Pidato Hadhrat Khalifatul Masih V atba

Pada Hari Kedua Jalsa Salana UK di Jalsah Gah Kaum Ibu

di Hadīqatul Mahdi, 30 Agustus 2014

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Hal-hal yang akan saya bicarakan pada hari ini sebagiannya, tidak boleh tidak, adalah untuk kaum perempuan dan di antaranya untuk kaum pria juga, maka janganlah seorang pun di antara kaum perempuan beranggapan bahwa topik ini hanya untuk kaum pria saja serta kita tidak perlu sedikit pun menaruh perhatian. Islam telah menetapkan, setiap laki-laki dan perempuan keduanya harus membina mahligai perkawinan (rumah tangga), masing-masing sedikit demi sedikit memahami kewajiban-kewajibannya menyadari akan pentingnya mahligai perkawinan dan menjaganya supaya mereka berdua menjadikan itu sebagai bagian penting yang berharga dalam kehidupan bersama antara keduanya. dikarenakan banyak tersedianya kelengkapan-kelengkapan berpesiar dan sarana-sarana perhubungan, banyaknya media-media komunikasi dan informasi elektronik, serta penyiaran berita dan informasi yang berskala luas, saat ini para anggota masyarakat mulai fokus untuk mengambil atau menuntut hak-haknya lebih besar ketimbang memfokuskan untuk menunaikan hak-hak orang lain. Karena penekanan yang berlebihan untuk menuntut hak-hak inilah yang menjadikan masing-masing dari kedua jenis kelamin ini lupa kewajiban-kewajibannya dan hanya memperhatikan kepentingan sekundernya. Mereka ingin menuntut hak-haknya dengan alasan keadilan tetapi mereka tidak mau memberikan hak-haknya kepada yang lain, atau mereka akan menjalankan sedikit saja hak-haknya untuk pihak lain lalu mereka berpandangan bahwa mereka telah melakukan kebajikan besar kepadanya.

Tiada lain yang menjadi sebab di balik keburukan-keburukan yang tersebar di kalangan masyarakat saat ini, sama saja baik skala rumah tangga, negara atau pun bangsa tiada lain melainkan orang-orang itu lebih mengutamakan hak-haknya di atas hak-hak orang lain, atau mereka mengantisipasi (berharap) pelaksanaan kewajiban-kewajiban terhadap mereka itu dari yang lainnya tetapi mereka tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagaimana seharusnya. Tetapi seorang mukmin atau mukminah itu adalah yang mengaku bahwa ia menerima dan meyakini akan kedudukan Al-Quran sebagai Kitab Syariat yang terakhir – terlebih lagi Muslim atau Muslimah Ahmadi yang menyatakan bahwa ia telah baiat kepada Imam Zaman – maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintahkan kepadanya melaksanakan apa-apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Sebenarnya, jika setiap individu di dalam masyarakat itu berupaya menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya, maka otomatis masyarakat itu akan memperoleh hak-haknya.

Hak-hak yang telah ditetapkan oleh Allah kepada seorang mukmin itu ada dua macam, salah satunya adalah huqūqullāh [hak-haknya terhadap Allah] dan yang lainnya adalah huqūqul ‘ibād [hak-haknya terhadap sesama]. Mereka yang menjalankan kedua jenis hak-hak ini, yang pada kenyataannya ia juga memperhatikan hak-hak orang lain, Allah menyebutnya ‘Ibādur Rahmān [hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah] – saya sudah katakan, mereka itu menjalankannya tentu dengan memperhatikan hak-hak orang lain, karena sebagian orang menganggap mereka pun menunaikan hak-hak yang lain tetapi ciri yang mempercantik tampilan ‘Ibādur Rahmān memiliki keunggulan dalam pelaksanaan hak-hak tersebut – dan ‘Ibādur Rahmān [hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah] ini adalah kaum laki-laki dan kaum perempuan, dan Allah menyebutnya dengan ‘Ibādur Rahmān sebagai bentuk perhatian kepada mereka karena Allah Ta’ala telah memberikan buah sifat rahmaniyyat-Nya kepada mereka sebagai nikmat-nikmat yang tak kan bisa kita kira dan kita hitung. Allah telah mengistimewakan mereka dengan banyak kebaikan-kebaikan dan menjadikan mereka semulia-mulia makhluk.

Sifat rahmaniyyat Allah adalah anugerah-Nya yang paling besar, yang mana semua makhluk tanpa terkecuali akan mendapatkan manfaat, seakan-akan Allah Ta’ala mengatakan kepada hamba-hamba-Nya ini: “Mengapa kebaikan-Ku ini tidak memacu kalian untuk menjalankan hak ubudiah dan menempuh jalan-jalan yang kalian dibimbing kepadanya.” Merupakan fitrah manusia, jika ia berbuat sedikit kebajikan kepada yang lain, atau melakukan perbuatan baik yang biasa saja, ia berharap pujian dan sanjungan atas hal itu dari orang-orang lain. Kebanyakan orang menginginkan menceritakan apa pun yang diperbuatnya itu termasuk amal makruf, tetapi mereka tidak menaruh perhatian pada pentingnya berterima kasih kepada Allah Ta’ala dan menjalankan hak ubudiahnya meskipun Allah Ta’ala pelaku kebajikan yang paling besar. Karunia-karunia Allah itu tidak hanya menghujani kita dengan faedah-faedah yang sifatnya materi dan lahiriah bahkan pertolongan-pertolongan-Nya akan melimpahi kehidupan ruhani kita juga.

Ia yang mengaku dirinya beriman, ia harus memperhatikan hal ini juga. Sesungguhnya pengakuan Islam dan imannya kita kepada Syariat Allah yang terakhir merupakan minhaj kamil (jalan yang sempurna) untuk kehidupan. Kita bergabung baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as mengharuskan kita berupaya supaya menjadi ‘Ibādur Rahmān sejati bukan di lidah saja bahkan dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan menjalankan hak dan kewajiban yang telah Allah Ta’ala tetapkan kepada kita dengan harapan kita dapat menunaikannya dengan sebaik-baiknya, karena itulah Allah telah mengutus para rasul-Nya supaya mereka dapat membimbing kita pada hal-hal yang akan membentuk kita semua, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi ‘Ibādur Rahmān dan menunjukkan kita jalan-jalan hidup yang dengan menempuhnya kita akan menjadi orang-orang yang menunaikan kewajiban-kewajibannya dan tergabung pada ‘Ibādur Rahmān yang dikasihi hadirat Allah swt.

Harus kita ingat bahwa kita tidak akan pernah dihitung sebagai orang-orang yang benar-benar dalam mengakui bahwa kita merupakan bagian dari umat Muhammad Rasulullah Saw, kecuali apabila kita mempergunakan hidup kita, kapan pun dan di mana pun dengan menjalankan hak-hak Allah dan juga hak-hak kepada makhluk-Nya di dalam hidup kita. Kita hanya akan mampu menunaikan hak-hak itu apabila kita memiliki jalinan yang hidup dengan Allah Ta’ala, kita menyambut sabda rasul-Nya, kita beramal sesuai dengan perintah-perintah Allah untuk memperteguh hubungan dengan-Nya dan kita mengikuti jalan-jalan yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as tunjukkan kepada kita berdasarkan perintah Allah Ta’ala, tidak puas sebatas bergabung baiat kepada beliau as.

