Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 14 Februari 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Pada hari ini saya akan membahas tentang Tanda-tnda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang telah beliau sendiri tulis. Beliau telah mengatakan dengan jelas peraturan yang mendasar tentang itu. Yakni tujuan dari tanda-tanda yang sudah zahir dan yang sedang berlaku sekarang dan akan berlaku sampai waktu yang akan datang. Maksudnya adalah melalui beliau a.s. Allah Ta’ala ingin menzahirkan kebenaran Islam kepada dunia dan ingin menzahirkan martabah luhur Hadhrat Rasulullah saw kepada dunia. Tanda-tanda ini dimana telah menutup mulut orang-orang Ghair dan juga para penentang Non Muslin disana juga sebagai bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bagi orang-orang Muslim bahwa beliau adalah Jariyullah Pahlawan Allah, Utusan Allah Ta’ala bagi kebangkitan kembali Agama Islam. Sekarang saya ingin mengemukakan kutipan-kutipan dari Barahin Ahmadiyyah dari mana kita akan tahu intisari pernyataan beliau a.s. Beliau bersabda:

“Semua perkara dipersiapkan agar orang-orang yang sungguh-sungguh mencari jalan lurus menjadi jelas bagi mereka bahwa semua berkat dan nur terhimpun hanya di dalam Islam. Agar bukti-bukti yang meyakinkan tentang Wujud Allah Ta’ala dapat sampai kepada orang-orang yang tidak ber-Tuhan di zaman ini. Dan agar orang-orang yang berfitrat kotor seperti Setan segera nampak jelas kepada setiap orang yang adil dan bijaksana. Yaitu mereka yang bersahabat dengan kegelapan dan memusuhi atau membenci cahaya dan menolak martabah luhur Hadhrat Rasulullah saw serta dengan menggunakan kata-kata sangat kasar dan biadab, melemparkan tuduhan-tuduhan keji terhadap beliau sebagai afdhalul basyar, insan termulia ini. Dan disebabkan sangat rendahnya keadaan bathin dan disebabkan sangat gelapnya kejahilan mereka, tidak mengetahui sesungguhnya beliau-lah seorang insan kamil yang telah datang kedunia yang cahayanya terang-benderang laksana matahari yang selalu memancarkan cahayanya diatas permukaan bumi dan akan selalu memancarkan cahayanya. Dan agar dengan tulisan yang haq ini kemegahan Islam akan zahir dengan cemerlang melalui pengakuan para penentang dan supaya orang-orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran akan terbuka jalan-jalan bukti kebenaran bagi mereka. Dan orang-orang yang memiliki akal dan pengertian jernih akan memperoleh kesimpulan yang jelas.”

Alasan untuk menuliskan kasyaf dan ilham-ilham itu agar kekuatan iman orang-orang Muslim semakin meningkat (yang adalah ilham-ilham Hadhrat Masih Mauud a.s) dan supaya hati mereka memperoleh kekuatan dan keyakinan dan mempunyai keimanan dan pengertian sempurna bahwa sirotol mustaqiem, yakni jalan yang lurus terdapat hanyalah di dalam Islam. Dan dibawah kolong Langit hanya ada seorang Nabi dan sebuah Kitab, yakni Hadhrat Muhammad saw yang paling mulia diatas semua para Nabi dan yang paling kamil dari antara semua rasul dan Khatamul Anbiya dan Khairun Naas yang dengan mengikutinya manusia dapat memperoleh Tuhan Yang Mahakuasa, dan semua tabir kegelapan tersingkap sehingga di dunia ini juga tanda najaat atau keselamatan nampak dengan jelas. Dan, Qur’an Karim yang mengandung hidayat yang benar dan lengkap serta padat dengan tafsir-tafsirnya dengan perantaraannya dapat dihasilkan ma’rifat atau ilmu pengetahuan Ilahi dan dengan Kitab Alqur’an kalbu manusia disucikan dari kelemahan-kelemahan insani serta manusia memperoleh najaat dari tabir kejahilan, keraguan dan kelalaian sampai kepada martabah Haqqul Yaqin yang kamil.

Dan penyebab penulisan kasyaf-kasyaf dan ilham-ilhamnya  serta kesaksian orang-orang dari penganut agama lain adalah agar orang-orang Muslim selalu melengkapi diri mereka dengan hujjat atau dalil-dalil yang kuat.   Agar selalu menjadi bukti yang jelas terhadap orang-orang yang lemah dan orang-orang tidak bertuhan dan orang-orang berhati gelap dan kotor yang menentang orang-orang Muslim tanpa hak, agar selalu dapat dibuktikan kekalahan dan tuna ilmu tanpa jawab mereka di hadapan orang banyak. Dan juga agar orang-orang yang mencari kebenaran di zaman ini begitu juga bagi generasi yang akan datang tetap terpelihara dari racun udara kesesatan sangat berbahaya yang pada zaman ini sedang bertiup dengan kencangnya, sebab di dalam ilham-ilham itu banyak sekali perkara-perkara yang munculnya secara zahir sudah dipastikan waktunya dimasa yang akan datang.  Maka apabila zaman ini sudah berlalu dan tirai Dunia Baru akan tersingkap kemudian menampakkan mukanya akan menyaksikan dengan matanya sendiri kebenaran perkara-perkara yang tertulis di dalam Kitab ini. Maka nubuatan-nubuatan ini akan sangat berfaedah sekali untuk meningkatkan kekuatan iman. Insya Allah![2]

4 jilid pertama Barahin Ahmadiyah yang referency nya dari sana lham-ilham yang beliau a.s. jelaskan itu bukan khusus untuk zaman ditulisnya Buku itu melainkan tersimpan bagi generasi yang akan datang yang harus mereka ingat selalu. Dan banyak sekali kabar ghaib yang telah dikemukakan yang berlaku di zaman yang akan datang, yang bukan hanya untuk membuktikan kebenaran beliau a.s. sendiri melainkan untuk membuktikan kebenaran Agama Islam dan untuk memberitahukan ketinggian derajat dan martabah Hadhrat Rasulullah saw kepada dunia. Namun sangat mengherankan sekali manusia itu, mengapa mereka tidak mau mencari fakta yang sebenarnya tentang ilham-ilham yang sedang turun kepada beliau namun sebaliknya mereka cepat melemparkan tuduhan dan kritikan. Ilham-ilham itu diturunkan oleh Tuhan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di dalam Bahasa Arab, Urdu dan Bahasa Inggeris disatukan. Allah Ta’ala menurut kehendak-Nya sendiri kadangkala Wahyu atau Ilham itu dalam satu waktu dan mengenai satu perkara diturunkan dalam dua atau tiga macam Bahasa.

Walhasil, banyak orang-orang Non Muslim juga menyaksikan sempurnanya kabar ghaib yang disebutkan di dalam wahyu dan ilham-ilham itu, sehingga kebenaran Al-Qur’an dan Hadhrat Rasulullah saw nampak jelas kepada mereka. Kitab Barahin Ahmadiyah merupakan sebuah tanda bagi orang-orang yang memiliki mata rohaniah di waktu sekarang. Tulisan-tulisan dan tanda-tanda yang tercantum di dalam Kitab ini menjadi sarana bagi peningkatan iman. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa semua kebenaran perkara-perkara itu akan disaksikan oleh generasi yang akan datang. Setelah menyaksikan semua itu, keadaan iman betul-betul semakin meningkat. Kitab Barahin Ahmadiyah dan Kitab-kitab beliau lainnya menjadi sumber untuk memperoleh hidayah bagi manusia, bahkan merupakan sebuah tanda. Akan tetapi mereka yang berhati buta, tidak mengetahui sedikitpun ilmu dan ma’rifat beliau dan tanda-tanda kebenaran beliau a.s., mereka sedikitpun tidak faham.  Beliau mengemukakan kabar-kabar ghaib setelah menerima kabar dari Allah Ta’ala kemudian bersabda di dalam Kitab Kishti Nuh;

“Demikianlah kabar-kabar ghaib yang telah disampaikan Allah Ta’ala dan telah menjadi kenyataan pada waktunnya, adalah berjumlah tidak kurang dari 10.000 buah. Akan tetapi di dalam Kitab Nuzulul Masih yang sedang dicetak hanya disebutkan 150 buah untuk contoh beserta bukti dan saksi-saksinya; dan tiada satupun dari nubuatan-nubuatan-ku itu yang tidak menjadi kenyataan, atau dari dua bagiannya sebagian belum menjadi sempurna.

