Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Derajat Mulia Hadhrat Rasulullah saw.

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

15 Mei 2015 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu telah saya sampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Punjab di Pakistan akhir-akhir ini telah melarang penerbitan serta pameran beberapa terbitan-terbitan Jemaat. Namun pada saat ini, dengan menggunakan mobile technology (teknologi seluler) dan messaging apps (aplikasi perluasan pesan) segala berita dapat sampai dengan sangat cepat. Orang-orang dari Pakistan menulis surat kepada saya (Hudhur V atba) seraya mengungkapkan kegelisaan yang mereka rasakan terhadap perkara ini. Hendaklah diingat, penentangan terhadap jemaat bukanlah suatu perkara baru dalam sejarah Jemaat. Dilihat dari sejarah Jemaat, orang-orang yang dikenal sebagai pemimpin agama itu telah mengajukan bermacam keberatan serta menciptakan berbagai kesulitan bagi Jemaat dan tidak akan berhenti untuk itu. Akan tetapi, tidaklah cara mereka tersebut merugikan jemaat di masa lalu dan tidak pula Jemaat di masa mendatang. Tidak ada seorang ibu pun yang dapat melahirkan seorang anak yang mampu menghentikan misi Ilahi Hadhrat Masih Mau’ud as ini.

Para ulama yang sekedar nama itu, dan juga pemerintah yang memandang mereka guna meraih dukungan mereka, mencari-cari alasan guna menuangkan kebencian mereka melihat kemajuan Jemaat. Kecemburuan mereka menjadi begitu besar sehingga menghilangkan akal sehat mereka. Rupanya, orang-orang terpelajar dari kalangan mereka pun bersikap lebih buruk daripada mereka yang buta huruf (kurang berpendidikan), tanpa mencoba melihat bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as dengan cara yang agung telah menuliskan tentang Islam yang hakiki dan keagungan serta kedudukan Hadhrat Rasulullah saw. Juga bagaimana Jemaat Muslim Ahmadiyah telah berdiri dan berusaha mengetengahkan hal ini dengan segenap upaya yang indah.

Orang-orang Muslim yang adil dan obyektif dari kalangan bangsa Arab dan selain mereka menjadi terheran-heran karena kagum dengan membaca literatur-literatur kita karena mereka menyadari kepalsuan serta kesalahan yang dilukiskan oleh para pemfitnah kita tentang tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka mengungkapkan kekaguman mereka terhadap program live (siaran langsung) di MTA serta menulis bahwa mereka baru menyadari ketinggian tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as karena selama ini para pemimpin agama mereka hanya membawa mereka tetap berada dalam kegelapan.

Para pemfitnah kita melakukan apa yang biasa mereka lakukan namun seperti biasa, cara mereka malahan hanya akan memperindah keimanan kita serta akan menghidupkan hubungan kita dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Jangankan pemerintahan Punjab, bahkan meskipun seluruh dunia melakukan upaya memberikan segala rintangan, namun pekerjaan kita tidak akan berhenti karena ini adalah pekerjaan Ilahi. Sungguh Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as dengan harta kekayaan rohani serta menjanjikan kesuksesan baginya. Semakin banyak para penentang mencoba untuk menekan  kita, semakin besar pula kemajuan kita dan insya Allah, segalanya akan terus terjadi seperti ini.

Tidak perlu merasa khawatir karena sekarang perihal pelarangan buku-buku kita karena buku-buku kita juga telah diterbitkan di negara-negara lain di dunia. Buku-buku tersebut juga tersedia secara online dan juga tersedia dalam format audio. Ada masa ketika pembatasan untuk mencetak literatur-literatur menimbulkan kekhawatiran namun sekarang harta kekayaan pengetahuan rohaniah ini tersebar luas di seluruh alam semesta ini dan hendaklah kita mengambil manfaat sebanyak-banyaknya darinya.

Saya (Hudhur V atba) telah memutuskan bahwa dars (penyampaian) tentang buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as di MTA sekarang disampaikan lebih sering daripada sebelumnya. Dengan demikian, pembatasan yang terjadi di suatu provinsi di Pakistan akan berakhir dengan memberikan keuntungan bagi setiap orang. Dars hendaklah dalam bahasa asli buku tersebut namun materinya bisa dalam beragam bahasa. Mereka yang merasa khawatir dengan situasi ini hendaklah melepaskan kekhawatiran mereka. Pembatasan ini malah menjernihkan (membuat jelas) sebuah poin (pokok pikiran), yakni orang-orang ini menyatakan bahwa mereka memiliki kecintaan yang besar terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan mengatakan bahwa penentangan mereka terhadap kita tercipta atas dasar kecintaan ini namun mereka sendiri tidak pernah membaca literatur-literatur kita dengan pikiran terbuka.

Khotbah Jumat pada kali ini adalah berdasarkan kutipan tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as yang para penentang nyatakan bertolak belakang dengan ketinggian dan kemuliaan Hadhrat Rasulullah saw, naudzu billah. Mengherankan bahwa setiap orang yang menyatakan mencintai Hadhrat Rasulullah saw bisa tetap merasa tidak rela untuk menerima dan memahami tulisan-tulisan ini setelah membaca dan mendengarkannya.

Beliau as menulis, آلاف الشكر لك يا ربَّناAalaafusy syukri laka, yaa Rabbanaa – Ribuan syukur atas Engkau, wahai Tuhan kami, karena Engkau sendiri telah menurunkan Kitab Suci guna memandu kami menuju ma’rifat tentang Diri Engkau, menjauhkan diri kami dari kesalahan, kelalaian pemikiran dan mental. والصلاة والسلام على سيد الرسل محمد المصطفى وعلى آله وأصحابه ‘Wash shalaatu was salaamu ‘ala sayyidir rusul, Muhammad al-Mushthafa wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi’ – shalawat dan salam atas tuan para Rasul, Muhammad nan terpilih, juga atas para keluarga beliau dan para sahabat beliau. الذي أرشد الله به عالَما ضالا إلى الصراط المستقيم Alladzi arsyadaLlahu bihi ‘aalaman dhaalan ilash shiraathil mustaqiim.’ – Allah telah memberi petunjuk kepada dunia nan tersesat ke arah jalan lurus dengan mengutus beliau saw.

