Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba

1 Juli 2011, di  Germany

                [Setelah mengucapkan tasyahud, taawudz, bismillah dan tilawat Surah Al Fatihah], Hudhur menilawatkan ayat Al Quran Karim ini:

yakni, ‘Maka, ingatlah kepada-Ku. Aku pun akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah engkau tidak bersyukur kepada-Ku.’ (Q.S. 2 / Al Baqarah : 153).

[Alhamdulillah], Jalsah Salanah German telah dapat diakhiri dengan sempurna pada akhir minggu yang baru lalu.

Dikarenakan Jalsah tersebut dilaksanakan di suatu tempat yang baru, maka [Panitia, dan] Amir Jamaat German sahib, [alhamdulillah] merasa sangat senang. Sudah barang tentu,  anggota Jamaat pada umumnya pun merasakannya demikian.

Di tempat yang dulu [di Mannheim] hanya memiliki satu gedung (hall) saja, kapasitasnya pun lebih kecil. Dan tenda kaum wanita yang harus dipasang, menjadi serasa panas manakala suhu menghangat, khususnya bagi kaum ibu muda.

Sedangkan di tempat yang baru  [di Messe Karlsuhe] hall-nya besar sekali; full air-conditioned pula. Ditambah lagi dengan berbagai fasilitas lainnya. Inilah yang membuat  mereka senang dan bahagia.           Namun, meskipun semuanya sudah dipersiapkan, fasilitas satu atap ini tetap saja ada beberapa kekurangannya, yang adalah wajar.

Yakni, mukminin haqiqi senantiasa berbeda dalam keluhannya; ialah tidak mengatas-namakan kepentingan pribadinya. Atau, kelemahan manusiawi tidak menjadikannya merajuk.

Sementara itu, pihak Panitia, meskipun mereka trampil dan cekatan, mereka pun senantiasa bertawaqal. Afsar (Officer) Jalsah Salanah berkali-kali melaporkan perkembangan pekerjaannya, meminta nasehat dan doa kepada saya.

Inilah sesungguhnya keagungan mukminin haqiqi; yakni, alih-alih mengaitkan sesuatu keberhasilan kepada dirinya, mereka menghubungkannya dan memohon pertolongan Allah Taala.

Lagi pula, Jalsah ini adalah  perhelatan yang diselenggarakan atas perintah Ilahi. Yakni, Allah Taala telah memberkatinya melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s., [demi untuk faedah agama dan kemajuan rohani].

Maka harap dimaklumi apabila ada berbagai kekurangan disebabkan tempatnya dan fasilitasnya baru.

Niat Panitia sudah baik, dan Allah Taala bersifat Sattar, begitulah Dia telah melakukannya. Untuk itu, Panitia hendaknya sungguh-sungguh bersyukur kepada-Nya.

Pada saat ini, Jalsah Salanah tengah berlangsung di seluruh dunia [Islam] Ahmadiyah. Nyaris sepanjang tahun, Jalsah diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Baru minggu lalu Jalsah German selesai diselenggarakan. Kini, Jalsah Amerika dan juga Jalsah Canada tengah menjelang.

Maka beberapa kelemahan yang terjadi di sini, hendaknya menjadi perhatian dan doa pihak Panitia Jalsah di Amerika dan Canada [untuk mencegahnya agar jangan sampai terjadi. Inilah yang sesungguhnya mereka dapat lakukan.

Di lain pihak, jika peserta Jalsah dapat memahami berbagai kelemahan yang ada, lalu, alih-alih bersikap sebagai tamu, mereka ikut terjun membantu nizam Panitia, tentulah berbagai kelemahan dapat dikurangi.

Adalah karunia Allah, para peserta Jalsah bersikap membantu dengan perilaku mereka yang baik dan juga banyak berdoa. Utamanya di Jalsah Germany ini, mereka sungguh telah dapat menunjukkan kerja sama yang baik.

Semoga Allah Taala menjadikannya demikian. Yakni, setiap peserta Jalsah Amerika maupun Jalsah Canada sungguh memperoleh faedah dari tujuan peningkatan rohani, lalu berusaha untuk memahami dan menyadari tujuan hidup yang haqiqi, sehingga kita pun mampu ikut berpartisipasi dalam memajukan syiar tabligh Hadhrat Imam Mahdi a.s. ini.

Jalsah hendaknya jangan dijadikan sekedar ajang pertemuan pelepas rindu dengan karib kerabat dan handai taulan.

