Khotbah Idul Adha[1]

Sayyidina Amirul Mu’minin  Hadhrat  Mirza Masrur  Ahmad  Hadhrat Khalifatul Masih VAtba.[2]

Tanggal 17 Nubuwwah 1389 HS/November 2010

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَہُ  السَّعۡیَ قَالَ یٰبُنَیَّ  اِنِّیۡۤ اَرٰی فِی الۡمَنَامِ اَنِّیۡۤ  اَذۡبَحُکَ فَانۡظُرۡ مَاذَا تَرٰی ؕ قَالَ یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۫ سَتَجِدُنِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ مِنَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ   اَسۡلَمَا وَ  تَلَّہٗ   لِلۡجَبِیۡنِ ﴿﴾ۚ وَ  نَادَیۡنٰہُ  اَنۡ  یّٰۤاِبۡرٰہِیۡمُ ﴿﴾ۙ قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡیَا ۚ اِنَّا کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ ہٰذَا لَہُوَ  الۡبَلٰٓـؤُا الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾ وَ فَدَیۡنٰہُ  بِذِبۡحٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ تَرَکۡنَا عَلَیۡہِ فِی الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ۖ

 

‘Falammaa balagha ma’ahus sa’ya qaala yaa bunayya innii araa fil manaami anni adzbahuka fanzhur maadzaa taraa qaala yaa abatif ‘al maa tu-mar satajidunii insyaa Allahu minash shaabiriin (103) falammaa aslamaa wa tallahu lil jabiini (104) wa naadainaahu ay yaa ibraahiimu (105) qad shaddaqtar ru-ya innaa kadzaalika najzil muhsiniina (106) inna haadzaa lahuwal balaa-ul mubiinu (107) wa fadainaahu bidzibhin ‘azhiim (108) wa taraknaa ‘alaihi fil aakhiriin’ (109)

“Dan ketika anak itu telah berusia cukup untuk dapat berlari-lari bersama dia, berkatalah ia, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu sebagai kurban. Maka pikirkanlah apa pendapatmu ?’ Ia berkata, ‘Hai, bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepada engkau; insya Allah engkau akan mendapatiku, di antara orang-orang yang sabar.’ Dan, ketika keduanya telah rela berserah diri dan ia, Ibrahim, telah menelungkupkan anak-nya pada dahinya. Maka Kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, sungguh engkau telah menyempurnakan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi ganjaran orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan, Kami telah menebus dia, Ismail  dengan pengurbanan yang besar. Dan, Kami meninggalkan nama baik baginya, Ibrahim, di antara umat-umat yang akan datang.” (Ash-Shaffaat, 37: 103 -109)

Sesudah itu Hudhur Anwar bersabda bahwa inilah terjemahan ayat-ayat  ini, ketika dia (Nabi Ibrahim ‘alaihissalam[3]) bersama (putra)nya (Nabi Ismail as) yang telah sampai pada usia  yang layak  untuk berlari-lari, dia berkata, ‘Wahai anak kesayanganku!  Sesungguhnya  saya melihat  dalam mimpi bahwa aku tengah menyembelih engkau. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu.’ Dia menjawab, ‘Wahai bapakku, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepada engkau. Sesungguhnya jika Allah menghendaki maka engkau akan mendapatkan aku diantara orang-orang yang sabar.’ Maka ketika mereka berdua telah rida (rela dan ikhlas) dan dia telah menelungkupkannya pada keningnya, kami menyerunya, ‘Wahai Ibrahim! engkau telah menyempurnakan mimpimu.’ Sesungguhnya seperti itulah kami memberikan ganjaran kepada orang-orang  yang melakukan  kebaikan. Sesungguhnya ini  adalah satu  ujian yang  sangat terang dan jelas dan kami telah menyelamatkannya dengan menggantikannya dengan  pengorbanan yang agung.  Dan kami telah meninggikan kenangan  atau nama baiknya  untuk orang- orang yang akan datang sesudahnya.

Hudhur ayyadahullah bersabda, hari ini kita tengah merayakan  hari raya Idul Adha, yakni Id sedemikian agung yang merupakan Id [untuk merayakan atau untuk mengucapkan terima kasih dikabulkannya] pengorbanan-pengorbanan; merupakan Id dalam rangka mengenang pengorbanan yang terjadi 4 ribu tahun lalu dari hari ini, yang mana untuk menegakkan standar baru pengorbanan dua orang pilihan atau kekasih Tuhan telah mempersembahkan pengorbanan di hadapan Tuhan dari mereka berdua. Tetapi pada saat itu Tuhan mencegah  memotong  dan terpotongnya leher di jalan Tuhan lalu (dengan berfirman) قَدۡ صَدَّقۡتَ الرُّءۡیَا ۚ  –shaddaqtar ru-ya, yakni engkau telah menyempurnakan rukya atau mimpimu itu, dengan firman-Nya itu) seolah-olah Dia telah mengumumkan telah terkabulnya pengorbanan menyuruh memotong leher atau menyembelih, yakni sebagai ganti satu leher (satu sembelihan) yang  tadinya  siap untuk disembelih itu, Allah Ta’ala ingin menegakkan contoh atau model pengorbanan yang besar  dan agung. Pengorbanan agung sedemikian rupa yang mutu dan nilainya akan  lebih luhur  dari sekedar memotong  leher (menyembelih) seorang anak manusia. Ketika nabi agung itu (ditakdirkan)  akan lahir, yang tidak hanya siap dan sedia  setiap saat untuk mengorbankan dirinya di jalan Allah. Bahkan di kalangan orang-orang yang  akan mengimaninya pun Dia akan meniupkan ruh  pengorbanan  yang merupakan ruh   yang setiap saat terus menerus menegakkan standar-standar baru pengorbanan demi pengorbanan. Dan (ketika nabi itu lahir) kemudian dunia telah  menyaksikan  bahwa telah terus berdiri tegak  corak   unik pengorbanan-pengorbanan. Contoh-contoh  unik  standar pengorbanan mulai  bermunculan. Di dalam  melakukan upaya  berlomba dalam pengorbanan-pengorbanan itu  para sahabat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam[4] berpikir supaya Tuhan yang kita cintai itu redha dengan amal kita itu. Jika ingin  memberikan pengorbanan kesabaran dan semangat maka mereka ini  sambil berusaha berjalan  sesuai dengan contoh majikan mereka  setiap saat mereka siap.  Jika tiba  saatnya  harus  mengorbankan harta  maka  para wujud yang telah mendapat pendidikan dari Rasul Tuhan itu  siap  saling  berlomba satu dengan yang lain. Dan  manakala tiba saatnya melakukan pengorbanan jiwa maka contoh terpampang sedemikian  rupa  sehingga  manusia menjadi heran karenanya. Dengan melihat kegembiraan mereka dalam mengorbankan jiwa mereka  Allah di dalam Al-quran berfirman,