 ذلك المربي النافع الذي هدى الخلق الضال إلى الصراط السوي من جديد،  ‘Dzalikal Murabbi an-Naafi’ alladzi hadal khalqadh dhaala ilash shiraatis sawiyyi min jadiid (Itulah dia sang Murabbi (Pendidik) nan penuh nilai lagi manfaat yang memandu para makhluk salah arah menuju jalan luhur nan benar), ذلك المحسن ذو المنة الذي خلّص الناس من بلاء الشرك والأوثان،  dzalikal Muhsin dzul minah, alladzi khallashan naasa min balaa-isy syirki wal autsaan (itulah dia Juru perbaikan yang memiliki karunia yang menyelamatkan umat manusia dari bala bencana syirik dan pemujaan berhala), ذلك النور وناشر النور، الذي نشر نور التوحيد في الدنيا، dzaalikan Nuur wa Naasyirun nuur, alladzi nasyara nuurat tauhiidi fid dunyaa (dialah Cahaya dan penyebar cahaya yang menyebarluaskan cahaya terang ketauhidan di dunia).’

ذلك الطبيب ومعالج الدهر الذي ثبّت القلوب الفاسدة على الصلاح، ‘Dzalikath thabibu wal mu’aalijud dahri lladzi tsabbata quluubal faasidata ‘alash shalaah’ (Dialah dokter dan juru penyembuh zaman yang meluruskan dan mengobati hati-hati nan rusak menuju kesembuhan dan kepulihan) ذلك الكريم، رمز الكرم الذي سقى الأموات ماء الحياة، ‘Dzalika al-kariim, ramazal karm, alladzi saaqal am-waat maa-al hayaah’ (Dialah Yang Mulia lagi dermawan, symbol dan tanda kemuliaan, yang memberi minum orang-orang mati dengan air kehidupan.) ذلك الرحيم المتعاطف الذي حزن للأمة وتأذى، ‘dzalikar rahiimul muta’aathif, alladzi hazina lil ummati wa ta-dza.’ (Dia sangat penyayang lagi penuh simpati, yang akan prihatin lagi sedih untuk umatnya dan merawat penderitaan mereka.)

ذلك الشجاع والبطل الذي انتشَلنا من فوّهة الموت، ‘dzalikasy Syujaa’u wal bathal, alladzi intasyalanaa min fawwahatil maut,’ (Dialah Sang Pemberani lagi Pahlawan yang menarik keluar kita dari mulut kematian) ذلك الإنسان الحليم المتواضع الذي أخضع رأسه للعبادة وسوّى ذاته بالتراب، ‘Dzalikal insaanul haliimul mutawaadhi’, alladzi akhdha’a ra-sahu lil ‘ibaadah wa sawwa dzaatahu bit turaab’ (Dialah manusia santun lagi rendah hati, yang menundukkan kepalanya untuk ibadah dan terbiasa tubuhnya dengan debu-debu tanah) ذلك الموحد الكامل وبحر العرفان الذي ما راقه إلا جلال الله، ‘Dzalikal muwahhidul kaamil wa bahrul ‘irfaan, alladzi maa raaqahu illa jalaaluLlahi.’ (Dialah muwahhid sempurna dan samudra kebijaksanaan, yang tidak akan menyilaukan matanya (gentar, terkagum-kagum) kecuali kegagahan Ilahi) وأسقط غيره من نظره، ‘wa asqatha ghairahu min nazharih’ – (Dia jatuhkan, abaikan selain-Nya dari pandangannya)

ذلك المعجزة من قدرة الرحمن؛ الذي غلب في جميع العلوم الحقّة مع كونه أميّا، وأدان كل قوم على أخطائهم وتقصيراتهم. ‘dzalikal mu’jizatu min qudratir Rahmaan, alladzi ghalaba fii jamii’il ‘uluumil haqqati ma’a kaunih ummiyyan, wa adaana kullu qaumin ‘alaa akhtha-ihim wa taqshiiratihim.’ (Dialah Mukjizat dari kekuatan sang Maha Rahman, Penyayang, yang unggul dalam semua ilmu kebenaran kendati pun dirinya adalah ummiy, segala bangsa mengakui kesalahan dan kekurangan mereka dengan memandang ilmu beliau)[1]

Hal yang sebenarnya ialah, akhlak seorang manusia nampak jelas keasliannya tatkala menghadapi kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan atau saat ia meraih kesejahteraan dan kemakmuran serta mencapai kekuatan dan kekuasaan. Perkara ini nampak nyata dalam corak sempurna melalui pribadi Nabi saw dan sahabat-sahabat terdekat beliau saw.

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis perihal Nabi saw pada masa kesulitan dan kejayaan, “Tujuan Allah Ta’ala berkenaan dengan para nabi dan auliya adalah agar setiap kualitas keluhuran akhlak mereka dapat dimanifestasikan dan dipelihatkan secara jelas. Untuk memenuhi tujuan ini, Allah Ta’ala membagi kehidupan mulia mereka menjadi 2 bagian. Bagian pertama kehidupan mereka dilalui dengan penuh kesulitan dan bencana dimana mereka disiksa dan dianiaya dengan segala cara sehingga kualitas keluhuran akhlak mereka dapat dimanifestasikan dan hanya dapat dimanifestasikan dalam keadaan sulit seperti itu. Jika mereka tidak berada dalam kondisi sulit demikian, lalu bagaimana bisa ditegaskan bahwa mereka merupakan orang-orang yang setia terhadap Tuhan mereka ketika menghadapi musibah.

