Khotbah ‘Idul Adhha

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 6 Oktober 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada hari ini kita dengan karunia Allah Ta’ala sedang merayakan Idul Adha. Di berbagai negara di dunia, hari ini sedang merayakannya dan di sebagian negara yang lain telah merayakan sebelumnya. Dalam Id ini sedang dipersembahkan pengorbanan-pengorbanan. Ratusan ribu binatang ternak pada hari-hari ini sedang dikorbankan. Selanjutnya pada hari-hari ini terdapat juga kewajiban Haji. Ratusan ribu orang Muslim sedang melaksanakan kewajiban ini. Jumlah pengorbanan yang diberikan oleh orang-orang yang beribadah Haji itu juga mencapai jumlah ratusan ribu.

Tetapi, kebanyakan dari kita tidak merenungkan apakah faedah dari pengorbanan-pengorbanan ini atau apakah manfaat kegembiraan merayakan Id? Apakah kita memberikan pengorbanan hanya untuk memakan daging atau hanya untuk mengundang makan? Apakah sekedar hanya untuk memberitahukan kepada dunia, “Kami sedang berkorban, demikianlah keadaan kami, kami mampu mengorbanankan kambing, domba, atau sapi.”

Kalau sebagian orang diantara kita pergi beribadah Haji dengan tujuan untuk memberitahukan kepada dunia, bahwa kami telah pulang dari menunaikan Haji. Untuk memberitahukan kepada dunia, “Sepulangnya kami dari berhaji, bersama dengan itu pada nama saya harus tertera sebutan ‘Haji’ [atau Hajjah], (sekarang) panggillah kami, Haji; atau dalam rangka mengalahkan saingan bisnis kami, dalam kartu nama kami dan kartu pengenal usaha kami tercetak dengan tertera tulisan Haji pada nama kami.” Apakah dengan demikian sudah cukup sehingga kita bisa menjadi hamba-hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala dan termasuk orang-orang yang menjalankan hukum-hukum-Nya?

Allah Ta’ala menolak sangat keras pemikiran ini. Dasar firman-Nya adalahلَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ (Al-Hajj, 22 : 38) “Daging korban-korban dan darahnya sesekali-kali tidak akan sampai pada Allah akan tetapi ketaqwaan hatimu yang akan sampai pada-Nya.” Maka dari itu, perintah Allah Ta’ala, “Rayakanlah Id!” ialah pengorbanan-pengorbanan yang mengutamakan dan berlandaskan ketakwaan, dilaksanakan untuk memperoleh ridha-Nya dan guna merayakan Id-Id.

Karena itu, Idul Qurban (Hari raya pengorbanan) ini mengajarkan tata cara pengorbanan yang berhikmah. Kalian harus memberikan perhatian untuk berjalan sesuai dengan ridha Allah Ta’ala dan merenungi perintah-perintah-Nya yang akan meninggikan derajat ketakwaan kalian. Kalian harus memberikan perhatian pada pengorbanan seorang ibu, anak dan bapaknya yang telah mengorbankan rasa egonya. [yaitu Siti Hajar, Hadhrat Ismail dan Hadhrat Ibrahim as] Mereka bukan hanya memperlihatkan contoh keteladanan mengalungkan pisau [siap sedia melakukan] pengorbanan dalam masa sementara saja, bahkan mereka pemberi pengorbanan secara terus-menerus dalam masa yang panjang. Mereka yang mengajarkan tata cara dan pokok-pokok perdamaian dan keselamatan dunia itu tidak hanya mengorbankan egonya saja, bahkan masa istirahatnya/kenyamanannya, negaranya bahkan mereka terus menerus berdoa dalam hal ini yaitu, “Semoga Allah Ta’ala juga mengatur dan menyiapkan anak keturunan kami di masa yang akan datang menjadi pemberi keamanan dan keselamatan bagi dunia yang akan memperlihatkan jalan-jalan ketakwaan, akan menegakan derajat ketakwaan yang tinggi setelah mendahulukan ridha Allah Ta’ala atas segala sesuatu dan yang akan senantiasa menjadi teladan pembimbing untuk dunia.”

Maka dari itu, Id yang sedang kita rayakan ini dan melakukan manasik haji ialah dalam rangka mengingat dan mengenang pengorbanan Hadhrat Ibrahim as, beserta istri dan putra beliau. ini bukanlah pengorbanan-pengorbanan lahiriah dan demi pernyataan belaka melainkan itu semua mengarahkan perhatian pada kita pada satu maksud dan tujuan yang sangat agung. Pengorbanan yang kita lakukan berupa penyembelihan kambing, domba dan sapi, ini bukanlah hanya merupakan pernyataan kebesaran kita atau untuk memperlihatkan kebaikan tertentu pada orang-orang sehingga mereka mengatakan, “Si Fulan telah mengorbankan domba yang bagus dan sangat mahal.”

Kalau pengorbanan itu kosong dari ketakwaan, kalau pengorbanan ini tanpa doa dan keinginan mendapatkan ridha Allah Ta’ala maka pengorbanan ini di sisi Allah Ta’ala layak ditolak sehingga dengan demikian menjadi penyebab kebinasaan. Seperti halnya shalat-shalat menjadi penyebab kebinasaan jika dilakukan tidak untuk memperoleh ridha Allah Ta’ala bahkan hanya untuk pamer, demikian pula ibadah Haji pun ditolak di sisi Allah Ta’ala jika dikerjakan bukan untuk mendapatkan ridha-Nya.

Ada sebuah riwayat perihal seorang wali (orang suci, bernama Abdullah ibn Mubarak rha) yang melihat dalam kasyaf para malaikat sedang bercakap-cakap. Kata salah satu dari mereka, “Sedemikian banyak orang yang beribadah Haji pada tahun ini, siapakah diantaranya yang ibadahnya dikabulkan?” Kemudian dikatakan padanya (orang suci itu), “Diantara orang-orang yang beribadah Haji yang datang ke sini (Ka’bah, Makkah) tidak ada seorang pun yang dikabulkan. Ya, ada satu orang yang tinggal di suatu tempat, walaupun tidak datang ke sini untuk menunaikan ibadah Haji tetapi Hajinya dikabulkan.”