 وَّ  اَعۡیُنُہُمۡ تَفِیۡضُ مِنَ  الدَّمۡعِ حَزَنًا  اَلَّا  یَجِدُوۡا  مَا  یُنۡفِقُوۡنَ

 …wa a’yunuhum tafiidhu minad dam’i hazanan an-laa yajiduu ma yunfiqun. “…dan mata mereka berurai  air mata akibat  sedih  karena mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa mereka belanjakan (korbankan)”. (At-Taubah, 9: 93)

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa pengorbanan ini bukanlah hanyalah semata-mata menyerahkan harta-benda. Lebih dari itu, bahkan ketika mereka  diseru untuk jihad di jalan Allah yang pada saat itu  kondisi mereka seperti digambarkan berikut ini, “Saat itu [untuk berjihad harus menempuh] perjalanan jauh. Diperlukan kendaraan yang (sayangnya) tidak tersedia pada  mereka. Mereka  adalah orang-orang miskin. Bahkan kondisi miskin mereka sedemikian rupa sehingga alas kaki (sandal atau sepatu) pun mereka tidak  punya. Dan terbukti dari sebagian riwayat bahwa permintaan mereka adalah: ‘Sekiranya kami mendapatkan hanya sepatu saja, maka kami pun akan menempuh perjalanan yang panjang itu dengan berjalan kaki. Kami tidak meminta kuda sebagai tunggangan, atau pun unta, kami hanya memohon sekedar sepatu semata yang bila kami mendapatkannya kami akan ikut serta dalam perjalanan.’ Tetapi pada zaman permulaan itu taufik sesederhana itupun tidak ada, sehingga kepada semua sahabat, kepada para sahabat yang miskin seperti itu sampai hanya sepatu-sepatu saja disediakan tidak ada bagi mereka yang resah dan gelisah ingin mengorbankan jiwa-jiwa mereka. Allah Ta’ala berfirman, sungguh inilah orang-orang beriman yang memiliki kegemaran dan kecintaan (syauq) untuk berkorban. Ketika mereka mengetahui bahwa nabi tidak mampu memenuhi permintaan mereka, “Secara Jemaat kami tidak bisa menyediakan alas-alas kaki untuk kalian dan tidak pula kendaraan macam apapun. Jika kalian bisa mengurus (menyediakan) sendiri sediakanlah!” Atas jawaban itu  air mata  mereka  terurai  atau mereka meneteskan air mata, “Wahai kiranya seandainya kami  layak atau mampu maka kamipun  akan membuktikan bahwa kami bukan merupakan orang-orang yang  takut pada pengorbanan macam apapun. Harta dan jiwa ini merupakan milik Allah. Kami sesungguhnya setiap saat gelisah  ingin mengorbankan itu.” Dan pada saat mendapat kesempatan orang-orang itu telah membuktikan bahwa mereka itu tidak salah, mereka bukanlah orang-orang yang membuat-buat alasan. Jadi tekad-tekad dan amal praktis untuk melakukan pengorbanan itulah yang telah membawa mereka pada  kedudukan sehingga Allah memberikan gelar radhiyallahu anhum, Allah rida kepada mereka. Jadi ketika Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as atau kalimat qad shaddaqtar-ru’ya, engkau telah menyempurnakan  mimpimu; telah meraih keridaan Allah, maka nabi agung yang lahir dari generasi beliau  setelah  menegakkan  contoh  agung pengorbanan agung itu lalu beliau menegakkan standar pengorbanan-pengorbanan itu  juga pada para pengikutinya sehingga beliaulah yang telah menjadi faktor pendorong  gelar radhiyallahu ‘anhum, semoga Allah meridai mereka diberikan dari pihak Allah (kepada para sahabat). Jadi ladang fana dan kesetiaan inilah yang terus menerus tumbuh berkembang sambil mempertahankan dan menegakkan standar pengorbanan-pengorbanan. Allah Ta’ala sebagai ganti dari pengorbanan itu Dia telah menyediakan sarana dan prasarana duniawi sesudahnya. Dia juga telah menganugerahkan karunia kekuasaan kepada mereka dengan menjadi pemimpin negara dan pemerintahan.

Hudhur Anwar ayyadahullah bersabda, jika hari ini kita perhatikan, maka memang pada sebagian umat Islam kekayaan dunia ada pada pemerintahan-pemerintahan Islam namun kedudukan keridaan Allah Ta’ala yang dari itu dapat diketahui kedekatan dengan Allah Ta’ala tidak nampak. Walaupun dalam keberadaan harta bendapun mereka tetap berjalan dibawah isyarat-isyarat pemerintahan bukan Islam (negara-negara Muslim yang kaya dibawah pengaruh atau perintah negara-negara non Muslim yg kuat). Pada masa dahulu, orang-orang Islam sambil menikmati buah hasil pengorbanan mereka, mereka telah  menjadikan dunia sebagai orang-orang yang menyembah  Allah, mereka telah  mengibarkan bendera  Muhammad saw  di  Eropa, namun ketika mereka telah melupakan standar atau mutu pengorbanan itu, maka mereka pun harus kehilangan sebagian negara-negara yang tadinya mereka telah kuasai. Ketika mereka bukannya menyampaikan tabligh Islam  malah  justru kerakusan  pada dunia yang menguasai hati mereka sehingga pemerintahan-pemerintahan menjadi lemah dan kehormatan pun lenyap. Akhirnya semuanya  hilang dari  tangan. Dan kini kehormatan negara-negara Islam dan kemuliaan serta wibawa tidak lagi   bertahan. Dewasa  ini  jika sebagai reaksi ada  kekuatan yang berusaha untuk muncul ke permukaan  yang menurut mereka, mereka berusaha untuk menegakkan sistim  pemerintahan Islam. maka itupun merupakan orang-orang yang sedemikian rupa tidak mempunyai pendidikan  yang bukannya mencemerlangkan nama Islam malah  akibat dari pemikiran mereka yang keras itu tengah merusak nama Islam di belahan dunia yang (penduduknya) bukan Islam. Dan orang-orang Islam  yang tak berdosa  dengan cara yang aniaya mereka habiskan dengan melakukan pembunuhan, perampokan dan pembantaian. Jadi pemerintahan-pemerintahan negara-negara Islam dan para ulama juga perlu merubah pola pikir mereka.