Akan tetapi, mereka malah terus maju ke depan. Mereka bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa Dia telah memilih mereka untuk mendukung-Nya dan Dia menganggap mereka layak sehingga mereka hendaknya dianiaya demi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menimpakan mereka dengan berbagai musibah supaya mereka dapat menunjukan kesabaran, istiqamah, keteguhan hati, ketekunan, kesetiaan dan keberanian mereka menghadapi dunia yang dengan cara demikian nampak di dalam diri mereka “الاستقامة فوق الكرامة” al-istiqamah fauqal karamah (keteguhan berdiri diatas kehormatan atau keteguhan yang demikian maksimal, luar biasa dan penuh kehormatan). Hal demikian karena kesabaran yang sempurna tidak dapat dimanifestasikan tanpa adanya kesulitan dan tidak pula derajat sempurna dari ketekunan dan istiqamah dapat diperlihatkan kecuali dalam kondisi yang sangat mengharuskan untuk berbuat demikian.

Segala musibah ini sebenarnya merupakan nikmat rohani bagi para nabi dan auliya yang melaluinya keluhuran akhlak mereka yang tiada taranya dapat dimanifestasikan dan kedudukan mereka dimuliakan di Akhirat. Jika mereka tidak berada dalam keadaan sulit demikian, mereka tidak akan dapat meraih kenikmatan-kenikmatan seperti itu dan tidak pula kualitas keluhuran akhlak mereka akan ditampilkan kepada khalayak umum. Dengan demikian mereka akan dianggap seperti orang pada umumnya dan setara dengan mereka. Bahkan jika mereka telah pernah hidup sebentar dalam kenyamanan dan kemewahan, mereka akan tetap harus pergi dari dunia fana ini suatu hari nanti.

Dengan demikian, kenyamanan tersebut tidak akan tinggal bersama mereka dan mereka tidak akan meraih derajat yang tinggi di Akhirat dan kegagahan, ketetapan hati, kesetiaan serta keberanian mereka tidak akan dikenal secara universal yang membuktikan mereka berbeda dengan yang lain, tak ada bandingannya, unik dari yang unik, tersembunyi dibalik yang tersembunyi dimana tidak satupun pikiran seseorang dapat mencapainya dan begitu sempurna dan beraninya seolah-olah setiap mereka merupakan ribuan singa di dalam satu tubuh dan ribuan macan di dalam satu bingkai yang kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya berada di atas imajinasi setiap orang serta mencapai kedudukan yang paling tinggi dalam kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Bagian kedua dari kehidupan para nabi dan auliya adalah pada saat mereka merasakan tingkat tertinggi dalam kemenangan, martabat dan kekayaan sehingga mereka dapat menunjukan kualitas keluhuran akhlak mereka sehingga hanya dapat ditampilkan oleh seseorang yang merasakan kemenangan, martabat tinggi, kekayaan, kekuasaan, kedaulatan dan kekuatan. Memiliki kekayaan dan kekuatan merupakan kondisi dasar untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki akhlak yang sangat luhur seperti dalam memberikan maaf kepada para penganiayanya, mengampuni mereka yang menyerangnya, mencintai musuhnya, menginginkan kebaikan bagi mereka yang tidak menginginkan apapun kecuali kejahatan bagi dirinya, tidak mencintai kekayaan, tidak mengizinkan dirinya untuk menjadi sombong karena kekayaannya, tidak pelit dan kikir, dermawan dan suka memberi, tidak menggunakan kekayaannya untuk memuaskan nafsunya, dan tidak menggunakan otoritas dan kekuasaannya sebagai sarana kezaliman dan agresi. Kualitas-kualitas ini ditunjukan hanya ketika seseorang memiliki kekayaan dan otoritas (kewenangan atau kekuasaan). Tanpa melewati masa penuh ujian dan cobaan dan juga masa kemakmuran dan penuh kekuasaan, kedua jenis kualitas keluhuran akhlak ini tidak dapat dimanifestasikan. Itulah mengapa hikmah sempurna dibalik Allah Ta’ala menghendaki agar para nabi dan auliya dihadapkan kepada kedua kondisi ini yang penuh dengan ribuan karunia.

Dua kondisi ini bagaimana pun juga tidak terjadi dalam urutan yang sama. Hikmah ilahi mentakdirkan bahwa dalam beberapa kasus, masa kedamaian dan kenyamanan terjadi di masa awal kehidupan mereka yang kemudian diikuti dengan masa kesulitan; sedangkan yang lainnya dimulai dengan masa kesulitan dan pada akhirnya pertolongan Allah Ta’ala datang untuk menyelamatkan mereka. Dalam beberapa kasus, dua kondisi ini hampir tidak kentara dan sulit dibedakan; sementara yang lainnya dapat ditandai dengan jelasn dan nyata. Berkenaan dengan hal ini, yang paling terkemuka adalah Hadhrat Khatamur-Rasul saw karena beliau saw mengalami kedua kondisi ini dalam kesempurnaannya dan dalam urutan yang sedemikian rupa sehingga kualitas keluhuran akhlak Hadhrat Rasulullah saw bersinar seperti matahari dan dengan demikian, makna dari وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan, sesungguhnya, engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung” (68:5) benar-benar terpenuhi.

