Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Waqfi Jadid 2017

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

06 Januari 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

Manusia membelanjakan hartanya di dunia untuk menenteramkan hatinya dan untuk meraih tujuan pribadi dan di lain waktu untuk bersedekah dan menyumbang sesuatu. Tapi tidak ada satu kelompok atau jemaat di dunia ini pada masa ini yang anggota-anggotanya dan orang-orangnya di tiap kota (desa) dan di tiap Negara di dunia membelanjakan hartanya demi tujuan yang satu dan dalam keadaan bersatu di satu tangan (kepemimpinan) yang sama. Tujuan tersebut ialah untuk menyebarkan agama dan mengkhidmati sesama manusia. Demi itu, hanya ada satu Jemaat yang melakukan pekerjaan tersebut. Ia Jemaat yang didirikan oleh Allah Ta’ala demi tujuan ini, yaitu Jemaat Khadim dermawan yang mengikuti jejak Rasulullah saw, Jemaat Masih Mau’ud dan Imam Mahdi as yang mana janji dibebankan di pundaknya tanggung jawab kemenangan Islam di dunia, yaitu mengorbankan harta kekayaan untuk mengkhidmati agama dan mengkhidmati kemanusiaan sejak 128 tahun. Hal demikian karena Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendirikan Jemaat dengan pengertian infaq secara shahih dan pengorbanan dengan harta demi terang ajaran Al-Qur’an.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Saya berulangkali mewasiyatkan mengenai infaaq fii sabiliLlah. Ini adalah perintah dari Allah dan itu karena Islam pada saat ini dalam kondisi kemunduran. Saat saya menyaksikan kelemahan internal dan eksternal Islam dan menderita serangan-serangan dari agama-agama lainnya. Islam hampir-hampir dimangsa. Ia menderita kesulitan besar.

Inilah keadaan yang saya hadapi dan saya harus membuat kemajuan Islam. Jemaat ini telah Allah Ta’ala dirikan guna tujuan tersebut. Usaha sungguh-sungguh dengan mengajukannya dan memajukannya merupakan respon atas perintah Tuhan dan mengimplementasikan kehendak-Nya itu. Tuhan juga telah berjanji bahwa siapa yang memberi demi meraih ridha-Nya maka Dia akan menggantinya berlipat ganda. Di dunia dia juga akan mendapatkan banyak ganjaran. Adapun ganjaran di akhirat juga akan dia lihat betapa dimudahkannya kepuasan di sana. Ringkasnya, saya mengarahkan pandangan kalian semua pada pembelanjaan harta kalian untuk kemajuan Islam.”

Para sahabat beliau as tahu betul hal ini dan mereka mempersembahkan harta mereka demi kepentingan agama. Beliau as menyebutkan banyak contohnya bahwa para Sahabat beliau as maju dalam pengorbanan harta.

Ketika pembangunan Minaratul Masih mulai dikerjakan Hadhrat Masih Mau’ud as meminta Jemaat mengirimkan donasi untuk pembangunannya. Seperti diketahui bahwa beliau as meminta anggota untuk mengumpulkan dana yang banyak dalam rangka penerbitan buku dan tujuan-tujuan lainnya. Beliau as bersabda,

“Dalam hari-hari ini dua orang sahabatku yang mukhlis telah memberi candah untuk pembangunan Minaratul Masih ini, dan hal ini menimbulkan kegembiraan yang meluap. Salah seorang diantaranya adalah Tn. Munsi Abdul Aziz, yang pekerjaannya sebagai juru ukur tanah dari kabupaten Gurdaspur. Dalam kondisi sangat miskin beliau ikhlas memberi Rs. 100 untuk pembangunan ini. Saya kira uang Rs 100 itu dikumpulkannya dalam beberapa tahun, dan ini lebih layak mendapat pujian bahwa beliau orang yang sedemikian susah perekonomiannya pun rela menyumbang uang Rs.100, kebutuhannya sendiri tidak dihiraukannya.

Sahabatku yang kedua ialah Tn. Mia Shadi Khan yang sangat mukhlis dan menunjukkan kemurahan hati. Ia penduduk kota Sialkot. Pekerjaannya penebang kayu. Beliau juga telah menyumbang Rs. 150 untuk dana pembangunan itu, dan mengirimkan lagi Rs. 200 untuk tujuan yang sama. Padahal beliau ditaksir seluruh kekayaannya tidak lebih dari Rs. 50, namun ikhlasnya berkurban di jalan Allah begitu besar.  Dia mengatakan, ‘Karena kita hidup di hari-hari kekeringan dan depresi perdagangan lahiriah, jadi lebih baik untuk melakukan perdagangan agama. Oleh karena itu, saya telah mengirim semua yang saya punya.’”

Seperti telah disebutkan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam buku-buku beliau as dan Malfuzhat, ada beberapa contoh orang yang mukhlish yang berlomba dalam mengorbankan uang untuk misi agama. Jama’at Hadhrat Masih Mau’ud as  telah terbiasa untuk pengorbanan keuangan yang terus dilestarikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bahkan, warga negara lain yang jauh, yang baru saja bergabung dengan Jama’at, setelah mendengarkan kisah inspiratif orang-orang saleh Jemaat atau ketika mereka mempelajari pengorbanan yang diminta guna tujuan tertentu maka mereka menunjukkan contoh yang sangat mengejutkan. Mereka telah memunculkan dalam diri mereka pemahaman akan ruh pengorbanan setelah mendengar kalam Allah. Dibandingkan dengan umumnya orang-orang kaya, orang-orang yang berpenghasilan menengah dan yang miskin lebih banyak menunjukkan teladan pengorbanan. Mereka tidak memikirkan apa yang bisa didapat dari pengorbanan mereka yang sedikit itu. Perhatian mereka ialah firman Allah:

  وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

“Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka demi mencari keridaan Allah dan [demi] memperteguh jiwa mereka adalah seperti sebidang kebun yang terletak di tempat tinggi. Hujan lebat menimpanya dan ia menghasilkan buahnya dua kali lipat. Dan jika hujan lebat tidak menimpanya, maka gerimis [pun memadai]. Dan Allah melihat segala sesuatu yang kalian kerjakan.” (Surah al-Baqarah, 2:266)

Pengorbanan orang-orang miskin ini seperti seperti tetesan air gerimis hujan. Maka, hujan deras gerimis ini yang agama dapatkan dari pengorbanan mereka yang kecil tapi banyak itu, membawa banyak buah dengan karunia Allah. Kita melihat bahwa meskipun menjadi Jama’at miskin, kita bekerja untuk menyebarkan Islam dan mengkhidmati sesama makhluk yang dilakukan di berbagai tempat di seluruh dunia. Kemudian dengan karunia Allah, karya kita sangat diberkati-Nya yang bahkan mengherankan orang duniawi. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kalian (Jemaat) mampu melakukan banyak pekerjaan dengan keuangan terbatas?”

