LENTERA PERDAMAIAN

Pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah seluruh dunia, pada peresmian Masjid Baitul Aafiyat di Philadelphia, AS, 19 Oktober 2018

lentera perdamaian

Pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah seluruh dunia, pada peresmian Masjid Baitul Aafiyat di Philadelphia, AS

Para tamu yang terhormat, Assalamualaikum warohmatullahi wa barokaatuhu.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang telah menerima undangan dan hadir pada kesempatan istimewa dan membahagiakan ini, yaitu peresmian masjid baru kami di kota ini.

Ini merupakan fakta kehidupan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup tanpa interaksi sosial atau tanpa menjalin hubungan timbal balik dengan orang lain. Terlepas dari perbedaan ras, agama atau latar belakang sosial, kita disatukan sebagai sesama manusia; sehingga penting bagi kita untuk berinteraksi pada orang lain, bukannya mengisolasi diri atau hanya bergaul dengan kelompoknya saja.

Baca juga: Islam Rahmatan lil Alamin

Dalam berbagai aspek, dialog sangatlah penting untuk menyingkirkan segala penghalang dan meningkatkan kesepahaman dan pengetahuan bersama. Guna menciptakan masyarakat yang maju dan berkembang, dan untuk menumbuhkan suasana damai dan kebersamaan, percakapan dan diskusi sehat antara orang-orang atau antar komunitas yang berbeda sangatlah penting. Oleh karena itu, saya sangat menghargai Anda yang telah meluangkan waktu di sela-sela kesibukan Anda dan bergabung bersama kami di sini. Di samping itu semua, meskipun faktanya sebagian besar dari Anda bukan Muslim, tetapi Anda menerima undangan kami dan bergabung pada acara keagamaan, yaitu peresmian masjid ini. Jadi saya tidak dapat berkata-kata lagi selain memuji tingkat toleransi dan rasa penghormatan yang tinggi.

Kehadiran Anda sekalian merupakan tanda yang menunjukkan hasrat untuk memperkuat ikatan dengan komunitas kami, hal itu juga menunjukkan ghairat Anda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kaya tentang agama kami. Ini menunjukkan bahwa Anda adalah orang-orang yang tidak mau menerima kabar angin atau informasi dari pihak kedua secara mentah-mentah.

Pada masa ini, terdapat begitu banyak informasi yang tidak akurat, upaya Anda untuk mencari kebenaran tentang Islam patut dipuji. Bukannya menerima begitu saja apa yang disampaikan media tentang Muslim atau dari apa yang digambarkan oleh pihak-pihak anti-Islam, tetapi Anda datang menyaksikan sendiri apa yang dimaksud dan dijelaskan oleh Islam. Untuk ini, saya menghargai Anda dan mengucapkan terima kasih yang tulus.

Anda mungkin mengetahui slogan Jamaah Muslim Ahmadiyah, ‘love for all hatred for none’. Slogan ini bukanlah hal baru, atau sesuatu yang tiba-tiba kami buat; tetapi slogan ini didasarkan pada ajaran-ajaran Islam, Al-Quran dan ajaran yang diberikan kepada kami oleh Nabi Muhammad (saw). Sejak awal, Islam mengajarkan bahwa saling menghormati dan toleransi adalah nilai-nilai dasar manusia. Sebagai contoh, dalam Surah Al-An’am [6]: 109, Al-Qur’an menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh memaki berhala kaum musyrik, karena hal itu akan memprovokasi mereka untuk memaki Allah taala. Jadi untuk memastikan bahwa ketegangan tidak meningkat dan untuk melindungi masyarakat dari siklus kebencian dan permusuhan, umat Islam diperintahkan untuk mengendalikan diri dan sabar dalam setiap kesempatan.

Meskipun seringkali umat Islam dituduh tidak menghormati agama lain atau pendiri agama lain, tetapi semua itu tidak benar. Sebaliknya, berdasarkan ajaran Al-Qur’an, umat Islam meyakini bahwa semua nabi telah diutus oleh Allah kepada setiap bangsa guna membimbing dan memperbaiki umat manusia di berbagai tempat. Kami meyakini kebenaran semua nabi dan percaya bahwa mereka diutus untuk menarik umat manusia menuju Tuhan Yang Maha Kuasa, mengajarkan akhlak dan membangun nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti kebebasan hati nurani, keadilan dan peduli kepada sesama. Jadi bagaimana mungkin kami tidak menghormati atau melecehkan agama lain, atau pengikut mereka?

