Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 26 Oktober 2018 (Ikha 1397 Hijriyah Syamsiyah/16 Safar 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitus Sami’, Houston, Texas, USA (Amerika Serikat)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Sebuah ihsaan (kebaikan) yang besar dari Allah Ta’ala bagi kita ialah Dia dengan karunia-Nya telah menganugerahi kita taufik untuk mengimani Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (علیہ الصلوۃ والسلام), hamba sejati (غلام صادق) Baginda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (صلی اللہ علیہ وسلم), yang mana Nabi yang mulia (saw) menyebutnya sebagai مَهْدِينَا ‘Mahdi kami’. Sebutan tersebut merupakan derajat luhur pernyataan kecintaan dan kedekatan yang dianugerahkan Rasulullah (saw)  kepada Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud) dan yang juga Al-Mahdi yang ditunggu-tunggu (Mahdi Ma’hud) ‘alaihis salaam dengan menyebutnya Mahdiyinaa – Mahdi kami.[1]

Di satu sisi, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan dalam tulisan-tulisan beliau (as) berkenaan dengan status Islam sebagai agama yang paling mulia, membungkam mulut para penentang yang melontarkan keberatan dan membuktikan pada masa ini jika ada agama yang dapat memberikan najat (keselamatan) hakiki dari dosa dan mendekatkan manusia kepada Allah Ta’ala maka itu semata-mata hanya Islam. Di sisi lain, sebagai tarbiyat (pendidikan) bagi Jemaat beliau (as), beliau (as) pun menyampaikan nasihat tidak terhingga jumlahnya melalui ceramah-ceramah, tulisan-tulisan dan majlis-majlis yang merupakan pedoman dan sarana petunjuk bagi setiap sendi kehidupan kita.

Dengan penuh simpati beliau memberikan petunjuk kepada para pengikut beliau untuk melaksanakan haq (kewajiban) baiat dan menjadi orang beriman hakiki. Kita juga harus selalu memperhatikan nasihat-nasihat tersebut karena inilah yang merupakan sarana tarbiyat bagi ruhani kita. Inilah sarana yang dengannya kita dapat meraih pemahaman agama. Inilah sarana yang dengannya kita dapat mencari jalan untuk meraih Qurb (kedekatan) Ilahi. Inilah sarana yang dengannya kita dapat sampai pada rahasia dan makrifat Al Quran. Inilah sarana yang dengannya kita dapat mengenal maqam (derajat kedudukan luhur) dan martabat Rasulullah. Inilah sarana yang dengannya kita dapat memperbaiki kondisi akidah kita. Inilah sarana yang dengannya kita dapat membawa perbaikan pada keadaan diri. Sangatlah merugi jika dalam keberadaan khazanah tersebut namun kita tidak memanfaatkannya.

Sedemikian rupa dahsyatnya daya penyucian yang terdapat dalam perkataan beliau sehingga tidak mungkin dijumpai pengaruh yang semisal dalam perkataan orang lain. Kenapa tidak, karena beliaulah imam yang telah diutus oleh Allah Ta’ala sebagai hamba sejati Rasulullah untuk menghidupkan Islam yang kedua kali dan meraih Qurb (kedekatan) Ilahi di zaman ini.

Dengan demikian, wajib bagi kita yang menyatakan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk membaca dan mendengarkan sabda-sabda beiau serta berusaha untuk mengamalkannya. Tingkatkanlah tolok ukur keadaan kita pada tingkatan yang diharapkan Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Saat ini saya akan sampaikan beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang merupakan pedoman bagi hidup kita. Ada satu tujuan yang beliau tetapkan bagi kita guna menjelaskan bagaimana seyogyanya menjadi seorang Ahmadi? Bagaimana idealnya tolok ukur yang hendaknya ia capai?

Pada zaman materialistik ini orang-orang semakin bertambah menganggap penting terhadap hal-hal duniawi dan kecenderungan sebagian orang dari kita dalam mengutamakan hal-hal duniawi semakin meningkat sehingga agama tidak mendapatkan prioritas yang semestinya. Secara akidah kita mengaku sebagai Ahmadi namun bermunculan banyak sekali kelemahan amal perbuatan. Maka dari itu, setiap Ahmadi dapat mengevaluasi diri dengan merujuk pada sabda-sabda berikut, dimanakah posisi kita saat ini dan dimanakah seharusnya? Apa itu takwa dan bagaimana standar takwa yang seharusnya? Apa itu kebaikan dan bagaimana standar yang seharusnya? Apa tanggung jawab kita berkenaan dengan hal itu?

 Allah Ta’ala berkali kali berfirman untuk meraih ketakwaan sejati yang diridhai-Nya, يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah’, dan juga berfirman, إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ Innallaaha ma’alladziinattaqou walladziina hum muhsinuun.’ Yang artinya, Allah Ta’ala senantiasa menyertai dan menolong orang-orang yang bertakwa.”

Beliau (as) bersabda, “Taqwa adalah menjauhi keburukan sedangkan muhsinun adalah tidak hanya menjauhi keburukan bahkan juga melakukan kebaikan. Lalu, Allah Ta’ala berfirman: Lilladziina ahsanul husna yakni melakukan kebaikan tersebut dengan sebaik baiknya.

Takwa artinya menjauhi keburukan sedangkan muhsinuun adalah tidak hanya cukup menjauhkan diri dari keburukan bahkan berbuat kebaikan juga. Lalu, Allah Ta’ala, لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ‘Lilladziina ahsanul husna’ – ‘Mereka melakukan amalan saleh tadi dengan sebaik-baiknya.’ (Surah Yunus, 10:27)”

Beliau (as) bersabda: “Berkali-kali turun wahyu kepada saya yaitu, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. Begitu bertubi-tubinya turun sehingga saya tidak dapat menghitung jumlahnya. Mungkin dua ribu kali, Allah lebih mengetahui. Maksud hal itu ialah supaya Jemaat mengetahui bahwa seyogyanya mereka tidak lantas merasa cukup telah bergabung dalam Jemaat ini atau merasa senang dengan iman secara pemikiran dan keyakinan. Melainkan, penyertaan dan pertolongan Allah Ta’ala akan diperoleh jika terdapat ketakwaan hakiki dan diiringi dengan kebaikan.”[2]

Beliau (as) bersabda, “Bukanlah hal yang patut dibanggakan bahwa manusia merasa bahagia misalnya tidak melakukan zina, tidak membunuh, tidak mencuri. Bukanlah satu keistimewaan atau patut dibanggakan karena telah terhindar dari perbuatan buruk.”

