Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 23 Mei 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

Hadhrat Khalifatul Masih menilawatkan ayat-ayat Alquran berikut ini pada awal Jumat khotbah beliau hari ini:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ * وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ * وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ * فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (آل عمران: 146-149)

“Dan tidak ada jiwa bisa mati kecuali dengan izin Allah – Keputusan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menghendaki pahala dunia ini, Kami akan memberinya daripadanya; dan barangsiapa menghendaki pahala dari kehidupan akherat, Kami akan memberinya daripadanya; dan Kami pasti akan mengganjar orang-orang yang bersyukur.

Dan banyak Nabi yang di sisinya berjuang sejumlah besar orang-orang saleh. Mereka tidak kendur atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah, mereka juga tidak melemah, tidak pula mereka mempermalukan diri di hadapan musuh. Dan Allah mencintai orang yang sabar.

Dan mereka mengucapkan satu katapun kecuali mereka berkata: “Ya Tuhan kami, ampunilah kesalahan kami dan pelanggaran dalam urusan kami, dan teguhkanlah langkah-langkah kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir’

Jadi Allah memberikan kepada mereka ganjaran di dunia ini, serta yang ganjaran yang sangat baik di akherat; dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali Imran, ayat 146-149)

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (آل عمران: 171-172)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang, yang gugur di jalan Allah, mati. tidak, mereka hidup, di sisi Tuhan mereka, mendapat ganjaran yang baik,

Mereka gembira karena apa yang Allah telah berikan kepada mereka dari karunia-Nya; dan bersukacita bagi orang-orang yang belum bergabung dengan mereka di belakang mereka, karena mereka tidak akan merasa takut, dan tidak pula mereka akan bersedih.

Mereka bersukacita atas nikmat Allah dan karunia-Nya, dan pada kenyataan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran, ayat 170-172 )

Ini adalah anugerah dan nikmat Allah yang besar pada Jamaat Hadhrat Masih Mau’ud as. bahwa Dia telah memberikan jemaat ini, orang-orang yang memahami ruh janji mereka dan memahami ruh pengorbanan dan mereka tidak hanya memahami ruh pengorbanan tetapi mereka juga memberikan teladan itu, yang banyak contohnya dapat ditemukan di zaman ini. Jika itu adalah masalah pengorbanan harta, para Ahmadilah yang memperlihatkan hal itu, jika pengorbanan waktu yang dituntut, Jemaat Ahmadiyah memperlihatkan teladan yang sangat baik dalam hal itu. Contoh-contoh pengorbanan kehormatan dapat dilihat diantara para Ahmadi, mereka mendedikasikan hidup mereka untuk menyebarkan pesan-pesan Islam dan jika teladan sejati pengorbanan hidup yang ingin dilihat, sejarah Jemaat Ahmadiyah telah memberikan segel pada hal itu. Singkatnya, setiap pengorbanan yang sesuai dengan perintah Allah, dan untuk Allah, diberikan oleh Jemaat Ahmadiyah.

Hari ini Allah telah menganugerahkan sebuah Jemaat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. yang sebagian besar memahami semangat pengorbanan harta, jiwa, waktu dan kehormatan dan juga siap untuk memberikan pengorbanan. Namun, terkadang, karena kurangnya pengetahuan atau karena sifat manusiawi, beberapa orang mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan martabat seorang mukmin sejati dan dapat mempengaruhi orang-orang yang tidak memiliki pendidikan akhlak yang diperlukan. Beberapa orang bahkan menulis surat kepada Hudhur bahwa masa ujian sudah terlalu lama. Jika masa ujian panjang, semoga Tuhan segera memberikan kemudahan, jemaat para nabi dan orang mukmin sejati yakin pada rezeki yang diberikan melalui pertolongan Tuhan. Namun, mengungkapkan ketergantungan pada cara-cara dan sarana duniawi untuk dukungan, adalah bertentangan dengan martabat orang mukmin.

