Khutbah tanggal 22-6-2001 Khu-17 –10 h.

            Al Hujurat 5-6:”Sesungguhnya orang yang  memanggil engkau dari luar kamar kebanyakan mereka tidak mengerti .Dan seandainya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

            Di dalam ayat suci ini diterangkan peristiwa yang terjadi berkali-kali di zaman Rasulullah saw. Dan kesaksian Al-quran sedemikian rupa yang untuk itu tidak perlu dukungan hadis, karena kesaksian final lainnya lebih dari Al-Quran  tidak  bisa diperoleh  pada zaman  itu. Sesuai dengan itu ada sebagian orang yang yang berakhlak buruk dan buruk perilaku dan sebelum Rasulullah saw. keluar dari rumah beliau mereka berteriak memanggil dari luar.”Hai fulan dan fulan. Dan mungkin mereka menyebut “Rasulullah saw.” supaya beliau keluar.Allah tidak menyenangi akhlak buruk mereka itu. Dia berfirman bahwa sama sekali jangan memanggil-manggil Muhammad saw dengan teriak keluar. Tunggulah dengan sabar sehingga dia sendiri keluar .Jika kamu melakukan ini maka ini  lebih baik bagimu wallahu gafuwrurrahiym- dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.Yakni sifat perilaku buruk kamu itupun Allah maafkan dan Dia menginginkan tetap berbelas kasih padamu.dan memaafkan kamu .Oleh karena itu dia menasehatkan kamu supaya untuk ke depan kamu berhenti dari gerakan seperti itu.

            Ada dua ayat dari surah Al-Ahqaf 8-9. ”wa idza tutla ‘alaihim aayaatuna bayyinaatin qaalalladziyna kafaruw lil haqqi lamma jaa ahum haadza sihrum mubiyn-Apabila secara terang-terangan dibacakan pada mereka tanda-tanda Allah, mereka yang mengingkari kebenaran meskipun telah datang kepada mereka  kebenaran  yang terang dan jelas ,apa yang mereka katakan ? (Mereka berkata,)“haadza sihrun mubiyn-ini adalah sihir yang nyata”.

            “Sihir yang nyata” mereka katakan dalam arti,  mereka itu yakin bahwa di dalam ini pasti ada mukjizat yang mengherankan/luar biasa. Kalau tidak, kenapa mereka mengatakan, sihir yang nyata. Dengan mengatakan “sihir yang nyata” mereka mengakui bahwa perkara  ini berada di luar batas kemampuan ,yang melebihi di atas potensi fitrah manusia.Oleh karena itu mereka berkata bahwa ini adalah sihir yang nyata.Yakni, meskipun  ini melebihi  kemampuan fitrah manusia, kami tidak akan yakin pada itu dan  tidak akan beriman padamu. Apakah mereka mengatakan bahwa dia telah mengadakan-ngadakan dusta atas  Allah. Hai Muhammad saw, “Katakanlah kepada mereka.bahwa jika saya mengada-ngada, maka kalian tidak juga menentang saya, bahkan medakwakan mendukung saya.

Kebanyakan  para pendusta  mereka menghadapi perkara ini ,yakni, mereka yang berdusta atas Allah pasti berada jumlah besar orang-orang yang mendukung di belakangnya. Ketika terjadi kemurtadan di Arab, inilah peristiwa yang terjadi.Bahwa orang-orang yang mengada-adakan dusta atas Allah, atas suatu dasar apapun mereka mengada-adakan dusta selalu bersama mereka ada lasykar yang besar. Dan mereka menganggap bahwa dengan kekuatan lasykar besar ini, kami akan meraih kemenangan. Jadi, inilah perintah Allah kepada Rasulullah saw. bahwa kepada mereka  katakanlah,” Sungguh kalian jangan dukung saya, tidak perlu datang di belakang saya. Karena jika saya berdusta maka cukuplah Allah akan mnghancurkan saya Fala tamlikuwnali minallahi syaea’. Dan jika Dia telah memutuskan untuk menghancurkan, maka kamu untuk menghadapi-Nya sama sekali tidak akan bisa mendukung saya.hua a’klamu bimaa tufiyduwna fiyhi-Dia lebih mengetahui untuk hal apa kamu berkecimpung menyia-nyiakan waktumu kafa bihi syahiydan bainiy wabainakum-Dialah cukup sebagai saksi diantara kamu dan saya. Dia akan memutuskan dengan adil diantara kita berdua Wa huwal gafuwru-rrahiym-dan ingatlah bahwa Dia Maha Pengampun Maha Penyayang.

Dan meskipun adanya semua hal-hal berlebihan semacam itupun, jika di dalam diri kamu Allah mendapatkan kebaikan maka Dia akan menurunkan belas kasih-Nya kepada kalian.( Ahqaf dari ayat 8-9)

            Hazrat Masih Mauud a.s.  dalam kaitan ini bersabda,”Hanya ilham belaka selama tidak ada kesaksian/dukungan secara praktik (dari Allah) sama sekali tidak akan ada manfaatnya.Lihatlah ketika dari pihak orang-orang kafir timbul keberatan “lasta mursala-Engkau bukanlah yang diutus dari Tuhan”, maka dijawab “kafa bihi syahidan baini wabainakum-Allah cukup sebagai saksi diantara saya dan kamu” yakni tidak lama lagi kesaksian Tuhan secara praktek akan membuktikan kebenaran saya. Jadi, bersama ilham harus ada kesaksian secara praktek /zahir.

