Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Va.t.b.a.

Tanggal 9 Wafa 1389 HS/Juli 2010

Di Masjid Baitul Futuh, London.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه،

وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ

[ آمين ]

Paparan mengenai kenangan kebaikan para syahid tengah berjalan. Dalam rangkaian ini yang pertama akan saya sebutkan ialah

(65.) yang mulia Ihsan Ahmad Khan syahid putra yang terhormat Wasim Ahmad Khan. Buyut almarhum syahid[1] Hadhrat Munsyi Diyanat Khan ra merupakan sahabat Hadhrat Masih Mauud as. Beliau adalah penduduk Narah kabupaten Kangra dari keluarga Yusuf Zai. Dua saudara buyut almarhum syahid, Hadhrat Syahamat Khan ra dan Hadhrat Munsyi Amanat Khan ra baiat pada tahun 1890 dan bergabung dengan Jemaat. Ia masuk dalam sahabat yang 313. Yang mulia Zahir Ahmad Khan, mubalig Jemaat yang dewasa ini berada di London merupakan paman almarhum syahid. Sedangkan saudara almarhum yang lainnya Nadim Ahmad Khan sedang belajar di Jamiah. Almarhum syahid lahir pada tahun 1984. Sejak dua tahun lalu beliau bekerja di Syeezan International. Sedangkan di Jemaat Ahmadiyah wilayah Lahore beliau sebagai sekretaris (Ini tidak di ketahui bahwa Jemaat mana ini) Beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai sekretaris Waqf-i-Jadid. Pada waktu syahid umur beliau 26 tahun dan beliau syahid di mesjid Daarudz Dzikr, Ghari Syahu. Pada hari kejadian pagi harinya sesudah mandi beliau melakukan shalat dan membaca Al-Quran dan sebelum pergi untuk bekerja beliau memberitahukan keluarga bahwa shalat Jumat ini beliau akan lakukan di mesjid Daarudz Dzikr. Dan bersama itu dia memberitahukan bahwa Jumat kemarin ia tidak shalat Jumat. Beliau mengangkat anak perempuannya penuh sayang kemudian pergi. Kurang lebih pada jam 13.35 (waktu setempat) dari mesjid Daarudz Dzikr beliau memberitahukan ibunya melalui telepon bahwa teroris datang ke mesjid. Beliau menenangkan sang ibu, dan kemudian tidak bisa lagi melakukan kontak. Pada saat para teroris melemparkan granat, beliau terluka terkena slongsong granat. Ketika tersebar isu yang tidak benar bahwa teroris telah terbunuh dan orang-orang keluar (dari tempat persembunyian) maka pada saat keluar akibat terkena pecahan granat beliau menjadi syahid. Beliau dimakamkan di Rabwah. Sebelum pemakaman, paman beliau menyalatkan jenazah beliau di rumah beliau dimana banyak orang-orang bukan Ahmadi juga ikut di dalamnya. Ibu almarhum syahid melihat dalam mimpi sebelum kesyahidan bahwa putranya syahid dan jenazahnya diletakkan di teras rumah lalu, “Dengan penuh kasih sayang saya mengusap muka anak saya. Saya bertanya apa yang telah terjadi? Saya terbangun karena takut akan mimpi itu. Kemudian saya memberi sedekah (sebagai sarana guna menyingkirkan bala bencana-red.).” Sesudah almarhum syahid di tempat itulah jenazah diletakkan persis seperti terlihat dalam mimpi ibunya. Beberapa hari sebelum syahid, almarhum syahid sendiri bermimpi dan terbangun dalam keadaan terperanjat gelisah. Kepada sang ibu, beliau memberitahukan bahwa beliau mengalami mimpi yang sangat buruk. Kemudian beliau juga bersedekah.

Almarhum syahid merupakan sosok yang sangat jujur dan berfitrat baik. Beliau selalu bersikap simpati kepada orang lain dan mengkhidmati ibu bapak dengan penuh perhatian. Paman beliau  memberitahukan kepada saya, “Manakala pulang dari kerja terlebih dahulu ia menyampaikan salam kepada ibunya dan kemudian pergi kepada anak istrinya di rumah. Setiap hari pada waktu malam ia memijit bapaknya lalu tidur. Dia banyak mengkhidmati ibu bapak dan telah menunaikan hak pengkhidmatan. Setelah satu setengah tahun menikah, beliau memiliki anak perempuan Waqf-e-Nau yang (saat ini) berumur empat bulan. Semoga Allah meninggikan derajat beliau.”

Paparan selanjutnya adalah yang terhormat Munawar Ahmad Qaishar syahid putra Mia Abdurrahman. Keluarga almarhum syahid berasal dari Qadian yang sesudah berdiri Pakistan pindah ke Gujrah. Sesudahnya, beliau pindah ke Lahore. Abdul Aziz, seorang makelar merupakan sosok yang pertama bai’at dalam keluarga beliau. Beliau adalah sahabat Hadhrat Masih Mauud a.s. Kakek almarhum syahid ini merupakan sepupu Mia Dost Muhammad. Kakek beliau dan anggota keluarga lainya bai’at pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih II r.a.. Almarhum syahid berprofesi sebagai fotografer. Kurang lebih sejak 20 tahun yang lalu beliau menjalankan tugas jaga di (Main Gate) pintu gerbang utama Daarudz Dzikr. Pada saat syahid umur beliau 57 tahun. Beliau syahid di mesjid Daarudz Dzikr. Pada saat tugas di pintu gerbang utama (sebelum kejadian) beberapa kali beliau pernah mengatakan, “Jika ada yang menyerang maka penyerang hanya dapat maju dengan harus melewati mayat saya.” Pada hari kejadian kurang lebih jam 11 beliau sampai di tempat tugas. Beliau berdiri di barisan terdepan tiba-tiba pada jam 13:40 (waktu setempat) para teroris begitu datang langsung melepaskan tembakan. Satu teroris beliau tangkap dengan kuat sementara (teroris) yang lain melepaskan tembakan mengarah kepada beliau hingga beliau gugur di tempat. Istri beliau beberapa bulan sebelumnya melihat dalam mimpi bahwa ada sebuah keranda jenazah yang cukup tinggi dari ukuran biasa dan di dekatnya terletak sebuah bangku tempat duduk. Seorang keluarganya meletakkan kaki di atas bangku lalu tidur di dalam keranda jenazah tersebut. Saat ditanya kenapa terlentang (di keranda mayat) padahal dalam keadaan segar bugar, (peristiwa ini tertinggal di tengah-tengah dari keterangan selengkapnya). Sang istri menyampaikan, “Sebelum pergi shalat Jumat, saya memberikan baju berwarna keemasan yang baru saya setrika kepadanya. Sambil memberikan baju tersebut saya katakan, ‘Hari ini tuan tengah mengenakan baju saat pernikahan.’ Karena itu sambil mempersiapkan dengan sungguh-sungguh ia pergi untuk menunaikan shalat jumat. Ia memiliki kebajikan khusus yang tidak terhitung; sosok yang sangat konsekuen pada tanggung jawab; tidak pernah mengeluh pada siapa pun dan teratur dalam shalat. Ia memiliki bisnis foto kopi. Bila para mahasiswa dari universitas terdekat datang untuk memfotokopi maka beliau menyimpan uang tanpa menghitungnya. Ia biasa mengatakan, seringkali pada anak-anak uang itu tidak juga cukup karena itu saya tidak menghitungnya. Kadang-kadang orang-orang di depan toko menempelkan poster bernada hasutan di tokonya. Ia tidak bertengkar dengan mereka namun sesudahnya ia membuka poster tersebut. Ia sering mengatakan pada anak-anaknya, ‘Jika ada yang melakukan tindak kekerasan atau kezaliman terhadapmu maka pulanglah dengan diam-diam. Jika kamu menanggapinya, artinya kamu menyelesaikan urusanmu sendiri. Jika kamu melepaskannya di hadapan Allah maka Allah pasti yang akan menuntut dan membalasnya’.”