Dengan karunia Allah Taala, berbagai Pidato dan Ceramah di berbagai Jalsah semakin banyak peningkatannya. Semoga para peserta memperoleh banyak faedahnya.

Karena Jalsah Amerika dan juga Jalsah Canada dimulai pada hari ini, dan mereka adalah Jamaat yang besar, maka saya pun mengulasnya di dalam Khutbah ini.

Namun, saya mengaitkannya dengan sikap tasyakur, sebagaimana yang biasa saya lakukan setelah berkenan menghadiri suatu Jalsah.

Sungguh mustahil untuk dapat mensyukuri dengan sebaik-baiknya atas berbagai karunia Allah Taala yang telah diberikan kepada Jamaat ini.

Manakala di Germany telah lewat tengah hari, di Amerika [dan  Canada]; fajar tengah menyingsingkan sinarnya. Begitulah yang terjadi di sepanjang waktu di dalam Jamaat kita ini. Yakni, setiap hari senantiasa dilalui dengan berbagai karunia Allah yang baru.

Maka bagaimana mungkin kita dapat bersyukur dengan sebaik-baiknya kepada Allah Taala ?

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Sikap tasyakur bagi anda sekalian hendaknya berdampak kepada Ketaqwaan dan Kesucian….., Aku sampaikan kepada anda sekalian kabar suka, bahwa anda semua berada di garis depan. Tak ada satu pihak pun yang dapat mempencundangimu.’

Maka setiap orang Ahmadi yang menghadiri Jalsah hendaknya senantiasa berusaha untuk meningkatkan standar Ketaqwaan mereka.

Sesuai dengan janji-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Allah Taala akan memberikan kemenangan kepada beliau. [Insya Allah !].

Hikmahnya: Jika kita senantiasa ber-Taqwa maka kita pun akan dapat menjadi bagian dari janji kemenangan tersebut.

Jadi, kaum Ahmadi di Amerika, Canada, maupun di berbagai negara kaya lainnya di Europa hendaknya ingat, sarana dan prasarana kemenangan kita tidaklah datang dari [pemerintahan negara-negara] Barat.  Bukan dikarenakan fasilitas maupun bantuan harta kekayaannya. Tidak pula disebabkan berbagai upaya duniawi. Melainkan, peningkatan ketaqwaan adalah perangkat utama kita.

Beberapa hari tarbiyat rohani [di dalam Jalsah] pada setiap tahun yang Allah Taala telah perintahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini, ialah untuk mencuci bersih berbagai macam karat [yang sudah menempel di dalam diri kita].

Juga agar jamaah berkumpul bersama untuk meningkatkan dan menyegarkan kembali keimanan mereka, sehingga dapat memuaskan daya intelektual mereka, dan juga untuk meningkatkan tarbiyat ruhani.

Seminggu setelah keberhasilan penyelenggaraan Jalsah German, hanya membicarakan Pidato atau Ceramah si anu bagus, atau penampilan nazm si anu sungguh memikat, adalah tidak jaiz.

Melainkan, segala apa yang didengar itu, hendaknya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka, kaum Ahmadi di Amerika, dan juga di Canada hendaknya mendengarkan Pidato atau Ceramah Jalsah mereka dengan semangat ini.        Kita bersyukur kepada Allah Taala pada setiap saat dengan cara senantiasa mengingat berbagai macam karunia-Nya kepada kita; dengan cara banyak berdzikrullah; dan juga dengan cara senantiasa mempraktekkan berbagai perintah-Nya.

Pendek kata, hendaknya buatlah setiap serat syaraf kita untuk senantiasa bertasyakur kepada Allah Taala.

Maka, Allah Taala pun niscaya akan menambah lagi berbagai karunia-Nya yang lebih besar, sesuai dengan pernyataan-Nya, ialah:

yakni, ‘Maka, ingatlah kepada-Ku. Aku pun akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah engkau tidak bersyukur kepada-Ku.’ (Q.S. 2 / Al Baqarah : 153).

Pendek kata, Allah Taala tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap amal shalih.

Namun, apakah yang dimaksud dengan fadzkuruunii, yakni senantiasa ingat kepada Allah. Dan adzkurkum, yakni, Allah pun akan ingat kepada kita ?