Banyak orang-orang di berbagai negara yang terus menulis ilham-ilham mereka, sehingga  mendakwakan bahwa kamilah Al-masih dan Mahdi  zaman ini. Dan kepada mereka saya selalu memberikan jawaban bahwa apabila Tuhan telah mengatakan kepada Masih dan Mahdi pada zaman ini bahwa engkaulah mahdi dan masih maka bersama itu ada juga kesaksian-kesaksian secara praktik/nyata. Dengan serangan-serangan yang dahsyat Allah telah menzahirkan kebenarannya Dan rangkaian kesaksian/bukti-bukti itu sampai kini terus berjalan. Di setiap negeri dengan keagungan dan kekuatan yang luar biasa  sedang bangkit suara-suara untuk  mendukung Hazrat Masih Mauud as.

Ada satu suara  muncul dari Qadian dan kini dalam bentuk berpuluh- puluh juta suara bangkit dari seluruh penjuru dunia. Saya mengatakan kepada mereka, sadarlah, apa yang  mendukungmu ?  Hanya tipuan ego semata bahwa ilham  turun kepada kami.Allah apabila mengilhamkan maka  Dia juga akan menzahirkan kesaksian secara praktek/zahir untuk mendukung itu. Sesuai dengan itu Hazrat Masih mauud a.s. memberikan satu misal kecil.”Coba lihatlah, apabila pemerintah memberikan kesempatan kerja kepada seseorang maka sarana-sarana yang berwibawa untuk itu pun disiapkan. Sesuai dengan itu orang yang berani menandinginya maka mereka akan ditangkap dengan tuduhan menghina pemerintah. Begitu juga orang yang tampil ke depan menandingi  utusan-utusan Tuhan  mereka menjadi binasa. Kini ada kurang lebih lima puluh orang yang  terperangkap dalam penyakit ini”.

 Adapun penyakit (mendakwakan diri) ini pada zaman Hazrat Masih Mauud a.s. juga berjalan dan pada zaman Rasulullah saw. juga berjalan. Banyak pengaku-pengaku pendusta  meskipun dengan sengaja tidak bicara sekalipun egonya sendiri yang bicara dusta  dan memberitahukan padanya bahwa ini adalah ilham Tuhan dan sesuai dengan itu dakwakanlah olehmu. Namun pendakwaan itu tidak berguna sedikitpun. Satu lasykar besar juga mendukungnya namun dukungan lasykar itu sama sekali tidak memberikan faedah padanya dan pada akhirnya mereka musnah dengan membawa kegagalannya

Hazrat Masih Mauud a.s. bersabda bahwa orang yang bertumpu/mengandalkan pada ucapan ilhamnya semuanya berada dalam kekeliruan/ kesalahan. Syaitan merupakan musuh besar manusia. Namun seorang pendusta pun  adalah satu syetan. Jadi, dia sendiri adalah  musuh dirinya. Oleh karena itu cepat menjadi binasa. Betapa tidak mengertinya mereka yang terperangkap bisikan tipuan seperti itu, yang sering dengan  pendakwaannya  tidak ada seberkas sinar atau kilatan keagungan dan kegagahan Tuhan. Mengakui atau mempercayai orang yang seperti itu  sama dengan memasukkan diri di dalam api.

Surah Al-hujurat ayat 15.”qaalatil a’raabu aamanna qul lam tu’minuw wala kin quwluw aslamna walamma yadkhulil iimaanu fiy quluwbikum wa in tuthiy ullah wa rasuw lahu la yalitkum min a’malikum syaia innallaha gafuwrurrahiym-Orang-orang gurun berkata, ”Kami beriman”. Katakanlah pada mereka bahwa kamu tidak beriman, hanya katakanlah bahwa kamu telah menjadi orang Islam.

            Di lain tempat ada ayat lain. “Kamu tidak beriman. Bahkan iman mengintip  hatimu pun juga tidak. Meskipun demikian mereka diizinkan untuk mendakwakan sebagai orang Islam.Yakni,tanpa segan-segan katakanlah diri orang Islam. Dan berkaitan dengan kesaksian Tuhan bahwa kalau ada yang mengatakan dirinya Islam maka siapapun tidak mempunyai hak untuk mencegahnya untuk menyebut dirinya Islam. Percaya atau tidak, sehingga meskipun iman mengintip hatinya pun juga tidak, tetap merupakan haknya untuk terus menyebut dirinya Islam. Ini merupakan hak  anugerah dari Allah yang tidak ada kekuatan dunia  bisa merampasnya.