Paparan selanjutnya, yang terhormat Hasan Khursyid A’wan syahid putra tuan Hursyid A’wan. Almarhum syahid adalah dari Bandiya kabupaten Cakwal. Bapak dan kakek beliau adalah kelahiran Ahmadi. Beberapa lama sebelumnya ketika sebagian anggota famili beliau memperlihatkan kelemahan berupa keluar dari jemaat, almarhum dengan karunia Allah tetap bertahan dalam Jemaat. Seorang lagi saudara beliau, tuan Said Khursyid A’wan yang tinggal di Jerman juga tetap menyatu dengan Jemaat. Pada saat syahid usia beliau 24 tahun dan belum menikah, syahid di mesjid Daarudz Dzikr. Pada hari terjadi kejadian beliau pergi menunaikan shalat Jumat. Pada saat para teroris datang beliau menelpon ke rumah, ‘Di mesjid sedang terjadi penyerangan, saya terluka, doakan’. Pada saat itu tembakan para teroris menyebabkannya gugur. Keluarganya yang bukan Ahmadi senantiasa keberatan dirinya sebagai Ahmadi yang karenanya kedua orang tua beliau berada dalam tekanan mereka dan menyampaikan kepada kedua orang tua beliau bahwa jika para Ahmadi menyalatkan jenazahnya di daerah ini maka akan terjadi kekacauan. Para anggota ‘Perkumpulan Penjaga Khatamun nubuwwah’[2] (hendaknya dikatakan penjaga khatamun nubuwwah sekedar nama ) cukup aktif di daerah itu. Atas dasar itulah orang-orang ahmadi tidak diizinkan menyalatkan jenazahnya. Orang-orang bukan Ahmadi yang menyalatkan jenazah dan memakamkannya. Di daerah itu masyarakat awam berkerumun menyatakan penyesalannya akan hal itu (pelarangan para ahmadi mengurus dan menyalatkan jenazah almarhum-Red.). Sebelumnya bapak almarhum akibat penentangan terus menerus menolak memberikan data yang diminta, atas hal itu beliau diberikan pengertian, “Putra tuan dengan mengorbankan jiwanya telah menyampaikan pesan agar tidak takut dengan orang-orang duniawi, kendati pun jiwa harus melayang. Menyembunyikan pengorbanan almarhum syahid merupakan kezaliman tehadapnya.” Namun mereka tidak memberikan data-data almarhum syahid. Semoga Allah meninggikan derajat almarhum syahid dan semoga pengorbanan beliau ini menjadi faktor pembuka mata anggota keluarga beliau. (aamiin)

Berkaitan dengan tuan Muluk Hasan Khursyid A’wan sahib, Amir Cakwal menulis, “Tidak ada kesempatan yang beliau tinggalkan atau lepaskan untuk melakukan urusan dawah ilallah.[3] Dari sejak beberapa tahun yang lalu bapak beliau mukarram Muluk Khursyid memisahkan diri dari Jemaat maka Muluk Hasan Khursyid sahib tetap pada pendiriannya yakni tetap sebagai Ahmadi dan sampai napas terakhir tetap dalam Jemaat. Beliau senantiasa menunaikan shalat Jumat di Daarudz Dzikr, Ghari Sahu. Berkali-kali kendati tekanan dari kedua orang, beliau tetap berpegang teguh pada imannya.”

Paparan selanjutnya adalah Mukarram wa muhtaram Mahmud Ahmad Syaad Syahid (seangkatan pendidikan dengan penerjemah khotbah ini) murabbi Silsilah Putra Choudry Ghulam Ahmad. Keluarga almarhum dari Hunan kabupaten Gujrat. Kakek almarhum, tuan Fadhl Daad-lah yang telah baiat. Bapak almarhum merupakan sosok yang sangat fanatik golongan. Satu kali terdapat buku ‘Tabligh Hidayat’ tercecer di lantai. Beliau mengumpulkan itu dan mulai berpikir bahwa buku itu hendaknya dibaca. Tetapi ketika beliau menyusun susunannya maka beliau membaca bagian sedikit dari buku itu, tenyata timbul rasa tertarik dan sesudah membaca semua isi buku beliau mengatakan ingin baiat. Pada tahun 1922, saat berumur 11 tahun beliau baiat. Bapak almarhum adalah petugas wakil juru pungut pajak. Beliau tidak pernah mau menerima uang sogokan dari siapapun. Beliau adalah pengawas tanah-tanah Hadhrat Khalifatul Masih II di Sind dan merupakan sosok yang sangat bertakwa dan saleh.

Almarhum syahid lahir pada 31 Mei 1962 dan kelahiran sebagai wakaf dan lulus di Jamiah tahun 1986. Selain itu pada lingkungan di tingkat rukun warga beliau mendapat kesempatan berkhidmat kepada Jemaat dalam berbagai posisi kejemaatan. Beliau juga terus bekerja sebagai wakil redaktur majalah Khalid. Selain ditugaskan sebagai murabbi di berbagai kota di Pakistan, selama 11 tahun terus mendapat taufik sebagai murabbi Jemaat di Tanzania. Kurang lebih 3 bulan sebelumnya penugasan beliau di Baitun Nur. Pada waktu syahid umur beliau 48 tahun. Beliau juga ikut serta dalam nizam wasiat. Beliau syahid di mesjid Baitun Nur, Model Town.

Pada hari terjadi peristiwa beliau mengenakan baju baru, mengambil sapu tangan baru. Setelah menunaikan shalat dua rekaat di tempat tinggalnya, bersama putranya beliau sampai ke tengah-tengah aula. Orang-orang memberitahukan bahwa pada waktu penyerangan beliau terus menerus menasehatkan kepada orang-orang untuk memanjatkan doa-doa. Ketika para penyerang datang ke mesjid maka beliau dengan suara keras meneriakkan Allah Akbar dan terus menerus membaca selawat. Dua peluru bersarang di dada beliau yang karenanya beliau syahid. Pada peristiwa itu putra beliau dengan karunia Allah selamat. Istri almarhum syahid memberitahukan, “Sehari sebelum syahid malam hari tanggal 27 Mei di MTA tengah disiarkan janji Khilafat (janji Khilafat yang telah saya ulangi pada saat 100 tahun Khilafat) beliau mengulangi janji itu dengan suara lantang. Beliau menghendaki sesudah khotbah hari Jumat itu akan mengulangi janji Khilafat itu bersama anggota jemaat. Namun Allah menghendaki lain lagi.” Istrinya menambahkan, “Beliau sosok yang sangat pemberani. Beberapa lama sesudah dikeluarkan undang-undang anti Jemaat ketika beliau tengah dalam perjalanan bersama saudara perempuan beliau di baju beliau ditempelkan stiker kalimah syahadat. Saudara perempuan beliau merasa ketakutan dan mengatakan pada beliau untuk hati-hati. Tetapi beliau menjawab, ‘Iman kamu sedemikian rupa lemahnya?’ Sesudah turun dari stasiun kereta api beliau mengucapkan salam pada polisi yang sedang dinas disana lalu berjabatan tangan dan mengatakan kepada saudaranya bahwa lihatlah saya sesungguhnya baru saja datang dari mengucapkan salam pada polisi. Beliau sangat bertakwa kepada Tuhan. Istri almarhum syahid memberitahukan bahwa di Tanzania juga pada saat tugas pengkhidmatan terjadi perlawanan terhadap beliau dan pada saat itu juga beliau menyaksikan pertolongan Allah. Pada tahun 1999 para penentang Ahmadiyah, syekh Said menuntut murabbi sahib dengan tuduhan telah menyembunyikan orang -orang yang telah melanggar hukum di rumah missi. Polisi datang ke rumah missi dan sesudah pemeriksaan, mereka polisi membawa murabbi sahib ke kantor polisi. Kisah ini terjadi di Tanzania. Murabbi sahib setelah sampai kesana beliau memperkenalkan Jemaat kepada mereka maka sambil memohon maaf, polisi melepaskan beliau. Sesudah waktu yang tidak begitu lama pemerintah Saudi Arabia mendeportasi Syekh Saidi dari Saudi Arabia dan hal ini dimuat juga dalam media-media. Istrinya mengatakan bahwa pada suatu saat di Tanzania ketika beliau hendak berkunjung ke suatu Jemaat maka saya terjangkiti penyakit malaria. Saya berkata padanya bahwa badan saya sedang tidak sehat dan tuan akan pergi? Murabbi sahib mengatakan bahwa saya tengah pergi untuk mengerjakan pekerjaan Allah dan kamu pun setelah menyerahkan kamu kepada Tuhan saya baru pergi. Istri almarhum syahid memberitahukan bahwa sesudah beliau ditugaskan di Lahore maka beliau mulai mendapatkan ancaman telpon yang bertubi-tubi. Ketika datang telpon pertama maka pada saat itu murabbi sahib tengah pergi ke sebuah pesta pernikahan. Dapat diketahui bahwa ada beberapa orang yang sedang mengikuti beliau. Maka beberapa anggota khuddamul-ahmadiyah menyampaikan murabbi sahib ke rumah dengan selamat. Sesudah sampai ke rumah beliau mengatakan kepada saya bahwa coba perhatikanlah betapa agungnya jemaat ini, dengan khuddam-khuddam itu tidak ada ikatan duniwi kita namun mereka setiap saat senantiasa siap melindungi kita. Murabbi sahib mengatakan bahwa saya telah berdoa kepada Tuhan bahwa jika Engkau ingin mengambil pengorbananku maka saya siap namun senantiasa ikatlah anak-anak saya dengan Khilafat. Dalam situasi seperti itu manakala dari sadara-saudara perempuannya datang telpon dan mereka menzahirkan keinginan mereka supaya mengambil libur lalu datang ke Rabwah , maka beliau mengatakan bahwa manakala orang-orang Ahmadi lainnya tengah memberikan pengorbanan maka kenapa kita tidak memberikan pengorbanan dan kenapa lari dengan meninggalkan medan pertempuran. Dengan situasi dan kondisi seperti itu manakala saya merasa cemas lalu saya menangis maka beliau mengatakan kepada saya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan famili syuhada dan Dia sendiri yang menjaganya.

