بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 28 Ikha 1390 HS/Oktober 2011

di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat dengan sarana [mengutus] Hadhrat Masih Mau’ud as dan menganugerahinya keistimewaan bahwa ia telah digabungkan dengan kaum sebelumnya; ini bukanlah keistimewaan biasa [kecil tak berarti], [Jemaat] ini bukanlah Jemaat biasa. Ribuan, ratusan ribu orang Muslim yang berfitrat baik dari berbagai penjuru dunia yang sangat berhasrat mengalami zaman [yang dijanjikan] ini, namun sampai meninggal keinginan mereka tidak terpenuhi. Maka setiap orang yang menyatakan diri telah bergabung dengan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as harus memperhatikan sepenuhnya hal-hal yang telah diamalkan oleh para pendahulu (para sahabat) yang bersamaan dengan baiat kepada Hadhrat Rasulullah saw sekaligus menjalin hubungan erat dengan beliau saw. Mereka telah bergabung dan menjadi ummat beliau saw dan melalui tarbiyyat beliau saw mereka telah menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala demikian kokohnya sehingga tentang mereka itu Allah Ta’ala berfirman, مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ ‘may yasyri nafsahu btighaa-a mardhaatillaahi’ – “…yang menjual dirinya untuk mencapai keridhaan Allah…’ (Surah Al-Baqarah, 2 : 208). Jadi, untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala itu mereka telah mengikuti dan mengamalkan perintah-perintah-Nya. Mereka tidak peduli lagi terhadap kehidupan duniawi dan telah memasrahkan jiwa-raga mereka didalam berbagai macam kancah kesulitan. Tujuan mereka hanya satu yakni, demi meraih kesenangan dan kecintaan Allah Ta’ala. Sebagai balasannya Allah Ta’ala menganugerahkan ni’mat-ni’mat-Nya yang tidak terhitung banyaknya kepada mereka. Para Sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum selalu berusaha mengamalkan perintah-perintah Alqur’anul Karim bahkan semangat untuk meraih kercintaan Allah Ta’ala demikian hebatnya sehingga mereka bertanya kepada Hadhrat Rasulullah saw, “Wahai Rasul Allah! Kebaikan apa lagi yang harus kami lakukan?” Begitu sering atau banyaknya mereka bertanya sehingga Allah Ta’ala sendiri telah melarang mereka, jangan berbuat demikian, sekarang Syari’at tengah turun dengan gencar janganlah kalian terlalu banyak bertanya. Sebab, jika terlalu banyak pertanyaan dari kalian perintah telah diturunkan maka kalian akan mendapat banyak kesulitan. Jadi, Allah Ta’ala adalah رؤوف بالعباد ‘rauufun bil ’ibaad’ – “Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. Dia memandang hamba-hamba-Nya dengan pandangan kasih sayang-Nya yang khas, dan menghindarkan hamba-hamba-Nya dari kesulitan, yaitu mereka yang setiap saat siap-sedia menyerahkan diri dihadapan Allah Ta’ala di kala kesulitan-kesulitan sedang menimpa mereka. Mereka selalu siap-sedia mengamalkan hukum-hukum-Nya. Sehingga Allah Ta’ala-pun menaruh belas kasih yang khas terhadap mereka. Dan orang-orang yang telah mempunyai hubungan yang kokohkuat dengan Allah Ta’ala juga menjadi para penampil sifat-sifat Allah Ta’ala di kalangan masyarakat lingkungan mereka. Mereka berusaha keras mengamalkan semua ajaran-ajaran Allah Ta’ala yang telah diperintahkan-Nya kepada mereka. Mereka juga berlaku sangat kasih-sayang terhadap makhluk-makhluk Allah Ta’ala dan senantiasa memenuhi hak makhluk-makhluk-Nya itu.

            Jadi, itulah ajaran hakiki Islam yang mempererat hubungan hamba-hamba dengan Allah Ta’ala dan mengingatkan mereka untuk memenuhi kewajiban terhadap hak-hak sesama manusia.             Jadi, inilah dia Islam hakiki yang telah dijumpai, dipelajari dan diamalkan oleh para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dan untuk mengajarkan itulah pula Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang ke dunia. Beliau as telah datang untuk memberi tahu dan menunjukkan jalan kearah itu. Maka sekarang kita harus mengadakan koreksi dan peninjauan terhadap diri kita masing-masing. Sehubungan dengan itu saya akan membacakan beberapa kutipan dari sabda-sabda Hadhrat Masih  Mau’ud as yang menggugah hati kita untuk melakukan koreksi terhadap diri kita, terhadap keadaan kita sendiri. Kutipan pertama yang ingin saya ambil adalah mengenai gambaran dan  keadaan dunia zaman sekarang. Kemudian beliau memberitahu, harus bagaimanakah sikap Jemaat sebaiknya?

