Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Ramadhan dan Doa

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

17 Juni 2016 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 187)

“Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada Engkau tentang Aku, katakanlah “Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” (2:187)

Allah Ta’ala telah mengalihkan perhatian kita pada hubungan istimewa antara Ramadhan dan diterimanya doa-doa dengan menempatkan ayat ini di  tengah-tengah perintah-perintah kewajiban berpuasa, persyaratannya dan perintah-perintah terkait lainnya. Hadhrat Khalifatul Masih I ra menjelaskan mengenai hubungan ini sebagai berikut: “Karena berpuasa adalah sarana untuk belajar mengenai ketakwaan, dengan cara yang sama maka berpuasa juga adalah sarana untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah.

Oleh karena itu, bulan Ramadhan sendiri tidak bisa menjadi sarana diterimanya doa-doa kecuali jika Ramadhan juga dibuat sebagai sarana untuk belajar ketakwaan, menghabiskan hidup di dalam ketakwaan, dan membuat bulan Ramadhan tersebut menjadi sarana mendapatkan kedekatan dengan Allah. Dan ketika hal ini terjadi, maka hubungan yang dirangkai dengan Allah selama Ramadhan tidak akan hanya terbatas pada Ramadhan saja, namun tanda-tanda perubahan permanen kekal akan muncul. Allah telah menerangkan hal yang sama dalam ayat ini dengan berfirman, “إني قريب” “Aku dekat”.

Rasulullah saw bersabda bahwa setan dibelenggu pada bulan ini dan Allah turun lebih dekat ke langit yang terendah. Namun, Dia lebih dekat kepada siapa?

Ingatlah! Sesungguhnya Dia mendekat kepada mereka yang merasakan kedekatan Allah atau menginginkannya, dan untuk itu mereka menanggapi dengan baik perintah-perintah Allah.

Mereka berusaha untuk bertindak sesuai perintah Allah yaitu, “فليستجيبوا لي”  “Hendaklah mereka menjawab seruan-Ku”. Mereka mencari-cari tahu apa saja perintah-perintah Allah dan maju ke depan untuk bertindak serta berlaku sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Mereka memiliki keimanan dan kepercayaan bahwa Allah memiliki semua kekuasaan dan kekuatan.

Jika kita berdoa kepada-Nya dengna ikhlas dan bersamaan dengan itu kita bertindak dan berlaku sesuai dengan perintah-perintah Nya, maka Dia akan mendengarkan doa-doa kita. Memang, Allah telah berfirman sebagai jawaban atas seruan dari hamba hamba-Nya, “إني قريب” ”Aku dekat. Aku mendengarkan doa-doa para hamba-Ku. Apalagi selama bulan Ramadhan ini, Aku datang untuk lebih dekat kepada kalian, panggil dan berdoalah kepada-Ku”.. Namun, sebelum memanggil-Ku guna penerimaan doa-doa kalian, kalian harus memenuhi persyaratannya yaitu dengarkanlah Aku, dan lakukanlah segala perintah-Ku. Inilah persyaratannya dari-Ku. Dan percaya serta beriman penuhlah terhadap segala kekuatan dan kekuasaan-Ku.”

Dengan demikian, orang orang yang mengatakan bahwa mereka telah berdoa namun doa mereka tidak diterima, apakah mereka sudah mengevaluasi diri mereka sendiri? Sudah pernahkah mereka mengevaluasi seberapa jauh mereka telah menaati perintah-perintah Allah? Jika kita tidak melakukan amalan amalan dan iman kita hanya merupakan formalitas belaka, maka perkataan kita bahwa kita telah berdoa kepada Allah namun tidak diterima itu adalah salah. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang persyaratan yang ditetapkan Allah mengenai pengabulan doa tersebut,

“Hal pertama yang difirmankan Allah adalah agar manusia menciptakan kondisi ketakwaan dan ketakziman serta hormat kepada Allah, maka Allah akan mendengar mereka. Artinya, mereka harus memiliki ketakwaan dan juga rasa takut kepada-Nya, maka Allah mendengar panggilan dan doa mereka.

Hal yang kedua, فليؤمنوا بي ‘Mereka beriman kepada-Ku.’ Keimanan yang bagaimana? Yaitu beriman bahwa Tuhan itu Maha Ada dan memiliki segenap Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan. Manusia harus mengimani bahwa Dia/Allah memiliki segenap Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan baik ia sudah mengalami lewat pengalaman dan pengujian bahwa Dia Maha Ada dan memiliki segala Kekuasaan; apakah seseorang itu, baik sudah atau belum meraih pengetahuan tentang Keberadaan-Nya dan keadaan-Nya sebagai Pemilik semua Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan.

Artinya, ia harus punya keimanan kepada hal yang Ghaib yang jika seseorang meraih pemahaman yang demikian – maka ia akan dianugerahi dari Allah berupa irfaan (pengetahuan) yang yang meneguhkannya dalam bentuk pengalaman pribadi akan keberadaan Allah, dan Pemilik semua Kekuatan dan bahwa Dia menjawab doa-doa. Pertama-tama, manusia harua menguatkan imannya, lalu Allah akan maju mendekatinya dan maka Dia menyediakan bukti untuknya juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as dalam berbagai kesempatan telah menerangkan dengan rinci atas berbagai contoh dari prinsip-prinsip dan filosofi syarat-syarat diterimanya doa. Pada kesempatan ini, saya juga akan mengetengahkan beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, yang dengan kutipan tersebut kita bisa menambah pemahaman, pengetahuan dan pengertian kita secara mendalam akan tema ini, dan dengan berpegang teguh padanya, sarana guna meraih kedekatan Ilahi di bulan Ramadhan. Begitu juga itu memungkinkan kita masuk ke dalam golongan faa-iziin (yang mendapatkan petunjuk sejati, yang menang) dengan dapat memperolah manfaat sejati dari Ramadhan.

