Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 13 Zhuhur 1389 HS/Agustus 2010

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ                    

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ

Ayat yang telah saya (Hudhur atba) tilawatkan ini terjemahannya adalah demikian. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon do’a apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah, 2:187)

Dalam ayat sebelum ini Allah Ta’ala telah menjelaskan tentang perintah puasa disertai dengan rinciannya. Dikatakan bahwa untuk menjadi hamba Allah sejati dan untuk menyaksikan kemakbulan doa senantiasa menghendaki satu usaha atau perjuangan keras. Dan ibadah puasa Ramadhan juga adalah sebuah perjuangan keras yang mana 0rang-orang mu’min guna mencapai hasilnya harus menempuh perjuangan itu dengan sebaik-baiknya. Hendaknya pahamilah hal ini dengan baik, bahwa kita sedang melakukannya semata-mata demi Allah bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus. Apakah kewajiban-kewajiban tersebut? Hal itu juga secara sempurna harus diketahui.

Sesungguhnya, seperti telah saya sampaikan bahwa puasa adalah satu mujaahadah (upaya atau perjuangan keras). Allah Ta’ala tidak bermaksud untuk membuat hamba-Nya hanya menahan lapar dan tidak pula menghendaki ibadah mereka hanya secara lahiriah. Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan seperti dapat kita perhatikan bersama bahwa Dia akan menjawab setiap permohonan doa hamba-Nya dengan bersyarat. Tuhan tidak berfirman, ‘Siapa saja yang menyeru kepada-Ku, Aku akan segera menjawab setiap permohonannya, Aku akan menjawabnya dengan terlebih dahulu melihat perilaku mereka, juga keadaan mereka.’ Tidak, bukan demikian. Melainkan Tuhan berfirman,فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ  ‘fal yastajiibuu lii’– “Hendaklah ia menjawab-Ku” apabila hamba-Ku ingin doanya dikabulkan maka pertama sekali ia harus menyambut seruan-Ku dengan penuh ketaatan. Yang kedua adalah    ‘wal yu’minuu bii’ berimanlah kepada-Ku. Inilah peraturan untuk orang-orang yang beriman tetapi kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Berimanlah kepada-Ku.“ Maksudnya perkuatlah imanmu dan jadikanlah kemajuan dalam martabat imanmu. Sebab kesempurnaan iman tidak cukup hanya dengan satu kali pernyataan saja. Bahkan ia harus maju terus meningkatkan keimanannya itu. Keimanan dan keyakinan terhadap Dzat Allah Ta’ala harus senantiasa meningkat terus. Apabila keadaan iman manusia sudah demikian kuat maka ia berhak menerima hidayah dari Allah Ta’ala. Dan dia juga akan meraih kedudukan yang disebut kedudukan mu’min hakiki atau mu’min sejati. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ‘la’allahum yarsyuduun’ – “supaya mereka mendapat petunjuk” maksudnya adalah langkah manusia senantiasa maju terus ke arah kebaikan sejati dan hidayah serta senantiasa mencari jalan agar hidayah itu dapat diraih secara sempurna. Dari mana dapat kita ketahui bahwa menyatakan labbaik kepada Allah Ta’ala dapat meningkatkan iman terhadap zat Allah Ta’ala? Untuk mengetahui hal itu Kami Allah Ta’ala telah menurunkan kitab Alqur’anul Karim yang sarat dengan kumpulan hidayah. Untuk itulah Allah Ta’ala telah menetapkan pengumuman-Nya pada permulaan Al Qurán Syarif, ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ‘dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin’ – (Al-Baqarah, 2:3) “inilah kitab yang sempurna yang didalamnya tidak terdapat suatu keraguan sedikitpun dan ia sebagai hidayah (petunjuk) bagi orang-orang muttaqi (bertakwa).” Orang-orang yang sedang mencari hidayah, orang-orang yang ingin memperkuat iman terhadap Allah Ta’ala, orang-orang yang ingin mendapatkan nilai kebaikan yang setinggi-tingginya, orang-orang yang menginginkan kemakbulan doa-doa, bagi mereka ini, tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali mengikuti Kitab yang sempurna ini yang telah diturunkan Allah Ta’ala kepada Rasul sempurna, Muhammad saw. Jadi, untuk menjadi hamba sejati Allah Ta’ala, untuk mendapat kemakbulan doa-doanya, dan untuk memperbaiki keadaan duniawi dan ukhrawinya, sekarang tidak ada jalan lain kecuali harus mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala yang telah Allah Ta’ala jelaskan. Jalan untuk itu akan diperoleh hanya dengan membaca Alqur’anul Karim itu dan contoh teladan yang baik dapat kita peroleh dari Rasul Suci Muhammad saw.