Hal ini karena, orang-orang yang telah membuat pengorbanan itu berusaha untuk menjadi orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur’an, يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ ‘orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk mendapatkan ridha Allah’ dan ketika tujuannya adalah untuk mendapatkan ridha Allah maka Allah memberkati sangat banyak pekerjaan tersebut dan memberikan buahnya. Sebagaimana telah saya sebutkan contoh-contoh pengorbanan seperti itu masih dilakukan saat ini juga. Bahkan, tak terhitung banyaknya. Saya ingin mengemukakan beberapa diantaranya.

Ketika seorang gadis yang tinggal ribuan mil jauhnya dari Qadian bergabung dengan Ahmadiyah, Islam sejati benar bagaimana ia mengubah arah pemikiran sehingga muncul persepsi pengorbanan. Dengarlah dari kata-katanya sendiri, (gadis ini tinggal di Uganda, bukan buta huruf tapi seorang mahasiswi)

“Pada pendaftaran universitas Juli lalu saya ingin membeli beberapa keperluan, dan jumlah uang saya tidak cukup. Sampai saat itu saya belum membayar candah. Saya pun membayar candah dengan sangat percaya bahwa Tuhan pasti memberi karunia pada saya. Saya merasa tentram karena telah membayar candah. Dan satu bulan kemudian ketika tiga hari tersisa mulai kegiatan universitas tersebut, bibi saya menghubungi ibu saya dan menanyakan soal pendaftaran saya masuk ke perguruan tinggi. Bibi meminta saya untuk mengunjunginya di rumahnya. Ketika saya pergi sore itu ke sana, ia menyerahkan sejumlah uang yang jauh lebih besar dari yang saya perlukan untuk membeli keperluan-keperluan di universitas, itu sepuluh kali lipat dari yang saya sumbangkan untuk Candah. Inilah bagaimana Tuhan menjawab doa-doa saya dan memberkati saya dari mana saya tidak pernah menyangkanya.”

Kemudian, Inspektur Jemaat di India, Tn. Kamaruddin mengatakan mengenai seorang Ahmadi di cabang Jemaatdi kota Manggiri di Negara bagian Kerala (India Selatan). Ia seorang pedagang kulit buatan. Laporannya sebagai berikut:

“Ketika saya pergi ke tokonya untuk menerima candah sesuai janjinya dalam Waqf-i-Jadid, ia berkata kepada saya: ‘Saya menderita di hari-hari ini kesulitan ekonomi yang besar karena uang saya banyak berada di orang-orang tapi mereka belum membayarkannya pada saya.’ Namun, meski demikian, ia menyerahkan sebuah cek dalam jumlah besar dan mengatakan, ‘Sekarang saya tidak ada uang tunai berdoalah kepada Allah supaya saya bisa membayar apa yang telah saya janjikan dengan cepat.’ Kemudian keesokan harinya ia menghubungi saya dan berkata, ‘Setelah saya memberikan sebuah cek, datang ke rekening saya sejumlah besar uang, sehingga ini dapat memberlakukan cek tersebut. Ini adalah berkat sumbangan candah saja yang mana Dia menyediakannya bagi saya begitu cepat.’”

Lalu ada contoh dari seorang janda di Tanzania, Afrika Timur. Amir Jemaat di sana telah menulis,

“Ketika Muballigh lokal di Oranga Town pergi ke ibu Aminah janda tersebut untuk menerima sumbangan Waqf-i-Jadid, dia mengatakan kepadanya dengan hati sedih: ‘Sekarang saya tidak punya apa-apa untuk bayar candah, dan jika tersedia saya akan berikan pada Anda langsung.’

Kemudian, sebelum Muballigh lokal tersebut sampai ke rumah, ia memanggilnya dan berkata:

‘Saya telah menerima sepuluh ribu shilling dari suatu tempat jadi saya memutuskan untuk membayar candah lebih dulu. Keperluan-keperluan pribadi akan saya urus nanti. Saya telah berjanji 25 ribu dan bila memungkinkan bagi saya jumlah yang tersisa akan saya serahkan juga kepada Anda.’

Setelah sepuluh menit, ia datang dengan sisa jumlah uang itu dan mengatakan:

‘Lihat bagaimana perlakuan Allah. Saya telah menyumbangkan sepuluh ribu di jalan Allah dan sebelum Anda sampai ke rumah, Allah telah kirim 35000. Sisa uang yang saya punya dua puluh ribu saja setelah pembayaran 15.000, kekurangan candah Waqf-i-Jadid. Ini adalah anugerah Allah murni dan berkat membayar candah.’ Dengan demikian, terjadi peningkatan keimanan.

Kemudian lihatlah bagaimana semangat pengorbanan pada warga suatu negara di Afrika Tengah yang bernama Kongo, saya berikan contoh, ia (Kongo) menulis,

“Tn. Saidi, Muballigh lokal kami dari cabang Kalon Bai mengadakan tur ke lima cabang Jemaat tetangga dan menyebarkan Tabligh. Meskipun situasi keamanan di Negara ini sulit hari ini, ia telah melakukan tur di semua desa. Untuk perjalanan itu, uang ia keluarkan dari sakunya sendiri, meskipun memburuknya kondisi keuangan. Selama tur, ia berhasil mengumpulkan 53 ribu mata uang lokal dalam dana Waqf-i-Jadid dan pembayaran di pusat. Ia berkata, “Saya Ahmadi lama dan harus menjadi teladan untuk orang-orang muda.” (ia baiat lima belas atau dua puluh tahun sebelumnya saja). Ia berusia lebih dari 60 tahun. Ia bertabligh dengan bersungguh-sungguh dan berdedikasi. Selain itu, ia menarik perhatian orang untuk kontribusi membayar candah.