Hudhur ayyadahullah bersabda, pada kesempatan haji ini benar apa yang telah dikatakan oleh Mufti Besar Saudi Arabia di dalam khotbahnya bahwa akibat ketidakadilan akan timbul kekacauan. Jika pemerintahan-pemerintahan Islam tidak memperhatikan hak-hak umat Islam maka akan terjadi kerusakan atau kekacauan. Sama sekali benar apa yang beliau katakan bahwa darah umat Islam yang tengah ditumpahkan dan di dalam Islam tidak ada celah untuk melakukan tindakan kekerasan atau terorisme. Benar  juga apa yang  beliau katakan bahwa bangsa-bangsa lain ingin membuat umat Islam berperang atau  ingin mengadu domba  umat Islam.  Itupun  benar apa yang beliau katakan bahwa di antara umat Islam perlu ada kesepakatan. Tetapi sang mufti dan para ulama Islam lainnya serta para pemuka Islam lainnya tidak bersedia mengakui bahwa untuk menegakkan ruh Islam pada zaman ini adalah dengan menyatakan pernyataan  kesetiaan  di hadapan wujud  yang Allah telah kirim pada zaman ini. Dengan mengimaninya orang-orang Islam mengembalikan kembali kemuliaan mereka, dengan berkumpul di tangan Masih dan Mahdi, umat Islam  memperlihatkan pemandangan umat yang satu. Dengan menjadi  pengikut setia pencinta sejati Rasulullah saw mereka menegakkan standar pengorbanan-pengorbanan. Meninggikan standar kerohanian mereka seraya menyatu bergabung dengan Masih Muhammadi yang menjadi sarana untuk meraih keridaan Allah. Jadi hari ini jika ingin meneruskan mata rantai  yang mulai dari pengorbanan Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail alahimussalam sampai pada kedudukan pengorbanan agung   yang mana mereka pergi (meninggalkan dunia) setelah menegakkan standar segala macam pengorbanan. Dengan menjadi sosok pembenar nubuatan nabi yang benar itu adalah perlu bergabung dengan Jemaat Masih dan Mahdi, Jemaat pencinta sejati Rasulullah saw. Seandainya umat Islam bersatu lalu bukannya melakukan perlawanan kepada Imam Zaman, justru menjadi orang-orang yang memperkuat tangan beliau  maka mereka akan menjadi orang yang memperlihatkan kembali kepada dunia pemandangan pamor umat Islam yang telah hilang. Insya Allah.

 Hudhur ayyadahullah dengan sangat jelas menasehatkan  sambil menekankan bahwa dewasa ini yang akan berguna untuk menyatukan umat Islam bukanlah nasehat seorang mufti dan nasehat seorang alim besar; dan tidak pula kekayaan minyak raja manapun  yang menyatukan umat Islam di bawah satu tangan dan tidak pula dengan menegakkan nizam yang penuh dengan kekerasan dapat ditegakkan standar pengorbanan–pengorbanan zaman awal. Ya, beberapa orang hanya untuk beberapa hari saja setelah mengetahui nasehat tersebut pasti akan menekankan pentingnya mengamalkan itu. Dengan menggunakan nama Islam raja dan pemerintahan-pemerintahan dengan harta mereka bisa meraih keuntungan-keuntungannya. Atas nama agama dengan cara yang salah, organisasi-organisasi garis keras menggunakan anak-anak keluarga yang  miskin dan keluarga yang mati karena kelaparan dan kemiskinan; dengan mencuci otak mereka (brain washing) menggunakannya atas nama pengorbanan untuk melakukan bom bunuh diri. Anak-anak yang telah mereka cuci otaknya itu manakala dikeluarkan dari lingkungan [organisasi pembom bunuh diri] akan berpikir untuk menyelamatkan jiwa. Seolah-olah ini bukan merupakan suara hati mereka. Dan banyak anak-anak yang seperti itu telah muncul ke permukaan [diketahui dan diberitakan oleh media ke publik] yang polisi  telah tangkap  maka mereka memberikan keterangan, ketika mereka diberikan jaminan keselamatan maka mereka menghindar [dari apa yang mereka sebut] pengorbanan itu. Jadi apabila orang-orang ini, anak-anak ini  menjadi sadar maka pola pikir mereka  menjadi berubah. Dan kini adakanlah pemeriksaan atau survei maka kebanyakan anak-anak yang melakukan bom bunuh diri itu juga merupakan anak-anak yang bukan merupakan pola pikirnya sendiri. Kalian tidak  akan melihat pada umumnya orang-orang yang sudah berpikir dewasa atau matang (mature) terlibat dalam serangan-serangan bunuh diri itu. Pengorbanan yang dilakukan secara sadar adalah pengorbanan yang  pernah  dilakukan oleh seorang anak (bernama) Muawwidz dan Mu’adz[5] yang seperti harimau di jantung  musuh lalu mengirim Abu Jahal ke neraka. Tetapi orang-orang yang mempersembahkan jiwanya, itu mereka lakukan untuk melindungi agamanya, untuk menjawab serangan musuh  mereka pergi ke medan  perang. Jika tidak [melakukan jihad menahan serbuan musuh], maka waktu untuk menahan kesulitan-kesulitan dengan sabar dan rida bukanlah masa yang pendek [akan mengalami penderitaan berkepanjangan]. Namun demikian, dewasa ini betapa [menyedihkannya gambaran] peperangan-peperangan Islami yang tengah terjadi yang di dalamnya mereka ini melakukan penyerangan untuk (atas nama) membela Islam; dan kemudian penyerangan pun mereka lakukan kepada negara-negara yang penduduknya Muslim dan itu dilakukan dengan menginjak-injak undang-undang negara. Jadi pengorbanan yang hanya sekedar nama ini bukanlah pengorbanan yang diterima dihadirat Tuhan.