Beberapa orang berpikiran doa apapun yang mereka panjatkan harus dikabulkan. Saya telah memberikan beberapa penjelasan mengenai hal ini sebelumnya bahwa Allah telah meletakkan persyaratan-persyaratan untuk pengabulan yang harus kita penuhi. Dalam rangka menjelaskan lebih jauh mengenai apa prinsip-prinsip dikabulkannya doa, dan terkadang, setelah segala persyaratannya telah dipenuhi namun doa tidak diterima dan dikabulkan seperti yang diinginkan pendoa, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

Sesungguhnya prinsip doa ialah Allah bukanlah penurut kepada hasrat-hasrat dan harapan si pendoa. Perhatikanlah! Betapa seorang Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya dan tidak ingin anak-anaknya menderita rasa sakit apapun. Tetapi, jika anaknya bersikeras karena kebodohannya mereka dan menangis meminta pisau yang tajam atau meminta percikan api yang membakar, maka apakah sang ibu (kendati dia sangat mengasihi dan mencintai anaknya) akan mengabulkan permintaan anaknya itu dan memberikannya sebilah pisau tajam atau percikan api yang membakar? Tidak akan pernah! Dari permisalan ini, prinsip diterima dan dikabulkannya doa dapat dipahami.

Saya sendiri pernah mengalami hal ini. Ketika beberapa bagian dari sebuah doa itu berpotensi untuk melukai, maka doa tersebut tidak akan diterima sama sekali. Dapat cukup dipahami bahwa pengetahuan kita tidaklah pasti dan belum tentu benar. Kita  melakukan banyak pekerjaan yang dengan gembira kita anggap apa yg kita lakukan tersebut adalah beberkat, dan kita mengira hasilnya akan sangat diberkati, namun pada akhirnya apa yang kita lakukan itu berbuah kedukaan dan kesengsaraan.

Ini berarti, kita tidak bisa mengatakan bahwa semua hasrat dan keinginan manusia adalah benar dan baik untuknya. Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti segala hasrat dan keinginan tersebut adalah benar karena manusia tempatnya lupa dan salah. Berbuat salah adalah sifat alami manusia. Ketika ada hal yang menyakiti diantara apa yang diinginkan oleh si pendoa dan jika Allah mengabulkan keinginannya tersebut, maka hal ini secara jelas akan berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya. (Demikianlah, manusia berpikiran suatu hal harus terjadi sesuai yang diinginkannya, namun hasrat dan keinginan terkadang berbahaya dan menyakiti; sehingga jika Allah mengabulkannya, maka hal ini akan berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya. Allah menghendaki rahmat dan ampunan bagi orang yang berdoa, bagi hamba hamba-Nya. Jika Dia memenuhi setiap keinginan hamba hamba-Nya, bahkan jika itu berarti berbahaya dan menyakiti bagi hamba tersebut, maka hal ini berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya.)

Ini adalah perkara benar dan pasti bahwa Allah mendengar doa-doa para hamba-Nya dan memuliakan mereka dengan pengabulan doa mereka, namun Dia tidak mengabulkan setiap hal dari doa – karena manusia tidak mengetahui pasti akhir dan hasil dari doanya disebabkan tekanan hasrat dan keinginannya. Namun, Allah adalah juru selamat sejati dan Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu, selalu melihat jika ada hasil yang berbahaya dan merugikan yang dapat menimpa para pendoa jika doa tersebut dikabulkan maka Dia menolak doa tersebut.

(Manusia mungkin tidak melihat hasil akhirnya, namun Allah adalah Maha Pemberi Manfaat dan Maha Dermawan bagi hamba hamba-Nya, dan menghendaki kesejahteraan dan keselamatan bagi para hamba-Nya. Dia juga Maha Mengetahui atas segala konsekwensi yang ada [dari hal hal yang dilakukan manusia]. Dia melihat konsekwensi dan apa yang akan terjadi. Dia Maha Melihat akan bahaya, kerusakan, hasil yang buruk dan menjaga dari hamba hamba-Nya, dan tidak mengabulkan doa karena Dia melihat kesejahteraan manusia ada pada penolakan doa tersebut.) “Ditolaknya doa ini sesungguhnya adalah bentuk pengabulan dari doa orang tersebut.” (Ketika doa yang demikian ditolak dan tidak dikabulkan oleh Allah, sesungguhnya hal itu adalah bentuk diterima dan dikabulkannya doa oleh Allah – karena Allah Maha Melihat ada yang tidak baik bagi hamba-Nya yang berdoa tersebut.)

Maka, Allah akan menerima doa-doa yang dengan mengabulkannya manusia akan aman dari kecelakaan dan bahaya. Sedangkan doa-doa yang akan menghasilkan sesuatu yang menyakitkan, Allah akan mengabulkan doa-doa seperti ini dalam bentuk penolakan. Doa-doa yang bermanfaat diterima dan dikabulkan sebagaimana adanya, dan doa-doa yang membawa bahaya akan ditolak dan tidak dikabulkan – dan ini adalah bentuk dari pengabulan doa dari-Nya.

Wahyu ini difirmankan kepadaku sering kali: “أجيب كل دعائك”،  ‘Ujiibu Kulla Du’a’ika’ – ‘Aku akan menerima semua doa-doamu.’ Dengan kata lain, ‘Setiap doa yang isinya bermanfaat dan berfaedah akan diterima dan dikabulkan.’ Doa yang bermanfaat dan berfaedah akan diterima dan dikabulkan.