Almarhum syahid sangat gemar melakukan dawah ilallah. Sebulan sebelum syahid, ada seorang dokter non Ahmadi yang ingin dijadikan puas terkait penjelasan masalah Jemaat telah melakukan banyak perbincangan dengan banyak murabbi namun tidak mendapatkan kepuasan, maka murabbi sahib (Syad sahib) pada saat dua tiga kali pertemuan menyampaikan tabligh padanya sampai beberapa jam dan beliau memperdengarkan ilham-ilham Hadhrat Masih Mauud as sambil berlinang air mata dan dengan nada dan gejolak emosional yang luar biasa. Inilah dokter yang ditablighi ini mengatakan bahwa hari ini tidak ada jalan bagi saya untuk lari. Kini saya telah puas. Seorang yang sendiri bercucuran air mata dalam menablighi saya bagaimana mungkin Jemaatnya itu dusta. Inipun merupakan cara masing-masing untuk bertabligh. Dan sesuatu perkataan yang keluar dari hati baru kemudian akan berpengaruh dan kemudian dokter itu baiat.

Selain kedua orang tua murabbi sahib semua keluarga atau kerabat beliau bukan Ahmadi. Sampai nafas terkhir pun beliau terus menablighi mereka. Pada setiap kesempatan susah dan senang beliau membawa anak-anak beliau pada kerabat yang bukan Ahmadi untuk memperlihatkan pada mereka, “Lihatlah betapa perbedaan diantara kita dan mereka? Leher orang-orang itu terjerat dengan tradisi-tradisi buruk. Dalam diri mereka terdapat tradisi-tradisi dan bid’ah-bid’ah sementara kita terangkai dalam jalinan untaian bingkai Khilafat.” Berkenaan dengan hal itu seseorang menulis surat kepada saya, “Pada tahun 2006 saya memperoleh informasi di Pindi, (beliau ini penduduk Rawalpindi, daerah wisata yang dingin) bahwa Mahmud Syaad, murabbi jemaat ditempatkan di Baitul Hamd, Mari. Amir Rawalpidi selain telah menyerahkan pengawasan lingkungan Sadr (pusat) dan kawasan Baitul Hamd Timur, beliau juga menyerahkan pengawasan Baitul Hamd, Mari Road, Murabbi House (rumah tinggal mubalig) di Mari Road dan Guest House (wisma tamu) di Mari Road. Maka datanglah petunjuk tuan Amir agar mengatur dan menyiapkan tempat tinggal dan makan untuk murabbi sahib. Di Guest House belum ada penyediaan untuk makan. Murabbi sahib memakan dengan sabar dan sukarela apa saja makanan yang disuguhkan kepadanya. Rumah tinggal mubalig dan guest house di Mari Road atau di Jalan Mari terdiri dari tiga tingkat. Sebelumnya tempat tinggal mubalig berada di tingkat kedua. Jemaat mengambil keputusan supaya beliau dipindahkan di tingkat tiga dan dua tingkat yang di bawah dijadikan wisma tamu. Di tingkat ketiga sangat panas namun murabbi sahib dengan penuh kesabaran dan kerelaan tetap tinggal disana dan satu kata pun tidak pernah mengeluh. Beliau mendengar khotbah-khotbah Khalifatul Masih dengan penuh perhatian. Beliau juga berkali-kali menekankan kepada jemaat untuk mendengarkan khotbah. Jika parabola rusak di satu jemaat, beliau tidak akan bisa duduk dengan tenang selama tidak menyuruh membetulkan antena yang rusak itu. Murabbi merupakan sosok yang berperangai sangat lembut dan senantiasa ceria. Beliau membina pertemanan dan mengadakan jalinan kasih sayang dengan setiap orang. Beliau sangat banyak mengetahui keadaan keluarga Hadhrat Masih Mauud as. Dengan cara demikian beliau mengadakan kontak pribadi dengan orang-orang. Dalam khotbah, beliau banyak menggunakan karya-karya tulisan Hadhrat Masih Mauud as dan syair-syair beliau as. Beliau sepenuhnya meyakini kegagalan musuh dan kesuksesan jemaat dan dengan sangat tegas beliau menerangkannya. Dalam khotbah-khotbah kebanyakan suara beliau menjadi berat dan sedih. Dua atau tiga Jumat sebelum tanggal 28 Mei dalam kaitan sepuluh hari Ta’limul Quran, beliau menyampaikan khotbah di Model Town dan memperdengarkan sebuah peringatan Hadhrat Masih Mauud as yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang yang tidak membaca Al-Qu’ran dengan teratur. Pada saat itu beliau tidak bisa menahan emosi dan suara menjadi berat parau. Terkait dengan kesucian Khilafat, Jemaat dan Nizham, beliau bagaikan sebilah pedang terhunus. Jika berkenaan dengan Khilafat dan Jemaat sedikit saja dilontarkan kritikan maka pada saat itu jugalah mulut orang tersebut akan dibungkam dan tidak akan meninggalkannya selama belum mengakui dan merasakan kesalahannya. Pertemuan atau rapat majlis amilah di kelompok saya (A’zham Shadiqi sahib yang menulis surat ini), kebanyakan mulai pukul 9 atau 10 malam. Saat larut malam dan dingin yang sangat menyengat, beliau hadir dengan mengendarai sepeda dan memberikan petunjuk kepada anggota.” Shadiqi sahib menulis, “Ketika beliau ditugaskan di Model Town, Lahore, beliau sangat gembira, dan bersama itu ketika saya memberitahukan bahwa saya pun, dalam tugas dinas pemerintah dipindahkan ke Lahore, maka sambil bergurau beliau mengatakan kepada saya, ‘Shadiqi sahib! Apakah akan pergi bersama sampai Lahore atau seterusnya akan bersama-sama?’”

Terkait dengan beliau seorang murabbi sahib menambahkan, “Almarhum syahid merupakan sosok yang murah senyum dan sebesar apa pun musibah dan kesedihan, beliau menghadapinya dengan tabah dan senyum. Beliau merupakan sosok yang sangat tabah, pemberani dan fana dalam bertabligh. Ketika saya tugas di Tanzania saya pernah pergi bersama beliau Muruguru. Di pinggir jalan nampak beberapa kyai berdiri. Mahmud sahib memberhentikan mobilnya lalu mulai menablighi mereka padahal sore hari hampir berakhir sedangkan jalan ke depan atau berikutnya pun berbahaya. (Demi melihat beliau) orang-orang berkerumun dan semua orang mendapat karunia mendengar wejangan dakwah ilallah beliau, dan beliau menjadikan para kiyai berlari ketakutan tidak bisa memberikan jawaban. Pada saat duduk di kendaraan beliau mengatakan kepada saya yang lemah ini, ‘Di sini kita mendapat kebebasan beragama, jangan takut, bertablighlah secara terbuka.’” Kemudian berkenaan dengan itu selanjutnya beliau menulis, “Almarhum adalah satu satunya (anak laki-laki) dalam keluarga yang terdiri dari beberapa saudara perempuan. Oleh karena itu beliau benar-benar mengkhidmati ibu beliau yang sakit. Ketika beliau akan ditugaskan di luar negeri maka beliau menjadi sedih bahwa kepada siapa saya melepaskan ibu saya yang sakit baru kemudian pergi? Karena itu dalam kehidupan ibu beliau, beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat di Pakistan.”

Murabbi sahib ini juga menulis, “Ketika penugasan hamba yang lemah ini pada tahun 1999 sebagai amir sekaligus sebagai missionary in charge (Raisut Tabligh) Tanzania saat itu beliau bertugas pula di Tanzania. Beliau bertabligh dengan sangat giat seperti keranjingan (sudah menjadi hobi). Dengan melakukan kontak di tempat-tempat baru dan dengan kaset audio video dan majlis-majlis tanya jawab, beliau mengadakan acara tabligh perkemahan yang sebagai dampaknya Allah telah menganugerahkan banyak cabang-cabang jemaat. Beliau ditugaskan di Iringa, Tanzania yang dengan melihat kesuksesan beliau para ulama setempat meminta kepada negara-negara Arab agar pihak agen yang memberikan bantuan memberikan kemudahan-kemudahan seperti yang didapatkan oleh mubalig Mahmud Ahmad Syad supaya mereka dapat menahan perkembangan Jemaat Ahmadiyah. Ketika satu demi satu semua keperluan tabligh mereka dipenuhi dan kemudian tidak ada hasilnya, bahkan Ahmadiyah menjadi tambah maju dengan cepatnya di kabupaten itu, ulama setempat ditanya, ‘Sesudah mendapatkan semua keperluan-keperluan pertablighan, kenapa pekerjaan kalian tidak membuahkan hasil?’ Mereka menjawab, ‘Dalam diri kami ada satu kekurangan yaitu Jemaat Ahmadiyah mempunyai mubalig dari Pakistan sementara pada kami tidak ada. Jika kepada kami diberikan mubalig dari Pakistan maka dalam bimbingannya kami akan meraih kesuksesan.’ Ini pun merupakan kesalahpahaman orang-orang yang tak berdaya itu karena kendati mubalig Pakistan (non ahmdi) yang datang mereka bukannya akan menyampaikan tabligh malah akan mengajarkan caci maki pada mereka.