Jadi, inilah ruh yang muncul di kalangan orang-orang ini setelah iman mereka kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka tinggal di daerah terpencil yang bahkan ada yang tidak ada jalan-jalan. Daerah luas yang ditutupi dengan air [daerah perairan], sehingga orang-orang mengadakan perjalanan dengan perahu.

Kemudian, lihatlah contoh yang disajikan oleh seorang Ahmadi baru di Benin, salah satu negara di Afrika Barat. Ia baru bergabung dengan Ahmadiyah belum satu tahun, tapi perhatikanlah tingkat pengorbanannya, dan seperti itu juga bisa menjadi contoh untuk Ahmadi lama. Muballigh kita, Tn. Muzaffar Ahmed dari sana melaporkan:

“Jemaat telah mendirikan cabang di desa Dhikamba di daerah Kartuni tahun ini. Sebagian besar orang di wilayah ini berprofesi sebagai penjual ikan untuk mendapatkan penghasilan. Muballigh lokal memberikan penjelasan mengenai Tahrik Jadid dan mengingatkan mereka untuk membayarnya. Seorang Ahmadi yang posisi keuangannya lemah menyambut segera dan menyumbangkan seribu Frank. Ia mengatakan: ‘Keuangan saya tidak begitu baik, tetapi saya tidak meninggalkan setiap program yang ditawarkan oleh Jemaat, yang saya bergabung dengan mereka.’”

Kemudian melihat pengaruh dari hubungan dengan khalifah dan efek pidatonya kepada orang-orang. Contoh yang demikian dikemukaan oleh seorang pria muda dari Burkina Faso, salah satu negara Afrika Barat. Orang itu bergabung dengan Jemaat belum lama tetapi telah mencapai tingkat kerohanian tinggi! Muballigh kita, Tn. Amin Buluj melaporkan:

“Saya menyampaikan khotbah Anda (Hadhrat Khalifatul Masih atba) yang akhir tahun 2016, yaitu khotbah Jumat tanggal 30 Desember. Dalam khotbah itu Anda menyebutkan soal akhir tahun dan awal tahun baru.  Beberapa Mubayyi’ baru kalangan muda dan orang yang sudah lama baiat menghadiri khotbah di daerah Bfora. Mereka pergi ke rumah mereka setelah mendengar khotbah. Lantas mereka  datang dengan membawa apa-apa yang tadinya akan mereka pergunakan untuk perayaan tahun baru. Dengan uang itu mereka membayar Candah Waqf-i-Jadid. Mereka berkata, ‘Khalifah telah memberikan petunjuk kepada kita perihal bagaimana menyambut tahun baru jadi kami membayar sumbangan sejumlah ini. Kami akan menyambut tahun baru dengan shalat Tahajud. Hampir 76.000 Frank mereka sumbangkan dalam satu hari.”

Kemudian perhatikanlah pengorbanan anggota cabang Jemaat di sebuah desa kecil di Pantai Gading, Tn. Mamadou, Muballigh lokal kita di daerah “Boa” menuliskan laporan,

“Orang-orang dari desa Niyaonggo bergabung dengan Jemaat di desa kami tahun ini. Belum satu tahun bergabung dengan Jemaat, kami telah menarik para Mubayyi’ baru untuk menyumbangkan dalam dana Tahrik-i-Jadid, Waqf-i-Jadid dan Jalsah Salanah. Kami mengatakan kepada mereka bahwa Khalifah memerintahkan para Ahmadi untuk menyumbangkan candah dalam dana tersebut. Saya berharap beberapa orang akan membayar sedikit sesuatu karena orang-orang di daerah ini sangat miskin. Tapi apa yang terjadi dalam praktek itu bertentangan dengan apa yang saya harapkan. Hampir semua orang di desa itu membayar candah. Selain itu, mereka bersedia menempuh perjalanan dalam jarak 600 KM untuk berpartisipasi dalam Jalsah Jemaat di Abidjan, ibukota negara.

Kemudian ada contoh lain dari pengorbanan dan bagaimana perlakuan Allah terhadapnya. Tn. Yusuf Osman, Muballigh kita di Tanzania mengatakan,

“Ada saudara Ahmadi dan salah satu kakinya lumpuh, dan karena cacat ini, ia tidak bisa bekerja. Hal ini diketahui bahwa listrik tidak tersedia di semua wilayah Negara itu, sehingga orang menjalankan panel surya kecil (pembangkit listrik tenaga sinar matahari berukuran kecil) di rumah mereka dan dengan itu satu buah lampu atau dua lampu kadang-kadang dapat hidup. Saudara ini mendapatkan nafkah dengan men-charge (mengisi) HP orang-orang dengan panel surya tersebut. Ia menyumbangkan candah secara teratur dari penghasilannya yang sedikit itu.

Suatu hari, saya (Muballigh kita itu) mengarahkan perhatiannya soal membayar candah kepada saudara kita ini. Ia berkata: ‘Saya telah mendapatkan dua ribu shilling dalam dua hari terakhir, dan membayar seluruhnya untuk candah.’ Saya mengatakan kepadanya: ‘Jika seluruh jumlah itu dibayarkan untuk candah, bagaimana bagaimana dengan anak-anak Anda di rumah?’ Dia menjawab: ‘Nanti Allah Yang akan memberi rejeki dan mengaturnya.’ Betul saja. Saya hanya perantara saja. Setelah itu banyak orang yang datang kepadanya untuk men-charge ponsel mereka, dan dengan demikian mendapatkan lebih dari jumlah yang dia bayarkan. Saudara kita ini berkata: ‘Tidakkah Anda melihat bagaimana Tuhan memberkati saya sebagai hasil dari candah yang telah saya sumbangkan Dia mengembalikannya dengan jumlah yang lebih dari yang saya sumbangkan.’”

Kemudian ada contoh lain dari Tanzania tentang bagaimana Allah memberkati harta pembayar candah dan memperkuat iman mereka. Putra salah satu saudara Jemaat di daerah Chianga di Tanzania menderita malaria berat. Ia punya 1.500 shilling untuk mengobatinya. Tepat saat itu sekretaris mal pergi ke rumahnya dan menemuinya. sekretaris mal mengarahkan perhatiannya pada membayar candah maka ia mengeluarkan dari sakunya seluruh uang itu segera dan menyerahkan kepada sekretaris mal.