Beberapa Jum’at sebelumnya saya telah menarik perhatian kalian pada Firman Allah Ta’ala di dalam Al-Quran, يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَجِيْبُوْا للهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحِيِيْكُمْ “Wahai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila ia menyeru kalian untuk menghidupkan kalian. ”– QS Al-Anfāl, 09:25) maka di sini Allah Ta’ala memberitahukan bahwa rasul ini akan menyeru orang-orang mukmin untuk “menghidupkan” mereka. Al-Quran sudah turun pada masa Para Sahabat dan ini merupakan Hukum Rabani (hukum Tuhan) yang menarik perhatian mereka, akan tetapi perkara itu hakikatnya adalah setiap Muslim diperintah untuk menaruh perhatian terhadap kehidupan ruhaninya. Kehidupan yang rasul itu serukan adalah kehidupan ruhani dan ketika ia menyeru orang-orang mukmin pada suatu perintah dan menganjurkan mereka sesuatu, mereka harus memperhatikannya karena kehidupan keruhanian mereka tersembunyi dalam mengamalkan yang ia sabdakan.

Biasanya kita sering membahas kehidupan ruhani, namun pada kenyataannya kita pun perlu mencermati dan mengintrospeksi diri kita supaya kita memahami kapan saja kita akan berusaha secara nyata untuk meraih kehidupan keruhanian dengan mengerahkan segala daya kekuatan kita untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya. Kehidupan jasmaniah kita itu tidak abadi sedangkan nikmat-nikmat kehidupan abadi tergantung pada peningkatan keruhanian. Kenyataannya, orang yang sukses meraih kehidupan hakiki yaitu ia yang melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala di kehidupan dunia yang fana ini dengan memelihara huququllah dan huququl ‘ibad untuk meningkatkan keruhanian, ia menjadikan dirinya sebagai ahli supaya mewarisi nikmat-nikmat Allah di kehidupan Akhiratnya yang abadi dan apabila ia menjadikan dirinya sebagai ahli (pemilik) itu, ia dianggap termasuk ‘Ibādur Rahmān.

Supaya kita menjadi orang-orang yang menunaikan hak-hak ubudiah kepada Allah Ta’ala kita mesti berupaya dengan segenap kekuatan kita. Setiap laki-laki Ahmadi maupun wanita Ahmadi harus mengingat bahwa ia telah berjanji ketika baiat kepada Masih Mau’ud as bahwa ia akan masuk dalam kelompok ‘Ibādur Rahmān. Apa gerangan maksud dari masuk dalam ‘Ibādur Rahmān itu? Pada hakikatnya, maksud dari itu adalah Perjanjian diri yang seorang mubāyi‘ [yang baiat] ikrarkan ketika baiat dan syarat-syarat yang seorang Ahmadi berjanji untuk menyempurnakannya ketika baiat. Masih Mau’ud as telah menyebutkan di dalam syarat-syarat baiat, dengan sangat lengkap dan komprehensif, setiap kewajiban-kewajiban yang menjadikan seorang mukmin masuk kategori ‘Ibādur Rahmān atau dalam hal ini ada suatu harapan bahwa orang yang mengamalkannya sekali-kali tidak akan terjerumus pada maksiat apa pun setelah itu. Sesungguhnya syarat masuk dalam ‘Ibādur Rahmān dan untuk melaksanakan huququllah Ta’ala adalah seorang insan memandang segala sesuatu selain Allah Ta’ala itu sangat rendah dan hina, untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as menuntut setiap mubāyi‘ supaya berjanji kepada Allah Ta’ala untuk menjauhi syirik dan segala macam bentuk perbuatan syirik, sama saja apakah itu syirik lahiriah (yang nampak) maupun syirik khāfi (terselubung).

Kemudian, ketahuilah oleh kalian bahwa seorang [‘Ibādur Rahmān] itu tidak akan lalai dan bermalas-malaskan dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya atau tidak akan lemah dalam melakukan kebajikan-kebajikan, terkecuali karena ia menganggap dapat melakukan kebohongan jika perlu, atau ia mengatakan pada dirinya apa dosanya bagi saya melakukan hal kecil supaya terlepas dari posisi yang sulit, dengan dalih “Itu bukanlah dusta”, meskipun pada kenyataannya itu adalah kebohongan. Ketahuilah oleh kalian bahwa dusta itu adalah dosa yang akan melahirkan dosa-dosa yang lainnya dan terus-menerus melalap kebaikan, menyebabkan ketidak-pedulian dalam menjalankan kewajiban-kewajiban dan merampas hak-hak orang lain, karena itulah secara khusus Hadhrat Masih Mau’ud as telah mewanti-wantinya di dalam syarat-syarat baiat.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as mengingatkan dengan tegas untuk menjauhi perbuatan-perbuatan mungkar dan fahsya. Masyarakat saat ini sebenarnya melakukan kerusakan dengan dalih kebebasan dan pengetahuan (informasi). Sekiranya seseorang yang punya nalar dan firasat renungi – sedangkan firasat dan karunia Allah merupakan sesuatu yang dianugerahkan kepada kita untuk menerima Ahmadiyah dan istiqamah atasnya – tentu ia menyadari apa-apa yang mereka informasikan dengan alasan kebebasan dan informasi termasuk yang akan menghancurkan hidup mereka. Maka kita penting sekali untuk mengintrospeksi dan memeriksa keadaan kita karena kita hidup dalam masyarakat-masyarakat liberal.

Setiap Muslim Ahmadi berjanji di dalam baiatnya bahwa ia tidak akan berlaku aniaya kepada seorang pun, tidak akan pernah berkhianat, akan menjauhi fasad (perbuatan merusak) serta tidak akan dikuasai oleh gejolak-gejolak hawa nafsunya. Semua hal ini sudah disebutkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as di dalam syarat-syarat baiat. Nyatanya, dorongan-dorongan hawa nafsu itulah yang mengantarkan pada segala macam kesulitan di dalam rumah-rumah tangga. Pertama-tama mereka akan meneriakkan: “Hak untuk mendapatkan informasi” dan “Kebebasan perempuan”lalu urusan perlahan bergerak ke arah gejolak-gejolak hawa nafsu, maka terjadilah masalah-masalah pelik. Kemuskilan-kemuskilan yang terjadi di dalam masyarakat kita pertama-tama adalah masalah-masalah pelik keluarga, karena itulah dalam hal ini perlu komitmen supaya setiap Ahmadi baik laki-laki maupun perempuan untuk menaruh perhatian pada hal ini.

Kemudian kita berjanji di dalam baiat untuk memberikan maaf dan pengampunan, tawadhu(merendah) dan bersikap lunak (mengalah). Semua hal ini termasuk ketentuan di dalam perjanjian syarat-syarat baiat dan dalam hal ini terdapat janji dari kita untuk menyanjung Allah dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat dan kebaiakn-kebaikan-Nya. Sekiranya insan berterima kasih kepada Tuhannya serta menyampaikan sanjungan kepada-Nya sebagaimana harusnya, mengingat kebaikan-kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya, otomatis Dia akan memberikan taufik untuk beramal sesuai dengan perintah-perintah-Nya dan menghiasinya dengan maaf, pengampunan, tawadhu’ dan bersikap lunak.