Andaikata seseorang mencari-cari sampai ia tutup usia, tidak akan ia dapati sebuah nubuatanpun yang telah diucapkan mulut-ku dan mengenai itu ia dapat mengatakan nubuatan itu hampa belaka. Akan tetapi jika tidak punya rasa malu atau tiada mempunyai kesadaran berfikir, boleh sajalah ia berkata sesuka hatinya. Dan aku berkata dengan tegas, bahwa ada ribuan nubuatan serupa itu yang telah menjadi kenyataan dengan sejelas-jelasnya, sedangkan ratusan ribu orang telah menjadi saksi terhadap sempurnanya nubuatan-nubuatan itu. Seandainya bandingannya dicari pada Nabi-nabi terdahulu, sekali-kali tidak akan terdapat ditempat lain kecuali pada wujud Rasulullah saw. Andaikata lawan-lawan-ku mengambil keputusan dengan cara itu pula, maka sudah lamalah mata mereka terbuka; dan aku bersedia untuk memberi hadiah besar, seandainya mereka dapat menampilkan tandingan bagi nubuatan-nubuatan itu di atas dunia ini. Hanya semata-mata karena kenakalan atau kebodohan belaka berkata, bahwa nubuatan yang ini atau yang itu tidak menjadi kenyataan, mengenai itu tidak dapat kami berbuat selain mengatakan, bahwa ucapan-ucapan itu bersumber kepada kedengkian dan buruk sangka belaka.

Sekiranya di dalam suatu pertemuan diadakan tukar pikiran untuk menyelidiki hal itu, niscaya mereka akan menarik kembali ucapan mereka, atau terpaksa harus disebut tidak punya rasa malu. Kalau ribuan nubuatan telah menjadi sempurna persis seperti telah dinubuatkan, lagi pula terdapat ribuan orang yang masih hidup dan menjadi saksi atas sempurnanya nubuatan itu, maka hal itu bukanlah suatu hal sepele, melainkan seolah-olah menampakkan wujud Tuhan Yang Maha Agung.

Kecuali di zaman Hadhrat Nabi Muhammad saw, pernahkah ada zaman dimana terdapat seseorang yang menyaksikan ribuan nubuatan yang telah disampaikan lalu nubuatan-nubuatan itu telah jadi sempurna laksana terang benderangnya siang hari dan ribuan orang telah memberi kesaksian atas sempurnanya nubuatan-nubuatan itu? Aku katakan dengan se-yakin-yakinnya, bahwa sebgaimana di zaman ini Tuhan sedang menghampiri dan menampakkan Wujud-Nya, sedang ratusan perkara ghaib tengah disingkapkan tirainya bagi hamba-Nya ini, serupa itu jarang sekali terdapat contohnya pada zaman dahulu.[3]

Dalam Nuzulul Masih, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan berbagai jenis wahyu dan ilham. Diantaranya sebagai contoh saya menyampaikan 3 – 4 buah contoh.

Beliau bersabda;

Lihat Barahin Ahmadiyya hal.517. terjemahannya adalah “ Hai Ahmad, rahmat akan disalurkan melalui bibir engkau! Kami akan menganugerahkan kepada engkau kebijaksanaan, kefasihan dan hakikat-hakikat serta ma’rifat. Maka zahirlah bahwa kalam-ku telah memperlihatkan sebagai mu’jizah, sehingga tidak ada yang dapat menandinginya. Setelah menerima wahyu ini saya telah menerbitkan lebih dari 20 buah Kitab dan risalah-risalah didalam Bahasa Arab yang sangat fasih, namun tidak ada yang dapat menandingi-ku. Allah Ta’ala telah merampas kekuatan berbicara dan hati kedua-duanya dari mereka kemudian memberikannya kepada-ku.[4]

Kemudian beliau bersabda mengenai nubuwwatan yang lain.

Lihatlah Barahin Ahmadiyya hal. 518-519 – dan terjemaahannya itu adalah,  Mereka berkata, dari mana engkau memperoleh martabah (kedudukan) ini? Ini semata-mata sebuah penipuan. Kami tidak akan percaya kepada engkau, sebelum kami melihat Tuhan. Orang-orang itu tidak akan percaya kecuali kepada tanda kematian. Katakanlah kepada mereka: Matilah, yakni   maka ta’un juga akan datang! Oleh sebab itu janganlah ingin cepat-cepat dengan-ku.[5]

Bersabda, “Nubuatan ini diumumkan 20 tahun sebelum panyakit ta’un tersebar” (Nuzulul Masih – Ruhani Khazain Jild 18 halaman 510)

Ta’un yang datang telah diumumkan 20 tahun sebelumnya dan hingga beberapa tahun Ta’un ini merajalela dan  ratusan ribu manusia telah mati.

Kemudian beliau bersabda tentang  nubuwwatan yang lainnya,

 “أصحاب الصفة، وما أدراك ما أصحاب الصفة. ترى أعينهم تفيض من الدمع. يصلّون عليك. ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي للإيمان. وداعيا إلى الله وسراجا منيرا. أملوا”. Lihatlah Barahin Ahmadiyya hal. 241— terjemahannya adalah sebagai berikut, “Ashabus Suffah. Apa yang engkau ketahui siapakah itu Ashabus Suffah. Engkau akan melihat mata mereka berlinang penuh air mata. Mereka akan mengirim selawat kepada engkau, sambil berkata: Hai Tuhan kami ! Kami telah mendengar suara orang yang berseru dan berkata, luruskan dan perkuatlah iman kalian! Dia berseru mengajak kepada Tuhan dan menjauhkan syirik dan dia adalah sebuah pelita yang bersinar terang.” (tulislah) Ketika nubuatan ini disiarkan di dalam Barahain Ahmadiyah, pada waktu itu tidak ada suffah (tempat Ashabus Suffah) dan tidak ada pula Ashabus Suffah-nya. Kemudian setelah itu (setelah 1882, waktu menulis ilham-ilham itu) orang-orang mukhlis datang berhijrah ke Qadian, guest house dan juga suffah dipersiapkan untuk mereka.    Lihatlah.  Alangkah agungnya nubuatan ini! Ketika perkara ini dicetuskan di waktu itu tidak ada seorangpun yang berfikir kearah itu, bahwa akan tiba waktunya dimana orang-orang mukhlis akan berkumpul di Qadian dan untuk mereka suffah dipersiapkan.”[6]

Selanjutnya beliau a.s. bersabda: يريدون أن يطفئوا نور الله بأفواههم والله متم نوره ولو كره الكافرون” Brahain Ahmadiyya hal. 240 – terjemahannya: “ Musuh   berkehendak untuk memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tapi Allah akan menyempurnakan Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.”   Sekarang lihatlah!   Ini adalah nubuatan yang pada waktu itu belum ada penentang belum ada pula musuh melawan Jemaat ini. Sepuluh tahun kemudian setelah ilham berupa nubuatan ini turun, timbul gejolak perlawanan sangat keras sekali sampai kepuncaknya, yakni tuduhan kafir ditulis dimana-mana, dikeluarkan fatwa wajibul qotel dan disebarkan di dalam ratusan buku-buku dan majalah-majalah mereka. Sebagian besar moulvi atau ulama menjadi musuh dan membuat rencana sejahat-jahatnya untuk menghancurkan Silsilah ini. Namun, natijahnya sungguh terbalik, Silsilah atau Jemaat ini memperoleh kemajuan yang luar biasa cepatnya.”[7]

Selanjutnya beliau as bersabda,  “إن لم يعصمك الناس فيعصمك الله من عنده، يعصمك الله من عنده وإن لم يعصمك الناس.” (Barahin Ahmadiyah Hal.510) “Sekalipun manusia tidak menyelamatkan engkau, yakni berusaha untuk membinasakan, akan tetapi Allah Ta’ala pasti akan menyelamatkan engkau. Allah pasti akan menyelamatkan engkau, jika tidak ada manusia yang menyelamatkan engkau.” Tengoklah nubuatan Allah Ta’ala ini sungguh kokoh-kuat dan agung sekali. Dan telah dijanjikan untuk menyelamatkan saya.