Dan arti kedua Islam adalah itaat. Maka dalam kata-kata mereka mengatakan  bahwa kami memang telah itaat, yakni kami telah mengakui bahwa kami telah dikuasai,kini  kami terpaksa. Nama keterpaksaan ini, itaat/tunduk (Islam) kami. Jika kamu itaat kepada Allah dan Rasul dengan sebenarnya, maka amal-amal kamu sedikitpun tidak akan dikurangi.innallaha gafuwrurrahiym-sesunggunya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Yakni, meskipun semua ketidakjujuran dan tipuan-tipuan itu, dari mereka itulah ada orang-orang yang pada akhirnya  beriman dengan hati yang tulus. Dan dari orang-orang gurun banyak yang seperti itu. Maka berkali-kali perlakuan ampunan dan belas kasih dari Tuhan supaya kalau tidak hari ini maka akan terus memperoleh peluang dan bisa mengambil faedah dari sifat rahimiyat Tuhan.

            Hazrat Masih Mauud a.s.  dalam kaitan ini bersabda,”Tuhan yang memuji orang-orang mu’min dan berfirman,”radhiyallahu anhum wa radhu anhum –Bahwa Allah ridha pada mereka dan mereka ridha pada Tuhannya.” Ini  karena  mereka telah mengimani Rasulullah saw. dengan firasatnya. Tapi, ketika banyak orang-orang mulai masuk dan terbuka, maka pada waktu itu nama orang-orang yang masuk disebut “annas”.Yakni ketika Islam meraih kemenangan dan untuknya kecuali itaat tidak ada lagi cara lain, maka orang-orang yang beriman pada waktu itu mereka itu disebut “annas’. Dalam kondisi ini seolah-olah Dia melarang mengatakan “qalal a’raabu aamanna-orang-orang gurun berkata kami beriman” bahkan diperintahkan mengatakan “lam tu’minuw wa lakin quwlu aslamna-Yakni janganlah mengatakan kami beriman bahkan katakanlah bahwa kami telah itaat.” Maka disini maksud “aslamna” adalah “itaat”,yakni pada kesempatan ini arti ke dua akan menjadi bahwa kalau mereka hanya mengatakan bahwa kami telah mendakwakan, maka  katakanlah pada mereka, baiklah. Tapi, pada hakekatnya “iman” baru disebut “iman” ketika peluang datangnya musibah/cobaan. Bagi yang sesudah beriman kemudian tidak datang cobaan mereka termasuk dalam katagori“aslamna-kami telah masuk Islam”,yakni,walhasil mereka  jelas bukanlah orang-orang Islam yang sejati. Tapi karena cobaan tidak datang, maka kami terpaksa mengakui bahwa mereka setelah melihat kemenangan Islam, mereka telah menyatakan itaat. Mereka tidak menyaksikan diri sebagai sasaran kesusahan/penganiayaan. Mereka tidak menerima ketika dosa akibat  menerima berbagai pesakitan/hukuman-hukuman ditimpakan. Bahkan mereka masuk dalam zaman kejayaan dan pertolongan. Ketika Islam meraih kejayaan dan Islam meraih meraih keunggulan dan Tuhan telah menyempernakan janji pertolongan-Nya, baru mereka bergabung. Oleh karena itu “nama kebanggaan” dan “gelar kebanggaan”mereka tidak raih, bahkan nama mereka disebut “annas-manusia-manusia”, karena mereka bergabung pada waktu ketika pekerjaan telah berjalan baik dan Rasulullah saw. telah memperlihatkan sinar kebenarannya.Pada waktu itu mazhab/agama lain nampak hina maka semua tentu pada bergabung.

            Adapun berkenaan dengan”aslamna” selebihnya Hazrat Masih Mauud a.s.   bersabda, ”Kaitan aslamna pada dasarnya adalah dengan “tongkat” (kekuasaan), yakni ketika Islam telah menjadi unggul dan Islam telah meraih tongkat kekuasaan, maka pada waktu itu mereka telah mengatakan “aslamna-kami telah masuk Islam”.Mereka tidak bisa mengatakan “aamanna-kami telah beriman”, karena di dalam hatinya ada kemunafikan dan mereka tidak beriman. Bersabda, ”Sarana-sarana iman lain dan sarana-sarana Islam lain. Oleh karena itu Tuhan pada waktu menciptakan sarana-sarana atau faktor-faktor pendukung yang dengan itu iman dapat diraih ”Nah,di tempat ini apa maksud,”Sarana-sarana iman  lain dan sarana-sarana Islam lain ”.Disini maksud Islam bukanlah Islam yang benar, bahkan “menerima secara zahir” .Oleh karena itu pada waktu ini Tuhan menciptakan sarana-sarana  yang dengan itu semua  iman dapat diperoleh. Maka,untuk mereka sedemikian rupa sarana-sarana dizahirkan, sedemikian rupa tanda-tanda dizahirkan, sedemikian rupa dukungan-dukungan Allah diturunkan dalam mendukung Rasulullah saw. yang sebagai dampaknya hati mereka pada akhirnya dari mereka yang bernasib baik dalam arti yang benar menerima karena terpaksa. Dan dengan demikian  Islam pada akhirnya berlandaskan pada iman.