Saudara ini mengatakan kepada,

‘Sejak di awal saya bertanya dalam hati dari mana uang itu datang untuk mengobati anak saya. Lalu saya berkata kepada diriku sendiri: ‘Semoga Tuhan membuat terjadi sesuatu setelah ini. Setelah beberapa waktu anak sulung saya mengontak saya dari kota lain dan ia berkata, “Saya telah mengirimkan kepada bapak delapan puluh ribu shilling.” Uang itu dia kirim dan saya terima tepat pada hari yang sama saya menangani pengobatan anak saya dan juga untuk keperluan lainnya.  Allah telah memberi saya jauh lebih banyak daripada yang saya sumbangkan dalam candah.’

Sekarang kejadian ini ia beritahukan kepada orang lain dan menggambarkan ke teman-teman lokal Ahmadiyah mengenai pentingnya menyumbangkan candah.

Lalu ada peristiwa lain yang terkait dengan pengorbanan seseorang lain dari Mali, sebuah Negara di Afrika Barat. Tn. Ahmad Bilal, Muballigh kita mengatakan,

“Kami memiliki salah satu saudara dari daerah “Skaso”yang bergabung dengan Jemaat pada 2013, dan kemudian dia menghadapi situasi keuangan yang sangat sulit. Ia berhutang dan ditambah lagi dengan kesulitan lainnya. Dia berada di ambang pensiun. Setelah bergabung dengan Jemaat, ia belajar tentang berkat-berkat membayar candah dan berjanji dengan diri sendiri bahwa ia akan selalu membayar candah bagi Jemaat. Ia telah tetap membayar secara teratur sebanyak yang dia bisa meskipun keadaan keuangan yang sulit. Lalu ia berkata suatu hari setelah periode waktu tertentu: ‘Allah telah membantu saya untuk melunasi seluruh hutang dengan cepat berkat candah. Semua masalah saya juga hilang. Pemerintah telah menaikkan jabatan kantor dan sebagai hasilnya pension saya tertunda secara otomatis.’ Sekarang ia menjadi anggota Nizham Washiyat.”

Tn. Munir Husain, Muballigh kita di Sierra Leone mengatakan: Seorang perempuan Ahmadi cabang komunitas Ahmadiyah di kota Bwage Bo berjanji untuk membayar empat ribu Leon, meskipun ia tidak memiliki cara yang mendapatkan pendapatan. Wanita itu telah menanam “Ksawa” (tanaman ini berakar panjang menyerupai ubi jalar dan dimakan di Afrika). Ia memperoleh mata pencaharian dengan penjualan itu. Ketika kedekatan waktu pembayaran donasi telah tiba, sekretaris mal datang kepadanya untuk mengambil candah. Tapi uang yang telah dikumpulkan oleh sang Ibu diambil salah satu dari anak-anaknya dan dihabiskan. Tentu saja ia sangat bersedih hati. Lihatlah sekarang kekuatan imannya. Anaknya bekerja di toko minuman keras – mungkin terpaksa untuk itu, atau mungkin tidak percaya pada keyakinan yang benar. Si anak yang bekerja di took minuman keras berkata, ‘Saya akan memberikan sejumlah uang sebagai pinjaman’, tetapi wanita itu menolak untuk menerimanya dengan tegas mengatakan, ‘Uang kamu tidak halal. Saya tidak bisa membayar candah dari uang tidak halal.’ Jadi, ini adalah kecemburuan iman.

Dan lihat bagaimana perlakuan Allah kepadanya. Jika tujuan seorang insan itu ialah ridha Tuhan maka tentu Dia akan memperlakukannya dengan mengherankan.”

Muballigh kita terus melanjutkan laporannya:

“Sementara itu, datanglah seseorang yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh wanita ini. Orang tak dikenal itu memberinya sepuluh ribu Leon bukan empat ribu Lyon. Wanita itu mengatakan: ‘Allah telah mengirim kepada saya sejumlah uang ini supaya saya membayar candah saya. Saya juga berjanji untuk membayar sepuluh ribu tahun depan.’”

Dari Sierra Leone juga Muballigh kita Tn. Uqail di daerah Bo menuliskan laporan bahwa ada saudara yang baru-baru ini berbaiat di daerah Bo. Ia telah lama dalam sengketa di pengadilan dengan salah satu orang soal sebidang tanah. Lawannya punya pengaruh yang besar. Tidak ada tampak tanda kemenangan saudara ini terjadi dengan cara apapun. Sementara itu, di masjid kita dia mendengar mengenai berkat-berkat pengorbanan keuangan dan mengatakan setelah itu:

‘Ketika saya mendengar tentang berkat-berkat pengorbanan keuangan, saya memutuskan untuk membayar candah- ia adalah seorang Kristen sebelum bergabung dengan Jemaat- dengan berharap masalah sengketa tanah akan diselesaikan berkat membayar candah tersebut. Saya pun menyumbangkan candah sebanyak yang saya bisa, dan kemudian tak lama setelah itu pengadilan mengeluarkan keputusan yang mendukung saya padahal tadinya tampak mustahil secara kasat mata.”

Saudara itu mengatakan bahwa ini adalah berkat pengorbanan keuangan.

Tn. Syahid, Muballigh kita di Kongo Kinshasa berkata:

“Ada seorang wanita yang aktif di perdagangan dalam skala kecil berkata, ‘Tampaknya akibat yang keadaan yang berlaku di negara ini, bisnis saya tidak akan menguntungkan, tapi saya membayar sumbangan dalam Dana Tahrik-i-Jadid di awal tahun. Di benak saya melakukan perdagangan dengan Allah tidak akan kehilangan untung. Perdagangan tersebut mendapat untung dengan karunia Allah. Tidak pernah menderita kerugian terlepas dari kondisi yang berlaku di negara ini.’”