Dan janji itu sangat jelas sekali. Bahwa manusia akan berusaha membinasakan saya dan mereka akan membuat bermacam-macam rencana, atau makar, namun Tuhan akan bersama saya, rencana dan makar mereka akan digagalkan, dan saya akan diselamatkan. Cobalah fikir! Mereka telah berusaha sedapat mungkin membuat rencana dan makar. Berbagai macam makar dan rencana jahat itu telah dibuat untuk membinasakan saya. Telah dibuat-buat tuduhan palsu tentang pembunuhan, berusaha keras untuk menghina dan menjatuhkan nama baik saya, berusaha keras mengenakan pajak atas nama saya, ditulis fatwa kufur atas nama saya dan menuduh melakukan pembunuhan. Akan tetapi Allah Ta’ala telah menggagalkan semua makar jahat mereka itu.  Mereka tidak berhasil dalam usaha berbagai macam tuduhan dan penipuan terhadap saya. Begitu keras taufan kejahatan dan perlawanan yang timbul kemudian, telah dikabarkan Tuhan jauh sebelumnya kepada saya. Takutlah kalian kepada Tuhan dan berkatalah benar dan jujur, adakah atau tidak ilmu yang Ghaib dan dukungan Allah Ta’ala kapada saya? Perlindungan berarti menyelamatkan diri dari musibah yang sangat dahsyat yang menjadi sasaran utama musuh. Ingatlah bahwa kepada Hadhrat Rasulullah saw juga telah dijanjikan perlindungan.

Padahal di waktu perang Uhud Hadhrat Rasulullah saw mendapat luka-luka sangat parah sekali. Dan peristiwa itu terjadi setelah beliau menerima janji perlindungan dari Allah Ta’ala. Begitu juga Allah Ta’ala telah berfirman kepada Hadhrat Isa a.s.: وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ Yakni: Ingatlah ketika Kaum Bani Israil hendak membunuh engkau Aku telah menyelamatkan engkau dari mereka. ( Al Maidah 111). Padahal terbukti bahwa Nabi Isa a.s. telah ditangkap kemudian digiring dan dinaikkan keatas palang salib. Akan tetapi Allah Ta’ala akhirnya menyelamatkan nyawa beliau. Jadi, itulah makna dari إِذْ كَفَفْتُ  yakni ketika Aku menyelamatkan engkau, seperti “والله يعصمك من الناس”. Allah menyelamatkan engkau dari kejahatan manusia.”[8]

Demikianlah saya (Hudhur V atba) telah menguraikan tiga empat contoh tanda-tanda Allah Ta’ala yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Buku-buku beliau juga merupakan satu tanda. Tentang itu beliau bersabda,

“Apabila saya menulis suatu karangan di dalam Bahasa Urdu atau Bahasa Arab saya menyaksikan penampakan mu’jizat Allah Ta’ala secara khas kepada saya. Sebab ketika saya sedang menulis suatu kalimat di dalam Bahasa Arab atau Bahasa Urdu saya merasa ada seseorang dari dalam sedang mengajar saya. Dan tulisan saya didalam Bahasa Arab, Urdu atau Farsi selalu terbagi dalam dua bagian.

Pertama, Sangat mudah sekali susunan kata-kata dan maknanya tampil kehadapan saya, saya dengan mudah terus menulis, seakan-seakan diwaktu sedang menulis itu tidak merasa sulit sedikitpun. Namun susunan kata-kata itu tidak lebih dari kemampuan otak saya. Yakni susunan kata-kata dan maknanya itu demikian rupa jika tanpa ada pertolongan Tuhan pun, dengan karunia Allah Ta’ala mungkin saya dapat menyusunnya, berkat pertolongan-Nya yang biasa diberikan sesuai dengan kemampuan alami manusia. Saya dapat menyusun karangan ini dengan mengerahkan sedikit usaha dan menghabiskan banyak waktu. والله أعلم Wallahu a’lamu, Allah Maha Mengetahui.

Bagian kedua, Tulisan saya semata-mata luar biasa, sebagai mu’jizat. Yaitu apabila saya menyusun kalimat di dalam Bahasa Arab, kadangkala dalam susunan kalimat itu memerlukan kata-kata yang saya sendiri tidak tahu, maka pada waktu itu tiba-tiba turun bimbingan dari Allah Ta’ala melalui wahyu, dan kalimat-kalimat itu dimasukkan kedalam kalbu saya oleh Ruhul Kudus (Malaikat) dan kalimat-kalimat itu terucap di lidah saya. Pada waktu itu perasaan saya menghilang.

Misalnya di waktu sedang menulis di dalam Bahasa Arab saya sangat memerlukan kalimat Bahasa Arab yang artinya tepat terjemah dari kata “كثرة العيال” yang saya sendiri tidak tahu, sedangkan saya sangat memerlukannya, maka tiba-tiba perkataan “ضفف” dimasukkan kedalam kalbu saya melalui wahyu yang maknanya adalah “كثرة العيال”. Atau misalnya diwaktu menulis saya memerlukan perkataan yang artinya diam di waktu sedih dan marah, dan saya tidak tahu perkataan itu, maka serentak perkataan “وجوم” diwahyukan kedalam hati saya.

Begitulah juga halnya dengan kalimat-kalimat Bahasa Arab. Sambil menulis di dalam Bahasa Arab, ratusan kalimat tersusun diwahyukan ke dalam kalbu saya. Atau Malaikat memperlihatkan tulisan kalimat-kalimat itu diatas secarik kertas dan beberapa kalimat itu dari ayat-ayat Al-Qur’an atau serupa dengan itu namun sedikit perobahan. Atau kadangkala setelah beberapa lama kemudian diketahui bahwa kalimat-kalimat Bahasa Arab yang diwahyukan kedalam kalbu saya itu terdapat di dalam sebuah Kitab. Oleh karena Tuhan adalah Pemilik segala sesuatu, Dia memiliki kekuasaan untuk mewahyukan suatu kalimat yang indah atau suatu ba’it Sya’ir yang indah dari sebuah kumpulan Sya’ir-sya’ir kedalam kalbu saya. Itulah mengenai Bahasa Arab. Namun yang lebih mengherankan lagi adalah, banyak wahyu diturunkan kepada saya di dalam Bahasa yang sedikit pun saya tidak faham. Misalnya dalam Bahasa Inggris, Bahasa Sanskrit atau Bahasa Ibrani, sebagai contoh telah saya cantumkan di dalam Kitab Barahin Ahmadiyah.  Dan saya bersumpah, demi Allah, Yang di tangan-Nya jiwa saya, begitulah caranya Allah Ta’ala berlaku dengan saya. Dan itulah salah satu tanda yang diberikan kepada saya. Perkara Ghaib diwahyukan kepada saya dan berbagai bentuk dan Tuhan-ku tidak memperdulikan, kalimah-kalimah yang diwahyukan kepada saya itu tertulis di dalam Buku Bahasa Arab, Inggeris, Sankskrit atau Bahasa Ibrani. Sebab semua itu semata-mata dari yang Ghaib bagi saya. Sebagaimana di dalam Al-Qur’anul Karim banyak sekali Allah Ta’ala mencantumkan kisah-kisah dari Kitab Taoret sebagai perkara ghaib, sebab kisah itu tidak diketahui oleh Hadhrat Rasulullah saw sekalipun bukan perkara ghaib bagi orang-orang Yahudi. Jadi, itulah rahasianya mengapa saya menantang dunia untuk bertanding dengan saya dalam mu’jizat dan kefasihan menyusun tafsir di dalam Bahasa Arab. Jika tidak, siapa manusia itu dan apa hakikat Ibnu Adam menantang dunia dengan jalan takabbur dan sombong untuk bertanding melawannya.” [9]

Beberapa contoh pengaruh kekuatan dan kemampuan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di dalam menulis karangan-karangan di dalam Bahasa Arab kepada orang-orang di zaman ini juga dapat saya kemukakan. Bukan beberapa contoh, melainkan banyak sekali contoh-contoh, yang diantaranya akan saya kemukakan sekarang. Di zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. seorang-pun tidak ada yang berani tampil melawan beliau, bahkan sampai sekarang juga tidak ada yang berani.