Beliau (as) bersabda, “Karena sebetulnya ia tahu bahwa jika dia mencuri, maka dari segi hukum dia akan dihukum dengan ditangkap dan dipenjara. Dalam pandangan Allah ta’ala Islam bukanlah nama dari menjauhi perbuatan buruk, melainkan sebelum seseorang melakukan kebaikan setelah meninggalkan keburukan, ia tidak akan dapat hidup dalam kehidupan ruhani tersebut. Kebaikan berfungsi sebagai asupan makanan. Sebagaimana seorang manusia tidak akan dapat hidup tanpa asupan makanan, begitu pula sebelum seseorang menempuh kebaikan, tidak ada artinya.”

Jika setelah meninggalkan keburukan disertai dengan berbuat baik, baru akan mendapatkan kehidupan.

Bagaimana beberapa keburukan dapat berdampak pada kehidupan manusia yang mana iapun tidak menyadarinya namun disebabkan itulah pada satu waktu ia dicengkeram oleh Allah Ta’ala. Berkenaan dengan itu beliau bersabda, “Sebagian dosa tampak jelas misalnya berdusta, berzina, berkhianat, memberikan kesaksian palsu dan merampas hak orang lain dan lain sebagainya. Namun, sebagian dosa begitu halus sehingga manusia terjerumus di dalamnya dan sedikit pun tidak menyadarinya. Hal itu membuatnya sejak muda hingga tua tidak menyadari telah berbuat dosa.” (Waktunya pun berlalu dengan berbuat dosa. Dia menganggapnya dosa tersebut kecil.) Misalnya, seseorang biasa melakukan ghibah (membicarakan kelemahan orang lain).”

Sebagian orang mempunyai kebiasaan mengkritik orang lain maksudnya mengkritik hal-hal kecil, menyatakan celaan mereka di depan orang-orang. Jika ada suatu kabar, maka dipelintir menjadi begini dan begitu demi membuat orang saling teradu.

Beliau (as) bersabda, “Orang seperti ini menganggap hal tersebut sepele, padahal Al- Quran menetapkannya sangat besar, inilah hal-hal kecil yang pada akhirnya menjadi ghibat. Untuk itu Al-Quran menetapkannya sangat besar sebagaimana difirmankan, أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَاكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا A yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maitan. Allah Ta’ala murka kepada orang yang mengucapkan suatu perkataan yang membuat saudaranya terhina.” (Allah Ta’ala telah berfirman bahwa perbuatan ini serupa dengan memakan daging saudaranya?)

“Allah Ta’ala murka kepada orang yang mengucapkan suatu perkataan yang membuat saudaranya terhina dan melakukan sesuatu yang membuat orang lain tersinggung.” (Artinya, dia harus berhenti berbicara menentangnya juga, karena beberapa pernyataan menjadi mengganggu bagi orang lain, lalu mulailah mengkritik, mulai menggunjing, berburuk sangka satu sama lain, lalu saling diadukan satu dengna yang lain sehingga  manusia sampai pada keadaan dimana dia berupaya untuk merugikan orang lain secara materi dengan berusaha membuktikan kebodohannya.)

Beliau bersabda, “Menceritakan sesuatu mengenai saudaranya yang darinya terbukti saudaranya itu bodoh atau mengungkit secara halus kebodohan sebagian orang yang dari itu timbul pertentangan dan permusuhan adalah perbuatan buruk.

Beliau bersabda, “Begitu juga sifat bakhil dan marah semuanya perbuatan buruk. Jadi, berdasarkan firman Allah Ta’ala tersebut, tingkatan pertama adalah manusia menjauhi segala keburukan dan senantiasa menghindari berbagai macam dosa apakah itu berkaitan dengan mata, telinga, tangan atau kaki.” (Apakah berkaitan dengan mata, telinga, tangan atau kaki atau bagian tubuh manapun harus terhindari dari dosa.) “Karena berfirman, وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ‘Wa laa taqfu maa laisa laka bihii ilmun innas sam’a wal bashara wal fuaada kullu ulaaika kaana masuula.’ Artinya, ‘Sesuatu yang kalian tidak ada pengetahuan mengenainya janganlah mengikutinya begitu saja karena telinga, mata dan berbagai anggota tubuh akan ditanyai (dimintai pertanggungjawabannya). Setelah mati manusia akan pergi kepada Allah ta’ala, maka tadi semua akan ditanyai.’ (Surah al-Isra ayat 37)”

Beliau (as) bersabda, “Banyak sekali keburukan yang timbul hanya dari buruk sangka. Ketika mendengar sesuatu mengenai si Fulan, langsung saja diyakini tanpa diteliti terlebih dahulu. Perbuatan seperti itu sangatlah buruk. Sesuatu yang tidak ada pengetahuan dan keyakinan mengenainya, janganlah menyimpannya didalam hati. Ini sebenarnya untuk menjauhkan buruk sangka yakni selama belum menyaksikan dan diputuskan kebenarannya, janganlah berikan tempat didalam hati dan jangan juga menceritakannya.”

Beliau (as) bersabda, “Betapa kokoh dan kuatnya perkataan berikut ini bahwa banyak sekali manusia yang dicengkram disebabkan ucapan mulutnya.”

Walhasil, jika sifat buruk sangka itu berhasil dijauhkan, maka setengah kekacauan, perselisihan dan permusuhan akan hilang dalam masyarakat. Sehingga tercipta persatuan. Beliau (as) bersabda, “Di dunia pun tampak banyak sekali manusia yang dicengkram (dihukum) disebabkan mulutnya sehingga mereka terpaksa menanggung penyesalan dan kerugian mendalam.”

Maksudnya, jika ada gosip langsung dia ceritakan padahal terbukti tidak benar kabar tersebut lalu merasa malu karena kabarnya tidak benar. Karena itu, lebih baik tidak berburuk sangka, berfikirlah positif mengenai orang lain atau jika mendapatkan suatu berita, selidikilah kebenarannya. Manusia lemah, kadang masuk suatu khayalan ke dalam hati, namun jika hanya sebatas sampai di dalam pemikiran dan tidak dia lakukan, maka Allah Ta’ala akan memaafkannya. Allah Ta’ala tidak lantas akan mencengkram jika hanya sebatas dalam pemikiran. Manusia akan dicengkeram jika melaksanakan khayalan atau niat buruk itu.

Pemikiran berbahaya dan sepintas lalu jika terlintas di benak tidak akan menyebabkan seseorang diazab. Misalnya jika terlintas di benak seseorang, ‘Jika saya mendapatkan harta ini, bagus sekali.’