Sesungguhnya gambaran semua jenis amal saleh telah terhimpun dalam dzat (pribadi) Hadhrat Rasulullah saw. Sambil mengisyarahkan ke arah hidayah itu Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang mu’min, لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ‘laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatul liman kaana yarjullaha wal yaumal akhira wa dzakarallaha katsiira’ (Surah Al Ahzab, 33 : 22) – “Sesungguhnya bagi kalian di dalam diri Hadhrat Rasulullah ini terdapat martabat yang tinggi dan suri teladan yang sangat baik. Bagi setiap orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah di hari akhirat dan dia yang banyak mengingat Allah Ta’ala.” Jadi, beriman kepada hari Akhirat dan beriman kepada adanya pertemuan dengan Allah Ta’ala setelah mati, dan ibadah kepada Allah Ta’ala serta zikir kepada-Nya, baru layak diterima disisi Allah Ta’ala. Apabila keteladanan Rasul kekasih Allah Ta’ala ini berusaha dimiliki oleh manusia dan diterapkan pada dirinya. Usaha untuk memiliki teladan itu adalah pengamalan perintah Allah Ta’ala yang tercantum di dalam ayat yang baru ditilawatkan itu, yang di dalamnya difirmankan ’wa idza sa-alaka ‘ibaadii ‘annii’ “Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, jika ia hamba-Ku dan ia betul-betul orang mu’min maka dia menanyakan tentang-Ku wahai Rasul, ia akan bertanya tentang Aku, sebab pertanyaan itu pasti diajukan kepada orang yang mengetahui dengan sebaik-baiknya. Ia tahu kepada siapa harus bertanya.” Orang yang sedang berusaha mencari Allah Ta’ala dan ingin berjumpa dengan Allah Ta’ala, ia akan bertanya kepada orang yang telah menjadi kekasih Allah Ta’ala, yang mengenainya Allah Ta’ala telah mengumumkan bahwa barangsiapa yang ingin menjadi kekasih Allah Ta’ala ia harus mengikuti jejak-langkahnya. Seorang muslim atau seorang mu’min tidak akan terpikir olehnya untuk bertanya tentang Allah Ta’ala kepada orang lain. Atau mencari teladan yang baik dari yang lain.  Jika selain dari Rasul saw kekasih Tuhan ini, ada sosok lain yang dapat menjadi teladan bagi orang-orang mu’min, bagi kita semua yang hidup pada zaman ini, tentu para Sahabat Hadhrat Rasulullah saw, sebab mereka telah mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullah saw secara sempurna dan atau kemudian pada zaman sekarang ini adalah seorang ‘asyiq shadiq (pecinta sejati) Hadhrat Rasulullah saw yang telah mengajarkan kita untuk memahami hukum-hukum yang ada di dalam Al Qur’anul Karim dan telah menunjukkan dasar-dasar baru untuk menjadi orang-orang fana di dalam mencintai Hadhrat Rasulullah saw dengan penuh dedikasi. Jadi selain Hadhrat Rasulullah saw jika ada orang yang dapat menegakkan uswah hasanah, maka sumber bagi keseluruhannya adalah dzat (pribadi) Hadhrat Rasulullah saw itu sendiri, yang telah menjadi hamba sempurna Allah Ta’ala dan sampai hari kiamat tidak akan dapat lahir lagi seorang hamba sempurna yang akan menyamai martabah beliau saw. Jadi Allah Ta’ala berfirman kepada Hamba Sempurna ini bahwa “Hamba-hamba-Ku yang berusaha meraih kedekatan-Ku, untuk kemakbulan doa-doa mereka, mereka datang berkumpul di sekeliling engkau dan bertanya kepada engkau tentang Aku bahwa dimanakah Aku berada? Maka beritahu kepada mereka فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ Aku ini dekat sekali. Akan tetapi untuk mendapatkan kedekatan ini diperlukan penglihatan ma’rifat. Penglihatan rohani yang sangat tajam sehingga Aku akan nampak kepadanya. Untuk menghasilkan penglihatan tajam ma’rifat ini mereka harus memperhatikan uswah hasanah kekasih-Ku, sebab hanya dialah, yang telah mengamalkan semua perintah-Ku secara sempurna.” Orang-orang yang telah memperhatikan dan mengamalkan suri teladan Rasul saw ini, atau yang telah menunjukkan fana fir Rasul yang sungguh-sungguh, maka mereka akan menjadi hamba-hamba sejati dan akan menyaksikan pemandangan kedekatan Allah Ta’ala. Mereka dapat mencicipi lezatnya         اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ‘ujiibud da-watad daa’i idza da’aan’-“Aku jawab doa-doa orang yang berdoa kepada-Ku bila mereka berdoa.” yakni mereka mencicipi lezatnya mendengar jawaban doa-doa mereka, mereka menyaksikan turunnya ketetapan dan pertolongan Ilahi. Jadi jawaban yang mereka dengar pada masa ini sama dengan jawaban yang pernah di dengar 1400 tahun yang silam oleh orang-orang terdahulu. Tuhan Hadhrat Muhammad saw sekarang juga hidup seperti dahulu juga hidup dan selamanya tetap akan hidup. Jadi jika hal itu sekarang diperlukan maka perlu untuk memahami semua hukum Tuhan itu. Jika hal itu sekarang diperlukan maka perlu mengamalkan suri teladan dan ajaran Rasul-Nya. Jadi suri teladan Hadhrat Rasulullah saw itu hendaknya senantiasa kita amalkan setiap waktu, sambil memperhatikan agar mutu amal kebaikan kita semakin meningkat, agar kita selalu memperhatikan kelemahan-kelemahan diri pribadi kita, agar iman kita kepada Allah Ta’ala semakin kokoh-kuat, agar kita memahami betul falsafah doa itu. Dimana Hadhrat Rasulullah saw memberikan bimbingan tarbiyyat kepada kita disertai dengan amal dan teladan beliau saw sendiri, di sana beliau juga memberi nasihat-nasihat kepada orang-orang mu’min.

Ramadhan adalah bulan latihan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, untuk meningkatkan ibadah-ibadah kita kepada-Nya, untuk menghindarkan diri dari berbagai macam keburukan maupun kejahatan dan untuk mengamalkan hak-hak sesama manusia lebih baik dari sebelumnya dan bulan dikabulkannya doa-doa. Di bulan ini amal saleh Hadhrat Rasulullah saw meningkat seratus kali berlipat ganda. Misalnya beliau saw sangat pemurah dalam mengeluarkan sedekah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dalam keadaan sehari-hari pun kebaikan beliau itu tidak dapat ditandingi oleh siapapun. Terdapat riwayat dalam berbagai Hadis bahwa kemurahan beliau dalam memberi sedekah lebih deras dari tiupan angin kencang. [2]

Demikian juga dalam menunaikan ibadah-ibadah dan mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana saya katakan dan banyak telah saya katakan bahwa tidak ada manusia manapun yang dapat menandingi amal perbuatan beliau saw namun demikian Allah Ta’ala telah memerintahkan agar manusia mengikuti teladan beliau saw. Hal itu bukan berarti bahwa apabila manusia lain tidak mampu mencapai martabat seperti itu maka apa perlunya untuk mengikutinya. Kemudian teladan yang bagaimana? Tentang hal ini juga Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskannya secara gamblang. Allah Ta’ala telah menanamkan kekuatan dalam setiap manusia. Allah Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk menggunakan kekuatan dan kemampuan yang telah Dia anugerahkan sampai mencapai kadar tertentu dan Allah Ta’ala mengetahui secara pasti sampai dimana kekuatan dan kemampuan setiap hamba-Nya, dan Dia tidak membebani manusia dengan kewajiban di luar kemampuannya oleh sebab itu Tuhan berfirman, “Teladan yang baik ada di hadapan kalian. Kalian harus mengikutinya. Jika kalian mengikutinya dengan kekuatan dan kemampuan sepenuhnya maka kalian akan memperoleh ganjaran. Dan kalian harus ingat bahwa menentukan kemampuan seseorang bukanlah pekerjaan manusia melainkan hanya Allah Ta’ala yang mengetahui seberapa kekuatan dan kemampuan yang terdapat pada diri seseorang. Pekerjaan manusia adalah untuk melakukan usaha sampai batas kekuatan dan kemampuan secara maksimal dan kemudian serahkan perkaranya kepada Allah Ta’ala.” Pekerjaan manusia, hendaknya seorang mu’min berjuang keras (jihad) dan maksud dari pada jihad adalah berjuang keras sambil menggunakan semua kekuatan yang ada pada diri manusia, setiap pekerjaan harus dilakukan dengan penuh semangat sambil mencurahkan semua kekuatan dan kemampuan yang tersedia kemudian bersujud dihadapan Allah Ta’ala sambil melibatkan diri dalam kesulitan. Manusia harus berusaha demikian kerasnya sehingga habis kekuatannya. Itulah makna Jihad.