Seorang perempuan Palestina berkata, saya beriman sangat kuat sekali tentang Nabi Isa a.s. hidup di atas Langit dan akan turun kembali ke dunia di akhir zaman untuk membebaskan umat dari kuku perbudakan terhadap Islam dengan menggunakan pedang. Dan lagi akan memaksa manusia masuk Islam dengan menggunakan pedang. Oleh sebab itu saya sangat menunggu kedatangannya dengan perasaan gelisah. Kemudian saya berkenalan dengan Jemaat Ahmadiyya melalui ipar saya yang masih muda, yang sering bertukar pikiran dengan saya bukan hanya tentang Jemaat melainkan dia suka mengirim buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan literatur lainnya juga di dalam Bahasa Arab. Saya merasa bahwa saya telah mendapatkan mutiara yang sangat berharga. Saya memperoleh kefasihan tulisan-tulisan di dalam Bahasa Arab yang sangat indah laksana mutiara-mutiara ma’rifat ilmu pengetahuan rohaniah yang sangat indah tiada bandingannya dan tidak terhingga nilainya dan saya merasa bahwa tulisan-tulisan itu buah pikiran seorang yang mempunyai hubungan sangat erat dengan Tuhan. Dan setelah mendapat kepuasan dan ketenteraman dalam hal itu semua sayapun Bai’at masuk Jemaat Ahmadiyah.

Hijaz Sahib dari Algeria berkata, saya merasa sangat putus asa dengan ajaran Islam dan dengan tafsir-tafsir Alqur’anul Karim yang salah. Setelah mendengar penjelasan-penjelasan tafsir dari para ulama saya sering berfikir, apakah firman-firman yang dijelaskan tafsirnya seperti itu patut dikategorikan firman Tuhan? Akhirnya saya diperkenalkan kepada Ahmadiyah dan tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. oleh seorang teman Ahmadi asal Negara Jordan. Sebelum saya membaca Tafsir-tafsir Hadhrat Masih Mau’ud a.s saya shalat  nafal dan berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menunjukkan saya kejalan yang lurus. Semakin banyak saya menela’ah semakin terbuka pula hati saya dan berkat pengaruh kekuatan ruh tulisan-tulisan itu badan saya gemetar dengan dahsyat, dan hati merasa sangat yakin bahwa kalam ini bukan hasil karya manusia melainkan semata-mata kalam yang diurapi wahyu Ilahi.

Faras Sahib dari Abu Dhabi menulis, “Berapa banyak Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang telah saya peroleh, berkat menela’ahnya serta berkat mengikuti program-program Bahasa Arab di dalam program “al Hiwar al Mubasyar”…jawaban langsung MTA saya menjadi tahu akidah-akidah Jemaat Ahmadiyah. Mula-mula disebabkan kajahilan atau pengaruh pendirian sebelumnya, saya menyatakan diri menolak terhadap semua akidah itu.  Akan tetapi apabila setelah saya menela’ah ayat-ayat Qur’an dan Hadis-hadis serta Sunnatullah dengan perhatian yang sangat dalam, maka hati saya mulai merasa tenteram dan puas.  Sekarang terdapat dua option di dalam hati saya, pertama, apakah saya tetap berpegang kepada pendirian turunnya Nabi Isa dari atas Langit dan sebelum itu menunggu datangnya Dajjal yang sifat-sifatnya telah diterangkan seakan-akan seperti Tuhan, misalnya mengenai menghidupkan orang sudah mati dan lain-lain.  Kedua, apakah saya percaya menerima kebenaran Hadhrat Ahmad a.s. sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi yang telah membersikan semua kurafat yang mengotori Islam kemudian telah menampilkan betapa indahnya wajah Islam dan telah membela kehormatan Hadhrat Rasulullah saw. Kemudian saya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dan sangat banyak sekali berdoa kepada-Nya agar Dia memberi petunjuk kepada saya ke jalan yang benar yang diridhoi oleh- Nya. Maka saya merasa hati saya betul-betul condong kepada Jemaat Ahmadiyah dan kepada Hadhrat Ahmad a.s.    Saya seorang lulusan Fak. Hukum. Ketika saya mendengar sya’ir-sya’ir Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam memuji Hadhrat Rasulullah saw maka seluruh tubuh saya mulai gemetar dan air mata-pun mulai mengalir dengan deras, maka dengan suara keras saya berkata bahwa seorang pendusta tidak mungkin mampu menulis sya’ir seindah ini dan tidak mungkin di dalam hati seorang pendusta tertanam kecintaan sangat dalam seperti itu terhadap Hadhrat Rasulullah saw.    Dan seorang Ajami (non Arab) tidak mungkin mampu menuturkan kalimat-kalimat Bahasa Arab yang sangat fasih tanpa pertolongan Ilahi kepadanya.

Kemudian Abbas Sahib seorang Arab dan tinggal di Italia menulis, sekalipun para Maulvi-maulvi melarang, saya selalu menonton program Bahasa Arab “al Hiwaru…..jawaban langsung di dalam MTA. Pada suatu hari saat  tenggang waktu saya mendengar Qasidah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Bahasa Arab,

‘ilmi minar rahmani bil alaai

billahi huztul fadhla laa bi dahaa-i’ [10]

(artinya Ilmuku berasal dari Tuhan Yang Maha Pemurah, pemilik segala karunia.  Dengan perantaraaan karunia Allah lah aku mendapatkan karunia ini bukan karena kepandayaaku. Pent)

Sambil mendengarkan qasidah ini saya menatap foto Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sehingga tanpa sadar terucap dengan suara keras dari mulut saya sebuah kalimat: Demi Allah!  Seorang pendusta tidak mungkin dapat menuturkan kecintaan seperti ini terhadap Hadhrat Rasulullah saw. Manusia seperti ini pasti seorang Utusan Tuhan. Kalam seperti itu tidak mungkin terucap dari mulut orang yang tidak menghormati Allah dan Rasul-Nya.

Khalid Sahib dari Morocco, ia berkata,  “Setelah mengenal Ahmadiyah saya sangat heran bahwa Imam Mahdi sudah datang bahkan sudah pergi lagi (wafat) dan baru sekarang kami mendengar tentang beliau. Sambil banyak berfikir dan berdoa saya memohon bimbingan kepada Allah Ta’ala dan saya mulai menela’ah Buku-buku Jemaat di dalam Bahasa Arab yang tersedia di dalam Website. Buku pertama yang saya baca adalah Buku Filsafat Ajaran Islam terjemah Bahasa Arab dan saya baca berulang-kali. Di dalam Kitab itu setelah membaca penjelasan tentang ihsan dan itaizil qurba ruh saya mulai sangat terkesan sekali. Setelah itu saya mulai menela’ah Buku “At Tabligh dan Kitab-kitab lainnya lagi. Kitab-kitab itu telah menumpahkan samudera hakikat dan rahasia ruhani serta ma’rifat Agama demikian hebatnya sehingga saya sering berkata: Saya telah menemukan khazanah yang melimpah ruah.