            Surah Al-hadid 19 “Ya ayyuhalladziyna aamanuwttaqullah wa aaminuw birasuwlihi yu’tikum kiflaini min rahmatihi wa yaj’al lakum nuwran tamsyuwna bihi wa yagfir lakum wallahu gafuwrurrahiym-Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan dan beriman kepada Rasul-Nya Dia akan menganugerahi dua kali lipat dari rahmat-Nya dan Dia akan menganugerahkan nur padamu yang dengan itu kamu berjalan dan Dia kan mengampuni kamu dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

            Disini itaat Rasul yang benar/sejati yang didefinisikan.Bahwa orang yang itaat kepada Rasul Allah dengan hati yang tulus itu bukan hanya sekedar ucapan di mulut belaka, bahkan sebagai hasilnya sebagai ganjaran itu nur diberikan pada mereka. Nur itu apa. Perinciannya saya akan terangkan dalam sabda-sabda Hazrat Masih Mauud a.s. Beliau bersabda,”Kalian akan dianugerahi nur, yang sama sekali tidak akan didapatkan di orang-orang lain kalian. Yakni, nur ilham dan nur pengabulan doa dan nur keramat pilihan.Inilah tiga arti nur. Yakni, kepada orang-orang seperti itu Allah mewahyukan ilham-ilham-Nya juga dan  secara amaliah/peraktik juga mendukungnya. Nur pengabulan doa, doa-doa mereka terkabul dan banyak sekali kinipun di dalam diri orang-orang ahmadi juga yang doa-doa mereka dengan karunia Allah dikabulkan. Dan nur keramat pilihan. Dan hamba-hamba pilihan yang  Allah telah terima di dalam diri mereka zahir keramat-keramat yang orang-orang umum katakan sebagai keramat para wali. Padahal keramat-keramat bukan hanya milik wali-wali besar saja bahkan hamba-hamba sederhana Tuhan yang saleh juga ada keramat-keramatnya, yang lemah lembut dan rendah hati.Untuk mendukung mereka pasti Allah menzahirkan keramat-keramat-Nya.

            Bersabda,”Hai orang-orang yang beriman,jika kamu teguh sebagai orang yang bertakwa dan demi untuk Allah dalam sifat ketakwaan kalian tetap teguh dan istiqamah maka Tuhan diantara kalian dan orang yang lain akan meletakkan perbedaan. Nah,  ilham-ilham itu apa.”Diantara kalian dan orang lain akan meletakkan perbedaan.”

            Ini merupakan pandangan yang salah bahwa orang yang selain kamu pun akan seperti kamu. Apa perbedaan itu. Perbedaannya adalah, kalian akan diberikan nur dan dengan perantaraan nur itu kalian akan menapak di jalan-jalan kalian. Dan jalan-jalan cahaya itu yang mana. Yakni, kepada mereka jalan-jalan yang terang dalam setiap perkara akan nampak jelas pada mereka. Bahwa inilah jalan  benar yang layak dilewati dan ini jalan tidak benar. Jika manusia berjalan di dalam cahaya maka  akan terus melihat kerikil-kerikil sandungan. Dan dia mengetahui tempat-tempat mana saya harus saya harus hindari. Berjalan di kegelapan tidak akan ada yang bisa diketahui. Pasti mau tidak mau di suatu tempat akan dilanda bahaya. Maka bersabda, ”Dari segi ini nur itu akan terus berjalan mengiringi kalian. Kalian akan melihat jalan-jalan kalian dengan perantaraan nur itu,  sebagaimana  di siang hari  nampak  hambatan-hambatan jalan, mana penghambat-penghambat jalan mana jalan yang aman. Nur itu akan meliputi semua pekerjaan-pekerjaan kalian,  ucapan-ucapan dan semua potensi-potensi kalian dan semua pancaindra kalian. Di dalam akalmupun akan terdapat nur dan di dalam kata-kata perkiraanmu pun akan terdapat nur.”

 Sebagaimana secara kira-kira  orang-orang  mengatakan ini akan terjadi seperti ini, ini pun juga akan menjadi nur.Dan tampa difahami dan dimengerti dan difikirkan dari mulut secara kebetulan keluar satu ucapan,maka Allah pun akan akan membuktikannya benar. “Dan di dalam mata kamupun akan ada nur. Dan di dalam telingamu dan di lidah kalian dan di dalam keterangan-keterangan kalian dan di dalam setiap gerakan dan ketenangan kalian pun akan ada nur. Dan di jalan-jalan mana kalian menapak, jalan-jalan itu akan bercahaya. Dan seberapa jalan-jalan kalian, jalan-jalan potensi-potensi kalian dan jalan-jalan pancaindra kalian itu akan penuh dengan nur. Dan kalian sepenuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut akan berjalan di dalam nur.

Kini dari ayat ini terbukti dengan terang bahwa  takwa dan kejahilan/kebodohan sama sekali tidak pernah bersatu. Ya, pemahaman dan daya nalar sesuai dengan kedudukan takwa bisa lebih dan kurang.Yakni jika ketakwaan sedikit kurang, maka sesuai dengan perbandingan itu pemahaman dan daya nalar  bisa juga kurang. Jika takwa lebih  maka bisa lebih juga. Tapi, orang yang bertakwa meskipun derajatnya yang kurang sekalipun bersama itu kejahilan tidak bisa menyatu. Ya, pemahaman dan daya nalar sesuai dengan tingkat-tingkat takwa bisa kurang dan lebih. Dari kedudukan ini bisa terbukti juga bahwa keramat besar dan tinggi yang diberikan kepada para wali,mereka itu sempurna dalam ketakwaan. Kepada mereka inilah yang diberikan bahwa di dalam semua pancaindra mereka, akal, pemahaman dan perkiraannya nur diletakkan . Dan daya kasyaf mereka sedemikian rupa dibersihkan dengan air cahaya yang mana orang lain tidak akan dapat meraihnya Pancainderanya akan sangat peka. Dan sumber mata air  makrifat dan sari pati ilmu /rahasia-rahasia (syareat) akan dibukakan padanya. Dan berkah risalah–risalah Tuhan mengalir bagaikan darah di dalam urat nadinya.”