Misalnya seseorang menulis kepada Hudhur bahwa penganiayaan terhadap Jemaat di Pakistan harus disiarkan melalui sebagian besar jadwal MTA dan cara lain juga harus dimanfaatkan untuk mengangkat suara menentang penganiayaan di dunia. Surat itu memberi kesan bahwa mungkin kita juga harus mengadopsi cara membuat keributan dengan cara duniawi dan membuat protes untuk membuat pemerintah yang menentang kita, memberikan perhatian terhadap hak asasi manusia, dan masa ujian ini berakhir. Dia juga menulis bahwa temannya orang Syiah mengatakan kepadanya bahwa jika apa yang terjadi pada para Ahmadi terjadi pada orang-orang Syiah, mereka akan melakukan aksi unjuk rasa dan demonstrasi dan membuat keributan protes di dunia atas setiap penganiayaan ringan. Dia mengatakan bahwa para Ahmadi tidak melakukan protes yang sepatutnya dan inilah sebabnya masa ujian mereka begitu lama.

Hal pertama yang harus diingat di sini adalah bahwa ketika kita mendakwakan sebagai Jemaat Ilahi kita harus sadar bahwa jemaat semacam itu tidak percaya pada mengandalkan pemerintah duniawi dan protes-protes. Tidak ada campur tangan bantuan duniawi dalam kemajuan jemaat Ilahi. Selain itu, bantuan duniawi tidak pernah tanpa syarat, tidak pernah ditawarkan tanpa klausul menyerah kepada siapa pun yang memberikan bantuan dan mukmin sejati tidak bisa mematuhi hal ini. Mereka mencari pertolongan dari Allah dan berpaling kepada-Nya semata. Ketika kita mencari pertolognan Tuhan pada saat ujian, Dia membuka jalan perkembangan dan kemajuan lebih jauh bagi kita. dewasa ini, para Ahmadi yang tersebar di seluruh dunia, di 204 negara, adalah saksi tentang kenyataan bahwa ujian kita membuka jalan baru keberhasilan bagi Jemaat dan kita melewati tingkat yang lebih tinggi. Kita hendaknya tidak terganggu bahwa masa ujian kita di satu negara lama. Yang harus diingat adalah seberapa jauh jangkauan berkat Tuhan kepada Jemaat. Sejauh berkaitan dengan memanfaatkan sarana duniawi untuk membantu perjuangan kita, memang, ini harus dilakukan dan dengan karunia Allah, kita menggunakan sarana-sarana tersebut dalam batasnya. Kita membuat dunia mengetahui akan penganiayaan dan memberitahu mereka bahwa jika mereka tidak bergabung dalam mengakhiri penganiayaan, itu hanya akan menyebar. Namun, kita tidak bergantung pada pemerintah atau organisasi hak asasi manusia manapun, tetapi hanya pada Allah. Ini adalah masalah yang Hudhur telah uraikan dalam beberapa khotbah Jumat sebelumnya, bahwa orang mukmin harus selalu melihat hanya kepada Allah untuk semua hasil usaha mereka.

Cara yang digunakan oleh orang-orang duniawi adalah demonstrasi kekerasan, protes dan kerusuhan, mereka menanggapi penganiayaan dengan penindasan karena mereka tidak diberikan janji Ilahi bahwa kemenangan akhir akan menjadi milik mereka. Sedangkan kita telah dijanjikan bahwa meskipun adanya penganiayaan yang disokong oleh negara, Tuhan telah menetapkan bahwa kita akan diberikan berkat-berkat yang diberikan kepada orang-orang mukmin sejati melalui rahmat khusus Allah. Kita telah dijanjikan bahwa pengorbanan yang diberikan tidak akan sia-sia dan kemenangan akhir akan menjadi milik kita. Rumus terbesar untuk kemenangan ini adalah tentu saja adalah doa. Semakin kita berpaling kepada doa dan semakin kita mengabdikan diri untuk Tuhan kita, semakin cepat Dia akan menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa dalam mendukung kita. Memang, pemikiran kita sangat berbeda dengan pemikiran orang-orang duniawi. kita telah berbai’at kepada Imam Zaman, yang kepadanya Tuhan telah menjanjikan kemenangan, yang sedang kita saksikan. Sejauh berkaitan dengan kelompok Syiah atau yang lain, Hudhur mengatakan dia tidak melihat mereka mendapatkan hak-hak mereka dengan menggunakan cara-cara duniawi berupa protes, yang terjadi adalah bahwa penganiayaan sedang ditanggapi dengan penindasan, yang tidak akan pernah kita lakukan.

