Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 17 Juni 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada Engkau tentang Aku, katakanlah “Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” (2:187)

Allah Ta’ala telah mengalihkan perhatian kita pada hubungan istimewa antara Ramadhan dan diterimanya doa-doa dengan menempatkan ayat ini di tengah-tengah perintah-perintah kewajiban berpuasa, persyaratannya dan perintah-perintah terkait lainnya. Hadhrat Khalifatul Masih I ra menjelaskan mengenai hubungan ini sebagai berikut: “Karena berpuasa adalah sarana untuk belajar mengenai ketakwaan, dengan cara yang sama maka berpuasa juga adalah sarana untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah.”[1]

Oleh karena itu, bulan Ramadhan sendiri tidak bisa menjadi sarana diterimanya doa-doa kecuali jika Ramadhan juga dibuat sebagai sarana untuk belajar ketakwaan, menghabiskan hidup dalam ketakwaan dan membuat bulan Ramadhan tersebut menjadi sarana mendapatkan kedekatan dengan Allah. Dan ketika hal ini terjadi, maka hubungan yang dirangkai dengan Allah selama Ramadhan tidak akan hanya terbatas pada Ramadhan saja, namun tanda-tanda perubahan permanen kekal akan muncul. Allah telah menerangkan hal yang sama dalam ayat ini dengan berfirman, إِنِّي قَرِيبٌ “Aku dekat”.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa Setan dibelenggu pada bulan ini dan Allah turun lebih dekat ke langit yang terendah.[2]

Namun, Dia lebih dekat kepada siapa? Ingatlah! Sesungguhnya Dia mendekat kepada mereka yang merasakan kedekatan-Nya atau menginginkannya, dan untuk itu mereka menanggapi dengan baik perintah-perintah Allah. Mereka berusaha untuk bertindak sesuai perintah Allah, فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي “Hendaklah mereka menjawab seruan-Ku”. Mereka mencari-cari tahu apa saja perintah-perintah Allah dan maju ke depan untuk bertindak serta berlaku sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Mereka memiliki keimanan dan kepercayaan bahwa Allah memiliki semua kekuasaan dan kekuatan.

Jika kita berdoa kepada-Nya dengan ikhlas dan bersamaan dengan itu kita bertindak dan berlaku sesuai dengan perintah-perintah Nya, maka Dia akan mendengarkan doa-doa kita. Memang, Allah telah berfirman sebagai jawaban atas seruan dari hamba hamba-Nya, إِنِّي قَرِيبٌ ”Aku dekat. Aku mendengarkan doa-doa para hamba-Ku. Apalagi selama bulan Ramadhan ini, Aku datang untuk lebih dekat kepada kalian, panggil dan berdoalah kepada-Ku”.. Namun, sebelum memanggil-Ku guna penerimaan doa-doa kalian, kalian harus memenuhi persyaratannya yaitu dengarkanlah Aku, dan lakukanlah segala perintah-Ku. Inilah persyaratannya dari-Ku. Dan percaya serta beriman penuhlah terhadap segala kekuatan dan kekuasaan-Ku.”

Dengan demikian, orang orang yang mengatakan bahwa mereka telah berdoa namun doa mereka tidak diterima, apakah mereka sudah mengevaluasi diri mereka sendiri? Sudah pernahkah mereka mengevaluasi seberapa jauh mereka telah menaati perintah-perintah Allah? Jika kita tidak melakukan amalan amalan dan iman kita hanya merupakan formalitas belaka, maka perkataan kita bahwa kita telah berdoa kepada Allah namun tidak diterima itu adalah salah.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang persyaratan yang ditetapkan Allah mengenai pengabulan doa tersebut, “Hal pertama yang Allah firmankan adalah agar manusia menciptakan kondisi ketakwaan dan ketakziman serta hormat kepada Allah, maka Allah akan mendengar mereka.”[3] Artinya, mereka harus memiliki ketakwaan dan juga rasa takut kepada-Nya, maka Allah mendengar panggilan dan doa mereka.

Hal yang kedua, وَلْيُؤْمِنُوا ‘Mereka beriman kepada-Ku.’ Keimanan yang bagaimana? Yaitu beriman bahwa Tuhan itu Maha Ada dan memiliki segenap Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan. Manusia harus mengimani bahwa Allah memiliki segenap Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan baik ia sudah mengalami lewat pengalaman dan pengujian bahwa Dia Maha Ada dan memiliki segala Kekuasaan; apakah seseorang itu, baik sudah atau belum meraih pengetahuan tentang Keberadaan-Nya dan keadaan-Nya sebagai Pemilik semua Kekuasaan, Kekuatan dan Kemampuan.

Artinya, ia harus punya keimanan kepada hal yang Ghaib yang jika seseorang meraih pemahaman yang demikian – maka ia akan dianugerahi dari Allah berupa irfaan (pengetahuan) yang yang meneguhkannya dalam bentuk pengalaman pribadi akan keberadaan Allah, dan Pemilik semua Kekuatan dan bahwa Dia menjawab doa-doa. Pertama, manusia harua menguatkan imannya, lalu Allah akan mendekatinya dan maka Dia menyediakan bukti untuknya juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as dalam berbagai kesempatan telah menerangkan dengan rinci atas berbagai contoh dari prinsip-prinsip dan filosofi syarat-syarat diterimanya doa. Pada kesempatan ini, saya juga akan mengetengahkan beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, yang dengan kutipan tersebut kita bisa menambah pemahaman, pengetahuan dan pengertian kita secara mendalam akan tema ini, dan dengan berpegang teguh padanya, sarana guna meraih kedekatan Ilahi di bulan Ramadhan. Begitu juga itu memungkinkan kita masuk ke dalam golongan faa-iziin (yang mendapatkan petunjuk sejati, sukses) dengan dapat memperolah manfaat sejati Ramadhan.

