Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

10 Oktober 2003 di Masjid Fadhl, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

 وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Sebelum Jumat yang lalu, dalam khotbah Jumat, saya tengah menerangkan bahwa setelah bergabung dalam Jemaat Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as, bersamaan dengan memegang perjanjian akan mengamalkan sepuluh butir syarat-syarat baiat itu, apa perubahan-perubahan suci yang terjadi dalam diri para warga Jemaat. Ada beberapa peristiwa yang telah saya sajikan; kini topik itulah yang saya akan lanjutkan. Dalam Syarat yang kelima Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengambil janji ini: “Kondisi apapun yang terjadi padanya, baik keadaan susah maupun senang, dalam keadaan ditimpa bencana mau pun musibah, ditimpa derita kehinaan maupun dicemarkan nama baik (difitnah), tidak akan mengeluh pada Tuhan (memalingkan muka dari Tuhan). Ya, akan terus-menerus memohon karunia-Nya diiringi tekad akan tetap ridha pada keridhaan (kehendak)-Nya.” [Syarat Baiat ke-5: ”Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala dalam segala keadaan susah ataupun senang, duka atau suka, nikmat atau musibah, pendeknya akan ridha atas putusan Allah Ta’ala dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah Ta’ala. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa oleh suatu musibah bahkan akan terus melangkah maju ke muka.”] Sehubungan dengan itu saya menyajikan contoh-contoh secara amal perbuatan.

Pertama adalah contoh teladan Hadhrat Khalifatul-Masih I ra. Pada bulan Agustus 1905, putra beliau Abdul Qayyum wafat sesudah beberapa hari terserang cacar air. Pada waktu itu umurnya baru kurang lebih dua tahun. Teladan yang Hadhrat Khalifatul-Masih I ra tunjukkan ialah dalam mengikuti sunnah Nabi [saw] beliau mencium anak itu, dengan diiringi linangan air mata seraya bersabda: “Saya membuka wajah anak itu bukan karena saya merasa cemas, tetapi karena mengikuti Sunnah Nabi saw. Tatkala putra Rasulullah saw, Ibrahim, wafat, maka Rasulullah saw mencium wajahnya dan air mata beliau bercucuran dan beliau lalu memuji Tuhan sambil bersabda,” وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ لَمَحْزُونُونَ” ‘Walaupun untuk sejenak saja tidak ada orang yang menyukai perpisahan, tetapi kami ridha pada kehendak Tuhan.’ Untuk menyempurnakan sunnah inilah saya pun membuka wajahnya lalu menciumnya. Ini adalah merupakan karunia Tuhan dan merupakan hal yang menyenangkan kita telah dianugerahi taufik untuk menyempurnakan salah satu Sunnah Nabi saw.”[1]

Ini memang merupakan amal/sikap orang yang berkenaan dengannya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

 “Betapa indahnya jika setiap orang dari umat menjadi Nuruddin, tetapi ini baru bisa apabila setiap hati sanubari penuh dengan nur keyakinan”.

Lalu, teladan Hadhrat Tn. Chaudri Nashrullah Khan. Tn. Chaudri Zafrullah Khan menuturkan, “Saudara kami bernama Hamidullah Khan – adik Al-Marhum Chaudri Syukrullah Khan dan kakak Chaudri Abdullah Khan – meninggal setelah sakit beberapa hari dalam umur delapan atau sembilan tahun. Dia meninggal pada waktu pagi. Ayah kami terus sibuk semalam suntuk untuk merawatnya. Sesudah kewafatan, selesai memandikan, mengkafani jenazah dan memakamkan almarhum Hamidullah Khan, pada saat pengadilan buka, sesuai dengan rutinitas yang ada, beliau hadir menjalankan tugas-tugas kantor. Tidak ada satu pun pengacara dan tidak pula kepala kantor pengadilan (pemerintah) di sana yang merasakan atau dari antara rekan-rekan seprofesi beliau yang bekerja di sana mendapat informasi bahwa beliau baru saja telah memakamkan anak yang beliau cintai dengan ridha pada kehendak Tuhan dan hadir di kantor untuk melaksanakan tugas-tugas dengan penuh semangat.”[2]

Hadhrat Qadhi Dhiyauddin menulis: ”Pada saat istri dan tiga putra saya wafat, para penentang di sini menjadi bertambah ramai. Mereka menempuh berbagai macam cara dalam upaya merongrong kehormatan dan menimpakan berbagai kerugian harta benda pada kami. Di rumah kami terjadi juga perampokan. Kini dengan merenungkan segenap musibah itu secara bersama-sama dengan baik dapat diketahui betapa saya yang lemah ini terus terjerat dalam musibah dan derita yang bertubi-tubi. Dan semua bencana dan musibah itu telah muncul yang sebelumnya sudah Hudhur as beritahukan.

Pada saat itulah Hadhrat Masih Mau’ud as atas dasar rasa solidaritas kepedulian mengirim ucapan simpati ikut berduka yang menyejukkan. Dan itu pun termasuk juga dalam kategori nubuatan yang telah sempurna dan sedang sempurna. Beliau pun menulis, ‘Memang pada kenyataannya tuan mengalami ujian yang sangat berat. Dan ini merupakan Sunnatullah bahwa Dia ingin menyatakan keteguhan hamba-Nya yang senantiasa memiliki komitmen pada orang-orang banyak dan supaya dengan bersabar mereka mendapatkan ganjaran-ganjaran yang besar. Allah akan menganugerahkan kebebasan dari segenap musibah. Musuh-musuh akan menjadi hina sebagaimana terjadi pada zaman para sahabah yang mana Allah telah menopang bahtera mereka yang siap tenggelam. Demikian pulalah yang akan terjadi di tempat ini. Doa-doa buruk mereka akan kembali menimpa mereka sendiri.’ Jadi – Alhamdulillah – dengan doa Hudhur as sesuai dengan itulah yang telah terjadi. Yang lemah ini dalam setiap keadaan terus bertambah maju dalam keteguhan dan kesabaran”[3]

Keteladanan Maulwi Burhanuddin ra seperti diriwayatkan oleh putranya, “Pada saat permulaan tatkala Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke Sialkot, beliau as menyampaikan ceramah dari suatu tempat ke tempat lain dan para sahabah yang lain pun ikut bersama beliau as. Tatkala tengah lewat di sebuah gang tiba-tiba seseorang karena kejahilannya menuangkan sampah di atas kepala Hudhur dari atas rumahnya. Hudhur as dengan karunia Tuhan dapat selamat sebab telah lewat duluan. Tetapi abu-abu keranjang sampah itu jatuh menimpa kepala ayah saya.

Akibatnya, seorang tua dengan janggut putih rambut terwarnai abu-abu menjadi tontonan orang banyak. Oleh sebab beliau sosok yang demikian larut dalam kecintaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, maka apa yang terjadi? Di sana beliau berdiri dengan dikuasai kondisi fana dan dengan penuh suka-cita mengatakan,  ”pamai pamaipaa, paa – hai perempuan tua, hai perempuan tua, tumpahkanlah lagi di sini (di atas kepala saya), tumpahkanlah lagi di sini!’ Beliau ra biasa mengatakan bahwa itu adalah karunia Allah atas beliau yang memperoleh hadiah berkah itu karena Hadhrat Sahib.”

Demikian pula ada sebuah peristiwa lain lagi. “Tatkala Hadhrat [Mirza Ghulam Ahmad] Sahib, berangkat pulang dari Sialkot, murid-murid beliau mengantarkan beliau ke stasiun kereta api. Sesudah menyaksikan beliau as berangkat di kereta itu, mereka kembali ke rumah masing-masing. Karena suatu sebab Maulwi Burhanuddin ra ini tertinggal di belakang sendirian. Para penentang menangkap beliau lalu memperlakukan beliau dengan sangat hina hingga mulut beliau mereka tutup dengan kotoran. Tetapi di dalam kehinaan itu ayah saya merasakan mendapat sebuah kehormatan dan dalam derita itu beliau merasakan ketentraman. Berkali-kali beliau mengatakan burhaniya eehea nikmataa kethuu – wahai Burhanuddin! Nikmat-nikmat ini dari mana tersedia engkau bisa peroleh? Artinya, demi agama kapan seseorang itu akan disakiti. Ini jelas-jelas nasib yang baik.”[4]

Maulwi Abdul Mugni menulis mengenai ayah beliau, Maulwi Burhanuddin ra: “Setelah menerima Ahmadiyah kondisi keuangan keluarga demikian buruknya sehingga berbulan-bulan dalam keadaan paceklik itu kami sekeluarga sampai-sampai tidak pernah melihat minyak goreng. Sebagai ganti membeli bahan bakar kami memasak menggunakan daun-daun kayu syisyem (jenis kayu keras) yang kering. Tetapi dengan itu masakan tidak bisa matang. Oleh karena itu sebelumnya kacang-kacang itu kami bakar dulu di rumah, lalu itu kami giling. Kini, setelah memasukkan air, garam dan cabe kedalam kendi, kami mulai menyalakan dedaunan kering itu dari bawah. Dan apabila air mulai mendidih maka kami memasukkan kacang yang telah dibakar dan telah digiling itu. Bersama lauk sayuran inilah kami makan roti kami.

