Khotbah Idul Adhha

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 16 Oktober 2013 di Masjid Baitul Huda, Sidney, Australia

Shalat Idul Adh-ha diimami oleh Hadhrat Khalifatul Masih V atba. Shalat selesai. Hudhur V atba mengucapkan takbir berikut 3 kali,

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu, Wallahu akbar. Allahu akbar. Wa liLlaahil hamd.” Diiringi oleh Jamaah. Lebih dari setengah menit kemudian, Hudhur V atba naik ke mimbar dan mengucapkan salaam, ‘Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah’ Selanjutnya ialah berikut ini:

لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾

Terjemahan ayat ini adalah: “Sama sekali tidak mencapai Allah dagingnya, tidak pula darahnya, tapi ketakwaanmu akan sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi kamu petunjuk. Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (Surah al-Hajj, 22:38)

Hari ini, Allah Ta’ala, dengan karunia-Nya telah memberi taufik dalam kehidupan kita untuk merayakan satu Idul Adhha lagi. Id adalah kesempatan suatu hal dan kegembiraan yang datang berkali-kali.[2] Adhhiyah artinya waktu ketika matahari naik, juga berarti kambing korban. Pendeknya, secara umum Id ini disebut juga Idul Qurban (Hari Raya Pengorbanan). Nama Idul Qurban ini, pada umumnya menimbulkan gambaran diantara orang-orang Muslim, bahwa ini adalah kesempatan gembira karena kamu melakukan penyembelihan hewan. Maka bergembiralah, makan daging, dan inilah Id. Karena itu kita melihat, pada Id ini, umat Muslim menyembelih ratusan ribu, bahkan jutaan binatang kurban. Pada saat haji, ratusan ribu binatang disembelih.

Di Pakistan dan lain-lain, dan banyak sekali negara-negara dimana terdapat umat Muslim, khususnya negara-negara dunia ketiga dan anak benua India (yaitu India, Pakistan, Bangladesh dan sekitarnya), sebelum Id, orang-orang kaya mulai berlomba-lomba membeli binatang yang besar dan bagus. ada yang berkata, “Saya membeli lembu jantan ini dengan harga yang sangat mahal.” Ada yang berkata, “Saya membeli sapi, domba, atau kambing dengan harga sekian juta.” kemudian mereka menghiasnya, karena terdapat perintah bahwa berikanlah (binatang) korban yang baik (indah). Karena itu, secara lahiriah pun mereka berusaha keras memperindahnya, dan mereka sangat menekankan pada tampilan lahiriah.

Ada orang-orang yang sedemikian rupa menyembelih korban padahal mereka tidak mengerjakan shalat maupun puasa. Hingga ada orang yang kecuali shalat Id, dia tidak mengerjakan shalat yang lain. Tetapi mereka melakukan korban yang besar dengan sangat semangat dan senang. kemudian setelah korban itu, mereka lupa, “Kita juga punya kewajiban-kewajiban, kita juga punya kewajiban-kewajiban, hidup kita juga ada tujuannya.” Sepanjang hari mereka makan dan bergembira, shalat pun kebanyakan mereka tidak mengerjakannya, dan inilah Id mereka.

Allah Ta’ala berfirman, memang ini adalah Idul Qurban, memang ini adalah perayaan Islam yang dirayakan setiap tahun untuk mengenang peristiwa pelaksanaan satu pengorbanan seorang ayah agung dan anak nan agung yang membayar hak kewajiban korban. Tetapi ingatlah, bahwa hanya bergembira atas poin bahwa nenek moyang kita 4000 tahun yang lalu memberikan pengorbanan ini, atau orang suci dan pilihan Allah itu siap untuk dikorbankan, tidaklah cukup. Itu adalah tindakan orang pilihan Allah, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, kemudian Allah Ta’ala pun menerima amal perbuatan tersebut.