Pada satu tempat Allah Ta’ala berfirman dalam Alqur’anul Karim,وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  ‘walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulanaa wa innallaha lama’al muhsiniin’ – (Surah Al-Ankabut, 29 : 70). Dan orang-orang yang berusaha keras untuk berjumpa dengan Kami, pasti Kami akan tunjukkan jalan untuk menempuh ke arah Kami. Dan Allah bersama orang-orang berbuat baik (muhsin).” Maka dengan menggunakan perkataan  جَاہَدُوۡا’jahaduu’ atau usaha keras Allah Ta’ala menekankan kepada kita bahwa manusia yang ingin mendapat qurb Allah Ta’ala memerlukan jihad (usaha keras) Yakni diperlukan perjuangan sedemikian keras dan terus-menerus sehingga badan manusia tak berdaya lagi. Apabila manusia melakukan usaha keras seperti itu maka Allah Ta’ala akan menyambut sambil merangkulnya. Hal itu sesuai dengan undang-undang-Nya. Akan tetapi untuk manifestasi sifat Kariimah (Maha Mulia) Allah Ta’ala memerlukan usaha keras manusia untuk mengerahkan semua kekuatan dan kemampuan-nya agar manusia dapat sampai kepada-Nya tetapi Allah Ta’ala telah memberitahu kepada Hadhrat Muhammad saw bahwa apabila hamba-Ku datang kepada-Ku selangkah maka Aku datang kepadanya dua langkah. Apabila hamba-Ku datang berjalan kepada-Ku maka Aku datang berlari kepadanya.  Jadi, usaha manusia hanyalah nama saja. Sedangkan Tuhan kita adalah sangat Pengasih yakni apabila Dia melihat hamba-Nya “Dia menyambut seruan-Ku”فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ  ‘fal yastajiibuu lii’ yakni sang hamba telah melangkah menyambut seruan-Nya dan untuk meraih Qurb-Nya melangkahkan kaki ke arah-Nya maka Allah Ta’ala sendiri dengan rahmat-Nya segera berlari ke arah hamba-Nya dan seorang manusia lemah yang ingin menjadi hamba Sang Maha Pemurah maka dia berusaha mendekapkan diri ke arah-Nya. Hadhrat Rasulullah saw pernah bersabda, “Allah Ta’ala sangat gembira sekali melihat hamba-Nya yang datang kepada-Nya, bahkan lebih gembira dari seorang ibu yang melihat anaknya datang menemuinya.” [3]

Itulah gambaran manifestasi dari Sifat Rahmaniyyat Allah Ta’ala yang datang mendekat ke arah hamba-Nya jika tidak apalah artinya usaha seorang hamba yang sangat lemah itu untuk mendapatkan qurb-Nya itu. Pendeknya, suri teladan yang sangat baik dari Hadhrat Rasulullah saw yang menunjukkan gambar sempurna dari pengamalan perintah-perintah Allah Ta’ala, dapat disaksikan pemandangannya yang luar biasa bukan hanya di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi dalam keadaan biasa juga, nampak pemandangan-pemandangan luar biasa, misalnya mengenai ibadah-ibadah beliau, akhlak fadhillah beliau dan penyempurnaan tehadap hak-hak sesama manusia, yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia lain secara sempurna. Beberapa contoh gambaran mutu ibadah beliau akan saya sampaikan kepada saudara-saudara.

Terdapat sebuah riwayat, “Disebabkan terjatuh dari seekor kuda pada bagian tubuh beliau saw [yang penuh berkat] terdapat luka yang sangat menyakitkan, sehingga beliau tidak dapat mengerjakan shalat sambil berdiri. Oleh sebab itu beliau memimpin shalat sambil duduk.” Tengoklah, dalam keadaan sakit seperti itupun beliau tidak meninggalkan shalat berjamaah. [4]

Dan pada peristiwa Perang Uhud disebabkan luka-luka parah dan beberapa buah gigi mubarak beliaupun telah copot dan beliau jatuh sakit yang sangat menyusahkan maka apabila beliau mendengar suara azan telah dikumandangkan maka beliaupun segera bangun dan datang ke masjid seperti hari-hari biasa dalam kedaan sehat wal ‘afiat. [5]

Kemudian Hadhrat Aisyah ra telah menceritakan bagaimana indahnya Hadhrat Rasulullah saw menunaikan shalat, katanya setiap gerakan shalat beliau begitu panjang dan indahnya sehingga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. [6]

Itulah seorang hamba sempurna yang telah menegakkan suri teladan dalam ibadah yang tidak dapat diperoleh  bandingannya. Beliaulah yang telah menciptakan keindahan ibadah para Sahabat ra juga. Jadi, apabila Allah Ta’ala berfirman, “Sambutlah seruan-Ku, Aku-pun tentu memberi qurb-Ku” maka untuk itu sebagai dasar utama yang harus dilakukan oleh seorang hamba adalah meningkatkan ibadahnya dengan penuh ketaatan. Dan bukan hanya di dalam bulan Ramadhan saja ibadah seperti itu dilakukan dengan penuh semangat dan ketaatan melainkan harus setiap waktu, seperti contoh teladan yang telah ditunjukkan oleh Hadhrat Rasulullah saw dalam setiap waktu, dalam hari-hari biasa juga, dalam keadaan umumnya juga, bahkan dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit juga, seperti ketika tubuh mubarak beliau terkena luka-luka parah di medan perang Uhud, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Sebab Allah Ta’ala memberitahu tanda-tanda orang mu’min sejati adalah  یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ ‘yuqiimuunash shalaah’ – “mereka mendirikan shalat”. Untuk mendirikan shalat berjamaah orang-orang mu’min berkumpul dalam waktu-waktu shalat. Melalui Insan Sempurna, Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengumumkan, قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ‘qul inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin’ – (Surah Al-An’aam, 6 : 163) “Hai Nabi umumkanlah bahwa shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah Ta’ala Yang memiliki semua Alam semesta” maka bagaimana beliau saw akan dapat melanggar pengumuman dari Allah Ta’ala yang telah Dia firmankan sendiri, atau bagaimana beliau akan melupakan hal itu. Bahkan, pada akhir hidup beliau saw, ketika badan beliau saw penuh keberkatan dalam kondisi sangat lemah tidak dapat berjalan, beliau saw datang ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah sambil ditopang (dipapah) oleh dua orang sahabat beliau saw. [7]

Hal itu membuktikan kefanaan Hadhrat Rasulullah saw dalam mencintai Allah Ta’ala. Jadi, peningkatan dalam iman dan dalam ibadah akan dapat diperoleh apabila kecintaan terhadap Allah Ta’ala sudah mencapai puncaknya. Jadi Allah Ta’ala berfirman kepada kita, “Contoh puncak keimanan yang tinggi sudah ada di hadapan kalian. Kalian bertanya tentang Aku, ‘Tuhan ada dimana?’ Maka untuk menjawab pertanyaan kalian ini sekarang lihatlah apa yang telah dilakukan oleh kekasih-Ku kepada-Ku! Berusahalah kalian dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan hak-hak sebagai hamba-Ku yang sejati kemudian kalian akan menyaksikan bahwa Aku sangat dekat dengan  kalian.”

“Sekalipun di bulan Ramadhan ini masjid penuh dengan manusia beribadah atau pada hari ini kalian telah datang berlomba saling mendahului masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah dan dalam keadaan sehat wal ‘afiat kalian lupa kepada-Ku atau setelah waktu berlalu kalian lupa pada-Ku maka keadaan kalian demikian bukan menyambut seruan-Ku. Yang kalian lakukan itu hanyalah untuk memenuhi maksud dan kehendak kalian. Menyatakan ’Labbaik!’ – “Siap!” terhadap seruan-Ku dapat dipastikan apabila suasana, keadaan perasaan, saat keadaan susah, atau sekalipun suasana lingkungan Ramadhan ini sudah berakhir, kalian tetap berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan ibadah-ibadah secara tetap sambil mengikuti suri teladan Hadhrat Rasulullah saw dan akan berusaha senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Ku.”