Sang wali itu berusaha mencari dan menemuinya, dan mencatat dalam hati, “Amal perbuatan apa yang telah diperbuat oleh orang itu sehingga memperoleh derajat takwa sedemikian rupa walaupun ia tidak melaksanakan ibadah haji [tapi hanya niat saja dan usaha menabung, tetapi] hajinya dikabulkan. Sementara di pihak lain, orang-orang yang datang untuk menunaikan ibadah haji di sini, hajinya tidak dikabulkan. Mungkin saja ia bisa menolong saya.” Orang suci ini mencarinya. Akhirnya sampailah ia pada orang itu. Ia berkata kepadanya, “Saya melihat kasyaf (atau ru’ya) seperti ini, yaitu Haji Anda dikabulkan. Amal perbuatan apakah yang sedemikian rupa disukai Allah sehingga sembari duduk-duduk saja di rumah, ibadah Haji Anda dikabulkan?”

Ia berkata, “Saya seorang yang miskin. Sembari mengumpulkan uang-uang recehan untuk menyempurnakan keinginan ibadah Haji saya, saya juga menabungkan sisa-sisa uang belanja saya. Ketika saya tengah bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah Haji, dari rumah tetangga tercium harumnya masakan daging. Istri saya yang sedang hamil ingin makan dagingnya itu. Kadang kala perempuan yang sedang hamil ingin makan makanan yang diingininya. Karena istri saya itu sudah lama tidak memakan daging dan keadaan kami tidak memiliki uang untuk memasaknya.

Istri saya berkata, ‘Tetangga kita sedang masak daging, harumnya tercium kemana-mana, mintalah kepadanya!’ Seketika saya pergi ke rumah itu untuk mengambil/meminta sedikit masakan kuah berdaging. Saya pikir dikarenakan adanya ikatan yang baik antara kami dengan tetangga itu maka ia tidak menolak permintaan tersebut. Bukannya demikian yaitu sampai ke rumah yang tidak kami kenal. Ketika saya mengetuk pintu sambil memanggil pemiliknya, istri pemilik rumah itu datang.

Setelah saya sampaikan amanat istri saya kepadanya, perempuan itu berkata, ‘Daging ini baik bagi kami tetapi tidak baik bagi Anda sekalian. Oleh karena itu saya tidak dapat memberikannya.’ Saya bertanya pada perempuan itu, ‘Apa masalahnya daging ini baik bagi Anda tapi tidak baik bagi kami?’

Ia berkata, ‘Sudah beberapa hari ini kami kelaparan. Anak-anak kami merintih-rintih karena lapar. Suami saya sedang pergi. Kemudian saya melihat seekor keledai yang sudah mati. Saya memotong dagingnya dan membawanya pulang ke rumah. Daging itulah yang saat ini sedang saya masak. Inilah keadaan kami yang terpaksa. Bukan seperti keadaan Anda. Anda dapat membeli daging seperti harapan Anda. Daging ini tidak untuk Anda.’

Mendengar keadaan tetangga saya ini saya pun langsung pulang. Saya ambil uang tabungan saya untuk naik haji. Saya serahkan itu kepada tetangga saya dan berkata kepadanya, ‘Daging itupun haram bagi Anda, buanglah dan makanlah yang halal [daging yang bisa dibeli dengan uang ini].’ Demikianlah ceritaku.”[1] Walhasil, Allah Ta’ala telah menerima Haji seseorang yang berpikir atas dasar ketakwaan dan menunaikan hak kewajiban terhadap tetangga walaupun ia tidak melakukan ibadah Haji. Karenanya, setiap ibadah dan pengorbanan menghendaki (menuntut) adanya ruh ketakwaan dan ridha Allah Ta’ala. Tanpa itu, semua ibadah dan pengorbanan hanya mengalir di mulut saja.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dalam satu kesempatan bersabda menjelaskan keadaan orang-orang yang pergi menunaikan ibadah Haji, “Pada waktu saya pergi menunaikan ibadah Haji dalam perjalanan saya mengenal baik seorang pemuda dari Hindustan (India). Di sana (Makkah), ketika saya sedang melakukan ibadah Haji saya melihatnya yang semestinya ia berdoa, bertasbih dan bertalbiah (mengucapkan Labaik Allahumma Labaik) tetapi sebaliknya ia malah bernyanyi-nyanyi. Maka saya bertanya padanya, ‘Apa yang sedang Anda lakukan? Ini adalah waktunya banyak-banyak berdoa. Seharusnya Anda sibuk dalam berdoa tapi Anda telah menyia-nyiakan waktu-waktu Anda seperti ini.’

Ia menjawab, ‘Saya tidak bisa shalat, tidak juga mengetahui bacaan doa. Saya seorang pedagang di kota Fulan di Hindustan, saya memiliki toko pakaian yang besar. Ada pesaing kami seorang pedagang toko pakaian lain yang menulis nama Haji di papan tokonya. Sekarang banyak sekali orang yang datang di tokonya karena itu bapak saya berkata, “Engkau juga pergilah ke Makkah. Walaupun tidak tahu apa-apa, sekurang-kurangnya akan tertulis nama Haji di papan nama engkau.” Oleh karena itu saya datang ke sini supaya di papan nama toko saya tertera nama Haji.’[2] Pendeknya, ada juga haji yang seperti ini.

Lebih lanjut Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda berikut ini, “Dalam perjalanan pulang, ketika ia tahu saya seorang Ahmadi dan sebagian orang lain mulai menentang. Ia juga masuk bersama mereka. Ia berkata, ‘Anda seorang Qadiani, kafir! Anda orang yang tidak tahu shalat, tidak mengenal Allah Ta’ala, tidak mengenal Rasul’, Tetapi dalam memberikan fatwa, mereka paling depan.

Demikianlah keadaan sebagian besar orang yang menunaikan ibadah Haji dewasa ini. Mereka tidak memberikan hak-hak Allah Ta’ala, tidak juga menunaikan hak-hak pada hamba-hamba-Nya. Satu sama lain berbuat aniaya, saling membunuh, terjerumus dalam berbagai macam keburukan, tetapi semua ini adalah orang-orang Muslim. Orang-orang Ahmadi mereka larang berhaji, karena orang Ahmadi itu menurut mereka adalah kafir. Oleh karenanya orang-orang ini kosong dari ketakwaan. Ikatan apakah yang akan mereka peroleh dengan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam, mengenai hal ini Allah Ta’ala lebih mengetahui. Tetapi, kita yang telah beriman pada pribadi pecinta sejati Rasulullah saw, hendaknya berusaha untuk mencari ruh itu, yang merupakan ruh pengorbanan.

Guna lebih terang Hadhrat Masih Mau’ud as di beberapa tempat menjelaskan kepada kita mengenai apakah hakikat dari pengorbanan yang sesungguhnya dan bagaimanakah taraf/tingkat/standar pengorbanan itu?