Paparan selanjutnya mengenai mukarram Wasim Ahmad, putra mukarram Abdulqudus dari Punnagar. Keluarga almarhum syahid memiliki ikatan dengan Hadhrat Mia Nizhamuddin ra yang baiat di tangan Hadhrat Masih Mauud as dan Hadhrat Babu Qasim Din yang merupakan keluarga dari sahabat Hadhrat Masih Mauud as. Hadhrat Babu Qasim Din ra cukup lama menjadi amir Sialkot dan amir wilayah. Keluarga ini merupakan penduduk asli lingkungan dimana Hadhrat Masih Mauud as tinggal saat bekerja sebelum pendakwaan dan setelah pendakwaan ditempat itulah beliau tinggal. Sesudah menyelesaikan SMA nya di Sialkot, beliau dipilih untuk gelar Bsc bidang Space Science (sains mengenai ruang angkasa) di Universitas Punjab-Lahore. Di universitas inilah beliau mengambil gelar Msc bidang komputer sains. Sebelum syahid beliau tengah berkerja di sebuah perusahaan piranti lunak komputer sebagai manager. Beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai nazim athfal majlis Allamah Iqbal Town. Pada waktu syahid umur beliau 38 tahun dan ikut serta dalam nizam wasiat; syahid di mesjid Daarudz Dzikr.

Almarhum senantiasa menunaikan shalat jumat di mesjid Daarudz Dzikr. Pada hari kejadian juga beliau dari kantor beliau di Mal Road langsung menuju Daarudz Dzikr untuk menunaikan shalat. Pada umumnya beliau duduk di aula utama pada barisan pertama. Saat para teroris datang sesuai dengan perintah amir disitulah beliau tetap duduk. Ketika para anggota Jemaat pergi keluar untuk menyelamatkan diri dari pintu gerbang belakang kepada beliau juga dikatakan namun beliau mengatakan, “Teman-teman yang lainnya dulu yang pergi baru saya akan pergi.” Pada saat itulah beliau syahid dengan tembakan peluru para teroris. Atas kesyahidan almarhum dalam rangka mengenang beliau orang-orang kantor beliau mengadakan acara selama dua jam. Semua kolega di kantor beliau datang ke rumah beliau mengucapkan takziah atau belasungkawa dan dengan kata-kata yang sangat bagus mengenang almarhum. Atas kesyahidan beliau staf kantor beliau juga datang ke rumah sakit juga untuk memberikan bantuan dan ada saat pemakaman di Rabwah. Direktur perusahaan beliau juga datang ke Sialkot dan ke Rabwah untuk menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa mereka. Istri almarhum memberitahukan bahwa beliau sangat taat pada kedua orang tua dan para sepuh Jemaat. Beliau selalu bersikap hormat kepada siapapun, tidak pernah berbicara tinggi dengan orang tua bahkan hal seperti itu beliau anggap sebagai dosa. Beliau merupakan sosok anggota yang sangat banyak mengkhidmati Jemaat. Beliau telah menyiapkan software untuk candah-candah Jemaat Lahore. Beliau terus berkhidmat sebagai nazim athfal. Hubungan beliau dengan anak-anak penuh cinta dan kasih sayang. Sesudah syahid anggota keluarga beliau membawa jenazah beliau dari Lahore ke Sialkot dimana sesudah menunaikan shalat jenazah lalu dibawa ke Rabwah untuk pemakaman. Wasim syahid sangat menginginkan untuk menjadi syahid. Seringkali beliau mengatakan bahwa jika di dalam hidup saya terjadi hal yang seperti itu maka dada saya menjadi yang paling terdepan.

Mukarram Imran Nadim sahib, sekretaris Isyaat Majlis Athfalul Ahmadiyah Lahore memberitahukan mengenai beliau, “Tabiat beliau sangat lembut, sangat tinggi jiwa ketaatan dalam diri beliau, dan dengan sangat tenang dan serius mendengar pembicaraan, lalu kemudian mengamalkan petunjuk itu. Untuk mengikutsertakan anak-anak dalam suatu pertemuan beliau membawa kendaraan dengan penuh tanggung jawab dan mengantarkan anak-anak ke rumah. Beliau mengumpulkan anak-anak dari rumah ke rumah. Sampai akhir hayat beliau selalu melaksanakan pengkhidmatan terhadap Jemaat. Ketua jemaat lingkungan Iqbal Town memberitahukan, beliau sosok pemuda Ahmadi yang sangat mukhlis. Beliau sangat tertarik dalam tugas-tugas Majlis Khuddamul Ahmadiyah. Untuk pengajaran dan pendidikan agama bagi anak-anak Ahmadi, beliau merupakan sosok pemimpin yang sangat baik. Wasim Sahib paling tua dari lima saudara perempuan dan laki-laki beliau. Beliau sosok yang sangat cerdas, jenius, sangat tekun dan pekerja keras. Yang mulia ibu beliau mempunyai peran yang sangat besar dalam pendidikan beliau. Kendati pendidikan kedua orang tua beliau minim namun menghendaki anak-anaknya berpendidikan tinggi. Oleh karena kecintaannya terhadap ilmu dan ketekunannyalah yang membuatnya sukses.”

Istrinya menulis surat kepada saya, “Kebajikan-kebajikannya tidak bisa saya hitung. Hudhur, jika saya mengatakan bahwa beliau merupakan sosok malaikat maka itu sama sekali tidak bohong. Ini merupakan pengakuan setiap anggota keluarga bahwa tidak ada orang lain yang dapat menyamai Wasim sahib. Menurut pendapat saya Allah ta’ala menganugerahi kemuliaan ini kepada Wasim Sahib karena kebaikan-kebaikan dan keistimewaan beliau yang menonjol. Tidak hanya saya dan orangtuanya yang dia buat bangga bahkan semua anggota keluarga menjadi bangga karenanya.” Kemudian beliau menulis, “Kecintaan terhadap Jemaat sudah mendarah daging dalam diri beliau. Beliau sejak dua tahun menjadi Nazim Athfal di Allamah Iqbal Town, Lahore. Beliau sangat mencintai anak-anak. Kendati super sibuk di kantor beliau menyelenggarakan acara anak-anak dan menyiapkan perlombaan ilmiah. Beliau memberikan perhatian kepada anak-anak yang lemah dan kepada orang tua mereka beliau menekankan agar jadikanlah anak-anak menjadi maju. Kebanyakan anak-anak di majlis kami juga banyak meraih hadiah-hadiah dan Wasim sahib menjadi sangat gembira. Beliau membawa anak-anak ke Daarudz Dzikr dan mengantarkan mereka ke rumah. Walhasil, beliau mengerjakan setiap pekerjaan dengan tekun dan kerja keras. Kendati kesibukan kantor, kebanyakan beliau datang ke Daarudz Dzikr untuk rapat pada sore hari dan melakukan shalat berjemaah. Di kantor beliau secara teratur melakukan shalat pada waktunya. Saya banyak merenungkan Wasim sahib ketika melakukan shalat bahwa sungguh ketika melakukan shalat dia melakukan dengan menunaikan hak shalat itu. Saya tidak pernah melihatnya pada waktu shalat membuka mulut atau melakukan gerakan-gerakan yang mengesankan bahwa dia tidak ada perhatian dalam shalat. Nampak sekali bahwa dia benar-benar tengah berdiri berdoa di hadapan Tuhan.” Kemudian beliau menulis, “Dalam pengorbanan harta juga dia senantiasa selalu paling depan. Beliau senantiasa membayar sepuluh persen penuh, dan selain itu di dalam candah-candah apa saja, beliau senantiasa banyak mengambil bagian. Beliau tidak pernah membelanjakan uang sisa. Beliau tidak pernah bicara keras di hadapan orang tua beliau. Dan tidak hanya dengan kedua orang tua, bahkan dengan siapapun tidak pernah berbicara keras. Beliau bertabiat sangat halus. Dalam kehidupan rumah tangga, saya tidak pernah mendengar suara keras dari mulutnya. Wajah Wasim sahib senantiasa dihiasi senyum dan manakala saya marah dalam suatu permasalahan dengan penuh kasih sayang beliau meyakinkan; dan selama kemarahan saya tidak hilang, beliau tidak meninggalkan saya untuk meyakinkan saya. Pada waktu syahid, ketika jenazah beliau dibawa ke rumah maka di wajah beliau itulah senyum dan ketenteraman yang terlihat. Siapapun tamu beliau berjumpa dengan setiap orang dengan sangat santun. Kedua orang tua saudara-saudara perempuan semuanya beliau perhatikan. Beliau tidak pernah marah atau menyimpan kemarahan terkait para kerabat. Sehingga orang-orang kantor beliau juga mengatakan bahwa beliau tidak pernah mengatakan kata-kata keras kepada para junior beliau. Wasim sahib merupakan sosok yang sangat pemberani, sangat bangga sebagai Ahmadi. Majalah Tasyhizul Adzhaan selalu ada di kendaraannya. Juniornya yang juga seorang Ahmadi selalu mengatakan kepada beliau, “Wasim Sahib, jangan-jangan ada orang bertipikal kyai fanatik yang mendatangkan kerugian kepada Tuan?” Wasim sahib menjawab, “Teman, kesyahidan bukanlah merupakan bagian bagi setiap orang.” Di rumah juga beliau sering mengatakan bahwa jangan pernah takut bertabligh karena orang-orang berdosa seperti kita ini kapan akan dapat kehormatan atau kemuliaan seperti itu. Asad seorang junior nya, memberitahukan bahwa Wasim sahib dan dia duduk di saf depan,ketika tembakan mulai maka semua orang berkumpul di satu arah aula itu dan tengah keluar dari satu pintu. Asad memanggil Wasim namun Wasim mengatakan bahwa biarkanlah orang-orang dulu yang keluar kemudian baru saya keluar. Pada saat itulah Wasim terkena 8 peluru di perut nya dan satu jam kemudian baru beliau wafat.

