Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 7 Ikha HS/Oktober 2011

di Hamburg, Jerman

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Penentangan-penentangan terhadap Jemaat Ahmadiyah dan penganiayaan terhadap orang-orang Ahmadi yang dilakukan oleh pihak lawan dalam sejarah Jemaat Ahmadiyah bukanlah perkara baru atau bukanlah baru terjadi beberapa tahun yang silam melainkan penentangan itu muncul bersamaan dengan da’wa [pernyataan kepada publik oleh] Hadhrat Masih Mau’ud as [mengenai kemahdian dan kemasihan beliau]. Sekalipun sejak permulaan berdirinya Jemaat Ahmadiyah tidak ada orang yang paling banyak melakukan pengkhidmatan terhadap agama Islam dan menyebarkan ajaran Islam hakiki diatas dunia selain dari pada Hadhrat Masih Mau’ud as. Akan tetapi tatkala para penentang mendengar penda’waan beliau as, “Allah Ta’ala  berkali-kali  berfirman  kepadaku, ‘Masih dan Mahdi yang akan datang engkaulah  orangnya.’”  Di zaman  ini  hamba-hamba  yang ingin berjumpa dengan Tuhannya dan engkaulah ‘habib Khuda’  (kesayangan Tuhan) di zaman ini  karena  pada  sekarang ini  yang  melebihi  engkau dalam  mencintai Tuhan tidak  ada  lagi. Engkaulah orang  yang  dimaksudkan وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ‘wa aakharina minhum lamma yalhaquu bihim’ (Surah Al-Jumu’ah, 62 : 4), maka orang yang tadinya mendukung sepenuhnya perjuangan beliau as dan menganggap beliau as sebagai seorang mujahid Islam sejati yang  tidak  ada  misalnya di zaman itu yang sangat tangguh tiba-tiba berbalik memusuhi beliau as, bahkan menimpakan  kesusahan-kesusahan pada  beliau as  dan mereka bersekongkol dengan lawan-lawan dari non Islam yang sungguh-sungguh sangat memusuhi dan menghina Islam serta menyebarkan fitnah menentang pendiri agama Islam, Hadhrat Rasulullah saw. Sampai akhirnya mereka mengajukan tuduhan palsu kepada pengadilan bahwa beliau as telah melakukan pembunuhan terhadap seseorang. Mereka secara berlebihan telah mengajukan saksi-saksi palsu menentang beliau as di pengadilan.

Jadi, penentangan yang sampai sekarang sedang kita hadapi bukanlah perkara baru didalam Jemaat Ahmadiyah, beliau as sendiri ketika beserta beberapa orang pengikut beliau as,  seperti  saya  katakan beliau as terpaksa harus melewati masa-masa kritis seperti itu. Harus menghadapi pengadilan. Kemudian pada zaman kehidupan  beliau as itu diantara para pengikut beliau as juga harus menghadapi kerugian-kerugian materi yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka terpaksa harus berpisah dengan anak-isteri mereka. Sehingga dua orang pengikut beliau as yang sangat setia dan sangat mukhlis telah menjadi sasaran kezaliman yang sangat biadab hingga syahid didataran tanah Kabul [Afghanistan, Red]. Dan dengan terpaksa beliau as mendengar berita tentang peristiwa yang  menggelisahkan itu. Salah seorang dari Syuhada itu adalah rais a’zham – pemimpin kharismatik Khost [nama daerah di Afghanistan] yang memiliki ribuan murid. Dan beliau menyandang martabat yang sangat terhormat di kalangan Istana Raja pada waktu itu. Beliau murid yang memiliki jiwa kesetiaan yang sangat terpuji, memiliki sifat para Malaikat, memiliki perjalanan hidup yang agung. Kesyahidannya mengakibatkan rasa sedih yang mendalam dalam kalbu beliau as. Beliau as telah menguraikan kesyahidannya itu dalam sebuah kitab yang beliau as namai ‘Tazkiratusy Syahadatain’. Di dalamnya juga disebutkan mengenai kebaikan-kebaikan beliau, ketakwaan beliau, bagaimana beliau menerima Ahmadiyah serta bagaimana telah disyahidkan secara kejam serta secara luar biasa telah dilukiskan ketinggian dan keteguhan iman beliau ra. Banyak sekali murid-murid beliau ra telah menulis surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bagaimana peristiwa pensyahidan beliau ra itu. Dan Hadhrat Masih Mau’ud as pun secara ringkas telah menjelaskannya dalam kitab itu. Dan pada akhirnya beliau as bersabda,

“Hai Abdul Latif! Beribu-ribu rahmat Tuhan turun diatas engkau! Engkau telah menunjukkan teladan dalam mempertahankan kebenaran dan keteguhan iman di masa kehidupanku.”[2]

Selanjutnya dalam kitab itu beliau as memberi nasihat kepada kita semua, bersabda,

“Kami ingin memberi nasihat kepada setiap anggota Jemaat bahwa untuk meraih iman yang teguh (yaitu seperti teguhnya iman Hadhrat Sahibzadah Abdul Latif Sahib Syahid) kalian harus selalu memanjatkan doa sebanyak-banyaknya ke hadirat Allah Ta’ala. Sebab selama manusia menjadi sebagian milik Tuhan dan sebagian lagi menjadi milik dunia maka di langit namanya tidak akan tercatat sebagai seorang mu’min.”[3]                 Itulah doa yang harus dipanjatkan oleh setiap orang Ahmadi dan amal perbuatannya harus disesuaikan dengan sabda beliau as tersebut diatas. Kita sudah mengetahui dari tarikh (sejarah) para nabi bahwa banyak sekali kesulitan dan penganiayaan ditimpakan diatas mereka dan diatas para pengikut mereka sehingga bahkan Majikan dan Junjungan kita, ‘Mahbub Khuda’ – “kekasih Tuhan” Hadhrat Muhammad Mushthafa saw sendiri pun yang mengenai beliau saw Allah Ta’ala telah berfirman, ‘Karena engkaulah langit dan bumi ini Aku ciptakan’ – Lau laaka lammaa khalaqtul aflaak, beliau saw beserta para pengikut beliau saw juga harus melalui detik-detik kesulitan dan kesusahan yang sangat berbahaya. Kebanyakan orang-orang yang membaca sejarah mengetahui. Mereka disamping harus mengorbankan harta dan anak-anak keturunan juga jiwa raga mereka [di jalan Allah Ta’ala].

Maka kapan saja Jemaat mengalami periode yang sangat sulit dan pahit serta penganiayaan yang sangat kejam, tarikh para nabi bahkan periode Hadhrat Nabi saw dan para sahabat beliau saw lebih dari itu, memperlihatkan kepada kita teladan istiqamah dan keteguhan iman yang tangguh. Bersamaan dengan itu menegakkan keyakinan kita bahwa semua periode cobaan dan ujian ini merupakan batu loncatan untuk meraih kemajuan dan kemenangan di masa yang akan datang. Hal itu semua terjadi demi meningkatkan keyakinan dan iman kita dan demi memperkuat hubungan kita lebih erat lagi dengan Allah Ta’ala secara berkesinambungan. Dan untuk menggerakkan kita agar lebih banyak lagi menaruh perhatian dalam memanjatkan doa kehadirat Allah Ta’ala. Memang, sesungguhnya para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah ragu-ragu untuk mengorbankan jiwa-raga, harta benda dan waktu mereka demi meningkatkan kemajuan Islam. Akan tetapi kejayaan Islam dan kemenangan-kemenangannya bukan hanya hasil dari ujian dan cobaan-cobaan itu, melainkan hasil dari hubungan istimewa orang-orang mu’min dengan Allah Ta’ala dan berkat doa-doa yang dipanjatkan secara khusus ke hadirat Allah Ta’ala. Dan paling istimewa sekali berkat doa-doa Hadhrat Rasulullah saw yang dipanjatkan sepanjang malam telah mengguncang ‘Arasy Ilahi. Doa-doa seorang Nabi yang telah fana fillah yang telah mengorbankan segala-galanya di jalan Allah Ta’ala telah menimbulkan sebuah revolusi rohani yang sangat agung. Apakah dengan melalui berbagai macam kesulitan dan cobaan dan melalui kemakbulan doa-doa kekasih Tuhan ini periode kejayaan Islam dan zaman keemasannya hanya untuk lima puluh, enam puluh tahun atau untuk beberapa abad saja lamanya? Sekali-kali tidak demikian! Apabila Hadhrat Rasulullah saw mendapat pangkat Khatamul Anbiya sampai Hari Kiamat maka semua kemenangan-kemenangan itu juga akan menjadi bagian dari beliau saw sampai Hari Kiamat. Sekalipun disela-sela periode itu telah terjadi zaman kemunduran dan kegelapan kemudian sampai berakhir lagi. Akan tetapi dengan menjumpai kaum akhirin setelah seorang pecinta hakiki Hadhrat saw diutus oleh Allah Ta’ala kemudian dimulailah zaman itu dimana akan menyaksikan lagi kemajuan dan kejayaan Islam, yang disaksikan oleh orang-orang Muslim di abad-abad pertama. Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan, bahwa orang-orang Muslim di abad-abad pertama, para sahabat yang mempunyai kedudukan lebih utama disusul oleh para tabi’in, yakni mereka yang telah memperoleh banyak berkat dari para sahabat, kemudian orang-orang yang memperoleh berkat-berkat dari para tabi’in, tumpuan utama mereka tiada lain adalah terhadap Dzat Tuhan bukan terhadap upaya mereka sendiri, dan untuk itu mereka sangat mengutamakan doa. Mereka menghiasi suasana malam mereka dengan rintihan doa.

Jadi pada periode akhirin ini dimana peperangan menggunakan pedang dan jihad khatimah ho giya (telah berakhir), maka doa harus sangat diutamakan dengan semangat yang tinggi. Dan hal itu harus menjadi perhatian bagi setiap orang Ahmadi. Tidak diragukan lagi sesunguhnya zaman akhir ini adalah zaman jihad ‘ilmi (jihad dengan ilmu) dan dalil-dalil serta argumentasi mempunyai kedudukan sangat penting dan untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as telah melengkapi Jemaat Ahmadiyah dengan berbagai jenis argumentasi dan dalil-dalil yang sahih dan akurat. Sehingga diatas dunia ini tidak ada satu agama pun yang dapat menandingi keagungan ajaran Islam dan kesempurnaan ajaran Kitab Suci Alquran. Akan tetapi hakikatnya adalah, ilmu pengetahuan dan berbagai jenis argumentasi itu baru akan memberi faedah kepada kita apabila disertai dengan turunnya karunia Allah Ta’ala kepada kita. Dan untuk menarik karunia Allah Ta’ala itu sangat diperlukan berusaha menunaikan doa-doa sambil merendahkan diri di hadapan-Na.

Pada waktu ini Jemaat Ahmadiyah berada di barisan paling depan untuk membuktikan ketinggian Agama Islam di pandangan agama-agama lain, menjawab semua tuduhan-tuduhan palsu terhadap ajaran-ajaran Alquran yang sangat indah dan luhur, menghapuskan semua keraguan dan kekeliruan serta tuduhan palsu tentang kehidupan suci dan akhlak karimah Hadhrat Rasulullah saw, tidak hanya sedang giat menjawab tuduhan-tuduhan dan kritikan-kritikan [keberatan-keberatan] terhadap ajaran Kitab Suci Alquran bahkan sedang membuktikan keunggulan Kitab Suci Alquran diatas semua kitab Agama-agama lain yang ada diatas dunia ini. Beberapa tahun yang lalu ketika  di sini di Jerman ini Paus telah menyatakan keberatan dan kritikan terhadap ajaran Kitab Suci Alquran, maka saya telah menugaskan Jemaat Jerman untuk menjawabnya dalam bentuk sebuah buku dan banyak  sekali orang-orang Jemaat Jerman bersama-sama bergabung mempersiapkan jawabannya itu. Dan dengan karunia Allah Ta’ala jawaban itu telah disusun sangat baik sekali. Tidak ada sebuah-pun golongan Islam lain yang mampu membuat jawaban secara rinci seperti yang telah Jemaat kita lakukan, bahkan tidak  mendapatkan taufik untuk menjawabnya secara ringkas sekalipun. Kemudian di Amerika Serikat juga seorang Pendeta selalu bersuara keras menentang ajaran Islam, selain itu banyak lagi orang-orang yang melontarkan kritikan-kritikan menentang Islam. Keberatan-keberatan mereka itu telah dijawab bahkan mereka ditantang untuk berdebat, namun seorang pun tidak ada yang berani tampil berhadapan. Kritikan-kritikan yang timbul di Belanda, di Denmark dan di negara-negara lainnya telah dijawab. Bahkan kepada mereka telah diperlihatkan bayangan (cermin) mereka sendiri agar mereka tahu sebenarnya siapa mereka itu. Kita toh bersikap layaknya ksatria dalam pertempuran kepada kekuatan penentang Islam [non Muslim anti Islam] namun demikian bersamaan dengan itu di kalangan kita sendiri [sesama Islam], ada juga yang menentang kita dan dalam melakukan penentangannya itu mereka telah melampaui semua batas-batas kemanusiaan. Mereka itulah yang menamakan dirinya Muslim lalu mengatasnamakan Islam dan kesucian Hadhrat Nabi saw untuk menyerang dengan zalimnya hamba setia dan pecinta sejati beliau saw. Mereka sedang giat melakukan penyerangan secara zalim dan biadab terhadap para Jemaat beliau as dan di Pakistan orang-orang yang menamakan diri ulama berada di baris paling depan. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah menulis dalam buku ‘Tadzkiratusy Syahadatain’,  “Amir Kabul [sebutan untuk raja di Afghanistan pada waktu itu] juga takut kepada pengaruh para Mullah (Ulama) dan atas perintah para Mullah itulah ia melakukan pembunuhan terhadap Hadhrat Sahibzadah hingga syahid. Mungkin saja ia menaruh rasa hormat dalam hatinya terhadap beliau (Hadhrat Sahibzadah Abdul Latif Sahib). Walaupun pada waktu itu kekuasaan resminya ada pada sang raja akan tetapi raja berada dibawah genggaman tangan para mullah.” [4] Persis seperti itu sekarang di Pakistan  Pemerintah karena [takut kepada para ulama] berakibat masyarakat awam juga [takut], telah jatuh ke tangan para ulama zalim dan dipermainkan oleh mereka laksana boneka. Atau mereka yakni kebanyakan para aparat Pemerintah di sana terpaksa tunduk kepada pendapat atau keputusan para Mullah sekalipun bertentangan dengan peri kemanusiaan. Bagaimanapun situasinya sekarang para Ahmadi yang tinggal di Pakistan tidak merasa risau bila hanya menderita kerugian harta benda ataupun jiwa-raga mereka atau mereka tidak memikirkannya. Banyak Ahmadi yang menulis surat dari sana kepada saya mengatakan, “Keadaan yang sedang dihadapi sekarang ini dirasakan sebagai bagian dari kehidupan kami. Kami berjalan kesana-kemari sambil meletakkan nyawa diatas telapak tangan kami atau diatas ujung tanduk. Hal itu sudah menjadi adat kebiasaan kami setiap hari sehingga tidak membuat kami merasa takut dari siapa pun. Namun apa yang menjadi sangat menggelisahkan kami adalah orang-orang zalim ini menggunakan kata-kata kotor yang sama sekali tidak pantas diucapkan dalam menghina Hadhrat Masih Mau’ud as yang disebarluaskan melalui selebaran-selebaran atau mereka memasang poster-poster dalam ukuran yang cukup besar yang dipasang diatas gedung-gedung Pemerintah. Kata-kata atau slogan-slogan yang mereka gunakan sangat keji dan memalukan, sehingga orang-orang yang bertabiat baik sama-sekali tidak sanggup membaca dan mendengarnya.” Para penulis [surat] ini menulis, “Kata-kata ini, selebaran-selebaran yang diterbitkan ini sangat melukai hati kami dan menimbulkan banyak sekali kesusahan dan penderitaan dalam pikiran kami. Membuat kami  tak  berdaya. Kata-kata sangat kotor yang kami dengar melalui pengeras suara itu dan karena melihat selebaran-selebaran yang sangat menjijikkan itu hati kami menangis sambil mengeluarkan air mata darah. Apabila perkara itu semua kami laporkan kepada para pembesar Negara, mereka tidak menghiraukannya atau mereka berkata, ‘Setelah kamu dengar, keluarkanlah melalui telinga yang lain!’ Atau mereka  mengatakan, ‘Kami tidak mampu menghadapi para penentang atau lawan-lawan kalian.” Atau mereka berkata, ‘Kami tidak dapat berbuat apa-apa.” Oleh karena itu pada saat ini sabar dan tabah merupakan kisah baru yang sangat besar yang sedang disusun oleh para Ahmadi yang tinggal di Pakistan.

Maka hasil dari kesabaran dan ketabahan ini akan dapat diperoleh hanya melalui hanya satu sarana, “Bersujud di hadapan Allah Ta’ala. Basahilah tempat-tempat sujud kita dengan air mata yang menetes di waktu berdoa kehadirat Allah Ta’ala. Untuk menggoyangkan ‘Arasy Ilahi kita harus menciptakan mutu iman kita seperti mutu iman para sahabat ridhwanullah ‘alaihim  yang telah membuka pintu kemenangan dan kejayaan bagi mereka.” Sekarang hanyalah rintihan doa-doa yang dapat menyelamatkan kita dari ganguan kejahatan para penentang yang telah membuat hati kita terluka dan dari kejahatan tangan-tangan mereka. Hanya doa-doalah yang dapat menyembuhkan luka hati kita dan melindungi kita dari racun kejahatan mereka. Para penentang mengatasnamakan Islam dan mengatasnamakan Hadhrat Muhammad Rasulullah saw memusuhi Ahmadiyah yang gerak langkah dan usaha-usaha mereka sangat cepat sekali bertambah. Begitu cepatnya gerak langkah penentangan mereka terhadap kita sehingga kitapun harus lebih banyak lagi meningkatkan rintihan doa-doa kita setiap waktu untuk menghadapi mereka. Bahkan harus lebih giat lagi dari masa-masa sebelum ini agar kita dapat menarik karunia-karunia Allah Ta’ala secepat-cepatnya.

            Kepada para Ahmadi yang tinggal di Pakistan saya ingin menekankan agar mereka meningkatkan rintihan doa-doa mereka secara khusus, bukan hanya sekedar berdoa seperti pada umumnya dilakukan. Bahkan sambil memanjatkan doa-doa itu harus dimulai dengan melakukan puasa nafal juga sekurang-kurangnya satu hari dalam seminggu. Begitu juga para Ahmadi asal Pakistan yang tinggal di negara-negara lain di seluruh dunia harus banyak-banyak memanjatkan doa bagi para anggota Ahmadi Pakistani yang tinggal di negeri asal mereka. Demikian juga para anggota Jemaat Ahmadiyah non Pakistani yang tersebar di seluruh dunia harus banyak-banyak memanjatkan doa bagi saudara-saudara Ahmadi kita yang tinggal di negeri Pakistan. Semoga Allah Ta’ala segera menyapu bersih semua ranjau kejahatan orang-orang zalim itu agar suasana aman dan tenteram segera tercipta di negara itu. Agar provokasi dusta dan demonstrasi jahat dan kotor tentang utusan Tuhan di zaman ini segera dilenyapkan agar negara menjadi selamat. Sebab selain itu tidak ada jaminan lain bagi keselamatan negara. Sesungguhnya saudara-saudara Ahmadi Pakistani mempunyai hak agar semua Ahmadi bukan Pakistani mendoakan bagi mereka karena mereka itulah [orang-orang Ahmadi Pakistani] yang telah menyampaikan amanat Hadhrat Masih Mau’ud as kepada anda semua. Sesungguhnya apabila doa-doa dipanjatkan dengan rasa gelisah dan resah disertai keperihan hati tentu Allah Ta’ala pun mendengarnya. Sekarang perbuatan mereka seperti binatang yang sedang dilancarkan menentang Hadhrat Masih Mau’ud as sudah melampaui batas peri kemanusiaan dan tidak ada yang dapat menyakitkan hati kita lebih dari perlakuan mereka seperti itu, sehingga menimbulkan kegelisahan dan keresahan dalam hati sanubari kita. Oleh sebab itu sekarang setiap orang Ahmadi harus memanjatkan doa sebanyak-banyaknya kehdirat Allah Ta’ala disertai penuh rasa gelisah dan resah disertai keperihan hati. Sebab doa yang dipanjatkan dengan penuh rasa gelisah dan keperihan hati tidak pernah ditolak oleh Allah Ta’ala.

Di satu tempat Hadhrat Masih Ma’ud as bersabda tentang doa,

“Allah Ta’ala dalam Alquran Syarif telah menentukan tanda-tanda untuk mengenal Zat-Nya bahwa, Tuhan kalian adalah Tuhan Yang mendengar doa yang dipanjatkan dengan penuh rasa gelisah atau rasa sengsara sebagaimana Dia berfirman, أمَّن يجيب المضطر إذا دعاه  am may yujiibul mudhtharra idzaa da’aahu [5] – “Siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?” [6]

Sesudah itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ingatlah! Tuhan Maha Ghani (Maha Cukup, tidak memerlukan sesuatu dari manusia), apabila doa tidak dipanjatkan dengan sering dan berulangkali kepada-Nya maka Dia tidak akan mendengar dan menghiraukannya. Tengoklah! Jika istri atau anak seseorang jatuh sakit keras atau seseorang harus menghadapi perkara yang sangat sulit dalam sidang di Pengadilan, maka disebabkan hal itu semua pasti perasaan orang itu akan sangat gelisah sekali. Jadi, apabila di waktu memanjatkan doa tidak timbul rasa gelisah dan keperihan hati yang sesungguhnya pastilah usaha itu tidak akan menimbulkan hasil apa-apa. Untuk kemakbulan doa, rasa gelisah dan keperihan hati adalah syarat utama dan sangat penting untuk terkabulnya doa seperti firman-Nya أمَّن يجيب المضطر إذا دعاه ‘Am may yujibul mudhtharra idzaa da’aahu’ – “Siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya.”

Jadi, sekarang setiap orang Ahmadi harus memanjatkan doa-doa ini secara khusus dengan penuh rasa gelisah dan resah bahkan bagi orang-orang Pakistani Ahmadi harus lebih banyak dan lebih khusus lagi memanjatkan doa kehadhirat Allah Ta’ala sambil mengingat keadaan dan situasi di Pakistan. Demi keselamatan para Ahmadi di sana banyak-banyak berdoa sangat diperlukan sekali. Dan sebagaimana telah saya katakan bahwa banyak para Ahmadi yang tinggal dinegara Pakistan setiap waktu sedang giat memanjatkan doa dengan penuh rasa gelisah dihadapan Allah Ta’ala. Sekarang mereka harus memanjatkan doa sambil meningkatkan lebih banyak lagi rasa gelisah dan resah dihadapan Allah Ta’ala. Dan setiap orang Ahmadi dengan penuh ikhlas harus memanjatkan doa bagi keselamatan dan perlindungan dari kezaliman dan dari kejahatan orang-orang zalim. Hanyalah doa yang menjadi senjata kita dan kearah itulah Hadhrat Masih Mau’ud as telah berulang kali mengingatkan kita. Saya masih ingat pada masa Khilafat Raabi’ah (keempat) rh ketika saya tinggal di Rabwah, Hadhrat Khalifah Raabi’ rh menetapkan saya sebagai Nazir-e-A’la. Beliau rh menganjurkan seluruh anggota Jem’at untuk memanjatkan doa bagi keadaan dan keselamatan Jemaat, padahal keadaan pada waktu itu tidak mencapai seperpuluh pun dibandingkan dengan keadaan sekarang. Tidak ada artinya jika dibanding dengan keadaan sekarang. Maka dalam mimpi terdengar suara oleh saya yang mengatakan, “Jika 100% orang-orang Ahmadi Pakistani berdoa ke hadhirat Allah Ta’ala dengan hati penuh ikhlas dan khusyu, maka keadaan akan kembali normal berkat doa-doa yang dipanjatkan hanya dalam beberapa malam saja.”

            Saya semenjak hari-hari pertama telah mengingatkan Jemaat untuk menaruh perhatian sepenuhnya terhadap situasi sekarang dan untuk itu dianjurkan untuk banyak-banyak memanjatkan doa. Jemaat di Pakistan harus menaruh perhatian terhadap doa-doa. Sekarang tanpa dipikirkan lebih dahulu, pokok pembicaraan khotbah saya selalu terpusat kearah perkara itu. Jadi, merupakan hal yang meyakinkan bahwa insya Allah janji-janji Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as pasti akan sempurna, bukan hanya akan sempurna, bahkan telah, sedang dan akan terus sempurna. Dan pemandangan sempurnanya janji-janji Allah Ta’ala itu dapat disaksikan di Pakistan juga. Sekalipun keadaan yang sangat sulit dan tidak menguntungkan dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat Ahmadiyah di Pakistan sedang bergerak kearah kemajuan. Setiap senjata dan setiap serangan musuh yang dilakukan dengan niat yang sangat keras dan kejam, Allah Ta’ala dengan karunia khusus-Nya tidak memberikan hasil apapun kepada mereka. Serangan-serangan musuh itu sangat dahsyat dan berbahaya sekali. Ini merupakan janji Allah Ta’ala  dan hanya karena karunia Allah Ta’ala semata sehingga Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as selalu berada dibawah perlindungan-Nya. Akan tetapi semua cobaan itu harus membangkitkan kesadaran dengan sungguh-sungguh bahwa sambil berserah diri kita harus memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala lebih deras dan lebih giat lagi dari waktu yang sudah lalu. Semua anak-anak kita, orang-orang muda kita, orang-orang tua kita, laki-laki dan perempuan sambil menahan semua keinginan hawa nafsu dan menyingkirkan semua keburukan, harus berusaha mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala sambil menundukkan kepala secara sempurna di hadapan-Nya. Penuhilah dengan sempurna hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama manusia sambil merebahkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Maka hasilnya kezaliman dan semua orang-orang zalim insya Allah Ta’ala akan hancur di hadapan mata kita. Taqdir Allah Ta’ala pasti menang insya Allah Ta’ala. Akan tetapi sempurnanya taqdir Allah Ta’ala ini akan terjadi dengan cepat atau lambat kadangkala tergantung pada kondisi amal saleh manusia, dan keadaan rohani serta doa-doa manusia atau Jemaat. Kadangkala harus menunggu berakhirnya sebuah generasi. Apabila Allah Ta’ala telah memberi isyarat bahwa Dia akan melakukan suatu tindakan, maka jika kalian ingin agar tindakan itu segera dilakukan maka kalian harus mengadakan sebuah perubahan rohani besar pada diri kalian. Timbulkanlah perubahan besar dalam tabi’at dan akhlak kalian. Kita harus memahami betul bunyi amanat Tuhan.

Maka, marilah kita bersama-sama mengguncang ‘Arasy Allah Ta’ala, setiap orang Ahmadi harus merebahkan diri dihadhirat Allah Ta’ala sambil menyerahkan diri kepada-Nya. Supaya rahmat Allah Ta’ala yang sudah bergelora untuk turun kepada kita, semakin bergelora lebih hebat lagi bahkan lebih dari sebelumnya. Sehingga dengan rahmat-Nya itu kita diselamatkan dari kejahatan orang-orang zalim. Jika tidak timbul perubahan besar keseluruhan sampai seratus persen (100%) namun secara mayoritas timbul perubahan besar, maka insya Allah Ta’ala kita akan menyaksikan banyak pemandangan berupa kemenangan dan kejayaan.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk memahami betul ruh atau intisari doa dan memperhatikan adab-adabnya, agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang mampu meraih karunia-karunia-Nya dengan segera. Semoga jangan timbul perasaan didalam hati kita bahwa kita telah demikian banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala namun Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa-doa kita, atau Dia tidak memperlihatkan sesuatu pemandangan kepada kita. Pertama adalah, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala sedang mengabulkan doa-doa kita bahkan doa-doa kita yang sedikit atau sederhana atau usaha-usaha kita yang tidak ada artinya itu, dengan rahmat-Nya yang khusus Allah Ta’ala telah memberi buahnya yang sangat mengherankan kita, sehingga dengan menyaksikannya keyakinan kita terhadap Zat-Nya semakin bertambah. Diantaranya; pertama, sebagaimana telah pernah saya katakan bahwa di Pakistan berapapun hebatnya perbuatan makar musuh-musuh Jemaat dan setiap hari rencana kejahatan dan makar mereka semakin meningkat dengan cepatnya namun mereka sedikitpun tidak pernah berhasil. Dan di Pakistan juga dengan karunia Allah Ta’ala, iman para anggota Jemaat Ahmadiyah sedang meningkat dengan cepat sekali. Dan mereka sedang menyaksikan turunnya karunia Allah Ta’ala yang tidak terhitung banyaknya. Dan di seluruh pelosok dunia Jemaat Ahmadiyah sedang giat diperkenalkan kepada masyarakat dan Tuhan sedang memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang diraih oleh mereka. Hal itu juga dengan karunia Allah Ta’ala sebagian hasil dari usaha-usaha dan doa-doa kita yang tidak ada artinya. Keduanya, jika terdapat didalam pikiran seseorang sedikit saja bahwa na’udzubillah Allah Ta’ala tidak mendengar doa-doa kita, maka ia harus banyak membaca istighfar. Dan ia harus ingat bahwa Allah Ta’ala adalah Malik, Pemilik segala sesuatu. Dan tugas kita adalah jangan berhenti, terus menerus memohon kepada Malik ini, untuk itu juga ada ketentuan adabnya yang harus kita penuhi secara sempurna. Menaati adab-adab doa secara sempurna adalah kewajiban kita semua.

Hadhrat Masih Mau’ud as secara khusus mengingatkan kita tentang adab berdoa itu. Beliau as bersabda,

”Sambil memanjatkan doa jangan sekali-kali merasa lelah kemudian berhenti dan berputus asa. Dan sekali-kali jangan berprasangka buruk terhadap Allah Ta’ala bahwa Dia tidak mendengar doa kita. Sebabnya pertama, dibawah undang-undang qudrat Ilahi kemaqbulan doa-doa memerlukan waktu. Keduanya, pemandangan kemaqbulan doa tidak semestinya dalam bentuk yang sesuai dengan doa yang dimohon kepada Allah Ta’ala. Bahkan Allah Ta’ala menampakkannya dalam bentuk-bentuk lain sebagai tanda kasih sayang kepada-Nya.” (tercantum dalam Malfuzhaat jilid 2, halaman 693, Terbitan Rabwah, edisi 2003). Sebagaimana telah saya (Hudhur atba) katakan bahwa dalam kemajuan dunawi negara Pakistan pengorbanan-pengorbanan dan doa-doa orang-orang Ahmadi Pakistan mempunyai peranan yang sangat besar sekali. Ketiganya, bahwa sebagai hamba Allah Ta’ala harus merenungkan sedalam-dalamnya tentang keadaannya sendiri. Apakah dengan serius dan penuh ikhlas sambil melaksanakan hak-hak kewajibannya kepada Allah Ta’ala ia merundukkan kepala di hadapan-Nya? Jika ia merenungkannya sungguh-sungguh maka akan muncullah kesalahan hamba itu.

Kemudian di tempat lain sambil menjelaskan adab berdoa Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Untuk memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala sangat perlu sekali adanya adab. Dan manusia berakal apabila memohon sesuatu kepada Raja, pertama-pertama adab selalu mendapat perhatian penuh. Itulah sebabnya Allah Ta’ala telah mengajarkan didalam surat Al-Fatihah bahwa bagaimana caranya suatu permohonan harus diajukan. Tuhan mengajarkan dengan firman-Nya, اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ‘Alhamdu lillaahi Rabbil ‘Alamin’ – “Semua pujian adalah milik Allah Pencita dan Pemelihara sekalian alam.” الرَّحْمنِ ‘ar-rahmaan’ artinya Pemberi segala sesuatu tanpa diminta. الرَّحِيْمِ ‘ar-rahiim’ yakni Dia memberi atau menyusun hasil-hasil yang sangat baik dari kerja keras yang dilakukan hamba-Nya dengan sesungguhnya. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ‘maliki yaumid diin’ yakni pembalasan dan ganjaran terletak ditangan-Nya, apakah Dia menghukumnya atau menyelamatkannya. Hukuman dan ganjaran di akhirat dan di dunia juga terletak ditangan-Nya. Hukuman dan ganjaran terdapat di dunia ini dan di akhirat juga. Kedua-duanya terletak ditangan-Nya. Sejauh mana manusia melakukan pujian kepada-Nya, maka ia berpikir bahwa betapa Agung dan Mulianya Tuhan sebagai Rabb, Rahmaan, Rahiim dan selanjutnya ia terus-menerus mengimani dan meyakini Tuhan Yang Ghaib. Apabila manusia memanjatkan doa sambil menyebut sifat Rabb, Rahmaan dan Rahiim artinya ia beriman kepada Yang Ghaib. Dan ia berseru kepada-Nya dengan anggapan Tuhan itu ada dihadapannya dan Dia sedang menyaksikannya. Taraf permulaan (surah Al-Fatihah) yang menyebutkan sifat-sifat Allah Ta’ala sebagai landasan manusia iman bil Ghaib. Dan karena iman, manusia menganggap-Nya hadir dihadapannya dan Dia tengah menyaksikannya, seakan-akan Tuhan sedang duduk dihadapannya. Kemudian ia berseru, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin’ – “hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ‘ihdinash shiraathal mustaqiim’ – “Tunjukkanlah kami ke jalan yang betul-betul lurus, tidak terdapat kebengkokan sedikitpun didalamnya.” Ada sebuah jalan bagi orang-orang buta, setelah berusaha keras ia merasa lelah, sedikitpun tidak mendatangkan hasil dari padanya. Ada lagi satu jalan dengan berusaha keras diatasnya, hasilnya pun dapat diraih. Kemudian berdoa,صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ   shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim – “jalan orang-orang yang kepadanya Engkau memberi nikmat.” Dan itulah الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ash-shirathal mustaqiim yang berjalan diatasnya nikmat-nikmat dapat diraih. Lalu غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ ghairil maghduubi ‘alaihim “bukan jalan mereka yang Engkau murkai.” وَلا الضَّالِّيْنَ waladh dhaalliin, “dan bukan pula jalan orang-orang yang jauh melantur dalam kesesatan.”  

Pendeknya sedikit adab (tata-cara, kesopanan) berdoa itu harus kita ketahui dengan baik. Sifat-sifat pokok Allah Ta’ala yaitu; ar-Rabb, ar-Rahmaan, ar-Rahiim dan Maaliki Yaumid Diin. Jika betul-betul beriman secara Kamil kepada sifat-sifat tersebut maka pasti manusia menaruh perhatian sepenuhnya terhadap ibadah  dan  berdoa  kepada Allah Ta’ala dan ia menjadi orang yang senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya dengan merendahkan dirinya dan ia memohon ni’mat-ni’mat yang secara khusus Allah Ta’ala menganugerahkannya kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Setiap orang harus merasa takut jangan-jangan amal perbuatannya membangkitkan kemarahan Tuhan. Setiap waktu harus tertanam rasa takut kepada Allah di dalam hati sanubari. Seorang hamba lemah dan merendahkan diri selalu berusaha jangan sampai dirinya menjauh dari Allah Ta’ala. Jangan sampai suatu waktu ia menjadi orang yang melupakan Allah Ta’ala. Apabila keadaan hati seorang hamba sudah mencapai taraf demikian maka doa-doanya akan terkabul. Dan Allah Ta’ala akan mendekatkan ni’mat-ni’mat-Nya kepadanya. Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan kemenangan-kemenangan kepadanya, sehingga ia akan melihat dengan mata kepalanya kehancuran musuh-musuhnya.

Maka sebagaimana saya telah berkata sebelumnya yaitu: “Marilah kita perkokoh iman kita lebih dari sebelumnya, tunduklah dihadapan-Nya sambil menyerahkan diri dengan ikhlas. Maka jika musuh-musuh kita telah bertindak sampai melampaui batas perikemanusiaan, maka kita juga harus berusaha menjadi orang-orang yang menggenapi syair Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini, ‘neham hogae ya re neham me’ [7] – “Setiap kali musuh menambah kenakalan dan fitnahnya segera kami berada dalam pemeliharaan pertolongan Allah.”

Sesungguhnya apabila kita sudah tenggelam dalam doa untuk memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah Ta’ala maka pasti Dia akan datang sambil berlari kepada kita dan Dia akan membinasakan dan menghancurkan semua musuh-musuh penentang kita. Sesungguhnya jika seorang hamba telah memiliki hubungan khusus dan ikhlas dengan Allah Ta’ala maka ia dapat mengalahkan seorang Raja yang memusuhinya dengan menggunakan senjata atau panah-panah yang dilepaskan di tengah malam, yakni panah-panah doa yang dipanjatkan di tengah malam yang mampu menggoncangkan ‘Arasy Allah Ta’ala. Ia dapat membuat Raja itu bertekuk lutut tidak berdaya berkat doa-doanya yang maqbul diatas ‘Arasy Ilahi. Sehingga Raja itu terpaksa mengakui kehebatan doa yang dipanjatkan hamba itu kepada Allah Ta’ala dan berkata, ”Aku tidak mampu melawan panah-panah yang dilepas di tengah malam itu.”[8] Maka sesungguhnya kita sebagai para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as yang Allah Ta’ala telah memberi khabar suka kepada kita bahwa “Aku bersama engkau dan bersama orang-orang yang engkau cintai.”[9] Jika dengan giat kita memanjatkan doa-doa kehadirat Allah dan setiap malam melepaskan panah-panah doa untuk melawan musuh-musuh maka yakinlah seyakin-yakinnya bahwa kita pasti akan menang diatas mereka. Akan tetapi mungkin saja didalam Kerajaan itu sudah banyak mengalami perobahan menuju kebaikan dan timbul rasa takut terhadap panah-panah hamba Allah yang dilepas ditengah malam oleh sebab itu Raja pun telah meninggalkan ancaman buruk terhadap hamba Allah Ta’ala itu. Dan ia meninggalkan musik yang membuat bising terhadap lingkungan. Akan tetapi orang-orang yang menamakan diri maulwi, menamakan diri  para ulama atas nama Rasul, atas nama Rasulullah saw yang adalah Rahmatul lil ‘Aalamin telah menyebarkan kezaliman yang sama sekali tidak ada rahmat sedikitpun menempel dalam hati mereka. Sesungguhnya mereka itu tidak mempunyai keyakinan terhadap Tuhan maupun terhadap Rasul. Sedikitpun tidak dapat diharapkan suatu kebaikan dari mereka itu. Nampaknya taqdir mereka itu hanyalah kebinasaan. Dan kebinasaan mereka itu dapat terjadi hanya dengan panah-panah doa yang dilepas pada malam hari. Kita adalah hamba sahaya Masih Muhammadi yang telah mendapat jaminan dari Allah Ta’ala dengan firman-Nya kepada beliau as, ”Me tere aur tere piyarung ke sath huu’ – “Aku beserta engkau dan beserta orang-orang yang engkau cintai!” Maka apabila kita menyeru Allah Ta’ala sambil berserah diri kepada-Nya dan akan melepaskan panah-panah tengah malam melawan musuh, maka pastilah Allah Ta’ala akan memperlihatkan Kudrat-Nya yang khusus kepada kita. Jadi, doa adalah senjata yang apabila kita menggunakannya dengan ikhlas dan penuh keyakinan maka tidak akan ada yang mampu melawannya. Tidak mengandung keraguan sedikitpun bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang utusan Allah Ta’ala. Beliau as adalah seorang pribadi agung yang datang pada zaman ini sebagai ghulam atau sahaya Hadhrat Rasulullah saw untuk mempertemukan manusia dengan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu tidak ada keraguan sedikitpun apa yang Allah Ta’ala telah janjikan kepada beliau as akan sempurna dan pasti akan sempurna. Insya Allah. Karena  kita  tidak  meragukan  lagi akan hal itu mendekati keraguan pun tidak bahwa na’udzubillah Tuhan tidak memenuhi janji-janji-Nya. Dia memenuhi janji-janji-Nya dan pasti memenuhi, Dia sangat tepat dalam memenuhi janji-janji-Nya.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa semenjak da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as sampai sekarang taufan penentangan terus bertiup dan berderu dengan deras sekali, sehingga pada suatu waktu pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih II ra, Qadian mendapat serangan sangat keras dan dahsyat dari orang-orang Ahrar. Kemudian seorang manusia yang mabuk kekuasaan berkoar-koar menyuruh Jemaat Ahmadiyah agar memegang cawan faqir (pengemis).[10] Setelah itu seorang lagi yang mabuk dalam kekuasaannya setelah memvonis Ahmadiyah sebagai penyakit kanker [dalam umat dan negara Islam] bersumpah untuk mencabutnya sampai ke akar-akarnya.[11] Namun apa hasilnya dan apa yang telah terjadi? Bahkan sekarang Jemaat Ahmadiyah semakin maju jaya dan telah tersebar di 200 negara di dunia. Jadi, silsilah ini [mata rantai Jemaat Ahmadiyah] adalah silsilah kesayangan Tuhan. Untuk mengairi taman Islam yang disayangi-Nya pada zaman ini Allah Ta’ala telah mengutus seorang yang dicintai-Nya untuk menjalankan misi Jemaat ini. Dan setiap waktu kita menyaksikan pemandangan pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala terhadap Jemaat-Nya ini. Maka hendaknya tidak ada yang berpikir apakah Hadhrat Masih Mau’ud as ini seorang utusan Allah Ta’ala yang sesungguhnya atau bukan? Atau janji-janji Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as na’uudzubillah tidak ada yang sempurna. Melainkan sebaliknya kita harus berpikir apakah kita telah menjalankan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya atau belum? Apakah kita telah menaruh perhatian untuk banyak-banyak memanjatkan doa-doa kehadirat Allah Ta’ala atau belum? Apakah kita telah menyempurnakan hak-hak Allah Ta’ala ataukah belum? Apakah kita telah menjadi orang yang selalu menundukkan kepala dihadapan Allah Ta’ala sambil merendahkan diri atau tidak? Jadi, tugas kita sekarang adalah menunaikan kewajiban dan tanggung jawab kita dengan baik. Dalam hati kita bukan hanya menyatakan prihatin atau hati gelisah secara zahiriah saja mendengar atau membaca caci-maki yang zalim dan keji terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as melainkan dengan memanjatkan doa-doa pada malam hari harus berusaha untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar taqdir-Nya secepat mungkin disempurnakan oleh-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita secara perorangan maupun secara kelompok Jemaat untuk memanjatkan doa yang mampu menarik rahmat dan karunia-Nya. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang selalu memanjatkan doa-doa yang dapat mengguncang ‘Arasy Ilahi dan semoga Allah Ta’ala menurunkan perintah kepada lasykar para Malaikat-Nya untuk menolong kita yang mazhlum (teraniaya). Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk mengatakan kepada para Malaikat Allah Ta’ala yang bersama-sama memanjatkan doa ini,  رب إني مغلوب فانتصرْ ‘Rabbi inni maghluubun fantasir’ – “Wahai Tuhanku! Aku dikalahkan, datanglah Engkau ya Allah untuk membalas terhadap musuh.” [12] فسَحِّقْهم تسحيقًا fasahhiqhum tashiiqa – “Dan gilaslah mereka sampai hancur sehancur-hancurnya.” [13]Datanglah Engkau untuk menolong mereka yang dizalimi dan setiap waktu menjadi sasaran kezaliman orang-orang zalim yang menganggap diri mereka golongan mayoritas. Mereka yang menjadi sasaran kezaliman orang-orang zalim yang bernaung dibawah perlindungan para pemimpin dan mereka yang teraniaya dibuat kehilangan hak-hak mereka, atas nama pemimpin dan atas nama Islam orang-orang zalim itu berusaha untuk melenyapkan dan menyapu bersih kehadiran mereka dari muka bumi.” Kesalahan mereka yang mazhlum ini hanyalah karena telah mengakui kebenaran utusan Allah Ta’ala pada zaman ini sambil mengumumkan bahwa mereka telah mendengar seruan-nya dan telah beriman kepadanya. Allah Ta’ala berfirman kepada para Malaikat, ”Hai Malaikat! Pergilah kalian dan bantulah mereka ini dan beritahulah kepada dunia bahwa orang-orang ini telah menyambut seruan-Ku. Aku adalah Pelindung dan Penolong serta Pendukung mereka. Dan pada hari ini juga pengumuman-Ku sungguh benar,نِعْمَ المولى ونِعْمَ النصيرُ  ni’mal maula wa ni’man nashiir – “Alangkah baiknya Tuhanku sebagai Pelindung dan alangkah baiknya sebagai Penolong” (Surah Al-Anfaal, 8 : 41). Maka barangsiapa yang melawan mereka, Allah Ta’ala berfirman, “Tentu ia akan menjadi mangsa cengkeraman tangan-Ku.”

Jadi, untuk menghasilkan perlakuan kasih-sayang Allah Ta’ala ini setiap orang Ahmadi harus menundukkan kepalanya dihadapan Allah Ta’ala. Banyak-banyaklah berdoa sehingga natijahnya hukuman Allah Ta’ala segera turun diatas orang-orang yang memusuhi kita. Keadaan kita sangat lemah, tidak mampu membalas perilaku jahat mereka secara fisik. Mereka sedang giat menggunakan kata-kata cacian dan penghinaan yang tidak patut dan sangat keji terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Maka untuk itu hanya ada satu macam obatnya yaitu basahilah tempat sujud dengan tetesan-tetesan air mata. Serulah Tuhan Pelindung dan Penolong orang-orang yang lemah dan Penyelamat orang-orang yang mazlum dan teraniaya. Serulah Tuhan-nya Hadhrat Rasulullah saw yang telah menjadikan orang-orang lemah dan rendah sebagai para Pemimpin terhormat. Tuhan Yang telah mengagalkan setiap makar para musuh orang-orang Islam.

 Oleh karena  itu “Wahai Tuhan! Sekarang kami dengan menyaksikan turunnya rahmat dan manifestasi kegagahan Engkau kami berdoa, ‘Bumi ini yang di negeri-negerinya terdapat orang-orang yang menyatakan diri telah beriman kepada rasul Engkau tercinta, yang demi faedah dan demi menegakkan keakuan dan kesombongan, hamba-hamba Engkau yang mazhlum (teraniaya) ini menderita penyiksaan, mereka sedang berusaha menjadikan bumi ini hutan-hutan yang penuh dengan onak-duri bagi kami. Dengan rahmat Engkau yang khusus jadikanlah bumi ini [tempat yang aman dan nyaman laksana] surga bagi kami. Jadikanlah bumi ini taman bunga yang indah bagi kami. Jadikanlah kami orang-orang yang semakin maju dalam ketakwaan kami. Anugerahkanlah kepada kami hubungan erat yang tidak pernah putus dengan Engkau. Anugerahkanlah selalu kepada kami kemakbulan doa-doa kami. Selamatkanlah mayoritas umat muslim dari cengkeraman kejahatan orang-orang yang menamakan diri ulama kemudian berilah taufik kepada mereka untuk menggabungkan diri kedalam Jemaat pencinta sejati habib – kekasih Engkau [Hadhrat Muhammad Rasulullah saw] agar umat muslim ini dapat menjalankan hak [kewajiban] mereka sebagai khairu ummah (umat terbaik) dan dapat membersihkan dunia dari kezaliman. Wahai Arhamar Raahimiin (Yang Paling Penyayang dari segala yang penyayang) sayangilah kami dan untuk itu anugerahkanlah taufik kepada kami semua.”

Saat ini ada sebuah berita yang menyedihkan, tanda kezaliman orang-orang zalim di Pakistan seorang lagi Ahmadi disyahidkan beberapa hari baru-baru ini. Yang terhormat tuan Master Dilawar Husain lahir pada 25 Mei 1969 di Shekhupura. Di sana beliau juga menempuh pendidikan dasar hingga mendapat gelar BA. Beliau sedang menjalani training sebagai guru dan pada 1 Oktober 2011 hari sabtu siang tengah hari jam 11 : 30 seorang pembunuh yang tak dikenal masuk ke dalam ruangan kelas yang saat itu beliau sedang mengajar lalu beliau ditembak. Sebutir peluru mengenai leher beliau dan satu lagi mengenai perut beliau sehingga beliau syahid. Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.    Waktu itu di sekolah beliau dalam keadaan terluka parah lalu dibawa ke rumah sakit dan beliau syahid ketika sedang dalam perjalanan. Beliau seorang Ahmadi baru (mubayi’ baru). Beliau memiliki tabiat tertarik kepada persoalan-persoalan agama dan gemar [berdiskusi] mencari kebenaran. Beliau menemui berbagai macam ulama dan sibuk menelaah buku-buku. Beliau orang yang memiliki hobi dalam penelitian berbagai golongan dalam Islam. Dikarenakan kepribadian beliau yang beruntung dan atas dasar penelitian mencari kebenaran sebelum baiat sempat meninggalkan sebuah kelompok agama yang mempopulerkan bid’ah seperti tradisi ‘qul’[14], ‘khatam’[15] dan ‘ta’widz’[16] dan juga sempat menasihati keluarga, “Tinggalkanlah tradisi itu! Itu lebih baik.” Saat sebagian keluarga beliau menyampaikan mengenai pesan Ahmadiyah kepada beliau yang setelahnya lalu mengadakan penelitian serius dan obyektif mengenai Ahmadiyah dengan mengunjungi kota Rabwah bersama keluarga, mengirim berbagai surat kepada banyak jemaat lokal, menelaah buku-buku Jemaat dan selalu menyaksikan program-program MTA. Dalam masa itu, beliau bertemu dengan salah seorang Ahmadi terkenal, selalu mengadakan komunikasi dengannya serta beberapa waktu kemudian menyatakan ingin baiat. Ketika dikatakan kepadanya, “Sekarang silakan tuan menambah waktu penelitian dan setelah itu berbaiat.” Beliau menjawab, “Sudah cukup. Sekarang juga saya ingin baiat. Siapa yang tahu dalam masa [penelitian] ini saya akan mati dan saya tak ingin mati dalam keadaan penuh kejahilan [karena tidak mengikuti Imam Zaman] oleh karena itu ambillah baiat saya.” Karenanya, ia menyatakan menerima dalam pelukan Ahmadiyah pada tanggal 29 September 2010 bersama isteri dan anak-anaknya dan setelah baiat mengalami perubahan akhlak dan rohani yang luar biasa. Beliau bertambah rajin shalat, dawam membaca Alquran dan kepada putra beliau pun membacakannya. Menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah di rumah. Beliau memiliki hubungan yang erat dengan Khilafat. Segera setelah baiat, beliau teratur menyaksikan MTA dan menganjurkan kepada putera-puteri beliau untuk berbuat yang sama seperti beliau. Berbagai program MTA beliau simak. Maju secara luar biasa dalam hal kegemaran dan gairah semangat untuk melakukan da’wah ilallah sehingga beliau berdakwah kepada para guru sejawat beliau dan selalu menjalinkan mereka agar berkomunikasi terus-menerus dengan murabbi silsilah (mubaligh Jemaat). Disamping itu, beliau menghadiahkan CD-CD kejemaatan, buku-buku jemaat dan buku-buku hasil kajian beliau sendiri kepada mereka. Seorang murabbi menulis surat kepada saya (Hudhur), “Dalam urusan tabligh, beliau sangat gesit. Saya menyaksikan matanya yang penuh hormat dan berkeyakinan sangat tatkala ia melihat foto Hadhrat Masih Mau’ud as dan para Khalifah beliau atau ketika mendengar nama-nama beliau-beliau disebut. Beliau memiliki jalinan kesetiaan dan keikhlasan yang luar biasa dengan para murabbi, para mu’allim dan para pengurus Jemaat. Sikap menghormati tamu dalam diri beliau begitu baik. Beliau pergi untuk menunaikan shalat jumat dengan teratur dan juga mengajak putra-putri beliau. Beliau sangat memikirkan tarbiyat putra-putri beliau ini dan keinginan beliau adalah agar 2 putra beliau ini menjadi murabbi. beliau senantiasa siap sedia berkorban dalam dalam setiap hal dan setiap waktu. Segera setelah baiat beliau ambil bagian dalam pembayaran candah Jemaat. Setelah baiat, beliau mengalami penentangan yang besar. Kaum kerabat serta semua keluarga beliau mengasingkan dan meninggalkan beliau walaupun dengan adanya boikot tersebut tidak memundurkan iman beliau bahkan iman beliau bertambah maju. Terakhir, keluarga beliau mendatangkan beberapa maulwi untuk mendebat beliau namun mereka tak punya dalil apa-apa dan kalaupun ada lemah sehingga bisa terbantah. Para maulwi mengadakan jalsah tepat di depan rumah beliau, sendirian beliau ikut mendatangi pertemuan tersebut dan tatkala para maulwi tanpa sepatah kata pun (tanpa dialog) mengeluarkan fatwa pengkafiran dan wajibul qatl (wajib dibunuh) kepada beliau namun tanpa rasa takut beliau masih mengikuti pertemuan tersebut berupaya berdialog dengan para maulwi namun para maulwi tidak memiliki dalil apa pun  sehingga keluarlah caci-maki mereka kepada beliau.”

Sebelumnya beliau telah menikah pertama kali namun istri beliau wafat. Pada tahun 1993, beliau menikah dengan saudari dari istrinya yang darinya lahir dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang masing-masing berumur 17, 15, 9 dan 5 tahun. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhum dan menganugerahkan keteguhan hati kepada isteri dan putera-puteri beliau dalam menerima musibah ini; mengalami kemajuan dalam hal iman; melindungi dan menolong mereka; memberi ketabahan dan harapan baik kepada mereka. Insya Allah shalat jenazah dilaksanakan setelah shalat Jum’at.            Shalat jenazah ghaib kedua untuk tuan (almarhum) Abdul Jabbar putra yang terhormat tuan Fadhl Din, pewakaf yang telah semenjak lama sekali berkhidmat di Rumah Sakit Fadhl Umar di Rabwah. Beliau wafat pada tanggal 4 Oktober waktu subuh dalam usia 69 tahun. Beliau telah lama menderita sakit jantung. Beliau sedang mengalami masa pengobatan. Namun walaupun dalam keadaan sakit tetap menjalankan tugas beliau dengan gembira hingga akhir hayat. Beliau mendapat taufik berkhidmat di rumah sakit Fadhl Umar sekitar 45 tahun. Beliau mengkhidmati cukup lama seorang pribadi suci berwibawa yaitu Hadhrat Khalifatul Masih III rha. Seorang pribadi supel dan lembut. Lebih dari itu saya melihat beliaulah orangnya yang paling memiliki akhlak ceria saat bekerja di rumah sakit Fadhl Umar. Para pasien sangat menyukainya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan derajat-derajat yang tinggi kepada beliau dan memberikan kesabaran serta harapan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Shalat jenazah ghaib ketiga ialah untuk tuan Nasir Ahmad Muzaffar putra dari yang terhormat Maulana Zhafr Muhammad Zhafr. Kendati beliau adalah seorang petugas pemerintah [yang sibuk bertugas] namun mendapat taufik mengkhidmati Jemaat dalam berbagai kesempatan dan pada saat akhir hidupnya beberapa saat setelah pensiun mengkhidmati Jemaat seperti pewakaf. Seorang yang ramah dengan orang-orang di daerahnya dan dikarenakan oleh hubungannya yang luas dengan berbagai macam orang, Hadhrat Khalifatul Masih III, Hadhrat Khalifatul Masih IV dan setelahnya saya (Hudhur atba) mempercayakan berbagai tugas kepada beliau. Di daerahnya beliau seorang pekerja sosial yang baik dan para tuan tanah menjalin kontak dengannya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan derajat-derajat yang tinggi kepada beliau dan memberikan kesabaran serta harapan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Semua shalat jenazah ini insya Allah dilaksanakan setelah shalat [Jum’at].

Penerjemahan     oleh        : Mln. Hasan Basri [17]

Khotbah ke-II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya)”

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur mengokohkannya dengan pertolongan-Nya yang agung

[2] Tazkiratusy Syahadatain, Rohani Khazain jilid 20 halaman 60

[3] Tazkiratusy Syahadatain, Rohani Khazain jilid 20 halaman 60

[4] Tadzkiratusy Syahadatain, Ruhani Khazain, jilid 20 halaman 60

[5] اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَ یَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَ یَجۡعَلُکُمۡ  خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ

“Atau, siapakah yang mengabulkan doa  orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah- khalifah di bumi ? Adakah tuhan lain bersama Allah ? Kamu sangat sedikit mendapat pelajaran.” (Surah An-Naml, 27 : 63)

[6] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14, halaman 259-260

[7] Durrus Samin, Urdu,  Basyir Ahmad, Syarif  Ahmad dan Mubarak ki Aamin h. 50, Al-Hakam, 10 Desember 1901, syumar nomor 45, Jilid 5  halaman 3  kalam nomor 2

[8] Ta’alluq Billah,  halaman  2 – 3, Pidato Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dalam Jalsah Salanah 28 Desember 1952

[9] Tadzkirah halaman 630, cetakan  Rabwah, Edisi  ke 4 thn  2004

[10] Zulfikar Ali Bhutto, lahir pada 1928, Presiden Pakistan ke-4 (1971-1973), Perdana Menteri Pakistan ke-9 (1973-1977), pendiri dan ketua Partai Rakyat Pakistan (Pakistan People Party) mendapat vonis hukuman mati pada 1979 pada masa Presiden Zia ul Haq, penggantinya. Pada 1973, ia dan partainya yang sekuler bersama-sama seluruh golongan Islam sepakat melakukan amandemen konstitusi (UU) yang menyatakan Ahmadiyah non Islam serta mendefinisikan siapa itu orang Islam dan orang bukan Islam. Orang-orang Ahmadi yang membantunya menang pemilu dilupakan dan dianggap tak berharga.

[11] Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq (lahir 1924, meninggal pada 17 Agustus 1988 dalam ledakan pesawat terbang), menjadi penguasa negara setelah mengkudeta Bhutto pada Juli 1977 dan mengumumkan diri sebagai Presiden Pakistan ke-6 pada 16 September 1978.

[12] Tazkirah , halaman  71, cetakan  Rabwah,  Edisi 4, thn 2004 dan Al Qamar:11

[13] Tazkirah,  halaman 426,   Cetakan  rabwah  edisi 4 , tahun 2004

[14] Sebuah tradisi di kalangan Muslim Pakistan dan sekitarnya yang dinamai ‘qul’ yaitu guna mengenang orang yang sudah wafat. Di Indonesia semacam haul.

[15] Sebuah tradisi dengan membacakan Alquran penuh (khatam) 30 juz karena ada yang meninggal lalu membagi-bagikan makanan.

[16] Penulisan kutipan-kutipan ayat Alquran dan lain-lain untuk azimat.

[17] Disesuaikan dengan teks Urdu dari www.alislam.org oleh Redaksi Khotbah Jum’at

(Visited 24 times, 1 visits today)