Beliau as antara lain bersabda, “Kami hanya menuntut satu pengorbanan, yang merupakan pengorbanan nafs (jiwa, ego, keakuan) masing-masing.” Kemudian bersabda, “Nama lain dari pengorbanan ini adalah Islam. Itulah yang menjadikan seseorang sebagai Muslim hakiki yaitu orang yang mengorbankan nafs (jiwa, ego) masing-masing. Arti dari Islam adalah meletakkan (menyerahkan dengan rela) leher sendiri untuk disembelih. Itu artinya, dengan keikhlasan/kerelaan yang sempurna meletakan ruhnya di hadapan istana Tuhan.”

Bersabda, “Inilah nama yang indah.” (yaitu Islam) “yang merupakan ruh seluruh syariat dan jiwa seluruh perintah. dengan kegembiraan hati dan keikhlasan meletakan lehernya sendiri untuk disembelih lalu menginginkan kaamil mahabbat (kecintaan yang sempurna), kaamil isyq (keasyikan nan sempurna) dan kaamil ma’rifat (wawasan rohaniah yang sempurna). Maka dari itu, perkataan Islam tertuju akan hal ini, yaitu untuk melakukan pengorbanan hakiki memerlukan kecintaan dan ma’rifat yang sempurna. Tidak memerlukan hal-hal lainnya. Demikian pula, kearah itulah Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an Syarif; لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ Lay yanaallaha luhuumuhaa wa laa dimaa’uhaa walaakiy yanaaluhut taqwaa minkum (al Haj : 38) Sekali-kali tidak akan sampai kepada-Ku daging kurban kalian dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Ku adalah kalian takut pada-Ku dan mengusahakan ketakwaan kepada-Ku.” [3]

Oleh karena itu, takwa adalah nama dari Islam. Takwa itu adalah dengan kaamil mahabbat (kecintaan yang sempurna) dan kaamil isyq (keasyikan nan sempurna) berusaha untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Mengamalkan semua perintah-Nya. Dan, yang sangat terang dari sabda beliau as ialah bahwa pondasi Islam ada pada dua hal. Pertama, sudah saya sampaikan dalam permulaan Khotbah Jumat saya yang lalu, yaitu melaksanakan haq-haq (kewajiban, tanggungjawab) terhadap Allah dan yang kedua adalah menunaikan hak-hak makhluk. Inilah hak-hak yang untuk menegakannya Allah Ta’ala dengan mengambil/menerima pengorbanan Hadhrat Ibrahim as dan Hadhrat Ismail as lalu Dia menyuruh mereka berdua mendirikan kembali bangunan Ka’bah.

Hal selanjutnya, demi melestarikan maksud dan tujuan ini di kalangan anak keturunan mereka, kedua orang suci itu berdoa, “Hak tanggungjawab ini akan bisa berdiri tegak dan pada tingkatannya yang tertinggi pada saat seseorang yang mendirikan keteladanan tanpa banding dalam hal memenuhi dan menegakkan haq-haq (kewajiban, tanggungjawab) tersebut.” Pendeknya, mereka berdoa dan hal ini sesuai dengan rencana Allah Ta’ala. Ini juga yang dikatakan saksi-saksi yaitu hendaknya datang ke dunia seorang manusia yang seperti itu.

“Doa kami adalah, ‘Kabulkanlah (terimalah) pengorbanan kami yang sangat hina ini dan kabulkanlah doa-doa yang dari itu lahir anak keturunan kami.” Inilah doa-doa Hadhrat Ismail as dan Hadhrat Ibrahim as. Selanjutnya Allah Ta’ala mendengar doa kedua Nabi tersebut dan diutus oleh-Nya Rasul Agung itu dari keturunan Hadhrat Ismail as untuk melaksanakan uswatun hasanah beliau saw dalam menegakkan HuquuquLlah dan juga dalam menegakkan Huquuqul ’ibaad.

Beliau saw telah menegakkan taraf dalam haq beribadah kepada Allah sehingga Dia yang merupakan Tuhan Pemilik Arsy berfirman; قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ () Qul inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ’aalamiin. (al ‘An’aam ; 163) “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’.”

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan, “Difirmankan kepada Hadhrat Rasulullah saw, ‘Katakanlah kepada manusia, “Semua ibadah-ku adalah semata-mata untuk Allah. Artinya tidak ada sedikit pun bagian untuk diriku sendiri, makhluk-Nya dan juga hal-hal lainnya. Ibadahku, bukan untuk diri pribadiku sendiri, bukan untuk makhluk lainnya dan bukan juga untuk orang-orang yang secara lahiriah adalah karib kerabatku. Aku tidak bertawakkal pada suatu apapun, dan tidak mengharap apapun darinya. Pengorbananku juga khusus untuk Allah Ta’ala, hidupku juga untuk Allah Ta’ala dan matiku juga untuk Allah Ta’ala.”’”

“نسيكة Nasiikah dalam bahasa Arab artinya pengorbanan, dan yang tertulis di kalimat ini adalah نسك nusuk yang merupakan bentuk Jamak dari nasiikah. Selanjutnya arti yang lainnya dari kata itu juga adalah ibadah.” Arti perkataan ini adalah pengorbanan, dan arti yang kedua adalah ibadah.

“Maka dari itu, di kalimat ayat ini dipergunakan perkataan yang artinya adalah ibadah dan pengorbanan, keduanya dibolehkan. Hal ini mengisyaratkan ibadah yang sempurna adalah ibadah yang di dalamnya tidak terdapat campuran beribadah untuk diri sendiri, untuk makhluk dan hal-hal lainnya. Hakikatnya adalah satu pengorbanan, dan pengorbanan yang sempurna pada hakikatnya adalah ibadah yang sempurna.”

Ibadah yang dikerjakan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah Ta’ala, Dia menuntut (meminta) pengorbanan [dari kita]. Pengorbanan yang sempurna, pengorbanan yang diberikan untuk mendapatkan ridha Ilahi dan pengorbanan yang diberikan pada jalan ketakwaan, kemudian barulah hal itu menjadi ibadah. Jadi, inilah derajat yang telah didapat oleh sang Nabi Sempurna saw. Kemudian uswah (keteladanan) sempurna itu melahirkan para Sahabi (para sahabat Ra) yang berusaha berjalan pada Uswah ini. Mereka juga memiliki ketinggian dalam derajat pengorbanan dan dalam derajat ibadahnya.

Mengenai hal ini, lebih lanjut Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Setiap makhluk tidak ada yang berada di luar lingkup cakupan doa-doa beliau saw. Satu keadaan seperti ini terjadi tatkala tidak ada barang-barang (sarana), tiada makhluk dan tidak ada jiwa. Keadaan yang lainnya adalah seperti ini hal mana beliau saw tengah berkorban dan juga mendoakan untuk makhluk.”