Surah Mujadalah ayat 13.”Ya ayyuhalladziyna aamanuw idzaa naajaitumurrasuwl faqaddimuw baina yadai najwakum sadaqatan dzaalika khaerun lakum wa athhar fa inlam tajiduw fa innallah agafuwru-rrahiym-Yakni, hai orang-orang yang beriman,apabila kamu bermusyawarah secara peribadi dengan Rasul, maka sebelum musyawarah kamu berilah selalu sedekah dan hal ini untuk kamu sangat baik sekali dan lebih suci. Maka jika kamu tidak mempunyai apa-apa maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Yakni, jika bermusyawarah dan tidak ada sesuatu yang harus disedekahkan maka tidak perlu khawatir. Allah akan mengampuni(Maha Pengampun)  dan akan berkali-kali menurunkan rahmat-Nya.(Maha Penyayang)

            Hazrat Khalifatul-masih awwal dalam menjelaskan ayat ini bersabda,”Faqaddimuw baina yadaenajwakum-Dahulukanlah (sedekah)sebelum kamu bermusywarah”. Perintah ini tidak mansukh” Yakni, ini bukanlah perintah yang berlaku pada zaman Rasulullah saw. dan kini tidak berlaku. Bersabda, ”Fa inlam taf’aluw wa taaballahu ‘alaikum-Yakni, sebelumnya (dulu) Allah telah kembali kepada kalian dengan rahmat (Mengampuni kalian) dan  perintah ini tidak dinyatakan wajib bahkan mustahab /disukai. Kemudian “kembali dengan rahmat/memaafkan” bagaimana itu terjadi. Yaitu dengan cara fa in lam taf’aluw wa taa ballahu ‘alaikum-jika kamu tidak bisa melakukan serupa itu,maka ingatlah bahwa Tuhan sebelumnyalah telah kembali/cenderung kepada kalian(sebelumnya telah memaafkan kalian). ”Dengan demikian hukum/perintah ini tidak dinyatakan wajib, bahkan mustahab/disukai,” Yakni,rahmat yang dianugerahkan dalam corak  tidak memfirmankan, “Harus(mutlak) memberikan sedekah, kalau tidak kamu  akan ditimpa  kerugian. Sesuai dengan itu Allah menyatakan itu mustahab/disukai dengan menyatakan “khaeran lakum” bahwa untuk kamu lebih baik jika kamu bisa memberikan sedekah. Yakni, karena lebih disukai oleh karena itu difirmankan “lebih baik”. Kalau tidak Dia  berfirman “wajib untukmu”. Sesuai dengan itu orang-orang saleh  ummat ini sebelum menanyakan hadis, mereka bersedekah. Yakni  Hazrat Khalifatul Masih awwal r.a. mempunyai pengalaman  bahwa banyak orang-orang saleh apabila menanyakan arti suatu hadis kepada beliau maka sebelumnya  mereka biasa memberikan sedekah.

            Kini surah Al-mumtahinah ayat kedelapan “ ’asallaahu an yaj’ala bainakum wabainalladziyna ‘aadaitum minhum mawaddah wallahu qadiyr wallahu gafuwrurrahiym.-Mudah-mudahan Allah menanamkan kecintaan  diantaramu dan orang-orang yang kamu musuhi- Serupa itu selalu terjadi dan kinipun selalu terjadi dan untuk yang akan datang pun akan terus terjadi seperti itu. Kepada siapa yang dibenci demi karena Allah semata, Allah  dengan karunia-Nya dapat menanamkan kecintaan dulu,kini dan untuk yang akan datang  diantara mereka dan kalian.  Kenapa ?.Karena Allah selalu memiliki kekuasaan.(Maha Kuasa) Kekuasaan-Nya tidak pernah berakhir.Apa saja yang ingin Dia lakukan Dia memiliki kekuasaan untuk itu di masa lalu dan di masa yang akan datang juga.Dan sifat Tuhan ini pun selalu berlaku dan akan terus  belaku bahwa Dia adalah Maha Pengampun Maha Penyayang.