Terkadang dapat menikmati roti terbuat dari jagung, bajrah dan gandum. Bukannya menggunakan minyak samin, tetapi kami hanya menggunakan minyak tempat bakaran roti (tidak menggunakan apa-apa). Bukannya menggunakan sag (sayuran), tetapi pucuk-pucuk dedaunan yang masih muda. Pakaian layaknya pakaian petani di masa silam, bukan pakaian para mullah/kyai”.

Beliau berkata, “Pada dasarnya, setelah ayah bertemu dengan Tn. Hadhrat timbul dalam diri beliau kecintaan, kasih sayang, antusiasme dan semangat terhadap beliau as; dan sebagai akibat kecintaan dan obsesi ini, mutlak sama sekali beliau tidak menghiraukan ketentraman, kesejahteraan dan makan beliau sendiri. Hanya satu dalam benak dan pikiran beliau, yaitu api cinta yang ada dalam diri beliau, yaitu bagaimana agar api kecintaan pada Ilahi, api kecintaan pada Rasul, dan kecintaan pada Hadhrat Sahib, dapat tertanamkan di kalbu setiap orang. Setiap saat beliau memikirkan dengan penuh gejolak gairah semangat, kecintaan, penuh perhatian dan rasa cemas yang membayangi beliau, yaitu bagaimana agar Ahmadiyah dapat berkembang. Tidak terpikir makan, minum dan pakaian beliau.

Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui bagaimana saya dan ibu saya melewati kondisi hari-hari itu. Meski dalam kondisi sulit (melarat) dan ketidak-berdayaan, tetapi percaya diri, kesabaran dan keteguhan beliau bagaikan gunung yang kukuh. Ghairat (semangat dan kehormatan) dalam diri beliau terhadap agama sedemikian hingga tidak ada keserakahan, corak persaudaraan dan hubungan kekerabatan apapun yang dapat menjadi penghalang. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah dan kami pun memperoleh pemeliharaan [Allah] dalam lingkungan yang mana dunia dan seisinya tidak ada artinya pada pandangan kami. Melihat ketidak-pedulian itu orang-orang mengatakan Tn. Mirza memberikan gaji kepada Tn. Maulwi.”[5]

Contoh kesabaran tak tertandingi Hadhrat Ummul-mu-minin yang contohnya tidak akan didapatkan. Pada saat detik-detik terakhir kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Ummul mu-minin bukannya seperti perempuan-perempuan dunia lainnya yang menangis, berteriak dan mengucapkan kata-kata tanda ketidaksabaran, tetapi dengan memperlihatkan contoh suci, beliau dengan segera bersujud sambil memanjatkan doa ke hadirat Allah dengan penuh kerendahan hati. Dan tatkala pada akhirnya dibacakan surah Yasin dan ruh suci Hudhur terbang menuju kepada Tuhan-Nya, maka Hadhrat Ummul Mu-minin membaca, اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ lalu beliau diam.

Beliau sama sekali tidak menunjukkan rasa cemas serta keluhan apa-apa. Di dalam rumah beberapa perempuan mulai menangis, maka beliau dengan kerasnya memarahi perempuan-perempuan itu seraya berkata, “Beliau adalah suami saya, namun saya tidak menangis, lalu kalian yang menangis ini siapa?” Adanya contoh kesabaran dan keteguhan hati sosok perempuan suci yang tadinya terawat baik dalam lingkungan kehidupan yang serba ada dan sang suaminya yang meninggal pun merupakan raja ruhani lagi suami suci yang senantiasa bersabar atas kemanjaannya merupakan mukjizat yang sangat luar biasa.”[6]

Selanjutnya, beliau menasihati anak-anak juga, “Kalian janganlah menyangka ayah kalian tidak meninggalkan apa-apa, bahkan beliau meninggalkan khazanah doa-doa yang sangat luar bisa untuk kalian yang akan senantiasa bermanfaat pada waktu mana kalian perlukan.” Hadhrat Masih Mau’ud as menghendaki supaya orang yang bergabung dalam Jemaat beliau mengamalkan ajaran-ajaran Al-Quran atau sekurang-kurangnya merupakan orang-orang yang berupaya mengamalkannya dan mengimaninya. Jika tidak mengimani satu perintah sekalipun, sabda beliau “maka dia tidak ada ikatan dengan saya.”[7]

Beliau menghendaki orang-orang yang mengimani beliau jauh dari segenap tradisi-tradisi dunia lalu merupakan sosok-sosok yang menghindar dari keserakahan-keserakahan dunia dan adat istiadat yang sia-sia. Mereka merupakan orang-orang yang berupaya mengamalkan amal-amal yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan kepada mereka. Apa-apa yang Rasul Allah perintahkan adalah apa yang tertera dalam Al-Quran. Oleh karena itu, tatkala seorang bertanya kepada Hadhrat Aisyah ra, “Beritahukanlah kepada kami mengenai akhlak Rasulullah saw maka beliau ra menjawab, “Apakah kalian tidak membaca Al-Quran? Apa saja akhlak-akhlak yang diterangkan dalam Al-Quran itulah akhlak Rasulullah saw.”[8]

Oleh sebab itulah Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Saya hanya mengikuti majikan saya dan panutan saya dan setiap perintah Al-Quran saya nyatakan/akui sebagai pedoman hidup saya. Kalian pun jika berupaya mengikuti sepert iitu maka baru kalian akan terhitung masuk dalam Jemaatku; dan setelah baiat, contoh-contohnya pun Jemaat perlihatkan”.

Mula pertama di sini saya akan menyajikan sebuah contoh seorang perempuan yang tidak lain adalah ibu Hadhrat Chaudri Zafrullah Sahib. Keponakan beliau, Chaudri Mirza Basyir Ahmad menerangkan bahwa beliau menerangkan kepada Chaudri Sahib yang mengenai hal itu Chaudri Sahib menulis: “Betapa ibu saya sangat membenci tradisi-tradisi bid’ah yang perkiraannya demikian.” Beliau berkata, “Waktu itu sedang berlangsung acara nikah saya (nikah Chaudri Mirza Basyir Ahmad). Setelah nikah, saya dipanggil ke tempat perempuan. Saya melihat bahwa sebagaimana di kampung ada semacam tradisi di mana diletakkan dua tempat duduk yang diatur berhadap-hadapan dan kepada saya diharapkan bahwa saya akan duduk di salah satu dari tempat duduk itu dan kemudian di tempat duduk yang satu lagi pengantin perempuan didudukkan lalu beberapa tradisi akan dilaksanakan yang dalam bahasa Punjabi disebut Bermain Bero gory.

 Saya merasa takut dalam hati. Tetapi kembali saya berpikir bahwa saat ini berbahas dengan perempuan-perempuan dan tidak mau menurut tidaklah cocok dan saya duduk di tempat yang disediakan untuk saya dan saya mengulurkan tangan saya ke arah benda-benda yang disediakan untuk pelaksanaan tradisi itu. Maka pada waktu itu bibi (ibu Chaudri Sahib) memegang pergelangan tangan saya dengan kerasnya lalu mendorongnya ke belakang sambil berkata, “Jangan nak, ini adalah merupakan perkara-perkara syirik”. Dari itu sayapun menjadi timbul semangat keberanian, saya pun menjadikan benda-benda itu berserakan dengan tangan saya dan sambil berdiri saya mengatakan bahwa saya tidak akan ikut serta dalam tradisi itu dan dengan cara itu saya dapat bebas.”

Dewasa ini pun para perempuan seyogianya memperhatikan hal itu. Jangan hanya sekedar mengikuti tradisi daerah dan negeri sendiri saja. Bahkan di manapun melihat tradisi-tradisi yang seperti itu, di mana sedikit saja sekalipun kemungkinan syirik terdapat di dalamnya seyogianya berupaya menghindar dari itu. Semoga semua perempuan Ahmadi dengan semangat itulah mereka menjadi orang-orang yang mendidik diri mereka sendiri dan juga menjadi pendidik anak-anak mereka. Di Negara-negara kita, baik di Pakistan atau di India dan lain-lain, di kalangan orang-orang Islam terdapat tradisi anak-anak perempuan tidak diberikan sepenuhnya harta benda mereka. Jangankan memenuhi sepenuhnya, bahkan sama sekali tidak mereka berikan haknya. Khususnya di kalangan orang-orang di kampung, dan para petani.