Kemudian kita berjanji untuk bersabar, berlapang dada, menjauhi segala macam bidah dan tradisi-tradisi semata. Sesungguhnya bidah-bidah dan tradisi-tradisi buruk mulai mencari jalannya di dalam Jemaat kita di beberapa tempat dimana timbul beragam dalil dan alasan untuk itu hingga sebagian orang membelanjakan pengeluaran di berbagai pernikahan melebihi kemampuan mereka. Sebenarnya bagi orang yang mampu tidak masalah membelanjakan untuk itu. Tapi, mereka yang tidak mampu untuk itu membelanjakannya melebihi kemampuannya karena riya kepada orang-orang. Hal itu mengantarkan kepada perbuatan riya dan menjadi sebuah tradisi kosong dan merupakan beban berat yang mengenainya Allah melarang kita. Maka di dalam segi ini pun kita perlu untuk memeriksa diri.

Di dalam syarat baiat pun ada ketekunan untuk menjalankan shalat-shalat dan menaruh perhatian pada shalat-shalat nafal dan shalat tahajud. Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan nasehat mengenai hal ini juga di dalam syarat-syarat baiat. Bahkan, Allah Ta’ala telah memerintahkan kita mengenai itu di dalam Al-Quran. Apakah yang dimaksud syarat-syarat baiat itu? Syarat-syarat baiat itu merupakan setiap perintah yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita di dalam Al-Quran. Rasul saw pun mengingatkannya berkali-kali. Lalu Hadhrat Masih Mau’ud as mengingatkan kita, “Jika kalian ingin menjadi ‘Ibādur Rahmān dan orang-orang mukmin sejati, kalian harus menunaikan hak-hak ibadah sebagaimana mestinya, janganlah shalat hanya sebatas lahirnya saja, malahan setiap saat basahilah lidah kalian dengan dzikrullah dan shalawat kepada Nabi saw, taubat dan istighfar.”

Orang Ahmadi yang masuk dalam Ahmadiyah adalah yang berjanji bahwa ia akan mengamalkan setiap syarat baiat yang telah ditetapkan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk baiat. Itu supaya ia berupaya untuk meraih kehidupan ruhaniah supaya menjadi seorang hamba hakiki bagi Tuhannya yang Maha Pemurah yang telah menganugerahkan nikmat-nikmat yang tiada terbilang dan terhitung kepadanya. Sebagaimana sudah saya katakan, dalam hal ini perlu memeriksa diri kita secara serius dan supaya kita tahu apa yang Tuhan kita Yang Maha Pemurah kehendaki dari kita. Ayat-ayat yang saya bacakan di awal-awal Jalsah ini mengemukakan beberapa hal ini dan kini saya ingin menerangkannya sebagian kepada kalian supaya setiap kita memahami fardu-fardu dan kewajiban-kewajiban kita.

Harus kita ingat bahwasanya dalam hal ini harus ada perbedaan nyata antara suluk orang biasa dan suluknya orang Muslim Ahmadi, karena kita sudah beriman kepada Imam Zaman ini, kita telah memperoleh nur atau mengakui bahwa kita telah mendapatkan nur dari orang yang telah diutus Allah Ta’ala pada zaman ini untuk memperlihatkan nur itu kepada mereka, dan ketika nur itu datang, maka kegelapan tersembunyi dan apabila kegelapan menghilang, nyatalah dengan terang kepada manusia apa-apa yang baik dan apa-apa yang buruk. Para salik akan mengetahui apa itu jalan yang bengkok dan apa itu jalan yang lurus serta bedanya kebaikan dan keburukan. Demikianlah ketika Allah menyediakan bagi manusia nur ruhani, akan nyata perbedaan antara dosa dan kebaikan, dan matahari ruhani akan menyinari kalbu-kalbu yang suci dan akan menyerak-nyerakkan kegelapan.

Merupakan kebaikan Allah Ta’ala kepada kita bahwasnya Dia telah memberikan taufik kepada kita untuk menjalin ikatan dengan orang yang datang pada zaman ini sebagai pengikut Nabi Saw untuk memperlihatkan nur kepada orang-orang dan menerangi bumi kalbu-kalbu. Merupakan kewajiban kita sekarang untuk memperlihatkan perbedaan nyata kepada orang-orang antara kita dengan orang-orang Muslim yang lainnya dan kita menghindarkan diri kita dari setiap cela sekalipun itu nampak kecil. Kita akan menerangi kalbu kita dari nur rohaniah ini. Maka inilah yang akan menjadikan kita sebagai orang-orang mukmin sejati dan Allah telah berjanji kepada orang-orang mukmin seperti mereka ini bahwa Dia akan menjadi Sahabat dan penolong mereka. Kemudian, Allah Ta’ala berfirman mengenai mereka ini, يُخْرِجُهُمْ مِننَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ (akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya) maksudnya Dia akan memelihara dan meliputi mereka dengan pertolongan-Nya, maka pertolongan Tuhan itu akan mengeluarkan mereka dari segala kegelapan menuju cahaya, Dia akan memperlihatkan kepada manusia perbedaan yang nyata antara orang-orang mukmin dan orang-orang yang lainnya. Sesungguhnya iman itu maksudnya bukan hanya meneriakkan keislaman saja, tetapi maksudnya adalah memberikan penerangan kalbu-kalbu dengan Nur Allah. Ketika keadaan ini menjadi eksistensinya orang-orang mukmin, Allah akan merubah beraneka kegelapan dari segala macam keburukan dengan nur segala kebaikan dan menjadikan perbedaan nyata dan pemisahan yang jelas antara orang-orang mukmin dengan yang lainnya.

Berusahalah untuk mendapatkan pancaran sejati dari nur ruhani ini yang telah Allah Ta’ala sendiri berikan kepada kita yaitu nur yang pada hakikatnya merupakan nur Nabi Saw dan telah muncul kembali secara nyata pada masa ini. Nabi Saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya kedatangan Masih Mau’ud dan Mahdi yang dijanjikan itu dalam kapasitas sebagai kedatangan aku’ sebagaimana Allah Ta’ala juga telah menerangkan di dalam Al-Quran : وَ آخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمِ  “…dan Dia mengutus rasul dari kaum ummi itu kepada Kaum yang lain yang belum berjumpa dengan kaum ummi tersebut…” bahwa kedatangan Masih Mau’ud merupakan Kapasitas kedatangan Muhammad Saw, dan Allah Ta’ala menganggap para pengikut Masih Mau’ud sebagai para pengikut Nabi Saw yang sebenarnya. Karena itulah seorang Muslim Ahmadi, baik itu laki-laki maupun perempuan, perlu untuk menjadi seorang mukmin sejati dan menjadi seorang hamba dari antara ‘Ibādur Rahmān. Ia akan mewarnai dan menghiasi dirinya dengan celupan warna para Sahabat yang mulia demi keberlangsungan Nizam Khilafat dan menikmati keberkatan-keberkatan Nizam Khilafat, dengan sifat-sifat orang yang benar-benar patuh kepada Khilafat di masa Khulafā’-ur-Rāsyidīn berhiaskan sifat-sifat itu.