Selain Hadhrat Rasulullah saw telah terbukti sempurna dalam kualitas keluhuran akhlak beliau saw pada kedua kondisi tersebut, beliau saw juga menjadi bukti kualitas keluhuran akhlak para nabi lainnya karena beliau saw telah memberikan kesaksian terhadap kenabian mereka, membenarkan kitab suci mereka dan telah menunjukan kepada dunia bahwa mereka benar-benar merupakan orang-orang pilihan Allah Ta’ala. Analisa ini juga secara sempurna menolak keberatan yang mungkin timbul tentang kualitas keluhuran akhlak Hadhrat Isa Al-Masih as bahwa akhlak Hadhrat Isa Al-Masih as tidak dapat terbukti dalam kehidupan beliau hingga ke derajat yang sempurna dengan dua jenis kondisi yang disebutkan di atas; bahkan mereka tidak dapat dibuktikan bahkan bertalian dengan satu jenis kondisi.

Karena Hadhrat Isa Al-Masih as menunjukan kesabaran di bawah keadaan yang sulit, kesempurnaan kualitas ini akan ditampilkan hanya jika Hadhrat Isa Al-Masih as tersebut telah meraih otoritas dan kekuasaan di atas para penganiaya dan telah mengampuni para penentang dari lubuk hatinya sebagaimana yang dilakukan oleh Khatamul-Anbiya saw yang meraih kemenangan sempurna di atas para penduduk Mekkah dan yang lainnya. Setelah hampir meletakan pedangnya di tenggorokan mereka, beliau saw mengampuni kezaliman mereka dan hanya menghukum beberapa diantara mereka yang telah memang telah turun perintah Ilahi untuk menghukumnya. Selain beberapa yang dihukum tersebut, setiap musuh diampuni. Dan setelah meraih kemenangan, beliau saw mengumumkan kepada mereka, “لا تثريب عليكم اليوم”  laa tatsriiba ‘alaikumul yaum. ‘Tidak ada cercaan dan celaan kepada kalian di hari ini.’

Dalam sekejap mata, ribuan orang [Makkah] langsung memeluk Islam dari peristiwa pemberian ampunan terhadap berbagai penyerangan yang dilancarkan oleh mereka terhadap Islam [di masa sebelumnya], yang mana pemaafan itu mereka kira mustahil bagi mereka (para penentang itu) karena mengira kesalahan mereka membuat mereka layak dihukum mati di tangan para penuntut balas. Dengan demikian, kesabaran yang tulus dari Hadhrat Rasulullah saw yang telah diperlihatkan selama masa yang panjang di bawah penganiayaan yang keras menjadi bercahaya seperti matahari di mata mereka.

Karena ini merupakan bagian dari fitrat alami manusia bahwa kemuliaan serta keagungan dari kesabaran hanya dapat digambarkan secara sempurna oleh seseorang yang telah mengalami masa penganiayaan kemudian malah memberikan ampunan kepada para penganiaya pada saat telah meraih kekuatan untuk menghukum mereka. Itulah mengapa kualitas akhlak Hadhrat Isa Al-Masih as dalam hal kesabaran, ketulusan dan ketabahan tidak sepenuhnya diperlihatkan. Dan hal itu tidak menjadi jelas apakah kesabaran dan ketulusannya adalah pilihannya atau karena sedang berada di bawah tekanan. Karena Hadhrat Isa Al-Masih as tidak memperoleh kekuatan dan otoritas sehingga tidak dapat dinilai apakah beliau as akan mengampuni para musuhnya atau malah membalas dendam kepada mereka.

Sebaliknya, kualitas akhlak luhur dari sosok Hadhrat Rasulullah saw ditampilkan dan diuji dalam ratusan kesempatan dan kebenarannya bersinar seperti matahari. Kualitas akhlak luhur dari kebaikan, kebesaran hati, kemurahan hati, tidak mementingkan diri sendiri, kegagahan, keberanian, kesederhanaan, kepuasan hati dan penarikan diri dari dunia ditunjukan begitu jelasnya dan cemerlangnya di dalam diri Hadhrat Rasulullah saw bahwa jangankan Hadhrat Isa Al-Masih as, tidak pernah ada seorang nabi pun sebelum beliau saw yang menunjukan akhlak tersebut hingga tingkat kesempurnaan yang demikian.

Karena Allah Ta’ala membukakan bagi Hadhrat Rasulullah saw pintu harta kekayaan duniawi yang tak terhitung, beliau menghabiskannya di jalan Allah Ta’ala dan tidak membelanjakan sedikit pun untuk kepentingan pribadi beliau. Beliau tidak mendirikan bangunan apapun, tidak pula sebuah tempat tinggal; namun beliau menghabiskan seluruh hidup beliau di dalam gubuk tanah liat kecil yang tidak ada bedanya dengan gubuk seorang yang miskin. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan serta menolong para penganiaya dari keadaan yang sulit dengan kekayaan beliau sendiri. Beliau biasanya tidur di atas lantai, tinggal di gubuk kecil dan memakan roti dari gandum – serta terkadang tidak ada sama sekali untuk dimakan. Beliau dianugerahi kekayaan dunia yang berlimpah, namun beliau tidak mengotori tangan suci beliau dengan itu. Beliau saw selalu lebih menyukai faqr (kemiskinan) daripada kekayaan dan lebih menyukai maskanah (ketulusan, kebersahajaan) daripada kekuasaan.

Semenjak hari kedatangan beliau saw sebagai utusan Allah hingga ketika beliau saw kembali kepada ar-Rafiq al-A’la beliau saw (Sahabat Sejati nan Luhur beliau yaitu Tuhan), beliau saw tidak mementingkan segala apapun kecuali Allah Ta’ala. Hanya semata tulus ikhlas karena Allah Ta’ala, beliau saw menunjukan keberanian, kesetiaan dan kesabaran di medan pertempuran melawan ribuan musuh meskipun dalam kondisi hampir terbunuh. Pendek kata, Allah Ta’ala menempatkan dan membuktikan seluruh keunggulan akhlak, berupa diantaranya ialah kebesaran dan kebaikan hati, kedermawanan, Zuhd (kebersahajaan) Qana’ah (kepuasan hati), Syaja’ah (kepahlawanan, keteguhan hati, kejantanan) dan Basaalah (keberanian) serta kecintaan kepada-Nya untuk dinampakkan di dalam pribadi Hadhrat Khatamul Anbiya saw dengan suatu cara yang belum pernah ditampikan sebelumnya dan tidak pula di masa mendatang…Dan Allah telah meng-khatam-kan kenabian dan risalah pada pribadi beliau nan suci dalam arti segala kesempurnaan telah tersahkan dalam pribadi beliau saw yang mulia. Dan ini adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada yang dia sukai.