Sebagai contoh tentang sikap orang duniawi Hudhur mengatakan, sebuah surat kabar di sini menerbitkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa umat Islam tidak setia kepada negara ini dan mereka harus diusir/dideportasi. seksi pers kita menanggapi hal ini dan mengatakan kepada mereka bahwa ini tidak benar, dan Islam mengajarkan untuk setia kepada hukum negara, dan mencintai negaranya. Mereka mengatakan sebagai tanggapan bahwa ini bukanlah bagaimana Muslim lainnya berperilaku, dan meminta kita untuk menulis suatu saran kepada mereka. kita sepakat untuk menulis sesuatu jika mereka siap untuk mencetaknya, dan mengirim kepada mereka pernyataan tertulis sesuai dengan keperluan mereka. Editor atau dewan menolak untuk mempublikasikannya dengan dalih bahwa mereka telah menerima beberapa bahan lain yang harus dicetak meskipun alasan sebenarnya adalah bahwa mereka tidak memiliki keberanian untuk mempublikasikannya. Mereka tidak ingin mengecewakan sekte Muslim lainnya yang anti Ahmadiyah karena mereka takut kepada mereka karena sikap keras dari sebagian umat Muslim.

Hudhur mengatakan bahwa beliau sering memberitahu pemimpin mereka dan pers bahwa untuk menegakkan perdamaian, keadilan harus ditegakkan dan standar ganda dihilangkan. Beberapa dari mereka mengakui bahwa meskipun mereka tidak akan secara terbuka mengatakan demikian, tapi mereka memiliki kepentingan dalam agenda yang mereka kejar. Bagaimana kita bisa mengandalkan orang-orang yang bermuka dua! Surat kabar itu tidak siap untuk mempublikasikan sesuatu yang mengekspresikan kecintaan kepada negaranya. Mereka yang menunjukkan kepada kita bahwa kita harus mencari bantuan dari cara-cara dan sarana duniawi harus merenungkan, bagaimana kita bisa melihat orang-orang ini dan mencari dukungan mereka. Jika setiap Ahmadi memahami hakekat tawakal kepada Tuhan dan mulai mengamalkannya, penganiayaan terhadap Ahmadiyah, di mana pun di dunia, akan disingkirkan dengan doa semata. Namun, syaratnya adalah bahwa doa dipanjatkan sesuai syarat-syarat berdoa! Memang, di Pakistan dan beberapa negara lain para Ahmadi diperlakukan sangat buruk, di tempat-tempat itu hal ini dilakukan dengan kedok hukum. Namun, ini tidak mulai beberapa dekade yang lalu. Sebenarnya penganiayaan ini sudah berlangsung sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. mendakwakan diri dan mendirikan Jemaat. Ada suatu masa ketika beliau merasa bahwa beliau mungkin harus bermigrasi dari desa leluhur beliau, Qadian yang telah dimiliki oleh keluarga beliau selama berabad-abad.