Tidak setiap doa yang dipanjatkan akan diterima dan dikabulkan. Demikianlah, Allah mendengar beberapa doa dari para Wali-Nya dan dari para Nabi-Nya, namun ada juga doa doa yang tidak dikabulkan. Tidak dikabulkannya doa-doa ini adalah karena Dia Maha Mengetahui itu tidak memberikan manfaat atau hasil akhirnya akan mengerikan. Allah Maha Mengetahui hal-hal yang tidak terlihat (ghaib). Dia yang lebih mengetahui.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan perkara bahwa suatu keharusan bagi seseorang untuk melihat perbuatan dan kepercayaannya sendiri berkaitan dengan doa. Beliau bersabda,

“Benar! Adalah benar saya katakan bahwa seseorang yang tidak berbuat, berarti ia tidak berdoa. Melainkan, ia tengah menguji Allah. Karena itu, adalah perlu untuk mencurahkan segenap dayamu sebelum berdoa. Dan inilah arti dari doa ini.”

(Hanya berdoa saja tidaklah cukup. Hal ini harus disertai dengan tindakan dan perbuatan. Sebaliknya, orang tersebut mencoba Allah. Jika tidak ada perbuatan dan hanya ada doa, maka itu bukanlah doa. Sesungguhnya kalian mencobai Tuhan)

Suatu keharusan bagi manusia untuk melihat ke dalam keyakinan dan perbuatannya sebelum berdoa karena termasuk sunnah Allah bahwa perbaikan berlangsung dalam konteks sarana-sarana. Untuk tujuan perbaikan, sarana-sarana tertentu haruslah berada dekat dan tersedia. Allah Ta’ala menciptakan sarana yang menuntun pada perbaikan. Mereka yang mengatakan, ‘Apa perlunya sarana-sarana jika sudah ada doa?’ harus berhenti dan mulai merenungkan pada titik ini secara khusus. Mereka yang bodoh hendaknya berpikir bahwa doa itu sendiri adalah sarana yang tersembunyi dan menumbuhkan tunas-tunas sarana yang lain.”

(Doa itu sendiri adalah sebuah sarana. Dengan diterimanya doa, sarana-sarana yang lain bermunculan untuk tercapainya perkara yang diinginkan. Misalnya seseorang membutuhkan pinjaman, membutuhkan dana, membutuhkan bantuan, maka Allah mengaturnya melalui beberapa orang tertentu. Membuatnya mudah bagi orang tersebut. Tidak ada uang yang turun dari surga. Jika seseorang membutuhkan uang, maka uang tersebut tidak akan turun dari langit. Melainkan, akan datang kepadanya melalui berbagai sarana. Itulah sarana-sarana yang Allah ciptakan sebagai pengaruh doa.)

Penempatan إياك نستعين iyyaka na’budu (Hanya Engkaulah yang kami sembah) sebelum إياك نعبد Iyyaka nasta’iin (Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan), yang adalah sebuah doa, juga menerangkan tentang hal ini. Pertama dikatakan Iyyaka na’budu, kemudian إياك نعبد Iyyaka nasta’iin kami mencari pertolongan-Mu. Mereka berdoa kepada Allah. Tetapi, disamping itu mereka meminta pertolongan Allah, dan dengan itu mereka tidak lalai memperhatikan pada penggunaan sarana-sarana.

Ringkasnya, sunnah (kebiasaan) Allah yang lihat ialah Dia menciptakan sarana-sarana. Amatilah! Dia menyediakan air bagi yang haus. Dia menyediakan makanan untuk menghilangkan kelaparan melalui berbagai sarana. Mata rantai sarana berkembang dan maju dalam corak ini. Dan diciptakanlah sarana-sarana. Karena ada dua sifat Allah yaitu, وكان الله عزيزًا حكيمًا Wa kaanaLlahu Azizan Hakima. Aziz artinya dapat melakukan yang Dia inginkan. (Dia adalah Ghalib/Maha Unggul dan Dia Maha Kuasa. Dia melakukan apa-apa yang Dia kehendaki.)

Hakim artinya setiap apa-apa yang Dia lakukan berhikmah sesuai dengan keadaan dan lingkungan. Perhatikanlah beragamnya sifat dan karakteristik benda-benda dan tumbuh-tumbuhan. Lihatlah contohnya! Ambillah dan makanlah satu ons atau kurang dari Turbad atau Sikmonia yang menyebabkan diare. Allah Maha Berkuasa untuk menciptakan rasa kenyang dalam perut seseorang tanpa sarana/sebab atau memuaskan rasa haus tanpa air. Namun adalah penting untuk memperkenalkan keajaiban kekuasaan-Nya bagi manusia. Sampai pada tahap mana pengetahuan manusia tentang keajaiban kekuasaan-Nya menjadi luas; begitu juga bertambah pula pengetahuannya tentang sifat-sifat Allah yang membantunya untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah sampai pada tahap yang sama.”

(Allah telah menciptakan semua hal ini; dan tidak ragu lagi Dia untuk memberitahukan pengetahuan mengenai karakteristik dari hal-hal tersebut. Hal-hal tersebut adalah beragam sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Sebagaimana pengetahuan seseorang tentang beragam hal dan sesuatu yang diciptakan Allah meningkat, seiring itu pula pengetahuannya terhadap sifat-sifat Allah juga meningkat sampai pada tahap yang sama. Mereka mendapatkan pengertian dan pemahaman. Manusia menjadi mampu untuk mencapai pemahaman ini. Inilah yang seharusnya menjadi keasyikan orang yang menyatakan diri beriman/beragama. Seorang ateis memberikan bobot, mengandalkan dan menyombongkan ilmu pengetahuannya, namun seorang beriman dengan peningkatan pengetahuan menjadi mengetahui dan memahami sifat-sifat dan kekuasaan Allah.)

Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan filosofi doa sebagai berikut di suatu tempat:

“Renungkanlah! Saat seorang bayi dalam masa menyusui tengah lapar lalu menangis keras minta susu; seketika air susu Ibu kemudian terbentuk di dalam dada sang Ibu sedangkan sang anak bahkan tidak tahu kata berdoa. Lantas apa yang terjadi sehingga tangisan sang anak bisa menarik air susu Ibu? Ini adalah perkara yang umumnya setiap orang telah alami. Terkadang, telah diamati bahwasanya para Ibu bahkan tidak merasakan ada air susu di dada mereka dan seringkali air susu tersebut memang tidak ada.

Namun sesegera setelah tangisan anak yang memilukan terdengar di telinga, secepat itu pula air susu Ibu terbentuk. Sebagaimana tangisan bayi memiliki hubungan dengan air susu Ibu, saya katakan dengan sesungguhnya bahwa tangisan kita di depan Allah – jika memang memiliki kesungguhan yang sama seperti layaknya tangisan sang anak meminta air susu Ibunya – maka tangisan kita kepada Allah akan menarik rahmat dan kasih sayang-Nya serta karunia-Nya.”

Orang yang meminta pengabulan doa harus mengikuti pola ini. Dan ketika seseorang mengikuti pola ini, maka Allah juga menunjukkan kepadanya pengabulan doa.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lebih jauh mengenai filosofi doa yang mencontohkan ibu dan anak yang disusuinya tersebut. Beliau as bersabda bahwa merupakan keistimewaan manusia untuk berdoa dan meminta. Ketekunan dan kegigihan dalam berdoa membuat Allah Ta’ala memperlihatkan penampakan pengabulan doanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Meminta adalah karakter manusia. Menerima dan mengabulkan adalah sifat Allah. Orang  yang tidak mengerti, tidak menerima hal ini, adalah pembohong. Contoh dari anak yang tadi yang telah saya kisahkan memecahkan selubung mengenai filosofi doa dengan layak dan cukup. Sesungguhnya, الرحمانية Rahmaniyyat dan الرحيمية Rahimiyyat bukanlah dua hal yang terpisah. Maka dari itu, seseorang yang meninggalkan salah satu dari dua sifat Allah tersebut untuk meraih sifat yang satunya, tidak akan bisa dapat apa-apa. (Orang yang meninggalkan Rahmaniyyat guna meraih Rahimiyyat pasti takkan berhasil)

Tuntutan Sifat Rahmaniyyat ialah diciptakannya dalam diri kita kekuatan untuk mendapatkan manfaat dari aliran berkat sifat Rahimiyyat. (yaitu, Rahmaniyyat menciptakan kekuatan yang diperlukan untuk berdoa dari Rahimiyyat Allah Ta’ala). Siapa yang tidak melakukan hal tersebut adalah kaafirun ni’mah (penolak nikmat Allah).

Inilah arti dari Iyyaka na’budu yaitu “Kami hanya menyembah Engkau saja, dengan memelihara sarana-sarana lahiriah yang telah dberikan oleh Engkau.” (Kami beribadah dengan menggunakan sarana-sarana yang jelas dan salah satunya ialah doa; dan selain itu kami beribadah dengan menggunakan benda-benda itu yang diletakkan bagi kami secara khusus guna menyelesaikan masalah ini.)

Coba renungkanlah lidah yang terbuat dari banyak otot. Lidah terdiri dari otot-otot yang terbuat di dalamnya, dan juga ada air liur. Kita tidak akan dapat berbicara jika tidak demikian. Jika lidah menjadi kering, maka manusia tidak akan dapat berbicara. Jika otot lidah tegang, maka akan menjadi kaku. Tuhan memberikan kita lidah agar kita dapat berdoa yang bisa mengekspresikan pikiran-pikiran hati. Tuhan memberikan kita lidah sehingga pemikiran-pemikiran hati kita menjadi nyata dan manusia dapat berbicara. Jika kita tidak pernah .mengucapkan doa dari lidah, maka itu adalah kemalangan kita.

Ada berbagai penyakit yang jika lidah terjangkit penyakit-penyakit itu, maka lidah pun langsung berhenti fungsinya dan manusia menjadi bisu. Demikianlah, keagungan Rahimiyyat Allah Ta’ala adalah bahwa kita diberikan-Nya lidah. Sama pula, jika ada perubahan dalam struktur telinga, maka kita tidak akan dapat mendengar apapun. Sama juga kondisinya dengan hati. Jika sebuah penyakit menimpa hati, maka akan rusak-lah semua yang Allah telah ciptakan di dalamnya berupa kondisi kerendahan hati dan rasa takut, juga kekuatan dari pemikiran dan perenungan. Lihatlah orang gila dan bagaimana kemampuan dan kebisaan mereka menjadi tidak berfungsi. Bukankah adalah suatu kewajiban bagi kita untuk menghargai nikmat-nikmat dari Allah ini?

Jika kemampuan dan kebisaan kita yang dikaruniai oleh Allah lewat anugerah-Nya ini tidak digunakan, maka tidak diragukan lagi kita adalah penyangkal dari nikmat-nikmat ini. Maka sudah pasti kita adalah pengingkar nikmat-nikmat Allah, golongan yang tidak bersyukur. Ingatlah, jika engkau berdoa tapi seiring dengan itu tidak menggunakan kemampuan, kebisaan dan kekuatanmu, maka doa tidak akan dapat memberikan manfaat apapun sama sekali.

(Adalah wajib menggunakan apapun yang telah dikaruniai Allah berupa kemampuan, kekuatan dan kapabilitas dan lakukanlah pencarian sarana-sarana untuk menggunakan kemampuan, kekuatan dan kapabilitas yang kita miliki, dan kemudian berdoa. Doa tidak akan memberikan manfaat tanpa hal hal ini.)