            Beliau as bersabda mengenai ulama umumnya yang tidak percaya kepada beliau as pada zaman ini,

            “Saya melihat pada waktu sekarang inilah keadaan para ulama, لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ‘lima taquuluuna maa laa taf’aluun’ – “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kamu sendiri tidak mengamalkannya.” (Surah Ash-Shaf, 61 : 3). (Di dalam Alqur’an asy-Syarif Allah Ta’ala berfirman, inilah keadaan ulama pada zaman sekarang bahwa mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau amalkan? Bersabda, “Pembenaran atas keadaan ini) banyaknya hal demikian yang dapat disaksikan (ditemukan) dan mereka beriman kepada Alqur’an Karim hanya tinggal di mulut belaka. Kalau tidak, mengapa banyak sekali manusia telah keluar sepenuhnya meninggalkan pemerintahan Alqur’an. Dapat diketahui dari Hadis-hadis yang menjelaskan bahwa pada suatu waktu Alqur’an Syarif akan terbang ke langit. Saya betul-betul  mengetahui bahwa waktu itu sekarang sudah tiba. Sekarang manakah itu kesucian hati dan ketakwaan yang sebenarnya yang timbul karena mengamalkan ajaran Alqur’an? Jika keadaan dunia belum demikian, mengapa Allah Ta’ala telah mendirikan Silsilah (Jemaat Ahmadiyah) ini? Para penentang kita sama sekali tidak mampu memahami suasana nyata seperti ini, akan tetapi kelak mereka akan menyaksikan kebenaran Jemaat kita ini begitu jelas dan terang sekali laksana keadaan siang hari bolong.” Bersabda, “Tuhan sendiri sedang mempersiapkan sebuah Jemaat yang beriman sepenuhnya kepada Alqur’an Karim.” (Sekarang tanggung jawab sangat besar sekali yang telah beliau as letakkan diatas pundak Jemaat dan beliau as juga sangat mengharapkan Jemaat ini beriman sepenuhnya kepada Alqur’an, bukan hanya beriman (mempercayai kebenaran) kepada Alqur’an, bukan hanya beriman kepada sebuah Kitab, melainkan berusaha mengamalkan ajaran-ajarannya.) Selanjutnya beliau as bersabda, ”Setiap jenis pemalsuan akan dikeluarkan dari padanya. (Kita harus memeriksa kedaan pribadi masing-masing jika terdapat dalam diri kita campur-aduk dengan urusan duniawi akan disingkirkan daripadanya) dan akan diciptakan sebuah golongan yang murni, yaitu Jemaat inilah (Ahmadiyyah). Oleh sebab itu saya (Masih Mau’ud) tekankan kepada kalian, jadilah kalian orang-orang yang taat sepenuhnya kepada perintah-perintah Allah Ta’ala dan ciptakanlah perubahan dalam kehidupan sehari-hari seperti yang telah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jika tidak demikian, jangan-jangan manusia akan tertipu melihat kalian.” (Setiap Ahmadi harus menjadi contoh teladan bagi yang lain) Bersabda, ”Saya ingin berkata juga bahwa setiap orang berkewajiban untuk menghindarkan diri dari penipuan dan kebiasaan berkata dusta. Jika kalian ingin tahu siapa yang dikatakan Khilafat ‘ala minhajjin nubuwwah maka tengoklah Silsilah ini. (Yang ingin melanjutkan silsilah Khilafat lakukanlah diatas silsilah yang berjalan diatas koridor nubuwwah (kenabian)). Saya betul-betul mengetahui apabila karunia Allah Ta’ala turun atau hujan turun diatas bumi dimana tumbuh rerumputan dan tanaman-tanaman yang berfaedah maka bersamaan dengan itu tumbuh pula rumput-rumputan dan tanaman yang tidak berfaedah juga. (Berkenaan dengan itu beliau as memberitahukan, diantara manusia ada juga orang-orang yang melakukan penda’waan yang salah. Kemudian beliau as bersabda,) ”Maka sekarang kewajiban setiap orang untuk memanjatkan doa dengan khusyu dan dengan perasaan pilu kepada Allah Ta’ala supaya semua pekerjaan menjadi sempurna.” (Yakni, untuk maksud dan tujuan apa Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang kedunia menjadi sempurna.) Dan sibuklah terus dalam memanjatkan doa. Asas utama silsilah Ahmadiyah terletak pada Nash-nash Alqur’an dan Hadis-hadis. Dan untuk mendukung serta menjamin kebenaran Silsilah ini Allah Ta’ala telah memberi tanda-tanda-Nya dari Bumi dan dari Langit.” (Yakni Allah Ta’ala telah menunjukkan tanda-tanda dari Bumi dan dari Langit bagi jaminan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjadi hujjah diatas semua manusia yang tidak dapat disangkal lagi.) Beliau as bersabda, ”Ingatlah baik-baik! Orang yang datang dari Allah Ta’ala, ia diberi sebuah cap (stempel, pengesahan) oleh Allah Ta’ala dan cap itu adalah cap Muhammadi, yang tidak dapat dipahami oleh para penentang kita.” [2]