Kemudian dalam memberikan penjelasan lebih lanjut tentang ‘hidupku dan matiku’, beliau as bersabda, “Hidupku dan matiku adalah untuk Tuhan itu yang merupakan Tuhan semesta alam. Di bahasan ayat ini terdapat satu isyarat bahwa, pengorbanan juga untuk Tuhan semesta alam”.[4]

Ibadah-ibadahku dan pengorbanan-pengorbananku juga bukan untuk makhluk tertentu secara khusus atau demi supaya mendapatkan pertolongan makhluk atau untuk membuat suatu kelompok pendukung (membela), melainkan itu untuk kebaikan seluruh makhluk. Ibadahku juga untuk kebaikan seluruh makhluk. Maka, jika semua pengorbanan dan ibadah hanya untuk kebaikan seluruh makhluk, tanpa maksud lain, maka itu demi mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Maka siapakah yang dapat mengukur bagaimana keadaan hati orang seperti ini, yang hatinya prihatin/menderita karena penderitaan makhluk-Nya.

Oleh karena itu, yang paling menderita [penuh keprihatinan demi kebaikan makhluk] tentu saja hati Hadhrat Rasululllah saw. Demikianlah keadaannya tatkala malam-malam hari beliau saw, beliau saw lalui dalam beribadah hingga masuk kedalam penderitaan yang di luar batas kemampuan dalam rangka  keprihatinan [mendoakan demi kebaikan] makhluk-makhluk-Nya. Sampai-sampai Allah Ta’ala berfirman; فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا () Fala’allaka baakhi’un nafsaka ‘alaa aatsaarihim..’ (Kahfi : 7) “Apakah kamu akan membinasakan dirimu sendiri dikarenakan mereka?” Inilah taraf pengorbanan yang sangat tinggi. Pada satu segi ibadah beliau saw untuk Allah Ta’ala, secara murni dan tulus ikhlas demi kecintaan yang fana pada-Nya, sedangkan di segi lain beliau gelisah dan tidak berdaya merasakan penderitaan makhluk-Nya.

 Maka dari itu, beginilah haq pengorbanan yang telah ditunaikan Rasul Agung saw itu yang mana beliau telah membinasakan diri beliau sendiri untuk kebaikan dunia. Selanjutnya, beliau Saw juga telah menegakan keteladanan dalam menunaikan hak-hak para hamba-Nya. Inilah teladan teragung dalam menunaikan hak-hak para hamba-Nya hal mana beliau telah membinasakan dirinya sendiri supaya terjadi perbaikan pada mereka. Kemudian ada juga contoh lain. Untuk ini juga dimana pun tidak akan didapat contoh yang seperti ini. Dalam memberikan nasihat kepada orang-orang Muslim, beliau saw bersabda, “‏ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، ‏” ‘al-Muslimu man salimal Muslimuuna min lisaanihi wa yadihi “Seorang Muslim adalah yang lidah dan tangannya terjaga (menyelamatkan, tidak menyakiti) bagi orang-orang Muslim lainnya.”[5]

Kalau diperjelas lagi maka maknanya adalah, orang Muslim itu (lidah dan tangannya) ialah yang mana setiap orang terjaga (terlindungi) olehnya. Ia tinggal dengan aman dan memberikan keselamatan. Ketika dalam satu majlis, dalam satu peristiwa beliau bersabda, bahwa‏”‏ الدِّينُ النَّصِيحَةُ ‏”‏ ‏ ‘ad-diinun nashiihah’ “Agama itu nama lain dari rasa simpati, ketulusan dan keinginan berbuat baik. قُلْنَا لِمَنْ Qulnaa liman? Sahabat bertanya rasa simpati dan keinginan berbuat kebaikan dalam hal apa [kepada siapa]? قَالَ Bersabda, ‏”‏ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ‏” ‘Lillaahi wa li Kitaabihi wa li Rasuulihi wa li a-immatil Muslimiina wa ‘aammatihim.’ rasa simpati atau niat baik terhadap Allah Ta’ala, Rasul-Nya, Para Pemimpin umat Islam dan umat manusia umumnya.”[6]

Kesimpulannya, Islam itu demikian bersimpati dan menginginkan kebaikan pada manusia. Ada tuduhan terhadap Islam, bahwa ia adalah agama barbar (brutal), tuduhan ini bertentangan dengan dasar ajaran Islam. Terdapat pelajaran bagi orang-orang yang menamai diri sebagai Muslim (beragama Islam), bahkan harus dikatakan pada mereka, “Renungkanlah kondisi amal perbuatan kalian, wahai orang-orang yang berbuat kekejaman dan barbar atas nama Islam!”

Bagaimana rasa simpati yang mendalam beliau saw pada orang-orang miskin dan turut merasakan penderitaannya, bagaimana hasrat beliau saw untuk menunaikan hak pada mereka hingga dalam satu peristiwa Rasulullah saw bersabda, ‏ “‏ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا يَسُرُّنِي أَنْ لاَ يَمُرَّ عَلَىَّ ثَلاَثٌ وَعِنْدِي مِنْهُ شَىْءٌ، إِلاَّ شَىْءٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ ‏”‏‏.‏ ‘Lau kaana lii mitslu Uhudin dzahaban, maa yasurrunii al laa yamurra ‘alayya tsalaatsun wa ‘indii minhu syai-un, illa syai-un urshiduhu li dayn.’ – “Kalau saja pada-ku ada emas yang sama besarnya dengan gunung Uhud maka esok hari, sebelum matahari terbit tiga hari dari hari ini aku sudah membagikannya.”[7]

Beliau saw sangat keras mengamalkan dasar peraturan perang, hal mana orang tidak berdosa dilarang dibunuh. Perempuan dan anak-anak dilarang dibunuh, ruhaniawan dilarang dibunuh dan dilarang menebang pohon-pohon karena gerakan-gerakan ini adalah perlakuan brutal pada kedamaian dan tindakan merampas hak-hak orang lain. [8]

Semua [pelanggaran dalam] hal-hal diatas menjadikan Allah Ta’ala murka. Allah Sendiri adalah as-Salaam (Pemberi keselamatan). Hal demikian (berlaku brutal) berlawanan dengan sifat-Nya. Kalau gerakan itu dilakukan oleh orang yang beriman kepada-Nya, maka perbuatan ini akan membawa jauh dari tujuan Allah Ta’ala telah menyuruh mendirikan Ka’bah yang mengenainya Dia berfirman; وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖWa idz ja’alnal baita matsaabatal linnaas wa amnaw wat takhidzuu mim maqaami ibraahiima mushallaa.’ – “Dan ingatlah ketika Kami jadikan rumah itu sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Al-Baqarah 126).