Satu contohnya adalah Chaudri Nasrullah Khan Sahib. Chaudri Sahib menulis, “Almarhumah saudara perempuan kami, sesuai dengan tradisi zaman itu, bapak kami pada saat pernikahannya memberikan jahiz yang banyak. Kemudian beliau juga menasihatkan warisan beliau akan dibagi-bagikan di antara anak-anak laki-laki dan anak perempuan beliau sesuai dengan syariat Islam. Maka sesuai dengan itu setelah beliau wafat, anak perempuan beliau pun diberikan bagiannya sesuai dengan ketentuan syariat”.

Satu peristiwa: Pada tahun 1892, Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke Jalandar. Tempat tinggal beliau ada di kamar atas. Seorang pembantu perempuan meletakkan huqqah (alat dan tempat isapan rokok yang terbuat dari tanah liat) lalu dia pergi. Pada saat itulah huqqah (kendi alat rokok) itu jatuh dan beberapa barang-barang terbakar karena apinya. Hudhur as atas kejadian itu menyatakan kemarahan beliau kepada orang yang menghisap huqqah (merokok) dan menyatakan kebencian (rasa jijik) beliau pada huqqah (rokok). Berita ini sampai kepada orang-orang Ahmadi yang ada di bawah yang di antara mereka beberapa orang yang merokok dan huqqah mereka pun ada di rumah itu. Pada saat mereka mengetahui kemarahan Hudhur as, maka semua penghisap huqqah memecahkan huqqahhuqqah mereka dan mereka berhenti menghisap huqqah (merokok). Dan saat Jemaat pada umumnya mengetahui Hudhur as tidak menyukai huqqah maka banyak orang Ahmadi yang memiliki keteguhan/tekad meninggalkan menghisap huqqah.[9]

Mirza Muhammad Beig dari Sahiwal juga meriwayatkan, “Pada suatu saat Hadhrat Mushlih Mau’ud as memerintahkan paman saya, Hadhrat Tn. Mirza Ghulamullah supaya menasihati teman-temannya agar meninggalkan menghisap huqqah. Paman sendiri juga menghisap huqqah. Beliau berkata kepada Hudhur (Mushlih Mau’ud), ‘Baik sekali, Hudhur.’

Sesampai di rumah, beliau langsung memecahkan huqqah yang terletak di dekat tembok. Bibi menganggap mungkin hari ini huqqah kepanasan terus-menerus karena terletak di tempat yang panas, maka perbuatan memecahkan ini adalah akibat kemarahan. Tetapi tatkala paman sama sekali tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun, maka bibi bertanya, ‘Kenapa hari ini marah kepada huqqah?’ Paman berkata, ‘Hadhrat Sahib memerintahkan kepada saya untuk melarang orang-orang menghisap huqqah dan saya sendiri menghisap huqqah, karena itulah pertama saya memecahkan huqqah saya sendiri.’ Maka paman sampai wafat tidak menghisap huqqah dan orang-orang pun terus beliau nasihatkan untuk supaya jangan menghisap huqqah.[10]

Dewasa ini, keburukan ini yang sejenis dengan menghisap huqqah yang telah menjadi tradisi ialah dalam bentuk merokok sigaret (rokok). Maka dari itu, para perokok seyogianya berupaya meninggalkan rokok. Sebab, jika sejak umur masih belia sudah merokok, secara khusus dari penyakit kebiasaan rokok itu seterusnya akan mengarah pada melakukan berbagai jenis dan bentuk merokok hingga akhirnya menggunakan campuran narkotika di dalamnya lalu dihisap/dibuat rokok. Itu merupakan sebuah langkah menghancurkan kehidupan para generasi muda yang Dajjal telah kembangkan, dan secara sangat disayangkan negara-negara Islam juga terlibat di dalamnya. Walhasil, para pemuda kita hendaknya berupaya meninggalkan merokok.

Hadhrat Tn. Munsyi Berkat Ali Khan, sahabah Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang pegawai di Shimla. Sebelum menjadi Ahmadi beliau memasang lotre (undian). Ternyata beliau memenangkan undian 7.500 rupees. Pada zaman itu beliau bertanya kepada Hudhur, maka beliau menyatakan itu sebagai judi dan bersabda, “Janganlah menggunakan itu untuk diri sendiri walaupun sepeser pun.” Maka semua uang itu Hadhrat Tn. Munsyi bagikan kepada fakir miskin.[11] Nah, inilah dewasa ini yang telah menjadi tradisi di Eropa, yaitu tradisi lotere. Orang yang memasang lotere atau undian dan memenangkannya, itu sama sekali tidaklah boleh, bahkan itu adalah haram. Persis sebagaimana haramnya uang judi. Pertama hendaknya itu jangan diambil dan jika undian itu keluar tanpa disengaja, tetap tidak dapat digunakan untuk diri sendiri.

Ada sebuah peristiwa Tn. Basyir Orchard, seorang penduduk asli negeri Anda, Inggris ini, yang setelah menerima Ahmadiyah menciptakan perubahan-perubahan suci dalam dirinya lalu mewakafkan diri. Pada tahun 1944 beliau menjadi Ahmadi dan di Qadian beliau beberapa lama meraih pendidikan, dan sebagaimana saya telah katakan dia telah mewakafkan dirinya untuk agama. Dan sesudah itu di dalam kehidupannya timbul perubahan agung yang luar biasa. Timbul dalam diri beliau ketekunan yang sangat luar biasa dalam beribadah dan doa-doa. Hasil perjalanan pertamanya ke Qadian adalah meninggalkan minuman keras. Dia sangat banyak meminum minuman keras. Setelah bergabung dalam Jemaat dengan segera dia meninggalkan minuman keras. Dia bertobat dari minuman keras dan judi dan memilih berpisah untuk selama-lamanya dengan kedua barang itu dan meninggalkannya untuk selama-lamanya.”[12]

Pada zaman itu juga, dewasa ini juga beberapa tahun sebelumnya sejumlah orang Ahmadi di sini juga, di Jerman juga, di negara-negara lain juga terdapat bisnis seperti itu di mana di restoran-restoran dan di hotel-hotel terdapat bisnis minuman keras (dan ada orang Ahmadi terlibat di dalamnya). Sesuai dengan hadits Nabi saw, orang yang membuat minuman keras, memberikan minuman keras, penjual minuman keras, orang yang menyimpan minuman keras dan segenap macam orang-orang yang seperti itu dikatakan sebagai penghuni neraka jahannam.[13]

Karena itu Hadhrat Khalifatul-Masih IV rahimahullah mengumumkan siapapun orang Ahmadi yang terlibat dalam bisnis seperti itu mereka dengan segera seyogianya meninggalkan bisnis seperti itu, kalau tidak akan diambil tindakan yang keras terhadap mereka. Maka Hudhur sendiri bersabda, “Dengan karunia Allah dalam jumlah yang sangat besar orang-orang Ahmadi meninggalkan bisnis itu dan sejumlah mereka dengan segera dianugerahi bisnis yang lebih besar dari itu dan sejumlah mereka diuji juga oleh Allah. Dan mereka sampai jangka waktu yang panjang tetap mahrum (luput) dari bisnis. Tetapi mereka dengan teguh tetap tegak dalam keputusan mereka dan kemudian mereka tidak lagi berupaya untuk menyentuhkan tangan mereka pada bisnis yang kotor itu”.

Seorang ghair Ahmadi di Amritsar, Mia Muhammad Aslam, pada bulan Maret 1913 pergi ke Qadian. Dia menulis mengenai Hadhrat Khalifatul-Masih I: ”Tn. Maulwi Nuruddin, yang karena sebagai Khalifah Tn. Mirza pada saat ini dia sebagai pemimpin Jemaat Ahmadiyah. Setelah saya dua hari hadir di dalam majlis-majlis ceramah dan dalam daras Al-Qurannya, saya merenungkan pekerjaan beliau, maka nampak kepada saya beliau merupakan wujud yang sangat suci, dan beliau berada pada jalur dan peraturan yang murni hanya semata-mata untuk Allah, sebab sepak terjang Tn. Maulwi mutlak bersih dari sikap dan perbuatan riya’ dan kemunafikan.

Di dalam cermin kalbunya terdapat gejolak kebenaran Islam yang sangat luar biasa, yang dalam bentuk sumber mata air yang bersih, dengan perantaraan tafsir ayat-ayat Al-Quran setiap saat dari adanya yang tanpa riya melimpah-ruah air ruhani menyirami orang-orang yang kehausan akan ma’rifat Ilahi. Jika Islam yang hakiki adalah Al-Quran, maka kecintaan yang tulus terhadap Al-Quran sebagaimana yang telah saya lihat dalam diri Tn. Maulwi, saya tidak pernah saksikan dalam diri siapa pun juga.