Oleh karena itu, kami, Muslim Ahmadi tulus menyatakan bahwa kami tidak membenci siapa pun. Selain itu, kami menjunjung kecintaan yang tulus untuk semua orang dan selalu siap menjalin persahabatan dengan orang lain. Sebagai contoh kecil, tahun lalu ketika sebuah pemakaman Yahudi diserang di Philadelphia dan batu nisan mereka dilecehkan, anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah datang menawarkan bantuan kepada kelompok Yahudi dan menunjukkan solidaritas kepada mereka, segera setelah kejahatan yang tercela itu. Kami tidak mencari penghargaan atau pujian atas hal-hal seperti itu, karena kami hanya mengikuti apa yang diajarkan agama kami, yang harus bahu-membahu membantu orang-orang dari kepercayaan dan keyakinan lain pada saat mereka membutuhkan atau tertindas. Kami memperjuangkan hak setiap orang untuk menjalani hidup mereka yang bebas dari diskriminasi dan prasangka.

Baca Juga: Kebebasan Beragama dan Toleransi Dalam Islam

Siapa pun yang mau mempelajari sejarah Islam secara obyektif dan jujur, mereka akan melihat bahwa kebebasan universal dalam berkeyakinan selalu menjadi inti ajaran Islam. Tentu saja, manifestasi besar dari pluralisme dan toleransi seperti itu adalah pemerintah yang dibentuk di kota Madinah, ketika Nabi Muhammad (saw) bersama para sahabat berhijrah ke sana setelah menghadapi penganiayaan bertahun-tahun di Mekkah. Bersama dengan para pemimpin agama dan komunitas lain, Nabi Muhammad saw membuat perjanjian yang berfungsi sebagai dasar untuk pemerintahan di kota yang beragam itu. Perjanjian ini memastikan bahwa semua anggota masyarakat dapat hidup dengan damai, bebas dari penindasan, dan bebas untuk menjalankan agama atau kepercayaan mereka. Lebih jauh lagi, menurut kebiasaan waktu itu, setiap komunitas terikat oleh hukum agama mereka masing-masing atau adat istiadat setiap suku. Jadi umat Islam mengikuti hukum Syariah Islam, orang-orang Yahudi mengikuti hukum berdasarkan Taurat dan komunitas lainnya mengikuti hukum sesuai dengan kebiasaan dan kepercayaan mereka sendiri.

Pada saat yang sama, setiap orang, tanpa memandang agamanya, memiliki tanggung jawab untuk menegakkan perdamaian negara dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Perjanjian itu menumbuhkan perdamaian dan memastikan terbentuknya masyarakat yang toleran. Dengan demikian, lebih dari 1400 tahun yang lalu, melting-pot masyarakat multikultur telah berhasil dikelola dan dikembangkan di Madinah. Saya tidak menyarankan bahwa di dunia saat ini harus menerapkan undang-undang yang berbeda sesuai komunitas yang berbeda yang hidup dalam masyarakat yang sama; tetapi poin saya adalah bahwa prioritas utama kami adalah selalu membangun perdamaian di masyarakat, dengan menjunjung nilai-nilai universal manusia, dengan mempromosikan moralitas dan keadilan di semua lapisan masyarakat. Untuk menjelaskan lebih lanjut, Al-Quran Suci dan Nabi Muhammad saw telah menegaskan bahwa seharusnya tidak ada bentuk paksaan dalam hal agama. Setiap individu memiliki hak untuk memilih jalan apa pun yang ingin ditempuh. Keyakinan selalu berhubungandengan hati dan pikiran seseorang, dan selalu akan seperti itu.

Pada saat yang sama, Islam mengajarkan bahwa terlepas dari perbedaan agama atau keyakinan, setiap warga negara berkewajiban untuk hidup damai dan tidak boleh melakukan tindakan apa pun yang mengancam kedamaian masyarakat. Islam mengajarkan bahwa semua orang harus menjadi warga negara yang taat hukum dan setia, serta berbakti untuk kemajuan dan perkembangannya. Oleh karena itu, jika di antara kalian ada yang khawatir dan cemas bahwa masjid baru ini akan digunakan oleh umat Islam untuk merencanakan tindakan merusak kedamaian masyarakat atau memicu kebencian, maka saya yakinkan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran atau kecemasan semacam itu. Yakinlah, bangunan ini akan menyebarkan pesan cinta, kasih sayang, dan persaudaraan.