            Kini ada  ayat  yang penuh peringatan yang  ketika  perempuan-prempuan mu’min berbaiat di tangan Rasulullah saw. kata-kata yang di sabdakan oleh Rasulullah saw.,dalam ayat ini kata-kata itu difirmankan.”Yaa ayyuhannabiyyu idza jaa akal mu;minaaatu yubayi’naka an la yusyrikna billahi-jika datang pada mu  perempuan-perempuan mu’min dan mereka berjanji dalam baiat  bahwa wala yasyrikna-mereka tidak akan pernah menyekutukan Tuhan dan mereka tidak akan mencuri”.Disini ada hal yang sangat aneh bahwa  dalam baiat perempuan-perempuan ada janji untuk tidak mencuri. Di dalam baiat laki-laki  tidak ada janji ini.Ini apa sebabnya. Sebabnya adalah bahwa perempuan-perempuan di rumah ada kebiasaan mencuri kecil-kecilan milik  suami-suami  mereka  dan mereka menganggap bahwa ini bukanlah merupakan dosa.  Allah mengetahui kondisi hati dulu dan kini pun mengetahui juga. Dia berfirman bahwa kalian ini mencuri kecil-kecilan, inipun juga berjanjilah bahwa inipun kalian tidak akan lakukan. Apa saja yang kalian sisihkan di rumah sisihkanlah dengan memberitahukan itu kepada suami.wala yazniyn- dan  tidak akan melakukan zina wala yaqtulna aulaadahunna-dan kalian tidak akan membunuh anak -anak kalian.Yakni membunuh anak -anak bukanlah maksudnya bahwa kalian menyembelihnya. Maksudnya dengan banyak memanjakan dan menyayangi kalian tidak akan menyesatkan mereka. Jangan sekali-kali dengan perantaraan memanjakan dan menyayangi mereka  menjadi hancur dan sebagai hasilnya kemudian mereka keluar dari tangan kalian. Bukannya mengambil surga dari telapak kaki kalian bahkan sebaliknya  mengambil jahannam.Dan selain itu walaa ya’tiyna bi buhtaanin dan mungkin dalam diri perempuan-perempuan lebih banyak kebiasaan bahwa mereka melempar tuduhan kepada perempuan-perempuan yang lain.Berfirman,”inipun berjanjilah bahwa kalian tidak akan melem[par tuduhan.Apa maksud “tuduhan” yaftariynahu baina aidihinna wa arjulihinna- yakni di hadapan tangan dan kaki mengada-ngada hal baru yang tidak ada kaitannya dengan hakekat. wala ya’shinaka fi ma’ruwfin dan dalam pekerjaan yang baik mereka akan mengitaati kamu/tidak akan menentang kalian.Jika mereka berjanji ini maka fabayi’hunna wastagfir lahunnallah- ambillah baiat mereka  dan mintakanlah ampun untuk mereka kepada Allah.innallah gafuwrurrahiym- sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Adapun kaitan  masaalah ma’ruf, ini merupakan masaalah yang dalam baiat laki-laki juga diambil janji,bahwa kami tidak akan ingkar dalam pekerjaan yang makruf. Inipun merupakan hal yang perlu diberi pengertian bahwa  makruf itu apa. Al-quran telah menerangkan semua yang haram dan yang halal dengan begitu terang dan semua yang  semua yang bersih/suci diterangkan dengan terang dan jelas. “Ma’ruf-baik” pada zatnya memang ada, namun disini kata “makruf “bukanlah  ini.maksudnya. Maksudnya adalah selain semua perintah-perintah dan sunnah-sunnh yang sudah ada, jika imam kamu memerintahkan sesuatu kepada engkau yang secara umum itu baik dan tidak mesti persis sesuai dengan syareat dapat diperlihatkan kepada kamu bahwa di tempat ini ada perintah ini,maka kamu tetaplah itaat padanya. Jika kalian melakukan hal seperti itu,maka Allah akan berkali-kali mengasihi kalian dan bahasan tentang itu ada di suatu hadis  yang diriwayatkan oleh Hazrat Umaimah bin Ruqaiqah r.a.terangkan. Beliau berkata bahwa saya  datang dengan perempuan-perempuan Ansor untuk berbaiat di hadapan Rasulullah saw..Kami perempuan-perempuan mengatakan ,ya Rasulullah saw.,kami berbaiat pada Tuan bahwa kami tidak akan menyekutukan Tuhan  dengan siapapun.Kami tidak akan mencuri,kami tidak akan berzina,dan kami tidak akan saling melemparkan tuduhan satu dengan yang lain dengan sengaja dan kami tidak akan membangkang terhadap dalam hal ma’ruf.Maka Rasulullah saw. bersabda,”Katakan juga ini bahwa seberapa kami mempunyai kekuatan sebatas itu kami akan lakukan .

Inilah kata- kata yang Hazrat Masih mauud a.s. juga  masukkan dalam syarat baiat kepada beliau.dan sangat penting. Kalau tidak siapapun tidak akan berani untuk baiat. Karena setelah baiat beberapa kelemahan-kelemahan menjadi zahir dan manusia tidak bisa tetap tegak berpegang pada janji  baiatnya.Kemudian manusia bertaubat kemudian  menimbang. Oleh karena itu secara zahir baiatnya persis pada waktu itu  habis ketika dia meninggalkan (janji)taubahnya dan kembali melakukan dosa yang dari mana dia bertaubah. Maka Hazrat Rasulullah saw. berasabda,”Lihatlah,katakanlah selalu bahwa sejauh kemampuan kami dari Tuhan, sampai batas itu kami akan bertaubah.Maka Hazrat Masih Mauud a.s.  juga dalam kata-kata baiat telah mensyaratkan “kemampuan”.Sejauh kemampuan kami akan berusaha  sedapat mungkin,akan berusaha sejujur-jujurnya untuk  tidak  melakukan dosa-dosa itu.