Paparan selanjutnya adalah mukarram Wasim Ahmad putra mukarram Muhammad Asyraf dari Cakwal. Nenek moyang almarhum syahid adalah dari Retucah kabupaten Chakwal. Almarhum syahid meraih pendidikan sampai kelas sepuluh di kampung leluhur nya. Kemudian beliau mulai bekerja di militer sebagai (laans-naik). Setelah beliau selesai dari tentara ia bekerja di Islamabad sebagai tenaga keamanan. Sesudah itu ia bekerja di Daarudz Dzikr sebagai bagian keamanan. Mertua nya mukarram Abdurrazaq adalah sopir Nazarat ulya sadr Anjuman Ahmadiyah Pakistan,Rabwah. Pada waktu syahid umur almarhum syahid adalah 54 tahun. Ia syahid pada saat tugas di mesjid Daarudz Dzikr. Pada saat peristiwa Wasim sahib sedang bertugas di pintu gerbang. Para penyerang mulai melepaskan tembakan dari jauh sehingga di permulaan tragedi itulah terjadi kesyahidannya. Almarhum syahid dua kali menikah. Pada tahun 1983 istri pertama nya wafat kemudian pada tahun 1990, sebagaimana yang telah saya sebutkan, beliau menikahi putri Abdurrazaq. Keluarga atau istri beliau memberitahukan bahwa beliau merupakan sosok manusia yang sangat baik. Beliau memiliki kedudukan yang sangat bagus dalam masyarakat. Dari segi setiap jalinan /atau komunikasi beliau merupakan sosok pribadi yang sangat bagus. Khususnya terhadap anak-anak yatim laki-laki dan perempuan beliau perlakukan dengan sangat baik. Baik mereka itu sebagai kerabat atau bukan kerabat ataukah dari yang bukan anggota jemaat dan dari anggota jemaat. Dalam diri beliau terdapat gejolak dan semangat dalam mengkhidmati Jemaat. Oleh karena itu manakala beliau pergi libur atau pergi ke rumah maka beliau memberitahukan bahwa disini saya sangat gembira , setiap orang Ahmadi yang pergi ke mesjid baik itu kecil atau besar berjumpa dengan penuh hormat. Anak-anak almarhum syahid memberitahukan bahwa bapak kami merupakan manusia yang sangat baik. Dia mempunyai ikatan yang sangat bagus dengan kami. Beliau senantiasa menghormati keinginan setiap orang. Anak perempuan beliau memberitahukan bahwa khususnya setiap keinginan saya beliau penuhi. Berkenaan dengan pendidikan anak-anak beliau memiliki semangat dan gejolak dan semangat yang luar biasa. Anaknya memberitahukan bahwa beliau mengatakan kepada saya bahwa saya akan mengirim kamu ke Rabwah untuk maksud pendidikan. Lingkungan itu bagus dan disitulah kamu mengkhidmati Jemaat. Kendati saya harus tinggal bersama kamu di Rabwah. Beliau merupakan sosok bapak yang sangat mencintai. Istri almarhum syahid selanjutnya memberitahukan bahwa beberapa hari sebelum syahid melalui telpon beliau memberitahukan bahwa beliau tengah melaksanakan tugas, ketua Jemaat datang di lingkungan mesjid. Saat melewati saya. saya mengatakan kepada beliau, ‘Pak Ketua, pakaian seragam saya telah tua kumal, jika saya diberikan baju seragam yang baru maka setiap orang yang datang akan terasa sangat senang.’ Karena itu ketua Jemaat memberikan seragam yang baru kepada beliau. Sebelum hari kesyahidan beliau, beliau memberitahukan melalui telpon bahwa saya akan menggunakan seragam baru. Di dalam baju seragam itulah beliau mendapatkan derajat syahid. Istrinya menulis bahwa berita mengenai kesyahidan pertama kali didapatkan melalui televisi bahwa mesjid Ahmadiyah diserang. Kemudian kami berusaha untuk melakukan kontak dengan Wasim namun kontak tidak bisa melakukan. Dengan nomer Wasim sahib seorang saudara Ahmadi memberitahukan melalui telpon bahwa Wasim sahib telah syahid. Mendengar berita ini saya menjadi sangat terkejut dan sedih. Namun sangat gembira atas karunia mendapat derajat syahid yang sedemikian tinggi dan bangga karena beliau mendapat syahid dalam upaya beliau melindungi orang-orang yang sedang shalat. Almarhum syahid sangat teratur dalam shalat lima waktu. Senantiasa banyak mengambil bagian dalam setiap pekerjaan-pekerjaan baik.

Paparan selanjutnya adalah Mukarram Nazir Ahmad sahib putra Mistri Muhammad Yasin. Almarhum syahid adalah sendiri Ahmadi dalam leluarga beliau. Dan akibat beliau sendiri menjadi Ahmadi, seluruh anggota keluarga melakukan penentangan terhadap Almarhum syahid. Dari segi tajnid dan lingkungan beliau termasuk dalam kawasan Khot Lakpat. Untuk menunaikan shalat Jumat beliau pergi ke mesjid Baitunnur Model Town. Selain itu shalat-shalat lainnya beliau lakukan di shalat center yang ada di tempat lingkungan beliau. Pada waktu syahid umur beliau 72 tahun. Beliau syahid di mesjid Baitunnur, Model Town. Shalat jenazah dan penguburannya dilakukan oleh keluarganya yang bukan Ahmadi dan dikuburkan di pemakaman di Khot Lakhpat. Ketika almarhum syahid untuk penunaian shalat Jumat baru saja sampai ke mesjid Baitunnur, Model Town. Pada saat itu para penyerang telah melepaskan tembakan dan syahid karena peluru-peluru yang menghujani beliau. Jasad beliau diletakkan di Rumah sakit Jinah dimana keponakan beliau yang adalah gair Ahamdi membawa jenazah untuk penguburan dan untuk dishalatkan. Shalat jenazah gaibnya dilakukan di mesjid. Almarhum syahid adalah teratur dalam pelunasan candah-candah dan teratur dalam shalat. Kendati di dalam keluarga terdapat perlawanan yang sangat keras beliau tegak dalam Jemaat hingga beliau syahid. Berkenaan dengan beliau sadr sahib menulis bahwa di pusat pasar /pertokoan terdapat harta beliau sendiri yang sangat berharga. Ada toko-toko beliau ,toko-toko itu dikuasai oleh keponakan-keponkannya di masa hidupnya. Dalam kondisi seperti itu sepanjang umur beliau lewati dalam keadaan sederhana. Beliau bersabar atas perlawanan keluarga dan tidak memutuskan ikatan dengan Ahmdiyah dan tidak pula membiarkannya jalinan itu menjadi lemah. Sampai syahid beliau secara teratur menjadi anggota Budget kendati penghasilan beliau hampir sama dengan tidak ada namun beliau melunasinya. Beliau merupakan sosok yang berpenampilan klasik (kuno). Pakaian sederhana dan untuk menunaikan shalat Jumat beliau pergi menggunakan sepeda ke Baitunnur secara teratur dan sampai pada waktunya dan duduk di saf pertama. Beliau menjumpai setiap orang dengan penuh semangat dan ketika pergi ke mesjid beliau melewatkan banyak waktunya di mesjid karena menurut beliau seberapa banyak melewatkan waktu di tengah-tengah orang Ahmadi maka sebegitu pula bagusnya. Kendati terjadinya perlawanan beliau memajang foto-foto Hadhrat Masih Mauud as dan para khalifah dalam rumah beliau. Beliau sangat mencintai para pengurus. Kegemaran bertabligh sampai pada batas kegilaan. Dimana beliau tinggal disana aktifitas-aktifitas perlawanan sampai pada puncaknya. Namun tanpa ada rasa takut beliau terus menjalankan dakwat ilallah.