Ialah, Dia itu mengingat kita dengan cara menganugerahkan berbagai macam berkat dan karunia-Nya disebabkan kita senantiasa ingat kepada-Nya, sehingga sikap kerendahan hati dan ketaqwaan yang baru pun senantiasa timbul.

Allah Taala pun memperlihatkan berbagai macam shirat, atau jalan petunjuk-Nya yang baru agar kita lebih dekat lagi kepada-Nya.

Allah Taala pun mengingat hamba-Nya yang haqiqi dengan cara senantiasa melindungi mereka dari berbagai macam kesulitan dan musibah.

Manusia perlu mengingat Allah. Sebab, manakala Allah Taala telah menyatakan, udzkurkum, yakni, Dia pun akan ingat kepadamu, maksudnya adalah, Dia akan memberikan berbagai rahmat dan karunia-Nya; akan memberikan perlindungan; serta akan membukakan pintu-pintu khazanah-Nya dengan cara yang tak terduga-duga.

Walhasil, orang-orang yang telah dikaruniai Allah Taala, tak akan pernah dapat dihentikan, betapapun dunia berusaha keras untuk menjegalnya.

Tasyakur dengan cara mengingat Allah itulah yang dapat mencapai keberhasilan dunia maupun akhirat, bagi setiap anggota Jamaat ini.

Inilah mengapa sebabnya perintah untuk mengingat Allah juga terkait dengan perintah untuk bersyukur.

Adalah sungguh suatu karunia Allah, Dia berkenan untuk memberi rahmat. Maka apabila manusia mampu mensyukurinya, Allah pun akan menunjukkan berbagai macam rahmat-Nya yang lain.

Dan di ujung ayat tersebut, Allah Taala telah mewanti-wanti: wa laa takfuruun, yakni, janganlah sekali-kali tidak bersyukur.

Sudah barang tentu, setelah menyaksikan berbagai karunia dan rahmat Allah atas dirinya, tak ada seorang pun manusia yang normal dapat mengabaikannya.

Jadi, meskipun tampak banyak berdzikir, tetapi jika tidak mempraktekkannya, berarti secara tak sadar ia tidak mensyukurinya.        Seumpama seorang [pria] yang sudah terpikat sedemikian rupa kepada seorang lainnya (wanita), maka ia pun akan selalu menunggu-nunggu apa yang dikatakan orang itu, ia akan melaksanakannya.

Jadi, bila kita menyatakan ingat kepada Allah, maka sangat penting untuk selalu memandang Dia.

Hanya dengan kondisi begitulah yang dapat menimbulkan kondisi senantiasa bersyukur yang haqiqi.

Walhasil, hanya dengan satu ayat pendek ini, Allah Taala telah membukakan berbagai jalan bagi mukminin untuk memperoleh qurb Ilahi dengan cara bersyukur yang tepat.

Hendaknya setiap orang Ahmadi menyadari dan melaksanakan hal ini.

Selanjutnya saya akan mengulas pelaksanaan Jalsah German, yakni sebagaimana yang telah saya sampaikan, Jalsah tersebut diselenggarakan di suatu tempat yang baru. Yakni, meskipun dilengkapi dengan berbagai fasilitas, kekurangannya pun masih ditemui. Namun, bukan hanya pihak Panitia yang patut dipersalahkan.     Sebab, usaha manusiawi tak mungkin dapat mencapai 100% sempurna. Kesempurnaan adalah milik Allah Taala saja.

Hikmahnya, hal tersebut senantiasa membuka celah untuk perbaikan.

Kewajiban manusia adalah berdoa, lalu menyempurnakannya dengan sekuat tenaga. Setelah itu, serahkanlah perkaranya kepada Allah Taala.

Di lain pihak, orang pun perlu bersyukur atas pencapaian hasilnya.

Saya mengetahui beberapa kekurangan tersebut secara langsung, ditambah laporan dari beberapa orang lainnya, yang akan saya sampaikan demi untuk perbaikan di waktu yang akan datang.

Namun, bagi mereka yang hanya senang mengkritik; jika memang sungguh-sungguh menginginkan perbaikan, afdhol mereka itu alih-alih berghibat di antara mereka sendiri, hendaknya sampaikan langsung kepada Panitia, dan juga doakanlah mereka.

Pihak Panitia pun hendaknya mau mendengarkan dengan baik, dan mencatatnya di dalam Buku Merah.

Kekurangan pertama yang sudah kita ketahui adalah suara berdengung di dalam gedung (hall). Sehingga cukup banyak orang yang tidak dapat mendengarkan Khutbah Jumah dengan baik.