Hani Sahib menulis tentang Hamadah Sahib,  bahwa di dalam Website kita dia mengajukan beberapa pertanyaan tentang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjadi Maryam dan   meniupkan ruh kepada Maryam itu. Untuk itu dijalin hubungan dengannya dan dikirimkan kepadanya beberapa tulisan dan kutipan-kutipan dari intisari penjelasan-penjelasan Hudhur a.s. karenanya dia sangat terkesan sekali dan memperoleh semua hakikat.    Ia menulis, Kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Al Tabligh telah membuka dada saya.   Dan saya merasa gembira yang sangat mengherankan sekali, bahwa di zaman ini juga saya memperoleh kesempatan membaca kalam Anbiya yang sarat dengan nur dan merasa menyesal juga terhadap keraguan saya di masa lampau.

Hatami Sahib dari Yemen, katanya, “Sebagai seorang wartawan dan penyelidik sangat gemar sekali untuk mencari kebenaran. Oleh sebab itu saya membaca Buku-buku para penentang Jemaat juga. Dimana banyak tulisan yang dibuat-buat untuk menghina sampai kepada masalah kafir-mengkafirkan. Setelah mengadakan penyelidikan lebih lanjut sampailah kepada kesimpulan bahwa itu semua selain hanya merupakan tuduhan-tuduhan palsu lagu lama tidak ada hal lain lagi. Di pihak lain kefasihan Bahasa Arab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan lain-lainya merupakan mu’jizat yang luar buasa hebatnya. Ini juga merupakan mu’jizat Ilahi bahwa Dia telah melahirkan Hadhrat Imam Mahdi dari keturunan Bangsa Farsi, sebab tidak merupakan keharusan bahwa Imam Mahdi datang dari Bangsa Arab, sebab hidayah dan Nubuwah tidak terbatas hanya kepada Bangsa Arab saja, kemudian apa gerangan kesalahan Bangsa lain. Di akhir zaman Islam menjadi gharib, salah satu artinya menurut pendapat saya adalah kebangkitan Islam di Akhir Zaman akan dimulai oleh orang-orang bukan keturunan Bangsa Arab. Setelah membaca Kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. saya mendapat kesimpulan bahwa beliau telah mempersembahkan ajaran Islam yang sejati, yang telah dilupakan atau telah dirusak oleh manusia. Islam artinya adalah aman dan keselamatan. Akan tetapi orang-orang Muslim berperang satu sama lain dan banyak jiwa berjatuhan.  Ada yang menunggu Imam Mahdi penumpah darah, ada yang menunggu Imam Mahdi keluar dari gua,  akan tetapi sebuah Jemaat Ahmadiyah telah beriman kepada Imam Mahdi yang hakiki dan sedang giat mengikutinya.”

Abyat Sahib dari Iran katanya,  “Saya lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga Syi’ah, dan sejak mula condong kepada Agama.   Saya telah menyaksikan program berbagai macam TV dan menela’ah buku-buku. Akan tetapi wajah Islam yang sedang mereka tampilkan tidak memberikan kepuasan dan ketenteraman kepada saya. Dan saya fikir bahwa wajah Islam yang mereka tampilkan pasti terdapat suatu kekurangan dan kelemahan di dalamnya. Al-Qur’an telah berfirman bahwa banyak sekali manusia akan masuk kedalam Agama Islam ini.    Akan tetapi kebanyakan orang-orang Islam kosong dari hakikat Islam yang sebenarnya. Dari itu saya merasa yakin bahwa pengertian-pengertian yang sedang berlaku sekarang ini harus dibetulkan. Katanya,  seorang teman telah mengundang saya kerumahnya dan memperkenalkan MTA kepada saya. Setelah itu saya sering mengikuti program “al Hiwarul al Mubasar” jawaban langsung  MTA siaran Bahasa Arab dan program-program lainnya, diantaranya program Tafsir Al-Qur’an dan berbagai jenis masalah lainnya yang disampaikan sangat mengesankan sekali. Pertama kali saya saksikan di dalam MTA percakapan para Ulama Ahmadi dan jawaban-jawaban dengan dalil-dalil yang sangat kuat dan meyakinkan terhadap orang-orang bertanya sangat mengesankan sekali. Yang sangat aneh bagi saya adalah Ulama Ghair Ahmadi mengundang Syi’ah untuk berdiskusi, akan tetapi dalam melawan Jemaat Ahmadiyah hanya puas dengan mengkafirkan dan memaki, sebab mereka tidak bisa melawan dalil-dali kuat yang dikemukan oleh Jemaat Ahmadiyah. Dengan banyaknya orang-orang Ahmadi yang dipenjarakan dan dibunuh, saya yakin bahwa para penentang Ahmadiyah selain perbuatan menodai nama baik Islam, mereka tidak mampu berbuat apa-apa lagi.   Bila saja saya menyaksikan program MTA iman saya semakin bertambah kuat. Setelah mengetahui akidah tidak adanya masalah nasikh-mansukh di adalam Alqur’an, saya merasa yakin tentang kecintan Hudhur a.s. terhadap Islam. Ketika saya mendengar bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menulis Kitab Barahin Ahmadiyah untuk membuktikan kemenangan Islam diatas semua Agama lain dan untuk menjawab tuduhan dan kritikan terhadap Islam maka saya telah yakin sekali terhadap semangat dan giatnya tabligh beliau. Setelah membaca Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan para Khulafa beliau saya merasa yakin bahwa beliau-beliau bukan orang-orang biasa, melainkan beliau-beliau ini adalah para Pemimpin Islam sejati dan dunia sangat memerlukan sekali buah pikiran beliau-beliau. Kefasihan Hudhur a.s. di dalam Bahasa Arab dan menantang orang-orang Arab dan Non Arab untuk bertanding membuat karangan di dalam Bahasa Arab merupakan peluang emas bagi para penentang untuk membuktikan keunggulan diri mereka sendiri. Akan tetapi mereka tidak mampu berbuat demikian. Semua dalil-dalil itu selain membuat saya beriman kepada beliau tidak ada jalan lain lagi bagi saya. Dan setelah betul-betul mengetahui hakikat Jemaat Ahmadiyah, saya menganggap wajib menablighkannya kepada orang lain.”

Banyak sekali didapati peristiwa seperti ini akan tetapi Sebagaimana telah saya katakan hanya beberapa buah saja yang saya kemukakan.

Berkenaan dengan tanda-tanda itu di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud .s. bersabda:

“Saya adalah orang yang beratus tanda telah zahir untuk mendukungnya. Adakah seorang manusia hidup diatas dunia pada zaman ini yang dapat bertanding mengalahkan saya dalam menunjukkan Tanda-tanda samawi? Saya bersumpah, demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman tangan-Nya, sampai sekarang lebih dari 200,000 tanda telah zahir mendukung saya. Dan barangkali hampir 10.000 orang atau lebih telah bertemu dengan Hadhrat Rasulullah saw di dalam mimpi mereka dan beliau saw membenarkan saya. Dan di Negeri ini orang-orang ahli Kasyaf terkenal yang mempunyai murid 300 sampai 400 ribu orang, telah diperlihatkan oleh Tuhan di dalam mimpi atau kasyaf, mereka diberitahu bahwa sesungguhnya orang ini telah datang dari Tuhan. Dan kebanyakan dari mereka telah wafat 30 tahun sebelum penda’waan saya, misalnya Gulab Shah Sahib yang tinggal di distrik Ludhiana, India yang memberi kabar kepada Mian Karim Bakhsh dari Jamalpur bahwa Isa telah lahir di Qadian dan ia akan datang ke Ludhiana. Mian Karim Bakhsh seorang suci dan sudah lanjut usia, beliau telah bertemu dengan saya di Ludhiana. Dan semua nubuatan itu diceritakan kepada saya. Oleh sebab itu para Maulvi telah sangat menyusahkan  beliau, akan tetapi beliau tidak menghiraukan mereka sedikitpun. Beliau berkata: “Gulab Shah Sahib selalu berkata kepada saya bahwa Isa ibnu Maryam tidak hidup, melainkan sudah mati. Beliau tidak akan kembali ke dunia. Sekarang untuk Ummat ini Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa, yang telah diciptakan oleh Tuhan dibawah kekuasaan-Nya serupa dengan Isa a.s. yang namanya dilangit telah disebut Isa. Dan beliau berkata: “Hai Karim Bakhsh, apabila Isa itu sudah datang maka engkau akan menyaksikan betapa kerasnya para Maulvi akan memusuhi beliau. Mereka akan menentangnya sangat keras, namun mereka tidak akan berhasil dan gagal. Dia akan diutus ke dunia untuk membersihkan dan menghapuskan tafsir Al-Qur’an yang dusta dan sangat menyimpang dan akan memperlihatkan wajah Alqur’an yang sejati kepada dunia”.   Di dalam nubuatan tersebut dengan jelas diisyarahkan kepada Mian Karim Bakhsh bahwa beliau akan memperoleh umur panjang dan bertemu dengan Masih Mau’ud secara pribadi.”[11]