Memang itu merupakan pemikiran rakus. Namun jika hanya sebatas itu muncul di dalam hati secara alami lalu hilang lagi tidak akan dicengkeram. Namun jika pemikiran itu diberikan tempat di hati lalu muncul niat dengan alasan apapun untuk mengambil benda tersebut maka itu adalah dosa.” Artinya mencarinya dengan cara yang haram atau jika muncul pemikiran bahwa pajak yang harus dibayar sejumlah sekian, lantas jika aku upayakan untuk kurangi jumlah pajak itu, maka uangku akan selamat sekian banyak.

Jika terpikir seperti itu tidaklah mengapa, Allah Ta’ala tidak akan mencengkramnya. Namun jika itu diwujudkan dalam amalan dengan mengakali pajak dengan merugikan negara atau tidak memberikan keterangan yang jujur kepada pemerintah dengan mengurangi besarnya penghasilan dalam kolom tagihan, maka Allah Ta’ala akan mencengkeramnya. Namun banyak sekali pengalaman, banyak sekali contoh kasus orang-orang yang penghasilannya perlahan semakin berkurang jumlahnya sesuai dengan laporan palsu ketika membayar pengorbanan harta di hadapan Allah Ta’ala atau ketika melaksanakan kewajiban kepada pemerintah.

Beliau bersabda: Dosa seperti itu layak untuk dicengkeram. Walhasil, ketika hati sudah bertekad dan untuk itu melakukan kenakalan dan penipuan di kalangan orang duniawi.”

Dalam keserakahan dunia, pebisnis atau pelaku pekerjaan lainnya menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan sesuatu. Ketika muncul pemikiran di dalam hati lalu mulai diamalkan, mulai direncanakan, maka dosa tersebut layak untuk dicengkeram.

“Jadi, ini merupakan jenis dosa yang sangat kurang mendapatkan perhatian serius dan ini dapat menyebabkan kehancuran manusia. Kebanyakan manusia menjauhi dosa-dosa yang besar dan jelas, banyak sekali manusia yang tidak pernah membunuh, mencuri, merampok atau dosa-dosa besar lain sejenisnya. Namun pertanyaanya adalah berapakah jumlah orang yang tidak menggunjing, tidak berburuk sangka kepada orang lain?!”

(Berapakah jumlah orang yang tidak menghina dan membuat orang lain menderita? Yang tidak menyinggung perasaan orang lain?) “Atau yang tidak bersalah dengan berdusta?” (Kedustaan pun memiliki banyak jenisnya. Allah ta’ala mengatakan kepada umat Muslim dan Mukmin untuk jangan berdusta walaupun sedikit saja. Dalam setiap ucapan kalian harus jujur.) “Sekurang-kurangnya jika timbul pemikiran yang berbahaya didalam hati, jangan biarkan berlangsung lama.” Meskipun tidak banyak orang yang seperti itu.

Beliau bersabda, “Saya dapat katakan dengan pasti sedikit jumlah orang yang memperhatikan hal-hal tersebut.” (Yaitu mereka yang tidak menimpakan penderitaan kepada orang lain, yang tidak menggunjing orang lain, yang berburuk sangka, berdusta, yang tidak menyimpan pemikiran buruk di dalam hati.) “Sangat sedikit jumlah orang yang terhindar dari perbuatan itu dan takut kepada Allah ta’ala.” (Mereka tidak melakukan semua perbuatan itu, tidak melakukannya disebabkan takut kepada Allah Ta’ala.) “Padahal akan dijumpai banyak orang yang berkata dusta dan setiap saat dalam perkumpulannya menyampaikan kritikan dan gunjingan kepada orang-orang, mereka menimpakan berbagai macam pernderitaan kepada saudaranya yang lemah.”

(Silahkan evaluasi sendiri pertemuan-pertemuan Anda, maka akan tampak dalam obrolan-obrolannya terlontarkan cemoohan kepada orang lain, hal hal yang dusta diada adakan, diolok-olok dan disebabkan perbuatan itu terjadilah pertengkaran dan permusuhan. Standar kebaikan yang diharapkan dari seorang beriman ialah ia menghindar dari itu semua seperti yang diharapkan darinya untuk menghindari.)

Beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman bahwa tahapan pertama adalah manusia menempuh ketakwaan. Saat ini saya tidak bisa menjelaskan secara rinci perihal perbuatan buruk. Dalam Quran Syarif dari awal hinga akhir terdapat perintah dan larangan serta rincian hokum-hukum Ilahi.”

(Apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Ada di dalam Al Quran. Seorang mukmin harus membaca Al Quran dan memahaminya.)

Beliau (as) bersabda, “Ratusan ranting dan berbagai jenis hukum dijelaskan di dalamnya. Secara ringkas saya sampaikan bahwa Allah Ta’ala sama sekali tidak akan setuju jika ada yang berbuat kekisruhan di bumi. Allah ta’ala ingin menciptakan kesatuan di dunia, namun orang yang menimpakan penderitaan kepada saudaranya, zalim dan berkhianat, berarti ia adalah musuh dari kesatuan dan tidak mungkin akan tercipta persatuan.” (Hal itu karena dengan begitu tidak mungkin akan timbul kecintaan dan persaudaraan.)

Beliau (as) bersabda, “Itu adalah musuh persatuan. Sebelum pemikiran buruk ini tidak hilang dari hati, tidak pernah mungkin akan tersebar kesatuan sejati. Maka dari itu, tahapan tersebut diletakkan paling awal.”

Inilah keberkatan dalam Jemaat yang satu yakni tercipta satu kesatuan dan inilah tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan inilah tujuan kedatangan Imam Mahdi yakni untuk menyatukan umat Muslim di bawah satu tangan, menjadikan satu umat.

Lalu beliau bersabda, “Pada umumnya tampak kebanyakan orang yang duduk dalam suatu pertemuan, ketika mendengar hal-hal yang seperti itu, hati mereka terpengaruh dan menganggapnya baik.” (Yakni ketika mendengar perkara perkara baik atau ketika disampaikan khutbah dan orang orang menyimaknya hatinya terkesan. Banyak orang yang menyampaikan hal tersebut kepada saya melalui surat.)

“Namun ketika mereka meninggalkan pertemuan tersebut lalu berjumpa dengan kawan-kawannya maka corak semula yang lebih mewarnai kemudian melupakan hal-hal baik yang dia dengar dalam pertemuan sebelum itu.”