Panitia sudah berusaha memperbaikinya, tetapi tidak terasa adanya perubahan yang nyata. Maka untuk tahun depan, apakah sound system-nya yang perlu diperbaiki, ataukah Jalsah Gah-nya yang dipindahkan. Hal ini adalah sangat penting.

Yakni, tentu sulit bagi para peserta untuk duduk diam mendengarkan Khutbah jika sarana penyampaiannya tidak baik.

Kaum pria dewasa sangat boleh jadi bisa tenang, tetapi sulit bagi anak-anak berusia 10 hingga 12 tahun. Demikian pun di bagian wanita, terutama di dalam sekat khusus untuk ‘ibu dan anak’

Namun, ada juga segi baiknya di bagian wanita ini ialah, mereka tetap tenang meskipun tata suara kurang baik, meskipun mereka sudah mengirimkan pesan keluhannya berkali-kali. Tetapi ketika saya berpidato, mereka semua diam. Dan saya merasakan kesabaran mereka ini sebagai yang pertama kali.

Beberapa orang mengatakan, sangat boleh jadi hal ini dikarenakan suhu di luar gedung panas, sedangkan di dalam ber-ac.

Namun, kita tetap harus berpikir positif dan tepat.

Sekira 3 atau 4 tahun yang lalu, saya telah meng-ultimatum kaum Lajnah Germany: ‘Akan dilarang menghadiri Jalsah jika masih suka ribut.’

Dan sejak itu pula mereka terus memperbaiki diri.

Namun, pada tahun ini, anak-anak pun menempati satu gedung yang sama dan hanya dipisahkan oleh suatu sekat, yang tidak akustik.       Kebisingan utama adalah di bagian anak-anak balita. Perlu perbaikan nyata untuk di tahun depan.

Disamping itu, masih ada beberapa kelemahan kecil terkait lainnya yang Panitia hendaknya berusaha untuk memperbaikinya pada tahun mendatang. Dan menanyai para anggota jika ada beberapa hal lainnya yang perlu diperbaiki.

Pendek kata, kita harus senantiasa maju melangkah, memperbaiki diri sendiri. Inilah yang hendaknya terjadi.

Dari segi pelayanan tamu, para tamu asing maupun dari Negara-negara tetangga sangat berkesan baik terhadap penyelenggaraan Jalsah ini.

Semuanya menyampaikan kepada saya, bahwa mereka terkesan oleh berbagai persiapan yang telah dilakukan oleh Panitia, dan merasakan adanya silih asih yang kental di antara Jamaah dengan para pengkhidmat Jalsah.

Walhasil, penyelenggaraan Jalsah dapat menjadi sumber pertablighan yang baik. Maka kita pun hendaknya dapat menjadi duta citra Ahmadiyah yang baik.

Kenyataannya, banyak kalangan mereka yang sudah dekat dengan kita disebabkan pengaruh suasana baik di dalam Jalsah, selanjutnya menyatakan Bai’at, sebagaimana terjadi pada tahun ini.        Ada satu peristiwa mengenaskan yang menimpa seorang mubayin baru yang kehilangan dompetnya.

Namun, meskipun peristiwa aib tersebut menjadi keprihatinan Seksi Khidmat Khalq, pemuda asli German ini mengatakan: ‘Biarlah hal ini sebagai Tarbiyyat bagi pribadiku, yang sebelum menjadi orang Ahmadi cepat naik darah dan suka berkelahi.          Seandainya aku kehilangan dompet sebelum menjadi orang Ahmadi, aku akan bergaduh dengan setiap orang di sekitarku. Dan akan memperkarakan Panitia dengan sengit.

Namun, ajaran Islam Ahmadiyah telah menggembleng kesabaranku. Dan aku telah banyak mengalami perubahan.’

Simaklah, hal ini tidak akan terjadi jika tidak ada karunia Allah.     Yakni, ini pun hendaknya menjadi segi tarbiyat bagi kaum Ahmadi lama yang telah lama mendapat Tarbiyyat, tetapi masih tidak dapat menahan emosi dirinya.

Padahal, salah satu ciri khas seorang Ahmadi yang haqiqi adalah dapat menguasai amarah, dan memperlihatkan kesabaran.

Masih banyak lagi hikmah pelajaran yang dapat kita peroleh dari berbagai kekurangan pelaksanaan Jalsah.

Namun, secara keseluruhan, kerja keras para pengkhidmat sungguh patut membuat seluruh peserta untuk bersyukur karenanya.       Jamaat German ini sangat tinggi keikhlasan dan keshalihannya.       Saya merasakannya di dalam penyelenggaraan Jalsah ini, dan juga pada beberapa kesempatan peresmian Masjid-masjid.

Semoga Allah Taala senantiasa meningkatkan keikhlasan dan ketaqwaan mereka ini, terutama kaum mudanya.

Namun, ada juga orang-orang yang lemah di dalam Jamaat ini. Tetapi, jikapun ada yang menjadi pecundang, Allah Taala senantiasa menggantinya dengan ratusan orang lain yang mampu menunjukkan contoh yang baik.

Semoga Allah Taala senantiasa meningkatkannya lebih baik lagi.

Pekerjaan Jalsah penting lainnya adalah membongkar kembali semua prasarana yang didirikan, utamanya lagi bila tempat tersebut disewa untuk waktu yang terbatas. Ialah, hanya diberi waktu dua hari saja untuk membereskan kembali semuanya. Jika tidak, akan dikenai biaya tambahan.

Dikarenakan kita Jamaat sedang membina hubungan baik dengan semua pihak, maka sangat penting untuk tidak meninggalkan kesan yang buruk.

Syukur alhamdulillah, berdasarkan laporan yang saya terima, tempat Jalsah bagian dalam  telah dapat dibersihkan kembali tepat pada waktunya.

Sedangkan bagian luar, memerlukan waktu tambahan, namun dalam batas yang wajar.

Pada tahun ini, beberapa orang Ahmadi yang baru datang dari Pakistan dalam rangka memohon status asylum, telah bekerja keras membantu pelaksanaan Jalsah.

Nasehat khusus bagi mereka ini, hendaknya diingat, setelah berhasil hijrah ke luar negeri, mereka bisa hidup tanpa Jamaat. Namun, mereka pun tak dapat hidup tanpa Jamaat.

Yakni, untuk yang pertama itu, boleh jadi mereka bisa memperoleh harta duniawi [dalam sekejap], namun generasi penerus mereka akan mengalami kerusakan.

Sebagaimana telah saya sampaikan, para tamu luar negeri memperoleh kesan yang sangat baik terhadap pelaksanaan Jalsah tahun ini.

Dan mereka yang sudah dawam datang, semakin dekat lagi mengenali kita. Semoga Allah Taala membukakan pintu hati mereka selekasnya.

Sebetulnya anda sekalian dapat membaca berbagai laporan ringkas tentang Jalsah [sebagaimana yang saya sampaikan] ini di surat kabar [Jamaat] Al Fadzl.

Seorang wartawan dari Malta (dekat Italia) yang menghadiri Jalsah untuk yang kedua kalinya bersama istri mengatakan kepada saya: ‘Ada beberapa hal penting yang aku catat dari Pidato Jalsah tuan, yang sesampainya nanti di rumah saya akan tuangkan dalam laporan tulisan saya. Khususnya adalah Pidato Penutupan.’

Adapun yang saya sampaikan secara khas adalah mengenai pentingnya Tarbiyyat bagi Jamaat. Namun, pihak tamu pun ternyata mengambil faedah dari materi tersebut.

Sedangkan seorang ahli hukum beragama Kristen asal Bulgaria yang sudah sering menghadiri Jalsah, merasa tertarik ketika saya menyampaikan Pidato di Jalsah Gah Wanita, mengenai Talaq (cerai) dan hak ‘Khula’ (bagi kaum wanita).

Beliau ini sungguh-sungguh menghargai bahwa kita ini memiliki system untuk rujuk kembali.

Ia pun menyatakan setuju kepada materi yang saya sampaikan, bahwa hal itu disebabkan sikap toleran (saling memaklumi kelemahan masing-masing) yang sudah menghilang di muka bumi.

Beliau pun mengatakan, tingkat percaraian di seluruh dunia, secara keseluruhan telah meningkat tajam. Jadi, kenyataan bahwa beliau menyukai system yang ada di dalam Jamaat kita menunjukkan bahwa pihak ghair [bahkan non Muslim] pun terpengaruh.

Saya sangat bersyukur karenanya, begitupun hendaknya Jamaat, bahwa talim syariat Islam telah mampu menarik perhatian kaum lain berkat tugas missi yang dipercayakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Maka bagi mereka yang tak mau mengikuti peraturan Jamaat, yakni bersusah-payah ke system pengadilan duniawi, renungkanlah hal ini.