Tidak diragukan lagi kebanyakan orang yang tidak mengimani Masih Mau’ud as adalah orang-orang Muslim pada lahiriahnya, tetapi mereka terjatuh pada kesenangan dunia dan kesia-siaannya. Mereka terjerumus di dalam kegelapan-kegelapannya sebagai orang yang berpaling dari agama. Kaum ini bisa saja akan mengemukakan uzur dengan satu dalih – yaitu alasan lemah yang tidak dapat diterima – karena para pemuka agama menurut pemahaman mereka mencegah mereka beriman kepada Masih Mau’ud, tetapi tidak ada satu alasan pun bagi seorang Muslim Ahmadi yang tidak mengupayakan tunduk patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya serta tidak berusaha menciptakan perubahan yang baik di dalam hidupnya.

Sesungguhnya orang yang melihat nur dan menerimanya lalu kita mengira kita selamanya berada dalam kegelapan malam, maka kita tidak akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka itu adalah orang yang keliru, sesungguhnya ia tahu pengakuannya adalah pengakuan kosong semata dan sebenarnya ia tidak melihat nur itu dengan mata sehat dan tidak memercayainya. Sesungguhnya orang-orang lain tidak mempunyai Nizam untuk menyampaikan peringatan berdasarkan Firman Allah Ta’ala – [فَذَكِّرْ] — fadzakkir, ingatlah! Adapun kita memiliki Nizamnya, maka kita tidak mempunyai alasan sama sekali.

Pada zaman ini yang mana egoisme telah menguasai, kita harus memelihara diri kita dari setiap keburukan dengan memohon pertolongan dengan nur yang diberikan Allah Ta’ala kepada kita, kita menghindari jalan-jalan yang salah menuju jalan yang lurus. Merupakan keistimewaan seorang mukmin bahwa ia akan menyinari malam-malam untuk mendapatkan faedah hakiki dari nur itu untuk menghindar dari dosa. Allah Telah menunjukkan jalan itu dan mengatakan: وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا  (… salah satu ciri ‘Ibādur Rahmān itu adalah mereka yang melewatkan malamnya demi Tuhan mereka dalam keadaan sujud dan berdiri) maksudnya ‘Ibādur Rahmān itu mengupayakan untuk mendapatkan pancaran dari pancaran-pancaran sifat rahim Allah dengan memohon serta berdoa dengan sepenuh hati pada sepertiga malam. Kita harus ingat bahwa orang-orang Muslim itu hanya akan akan ditimpa kemunduran dan kemerosotan karena meninggalkan berdoa pada sepertiga malam dan tenggelam dalam kesenangan dan senda gurau. Hari ini pun, pada jam-jam akhir malam sebagiannya sedang asyik dalam kesenangan, senda gurau dan amalan negatif lainnya, sebagai contoh mereka begadang menonton film-film di televisi lalu tidak bangun untuk shalat subuh, boro-boro melaksanakan shalat tahajud, dan apabila mereka tidak melaksanakan shalat subuh pada waktunya, maka apakah ada jalan lain selain kejatuhan dan kemunduran?

Karena itulah setiap kita harus berupaya untuk menjaga shalat-shalatnya karena sejarah mengabari kita bahwa kemerosotan akan muncul ketika kaum itu lalai dari menjalankan ibadah-ibadah. Sejatinya janji Allah itu menyertai orang-orang Muslim bukan janji yang bersifat pengecualian, malahan itu merupakan janji bersyarat karena mereka akan memelihara ibadah-ibadahnya, apabila mereka menegakkan ibadah-ibadahnya pada waktu-waktunya yang telah ditetapkan sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan, maka pada saat itu pulalah mereka akan meraih kejayaan, jika tidak, akan timbul kejatuhan dan kemunduran mereka dan mereka akan menjauh dan semakin jauh dari agama.

Apabila kita mempergunakan hidup kita pada arah ini, ketika kita akan digolongkan termasuk hamba-hamba Allah yang sejati dan bersyukur, ucapan dan perbuatan kita benar-benar menunjukkan kita telah beriman kepada Imam Zaman dan karena itu pada diri kita telah dan sedang terjadi perubahan-perubahan yang baik atau kita mengupayakan untuk itu dengan segenap apa pun kekuatan yang diberikan kepada kita. Merupakan kewajiban kita selama bergabung pada Ahmadiyah bahwa kita menjadi orang-orang yang memberi nasehat dan orang-orang yang bersyukur, dengan demikian kita akan menjadikan orang-orang lain juga dapat melihat nur ini.

Laporan-laporan yang saya terima dari pihak Lajnah Imailah, Majelis Khuddamul Ahmadiyah dan Majelis Ansharullah dari berbagai cabang Jemaat adalah bahwa kita telah menjalankan pelaksanaan pameran-pameran tablig, pendistribusian literatur-literatur dan berbagai aktivitas pertabligan, itu adalah hal yang bagus. Tetapi, ini sama sekali tidak akan mendatangkan faedah yang hakiki dan sama sekali tidak akan menciptakan perubahan yang baik lagi hakiki pada diri orang yang baiat melalui cara kalian, kecuali kita mengamalkan ajaran-ajaran agama kita dan kita berupaya untuk memahami segala kekurangan, kita bersyukur kepada Allah atas taufik yang diberikan-Nya kepada kita untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan kita dan menyertai kita dengan pertolongan-Nya. Apabila Dia menghiasi kesungguhan pertabligan kita dengan berbagai buahnya, maka sesungguhnya Dia telah memberikan taufik kepada kita untuk menerangi malam-malam kita dengan doa dan untuk menghapuskan segala kekurangan dan kelemahan yang ada pada kita.

Insan, sama saja apakah ia laki-laki maupun perempuan, apabila ia menjadi ‘Abdur Rahman – seorang hamba Allah yang Maha Pemurah atau ia telah benar-benar berupaya untuk itu, maka sesungguhnya Allah akan mengatakan bahwa Dia akan menerangkan satu sifat yang lain yaitu: وَ عِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا ( dan ‘Ibādur Rahmān itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri… ) maksudnya, mereka akan menjadi model sikap tawadhu (kerendahan hati), oleh karena itu mereka akan berjalan di muka bumi penuh kerendahan dan ketawadukan. Tawaduk adalah sifat agung. Merupakan kewajiban seorang mukmin dan setiap kita untuk mengintrospeksi diri kita berkali-kali, apakah kita berhiaskan karakteristik terpuji ini ataukah tidak.

Saya dalam beberapa kesempatan mendapatkan informasi-informasi bahwa mubāyi‘īn baru telah mengundurkan diri dari Jemaat karena tabiat para Ahmadi lama atau para pengurus Jemaat tidak menunjukkan kerendahan hati justru memperlihatkan keangkuhan. Tidak diragukan lagi itu merupakan kesialan nasib mereka yang mengundurkan diri. Mereka tergelincir karena melihat beberapa contoh yang salah, bukannya mengupayakan untuk meningkatkan keimanan selama mereka beriman pada Imam Zaman sebagai Imam yang shadiq. Ketika tidak diperkenankan bagi seseorang [mengatakan] bahwa ia mendapatkan nasib buruk karena melihat perilaku yang salah dari orang, betapa pun para pelaku contoh-contoh yang salah ini juga akan menjadi dari mananya mereka tidak tahu sebab di balik dosa orang-orang yang tergelincir ini. Merupakan kewajiban seorang mukmin bahwa ia akan menunaikan kepemilikan nur di sisinya dan mengupayakan untuk menerangi jalan itu bagi orang-orang yang lainnya bukan menyebabkan mereka tersesat di dalam kegelapan-kegelapan. Inilah yang dituntut dari seseorang supaya ia memola hidupnya sesuai dengan hukum-hukum Allah Ta’ala.