Kualitas akhlak seperti ini tidak ditampilkan dengan jelas di dalam diri Hadhrat Isa Al-Masih as karena seluruh akhlak tersebut hanya dapat dibuktikan pada masa kejayaan dan kekayaan sedangkan Hadhrat Isa Al-Masih tidak mendapatkan masa kejayaan dan kekayaan seperti itu. Dengan demikian, kedua jenis kualitas keluhuran akhlak tersebut tetap tersembunyi karena tidak adanya kondisi tersebut. Bagaimana pun juga, keberatan yang disebutkan di atas yang dapat dilancarkan terhadap kekurangan di dalam diri Hadhrat Isa Al-Masih as telah ditolak dengan teladan sempurna Hadhrat Rasulullah saw, karena teladan mulia beliau saw menyempurnakan serta melengkapi akhlak semua nabi dan melalui beliau saw, apapun yang tersembunyi atau diragukan di dalam diri Hadhrat Isa Al-Masih as dan para nabi lainnya menjadi bersinar dengan sangat terang benderang. Wahyu-wahyu dan kenabian terus datang hingga akhirnya seorang suci yang di dalam dirinya memiliki segala keunggulan. [Dan ini adalah karunia Allah Ta’ala; Dia memberkati siapa yang Dia ridhoi][2]

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menulis dengan jelas perihal bahwa kecintaan kepada Nabi saw dan mengikuti beliau saw menjadikan seseorang sebagai HabibuLlah (kekasih Allah), “Allah telah menyediakan kecintaan-Nya kepada seseorang yang mengikuti Nabi itu saw. Menurut pengalaman pribadiku, kepatuhan kepada Hadhrat Rasulullah saw dengan kecintaan dan ketulusan hati pada akhirnya akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dia akan menciptakan kecintaan kepada Wujud-Nya di dalam kalbu yang bersangkutan sehingga ia akan menarik diri dari segalanya dan condong sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan segala kecintaan dan hasrat. Pada saat itu akan turun manifestasi kasih Ilahi ke atas dirinya yang akan mewarnai kalbunya dengan kecintaan dan pengabdian kepada Wujud-Nya dengan kekuatan akbar. Ia kemudian akan mengalahkan semua hasrat-hasrat pribadinya dan dari segala penjuru akan muncul tanda-tanda ajaib dari Allah yang Maha Kuasa yang akan membantu dan menolongnya.”[3]

Berikut ini beliau juga menulis tentang Hadhrat Rasulullah saw bahwa beliau adalah Nabi Sempurna dan juga Manusia Sempurna, “Manusia yang dalam wujud, perilaku dan sifat-sifatnya serta yang melalui fitrat keruhaniannya yang suci telah memberikan contoh kesempurnaan dalam ketulusan dan keteguhan serta dikenal sebagai manusia yang sempurna adalah Hadhrat Muhammad saw. Manusia yang paling sempurna, baik sebagai manusia mau pun sebagai seorang Rasul, yang datang membawa berkat akbar, wujud siapa telah menimbulkan kebangkitan kembali keruhanian dan dengan demikian telah menghidupkan kembali dunia. Beliaulah Rasul yang penuh berkat, beliau sayyiduna (junjungan kita) Khatamun Nabiyyin, imaamul ashfiyaa (imam para suci), penghulu para muttaqi, khatamul mursaliin (terbaik dari antara semua Rasul), fakhrun nabiyyiin (kebanggaan semua Nabi) adalah Muhammad Mushthafa s.a.w.

فيا ربنا الحبيب ارحم وسلِّم على هذا النبي الحبيب رحمة وسلاما لم ترحم وتسلِّم بمثلها على أحد منذ بدء الخليقة ‘Yaa Rabbanaa al-Habiib, arham wa sallim ‘alaa haadzan Nabiyyil habiibi rahmatan wa salaaman lam tarham wa tusallim bi mitslihaa ‘alaa ahadin mundzu bad-il khaliqah.’ – “Wahai Tuhan kami nan Terkasih, turunkanlah rahmat dan berilah kesejahteraan kepada nabi tersayang ini dengan jenis rahmat dan kesejahteraan yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal penciptaan.”

Jika Rasul akbar ini tidak muncul di dunia maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran dari Rasul-rasul yang berada di bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya, Zakaria dan lain-lain. Walaupun mereka itu semuanya adalah sosok-sosok orang yang dihormati dan menjadi kekasih Allah Ta’ala namun mereka berhutang budi kepada Rasul akbar ini bahwa mereka kemudian diakui sebagai Nabi-nabi yang benar. اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه وآله وأصحابه أجمعين. ‘Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaihi wa aalihi wa ash-haabihi ajma’iin.’ – “Ya Allah, turunkanlah salam dan berkat-Mu atas diri beliau, keluarga dan para pengikut beliau serta para sahabat beliau semuanya.” الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ Semua puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.[4]

Kemudian beliau menulis menjelaskan mengenai karunia-karunia atau jasa-jasa Nabi saw:

