjid.

Menurut hemat saya, usulan ini baik dan perlu direnungkan. Jika usulan ini dapat dilaksanakan, seyogyanya diupayakan supaya di sini para Ahmadi Ahmadi membuat rumah dan tinggal di kawasan ini. Jika para Ahmadi dapat menetap di sini disertai niat memakmurkan Masjid dan menyampaikan ajaran Islam hakiki maka Allah Ta’ala akan memberkati niat tersebut. Insya Allah Ta’ala hal ini juga akan menjadi penyebab bertambahnya warga Ahmadi.

Tarikh (Sejarah) kita memberitahukan kepada kita bahwa pada tahun 1920 ketika Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq Sahib datang di Amerika sebagai muballigh, beliau tiba di pelabuhan Philadelphia, namun saat itu beliau tidak diizinkan masuk ke dalam negeri. Beliau dikurung di sebuah rumah. Dalam penjara tersebut ada juga narapidana lainnya. Berkat tabligh beliau, dalam jangka dua bulan, 15 narapidana lainnya baiat masuk Islam.

Seiring dengan tabligh, beliau pun menampilkan contoh amalan, ketakwaan dan doa-doa. Inipun merupakan hal penting ketika tabligh. Menurut informasi laporan, selama beliau menetap di sini telah baiat 5 atau 6 ribu orang kedalam Jemaat.

Pada saat itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jika jumlah baiat bertahan seperti ini, dalam hitungan puluhan tahun saja jumlah Ahmadi bisa mencapat ratusan ribu orang.”

Walhasil, target tersebut tidak dapat tercapai dikarenakan sebab-sebab yang menghambat atau keadaan saat itu yang tidak kita ketahui. Atau mungkin itu disebabkan oleh kelemahan dari pihak kita. Namun sekarang merupakan kesempatan baik bagi kita untuk mengupayakannya disertai tekad kuat.

Bahkan pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun pesan tabligh sudah sampai di sini. Hal itu telah dijelaskan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam buku beliau Barahin Ahmadiyah sebagai berikut, “Demikian pula, terdapat sejumlah orang Barat di negeri-negeri ini yang memuji Jemaat ini. Mereka menyatakan benar-benar sependapat dengan ajaran Jemaat Ahmadiyah dan memujinya. Contohnya, seorang dokter Baker yang namanya A. George Baker atau Bager yang tinggal di rumah no 404, Saskehana Avenue, Philadelphia, Amerika. Setelah membaca nama saya dalam Majalah Review of Religion dan Tadzkirah, beliau menulis dalam suratnya kepada Kepala Redaksi Majalah tersebut, ‘Saya sangat sependapat dengan pemikiran Imam Anda sekalian. Beliau telah mempersembahkan nama Islam dengan wajah yang benar seperti telah ditampilkan oleh yang mulia Nabi Muhammad (saw).’”

Kemudian Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq dalam sebuah laporannya menulis sebagai berikut, “Saya yang lemah ini, penulis surat ini, telah mendapatkan keberhasilan-keberhasilan dalam masa singkat yang saya peroleh setelah masuk di negeri Amerika ini meskipun menghadapi berbagai hambatan dan permasalahan dari pihak orang-orang Kristen fanatik. Alhamdulillah.”

Lalu beliau menulis, “Saat ini berkat tabligh dari saya yang lemah ini telah baiat 29 pria dan wanita, berikut akan saya sampaikan nama-nama beliau dalam disertai dengan nama Islami yang baru.”

Lalu beliau menyebutkan rinciannya sebagai berikut, “Nomor pertama, satu dan dua ialah dokter George Baker dan Mr Ahmad Anderson. Beliau berdua sudah sejak lama melakukan korespondensi dengan saya yang lemah ini dan telah baiat sejak lama. Mereka berdua adalah Muslim yang mukhlis. Karena itu, saya merasa perlu untuk mencantumkan nama mereka berdua paling pertama dalam daftar.”

Seperti yang telah saya katakan, Hadhrat Mufti menguraikan juga nama-nama orang-orang lain lainnya. Saya dengar saat ini di Philadelphia telah dicari dan ditemukan kuburan Dr Baker. Beliau wafat pada tahun 1918 dan dimakamkan di sini.