Paparan selanjutnya adalah Mukarram Muhammad Husen putra Mukarram Nizhamuddin. Keluarga beliau adalah dari Gudaspur. Kelahiran beliau juga disana. Beliau tidak mendapatkan pendidikan formal dunia. Namun beliau bisa membaca Al-Qur’an. Beliau baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah dengan perantaraan Mukarram Fazal Haq mantan amir Jemaat Sammi. Di dalam keluarganya hanya beliau dan seorang saudara perempuannya yang Ahmadi. Beliau adalah paman mubalig jemaat yang berada di Chicago, Amerika Serikat. Beliau pernah beberapa lama bekerja sebagai penasehat di M.E.S perburuhan. Beliau juga pernah bekerja sebagai tukang kayu. Sesudah bekerja di Queta ada juga toko peralatan /furniture beliau. Beliau memperoleh taufik berkhidmat di Furqan Batalion. Pada waktu syahid umur beliau 80 tahun, dan syahid di mesjid Daarudz Dzikr. Memberikan sedekah pada hari Jumat merupakan kebiasaan beliau. Dari rumah setelah siap pada jam 11 beliau keluar untuk menunaikan shalat Jumat. Pada waktu kejadian beliau berada di pertengahan aula utama. Saat dilihat Jenazah beliau ternyata seluruh tubuh bagian kiri beliau telah terbakar. Di perut juga cukup banyak luka-luka. Kurang lebih beliau syahid akibat granat pecah. Pada waktu malam dari rumah sakit Rumah Sakit Meu jenazah beliau dibawa oleh keluarga beliau yang gair Ahmadi dan pemakaman dan menshalatkan jenazah juga mereka yang melakukannya. Sesuai kata istrinya beliau adalah seorang yang teratur dalam shalat lima waktu. Candah-candah beliau bayar dengan teratur. Kendati kondisi ekonomi beliau tidak begitu bagus setelah menyisakan keperluan-keperluannya orang-orang yang miskin dan orang-orang yang membutuhkan tanpa pandang bulu beliau bantu. Beliau memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Jemaat. Keluarganya memberitahukan bahwa pada umumnya untuk menunaikan shalat Jumat beliau duduk di saf pertama. Akibat telah tua beliau senantiasa tidak ingat bahwa hari ini hari apa ? Oleh karena orang-orang rumahnya adalah bukan Jemaat,maka mereka tidak memberitahukan bahwa hari ini hari Jumat. Syahid telah menentapkan tanda hari Jumat bahwa pengemis ini datang pada hari Jumat,manakala kadang lupa maka dengan melihat pengemis itu beliau akan ingat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Pada suatu hari pengemis itu tidak datang namun segera seorang anak perempuannya mengingatkan beliau bahwa hari ini adalah hari Jumat; dan tanpa makan beliau keluar dari rumah untuk menunaikan shalat Jumat. Anaknya yang besar memberitahukan bahwa pada umumnya beliau tidak ada di tempat tidur. Dan ketika dicari maka beliau akan didapat dalam keadaan menunaikan shalat di atas sajadah shalat. Beliau senantiasa mengatakan kepda anak-anaknya bahwa saya mencintai keluarga Rasululah saw dan kalian tidak. Saya juga telah berjumpa dengan ahli bait dalam mimpi. Anak beliau selanjutnya memberitahukan bahwa pada umumnya beliau berpuasa pada tanggal 10 muharram. Beliau senantiasa banyak menyebutkan akan kunjungan Hazrat khalifatulmasih II ke Queta bahwa ketika Hudhur tinggal di rumah di Park house maka disana beliau siang malam melakukan perbaikan. Ketika Hadhrat Khalifatulmasih II ra datang maka beliau bertanya siapa yang telah mengerjakan ini. Sebelumnya tembok-tembok terlihat bocor-bocor. Pada saat menginap itulah pipa air bocor, maka tidak dapat diperbaiki. Maka Hudhur mengatakan bahwa panggillah Muhammad Husen dia yang akan membetulkan. Dan ketika beliau membetulkan maka Hudhur mengatakan bahwa lihatlah bahwa saya telah mengatakan bahwa Muhammad Husen yang akan membetulkan. Semoga Allah meninggikan derajatnya. Dan anak-anaknyapun mendapat karunia mengenal Ahmadiyah Islam yang hakiki.

Pristiwa-pristiwa ini sedemikian rupa banyaknya yang mana jika dirincikan maka ini akan menjadi panjang. Karena itu saya menyingkatkannya. Namun paparan seorang yang syahid yang telah disebutkan sebelumnya itu sangat singkat istrinya sesudahnya mengirimkan data-data karena itu saya kembali akan menyebutkannya kembali.

Dr Umar Ahmad Syahid. Istri beliau menulis, “Saya tinggal bersamanya hanya selama setahun setengah, namun dalam masa itu saya mendapat taufik tinggal bersama sosok manusia yang penuh cinta lagi penuh kasih sayang, sedikit bicara dan berkarakteristik sederhana. Sejak kecil ia sangat ingin syahid. Ketika berada di kelas dua dan tiga ia menulis surat khayal kepada Mayor Aziz Bhatti[4] bahwa saya sangat senang pada Tuan. Saya pun juga seperti tuan ingin menjadi syahid. Aziz Bhatti syahid adalah seorang tentara Pakistan yang disebutkan dalam buku pelajaran anak-anak. Dia menulis sepucuk surat khayal bahwa saya sangat menyukai tuan dan saya juga ingin syahid seperti tuan. Surat singkat ini tersimpan baik oleh ibunya. Setelah menikah kebanyakan topik pembicaraannya berkaitan dengan kesyahidan. Satu hari ia mengatakan, ‘Saya telah merenungkan dengan matang dan saya sampai pada titik bahwa jalan pintas untuk menuju surga adalah kesyahidan. Namun dimana nasib mujur saya?’ Dia dua kali mencalonkan diri masuk militer untuk menjadi tentara namun gagal (tidak diterima). Ia sangat sedih akan hal itu karena ia menganggap untuk syahid menjadi tentaralah jalan perantara yang sangat baik. Ini juga menjadi jawaban bagi orang-orang yang mengatakan Jemaat Ahmadiyah penentang negara. Semangat pengabdian kepada negara dalam dirinya sedemikian rupa penuh bergelora seperti itu.” Istrinya mengatakan kepada saya, “Ia sering mengatakan, ‘Perhatikanlah kapan saja Jemaat memerlukan Umar akan berada di saf pertama dan akan menghadapi peluru itu dengan dadanya.’ Surat yang ditulisnya kepada Aziz Bhatti, dibawahnya dia menulis ‘Mayor Umar Syahid’. Apabila ada di rumah ia senantiasa pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat magrib. Setelah shalat Isya, pasti ada saja pekerjaan jemaat yang beliau kerjakan baru beliau kembali, inilah kebisaan beliau. Ia sangat aktif dalam Khuddamul Ahmadiyah. Dalam setahun ia pergi untuk wakaf diri. Ia sangat gemar melakukan pekerjaan Khidmat Khalq, khidmat kemanusiaan. Dalam setahun pasti ia mendonorkan darah. Pada saat beliau terluka di Daarudz Dzikr pada hari itu untuk pergi ke kantor beliau cepat-cepat keluar sambil mengatakan bahwa saya telah telah telat/terlambat. Sebab kantornya itu dekat dengan Daarudz Dzikr karena itu disitulah beliau menunaikan shalat Jumat. Beliau sangat memperhatikan keperluan saya sampai dari yang sekecil-kecilnya hinga sebesar-besarnya. Beliau sangat menyayangi putri beliau yang kini 8 bulan. Sekembali dari kantor beliau lama bermain dengannya. Beliau tidak bisa sabar melihat corak apapun ketidak-hatian mengenainya. Istrinya mengatakan bahwa tidak hanya untuk anaknya semata bahkan terhadap semua anak-anak, beliau memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan beliau mengatakan bahwa anak itu tak berdosa karena itu saya senang. Beliau menulis bahwa dua bulan sebelum kesyahidan saya melihat dalam mimpi bahwa Umar tengah nikah yang kedua dan saya tengah menangis sebanyak-banyak. Terkait dengan mimpi itu juga saya telah sebutkan pada Umar tetapi sambil tertawa menyangkalnya. Istri beliau menulis bahwa dia sangat menyenangi kebersihan. Begitu juga hatinya sangat bersih. Tidak pernah menyakiti siapapun. Di dalam keadaan panas yang keras, di Pakistan panas itu sangat keras, setiap orang mengetahui pada siang hari beliau datang ke kantor maka beliau membunyikan lonceng dengan pelan supaya jangan ada yang terganggu. Sering terjadi beliau dalam waktu yang cukup lama sampai setengah-setengah jam dengan diam berdiri di luar. Orang-orang kantor memuji beliau dengan luar biasa. Beliau ini berada atau dinas di lembaga penelitian pemertintah dan beliau mengatakan bahwa anak kita yang sangat kita cintai itu pergi dari kita. Semu karyawan kantor datang untuk menyampaikan belasungkawa. Kapan saja ada kesusahan maka segera beliau menulis surat kepada khalifah. Dan istrinya mengatakan bahwa kepada saya juga beliau mengatakan bahwa tulislah surat selalu kepada khalifah. Beliau sangat menghormati kedua orang tua saya dan semua kerabat dekat saya. Beliau sangat menghormati teman-teman beliau dan pasti mengeluarkan waktu sedikit banyak untuk mereka. Dari pihak khalifah pasti ada anjuran baik itu berupa doa, shalat tahajjud, sedekah-sedekah yang segera diamalkannya. Semua candah beliau bayar pada waktunya dan senantiasa membayar sesuai dengan penghasilan sesuai budget (mengisi data penghasilan) yang beliau buat. Pada tanggal 23 Mei bagian terakhir dari candah jaidad beliau lunasi sebanyak 9 ribu dan sesampai di rumah dengan senang hati memberitahukan kepada saya dan kepada semua anggota keluarga dan sangat bersyukur karena hari ini candah telah cukup. Sejak dimulai candah Bilal Fund, beliau memberikan candah tersebut secara teratur. Suatu kali ada pembicaraan perihal merayakan dan pemberian hadiah ulang tahun maka beliau sangat tidak suka dan beliau mengatakan, “Tidakkah kalian mengetahui bahwa Hudhur melarang. Uang ini berilah kepada Jemaat sebagai tanda bahagia akan menjadi lebih baik.” Beberapa hari beliau dirawat di rumah sakit lalu beliau syahid.