Ketika kita melihat lebih jauh ke belakang dalam sejarah kita menemukan bahwa seluruh kehidupan Rasulullah saw. adalah periode permusuhan yang ditunjukkan oleh lawan-lawan beliau. Kehidupan seperti apa yang dijalani istri tercinta beliau [Khadijah] yang adalah seorang wanita saudagar kaya dan salah satu orang kaya dari Makkah, setelah menjadi seorang Muslim! beliau menjadi tunawisma di usia tua dan menghabiskan waktu lama di sebuah lembah di pengasingan di mana terjadi kekurangan makanan dan kebutuhan dasar, dan waktu yang dihabiskan di sana menyebabkan beliau akhirnya meninggal. Inilah yang beliau pikul untuk Islam dengan harapan bahwa pengorbanan-pengorbanan tersebut membawa janji Ilahi. Rasulullah saw. juga menderita gangguan dan penganiayaan berat. Tiga belas tahun kehidupan beliau di Mekah dihabiskan dalam diskriminasi konstan yang beliau hadapi dengan berani. Ketika beliau diminta untuk berdoa terhadap seseorang beliau akan berdoa memohon petunjuk untuk mereka dan ketika beliau dilempari batu dan hingga berlumuran darah karena cedera pada hari yang beliau sebut hari terburuk dalam hidup beliau, Tuhan bertanya apakah musuh-musuh beliau harus dihancurkan, beliau meminta mereka untuk dilepaskan, barangkali di masa mendatang akan lahir di antara mereka orang-orang yang menerima Islam. Setelah hijrah ke Madinah perang dimulai yang membawa kisah panjang serangan, kesabaran dan keteguhan. Terlepas dari teladan sempurna dari Rasulullah saw. sahabat juga menunjukkan ketabahan luar biasa karena mereka telah mulai memalingkan pandangan mereka pada janji Ilahi.

Hadhrat Masih Mau’ud as. akan datang sebagai ظل (zhill) bayangan, cerminan dari Rasulullah saw. yang memang demikian, karena itu beliau mengatakan kepada pengikut beliau bahwa beliau dan jemaat beliau akan menghadapi penganiayaan. Beliau tidak mengatakan bahwa jalan beliau adalah tempat tidur bertaburkan mawar namun mengatakan bahwa itu adalah jalan yang sangat keras dan sulit.

Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan beliau juga mengatakan kepada para mubayyi’in baru bahwa hidup di Ahmadiyah bukanlah tempat tidur bertaburkan mawar. Hudhur mengatakan baru-baru ini beliau melakukan mulaqat dengan mubayyi’in baru di mana beliau mengajukan pertanyaan ini kepada seorang mubayyi’in baru yang berasal dari Pakistan. Dia menjawab bahwa ia telah Bai’at setelah melakukan berbagai pertimbangan dan siap untuk menghadai segala kesulitan. Para wanita telah meninggalkan keluarga tetapi tidak meninggalkan keimanan. Hal ini karena mereka telah memiliki wawasan mendahulukan keimanan diatas hal-hal duniawi. Mereka menyadari bahwa hidup dan mati ada di tangan Allah dan beruntunglah mereka yang menunjukkan ketabahan dan menjadi penerima berkat Tuhan di dunia ini dan di akhirat. Ini bukan kata-kata belaka; sejarah Jemaat diisi dengan cerita-cerita pengorbanan seperti ini, yang sebagiaannya menakjubkan. Hal ini karena Hadhrat Masih Mau’ud as. telah bersabda di awal bahwa beginilah hal-hal akan terjadi dan telah juga bersabda jangan biarkan keimanan kalian dikompromikan sedikit pun setelah menyaksikan dan tanggunglah situasi seperti ini dan ingat bahwa Allah mengganjar ketabahan di dunia ini dan di akhirat.