            Pada zaman sekarang ini setelah Hadhrat Rasulullah saw, siapa saja yang akan datang dari Allah Ta’ala akan datang dari pengikut Rasulullah saw dan ia akan bekerja dibawah cap beliau saw. Akan tetapi manusia tidak paham. Beliau as bersabda, “Tegakkanlah contoh teladan kalian supaya dunia mengerti bahwa Jemaat ini sudah berdiri, yaitu Jemaat yang mempunyai hubungan yang khas dengan Allah Ta’ala.”

            Kemudian beliau as bersabda,

            “Hai Jemaatku! Semoga Allah Ta’ala beserta kalian, semoga Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mempersiapkan bagi kalian perjalanan menuju hari akhirat sebagaimana  para sahabat Hadhrat Rasulullah saw telah Dia persiapkan. Ingatlah baik-baik bahwa dunia ini tidak mempunyai nilai apa-apa. Kehidupan yang semata-mata demi kesenangan duniawi adalah kehidupan laknat. Alangkah malangnya orang yang seluruh pikiran dan angan-angannya hanya tercurah kepada urusan duniawi belaka. Jika didalam Jemaatku ada orang seperti itu maka ia sia-sia saja menganggap dirinya sebagai anggota Jemaatku. Sebab keadaannya seperti sebatang ranting yang kering yang tidak akan menghasilkan buah apapun.” [3]

            Selanjutnya untuk perbaikan diri dan istiqamah (keteguhan) kita Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

            ”Menurut pendapatku ada sebuah cara untuk membuat manusia menjadi suci dan cara itu sangat baik sekali, tidak mungkin ada yang lebih baik dari cara ini yaitu, manusia jangan berbuat takabbur dan berbangga diri baik dari segi ilmu maupun dari segi marga atau keturunan dan juga dari segi harta.” (Takabbur semacam ini sangat lumrah dan pada umumnya terdapat pada manusia. Ada orang takabbur karena ilmunya, karena martabat keluarganya, atau karena harta kekayaannya.) Beliau as bersabda, ”Jangan takabbur karena alasan apapun. Apabila Allah Ta’ala menganugerahkan mata hakiki kepada hamba-Nya maka ia dapat melihat bahwa setiap cahaya yang dapat menyelamatkan manusia dari kegelapan cahaya itu datangnya dari langit. Dan setiap waktu manusia memerlukan cahaya yang datang dari Langit itu. Sebagaimana mata zahir manusia tidak dapat melihat tanpa cahaya matahari yang datang dari langit, demikian juga cahaya bathin yang bisa menyingkirkan setiap jenis kegelapan  dan menciptakan cahaya kesucian dan takwa datangnya dari Langit juga. Saya berkata dengan sesungguhnya bahwa takwa manusia, iman, ibadah dan thaharah (kesucian) semuanya datang dari Langit. Dan hal itu semua terletak pada karunia Allah Ta’ala. Jika Dia kehendaki maka semua kebaikan akan tetap terpelihara, dan jika Dia kehendaki akan Dia hapuskan semuanya.” [4]