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa benar apa yang dikatakan oleh mufti Besar Saudi Arabia bahwa kita perlu merubah kondisi atau keadaan-keadaan kita. Wahai kiranya dia juga mengatakan bahwa untuk merubah kondisi-kondisi itu carilah seorang pilihan Allah. Dan sambil melihat tanda-tanda langit dan bumi  sampaikan jugalah pengumuman bahwa kendati tanda-tanda sesungguhnya nampak dan itu tengah terjadi tetapi kita pada orang yang mendakwakan diri itu ada sedikit perlindungan atau kehati-hatian. Mari pada saat haji khususnya  orang-orang yang melakukan haji dan umat Islam umumnya berdoalah seperti ini, “Wahai Tuhan! jika orang yang mendakwakan diri ini benar maka janganlah jauhkan kami dari kebenaran. Bimbinglah kami  supaya amanat yang Engkau telah berikan melalui  Rasulullah saw kami terima dan kami menjadi orang yang meraih keridhaan Engkau.” Jika  mereka dengan hati yang tulus dan niat yang benar berdoa seperti ini maka Tuhan pasti akan memberikan bimbingan. Insya Allah. Dan dengan baiat di tangan Masih dan Mahdi ini mereka juga akan mengetahui apa cara-cara atau mekanisme Jihad. Dan akan timbul juga pemahaman mengenai standar-standar pengorbanan. Dan pada zaman ini juga mereka akan  mengetahui  keagungan segi sifat Ahmad dari yang mulia Rasulullah saw karena pada zaman ini keagungan sifat Ahmad dari Rasulullah saw-lah yang (sudah ditakdirkan) akan menciptakan revolusi di dunia. [Keagungan sifat Ahmad dari Rasulullah saw] inilah yang akan membawa  dunia atau umat manusia ke pangkuan Muhammad Mustafa saw; mengumpulkan dunia di bawah bendera Muhammad saw dengan kelemahlembutan, kesabaran, kecintaan dan doa. Jadi hari ini  kini merupakan takdir mubram Allah bahwa yang akan melaksanakan tugas ini adalah imam pada zaman ini, Masih Muhammadi dan murid-muridnya. Dan sambil memahami ruh kesabaran, doa dan pengorbanan sambil menegakkan standar pengorbanan tugas itu dilakukan. Sejarah Jemaat Ahmadiyah memperlihatkan kepada kita standar kesabaran, doa dan  pengorbanan itu. Standar pengorbanan itu tidak akan tegak dengan melenyapkan diri sendiri dalam serangan bom bunuh diri. Atau untuk menipu dunia  tidak akan diraih dengan memberi nama serangan-serangan bunuh diri itu  dengan nama pengorbanan. Bahkan standar pengorbanan itu diraih dengan  kesabaran dan keredhaan dan dengan taat  kepada  amanat yang  diletakkan oleh yang dikirim oleh Allah di hadapan para pengikutinya. Ketika Rasulullah saw  untuk zaman Masih dan Mahdi telah menekankan agar mengakhiri  peperangan, maka merupakan tuntutan iman supaya [sabda Nabi saw] itu ditaati.

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa dewasa ini orang Ahmadilah yang dari sejak 120 tahun terus-menerus mempersembahkan jiwa, harta, waktu dan kehormatan mereka. Sejarah Jemaat Ahmadiyah tidak pernah melupakan pengorbanan jiwa itu   yang pernah dilakukan oleh Syahzadah Abdul Latif syahid dalam kehidupan  Hadhrat Masih Mau’ud as. Kendati sekian banyak macam iming-iming [tawaran-tawaran mengggiurkan] dan kendati mendapat kesempatan beberapa hari untuk berpikir, beliau  dengan kesabaran dan kerelaan yang luar biasa sambil memperlihatkan keimanannya mengorbankan jiwanya dalam hujan batu orang-orang aniaya. Berkaitan dengan [pensyahidan beliau] itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Contoh keyakinan sempurna telah diperlihatkan oleh Syahzadah Maulwi Abdul Latif. Tidak ada perkara yang lebih besar dari pengorbanan jiwa. Dan mengorbankan  jiwa dengan keteguhan yang seperti itu tengah memberitahukan dengan jelas bahwa beliau telah melihat saya turun dari langit.” Kemudian beliau bersabda, “Syahid marhum memberikan  sebuah contoh kepada Jemaatku dan pada dasarnya Jemaatku memerlukan sebuah contoh  yang besar.” Jadi pengorbanan yang Imam Zaman saat itu telah menyatakannya sebagai sebuah contoh, itu tidak akan pernah  bisa keluar atau lepas dari sejarah Jemaat Ahmadiyah. Ya, dengan memperhatikan contoh itu orang-orang yang bergabung dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as sesudahnya, mereka pasti mempersembahkan jiwa mereka dengan berusaha menegakkan atau  mempertahankan  standar pengorbanan dan mereka telah lakukan dan sampai hari ini mereka terus menerus mepersembahkannya. Tahun ini yang merupakan tahun 2010, didalamnya sungguh dari antara orang-orang yang mengimani beliau, mengakui kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dari kedalaman lubuk hati  yang dalam terdapat 98 orang (Ahmadi) yang telah mempersembahkan jiwanya (disyahidkan). Mereka telah memberitahukan kepada dunia dengan mempersembahkan persembahan ini, “Standar pengorbanan yang kami persembahkan, akar-akarnya tengah diairi dengan ruh yang Rasulullah saw telah ciptakan dalam diri para sahabat beliau. Jadi, sesuatu [pohon pengorbanan] yang akar-akarnya sedemikian dalamnya bahkan sampai pada pengorbanan Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as, akar-akar itu bagaimana bisa angin-angin perlawanan musuh dan angin-angin kencang para penentang bisa menggoyahkannya?”