Pengorbanan orang Ahmadi memengaruhi orang non-Ahmadiyah dan membuka jalan untuk tabligh juga. Tn. Amir Jemaat di Bangladesh mengatakan:

“Saya bertabligh kepada tiga orang, tetapi salah satu dari mereka cenderung untuk baiat meskipun banyak upaya. Jumat lalu, ketiganya datang ke masjid kami dan kami menarik perhatian mereka dalam khotbah tentang sumbangan dalam dana Waqf-i-Jadid. Setelah khotbah, orang-orang berdiri dalam antrian untuk melakukan donasi. Ketika tiga bersaudara ini melihat adegan ini, mereka mengatakan: ‘Para ulama kami sampai tenggorokannya kering saat mereka bersikeras mendesak orang-orang (jamaahnya) untuk membayar donasi (iuran atau infaq), namun, orang-orang tidak membayar, tapi di sini dengan diumumkan sangat singkat lalu orang-orang berdiri dalam antrian untuk pembayaran. Ini adalah semangat Islam yang benar.’

Setelah menonton adegan ini, mereka pun baiat dan membayar candah dalam Dana Waqf-i-Jadid.”

Tn. Abdullah Muballigh lokal di sebuah daerah di Benin mengatakan,

“Saya mengunjungi cabang Jemaat di Papaza untuk penggalangan dana lalu saya bertanya kepada seorang Mubayyi’ baru, Tn. Al-Haji Abu Bakar, ‘Di mana dan bagaimana untuk membelanjakan sumbangan ini? Kita tidak tahu sistem keuangan kita dengan baik.’ Kemudian saya memberitahu bahwa masjid Ahmadiyah Muslim tengah dibangun dengan dana candah ini, penerbitan terjemahan Al-Quran dan menerbitkan buku-buku agama, juga menciptakan sumbangan untuk sekolah-sekolah dan panti asuhan. Singkatnya setiap sen dari sumbangan ini digunakan murni untuk misi agama dan filantropi (kedermawanan kemanusiaan).

Ketika Pak Abu Bakr mendengar kata-kata ini, dia berkata,

‘Ada seorang Sheikh datang kepada saya untuk mengambil Zakat dan sedekah, tapi dia tidak pernah mengatakan kepada saya ke mana ia habiskan uang itu.’ Dan kemudian hal itu menyebabkan ia bersegera untuk menyumbang, yang dia lakukan dengan hormat dan percaya. Ia mengatakan, ‘Saya akan berpartisipasi di semua pos candah Jemaat bahkan akan membalap/berlomba terdepan di sana.’”

Ringkas kata, kita melihat bahwa Allah memberikan kepada Jemaat pada masa ini juga orang-orang yang proaktif dalam pengorbanan. Seolah-olah baru baiat kedalam Ahmadiyah yang bersamaan dengan itu lahir dalam waktu singkat di hati mereka gejolak keprihatinan berkorban untuk agama Allah. Tetapi, di sisi lain, itu harus menarik perhatian orang-orang yang hidup dalam situasi dan kondisi yang lebih baik, dan Tuhan menganugerahi mereka kelapangan rejeki, tinggal di negara-negara yang kaya sementara pengorbanan mereka sedikit. Dalam hal apapun, tidak ada keraguan bahwa banyak dari mereka yang diam di sini berkorban secara luar biasa tapi di sisi lain, ada banyak orang-orang kaya di mana-mana di dunia yang tidak memperhatikan hal ini sebagaimana seharusnya mereka perhatikan hal ini.

Seperti telah menjadi kebiasaan khotbah pertama tiap tahun untuk mengumumkan tahun baru Wakaf-i-Jadid, setelah menyampaikan beberapa peristiwa dari koleksi yang banyak, saya mengumumkan tahun ke-60 dari Wakaf-i-Jadid.

Saya juga menguraikan berkat-berkat dari tahun lalu, apa-apa saja yang kita terima. Tahun Waqf-i-Jadid berakhir pada 31 Desember. Tahun ke-59 berakhir pada tanggal 31 Desember 2016. Dengan karunia Allah, sesuai dengan laporan yang kami terima sekarang, bagian-bagian Jemaat di seluruh dunia menyajikan pengorbanan sebesar £ 8.020.000 (delapan juta dua puluh ribu Pound Sterling) untuk Waqf-i -Jadid. Jumlah ini adalah £ 1.129.000 lebih dari tahun lalu.

Pakistan sekali lagi peringkat teratas dari seluruh Negara. Dalam hal peningkatan pengorbanan yang signifikan berdasarkan mata uang lokal tahun lalu, ialah Ghana di Afrika Barat, kemudian Jerman, diikuti Pakistan dan Kanada. Pengorbanan yang signifikan diantara negara-negara Afrika yakni Mali, Burkina Faso, Liberia, Afrika Selatan dan Benin.

Urutan negara-negara 10 besar setelah Pakistan dalam hal total candah Waqf-e-Jadid ini pada tahun 2016 adalah UK (Inggris Raya), Jerman, Amerika Serikat, Kanada, India, Australia, satu Jemaat di negara Timur Tengah, Indonesia (ke-9 dunia), satu Jemaat di negara Timur Tengah dan kesepuluh Ghana. kemudian Belgia dan Swiss.

Dalam hal pengorbanan per kapita/orang, beberapa negara di urutan pertama adalah Amerika Serikat, Swiss, Finlandia, Australia, Singapura, Prancis, Jerman, Trinidad, Belgia dan Kanada. UK, disamping teratas [setelah Pakistan] dalam total kontribusi, juga lebih banyak dalam hal kontribusi per kepala/per kapita.

Dengan karunia Allah, jumlah peserta dari gerakan ini pada tahun ini (2016) ialah 1.340.000 orang peserta. Tambahannya 105.000 lebih dibanding tahun lalu. Dalam peningkatan jumlah pembayar candah negara-negara yang berada di urutan pertama yaitu Kanada, India dan Inggris dan Amerika; dan di Afrika ialah Guinea Conakry, Cameroon, the Gambia, Senegal, Benin, Niger, Kongo Kinshasa, Burkina Faso dan Tanzania di Africa.