Sebagaimana telah saya katakan, suasana dan keadaan-pun dapat menimbulkan perhatian yang sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala. Keadaan orang-orang Ahmadi di Pakistan pada waktu ini telah membangkitkan perhatian para anggota Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia untuk memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya dan untuk meningkatkan mutu ibadah mereka yang lebih baik dan berusaha untuk meraih kedudukan lebih dekat dengan Allah Ta’ala. Banyak sekali orang-orang yang memperoleh ketenteraman disebabkan mereka banyak memanjatkan doa dan telah berhasil meraih qurb Allah Ta’ala. Mereka telah menyaksikan sempurnanya firman Tuhan فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ’fa-innii qariib’ – “Sesungguhnya Aku ini dekat dengan kalian!” Keadaan orang-orang Ahmadi yang sangat sulit di Pakistan, kesan-kesan beberapa jalsah yang masih tetap hangat. Dan sekarang dengan tibanya bulan Ramadhan. Semuanya menjadi sarana yang sangat baik bagi kita untuk meraih kemaqbulan doa-doa dan untuk meraih qurb Allah Ta’ala. Untuk itu semua di dalam bulan ini harus diusahakan sampai akhir puncak kekuatan dan kemampuan kita, dan kitapun harus berdoa kepada Allah Ta’ala semoga keadaan semangat seperti ini senantiasa tertanam di dalam diri kita. Jangan sampai semangat kita lambat laun menjadi lemah kembali bersamaan dengan berlalunya waktu dan berakhirnya Ramadhan ini. Di dalam hati orang-orang Ahmadi tertanam kesan-kesan menarik tentang Jalsah Salanah yang baru berlalu, dengan tibanya Ramadhan ini semoga kesan-kesan itu semakin kuat terasa di dalam kalbu kita dan untuk maksud itu banyak para Ahmadi yang telah menulis surat permohonan doa kepada saya. Namun mereka juga harus berusaha keras jangan sampai perubahan yang mereka hasilkan itu bersifat sementara melainkan untuk selamanya. Dan dengan menjadi hamba hakiki Allah Ta’ala kita harus berusaha untuk meningkatkan kedudukan ruhani kita semakin tinggi. Kita harus berusaha terus-menerus untuk memanjatkan doa-doa, meningkatkan ibadah-ibadah dan harus memperbanyak amal saleh demi meraih qurb Allah Ta’ala, usaha keras dan jihad sacara berantai ini jangan sampai terputus. Mutu ibadah-ibadah kita harus meningkat terus-menerus. Mutu taqwa kita harus meningkat semakin tinggi. Untuk meraih itu semua Hadhrat Masih Mau’ud as pada suatu tempat telah menjelaskannya. Inilah penjelasannya, Beliau as telah bersabda,

“Ingatlah! Doa pertama dan yang paling penting adalah, manusia harus memanjatkan doa untuk kesucian dirinya dari dosa-dosa. Itulah doa yang mencakup semua asas (prinsip pokok) dan semua bagian yang paling penting. Sebab, apabila doa ini telah dikabulkan dan manusia telah suci bersih dari setiap lumpur keburukan dan kejahatan dalam pandangan Allah Ta’ala, maka doa-doa lainnya, hajat dan kehendak yang diperlukan tidak perlu diajukan lagi kepada-Nya. Tuhan Maha Tahu, Dia sendiri Yang akan memenuhinya. Itulah doa yang menuntut semangat dan kesulitan dari kita, agar kita suci bersih dari berbagai jenis dosa.”[8]

Beliau as bersabda bahwa, doa ini adalah doa yang sangat sulit dan kita harus betul-betul rajin dan semangat untuk itu. Namun itulah akar doa bahwa manusia harus memanjatkan doa demi kebersihan dan kesuciannya dari dosa. Jadi inilah akarnya doa. Apabila manusia berusaha keras untuk menjaga dirinya bersih dari dosa, barulah ia mampu berusaha menyambut seruan Allah Ta’alaفَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ  ‘fal yastajiibuu lii’ – “Sambutlah seruan-Ku!”. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Al Quranul Karim sarat dengan hukum-hukum Allah Ta’ala. Atas dasar itu semua apabila kita berusaha keras untuk mengamalkannya maka kita akan mampu menyambut seruan Allah Ta’ala dengan mengatakan Labbaik! Barulah kita akan menjadi orang-orang yang berhasil membersihkan diri dari dosa-dosa. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Al Qur’anul Karim sarat dengan  hukum-hukum Allah Ta’ala. Tidak mungkin kita dapat menerangkannya semua di dalam satu sesi majlis pertemuan. Di dalam bulan Ramadhan apabila manusia banyak melakukan tilawat Alqur’an dengan penuh perhatian, mendengarkan daras-daras Alqur’an, maka di dalam bulan ini para mu’min berusaha mempelajari sambil merenungkan makna hukum-hukum Allah Ta’ala itu. Adapun berkaitan dengan hal ini, saya telah katakan bahwa waktu ini saya akan menerangkan beberapa contoh dari Hadhrat Rasulullah saw. Saya tunjukkan beberapa contoh beliau saw dalam hal ibadah, idealkah? Sekarang saya paparkan beberapa contoh beliau saw.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Alqur’anul Karim, ۪ وَ اَوۡفُوۡا بِالۡعَہۡدِ ۚ اِنَّ  الۡعَہۡدَ  کَانَ  مَسۡـُٔوۡلًا ‘… wa aufuu bil ‘ahdi innal ‘ahda kaana mas-uula’ – “Tepatilah janji-mu, sesungguhnya semua janji akan dipertanggungjawabkan. (Surah Al-Isra (Bani Israil), 17:35). Sekarang sampai dimana beliau saw telah berpegang kepada janji dan selalu menepatinya. ‏

Terdapat riwayat yang diceritakan oleh Huzaifah bin Yaman ra katanya, “Saya tidak ikut dalam perang Badar sebab ketika saya bersama Abu Suhail keluar dari Rumah, di tengah perjalanan kaum kuffar Makkah telah menangkap kami dan bertanya, ‘Apakah kamu berdua sedang pergi menuju Muhammad?’ Kami menjawab, ‘Kami sedang pergi ke Madinah.’ Mereka mengambil janji dari kami agar jangan ikut berperang bersama-sama Muhammad. Ketika kami berdua sampai di hadapan Hadhrat Rasulullah saw semua kisah diceritakan kepada beliau saw. Maka Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Pergilah kalian dan sempurnakanlah janji kalian! Untuk melawan musuh, kami sungguh memerlukan tenaga kalian namun kalian berdua telah berjanji kepada mereka tidak akan berperang bersamaku. Maka kami akan minta bantuan kalian hanya melalui doa.’”[9]