Hudhur ayyadahullah bersabda, benih yang ditanam oleh tangan Masih Muhammadi  itu  kini dengan karunia Allah  telah menjadi pohon yang   kokoh dan kuat  dan cabang-cabangnya telah tersebar  di 198 negara [kini 200 negara-penerjemah] di setiap benua besar di dunia. Bagaimana bisa  angin-angin  perlawanan  dapat  menggoyahkan akar-akar  itu. Sesungguhnya inilah sesuatu yang telah kita lihat dalam sejarah Jemaat Ahmadiyah bahwa setiap perlawanan, setiap pengorbanan  mendatangkan buah dan mendatangkan buah lebih dari sebelumnya. Sampai kini di dalam sejarah pengorbanan-pengorbanan Jemaat Ahmadiyah, sebelum tahun ini, pada  tahun 1974 paling banyak terjadi kesyahidan, hampir ada 30 puluh orang yang syahid. Tetapi sesudah tahun 1974 keluasan atau pengembangan yang diperoleh Jemaat, sebagaimana Jemaat berkembang, tidak ada contohnya sebelumnya. Orang yang mendapat kerugian dari segi harta benda kondisi harta bendanya atau ekonominya lebih baik dari sebelumnya. Setelah melihat puncak karunia-karunia Allah orang-orang  yang memberikan pengorbanan-pengorbanan itu sendiri menjadi heran betapa Allah memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya. Kemudian tiba zaman ordonansi yang sangat buruk pada tahun 1984, yang mana lebih keras (memperketat) lagi keputusan parlemen tahun 1974.[6] Kehidupan orang-orang Ahmadi dipersempit. Penjara-penjara dipenuhi oleh orang-orang Ahmadi. Akibat undang-undang aniaya itu yang puncaknya adalah bahwa orang-orang Ahmadi sampai menyampaikan salam kepada orang lain pun tidak bisa, bahkan sampai memberi namapun tidak bisa. Khalifah-e-Waqt (khalifah masa itu) terpaksa harus hijrah dari Pakistan, maka Allah untuk memperluas jemaat telah membuka jalan yang tidak pernah tergambarkan sebelumnya. Akibat [positif] dari undang-undang itu Jemaat menjadi dikenal di seluruh penjuru bumi. Kemudian undang-undang inilah yang kini terus menciptakan kesulitan demi kesulitan kepada orang-orang (Ahmadi) yang tinggal di Pakistan. Orang-orang Ahmadi terus menghadapi kesulitan-kesulitan itu. Bagi mereka ini, kapan saja aparat merasa gerah maka tindak kekerasan dilakukan terhadap orang-orang Ahmadi. Oleh karena itu akibat dari undang-undang itu orang-orang Ahmadi yang kini berada di Pakistan mereka menegakkan kembali standar mata rantai pengorbanan. Sebagaimana saya telah katakan bahwa dimana mereka ada power atau seberapa kemampuan yang mereka miliki dari kalangan aparat, bahkan dari kalangan para mullah sekalipun, mereka menimpakan kesulitan-kesulitan untuk orang-orang Ahmadi. Dan kemudian pada masa itu pengorbanan jiwa yang dipersembahkan oleh orang-orang Ahmadi bukanlah pengorbanan yang biasa. Tetapi (corak) cara Tuhan menganugerahkan pun sedemikian rupa tidak bisa ada tolok ukurnya (bandingannya). Para penentang berkata, “Berhentilah dan keluarlah dari Ahmadiyah kalau tidak kami akan melakukan ini dan itu.” Sehingga sebagaimana saya telah katakan akibat dari kezaliman-kezaliman mereka orang-orang Ahmadi mempersembahkan jiwa mereka dan meraih kedudukan syahid. Tapi satupun dari keluarga terdekatnya yang bersimpuh di hadapan musuh memperlihatkan kelemahannya [menyerah dan mengikuti kemauan penentang]. Mereka tidak memelas untuk dikasihani hidupnya. Mereka tidak mengemis untuk diselamatkan dari kerugian-kerugian harta benda.  Mereka telah menegakkan contoh keteguhan  yang akan ditulis dengan tinta emas. Baru-baru  ini saja terjadi kesyahidan  yang mulia Syekh Mahmud Syahid di Mardan, sedangkan putra beliau, yang terhormat Arif Mahmud terluka. Sebagaimana saya telah beritahukan di dalam khutbah Jum’at bahwa ketika Nazir Umur Amah berbicara [dengannya] melalui telpon maka dia yang tengah terluka mengatakan  kepada beliau, “Kendatipun dalam keadaan terluka, saya  sangat semangat dan Insya Allah Ta’ala tidak akan ada yang bisa menggoyahkan iman kami.” Jadi suatu kaum yang mana ada orang-orang yang memberikan pengorbanan seperti itu; ada pemuda yang seperti itu yang berbicara dengan menantang maut di depan matanya; menakut-nakutinya dengan kematian apa artinya? Iman di dalam diri mereka terjadi karena akibat bahwa Hadhrat Mirza Gulam Ahmad Qadiani adalah Masih dan Mahdi. Dan keredhaan Allah kini barada didalam ini bahwa dengan menyatu dengan Masih dan Mahdi baru keredhaan-Nya akan diraih dan dapat   menjadi  pewaris karunia-karunia-Nya. Dan firman Allah ini memperteguh hati mereka   dan memberikan ketenteraman pada mereka

نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ

nahnu auliyaaukum fil hayatid dunya wa fil aakhirah. “Kami adalah teman-temanmu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan diri kamu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.” Surah Fushshilat (Haa Mim as-Sajdah), 41: 32)