As-Salaam juga adalah nama sifat Allah Ta’ala, yang artinya Tuhan As-Salaam (memberikan keselamatan) di langit berkehendak untuk menegaknya keamanan di bumi – seperti yang telah saya katakan – dan dalam rangka itu maka suatu keharusan bagi kita untuk mendirikan satu markas yang memberikan perdamaian bagi dunia. Seperti yang telah saya baca sebagian ayatnya, “Kami telah membuat tempat Baitullah itu, Kami telah membuat suatu lembaga tempat orang-orang dari keempat penjuru dunia akan berkumpul dan mempelajari pelajaran perdamaian dan keamanan.” Tetapi, merupakan nasib buruk ulama-ulama Muslim dewasa ini, demikian pula para Pemerintahnya, para Pemimpinnya dan masyarakat umumnya yang kebanyakan keadaannya berlawanan dengan hal itu.

Setiap tahun ratusan ribu orang datang ke tempat ini (Makkah) untuk melaksanakan Haji. Pada hari-hari itu pun sekali waktu dapat laporan bahwa di sana terjadi pertikaian tetapi pemerintah di sana menghentikannya dengan kekerasan. Setelah selesai dari berhaji, seharusnya mengambil sedikit pelajaran dari sana, tapi yang diambil hanyalah mendapat gelar ‘Haji’. Seperti saya telah contohkan sebelum ini. Orang-orang ini pergi ke sana memang mengucapkan perkataan, لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ Labbaik Allahumma labbaik..!!!’ “Wahai Allah kami telah datang di hadapan-Mu!…” Tetapi, ucapan itu hanya di mulut saja. Orang-orang yang pergi berhaji ini, yang pada mereka terdapat kebebasan dan keleluasaan untuk pergi berhaji, kebanyakan diantara mereka adalah orang Islam dan atas nama Tuhan mereka berbuat kezaliman dan kebrutalan.

Betapa meruginya orang-orang Muslim yang semacam itu yang seharusnya berjalan diatas perintah Allah dan Rasul-Nya, kenyataannya sedang menjauh dari sana. Bersamaan dengan menegakkan derajat yang tinggi dalam hal memberikan pengorbanan, berjalan pada jalan uswah (teladan) Rasul Suci Saw, dan sembari memahami ruh (spirit) tersebut, seperti telah saya jelaskan, yang seharusnya ibadah dan pengorbanannya untuk Allah Ta’ala kemudian beramal, doa-doanya dan kebaikan-kebaikannya demi kebaikan makhluk-makhluk-Nya; dan yang seharusnya mereka mengorbankan hartanya, malah orang-orang ini sedang berbuat kezaliman dan kebrutalan. Lembaga yang Allah Ta’ala jadikan guna menegakkan perdamaian dan keamanan -seperti baru saja saya katakan, ialah lembaga Khanah Ka’bah ini.

Selanjutnya, Sang Guru yang kita dan mereka masing-masing menyebutnya Nabi Tercinta yang nama beliau adalah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam; mereka sedang berlaku aniaya dan kekejaman atas nama beliau saw. Tidak ada ajaran berbuat kebrutalan di sisi Ka’bah dan tidak ada juga ajaran itu pada diri Hadhrat Rasulullah Saw. Allah Ta’ala berfirman; قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () Qod Jaa’akum minallaahi nuurun wa kitaabun Muniir Artinya, “Sungguh telah datang kepadamu Nur dari Allah dan Kitab yang nyata.” (Surah al Maaidah; 5 : 16) Sungguh telah datang kepadamu Nur yang adalah wujud Rasulullah Saw dan Kitab yang nyata (Qur’an Karim) yang dapat memecahkan segala macam permasalahan. Oleh karena itu hendaknya kalian mengambil petunjuk dari kitab ini tetapi kalian sendiri tidak memahaminya. Maka dari itu, untuk memahaminya lihatlah Rasul itu (saw), yang merupakan teladan sempurna-nya yang mengenai beliau saw, Hadhrat Aisyah ra berkata; كان خلقه القرآن Kaana khuluquhul Qur’an “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”[9]

Maka dari itu, apakah Anda sekalian dapat mengajukan satu saja cacat dari sejarah perjalanan hidup Rasulullah saw dalam bentuk merampas hak seseorang, berbuat aniaya pada seseorang, merampas hak-hak anak-anak yatim, janda-janda, orang-orang lemah dan anak-anak kecil? Tidak! Bahkan, beliaulah tempat sandaran mereka. Apakah pada hari ini kebanyakan orang Muslim mengamalkan ajaran Baginda Nabi saw, maha guru mereka?

[Pada masa hidup beliau saw,] terdapat orang-orang yang menuntut kematian beliau saw dan menghendaki untuk dapat menghabisi Islam. Mereka menyerang beliau saw. Dalam berkecamuknya peperangan yang dahsyat dengan mereka, beliau saw bersifat lunak pada kepara tawanan perang. Dalam menegakan keadilan beliau berlaku sama pada musuh dan teman, karena ini adalah perintah Allah Ta’ala. Rahmat dan berkat beliau meliputi seluruh umat manusia. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau ‘Rahmatan lil’ aalamin’.

[Bertentangan dengan teladan beliau saw, dewasa ini hal-hal kontras dilakukan oleh gerakan garis keras atas nama Islam, misalnya ISIS/ISIL] Betapa liciknya mereka. Mereka perwakilan Surat Kabar umum, menangkap Jurnalis, menangkapi orang-orang yang tak berdosa, badan dan kepala mereka dipisah. Membunuh mereka. Islam apakah ini yang sedang diperagakan dewasa ini yang dikerjakan atas nama Islam?

[Sementara di pihak lain], Baginda Nabi saw demikian rupa meluaskan rahmat-Nya hingga akhirnya setelah melihat amal perbuatan beliau, musuh bebuyutan beliau pun akhirnya [secara sukarela] menjadikan diri sebagai hamba beliau. Beliau memberikan pengorbanan untuk memperluas rahmatnya. Beliau memberikan pelajaran cara-cara berkorban pada para sahabat. Cara-cara pengorbanan dimaksud bukan sekedar pengorbanan kambing-kambing, domba-domba dan sapi-sapi. Itu adalah pengorbanan nafs (nafsu, ego, jiwa, diri pribadi sendiri), sebagaimana telah saya katakan. Kalau orang-orang yang memusuhi beliau saw menimbulkan keadaan perang terlebih dahulu maka pada kesempatan itu beliau saw memberikan jaminan kepada setiap jiwa yang tidak berdosa. Setelah memperlakukan ihsaan kepada para tawanan perang, beliau memerdekakannya. Apakah saat ini ajaran ini yang diamalkan oleh gerakan-gerakan yang menyukai kekerasan?

