بسم اللہ الرحمن الرحیم

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 21 September 2018 (Tabuk 1397 HS/11 Muharram 1440 HQ)di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Beberapa hari lalu Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada saya untuk mengikuti Jalsah Jerman dan Jalsah Belgia; dan sebagaimana para pemirsa diseluruh dunia telah saksikan melalui MTA dan Anda sekalian juga bahwa kedua Jalsah tersebut dengan karunia Allah Ta’ala dipenuhi dengan keberkatan. Jemaat Jerman adalah Jemaat besar. Selama bertahun-tahun Hadhrat Khalifatul Masih IV (rha) selalu menghadiri Jalsah Jerman. Begitu juga saya tiap tahun dapat ikut serta Jalsah Jerman. Dari sisi ini pengaturan dalam Jalsah Jerman sudah cukup mapan.

Kehadiran tamu luar negeri pun cukup banyak pada Jalsah Jerman. Selain dari negeri-negeri Eropa timur terdekat, banyak juga peserta Jalsah yang berasal dari negeri-negeri lainnya. Pada tahun ini hadir juga para tamu dari beberapa negeri Afrika ke Jalsah Jerman dan seperti biasanya, dengan karunia Allah Ta’ala, para tamu non Ahmadi yang hadir dalam Jalsah ini, kembali dengan membawa kesan baik dan mengekspresikannya juga.

Para tamu yang telah menghadiri Jalsah Jerman dan Belgia mengungkapkan kesan baik yang mereka dapatkan berkenaan dengan Jemaat. Mereka menyampaikan banyak pujian berkenaan dengan pengaturan Jalsah dan situasi Jalsah secara umum. Orang-orang yang sebelumnya pernah hadir dalam Jalsah lalu dapat hadir lagi mengatakan bahwa setelah datang dalam Jalsah ini, kami baru mengetahui bagaimana Islam yang hakiki. Sebagaimana pada masa ini wajah Islam yang digambarkan secara keliru oleh media dan merupakan gambaran yang mengerikan yang mana ajaran hakiki Islam dan amalan Muslim sejati yang digambarkan sama sekali bertentangan.

Selama Jalsah, para tamu yang hadir memperhatikan dengan seksama setiap panitia, setiap kepala panitia dan setiap para Ahmadi, bagaimana amalan mereka. Sekalipun ajaran yang diajarkan baik, namun jika amalan yang diperihatkan oleh para penganutnya tidak baik, maka ajaran tersebut tidak akan memberikan dampak yang baik. Dari sisi ini, seperti yang sering saya sampaikan sebelumnya, para sukarelawan yang berkhidmat dalam Jalsah ini, begitu juga para panitia dan para peserta tengah mengambil bagian dalam tabligh tanpa bicara. Mereka tengah menjauhkan segala kesan tidak baik dan keberatan dari benak para non Muslim berkenaan dengan Islam.

Mereka juga tengah menghilangkan pemikiran-pemikiran yang salah mengenai Jemaat Ahmadiyah di dalam benak umat Muslim yang mana itu ditanamkan oleh orang-orang yang dianggap Ulama. Orang-orang sebagian besar menuduh kita – naudzubillah – bukan Muslim, tidak membaca kalimah syahadat, tidak meyakini Rasulullah sebagai Khataman Nabiyyin bahkan sampai mereka menuduh Al-Quran kita berbeda dengan mereka. Namun ketika mereka berjumpa dengan Ahmadi dan melihat suasana Jalsah, banyak sekali keraguan yang menjadi hilang dari benak umat Muslim dan mereka pun menyatakan hal tersebut.

Orang-orang yang hadir pada Jalsah Jerman termasuk juga umat Muslim menyatakan hal tersebut, apakah dari Arab, India, Pakistan, dan dari negeri lainnya juga. Begitu juga mereka memuji pengkhidmatan para sukarelawan Jalsah. Pada Jalsah Belgia pun dengan karunia Allah Ta’ala semua itu tampak dan Jalsah tersebut sangat sukses dan berberkat. Meskipun Jemaat Belgia adalah Jemaat kecil, meskipun jumlah tamu yang hadir melebihi jumlah anggota Belgia dan telah saya sampaikan sebelumnya, mereka mengelola Jalsah dengan baik sekali. Saya dapat hadir pada Jalsah Belgia setelah berlalu 14 tahun, untuk itu mereka khawatir karena tidak ada pengalaman namun berkat karunia Allah Ta’ala, mereka mengatur dengan baik.

Mereka yang bukan Muslim yang hadir pada Jalsah Belgia meskipun sedikit secara umum menyampaikan rasa salut melihat pengaturan Jalsah dan sepak terjang Jemaat di Belgia. Mereka juga memuji peranan dan upaya penegakan kedamaian yang dilakukan oleh Jemaat. Walhasil, dimanapun Jemaat berada dengan karunia Allah Ta’ala memberikan kesan baik kepada orang lain dan hal itu menjadi sarana tabligh. Maka dari itu, setiap Ahmadi hendaknya senantiasa memperhatikan setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), betapa perlunya bagi mereka untuk memperbaiki keadaan diri.

Dimanapun kita mengadakan Ijtima atau Jalsah, memberikan kesan yang luar biasa kepada penduduk setempat. Hari ini ijtima Khudam UK akan dimulai. Maka dari itu, saya ingatkan pada para khudam yang ikut serta didalamnya untuk menjaga sikapnya sehingga memberikan kesan baik pada penduduk local (pribumi). Semoga Allah Ta’ala memberkati ijtima mereka dan semoga allah Ta’ala menjauhkan kekhawatiran mereka disebabkan oleh buruknya cuaca dan memberikan cuaca yang baik.

Sekarang saya pun ingin menyampaikan terima kasih kepada para panitia Jalsah di jerman maupun Belgia, bereka telah mengkhidmati tamu Jalsah sesuai dengan kemampuan dan kapasitas mereka. Begitu pun seluruh Ahmadi yang hadir pada Jalsah tersebut hendaknya berterima kasih kepada para panitia. Para panitia berasal dari berbagai kalangan dan tabiat telah mempersembahkan dirinya untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as).Meskipun pada Jalsah Belgium kekurangan panitia, namun meskpun demikian, seperti yang saya katakan mereka telah berkhidmat dengan sangat baik.

Dari sisi ini, begitu juga para panitiapun hendaknya bersyukur karena Allah ta’ala telah memberikan karunia pada mereka untuk berkhidmat dan persiapkan diri juga untuk kedepannya, apapun kelemahan atau kekurangan yang masih ada, renungkan dan perhatikanlah bagaimana hal tersebut dapat diperbaiki di masa yang akan datang. Secara khusus para panitia dan para kepala panitia hendaknya melakukan evaluasi diri dan program-programnya lalu catatlah kekurangan-kekurangan itu pada buku merah supaya tidak terulang lagi ke depannya.