Nigeria tidak melakukan upaya yang cukup baik meski jumlah kontributor menurun di sana. Jumlah total kontributor [Waqf-i-Jadid sedunia] akan mencapai 1.400.000, bukan 1.340.000 orang peserta jika Nigeria tetap menjaga tingkat jumlah kontributor seperti tahun lalu. Itu berarti bahwa kelambanan telah terbukti ada di sana atau laporan belum disiapkan dengan baik atau laporan belum dikumpulkan secara memadai. Bicara soal keikhlasan anggota Jemaat, tiada yang kurang baik itu di Afrika atau di Negara manapun. Mungkin mereka belum diberi pendekatan dengan benar oleh para pengurus. Kelemahan ini umumnya dari pihak sekretaris yang kendur [tidak aktif bekerja].

Seorang anggota dari Rabwah menulis kepada saya bahwa ketua lokal datang kepadanya dan mengatakan bahwa ia tidak membuat janji Waqf-i-Jadid yang dampaknya ia tidak melakukan penunaian janji dengan membayarnya. Dia mengatakan, “Bagaimana bisa? Saya melakukan pembayaran candah secara teratur.” Hal itu terjadi karena sekretaris itu begitu malas sampai-sampai pada derajat tidak menagih janji dari siapa pun anggota Jemaat yang dampaknya mereka tidak membayar pelunasannya sesuai janji. dan juga tidak memiliki daftar kumpulan pejanji yang dibuat dengan benar.

Ini menjadi jelas bahwa kadang-kadang anggota terlewatkan untuk berpartisipasi karena kelalaian/kemalasan dari para sekretaris. Saya berpikir bahwa hal yang sama telah terjadi di Nigeria [yaitu penurunan keaktifan pengurus mengambil janji dan menagih janji pelunasan]. Telah ada penurunan jumlah kontributor di AS juga padahal tidak ada alasan untuk penurunan sana. Tidak ada alasan untuk Nigeria karena jumlah harus meningkat. Tapi, seperti yang saya sebutkan, Amerika Serikat telah meningkat per orang dalam pengorbanan secara signifikan dan berada di peringkat pertama. Semua negara harus memperhatikan terhadap jumlah kontributor yang menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun lalu dan mengidentifikasi kelemahan mereka, itu bukan pada anggota tapi di para pengurus.

Jemaat pertama di Pakistan dalam hal pembayar candah Waqf-i-Jadid dari kalangan dewasa yakni Lahore, disusul Rabwah dan Karachi. Dari tingkat daerahnya ialah Islamabad, Gujranwala, Gujrat, Multan, Umarkot, Haiderabad, Peshawar, Mirpur Khas, Okara and Dera Ghazi Khan. Jemaat pertama di Pakistan dalam hal pembayar candah bagi Athfal yakni Lahore, diikuti Rabwah, Karachi, Sialkot, Rawalpindi, Gujranwala, Gujrat, Haiderabad, Dera Ghazi Khan, Kotli (Azad Kashmir), Mirpur Khas, Multan, Bahawalnagar. Dari tingkat daerahnya ialah Islamabad, Faisalabad, Gujranwala, Gujrat, Hyderabad, Dera Ghazi Khan, Multan, Kotli (Azad Khasmir), Mirpur Khas dan Peshawar.

Dilihat dari jumlah dana yang terkumpul di Inggris, 10 Jemaat yang terdepan dalam Waqf-e-Jadid ialah Worster Park, Masjid Fazl, Birmigham South, Putney, Rainspark, Bradford, New Malden, Glasgow, Birmingham West, Jillingham, and by regions, London B, London A, Midlands, Northeast, South. Dari segi wilayahnya ialah London B, London A, Midlands, North East, dan South.

Dilihat dari jumlah dana yang terkumpul di Jerman, yang teratas level wilayah ialah Hamburg, lalu Frankfurt, Wiesbaden, Morvolden, Waldof dan Diedsonbad. Sepuluh kepengurusan lokal di Jerman dalam hal jumlah penerimaan total: Rodermark, Nawes, Fredburg, Neda, Floszheims, Hanau, Koblez, Langnez dan Mahdiabad.

Jemaat-Jemaat terdepan di Amerika ialah Silicon Valley, Seattle, Detroit, Silver Spring, Central Virginia, Los Angeles East, Dallas, Houston, Philadelphia dan Laurel.

Wilayah-wilayah terdepan di Kanada Calgary, Peace Village, Vaughn, Vancouver, Mississauga. Sedangkan Jemaat-Jemaat terdepannya ialah Durham, Hamilton East, Saskatoon South, Saskatoon North, Windsor, Lloydminster, Ottawa West, Ottawa East, Barrie dan Regina. Beberapa Jemaat Kanada yang terdepan dalam hal pengorbanan dari Athfal ialah Durham, Bradford, Saskatoon South, Saskatoon North, Lloydminster, and regions are Calgary, Peace Village, Brampton, Vaughn, Weston.

Saya sebelumnya juga telah menarik perhatian bahwa negara-negara lainnya yang merupakan Jemaat besar hendaknya bekerja meniru apa yang telah dilakukan dengan cara yang bagus dan pengaturan yang teratur oleh Jemaat Kanada dalam hal pengorbanan Waqf-e-Jadid oleh Athfal. Sementara pada Waqf-e-Jadid ada daftarnya bagi Athfal, sedangkan Tahrik Jadid tidak ada.

Sepuluh Wilayah yang terdepan di India ialah Kerala, Jammu/Kashmir, Tamil Nadu, Karnataka, Telangana, Orissa, West Bengal, Punjab, Uttar Pradesh, Delhi dan Maharashtra. Sepuluh Jemaat yang terdepan di India dalam hal ini ialah Kerwalai, Kalicut, Hyderabad, Pathaparyam, Qadian, Kanul Town, Calcutta, Kangol, Bangalore, Salore dan Pagardi.

Castle Hill ialah yang teratas di Australia, disusul Brisbane, Logan, Azam Park, Perwik, Azith, Adelaide South, Lampton, Canberra, Longwalk, Adelaide West

Semoga Allah Ta’ala menurunkan keberkatan-Nya yang tak terhingga kepada jiwa dan harta para pembayar candah ini. Semoga para pengurus dapat bekerja lebih aktif supaya mereka dapat melaksanakan pekerjaannya dengan benar sesuai kewajiban yang selayaknya mereka tunaikan serta berusaha mengobati kelemahan-kelemahan, khususnya jumlah peserta dapat ditingkatkan. Memang benar jumlah total bertambah. Kita juga perlu setiap orang berpartisipasi meski membayar dalam jumlah kecil..