Ayat-ayat dibacakan pada awal khotbah juga mengenai masalah ini. Semua orang menghadapi kehidupan dan kematian. Diuraikan bahwa hidup dan mati adalah dengan ketetapan Allah dan mati dengan nama Tuhan membawa kabar suka ganjaran yang besar. Ketika Khalid bin Walid, seorang pejuang besar dari masa awal Islam, berada di ranjang kematiannya seorang teman pergi menemuinya. Khalid bin Walid mulai menangis tersedu-sedu. Orang yang menjenguk berpikir ini adalah karena takut mati, maka dia berkata, “Khalid, engkau melawan musuh dengan gagah berani mengapa engkau menangis sekarang karena takut mati?” Dia meminta orang tersebut untuk mengungkap bagian atas tubuhnya. Teman yang menjenguk melihat setiap inci dari bagian atas tubuhnya ditutupi bekas luka. Dia kemudian meminta teman untuk mengungkap kakinya dan teman itu melihat setiap inci kakinya tertutup bekas luka. Khalid bin Walid mengatakan kepada temannya bahwa ia tidak menangis karena takut mati, tapi karena ia selalu berharap untuk mati syahid dan tanda luka tersebut adalah kesaksian keinginannya. Tapi, ia tahu bahwa ia sedang sekarat di tempat tidur dan bertanya-tanya apakah itu karena dosa-dosanya sehingga dia tidak meraih syahid. Demikianlah ketinggian derajat orang-orang yang benar-benar memahami semangat pengorbanan. Memang, Allah juga memberikan kabar suka – surga untuk seorang pejuang pemberani seperti Khalid bin Walid.

Contoh lain dari orang yang memahami semangat pengorbanan ditunjukkan oleh Sahibzada Abdul Latif Syahid. Raja berulang kali memintanya untuk menolak dan menyangkal Hadhrat Masih Mau’ud as. dan menghasutnya dengan kebebasan sebagai imbalan. Setiap kali jawaban Sahibazada Sahib adalah bahwa jika Tuhan memberikan dia sebuah kematian yang menjadikannya salah satu penerima berkat, mengapa ia akan berpaling darinya. Dia mengatakan itu adalah kesepakatan yang bodoh aneh untuk diminta! Memang, ini adalah martabat seorang mukmin sejati, karena Allah telah menyatakan: “Mereka mereka tidak lesu atas apa yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak melemah, mereka juga tidak mempermalukan diri di hadapan musuh dan Allah mencintai orang yang sabar.”

Hari ini para penentang kita sama-sama frustrasi mengapa kita tidak gentar dan tunduk kepada mereka. Mereka tidak menyadari bahwa seorang Ahmadi selalu mencari ridha Allah. Dan Allah telah mengajarkan doa untuk tetap teguh pada keimanannya, tidak peduli berapa banyak musuh berusaha untuk melemahkan iman kita: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ‘Rabbana ghfirlanaa dzunuubana wa israafana fii amrina wa tsabbit aqdaamana wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ “Ya Tuhan kami, ampunilah kesalahan kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan-urusan kami, dan teguhkanlah langkah-langkah kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.”

Sementara Tuhan telah memberitahu kita untuk kembali kepada-Nya dalam segala hal Dia juga telah mengatakan kepada kita bahwa kesuksesan datang dari-Nya dan untuk itu kita diberitahu untuk kembali kepada-Nya dan memohon kepada-Nya untuk menjadi penerima ganjaran di dunia ini serta akhirat.

Dalam ayat-ayat Surah Ali Imran yang berikutnya, seperti yang dijelaskan sebelumnya, kata-kata jaminan diberikan untuk lebih memperkuat keimanan. Dinyatakan bahwa mereka yang memberikan hidup mereka di jalan Allah tidak mati. pengertian ‘mati’ selain yang sudah jelas, juga sesuatu yang tidak terbalaskan, atau orang yang tidak punya siapapun dibelakangnya untuk memenuhi tujuannya, atau orang yang sedih dan putus asa.

Namun, orang-orang yang terbunuh di jalan Allah tidak ‘mati’ tetapi dalam kategori orang yang hidup. Allah akan membalas darah mereka, dan kedua, kesyahidan mereka tidak akan melemahkan orang-orang yang ditinggalkan, bahkan akan selalu ada kelompok yang memancarkan ruh kesyahidan, dan ketiga, para syahid ini akan dianugerahkan sebuah kedudukan dan rezeki Allah yang akan memanjakan mereka dan kematian mereka bukan kematian yang menyedihkan tetapi kematian yang menciptakan sarana kebahagiaan. Para syahid akan diberitahu di akhirat bahwa, bukan hanya pengorbanan mereka telah meningkatkan orang-orang yang ingin mempersembahkan pengorbanan, tetapi juga akan menjadi sumber kemenangan akhir atas musuh. Pengorbanan ini, jalan ini dan kesengsaraan sementara tidak menghalangi kemajuan kita dan tidak mendorong kita keputusasaan. Allah menyatakan dalam Al-Qur’an: إنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنّةِ التِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ * نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدنْيَا وَفِي الآَخِرَةِ “Adapun orang yang mengatakan , “Tuhan kami adalah Allah,’ dan kemudian tetap teguh, para malaikat turun pada mereka, dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih; dan bersukacita di ke bumi yang dijanjikan kepadamu. ( 41:31 )