Sebelumnya selalu ada keluhan berkenaan dengan para panitia Jalsah Jerman bahwa tidak ada senyuman di wajah mereka ketika berkhidmat dan ketika bertugas bersikap tidak ramah bahkan dalam beberapa hal perlakukan mereka keras. Namun untuk Jalsah kali ini secara umum laporan yang diterima baik. Untuk masa yang akan datang upayakanlah untuk semakin lebih baik lagi. Saya ingin menekankan pada satu kekeliruan yang terjadi pada satu sesi di Jalsah Gah kaum pria dibacakan nazm berkenaan dengan “Rumahku” atau “Rumah” cara membacanya tidak sesuai dengan nada dalam tradisi Jemaat, karena panggung Jalsah ini berbeda dengan panggung-panggung drama. Kita hendaknya senantiasa menjaga tradisi Jemaat, janganlah menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan kebiasaan dalam Jemaat. Kedua, para pembuat program dalam Jalsah salanah hendaknya selalu memperhatikan bahwa nazm-nazm yang dibaca pada sesi Jalsah harus diambil dari kumpulan nazm Hadhrat Masih Mau’ud dan para Khalifah, bukan dari sumber lain. Walhasil, hal tersebut perlu mendapat perhatian dan telah saya sampaikan juga hal tersebut pada ketua umum Jalsah.

Berikut akan saya sampaikan kesan-kesan para tamu Jalsah yang darinya diketahui bahwa keberkatan Jalsah tidak hanya dirasakan oleh para Ahmadi saja, bahkan dapat dirasakan juga oleh non Ahmadi. Seorang Imam masjid dari Bosnia hadir pada Jalsah Jerman. Dalam suatu acara tabligh sebelumnya beliau pernah mengatakan, “Saya sendiri ingin menyelidiki perihal Jemaat Ahmadiyah secara langsung, supaya saya dapat menyampaikan pendapat yang benar berkenaan dengan Jemaat berdasarkan pengetahuan pribadi.”

Beliau adalah seorang imam yang berhati lapang. Atas dasar itu beliau diundang untuk hadir pada Jalsah Jerman.

Lalu setelah menghadiri Jalsah Jerman, beliau menuturkan, “Setelah melewati waktu di tengah-tengah para Ahmadi dalam Jalsah, saya sampai pada kesimpulan bahwa Anda sekalianlah orangnya (para Ahmadi) yang tengah melakukan tablih Islam hakiki dalam makna yang benar.”

Beliau menyimak seluruh acara Jalsah dengan seksama. Setelah Jalsah beliau dan beberapa perwakilan lainnya berkunjung ke jamiah Ahmadiyah Jerman. Setelah melihat jamiah beliau mengatakan, “Sangat disesalkan umat Muslim terbelakang dalam hal ilmu agama dan duniawi, namun di satu sisi saya menyaksikan bagaimana Imam Jemaat Ahmadiyah memberikan medali penghargaan kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang berprestasi dalam keilmuan dunia dan tengah meniupkan ruh di kalangan Jemaat untuk maju dalam hal keilmuan dunia. Di sisi lainnya setelah mengunjungi Jamiah Ahmadiyah saya menjadi tahu bagaimana Jemaat Ahmadiyah terus melakukan upaya-upaya yang terkoordinir dibawah kepemimpinan Khilafat untuk menyebarkan ilmu agama dan terus berderap dalam lapangan tersebut dengan proporsi yang luar biasa dan terus sibuk dalam mengembalikan kecemerlangan Umat Islam yang telah hilang.”

Setelah itu beliau mulaqat dengan saya. Beliau memberitahukan ingin menelaah Barahin Ahmadiyah dan Tadzkirah. Saya katakan pada beliau, “Daripada membaca Tadzkirah, Anda dapat membaca buku Filsafat Ajaran Islam dan buku Dakwatul Amir (Seruan kepada Amir). Sebab, dengan membaca kedua buku itu, Anda akan lebih memahami mengenai Jemaat maupun pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud (as), mengenai berbagai kondisi, biografi dan ilmu makrifat Hadhrat Masih Mau’ud (as) serta mengenai dukungan Allah Ta’ala yang senantiasa menyertai beliau (as).”

Lalu, diantara perwakilan Bosnia ada seorang wanita bernama Maumara Sahibah, menuturkan, “Ini adalah kali pertama saya mengikuti Jalsah. Pertemuan dengan Khalifah ketika Jalsah adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa, waktupun tidak terasa berlalu, seandainya hari hari ini dapat berlangsung lama, saya berkeinginan untuk dapat ikut serta pada setiap Jalsah.”

Ada seorang pria yang berasal dari Montenegro, memiliki penglihatan yang lemah menuturkan, “Penglihatan saya lemah. Tapi dengan keikutsertaan saya dalam Jalsah, saya menyaksikan semuanya dengan pandangan kalbu, saya akan kembali setelah dipenuhi dengan ruh Jalsah. Saya berasal dari tempat yang orang-orangnya telah terjauh dari agama dan tidak mengetahui perihal apa itu keruhanian. Namun selama Jalsah saya dapat merasakan Tuhan itu Ada dan keberkatan-Nya turun di sini dalam corak kedamaian, keselamatan dan ketentraman hati yang bagiannya telah saya peroleh.”

Pada Jalsah tahun ini yang hadir dari Bulgaria berjumlah 56 orang diantaranya 31 orang non Ahmadi dan telah mulaqat juga dengan saya. Diantara perwakilan tersebut ada seorang wanita yang bernama Nn. Karelka menyampaikan kesannya, “Saya telah mengikuti banyak acara, namun dalam Jalsah Jemaat Ahmadiyah terdapat suasana ruhani yang akan menjadi sarana ketentraman sampai akhir hayat. Dalam hati orang-orang terdapat rasa hormat dan kecintaan kepada kami. Dari mata mereka dapat diperkirakan keimanan mereka yakni betapa baiknya orang-orang ini. Pidato Khalifah telah memberikan dampak yang dalam dalam diri saya, ketika mendengar pidato saya terus menangis dan saya merasa bahwa saat ini dimulai babak baru kehidupan. Saya akan berusaha untuk mengarungi sisa kehidupan saya dengan menjadikan hal-hal tersebut sebagai pegangan. Saya berterima kasih kepada anda karena telah memberikan kesempatan pada saya untuk mengambil faidah dari suasana ruhani ini.”

Inilah orang-orang yang belum mengenal Jemaat Ahmadiyah, setelah datang dalam Jalsah mendapatkan dampak yang baik dari suasana Jalsah dan mencurahkan keberkatan bagi mereka.

Ada seorang wanita Kristen bernama Ibu Kresimera menuturkan, “Saya ikut serta dalam Jalsah Jerman dengan suami dan anak-anak saya. Sebelumnya saya tidak pernah melihat pengkhidmatan tamu yang tertata baik seperti ini. Saya telah belajar banyak perihal penghormatan kepada orang tua dan tarbiyat anak dan saya akan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan. Saya sangat takjub melihat bagaimana para pria dalam menghormati kaum wanita. Saya tidak pernah melihat hal tersebut dalam agama Kristen. Saya berterima kasih dan memanjatkan doa untuk anda.”