Sekarang, setelah sholat Jumat dan Ashar [dijamak], saya akan shalat jenazah gaib untuk dua almarhum/ah; yang pertama adalah pemakaman Ibu Asma Tahira, istri Tn. Mirza Khalil Ahmad. Beliau meninggal dunia di Kanada pada 23 Desember 2016 pada usia 79 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون

Beliau lahir di daerah “Bhagalpur” pada bulan Juni 1935 dan nama ayahnya Mawlawi Abdul Baqi dan ibunya Safia Khatun. Ayahnya yang bekerja di sebuah pabrik milik Jemaat di “Canary”, juga ia sebagai ketua kelompok, “Canary” juga.

Kakek almarhumah, Tn. Hazrat Ali Ahmed berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan Sahabat. Yang terhormat Amatun Nur menceritakan peristiwa baiatnya,

“Saya ingat ia masih seorang mahasiswa di kelas sembilan ketika ia datang ke Qadian. Selama perjalanannya ke Qadian di stasiun kereta api di Amritsar bertemu dengan Maulwi Mohammed Hussein Bataloy yang mencoba untuk menghentikannya. Hazrat Ali Ahmad berkata kepadanya: ‘Ibu saya telah mengirim saya ke Qadian untuk membahas masalah setelah sempurnanya tanda gerhana matahari dan bulan. Kebenaran Tn. Mirza didukung oleh perilaku anda ini. Sebab jika ia mengklaim secara bohong itu takkan mungkin seorang syekh seperti Anda membuang-buang waktu banyak untuk itu. Terganggunya Anda dan membuang-buang waktu dalam hal ini adalah bukti yang jelas dari kebenaran Tn. Mirza.”

Asma Tahira menikah pada tanggal 6 Januari 1964 dengan Mirza Khalil Ahmed. Sebagaimana telah saya sebutkan bahwa beliau adalah istri dari Mirza Khalil Ahmad, yang merupakan putra Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan cucu Khalifah pertama, yang mana beliau dilahirkan oleh Shahibzadi Amatul Hayyi.

Allah telah mengaruniai Almarhumah Asma Tahira untuk mengkhimati Jemaat sebagai sekretaris umum, sekretaris dhiyafat di Lajnah Imaillah Markaziyah. Beliau juga anggota Majlis Rancangan internasional bidang tabligh lalu berkhidmat di level lokal juga. Ayahnya meninggal pada tahun 1975. Beliau tinggal kemudian dengan ibunya. Ibu Asma Tahira adalah istri paman saya. Saya kenal beliau secara pribadi. Kerabatnya dan kerabat suaminya, saudara dan lain-lain mempunyai ikatan yang kuat dalam kecintaan dan harmoni. Saya telah mengunjunginya di hari-hari sakitnya di Kanada dalam lawatan saya terakhir. Ini merupakan indikasi kerendahan hatinya bahwa tatkala beliau tidak mampu untuk mobilitas/bergerak karena keparahan sakitnya, bagaimanapun, beliau mengatakan pada keluarganya: “Tolong siapkan pakaian saya biar saya siap saat Khalifah mengundang saya untuk bertemu dengannya.” Bukannya mengirim pesan kepada saya, “Datanglah kunjungi saya!” Beliau karena tingkat kerendahan hati malahan sangat berharap agar saya yang memanggilnya untuk bertemu. Saya telah pergi untuk menemuinya dan beliau sangat senang dengan pertemuan itu.

Almarhum tidak memiliki anak, sehingga merawat salah satu putri saudarinya sejak si anak berusia lima tahun. Anak perempuan ini mengatakan:

“Beliau telah memelihara saya seperti anaknya sendiri. Beliau telah melengkapi sepenuhnya perlengkapan untuk pernikahan saya. Tidak ada kekurangan dalam mengasuh saya sama sekali. Setiap kali saya merasa khawatir dan bersedih, beliau berkata, ‘Berdoalah dan Allah akan menghiburmu.’ Beliau sangat beriman untuk berdoa. Beliau menyayangi anak-anak saya dengan penuh kecintaan, fokus perhatian pada pendidikan mereka. Beliau biasa menasehati saya, ‘Bawalah selalu anak-anak ke masjid karena jika engkau membuat mereka sibuk dan senang ke masjid maka tentu mereka tidak akan rusak dan tidak akan pernah tersesat, insya Allah.’ beliau juga menasehati saya untuk mengeratkan ikatan mereka dengan Jemaat dan mengikuti Nizham al-Washiyat.”

Beliau memperlakukan pembantu rumah dengan sangat lembut. Ada pembantu di rumahnya. Beliau menyarankan gadis itu yang merupakan putri adiknya: “Jagalah pembantu ini setelah saya. Jangan keluarkan ia dari rumah yang mana saya yang memberinya.” Semoga Allah memperlakukannya dengan pengampunan dan rahmat-Nya. Amin

Jenazah yang kedua adalah Tn. Caudri Hamid Nasrullah Khan, yang meninggal pada 4 Januari 2017 di Lahore pada usia 83 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Kakeknya jalur ayahnya ialah Chaudhry Nasrullah Khan Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, dan kakeknya dari jalur ibunya ialah Hadhrat Caudri Muhammad Fatah Sayyal yang juga Sahabat. Ayahnya, Caudri Mohammad Abdullah Khan, berkhidmat sebagai Amir Jemaat di Karachi untuk jangka waktu yang panjang. Tn. Caudri Zafrullah Khan adalah paman (saudara ayah) dan sekaligus mertuanya karena almarhum menikah dengan putrinya, Amatul Hayyi pada tahun 1964. Mereka dikaruniai putra/I yaitu Tn. Mustafa Nasrullah Khan, Tn. Ibrahim Nasrullah Khan (dan ia meninggal pada usia enam belas tahun) dan Ny. Aisha Nasrullah. Dan istri almarhum memiliki dua anak dari mantan suaminya, Dr. Ijaz ul-Haq, yaitu Tn. Mohamed Fadlul Haq dan Tn. Ahmed Nasrallah, yang terakhir ini telah disyahidkan pada 5 Februari 1994 di Lahore. Jadi, almarhum mempunyai dua putra dan seorang putri yang masih hidup. Almarhum membesarkan anak-anak istrinya dari mantan suaminya yang dulu dengan kecintaan dan kebaikan seolah-olah mereka seperti anaknya sendiri.