Beliau saw bersabda, “Kalian sebaiknya pergi dan sempurnakanlah janji kalian. Walaupun kami sangat memerlukan orang tetapi meskipun demikian sekarang kami akan meminta bantuan kalian hanya dengan doa.” Jadi inilah amal perbuatan yang luhur sesuai standar hukum Allah Ta’ala. Di dalam Perang Badar bantuan setiap orang sangat diperlukan. Jumlah personil tentara musuh sangat banyak sekali, dari segi perlengkapan dan jumlah personil tentara Islam sangat tidak berarti dibandingkan dengan kekuatan pihak mereka. Akan tetapi Hadhrat Rasulullah saw bersabda kepada kedua sahabat itu, “Kalian berdua telah berjanji maka penuhilah janji kalian itu! Aku akan menginginkan pertolongan kalian dengan doa.” Dan kemudian dunia telah menyaksikan pemandangan ini dan sejarah telah mencatat peristiwa itu serta musuh juga telah melihat bagaimana patuhnya beliau terhadap janji, namun keyakinan dan kepercayaan hamba sempurna telah terpancar sebelumnya juga terhadap pertolongan Allah Ta’ala dan Tuhan yang setiap waktu selalu dekat dengan hamba-Nya yang sempurna itu, bagaimana Dia telah menunjukkan betapa dekat dengan beliau saw? Yaitu dengan mengabulkan doa-doa beliau saw, Dia bukan hanya menganugerahkan kemenangan terhadap lasykar beliau yang sangat lemah tidak berdaya itu berperang melawan lasykar musuh yang sangat kuat dan perkasa, bahkan memukul mundur dan mengalahkan lasykar musuh dengan sangat telak sekali. Beliau dengan sangat yakin telah bersabda sebelumnya, “Aku menghendaki pertolongan kalian dengan doa.” Maka Allah Ta’ala telah menyempurnakan keyakinan beliau saw itu dan menambah semakin kuatnya iman para sahabat terhadap beliau dan Dia telah membuat semua musuh takut dan lari pontang-panting.

Pada peristiwa Fatah Makkah seorang perempuan telah berjanji untuk memberi perlindungan terhadap seorang musuh maka beliau saw bersabda kepada perempuan itu, “Hai Ummi Hani! Siapa yang telah engkau beri perlindungan, kamipun memberi perlindungan kepadanya.” [10]

Jadi beliau sangat menghargai perkataan seorang mu’min perempuan itu, sekalipun Hadhrat Ali ra sendiri dan juga beberapa sahabat lainnya menentang keputusan perempuan itu, namun beliau saw yang telah diutus untuk menegakkan akhlak yang luhur sangat patuh terhadap janji dan bersabda kepada mereka, “Peganglah dan tepatilah janji itu oleh kalian semua! Oleh karena kalian telah berjanji maka kamipun pegang janji itu”

Pada zaman sekarang ini kita sering meyaksikan peristiwa di dalam lingkungan masyarakat, sedikit saja ada masalah, manusia mulai melanggar janji-janji mereka dan perbuatan demikian sudah menjadi adat kebiaaan dalam masyarakat. Di lingkungan orang-orang ghair ahmadi memang banyak sekali yang berbuat demikian namun di dalam Jemaat juga sudah mulai timbul perbuatan serupa dan disamping pelanggaran janji itu mereka tambah lagi dengan segala jenis perbuatan dusta. Kadangkala perkaranya terpaksa diajukan ke meja pengadilan atau di satu sisi pelanggaran janji sedang marak dilakukan dan dari sisi lain perkataan dusta dijadikan adat kebiasaan untuk menipu orang lain serta sampai-sampai seseorang berani berdusta sambil bersumpah atas nama Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa kedudukan dusta adalah sama dengan syirik, hal ini sebagaimana telah difrimankan bahwa dusta dan syirik sama saja, seperti firman-Nya فَاجۡتَنِبُوا الرِّجۡسَ مِنَ الۡاَوۡثَانِ وَ اجۡتَنِبُوۡا  قَوۡلَ  الزُّوۡرِ ‘fajtanibur rijsa minal autsaani wajtanibuu qaulaz zuuri’ – “Maka jauhilah kenajisan berhala dan jauhilah juga perkataan dusta.” (Surah Al-Hajj, 22 : 31)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Kitab Suci Alqur’an telah menyatakan dusta adalah najasat (najis) dan kotoran. Seperti  firman Tuhan, فَاجۡتَنِبُوا الرِّجۡسَ مِنَ الۡاَوۡثَانِ وَ اجۡتَنِبُوۡا  قَوۡلَ  الزُّوۡرِ ‘fajtanibur rijsa minal autsaani wajtanibuu qaulaz zuur’ tengoklah! Di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menyatakan dusta itu adalah berhala dan sesungguhnya dusta itu memang berhala, jika tidak mengapa manusia meninggalkan kebenaran lalu mengambil jalan lain. Sebagaimana di balik berhala tidak ada hakikat kebenaran demikian juga di balik dusta tidak ada hakikiat apa-apa selain tipu muslihat. Kepercayaan manusia terhadap seorang pendusta demikian berkurang sehingga jika ia berkata benarpun orang akan merasa ragu tentang kebenarannya bahwa apakah dalam perkataannyapun tidak tercampuri kedustaan.” [11]

Jadi, bila manusia dalam suatu urusannya telah berani menyertakan dusta maka Allah Ta’ala menyatakan dia sama dengan telah melakukan syirik. Pelaku syirik tidak dapat menyatakan diri sebagai hamba Allah Ta’ala. Jadi hal ini merupakan maqam yang sangat menakutkan. Banyak orang beranggapan bahwa membuat pernyataan salah bukan dusta atau tidak dianggap dosa. Dalam kelompok dusta ini seolah-olah tidak ditemukan kedustaan padahal perbuatan demikian adalah dusta. Hadhrat Rasulullah saw dengan hati-hati bersabda, “Sebagai bukti seseorang adalah pendusta cukuplah dengan ini bahwa jika ia mendengar suatu berita dari orang ia cepat menyampaikannya kepada orang lain, tanpa diselidiki kebenarannya.” [12]

Pendek kata, itulah perkara-perkara halus dan sensitif yang diperintahkan untuk berusaha menghindarinya demi meraih qurb (kedekatan) Allah Ta’ala. Inilah perkara-perkara yang dikehendaki Allah Ta’ala agar kita menyambutnya dengan baik. Dan inilah perkara yang dapat menciptakan kekuatan iman kita serta dapat menjadikan kita abid (hamba) sejati Allah Ta’ala.

Mengenai puasa juga Hadhrat Rasulullah saw telah mengingatkan kita secara khusus. Terdapat sebuah riwayat yang diceritakan oleh Hadhrat Abu Hurairah ra katanya Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Orang berpuasa yang berkata dusta dan ia tidak mau meninggalkannya, Allah Ta’ala sedikitpun tidak memerlukan puasanya dengan meninggalkan makan dan minumnya itu.” [13]

Kemudian dalam riwayat lain Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘ash-shiyaamu junnatun maa lam yakhriqhu bi kadzbin wa ghiibah’ – “Puasa adalah perisai bagi orang berpuasa, selama perisai itu tidak pecah karena dusta dan ghibat.” [14]

Walaupun orang mu’min memang berpuasa, namun apabila ia berdusta maka imannya (puasanya) batal atau binasa. Puasa harus dilakukan hanya karena Allah Ta’ala. Apabila ia berkata dusta maka Tuhan dengan sendirinya keluar dari padanya. Karena dengan dusta itu telah terjadi perbuatan syirik. Untuk itulah puasanyapun berakhirlah tanpa kesan. Jangankan dalam keadaan puasa, dalam keadaan biasa juga dusta sudah dinyatakan sama dengan syirik. Jadi dalam bulan Ramadhan ini manusia perlu sekali memperhatikan keadaan pribadi masing-masing, memeriksa dengan cermat segala kelemahan, keadaan di dalam hati masing-masing kemudian berusaha mengadakan perbaikan-perbaikan barulah kita dapat menjadi hamba hakiki Allah Ta’ala. Dan kita dapat melangkah maju meningkatkan keimanan kita menjadi semakin kokoh. Kita dapat menjadi orang-orang yang selalu bersiap-sedia menyambut setiap seruan Allah Ta’ala dan dapat mendengar suara Allah Ta’ala ini, فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ   “Sesungguhnya Aku ini dekat dengan kalian!”