Ini bukanlah pengakuan terpaksa seperti yang dilakukan penganut yang membabi buta. Tidak, bahkan dia sosok filosuf yang luar biasa dan dengan penelitian ketajaman falsafahnya yang sangat luar biasa beliau telah terperangkap dalam kecintaan terhadap Al-Quran. Sebab tafsir Al-Quran yang bersifat falsafah luar biasa hanya saya dengar dari daras Al-Quran beliau. Mungkin di dunia ini hanya beberapa orang saat ini yang dapat memiliki keahlian melakukan seperti itu.”[14]

Kemudian sebuah wasiat yang Hadhrat Tn. Dr Abdus-Satar Syah nasihatkan kepada keturunannya. Bersabda: “Jadikanlah Al-Quran sebagai pedoman hidup dan senantiasalah sibuk dalam mengikuti sunnah serta dalam upaya kemajuan Jemaat dan dalam upaya pengembangan Islam, dan persiapkanlah juga generasi-generasi yang akan datang untuk senantiasa disiplin dalam perkara-perkara itu”[15] Setiap Ahmadi setiap saat seyogianya senantiasa memegang teguh nasehat ini.

Hadhrat Mirza Abdul Haq menulis berkenaan dengan Hadhrat Muluk Maula Bakhs ra: “Beliau mempunyai kecintaan yang khas pada Al-Quran. Beliau senantiasa siap sedia untuk mendengar hakikat dan ma’rifat Al-Quran, meski dalam keadaan sakit ataupun kondisi beliau lemah. Sesuai dengan hal itu, pada suatu saat di musim panas, sampai beberapa lama pada musim panas dari RW Darulfazal beliau datang ke Darurrahmat untuk melakukan shalat subuh, karena Maulana Ghulam Rasul Rajiki di masjid memberikan daras Al-Quran dan beliau terus memetik manfaat dari hakikat dan ma’rifatma’rifatnya.

Pada daras bulan Ramadhan yang diadakan di masjid Aqsha pun beliau hadir secara teratur. Beliau banyak membaca Al-Quran, membacanya sambil merenungkan isinya; dan di mana beliau memetik manfaat dari itu orang lain pun beliau ikut-sertakan. Pada bagian akhir umurnya, beliau mengatakan bahwa pada siang hari kapan saja berkali-kali diamati maka beliau tengah membaca Al-Quran. Qalam (pena) dan kertas selalu ada di samping beliau. Dan apabila beliau memahami sesuatu point yang halus menarik dalam arti suatu ayat maka beliau mengambil buku notesnya lalu sesudahnya beliau memperdengarkan kepada orang-orang rumah.

Tn. Mirza menulis, “Pada saat beliau memperdengarkan kepada anggota keluarga beliau maka nampak dari wajah beliau keinginan yang keras beliau bahwa keturunan beliau pun menjadi orang yang cinta kepada Al-Quran.”[16]

Pada saat seorang pemuda Kristen di Gambia bergabung ke dalam Jemaat, maka ibunya mulai menentangnya. Pertama, dia terus bersabar, namun tatkala ibunya mulai menghina Al-Quran maka dia meninggalkan rumah dan tidak kembali lagi ke rumahnya.[17] Jadi pada zaman inipun di negara-negara Afrika yang jauh berbagai mujizat ini tengah nampak.

Di dalam Islam terdapat izin untuk menikah sampai empat, kendati sebagian orang menganggap perizinan/kebolehan itu sebagai perintah. Pendeknya, ada izin untuk itu. Di Afrika terdapat semacam tradisi di sebagian suku tertentu bahwa orang-orang berkedudukan mulia atau jika dia itu hartawan atau seorang pemimpin maka mereka menikah lebih dari empat hingga sembilan sampai sepuluh kali. Tn. Ali Roger dari Sierra Leon tatkala bergabung masuk kedalam Jemaat, beliau masih muda dan memiliki istri 12 orang. Muballigh Jemaat, Maulana Nazir Ahmad Ali berkata kepadanya, “Kini Tuan telah menjadi Ahmadi, karena itu sesuai dengan ajaran Al-Quran tuan dapat memiliki istri empat, selebihnya yang lain harus ditalak dengan memberikan bekal secukupnya kemudian melepaskan mereka.” Dia tidak hanya segera mengamalkan petunjuk itu, bahkan sesuai perkataannya empat istri pertama beliau tetap jadikan istri dan istri-istri yang muda beliau lepaskan. Jadi perubahan ini adalah merupakan sebuah revolusi.

Kemudian seorang muballigh kita Yunus Khalid menulis: “V.V. Kahlo masuk ke dalam Jemaat pada zaman Maulana Muhammad Sadiq dari Amritsar melalui kasyaf. Beliau juga pernah menjadi amir Jemaat Ahmadiyah Siera Leone. Sebelum menjadi Ahmadi beliau sungguh seorang yang bebas. Lingkungan beliau sedemikian rupa bebasnya, sebab itu merupakan mata pencarian beliau dan beliau memang seorang dancer (pedansa).

Tetapi segera setelah baiat dia menciptakan perubahan dalam dirinya. Dia telah mengukuhkan kedudukannya dalam hal takwa, kesucian, ibadat, takut pada Tuhan dan dalam hal kejujuran. Dan Allah telah memberikan kemajuan yang luar biasa kepadanya. Dan beliau juga adalah seorang kepala suku di wilayahnya. Wilayah tempat beliau sebagai kepala suku terdapat tambang-tambang permata yang sangat besar. Beliau berkuasa untuk itu sebab para kepala suku di sana sangat memiliki kekuasaan di wilayah itu.

Jika beliau menginginkan maka beliau dapat mengambil keuntungan ratusan ribu bahkan puluhan juta rupees [sebagai hasil mengutip dari perusahaan tambang], tetapi akibat ajaran Ahmadiyah yang indah dan suci, mendapat kekayaan dengan cara ini beliau anggap haram untuk diri beliau. Beliau senantiasa menjalani kehidupan sederhana dan kehidupan darwisy. Beliau pun juga dikenal di kalangan elit dan para kepala suku bahwa Mr. V.V. Kahlo merupakan kepala suku yang sangat jujur. Beliau sendiri tidak mengambil uang sogokan dan tidak membiarkan karyawan beliau melakukan itu. Tatkala beliau sakit, suatu hari saya pergi untuk menjenguknya. Beliau memanggil saya dan berkata, ‘Yunus! Di hadapan saya setiap saat terlihat kalimah suci berwarna hijau, apa sebabnya?’ Saya katakan padanya, ‘Tuan pimpinan, tuan cinta dan fana kepada Allah dan Rasul-Nya, inilah dampaknya.’

“Saya sampai dua bulan terus pergi mengunjunginya dan inilah yang terus beliau katakan, ‘Kalimah suci dengan cahaya berwarna hijau senantiasa nampak tertulis di hadapan saya.’ Lalu, tatkala beliau masuk ke rumah sakit maka saat sakaratulmaut datang kepada beliau; Mr. Koji, seorang rekan Ahmadi memegang tangan beliau sambil berkata, ‘Hai Tuan pimpinan bacalah Laa ilaaha illalLaah!’ Maka, beliau membaca Laa ilaaha illalLaah. Kemudian Mr. Koji membacakan Muhammadur- rasuulullah maka beliau membaca Muhammadur- rasuulullah. Begitu selesai membaca kalimah suci itu kepala beliau tertunduk (wafat).”

Syarat yang ketujuh adalah bahwa dia akan senantiasa akan menaruh perhatian secara khusus pada sikap rendah hati, akhlak-akhlak mulia, kesederhanaan, dan lain-lain.[18] Nah, kebanyakan orang-orang semacam inilah yang mengimani para nabi Allah, yaitu orang-orang yang halus budi-pekertinya dan berkarakter sederhana. Bahkan, meski mereka berkemampuan terbatas dari segi harta, tetapi dalam pengorbanan-pengorbanan mereka merupakan sosok yang mengorbankan hartanya lebih antusias melebihi orang-orang yang kaya. Bahkan, jika terpaksa harus mengorbankan jiwa sekalipun mereka tidak akan segan. Mereka bukanlah sosok yang menyatakan kebesaran dan keakuan serta ketakabburan mereka, melainkan di hadapan setiap orang, baik besar maupun kecil senantiasa bersikap lemah-lembut dan rendah hati dan merupakan sosok yang menegakkan taraf yang tinggi dalam sifat kerendahan hati dan kesederhanaan.

Dalam hal inilah terdapat rahasia dan intisari kemajuan Jemaat-Jemaat Ilahi yaitu seberapa banyak nampak orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang sederhana yang menunjukkan contoh kerendahan hati yang luhur dan kesederhanaan yang tinggi, sebanyak itulah derap kemajuan menjadi bertambah lebih cepat, dan orang-orang yang mengimani para nabi pun adalah orang-orang yang serupa itu sebagaimana sebelumnya saya telah katakan. Nah, apabila pandangan para nabi menerpa kalbu-kalbu yang seperti itu dan mereka mengadakan jalinan dengan para Nabi maka itu akan memberikan mereka keindahan dan kecemerlangan yang lebih.