Kini bahasan terkait para syahid telah berakhir. Dalam diri semua syahid yang telah saya bahas ini ada sifat-sifat mulia yang nampak terlihat ada persamaan. Perhatian mereka pada shalat-shalat dan tidak hanya dia sendiri memperhatikan shalat bahkan kepada anak-anak dan keluarganya di rumah pun mereka ingatkan ke arah itu. Kadang dari tempat kerja menelpon anak-anaknya mengingatkan mereka untuk shalat yang karena mesjid dan shalat center jauh (dari rumah) maka beliau mengimami shalat berjamaah di rumah. Kenapa? Karena beliau terpikirkan bahwa shalat-shalat beliau dan shalat–shalat keluarga beliau adalah jaminan kebaikan di dunia dan di akhreat (dan) karena jalan kedekatan kepada Tuhan ditetapkan melalui shalat. Dalam semua hal itu kita melihat perhatian terhadap shalat Jumat secara khusus. Sebagian pemuda mereka keluar dari rumah dengan mengatakan bahwa mungkin karena pekerjaan ini tidak bisa pergi ke Jumat, namun ketika tiba waktu Jumat maka semuanya meninggalkan semua pekerjaan-pekerjaan duniawi mereka lalu bergegas berangkat jumatan. Banyak di antara mereka yang membiasakan atau mendawamkan shalat tahajjud. Sebagian ada yang senantiasa berusaha atau dalam usaha suapaya dapat menunaikan shalat-shalat nafal dan shalat tahajjud. Kebanyakan para syahid yang muda-muda juga dan dikalangan para syahid yang sudah lanjut usia nampak keinginan yang sangat keras untuk mendapatkan kedudukan syahid. Kita lalu menyaksikan akhlak-akhlak lainnya banyak sekali nampak di dalam diri mereka. Akhlak mulia ini di dalam kehidupan berumahtangga juga dan di dalam kehidupan di luar juga. Para karyawan Jemaat dan pada waktu pelaksanaan pengkhidmatan jemaat bersama teman-teman juga nampak menampilkan akhlak-akhlak mulia maka di dalam tempat bisnis dan di tempat pekerjaannya orang-orang yang bekerja bersamanya mereka jadikan orang-orang itu sebagai orang yang mencintainya karena akhlak-akhlak mereka yang tinggi lagi mulia. Akhlak luhur seorang laki-laki dapat kita ketahui dari kesaksian istrinya berkenaan dengan akhlaknya. Terkadang di luar laki-laki tengah memperlihatkan akhlak yang tinggi, namun kepada anak istrinya dia tidak berlaku baik. Saksi paling besar dari seorang laki-laki adalah istrinya. Jika kesaksian istri berkenaan dengan ibadah dan perlakuan suami adalah memihak pada istri sesungguhnya itu merupakan bukti bahwa orang ini menunaikan hak-hak Allah dan hamba-hambanya karena takut pada Allah. Kemudian kecantikan dari akhlak dari para syahid itu tidak hanya istri yang tengah memberikan kesaksian bahwa di dalam masyarakat setiap orang yang berkaitan dengan mereka adalah saksi dari akhlak mulia mereka. Hadhrat Masih Mauud as juga dalam menerangkan itu bersabda bahwa barangsiapa yang tidak menunaikan hak-hak hamba Allah, tidak menunaikan anak dan istrinya, dia juga tidak menunaikan hak-hak Allah. Kendati dia secara lahiriah adalah orang yang menunaikan shalat juga maka akibat tidak menunaikan hak-hak hamba Allah ibada-ibadahnya akan terus menjadi sia-sia.

Jadi para syahid yang mencapai kedudukan syahid sesungguhnya kedudukan atau pangkat kesyahidan untuk mereka merupakan ijazah sebagai bukti pengabulan ibadah-ibadah dan terkabulnya penunaian hak-hak manusia yang mereka lakukan. Kemudian kita melihat bahwa tidak hanya pada ibadah-ibadah dan pada akhlak-akhlak mulia orang-orang itu cukup bahkan pada bagian-bagian/cabang-cabang tanggung jawab mereka juga mereka sempurnakan. Seorang bapak adalah merupakan pengayom rumah tangga dan pendidikan anak-anak dan pengawasan terhadap mereka merupakan tanggung jawabnya. Jadi orang-orang itu juga memberikan perhatian pada penunaian kewajiban-kewajibannya dan perhatian ini nampak pada kita kesamaan dalam setiap orang yang syahid itu. Perintah Al-Quran yang berbunyi: “ la taqtuluu auladakum khasyata imlaq-Jangan kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin” itu yang menjadi perhatian mereka. Jangan kamu sedemikian rupa sibuk pada bisnis kamu sehingga tidak terpikirkan bahwa pendidikan kepada anak-anak adalah merupakan tanggung jawab kita. Orang-orang itu tidak melupakan akan janji mereka bahwa agama harus didahulukan dari dunia. Dan demi untuk pemenuhan dan menepati janji itu mereka dengan menelpon ke rumah-rumahnya, mereka mengingatkan kan kepada istri mereka bahwa suruhlah anak-anak menunaikan shalat karena permulaan mendahulukan agama dari dunia adalah dari shalat-shalat. Seorang anak perempuan memberitahukan cara-cara bapak mendidik anak-anaknya, ”Dalam perjalanan panjang bapak kami membawa kami bersamanya dan di jalan terus menerus membaca doa-doa dan suara yang keras dan berkali-kali dia baca supaya kami pun juga bisa menghafal doa-doa dan kami pun hafal dari itu dan tidak hanya menyuruh menghafal doa-doa bahkan dalam kesempatan-kesempatan mana, doa-doa apa saja yang dibaca?” Jadi inilah cara pendidikan untuk anak-anak orang-orang yang mengorban jiwa-jiwanya. Kemudian mereka itu masih muda yang kedua orang tua mereka – dengan karunia Allah masih hidup. Hak-hak mereka juga secara bersamaan para pemuda yang syahid itu telah menunaikannya. Jika kedua orang tua sakit maka siang dan malam mereka mengkhidmatinya. Adalah merupakan perintah Tuhan bahwa berlaku baiklah kepda ke dua orang tua dan janganlah karena suatu sikap kerasnya kamu mengatakan up padanya, orang-orang itu telah menunaikan hak-haknya untuk itu. Kemudian terkadang jika seorang pemuda telah menikah tengah menunaikan hak-haknya maka dia melupakan hak istrinya. Jika ada perhatian pada penunaian hak-hak istri maka terhadap penunaian hak-hak ibu bapak mereka lupakan. Namun orang-orang mukmin itu terkait dalam kapasitas meraka menjadi orang mukmin, mereka telah munaikan hak-haknya. Istri-istri mereka mengatakan bahwa (suami kami) sejalan dengan munaikan hak-hak kedua orang tuanya mereka sangat memperhatikan kami sehingga tidak pernah membiarkan terpikir di dalam benak kami bahwa jangan kan hak-hak kami yang terabaikan,sedikit pun tidak pernah melukai sedikitpun rasa gejolak emosi kami. Dan ibu bapak tengah mengatakan bahwa kami menganggap bahwa dalam berusaha menunaikan atau memenuhi hak-hak kami jangan-jangan mereka melakukan kekurangan dalam penunaian hak-hak istri. Jadi kepercayaan dan penunaian hak-hak inilah yang untuk penegakan masyarakat yang cantik dan untuk menciptakan kehidupan bagaikan surga, orang-orang itu menegakkannya dan kemudian Allah betapa Dia telah menganugerahkan ganjaran sehingga telah memberikan jaminan akan kehidupan yang abadi. Baik sosok pemuda berumur 17-18 tahun sekalipun berkenaan dengan tabeatnya atau karakternya juga ibu bapak dan orang-orang yang memiliki jalinan kerabat dekat, bahkan di perguruan tinggi dimana mereka menempuh pendidikan atau menimba ilmu para pemuda mengatakan bahwa pendapat semuanya mereka adalah bahwa ini merupakan anak yang ajaib dan merupakan anak yang memiliki karakter yang istimewa. Dan kemudian di dalam semuanya ada suatu hal yang sedemikian rupa terdapat kesamaan yang tengah bersinar secara mengemuka. Dan itu adalah pernyataan gairat kejemaatan yang tidak ada tandingannya. Contoh ketaatan kepada nizam yang luar biasa, selalu siap setiap saatdan melaksanakannya, sambil mengutamakan agama dari dunia kendati bersamaan dengan itu penunaian semua hak-hak, kendati menunaikan hak-hak semua tanggung jawab tetap mengeluarkan waktu untuk Jemaat. Dan tidak hanya dalam keadaan secara sporadis bahkan dalam keadaan yang umum sekalipun mmengeluarkan waktu untuk Jemaat. Dan kemudian untuk makan dan minumpun tidak ingat ;dan kemudian ikatan yang luar biasa dengan Khilafat ,penyataan cinta dan ketaatan.pernyataan ini kenapa ? Itu karena Rasulullah saw bersabda bahwa sesudah Masih Mauud dan Mahdi Mauud mata rantai Khilafat yang akan berjalan abadi itu akan kekal dengan gejolak kesetiaan,ketaatan dan dengan doa-doa untuk Khilafat. Jadi inilah orang-orang yang dengan ibadah-ibadah dan dengan amal saleh yang untuk mengekalkan nizam Khilafat sampai nafas terakhir mereka berusaha dan di dalam itu tidak hanya mereka itu sukses bahkan mereka menegakkan standar atau mutu yang tinggi. Orang-orang ini di bidangnya masing-masing membelanjakan segala-galanya untuk Khilafat. Mereka ini merupakan sultannanasir /penolong yang agung untuk Khilafat yang untuk mana khalifah senantiasa berdoa untuk dianugerahi itu.