Secara tanpa dasar nyawa-nyawa sesama Muslim, yaitu para pembaca kalimah suci yang ma’shum (tak berdosa), mereka rampas seraya berkata, “Kami sedang memberikan pengorbanan dan mengakhiri musuh-musuh.” Mereka penuhi otak anak-anak dengan racun [kebencian dan terorisme atas nama Jihad] dan memaksa mereka untuk menyerang dengan bom bunuh diri. Apakah pengorbanan itu seperti ini? Kata mereka, “Inilah pengorbanan-pengorbanan yang kami berikan.” Itu gerakan yang tidak memiliki makna selain mendatangkan laknat Allah Ta’ala. Alah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ Barang siapa membunuh seorang Muslim dengan sengaja maka balasannya adalah Jahanam..” ( al Nisa; 4: 94).

Surga jenis apa yang sedang mereka cari dengan cara demikian? Apakah mereka tidak ingat apa-apa yang telah Rasul tersayang kita saw sabdakan ketika peristiwa Hajjatul Wada? Apakah orang-orang ini, meski mereka juga adalah orang-orang Muslim, tidak tahu perkataan akhir Rasul saw. Khotbah Hadhrat Rasulullah Saw adalah nur yang akan memperlihatkan jalan yang menjadikan setiap Muslim menjadi Muslim yang hakiki.

Saya sampaikan riwayatnya sebagai berikut. Hadhrat Ibnu Abbas ra meriwayatkan pada kesempatan Hajjatul Wada Hadhrat Rasul Karim Saw bersabda, “‏ يَا أَيُّهَا النَّاسُ‏.‏ أَىُّ يَوْمٍ هَذَا ‏”‏‏.‏ ‘Yaa ayyuhan naas, ayyu yaumin haadza?’ “Wahai orang-orang! Hari apakah ini?” قَالُوا‏ Orang-orang menjawab, يَوْمٌ حَرَامٌ‏. ‘Yaumun Haraam’ “ini adalah hari Suci (Hari Arafah yang terhormat dan layak dihormati).” Lalu beliau bersabda, ‏”‏ فَأَىُّ بَلَدٍ هَذَا ‏”‏‏ ‘fa ayyu baladin haadza?’ “Negeri apakah ini?” mereka menjawab, بَلَدٌ حَرَامٌ‏. ‘Baladun haraamun’ “Ini negeri terhormat, kota Mekah.” Lalu beliau bersabda, ‏”‏ فَأَىُّ شَهْرٍ هَذَا ‏”‏‏.‏ “Bulan apakah ini?” Orang-orang menjawab, شَهْرٌ حَرَامٌ‏.‏ “Ini adalah bulan yang layak dihormati, Dzulhijjah.”

Setelah soal-jawab berakhir, Hadhrat Rasul Karim Saw bersabda, ‏”‏ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ‏”‏‏.‏ ‘fa-inna dimaa-akum wa amwaalakum wa a’raadhakum ‘alaikum haraamun, ka hurmati yaumikum haadza, fi baladikum haadza fi syahrikum haadza.’ “Dengarlah! Seperti halnya harta, darah, dan kehormatan kalian layak dihormati dan layak dipertahankan. Maka demikian pula haram bagi kalian jika tidak menghormatinya”. فَأَعَادَهَا مِرَارًا، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ Beliau saw beberapa kali mengulanginya lalu mengangkat tangannya ke langit (berdoa) dan bersabda, ‏”‏ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ‏”‏‏.‏ ‘Allahumma hal balaghtu! Allahumma hal balaghtu!’ “Wahai Tuhanku! Apakah aku telah menyampaikan amanat Engkau.” “Wahai Tuhanku! Apakah aku telah menyampaikan amanat Engkau.” Hadhrat Rasulullah Saw beberapa kali mengucapkan perkataan Hal balaghtu.

Lalu, beliau bersabda, ‏”‏ فَلْيُبْلِغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ‏”‏‏.‏ “Perhatikanlah, siapapun yang berada di sini, sampaikanlah perkataan ini hingga sampai pada mereka yang tidak hadir pada saat ini.” Beliau saw bersabda, ‏“‏ لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ ‏”‏‏.‏ ‘Laa tarji’u ba’dii kuffaaran yadhribu ba’dhukum riqaaba ba’dhin.’ “Ingatlah hal ini, yaitu janganlah kalian kafir setelah beriman kepadaku yang pada akhirnya satu dengan yang lainnya saling membunuh dan menumpahkan darah.” [10]

Ibnu Abas ra berkata, “Pada dasarnya, dengan menjadikan Allah Ta’ala sebagai saksinya, beliau saw secara gamblang menjelaskan dalam corak yang sebenarnya bahwa beliau saw telah menunaikan kewajiban bertabligh dalam corak yang sangat indah. Beliau saw memberikan pengertian kepada orang-orang dengan baik perihal kewajiban dasar mereka, yaitu hendaknya mereka senantiasa memperhatikan hak-hak dasar umat manusia dengan cara kapan pun tidak pernah mencemari dan membahayakan harta, jiwa dan kehormatan sesamanya.”[11]

Demikianlah amanat atau pesan terakhir beliau saw kepada umatnya. Dalam hal ini dimanakah keberadaan kalian, dimanakah kini kalian yang satu dengan yang lainnya masing-masing menjadi kehausan darah. Yah, ini suatu keharusan yaitu janganlah kalian mengkafirkan satu dengan yang lainnya sampai membunuhnya. Kami pun kalian sebut kafir. Hendaknya kalian menghitung-hitung (mengoreksi) diri kalian sendiri dengan definisi atau pengertian yang telah kami sebut. Maka inilah nasihat pengorbanan yang disabdakan oleh Rasul saw yang penjelasannya disampaikan Ibnu Abas ra dengan benar-besar tepat yang mana beliau saw bersabda dengan gamblang dan terang benderang akan hal itu yaitu perhatikan dan jagalah selalu hak-hak dasar umat manusia.