Orang-orang yang rendah hati, jika demi orang lain harus meninggalkan tempat duduk mereka lalu duduk di tempat sepatu, mereka akan pilih duduk di tempat sepatu itu. Tetapi, orang-orang pilihan Tuhan sedemikian rupa tajam firasatnya sehingga dapat mengenali orang seperti itu dan kemudian sebagai ganjaran atas kerendahan hati mereka itu dan untuk memberikan pengertian kepada Jemaatnya bahwa dalam Jemaat para Nabi kedudukan kerendahan hati dan kesederhanaan merupakan kedudukan yang paling tinggi, maka para Nabi mengangkat orang-orang yang rendah hati itu dari sana lalu mendudukkannya di samping beliau-beliau. Pada saat makan beliau panggil mereka agar berada di dekat beliau lalu memberikan makan kepada mereka bersama beliau dalam satu piring. Jadi penghargaan inipun para nabi lakukan kepada mereka karena akibat dari kerendahan hati, orang-orang seperti itu cepat menerima agama dan mereka merupakan orang-orang yang mengamalkannya secara sempurna.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Orang-orang yang miskin tidak takabbur dan mereka menerima kebenaran dengan penuh rendah hati. Saya katakan hal sebenarnya bahwa di kalangan para hartawan jarang sekali terdapat orang yang bahkan dapat memperoleh sepersepuluhnya saja karunia yang secara sempurna didapat oleh orang-orang yang miskin.” Oleh karena itu beliau bersabda: “Rendah hati merupakan syarat untuk masuk dalam Jemaat, supaya dapat mengerti agama dengan cara yang benar dan dapat mengamalkan ajaran agama itu.” Nah, kini perubahan itu bagaimana terjadi ada beberapa contohnya saya akan sampaikan.

Hadhrat Sayyid Muhammad Sarwar Syah ra di samping seorang ‘Alim besar beliau juga dari keluarga yang berkecukupan. Meski demikian, kesucian, rasa rendah hati dan kesederhanaan beliau layak sebagai teladan, dan setelah terikat dengan dan menjadi murid setia Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau sama sekali menghilangkan keinginan duniawi dari hati beliau. Dalam jangka masa kerja beliau selama di Madrasah Ahmadiyah, beliau menjalani kehidupan beliau di rumah yang sangat sederhana yang bahkan tidak layak untuk seorang pesuruh. Tatkala beliau telah meninggalkan dunia seluruhnya untuk mengkhidmati Hudhur as maka masalah kesenangan benda-benda dunia tidak ada lagi artinya.[19]

Kemudian di sini kembali contoh terkait dengan kerendahan hati Maulwi Burhanuddin. Pada suatu saat beliau hadir di hadapan Hudhur as. Tidak diketahui entah ke mana pikiran beliau tiba-tiba beliau begitu saja menangis. Hudhur as dengan lembutnya menanyakan, “Tn. Maulwi! baik, kan?” Beliau menjawab, “Saya sebelumnya menjadi Khoti [pengikut Pir Kothiwala], kemudian menjadi Bauli [pengikut Kyai Bauli], kemudian menjadi Ghazni (pengikut Maulwi Abdullah Ghaznawi) dan kini saya menjadi Mirzai. Saya menangisi karena saya tetap saja menjadi orang yang sia-sia. Yakni, pertama saya mencium kaki wali/menjadi murid seorang kyai dari Khot; sesudah itu saya mengkhidmati Kyai Bauli (menjadi murid Kyai Bauli); kemudian saya hadir mengkhidmati Maulwi Gaznawi dan kini saya hadir di hadapan Hudhur. Saya menangis karena saya tetap menjadi orang yang tidak layak dan tak pantas” (Inilah kerendahan hati beliau).

Lalu, Hudhur as menyatakan kasih sayangnya pada Tn. Maulwi dan menghiburnya. Beliau bersabda: “Tn. Maulwi, jangan khawatir, di mana Tuan ingin sampai tuan telah sampai. Kini, tidak perlu khawatir”, baru setelah itu beliau tenang dan puas.[20]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis: “Saudaraku karena Allah, Sayyid Fadhal Syah dari Lahore yang asalnya dari Jammu, merupakan sosok yang batinnya sangat bersih dan penuh dengan cinta dan ketulusan serta disinari dengan nur keyakinan yang sempurna. Dia senantiasa siap hadir berkorban dengan harta dan jiwanya. Hal ini karena moral dan prasangka baik yang merupakan sesuatu yang diperlukan di jalan ini terdapat dalam diri beliau dalam corak rendah hati yang sangat ajaib. Dia memiliki keimanan dari kedalaman kalbunya dengan kejujuran, kebenaran, kesucian dan kesempurnaan terhadap saya yang lemah ini dan dia mengembangkan jalinan dan kecintaan dengan saya hanya karena Allah hingga mencapai kedudukan yang tinggi. Sifat ketulusan dan kesetiaan terdapat sangat menonjol di dalam diri beliau. Kemudian saudaranya, Nasir Syah juga telah baiat di tangan yang lemah ini. Dan pamannya, Munsyi Karam Ilahi juga merupakan teman saya yang sangat akrab.”[21]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as menulis: “Saudaraku karena Allah, Tn. Rustam Ali, adalah seorang wakil inspektur polisi stasiun Kereta api. — (Di negeri-negeri kita citra Mahkamah kepolisian sangat buruk. Dari segi itu jika kita melihat latar belakang itu maka baru dapat memahami) – beliau seorang pemuda yang sangat saleh dan penuh dengan keikhlasan. Ia yang utama dari antara teman-teman saya. Di wajahnya sendiri nampak tanda-tanda keterasingan (kesederhanaan) dan nampak sifat tidak egois dan penuh dengan ketulusan. Saya tidak pernah melihat beliau goyah pada kondisi apapun. Dan pada saat dengan penuh keyakinan dia kembali pada saya, di dalam keyakinannya tidak terdapat kebuntuan maupun sifat kemurungan, bahkan hari demi hari terus menuju kepada kemajuan”.[22]

Selanjutnya, di dalamnya (butir syarat baiat) tertera kalimat, “Kami akan menghindari sifat takabbur“.

Berkenaan dengan ini saya akan memberikan contoh Sayyid Muhammad Sarwar sahib. “Kendatipun beliau ulama besar yang memiliki kedudukan khusus dalam bidang ilmu dan memiliki berbagai karunia dan keistimewaan, karakter beliau berseberangan dengan para ulama lainnya. Beliau berperilaku sederhana, rendah hati dan sedemikian rupa beliau merendah sehingga jika anak kecil sekalipun ingin berbicara dengan beliau maka tanpa segan-segan dapat berbicara dengan beliau. Beliau mendengarkan pembicaraannya dengan penuh rasa cinta dan memberikan jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaannya.

Maulwi Baqapuri ra menuturkan peristiwa masa kecilnya, “Salah seorang keluarga [saya] yang lemah ini melahirkan anak. Karena memperoleh informasi lewat perantaraan surat saya ingin memohon pada Tn. Maulwi untuk memberikan nama kepada anak saya itu. Mungkin pada saat beliau tengah pergi ke Masjid Aqsha untuk memberikan daras atau beliau tengah kembali. Saya maju ke depan. Melihat yang lemah ini maju ke arah beliau, beliau berhenti. Dengan penuh perhatian beliau menoleh ke arah saya dan sesuai permohonan saya beliau memberikan nama lalu berdoa untuknya”. [23]

Selanjutnya, dalam kaitan ini saya ingin menceritakan sebuah peristiwa Maulwi Burhanuddin. Sebelumnya juga telah jelas dari contoh-contoh bahwa di dalam diri beliau sama sekali tidak terdapat keinginan mencari nama, pamer, paksaan/sifat keras, ingin menonjolkan diri, dan lain-lain. Kebanggaan dalam hal keilmuan dan ketakabburan juga sama sekali tidak ada, meski beliau seorang yang sangat alim. Selama kurun waktu beliau tinggal di Qadian apabila ada yang menyebutnya “Tn. Maulwi” beliau segera mencegah, “Janganlah katakan saya Maulwi. Saya kan baru mulai belajar abjad dari Tn. Mirza [Ghulam Ahmad], yakni baru belajar alif, ba’ dari Tn. Mirza.”[24]

Kemudian sebuah lagi contoh kesederhanaan dan kerendahan hati yang paling besar dari semua contoh-contoh yang ada. Terkait dengan Hadhrat Sahibzadah Abdul Latif ra, Hadhrat Masih Mau’ud bersabda: “Dia sampai pada martabat tidak mempedulikan diri sendiri dan rendah hati sedemikian rupa yang selama manusia tidak menjadi fana fillah tidak akan meraih martabat ini. Setiap orang dalam kadar tertentu tertutup oleh keterkenalan dan ilmu lalu mulai menganggap dirinya sesuatu atau ada status (timbul rasa angkuh). Itulah ilmu dan kemasyhuran yang menjadi penghalang untuknya mencari kebenaran. (menjadi hambatan baginya mengenal kebenaran) Tetapi orang ini sedemikian tulusnya, sama sekali tidak egois kendatipun beliau kumpulan segenap limpahan karunia, namun tetap ilmu dan amal dan wibawa keluarga tidak dapat menjadi penghalang baginya untuk menerima hakikat kebenaran. Pada akhirnya dia mengorbankan dirinya pada kebenaran dan meninggalkan contoh yang sedemikian rupa bagi Jemaat yang mana mematuhinya tepat merupakan kehendak Ilahi”.[25]

Kemudian untuk mendahulukan agama di atas dunia dalam syarat kedelapan adalah dia akan mengorbankan harta dan jiwanya, kehormatan dan segala sesuatu yang dimilikinya.[26] Dan di dalam Jemaat Ahmadiyah, dengan karunia Allah senantiasa terus-menerus nampak pada kita pemandangan mendahulukan agama di atas dunia. Ibu-ibu mempersembahkan anak-anak mereka, dan para bapak dalam mengamalkan sunnah Ibrahim, membawa anak-anak mereka sambil memegang jari-jari tangan mereka seraya berkata, “Sekarang, ini adalah milik Jemaat.”

Bilamana saja diinginkan, Jemaat silahkan mengambil pengorbanannya. Dan anak-anak pun merupakan sosok kader yang siap menyerahkan diri mereka untuk pengorbanan, “Kami pun seperti Hadhrat Ismail siap memberikan pengorbanan jiwa“. Dan pemandangan ini sebelumnya juga ada dan kini pun tetap ada, satu contohnya saya sajikan. Pada 1923 orang-orang Hindu mencanangkan gerakan Syudi (upaya penghinduan orang-orang Islam), maka untuk menghadapi gerakan itu dalam upaya-upaya Jemaat Ahmadiyah anak-anak pun tidak ketinggalan dari orang-orang dewasa. Anak berumur lima tahun pun siap untuk pergi ke kawasan Malkanah. Seorang anak berumur 12 tahun menulis surat kepada orang tuanya, “Pengkhidmatan terhadap agama bukan hanya milik orang-orang dewasa semata, kami pun juga memiliki kewajiban juga. Oleh karena itu, apabila Tuan-tuan pergi untuk da’wat ilaLlah maka bawalah juga saya ikut serta dan jika Tuan tidak pergi maka kirimlah saya”.[27]

Nah, hal-hal ini sebagaimana sebelumnya saya telah katakan, bukanlah kisah lama, kini pun nampak pemandangan ini. Sekarang pun anak-anak wakaf now (wakaf baru) apabila datang berjumpa saya,  dalam lingkungan sekarang ini pun jika ditanyakan kepada mereka setelah mereka besar apa yang mereka akan lakukan dan mereka mau menjadi apa? Maka jawaban mereka adalah “Apa yang Hudhur sabdakan maka kami akan berupaya menjadi seperti itu. Jemaat beritahukanlah pada kami apa yang kami akan lakukan.” Inilah tekad anak-anak Ahmadi. Selama semangat ini tetap ada dan – Insya Allah – sampai Qiamat akan tetap ada, tak akan ada yang dapat menghalangi Jemaat. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Kini terdapat banyak sekali orang dalam Jemaat saya yang dengan mendahulukan agama di atas dunia menjadikan diri mereka seperti orang-orang darwisy (hidup sederhana). Mereka tinggalkan orang-orang sekampung halamannya dan berpisah dengan teman-teman lama dan kerabatnya, mereka memilih menetap menjadi tetangga saya untuk selama-lamanya.”[28]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Yang terhormat saudaraku, demi Allah, Maulwi Hakim Nuruddin dari Behrah – yang dari hartanya saya memperoleh bantuan – saya tidak melihat ada contoh seperti itu yang dapat saya terangkan untuk menandinginya. Saya mendapatkannya secara alami dan dengan sangat lapang dada sebagai seorang yang siap berkorban dalam pengkhidmatan-pengkhidmatan agama. Meski kehidupannya setiap harinya adalah wakaf hanya di jalan ini sehingga dalam segala segi dia merupakan khadim sejati Islam dan khadim sejati orang-orang Islam, tetapi dari antara penolong-penolong Jemaat ini dia tampil pada urutan pertama.”[29]

Kemudian berkenaan dengan Hadhrat Maulwi Abdulkarim beliau bersabda: “Umur beliau berlalu dalam keadaan bersih tanpa noda dan tidak menghiraukan kesenangan dunia. Untuk itulah dia meninggalkan pekerjaannya, karena menurutnya, dengan itu agama menjadi terbengkalai. Pada hari-hari yang lalu dia mendapat pekerjaan dengan gaji 200 rupees per bulan namun beliau berterus terang mengingkarinya. Beliau melewatkan kehidupannya dengan penuh kesederhanaan. Kegemarannya hanya menelaah buku-buku bahasa Arab Dia melewatkan sepanjang umurnya untuk menangkis serangan-serangan yang diarahkan terhadap Islam, baik dari luar maupun dari dalam. Meskipun penyakit beliau dalam kondisi sedemikian rupa lemahnya, namun penanya terus-menerus berjalan aktif”.[30]

Hadhrat Tn. Nawab Muhammad Ali Khan, pemimpin daerah Maler Kotlah menulis dalam sepucuk surat kepada saudaranya, ”Untuk perkara-perkara apa saya memilih tinggal di Qadian, dengan sejujur-jujurnya saya ungkapkan di sini bahwa saya sudah 12 tahun berbaiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud, Mahdi Mas’ud as. Karena kemalangan nasib saya, 11 tahun saya hanya tinggal di rumah dan terpisah dari Qadian. Hanya untuk beberapa hari saya kadang datang kemari (Qadian) dan dengan terjerat pada (urusan) orang-orang dunia, saya benar benar telah menyia-nyiakan umur saya. Pada akhirnya tatkala saya merenunginya maka saya dapat mengetahui umur telah terbang bagai angin dan saya tidak membuat sesuatu [karya] untuk agama dan tidak pula untuk dunia.

Di sini saya datang untuk 6 bulan tetapi setelah saya sampai di sini saya merenungkan semua urusan saya maka pada akhirnya hati sendiri memberikan fatwa bahwa karena mengejar agama, pekerjaan dunia pun menjadi rampung. Akan tetapi, apabila manusia mengejar dunia maka dunia pun tidak dapat dan agama pun menjadi hancur. Saya benar-benar telah merenungkannya maka saya melihat dalam jangka waktu 11 tahun saya tidak berbuat sesuatu dan saudara-saudara saya yang mulia pun tidak pernah berbuat sesuatu. Seiring berlalunya hari demi hari dalam 11 tahun itu, bukannya menyadari keadaan yang membuat putus asa itu tengah terjadi, tetapi malah kami pun tengah menghancurkan keagamaan kami sendiri. Setelah memahami pekerjaan dunia tidak akan pernah sempurna akhirnya saya mengucapkan selamat tinggal pada Kotlah lalu membuat ketetapan hati untuk berhijrah [pindah ke Qadian].

Nah, dengan sangat bahagia saya ungkapkan bahwa saya telah hijrah dari Kotlah dan dengan demikian secara syariat seorang yang telah berhijrah tidak dapat kembali ke kampung halamannya dengan keinginannya. Yakni tempat itu tidak bisa dia jadikan rumah tempat tinggalnya lagi. Kondisinya ialah hanya dapat mengunjungi tempat asal bagaikan keadaan seorang musafir. Jadi dalam kondisi itu kedatangan saya (untuk kembali) merupakan hal yang sangat sulit. Saya gembira dan dalam keadaan sejahtera. Bagaimana bisa berpisah dari tempat kami menuangkan kecintaan dan menyatakan pengkhidmatan……

Saudaraku yang mulia, saya datang di sini untuk Tuhan dan persahabatan saya dan kecintaan saya adalah demi Tuhan. Saya berpisah dengan Kotlah. Tapi saya sangat sedih dengan kondisi Kotlah yang memilukan. Semoga Allah memberikan pengertian pada saudara, seluruh keluarga kita dan semua penduduk Kotlah supaya semuanya menjadi khadim (pelayan) Islam sepenuhnya. Semoga hidup kita dan mati kita hanya semata-mata untuk Allah. Semoga kita menjadi orang-orang Muslim yang setia dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah…. Di dalam syarat-syarat baiat tertera bahwa kita akan mendahulukan agama daripada dunia dan kita senantiasa menghargai dan menaati sepenuhnya pada pemerintah yang penuh simpati. Inilah hal yang menjadikan saya tetap tinggal di sini dan seiring dengan terus bertambahnya iman dalam diri saya, sebanyak itulah dunia nampak terus tidak ada artinya dan agama terus-menerus mendapat prioritas utama. Ucapan terima kasih pada Allah dan rasa terima kasih pada kebaikan manusia pun terus bertambah. Demikian pula kesetiaan terhadap pemerintah dan rasa terima kasih kepada pemerintah hari demi hari terus tertanam sepenuhnya.”[31]

Selanjutnya, keteladanan Hakim Fazluddin terkait rasa solidaritas terhadap Islam. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda; “Saudaraku karena Allah, Hakim Fazluddin dari Behrah. Tn. Hakim adalah salah seorang dari antara teman Maulwi Hakim Nuruddin. Dia terwarnai dengan akhlak-akhlaknya dan merupakan seorang yang sangat tulus. Saya mengetahui bahwa dia seorang yang benar-benar memiliki cinta sejati terhadap Allah dan Rasul-Nya dan dengan sebab itulah dia setelah melihat yang lemah ini sebagai khadim agama, syarat – hubbun lillah – cinta hanya semata mata untuk Allah itulah yang tengah dia jalankan. Dapat diketahui bahwa dalam mengembangkan kebenaran Islam dia telah mendapatkan bagian kecintaan yang sangat besar yang dari sejak pembagian semula diberikan pada saudara saya yang tercinta Maulwi Hakim Nuruddin. Dia dengan mencermati pengeluaran-pengeluaran untuk kepentingan agama yang Jemaat ini keluarkan maka pikirannya senantiasa sibuk bahwa dalam bentuk candah/derma upaya apa yang terbaik untuknya”. [32]

Pada tahun 1923, tatkala masalah Syudi/penghinduan tengah memanas, maka kondisi kerja keras para muballigh Jemaat [untuk memotivasi dan menguatkan mental umat Islam lemah yang sedang dipaksa masuk agama Hindu oleh kalangan Hindu] setiap hari berjalan kaki sampai bermil-mil pada kondisi teriknya panas sinar matahari yang membakar. Terkadang jangankan makan, air pun tidak mereka temukan. Seringkali guna memenuhi keperluan makan-minum, mereka dapatkan makanan yang mentah, sisa-sisa makanan atau dengan memakan sayur buncis yang dibakar dan dengan hanya minum air. Terkadang mereka menyimpan beberapa biji gandum dan dengan itulah mereka penuhi keperluan makan mereka. Sufi Abdul Qadir menuturkan rata-rata 16 mil setiap harinya mereka berjalan kaki di antara empat puluh desa. [33]

Di Amerika, seorang yang tadinya pemusik yang sangat tenar bergabung ke dalam Jemaat. Pada zaman itu dia tengah maju dalam dunia musik hingga dengan cepat namanya dikenal di seluruh Amerika. Para ahli memprediksikan pemusik ini akan menjadi pemusik luar biasa yang akan melegenda dan menjadi pemusik terbesar pada zamannya. Begitu menjadi Ahmadi dia sama sekali tidak mempedulikan musik dan tidak melihat dengan pandangan serakah terhadap harta benda yang mengalir yang bisa dia dapat lewat musik, semuanya sama sekali dia tinggalkan. Dan kini dia melewatkan kehidupan penuh kesederhanaan dan melakukan shalat tahajjud dengan teratur. Begitu menyebut nama Rasulullah saw air matanya tak tertahankan.[34]

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal menulis kejadian sebelum beliau menjadi khalifah: “Untuk apa saya datang di sini. Lihatlah di Behrah saya memiliki rumah permanen. Sementara di sini saya membuat rumah sederhana. Setiap fasilitas saya lebih mudah dapatkan di sana daripada di sini, tetapi saya melihat (di sana) saya sakit, sering sekali sakit, saya perlu dan senantiasa memerlukan (kekurangan), dan benar-benar memerlukan, dan saya tidak berdaya dan benar-benar tidak berdaya. Karena itu, untuk menjauhkan semua derita itu saya datang kemari.

Jika ada seorang datang ke Qadian untuk melihat contoh saya atau setelah datang di sini atau setelah tinggal beberapa lama, mereka lalu mengadukan orang-orang di sini maka itu artinya penglihatannya telah tertipu, yakni dia dengan menyangka orang-orang yang sakit itu sehat lalu mengujinya. Persahabatan dan hubungan-hubungan di sini, datang kemari dan pergi dari sini dan tinggal menetap di sini; seyogianya semata-mata hanya selaras dengan Laa ilaaha illaLlah. Kalau tidak, jika kalian datang hanya untuk roti, tempat tidur dan lain-lain, maka wahai pak tua, di kebanyakan rumah kalian banyak roti yang seperti itu, apa perlunya kalian datang kemari? Kalian baru dapat mengakui pernyataan ini bila semua pekerjaan kalian demi Tuhan semata.”[35]

Hadhrat Masih Mau’ud bersabda mengenai Hadhrat Sahibzadah Abdul Latif Syahid ra, “Di dalam diri Almarhum yang mulia terdapat sifat yang orang-orang layak merasa iri, yaitu beliau pada dasarnya mendahulukan agama daripada dunia. Pada hakekatnya, beliau termasuk orang-orang pilihan Tuhan dan termasuk orang-orang yang bertakwa yang telah menyampaikan ketakwaan dan ketaatannya sampai pada puncaknya. Demi menyenangkan Tuhan dan mencari ridha-Nya, beliau siap meninggalkan jiwa, harta dan kehormatannya dengan tangannya sendiri bagaikan sampah yang tiada artinya. Kekuatan imannya tumbuh demikian subur sehingga jika saya umpamakan dengan gunung besar yang terbesar sekalipun, maka saya khawatir perumpamaan saya itu masih akan kurang.

Kebanyakan orang, meski mereka telah baiat dan kendatipun mereka telah menerima pendakwaan saya, namun tetap saja tidak dapat meraih keselamatan sepenuhnya dari benih beracun mengutamakan duniawi di atas agama, bahkan masih ada tersisa campuran di dalamnya. Sebuah kekikiran terselubung, baik terkait dengan jiwa, kehormatan, harta dan kesejahteraan, maupun kondisi akhlak-akhlak terdapat dalam jiwa-jiwa mereka yang lemah dan tidak sempurna. Oleh karena itulah, berkaitan dengan kondisi mereka keadaan saya senantiasa merasa khawatir pada saat menyampaikan pada mereka penawaran pengkhidmatan terhadap agama. Sebab, saya khawatir jangan-jangan timbul ujian pada mereka dan mereka menganggap pengkhidmatan itu sebagai beban lalu mengucapkan selamat tinggal pada janji baiat mereka.

Tapi saya dengan kata-kata apa saya harus memuji tokoh yang mulia itu yang telah melemparkan hartanya, kehormatannya dan jiwanya dalam mengikuti saya sebagaimana melemparkan sesuatu yang tiada artinya. Kebanyakan orang, saya saksikan awal dan akhirnya tidaklah sama. mereka menjadi tergelincir sebab ketersandungan yang kecil atau karena was-was setan atau karena pergaulan buruk. Tetapi perincian keteguhan Almarhum yang pemberani itu dengan kata-kata apa saya harus terangkan ialah dia senantiasa setiap saat maju dalam nur keyakinan”[36]

Beliau as bersabda: “Syahid Marhum wafat dalam keadaan telah memberikan keteladanan dalam Jemaat saya dan kenyataannya Jemaat saya memerlukan sebuah contoh agung. Kini di antara mereka terdapat juga orang yang sedikit saja melakukan pengkhidmatan lalu menyangka dirinya telah melakukan pekerjaan besar dan hampir-hampir saja dia menganggap telah berbuat baik pada saya. Padahal itu merupakan anugerah kebaikan Tuhan padanya bahwa Dia telah memberikan taufik kepadanya untuk melakukan pengkhidmatan itu.

Terkadang ada sejumlah orang yang datang kemari tidak dengan tekad dan ketulusan sepenuh hati. Keteguhan iman, ketulusan dan kesetiaan yang mereka nyatakan tidak dapat mereka tegakkan sampai akhir. Mereka melupakan agama demi kecintaan terhadap dunia, dan suatu ujian yang kecil sekalipun tidak dapat mereka hadapi. Setelah masuk dalam Jemaat Ilahi sifat duniawi mereka tidak berkurang. Tetapi ribuan syukur kepada Tuhan bahwa ada juga yang beriman dengan hati yang tulus dan dengan hati yang ikhlas melaju ke arah ini. Demi jalan ini dia siap menghadapi segala macam derita. Tetapi contoh yang ditunjukkan oleh manusia pemberani itu, sampai kini potensi-potensi itu masih terselubung dalam Jemaat ini.

Semoga Allah mengajarkan iman itu kepada semua dan menganugerahkan keteguhan yang Syahid Marhum contohnya telah sajikan. Ini kehidupan dunia yang telah bercampur-aduk dengan serangan-serangan setan mencegah manusia untuk menjadi manusia sempurna. Dan di dalam Jemaat in iakan banyak yang akan masuk, namun sayang sekali akan sangat sedikit yang mampu memperlihatkan contoh ini.”[37]

Kemudian bersabda: “Kesyahidan yang telah ditetapkan untuk Syahibzadah Abdul-Latif itu telah terjadi, kini tersisa hukuman terhadap mereka yang aniaya. إِنَّهُ مَن يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ  “Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan aniaya maka untuknya tersedia neraka jahannam dia tidak hidup dan tidak mati di dalamnya (surah Tha Ha 75). Tapi sangat disesalkan bahwa sang Amir ini (pimpinan Kabul di Afghanistan waktu itu) masuk dalam ayat, وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا () – ‘Barang siapa yang membunuh orang mu-min dengan sengaja.’ (Surah An-Nisa; 4 : 94) dan sedikit pun dia tidak takut kepada Tuhan, dan orang mu-min itu pun (Syahzadah Abdul Latif) merupakan seorang mu-min yang jika dicari contohnya di seluruh Kabul maka yang mencarinya tidak akan berhasil. Orang semacam itu termasuk dalam kategori الاكسير الاحمر Iksiir Ahmar (obat penawar yang sangat merah/langka) yang demi iman dan kebenaran jiwa pun mereka korbankan dan anak serta keturunan sedikit pun dia tidak hiraukan. Hai Abdul-Latif, semoga ribuan rahmat Tuhan turun kepada engkau, sebab di dalam kehidupankulah engkau telah menunjukkan teladan ketulusan sementara saya tidak mengetahui sesudah saya apa yang akan orang-orang Jemaat saya lakukan.”[38]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Apabila saya melihat keteguhan dan tekad pengorbanan jiwa yang lahir dalam diri Sahibzadah Maulwi Muhammad Abdul Latif maka harapan saya menjadi bertambah terhadap Jemaatku. Sebab Tuhan yang telah memberikan taufik kepada sejumlah warga Jemaat ini yang bukan hanya sekedar harta, bahkan mereka pergi setelah mengorbankan jiwanya di jalan ini, nampak dengan jelas inilah kehendak Tuhan bahwa Dia akan menciptakan banyak sekali orang-orang seperti itu di dalam Jemaat ini yang memiliki ruh yang dimiliki Sahibzadah Maulwi Abdul Latif dan akan muncul suatu tunas baru keruhanian beliau.” [39]

Hari ini tepat 100 tahun sebelumnya Sahibzadah Maulwi Abdul Latif disyahidkan. [Kita katakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as], “Hai Masih Akhir Zaman! Kami sampaikan selamat bahwa Jemaat yang Hudhur cintai telah menyempurnakan harapan Hudhur itu. Harapan-harapan Hudhur atas Jemaat Hudhur ini telah mereka penuhi. Mereka tidak pernah tertinggal dalam pengorbanan harta, waktu dan jiwa. Pemandangan-pemandangan tersebut hari ini sedang nampak pada kami. Sesudah Hudhur pun dalam Jemaat lahir orang-orang seperti itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud as khawatir, “Tidak diketahui sesudah saya apa nantinya.” Kita memberikan kesaksian, “Setelah kewafatan beliau as  telah lahir orang-orang yang sedemikian tidak menghiraukan iming-iming harta benda duniawi dan dalam mengorbankan jiwa pun mereka tidak pernah takut. Ayah menyaksikan anaknya disyahidkan di depan matanya dan anak menyaksikan ayahnya disyahidkan di hadapan matanya, tetapi langkah teguhnya sedikit pun tak tergoyahkan. Dan kemudian dia pun sendiri mengorbankan jiwanya. Hai Masih Suci! Salam sejahtera semoga tercurahkan atas engkau, bahwa di antara keturunan engkau pun, dari darah daging engkau sendiri juga dengan mempersembahkan pengorbanan jiwa telah menyelamatkan Jemaat dari fitnah yang sangat besar.”

Semoga Allah terus meninggikan derajat para syuhada. Semoga Allah juga memberikan taufik kepada kita supaya kita menjadi orang yang mendahulukan agama diatas dunia dan setiap saat bersedia untuk setiap pengorbanan. Dan di dalam generasi kita pun semangat ini kita tetap hidupkan, semoga Allah senantiasa terus-menerus menganugerahkan taufik ini pada kita.

[1] Peristiwa kewafatan Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam putra Hadhrat Rasulullah saw dengan istri beliau, Maria al-Qibthiyah, ada di Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jenazah, no. 1303. Linangan air mata beliau saw,فَقَبَّلَه beliau saw mencium dengan mulutnya lalu وَشَمَّهُ beliau saw mencium dengan hidungnya terhadap wajah Ibrahim, sebutan doa ‘alaihis salaam untuk Hadhrat Ibrahim as juga ada di Hadits tersebut.

[2] Ashhaabi Ahmad, jilid 11 hal. 165-166

[3] Ashhabi Ahmad, jilid 2 hal. 12-13

[4] Bulanan Ansharullah Rabwah, September 1977, h. 14-15.

[5] Surat Kabar Bulanan Ansharullah Rabwah, September 1977 hal.11-12

[6] Sejarah Ahmadiyah jilid 2 hal. 537

[7] Syarat Baiat ke-6: ”Akan berhenti dari adat kebiasaan yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu dan betul-betul akan menjunjung tinggi perintah Alqur’an Suci diatas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.”

[8] Shahih Muslim, Kitab Shalatnya Musafir dan Penjelasan tentang Qashar, bab shalat malam, orang yang meninggalkannya karena tidur atau sakit, yaitu, قَالَ قَتَادَةُ وَكَانَ أُصِيبَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ  Hadhrat Aisyah ditanya; “Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.’ ‘Aisyah menjawab; “Bukankah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab; “Benar,” Aisyah berkata; “Akhlak Nabi saw adalah Al-Qur’an.”

[9] Ashhab Ahmad jilid 10 hal. 157satu dari 313

[10] Riwayat Hidup Fadhli Umar, jilid 2, hal 34

[11] Ashhabi Ahmad, jilid 3hal 33

[12] Al-Fazal, 10 Januari1978; Kehidupan agung, hal 8-9

[13] Sunan Ibni Maajah, Kitab al-Asyribah (minuman), no. 3506

Dari Anas ia berkata, “Rasulullah SAW melaknat tentang khamr sepuluh golongan : 1. yang memerasnya (yang membikin),2. pemiliknya, 3. yang meminumnya, 4. yang membawanya (pengedar), 5. yang minta diantarinya, 6. yang menuangkannya, 7. yang menjualnya, 8. yang makan harganya, 9. yang membelinya,10. yang minta dibelikannya. سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، – أَوْ حَدَّثَنِي أَنَسٌ، – قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَالْمَعْصُورَةَ لَهُ وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ لَهُ وَبَائِعَهَا وَالْمُبْتَاعَةَ لَهُ وَسَاقِيَهَا وَالْمُسْتَقَاةَ لَهُ ‏”‏

[14] Badar, 13 Maret 1913; Hayat Nur hal, 611-612

[15] Riwayat hidup Sayyid Abdus Sattar Syah, hal. 193

[16] Ashhaabi Ahmad jilid I hal. 124-125

[17] Lampiran majalah Bulanan Ansharullah September 1987 hal. 6).

[18] Syarat Baiat ketujuh: ”Betul-betul akan meninggalkan takabbur dan bangga diri, akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.”

[19] Ashhaabi Ahmad jilid 5 bagian 3 hal. 9.

[20] Majalah Bulanan Ansharullah 1977 hal 14

[21] Izalah Auham; Ruhani Khazain jilid 3 hal. 532

[22] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3 hal. 536

[23] Ashhaabi Ahmad jilid 5 bagian 3 hal. 25.

[24] Majalah Bulanan Ansharullah Rabwah 1977 hal. 12

[25] Tazkiratusyhadatain; Ruhani Khazain jilid 20 hal 47

[26]Syarat Baiat ke-8: ”Akan menghargai (mendahulukan atau mengutamakan) agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari jiwanya, harta-bendanya, anak-anaknya dan dari segala yang dicintainya.”

[27] Sejarah Ahmadiyah jilid no. 5 hal 336

[28] Ashhabi Ahmad jilid 5 bagian 5 hal. 130.

[29] Izalah Auham; Ruhani Khazain jilid 3 hal. 520

[30] Riwayat hidup Maulana Abdulkarim sahib dari Sialkot hal 108

[31] Ashhabi Ahmad jilid 2 hal. 126-129.

[32] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3 hal. 522.

[33] Sejarah Ahmadiyah jilid 4 hal. 354.

[34] Majalah bulanan Khalid Januari 1988

[35] Khotbah Jumat tanggal 22 Januari 1904

[36] Tadzkiratusy-Syahadatain; Ruhani Khazain, jilid 20 hal. 10

[37] Tadzkiratusy Syahadatain; Ruhani Khazain, jilid 10 hal. 57 –58

[38] Tazkiratusy-Syahadatain; Ruhani Khazain, jilid no. 20 hal. 60

[39] Tazkiratusy-Syahadatain; Ruhani Khazain jilid 20, Cetakan London h. 75.

(Visited 41 times, 1 visits today)