Ini merupakan nasihat bagi para pria supaya seyogyanya sikap hormat kepada kaum wanita jangan hanya dalam Jalsah saja dan harus sesuai dengan ajaran yang telah Allah berikan pada kita.

Ada seorang saudara Muslim yang bernama Bpk. Muhammad Yusuf hadir pada Jalsah Jerman. Ia menuturkan, “Ini adalah kali pertama saya mengikuti Jalsah. Apa-apa yang saya telah dengar sebelumnya mengenai tuduhan terhadap Jemaat Ahmadiyah, setelah hadir dalam Jalsah, sekarang hati saya bersih dari keragu-raguan. Segala hal yang disampaikan dalam Jalsah adalah kebaikan dan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Semboyan “Love for all hatred for none” benar-benar telah menorehkan kesan mendalam di hati. Hanya ketentraman yang saya dapatkan di dalamnya. Khususnya pada saat pidato Khalifah, saya mendapatkan ketentraman. Pada saat Jalsah jugalah saya memutuskan untuk menjadi Ahmadi. Sebelum ini saya memiliki beberapa permasalahan pribadi, namun paska mengikuti Jalsah, dengan sendirinya permasalahan itu mulai menjauh. Saat ini saya akan menyebarkan pesan Jemaat Ahmadiyah.”

Berikutnya kesan-kesan dari para anggota perwakilan dari Latvia. Diantara mereka ialah seorang mahasiswa kedokteran yang menuturkan, “Dapat mengikuti Jalsah Jerman merupakan satu kehormatan besar bagi saya. Saya merasakan bahwa Jalsah ini merupakan perkumpulan semua orang yang memiliki keimanan kuat dan ruh yang tenteram, bersaudara dan penuh kedamaian. Yang mengherankan bagi saya adalah bagaimana orang-orang menyimak ceramah-ceramah dengan seksama dan sibuk dalam tugas-tugasnya. Saya juga mendapatkan kehormatan besar untuk dapat mulaqat dengan Khalifah. Khalifah menyampaikan mengenai para Muhajirin (pengungsi atau imigran) yang datang di Jerman, perihal Islam dan perihal rasa takut yang ada didalam diri orang-orang berkenaan dengan Islam. Saya merasa senang Jemaat Ahmadiyah tengah menyampaikan pesan perdamaian, dan persaudaraan kepada dunia dan tengah menekankan kerukunan dalam lingkungan sekitar dan pengkhidmatan.”

Seorang Muslim bukan Ahmadi asal Pakistan yang sedang menempuh pendidikan master di Latvia hadir dalam Jalsah. Ia menuturkan, “Saya datang dari Pakistan ke Latvia pada bulan lalu dengan menggunakan visa study, saya diundang untuk hadir pada Jalsah. Awalnya saya merasa ragu untuk hadir namun akhirnya saya terima undangan tersebut. Ketika saya sampai di Jalsah Gah, saya sangat terheran heran melihat para panitia, karena saat itu banyak sekali jumlah yang hadir, namun para panitia berkhidmat dengan sangat baik dan hati hati. Banyak sekali tamu non Muslim yang hadir dari berbagai negeri yang semua diundang untuk secara langsung menyaksikan sendiri agama Islam. Seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat kecintaan yang dalam, saling menghormati dan pengkhidmatan tamu seperti yang saya lihat dalam Jalsah itu. Saya sangat senang melihatnya karena hal ini akan memberikan kesan baik kepada semua tamu non Muslim sehingga mereka pasti akan berusaha untuk masuk kedalam agama Islam.

Karena saya bukan Ahmadi, untuk sebelumnya saya memiliki kesalahpahaman mengenai Ahmadiyah seperti yang ada di benak umat Muslim non Ahmadi lainnya. Ketika saya menyimak ceramah-ceramah Jalsah dan membaca kalimat-kalimat yang tertulis di Jalsah dan ikut shalat berjamaah, saya tidak merasakan adanya perbedaan. Apa yang kami lakukan dilakukan juga oleh para Ahmadi. Kalimah syahadat, shalat dan Qurannya orang Ahmadi sama saja. Yang paling perlu mendapatkan perenungan adalah soal Khatamun Nubuwwah (Khataman Nabiyyin) yang telah memaksa saya untuk merenungkan yakni apakah saya harus mengatakan firqah saya yang benar ataukah Ahmadiyah?”

Manfaat terbesar datangnya saya ke Jalsah ini adalah saya dapat menyaksikan segala sesuatunya secara langsung dengan mata kepala saya sendiri dan mendengar dengan telinga saya sendiri saat duduk di tengah-tengah para Ahmadi. Secara pribadi saya juga akan mendalami, sebenarnya apa itu Islam dan khatamun nubuwwat? Saya sangat menyukai pidato Khalifah khususnya pidato penutupan Jalsah.

Empat hari yang saya lalui dalam Jalsah ini adalah hari-hari yang sangat baik bagi saya. Umat Muslim lainnya hanya bicara saja dan menebarkan kebencian, namun dalam Jalsah ini saya hanya melihat kecintaan dan saling menghormati. Beberapa saudara non Muslim hadir juga bersama dengan saya dalam Jalsah, mereka sangat terkesan setelah melihat sikap umat Muslim dan rasa hormat yang telah ditampilkan oleh Jemaat Ahmadiyah. Siapapun tim panitia yang berkhidmat, mereka bersikap penuh kasih sayang, hormat dan membimbing. Mereka telah mengatur sebuah pertemuan yang sangat besar seperti ini dengan sangat baik. Saya sampaikan ucapan terima kasih dari kedalaman hati.”

Berikutnya seorang dosen berkebangsaan Srilanka dari Universitas pertanian hadir di Jalsah, menuturkan, “Jujur, ketika saya memutuskan untuk hadir pada Jalsah, saya merasa sedikit khawatir jangan sampai ada serangan terorisme dalam acara Jalsah ini. Namun ketika saya melihat keamanan pada Jalsah ini, saya merasa tidak ada yang akan dapat merugikan acara ini atau peserta yang hadir didalamnya.”

Bagaimanapun, merupakan karunia Allah Ta’ala bahwa Dia sendiri yang mengatur. Apalah artinya pengamanan yang kita lakukan.