(Untuk itu saya sampaikan bahwa kita harus mengingatkan hal tersebut berkali-kali dan terus memperhatikan supaya dapat menjadi pengingat sebelum lupa.)

“Ia kembali ke perilaku yang sebelumnya. Setiap orang hendaknya terhindar dari itu. Perlu bagi kita untuk meninggalkan pertemuan-pertemuan dan persahabatan-persahabatan yang di dalamnya disampaikan hal-hal seperti itu. Seiring dengan itu perlu diingat supaya kita mengetahui secara mendalam apa itu segala perkara buruk tadi, karena mengetahui ilmu adalah sesuatu yang terpenting sebelum meminta untuk melakukan sesuatu.”

(Artinya, jika seseorang menginginkan sesuatu dan memintanya, maka perlu baginya untuk mengetahui, bagaimana benda itu? Apakah baik atau buruk? Perlu juga untuk mengetahui kebaikan begitu pun keburukan. Supaya jika diketahui sesuatu itu buruk, maka tinggalkanlah. Sebaliknya jika baik, ambillah.)

Beliau bersabda, “Sebelum memiliki pengetahuan mengenai sesuatu, bagaimana dapat meraihnya? Berkali-kali dijelaskan oleh Al-Qur’an. Walhasil, bacalah Al Quran berkali-kali lalu tuliskanlah daftar penjelasan mengenai perbuatan-perbuatan buruk kemudian berupayalah dengan meminta karunia dan pertolongan Tuhan supaya kalian terhindar dari keburukan-keburukan itu. Ini merupakan tingkatan pertama ketakwaan.” (Yakni terhindar dari keburukan.) “Jika kalian berupaya untuk itu, maka Allah akan memberikan taufik kepada kalian.” (untuk terhindar.) “Lalu kalian akan diberikan minuman sirup kafuri (شرابا كافوريا) yang dengannya gejolak nafsu kalian untuk melakukan dosa sama sekali akan mereda.”

Berkenaan dengan kafuri para tabib menulis bahwa ini digunakan untuk mendinginkan gejolak nafsu. Orang-orang menggunakannya dan biasa terdapat juga dalam racikan obat. Beliau telah memberikan contoh di sini untuk penyakit ruhani, yakni ketika kalian terhindar dari keburukan, maka inilah yang akan menjadi sirup kafuri bagi kalian yang dengan menggunakannya secara perlahan keinginan untuk melakukan dosa akan mereda dan akan terus menghilang.

“Setelah itu yang tampil dari kalian adalah kebaikan-kebaikan. Sebelum manusia menjadi seorang muttaqi, minuman tersebut tidak diberikan padanya dan tidak juga timbul corak pengabulan dalam ibadah dan doa-doanya. Jika kalian ingin doa-doa kalian dikabulkan, untuk itu yang paling pokok adalah berhenti dari keburukan-keburukan dan milikilah kebaikan. Inilah takwa. Ini merupakan syarat supaya doa kita terkabul karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ Innamaa yataqabbalullaahi minal muttaqiin. ‘Artinya,i Pasti Allah ta’ala akan mengabulkan ibadah orang-orang yang bertakwa.’ (Surah al-Maaidah:28) Memang benar, puasa dan shalat orang-orang muttaqi-lah yang akan diterima.”

Apakah makna pengabulan atas ibadah-ibadah tersebut? Apa maksudnya? Dalam menjelaskan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ketika saya mengatakan shalat seseorang diterima maka maksudnya adalah tampak pengaruh dan keberkatan shalat dalam diri orang yang shalat tersebut. Sebelum pengaruh dan keberkatan itu tampak, berarti shalatnya hanya gerakan saja seperti gerakan unggas yang mematuk-matuk. Apalah manfaat shalat dan puasa orang yang jika telah shalat di masjid ini lalu mulai mengeluhkan (mengkritik) orang-orang lain,”

(Orang-orang bertanya: Bagaimana dapat mengetahui bahwa Allah Ta’ala menerima shalat kita atau tidak? Ciri shalat atau ibadah adalah setelah shalat dan ibadah tersebut hendaknya diperhatikan apakah setelah shalat keburukan besar maupun kecil mulai terjauh dari kita lalu timbul kebencian padanya? Apakah setelah shalat timbul perhatian besar dalam diri kita untuk melakukan kebaikan atau melangkah kearah kebaikan? Jika belum, berarti shalatnya hanya gerakan saja.

Beliau (as) bersabda, “Apalah manfaat shalat dan puasa orang yang jika telah shalat di masjid ini lalu mulai mengeluhkan (mengkritik) orang lain, berburuk sangka pada orang lain dan mengkhianati amanat.”

(Dalam pertemuan atau rapat pun terdapat amanat. Khususnya para pengurus hendaknya memperhatikan untuk tidak menyampaikan amanat pertemuan atau rapat Jemaat kepada keluarga di rumah dan juga kepada orang-orang yang tidak ada kepentingan. Hendaknya ada larangan untuk itu. Banyak sekali hal buruk, kekisruhan yang muncul disebabkan karena amanat pertemuan tadi menyebar kepada orang yang tidak berkepentingan, muncul perasaan iri mendengar kabar kedudukan seseorang atau menyerang kehormatan orang lain.)

Beliau (as) bersabda, “Jika terjerumus dalam aib dan keburukan seperti itu, lantas manfaat apa yang diberikan oleh shalatnya itu?”

Saya mengenal beberapa pemuda secara pribadi yang sering menulis surat kepada saya, menyatakan bahwa karena melihat ulah buruk sebagian sesepuh dan pengurus Jemaat membuat mereka pertama secara perlahan mulai menjauh dari Jemaat, menjauh dari masjid, dari ibadah bahkan mulai menjauh dari Allah Ta’ala. Shalat para sesepuh yang berulah buruk seperti itu tidak hanya nihil dari segi manfaat bagi yang mengerjakannya bahkan memberikan kerugian kepada orang lain. Walhasil, jika kita ingin menjaga keberlangsungan generasi keturunan, hal pertama ialah para sesepuh dan pengurus perlu untuk menciptakan ketakwaan di dalam diri mereka.

Beliau (as) bersabda, “Tahapan pertama dan sulit bagi manusia yang ingin menjadi orang yang beriman adalah jauhilah perbuatan buruk, inilah yang namanya ketakwaan.”