Ketahuilah oleh kalian, menghiasi diri dengan tawaduk dan bersikap lunak atau mengalah adalah salah satu perintah dari sekian perintah Allah Ta’ala, maka senantiasa tempatkanlah itu di hadapan mata kalian. Kita tidak bisa menetapkan bahwa kaum laki-lakilah yang sifat angkuhnya paling kecil dibandingkan kaum perempuan, atau sebaliknya justru, kalau pun tidak, betapa pun apa-apa yang saya perhatikan di antara pengamatan saya, pada umumnya berhubungan dengan orang-orang yang punya kedudukan dan para pengurus bahwasanya ketika wanita sedang memegang kekuasaan dan kedudukan, mereka lebih banyak menjadi sasaran penyakit angkuh dan sifat arogan ketimbang kaum laki-laki.

Kemudian Allah menerangkan ciri ‘Ibādur Rahmān yang lainnya yaitu mereka adalah orang-orang yang mendapatkan manfaat dari nur itu dan menyinari orang yang lain, dengan kata lain Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita bahwa kalian tidak akan masuk dalam kelompok ‘Ibādur Rahmān kecuali apabila kalian menghiasai diri dengan akhlak mereka ini, yaitu, وَ إِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاههِلُوْنَ قَالُوْا سَلاَمًا ( …dan salah satu ciri ‘Ibādur Rahmān itu adalah apabila berbicara dengan orang-orang jahil, mereka mengatakan : “Salam”) maksudnya ketika orang-orang jahil yang tidak punya adab, memiliki akhlak rendah lagi buruk ingin bertikai dan melakukan kekacauan dengan memprovokasi yang lainnya dengan aksi-aksi keji mereka, maka ‘Ibādur Rahmān, baik itu laki-laki maupun perempuan, mereka tidak akan mengobarkan kemarahan serta tidak akan membalas kejahilan mereka setimpal dengan itu, malahan mereka akan menjawab mereka : [سَلاَمًا] – salāman kami hanya menginginkan ketenangan dan kedamaian bagi kalian.

Inilah senjata yang merupakan rahasia kesuksesan seorang mukmin, itulah jawaban mereka terhadap kezaliman dan permusuhan berupa keramahan dan ketabahan yang akan menerangi jalan bagi orang banyak. Karena itulah kalian harus senantiasa menempatkan hal ini dalam acuan, maka janganlah memancing pertentangan terhadap setiap orang kecil maupun orang besar. Belum lama ini saya sudah katakan bahwa kejayaan adalah takdir kita dan ‘Abdur Rahman – seorang hamba Allah Yang Maha Pemurah tidak akan memedulikan kejahilan orang-orang jahil termasuk pada saat ia memegang kekuasaan, bahkan ia akan mendoakan keselamatan untuk mereka.

Sekiranya kalian memerhatikan para pemimpin orang-orang Muslim dan para penguasanya saat-saat ini, nampaklah pada kalian bahwa mereka itu bukan ‘Ibādur Rahmān. Adapun Rasul Saw, maka seorang yahudi yang menagih hutangnya kepada beliau dengan perlakuan kasar, beliau membalasnya dengan puncak keramahan dan kelembutan. Membalas kejahilan dengan perlakuan bodoh lagi bukan hal yang bagus, itu bukan perkara yang dimaklumi oleh kebanyakan orang, adapun seorang mukmin tidak pantas melakukan itu, karena ini menunjukkan kepada ketakaburan dan tidak laik bagi seorang mukmin takabur. Sekiranya kita paham betul hal ini tentu sekian banyak masalah-masalah pelik keluarga sudah otomatis pergi.

Kita dapat mempelajari perselisihan-perselisihan suami istri yang mengantarkan pada perpecahan ikatan-ikatan perkawinan tak lama kemudian setelah menikah atau pun setelah kelahiran anak-anaknya, penyebab yang terbesar adalah tergesa-gesanya dalam merespon yang lainnya karena kurangnya sabar dan dikuasai kebodohan, sebagai contoh jika seseorang dari keduanya mengucapkan satu kata, maka yang lainnya membalasnya dengan dua kata, inilah tindakan-tindakan bodoh dan keduanya telah hilang kesabaran dan tali-tali kekerabatan menjadi retak pada akhirnya. Sesungguhnya hukum-hukum Al-Quran sebagaimana ia merupakan menara bagi masyarakat dalam skala luas, maka itu akan membimbing kita mendekati ketinggian juga. Sekiranya setiap insan paham betul dan berupaya menjalankannya tentunya setiap mukmin dan mukminah telah menjadi pengemban pesan perdamaian dan penyebar kedamaian pada tingkatan rumah hingga tingkat masyarakat, dalam hal ini perlu untuk paham betul hal ini.

Ketahuilah bahwa menakar seseorang itu satu sha’ [ukuran berat] dengan satu sha’ sedangkan ia menganggap dirinya seorang yang benar dan yang lain salah dikarenakan kejahilannya dan ketakaburannya. Kejahilan itu tidak akan hilang dengan meraih ijazah tingkat tinggi. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita memperbaiki segala perbuatan, maksudnya perbuatan-perbuatan itu sesuai dengan situasi dan kondisi, dalam situasi dan kondisi pertentangan dan perselisihan, kecerdikan dan pendidikan seseorang mengharuskan diam apabila yang lain tidak berhenti supaya perselisihan berakhir. Adapun apabila tidak melakukan tindakan yang bijak ini, maka ia itu jahil sekalipun ia menyandang gelar Doktor dan yang lainnya. Maka dalam hal ini perlu sekali untuk menjauhi kejahilan ini, karena tindakan-tindakan semacam ini akan menjadikan hidup ini neraka dan mengakibatkan kemurkaan Tuhan. Allah Ta’ala menerangkan obatnya juga yaitu memohon pertolongan kepada-Nya, istigfar, membaca la haula dan zikrullah. Kita perlu mematuhi perintah-perintah ini dan juga doa: رَبَّنَا اصْرِفْ عَنْهَا جَهَنَّمَ الْجَهْلِ وَ قِلَّةَ الْعِلْمِ وَ جَحِيْمَ التَّكَالُبِ عَلَى حُطَامِ الدُّنْيَا وَأَهْوَاءِ النَّفْسِ, جَحِيْمَ فَسَادِ اْلأَوَلاَدِ وَ اْلأَجْيَالِ التَّالِيَةِ (Ya Allah, hindarkanlah dari jahanam kejahilan, kurangnya ilmu, dari api neraka sikap saling memusuhi di atas puing-puing dunia dan keinginan-keingina hawa nafsu, dan jauhkanlah daripada neraka kefasadan anak cucu dan keturunan generasi mendatang)