Ketika kita tidak melakukan penggunaan nikmat yang pertama dari Ilahi maka bagaimana kita dapat meraih manfaat dari yang lainnya?

(Anugerah-anugerah dari Allah yaitu Dia telah menciptakan sarana-sarana. Berdoa takkan berguna untuk kita tanpa mengiringinya dengan penggunaan sarana-sarana tersebut besertanya.)

Menjelaskan hal ini lebih lanjut bahwa ada contoh dari penerimaan hadir doa dalam hukum alam, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan,

“Tujuan pembahasan saya adalah bahwa contoh penerimaan doa itu hadir dalam kerangka hukum alam dan Allah mengirimkan contoh hidup seperti itu di setiap zaman. Untuk alasan ini, Dia telah mengajarkan doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صراط الذين أنعم الله عليهم Ihdinas-Siratal-Mustaqim Siratalladhina An’amta ‘Alaihim, ini adalah kehendak Allah dan hukum-Nya dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya.

Dalam kalimat اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  Ihdinas-Siratal-Mustaqim, terkandung doa semoga Allah menjadikan amal perbuatan kita lebih sempurna dan lebih paripurna. (yaitu, sempurnakanlah amal perbuatan kami dan perbaikilah hingga mencapai akhirnya)

Merenungkan atas kata-kata ini mengungkap bahwa ternyata ada perintah untuk berdoa guna meminta bimbingan kepada Sirathul-Mastaqim (jalan yang lurus). (Secara jelas di dalam kalimat ini terdapat isyarat untuk berdoa dan meminta bimbingan dari Allah kepada jalan yang lurus.) Tapi, kalimat إياك نعبد وإياك نستعين Iyyaka na’budu dan Iyyaka nasta’in yang mendahului sebelumnya mengarahkan agar kita mengambil keuntungan itu. Artinya, untuk melangkah ke berbagai tingkat jalan yang lurus, seseorang harus meminta bantuan Allah sembari menggunakan kemampuan-kemampuan yang bersangkutan.

(Pergunakanlah kekuatan-kekuatan murni yang Allah telah berikan untuk menapak di jalan yang lurus dan mintalah bantuan-Nya.) Oleh karena itu adalah perlu untuk menggunakan sarana-sarana yang jelas berarti. Orang yang meninggalkan itu semua adalah كافر بالنعمة kaafirun bin ni’mah (menolak nikmat).”

“Ada banyak penyakit – contoh lidah telah diberikan sebelumnya – bahwa jika mereka menimpa lidah, itu langsung membuatnya berhenti berfungsi. Ini adalah contoh Rahimiyyat. Dengan cara demikian, Dia meletakkan dalam hati kita kondisi kerendahan hati dan takut dan kita diberikan-Nya kekuatan berpikir dan merenungkan. Jadi, ingatlah bahwa jika kita berdoa kepada Allah dengan meninggalkan kekuatan ini dan kemampuan tersebut, doa tersebut tidak akan berguna atau efektif karena jika kita tidak menggunakan nikmat/anugerah pertama apa manfaat akan kita ambil dari yang kedua? Sebabnya إياك نعبد Iyyaka na’budu diucapkan sebelum اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Ihdinas-Siratal-Mustaqim seolah-olah kita mengatakan, ‘Tuhan kami, kami tidak mengabaikan dan tidak meletakkan begitu saja karunia-karunia dan kekuatan-kekuatan yang telah Engkau anugerahkan sebelumnya kepada kami.’

Ingatlah! Karakter Rahmaniyyat yaitu menjadikan manusia berdaya untuk mengambil keuntungan dari Rahimiyyat. Itulah sebabnya ketika Allah mengatakan, ادعوني أستجب لكم Ud’uni Astajib lakum, ini bukan hanya kata-kata yang kosong, melainkan inilah tuntutan kemuliaan status manusia. Meminta adalah sifat manusia dan orang yang tidak mencari penerimaan dari Allah – tidak mencari penerimaan doa oleh Allah – adalah seorang aniaya.”

“Doa memberikan kondisi seperti kesenangan dan kelezatan, saya dalam kesedihan yang dalam karena tidak dapat menemukan kata-kata apa yang mungkin membuat dunia mengerti akan kesenangan ini. Sebab, keadaan ini hanya dapat dipahami melalui perasaan dan pengalaman itu. Singkatnya, di antara persyaratan doa yang pertama itu adalah penting untuk membuat tindakan yang benar dan iman/itikad yang murni. (yaitu perbuatan yang baik adalah yang Allah perintahkan untuk dilaksanakan. Juga memperkuat dan memperbaiki keyakinan dan iman Anda)

Sebab, orang yang berdoa tapi tidak meluruskan keyakinan, dan beramal saleh, maka dia seolah-olah tengah mencobai Allah.

Maksud dan  tujuan dari ucapan doa, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Ihdinas-Siratal-Mustaqim adalah supaya Tuhan kita menjadikan sempurna amal perbuatan kita, dan kemudian dengan mengatakan doa, صراط الذين أنعمت عليهم Siratalladhina An’amta Alaihim, yaitu kami ingin agar Engkau membimbing kami ke jalan yang merupakan jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat atas mereka, dan menyelamatkan kami dari jalur Maghdub/yang dimurkai atas mereka yang tertimpa adzab karena keburukan amal perbuatan mereka. (Selamatkan kami dari menginjak jalan-jalan orang-orang yang menderita murka Engkau. Semoga tindakan kami selalu benar. Jangan ada apa-apa yang bertentangan dengan arahan dari Allah.)