Di dalam Alqur’an juga Allah Ta’ala telah menjelaskan secara rinci mengenai hak-hak sesama makhluk-Nya dan kita juga telah menyaksikan secara rinci bagaimana kehidupan Hadhrat Rasulullah saw telah menunjukkan banyak sekali teladan dalam pelaksanaan terhadap sesama makhluk Allah Ta’ala. Misalnya mengenai silaturrahmi. Silaturahmi ini adalah sebagai ukuran hubungan yang nampak pada sebagian manusia. Misal lain adalah tentang pemenuhan hubungan cinta kasih kekeluargaan, Allah Ta’ala telah memberikan perintah dan ayat ini dibacakan pada setiap kesempatan khutbah nikah. Akan tetapi sangat kurang perhatian manusia untuk memenuhi hak-haknya. Padahal apabila diusahakan untuk menegakkan hubungan kekeluargaan maka kedua belah pihak harus menegakkan hubungan keluarga itu. Baik dari pihak lelaki maupun dari pihak perempuan. Apabila hak-haknya ditegakkan dengan baik maka banyak sekali perkara-perkara yang kerap terjadi dalam hubungan keluarga itu, sama sekali tidak akan muncul. Sekarang perkara-perkara yang kurang menguntungkan itu semakin bertambah jumlahnya. Hadhrat Rasulullah saw bukan hanya menegakkan silaturrahmi antara kedua belah pihak keluarga, namun beliau juga menegakkan silaturrahmi dengan keluarga yang pernah menyusui [waktu beliau saw masih bayi]. Jadi, teladan seperti ini sangat penting sekali untuk dimiliki, agar dapat menghapus krisis keluarga yang sering timbul pada masa sekarang ini. Hal itu dapat menjadi sebab yang besar bagi pecahnya suatu rumah tangga. Saya sering menyaksikan hubungan kedua suami-isteri menjadi rusak berantakan disebabkan tidak adanya saling menghormati di kedua belah pihak keluarga. Allah Ta’ala berfirman, “Jika hamba-Ku ingin meraih banyak berkat, maka ia harus memenuhi hak-hak ibadah, dan ia harus menunjukkan akhlak yang luhur dan ia harus memenuhi hak-hak sesama hamba-Ku juga.” Yang contohnya Allah Ta’ala telah menegakkan di hadapan kita melalui Hadhrat Rasulullah saw dan beliau saw juga telah banyak memberi nasihat-nasihat kepada kita. Jika keadaan kita sudah demikian baik maka kita akan termasuk orang-orang yang telah meraih qurb Allah Ta’ala. Mengenai hal ini semua Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sangat dekat tapi kalian jauh. Jadi perbaikilah amal-amal perbuatan kalian kemudian datanglah kalian mendekat kepada-Ku, maka kalian akan mendapatkan Aku bersama dengan kalian.’” Perkara ini mempunyai dua arah, bagaimanapun yang pertama harus mendekat adalah kita sebagai hamba Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk memahami perkara penting ini dan sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda, “Bagi manusia yang ingin menghindarkan diri dari dosanya ia harus menjadi orang yang rajin berdoa, supaya di  bulan yang penuh keberkahan ini karunia Allah Ta’ala turun kepada kita dan kita dapat menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang muqarrab dengan-Nya.

Di hari-hari Ramadhan ini kita harus memanjatkan doa secara khas, Jemaat pada hari-hari sebelumnya telah banyak berdoa [sekarang] tetaplah berdoa, khususnya untuk Pakistan. Berdoalah untuk Jemaat Pakistan. Berdoalah sebanyak-banyaknya seperti ini semoga Allah Ta’ala senantiasa menyelimuti kita dengan tutupan rahmat-Nya, semoga Allah Ta’ala menggagalkan semua rencana jahat musuh-musuh Jemaat, semoga Allah Ta’ala secara khas melindungi Jemaat-Nya ini  dimanapun berada, Semoga Dia menunjukkan manifestasi Qudrat-Nya secara mukjizat, dan manusia yang paling jahat dipandangan Allah Ta’ala semoga dimusnahkan oleh-Nya secara khas. Keadaan yang sedang berlaku di Pakistan, orang-orang tidak mengerti, bahkan orang-orang yang memerintah atau para pemimpin di sana juga tidak mengerti kearah mana mereka itu sedang bergerak, dan apa yang akan terjadi, hanya Allah Ta’ala Yang Maha Tahu, semoga Dia mengasihani mereka. Semoga Allah Ta’ala menunjukkan kemenangan Islam dan Ahmadiyah lebih banyak dari sebelumnya. [Aamiin]

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ [15]

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdo’alah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan do’a kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

Beberapa Doa Qur’ani [16]

           رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ  اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ  اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ  وَ عَلٰی وَالِدَیَّ  وَ اَنۡ  اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰہُ وَ اَصۡلِحۡ  لِیۡ  فِیۡ ذُرِّیَّتِیۡ ۚ اِنِّیۡ  تُبۡتُ  اِلَیۡکَ وَ اِنِّیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ

[1] ‘Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlih lii fii dzurriyatii; innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin’ – “…Wahai Tuhanku, limpahkanlah taufik kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas nikmat Engkau yang Engkau telah anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau meridhainya dan perbaikilah bagiku dalam keturunanku. Sesungguhnya, aku kembali kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf, 46:16)

وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ

[2]‘Wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin’ – “…dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang shalih.” (An-Naml, 27:20). [17]

رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا

[3]‘Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaama’ – “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan (istri/suami) kami dan keturunan kami yang menjadi penyejuk mata, dan jadikanlah kami imam (yang terdepan) bagi orang-orang yang muttaqi.” (Al-Furqan, 25:75).

رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ‏

[4]‘Rabaanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar’ – “Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat; dan hindarkanlah kami dari azab Api.” (2:202).

رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ وَ لِاَخِیۡ وَ اَدۡخِلۡنَا فِیۡ رَحۡمَتِکَ ۫ۖ وَ اَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ

[5]‘Rabbighfir lii wa li-akhii wa adkhilnaa fii rahmatika wa anta Arhamur raahimiin’ – “Ya Tuhan-ku, ampunilah diriku dan saudaraku dan masukkkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkaulah Yang Maha Penyayang di antara segala penyayang.” (Al-Araf, 7:152).

رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ اِسۡرَافَنَا فِیۡۤ  اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ

‘Rabbanaghfir lanaa dzunuubana wa israafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin’ – “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan perbuatan kami yang berlebih-lebihan dan teguhkanlah langkah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafirin.” (Al-Imran, 3:148).

اَنۡتَ وَلِیُّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا وَ ارۡحَمۡنَا وَ  اَنۡتَ  خَیۡرُ  الۡغٰفِرِیۡنَ

[6]‘Anta Waliyyunaa faghfir lanaa warhamnaa wa anta Khairul Ghaafiriin’ – “Engkaulah Pelindung kami. Maka ampunilah kami dan kasihanilah kamim karena Engkaulah yang sebaik-baik di antara pengampun.” (Al-Araf, 7:156).