Nyatanya, ketika kedua ibu bapak berselisih sebenarnya menjerumuskan anak-anaknya kepada jahanam dunia, dan saya telah melihat anak-anak buah dari perselisihan keduanya, akan melakukan kerusakan dan perbuatan-perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Sesungguhnya saya mendapatkan banyak pengaduan bahwa anak-anak itu mendapatkan kesulitan dan terbelakang dalam studi, lemah kesehatannya dan ketika saya sedikit selidiki saya dapati itu karena pengaruh negatif keributan rumah tangga dan perselisihan ibu bapaknya. Pada masa sekarang ini masyarakat memainkan peranan besar dalam menjauhkan seseorang dari agama, karena itulah dan sebagaimana yang baru saja saya katakan, seorang mukmin itu seharusnya bersandar kepada doa-doa termasuk doa berikut : رَبَّنَا نَجِّنَا مِنْ نَارِ الْكُفْرِ وَ اْلأَعْمَالِ الشَّيْطَانْيَّةِ, رَبَّنَا أَنْقِذْنَامِنْ نَارِ اْلإِلْحَادِ, رَبَّنَا قِنَامِنْ نَارِ الْكَذِبِ وَالظُّلْمِ, رَبَّنَا جَنِّبْنَا نَارَ الْحِرْمَانِ مِنْ حُبِّكَ وَ رِضَاكَ “Ya Tuhan kami, selamatkanlah kami dari api kekufuran dan amal-amal setan; Ya Tuhan kami selamatkanlah kami dari api kekafiran; Ya Tuhan kami, peliharalah kami dari api dusta dan kezaliman; Ya Tuhan kami hindarkanlah kami dari api terluputnya cinta dan keridhaan Engkau”

Ketahuilah bahwa ridha Allah itu akan memiliki kapasitas bagi seseorang apabila ia mengamalkan perintah-perintah-Nya, karena sesungguhnya posisi kita berada pada situasi dan kondisi beraneka kemaksiatan, baik temporer maupun reguler, tidak hanya membinasakan dan menghancurkan kita. Janganlah seorang pun punya anggapan jika ia tidak melakukan kemungkaran-kemungkaran ini, ia tidak memerlukan doa ini. Sebaliknya, malahan doa ini penting supaya terhindar dari kemungkaran-kemungkaran tersebut dan Allah memelihara keturunan kita dari perbuatan-perbuatan mungkar itu, sebagaimana penting bagi kita supaya kita diberikan taufik untuk menunaikan hak-hak kepada orang lain secara dawam sekecil apa pun pelaksanaannya. Renungkan perkataan orang-orang sufi : “Sekejap pandangan pun yang membuat engkau lengah terhadap Allah Ta’ala, engkau akan menjadi seorang kafir pada pandangan itu. ”Apabila seorang insan mulai melalaikan Allah Ta’ala, seterusnya ia akan mulai menjauh dari Tuhan Yang Maha Pemurah.

Belum lama ini saya sampaikan, seyogianya kita berdoa kepada Allah Ta’ala supaya menyelamatkan kita dari jahanam dusta. Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam ayat berikut ini bahwa ciri ‘Ibādur Rahmān itu adalah mereka: لاَ يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ( … salah satu ciri ‘Ibādur Rahmān itu adalah mereka yang tidak akan memberikan kesaksian palsu) maksudnya mereka tidak akan menunjukkan kesaksian-kesaksian yang dibuat-buat melainkan yang akan keluar dari mulut mereka adalah kebenaran dan hal yang lurus. Alangkah agung lagi elok apa-apa yang kita perbuat ketika kita mengimani Imam Zaman ini dan kita bersaksi bahwa pribadi ini adalah seorang benar dan utusan dari hadirat Allah Ta’ala. Tapi, apakah maksud tujuan kita akan sempurna hanya semata kita menerima dan memberikan kesaksian kepadanya? Memang benar, satu bagian dari itu sudah sempurna tetapi ada bagian terbesar yang akan sempurna ketika lenyapnya ketidak-sesuaian antara perkataan dan perbuatan kita dan manakala kelurusan dan kebenaran itu terlihat pada setiap perbuatan dari semua perbuatan kita. Pada saat itulah kita akan dikenal di masyarakat dengan ucapan kita yang benar dan lurus.

Seharusnya kalian selalu mengingat, kebaikan terbesar dan kesulitan terbesar yang akan manusia hadapi setelah beriman kepada keesaan Allah Ta’ala yaitu perkataan yang lurus. Memang benar, ribuan orang menghiasi dirinya dengan sifat penyayang, dalam hal ini ada orang-orang yang berbuat adil juga, akan tetapi mereka tidak akan benar-benar siap sedia untuk berkata benar dan mengemukakan kesaksian benar di setiap keadaan. Kita mengamati bahwa orang-orang terpelajar di negeri Eropa juga kebanyakan dari antara mereka angkat suara demi keadilan dan kebijakan, akan tetapi ketika urusan itu menuntut pernyataan kesaksian yang benar dari kerabat-kerabat mereka sendiri mereka akan menunda-nunda dalam pengutaraannya serta dalam beberapa kesempatan mereka tidak akan mengemukakannya kepada ahli kaumnya. Sebab di balik perselisihan-perselisihan yang menguasai dunia sekarang-sekarang ini, membiasakan mengurang-ngurangi ucapan hak atau tidak adanya kelurusan dan keadilan.

Mengangkat teriakan atas nama keadilan atau menegakkan keadilan berada pada level sesuatu yang sangat kecil dan memberikan kesaksian benar dengan segenap kelurusan dan sifat amanah dalam corak yang sempurna adalah sesuatu yang benar-benar lain. Sekiranya orang-orang di dunia ini memahami perkara ini, tentu hal-hal menakutkan yang terdapat di dunia yang kita takutkan sekarang-sekarang ini menjadi sirna. Allah Ta’ala mengatakan bahwa ‘Ibādur Rahmān selamanya tidak akan menyembunyikan kesaksian benar pada jalan menegakkan hak-hak dan menunaikan hak-hak tersebut.

Kita telah bangkit dengan mengumumkan bahwa kita akan mempersiapkan nur untuk seluruh dunia, dan setiap orang yang mengaku eksistensinya sebagai Ahmadi, baik laki-laki maupun perempuan, akan mengumumkan bahwa ia akan menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia. Tetapi, jika mereka tidak melakukan itu tentu pengakuan mereka benar-benar pengakuan hampa. Kita tidak semata-mata tercipta dan masuk Jemaat, supaya kita memperoleh kesaksian dari dunia atau kita berupaya dengan segala daya kemampuan kita untuk mengumpulkan kekayaan dan harta, atau kita mengungguli yang lainnya dalam memilih mode baru. Tidak, melainkan kita harus menyiarkan kebenaran dan kelurusan selama kita menghadapinya, jika kita tidak mengerjakan itu, tentunya pengakuan kita beriman kepada Imam Zaman itu adalah omong kosong semata dan dengan demikian kita akan jauh dari Allah; di samping itu pernyataan kesaksian benar kita adalah omong kosong saja dan kita akan menjadi pendusta dan orang-orang yang menyembunyikan kebenaran. Maksud dari hal tadi adalah dalam pandangan kita tidak terdapat perhatian kepada Allah atau kita akan mendukung untuk menegakkan kekuasaan setan alih-alih mengukuhkan tiang-tiang kerajaan Allah. Maka sebagaimana saya sampaikan sebelumnya sesungguhnya kesaksian benar itu hal penting setelah menyatakan keesaan Allah dan kita harus senantiasa menempatkannya dalam perhitungan. Setiap kita baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan harus meneguhkan tekad hingga berskala luas untuk menegakkan kebenaran, karena bagi kaum wanita ada andil besar dalam tarbiyat generasi mendatang.