Kemudian karena pengorbanan mereka yang terus-menerus, Allah Ta’ala menunjukkan pondasi rumah-Nya yang terdahulu, memerintahkan mereka membangun tembok diatas pondasi itu, dan menganugerahkan kepada mereka berkat yang lain. Allah menjadikan Rumah Allah ini sebagai sarana bagi semua orang di masa mendatang untuk mengingat Anda sekalian berdua, bahkan bertiga – karena ayah, ibu, dan anak (yaitu Hadhrat Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail), ketiganya ikut serta-. kemudian, Allah Ta’ala juga memberikan nikmat yang lebih besar dari itu, yakni doa kedua orang suci itu –Hadhrat Ibrahim as dan Hadhrat Ismail as– ketika meninggikan dinding bangunan ini, yaitu, “Bangkitkanlah seorang Nabi agung dari antara keturunan kami.” Allah Ta’ala menganugerahkan derajat pengabulan pada doa itu dan membangkitkan Nabi itu, yang paling dicintai Allah Ta’ala. yang dengan kedatangannya, pentingnya Rumah Allah Ta’ala ini semakin diperlihatkan dengan jelas. yang menegakkan standar tinggi dalam berdiri diatas Tauhid dan dalam menegakkan Tauhid. Allah Ta’ala, dengan perantaraan Rasulullah saw dan umat beliau, memasukkan kedua orang suci itu dan keturunan mereka dalam shalawat shalat dan menyertakan mereka dalam doa-doa umat Muslim selama dunia ini masih ada.

Pendeknya, inilah buah pengorbanan orang suci itu, yang mereka dapatkan, dan terus mereka dapatkan. Tetapi, Allah Ta’ala berfirman, “Jangan Anda sekalian berpikir bahwa nikmat ini akan Anda sekalian dapatkan dengan mengorbankan seekor domba, dan dengan mengorbankan seekor kambing, domba, atau sapi, Anda sekalian akan menjadi pewaris nikmat-nikmat.”

Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah daging dan darah pengorbanan mereka, dapat memberikan kepada mereka atau keturunan mereka maqam (kedudukan) ini. Tidak pula pengorbanan domba, kambing, dan sapi ini akan dapat memberikan suatu maqam kepada orang-orang yang beriman kepada Rasulullah saw dan keturunan mereka.

Jika ingin menjadi bagian dalam doa shalawat, Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, dan allahumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, dan menjadi orang yang merayakan Id hakiki, ciptakanlah ketakwaan sejati sebagaimana yang diinginkan oleh Allah Ta’ala. Ciptakanlah ketakwaan yang, pembawa syariat terakhir dan sempurna, Hadhrat Khatamul Anbiya, Muhammad Musthafa saw datang untuk menciptakannya.”

Di dalam ayat yang telah saya tilawatkan tadi Allah Ta’ala berfirman, “Pengorbanan Anda sekalian secara lahiriah, tidak akan menimbulkan hasil apapun. Melainkan, ruh pengorbanan itulah yang akan menimbulkan hasil, yang dengannya manusia memberikan pengorbanan.”

Allah Ta’ala berfirman, ingatlah, tanpa ketakwaan, ruh pengorbanan ini tidak akan lahir, dan tidak pula –tanpa ketakwaan- hasilnya akan lahir, yang merupakan tujuan dari pengorbanan hakiki. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyatakan dengan sangat jelas, “Daging dan darah pengorbanan Anda sekalian sama sekali tidak sampai kepada Allah Ta’ala.” Dia berfirman, wa laakin yanaaluhut takwaa minkum.’ – “Tetapi, ketakwaan hati kalian-lah yang sampai kepada Allah Ta’ala. Pengorbanan dalam bentuk apapun atau sarana apapun akan menyampaikan Anda sekalian kepada Allah Ta’ala. Tetapi, itu terjadi ketika pengorbanan ini dilakukan untuk meraih ridha Allah Ta’ala.”

Ridha Allah diraih dengan secara ikhlas (khalisatan) menerangkan kebesaran-Nya, dengan ibadah kepada-Nya; dengan mengamalkan perintah-perintah yang Allah Ta’ala berikan; dengan mengamalkan perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Qur’an. dengan meraih ruh dan pesan Islam.

Pendek kata, “Jika Anda sekalian melakukan pengorbanan dengan pemikiran ini, maka bagi Anda sekalian ada kabar suka, bahwa Anda sekalian akan menjadi orang-orang yang meraih ridha Allah Ta’ala, termasuk kedalam orang-orang yang berbuat ihsan, terhitung dalam orang-orang yang mendapat petunjuk. Anda sekalian akan menjadi orang-orang yang mendapatkan nikmat-nikmat yang telah ditetapkan bagi seorang Muslim hakiki.”