Dalam satu kesempatan beliau bersabda, “Ingat pula bahwa takwa bukanlah nama dari menjauhi keburukan-keburukan yang jelas melainkan senantiasa terhindar dari keburukan keburukan yang sehalus-halusnya. Misalnya, ikut duduk-duduk dalam obrolan yang di dalamnya orang lain dicemooh atau majlis yang keliru yaitu yang mana Allah dan Rasul-Nya tidak dihargai atau di dalamnya orang lain direndahkan kehormatannya. Meskipun orang tersebut tidak mengiyakan obrolan itu, namun dalam pandangan Allah Ta’ala tetap buruk.” (Memang benar ia tidak ikut berbicara namun kenapa menyimak obrolan yang seperti itu?) “Ini adalah pekerjaan mereka yang di dalam hatinya terdapat penyakit, karena jika di dalam dirinya terdapat kesadaran penuh akan keburukan, lantas kenapa berbuat demikian? Dan kenapa masuk dan mendengar obrolan seperti itu dalam majlis tersebut?

Beliau bersabda, “Ingatlah juga bahwa orang yang mendengarkan atau melakukan hal-hal seperti itu terhitung sebagai pelaku. Orang yang mengucapkan ucapan demikian, jelas jelas tercatat akan mendapat hukuman, karena mereka telah melakukan dosa. Namun orang yang duduk terdiam mendengarkan obrolan seperti itu pun akan menjadi sasaran dosa tersebut. Dia pun menjadi pendosa juga dan siap untuk merasakan akibatnya. Bagian ini perlu diingat dengan baik dan bacalah lalu renungkan Al-Quran berkali-kali.”

(Karena merupakan perintah Allah sehingga perlu untuk diingat. Walhasil, orang yang mendengarkan obrolan buruk lalu tetap diam dan duduk hanya menyimak saja atau menikmati obrolan seperti itu, orang yang seperti itu harus bertanggung jawab di hadapan Allah Ta’ala.)

Lalu, beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa seorang mukmin tidak lantas bahagia karena ia tidak melakukan keburukan, sebelumnya telah dijelaskan juga. Dalam hal ini banyak juga para tokoh agama atau suatu kaum bahkan kebanyakan di kalangan mereka pun tidak melakukan keburukan. Beliau bersabda, “Sebagian orang dalam kalangan Kristen, Hindu dan kaum-kaum lainnya yang tidak melakukan dosa misalnya tidak berdusta, tidak memakan harta yang tidak jaiz, tidak menghindar dari membayar hutang bahkan melunasinya, bersikap baik dalam urusan lingkungan masyarakat, namun Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak cukup dengan hanya berbuat demikian lantas untuk membuat Allah ridha. Melainkan selain terhindar dari keburukan kita pun harus melakukan kebaikan. Tanpa itu, tidak mungkin keselamatan dapat dirauh.

Orang yang berbangga karena dia tidak melakukan keburukan adalah bodoh. Islam tidak hanya ingin menyampaikan manusia sampai pada tahapan itu saja lalu meninggalkannya melainkan Islam ingin supaya manusia memenuhi kedua bagian itu yakni ingin supaya manusia meninggalkan sepenuhnya keburukan dan melakukan kebaikan dengan segenap ketulusan. Sebelum kedua hal ini diamalkan, tidak mungkin akan mendapatkan najat keselamatan.”

Beliau (as) bersabda, “Saya tegaskan kepada Jemaat saya, meningkatlah dalam taqwa dan kesucian, dengan begitu Allah akan menyertai Anda sekalian. إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ Innallaaha ma’al ladziinat taqou walladziina hum muhsinuun ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala beserta dengan orang-orang yang menempuh ketakwaan, yang berbuat baik dan ihsan.’ (Surah an-Nahl)

Ingatlah dengan baik bahwa jika kalian tidak menempuh ketakwaan dan tidak mengambil bagian yang banyak dari kebaikan yang Allah Ta’ala harapkan, maka kalianlah yang pertama-tama akan dibinasakan oleh Allah Ta’ala, karena kalian telah meyakini satu kebenaran namun secara amal perbuatan kalian mengingkarinya.” (Artinya, kalian telah beriman kepada Imam zaman dan berikrar lebih baik dari umat Muslim lainnya dan melakukan kebaikan, namun jika secara amal perbuatan tidak ada ketakwaan, berarti merupakan pengingkaran.)

“Jangan sekali-kali berbangga diri dan sombong karena telah berbaiat sebelum menempuh ketakwaan seutuhnya, kalian tidak akan selamat. Allah tidak memiliki jalinan kekerabatan dengan siapapun dan tidak juga Allah akan setuju untuk memberikan keringanan kepada seseorang. Para penentang kita pun adalah ciptaan Tuhan begitu juga kalian. Hanya perkara akidah saja sama sekali tidak akan membantu, sebelum ada keselarasan antara ucapan dan perbuatan.

Umat Muslim lainnya pun memiliki akidah bahwa Allah itu Satu, dan bahwa Muhammad ialah Khataman Nabiyyin dan Quran Syarif merupakan kitab syariat terakhir. Akidah kita pun sama seperti itu. Begitu juga mereka. Namun jika ada kontradiksi antara ucapan dan perbuatan, akidah saja tidak akan dapat membantu. Yang utama adalah amal perbuatan yang untuk itu kita harus berupaya. Walhasil, status sebagai Muslim atau Ahmadi tidaklah cukup. Melainkan, perlu untuk menyelaraskan diri sendiri sesuai dengan hukum-hukum Allah dan menjadi mukmin hakiki seperti yang diharapkan oleh Allah Ta’ala dari kita.

Beliau (as) bersabda, “Allah Ta’ala menghendaki supaya kita memperlihatkan amal perbuatan yang benar yakni nyatakanlah kebenaran secara amalan supaya Dia menyertaimu. Jika terdapat kekurangan dalam hal kasih sayang, ihsan, amalan baik, simpati, kerendahhatian, maka saya tahu dan berkali-kali telah saya sampaikan bahwa Jemaat seperti itulah yang paling pertama akan hancur. Pada zaman Nabi Musa, ketika umatnya tidak menghargai hukum-hukum Tuhan, meskipun Hadhrat Musa berada di tengah-tengah mereka, namun tetap saja kaumnya dibinasakan dengan petir. Lantas apa pendapat kalian, apakah dengan hanya baiat padaku kalian akan lantas selamat?”

Menasihatkan berkenaan dengan mendahulukan agama diatas dunia dan memberikan contoh teladan para sahabat Nabi (saw), beliau (as) bersabda, “Terlahirnya kondisi demikian dalam diri manusia bukanlah perkara yang mudah yakni ,mendahulukan agama diatas dunia dan terciptanya ketakwaan.”