Sekarang kita melihat yaitu   Hadhrat Saw memberikan bimbingan kepada sebagian orang dengan perantaraan mimpi, berkaitan dengan sebagian orang yang baiat dizaman Hadhrat Masih Mauud a.s. Saya akan menyampaikan sebagian kecil darinya.

Hadhrat Mian Abdul Rasheed Sahib r.a. mengatakan, saya telah Bai’at atas anjuran ayah saya dan melalui sebuah mimpi dimana saya telah berjumpa dengan Hadhrat Rasulullah saw di dalam mimpi itu bahwa Hadhrat Rasulullah saw sedang sakit keras dan berbaring diatas tempat tidur.     Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berdiri disamping beliau saw, seperti orang yang sedang menengok orang sakit. Hudhur saw bangkit dari tempat tidur dan berdiri sambil bertopang kepada pundak Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kemudian mulai berpidato. Di dalam pidato beliau itu Hudhur saw memberi penjelasan tentang kebenaran penda’waan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Dan setelah itu saya lihat di dalam mimpi itu bahwa Hudhur saw sudah sehat kembali dan nampak wajah beliau segar dan sangat cemerlang.    Dari mimpi itu saya menta’wilkan bahwa Islam akan hidup kembali melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Maka setelah melihat mimpi itu saya-pun segera menyatakan Bai’at masuk Jemaat.[12]

Demikian juga Abdus Sattar Sahib r.a. bin Abdullah Sahib,  katanya, “Saya telah bertanya kepada ayah saya,  yaitu  berikanlah pengertian pada saya karena saya tidak mengerti masalah wafat Masih Nasiri a.s., tentang beliau hidup diatas langit saya tahu. Karena mengenai hidupnya Masih selalu mendengar”.

Setelah 8 atau 10 bulan Ayah saya bai’at menjelaskan sebuah mimpi. Katanya, “Saya melihat dua buah kemah berdiri di tepi sungai Rawi.   Sebuah kemah kepunyaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan yang kedua kepunyaan Hadhrat Rasulullah saw. Saya masuk kedalam Kemah Hadhrat Rasulullah saw dan bertanya: Bagaimana pendapat Hudhur tentang da’wa orang suci Masih Mau’ud? Beliau saw sambil memberi isyarah dengan telunjuk kearah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda tiga kali: Orang ini datang dari Tuhan! Setelah menyaksikan mimpi itu secara sempurna saya sangat yakin sekali bahwa penda’waan  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah benar. Sekarang saya tidak perlu lagi perkara hidup mati Nabi Isa itu, saya telah percaya dan Bai’at masuk Jemaat Ahmadiya”. [13]

Sardar Karam Dad Sahib r.a. menulis,  “Sebelum Bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. saya melihat dalam mimpi bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sedang berjalan-jalan di sebuah jalan. Saya datang dari arah depan. Hadhrat Muhammad saw sambil memberi isyarah dengan telunjuk kearah Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda tiga kali kepada saya: Orang ini telah datang dari Tuhan!   Pada tahun 1902 di Qadian Darul Aman, ketika bangunan Masjid masih kecil, saya Bai’at disana. Pada waktu itulah saya menjumpai wujud Hadhrat Masih Mau’ud a.s. seperti saya lihat di dalam mimpi.”[14]

Di zaman ini juga kita dapat menyaksikan pemandangan bagaimana Hadhrat Rasulullah saw memberi petunjuk kepada orang-orang mukhlis tertentu.

Muhammad  bin Ahmad Sahib tinggal di Germany menulis, “Saya di masa muda tinggal di Saudi Arab ketika sedang belajar di Engineering University. Di sana saya tidak pernah mendengar tentang Ahmadiyah. Pada tahun 2004 atau 2005 saya bernasib baik bertemu dengan Hadhrat Rasulullah saw di dalam mimpi. Pada waktu itu saya bersama Hadhrat Rasulullah saw sedang berada di atas sebuah Menara yang sangat indah sekali. Hadrat Rasulullah saw sedang memberi isyarah dengan telunjuk kearah Rembulan. Rembulan nampak sangat dekat sekali dan cahayanya memancar ke-empat penjuru sampai jauh sekali. Di tengah-tengah cahaya itu ada sebuah menara. Nabi Muhammad saw sedang memberi tahu dengan isyarah kepada saya tentang sesuatu benda, yang sebelumnya saya tidak pernah mengenal benda itu. Beliau berlaku dengan kecintaan dan penuh kasih sayang kepada saya, yang keadaannya tidak mungkin dapat saya jelaskan. Kemudian Hudhur saw pergi dari sana. Setelah itu saya-pun bangun dan merasa seakan-akan saya terangkat sampai tinggi diatas bumi. Untuk beberapa hari lamanya saya sangat kurang bertemu dan berbicara dengan orang-orang. Saya tidak faham sepenuhnya mimpi itu. Akhirnya ayah saya memberi tahu kepada saya. Ayah saya juga bernasib baik telah bertemu dengan Hadhrat Rasulullah saw di dalam mimpi. Dan Hudhur saw memberi kabar kepada beliau tentang kelahiran saya pada tahun 1979 dan bersabda kepada beliau: Akan lahir seorang anak laki-laki engkau namanya Muhammad. Ayah saya memberi tahu hal ini kepada saya pada tahun 2007. Pada waktu itu saya belum tahu sedikitpun tentang Ahmadiyah. Kemudian pada suatu ketika adik saya di Suriah memberi tahu Website Jemaat kepada saya. Dari situ saya mulai menela’ah akidah-akidah dan Tafsir Jemaat. Kurang lebih akidah-akidah itulah yang biasa kami bicarakan di waktu masih kecil bersama teman-teman. Misalnya yang dimaksud dengan Dajjal, adalah kebangkitan Bangsa-bangsa Barat di zaman ini dan daya tarik barang-barang madiah, propaganda kekuatan Agama Kristen dan lain-lain.

Kemudian dia menulis kepada saya, katanya yakinlah bahwa diwaktu saya sedang membaca Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. saya selalu menangis karena hakikat dan ma’rifat dalam setiap perkataan dan kebenaran beliau demikian jelas laksana siang hari yang terang benderang. Setiap perkataan tertanam kedalam kalbu saya. Iman yang sangat berharga ini merupakan kekayaan yang tidak dapat dilukiskan dengan lisan. Akidah-akidah Jemaat dan kemenangan diatas dunia sangat jelas sekali. Sesungguhnya Jemaat yang mengemukakan hakikat ajaran Islam, misalnya Qur’an Karim suci dari Nasikh-mansukh, tafsirnya yang tepat sesuai dengan akal maupun argumentasi, kesucian para Anbiya hakikat isro dan mi’raj, hanya Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang mampu menjelaskannya dengan tepat dan benar. Sekarang Jemaat Ahmadiyah telah berhasil meraih sebagian dari kemenangan akan tetapi di masa datang yang dekat kemenangan secara menyeluruh akan diperoleh.