Nabi Saw mengambil janji dari kaum wanita secara khusus untuk : لاَ يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِيْنَهُ ( “… dan mereka tidak akan melemparkan tuduhan yang dibuat-buat …. . ” – QS Al-Mumtahanah, 60;13) sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Tak penting kebiasaan mereka-reka dan mengada-ada itu ada pada setiap perempuan sedangkan kaum laki-laki semuanya terlepas bebas dari itu, justru saya mendapatkan banyak contoh dimana ada wanita yang berkata lurus dan laki-laki bersaksi dengan memberikan kesaksian palsu, mengada-ada serta melemparkan tuduhan yang tidak benar. Adapun di tempat ini, telah ditekankan bagi kaum wanita untuk menjauhi dusta.

Faktor yang menjadi sebab dusta itu adalah pada sebagian bangsa, kaum wanita itu miskin tarbiyat yang benar termasuk pada masa sekarang pun, selanjutnya penyakit dusta banyak terdapat di kalangan kaum wanita di beberapa tempat, ketika kaum wanita berkata bohong karena alasan yang sangat sepele dan mereka tidak menganggapnya sebagai sebuah kebohongan justru menganggap hal yang biasa dan tidak merasa bahwa mereka sedang berkata bohong. Sebagaimana saya sampaikan belum lama ini, sesungguhnya kaum wanita punya peran besar dalam memperbaiki masyarakat. Anak-anak yang mendapatkan tarbiyat dalam asuhan mereka memikul tanggung jawab-tanggung jawab bangsa di masa mendatang. Ketika seorang anak melihat ibunya berbohong dalam banyak hal dan mengatakan apa-apa yang tidak ada kaitan dengan kebenaran, maka tidak ada yang tersisa pada kalbunya perhatian kepada berkata jujur. Manakala perhatian akan berkata jujur hilang pada nalar anak-anak, hilang pula keimanan mereka kepada Allah sebagaimana telah saya sampaikan. Musabab terbesar dari itu adalah sirnanya kejujuran, selanjutnya anak-anak tidak kuasa membedakan antara yang benar dan dusta. Dalam hal ini sekian banyaknya anak-anak yang mendapatkan pengaruh negatif dari masyarakat luar, demikian pula dari iklim yang meliputi rumah, lalu mereka semua menjauh dari agama disebabkan hal-hal yang membawa kepada kehancuran semua generasi.

Di sini saya ingin menerangkan bahwa bukan merupakan suatu keharusan seseorang membicarakan setiap hal yang riil dan nyatanya demikian. Allah Ta’ala melarang manusia menyatakan beberapa urusan dikarenakan terkadang akan mengakibatkan tersiarnya keburukan-keburukan serta hilangnya rasa aman di dalam masyarakat. Maka dalam hal ini, baik wanita maupun pria, di mana saja terbiasa membicarakan apa pun yang didengarnya dan ketika mereka ditanya mengatakan: “Kami tidak berbohong.” Memang mereka tidak berbohong, tetapi mereka berbuat dosa sekalipun ucapan mereka tanpa dibuat-buat. Mereka akan merusak ketenangan masyarakat, karena mengungkap aib-aib orang lain adalah ghibah dan Allah Ta’ala dengan sangat tegas melarang ghibah.

Mengutarakan aib-aib orang lain di hadapan orang-orang juga membawa dampak berkurangnya kejinya kejahatan pada banyak kesempatan. Allah Ta’ala telah memerintahkan menutupi fahsya (cela). Kalau demikian, bukan suatu keharusan bagi seorang insan untuk menyebut-nyebut cela-celanya orang dan kekurangan-kekurangan mereka. Perlu dimaklumi, inilah penyebab tersiarnya segala kemungkaran pada masyarakat-masyarakat Barat. Manakala pemisahan antara yang buruk dan yang baik hilang pada sisi mereka, maka dosa-dosa dilakukan secara terang-terangan dengan mengatasnamakan kebebasan. Maka kebenaran dari orang lain semacam inilah yang akan membawa dampak tersebarnya kefasadan dan gangguan-gangguan di dalam masyarakat, karena perkataan [atas nama kebebasan] inilah yang akan dikatakan mengenainya, ketika ia mengetahuinya ia akan mengobarkan kemarahan dan menghamburkan kefasadan, maka mulailah rentetan baru segala pertentangan dan pertengkaran. Saya pribadi tahu mengenai kejadian-kejadian adanya seorang pemudi yang pergi ke rumah ipar-ipar lelakinya (suami-suami dari saudari-saudarinya), lalu ia memberitahukan kepada ibu bapaknya kekurangan-kekurangan yang didapati di rumah ipar-iparnya itu. Ia juga menyebut-nyebut kelemahan-kelemahan ibu bapaknya di rumah ipar-iparnya, barangkali ia bermaksud agar nampak betapa jujur dan polosnya ia atau hal-hal itu timbul darinya karena kepolosannya, tetapi itu mengantarkan pada perbantahan-perbantahan dan perseteruan-perseteruan di antara keluarga pemuda dan pemudi tersebut, sehingga menciptakan perpisahan di antara suami istri itu, lalu rentetan perseteruan dan saling melempar tuduhan di antara keluarga itu berbuntut panjang sehingga semua hubungan terputus.

Dalam hal ini kaum lelaki mengatakan kepada istrinya, “Jika engkau tetap berhubungan dengan ibu bapakmu setelah ini, maka bagimu tidak ada lagi hubungan denganku dan aku akan menalak engkau. ”Dalam hal ini anak-anak perempuan tertekan gara-gara itu dan mereka belum melihat wajah kedua orang tuanya selama sepuluh tahun. Kezaliman-kezaliman ini timbul karena manusia tidak memperhitungkan kezaliman dan kejahatan yang dianggapnya hal yang sepele, dan nampaknya banyak berpegang pada ‘berkata jujur’ menurut pemahamannya. Apabila Nizam Jemaat menyeru kalian atau Departemen Islah [perdamaian] mengundang kalian untuk mengutarakan kesaksian, maka seharusnya pergi untuk menyatakan kesaksian benar tanpa menutup-nutupinya dengan alasan apa pun.