Bagaimana teladan yang diperlihatkan oleh para sahabat? Beliau (as) bersabda, “Para sahabat tidak gentar untuk mempersembahkan jiwanya di jalan Allah ta’ala. Jadi, terciptanya kondisi demikian dalam diri manusia bukanlah hal yang mudah yakni rela untuk mempersembahkan jiwa dijalan Allah Ta’ala. Namun kondisi para sahabat menjelaskan bahwa mereka telah melaksanakan kewajiban itu. Ketika mereka mendapat perintah untuk mengorbankan jiwanya dijalan ini, lantas mereka tidak tunduk kepada dunia. Untuk itu adalah penting supaya kalian mendahulukan agama diatas dunia.”

Akhir-akhir ini (dalam beberapa bulan terakhir) saya tengah menyampaikan khotbah dengan tema riwayat hidup para sahabat Rasululullah (saw). Kita menyimak banyak sekali kisah yang menakjubkan, pengorbanan jenis apa yang mereka persembahkan? Bagaimana mereka menciptakan kebaikan, bagaimana meningkatnya ketakwaan mereka, bagaimana standar ibadah mereka, dengan tujuan supaya menjadi teladan bagi kita semua yang berkenaan dengan mereka, Rasulullah (saw) telah bersabda, “Para sahabat saya ini bagaikan bintang-bintang, jika kalian mengikuti mereka, maka akan membawa kalian kepada jalan petunjuk.”

Jadi, bagi kita mereka adalah teladan baik.

Beliau bersabda, “Ingatlah bahwa jika saat ini yang menjadi fokus seseorang adalah duniawi dan termasuk kedalam Jemaat ini, maka dalam pandangan Allah ia tidaklah berada dalam Jemaat ini. Dalam pandangan Allah Ta’ala yang termasuk kedalam Jemaat ini adalah mereka yang memisahkan diri dari dunia.”

Lalu beliau memperjelas lagi, bersabda, “Jangan ada satu pun dari kalian yang beranggapan dengan memisahkan diri dari duniawi ini akan hancur. Pemikiran seperti itu akan menggiring seseorang jauh dari pengenalan terhadap Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang semata-mata menjadi milik-Nya, bahkan Allah sendiri yang akan memberikan kecukupan padanya. Allah Ta’ala Maha penyayang, siapa yang fana di jalan-Nya, dialah yang akan berhasil. Saya katakan dengan sejujurnya bahwa Allah Ta’ala akan mencintai orang yang mengamalkan perintah-Nya dan keturunannya pun akan diberkati.

Tidak pernah orang dan keturunan orang yang memiliki kesetiaan sejati kepada Tuhan lantas hancur. Yang akan hancur adalah orang-orang yang meninggalkan Tuhan dan tunduk kepada dunia. Bukankah benar bahwa setiap segala urusan berada di tangan Tuhan? Tanpa pertolongan-Nya tidak ada persidangan yang akan menang, tidak akan mungkin mendapat kesuksesan dan tidak akan mendapatkan jenis apapun dari ketenangan dan kemudahan.

Beliau bersabda, “Bisa saja seseorang mendapatkan harta kekayaan, uang, namun siapa yang dapat mengatakan bahwa uang dan istri atau anak-anaknya pasti akan bermanfaat sepeninggalnya nanti. Banyak sekali contoh dalam kehidupan kita bagaimana paska kematian seseorang harta kekayaannya terampas. Renungkanlah hal-hal tersebut dan ciptakanlah revolusi baru di dalam diri.”

Beliau bersabda, “Pujian yang diterima oleh Jemaat sampai saat ini ialah disebabkan sifat sattar Allah Ta’ala.”

Artinya, Allah menutupi kelemahan kita. Namun ketika datang ujian dan cobaan, maka cobaan itu akan menelanjangi manusia. Pada saat itu penyakit yang ada di dalam tubuh akan menjangkit dan membinasakan manusia.

Zaman ketika Hadhrat Masih Mau’ud menyampaikan hal itu, pada zaman itu standar ketakwaan dan kebaikan jauh lebih luhur dibanding masa ini. Namun pada saat itu pun terdapat rasa pilu dalam diri beliau. Saat ini kita dapat mengevaluasi diri dengan menilik kondisi masing masing, bagaimana keadaan kita, bagaimana ikrar kita dan bagaimana standar kebaikan kita.

Lebih lanjut bersabda berkenaan siapa sebetulnya mukmin sejati, beliau bersabda: “Ingatlah! Sesungguhnya dalam pandangan Allah Ta’ala yang termasuk orang beriman dan yang berbaiat adalah orang yang mendahulukan agama diatas dunia seperti ketika baiat dia mengatakan hal itu sehingga jika ia mendahulukan tujuan duniawi, berarti ia melanggar janjinya dan dalam pandangan Allah adalah pendosa.

Bersabda: Ingatlah dengan baik, sebelum kondisi amalan manusia baik, lisan saja tidak ada artinya. Keimanan sejati adalah yang merasuk kedalam hati dan pengaruhnya dapat mewarnai amalannya. Keimanan sejati adalah seperti yang dimiliki oleh Hadhrat Abu Bakar dan para sahabat Ra lainnya, karena mereka telah menyerahkan harta bahkan jiwanya di jalan Allah Ta’ala dan tidak memperdulikannya.

Bersabda, “Saya senantiasa merenungkan hal ini dan ketika saya membayangkan betapa keagungan Hadhrat Rasulullah (saw) selalu membekas di dalam hati. Betapa beberkatnya kaum itu dan betapa dahsyat pengaruh daya penyucian Rasulullah (saw) sehingga telah menyampaikan kaum tersebut sampai kepada kedudukan tersebut. Renungkanlah dengan baik, betapa dahsyatnya revolusi yang telah beliau ciptakan dalam kaum itu. Ada masanya ketika semua hal-hal yang diharamkan bagi mereka layaknya air susu ibu. Mereka melakukan segala keburukan, mencuri, mabuk mabukan, berzina, dan semua perbuatan dosa, intinya tidak ada dosa yang tidak pernah mereka lakukan. Namun berkat pergaulan dan tarbiyat dari Rasulullah (saw) yang telah memberikan pengaruh kepada mereka, sehingga tercipta revolusi dalam diri mereka dan Rasulullah sendiri memberikan kesaksian dengan mengatakan, الله الله في أصحابي ‘Allah Allah dalam diri para Sahabatku.’