Jadi orang yang wali (pelindung) atau yang menjadi temannya di dunia dan di akherat adalah Allah maka apa yang dia hiraukan dengan orang-orang dunia. Dan siapa yang bisa mencegahnya untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan. Jadi pemuda itu ketika mengatakan, “Satu dua peluru, ini tidak ada artinya. Jika kami diberondong dengan banyak sekali peluru sekalipun kami tidak hiraukan.” Jadi, tekad ini terlahir didalam diri orang-orang yang demi untuk keredhaan Allah siap sedia mengorbankan segala sesuatu miliknya. Jadi manakala kita telah mengikat tali perjanjian setia dengan Imam Zaman maka janji itu kita ikat untuk meraih keredhaan Allah. Kita mengikat itu dengan pemahaman bahwa hubungan dengan Tuhan itu harus dipelihara hingga pada titik kesempurnan. Dengan memahami akan hal tersebut kita telah mengikat perjanjian itu bahwa ladang cinta dan kesetiaan tidak  bisa subur tanpa dialiri aliran darah. Kita mengikat janji itu dengan tegak pada keyakinan bahwa janji kemenangan yang dijanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as itu pasti akan sempurna karena banyak sekali janji yang kita  lihat telah sempurna. Janji-janji Allah Ta’ala bersama [kepada] Hadhrat Masih Mau’ud as tidak terbatas dengan suatu zaman atau tidak pula bahwa  ada beberapa janji saja yang akan sempurna dan beberapa yang tidak akan sempurna. Nubuatan-nubutan yang beliau telah nubuatkan dengan mendapat pemberitahuan dari Allah Ta’ala atau apa yang telah Allah Ta’ala sampaikan kabar suka kepada beliau itu adalah untuk menjadi sempurna. Allah Ta’ala tidak pernah menarik kembali atau mundur dari janji-Nya. Ya, untuk mengambil bagian dari (sempurnanya janji) itu perlu berjalan pada jalan-jalan yang telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala. Perlu menegakkan standar ketaatan dan pengorbanan kita. Selama kita terus melakukan ini maka pertolongan Allah akan terus bersama kita, Insya Allah. Jika kita menyaksikan sampai ke kedalaman, maka janji kebangkitan Islam yang kedua kali di zaman Masih Mau’ud as Allah telah janjikan dengan Rasulullah saw. Dan kemajuan Islam melalui Ahmadiyah  merupakan janji Allah yang diterangkan dalam ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ

wa akhariina minhum lamma yalhaquu bihim “Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka…” (Al-Jumuah, 62: 4).

Bahkan kalau kita tambah renungkan  dan kita saksikan  maka keyakinan akan menjadi sempurnanya janji-janji Allah akan cukup  dari kata-kata atau kalimat qad shaddaqtar ru’ya, engkau telah menyempurnakan mimpimu. Dalam menyempurnakan mimpi itu bukanlah hanya andil bapak semata, bahkan ketika  anak mengatakan ‘satajiduni insya Allahu minash shaabirin’ “Jika Allah menghendaki maka engkau akan mendapatkan aku diantara orang-orang yang bersabar”. Jadi perjanjian untuk sabar itu telah memberi tekad meraih standar pengorbanan bagi generasi yang akan datang. Hanya dengan terputusnya leher apa kesabaran yang akan terjadi [Hingga meninggal senantiasa mengamalkan kesabaran]. Mutiara kesabaran akan terbuka pada saat tegaknya pengorbanan yang permanen (terus-menerus); ketika tanpa keluhan dalam bentuk apapun tiap waktu demi untuk Allah mempersembahkan diri sendiri untuk setiap pengorbanan. Dan (pengorbanan) itu tegak setelah melewati sepanjang kehidupan (umur) dari masa kecil sampai akhir hayat di padang tandus yang tidak ada air. Dan ketika Allah berfirman inna kadzaalika najzil muhsinin, “Sesungguhnya kami seperti itulah memberikan ganjaran kepada orang yang berbuat kebaikan”. Dan setelah mendapatkan keduanya siap untuk pengorbanan itu, Dia telah menghitungnya dari antara orang yang berbuat kebaikan. Tetapi penghitungan sejati muhsininorang-orang  yang berbuat baik akan mulai bersama masa penyembelihan yang agung itu. Ketika dengan (perantaraan) kekuatan daya penyucian (quwwat qudsiyyah) Rasulullah saw, Allah Ta’ala telah menciptakan ratusan ribu muhsinin, orang-orang yang berbuat kebaikan. Dia telah menciptakan ratusan ribu orang-orang yang melakukan kebaikan; yang telah menegakkan contoh kesabaran dan kesetiaan. Dan sebagaimana saya telah beritahukan bahwa pada zaman akhirin ini Allah Ta’ala telah ikat dengan zaman yang di dalamnya mulai lagi tegak contoh kesabaran dan kesetiaan. Perumpamaan contoh kesetiaan hanya Allah Ta’ala berikan kepada Ibrahim as.

وَ  اِبۡرٰہِیۡمَ  الَّذِیۡ  وَفّٰۤی ﴿ۙ﴾

Wa ibraahiima lladzii waffa “Ibrahim yang telah menyempurnakan janji kesetiaan sempurna.” (Q. Surah An-Najm, 53: 38) Hadhrat Masih Mau’ud dengan refrensi ayat ini memberikan komentar bahwa ketika dia siap untuk mengorbankan putranya maka suara ini terdengar. Jadi ketika kesetiaan bapak dan kesabaran anak menyatu maka Allah Ta’ala tidak hanya untuk meneruskan kenangannya telah menetapkan kewajiban ibadah haji untuk orang-orang Islam dan kemudian dari generasi itu Dia telah membangkitkan nabi agung yang telah menegakkan standar fana fillah yang unik dan agung. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran

قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ

Qul inna shalati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil alamin, “Engkau katakanlah kepada mereka bahwa shalatku, pengorbananku, kehidupanku dan matiku adalah  hanya untuk  Allah  Rabb sekalian alam.” (Al-An’am, 6: 163). Dan kemudian Allah berfirman kepada kita bahwa berjalanlah atau ikutilah sesuai dengan contoh rasul itu. Karena kini contoh inilah yang akan menegakkan standar untuk kamu, dan juga menegakkan standar peribadahan untuk kalian. Bahkan standar setiap akhlak, setiap standar perbuatan baik adalah berada dalam diri Rasulullah saw. Jadi standar kesetiaan, kesabaran dan pengorbanan Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail-lah yang telah menegakkannya, dan puncaknya berakhir setelah datang kepada Hadhrat Muhammad Mustafa saw. Mulai dari standar-standar permulaan hingga contoh-contoh standar yang tertinggi setelah menyuguhkan kepada kita Allah lalu memerintahkan kepada kita bahwa untuk kalian contoh terbaik merupakan standar yang tertinggi. Untuk meraih standar yang tetinggi ini dalam diri sahabat Rasulullah saw ribuan Ismail-Ismail telah lahir. Yang demi untuk meninggikan nama Allah, demi untuk membela Islam, demi untuk menyebarkan ajaran Rasululah saw di dunia mereka menyuruh memotong leher-leher mereka  atau merelakan leher-leher mereka untuk dipotong di jalan Allah dan mereka telah mempersembahkan jiwa mereka. Mereka telah memperlihatkan contoh kesabaran dan kesetiaan. Dan sebagaimana yang telah saya terangkan bahwa disebabkan oleh kesetiaan dan kesabaran mereka Allah telah menganugerahkan kepada mereka gelar radhiyallahu ‘anhum. Jadi hari inipun inilah pekerjaan murid-murid Masih Muhammadi bahwa mereka terus menjadi pendekar kesabaran dan kesetiaan. Pada tahun ini  pengorbanan-pengorbanan yang  hampir seratus untuk mengairi ladang-ladang cinta dan kesetiaan yang telah diberikan oleh murid-murid Masih Muhammdi  ini sesungguhnya merupakan bukti bahwa kita di dalam medan kesetiaan dan kesabaran itu bukanlah merupakan orang-orang yang mundur kebelakang. Jadi orang-orang yang melakukan pengorbanan itu mereka telah meraih keredhaan Allah. Karena ini merupakan janji Allah. Kepada saya surat-surat yang datang bersama pernyataan itu bahwa kami pun siap untuk mempersembahkan pengorbanan, kami adalah di dalam kelompok yang berkenaan dengan itu Al-Quran telah sebutkan bahwa

مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا  

Minal mu-miniina rijaalun shadaquu maa ‘ahadullooha ‘alaihi faminhum man qadhaa nahbahu waminhum may yantazhir wa maa badaluu tabdiilaa, “Di antara orang-orang yang beriman, ada orang-orang yang benar-benar telah menepati apa yang dijanjikan mereka kepada Allah. Maka sebagian dari mereka telah menyempurnakan niatnya, meninggal, dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka tidak merubah sedikit pun”, yakni dari kalangan mereka ada juga yang kini tengah menunggu bahwa kapan kami mendapat kesempatan maka kami pun  akan memperlihatkan benar janji setia  kami (Al-Ahzab, 33: 24). Jadi Id ini dalam rangka mengenang  pengorbanan-pengorbanan  orang-orang yang melakukan pengorbanan merupakan Id memperbaharui janji وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ  waminhum may yantazhir, diantara mereka masih ada yang menunggu. Ini  Tuhan yang Maha mengetahui bahwa dari mana saja dan dari siapa saja Dia akan mengambil pengorbanan itu. Tetapi jika sambil memenuhi janji setia kita dengan sabar dan doa kita terus menjalin ikatan kuat kita dengan Tuhan, dan orang-orang yang kita cintai yang telah pergi menjadi milik Tuhan, jika dengan meletakkan contoh mereka kita terus menciptakan keteguhan dalam iman kita maka kita pasti akan menjadi waris dari karunia-karunia Allah. Perasaan rasa tenang dan puas ini Tuhanlah yang memberikan itu kepada kita. Bahwa orang-orang yang ikhlas melakukan kebaikan-kebaikan Allah akan memberikan ganjaran. Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa Allah Ta’ala sedemikian rupa menganugerahkan (penghargaan) kepada pengorbanan-pengorbanan orang-orang kita yang melakukan pengorbanan, hingga mulai dari  hutan–hutan dan padang belantara Afrika yang sejauh-jauhnya sampai di kota-kota penuh keramaian di benua Eropa dan Amerika tidak hanya pesan atau amanat Ahmadiyah yang sampai kesana bahkan jumlah orang-orang yang baiatpun menjadi bertambah. Pada saat ketika saya tengah memeriksa laporan satu per satu negara-negara Afrika dimana pada tahun kemarin jumlah yang baiat itu adalah 1000 orang namun sesudah pensyahidan itu disana dalam beberapa bulan ini saja telah baiat sejumlah mendekati 5 ribu orang. Kemudian seorang murabbi kita yakni seorang muballigh kita menulis dalam laporannya, “Saya pergi ke satu tempat dimana situasi dalam keadaan paceklik berat. Dan tanaman-tanaman mereka pun tengah nengalami kehancuran. Orang-orang disana tengah keluar untuk melakukan shalat istisqa. Maka saya bertanya kepada imamnya yang bukan Ahmadi, ‘Bagaimana anda akan mengimami shalat? Cara sebenarnya adalah ini.’ Maka dia mengatakan, ‘Tuanlah yang mengimami shalat.’ Beliau (Muballigh kita) mengimami shalat dan beliau mengatakan, “Pada saat itu keadaan saya terjadi seperti ini (berdoa), ‘Allah Yang Mahaluhur, kini  baru  berlalu beberapa hari ketika terjadi peristiwa di Lahore dimana 85 atau 86 orang Ahmadi telah memberikan pengorbanan. (Ya Allah,) Hari ini perlihatkanlah oleh Engkau (suatu) pemandangan ini bahwa sebagai penerimaan atas pengorbanan-pengorbanan mereka itu anugerahkanlah kepada kami jemaat yang besar disini.’” Dan Allah Ta’ala kemudian memperlihatkan pemandangan yang mengherankan bahwa di saat panas yang terik tidak lama kemudian datang awan mendung dan hujan pun turun, sehingga di kampung itu menjadi masyhur, “Ini merupakan berkat doa orang-orang Ahmadi, tanaman kita menjadi subur” dan disana lebih dari seribu orang yang telah baiat. Jadi inilah pemandangan yang Allah Ta’ala tengah perlihatkan. Begitu juga dari negara-negara Arab  tengah datang banyak surat yang menyatakan perhatian mereka mulai tertarik. Di Ghana ada dua pimpinan umat Islam  yang sebelumnya selalu  terdepan dalam melakukan penentangan kini keduanya telah baiat. Jadi inilah angin yang Allah Ta’ala tengah hembuskan  yang mencondongkan hati manusia tertarik kepada Ahmadiyah. Ini merupakan sebuah bukti bahwa Allah telah mengabulkan pengorban-pengorbanan itu yang tanda-tanda lahiriahnya juga tengah zahir. Ahmadiyah bukanlah agama atau golongan atau kelompok lokal, akan tetapi (Ahmadiyah) ini merupakan gambaran Islam yang hakiki. Dan Islam adalah agama universal (alamgiri madzhab) yang  kemenangannya di dunia merupakan janji Allah. Jadi  apakah dengan perlawanan  Pakistan atau dengan perlawanan beberapa negara Islam  amanat yang universal itu bisa dicegah (dihentikan)? [Pendapat] ini merupakan keluguan para penentang. Bahkan di negara-negara Islam pun perhatian tengah tertuju kepada Ahmadiyah. (Hal) ini bukan karena persoalan pribadi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian tetapi merupakan janji Tuhan Yang Mahaluhur kepada Rasulullah saw yang mana tidak ada kekuatan dunia yang dapat mencegah (janji itu) menjadi sempurna. Hari ini di seluruh  permukaan bumi ini, hanya satu Jemaat  yang merupakan Jemaat para ghulam (pelayan) Hadhrat Masih Muhammadi yang setelah menjadi bagian dari janji Ilahi dan menjadi bagian dari takdir Ilahi mereka tengah menjalankan kewajiban  menyampaikan amanat Islam  ke seluruh penjuru dunia. Walhasil, hanya Jemaat Ahmadiyahlah yang tengah menyampaikan amanat ini yang merupakan amanat dari Rasulullah saw dan untuk itu pengorbanan-pengorbanan orang-orang Ahmadi itu tengah  memperlihatkan  dan  membukakan  jalan-jalan baru. Jadi kecerdasan dan ketangkasan yang Rasulullah saw telah tanamkan, pemahaman mengenai ‘dzibh azhim’ (penyembelihan atau pengorbanan agung) yang ada di dalam diri kita,  Rasulullah saw yang telah menanamkannya. (Perihal) ini pada hari ini, dalam diri ghulam-ghulam (pelayan-pelayan) Masih Muhammadi, di setiap orang-orang Muslim Ahmadi dari berbagai bangsa sedang terlihat muncul dengan sebuah tanda. Baik dia sebagai Ahmadi Pakistan atau Ahmadi India atau sebagai Ahmadi Bangladesh atau Ahmadi Indonesia atau sebagai orang Ahmadi di suatu negera Afrika atau di negara Arab harus mulai memperhatikan sungguh-sungguh standar dari pengorbanan-pengorbanan supaya kita segera menyaksikan muncul dan berkibarnya bendera Islam dan Ahmadiyah di seluruh penjuru dunia. Semoga Allah menjadikan (Hari Raya) Id ini sarana bagi kita untuk selalu mengenang pengorbanan-pengorbanan orang-orang yang kita kasihi dan kita tidak akan duduk dengan tenang sebelum kita melihat bendera Muhammad  Mustafa saw tertancap di seluruh penjuru dunia lalu  kita melihat cinta dan kasih sayang, kesabaran, kesetiaan dan sebanyak mungkin orang-orang  di dunia ini yang beribadah kepada Tuhan. Dan manakala ini yang terjadi maka ini merupakan Id hakiki pengabulan pengorbanan-pengorbanan kita. Semoga Allah menganugerahkan taufik (untuk melakukan hal) ini kepada kita. (aamiin)