Ketika perempuan-perempuan mengulurkan tangannya untuk berbaiat maka beliau bersabda bahwa saya tidak mempertemukan/menjabatkan tangan dengan perempuan. Perkataan saya kepada seratus perempuan itu sama dengan saya mengatakan kepada seorang perempuan.Maksudnya adalah apapun kata-kata yang telah saya ulangi  kamu telah mengulangi, apakah kalian satu atau ratusan maka untuk kalian semua itulah kata-kata cukup.Dan kata-kata itu adalah”saya tidak mengulurkan tangan” ini merupakan  sunnah Rasulullah saw. bahwa beliau tidak menjabatakan  tangan dengan perempuan-perempuan  lain dan sebagai hasilnya  di sebagian orang-orang terjadi  kebiasaan.Misalnya  di sebagian golongan Syiah ada kebiasaan seperti itu yang mana  mereka menjulurkan kainnya dan perempuan-perempuan memegang kain itu, seolah-olah dengan cara itu  terjadi ikatan.Namun inipun tidak perlu,baiat secara secara lisan itu cukup.Dan kadang-kadang saya pun juga melakukan seperti itu bahwa jika hati perempuan-perempuan menginginkan untuk menjabatkan tangan maka saya memegang tangan salah seorang anak  perempuan            saya yang  dan tangan anak perempuan itu dipegang oleh perempuan yang lain.Yang dengan demikian mereka memperoleh ketenteraman zahir bahwa ikatan secara zahirpun telah terjadi.

Hazrat Khalifatul Masih 1 bersabda,”Hazrat Sahib pun dalam syarat-syarat baiat beliau telah menulis  syarat “taat pada yang ma’ruf “ yang di dalam ini terdapat rahasia.Rahasia itu apa saya telah terangkan. Bahwa jika imam memerintahkan kepada kamu suatu hal yang kamu telah baiat padanya, yang secara meyakinkan tidak bisa memperlihatkan  bahwa perintah itu ada disini, namun itu merupakan hal yang baik,maka hal yang baik itu amalkanlah.

Ada satu ayat surah Attagabun,” ya ayyuhalladziyna aamanuw inna min azwaajikum wa auladikum ‘aduwwun lakum fahdzaruwhum wa in ta’fuw watash fahuw wa tagfiruw fainnallaha gafuw rurrahiym-Hai orang-orang yang beriman sesunggunya dari istri-istri kamu dan dari anak –anak kamu sebagian dari mereka adalah musuh kamu. Semuanya bukan musuh, ingat. Dari anak – anak  dan dari istri-istri sebagian adalah musuh-musuh kamu yang karena cintamu padanya kalian melupakan perintah-perintah Tuhan. Dan di dalam mencintainya kamu sendiri menganiaya dirimu sendiri. Jadi menghindarlah selalu dari musuh yang seperti itu. Yakni,karena manjanya anak-anak janganlah merusak tarbiat  dan selalulah menghindar dari mereka Dan jika terlibat  keterlanjuran dengan mereka terapkanlah sifat femaaf dan bersifat lemah lembutlah dengan mereka dan selalulah maafkan mereka ,karena Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Jadi kalau kamu memperlakukan anak –anak kalian seperti itu maka jadilah selalu orang yang mengharapkan rahmat Allah yang dengan demikian Dia  juga akan memaafkan kamu.

Ada satu ayat Al-quran yang panjang ”wa inna rabbaka ya’lamu annaka taquwmu adana min tsulutsayillaili wa nish fahuw wa tsulutsahuw wa thaa ifatun minalladziyna ma’ak wallahu yuqaddirullaila wannahara ‘alima an lan tuhshuhu fataaba ‘alaikum faq ra uw ma tayassara minal qur’aana ‘alima an sayakuwnu minkum mardha wa aakharuwna yadhribuwna fil ardhi yab taguw na min fadhlillahi wa aakharuwna yuqaatiluwna fiy sabiylillahi faqra uw ma tayassara minhuw wa aqiymussalaata wa aatuzzakaata wa aqridhullah qardhan hasana wama tuqaddimuw lianfusikum min khaerin tajiduwhu indallahi wa hua khaeran wa a’zhama ajran wastag firullah innallah gafuwrurrahiym Ini merupakan ayat yang panjang yang akhirnya ada gafuwrurrahiym, tapi selama belum diterangkan semua topik maka pada waktu itu ketika kesempatan untuk membaca gafuwrurrahiym maka tidak akan mengerti. Dan ini merupakan masaalah yang semua orang-orang yang beriman hendaknya mengetahui. Karena mereka hendaknya mengetahui bahwa pada waktu salat tahjjud berapa kali, dan kapan hendaknya melakukannya. Dan hendaknya juga mengetahui pula bahwa siang malam terus silih berganti,dari segi itu salat tahajjud kadang-kadang bisa panjang atau bisa pendek juga.