Rasulullah saw menasehatkan, terdapat dalam sebuah hadist, innamal a’maalu bin niyaat – “Sesungguhnya, nilai sebuah amal itu tergantung pada niatnya.” Alhasil, pengorbanan ini akan diterima jika niatnya adalah berjalan diatas ketakwaan dan untuk meraih ridha Allah Ta’ala, serta berusaha mengamalkan perintah-perintah-Nya. Kemudian, mengalirkan darah binatang korban ini juga akan menjadi sebab ridha Allah Ta’ala. Dagingnya akan menjadikan Anda sekalian pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memang tidak memerlukan daging. Ya, ketika niat seseorang itu baik, tujuannya untuk meraih ridha Allah Ta’ala, dan setelah berkorban memberikan darinya bagian saudaranya yang miskin dengan niat mengamalkan perintah Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala, yang memerintahkan kita untuk memenuhi hak-hak hamba (umat manusia), Allah Ta’ala, yang telah memerintahkan untuk memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan, juga akan memberi ganjaran atas pengorbanan daging secara lahiriah.

Supaya mereka menjadi orang yang mendapat ridha Allah Ta’ala, orang-orang yang tinggal di negara-negara kaya ini, yang mendapat taufik, baik dengan pengaturan Jemaat, atau secara pribadi, hendaknya berkorban di Pakistan dan di negara-negara miskin -karena ada juga yang selama berbulan-bulan tidak bisa makan daging, atau mereka bisa makan setelah berbulan-bulan. Inilah ihsan Allah Ta’ala kepada kita, Dia mengganjar untuk ruh dan dagingnya, (Dia) memberi ganjaran untuk lahir dan batin.

Ketika Allah Ta’ala berfirman, وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ wa basysyiril muhsinin, hendaknya jangan ada yang berpikir, bahwa karena kebaikan amal ini, Allah Ta’ala akan memasukkannya kedalam golongan orang-orang yang berbuat ihsan. Makna muhsin adalah orang-orang yang memberi faedah kepada orang lain; orang yang berjalan diatas kebaikan; yang memiliki ilmu. Jadi, disini Allah Ta’ala memberi kabar suka kepada orang-orang yang memiliki ilmu dan memahami ma’rifat bahwa takwa adalah ruh pengorbanan, dan bukannya pengorbanan secara lahiriah. Dan karena ilmu ini, mereka maju dalam kebaikan dan terus berusaha maju. Sebab oleh kemajuan dalam kebaikan, mereka mendapatkan kabar suka dari Allah Ta’ala; mereka mendapatkan petunjuk dan mendapatkan bagian dari nikmat-nikmat-Nya. Jadi, Allah Ta’ala-lah yang sedang berbuat ihsan pada hamba-Nya, atas amal yang didasarkan pada ketakwaan, bukannya sebaliknya. Seorang mu’min hakiki selalu memperhatikan hal ini, dan hendaknya memperhatikan, bahwa tanpa ketakwaan, tidak ada amal kebaikan. Hal itu hanya pamer. Allah Ta’ala memberikan peringatan sangat keras terhadap orang-orang yang shalat hanya untuk pamer. Dia berfirman, fa wailul lil mushalliin, yakni, celakalah orang-orang yang shalat.

Di satu sisi Allah Ta’ala berfirman, wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduuni.’ – “Aku menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Ku.” Dan puncak ibadah, Rasulullah saw telah memberitahukan kepada kita bahwa intisari ibadah adalah shalat, yakni puncak tertinggi ibadah adalah shalat. Beliau saw bersabda, dalam menerangkan keadaan beliau saw, قرة عيني في الصلاة ‘qurratu ‘ainii fish shalaah’ – “Kesejukan mataku ada di dalam shalat.”[3] Maka, shalat yang dikerjakan dengan ruh ini, shalat yang uswah hasanahnya telah Rasulullah saw tegakkan di hadapan kita, ini juga penyejuk mata, ini juga intisari ibadah. Hal itu juga memenuhi tujuan penciptaan.

Tetapi, di sisi lain, jika kosong dari ketakwaan, dan mengingkari hak-hak sesama hamba; maksudnya di satu sisi mengerjakan shalat sedangkan di sisi lain berbuat aniaya pada orang lain, maka ini kosong dari ketakwaan dan ini menjadi sebab kehancuran. Oleh sebab itu, pengorbanan kita, dan ibadah-ibadah kita menghendaki adanya ketakwaan. Pengorbanan dan ibadah kita menghendaki standar itu, atau harus meraih standar itu, yang teladannya telah disampaikan di hadapan kita oleh pemimpin dan junjungan kita, Hadhrat Muhammad Musthafa Rasulullah saw. Kita hendaknya harus selalu ingat, bahwa tanpa ketakwaan ibadah-ibadah kita tidak akan berguna, tidak pula pengorbanan kita. Kita perlu menciptakan ruh ini dalam diri kita. Kita harus memperhatikan semua perintah, lalu berusaha mengamalkannya. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Jika ketakwaan ini ada, maka pengorbanan Anda sekalian juga akan diterima.”

Ringkasnya, kita harus berusaha menjadikan Id ini suatu Id, yang dasarnya adalah ketakwaan. Kita harus berusaha untuk termasuk dalam orang-orang muhsin, yang kepada mereka Allah Ta’ala memberi kabar suka, yang kantong-kantongnya penuh dengan nikmat-nikmat-Nya. Kita harus ingat bahwa pengorbanan, atau kebaikan, atau termasuk dalam orang-orang muhsin, bukanlah pekerjaan satu hari.

Ketika Hadhrat Ismail as. berkata kepada ayah beliau, Hadhrat Ibrahim as, یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ yaa abati if’al maa tu’maru (ash-Shaffat: 103) yakni, “Wahai Ayahku! Apa yang Tuhan perintahkan kepada engkau, lakukanlah!” Hal itu bukan hanya persetujuan untuk meletakkan pisau di leher (disembelih). Orang-orang pada zaman itu terdapat kebiasaan untuk mengorbankan jiwa manusia juga. Hal ini bukanlah hal yang luar biasa dari sudut pandang zaman itu. Banyak orang, itupun orang di zaman itu, mengatakan tentang pengorbanan itu, bahwa Ibrahim mengorbankan putra kesayangannya atas perintah Allah. Sesudahnya mereka melupakannya. Tetapi keduanya, ayah dan anak, memahami ma’rifat takwa. Karena itu jawaban sang anak ketika ayah menanyakan pendapatnya tentang mimpinya, anak yang memahami ma’rifat hakiki takwa itu tidak hanya menjawab, ‘Ayah, saya siap. sembelihlah leher saya.’ Bahkan menjawab, یٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ yaa abati if’al maa tu’maru – “Apapun yang diperintahkan mengenai aku, lakukanlah. Jika Tuhan memerintahkan untuk menyembelih, maka sembelihlah. Jika Tuhan memerintahkan untuk memberikan pengorbanan lebih banyak, maka aku siap.”

Contoh orang [di zaman itu] yang memberikan pengorbanan dengan disembelih memang ada. Seperti yang telah saya katakan, di zaman itu banyak pengorbanan seperti itu. Beliau as (Nabi Ibrahim) menjawab, “Nak, demi Allah Ta’ala, aku pun siap meneruskan rangkaian pengorbanan.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada Hadhrat Ibrahim as., “Aku tidak meminta pengorbanan sementara. Meskipun ayah dan anak dengan senang hati siap untuk itu. Aku meminta pengorbanan terus-menerus. Aku meminta pengorbanan yang rangkaiannya akan terus berjalan. Kemudian di lembah yang tidak ada tanaman, tempat yang kering kerontang, rangkaian pengorbanan ini dimulai. “

Ringkasnya, takwa adalah melakukan satu rangkaian pengorbanan demi Allah Ta’ala. Demikianlah takwa; dan bersamaan dengan mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala, teruslah tinggikan standar ketakwaan kalian. Jadikanlah ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan kalian. Inilah sifat Ismaili, yang Id hari ini datang untuk menciptakannya dalam diri kita; dan puncak tertinggi sifat ini, terlihat dalam diri pimpinan dan junjungan kita Muhammad Musthafa Rasulullah saw. Hal mana Allah Ta’ala menggambarkan dan memujinya sebagai berikut, Dia berfirman, قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ Qul inna shalaatii wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillaahi rabbil alamin, “Engkau katakanlah kepada mereka bahwa shalatku, pengorbananku, kehidupanku dan matiku adalah hanya untuk Allah Rabb sekalian alam.” (Al-An’aam: 163)

Walhasil, inilah kedudukan yang merupakan uswah hasanah (teladan terbaik) bagi kita. Semua orang secara lahiriah juga melakukan pengorbanan ini. Seperti yang saya katakan, mereka menyembelih domba, sapi dan kambing dan semua orang Muslim pun diperintahkan untuk melakukan pengorbanan lahiriah ini, yang kepadanya Allah Ta’ala memberikan taufik. Rasulullah saw sendiri memperlihatkan teladan pengorbanan hewan ini kepada kita. Jadi, menyempurnakannya secara lahiriah pun perlu. Al-Qur’an pun memerintahkannya. Tetapi, perintah ini pun ada syaratnya. Tidak setiap orang Muslim wajib berkorban, hanya orang yang mampu.

Namun, wajib bagi setiap orang untuk berjalan diatas ketakwaan, dan memenuhi kewajiban-kewajiban kita demi Allah Ta’ala dan mengamalkan perintah-perintah-Nya. Baik dia miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan, muda atau tua, shalat wajib bagi setiap orang. Jika tidak mendirikan shalat lima waktu, maka melakukan korban pada hari Id setelah satu tahun, tidak akan memberikan faedah apapun. Kita harus melakukan amal saleh dan mencari ilmu agama, supaya dengan itu kita bisa mentarbiyati diri kita sendiri, mentarbiyati anak kita, kemudian membuka jalan-jalan pertablighan. Kita juga harus membayar hak-hak umat manusia. Untuk semua hal ini, tidak perlu mengorbankan binatang. Tanpa pengorbanan domba pun bisa diraih tujuan ini. Amal yang terus-meneruslah yang memenuhi tujuan pengorbanan. pengorbanan seekor domba atau sapi tidak dapat memenuhi tujuan ini.

Oleh sebab itu, orang yang tidak mendapat taufik untuk mengorbankan domba atau kambing, yang dengannya dia bisa memperlihatkan pengorbanan secara lahiriah, dia hendaknya mewakafkan waktunya untuk pertalighan Islam, membagi-bagikan pamflet, memperluas rabtahnya, bertabligh kepada teman-temannya, di tempat kerjanya juga, kepada para tetangganya, dan menarik perhatian orang-orang kepadanya melalui teladan (yang baik). Amal yang terus-menerus, dan tegak diatas kebaikan, inilah pengorbanan (yang sejati). Ungkapkanlah ajaran indah Islam kepada dunia.

Dengan karunia Allah Ta’ala, banyak sekali Ahmadi yang terus-menerus memberikan pengorbanan. Jika diperlukan pengorbanan jiwa, mereka mengorbankan jiwanya. Diantara Anda sekalian yang hari ini datang di sini pun ada sebagian dari keluarga orang-orang yang memberikan pengorbanan ini. Di Pakistan, para Ahmadi meletakkan jiwa mereka di hadapan mereka, dan setiap saat selalu siap untuk mengorbankan jiwa. Mereka memang melakukannya, dan terus melakukannya. Di Pakistan hal ini terus berlangsung. Tetapi, pengorbanan-pengorbanan ini, suatu hari akan menimbulkan perubahan, insya Allah. Orang-orang yang memusuhi, di dunia ini pasti akan melihat akhir mereka yang menyedihkan. Namun, ringkasnya seorang mumin dituntut supaya dia siap untuk pengorbanan ini.

Demikian pula, seperti yang telah saya katakan, memenuhi hak-hak umat manusia pun adalah satu bentuk pengorbanan. Diantara kita banyak sekali orang yang meletakkan dirinya dalam kesulitan untuk memenuhi hak-hak ini. Tetapi, ada juga orang yang merampas hak-hak orang lain kendatipun dia memberikan ratusan ribu pengorbanan, ribuan kali mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman, Dia tidak peduli sedikit pun dengan pengorbanan dan ibadahmu. Ya, jika dalam bentuk apapun kamu mengkhidmati orang-orang miskin, membayar hak-hak (manusia), memperlakukan saudara dengan baik, terbiasa saling memaafkan satu sama lain, mengerjakan semua hal ini demi ridha Allah Ta’ala, maka membayar hak-hak ini juga menjadi ibadah. Ini akan diterima oleh Allah Ta’ala dan menyebabkan manusia menjadi dekat dengan Allah Ta’ala.

Oleh sebab itu, kita hendaknya selalu ingat, bahwa Allah Ta’ala suci dari segala hajat (kebutuhan). Dia tidak makan, tidak minum, Dia tidak membutuhkan daging. Tidak pula Dia memerlukan penumpahan darah ratusan ribu binatang. Ini tidak memberikan faedah apapun pada-Nya. Tidak pula penumpahan darah atas nama Tuhan ini dapat memberi faedah pada seseorang. Dia melakukan kepada pada para hamba, dan memberitahukan bahwa untuk selalu menjadi pewaris nikmat-nikmat, untuk menjadikan Id kita terus berlanjut, kita harus memahami tujuan penciptaan kita. Karena itu, Allah menetapkan pengorbanan secara lahiriah, dan memerintahkan kita untuk memberikan perhatian pada hak-hak hamba. Tundukkanlah leher kita di hadapan Allah Ta’ala sesuai dengan perintah-perintah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Jadikanlah amalan kita sebagai sarana untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as. bersabda, “Hukum kudrat sejak dari awal adalah demikian, bahwa semua ini diperoleh setelah meraih marifat sempurna. Akar dari takut, cinta, dan penghargaan adalah ma’rifat sempurna. Barangsiapa diberi ma’rifat sempurna, dia juga diberi rasa takut dan kecintaan yang sempurna. Barangsiapa diberi rasa takut dan kecintaan yang sempurna, dia diberi keselamatan dari segala macam dosa, yang timbul dari tidak adanya rasa takut.”[4]

Karena itu berusahalah meraih ma’rifat ini, darinya akan timbul rasa takut kepada Allah Ta’ala, juga kecintaan. Karena hal inilah yang menyelamatkan dari tidak adanya rasa takut. Manusia banyak sekali melakukan dosa, mereka melakukannya tanpa berpikir dan tidak terbetik dalam hatinya, “Allah Ta’ala setiap saat melihatku.”

Beliau bersabda, “Jadi kita, untuk najat (keselamatan) ini –yaitu yang timbul dari ma’rifat, yang menyelamatkan dari ketiadaan rasa takut – tidak memerlukan darah, tidak memerlukan salib, tidak pula penebusan dosa. Melainkan, kita hanya membutuhkan satu pengorbanan, yaitu pengorbanan nafs (jiwa) kita. Hal mana fitrat kita merasakan perlunya hal itu. Nama lain pengorbanan itu adalah Islam. Arti Islam adalah meletakkan leher kita untuk disembelih. Yaitu, dengan keikhlasan sempurna meletakkan ruh kita di pintu gerbang Tuhan. Nama yang indah ini adalah ruh syariat, dan jiwa dari semua perintah. Meletakkan leher kita dengan senang hati dan ikhlas untuk disembelih menghendaki kecintaan yang sempurna dan kecintaan yang sempurna, menghendaki ma’rifat yang sempurna.

Ringkasnya, lafaz Islam mengisyaratkan kepada hal ini, bahwa pengorbanan hakiki memerlukan kecintaan dan ma’rifat yang sempurna. Tidak memerlukan hal yang lain. Kearah hal inilah Allah Ta’ala dalam Quran Syarif mengisyaratkan, لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ ﴿﴾ lay yanaalallaha luhuumuhaa wa laa dimaauhaa wa laakiy yanaaluhut taqwaa minkum. Artinya, “Tidaklah daging korbanmu bisa sampai kepada-Ku, tidak pula darahnya, bahkan hanya pengorbanan inilah yang sampai kepada-Ku, yakni kamu takutlah kepada-Ku dan bertakwalah kepada-Ku.”

Para sahabat Rasulullah saw telah menciptakan ketakwaan ini dalam diri mereka -yang penjelasannya telah Hadhrat Masih Mau’ud sampaikan- yang karenanya, mereka memperlihatkan contoh sempurna sami’naa wa atho’naa (kami dengar dan kami taat). Mereka meraih ma’rifat yang sempurna, kemudian mereka memperlihatkan contoh sempurna kecintaan. Karena kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, mereka menang terhadap kemabukan minuman keras. Kecintaan ini menang atas kemabukan minuman keras. Mereka memecahkan guci minuman keras, lalu barulah setelahnya mencari tahu, “Perintah (tentang minuman keras) ini untuk kita atau untuk orang lain. Atau, apa maksud perintah ini?”

Oleh sebab itulah, kita perlu mencari ruh ini dan ketika ruh ini tercipta, ini akan membawa ke puncak tertinggi pengorbanan, dan menjadikan kita orang-orang yang meraih ridha Tuhan. ini akan menanamkan ruh Idul Qurban dalam hati kita, menjadikan kita kekasih Allah Ta’ala.

Ingatlah hal ini, “Kedudukan ini tidak dapat diperoleh tanpa setiap saat memperhatikan, ‘Allah Ta’ala melihat setiap perbuatan dan perkataanku.’”

Jika setiap amal disertai pemikiran ini, dan dilakukan demi Allah Ta’ala, dia merasa takut pada Allah Ta’ala, bahwa ‘Dia melihat setiap pekerjaanku,’ maka setiap hari Allah Ta’ala akan mengaruniakan ganjaran dan keberkatan pengorbanan. Karenanya, setiap orang dari kita berkewajiban untuk berusaha meraih ridha Allah Ta’ala, mencari ma’rifat rasa takut dan kecintaan pada Allah Ta’ala. Berusaha merayakan suatu Id demikian berupa kita mengorbankan jiwa, harta, waktu, dan kehormatan. Setiap Id kita adalah untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Jika kita berpikir seperti ini, maka Id ini tidak hanya akan datang setahun sekali, tidak hanya menyatakan kegembiraan menyembelih binatang, tidak hanya mengungkapkan soal, “Berapa kilogram daging yang diperoleh dari korbanku.” Melainkan akan datang Id, yang lebih tinggi dari semua penampakan lahiriah itu. Akan datang Id, yang datang setiap hari dan setiap hari yang terbit atas kita, insya Allah Ta’ala akan terbit demi ridha Allah Ta’ala.

Semoga, kita menjadi orang-orang yang merayakan Id hakiki ini, dan kita berulang-ulang menjadi pewaris nikmat-nikmat Allah Ta’ala. Dan semoga, nikmat-nikmat ini tidak hanya berakhir pada diri kita. Bahkan pada keturunan kita, sampai kiamat terus berusaha meraih ridha Allah Ta’ala, terus meraih karunia-karunia-Nya, terus meraih rahmat dan berkat Allah Ta’ala, terus mendapatkan bagian dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala. Semoga Allah mengabulkan.

Setelah khotbah kedua kita akan berdoa. Dalam doa itu, doakanlah untuk ketinggian derajat para syuhada, berdoalah untuk mereka. Berdoalah untuk keluarga mereka, supaya Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan istiqamah pada mereka. Untuk orang-orang kita yang ditahan di berbagai belahan dunia, selain di Pakistan, berdoalah juga untuk mereka supaya Allah menyediakan sarana untuk kebebasan mereka. Tuduhan-tuduhan palsu yang diperkarakan atas kita, karena menjadi Ahmadi, semoga Allah menciptakan sarana kebebasan darinya. Orang-orang yang memberikan pengorbanan harta, berdoalah bagi mereka, semoga Allah memberikan ganjaran kepada mereka, memberikan berkat pada harta mereka. Orang-orang yang memberikan pengorbanan dalam bentuk apapun, semoga Allah menerima semua pengorbanan mereka.

Para waqif zindegi di dunia yang sedang melakukan pengkhidmatan, khususnya di daerah-daerah dimana angin permusuhan berhembus kencang, berdoalah untuk mereka. Bukan hanya di Pakistan, ada negara-negara lain di dunia dimana terjadi penentangan. Banyaklah berdoa khususnya untuk Jemaat Pakistan, di sana keadaannya –seperti yang telah saya terangkan beberapa kali sebelumnya- semakin buruk. Tetapi, tentu akan ada batas puncaknya, kemudian akan tiba sarana penghukuman oleh Allah Ta’ala kepada para penentang yang melewati batas, semoga Allah Ta’ala segera menyediakan sarana itu.

Indonesia, di sana juga di beberapa daerah banyak sekali penentangan, sebagian orang kehilangan rumah karena menjadi Ahmadi. Berdoalah untuk mereka, semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana tempat tinggal untuk mereka. Setiap tempat dimana terjadi penentangan terhadap Ahmadiyah, dimana para Ahmadi gelisah, berdoalah untuk mereka semoga Allah menjauhkan kegelisahan mereka.

Bersamaan dengan itu, saya mengucapkan Id mubarak kepada anda semua. Juga –melalui MTA- kepada semua Ahmadi di seluruh dunia. semoga Allah menjadikan Id ini membawa sarana-sarana berkat yang tidak terbatas kepada kita. (Mln. FAdhhal Ahmad Nuruddin)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Dalam Lisanul Arab pada kata ‘aud.

[3] Sunan an-Nasai, 3939

[4] Lecture Lahore, Ruhani Khazain jilid 20,

(Visited 58 times, 1 visits today)