Beberapa orang berpikiran doa apapun yang mereka panjatkan harus dikabulkan. Saya telah memberikan beberapa penjelasan mengenai hal ini sebelumnya bahwa Allah telah meletakkan persyaratan-persyaratan untuk pengabulan yang harus kita penuhi. Dalam rangka menjelaskan lebih jauh mengenai apa prinsip-prinsip dikabulkannya doa, dan terkadang, setelah segala persyaratannya telah dipenuhi namun doa tidak dikabulkan seperti yang diinginkan pendoa, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Sesungguhnya prinsip doa ialah Allah bukanlah penurut kepada hasrat-hasrat dan harapan si pendoa. Perhatikanlah! Betapa seorang Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya dan tidak ingin anak-anaknya menderita rasa sakit apapun. Tetapi, jika anaknya bersikeras karena kebodohannya mereka dan menangis meminta pisau yang tajam atau meminta percikan api yang membakar, maka apakah sang ibu (kendati dia sangat mengasihi anaknya) akan mengabulkan permintaan anaknya itu dan memberikannya sebilah pisau tajam atau percikan api yang membakar? Tidak akan pernah! Dari permisalan ini, prinsip diterima dan dikabulkannya doa dapat dipahami.

Saya sendiri pernah mengalami hal ini. Ketika beberapa bagian dari sebuah doa itu berpotensi untuk melukai, maka doa tersebut tidak akan diterima sama sekali. Dapat cukup dipahami bahwa pengetahuan kita tidaklah pasti dan belum tentu benar. Kita melakukan banyak pekerjaan yang dengan gembira kita anggap apa yg kita lakukan tersebut adalah beberkat, dan kita mengira hasilnya akan sangat diberkati, namun pada akhirnya apa yang kita lakukan itu berbuah kedukaan dan kesengsaraan.

Ini berarti kita tidak bisa mengatakan semua hasrat dan keinginan manusia adalah benar dan baik untuknya. Kita tidak bisa mengatakan dengan pasti segala hasrat dan keinginan tersebut adalah benar karena manusia tempatnya lupa dan salah. Berbuat salah adalah sifat alami manusia. Ketika ada hal yang menyakiti diantara apa yang diinginkan si pendoa dan jika Allah mengabulkan keinginannya tersebut, maka ini secara jelas akan berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya.

(Demikianlah, manusia berpikiran suatu hal harus terjadi sesuai dengan yang diinginkannya, namun hasrat dan keinginan terkadang berbahaya dan menyakiti; sehingga jika Allah mengabulkannya, akan berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya. Allah menghendaki rahmat dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang berdoa. Jika Dia memenuhi setiap keinginan hamba-hamba-Nya, bahkan jika itu berbahaya dan menyakiti hamba tersebut, maka hal ini berlawanan dengan sifat Rahmat-Nya.)

Ini adalah perkara benar dan pasti bahwa Allah mendengar doa-doa para hamba-Nya dan memuliakan mereka dengan pengabulan doa mereka, namun Dia tidak mengabulkan setiap hal dari doa – karena manusia tidak mengetahui pasti akhir dan hasil dari doanya disebabkan tekanan hasrat dan keinginannya. Namun, Allah adalah juru selamat sejati dan Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu, selalu melihat jika ada hasil yang berbahaya dan merugikan yang dapat menimpa para pendoa jika doa tersebut dikabulkan maka Dia menolak doa tersebut.

(Manusia mungkin tidak melihat hasil akhirnya, namun Allah Maha Pemberi Manfaat dan Maha Dermawan bagi hamba-hamba-Nya, dan menghendaki kesejahteraan dan keselamatan bagi para hamba-Nya. Dia juga Maha Mengetahui atas segala konsekwensi yang ada [dari hal hal yang dilakukan manusia]. Dia melihat konsekwensi dan apa yang akan terjadi. Dia Maha Melihat akan bahaya, kerusakan, hasil yang buruk dan menjaga dari hamba hamba-Nya, dan tidak mengabulkan doa karena Dia melihat kesejahteraan manusia ada pada penolakan doa tersebut.) “Ditolaknya doa ini sesungguhnya adalah bentuk pengabulan doa orang tersebut.” (Ketika doa yang demikian tidak dikabulkan oleh Allah, sesungguhnya itu adalah bentuk diterimanya doa oleh Allah – karena Allah Maha Melihat ada yang tidak baik bagi hamba-Nya yang berdoa tersebut.)

Maka, Allah akan menerima doa-doa yang dengan mengabulkannya manusia akan aman dari celaka dan bahaya. Sedangkan doa-doa yang akan menghasilkan sesuatu yang menyakitkan, Allah kabulkan doa-doa seperti ini dalam bentuk penolakan. Doa-doa yang bermanfaat dikabulkan sebagaimana adanya, dan doa-doa yang membawa bahaya akan ditolak dan tidak dikabulkan – dan ini merupakan bentuk pengabulan doa dari-Nya.

Wahyu ini difirmankan kepadaku sering kali, أجيب كل دعائك ‘Ujiibu Kulla Du’a’ika’ – ‘Aku akan menerima semua doamu.’ Dengan kata lain, ‘Setiap doa yang isinya bermanfaat dan berfaedah akan dikabulkan.’ [4]

Doa yang bermanfaat, doa yang berfaedah-lah yang akan dikabulkan. Tidak setiap doa yang dipanjatkan itu dikabulkan. Demikianlah, Allah mendengar beberapa doa para Wali-Nya dan para Nabi-Nya, namun ada juga doa-doa yang tidak dikabulkan. Tidak dikabulkannya doa-doa ini adalah karena Dia Maha Mengetahui itu tidak bermanfaat atau hasil akhirnya akan mengerikan. Allah Maha Mengetahui hal-hal yang tidak terlihat. Dia yang lebih mengetahui.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan perkara bahwa suatu keharusan bagi seseorang untuk melihat perbuatan dan kepercayaannya sendiri berkaitan dengan doa. Beliau bersabda, “Benar! Benar saya katakan bahwa orang yang tidak berbuat apa-apa, berarti ia tidak berdoa. Melainkan, ia tengah menguji Allah.” (Hanya berdoa saja tidaklah cukup. Hal ini harus disertai dengan perbuatan. Sebaliknya, orang tersebut mencobai Allah. Jika tidak ada perbuatan dan hanya ada doa, maka itu bukanlah doa. Sesungguhnya kalian mencobai Tuhan.) Karena itu, adalah perlu untuk mencurahkan segenap dayamu sebelum berdoa. Dan inilah arti dari doa ini.”

Suatu keharusan bagi manusia untuk melihat ke dalam keyakinan dan perbuatannya sebelum berdoa karena termasuk sunnah Allah bahwa perbaikan berlangsung dalam konteks sarana-sarana. Untuk tujuan perbaikan, sarana-sarana tertentu haruslah berada dekat dan tersedia. Allah Ta’ala menciptakan sarana yang menuntun pada perbaikan. Mereka yang mengatakan, ‘Apa perlunya sarana-sarana jika sudah ada doa?’ harus berhenti dan mulai merenungkan pada titik ini secara khusus. Mereka yang bodoh hendaknya berpikir bahwa doa itu sendiri adalah sarana yang tersembunyi.” (Doa sendiri adalah sarana tersembunyi guna menyelesaikan pekerjaan apa saja) dan menumbuhkan tunas-tunas sarana yang lain.”

(Doa itu sendiri adalah sebuah sarana. Dengan diterimanya doa, sarana-sarana yang lain bermunculan demi tercapainya perkara yang diinginkan. Misalnya seseorang membutuhkan pinjaman, membutuhkan dana, membutuhkan bantuan, maka Allah mengaturnya melalui beberapa orang tertentu. Membuat baginya mudah. Tidak ada uang yang turun dari surga. Jika seseorang membutuhkan uang, maka uang tersebut tidak akan turun dari langit. Melainkan, akan datang kepadanya melalui berbagai sarana. Itulah sarana-sarana yang Allah ciptakan sebagai pengaruh doa.)

Penempatan إيَّاكَ نَعْبُدُ iyyaaka na’budu (Hanya Engkaulah yang kami sembah) sebelum إيَّاكَ نَسْتَعينُ Iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan), yang adalah sebuah doa, juga menerangkan tentang hal ini. Pertama dikatakan إيَّاكَ نَعْبُدُ, kemudian إيَّاكَ نَسْتَعينُ kami mencari pertolongan-Mu. Mereka berdoa kepada Allah. Tetapi, disamping itu mereka meminta pertolongan Allah, dan dengan itu mereka tidak lalai memperhatikan pada penggunaan sarana-sarana.

Ringkasnya, sunnah (kebiasaan) Allah yang lihat ialah Dia menciptakan sarana-sarana. Amatilah! Dia menyediakan air bagi yang haus. Dia menyediakan makanan untuk menghilangkan kelaparan melalui berbagai sarana. Mata rantai sarana berkembang dan maju dalam corak ini. Dan diciptakanlah sarana-sarana. Karena ada dua sifat Allah yaitu, وكان الله عزيزًا حكيمًا Wa kaanaLlahu Azizan Hakima. Aziz artinya dapat melakukan yang Dia inginkan. (Dia Ghalib, Yang Maha Unggul dan Maha Kuasa. Dia lakukan apa-apa yang Dia kehendaki.) Hakim artinya setiap apa-apa yang Dia lakukan berhikmah sesuai dengan keadaan dan lingkungan.

Perhatikanlah beragamnya sifat dan karakteristik benda-benda dan tumbuh-tumbuhan. Lihatlah contohnya! Ambillah dan makanlah satu ons atau kurang dari Turbad atau Sikmonia yang menyebabkan diare. Allah Maha Berkuasa untuk menciptakan rasa kenyang dalam perut seseorang tanpa sarana atau memuaskan rasa haus tanpa air. Namun, adalah penting untuk memperkenalkan keajaiban kekuasaan-Nya bagi manusia. Sebab, sampai pada tahap mana pengetahuan manusia tentang keajaiban kekuasaan-Nya menjadi luas; sesuai dengan itu juga bertambah pengetahuannya tentang sifat-sifat Allah yang membantunya untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah pada tahap yang sama.”[5]

Allah telah menciptakan semua hal ini; dan tidak ragu lagi Dia untuk memberitahukan pengetahuan mengenai karakteristik dari hal-hal tersebut. Hal-hal tersebut adalah beragam sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. Sebagaimana pengetahuan seseorang tentang beragam hal dan sesuatu yang diciptakan Allah meningkat, seiring itu pula pengetahuannya terhadap sifat-sifat Allah juga meningkat sampai pada tahap yang sama. Mereka mendapatkan pengertian dan pemahaman. Manusia menjadi mampu untuk mencapai pemahaman ini. Inilah yang seharusnya menjadi keasyikan orang yang menyatakan diri beragama. Seorang Ateis sangat memberikan bobot pada ilmu pengetahuannya, namun seorang beriman dengan peningkatan pengetahuan menjadi memahami sifat-sifat dan kekuasaan Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan filosofi doa sebagai berikut di suatu tempat: “Renungkanlah! Saat seorang bayi dalam masa menyusui tengah lapar lalu menangis keras minta susu; seketika air susu Ibu kemudian terbentuk di dalam dada sang Ibu sedangkan sang anak bahkan tidak tahu kata berdoa. Lantas apa yang terjadi sehingga tangisan sang anak bisa menarik air susu Ibu? Ini adalah perkara yang umumnya setiap orang telah alami. Terkadang, telah diamati bahwa para Ibu bahkan tidak merasakan ada air susu di dada mereka dan seringkali air susu tersebut memang tidak ada. Namun sesegera setelah tangisan anak yang memilukan terdengar di telinga, secepat itu pula air susu Ibu terbentuk.

Sebagaimana tangisan bayi memiliki hubungan dengan air susu Ibu, saya katakan dengan sesungguhnya bahwa tangisan kita di depan Allah – jika memang memiliki kesungguhan yang sama seperti layaknya tangisan sang anak meminta air susu Ibunya – maka tangisan kita kepada Allah akan menarik kasih sayang-Nya dan karunia-Nya.”[6]

Orang yang meminta pengabulan doa harus mengikuti pola ini. Dan ketika seseorang mengikuti pola ini, maka Allah juga menunjukkan kepadanya pengabulan doa.

Selanjutnya, beliau menjelaskan lebih jauh mengenai filosofi doa yang mencontohkan ibu dan anak yang disusuinya tersebut. Beliau as bersabda bahwa merupakan keistimewaan manusia untuk berdoa dan meminta. Ketekunan dan kegigihan dalam berdoa membuat Allah Ta’ala memperlihatkan penampakan pengabulan doanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Meminta adalah karakter khas manusia. Mengabulkan adalah sifat Allah. Orang yang tidak mengerti, tidak menerima hal ini, adalah pembohong. Contoh tentang bayi yang tadi telah saya kisahkan memecahkan selubung filosofi doa dengan layak dan cukup. Sesungguhnya, الرحمانية Rahmaniyyat dan الرحيمية Rahimiyyat bukan dua hal terpisah. Maka dari itu, seseorang yang meninggalkan salah satu dari dua sifat Allah tersebut untuk meraih sifat yang satunya, tidak akan bisa dapat apa-apa. (Orang yang meninggalkan Rahmaniyyat guna meraih Rahimiyyat pasti takkan berhasil)

Tuntutan sifat Rahmaniyyat ialah diciptakannya dalam diri kita kekuatan untuk mendapatkan manfaat dari aliran berkat sifat Rahimiyyat. (yaitu, Rahmaniyyat menciptakan kekuatan yang diperlukan untuk berdoa dari Rahimiyyat Allah Ta’ala). Siapa yang tidak melakukan hal tersebut adalah kaafirun ni’mah (penolak nikmat Allah). Inilah arti Iyyaka na’budu, “Kami hanya menyembah Engkau saja, dengan memelihara sarana-sarana lahiriah yang telah diberikan oleh Engkau.” (Kami beribadah dengan menggunakan sarana-sarana yang jelas dan salah satunya ialah doa; dan selain itu kami beribadah dengan menggunakan benda-benda itu yang diletakkan bagi kami secara khusus guna menyelesaikan masalah ini.)

Coba renungkanlah lidah yang terbuat dari pembuluh darah dan saraf. (Lidah terdiri dari otot-otot syaraf. Juga ada air liur dan lainnya.) Kita tidak akan dapat berbicara jika lidah tidak demikian. (Jika lidah seseorang menjadi kering, maka ia tidak akan dapat berbicara. Jika otot lidah tegang, maka akan menjadi kaku.)

Tuhan memberikan kita lidah agar kita dapat berdoa yang bisa mengekspresikan pikiran-pikiran di dalam hati kita. (Tuhan memberikan kita lidah sehingga pemikiran-pemikiran hati kita menjadi nyata dan manusia dapat berbicara.) Jika kita tidak pernah mengucapkan doa dari lidah kita maka itu adalah kemalangan kita.

Ada berbagai penyakit yang jika lidah terjangkiti penyakit-penyakit itu, maka lidah pun langsung berhenti fungsinya dan manusia menjadi bisu. Demikianlah, keagungan Rahimiyyat Allah Ta’ala adalah kita diberikan-Nya lidah. Sama pula, jika ada perubahan dalam struktur telinga, maka kita tidak akan dapat mendengar apapun. Sama juga kondisinya dengan hati. Jika sebuah penyakit menimpa hati, akan rusak-lah semua yang Allah telah ciptakan di dalamnya berupa kondisi kerendahan hati dan rasa takut, juga kekuatan dari pemikiran dan perenungan. Lihatlah orang gila dan bagaimana kemampuan dan kebisaan mereka menjadi tidak berfungsi. Bukankah suatu kewajiban bagi kita untuk menghargai nikmat-nikmat dari Allah ini?

 Jika kemampuan dan kebisaan kita yang dikaruniai oleh Allah lewat anugerah-Nya ini tidak digunakan, maka tidak diragukan lagi kita adalah penyangkal dari nikmat-nikmat ini. Maka sudah pasti kita adalah pengingkar nikmat-nikmat Allah, golongan yang tidak bersyukur. Ingatlah, jika engkau berdoa tapi seiring dengan itu tidak menggunakan kemampuan, kebolehan dan kekuatanmu, maka doa tidak akan dapat memberikan manfaat apapun sama sekali.”

(Adalah wajib menggunakan apapun yang telah dikaruniai Allah berupa kemampuan, kekuatan dan kapabilitas dan lakukanlah pencarian sarana-sarana untuk menggunakan kemampuan, kekuatan dan kapabilitas yang kita miliki, dan kemudian berdoa. Doa tidak akan memberikan manfaat tanpa hal hal ini.) “Ketika kita tidak melakukan penggunaan nikmat yang pertama dari Ilahi maka bagaimana kita dapat meraih manfaat dari yang lainnya?”[7] (Anugerah-anugerah dari Allah yaitu Dia telah menciptakan sarana-sarana. Berdoa takkan berguna untuk kita tanpa mengiringinya dengan penggunaan sarana-sarana tersebut besertanya.)

Menjelaskan hal ini lebih lanjut bahwa ada contoh pengabulan doa hadir dalam hukum alam, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tujuan pembahasan saya ialah contoh penerimaan doa itu hadir dalam kerangka hukum alam dan Allah mengirimkan contoh hidup seperti itu di setiap zaman. Untuk tujuan ini, Dia telah mengajarkan doa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, ini adalah kehendak Allah dan hukum-Nya dan tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya. Dalam kalimat اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ , terkandung doa semoga Allah menjadikan amal perbuatan kita lebih sempurna dan lebih paripurna. (yaitu, sempurnakanlah amal perbuatan kami dan perbaikilah hingga mencapai akhirnya)

Merenungkan atas kata-kata ini mengungkap bahwa ternyata ada perintah untuk berdoa guna meminta bimbingan kepada Sirathul-Mastaqim (jalan yang lurus). (Secara jelas di dalam kalimat ini terdapat isyarat untuk berdoa dan meminta bimbingan dari Allah kepada jalan yang lurus.) Tapi, kalimat إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka nasta’iin yang mendahului sebelumnya mengarahkan agar kita mengambil keuntungan itu. Artinya, untuk melangkah ke berbagai tingkat jalan yang lurus, seseorang harus meminta bantuan Allah sembari menggunakan kemampuan-kemampuan yang bersangkutan.

(Pergunakanlah kekuatan-kekuatan murni yang Allah telah berikan untuk menapak di jalan yang lurus dan mintalah bantuan-Nya.) Oleh karena itu adalah perlu untuk menggunakan sarana-sarana yang jelas berarti. Orang yang meninggalkan itu semua adalah كافر بالنعمة kaafirun bin ni’mah (menolak nikmat).”[8]

“Ada banyak penyakit – contoh lidah telah diberikan sebelumnya – jika itu menimpa lidah, langsung membuatnya berhenti berfungsi. Ini adalah contoh Rahimiyyat. Dengan cara demikian, Dia meletakkan dalam hati kita kondisi kerendahan hati dan takut, dan kita diberikan-Nya kekuatan berpikir dan merenungkan. Jadi, ingatlah bahwa jika kita berdoa kepada Allah dengan meninggalkan kekuatan ini dan kemampuan tersebut, doa tersebut tidak akan berguna atau efektif karena jika kita tidak menggunakan nikmat pertama apa manfaat akan kita ambil dari yang kedua? Sebabnya إيَّاكَ نَعْبُدُ diucapkan sebelum اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ seolah-olah kita mengatakan, ‘Tuhan kami, kami tidak mengabaikan dan tidak meletakkan begitu saja karunia-karunia dan kekuatan-kekuatan yang telah Engkau anugerahkan sebelumnya kepada kami.’

Ingatlah! Karakter Rahmaniyyat yaitu menjadikan manusia berdaya untuk mengambil keuntungan dari Rahimiyyat. Itulah sebabnya ketika Allah mengatakan, ادعوني أستجب لكم Ud’uuni astajib lakum ini bukan kata-kata yang kosong, melainkan inilah tuntutan kemuliaan status manusia. Meminta adalah sifat manusia dan orang yang tidak mencari pengabulan dari Allah – tidak mencari penerimaan doa oleh Allah – adalah seorang aniaya.”

“Doa memberikan kondisi seperti kelezatan, saya dalam kesedihan yang dalam karena tidak dapat menemukan kata-kata apa yang mungkin membuat dunia mengerti kesenangan ini. Sebab, keadaan ini hanya dapat dipahami melalui perasaan dan pengalaman itu. Singkatnya, diantara persyaratan doa yang pertama itu adalah penting untuk melakukan tindakan yang benar dan itikad yang murni. (perbuatan yang baik adalah yang Allah perintahkan untuk dilaksanakan. Juga memperkuat dan memperbaiki keyakinan dan iman Anda.) “Sebab, orang yang berdoa tapi tidak meluruskan keyakinan, dan beramal saleh, maka dia seolah-olah tengah mencobai Allah. Maksud dan tujuan ucapan doa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ adalah supaya Tuhan kita menjadikan sempurna amal perbuatan kita, dan kemudian dengan mengatakan doa, صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, yaitu kami ingin agar Engkau membimbing kami ke jalan yang merupakan jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat atas mereka, dan menyelamatkan kami dari jalur الْمَغْضُوب maghduub (yang dimurkai) atas mereka yang tertimpa adzab karena keburukan amal perbuatan mereka. (Selamatkan kami dari menapaki jalan-jalan orang-orang yang menderita murka Engkau. Semoga tindakan kami selalu benar. Jangan ada apa-apa yang bertentangan dengan arahan Allah.)

Dan dengan memfirmankan ucapan doa وَلا الضالِّينَ wa ladh dhaaalliin, Allah mengajarkan doa ini kepada kita supaya kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita dari berjalan tanpa bimbingan dan naungan perlindungan-Nya yang membuat kita tetap sesat mengembara jauh dari jalan yang lurus.”[9]

(Artinya, jagalah kami agar jangan kehilangan perlindungan dan bimbingan Engkau karena kami tidak mengambil manfaat dari Rahmaniyyat Engkau dan sebagai hasilnya tidak dapat mengambil keuntungan dari Rahimiyyat Engkau juga; selanjutnya kami jangan sampai menjadi orang-orang yang dhaalliin (sesat) karena tanpa bantuan, naungan perlindungan, rahmat dan karunia Engkau. Ini semua diisyaratkan oleh kalimat adh-dhaaliin.)

Kemudian, dalam rangka menolak gagasan orang duniawi yang mengatakan tidak ada gunanya merendahkan diri dan menangis di hadapan Allah, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Beberapa orang berpikiran tidak ada gunanya menangis dan memohon di hadapan Allah. Pendapat ini benar-benar salah dan tidak benar dan itu adalah dusta. Bahkan, orang-orang seperti ini tidak percaya adanya Tuhan, sifat-Nya, kuasa-Nya dan jangkauan-Nya. Jika mereka memiliki iman yang nyata maka mereka tidak akan punya keberanian untuk mengatakannya. Setiap kali seseorang datang menghadap Allah, dan ia kembali kepada-Nya dengan pertobatan sejati, Allah selalu bersikap ramah padanya. Alangkah benarnya apa yang diucapkan oleh seorang penyair (bahasa Persia)

أيُّ عاشق ذلك الذي لا ينظر حبيبه إلى حاله!

 يا صاحبي ليس عندك وجع، وإلا فإن الطبيب موجود.

 ‘Jenis kekasih apa itu yang pecintanya tidak ia perhatikan keadaannya? Hai kawan! Tidak ada keperihan dalam diri engkau. Tetapi, dokter ada.’ (Ciptakanlah keperihan dalam diri engkau, Allah pun akan mendengar. Artinya, harus ada penciptaan perasaan kepedihan dan kepedulian dalam hatimu maka Allah akan menjawab doa-doamu)

Selanjutnya beliau as bersabda, “Sesungguhnya Allah menginginkan Anda sekalian datang kepada-Nya dengan hati yang suci-murni. Satu-satunya persyaratan adalah buatlah diri kalian sendiri sesuai untuk berjumpa dengan-Nya dan menciptakan dalam diri Anda perubahan sejati yang membuat bisa pantas untuk hadir di hadapan-Nya. (bertindaklah sesuai firman-Nya فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي fal yastajiibuu lii-jawablah seruan-Ku) Saya katakan. Dengan benar-benar saya katakan bahwa Allah memiliki kekuatan ajaib yang beragam, dan ada karunia dan berkah yang tak terbatas, tapi kalian harus membuat penglihatan kecintaan untuk melihat itu semua dan untuk mencapainya. Jika kecintaan kalian itu benar maka Allah akan mendengar doa-doa yang banyak dari kalian dan menolong juga.”[10]

Apa yang harus manusia lakukan untuk meraih keberuntungan berupa kecintaan sejati dari Allah sehingga Dia mendengar doa-doanya dan juga menikmati kedekatan-Nya, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan dalam hal ini, “Persyaratannya adalah seseorang menyintai dan penuh ketulusan terhadap Allah. Cinta kepada Allah membakar kehidupan rendah manusia dan membuatnya menjadi manusia baru dan bersih. Memurnikan dirinya. Pada titik ini ia melihat apa yang dia tidak lihat sebelumnya dan mendengar apa yang dia tidak dengar sebelumnya. Ringkasnya, Allah telah menyediakan bagi manusia kemampuan untuk mencapai hidangan keanggunan dan kehormatan, Dia juga telah memberikan itu dan mendapatkan keuntungan dari itu.” (artinya, Allah tidak hanya hanya membuat segala sesuatunya saja tetapi juga memberikan kita kemampuan untuk menggunakannya dan mengambil keuntungan dari itu semua.)

Jika Dia telah memberikan kemampuan kepada manusia tapi tidak menyediakan apa-apa berarti ada suatu kelemahan. Atau, jika ada suatu cara dan sarana tetapi tidak Dia sediakan bagi manusia kemampuan untuk mengambil manfaat darinya, apa manfaatnya dari itu? Tapi itu tidak terjadi. Allah Ta’ala memberikan kemampuan dan juga Dia sediakan sarana dan segala sesuatunya. Contohnya, di satu sisi, Dia menciptakan sarana untuk membuat roti, di sisi lain, Dia anugerahkan manusia mata, gigi, lidah, perut, lambung, hati dan usus. (artinya, Dia ciptakan segala sesuatu yang diperlukan guna membuat semua mekanisme pencernaan makanan.) Dan, Dia jadikan itu semua sebagai tempat peredaran makanan di tubuh. Jika tidak ada yang masuk ke dalam perut lalu dari mana darah akan datang dari dan ke jantung? Bagaimana makanan yang masuk ke perut itu beredar dan musnah, menjadi darah, dan bagaimana sisanya yang tidak diperlukan dibersihkan dari tubuh manusia?

Dengan cara yang sama, Dia telah memuliakan kita dengan karunia-Nya, pertama, bahwa Dia mengutus Nabi saw (semoga damai dan berkah Allah besertanya), dengan agama yang sempurna yaitu Islam, dan Dia menjadikannya Khatamun-Nabiyyin dan Dia berikan beliau Kitab yang sempurna dan yang terbaik dari semua buku, Al-Qur’an Suci, hingga tidak ada Kitab lain yang akan datang hingga hari Kiamat dan tidak akan ada seorang Nabi pun yang datang dengan syariat (hukum) baru. Kemudian jika kita tidak menggunakan kemampuan berpikir dan merenungkan yang telah Allah anugerahkan, dan tidak mengambil langkah menuju Allah, betapa banyak kemalasan, kelalaian dan ketidakbersyukurannya itu! Renungkan bahwa dalam surah pertama ini bagaimana Allah menunjukkan bagi kita cara untuk mendapatkan nikmat-Nya dengan jalan yang jelas dan efektif.

 (Inilah cara yang manusia bisa mendapatkan keuntungan. Tatkala Dia telah memberi kita seorang Nabi Agung seperti Nabi Muhammad saw (semoga damai dan berkah Allah besertanya), kita wajib untuk mengikuti teladannya. Dia anugerahi kita Kitab seperti Al-Qur’an Suci yang kita wajib bertindak berdasarkan arahannya)

Perhatikanlah! Dalam Surah pertama, Surah al-Fatihah, bagaimana Dia menunjukkan kita jalan karunia-Nya dengan jalan yang jelas dan efektif. Dalam Surah yang merupakan Khatamul-Kitab (terbaik dari semua buku) dan Ummul-Kitab (induk semua Kitab) juga, telah terang-benderang Dia jelaskan apa tujuan kehidupan manusia dan apa cara untuk mencapainya. Seolah-olah firman-Nya, إيَّاكَ نَعْبُدُ Iyyaaka na’budu adalah tuntutan fitrat kemanusiaan dan tujuannya yang sebenarnya dan tujuan hidup manusia. Kemudian, Dia menempatkan إيَّاكَ نَسْتَعينُ Iyyaaka nasta’iin setelahnya, guna memberitahukan bahwa suka atau tak suka (mau tak mau, suatu keharusan, tak ragu lagi) bagi umat manusia, pertama mereka berusaha dan berjuang guna menapaki jalan-jalan ridha Ilahi sendiri dengan segenap kekuatan, stamina, tekad dan pemahaman yang Allah anugerahkan kepadanya, dan manusia mengambil manfaat sepenuhnya dari segala kekuatan dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah, dan setelah itu berdoa kepada Allah untuk menyempurnakan itu semua dan menjadikan itu semua berbuah keberhasilan.”[11]

Apakah wasilah-wasilah (cara-cara) untuk mencapai ma’rifat Allah? Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan ini, “Hal ini benar bahwa خُلِقَ الإنسانُ ضعيفًا khuliqal insanu dha’iifa, manusia diciptakan lemah. Dia tidak bisa mencapai apa-apa tanpa karunia dan rahmat dari Allah. Tanpa kasih karunia, manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Keberadaannya, pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya juga didasarkan pada kasih karunia Allah. Sungguh! Sangat bodoh orang yang bangga diri atas kebijaksanaan, pengetahuan, kekayaan dan kemakmurannya. Sebab, semua ini diberikan oleh Allah. Dari mana ada itu semua? Doa itu suatu keharusan supaya manusia mengenali dan menyadari kelemahan dan kerapuhannya. Sebab, saat ia merenungkan lebih dalam tentang kelemahannya, ia akan menemukan dirinya sangat layak dan amat memerlukan pertolongan Allah. Akibatnya, inilah yang akan membuat dirinya dalam kegembiraan dan kegemaran terhadap doa.

Ketika seseorang dalam kesulitan dan merasakan kesakitan dan kesempitan, ia menyebut atau menangis dengan kekuatan penuh dan meminta orang lain untuk membantu. Dengan cara yang sama jika ia merenungkan kelemahan dan kekurangannya, tentu ia menemukan dirinya memerlukan bantuan Allah dalam segala hal, jiwanya akan jatuh di ambang pintu Allah dengan sangat antusias dan berharap. Dengan rasa sakit dan meratap ia berseru, ‘Ya Tuhan! Ya Tuhan!’.”

Jika kalian merenungi Al-Qur’an, akan kalian ketahui bahwa dalam Surah pertama Allah mengajarkan doa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ Doa tidak bisa dipandang lengkap kecuali hanya ketika di dalamnya secara keseluruhan mencakup manfaat dan kebaikan, dan menyelamatkan dari semua hal yang merugikan dan menyakitkan. Secara keseluruhan pula.” (Artinya, doa hakiki mencakup semua manfaat yang dapat dicapai oleh manusia, dan menyelamatkan dia dari bahaya dan sakit yang dapat menimpa dirinya. apa pun itu.)

“Jadi dalam doa ini dimintakan semua manfaat terbaik yang dapat dicapai dan memungkinkan adanya. Doa ini juga mengandung keselamatan diri dari sebanyak mungkin hal berbahaya yang dapat menghancurkan manusia.”[12]

Dengan demikian, hal ini harus selalu diingat bahwa doa terbesar yang telah disebutkan di sini bukanlah doa untuk hal-hal duniawi, melainkan yang berkaitan dengan iman. Maka dari itu, seseorang hendaknya dalam semua doanya memberikan pengutamaan doa bagi agama dan imannya. Ketika seseorang melakukan hal demikian maka pintu kedekatan kepada Allah membuka dan kemudian secara otomatis doa-doa selebihnya akan diterima.

Menjelaskan lebih lanjut bahwa doa yang pokok ialah doa untuk penguatan agama, dan inilah yang sebab bagi kedekatan dengan Allah dan sarana pengabulan doa-doa lainnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ artinya, ‘Aku menerima pertobatan orang yang bertobat.’ Sesungguhnya, janji Allah ini mengesahkan pernyataan yang dilakukan oleh orang yang bertobat dengan hati tulus. Jika tidak ada pernyataan seperti itu dari Allah maka penerimaan pertobatan adalah masalah sulit. Sebuah pernyataan yang dibuat dengan hati yang tulus, hasilnya adalah bahwa kemudian Allah juga memenuhi semua janji-Nya yang telah Dia buat dengan orang yang bertobat, saat seorang manusia mengakui bahwa ia akan menyelamatkan diri dari segala dosa dan akan memberikan pengutamaan atas iman daripada hal-hal duniawi mulailah tampak cahaya yang turun atas hatinya di waktu itu.”[13]

Allah Ta’ala telah menyebutkan cara terbaik untuk mencapai kedekatan dengan-Nya dan dikabulkannya doa ialah dengan shalat. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam hal ini, “Tujuan sebenarnya dan esensi dari shalat adalah hanya doa. Berdoa, secara alami sesuai dengan qanun qudrat (ketentuan umum) Allah Ta’ala. Sebagai contoh, pada umumnya kita melihat saat seorang anak menangis dan meratap serta menunjukkan kegelisahan, bagaimana ibunya bergegas untuk memberikan susu. Ada semacam hubungan yang sama antara keilahian dan ubudiyyah (penghambaan) yang tidak dapat dipahami oleh setiap orang. Ketika seseorang jatuh di pintu Allah, dan menyajikan dengan banyak kerendahan hati dan ketakutan, dan meminta kebutuhannya maka rahmat ketuhanan bergejolak dengan semangat dan hamba tersebut dirahmati. Susu kebaikan dan kemurahan Allah juga menuntut menangis maka mata menangis perlu dipersembahkan saat memanjatkan doa kepada-Nya.” (Jika seseorang ingin minum susu dari karunia dan kelembutan Allah, dan ingin mendapatkan keuntungan dari karunia dan rahmat-Nya, ia akan harus menggunakan kerendahan hati, kelemahlembutan, menangis dan meratap untuk itu di hadapan-Nya.) Oleh karena itu, di hadirat-Nya mata menangis harus dipersembahkan.”[14]

Jadi, dengan karunia Allah, dalam bulan Ramadhan, tatkala perhatian terbesar mayoritas orang-orang ialah menuju ke masjid dan melaksanakan shalat berjamaah, perhatian juga harus ditunaikan terhadap penunaian shalat nawafil kemudian memperbanyak doa supaya kita dapat memberikan pengutamaan agama diatas dunia dan untuk mencapai kedekatan Allah. Ini harus menjadi doa-doa yang pertama dan utama, doa-doa lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan duniawi kita harus dipanjatkan setelahnya. Kemudian, semoga Allah mengurus hal-hal duniawi yang kita perlukan.

Pada titik bahasan ini saya juga hendak menyajikan sebuah doa Hadhrat Masih Mau’ud as yang kita harus panjatkan terutama selama hari-hari ini, sehingga kedekatan kepada Allah dicapai. Beliau as berdoa, “Wahai Tuhan semesta alam, saya tidak mampu untuk mensyukuri betapa banyak karunia dari Engkau. Engkau sangat Penyayang dan Mulia. Engkau memiliki karunia luhur yang tidak terbatas untuk hamba. Ampunilah dosa-dosa hamba sehingga hamba tidak binasa. Tanamkan cinta yang murni di hati hamba sehingga hamba mencapai kehidupan. Dan, tutupilah saya. Berilah hamba taufik untuk melakukan tindakan yang membuat Engkau senang. Hamba mencari perlindungan Engkau dengan kemuliaan Wajah Engkau, supaya murka Engkau tidak menimpa hamba. Kasihanilah dan selamatkan hamba dari cobaan dunia ini dan dunia berikutnya karena semua nikmat dan rahmat adalah di tangan Engkau. ، آمين ثم آمين Aamiin, tsumma aamiin.”[15]

Semoga Allah menganugerahi kita taufik supaya memahami realitas doa. Semoga Dia menjadikan kita termasuk memahami Ramadhan ini, dan kemudian terus memberi taufik kepada kita untuk secara permanen, kuat dalam iman kepada Allah, mendengar arahan-arahan-Nya dan bertindak atas perintah-perintah-Nya, dan memberikan pengutamaan ridha Allah dalam setiap hal. Semoga tindakan kita sesuai dengan ridha Allah, dan iman kita diperkuat lebih dari sebelumnya. Semoga cinta sejati kepada Allah, Dia ciptakan dalam diri kita. Semoga Allah menyelamatkan kita dari cobaan dunia ini dan dunia berikutnya.

Setelah shalat Jumat, saya akan mengimami shalat jenazah untuk dua almarhum. Pertama, Tn. Raja Galib Ahmad. Seorang pengkhidmat tulus dan berpengalaman Jemaat. Penyair dan penulis terkenal dalam bahasa Urdu. Beliau juga masyhur sebagai pendidik. Ia adalah abdi pemerintah pada mulanya sebagai Ketua Dewan Textbook Punjab. Beliau meninggal di Lahore pada 4 Juni 2016 pada usia 88. إنا لله وإنا إليه راجعون Inn lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Beliau lahir di Gujarat pada tahun 1928. Ayahnya, Raja Ali Muhammad, adalah salah seorang Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, yang berjanji setia pada 1905 dan bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah. Ayahnya mendapat kesempatan berkhidmat di Qadian sebagai Nazir Mal dan Nazir A’la. Malik Barkat Ali adalah kakek dari pihak ibu. Malik Abdur-Rahman Khadim, yang digelari Khalid-i-Ahmadiyah, adalah paman dari pihak ibu.

Beliau lulus Tsanawiyah (sekolah menengah) di Lahore. Beliau menyelesaikan Bachelor di Qadian dan kemudian memperoleh gelar master di bidang Psikologi dari Government College (Sekolah Tinggi Negara) di Lahore. Dia diakui terkemuka dan penuh kehormatan di kalangan pendidik dan sastrawan di seantero negeri sebagai penyair, pemikir, pendidik dan kritikus sastra. Harian Jemaat, ‘Al-Fazl’ dan majalah di negara itu sering menerbitkan puisi dan tulisan-tulisannya dalam bahasa Urdu dan bahasa Inggris.

Beliau mulai pekerjaannya di Angkatan Udara Pakistan. Pada tahun 1962, ia bergabung Dinas Pendidikan Pakistan. Beliau memegang kantor-kantor penting yang berbeda seperti sekjen dan pengendali Dewan Tinggi Pendidikan Menengah Punjab, Ketua Dewan Menengah Sargodha, Ketua Dewan Buku Teks Punjab, Penasehat Pemerintah bidang Pendidikan di Punjab. Itu adalah pengkhidmatan cemerlang almarhum di tingkat nasional.

Ada daftar panjang pelayanan kepada Jemaat Ahmadiyah. Sekretaris umum dan Sekretaris Ta’lim Distrik Lahore dan banyak jabatan lainnya. Setelah tahun 1976, juru bicara Jemaat Ahmadiyah, dalam konferensi pers dan siaran pers. Beliau juga menulis surat pembaca kepada suratkabar-suratkabar dan mengeluarkan pernyataan atas nama Jemaat dan di kesempatan lain atas nama pribadi. Pada 1992-1997, beliau Direktur Fazl-i-Umar Foundation, 1974-1985 Direktur Wakaf Jadid, dan juga Na’ib Sadr Nasir Foundation. Beliau sederhana dan tenang. Memiliki hubungan yang kuat dan tulus dengan Khilafat. Sangat menghormati pengurus Jemaat. Semoga Allah mengampuni dan meninggikan statusnya. Beliau tidak memiliki anak tapi punya anak angkat. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka.

Jenazah kedua adalah almarhum Malik Muhammad Ahmad yang telah mengabdikan hidupnya untuk pelayanan Ahmadiyah dan wafat pada 6 Mei 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kedua jenazah ini seharusnya sudah dishalatjenazahkan pada Jumat sebelumnya tetapi karena beberapa alasan sehingga belum.

Almarhum anak tertua dari Shaikh Fazal Ahmad Batalwi ra, seorang Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau memiliki hubungan yang tulus, kecintaan dan kesetiaan dengan Khilafat dan Nizham Khilafat. Beliau menyarankan semua anak untuk mengadopsi sifat yang sama. Beliau patuh pada Nizham Jemaat, tenang, santun, rendah hati, berlaku baik terhadap kerabat, ramah terhadap semua, baik hati dan orang saleh. Sepanjang hidup menyokong banyak keluarga dan memikul tanggung jawab pendidikan dari beberapa anak keluarga tersebut dan mengurus tanggung jawab sampai nafas terakhir dengan sebaik-baiknya.

Beliau adalah salah satu dari 5.000 Mujahidin Daftar Awal Tahrik Jadid. Beliau mengambil bagian dengan hati yang terbuka dalam membangun masjid dan dana lainnya lainnya. Beliau memberikan sebidang tanah di Rabwah untuk Jemaat.

Beliau mengabdikan hidupnya pada 20 Oktober 1945 dan bertugas di luar negeri. Selanjutnya, bertugas di departemen bangunan untuk Rabwah selama 1949-1955. Pada 1955-1968 bekerja di Wakalat Tabshir, menjabat sebagai Na’ib Afsar Amanat pada 1969-1982, sebagai Naib Wakil-Mal Tsani pada 1982-1986. Pensiun pada 1985. Beliau dipekerjakan ulang dan terus melayani sampai Juni 1989 dan pada 1986-1989 menjabat sebagai Na’ib Wakilut-Ta’mil-o-Tanfidz.

Masa pengkhidmatannya selama sekitar 47 tahun kemudian berpindah ke Jerman untuk bersama anak-anaknya. Beliau menghabiskan waktunya dalam ibadah, membaca Al-Qur’an dan sangat mendalam pembelajarannya dalam buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ikut Nizham al-Washiyat. Beliau meninggalkan 2 putra dan 4 putri. Tn. Laiq Ahmad Tahir, misionaris kita, adalah adik bungsunya dan Waqif Zindagi di sini. Anaknya yang termuda, Tn. Mahmud Ahmad yang bekerja dalam suratkabar Al-Fazl Internasional. Semoga Allah memperlakukan beliau dengan pengampunan dan belas kasihan, dan memungkinkan keturunannya untuk memiliki hubungan yang tulus dan penuh kasih sayang dengan Khilafat dan Jemaat. (آمين)

[1] Haqaiqul Furqaan, jilid awal, h. 308.

[2]Shahih al-Bukhari, kitab tentang shaum, bab hal yaquulu Ramadhan au syahr Ramadhan, no. 1899.

[3] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14, h. 261

[4] Malfuzhat, jilid awal, h. 106-107, edisi 1985, terbitan UK.

[5] Malfuzhat, jilid awal, h. 124-125, edisi 1985, terbitan UK.

[6] Malfuzhat, jilid awal, h. 198, edisi 1985, terbitan UK

[7] Malfuzhat, jilid awal, h. 130-131, edisi 1985, terbitan UK

[8] Malfuzhat, jilid awal, h. 199, edisi 1985, terbitan UK

[9] Malfuzhat, jilid awal, h. 199-200, edisi 1985, terbitan UK

[10] Malfuzhat, Vol. I, hal. 352-353, edisi 1985, UK

[11] Malfuzhat, jilid awal, h. 353-354, edisi 1985, terbitan UK

[12] Malfuzhat, jilid awal, h. 411-412, edisi 1985, terbitan UK

[13] Malfuzhat, jilid pancjam (V), h. 300, edisi 1985, terbitan UK.

[14] Malfuzhat, jilid awal, h. 352, edisi 1985, terbitan UK.

[15] Malfuzhat, jilid awal, h. 235, edisi 1985, terbitan UK.