Sambil tertuju kepada Rasulullah saw. Allah swt. berfirman,” Sesungguhnya Tuhan engkau mengetahui bahwa engkau dekat  waktu  dua pertiga malam atau setengahnya atau sepertiga bagiannya engkau berdiri melakukan salat“ Dua pertiga malam  merupakan waktu tahajjud yang panjang. Atau engkau terus berdiri kurang dari  itu atau setengahnya atau bagian  sepertiga. Pada dasarnya ini terjadi  karena silih  bergantinya malam dan siang.

Adapun malam musim panas itu pendek dan siang  panjang,pada malam-malam itu  pun sangat banyak.Yakni, berdiri selama dua pertiga malam, ketika malam  pendek, secara  kenyataan manusia bisa berdiri.Dan bersama itu ikut bersama Rasulullah saw. para sahabah juga melakukan seperti itu dan Allah menambah dan mengurangi siang dan malam. Dan Dia mengetahui bahwa kamu tidak bisa melakukan semua  itu sepenuhnya.Yakni kamu tidak bisa melakukan seperti Rasulullah saw……(Oleh karena itu .Dia mengampuni(?.)kamu. Maka seberapa yang tersedia dari Al-quran  bacalah itu.Dia mengatahui bahwa diantara kalian ada yang sakit juga.Dan yang lain juga yang dengan menginginkan karunia Tuhan mereka beperjalanan.di bumi.

Kini dalam  beperjalanan kondisi salat tahajjud itu lain.Pada hari-hari biasa ketika manusia di rumah tahajjudnya lain dan ada juga yang lain yang berperang di jalan Tuhan. Nah,dalam kondisi jihad keadaan salat  tahjjud  sama sekali lain. Maka dari ini apapun yang tersedia, yakni dari Al-quran yang manapun yang tersedia bacalah itu selalu dan tegakkanlah salat dan bayarlah zakat dan berilah Allah hutang yang baik.

“Hutang yang baik”, Tuhan itu apa perlunya. .Maksud dari hutang yang baik bahwa demi untuk Tuhan dari harta yang bersih, sedikit di jalan-Nya berilah kepada orang-orang miskin dan orang-orang lain, sebagaimana Dia telah perintahkan untuk membayarnya.Itu yang disebut hutang yang baik. Dan di atas hutang yang baik tidak ada riba.Tapi hutang yang diberikan kepada Allah, itu hendaknya diberikan dengan niat yang baik. Janganlah dengan niat bahwa Allah akan memperbanyak itu. Namun apabila kamu memberikan, maka kamu akan melihat bahwa Allah dari segi ganjaran.sangat baik dan akan mendapatkan Allah wujud yang sangat agung. Dia meskipun  tidak mensyaratkan bahwa Saya akan memperbanyak itu,  namun Dia dalam corak itu telah menjanjikan kepada  orang-orang mu’min..Yakni orang mu’min  tidak memberikan dengan syarat bahwa Dia akan menambah,namun ada janji Tuhan kamu berikanlah kepada Saya,maka Saya sebagai hasil dari rahmat dan karunia Saya,Saya akan menganugerahkan ganjaran yang sangat besar kepada kalian.Jadi mohonlah ampunan dari Allah.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Jadi, memohon ampunan  pada dasarnya berkaitan dengan istigfar dan salat tahajjud.dan hari itu panjang atau pendek,.malam itu pendek atau panjang hendaknya membiasakan salat tahajjud.dan pada waktu itu hendaknya banyak membaca istigfar.Sebagai imbalannya kalian akan mendapatkan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Hazrat Masih Mauud a.s.  bersabda.”Terdapat dalam hadis bahwa thuwba liman wujida fiyhi shahifatihistigfaaran katsiyra-habar suka untuknya yang banyak mendapatkan dalam catatan amalnya istigfar yang banyak. Arti istigfar adalah memohon perlindungan dari dosa-dosa dan dari akibat-akibat buruknya.Inilah arti istigfar Rasulullah saw. Bukanlah artinya bahwa-naudzubillahi min dzalik- beliau adalah berdosa oleh karena itu beliau berkali-kali beliau beritigfar,bahkan maksudnya adalah,hai Tuhan sebagaimana Engkau telah menjadikan saya selalu bersih dari dosa untuk kehidupan yang akan datang pun bersihkanlah saya dari dosa-dosa.Yakni dosa  menyentuh sayapun juga jangan.

Pada waktu yang lalu agak panjang bahasan.Untuk kali ini saya telah bagi menjadi dua bagian dan untuk bagian topik rahiym saya tinggalkan.Ada satu perhitungan –insyaaallah -akan diterangkan pada Jumaah yang kan datang. Sesudah itu pada bahasan rahmaniyat kembali akan disampaikan dan sebelumnya saya telah menyebut secara singkat dan kini ayat-ayat itu akan saya sebutkan yang sebelumnya tidak dijelaskan.Pendek kata jika Allah menganugerahi taufik maka –insyaallah -topik ini akan terus berjalan sampai pada waktu yang panjang. Dan ini hanya berkaitan dengan rahimiyatSifat-siafat Tuhan sekurang-kurangnya 99 nama. Coba perkirakan bahwa topik ini betapa panjangnya akan berjalan.Semoga Allah menganugerahkan kepada khalifah-khalifah dalam Jemaat,maka topik ini juga mereka akan teruskan.

Qamaruddin Syahid