Tujuan Pembangunan Masjid

Dalam hal ini, saya ingin menjelaskan secara singkat apa tujuan dari sebuah masjid. Tujuan utama sebuah masjid adalah tempat bagi umat Islam berkumpul, dengan semangat saling cinta dan persatuan, untuk menyembah Tuhan yang Satu, sesuai yang Dia ajarkan. Pada saat yang sama, tujuan kedua sebuah masjid adalah menjadi pusat untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Setiap jamaah memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk memenuhi hak semua masyarakat lainnya. Jadi masjid hakiki adalah simbol dan manifestasi dari welas asih, kebajikan dan persatuan. Sejarah Jamaah Muslim Ahmadiyah menunjukkan bahwa di dunia manapun kami membangun masjid, anggota kami yang beribadah di sana senantiasa meningkatkan standar cinta, simpati dan loyalitas terhadap sesama warga negara. Kalaupun Masjid kami membuat seruan kepada Ahmadi Muslim, maka hal itu bukanlah seruan ke arah terorisme atau ekstremisme, melainkan seruan berbuat baik kepada manusia dan membuka hati kami pada sesama makhluk. Masjid menjadikan tekad kami lebih kuat untuk menyebarkan perdamaian dan mempererat tali persaudaraan dan saling mengasihi setiap orang di semua lapisan masyarakat dan menghilangkan segala bentuk kebencian, kefanatikan dan perpecahan dalam masyarakat.

Baca Juga: Masjid Pusat Perdamaian dan Cinta Kasih

Kota ini dikenal sebagai ‘kota cinta persaudaraan’ dan tentu saja, masjid baru kami adalah tanda – dan memang komitmen dari kami – dari janji kami untuk mengintensifkan upaya kami menyebarkan cinta, persaudaraan dan niat baik di sini dan sekitarnya. Meskipun mudah untuk membuat klaim seperti itu, sejarah kami membuktikan bahwa itu bukanlah kata-kata semu, tetapi memiliki substansi yang nyata. Setiap saat, kami berusaha untuk mempraktekkan apa yang kami khotbahkan. Dengan demikian, saya sepenuhnya yakin bahwa masyarakat setempat akan segera menghargai bahwa masjid ini, yang diberi nama ‘Baitul Aafiyyat’ yang secara harfiah berarti ‘Rumah Keamanan’ akan menjadi sumber perdamaian sejati bagi seluruh masyarakat.

Lebih jauh lagi, saya ingin menegaskan bahwa komitmen kami untuk perdamaian dan ikrar kami untuk melayani umat manusia sepenuhnya didasari oleh keimanan dan ajaran agama kami. Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, yang kami yakini sebagai Almasih dan Imam Mahdi yang dijanjikan secara terbuka menyatakan bahwa beliau adalah Almasihnya Muhammad (saw) dan beliau akan mengikuti cara-cara damai dari Almasih yang mengikuti Musa (yaitu Nabi Isa as). Dan beliau menyatakan bahwa beliau telah diutus oleh Allah dengan dua tujuan yang luar biasa.
Pertama, beliau diutus untuk membawa umat manusia kembali kepada Penciptanya dan untuk menarik perhatian orang-orang memenuhi hak-hak Allah. Kedua, beliau datang untuk mengajak umat manusia menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan memenuhi hak satu sama lain. Oleh karena itu, setiap Muslim Ahmadi, yang telah menerima Almasih dan Al-Mahdi yang Dijanjikan berkewajiban untuk melakukan segala upaya untuk lebih dekat kepada Allah taala dan melayani umat manusia.

Al-Quran Kitab Perdamaian

Hal ini merupakan sesuatu yang berulang kali diajarkan oleh Al-Qur’an dan Nabi Muhammad (saw). Dalam Surah An-Nisa [4]: 37 telah difirmankan:


“Dan, sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri.”