Kalau terhadap sesamanya [umat Muslim diperintahkan], رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ Ruhamaa’u bainahum, melaksanakan perintah berlaku kasih sayang sesama mereka (QS Fath : 30), maka terdapat perintah agar dilaksanakan perihal perlakuan terhadap orang-orang selain mereka (selain Muslim), bahkan hingga terhadap musuh-musuh/yang memusuhi. Perintahnya ialah, وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ ‘Wa laayajrimannakum syana-aanu qaumin ‘alaa al laa ta’diluu’ – “Dan janganlah kebencian kepada suatu kaum mendorongmu bertindak tidak adil.” (Surah Al-Maidah : 9). Oleh karena itu, dimanakah pemerintahan-pemerintahan orang Muslim itu dan golongan-golongannya yang menegakkan keadilan dan selanjutnya memperkuat keamanan dunia. Adakah satu saja diantaranya yang demikian? Pemerintahan-pemerintahan [yang atas nama Islam] tersebut apakah itu al-Qaaidah atau Thaliban atau Boko Haram yang ada di Afrika atau Organisasi-organisasi lainnya; atau pemerintahan-pemerintahan yang berlaku lalim atas nama Islam atau dimanakah kesempatan [untuk mengamalkan itu] bagi orang-orang yang menyatakan diri mendirikan Khilafah?

Hendaknya mereka adalah seperti ini yaitu mereka mengambil manfaat dari lembaga penegak keamanan, Rasul saw sang Raja Perdamaian dan Kitab yang memberikan ajaran keamanan, kecintaan dan kasih sayang, lalu menjadi satu umat. Mereka menyebarkan kedamaian dan keselamatan di dunia. Selanjutnya, pada zaman ini jauh menjadi lebih layak lagi di sisi Allah Ta’ala dalam hal perjanjian adalah tatkala tidak hanya sebagai sebuah peringatan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya bahkan sesuai dengan janji-Nya, telah muncul dari Allah Ta’ala seorang murid dari sang guru yang sempurna dan pencinta sejati beliau saw. Allah Ta’ala telah mengutusnya untuk menjadikan satu umat (umat yang bersatu) kemudian demi berbuat ihsaan (kebaikan) pada umat Muslim yang merupakan hasil doa-doa Rasul Karim saw di setiap waktu malam yang dapat disebut sebagai doa-doa malam kepada Allah Ta’ala yang dipenuhi kepasrahan. Itu merupakan buah untuk orang-orang Muslim pada zaman ini. Ia juga diutus pada zaman ini oleh Allah Ta’ala untuk menciptakan pemahaman pengorbanan-pengorbanan yang hakiki.

Oleh karena itu, sampai kapan pun bila utusan Allah Ta’ala ini belum diterima oleh umat Islam, hingga saat itu juga umat ini akan terus berada dalam keadaan terpecah-belah. Perang sesamanya akan terus berlangsung. Dengan melakukan kezaliman yang terus berlangsung sembari mengatasnamakan Allah dan rasul-Nya, menjadikan mereka terus menjadi sasaran kemarahan Allah Ta’ala. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menganugerahkan akal kepada mereka. Pemahaman pengorbanan hakiki pada diri orang-orang Muslim ini hendaknya ditimbulkan yaitu pengorbanan oleh Hadhrat Ibrahim dan Hadhrat Ismail as dalam pembangunan Ka’bah dan tujuan diutusnya Hadhrat Muhammad rasul Allah Saw yang mana sembari meninggikan tingkat pengorbanan bersamaan dengan itu menegakkan hak-hak Allah dan hak-hak sesama hamba/makhluk-Nya serta menegakkan keamanan dan keselamatan di dunia.

Semoga Allah Ta’ala juga menganugerahkan pada kita pemahaman pengorbanan tersebut dalam corak warna yang hakiki dan selain memahami arti pengorbanan secara lahiriah dalam bentuk kambing-kambing, domba-domba dan sebagainya; Dia juga menjadikan kita sebagai orang-orang yang menunaikan kewajiban-kewajiban pengorbanan dan dapat memahami ruh pengorbanannya. Semoga Dia menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat memberikan keamanan, ketenangan dan keselamatan bagi dunia.

Sekarang setelah khotbah kedua kita akan berdoa. Ingatlah dalam doa-doa kita untuk keluarga orang-orang yang syahid. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan derajat yang tinggi kepada para Syuhada. Semoga pengorbanan mereka secara cepat membawa warna perubahan kemajuan yang dengan karunia Allah Ta’ala menjadi bernilai. Semoga setiap pengorbanan mereka menjadi penyebab kemajuan bagi Jemaat. Tetapi di satu segi, semoga Allah Ta’ala menciptakan kemudahan-kemudahan dan kelancaran-kelancaran untuk kita di tempat-tempat yang sedang terjadi pengorbanan, di sisi lain, semoga Dia memberikan akal pemahaman pada mereka [penentang yang mensyahidkan atau berusaha ke sana].

Doakan juga untuk orang-orang yang masih dipenjara di jalan Allah semoga Dia memberikan sarana kemudahan bagi mereka. Doakanlah juga bagi mereka yang berkorban dengan hartanya. Doakanlah juga untuk orang-orang wakaf yang berada dalam medan pengkhidmatan. Doakanlah juga bagi para sukarelawan yang mengorbankan waktunya dalam bekerja untuk Jemaat. Doakanlah juga bagi orang-orang miskin dan yang sangat membutuhkan pertolongan, semoga Allah Ta’ala menjauhkan mereka dari kesulitannya. Doakanlah para Ahmadi di Pakistan. Doakanlah para Ahmadi di Indonesia. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan semuanya dari setiap kesusahan. Doakanlah semua Ahmadi yang tinggal di seluruh pelosok dunia. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka.

Doakan juga untuk orang Muslim yang teraniaya. Banyak sekali orang Muslim yang berada dalam keadaan teraniaya, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari keaniayaan. Sebagian dari antara mereka adalah dalam kondisi terpaksa, dikarenakan keaniayaan atau kekerasan atau larangan-larangan mereka tidak dapat menerima kebenaran. Semoga Allah Ta’ala menghapuskan kekerasan yang mereka alami. Doakan juga untuk orang-orang Muslim Palestina. Semoga Allah Ta’ala menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka dan menjauhkannya.

Doakanlah untuk umat Muslim atau orang-orang Islam pada umumnya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan pada mereka pemahaman. Seperti sudah saya katakan sebelumnya berdoalah supaya organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan kejam yang bergerak mengatasnamakan Islam berakhir. Semoga Allah Ta’ala secepatnya menyelamatkan mereka. Semoga ajaran yang hakiki dari Islam tampil dengan jelas di dunia dengan benar. Dan orang-orang di dunia datang di bawah pangkuan-Nya.

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

[1] Tadzkiratul Auliya (Kisah-Kisah Kenangan dan pelajaran dari Para Wali), karya Syaikh Fariduddin Athar, h. 165, penerbit Mumtaz Akademi, Lahore. Kisah diatas sedang membahas Hadhrat Abdullah ibn Mubarak rahmatullah ‘alaihi.

[2] Tafsir Kabir, jilid 6, h. 35.