وَ اکۡتُبۡ لَنَا فِیۡ ہٰذِہِ الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ  فِی الۡاٰخِرَۃِ   اِنَّا ہُدۡنَاۤ   اِلَیۡکَ

[7]‘Waktub lanaa fi haadzihid dunya hasanataw wa fil aakhirati innaa hudnaa ilaika’ – “Dan tuliskanlah bagi kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami telah mendapat petunjuk untuk kembali kepada Engkau.” (Al-Araf, 7:157).

رَبِّ اجۡعَلۡنِیۡ مُقِیۡمَ الصَّلٰوۃِ  وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ٭ۖ رَبَّنَا وَ تَقَبَّلۡ دُعَآءِ

[8]‘Rabbij’alnii muqiimash shalaati wa min dzurriyatii Rabbanaa wa taqabbal du’aa’ – “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan Salat, dan begitu juga dari keturunanku. Ya Tuhanku! Karuniailah kami dengan rahmat Engkau, dan kabulkanlah doaku.”  (Ibrahim, 14:41).

رَبَّنَا اغۡفِرۡ لِیۡ  وَ لِوَالِدَیَّ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  یَوۡمَ  یَقُوۡمُ الۡحِسَابُ

[9]‘Rabbanaaghfir lii wa liwaalidayya wa lil mu-miniina yauma yaquumul hisaab’ – “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan orang-orang Mu’min pada Hari diadakannya Hisab.” (Ibrahim, 14:42).

رَبَّنَا اصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَہَنَّمَ ٭ۖ اِنَّ عَذَابَہَا کَانَ غَرَامًا

[10]Rabbanaashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana gharaama’ – “Ya Tuhan kami, jauhkanlah dari kami azab Jahannam; karena sesungguhnya azab tersebut adalah kebinasaan yang besar. Sesungguhnya Jahannam tersebut adalah seburuk-buruknya tempat tinggal sementara dan tempat tinggal tetap.” (Al-Furqan, 25:66-67).

رَّبِّ اغۡفِرۡ وَ ارۡحَمۡ وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰحِمِیۡنَ

[11]‘Rabbighfir warham wa anta Khairur raahimiin’ – “Ya Tuhanku, ampunilah dan kasihanilah, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang sebaik-baiknya.” (Al-Muminun, 23:119).

رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا وَ ارۡحَمۡنَا وَ اَنۡتَ  خَیۡرُ  الرّٰحِمِیۡنَ

[12]‘Rabbanaa aamannaa faghfir lanaa warhamnaa wa anta Khairur Raahimiin.’ – “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan kasihanilah kami, dan Engkaulah yang sebaik-baiknya Pemberi rahmat.” (Al-Muminun, 23:110).

رَبِّ نَجِّنِىْ وَاَهْلِىْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ‏

[13]‘Rabbi najjinii wa ahlii mimma ya’maluun’ – “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat.” (Asy-Syu’aara 26:170).

رَبِّ ابْنِ لِىْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِىْ الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِىْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِىْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

[14]‘Rabbib ni lii ‘indaka baitam fil jannati wa najjinii min Fir’auna wa ‘amalihi wa najjinii minal qaumizh zhaalimiin’ – “Ya Tuhanku! Buatkanlah bagiku di sisi Engkau sebuah rumah di Surga, dan selamatkanlah diriku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim/jahat;” (At-Tahrim, 66:12).

اَنِّیۡ  مَغۡلُوۡبٌ  فَانۡتَصِرۡ

[15]‘annii maghluubun fantashir’ – “… Sesungguhnya aku dikalahkan, maka tolonglah aku.” (Al-Qamar, 54:11).

رَبِّ نَجِّنِیۡ مِنَ الۡقَوۡمِ  الظّٰلِمِیۡنَ

[16]‘Rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin’-“Ya Tuhan-ku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim/aniaya.” (Al-Qashash, 28:22).

رَبِّ اِنَّ قَوْمِىْ كَذَّبُوْنِ‌

فَافْتَحْ بَيْنِىْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِىْ وَمَنْ مَّعِىَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

[17]‘Rabbi inna qaumii kadzdzabuuni faftah baini wa bainahum fathaw wa najjinii wa mam ma’iya minal mu-miniin.’ – “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; Maka berilah keputusan antara aku dan mereka, keputusan yang pasti, dan selamatkanlah aku dan orang-orang mu’min yang ada besertaku.” (Asy-Syu’ara, 28:118-119).

رَّبِّ اَعُوۡذُ بِکَ مِنۡ ہَمَزٰتِ الشَّیٰطِیۡنِ

[18]‘Rabbi a’uudzu bika min hamazaatisy syayaathiin.’ – “Ya Tuhan-ku, aku berlindung kepada Engkau dari segala hasutan syaitan. ‘Dan aku berlindung kepada Engkau, ya Tuhan-ku, supaya jangan mereka menghampiri diriku.” (Al-Muminun, 23: 98-99).

رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا  وَّ تَوَفَّنَا مُسۡلِمِیۡنَ

[19]‘Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabraw wa tawaffanaa muslimiin.’ – “…Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan menyerahkan diri.” (Al-Araf, 7:127).

رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ

[20]‘Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.’ – “Ya Tuhan kami, kami telah berlaku aniaya terhadap diri kami, dan, jika Engkau tidak mengampuni kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-Araf, 7:24).

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ

[20]‘Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmah; innaka antal Wahhaab.’ – “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bengkokkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (Ali Imran, 3:9).

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوْلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ

[21]‘Rabbanaa laa tu-akhidznaa in nasiina aw akhtha-naa; Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainiaa ishran kamaa hamaltahu ‘alalladziina min qablinaa; Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih; wa-fu ‘annaa waghfir lanaa warhamnaa anta Maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ – “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya, dan maafkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami karena Engkau adalah Pelindung kami, maka tolonglah terhadap kaum kafirin.” (Al-Baqarah, 2: 287).

رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ

[22]‘Rabbanaa afrigh ‘alaini shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ – ‘…Ya Tuhan kami, anugerahkanlah ketabahan atas kami, dan teguhkan langkah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafirin.’(Al-Baqarah, 2:251).

رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ الۡقَوۡمِ  الظّٰلِمِیۡنَ

[23]Rabbanaa laa taj’alnaa ma’al qaumizh zhaalimiin.’ – “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang zalim.’ (Al-Araf, 7:48).

رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ

[24]‘Rabbanaa aamanna bimaa anzalta wattaba’nar Rasuula faktubnaa ma’asy Syaahidiin.’ – “Ya Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul ini, maka catatlah kami termasuk bersama orang-orang yang syahid (penyaksi kebenaran).” (Ali Imran, 3:54)

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih Al-Bukhari Kitab ash-Shaum Baab Ajwadu Maa kaanan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam fii Ramadhan hadits nomor 1902

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ ـ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ـ كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ‏.‏

[3] Shahih Al-Bukhari Kitab al-Adab Bab Rahmatul Walad wa Taqbiiluhu wa Ma’aaniqatuhu hadits nomor 5999

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم سَبْىٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْىِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْىِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ ‏”‏‏.‏ قُلْنَا لاَ وَهْىَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ‏”

[4] Shahih Al-Bukhari Kitab ash-Shalaah, Baab ash-Shalaah fis Suthuuh; Shahih Al-Bukhari Kitab al-Mardha Baab idzaa ‘aada mariidhan fahadharatish shalaatu fa shalla bihim jamaa’atan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَقَطَ عَنْ فَرَسِهِ، فَجُحِشَتْ سَاقُهُ أَوْ كَتِفُهُ، وَآلَى مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا، فَجَلَسَ فِي مَشْرُبَةٍ لَهُ، دَرَجَتُهَا مِنْ جُذُوعٍ، فَأَتَاهُ أَصْحَابُهُ يَعُودُونَهُ، فَصَلَّى بِهِمْ جَالِسًا، وَهُمْ قِيَامٌ فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ ‏”‏ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا ‏”‏‏.‏

[5] Kitab Tarikh (sejarah) ‘Futuhul ‘Arab’ (Kemenangan-Kemenangan Bangsa Arab) karya Muhammad bin Umar al-Waqidi, terj. Urdunya ‘Syuruuhul Harb’ oleh Maulwi Mumtaaz Beik hlm. 387-390, Maktabah Rahmaaniyah, Lahore.

[6] Shahih Al-Bukhari Kitab at-Tahajjud Baab qiyaamun Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam bil lail fii Ramadhan wa ghairuhu hadits nomor 1147

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَأَلَ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا، قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَىَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي ‏”‏‏.

[7] Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Adzaan, Baab Haddil Mariidh an Iisyahada al-Jama’ah (bab batas sakit seseorang untuk menghadiri jamaah) hadits 664

قَالَتْ عَائِشَةُ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَاشْتَدَّ وَجَعُهُ اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِي بَيْتِي فَأَذِنَّ لَهُ، فَخَرَجَ بَيْنَ رَجُلَيْنِ تَخُطُّ رِجْلاَهُ الأَرْضَ، وَكَانَ بَيْنَ الْعَبَّاسِ وَرَجُلٍ آخَرَ‏.‏ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَالَ لِي وَهَلْ تَدْرِي مَنِ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ تُسَمِّ عَائِشَةُ قُلْتُ لاَ‏.‏ قَالَ هُوَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ‏.

[8] Malfuzhaat jilid som (III), halaman 617, edisi baru, Rabwah

[9] Shahih Muslim Kitab al Jihad, Bab al-Wafaa bil ‘Ahdi,

حَدَّثَنَا أَبُو الطُّفَيْلِ حَدَّثَنَا حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ، قَالَ مَا مَنَعَنِي أَنْ أَشْهَدَ، بَدْرًا إِلاَّ أَنِّي خَرَجْتُ أَنَا وَأَبِي – حُسَيْلٌ – قَالَ فَأَخَذَنَا كُفَّارُ قُرَيْشٍ قَالُوا إِنَّكُمْ تُرِيدُونَ مُحَمَّدًا فَقُلْنَا مَا نُرِيدُهُ مَا نُرِيدُ إِلاَّ الْمَدِينَةَ ‏.‏ فَأَخَذُوا مِنَّا عَهْدَ اللَّهِ وَمِيثَاقَهُ لَنَنْصَرِفَنَّ إِلَى الْمَدِينَةِ وَلاَ نُقَاتِلُ مَعَهُ فَأَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرْنَاهُ الْخَبَرَ فَقَالَ ‏”‏ انْصَرِفَا نَفِي لَهُمْ بِعَهْدِهِمْ وَنَسْتَعِينُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ ‏”

[10] Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shalat, bab ash-Shalaatu fits Tsaub al-Waahid multahifan bihi, 357

حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ، مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ، مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ، تَقُولُ ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ الْفَتْحِ، فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ، وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ قَالَتْ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ ‏”‏ مَنْ هَذِهِ ‏”‏‏.‏ فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ ‏”‏‏.‏ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ، قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، زَعَمَ ابْنُ أُمِّي أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ فُلاَنَ بْنَ هُبَيْرَةَ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ ‏”‏‏.‏ قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَاكَ ضُحًى‏. ‘Malik bin Anas menceritakan, dari Abu an-Nadhr, maula Umar bin ‘Ubaidullah bahwa Abu Murrah, maula Ummu Hani putri Abu Thalib mengabarkan padanya bahwa ia mendengar Ummu Hani putri Abu Thalib berkata, “Saya pergi mengunjungi Rasulullah pada ‘Aamul Fath (pembukaan, penaklukan Makkah oleh kaum Muslim), saya mendapati beliau sedang mandi dan ditutupi oleh Fathimah, putri beliau. Dia berkata, “Saya pun mengucap salam kepada beliau. Maka beliau bertanya, “Siapa ini?” Maka saya menjawab, “Saya Ummu Hani putri Abu Thalib.” Beliau berkata, “Selamat datang, wahai Ummi Hani.” Maka setelah selesai mandi beliau saw mengerjakan shalat 8 rakaat dengan satu salam. Setelah selesai beliau membalikkan badan dan saya berkata, “Putra ibuku [saudaranya, yaitu Ali putra Abu Thalib] ingin sekali membunuh seseorang yang telah aku lindungi, dia Fulan bin Hubairah (penjahat perang yang pernah menganiaya orang Muslim).” Maka bersabda Rasulullah saw, “Hai Ummi Hani! Siapa yang telah engkau beri perlindungan, kamipun memberi perlindungan kepadanya.” Waktu itu Dhuha.

[11] Malfuzhaat, jilid dom (II), halaman 266, edisi baru Rabwah

[12] Shahih Muslim, Kitab al-Muqaddimah, bab an-Nahyi ‘anil Hadits bi kulli ma sami’a (bab larangan membicarakan segala sesuatu yang didengarnya)

عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ ‏”‏ ‏.‏

‘dari Khubaib bni ‘Abdir rahmaan, dari Hafsh bni ‘Ashim berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘kafaa bil mar-i kadziban an yuhadditsu bi kulli maa sami’a’ – “Cukuplah bagi seseorang berdusta bila ia membicarakan dengan orang lain apa-apa yang didengarnya (tanpa cek-ricek atau klarifikasi).”

[13] Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shaum, Baab man lam yada’ qaulaz zuur wal ‘amal bihi fish shaum  hadits nomor 1903

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ‏

‘Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Man lam yada’ qaulaz zuuri wal ‘amala bihi falaisa lillaahi haajatun fii an yada’a tha’aamahu wa syarabahu.’ – “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan amal perbuatan atas dasar itu maka tidak ada kepentingan bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya tidak berharga dalam pandangan Allah-Red.).”]

[14] Al-Jami’ush Shaghir karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, harf ash-Shaad, 5197, juz awwal dan kedua, halaman 320, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2004; juga terdapat dalam ‘Al-Mu’jam al-Kabir’ karya ath-Thabrani.

[15] Rujukan pola kata-kata khotbah kedua ini ialah hadits Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shalaah, Abwaabul Jumu’ah, Bab ar-Rajulu yakhthubu ‘alal qaum.

[16] Disampaikah oleh Hadhrat Khalifatul Masih al-Khaamis dalam Khotbah Jum’at 10-09-2010 di akhir bulan Ramadhan.

[17] رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