Ayat Al-Qur’an ini merupakan piagam moralitas dan hak asasi manusia yang luar biasa. Ini adalah jalan emas menuju perdamaian dan sarana menciptakan cinta dan persaudaraan. Dalam ayat ini, selain menyembah Allah, Dia memerintahkan umat Islam untuk memperlakukan orang tua dan kerabat mereka dengan cinta dan kasih sayang. Dia memerintahkan mereka untuk membantu dan menghibur anggota masyarakat yang lemah, seperti anak yatim atau orang miskin dengan cara apa pun. Selain itu perhatian khusus lainnya adalah memenuhi hak-hak tetangga. Umat Islam diajarkan untuk mencintai dan melindungi tetangga mereka dan siap membantu mereka di saat mereka membutuhkan.

Tetapi saya ingin terangkan di sini, bahwa definisi ‘tetangga’ dalam Islam sangat luas. Tetangga tidak hanya mencakup orang-orang yang tinggal di dekatnya, tetapi juga mencakup orang-orang yang tinggal lebih jauh, teman seperjalanan, rekan kerja, bawahan, dll. Jadi Al-Qur’an telah menyatakan bahwa semua orang yang tinggal di kota tempat umat Islam berada adalah tetangga mereka. Rasulullah saw juga berulang kali memerintahkan umat Islam untuk memenuhi hak-hak tetangga mereka. Beliau bersabda bahwa Allah telah menekankan pentingnya memperhatikan tetangga sampai-sampai beliau mengira bahwa mereka akan termasuk di antara ahli waris. Jadi, bilamana kami membangun mesjid dan membentuk komunitas Muslim Ahmadi di Philadelphia ini, kami melakukannya dengan tujuan meningkatkan perdamaian dan kemakmuran kota ini dan berbuat baik kepada warganya.

Sekarang masjid ini telah dibuka, Muslim Ahmadi lokal akan memperlakukan semua orang di kota ini sebagai tetangga dan menganggap bahwa mereka memiliki banyak hak atas mereka dan para anggota Ahmadi akan berusaha untuk memenuhi hak tersebut dengan sekuat tenaga. Setiap kali Anda membutuhkan bantuan, kami akan berusaha untuk membantu dengan cara-cara yang kami mampu.

Pada saat-saat kesedihan dan keputusasaan, kami akan selalu ada di sana untuk menghapus air mata tetangga kami, serta mendukung dan menghibur mereka.

Jadi, saya yakin Anda akan menyaksikan di samping masjid baru ini akan menjadi daya tarik fisik sebagai landmark di kota ini, lebih penting lagi, masjid ini akan meningkatkan dan memperindah masyarakat secara rohani dengan menyebarkan cinta dan kebaikan di seluruh kota dan lebih luas lagi. Masjid ini akan menjadi sumber cahaya dan harapan bagi semua orang yang cinta damai, tanpa memandang kasta, keyakinan atau warna kulit.

Saya berharap dan berdoa semoga semua orang di kota ini, dari mana pun mereka atau apapun agamanya, dapat bersatu dan bekerja untuk kebaikan bersama dan menumbuhkan suasana damai yang sejati yang berkesinambungan.

Philadelphia merupakan kota kolonial pertama, yang menerapkan kebebasan beragama dan kebebasan beribadah di negara ini. Di samping itu kota ini bersejarah sebagai tempat ditandatangainya Deklarasi Kemerdekaan. Oleh karena itu, kota ini memiliki sejarah yang kaya dan membanggakan. Saya berdoa semoga masyarakatnya dapat membangun masa depan mereka di atas masa lalu mereka yang besar dan tetap menjadikannya sebagai ciri khas mereka.

Saya berdoa semoga kota ini selamanya menjadi lentera kebebasan berkeyakinan, dan semua warga kota ini dapat berperan dalam mengembangkan perdamaian, tidak hanya di kota ini, tetapi di seluruh Amerika Serikat dan tentunya, di seluruh dunia. Meskipun jumlah kami di sini masih sangat sedikit, saya menjamin bahwa Komunitas Muslim Ahmadiyah akan selalu siap mendukung setiap upaya mulia dan menawarkan bantuan apa pun yang diperlukan.

Semoga Allah taala mewujudkan perdamaian sejati di setiap kota dan negara.

Pada akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Anda semua karena telah bergabung bersama kami pada hari ini.

Sumber: A Beacon of Peace – The Review of Religions
Penerjemah: Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor: Damayanti NataliaBaca Juga