Dan dengan memfirmankan ucapan doa ولا الضالين wa ladh dhaaalliin, Allah mengajarkan doa ini kepada kita supaya kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita dari berjalan tanpa bimbingan dan naungan perlindungan-Nya yang membuat kita tetap mengembara jauh dari jalan yang lurus. (Artinya, jagalah kami agar jangan kehilangan perlindungan dan bimbingan Engkau karena kami tidak mengambil manfaat dari Rahmaniyyat Engkau dan sebagai hasilnya tidak dapat mengambil keuntungan dari Rahimiyyat Engkau juga; selanjutnya kami jangan sampai menjadi orang-orang yang dhaalliin (sesat) karena tanpa bantuan, naungan perlindungan, rahmat dan karunia Engkau. Ini semua diisyaratkan oleh kalimat adh-dhaaliin.)

Kemudian, dalam rangka menolak gagasan orang duniawi yang mengatakan tidak ada gunanya merendahkan diri dan menangis di hadapan Allah, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Beberapa orang berpikir bahwa tidak ada gunanya menangis dan memohon di hadapan Allah. Pendapat ini benar-benar salah dan tidak benar dan itu adalah dusta. Bahkan, orang-orang seperti ini tidak percaya adanya Tuhan, sifat-Nya, kuasa-Nya dan jangkauan-Nya. Jika mereka memiliki iman yang nyata maka mereka tidak akan punya keberanian untuk mengatakannya. Setiap kali seseorang datang menghadap Allah, dan ia kembali kepada-Nya dengan pertobatan sejati, Allah selalu bersikap ramah padanya. Alangkah benarnya apa yang diucapkan oleh seorang penyair (bahasa Persia, yang terjemahan Arabnya)

أيُّ عاشق ذلك الذي لا ينظر حبيبه إلى حاله!

يا صاحبي ليس عندك وجع، وإلا فإن الطبيب موجود.

Jenis kekasih apa itu yang tidak memperhatikan kondisi kekasihnya, Hai kawan! Kau tidak punya perasaan (Kau tidak peduli), tapi meski demikian, dokter ada.

(Artinya, harus ada penciptaan perasaan kepedihan dan kepedulian di dalam hatimu maka Allah akan menjawab doa-doamu)

Selanjutnya beliau as bersabda,

“Sesungguhnya Allah menginginkan Anda sekalian datang kepada-Nya dengan hati yang murni. Satu-satunya persyaratan adalah buatlah diri kalian sendiri sesuai untuk berjumpa dengan-Nya (yaitu bertindak sesuai firman-Nya فليستجيبوا لي falyastajiibuu lii-jawablah seruan-Ku) dan menciptakan dalam diri Anda perubahan sejati yang membuat manusia bisa pergi berjumpa dengan-Nya.

Saya katakan. Dengan benar-benar saya katakan bahwa Allah memiliki kekuatan ajaib yang beragam, dan ada karunia dan berkah yang tak terbatas, tapi kalian harus membuat penglihatan kecintaan untuk melihat itu semua dan untuk mencapainya. Jika ada cinta yang sejati maka Allah mendengar doa-doa yang banyak dari kalian dan menolong juga.”

Beliau as bersabda,

“Supaya Allah menjawab seruan doa-doa kalian, wajib bagi kalian untuk menyintai-Nya. Jika ada cinta yang sejati maka Allah mendengar doa-doa yang banyak dari kalian dan menolong juga.”

Apa yang harus manusia lakukan untuk meraih keberuntungan cinta sejati dari Allah sehingga Dia mendengar doa-doanya dan juga menikmati kedekatan-Nya, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan dalam hal ini,

“Persyaratannya adalah seseorang menyintai dan penuh ketulusan terhadap Allah. Cinta kepada Allah membakar kehidupan rendah manusia dan membuatnya menjadi manusia baru dan bersih. Memurnikan dirinya. Pada titik ini ia melihat apa yang dia tidak lihat sebelumnya dan mendengar apa yang dia tidak dengar sebelumnya. Ringkasnya, Allah telah menyediakan bagi manusia kemampuan untuk mencapai hidangan keanggunan dan kehormatan, Dia juga telah memberikan itu dan mendapatkan keuntungan dari itu.” (artinya, Allah tidak hanya hanya membuat segala sesuatunya saja tetapi juga memberikan kita kemampuan untuk menggunakannya dan mengambil keuntungan dari itu semua.)

Jika Dia telah memberikan kemampuan kepada manusia tetapi tidak menyediakan baginya apa-apa maka berarti ada suatu kelemahan. Atau, jika ada suatu cara dan sarana tetapi tidak Dia sediakan bagi manusia kemampuan untuk mengambil manfaat darinya, apa manfaatnya dari itu? Tapi itu tidak terjadi. Allah Ta’ala memberikan kemampuan dan juga Dia sediakan sarana dan segala sesuatunya. Seperti contohnya, di satu sisi, Dia menciptakan sarana untuk membuat roti, di sisi lain, Dia anugerahkan manusia mata, gigi, lidah, perut/lambung, hati dan usus. (artinya, Dia ciptakan segala sesuatu yang diperlukan guna membuat semua mekanisme mencerna makanan.)

Dan, Dia jadikan itu semua sebagai tempat peredaran makanan di tubuh. Jika tidak ada yang masuk ke dalam perut lalu di mana darah akan datang dari dan ke jantung? Bagaimanakah makanan yang masuk ke perut itu beredar dan musnah, menjadi darah, dan bagaimana sisanya yang tidak diperlukan dibersihkan dari tubuh manusia?

Dengan cara yang sama, Dia telah memuliakan kita dengan karunia-Nya, pertama, bahwa Dia mengutus Nabi saw (semoga damai dan berkah Allah besertanya), dengan agama yang sempurna yaitu Islam, dan Dia menjadikannya Khatamun-Nabiyyin dan Dia berikan beliau Kitab yang sempurna dan yang terbaik dari semua buku, Al-Qur’an Suci, hingga tidak ada Kitab lain yang akan datang hingga hari Kiamat  dan tidak akan ada seorang nabi pun yang datang dengan syariat/hukum baru. Kemudian jika kita tidak menggunakan kemampuan berpikir dan merenungkan yang telah Allah anugerahkan, dan tidak mengambil langkah menuju Allah, betapa banyak kemalasan, kelalaian dan ketidakbersyukurannya itu! Renungkan bahwa dalam surah pertama ini bagaimana Allah menunjukkan bagi kita cara untuk mendapatkan nikmat-Nya dengan jalan yang jelas dan efektif.

(Ini adalah cara yang manusia dapat mendapatkan keuntungan. Tatkala Dia telah memberi kita seorang Nabi Agung seperti Nabi Muhammad saw (semoga damai dan berkah Allah besertanya), kita wajib untuk mengikuti teladannya. Dia anugerahi kita Kitab seperti Al-Qur’an Suci yang mana kita wajib bertindak berdasarkan arahannya)

Perhatikanlah! Dalam Surah pertama, Surah al-Fatihah, bagaimana Dia menunjukkan kita jalan karunia-Nya dengan jalan yang jelas dan efektif. Dalam Surah yang merupakan Khatamul-Kitab (terbaik dari semua buku) dan Ummul-Kitab (ibu dari semua buku) juga, telah terang-benderang Dia jelaskan apa tujuan kehidupan manusia dan apa cara untuk mencapainya. Seolah-olah firman-Nya, إياك نعبد Iyyaka na’budu adalah tuntutan fitrat kemanusiaan dan tujuannya yang sebenarnya dan tujuan hidup manusia. Kemudian, Dia menempatkan إياك نستعين  Iyyaka nasta’een setelahnya, guna memberitahukan bahwa suka atau tak suka (mau tak mau, suatu keharusan, tak ragu lagi) bagi umat manusia, pertama mereka berusaha dan berjuang guna menapaki jalan-jalan ridha Ilahi sendiri dengan segenap kekuatan, stamina, tekad dan pemahaman yang Allah anugerahkan kepadanya, dan manusia mengambil manfaat sepenuhnya dari segala kekuatan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah, dan setelah itu berdoa  kepada Allah untuk menyempurnakan itu semua dan menjadikan itu semua berbuah keberhasilan.”

Apakah wasilah-wasilah (cara-cara) untuk mencapai ma’rifat Allah? Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan ini, “Hal ini benar bahwa خُلِقَ الإنسانُ ضعيفًا khuliqal-Insanu dha’iifa, manusia diciptakan lemah. Dia tidak bisa mencapai apa-apa tanpa karunia dan rahmat dari Allah. Tanpa kasih karunia, manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Keberadaannya, pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya juga didasarkan pada kasih karunia Allah. Sungguh! Sangat bodoh orang yang bangga diri atas kebijaksanaan, pengetahuan, kekayaan dan kemakmurannya. Sebab, semua ini diberikan oleh Allah. Dari mana ada itu semua? Doa itu suatu keperluan/keharusan supaya manusia mengenali dan menyadari kelemahan dan kerapuhannya. Sebab, saat ia merenungkan lebih dalam tentang kelemahannya, dia akan menemukan dirinya sangat layak dan amat memerlukan pertolongan Allah. Akibatnya, inilah yang akan membuat dalam dirinya kegembiraan dan kegemaran terhadap doa.

Ketika seseorang dalam kesulitan/tertimpa musibah dan ia merasakan kesakitan dan kesempitan, ia menyebut atau menangis dengan kekuatan penuh dan meminta orang lain untuk membantu. Dengan cara yang sama jika ia merenungkan kelemahan dan kekurangannya, tentu ia menemukan dirinya memerlukan bantuan Allah dalam segala hal, jiwanya akan jatuh di ambang pintu Allah dengan sangat antusias dan berharap, rasa sakit dan akan meratap serta berseru, ‘Ya Tuhan! Ya Tuhan!’.”

Jika kalian merenungi Al-Qur’an, akan kalian ketahui bahwa dalam Surah pertama Allah mengajarkan doa, اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِم * غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ Ihdinas-Siratal-Mustaqim Siratalladhina An’amta Alaihim Ghairil-Maghdubi Alaihim Wa Lad-Dallin. Doa tidak bisa dipandang lengkap kecuali hanya ketika di dalamnya secara keseluruhan mencakup manfaat dan kebaikan, dan menyelamatkan dari semua hal yang merugikan dan menyakitkan. Secara keseluruhan pula.” (Artinya, doa yang hakiki adalah yang mencakup semua manfaat dapat dicapai oleh manusia, dan menyelamatkan dia dari bahaya dan sakit yang dapat menimpa dirinya. apa pun itu.)

“Jadi dalam doa ini (Ihdinas-Siratal-Mustaqim sampai Wa Lad-Dallin) dimintakan semua manfaat terbaik yang dapat dicapai dan memungkinkan adanya. Di dalam doa juga mengandung keselamatan diri dari sebanyak-banyaknya hal berbahaya yang dapat memusnahkan/menghancurkan manusia.”

Dengan demikian hal ini harus selalu diingat bahwa doa terbesar yang telah disebutkan di sini adalah bukan doa bagi/untuk hal-hal duniawi, melainkan doa yang berkaitan dengan iman. Maka dari itu, seseorang memberikan preferensi/pengutamaan dalam semua doanya, doa bagi agama dan imannya. Ketika seseorang melakukan hal demikian maka pintu kedekatan kepada Allah membuka dan kemudian secara otomatis doa-doa selebihnya akan diterima.

Menjelaskan lebih lanjut bahwa doa yang sesungguhnya adalah doa untuk penguatan atas agama/iman, dan doa ini adalah sebab untuk kedekatan dengan Allah dan sarana pengabulan doa-doa lainnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ Ujiibu Da’watad-Da’i Idza Da’an, artinya, ‘Aku menerima pertobatan dari orang yang bertobat.’ Sesungguhnya, janji Allah ini mengesahkan pernyataan yang dilakukan oleh orang yang bertobat dengan hati tulus. Jika tidak ada pernyataan seperti itu dari Allah maka penerimaan pertobatan adalah masalah sulit. Sebuah pernyataan yang dibuat dengan hati yang tulus, hasilnya adalah bahwa kemudian Allah juga memenuhi semua janji-Nya yang telah Dia buat dengan orang yang bertobat, saat seorang manusia mengakui bahwa ia akan menyelamatkan diri dari segala dosa dan akan memberikan pengutamaan atas iman daripada hal-hal duniawi mulailah tampak cahaya yang turun atas hatinya di waktu itu.”

Allah Ta’ala telah menyebutkan Salat adalah cara terbaik untuk mencapai kedekatan dengan-Nya dan penerimaan doa. Hadhrat Masih Mau’ud as, bersabda dalam hal ini, “Tujuan sebenarnya dan esensi/arti Salat adalah doa. Berdoa, secara alami adalah sesuai dengan ketentuan Allah yang umum. Sebagai contoh, pada umumnya kita melihat saat seorang anak menangis dan meratap serta menunjukkan kegelisahan, bagaimana ibunya bergegas untuk memberikan susu. Ada semacam hubungan yang sama antara keilahian dan ubudiyyah (penghambaan) yang tidak dapat dipahami oleh setiap orang. Ketika seseorang jatuh di pintu Allah, dan menyajikan dengan banyak kerendahan hati dan ketakutan, dan meminta kebutuhannya maka rahmat ketuhanan bergejolak dengan semangat dan hamba tersebut dirahmati. Susu kebaikan dan kemurahan Allah juga menuntut menangis maka mata menangis perlu dipersembahkan saat memanjatkan doa kepada-Nya.” (Jika seseorang ingin minum susu dari karunia dan kelembutan Allah, dan ingin mendapatkan keuntungan dari karunia dan rahmat-Nya, ia akan harus menggunakan kerendahan hati, kelemahlembutan, menangis dan meratap untuk itu di hadapan-Nya.)

Oleh karena itu, di hadirat-Nya mata menangis harus dipersembahkan.

Jadi di dalam bulan Ramadhan, tatkala perhatian paling besar mayoritas mereka adalah menuju masjid juga, dengan rahmat Allah, dan melaksanakan salat berjamaah, perhatian juga harus ditunaikan terhadap penunaian shalat nawafil, dan kemudian memperbanyak doa supaya kita dapat memberikan preferensi/pengutamaan agama diatas dunia dan untuk mencapai kedekatan Allah. Ini harus menjadi doa-doa yang pertama dan utama, doa-doa lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan duniawi kita harus dipanjatkan setelahnya. Kemudian, semoga Allah mengurus hal-hal duniawi yang kita perlukan.

Pada titik bahasan ini saya juga hendak menyajikan sebuah doa dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang kita harus panjatkan terutama selama hari-hari ini, sehingga kedekatan kepada Allah dicapai. Beliau as berdoa,

“Wahai Tuhan semesta alam, saya tidak mampu untuk mensyukuri betapa banyak karunia dari Engkau. Engkau sangat Penyayang dan Mulia. Engkau memiliki karunia luhur yang tidak terbatas untuk hamba. Ampunilah dosa-dosa hamba sehingga hamba tidak binasa. Tanamkan cinta yang murni di hati hamba sehingga hamba mencapai kehidupan. Dan, tutupilah saya. Berilah hamba taufik untuk melakukan tindakan yang membuat Engkau senang. Hamba mencari perlindungan Engkau supaya murka Engkau tidak menimpa hamba. Kasihanilah dan selamatkan hamba dari cobaan dunia ini dan dunia berikutnya karena semua nikmat dan rahmat adalah di tangan Engkau. ، آمين ثم آمين Aamiin, tsumma aamiin.”

Semoga Allah menganugerahi kita taufik supaya memahami realitas doa. Semoga Dia menjadikan kita termasuk memahami Ramadhan ini, dan kemudian terus memberi taufik kepada kita untuk secara permanen, kuat dalam iman kepada Allah, mendengar arahan-arahan-Nya dan bertindak atas perintah-perintah-Nya, dan memberikan pengutamaan ridha/kesenangan Allah dalam setiap hal. Semoga tindakan kita sesuai dengan/guna mencapai/demi ridha Allah, dan iman kita diperkuat lebih dari sebelumnya. Semoga cinta sejati kepada Allah, Dia ciptakan dalam diri kita. Semoga Allah menyelamatkan kita dari cobaan dunia ini dan dunia berikutnya/akhirat.

Pengumuman kewafatan Tn. Raja Galib Ahmad. Seorang pengkhidmat berpengalaman dari komunitas Ahmadiyah. Penyair dan penulis terkenal dalam bahasa Urdu. Pendidik. Ia adalah abdi pemerintah. Ketua Dewan Textbook Punjab. Beliau meninggal di Lahore pada 4 Juni 2016 pada usia 88. Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un

Penerjemah           : Dildaar Ahmad Dartono dan Ratu Gumelar

Rujukan: http://new.islamahmadiyya.net/ dan http://www.alislam.org/

(Visited 107 times, 1 visits today)