[3] Lecture Lahore (Ceramah di Lahore), Ruhani Khazain jilid 20, h. 151-152.

[4] ‘Ishmat Anbiya ‘alaihimus salaam, Ruhani Khazain, jilid 18, h. 665-666.

[5] Shahih al-Bukhari, kitab tentang keimanan, bab IV, no. 10.

[6] Shahih Muslim, Kitab tentang keimanan, bab bayan an ad diin nashihah, 196

[7] Shahih al-Bukhari, kitab Isqiradh wa ada-ud dayn, bab bayar hutang, no. 2389.

[8] Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, juz 9, h. 104, Kitab perjalanan, bab biarkan orang yang tidak terlibat perang yaitu para biarawan, orang tua dll, nomor 18666, Maktabah ar-Rusyd Nasyiruun, Edisi 2004.

Saat mengantarkan 3.000 pasukan Muslim berangkat menuju Mu’tah untuk berperang melawan puluhan ribu pasukan Romawi di Suriah, Nabi Muhammad saw bersabda kepada para pasukan: اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فَقَاتِلُوا عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ وَسَتَجِدُونَ فِيهِمْ رِجَالاً فِى الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِينَ مِنَ النَّاسِ فَلاَ تَعْرِضُوا لَهُمْ وَسَتَجِدُونَ آخَرِينَ لِلشَّيْطَانِ فِى رُءُوسِهِمْ مَفَاحِصُ فَافْلُقُوهَا بِالسُّيُوفِ وَلاَ تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَلاَ صَغِيرًا ضَرَعًا وَلاَ كَبِيرًا فَانِيًا وَلاَ تَقْطَعُنَّ شَجَرَةً وَلاَ تَعْقِرُنَّ نَخْلاً وَلاَ تَهْدِمُوا بَيْتًا‏. “Berperanglah kalian atas nama Allah, perangilah musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian juga di Syam. Kalian akan melewati suatu kaum yang menyepi di biara-biara, biarkan mereka, jangan mengganggu. Kalian akan dapati dari kumpulan ini yang bertopengkan agama, yang syaitan bersarang di kepalanya (musuh yang menyamar biarawan), maka jika kamu dapati orang yang serupa ini, kamu perangilah mereka. Tapi, jangan kalian perangi para wanita, anak-anak, orang yang sudah tua renta, jangan menebang pohon kurma dan pohon apa pun, dan jangan merobohkan bangunan atau rumah-rumah.”

‏ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رضي الله عنه بَعَثَ يَزِيدَ بْنَ أَبِى سُفْيَانَ إِلَى الشَّامِ فَمَشَى مَعَهُ يُشَيِّعُهُ قَالَ يَزِيدُ‏:‏ إِنِّى أَكْرَهُ أَنْ تَكُونَ مَاشِيًا وَأَنَا رَاكِبٌ‏.‏ قَالَ فَقَالَ‏:‏ إِنَّكَ خَرَجْتَ غَازِيًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَإِنِّى أَحْتَسِبُ فِى مَشْيِى هَذَا مَعَكَ ثُمَّ أَوْصَاهُ فَقَالَ لاَ تَقْتُلُوا صَبِيًّا وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ شَيْخًا كَبِيرًا وَلاَ مَرِيضًا وَلاَ رَاهِبًا وَلاَ تَقْطَعُوا مُثْمِرًا وَلاَ تُخَرِّبُوا عَامِرًا وَلاَ تَذْبَحُوا بَعِيرًا وَلاَ بَقَرَةً إِلاَّ لِمَأْكَلٍ وَلاَ تُغْرِقُوا نَحْلاً وَلاَ تُحْرِقُوهُ‏.

Hadhrat Khalifah Abu Bakr ra juga pernah mengutus pasukan Islam ke Syam, dan menyerahkan kepemimpinan pasukan itu di tangan Yazid bin Abu Sufyan ra, Amru bin Al-Ash ra dan Syurahbil bin Hasanah ra. Mereka menunggang kuda masing-masing untuk berangkat, namun Hadhrat Abu Bakar ra tetap berjalan kaki melepas pasukan itu hingga ke Tsaniyatil-Wadak. Yazid berkata kepada Khalifah ra: “Wahai Khalifah Rasulullah! Tidak enak rasanya, engkau berjalan kaki sedangkan kami menunggang kuda?!” “Jangan turun dari atas tunggangan kalian”, jawab Khalifah Abu Bakr. “Aku menganggap langkah-langkah ini berjuang pada jalan Allah! Jangan membunuh anak kecil, kaum perempuan, orang lanjut usia, orang sakit dan para Rahib. Jangan menebang pohon. Jangan menyembelih domba atau unta kecuali untuk dimakan. Jangan merusak dan membakar pohon kurma.”  (Yazid yang disebut dalam riwayat itu ialah kakak Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia masuk Islam pada masa akhir Nabi saw dan wafat di zaman Khalifah Umar ra pada 640 saat menjabat Amir/Gubernur di wilayah Syam. Keponakan beliau, Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb lahir pada sekitar 647, pertengahan masa Khalifah Utsman ra. Sedangkan Husain bin Ali, cucu Nabi saw yang syahid pada masa Yazid bin Muawiyah sebagai raja (680), lahir pada 626 di masa akhir hidup Nabi saw. Pembaca Sejarah umat Islam yang kurang jeli kadang memang bisa salah sangka karena persamaan nama itu. Nama lain yang terkadang tertukar ialah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib [sepupu Nabi saw, yang menjaga kuda baghal beliau saw saat perang Hunain] dan Abu Sufyan bin Harb, ayah Muawiyah. Keduanya penentang Nabi saw hingga masa Fath Makkah.)

[9] Musnad Ahmad ibn Hanbal, Kitab Baqi Musnad Sahabat Anshar, bab Lanjutan Musnad yang lalu, hadits 25855, Maktabah Alamul Kutub, Beirut, 1998.

Redaksi yang berbeda namun sama isinya ada di Shahih Muslim, Kitab Shalatnya Musafir dan Penjelasan tentang Qashar, bab shalat malam, orang yang meninggalkannya karena tidur atau sakit, yaitu, قَالَ قَتَادَةُ وَكَانَ أُصِيبَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ Hadhrat Aisyah ditanya; “Wahai Ummul mu-minin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!.’ ‘Aisyah menjawab; “Bukankah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab; “Benar,” Aisyah berkata; “Akhlak Nabi saw adalah Al-Qur’an.”

[10] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Haji, bab khotbah di hari-hari di Mina.

[11] Tafsir Ibn Katsir.

(Visited 90 times, 1 visits today)