Dengan demikian, dalam hal ini Jemaat telah masuk ke negeri ini sekitar satu seperempat abad (125an tahun) lalu. Namun seperti yang saya katakan ketika saat ini Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk membangun Masjid yang indah di kota ini, dengan perantaraan ini hendaknya Jemaat di sini dan muballighnya membuat program tabligh disertai tekad kuat yang dengannya ajaran Islam yang indah dan pesan ini dapat menyebar sehingga dari sisi kedamaian dan keindahannya orang-orang akan berkeinginan dan berusaha untuk pindah dan menetap di daerah ini.

Dari segi jumlah penduduk, kota ini mendapatkan peringkat keenam diantara kota-kota di Amerika. Jika di kota ini dan di kawasan sekitar ini kita sampaikan tabligh Islam dengan baik, maka akan terlahir orang-orang dari kalangan mereka yang – insya Allah – menjadi pribadi-pribadi sejati penyembah Allah, memakmurkan Masjid dan menjadi orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala serta mendapatkan petunjuk.

Walhasil, setiap Masjid yang kita bangun membawa tantangan besar bagi kita untuk memperbaiki kondisi amal perbuatan diri kita masing-masing. Hal demikian ialah dalam jalinan dengan Allah Ta’ala, dalam contoh amal perbuatan yang harus memperbaiki diri dan juga harus membuka medan pertablighan. Jangan lantas bahagia dengan hanya telah membangun Masjid. Kita telah beriman kepada hamba sejati Rasulullah di zaman ini yang akan menghidupkan Islam kembali dan memulai hidup baru.

Beliau (as) bertugas untuk menghilangkan segala kesalahpahaman dari benak dunia yang telah timbul berkenaan dengan Islam, apakah timbul dengan perantaraan non Muslim ataukah yang timbul dari tafsir keliru orang-orang yang menyebut dirinya ulama. Sekarang ini  hal ini merupakan tugas para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dari sisi ini, maksimalkanlah segala upaya dan kapasitas kita demi memperbaiki keadaan-keadaan kita, membuat tercapai kondisi diri dan ibadah-ibadah kepada standar yang dalam pandangan Tuhan layak untuk diterima yang berkenaan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah berkali-kali menekankan pada kita.

Dana yang dikeluarkan untuk pembangunan Masjid ini menurut laporan yang sampai kepada saya adalah 8.100.000 (delapan juta seratus ribu dollar Amerika Serikat). Sepertiga bagian ialah dari Jemaat [lokal Philadelpia], rincian selebihnya akan saya sampaikan nanti. Sebagiannya lagi dibantu oleh Markas Nasional. Namun pengeluaran dana sebesar 8,1 juta dolar AS itu akan berfaedah jika kita dapat memenuhi tujuannya. Meskipun para Ahmadi pada saat ini tinggal jauh dari Masjid ini, hendaknya mereka yang tinggal di kota ini berusaha untuk memakmurkan 5 waktu shalat di Masjid.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) pernah bersabda, “Perhiasan yang sebenarnya dari Masjid bukanlah dengan bangunannya, melainkan dengan para jamaah shalatnya yang mendirikan shalat dengan keikhlasan. Jika tidak demikian, semua Masjid ini akan kosong.”

Pada zaman itu Masjid-Masjid kosong dan Masjid Masjid yang saat ini ramai pun di dalamnya teriakan-teriakan para ulama yang salah arah telah menjadikan Masjid sebagai tempat kekacauan bukannya kedamaian.

Beliau bersabda, “Masjid Rasulullah saat itu kecil saja. Atap-atap Masjid dibuat dari daun-daun kurma. Jika hujan, bocorlah ia. Namun, betapa hebatnya kegiatan yang telah dilakukan di dalamnya. Keramaian Masjid adalah dengan para jamaahnya yang memakmurkannya.

Berkenaan dengan Masjid ada perintah supaya dibangun dengan ketakwaan. Jadi, jika kita shalat di dalamnya dengan keikhlasan dan memakmurkan Masjid ini dengan melangkah diatas ketakwaan, maka ibadah-ibadah kita pun akan diterima dan tabligh Islam di kalangan non Muslim akan terlaksana dengan baik. Hadhrat Rasulullah (saw) pernah bersabda, مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ ، كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ ‘Siapa yang masuk ke dalam Masjid disertai niat untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka orang tersebut akan terhitung seperti orang yang jihad di jalan Allah.[2] Inilah tujuan dari Muslim hakiki.”

Saat ini Islam dicoreng namanya dan dikatakan bahwa Islam mengajarkan jihad permusuhan (dengan pedang atau kekerasan) dan amalan sebagian umat Muslim pun memberikan andil dalam nama buruk tersebut. Namun tugas seorang mukmin hakiki adalah mempelajari kebaikan dan mengamalkannya. Sebarkanlah kebaikan dengan sedemikian rupa seolah-olah tengah berjihad. Jihad seperti itu merupakan tugas kita para Ahmadi pada masa ini.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkali kali menekankan kepada kita untuk melangkah diatas jalan kebaikan dan takwa. Sebagaimana beliau bersabda, “Dengarkanlah dengan seksama wasiat ini! Siapa menciptakan jalinan ketaatan dan kesetiaan dengan saya dan yang masuk kedalam Jemaat ini maka tujuan dari hal itu ialah semata-mata demi sampai pada derajat tinggi akhlak dan perangai mulia serta dalam ketakwaan. Juga, supaya setiap jenis fasad (kerusakan), kejahatan dan perbuatan buruk tidak dapat mendekati mereka. Juga, supaya mereka disiplin mendirikan shalat lima waktu, tidak berkata dusta, tidak menyinggung hati orang lain dengan ucapannya, tidak menyakiti dengan jenis perbuatan apa pun, tidak terjerumus dalam keburukan apapun dan tidak sedikit pun terpikir di dalam hatinya untuk melakukan kejahatan, aniaya, fasad dan kekisruhan apapun.”

Walhasil dia tidak melakukan berbagai jenis dosa maksiyat, pelanggaran, perbuatan dan ucapan buruk dan berbagai jenis keburukan dan menjauhi segala gejolak hawa nafsu dan perbuatan yang sia-sia lalu menjadi hamba Tuhan yang berhati suci, marasa cukup dan tidak tersisa sedikitpun kekotoran yang beracun di dalam wujudnya. Yang menjadi targetnya adalah menebar simpati kepada segenap umat manusia dan takut kepada Allah ta’ala. Ia juga menyelamatkan tangannya, hatinya dan pikirannya dari setiap ketidaksucian, cara-cara yang menimbulkan kekacauan dan pengkhianatan. Ia mendirikan shalat lima waktu dengan penuh disiplin. Ia menghentikan kezaliman, aniaya, mencuri, menyogok, merampas hak dan bersikap berat sebelah.”

Berpihak berat sebelah pun adalah keliru. Begitu juga merampas hak orang lain dan khususnya harus menaruh perhatian untuk tidak berkawan dengan orang yang tidak baik.

Secara khusus para pemuda hendaknya menaruh perhatian terhadap hal ini. Sebab, pada masa ini banyak sekali sarana modern untuk menuju pergaulan buruk. Berbagai jenis media sosial dan lain-lain mengandung banyak hal pembicaraan yang buruk yang mana semua ini adalah bentuk pergaulan buruk. Kita seharusnya berusaha untuk terhindar darinya.

Saat ini banyak sekali orang yang mengambil suaka dari Pakistan dan menetap di sini atau sebagai pengungsi. Bagi mereka perlu menaruh perhatian khusus terhadap tema ini. Para Ahmadi janganlah hanya menaruh perhatian pada kegembiraan dan hasrat duniawi semata, melainkan harus berpikir untuk di akhirat nanti. Nikmat-nikmat dan manfaat di sana adalah abadi.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam satu kesempatan pernah bersabda, “Allah Ta’ala pun membuat perhitungan catatan harian amal perbuatan manusia. Begitupun manusia hendaknya menulis catatan harian amalannya.” (Manusia sendiri pun hendaknya berupaya untuk memperhatikan kebaikan dan keburukan apa saja yang telah ia lakukan sepanjang hari tadi. Perbuatan apa saja yang mengandung kebaikan dan tidak ada kebaikan?)

“Hendaknya renungkanlah, jangan hanya buat catatan harian saja melainkan renungkan juga sampai sejauh mana ia maju dalam kebaikan-kebaikan.”

(Dengan perenungan amal perbuatan saja manusia dapat melangkah menuju kebaikan-kebaikan.)

“Perhatikanlah, janganlah sama kondisi manusia antara hari ini dan kemarin. Jika hari ini dan hari kemarin seseorang sama dalam hal kemajuan di bidang kebaikan, berarti dia berada dalam kerugian. Jika manusia meyakini dan memiliki keimanan yang sempurna kepada Tuhan, maka orang tersebut tidak akan pernah disia-siakan.”

Patut untuk direnungkan. Ketika Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya kepada kita, maka wajib bagi kita untuk mensyukurinya. Adapun orang yang melupakan hak kepada Allah Ta’ala dan ibadah kepada-Nya disebabkan bisnisnya atau tidak menaruh perhatian sebagaimana mestinya, hendaknya mengevaluasi diri, apa janji baiatnya dan bagaimana prakteknya?

Begitupun bagi mereka yang pendatang baru di sini, hendaknya ingat bahwa larut dalam keduniaan bukanlah kemajuan melainkan kehancuran. Mereka harus senantiasa menaruh perhatian untuk mendahulukan agama diatas dunia, memenuhi hak-hak Masjid dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Saya akan sampaikan satu lagi kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau bersabda, “Ingatlah bahwa Jemaat kita tidak bertujuan seperti kehidupan orang-orang duniawi pada umumnya. Dengan mengatakan di mulut saja telah masuk ke dalam Jemaat ini lalu tidak merasa perlu melakukan amal perbuatan – sebagaimana kondisi umat Muslim yang menyedihkan yang jika ditanya, ’Apakah kamu Muslim?’ Maka mereka menjawab, ‘Syukur Alhamdulillah saya Muslim’ – , namun mereka tidak shalat dan tidak menghormati syiar-syiar Allah Ta’ala.

Saya tidak menghendaki kalian hanya mengikrarkan di mulut saja namun tidak memperlihatkan amal perbuatan. Itu adalah kondisi malas dan Allah Ta’ala tidak menyukainya. Kondisi dunia saat ini menuntut sehingga Allah ta’ala mengutus saya untuk menciptakan perbaikan. Jadi, jika ada orang yang telah menjalin hubungan dengan saya namun tidak melakukan ishlaah (perbaikan) dirinya dan tidak meningkatkan potensi amal perbuatannya, bahkan menganggap ucapan di mulut saja sudah cukup maka hal itu berarti seolah-olah dengan amalannya tersebut dia tidak memerlukan diutusnya saya.”

(Kemajuan potensi amal perbuatan seperti yang telah dijelaskan ialah memenuhi huquuquLlah (kewajiban-kewajiban terhadap Allah Ta’ala), ibadah kepada-Nya dan memenuhi hak-hak makhluk-Nya serta sebagaimana juga menyampaikan pesan Allah Ta’ala kepada dunia.)

Beliau (as) bersabda, “Jika kalian ingin membuktikan dengan amal perbuatan bahwa kedatangan saya ini tidak berguna (Urdu: be sud), lantas apa artinya menjalin hubungan dengan saya? Jika kalian menjalin hubungan dengan saya maka penuhilah apa yang menjadi tujuan saya yakni perhatikanlah keikhlasan dan kesetiaan kalian kepada Allah Ta’ala. Amalkanlah ajaran Al-Quran seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Pelajarilah kehendak sebenarnya dari Al Quran dan amalkanlah. Janganlah hanya mencukupkan pada ucapan saja di hadapan Tuhan, namun tidak dijumpai amalan dan perbuatan. Ingatlah bahwa Jemaat yang ingin Allah Ta’ala dirikan ini tidak akan dapat hidup tanpa ada amalan.” (Tidak ada kehidupan bagi Jemaat tanpa amal perbuatan) “Inilah Jemaat agung yang persiapannya telah dilakukan sejak dari zaman Adam. Tidak ada satupun nabi yang datang ke dunia ini yang tidak mengabarkan pendakwaan ini. Jadi, hargailah itu dengan membuktikan bahwa kalianlah yang merupakan jamaah yang benar.”

Walhasil, ini bukanlah pekerjaan yang mudah, perlu adanya perhatian khusus dengan untuk hal tersebut. Harus senantiasa diingat, dunia dan harta kekayaan duniawi bukanlah jaminan untuk keberlangsungan anak keturunan kita, melainkan jalinan dengan Allah Ta’ala-lah yang menjadi jaminan keberlangsungan untuk meraih karunia dan rahmat Allah Ta’ala di dunia dan akhirat. Melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala-lah yang merupakan jaminan keberlangsungan. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk mengarungi hidup sesuai dengan itu.

Sebagaimana biasanya ketika peresmian Masjid saya selalu menyampaikan sedikit rincian perihal Masjid yang baru dibangun, untuk itu akan saya sampaikan. Tanah lahan untuk Masjid tersebut dibeli pada tahun 2007. Sekitar 6 tahun kemudian yaitu pada tahun 2013 pengerjaan pembangunannya dimulai. Di tengah-tengah pengerjaannya ada beberapa kendala – baik yang jaiz (benar-benar seyogyanya) atau tidak jaiz – yang menyebabkan pembangunan Masjid baru selesai tahun ini.

Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa pembangunan Masjid ini telah menghabiskan biaya 8.100.000 (delapan juta seratus ribu dollar Amerika Serikat). Jemaat Philadelpia sendiri menyumbangkan dana sebesar 2.435.000 dollar lebih sedikit. Jemaat-Jemaat Amerika lainnya menyumbangkan dana sebesar 1.240.000 dollar dan markaz nasional menyumbang 4.470.000 dollar lebih. Jadi, sekitar lebih dari setengah biaya pembangunan ialah sumbangan dari markaz nasional.

Pada awalnya hanya dibeli 2 acres tanah. [1 acre = 0, 4 hektar]. Kemudian dibeli lagi tambahan 1 acre. Lalu pada tahun 2015 seorang non Muslim nampaknya seorang Kristen telah menghibahkan lahan tanahnya yang menyatu seluas 0.75 acre kepada Jemaat. Apapun tujuan hibah itu bersifat duniawi, namun dia telah menyumbangkannya kepada Jemaat sebagai amal (derma). Total area tanah saat ini seluas 4 acres. Seperti yang telah saya katakana kita bisa membuat program untuk membangun perumahan atau flat diatas lahan tersebut. Luas area bangunan ini sebesar 21.400 kaki persegi. Terdiri dari 3 lantai. Pada bagian basement (dasar) terdapat dapur komersial. Pada lantai tengah dibuatkan flat untuk tempat tinggal muballigh. Pada lantai atas terdapat perkantoran dan perpustakaan.

Bagian kedua yang mana itu dibangun untuk sebagai Masjid ada dua tingkat. Ada hall (ruangan) besar untuk kaum bapak dan ibu seluas 5000 kaki persegi yang mana dibuatkan pembatas menjadi dua bagian yang dapat menampung sekitar 350 jamaah kaum bapak dan 350 untuk jamaah kaum ibu. Setiap bagian untuk pria dan wanita masing-masing dilengkapi dengan wash room, selebihnya untuk keperluan lain. Di dalam bangunan tersebut juga terdapat hall multi fungsi seluas 6000 feet2 yang dapat menampung 700 orang dan bisa juga untuk permainan dan ada juga perkantoran Jemaat. Areal parkir telah dibuat untuk menampung 86 mobil atau lebih.

Seperti halnya telah saya sampaikan bahwa Allah Ta’ala telah menjelaskan tujuan dari pembangunan Masjid . Semoga setiap Ahmadi dapat memenuhi tujuan tersebut dan semoga Masjid ini berfungsi sebagai batu loncatan untuk menyampaikan pesan Islam hakiki di daerah ini. [Aamiin]

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah             : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK)

Editor                       : Dildaar Ahmad Dartono (Qadian, India)

Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Malfuzhat, Vo. 7, hal 119 – 120, edisi 1985, terbitan UK

[2] Shahih ibn Hibban (صحيح ابن حبان), kitab tentang keilmuan (كِتَابُ الْعِلْمِ), (بَابُ الزَّجْرِ عَنْ كِتْبَةِ الْمَرْءِ السُّنَنَ), (ذِكْرُ التَّسْوِيَةِ بَيْنَ طَالِبِ الْعِلْمِ وَمُعَلِّمِهِ). no. 87