Seolah-olah mereka telah membuka jubah kemanusiaan menjadi manifestasi Tuhan dan kondisi mereka sudah seperti Malaikat dan menjadi penggenapan firman, يفعلون ما يؤمرون Yaf’aluuna maa yumaruun yakni apa yang diperintahkan itulah yang diamalkan, menjadi penggenapannya. Persis seperti itulah kondisi para sahabat. Gejolak hawa nafsu dan keinginan hati sama sekali sudah hilang.”

Lalu, setelah baiat seperti apa seharusnya seorang Ahmadi dan bagaimana kekuatan jalinan seorang Ahmadi dengan Jemaat yaitu jalinan ikatan dengan beliau dan mata rantai Khilafat setelah beliau yang mana akan berlangsung setelah beliau sehingga jalinan itu akan terus menyertai hingga hari kiamat. Beliau (as) bersabda, “Ranting yang tidak memiliki hubungan dengan pohon, pada akhirnya akan mengering dan jatuh. Orang yang memiliki keimanan yang hidup, ia tidak akan memperdulikan dunia, karena bagaimanapun dunia akan didapatkan. Orang yang mendahulukan agama diatas dunia lah yang berberkat. Namun orang yang mengutamakan dunia diatas agama, layaknya seperti bangkai yang tidak akan pernah menyaksikan bentuk pertolongan sejati.

Baiat ini akan berguna jika agama didahulukan diatas dunia dan ada upaya untuk meningkat didalamnya. Baiat merupakan sebuah benih yang disemai pada hari ini. Jika ada petani yang hanya mencukupkan terhadap penyemaian benih saja yakni setelah menanamkan benih lalu mengatakan semuanya sudah selesai, sedangkan kewajiban yang harus dilakukan supaya berbuah tidak dilakukan, dia tidak menggemburkan tanah, tidak mengairinya, tidak juga memberi pupuk pada waktunya, tidak juga merawatnya, jika demikian adanya apakah petani tersebut dapat berharap akan mendapatkan hasil buahnya?

Di sini pun merupakan daerah pertanian, banyak sekali pendatang baru di sini, yang datang ke sini dengan membawa status pengungsi atau pencari suaka yang berlatar belakang pedesaan. Mereka tahu bahwa jika setelah penyemaian benih tidak dilakukan perawatan dengan baik maka tidak akan memberikan hasil panen. Saya ingin sampaikan kepada para pendatang di sini (Amerika) bahwa Allah ta’ala telah memberikan keadaan yang lebih baik di sini kepada Anda seperti memberikan kebebasan beragama sehingga Anda dapat melaksanakan hak ibadah dan dapat menyatakan kepercayaannya dengan bebas. Maka dari itu, perlu khususnya bagi para Ahmadi yang datang kemari dari Pakistan agar berupaya sebisa mungkin untuk mendahulukan agama diatas dunia dan gunakanlah segenap kapasitas diri untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Siapa yang tidak merawat ladang atau tanamannya dengan baik, maka pasti dan pasti ladangnya tidak akan memberikan buah. Ladang yang akan memberikan buah adalah ladang milik petani yang merawat sepenuhnya.”

Walhasil, Anda pun telah melakukan penyemaian benih pada hari ini, Hadhrat Masih Mauud bersabda kepada jamaah yang ada di hadapan beliau saat itu dan saat ini kitalah yang menjadi lawan bicara beliau bahwa kita pun telah menyemaikan benih yakni telah menerima Jemaat. Allah Ta’ala Maha Tahu bagaimana takdir seseorang. Namun yang beruntung adalah mereka yang merawat benih tersebut dan terus mendoakan dirinya sendiri. Misalnya dalam shalat kita harus tercipta perubahan, harus ada perhatian besar terhadap ibadah shalat. Jangan berfikir bahwa kami telah membangun masjid, perlu juga bagi kita untuk berupaya melaksanakan hak-hak masjid.

Lalu beliau (as) menyampaikan nasihat penting bagi Jemaat yang akan saya sampaikan sebagai berikut, “Zaman pada saat ini sudah sangat rusak, telah bermunculan berbagai macam syirik, bidah dan kerusakan. Seseorang hendaknya mengingat dan mempedomani senantiasa ikrar yang disampaikan ketika baiat yang berbunyi akan mendahulukan agama diatas dunia hal mana itu diucapkan di hadapan Tuhan. Sekarang hendaknya kita teguh di dalamnya sampai nafas terakhir. Jika tidak, anggap saja belum baiat. Namun jika teguh didalamnya, maka Tuhan akan mencurahkan keberkatan dalam keruhanian dan urusan duniawi juga.

Tempuhlah ketakwaan sesuai dengan kehendak Tuhan. Zaman sangat rentan, azab Ilahi mulai bermunculan. Siapa yang menyelaraskan diri sesuai dengan kehendak Tuhan maka Dia akan mengasihi jiwanya dan anak keturunannya. Coba perhatikan, manusia makan roti, sebelum ia makan roti sesuai takaran yang ia perlukan maka rasa laparnya tidak akan hilang.”

Berkenaan dengan azab Ilahi pun coba lihat, azab Ilahi bermunculan. Sekarang kita saksikan bahwa ada perhitungan resmi yakni sekian banyak jumlah gempa bumi, taufan dan bencana-bencana yang terjadi sejak 100 tahun terakhir, itu tidak terjadi pada masa sebelumnya. Di sini pun badai topan biasa datang, begitu juga hujan turun dalam curah yang banyak sehingga kadang dikatakan bahwa dalam 500 tahun yang lalu perbandingannya sama dengan 100 tahun atau beberapa dekade saat ini. Apakah itu? Perlu untuk difahami. Orang-orang duniawi tidaklah memahami, namun kita hendaknya faham ini merupakan penampakan murka Ilahi.

Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah memberi pengarahan dengan jelas sehingga kita pun harus menaruh perhatian untuk melakukan ishlah (perbaikan diri). Kita juga harus mengabarkan kepada dunia bahwa bencana-bencana ini bukanlah hal biasa, bahkan telah dikabarkan 100 tahun sebelumnya dan ada satu cara untuk terhindar darinya yakni manusia kembali kepada Allah Ta’ala. Saat ini pun jika manusia masih belum tersadarkan juga, mustahil selamat. Begitu juga manusia menciptakan sendiri kesulitan bagi dirinya sendiri, terjadi peperangan, keaniayaan satu sama lain sehingga seperti itulah akibatnya. Jika dalam pandangan Allah Ta’ala kezaliman sudah sampai pada puncaknya, tibalah kehancuran menimpa bangsa-bangsa yang menyebabkan kezaliman itu. Memang menurut kita kezaliman sudah sampai pada puncaknya, namun Allah Ta’ala maha pemberi tenggang waktu.