Sedangkan bagi para tamu German, diadakan pula suatu acara khusus yang untuk kali ini saya berkesempatan untuk menyampaikan falsafah ajaran Islam, yang meskipun agak panjang lebar namun mereka mau mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Bahkan satu dua orang tamu yang seharusnya meninggalkan tempat lebih awal, tersipu-sipu melakukannya setelah dipersilakan pergi.

Salah seorang di antaranya berkata kepada teman Ahmadinya: ‘Ketika pidato Hudhur selesai, aku melihat jam tanganku, aku pun tersentak sadar, bahwa aku telah banyak melewatkan waktuku disebabkan asyik mendengarkan pidato tersebut.

Sedangkan peserta dari Amerika Serikat menulis kepada saya: ‘Aku ikut hadir mendengarkan pidato Hudhur bersama seorang teman Kristen. Ia berkata: Pidatonya mengalir dengan memikat, yang bahkan Paus pun tak pernah berpidato sebaik itu.’

Ini semua bukan disebabkan usaha diri saya sendiri, melainkan berpulang kepada segala ilmu yang Allah Taala telah tuangkan di dalam Al Qur’an Karim melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s.; lalu orang-orang yang berfitrat baik mensyukurinya.’

Kemudian, saya pun bermulaqat dengan para mahasiwa Ahmadi yang saya nasehati: ‘Alih-alih merasa rendah diri (inferiority complex), jadikanlah Al Qur’an Karim sebagai sumber petunjuk kalian. Maka niscaya tak aka ada yang dapat mempengaruhi kalian.’

Cukup banyak mahasiswa Ahmadi yang berprestasi istimewa di German ini.

Maka, mereka ini pun hendaknya bersyukur, bahwa mereka telah diberi karunia kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri Barat.

Kewajiban mereka selanjutnya adalah senantiasa menjaga kemajuan prestasi tersebut, taat kepada kaidah ajaran Islam, dan semakin erat berhubungan dengan Jamaat.      Pengkhidmatan MTA pun perlu dikemukan, yakni, mereka telah bekerja keras siang malam sehingga menghasilkan berbagai program acara yang baik, tayangan langsung maupun di studio.

Bahkan beberapa orang Khuddam dari London ikut datang membantu..

Saya masih bermusafar, belum kembali ke kantor di London, yang niscaya tumpukan surat sudah menunggu untuk menyampaikan rasa teima kasih mereka atas pengkhidmatan crew MTA.

MTA German ini telah memiliki sebuah mobil truk untuk menyimpan semua peralatan mereka, sekaligus menjaga mobilitasnya.

Sebelumnya, mereka menyimpan peralatan tersebut di dalam gudang. Namun sekarang di di dalam truk yang lebih praktis.

MTA Germany telah, dan senantiasa banyak memperoleh kemajuan.

Semoga Allah Taala memberi ganjaran pahala kepada para pengkhidmatnya.

Suatu hal baru yang saya dapati di Jamaat German dalam musafar saya ini adalah meningkatnya hubungan mereka dengan kalangan akademisi intelektual.

Dalam hal ini Khuddam memiliki peranan yang sangat besar, melalui penyebaran brosur tabligh.

Sehingga mereka pun berhasil membina hubungan kerja sama (networking) dengan intelektual tersebut dan juga kalangan diplomatik, yang menyatakan bersedia bermulaqat dengan saya.      Juga hubungan baik dengan partai politik unggulan, ‘Green Party’, yang berhasil mengadakan suatu acara di Hamburg, yang saya berkesempatan untuk menyampaikan pidato di dalamnya.

Walhasil, berbagai bangsa tengah mencari-cari ajaran Islam yang haqiqi.

Semoga Allah Taala memberkati kegiatan tabligh penyebaran leaflet ini, dan juga berbagai kegiatan lainnya.

Di satu pihak penentangan terhadap Islam tengah meningkat, namun di pihak lain, semakin banyak pula orang yang tertarik untuk mempelajarinya.

Maka sebagai pengungkapan rasa syukur itu, kegiatan ‘networking’ tersebut perlu ditingkatkan, dan juga berbagai kegiatan Tabligh lainnya.

Semoga Allah Taala memberi taufik kepada kita untuk melaksanakannya.

Amin !