Hadhrat Masih Mau’ud as. menjelaskan: “Artinya, kepada mereka yang menyatakan dengan teguh: Allah adalah Tuhan kami, dan berpaling dari dewa-dewa palsu dan mereka sabar, yakni , tetap teguh dalam cobaan dan bencana, para malaikat turun, meyakinkan mereka: Jangan takut atau berduka, dan berbahagialah; dan bersukacitalah bahwa kalian telah mewarisi kebahagiaan yang telah dijanjikan kepada kalian. Kami adalah teman kalian dalam kehidupan ini dan di akhirat.

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ketabahan memenangkan keridhaan Allah Taala. Memang benar, seperti yang telah dikatakan, ketabahan melebihi kiramah. Kesempurnaan ketabahan adalah bahwa ketika seseorang dikelilingi oleh bencana, dan kehidupan, kehormatan dan nama baik semuanya dalam bahaya di jalan Allah, dan tidak ada sarana kenyamanan yang tersedia, sedemikian rupa sehingga, bahwa bahkan kasyaf dan mimpi dan wahyu ditangguhkan oleh Allah sebagai ujian, dan seseorang ditinggalkan tak berdaya di antara bahaya yang mengerikan, pada waktu itu dia tidak boleh berkecil hati atau mundur seperti seorang pengecut jangan pula kesetiaannya meragu sedikit pun. Dia hendaknya tidak membiarkan ketulusan dan keteguhannya menjadi lemah, dia hendaknya bahagia dengan kehinaannya; dia hendaknya berdamai dengan kematian; dia hendaknya tidak menunggu seorang teman untuk memberikan dukungannya untuk menjaganya tetap teguh; ( Filsafat Ajaran Islam hlm 171-172 )

Masing-masing dari kita harus berusaha dan bercita-cita untuk menjadi seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as., dan ini tidak mungkin tanpa karunia Allah. Jika seseorang berusaha dan menjadi seperti ini, maka Allah maju ke depan dan memegang orang tersebut dan inilah ketika Allah memberikan kabar suka – surga dan untuk ini Dia telah mengajarkan kita untuk berdoa mohon ketabahan, doa untuk mendapatkan kemenangan atas musuh. Ini menandakan bahwa dengan mengabulkan doa, Allah akan membuka pintu kemenangan sedemikian rupa sehingga musuh tidak akan punya tempat untuk melarikan diri. Insya Allah kemenangan akhir akan menjadi milik kita seperti yang dijanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as..