Para pelaku kezaliman itu hanya dapat selamat sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam sebuah syair:

 آگ ہے پر آگ سے وہ سب بچائے جائیں گے

جو کہ رکھتے ہیں خدائے ذوالعجائب سے پیار

هناك نارٌ قادمة ولكن لا يُنقذ منها إلا الذين يكنون حبًّا لله ذي العجائب

Ada api, namun yang akan diselamatkan dari api adalah mereka yang mencintai Tuhan Maha Pemilik Keajaiban.

Walhasil, perlu untuk fokus akan hal tersebut. Kita pun perlu berupaya untuk menyelamatkan diri dan dunia dan untuk itu kita harus menggunakan segenap kekuatan dan kapasitas kita yakni bagaimana supaya kita dapat meraih Allah ta’ala?

Beliau (as) bersabda, “Perhatikanlah! Manusia memakan roti dan sebelum seseorang memakan roti sebanyak yang dia perlukan untuk mencukupi keperluan perutnya, maka rasa laparnya tidak akan hilang. Jika ia memakan roti sepotong kecil, apakah ia akan terbebas dari rasa lapar? Sama sekali tidak. Jika dia meminum setetes air saja maka tetesan itu pasti tidak akan dapat menghilangkan rasa hausnya. Bahkan, meskipun dia telah meminum tetesan itu, ia akan tetap mati.”

Beliau (as) bersabda, “Seseorang makan atau minum sesuai dengan takaran yang diperlukan demi keberlangsungan hidupnya, ia tidak akan dapat hidup. Begitu jugalah kondisi keruhanian manusia, sebelum keruhaniannya sesuai dengan takaran yang diperlukan untuk mencukupinya maka ia tidak akan selamat. Keruhanian, ketakwaan dan ketaatan kepada hukum-hukum Tuhan hendaknya dilakukan sampai batas sebagaimana manusia makan dan minum secukupnya sehingga rasa lapar dan dahaganya hilang.”

Beliau (as) bersabda, “Hendaknya diingat dengan baik, jika tidak menaati sebagian perintah Tuhan maka hal itu sama saja dengan meninggalkan semua perintah-Nya. Jika sebagian untuk Allah ta’ala dan sebagian lagi untuk setan, maka Allah ta’ala tidak menyukai pembagian seperti itu. Tujuan Jemaat ini adalah supaya manusia datang kepada Tuhannya, meskipun untuk menuju kepada-Nya sangatlah sulit dan sejenis kematian, namun pada akhirnya kehidupan pun terdapat di dalamnya. Orang yang membuang bagian untuk setan di dalam dirinya akan diberkati. Rumahnya, jiwanya, kotanya dan semua tempatnya mendapatkan curahan keberkatan itu. Namun jika seseorang mendapatkan sedikit saja bagian maka tidak akan memancarkan keberkatan.

Sebelum ikrar baiat tadi disertai dengan amalan, maka tidak ada artinya. Sebagaimana jika kalian mengikrarkan banyak hal di hadapan orang lain, namun tidak memperlihatkan contoh perbuatan maka orang itu tidak akan senang, begitu jugalah halnya Tuhan. Ghairat Tuhan adalah yang paling tinggi dari yang selainnya, lantas apakah mungkin di satu sisi kalian taat pada-Nya, namun di sisi lain kalian pun menaati musuh-musuh-Nya? Perbuatan seperti itu namanya munafik. Dalam tahapan ini hendaknya manusia tidak memperdulikan si Zaid atau si Bakr (seseorang mana pun). Sampai akhir hayat teguhlah pada janji untuk mengutamakan agama diatas dunia.”

Beliau (as) bersabda, “Keburukan terdiri dari dua macam. Pertama, menyekutukan Tuhan dan tidak menganggap keagungan-Nya serta lalai dalam ibadah dan taat kepada-Nya. Kedua, tidak memiliki rasa simpati kepada hamba-hamba-Nya dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap mereka (memenuhi hak-hak mereka). Hendaknya kalian tidak melakukan jenis keburukan apa pun dari kedua macam itu. Teguhlah dalam ketaatan pada Tuhan. Janji yang kalian ikrarkan ketika baiat, teguhlah di dalamnya. Janganlah menyakiti hamba-hamba-Nya. Bacalah Al-Quran yang mulia dengan penuh fokus dan amalkanlah. Hindarilah berbagai ucapan cemoohan dan sia-sia dan juga kegiatan-kegiatan yang berbau syirik. Tegakkanlah shalat lima waktu. Walhasil, jangan sampai ada hukum Allah yang kalian kesampingkan. Jagalah kebersihan tubuh. Sucikanlah hati dari berbagai kedengkian, kebencian dan iri hati. Inilah hal-hal yang Allah Ta’ala harapkan dari kalian.”

Semoga dengan melaksanakan hak baiat, kita dapat menciptakan perubahan suci di dalam diri. Semoga di dunia ini kita dapat memenuhi janji untuk mengutamakan agama diatas dunia dan dapat mengamalkan nasihat-nasihat beliau (as). Begitu juga syarat baiat kesepuluh yang berbunyi akan taat pada segala keputusan ma’ruf dari Hadhrat Khalifah dapat dipahami maknanya secara hakiki dan tercapai hingga tolok ukur ketaatan tersebut. Sehingga kita dapat menjadi pewaris karunia-karunia yang telah dijanjikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). [Aamiin]

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK); Editor : Dildaar Ahmad Dartono (Qadian, India). Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Sunan Ad-Daru Qutni (سنن الدارقطني ), Kitab al-‘Idain (كتاب العيدين), bab shifatush Shalat al Khushufu wal kushuf haiatuhuma (باب صفة صلاة الخسوف والكسوف وهيئتهما), juz 2 halaman 51, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut, 2003; إِنَّ لِمَهْدِينَا آيَتَيْنِ لَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ تَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَتَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ وَلَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ Muhammad bin Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda: “Sesungguhnya bagi Mahdi kami telah ditetapkan dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat bumi dan langit diciptakan; gerhana bulan akan terjadi di bulan Ramadhan pada malam pertama (dari malam-malam yang telah ditetapkan baginya) dan matahari akan ber-gerhana pada pertengahannya (dari hari-hari yang sudah ditentukan bagi gerhana ini). Dan ini adalah Tanda yang belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.”

[2]Al-Hakam, jilid 10, edisi 22, 24 Juni 1907, h. 35-37