Ia mengatakan, “Saya sangat mengapresiasi pengamanan yang ada dalam Jalsah ini. Meskipun saya memiliki banyak kawan Muslim dari Srilanka, namun karena saya terlahir dalam keluarga pengikut Budha, untuk itu saya beragama Budha. Saya tidak memiliki pengetahuan mengenai Agama Islam, namun Jalsah telah memberikan ajaran Islam yang hakiki kepada saya dan dijelaskan juga perihal kelompok-kelompok islam lainnya. Begitu juga telah dijelaskan perbedaan antara firqah Ahmadiyah dan firqah-firqah lainnya. Hal yang terbaik yang saya peroleh dari Jalsah ini adalah bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat yang mengedepankan kecintaan untuk itu saya ingin menyampaikan rasa salut saya kepada Jemaat Ahmadiyah. Setelah memperhatikan kemampuan Jemaat Ahmadiyah dalam pengaturan, saya merasa takjub dan hal ini mengisyarahkan dengan jelas bahwa anda dapat membimbing dunia menuju pada jalan yang benar.”

Seorang mahasiswi dari Latvia bernama Galwariya datang ke Jalsah untuk pertama kali. Bahkan, itu pertama kalinya ia hadir dalam suatu acara yang bersifat islami. Ia menuturkan, “Saya sangat menyukai segala yang ada di Jalsah ini, makanan dan segala hal lainnya. Orang-orang yang ada dalam Jalsah sangat berakhlak baik. Para panitia perempuan (Lajnah Imaillah) melaksanakan tugasnya disertai senyuman.”

Pada tahun lalu terdapat keluhan mengenai pihak Lajnah dalam hal ini. Mahasiswi itu mengatakan kepada orang-orang bahwa para Lajnah berkhidmat dengan ramah.

“Saya merasa senang melihatnya. Tua-muda semuanya berusaha untuk membuat lingkungan bersih. Saya sangat menyukai hal itu. Saya merasa nyaman di dalamnya. Saya ingat dengan baik pemandangan ketika pandangan saya tertuju pada layar monitor saat itu seluruh pria tengah meletakkan tanganya di pundak orang yang di depannya.” (yakni ketika baiat.) “Setelah hadir dalam acara tersebut saat ini pemikiran saya sama sekali telah berubah. Saya bahagia ketika mengetahui bahwa masih ada orang yang mengharapkan kebaikan dunia ini.”

Seorang wanita non Muslim dari Latvia bernama Nn. Anastasia. Beliau sangat menyukai pidato yang saya sampaikan di hadapan para tamu non Muslim Jerman dan mengatakan, “Ini ajaib. Memang benar apa yang Khalifah sampaikan.”

Dalam acara tersebut pria dan wanita disatukan tempatnya yang berjumlah sekitar seribu tamu berasal dari berbagai bangsa. Warga Jerman secara khusus berjumlah sekitar 500 orang.

Beliau mengatakan, “Untuk mendengarkan pidato Khalifah tersebut saya memasuki Jalsa gah pria, sementara waktu selebihnya dilewati di Jalsah gah wanita. saya merasa malu ketika duduk di tengah-tengah pria dan merasa aneh karena saya tidak mengenakan kain penutup kepala.”

Hal ini seharusnya menciptakan rasa percaya diri di kalangan para wanita Ahmadi yang merasa malu untuk memakai penutup kepala lalu membuka kerudungnya. Sedangkan wanita Kristen merasa malu duduk ditengah-tengah para pria tanpa mengenakan kerudung.

Seorang pengacara dari Kosovo menyampaikan kesannya, menuturkan, “Melihat pengelolaan Jalsah saya merasa setiap orang tengah bekerja keras sebagai wujud ketaatan pada khilafat. Segenap kesetiaan ini merupakan bentuk kecintaan kepada wujud Khalifah yang dimiliki oleh Jemaat Ahmadiyah. Beliau mengatakan kepada saya: Saya mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dengan Khalifah. Setiap anggota Jemaat teruntai dalam satu untaian. Di Kosovo juga terdapat acara-acara perkumpulan dll seperti ini, namun setelah mengikuti Jalsah ini manusia diliputi satu suasana yang berbeda dimana berbagai ras dan warna manusia berkumpul dalam Jalsah ini dan semua orang diperhatikan sesuai dengan keperluannya masing masing.”

Pengacara ini bukan Ahmadi.

Seorang dosen Fisika dari Kosovo, Profesor Arbar menuturkan, “Awalnya saya merasa tidak percaya bagaimana bisa orang sebanyak ini berkumpul dalam satu tempat dan keperluannya dapat dipenuhi. Saya perhatikan pengaturan Jalsah bagaimana segala sesuatu berjalan dengan teratur dan kebutuhan dipenuhi. Bagi setiap pekerjaan ditetapkan satu panitia. Saya dapat melihat dapur umum. Di sana berjumpa dengan seseorang yang masih berkhidmat mengupas bawang sampai saat ini sejak 22 tahun yang lalu. Sejak 22 tahun yang lalu dia gunakan satu pisau yang sama. Orang itu mengatakan, ‘Saya simpan pisau ini sejak 22 tahun lalu karena Hadhrat Khalifatul Masih keempat pernah menyentuh dan menggunakan pisau tersebut.’”

Tamu tersebut sangat terkesan mendengarkan kisah panitia konsumsi tersebut.

Satu rombongan yang berjumlah 38 orang dari Georgia hadir dalam Jalsah Jerman. Dua orang pendeta, dua orang mufti, beberapa tokoh Syiah, beberapa tokoh Sunni (Ahlus Sunnah) dan 30 orang non Ahmadi lainnya. Diantara mereka ialah seorang imam masjid, Bpk. Janbol yang menuturkan, “Saya adalah imam Mesjid Georgia dan datang ke Jerman atas undangan Jemaat Ahmadiyah. Saya telah mempelajari banyak hal baru mengenai Islam, yang mana tidak saya ketahui sebelumnya.”

Beliau mengatakan “Saya akan selalu ingat satu kalimat Khalifah yang menyatakan bahwa kewajiban kita untuk menolong kemanusiaan. Agama Islam semata mata merupakan agama damai. Setelah datang kemari kami dapat mengetahui perihal Islam yang hakiki.

Seorang tamu wanita, Ibu Leko menuturkan, “Saya mengucapkan terima kasih kepada segenap panitia yang telah mengelola Jalsah.”

Tamu wanita lain bernama Nn. Irma menuturkan, “Saya ikut serta dalam acara kaum wanita. Saya merasa takjub bagaimana para wanita akan mengatur seluruh program, sangat mengherankan yakni para wanita sendiri yang melakukan cek security dan saya sangat kagum melihat semua itu. Saya berterima kasih kepada Anda. Saya pun melihat acara-acara di kaum ibu pada hari ini. Sangat mengherankan bagi saya karena tarbiyat dan talim kaum wanita sedemikian rupa diperhatikan dan yang terpenting adalah Khalifah juga memberikan medali penghargaan kepada kaum wanita berprestasi dengan tangan beliau sendiri.”

Seorang Muslim dari Georgia yang juga ketua salah satu organisasiMuslim menuturkan, “Kehadiran saya diJalsah ini merupakan satu kehormatan bagi kami. Saya menyaksikan keruhanian dan persaudaraan dalam Jalsah ini. Saya meyakini bahwa ini merupakan kesempatan baik untuk dapat hadir dan menarik faedah di Jalsah ini.”

Seorang tamu pria bernama Muhammad Akbar Sahib menuturkan, “Sejak kecil saya selalu mendengar bahwa Imam Mahdi akan datang dan menciptakan perubahan di dunia. Kami tengah menunggunya. Ini pertama kali bagi saya mendengar bahwa Imam Mahdi yang dinanti-nanti itu telah wafat dan saat ini tengah berlangsung mata rantai Khalifahnya. Saya akan menelaah literatur Jemaat dan berharap dapat meraih ketentraman.”

Lalu seorang Bishop dari Georgia yang juga hadir di Jalsah UK menyampaikan kesannya, “Setelah hadir dalam Jalsah ini saya sangat terkesan.”

Beliau biasa mengenakan pakaian khasnya berwarna biru.

Seorang Pendeta gereja Protestan dari Hungaria hadir dalam Jalsah. Selain tugas-tugas keagamaan, beliau pun aktif sebagai pelopor kesejahteraan masyarakat (kerja kemanusiaan). Beliau menuturkan, “Saya seorang Kristen, namun setelah hadir pada Jalsah anda, saya mendapatkan kesegaran iman dan saya akan kembali dengan membawa nafas yang segar. Charging (pengisian energi) ini akan membantu saya dalam melakukan tugas sepanjang tahun.”

Sebelum inipun beliau pernah hadir dalam Jalsah. Berdasarkanketerangan muballigh di sana, melalui perantaraan beliau, tidak hanya desa beliau saja bahkan desa-desa disekitarnya dapat mengenal Jemaat. Didaerah itu terbuka jalan baru untuk sampainya tabligh Jemaat.

Bpk. Awarga dari Hungaria, bekerja di kamp pengungsian menuturkan, “Jalsah merupakan kesempatan seperti halnya ketika berjumpa dengan figur istimewa. Selain merasakan keheranan, manusia akan diliputi perasaan cemas. Persis seperti itu, ketika anda meneriakan yel-yel, rasa-rasanya Imam akan memberikan perintah dan anda akan mengatakan labbaik dan taat, layaknya tengah duduk menunggu perintah. Pada awalnya saya merasa sangat khawatir. Di Hungaria jangankan acara yang begitu besar, jika 100 orang saja berkumpul biasanya terjadi keributan, namun saya belum pernah melihat acara ribuan orang yang terlaksana dengan penuh damai seperti ini.”

Elonah Sahibah, pengawas keuangan pada kamp pengungsian di Hungaria menuturkan, “Setelah melihat pengelolaan Jalsah, saya menanyakan bagaimana membiayai Jalsah yang begitu besar seperti ini. Lalu dijelaskan perihal pengkhidmatan Jemaat dan nizam candah yang membuat saya terheran-heran. Jalsah merupakan suatu ajang yang mencuci manusia dari dalam dan membuatnya ringan kembali.”

Beliau bukan Muslim, bukan juga Ahmadi namun menyatakan bahwa setelah ikut serta dalam Jalsah beliau merasa diri beliau telah dicuci sehingga menjadi ringan kembali. Seperti halnya pada awalnya anak-anak takut untuk mandi, namun mandi sangatlah penting baginya, begitu jugalah kondisi manusia setelah menghadiri Jalsah. Seperti yang saya katakan, bagaimana Jalsah memberikan kesan positif pada para tamu luar.

Wafa Sahibah, seorang dokter asal Yaman yang termasuk dalam rombongan dari Hungaria ikut serta dalam Jalsah. Setelah ikut Jalsah beliau sangat bersemangat. Beliau menyimak pidato saya di Jalsah Gah wanita pada hari kedua, setelah itu beliau menyimak pidato saya dihadapan para tamu Jerman di Jalsah gah pria. Beliau menuturkan, “Saya merasa senang berada di tenda kaum wanita, mohon kirimkan kembali saya ke Jalsah gah wanita.”

Dalam kunjungannya ke Jamiah beliau antusias sekali melihat perpustakaan. Kaum ibu juga menyaksikan buku-buku Islam. Setelah keluar beliau mengatakan, “Setiap ayat yang ditulis adalah tepat pada waktu dan tempatnya. Dengan mengisyarahkan tulisan ayat pada bangunan depan Jamiah beliau mengatakan, ‘Coba perhatikan, betapa tepatnya tulisan ayat yang berbunyi, وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا – wa asyraqatil ardhu binuuri Rabbiha.’”[1]

Perwakilan dari Macedonia yang hadir dalam Jalsah Jerman berjumlah 83 orang yang 50 orang diantaranya menggunakan bis menempuh perjalanan 2000 km selama 34 jam sedangkankelompok kedua datang dengan menggunakan sarana lainnya. Diantara perwakilan ini 21 orang adalah Ahmadi, 29 Muslim non Ahmadi sedangkan 14 orang penganut Kristen. Diantara tamu tersebut terdapat juga seorang walikota sebuah kota besar dan wartawan 4 stasiun TV. Wartawan ini juga merekam kegiatan selama Jalsah, menginterview para tamu dan menyiapkan film dokumenter untuk channelnya masing-masing.

Diantara kelompok tersebut terdapat 3 dosen Muslim yang saling berkawan. Salah satunya adalah dosen IT yang bernama Jaladeni Sahib, menuturkan, “Saya ucapkan terima kasih kepada para panitia Jalsah dan para Ahmadi dari Macedonia yang telah mengundang saya untuk hadir dalam Jalsah ini. Dalam Jalsah ini tengah ditampilkan ajaran Islam yang sejati. Meskipun sebelum ini saya telah membaca dan mendengar perihal Jemaat Ahmadiyah dan Khalifahnya serta mendengar banyak juga hal-hal yang bertentangan mengenai Jemaat ini, namun setelah datang keJalsah ini saya mendapatkan jawaban dari semua itu. Saya telah melihat Khalifah Ahmadiyah, mendengar pidatonya dan mendapatkan banyak pengetahuan dari beliau. Saya sangat terkesan dengan apa disampaikan oleh Khalifah Ahmadiyah. Setelah mendengarkan penyampaian Khalifah keimanan saya menjadi kuat bahwa semua orang didunia ini harus mengamalkan pesan dan menempuh jalan yang bermula dari Allah yang Maha Kuasa. Semoga anda mendapatkan kedamaian dan keselamatan dari saya.”

Satu delegasi yang berjumlah 50 orang dari Lithuania hadir dalam Jalsah. Sejumlah 40 orang diantara mereka adalah ghair Ahmadi dan 10 orang Ahmadi. Seorang wanita menuturkan, “Selama Jalsah saya merasa sebagai bagian dari Jemaat ini. Jalsah ini mengajarkan kita persamaan, kasih sayang dan mengkhidmati orang lain dan praktek amalannya dapat kita saksikan melalui Jalsah ini.

Ada seorang pria berasal dari Lithuania bernama Geroni Mas mengatakan, “Saya adalah seorang penulis. Saya datang kemari untuk mempelajari Islam. Pemaparan yang diberikan oleh Khalifah dalam menyampaikan perihal ketauhidan Tuhan telah benar-benar menyentuh hati saya. Didalam pemaparan itu Khalifah mengatakan supaya jangan hanya beribadah kepada Tuhan saja, melainkan yang harus menjadi tujuan adalah bagaimana membuat Dia ridha. Hal tersebut telah menarik hati saya. Sepulang dari sini saya akan menulis pada kolom-kolom di surat kabar berkenaan dengan Jemaat dan akan saya terbitkan satu majalah yang seluruh edisinya murni mengenai Jemaat. Saya dapat memperkirakan dengan melakukan itu, saya akan mendapatkan penentangan, namun saya ingin menyertai kebenaran. Setelah hadir dalam Jalsah ini hati saya sangat bahagia dan puas. Saya mengharapkan kebaikan bagi Anda semua dan bagi Jemaat Ahmadiyah semoga maju dan berkembang.”

Bpk. Rahim seorang Muslim bukan Ahmadi yang berprofesi sebagai politikus berasal dari Tajikistan menuturkan, “Ini merupakan kali pertama bagi saya hadir dalam Jalsah ini dan mendapatkan kesempatan untuk melihat Jemaat Ahmadiyah dari dekat. Semangat segenap panitia merupakan teladan bagi diri saya bagaimana mereka siang malam berkhidmat. Ketika mulaqat dengan Khalifah, saya mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang ada di benak saya. Ketika duduk di dekat beliau saya merasa bahwa persatuan dimiliki oleh Jemaat Ahmadiyah. Beliau memberikan jawaban yang lengkap atas pertanyaan saya berkenaan dengan kondisi umat Muslim pada masa ini sehingga membuat saya paham. Saya yakin pada masa yang akan datang Jemaat Ahmadiyah dapat mengumpulkan seluruh umat Muslim. Saya merasa Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat yang liberal. Saya akan senantiasa mengenang Jalsah dan mulaqat yang menyenangkan dengan Khalifah.”

Seorang dosen perempuan di universitas di Tajikistan menuturkan, “Saya sangat senang melihat Jalsah Jemaat Ahmadiyah dan pengelolaannya. Seumur hidup saya ini merupakan kali pertama bagi saya melihat contoh pengkhidmatan tamu dan kerjasama. Jemaat Ahmadiyah di sini mendapatkan kebebasan beribadah dan pidato Khalifah di Jalsah Gah wanita merupakan solusi hakiki untuk mengatasi permasalahan masa ini, seandainya saja seluruh dunia mengamalkan hal ini. Saya mendapatkan kesempatan untuk mulaqat dengan Imam Jemaat Ahmadiyah. Beliau memiliki pengetahuan yang dalam mengenai isu masa kini dan jurnalistik. Sebelum mulaqat saya beranggapan bahwa beliau hanya religious figure (tokoh agama) saja, namun ketika berdialog, saya mendapatkan banyak informasi dari beliau. Memang benar apa yang beliau sampaikan bahwa media memiliki andil dalam menciptakan kekisruhan di dunia. Jika media berkeinginan, mereka bisa berperan untuk menegakkan kedamaian. Saya mendoakan kebaikan bagi Jemaat Ahmadiyah dan Imamnya.”

Walikota kota Anbor, salah satu kota besar di Senegal juga hadir di Jalsah Salanah. Beliau juga sebagai perwakilan dari Khalifah satu golongan terbesar keagamaan Senegal (Muridiyah). Beliau memberikan hadiah juga kepada saya di panggung. Beliau mengatakan, “Saya pun telah baiat pada Khalifah saya, namun pemandangan baiat yang saya saksikan di Jalsah ini, tidak pernah saya lihat sebelumnya dalam hidup saya.”

Huzur bersabda: Ketika menuturkan hal itu, beliau sangat emosional sambil mencucurkan air mata.

Mengatakan: Kami pun memiliki Khalifah, namun saya tidak pernah melihat kecintaan sedalam itu kepada Khalifah. Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti itu dan tidak juga pernah melihat kecintaan kepada khilafat yang semisal itu. Sekarang saya dapat memperkirakan bagiamana para sahabat Rasulbenar benar fana dan rela berkorban. Gejolak kecintaan yang saya lihat didalam diri orang-orang, saya merasa jika saja Khalifah mengisyarahkan pada sesuatu, maka tidak akan seorang pun akan mengingkarinya. Begitu dalamnya kecintaan dan ketaatan yang saya lihat. Menuturkan: Kami pun biasa mengadakan Jalsah selama tiga hari. Ketika Khalifah kami datang, tidak ada pengikutnya yang lantas diam. Namun disini ketika Khalifah datang, semuanya terdiam dan semuanya siap untuk hanya dan hanya mendengarkan penyampaian Khalifah. Hal tersebut tidak pernah saya lihat baik dalam pengikut pemimpin duniawi ataupun keagamaan.

Pembaiatan terjadi pada hari ketiga Jalsah. Jumlah mubayyiin baru pada baiat itu 42 orang yang berasal dari 17 bangsa berbeda.

Bpk. Barq, tamu dari Albania menuturkan, “Sebelum ini saya adalah penentang keras Jemaat Ahmadiyah. Saudara dan kawan saya telah masuk Ahmadiyah. Saya berusaha bagaimana supaya saudara saya membenci Ahmadiyah. Pada akhirnya diputuskanlah diantara kami supaya kami berdua berdoa, siapa yang benar diantara kamiakan menang. Setelah memanjatkan doa terus menerus saya berkeingin untuk melihat Jalsah salanah dan Khalifah dengan mata kepala sendiri, supaya apapun yang diputuskan nantinya janganlah berdasarkan pengetahun yang tidak lengkap. Untuk itu pada tahun lalu saya mengikuti Jalsah dan saya merasakan ketentraman namun masih tetap ada kegelisahan. Akhirnya tibalah saat yang menentukan, tampak wajah Khalifah kepada saya. Ketika pandangan saya tertuju, saat itu juga permusuhan, perasaan benci dan semua keraguan hilang dari hati. Saat ini tidak ada lagi celah bagi saya untuk mengingkari. Sepulangnya dari Jalsah saya mengisi formulir baiat. Saat ini saya datang setelah mendapatkan taufik untuk baiat.

Saat itu saya masih mendapatkan masalah yakni tunangan saya tidak mau baiat, untuk itu saya berusaha mengajaknya ke Jalsah ini. Ketika tunangan saya mendengarkan pidato Khalifah pada Jalsah gah wanita, saat itu juga ia memutuskan untuk menjadi Ahmadi. Tunangan saya mengatakan, ‘Jemaat yang memiliki Khalifah yang penyayang dan pecinta seperti itu yang melalui perantaraan satu wujud itu seluruh keberkatan didapatkan. Hal itu tidak dimiliki oleh umat Muslim lainnya.’

Sekarang kami akan segera menikah sebagai Ahmadi dengan karunia Allah.”

Laporan tayangan Jalsah melalui media di Jerman ialah sebagai berikut: Diantara media telah hadir Jurnalis Internasional perwakilan dari Reuters dan World European news agency, tiga wartawan TV Macedonia dan juga beberapa perwakilan surat kabar online dari Lithuania dan Israel. Sedangkan pada kalangan nasional telah hadir 4 perwakilan saluran TV Jerman, dua media cetak dan satu stasiun radio. Selain itu hadir juga perwakilan dari National News Agency.

Pada level lokal (daerah setempat terdekat, provinsi atau kabupaten) telah hadir dua perwakilan saluran TV, dua (2) stasiun radio, dua media cetak dan satu suratkabar. Secara keseluruhan program Jalsah Salanah Jerman selama tiga hari telah ditayangkan. Berdasarkan laporan, pesan Jalsah telah sampai kepada 62.857.000 orang dengan perantaraan 4 TV channels, 2 stasiun radio, 46 surat kabar dan media lainnya. Selain itu pun masih ada tambahan artikel-artikel tentang Jemaat Ahmadiyah yang ditampilkan di media.

Tayangan Jalsah pada Media Belgia dan beberapa kesan para tamu yang belum dapat terkumpul semuanya, nanti akan tercakup dalam laporan Bpk. Abdul Majid namun tayangan Jalsah melalui media pada saluran TV Belgia dan berita Jalsah dalam tiga surat kabar dengan perantaraannya telah sampai pesan kepada dua juta orang. Belgian TV dan dan suratkabar-suratkabar telah memuat berita Jalsah.

Daerah Dalbik yang menjadi tempat penyelenggaran Jalsah Belgia merupakan daerah kecil berpenduduk 40 ribu jiwa namun sekarang telah mulai menjadi kota kecil dan semakin meluas dalam 10 atau 12 tahun terakhir. Beberapa penduduk di sana menyampaikan keheranannya melalui telepon menyatakan, “Telah diadakan satu kegiatan umat Muslim yang berjumlah 4 ribu orang di Dilbik, namun kami tidak mengetahui sedikitpun.”

Menurut mereka jika 4 ribu Muslim berkumpul dalam satu tempat, pasti akan tercipta kekisruhan atau kekacauan. Namun telah diadakan kegiatan umat Muslim berjumlah 4 ribu namun mereka tidak tahu sedikit pun dan merekatidak mendapatkan dampak buruk apa apa dari kegiatan tersebut dan tidak juga mendengar gemuruh kekacauan dari Jalsah tersebut.

Dengan perantaraan MTA Afrika TV Channel negeri-negeri Afrika telah menayangkan program Jalsah. Review of Religion telah memulai program online baru yang dengan perantaraannya tayangan Jalsah telah sampai kepada sekitar mendekati 2 juta yaitu 1,980.000 orang.

Banyak sekali kesan para tamu dan juga keterangan dari suratkabar-suratkabar dan media yang menampilkan kepada dunia gambaran Islam yang hakiki sehingga dunia menjadi tahu. Semoga Allah Ta’ala senantiasa terus menegakkan pengaruh baik dan abadi dari Jalsah-Jalsah ini.

Setelah shalat saya akan mengimamishalat jenazahbeberapa Almarhum/ah, yang pertama ialah Sayyid Hasanat Ahmad, warga Kanada yang wafat pada 27Agustus pada usia 92 tahun. انا للہ وانا الیہ راجعون- Inna Lillahi Wa inna ilaiha Raji’uun. Beliau ialah putra Doktor Sayyid Syafi Ahmad dan Sayyidah Quraisha Tahir Sahibah yang dikenal dengan Begum Syafi’i. Doktor Sayyid Syafi’ ialah seorang Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Almarhum ialah seorang yang tulus dan saleh. Beliau ikut Nizham Al-Washiyat. Beliau adalah salah satu orang paling awal yang datang ke Kanada pada dekade 1970-an. Beliau yang memperkenalkan Jemaat kepada media Kanada. Beliau juga memperkanalkan Jemaatbaik di tingkat provinsi dan maupun lokal. Beliau hingga akhir hidupnya mengajukan suara keras memprotes keaniayaanterhadap para Ahmadidi Pakistandan menyerukan hak semua minoritas.

Beliau adalah pendiri Pusat Relasi Ras dan Hak Asasi Manusia (Human Rights and Race Relation). Beliau juga penerbit dan pemimpin redaksi koran Kanada. Beliau penulis sejumlah buku. Pada tahun 1982 beliau mulai menawarkan serangkaian programJemaatdi TV Kanada Roger Channel tanpa diberi upahdan pertama kalinya di seluruh dunia pada tanggal 12 Desember 1982, fotoHadhrat Masih Mau’ud (as) dan para Khalifah serta program Islam dan Ahmadiyah disajikan ke TV Kanada. Beliau adalah editor Ahmadiya Gazette Kanada di tahun 1985-1986. PemerintahKanada pernah mengeluarkanprangko disertai foto dan nama beliausebagai pengkhidmat hak asasi manusia,. Pemerintah Kanada dan berbagai organisasi pernah memberi beliauhadiah dan penghargaan (awards). Beliau tiga kali Sekretaris Nasional bidang umur kharijiah di Jemaat Kanada.

Pada tahun 1988, beliau mulai menerbitkan “Kabar Kanada” (Canada News), sebuah surat kabar lima belas harian di Kanada untuk melindungi hak-hak para Ahmadiyang mencari perlindungan di Kanada. Melalui sarana itu, ia mendorong pemerintah Kanada untuk mengakui hak-hak mereka yang datang ke Kanada. Dalam suratkabar ini, pernah dimuat karya seorang jurnalis terkemuka untuk melindungi keyakinan Ahmadi dan hak-hak Ahmadi. Demikian pula, Redaksi juga menulis pengantar dan perkenalan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan melakukan kompile (menyusun kumpulan)nya yang juga mengandung pengetahuan yang hebat tentangnya. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat beliau dan memperlakukan beliau dengan kebaikan dan belas kasihan pengampunan.

Jenazah kedua adalah Mubarakah Shaukat Sahibah, istri Hafiz Qudratullah, mantan Muballigh Belanda dan Indonesia.Beliau meninggal pada 8 September di usia 94 tahun.انا للہ وانا الیہ راجعون- Inna Lillahi Wa inna ilaiha Raji’uun. Beliau seorang putri Babu Abdul Latif. Pernikahannya dengan Hafiz Qudratullah Sahib pada tahun 1940. Tn. Hafizh merupakan salah satu Waqif zindegi dan Muballigh awal. Beliau menyertainya selama 53 tahun. Sekitar 20 tahun, sementara tn. Hafiz berada di medan tabligh karena berada di bidang jihad di luar negeri Pakistan, Almarhumah sendirian memberikan pendidikan dan tarbiyat anak-anaknya. Para istri Muballigh zaman dulu juga melakukan pengorbanan besar karena salama 15-20 tahun telah dipisahkan dari suami-suami mereka.

Almarhumah orang yang sangat baik, bertakwa dan banyak berdoa. Anak-anak biasa beliau ajar membaca Alquran. Beliau orang yang tulus dan membantu mereka yang membutuhkan. Beliau rajin shalat Tahajjud. Beliau mengikuti dengan semangat setiap pekerjaan pengkhidmatan agama. Ikatannya pun kuat dengan Khilafat. Beliau mendapat taufik mempersembahkan dari pihak Tn. Hafizh dan keluarga beliau dengan biaya sendiri berupa penerbitan Al-Qur’an oleh Jemaat ke dalam bahasa Catalonia (sebuah provinsi di Spanyol).Di Indonesia, semua biaya pembangunan satu buah masjid juga dibayar oleh keluarga beliau.Beliau meninggalkan seorang putra, Azizullah. Ada lagi tiga anak perempuan. Allah memberkati mereka semua dengan perbuatan baik Almarhumah, memperlakukan mereka dengan pengampunan dan belas kasihan. Almarhumah ialah bibiTn. Ataul Mujib Rashid.

Jenazah ketiga, Chaudhry Khalid Saifullah Khan, Naib Amir Jemaat Australia yang wafat pada 16 September di usia 87 tahun.انا للہ وانا الیہ راجعون- Inna Lillahi Wa inna ilaiha Raji’uun.Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau melalui Chaudhry Muhammad Khan Sahib, kakek Almarhum, seorang kepala desa di wilayah Galmanjh, distrik Gurdaspur yang pada tahun 1890 ketika masih muda berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Chaudhry Muhammad Khan Sahib juga memperoleh keistimewaan berupa Hadhrat Masih Mau’ud (as) secara pribadi menyampaikan pesan Ahmadiyah kepadanya.

Chaudhry Muhammad Khan Sahib pada waktu sore melewati Qadian saat waktu shalat Ashar dan mampir di Masjid Al-Aqsha untuk shalat.Shalat berjamaah telah selesai dilaksanakan. Ketika itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) tengah keluar dari Masjid. Beliau mengucap salam kepadanya dan memulai shalatnya sendiri.Hadhrat Masih Mau’ud (as) duduk di sana dan ketika shalat telah kakek Almarhum kerjakan, Hadhrat Masih Mau’ud (as)bertanya, “Apakah pesan seruan saya telah sampai kepada Anda?”

Dia berkata, “Tidak.Tidak ada pengumuman telah sampai ke saya dari pihak sini.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as)lalu mengajaknya ke ruangan beliau dan mendekat ke lemari yang di dalamnya terdapat selebaran-selebaran dari sebuah lemari. Lalu beliau (as) bersabda, “Ambillah selebaran ini untuk orang-orang yang dapat baca-tulis di desa Anda.”

Beliau mengatakan, “Meskipun orang-orang yang mampu baca-tulis di desa saya ada tiga atau empat orang, saya mengambil sejumlah14 atau 15 selebaran berisi pesan tabligh beliau (as).

Saya berkesan setelah membacanya. Saya lalu pergi ke desa Sekhwan. Di sana ada Mian Jamaluddin dan Mian Khair Din. Saya dan mereka ada persahabatan. Mereka berkata, ‘Kami telah tahu hal itu dan kami telah mengimaninya. Terimalah oleh Anda juga.’”

Kemudian, Chaudhry Muhammad Khan langsung pergi ke Qadian. Beliau meminta diterima baiatnya yang mana disetujuiHadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau pun masukAhmadiyah.Setelah baiat, suatu hari Chaudhry Muhammad Khan sedang memijit kaki Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan malu-malu, “Hudhur, sampaikanlah kepada saya wirid yang dapat memperbaiki kehidupan agama dan duniawi saya.” Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjawab,”Wirid kita adalah melakukan shalat (sholat) sebaik-baiknya dan banyak beristighfar.” Kemudian, sekali lagiChaudhry Muhammad Khan bertanya kepada beliau (as) dengan pertanyaan yang sama. Lalu, beliau (as) menjawab, “Banyak-banyaklah beristighfar dan bershalawat untuk Nabi Muhammad (saw)!” Chaudhry Muhammad Khan pun mengamalkan pesan ini di sepanjang hidup beliau. Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib juga menulis riwayat ini.

Sekarang di sini dan saat ini saya ingin menyampaikan serangkaian tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh Mukarram (Yth.) Chaudhry Khalid Saifullah Sahib. Sebelum ini saya telah menceritakan tentang kakek Almarhum, yang terkait denganHadhrat Masih Mau’ud (as). Chaudhry Khalid Saifullah Sahib pernah berkhidmat sebagai Ketua Komite Pelaksana peringatan 100 tahun Ahmadiyah. Beliau juga Ketua Komite Dustur Syura Majlis Khuddamul Ahmadiyah Markas. Sekretaris UmumJemaat Ahmadiyah Faisalabad. Beliau sekretaris keuangan di pada Asosiasi Engineering Ahmadiyahmarkas. Beliau juga ketua Jemaat di Sol Line, Lahore dan Tarbella. Beliau juga pernah menjadi Amir Jemaat di Benghazi, Libya.

Beliau ialah Sadr Majlis AnsarullahAustralia, juga Wakil Presiden (Naib Amir)Jemaat Ahmadiyah Australia. Setelah kewafatan Mahmud Bengali Sahib, beliau saya tetapkan untuk menjabat sebagai Amir Australia untuk sementara waktu. Almarhum mendapat taufik untuk melaksanakan pengkhidmatannya secara baik. Kesetiaan dan kepatuhannya luar biasa terhadap Khilafah. Beliau juga mempunyai banyak pengkhidmatan lainnya yang mana beliau tunaikan sepanjang kehidupannya. Beliau amat berilmu. Topik-topik bahasan karya tulis beliau tercantum di suratkabar-suratkabar dan majalah-majalah Jemaat, tetapi beliau orang yang sangat sederhana. Tiap saat beliau ialah orang yang tersenyum dan pendamai.

Semoga Allah Mahakuasa meninggikan derajat-derajatbeliau dan memperlakukanbeliau dengan pengampunan. Almarhum seorang Mushi. Dan meninggalkan tiga anak perempuan dan dua laki-laki. Putra sulung beliau, Mohammad Omar Khalid berada di sini sebagai Sadr halqah Morden. Putra termuda Ahmed Umar Khalid melayani sebagai Sekretaris Nasional bidang Tahrik Jadid di Australia. Semoga Allah memberkati putra/i selebihnya taufik untuk melanjutkan perbuatan baik Almarhum.

Penerjemah             : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid.

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] (Surah Az-Zumar, 39:70) وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