Setiap mukmin dan mukminah dalam segala hal harus bertujuan untuk hidup sesuai perintah-perintah Allah swt. , kemudian Allah swt berfirman : وَ إِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا ( … salah satu ciri ‘Ibādur Rahmān itu adalah dan apabila mereka lewat pada sesuatu yang laghau, mereka berlalu dengan hormat) maksudnya, ‘Ibādur Rahmān itu tidak turut serta dalam kelezatan-kelezatan duniawi dan majelis-majelis duniawi atau pun berupaya mengikuti kehormatan duniawi, justru mereka akan berlalu dengan menghindar dari majelis-majelis yang bersifat duniawi semata. Oleh karenanya, hal-hal laghau itu akan mengakibatkan hal-hal yang akan menjauhkan manusia dari Allah, merintanginya dari mengamalkan perintah-perintah Allah yang terang dan jelas, sama saja apakah itu berupa tarian maupun nyanyian dengan iringan musik ataupun memainkan orgel (organ) dalam suasana-suasana santai dengan alasan hiburan, atau pertemuan-pertemuan yang mana antara pemuda dan pemudi berbaur serta menciptakan pertemanan-pertemanan yang pada akhirnya membawa pada keburukan-keburukan yang lain, sama saja apakah begadang malam-malam pada internet dan kendurnya menghadiri shalat subuh, atau mengakses (browsing) berbagai situs, menggunakan facebook dengan penggunaan yang keliru, atau duduk-duduk dengan perempuan-perempuan dan sibuk memperbincangkan urusan dunia saja seperti membicarakan tentang fesyen, perhiasan atau memata-matai salah seorang di antaranya dan juga membicarakan tentang hubungan suaminya dengannya, apa pekerjaannya dan apa pemasukannya, siapa yang telah datang ke rumah Fulan pada saat seperti itu? Semua hal ini termasuk lagau dan Allah swt telah melarang semua itu. Dia mengatakan semua hal ini tidak layak ada pada ‘Ibādur Rahmān, justru ‘Ibādur Rahmān itu melewatkan siang malamnya dalam beribadah dan mengingat Allah.

Kapan pun kita harus menaruh perhatian termasuk kesibukan di dalam aktivitas-aktivitas urusan duniawi yang sifatnya harian, bahwa “Kesibukanku dalam urusan-urusan duniawi tidak melahirkan pada diriku kesadaran bahwa aku tersembunyi pada pandangan Allah”, tetapi di hadapan kalian harus senantiasa terdapat kesadaran bahwa Allah memperhatikan kalian, apabila kesadaran ini tercipta, maka kalian akan merasa takut kepada Allah dan menjauhi segala perbuatan buruk dan pada waktu tersebut kalian akan menaruh perhatian terhadap pelaksanaan hak-hak makhluk juga. Kalian akan mementingkan dan memerhatikan apa-apa yang dikehendaki oleh Allah dari kita. Allah Ta’ala telah menerangkan di dalam Al-Quran semua hukum-hukum-Nya dan kita seharusnya menyambut baik semuanya itu. Kita harus memerhatikan apa yang Allah perintahkan kepada kita sebagaimana Allah swt juga telah menerangkan perkara-perkara yang harus kita hindari. Di dalam Khotbah yang kemarin sudah saya terangkan melalui Firman-Nya : كُنْتُمْ خَيْرًا أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ تَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ “Kalian adalah yang terbaik yang dikeluarkan kepada manusia, menyeru berbuat makruf, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. ”– QS Āli ‘Imrān, 03 : 111

Allah Ta’ala telah menyebutkan tanggung jawab-tanggung jawab kita secara komprehensif (menyeluruh). Apabila kita menempatkan hal-hal ini dalam perhatian, maka kita akan mengupayakan untuk memperoleh semua kebaikan dan kita akan mengerahkan segenap kemampuan kita untuk menjauhi segala macam kejahatan. Kita akan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukan kebajikan kepada karib kerabat dan mempelajari segala kemungkinan itu, kita akan memerhatikan dan memikirkan bagaimana supaya bisa untuk mengkhidmati orang-orang fakir demi meraih ridha Allah swt, kita akan mengerahkan segala daya upaya kita untuk dapat menjalankan amanah sepenuhnya, kita akan menumbuhkan kesadaran pada diri kita dengan mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan untuk menunaikan hak-hak kepada orang lain dan kegigihan kita akan menjadi prasangka baik.

Sebagaimana kita maju dalam bersikap menghargai hamba-hamba Allah dan sabar atas gangguan akan menjadi keelokan akhlak kita, kita akan tetap memerhatikan dan mementingkan penegakan keadilan dan kebajikan kepada orang lain, seperti halnya berbuat baik kepada ibu bapak yang merupakan perhiasan perilaku kita, kita akan menjadi orang-orang yang menyempurnakan janji, kita akan menunaikan hak-hak keluarga dengan menjaga silaturahim, kita menaruh perhatian untuk menjauhi marah, dendam, berburuk sangka, menuduh dan mengadu domba. Kita memandang perbuatan memperolok orang lain dan merendahkannya serta menganggap mereka lebih rendah derajatnya dari kita adalah suatu keangkuhan dan kita akan menyingkir dari sikap berlebih-lebihan.

Sekali-kali kita tidak akan merasa puas dengan hanya berdoa supaya anak-anak kita menjadi penyejuk mata kita, malahan kita akan membuat langkah-langkah amaliah juga maju untuk menjadikan mereka itu sebagai penyejuk mata bagi kita dimana kita menampilkan teladan-teladan dari amal-amal perbuatan kita kepada mereka. Suami istri menjalankan hak-haknya satu sama lain dan juga hak-hak anak-anak. Mereka cekatan dan tangkas dalam bertawakal kepada Allah.

Ringkasnya, amar makruf dan mencegah keburukan-keburukan akan mengantarkan kita pada terjadinya revolusi-revolusi suci di dalam jiwa dan kita akan membangun masyarakat yang bersih setelah diutusnya Nabi Saw untuk membangunnya. Allah Ta’ala telah menerangkan kepada kita penjelasan-penjelasannya di dalam Al-Quran dengan sangat rinci yang untuk menegakkannya kembali di dunia dan mendirikan kerajaan Allah swt di dunia, Allah telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as, kalau demikian seharusnya kita berupaya sekuat tenaga untuk bergabung pada ‘Ibādur Rahmān yang telah disebutkan oleh Allah swt yang termasuk sifat-sifat mendasarnya, وَالَّذِيْنَ إِذَا ذُكِّرُوْا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (…‘Ibādur Rahmān itu adalah mereka yang apabila dibacakan ayat-ayat Tuhannya, mereka tidak berpaling darinya dengan bertingkah seperti orang-orang bisu dan buta) maka orang-orang mukmin hakiki dan ‘Ibādur Rahmān akan menyambut baik perintah-perintah Allah, manakala mereka diberikan nasehat mereka akan mendengarkan nasehat dan akan menaruh perhatian pada perubahan ihwal mereka. Oleh karena itu setiap kita harus mengupayakan untuk menyambut perintah-perintah Allah demi mencari ridha-ridha-Nya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita, laki-laki perempuan semuanya, untuk meraih keridhaan Allah dengan menempatkan janji yang kita ikrarkan dengan mengutamakan agama daripada dunia di dalam acuan dan kita akan menjadi ‘Ibādur Rahmān yang pandangan kecintaan Allah Ta’ala akan tertuju kepada mereka selamanya. Marilah Anda sekalian semua berdoa bersama-sama dengan saya. [Abkari Munwanna, 24-27-09-2014, anggota Dewan Naskah JAI)