“بعث (الله تعالى) لنا رسولا كريما بارعًا في الخصال، سبّاقَ غايات في كل نوع الكمال، خاتم الرسل والنبيين، النبيّ الأميّ الذي هو محمّدٌ بما حُمِّدَ على ألسن المستفيضين، وبما بذل الجُهد للأمّة وشاد الدين، وبما جاء لنا بكتاب مبين، وبما أوذي لنا عند تبليغ رسالات رب العالمين، وبما أكمل كل ما لم يُكمَل في الكتب الأولى، وأعطى شريعة منـزَّهة عن الإفراط والتفريط ونقائص أخرى، وأكمل الأخلاق وأتمّ ما حَرَى، وأحسن إلى طوائف الورى، وعلّم الرشد بغُرر البيان ووحيٍ أجلى، وعصم من الضلالة وتحامى،

“Dia (Allah) mengirim kepada kita seorang Rasul yang murah hati yang mahir dalam kualitasnya, juara mencapai tujuan dalam perlombaan di setiap jenis kesempurnaan, pengesah para rasul dan nabi, Nabi buta huruf yang namanya Muhammad dikarenakan beliau saw dipujikan atas lisan-lisan bangsa-bangsa yang mengambil manfaat dari beliau saw, dan dikarenakan upaya kerasnya bagi umat dan menguatkan agama, dan dikarenakan beliau saw datang kepada kita dengan sebuah Kitab yang ditampilkan jelas, dan dikarenakan beliau saw demikian bersikeras pada dirinya untuk menyampaikan kepada kita risalah Tuhan seru sekalian alam; dikarenakan beliau saw sempurnakan setiap hal yang belum sempurna di kitab-kitab sebelumnya; dan beliau saw diberikan sebuah syariat yang bersih dari kekurangan dan berlebih-lebihan serta kelemahan lainnya; dan beliau saw sempurnakan akhlak dan beliau saw cukupkan lagi hal-hal yang kurang;  dan beliau saw berbuat kebaikan ke berbagai makhluk, dan beliau saw ajarkan petunjuk dengan penguraian yang fasih dan wahyu yang terang; beliau saw bentengi dan lindungi dengan kuat dari kesesatan;

وأنطق العجماوات، (أي الذين كانوا يعيشون كالدواب، وكانوا أميين وجهلاء فأعطاهم لسانا، وصقَل لسانهم ورفع أخلاقهم) ونفخ فيهم روح الهدى، وجعلهم وُرثاء كافّةِ المرسلين. وطهّرهم وزكّاهم حتى فنوا في مرضاة الحضرة، وأهراقوا دماءهم لله ذي العزّة، وأسلموا وجوههم منقادين.

Beliau buat berbicara mereka yang susah berbicara lagi bersikap liar (mereka yang hidup seperti binatang liar, tak berpendidikan dan bodoh, beliau saw berikan mereka bahasa (pembicaraan), memperbaiki dan menghaluskan bahasa mereka dan mengangkat derajat akhlak mereka); dan beliau tiupkan ruh petunjuk pada mereka; dan beliau jadikan mereka para pewaris semua rasul. Dan beliau sucikan dan bersihkan mereka hingga mereka menjadi fana dalam ridha Dia Yang Maha Tinggi; dan beliau panaskan darah mereka demi Allah pemilik keagungan; mereka pun tulus menerimanya dengan terbimbing.

وكذلك علّم معارف مبتكرة، ولطائف مكنونة ونِكاتٍ نادرة، حتى بلَغْنا الفضلَ باغتراف فُضالته، (أي رفعهم من حيث الأخلاق ومن حيث العلم والمعرفة أيضا) وعرفنا أدلّة الحق باختراف دلالته، وصعدنا إلى السماء بعدما كنّا خاسفين.

Dan demikian pula beliau ajarkan ma’rifat-ma’rifat yang baru dan berkembang; hal-hal halus yang tersembunyi dan poin-poin bahasan nan langka, hingga kita sampai pada karunia dengan mengakui bagian-bagian keistimewaan beliau (yaitu beliau mengangkat segi akhlak, juga segi ilmu dan juga ma’rifat), dan kita menjadi paham dalil-dalil kebenaran dengan petunjuk beliau; kita pun naik ke langit setelah sebelumnya kita terhalangi.

 اللهم فصلِّ عليه وسلِّمْ إلى يوم الدين، وعلى آله الطاهرين الطيبين، وأصحابه الناصرين المنصورين، نُخَبِ الله الذين آثروا الله على أنفسهم وأعراضهم وأموالهم والبنين.”

‘Allahumma fa shalli ‘alaihi wa sallim ilaa yaumid diin, wa ‘alaa aalihith thaahiriinath thayyibiin, wa ash-haabihin naashiriinal manshuuriin, “Ya Allah, maka turunkanlah shalawat (rahmat) dan salam atas diri beliau hingga hari kiamat, dan juga atas keluarga beliau nan suci bersih, dan juga para para sahabat beliau yang menolong dan tertolong, Allah memilih dan mengutamakan mereka yang mengutamakan Allah atas diri mereka sendiri, kelapangan dan kenyamanan mereka, harta mereka dan anak keturunan mereka.”[5] (رضي الله عنهم أجمعين) semoga Allah meridhai mereka. [Aamiin.]

Kemudian beliau as menyebutkan mengenai kedudukan khatamun nubuwwah:

“نؤمن بأن سيدنا محمدًا نبيُّه ورسوله، وأنه جاء بخير الأديان. ونؤمن بأنه خاتم الأنبياء لا نبي بعده، إلا الذي رُبِّيَ مِن فيضه وأظهرَه وعدُه…. ‘nu-minu bi an sayyidana Muhammadan nabiyyuhu wa rasuuluh, wa annahu jaa-a bi khairil adyaan. Wa nu-minu bi annahu khaatamul anbiyaa-i laa nabiyya ba’dah, illalladzii rubbiya min faidhihi wa azhharahu wa’duhu’ – “Kami beriman bahwa junjungan kami, Muhammad, adalah nabi-Nya dan rasul-Nya, dan bahwa beliau datang dengan sebaik-baik agama. Dan kami beriman bahwa beliau adalah khaatamul anbiyaa-i (pengesah, penghulu para Nabi), tiada nabi setelah beliau, terkecuali yang dididik dari karunia jasa beliau dan ia muncul sesuai dengan janji beliau saw…”

ونعني بختم النبوة ختم كمالاتها على نبينا الذي هو أفضل رسل الله وأنبيائه، ونعتقد بأنه لا نبي بعده إلا الذي هو من أمّته ومن أكمَلِ أتباعه، الذي وجد الفيضَ كله من روحانيته وأضاء بضيائه… “Dan kami memahami mengenai khatmun nubuwwah ialah bahwa kesempurnaan-kesempurnaan kenabian telah khatam (tersahkan) pada Nabi kita, yang adalah termulia dari antara para rasul dan nabi Allah, dan kita berkeyakinan bahwa tidak ada nabi setelah beliau saw, kecuali yang mana ia itu dari umat beliau dan termasuk sempurna dalam mengikuti beliau saw, yang mana ia (nabi itu) mendapatkan faidh karunia semuanya dari kerohanian beliau saw dan tersinari dari sinar terang beliau saw…”

 وهذا هو الحق الذي يشهد على بركات نبينا، ويري الناسَ حُسْنَه في حُلل التابعين الفانين فيه بكمال المحبة والصفاء، ومن الجهل أن يقوم أحد للمِراء، بل هذا هو ثبوت من الله لنَفْيِ كونِه أبتَرَ، ولا حاجة إلى تفصيل لمن تدبَّرَ. “Dan, inilah yang benar yang mana ia (nabi yang datang dari umat beliau saw itu) bersaksi atas keberkatan-keberkatan Nabi kita, dan ia memperlihatkan kepada umat manusia keindahan beliau saw dalam jubah sebagai pengikut nan fana atas beliau saw dengan kecintaan yang sempurna lagi suci bersih, dan adalah termasuk kebodohan bagi seseorang yang berdiri untuk mencela hal ini; bahkan lebih dari itu, keyakinan kami ini menjadi dalil-dalil untuk menyangkal pendapat bahwa beliau saw adalah abtar (tak berketurunan rohani); dan tak perlu penjelasan rinci bagi mereka yang mau merenungi dan menelaah lebih dalam.”

 وإنه ما كان أبا أحد من الرجال من حيث الجسمانية، ولكنه أب من حيث فيض الرسالة لمن كمّل في الروحانية. وإنه خاتم النبيين وعَلَمُ المقبولين. ولا يدخُل الحضرةَ أبدا إلا الذي معه نقشُ خاتمه، وآثار سنته، ولن يُقبَل عمل ولا عبادة إلا بعد الإقرار برسالته، والثباتِ على دينه وملته. “Dan sesungguhnya beliau saw itu bukanlah bapak seorang laki-laki pun dalam corak jasmaniah, tetapi beliau saw adalah sebagai bapak dalam corak karunia risalah (kerasulan) bagi mereka yang menyempurnakan diri dalam kerohanian. Dan sesungguhnya beliau saw adalah khatamun nabiyyiin (penghulu para Nabi) dan ‘alamul maqbuuliin (Tanda kategori orang-orang yang diterima Ilahi). Tiada satu pun yang dapat  masuk menghadap al-Hadhrat (Yang Mulia lagi Maha Tinggi, Tuhan) selama-lamanya kecuali dia yang padanya terdapat cap stempel pengesahan beliau saw, jejak-jejak sunnah (kebiasaan) beliau saw, dan tidak akan diterima sesuatu amal perbuatan dan juga ibadah kecuali setelah mengakui dan menerima risalah (kerasulan, pengutusan) beliau saw, dan tetap teguh atas agama dan ajaran beliau saw.”

وقد هلك من تركه وما تبِعه في جميع سننه، على قدر وُسْعِه وطاقته. ولا شريعةَ بعده، ولا ناسخَ لكتابه ووصيته، ولا مبدِّلَ لكلمته، ولا قَطْرَ كمُزْنتِه. ومن خرج مثقالَ ذرّة من القرآن، فقد خرج من الإيمان. ولن يفلح أحد حتى يتّبع كلَّ ما ثبت من نبينا المصطفى، ومن ترَك مقدار ذرة من وصاياه فقد هوى. “Dan hancurlah barangsiapa yang meninggalkan beliau saw dan tidak mengikuti beliau dalam segala sunan (kebiasaan, perilaku) beliau saw, dalam kemampuan kelapangan dan kekuatannya. Dan, tidak ada syariat lagi setelah beliau saw; dan tidak ada yang menghapus kitab beliau saw dan wasiat beliau saw; dan tidak ada yang mengubah kalimat beliau saw; ولا قَطْرَ كمُزْنتِه ; dan barangsiapa yang keluar sejarak satu dzarrah saja dari al-Qur’an, maka ia telah keluar dari keimanan. Dan tidak akan berjaya seseorang hingga ia mengikuti setiap yang terbukti jelas dari Nabi kita al-Mushthafa, dan barangsiapa yang meninggalkan senilai satu dzarrah saja dari wasiyat beliau saw maka ia telah melampaui batas.”

 ومن ادّعى النبوة من هذه الأمة، وما اعتقد بأنه رُبّيَ من سيدنا محمدٍ خيرِ البريّة، وبأنه ليس هو شيئا من دون هذه الأسوة، وأن القرآن خاتم الشريعة، فقد هلك وألحَقَ نفسه بالكفَرة الفجَرة.

“Sesiapa yang menyatakan kenabian dari umat ini (Islam), dan ia tidak berkeyakinan bahwa dirinya itu dididik dari Nabi kita, Muhammad, sebaik-baik makhluk, dan dia anggap beliau saw tidak penting sebagai teladan, dan dia anggap tidak penting al-Qur’an sebagai khatamusy syari’ah, maka ia telah hancur dan ia telah mengotori dirinya sendiri dengan kekafiran dan dosa.”

ومن ادعى النبوة ولم يعتقد بأنه من أمته، وبأنه إنما وجَد كلَّ ما وجَد من فيضانه، وأنه ثمرة من بستانه، وقطرة من تَهْتَانِه، وشَعْشَعٌ من لمعانه، فهو ملعون ولعنة الله عليه وعلى أنصاره وأتباعه وأعوانه.

“Sesiapa yang menyatakan kenabian dan ia tidak berkeyakinan bahwa dirinya dari umat beliau saw, ia tidak berkeyakinan ia telah mendapatkan yang ia dapatkan berasal dari keluhuran beliau saw; dan ia tidak berkeyakinan itu adalah buah dari kebun beliau saw; itu adalah butiran-butiran yang jatuh dari hujan lebat beliau saw, dan ia tidak berkeyakinan itu adalah seberkas tebaran sinar dari kilauan cahaya beliau saw, maka ia adalah mal’uun (terkutuk), dan kutukan Allah atasnya, atas para penolongnya, atas para pengikutnya dan semua agen penyokongnya.”

لا نبيَّ لنا تحت السماء من دون نبيّنا المجتبى، ولا كتابَ لنا من دون القرآن، وكلُّ من خالفه فقد جرّ نفسه إلى اللظى”.

“Bagi kita tidak ada Nabi di bawah bentangan langit ini selain Nabi kita, al-Mujtaba (Yang Istimewa, Nabi Muhammad saw) dan tiada kita bagi kita selain al-Qur’an, dan setiap orang yang menentangnya maka ia telah melarikan jiwanya menuju api yang menyala-nyala.”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis: “Bahwa Muhammad saw adalah juru syafaat yang menjadi penengah antara Tuhan dan seluruh makhluk; bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada rasul lain semartabat dengan beliau, dan tidak ada Kitab lain semartabat dengan Alquran; bahwa Tuhan tidak menghendaki siapa pun untuk hidup selama-lamanya; akan tetapi Nabi pilihan ini hidup untuk selama-lamanya. Untuk menjadikan beliau tetap hidup selama-lamanya, Tuhan telah meletakkan dasar demikian, ialah Dia mengalirkan keberkatan-keberkatan syariat dan keberkataan rohani terus hingga hari kiamat. Dan pada akhirnya, karena berkat rohani beliau saw,

Dia mengutus Masih Mau’ud (juru selamat yang dijanjikan) ke dunia ini, yang kedatangannya sangat diperlukan untuk menyempurnakan pembangunan bangunan Islam; sebab hal demikian itu diperlukan karena dunia ini jangan habis sebelum diutus seorang Masih rohani kepada umat Muhammad saw, seperti halnya telah diutus seorang Masih kepada umat Musa as. Hal itulah yang diisyaratkan oleh ayat berikut:

اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ

‘Tunjukilah kami pada jalan yang lurus; Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan atas mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. (1:6-7)

Musa as telah mendapat harta pusaka yang telah hilang semenjak berabad-abad yang lampau, sedangkan Muhammad saw telah menemukannya kembali harta pusaka yang telah hilang dari umat Musa as itu. Sekarang umat Muhammad saw telah menjadi pengganti umat Musa as, akan tetapi di dalam derajat kebesarannya adalah seribu kali lebih tinggi. Yang menjadi tandingan Musa kini lebih besar dari Musa sendiri, sedangkan yang menjadi tandingan Isa ibnu Maryam adalah lebih besar dari Isa ibnu Maryam sendiri.[7]

Saya telah mengutip beberapa kutipan yang sedikit saja ibarat sebongkah es dari sebuah gunung es, berasal dari kutipan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menjelaskan keagungan Nabi Muhammad saw dan kedudukan beliau yang luhur. Begitu pula Hadhrat Masih Mau’ud as juga menyajikan sebuah perbendaharaan harta yang sangat besar seputar penjelasan mengenai ajaran-ajaran Islam dalam berbagai topik dan tema. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk mengambil manfaat dari itu semua, dan memberikan akal pikiran dan ketajaman akal bagi orang-orang yang mengklaim sesuai pernyataan mereka bahwa mereka adalah pemegang bendera Islam supaya mereka mendengar sabda-sabda pecinta sejati Nabi saw sehingga umumnya kalangan umat manusia dapat mereka bimbing dengan benar.

Dua shalat jenazah ghaib diumumkan. Muhammad Musa Sahib, seorang darwaisy Qadian, meninggal pada tanggal 10 Mei pada umur 95 tahun. Kedua, Sahibzadi Amatul Rafiq Sahiba, anak perempuan dari Hadhrat Mir Muhammad Ismael Sahib, meninggal pada tanggal 6 Mei di umur yang ke 80 tahun. [Hafizhurrahman & Dildaar Ahmad]

 

 

 

 

 

[1] Barahin Ahmadiyah, juz awwal.

[2] (Barahin Ahmadiyah, Vol III hal 177-181)

[3] [Inti Pokok Ajaran Islam Vol I hal 210- Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain, Vol 22 hal 67-68]

[4] [Inti Pokok Ajaran Islam Vol I hal 199 –Itmamul Hujjah, Ruhani Khazain Vol 8 hal 308]

[5] Targhibul Mu-miniin (setelah al-Balagh), Ruhani Khazain jilid 13, h. 433.

[6] مواهب الرحمن، الخزائن الروحانية المجلد 19، الصفحة 285-287

[7] [Bahtera Nuh, Ruhani Khazain Vol 19 hal 14]

(Visited 96 times, 2 visits today)