Seorang teman dari Damascus bernama Ridhwan Sahib.   Katanya, setelah menamatkan study di bidang Matematic Verity (IT) dari Damascus University, saya mulai usaha perbaikan Computer.   Disamping itu mengajar anak-anak muda Al Quranul Karim di Masjid-masjid kota Damscus. Saya memperoleh ilmu pengetahuan Agama bukan dari suatu perguruan Agama melainkan hasil usaha dan menela’ah sendiri.  Setelah suatu kejadian saya mulai mencari jalan untuk menghasilkan ma’rifat Ilahi. Setelah itu, ru’ya pertama yang saya lihat merupakan amanat bagi saya bahwa Alqur’an adalah sumber ilmu pengetahuan dan ma’rifat Ilahi dan carilah di dalamnya pengetahuan untuk memecahkan berbagai kesulitan di dalam menjalani kehidupan. Ketika saya sedang menela’ah Alquranul Karim, saya merasa benak saya penuh dengan berkat dan ilmu pengetahuan. Pada suatu malam ketika saya sedang Salat membaca ayat: الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Yakni, Orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan perbuatan yang baik.(Al Kahfi:105) saya sangat takut sekali dan saya berdoa Kepada Allah Ta’ala memohon petunjuk kejalan yang lurus. Pada waktu itu dua orang anak muda datang mengetuk pintu saya dan bertanya mengenai Qadianiyyat. Ketika saya hendak memulai membaca buku tentang Qadianiyyat sebagai kafir, tiba-tiba merasa bahwa saya sedang melakukan suatu kesalahan besar dan sedang mengulangi kabar angin, maka saya berhenti membaca. Kemudian saya mulai kenal dengan Badar Sahib yang memberi sebuah Kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s kepada saya bernama “Filsafat Ajaran Islam”.

Kitab itu tidak saya simpan sebelum saya tamat membacanya. Saya merasa bahwa penulis ini tidak mengutip ajaran Islam dari cerita orang melainkan telah membuktikannya dengan pengalaman sendiri. Beliau pasti seorang manusia pilihan Tuhan. Pokok pembicaraan yang paling mengesankan saya di dalam kitab ini adalah wahyu Ilahi ghair munqati’ tidak putus masih terus berlanjut. Kira-kira enam bulan kemudian saya melihat ru’ya, saya sedang hadir di hadapan Allah Ta’ala dan saya lihat Nur Allah Ta’ala memancar luas ke seluruh penjuru. Pada waktu itu Allah Ta’ala berfirman kepada saya: أعطيتُك الدرع الواقي ‘A’thaitukad dir’al waaqiy’ – “Aku memberi engkau sebuah perisai yang melindungi engkau.”

Saya tidak dapat memahami hal itu. Disebabkan rasa malu saya tidak bertanya kepada Allah Ta’ala, melainkan saya berkata: سمعا وطاعة sam’an wa tha’atan! Saya dengar dan patuh tha’at. Saya melihat Malaikat yang nampaknya seperti lasykar perang lengkap dengan senjata. Malaikat itu berkata kepada saya: Katakanlah kepada Basit teman kamu! Pegang teguhlah kalimah “لا إله إلا الله” Laa ilaaha illallah. Setelah itu saya membaca smua Kitab Hudhur a.s. di dalam Bahasa Arab. Dan banyak sekali faedah saya peroleh dari padanya, dan memberi kesan laksana sihir kepada saya. Setelah itu saya salat Istikharah, maka diperdengarkan sebuah ayat kepada saya عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا Abdan min ‘ibaadina aataina rahmatan min ‘indina wa ‘alamnaahu min ladunna ‘ilmaa. Terjemahnya,    Seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan rahmat dari Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari hadirat Kami. Kemudian saya berjumpa dengan Hadhrat Rasulullah saw. yang kedua kalinya.  Dalam menjawab pertanyaan saya beliau bersabda: Di zaman ini hanyalah Mirza Ghulam Ahmad sebagai sumber keselamatan.

Selanjutnya setelah menyaksikan banyak tanda-tanda (sedikit diantaranya saya sampaikan). Seorang Muballigh kita menulis, di Afrika seorang Muballigh kita bernama Abdul Malik Sahib telah pergi kesebuah kota bernama Munsi bersama dua orang teman untuk bertabligh.  Para pemuda disana telah melakukan kekacauan sambil berteriak-teriak, sehingga majlis tabligh terpaksa dihentikan.   Hari berikutnya ketika penduduk kota itu telah membuat satu program, tiba-tiba angin taufan bertiup sangat kencang, sekalipun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tiba-tiba datang awan tebal disertai taufan bertiup sangat kencang sekali. Maka turunlah hujan sangat lebat sekali dan semua program telah porak-poranda. Dengan terjadinya peristiwa ini penduduk kota itu merasa bahwa taufan itu adalah tanda kemarahan Tuhan akibat pertablighan Jemaat Ahmadiyah telah dihentikan.  Maka sebagai natijahnya sebanyak 41 orang telah Ba’at masuk Jemaat Ahmadiyya.

Sebuah laporan dari Nigeria atau ada satu laporan, di dalam sebuah kampung bernama Udulu dan sekitarnya sedang melakukan kegiatan pertablighan, namun di sana telah terjadi banyak perlawanan.  Seorang pemuda dari kampung lain bernama Bashir datang memberi tahu, bahwa dia berdoa kepada Allah Ta’ala, “Hai Allah jika orang-orang Ahmadi ini tidak baik, maka timpakanlah musibah keatas mereka. Dan jika orang-orang Ahmadi ini benar maka timpakanlah musibah keatas para penentang yang akan menjadi sebuah tanda”. Maka setelah lima hari kemudian saya melihat dari antara para penentang dua orang telah jatuh sakit dan mereka  mati setelah menderita sakit keras.   Sebab itu saya yakin bahwa Jemaat ini adalah sebuah Jemaat dari Allah Ta’ala. Dan dengan tulus hati saya beriman dan Bai’at masuk Jemaat Ahmadiyah.

Kemudian dari Burkina Faso, Africa tepatnya di wilayah Dedougou (muballigh kita) menulis,  “Ketika Muballigh kita pergi ke beberapa kampung, sampailah juga ke sebuah kampung dimana penduduknya hampir 100 orang sudah menjadi Ahmadi. Penduduk kampung itu berkata kepada Muballigh itu bahwa sudah cukup lama tidak turun hujan di kampung itu, karena itu mereka tidak bisa bercocok tanam. Muballigh itu berkata: “Mari kita berdoa sambil mengerjakan Salat Istisqo”. Pukul 10 pagi kita akan mengerjakan Salat Istisqa. Umumkanlah kepada semua penduduk, laki-laki, perempuan dan juga anak-anak. Ketika diumumkan maka Orang-orang Ghair Ahmadi beserta Imam mereka tidak ikut dalam sembahyang Istisqo itu. Muballigh itu berkata, bahwa di dalam Salat itu saya memohon kepada Allah Ta’ala, Demi Nabi Muhammad saw dan juga Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Ya Tuhan-ku, hapuskanlah dahaga yang diderita oleh tanah orang-orang kampung ini. Dengarlah doa-doa kami dan perlihatkanlah pemandangannya kepada orang-orang kampung ini.

Allah Ta’ala telah mendengar doa laki-laki, perempuan dan anak-anak kampung itu dan pada malam itu juga turun hujan sangat lebat. Katanya, setelah mengerjakan Salat Istisqo kami telah pergi kekampung lain untuk bertabligh. Di waktu pagi orang-orang kampung itu datang untuk memberi kabar bahwa di kampung itu telah turun hujan lebat yang merupakan karunia besar dari Allah Ta’ala. Dengan kejadian itu orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim Ghair Ahmadi yang menyaksikan Salat Istisqo kami, sangat terkesan sekali, dan sebagai natijahnya 90 orang telah Bai’at di sana.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda: “Orang Jemaat kita harus menjalin hubungan yang benar  dan tulus dengan Allah Ta’ala,   bahwa Allah Ta’ala tidak meninggalkan mereka begitu saja, melainkan untuk meningkatkan mutu iman dan keyakinan mereka Dia memperlihatkan beratus-ratus Tanda-tanda Qudrat-Nya kepada mereka.”[15]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua orang-orang yang menjalin hubungan erat dan tulus dengan-Nya. Hubungan erat dan tulus itu demikian rupa sehingga setiap orang dari kita menjadi Tanda-tanda-Nya dan menjadikan mutu iman kita semakin tinggi. Dan semoga Allah Ta’ala menjadikan anak keturunan kita semua kuat iman dan erat hubungan dengan-Nya dan menjadikan orang-orang Ahmadi yang patuh ta’at dan menghargai janji-janji Bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Amin !!

Pada waktu ini telah diterima berita yang menyedihkan, saya akan memimpin Salat Jenazah ghaib untuk dua orang. Pertama RaziuDin yang telah disyahidkan pada tanggal 8 Februari 2014 ketika meninggalkan rumah pergi menuju ke tempat kerjanya di Karachi, Pakistan.   Innalillaahi wa inna ilahi Raajiiuun.mohon ditulis teks Arabnya!!!   Istri dan keponakannya beserta dia. Pada hari itu terjadi pemogokan diKarachi.  Istrinya berkata kepadanya, Jangan pergi bekerja akan tetapi beliau bersiap-siap untuk pergi.  Baru saja beberapa saat meninggalkan rumah,  dua orang tak dikenal menunggangi sepeda motor telah menghadang dari depan dan menembaknya.  Beliau segera dibawa ke Rumah Sakit, akan tetapi disebabkan luka-luka tembak yang berat mengenai sasaran leher beliau. Keponakannya bersamanya, untuk memberitahukan hal ini ia pergi kerumahnya. Istrinya dengan cepat membawanya ke Rumah Sakit dimana dokter disana berusaha sedapat mungkin untuk menyelamatkan jiwanya. Akan tetapi disebabkan luka-lukanya maka Tuan RaziuDin   meninggal sebagai Syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Mohon ditulis teks arabnya!!! Beliau adalah putra dari tn. Muhammad Husain Mokhtar.  Bapak dan Kakeknya almarhum Syahid adalah dari Mandar, Kasymir. 2 orang suci dari Mandar setelah pergi ke Qadian baiat pada Hadhrat Masih Mauud a.s.  kembalinya langsung bertabligh yang hasilnya Buyut  Almarhum Syahid tn. Fatah Muhammad baiat masuk dalam Jemaat Ahmadiyah. Nama Kakek  almarhum adalah tn. Muhtar Ahmad sedangkan ayahnya  tn Muhammad Husain Muthtar.  Setelah berdirinya negara Pakistan tinggal di Gui Kabupaten Kotili. Setalah itu  sejak tahun 1992 tinggal diKarachi. Mendapatkan pendidikan hingga D 1   Sudah 6 tahun bekerja dipabrik. Kesyahidannya dalam usia 26 tahun.  Manusia yang symphaty dan Mukhlis. Menghadapi setiap orang dengan hati yang gembira dan akhlak yang berseri-seri.  Sangat mencintai Khilafat.  Sangat menghormati Pengurus dan Nizam Jemaat. Tidak pernah berselisih dengan siapapun.  Setelah disyahidkan teman-teman dari ghair Jemaat menzahirkan perasaannya, bahwa almarhum syahid tidak pernah menyushkan orang lain dan kapanpun tidak pernah memberikan pengaduan bohong. Berualang kali menginginkan syahid.  Beberapa hari sebelum disyahidkan beliau bermimpi    beberapa hari sebelum disyahidkan beliau bermimpi melihat  seorang anak berlari-lari dibelakangnya sambil membawa kampak dan menyerang. Oleh karena itu mata beliau terbuka. 2 hari sebelum disyahidkan  yaitu pada tanggal 5 Februari istrinya bermimpi, bahwa suami saya almarhum sedang menikah. Tiba-tiba saya melihat ada jenazah tergeletak dirumah. Katanya, saya pergi berlari kerumah orang tua saya yang dekat letaknya dan disana juga saya melihat disana tergeletak satu jenazah.  Kemudian matanya terbuka.  Orang tua almarhum syahid juga bermimpi  putranya yang besar Muhammad Ahmad datang kepadaku dan katanya tuan memiliki  kesempatan 17 hari.

Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang Musi dan kebnyakan waktunya yang dewasa ini diberikan kepada khudam berada dimasjid. Ibundanya bernama Rasidah, usianya 80 tahun.  Beliau satu-satunya orang yang mencukupi keperluan nafkah keluarga beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan martabat beliau dan memberi kesabaran serta ketabahan kepada kedua orang tua, isteri dan seorang bayi perempuan beliau yang baru berumur 6 bulan. Semoga Allah Ta’ala selalu menjdi Pelindung mereka semua.

Jenazah yang kedua Dr Khalid Yusuf Sahib wafat pada tanggal 7 Februari di Rumah Sakit Fazle Umar Rabwah pada umur 46 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Mohon ditulis teks Arabnya. Beliau seorang Musi Dimakamkan di Bahisti Maqbarah, Rabwah. Ayah beliau tn. Sith Muhammad Yusuf yang adalah Amir Daerah di  Nawab Syah.  Dan beliau   disyahidkan pada tanggal 9 September 2008. Ibundanya tetap tinggal di Nawab Syah. Allah Ta’ala menganugerahkan kepada almarhum 3 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. Ammatul Syafi, AdiahYusuf, dan A’yan Ahmad  dan Iman Khalid 5 tahun.

Semoga Allah Ta’ala memberi derajat yang tinggi kepada Almarhum dan menganugerahkan kesabaran kepada semua putera-puteri beliau. Dan menjaga mereka. Setelah ayahnya disyahidkan di Nawab Syah  beliau datang kesini.  Dan  beliau adalah seorang doctor yang baik sekali. Disana juga beliau seorang dokter yang banyak berkhidmat pada orang-orang miskin akan tetapi keadaan di Nawab Syah yang buruk beliau datang ke Fadhli Umar Hospital. Terdaftar di ANT. Dan beliau memiliki iktan yang baik pada para pasiennya.  Pada waktu beliau masuk bekerja di Hospital walaupun dalam keadaan sakit beliau mengobati  80 orang yang sedang sakit.   Orang yang memiliki semangat pengkhidmatan  yang tinggi.   Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka semua.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Barahin Ahmadiyya hishshah Cehaaram, jilid awwal, halaman 555-558, baqiyah hasyiyah dar hasyiyah, nomor 3.

[3] Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, Hal. 6-7.

[4] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, Hal. 510

[5] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, Hal. 510

[6] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, Hal. 501-502.

[7] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, Hal. 526-527.

[8] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, Hal. 528-529.

[9] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain, Hal. 434-436

[10] Anjam-e-Atham, Ruhani Khazain jilid 11, halaman 266-282.

[11] Tadhkirat-ush-Shahadatain, Ruhani Khazain jilid 20, Hal. 36-37

[12] Register Riwaayaat Sahabah, ghair mathbu’ah, register nomor 11, halaman 28, riwayat Hadhrat Mia Abdur Rashid Shahib Lahore ra.

[13] Register Riwaayaat Sahabah, ghair mathbu’ah, register nomor 6, halaman 178, riwayat Hadhrat Abdus Sattar Shahib ra.

[14] Register Riwaayaat Sahabah, ghair mathbu’ah, register nomor 5, halaman 1, riwayat Hadhrat Sardar Karm Daad Khan Shahib ra.

[15] Malfuzhat, jilid 2, halaman 712, edisi 2003, Rabwah.