Semoga Allah meninggikan derajat semuanya, menganugerahi mereka dengan kedekatan orang-orang yang dicintainya. Para syahid ini jelas telah mendapatkan kedudukannya namun kita pun dengan jalan pengorbanan-pengorbanan telah diingatkan, “Wahai kekasihku, kesayanganku, saudara-saudaraku, anak-anak laki-lakiku, anak-anakku, ibu-ibuku, saudara-saudara perempuanku dan anak-anak perempuanku ! kita telah memenuhi janji baiat kita dengan berjalan di atas contoh nabi saw namun saat pergi dari kalian mereka menzahirkan keinginannya yang terakhir kepada kalian bahwa senantiaa tegakkanlah contoh-contoh kebaikan dan kesetiaan. Sebagian laki-laki dan perempuan menulis surat kepada saya bahwa Hudhur tengah mengenang baik para syuhada, dengan mendengar peristiwa-pristiwa mereka, timbul rasa iri di dalam diri kami bahwa betapa mereka merupakan orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan dan merupakan orang-orang yang menyalakan lampu kesetiaan. Dan kitapun malu bahwa kita tidak akan sampai ke standar itu. Mendengar pristiwa-pristiwa itu kondisi penyesalan dan rasa sedih menjadi bertambah. Kemudian timbul pula rasa malu bahwa bagaimana atau betapa mutiara itu terpisah dari kami. Sensitivitas dan pemikiran ini merupakan hal yang bagus namun bangsa-bangsa yang maju tidak menganggap cukup hanya menciptakan sensitivitas bahkan untuk menjalankan kebaikan-kebaikan itu setiap orang yang tinggal di belakang akan berusaha untuk memenuhi maksud keinginan-keinginan dan pengorbanan-pengorbanan setiap orang yang pergi. Jadi tugas dan kewajiban kita adalah bahwa sambil menciptakan perubahan suci di dalam diri kita menunaikan hak pengurbanan-pengurbanan itu. Setelah memenuhi hak anak istri mereka kita memenuhi tanggung jawab kita. Untuk pendidikan atau tarbiat anak-anak mereka yang kecil dimana nizam jemaat menunaikan kewajibannya disana hendaknya juga setiap individu jemaat berdoa untuk mereka. Semoga Allah melindungi semua anggota keluarga yang ditinggalkan itu dalam perlindungan-Nya yang aman. Menjauhkan semua kesedihan-kesedihan ,kesusahan-kesusahan dan penderitaan-penderitan dan Dia sendiri yang menolong mereka.

Seberapa pun usaha manusia di dalamnya masih terdapat unsur kekurangan. Allah-lah yang dapat menciptakan sarana ketenteraman. Semoga Allah menciptakan sarana ketenteraman untuk mereka dan menciptakan sarana untuk kondisi terbaik bagi mereka. Oleh karena itu ingatlah dalam doa-doa kalian keluarga para syahid dan anggota Jemaat pun juga mendoakan untuk diri sendiri. Semoga Allah menjauhkan kita dari kejahatan setiap musuh. Karena dewasa ini doa-doa sangat penting. Situasi di Pakistan menuju kondisi yang tambah parah. Tidak ada perubahan, dari itu perlawanan terus menjadi bertambah. Semoga Allah menjauhkan dari setiap keburukan dan kejahatan orang-orang yang jahat itu Allah timpakan kembali pada muka mereka dan Dia menganugerahkan keteguhan kepada setiap Ahmadi.

Pada akhirnya setelah Jumat saya akan menshalatkan shalat jenazah gaib. Sekarang itu saya umumkan. Ini adalah shalat jenazah mukarram Syafiq al Muradni sahib, Amir Jemaat Suriah yang wafat pada 30 juni 2010 saat berumur 67 tahun. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.

Setelah tamat sekolah SMU beliau belajar syariat selama 6 tahun di rumah Syekh Hasyim. Rumah beliau terletak di daerah Syagur dimana tinggal tuan Munir al Husni, Amir Syam (Suriah dsk) yang sejak kecil dikenal beliau. Pada zaman itulah beliau memperoleh karunia mengkhidmati sang amir. Nazir Sahib pada tahun 1963 mendengar akidah–akidah jemaat lalu baiat. Di Damaskus beliau menjabat sebagai manajer Urban Transport. Hadhrat Khalifatul Masih IV pada tahun 1986 telah mengangkat beliau sebagai Sadr Ansarullah pertama dan pada 1988 sesudah kewafatan Munir ul Husni beliau diangkat sebagai Amir Suriah. Pada tahun 1989 akibat dari kondisi yang tidak mendukung keamiran di sana dihapuskan. Dalam situasi itu Hadhrat Khalifatul Masih IV bersabda kepada Jemaat Suriah, “Jadilah kalian ashhaabur raqm (orang-orang yang menulis).” Sesuai dengan perintah itu, beliau menulis buku yang dengan karunia Allah ada 8 buah buku beliau yang diterbitkan. Sebelum wafat pun beliau tengah menulis sebuah buku. Pada tahun 1996 beliau mendapat karunia mengikuti Jalsah Salanah di Inggris. Sesudah Jalsah itu beliau sepanjang umur menyebutkan pelayanan Khalifah pada tamu dan kebaikan-kebaikan Khalifah. Beliau merupakan sosok yang sangat sederhana namun senantiasa ceria dan bertabiat periang. Beliau sangat menghormati para waqifiin. Di sana sebagian pelajar kita yang mewakafkan diri datang untuk menimba ilmu dan semua mahasiswa yang datang ke Damaskus sangat memperhatikan mereka. Ikatan beliau dengan Khilafat Ahmadiyah pada taraf fana sehingga manakala disebutkan perihal Khilafat maka timbul gejolak dari mata beliau dan suara beliau. Beliau seorang yang sabar sedemikian rupa sehingga pada saat ditimpa kesulitan-kesulitan besar senantiasa menyenandungkan rasa syukur dari lubuk hati yang sangat dalam. Seorang teman yang setia, ahmadi yang tabah lagi istiqamah. Terhadap mertua sedemikian memiliki perlakuan cinta sehingga ipar perempuan beliau menganggap beliau sebagai bapaknya. Mukarram Muhammad Musallam ad Darubi yang dewasa ini merupakan presiden Jemaat Suriah menerangkan, “Ketika saya ditetapkan sebagai presiden Jemaat Suriah, beliau sedemikian rupa menyatakan ketaatan dan kerendahan hati dan sikap tulus sehingga saya menjadi heran karenanya.” Semoga Allah meninggikan derajat beliau dan menganugerahkan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan. (aamiin)

Penerjemah:Mln. Qamaruddin Syahid.

Khotbah ke-II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

[1] Selanjutnya istilah almarhum syahid atau almarhum (artinya dalam bahasa Arab ialah dia yang dirahmati (oleh Allah)) yang syahid tersebut akan digunakan terkait penyebutan tiap-tiap syahid yang tengah dibahas. Istilah almarhum syahid atau ‘syahid marhum’ digunakan Hudhur V atba dalam khotbah beliau atba berupa teks asli berbahasa Urdu.

[2] Majlis Tahafuz Khatm-e-Nubuwwat, sebuah perkumpulan Muslim Pakistan yang mengklaim sesuai nama perkumpulan itu guna menjaga agar masyarakat tetap berpaham atau memahami khataman nabiyyin harus diartikan ‘nabi terakhir’ dan takkan ada nabi macam apa pun setelah beliau s.a.w.

[3] Da’wah ilallah: menyeru kepada Allah ta’ala

[4] Pahlawan Pakistan yang gugur tatkala India menyerbu Pakistan namun peranannya dapat menahan gerak laju pasukan India