            Dan setiap kedudukan apapun yang dianugerahkan Tuhan kepada hamba-Nya semuanya merupakan karunia Allah Ta’ala. Maka jika Dia kendaki, semua karunia itu akan tetap berada ditangan hamba-Nya. Sebaliknya jika tidak Dia kehendaki ia akan hilang semuanya. Jadi, atas dasar apa manusia  berbuat takabbur? Janganlah sesorang berbangga diri karena ketakwaannya, karena keadaan imannya, karena mutu ibadah dan doa-doanya, dan janganlah pula berbangga diri karena kesucian pribadinya dan karena keadaan maju duniawinya, sebab segala sesuatu datang dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu setiap waktu manusia harus selalu merundukkan kepala dengan rasa syukur di hadapan Allah Ta’ala.

            Bersabda, ”Jadi yang dikatakan orang yang telah memperoleh ma’rifat sejati adalah orang yang menganggap dirinya tidak mempunyai hakikat apa-apa sedikitpun, menganggap dirinya sama-sekali tidak mempunyai nilai apapun dan banyak memohon karunia kepada Allah Ta’ala dengan sangat merendahkan diri sambil bersujud di hadapan singgasana Ilahi. Dan ia selalu memohon nur ma’rifat kepada Allah Ta’ala yang dapat membakar hangus perasaan hawa nafsunya. Dan di dalam hatinya terdapat cahaya yang menciptakan kekuatan dan semangat membara untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Kemudian jika dengan karunia Allah Ta’ala ia telah mendapat bagian daripadanya dan jika pada suatu waktu ia memperoleh kekuatan dan kelapangan bagi terkabulnya doa-doa, maka hendaknya ia jangan berlaku sombong dan takabbur. Melainkan sebaliknya ia harus semakin merendahkan diri. Jika ia merasa bahwa karunia Allah Ta’ala sedang turun kepadanya maka ia harus semakin merendahkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Sebab semakin dalam ia merasakan bahwa dirinya tidak mempunyai nilai apa-apa semakin banyak kuantitas nur Allah Ta’ala akan turun kepadanya, yang menambah cemerlang dan banyak kekuatan kepadanya. Jika manusia telah memiliki perasaan akidah seperti itu maka dapat diharapkan, dengan karunia Allah Ta’ala keadaan akhlaknya akan menjadi sangat indah sekali. Di alam dunia ini menganggap diri sendiri sebagai sesuatu yang sangat berharga adalah takabbur. Hal itu membawa kesempatan kepada manusia untuk melaknat orang lain dan menganggapnya hina. Jika takabbur telah timbul dalam pikiran seseorang ia menganggap orang lain tak ada harganya.” [5]

            Jadi, sebagaimana telah saya katakan bahwa setiap orang Ahmadi harus mengadakan korekasi terhadap pribadi mereka masing-masing, apakah kita telah berusaha mengamalkan apa yang telah dinasihatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

            Di satu tempat lain beliau as bersabda,

            “Hai orang-orang yang berbahagia (bernasib baik, beruntung!) Ikutilah oleh kalian ajaran yang diberikan kepadaku demi keselamatan kalian. Percayalah kalian kepada Tuhan Yang Tunggal yang tidak ada sekutu baginya. Janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan suatu benda yang ada di Langit maupun di Bumi. Tuhan tidak melarang kalian menggunakan suatu sarana, akan tetapi orang yang meninggalkan Tuhan kemudian bertumpu sepenuhnya kepada suatu sarana dia adalah musyrik. Semenjak zaman bihari Tuhan selalu berfirman, najat (keselamatan) tidak dapat diraih tanpa kesucian kalbu. Maka jadilah kalian orang yang berhati suci dan jauhkanlah diri dari jiwa yang penuh kedengkian dan kemarahan.” (Sesungguhnya kedengkian jiwa dan kemarahan juga memakan manusia, menimbulkan bencana kepada akhlaknya sampai binasa.) Selanjutnya beliau as bersabda, ”Jauhilah kedengkian dan kemarahan. Di dalam nafsu amarah manusia  terdapat banyak sekali keburukan dan kekotoran. Bahkan yang paling besar adalah kotornya takabbur.” (Takabbur adalah dosa yang paling besar) “Jika tidak ada sifat takabbur tentu tidak akan ada orang kafir. maka terlebih dahulu jadilah kalian orang berhati miskin, berlakulah simpati dan merendahkan diri terhadap sesama manusia seumumnya apabila kalian memberi nasihat kepada orang-orang untuk menjadi para ahli surga.” (Sekarang kita mempunyai banyak ulama dan juga banyak da’i ilallah, banyak yang menyerahkan diri untuk berkhidmat kepada agama, sehingga sekarang banyak yang melakukan pengkhidmatan yang besar-besar. Akan tetapi kadangkala timbul masalah pribadi yang membuat orang menjadi lupa, takabbur mulai mendominasi perasaan dan kesombongan muncul. Keakuan [ananiyah, egoisme] pun mengemuka. Bersabda, kalian yang memberi nasihat kepada manusia untuk menjadi ahli surga.) Nasihat kalian akan dapat dibenarkan jika kalian sendiri tidak mencintai dunia yang hanya untuk beberapa lama saja kalian tinggal di dalamnya.” (Yakni apabila timbul masalah berkaitan dengan pribadi janganlah cenderung kepada dunia bahkan sebaliknya kita harus menghindarinya.) Bersabda, ”Laksanakanlah kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh, dengan perasaan takut yang timbul dari dalam lubuk hati sebab kalian akan ditanyai tentang itu.” (Yakni semua yang Tuhan wajibkan diatas kita akan ditanyai pertanggungan jawabnya. Oleh sebab itu rasa takut harus selalu ditimbulkan di dalam hati kita.) Bersabda, ”Banyak-banyaklah memanjatkan doa di waktu menunaikan salat, supaya Allah Ta’ala menarik kalian kearah-Nya dan Dia membersihkan kalbu kalian. Oleh karena manusia itu lemah, maka setiap keburukan dapat dijauhkan hanya dengan kekuatan yang turun dari Allah Ta’ala. Dan selama manusia belum mendapat kekuatan dari Allah Ta’ala, manusia tidak akan mampu menjauhkan keburukan apapun yang terdapat dalam dirinya. Islam tidak menghendaki hanya secara adat kebiasaan saja menganggap dirinya telah membaca dua kalimah syahadat. Melainkan Islam yang hakiki harus dibuktikan bahwa ruh kalian jatuh merendahkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Dan kalian mengutamakan hak Allah Ta’ala serta segala segi hukum-hukum-Nya dari urusan dunia kalian.” [6]

            Sekarang setiap orang Ahmadi secara khusus harus menerapkan semua urusan itu pada diri pribadi mereka, agar mereka menjadi orang-orang yang dapat meraih karunia Allah Ta’ala sebanyak-banyaknya. Bersabda,

            ”Hai Jemaatku tercinta! Yakinlah kalian dengan sesungguhnya, bahwa zaman sudah sampai kepada penghujungnya. Dan revolusi rohani sudah  timbul dengan jelas. Oleh karena itu janganlah kalian menipu jiwa sendiri dan segeralah berusaha menyempurnakan mutu kesalehan dan ketakwaan kalian.” (Betapa penting nasihat-nasihat beliau as ini. Berusahalah sungguh-sungguh untuk melaksanakannya. Hubungan dengan Allah Ta’ala harus dijalin dengan sungguh-sungguh. Ibadah harus ditunaikan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Perintah Allah Ta’ala terdiri dari dua macam, huququllooh dan huququl ‘ibaad. Dalam pelaksanaan kedua perintah itu harus disertai kejujuran dan keikhlasan. Pelaksanaan pengkhidmatan terhadap Jemaat dan upaya menjalin hubungan satu dengan yang lain harus disertai kejujuran dan keikhlasan. )

Kemudian bersabda, ”Peganglah Alquranul Karim sebagai petunjuk utama. Dan hasilkanlah pelita dari padanya dalam setiap hal yang diperlukan. Dan janganlah kalian buang hadis-hadis seperti benda sampah, sebab ia sangat berfaedah sekali dan hadis-hadis itu telah dikumpulkan dengan sangat tekun dan kerja keras sekali. Akan tetapi jika kisah-kisah dalam Alqur’an bertentangan dengan kisah-kisah dalam hadis, maka tinggalkanlah hadis semacam itu agar kalian tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Allah Ta’ala telah menyampaikan Alquranul Karim kepada kalian dengan penjagaan yang ketat sekali maka hargailah Kalam Suci ini. Janganlah kalian mendahulukan kitab lain selain dari Alqur’an. Sebab, semua kebenaran dan kebaikan terdapat di dalam Alqur’an.” (Kebenaran dan berjalan diatas kebenaran serta beramal diatas kebenaran berasas pada ajaran Alquranusy Syarif) “Perkataan seseorang akan memberi kesan mendalam ke dalam hati orang lain apabila mereka itu yakin betul terhadap ma’rifat dan ketakwaan orang itu.” [7]

Jadi, apabila keadaan ma’rifat dan ketakwaan kita semakin meningkat maka dengan karunia Allah Ta’ala perkatan dan ucapan kita akan berkesan sangat baik di hati orang lain.

Selanjutnya dengan penuh yakin terhadap janji-janji Allah Ta’ala beliau as bersabda,

”Yakinlah kalian dengan sungguh-sungguh! Bahwa, yang dicintai oleh Allah Ta’ala bukanlah orang-orang yang berpakaian indah dan molek atau yang sangat kaya-raya dan senang-sejahtera, melainkan yang dicintai oleh Allah Ta’ala adalah orang-orang yang mendahulukan urusan agama diatas urusan dunia dan dengan murni menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka pusatkanlah perhatian kalian kearah tersebut ini bukan kearah yang disebut sebelumnya. (Yakni janganlah mendahulukan urusan dunia melainkan dahulukanlah urusan agama diatas urusan dunia. Pada waktu itu di dalam Jemaat sedang timbul perubahan sangat bersih dan suci di kalangan orang-orang Ahmadi. Namun, beliau as bersabda,) ”Jika saya menaruh perhatian terhadap keadaan Jemaat sekarang ini maka saya merasa prihatin sekali. Sekarang keadaan masih sangat lemah sekali dan masih banyak sekali peringkat atau martabat yang harus dicapai. Akan tetapi apabila saya menoleh ke arah janji-janji Allah Ta’ala yang telah Dia firmankan pada saya maka keprihatinan saya bertukar dengan harapan-harapan. Dari antara semua janji-janji Tuhan itu adalah seperti firman-Nya, وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ‘wa jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqal ladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamah’ – ”Dan Aku akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau berada diatas orang-orang yang ingkar hingga Hari Kiamat.” (Jika pada waktu itu Hadhrat Masih Mau’ud as merasa prihatin sekali terhadap keadaan para sahabat beliau as dan beliau as pun selalu mengingatkan mereka, maka setelah berlalunya waktu sekian lama kita pun harus berpikir dan lebih prihatin dari pada beliau as, bahwa keadaan kita sudah semakin menjauh jangan-jangan keadaan kita akan semakin jatuh. Jadi, kita harus banyak-banyak berpikir sambil merenungkan dan mengoreksi keadaan pribadi masing-masing. Beliau as bersabda,) ”Memang benar, Allah Ta’ala akan memberi kemenangan kepada para pengikutku diatas orang-orang yang ingkar dan diatas para penentangku. Namun, yang harus dipikirkan sungguh-sungguh adalah, dari antara para pengikutku itu tidak setiap orang dapat termasuk kedalam Jemaatku hanya karena semata-mata baiat di tanganku. Selama mereka tidak mengikuti dengan patuh-taat sepenuhnya kepadaku mereka tidak akan dapat masuk ke dalam kelompok muttabiin (pengikut). Selama tidak patuh-taat sepenuhnya, seakan-akan fana (terbenam) sepenuhnya dalam melakukan patuh-taat itu maka kedudukan sebagai muttabi’in tidak akan terbukti kebenarannya.” (Bersabda,) ”Dari hal itu semua nampaklah bahwa Allah Ta’ala telah mentakdirkan bagiku sebuah Jemaat yang fana dalam ketaatan padaku dan yang patuh-taat sepenuhnya kepadaku. Dengan demikian saya akan mendapat ketenangan hati dan keprihatinan (kesedihan saya) berganti (berubah menjadi) harapan-harapan.”

Bersabda, “Alhasil, pusat perhatianku tercurah kepada janji-janji Allah Ta’ala dan hanyalah Zat Allah Ta’ala yang menjadi sarana kesenangan dan ketenteraman hatiku. Keadaan Jemaat masih lemah dan sangat diperlukan banyak sekali tarbiyyat. Sangat perlu sekali saya mengingatkan kalian agar menjalin hubungan sejati dengan Allah Ta’ala dan mengutamakan Dia dari segala-galanya. Dan jadikanlah Jemaat Suci Hadhrat Nabi Muhammad saw teladan yang sangat baik bagi kalian. Ikutilah langkah-langkah perbuatan mereka.” [8]

Selanjutnya beliau as bersabda,

“Ingatlah baik-baik! Orang yang asas kehidupannya hanya duniawi sedangkan ia menggabungkan diri kedalam Jemaat ini, maka di sisi Allah Ta’ala ia bukanlah dari Jemaat ini. Di sisi Allah Ta’ala orang-orang yang tergolong masuk ke dalam Jemaat ini adalah mereka yang melepaskan diri dari kehidupan yang mengutamakan urusan duniawi. Janganlah berpikir bahwa saya akan binasa mengikuti cara berpikir demikian, cara berpikir yang membuat manusia semakin jauh dari jalan untuk mengenal Tuhan. Allah Ta’ala tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha menjadikan dirinya milik Tuhan. Bahkan Dia sendiri Yang menyediakan segala keperluannya. Allah Ta’ala Maha Mulia, barangsiapa yang kehilangan sesuatu di jalan Allah Ta’ala maka dia akan mendapatkannya kembali dari pada-Nya. Saya berkata dengan sesungguhnya, Allah Ta’ala mencintai orang dan memberkati anak keturunannya yang mengamalkan perintah-perintah-Nya. Dan tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi bahwa orang yang patuh-taat sejati dan anak keturunannya hancur-binasa. Didunia ini orang-orang yang binasa itu hanyalah mereka yang meninggalkan Allah Ta’ala dan tunduk bertumpu kepada dunia. Tidakkah betul bahwa kekuasaan diatas setiap perkara ada di tangan Tuhan? Tanpa itu tiada perkara dapat diputuskan, tiada pula suatu keberhasilan dapat diraih. Dan tiada suatu kemudahan dan keselesaan (kelonggaran, kelegaan, kenyamanan) dapat diperoleh. Seseorang mungkin dapat memiliki harta kekayaan, namun setelah ia meninggal siapa yang dapat mengatakan bahwa isterinya dan anak-anaknya dapat memperoleh manfaat dari harta kekayaannya itu? Maka pikirkanlah hal itu sedalam-dalamnya dan timbulkanlah perobahan  baru di dalam diri pribadi kalian.” [9]

            Beliau as memberikan nasehat khusus bagi Jemaat, sabdanya,

            “Jadi, kalian yang memiliki hubungan dengan saya hendaklah ingat bahwa setiap orang dari kalian bersikaplah dermawan (simpati), hendaklah satu dengan yang lain tidak membedakan dalam hal kebaikan karena inilah ajaran Alqur’an, وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‘wa yuth’imuunath tha’aama ‘alaa hubbihi miskiinaw wa yatiimaw wa asiira’ – “Dan mereka memberi makan karena cinta-Nya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (Surah Al-Insan (Ad-Dahr), 76 : 9)

            Orang-orang yang menjadi tawanan pada waktu itu kebanyakan terdiri dari orang-orang kafir (ingkar terhadap Islam). Sekarang perhatikanlah bagaimana Islam meninggikan akhlak kedermawanan. Dalam pandangan saya, ajaran akhlak yang sempurna yang menjadi bagian dari Islam tidak terdapat dalam ajaran agama lainnya.”

            (Sewaktu menjelaskan hal ini kesehatan beliau as sedang tidak baik). Beliau as bersabda, ”Saat saya sedang dalam kondisi sehat saya ingin menulis sebuah buku mengenai akhlak. Saya menghendaki apa yang telah menjadi keinginanku semoga terlaksana, sebuah kitab mengandung pelajaran yang sempurna bagi Jemaatku. Dan apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala akan ditunjukkan didalamnya. Saya akan merasa sangat sedih sekali apabila di hari-hari yang akan datang melihat dan mendengar seseorang telah melakukan ini dan seseorang telah melakukan itu. Saya sama-sekali tidak akan merasa senang mendengar perkara-perkara demikian. Sekarang juga saya jumpai Jemaat ini seperti seorang anak kecil yang baru berjalan dua langkah ke depan kemudian jatuh empat langkah ke belakang. Akan tetapi saya sungguh yakin bahwa Allah Ta’ala akan menyempurnakan keadaan Jemaat ini. Oleh sebab itu kalian juga harus berusaha melakukan tadbir (upaya), berjuang keras dan giatlah selalu memanjatkan doa agar Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya, sebab tanpa karunia-Nya segala sesuatu tidak akan terjadi. Apabila karunia-Nya turun maka semua jalan kemudahan akan terbuka.” [10]

Dari beberapa segi, berkat perhatian dan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as yang pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as juga Allah Ta’ala telah menyempurnakannya dan beliau as telah melihat teladan suci para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum dan pada zaman ini juga Allah Ta’ala sedang menyempurnakannya.  Dengan karunia Allah Ta’ala dari beberapa segi Jemaat telah dewasa. Akan tetapi seiring dengan perputaran zaman beberapa macam keburukan cepat menyusup ke dalam Jemaat ini. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa sifat takabbur dan egoisme juga mulai nampak semakin banyak sekali di beberapa tempat tertentu. Misalnya, tuntutan di Pengadilan terhadap sesama teman, perkelahian, pertengkaran satu dengan yang lain, banyak lagi keburukan-keburukan lainnya yang sedang meningkat jumlah kejadiannya. Kita perlu menaruh perhatian penuh terhadap hal itu. Jadi, jika kita ingin berhak disebut anggota Jemaat beliau as yang sejati, maka setiap saat kita harus memeriksa dan mengawasi keadaan diri pribadi kita. Apa gunanya ilmu kita, jika tidak mendatangkan akhlak tepat pada waktunya. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Kalian bertabligh dan memberi nasihat kepada orang lain, akan tetapi apabila tiba saatnya kalian tidak menunjukkan keadaan jati diri kalian yang sebenarnya sebagai orang Ahmadi. Jadi ilmu pengetahuan kita akan berfaedah jika kesan dari ilmu itu nampak pada diri kita juga. Selama penampilan hubungan kita satu dengan yang lain tidak ditunjukkan sesuai dengan keadaan jasmani dan rohani kita yang sebenarnya, maka ilmu kita pun tidak akan ada faedahnya. Pada masa sekarang ini penentangan terhadap Jemaat sudah sampai pada puncaknya. Maka dengan menekan semua perasaan pribadi dan sifat egoisme kita harus berusaha untuk menegakkan contoh teladan yang  sangat luhur dalam menjalin persatuan diantara sesama kita dari tingkat paling bawah sampai ke paling atas. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Allah Ta’ala ingin menjadikan Jemaat ini diatas contoh teladan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum.” Untuk itu semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua. [Aamiin]

             Jum’at yang lalu, pada saat khutbah kedua, dikarenakan lamanya sakit batuk yang saya derita sebagian orang telah merasa sedih. Dari Negara-negara Arab dan sebagian dari Negara lainnya begitu banyak faksimili dan surat melalui pos datang mengatakan, “Kami tidak dapat menunggu [kami tidak tahan menyaksikan melalui MTA Hudhur sedang batuk-batuk].” Dan bersamaan dengan [surat-surat] itu saya menerima begitu banyak sekali prescription (resep obat) yang jika saya mulai mempergunakannya barangkali penyakit saya akan bertambah parah lagi. Sesungguhnya orang-orang itu dari diri mereka memperlihatkan semangat baik. Semoga Allah Ta’ala memberikan balasan kepada semuanya. Penyakit-penyakit akan terus lewat pada waktunya masing-masing. Untuk penyembuhan, saya menggunakan obat-obatan Homeopathy. Selain itu, saya juga sedikit banyak meminta bantuan dari dokter-dokter. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan karunia. Ingatlah [saya] dalam doa-doa.

Penerjemah : Mln. Hasan Bashri, Shd.

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan-Nya yang agung

[2] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 467-468, edisi 2003

[3] Tadzkirat-ush-Syahadatain, Ruhani Khaza’in, Jilid  20, hlm. 63

[4] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 213, edisi 2003, cetakan Rabwah

[5] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 213, edisi 2003, cetakan Rabwah

[6] Tadzkiratush-Syahadatain, Ruhani Khaza’in, jilid 20, halaman 63

[7] Tadzkiratush-Syahadatain, Ruhani Khaza’in, jilid 20, halaman 63

[8] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 596-597, edisi 2003, cetakan Rabwah

[9] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 595, edisi 2003, cetakan Rabwah

[10] Malfuzhaat jilid ceharam (IV) halaman 219, edisi 2003, cetakan Rabwah