Khotbah ke-II: Doa dan Id Mubarak

Kini marilah kita  berdoa. Di dalam doa-doa kita  ingatlah  keluarga para syuhada; ingatlah para muballigh Jemaat; ingatlah semua mereka yang telah memberikan pengorbanan–pengorbanan yang dalam corak apapun mereka tengah memberikan pengorbanan untuk Jemaat. Semoga Allah memberkati Id ini untuk  kita dari segala segi. Dan sambil mengabulkan akan pengorbanan kita yang hina dia memperlihatkan kepada kita pemandangan kemenangan. Dan bersama itu saya menyampaikan kepada kalian pesan “Id Mubarak” kepada semua  dan kemudian kepada semua orang-orang Ahmadi di dunia. Semoga Allah dari segala segi memberkati Id ini untuk setiap orang,  untuk  setiap orang Ahmadi .

Kemudian Hudhur ayyadahullah mengangkat tangan untuk memimpin doa bersama [jamaah shalat Id yang berjumlah) ribuan orang dan jutaan orang-orang Ahmadi di seluruh benua besar yang dengan melalui MTA menyimak secara langsung khutbah Hudhur Anwar ayyadahullah merekapun ikut serta dalam doa bersama itu.

Penerjemah: Mln. Qamaruddin Syahid

[1]Hudhur ayyadahullah mengimami shalat idul-adha di mesjid Baitulfutuh, London (Inggris) dan beliau menyampaikan khutbah yang mencerdaskan pikiran  dengan penuh gelora dan semangat. Di mesjid Baitul Futuh dan aula-aula  di sekelilingnya kurang lebih 10.000  pria wanita dan anak-anak   yang melakukan shalat Id mengikuti Huzur dan mendengarkan khutbah Hudhur ayyadahullah. Ringkasan khutbah Hudhur ayyadahullah ini disuguhkan pada para pembaca atas  tanggung jawab redaksi [Mingguan Al-Fazl International terbit tiap hari Jum’at, London-UK, 3 Desember 2010).

[2]Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz (semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan yang agung)

[3] ‘alahissalam dan ‘alahish shalaatu wassalaam selanjutnya disingkat as

[4] Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan/atau shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam selanjutnya disingkat saw

[5] Keduanya berumur 14-15 tahun, bekerjasama membunuh Abu Jahal dalam perang Badr. Keduanya mengincar Abu Jahal karena ‘…dia telah banyak menganiaya  kaum muslimin dan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam’. Dalam perang itu, Muadz terluka parah terpotong tangannya saat duel dengan putra Abu Jahal, Ikrimah.

[6] Pada tahun 1974 Parlemen Pakistan sepakat menyatakan Ahmadiyah sebagai bukan Islam (sepertinya baru pertama kali terjadi ada sebuah dewan rakyat dalam sebuah negara demokrasi menyatakan perihal islam tidaknya sebuah golongan agama). Ordonansi 1984 yang dikeluarkan pemerintah Presiden Zia ul Haq mempersempit dan lebih menekan lagi gerak kehidupan orang Ahmadi dalam banyak segi sehingga pada masa inilah terjadi perpindahan besar-besaran orang Ahmadi Pakistani ke berbagai negara di dunia seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Afrika.

(Visited 54 times, 1 visits today)