Hadhrat Khalifatul Masih III rha menjadikan beliau Amir bagi Jemaat kita di Lahore pada tahun 1975, dan telah memegang jabatan itu selama 34 tahun, dengan karunia Tuhan. Pada tahun 2009, saya merasa kesehatannya tidak begitu baik, saya menyuruhnya untuk memberitahu saya setelah mempelajari masalah ini dengan baik. Ia berkata kepada saya, ‘Saya melihat lebih baik untuk meminta maaf [tidak lagi menduduki] jabatan keamiran karena kesehatan saya tidak memungkinkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi dari keamiran yang banyak dengan baik.’

Ditugaskanlah setelahnya seorang Amir baru, Sheikh Munir Ahmed, yang menjadi martir/syahid pada tahun 2010, yang menjabat Amir di tahun 2008 atau 2009 hingga 2010. Selama kondisi sulit yang dihadapi Jemaat pada tahun 1974 beliau belum sebagai Amir Jemaat tetapi Khalifah ketiga telah memberikan banyak pekerjaan kepadanya, dan secara sangat baik ia menyelesaikannya. Sebagaimana Almarhum memperlihatkan banyak layanan terpuji di Mahkamah Agung di komisi penyelidikan di bawah pimpinan Qadhi Samdani hakim.

Dalam masa ujian pada tahun 1984 dia memberikan berbagai layanan Jemaat selama kasus pengadilan di Pengadilan Syariah di Lahore. Almarhum mendapatkan kehormatan bersahabat dengan Khalifah keempat rha selama hijrah beliau dari Rabwah, Pakistan ke London. Bahkan, beliau yang mengendarai kendaraan Khalifah rha dari Rabwah ke Karachi pada apa yang saya ingat selama perjalanan ini.

Kita telah memperluas Darudz Dzikr, Masjid kita di Lahore selama keamiran almahum, bahkan masih berkembang saat ini. Selamat itu dibangun banyak masjid yang indah di Lahore. Sebagaimana Jemaat kita di Lahore diberi taufik melakukan pengorbanan keuangan yang brilian di bawah keamiran beliau. Almarhum menjabat sebagai ketua Yayasan Fadhl Umar 32 tahun.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, dan Tuhan memberkati beliau berupa persahabatan dengan Khalifah keempat. Beliau menemani Khalifah selama hijrah dari Pakistan ke Inggris pada tahun 1984. Ian Adamson [penulis buku terkenal di Inggris], telah menyatakan ini dalam bukunya juga.

….

Pak Cornel Naim Siddiqui, Naib Amir Jemaat kami di Lahore menulis:

“Jika almarhum ingin menceritakan kenangan bersama para Khalifah yang dihormati maka akan meluncur terus dan tidak berhenti. .. Beliau telah membuat hibah kepada orang miskin, tidak hanya namanya, tapi atas nama istrinya, ayahnya dan saudaranya Hazrat Chaudhry Zafarullah Khan. Setiap kali menerima permintaan dari beberapa orang miskin beliau menulis itu, ‘Penuhilah keperluannya atas nama saya atau istri saya atau yang lainnya.”

Ketulusan saudara ini saat menulis bahwa Caudri Hamid Nasrullah Khan adalah sejarah Jemaat kami di Lahore. Allah telah memberinya kapasitas kepemimpinan yang berkualitas, dan secara fasih digunakan juga.

Muballigh Nasser Shams, sekretaris Fadhl Umar menulis,

“Almarhum Amir ditugasi sebagai ketua lembaga ini setelah kewafatan Hazrat Muhammad Chaudhry Zafarullah Khan pada tahun 1986. Tuhan mengaruniainya taufik untuk layanan ini selama 32 tahun berturut-turut hingga kewafatannya. Beliau orang yang penyayang, banyak simpati, lemah lembut dan ramah. Ruang lingkup hubungan kenalannya sangat luas, dan ia menggunakannya untuk melayani masyarakat selalu. Beliau hamba yang setia dan pengorban bagi Jemaat. Beliau sulthanan nashira bagi Khilafat. Beliau rasa kehormatan dan setia kepada para Khalifah juga. Beliau menghadiri Jalsah-Jalsah lembaga Fadhl Umar, meskipun ada penyakit dan kelemahannya. Pendapatnya tepat, cepat memahami, memecahkan dilema berbagai hal dengan karunia kecerdasan tajam dari Allah, dan ia mengambil keputusan setelah berkonsultasi.”

Tn. Mirza Nadeem menulis,

“Almarhum mengatakan kepada saya, ‘Ketika saya ditunjuk sebagai Amir Lahore pada tahun 1975, saya datang ke hadapan Khalifah ketiga dengan rasa khawati. Saya mengirim pesan kepada beliau untuk meminta pertemuan. Beliau memanggil saya dan mengatakan, ‘Apa yang ada di belakang Anda?’ Saya berkata, ‘Saya bukan orang yang tepat untuk kedudukan ini (Amir).’ Khalifah ketiga mengatakan, ‘Waktu makan telah datang. Ayo, Anda makan lebih dulu.’ Almarhum mengatakan: ‘Saya terus mengulangi mengatakan ‘Saya bukan orang yang tepat untuk kedudukan ini (Amir).’ Akhirnya, beliau rha meletakkan tangannya di pundak saya berkata: ‘Khalifah yang telah menjadikan Anda seorang Amir. Seorang Khalifah Allah lebih tahu dibandingkan Anda.’ Setelah itu, saya menghadapi banyak kesulitan, tapi saya tidak pernah khawatir sama sekali. Allah telah membuat semua pekerjaan saya terselesaikan berkat doa khalifah.”

Semoga Allah mengistirahatkannya dengan keluasan rahmat dan pengampunan-Nya, meningkatkan derajatnya dan memberi taufik kepada anak-anaknya sesuai dengan kesetiaan dan pemenuhan tugas terhadap Khilafat dan Jemaat dan menghiasi mereka dengan kebaikannya selalu. . آمين Amin


Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab) www.alIslam.org (rekaman audio berbahasa Indonesia dengan penerjemah Mln. Mahmud Ahmad Wardi)