Saudara kita yang lain bergabung dengan barisan orang-orang yang membuat pengorbanan besar. Khalil Ahmad Sahib menjadi syahid pada tanggal 16 Mei di distrik Shiekhupura, Pakistan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Pada 13 Mei terjadi argumen dengan penentang Ahmadiyah ketika stiker anti Ahmadi dilepaskan. Para penentang Ahmadiyah menggunakan ini sebagai alasan untuk mengumpulkan massa di mana dilakukan pidato berapi-api dengan pengeras suara dan lalu lintas diblokir dan diajukan tuntutan kepada polisi untuk mengajukan kasus pengadilan terhadap para Ahmadi. Akibatnya polisi menerbitkan surat tuntutan terhadap empat Ahmadi: Mubasyir Ahmad Sahib, Ghulam Ahmad Sahib, Khalil Ahmad Sahib dan Ahsan Ahmad Sahib dan memenjarakan mereka. Sementara jaminan untuk semua yang lain lolos dan mereka dibebaskan, proses jaminan Khalil Ahmad Sahib sedang berlangsung. Pada tengah hari pada 16 Mei seorang pemuda bernama Saleem datang ke tempat Khalil Sahib dipenjarakan dengan alasan bahwa ia telah membawa makanan. Dia meminta ditunjukkan tempat Khalil Sahib dan ketika hal ini dilakukan ia mengeluarkan pistol dan menembak Khalil Sahib di wajah. Penyerang ditangkap dan Khalil Sahib dibawa keluar dari sel, tetapi ia syahid. Meskipun penyerang ditangkap semua ini terjadi tepat di bawah hidung pihak berwenang dan polisi. Para maulwi telah begitu membutakan orang, sehingga dikatakan bahwa setelah menembaki Khalil Sahib, penyerang meneriakkan slogan bahwa ia telah meraih surga. Sementara Allah dan Rasul-Nya mengatakan bahwa hukuman karena membunuh orang-orang yang membaca syahadat adalah Neraka, para maulwi memberikan kabar surga.

Keluarga Khalil Shaheed adalah dari distrik Shiekhupura. Dia berusia 61 tahun dan baru saja pensiun dari WAPDA. Dia adalah seorang Ahmadi saleh yang mengerjakan Salat secara teratur termasuk Tahajjud dan memiliki hubungan yang mendalam dengan Jemaat dan Khilafat. Dia menyaksikan khotbah Jumat dan program MTA lain dengan sangat teratur dan menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap waqfin zindegi. Dia adalah seorang Ahmadi yang sangat terpercaya yang giat mengkhidmati umat manusia dan membantu orang miskin. Dia juga berkhidmat di Jemaat dalam berbagai kapasitas. Dia meninggalkan istri, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Satu anak Laiq Ahmad ada di Jerman sementara yang lain Ahsan Ahmad adalah Qaid di rumah. Mu’allim setempat menulis bahwa Khalil Sahib adalah orang yang sangat tekun berdoa yang memanjatkan doa yang menyayat hati.

Hudhur bersabda beliau akan mengimami shalat jenazah gaib setelah Shalat Jumat. Dua shalat jenazah lainnya juga diumumkan oleh Hudhur.

Maulawi Ahsan Ilahi Sahib yang seorang pensiunan mu’allim Waqfe Jadid meninggal pada tanggal 17 Mei pada usia 83 . Dia tinggal di London. Ia adalah anak seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Rahmat Ali Sahib yang diangkat oleh Hadhrat Masih Mau’ud untuk merawat tanaman di Bahesyti Maqbarah. Ahsan Illahi Sahib telah mengabdikan hidupnya dan bekerja sebagai mu’allim Waqfe Jadid hingga tahun 1999 ketika dia pensiun dan datang ke London untuk tinggal bersama anak-anaknya. Dia adalah seorang Musi dan mendapat taufik untuk mendirikan banyak cabang selama pengkhidmatannya. Dia meninggalkan empat putri dan tiga putra. Salah satu putranya adalah seorang mubaligh, Mahmud Ahmad Shams Sahib.

Nasreen Butt Sahiba meninggal pada 18 Mei setelah serangan jantung. Dia berusia 41 tahun. Dia adalah seorang yang saleh, yang takut pada Allah, anggota aktif Jemaat dan dawam chandah. Suaminya telah meninggal tiba-tiba empat setengah tahun yang lalu. Dia membesarkan anak-anaknya sendiri dan menjaga mereka tetap terhubung ke Khilafat dan Jemaat. Dia memiliki ikatan setia dengan Khilafat. Dia meninggalkan empat putra. Semoga Tuhan menjaga mereka dalam perlindungan-Nya dan menjadikan mereka penerima doa orangtua mereka.

Semoga Allah mengangkat kedudukan tiga almarhum dan menganugerahkan pengampunan kepada mereka.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa