بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal  22 Juli 2011  dari  Hadiqatul Mahdi U.K.

 

Setelah membaca tasyahud dan menilawatkan surah Al Fatihah Huzur atba bersabda : Didalam Khutbah Jum’ah yag lalu saya telah mengingatkan para petugas Jalsa Salana bahwa melayani para tamu dengan penuh khidmat dan hormat yang datang untuk menghadiri Jalsa Salana adalah salah satu sifat orang mukmin hakiki. Dan dalam kesempatan Jalsa Salana ini setiap petugas Jalsa yang berkhidmat didalam seksi atau bagian apapun harus menampilkan akhlak yang luhur dengan perangai dan sikap yang terpuji. Pada hari ini saya akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan itu dan juga akan menjelaskan tentang tanggung jawab para tetamu dalam posisi mereka sebagai orang-orang mukmin. Begitu  juga, sesuai dengan kebiasaan saya, pada hari ini saya akan memberi petunjuk-petunjuk kepada para petugas dan para pelaksana utama Jalsa Salana ini, sebab saya fikir sangat perlu sekali mengingatkan kembali tugas dan kewajiban mereka dan menyediakan beberapa petunjuk-petunjuk bagi para tetamu yang datang dari luar. Sekalipun petunjuk-petunjuk berkenaan dengan ketertiban Jalsa Salana ini telah ditulis dan dipasang dimana-nama diseputar kawasan Jalsa Salana ini, namun para tetamu biasanya kurang memperhatikan atau membaca petunjuk-petunjuk itu. Atau mereka menganggap-nya tidak penting. Sebenarnya memberi ingat adalah pekerjaan yang sangat bermanfa’at sekali. Allah swt berfirman bahwa memberi nasihat kepada orang-orang mukmin yang sesuai dengan perintah yang Allah swt dan Rsul-Nya telah tetapkan sungguh sangat berfaedah sekali bagi mereka. Dan Jema’at Ahmadiyah mempunyai satu kelebihan bahwa ia adalah sebuah Jema’at yang telah beriman kepada Imam dizaman yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud a.s. Yang asasnya telah ditetapkan dibawah perintah Allah swt dan Rasul-Nya saw. Maka kita semua adalah sebuah Jema’at yang sangat beruntung dan berbahagia sekali diatas dunia dizaman ini yang telah mendapat karunia untuk bergabung didalam Lembaga Khilafat yang telah didirikan oleh Allah swt sesudah Hazrat Masih Mau’ud a.s. Apabila orang-orang Jema’at ini diberi nasihat dan nasihat itu berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya saw maka mereka itu berusaha keras untuk mengamalkan nasihat-nasihat itu dengan sebaik-baiknya, sebab jika tidak demikian tentu tidak ada suatu perbedaan antara anggauta Jema’at dengan orang-orang ghair Jema’at, bahwa kita adalah orang-orang yang setia dan patuh ta’at diatas kebenaran. Semoga Allah swt menjadikan kita semua orang-orang yang mengamalkan nasihat-nasihat itu dan semoga semua para peserta Jalsa menjadi pengamal nasihat–nasihat baik yang disampaikan oleh saya sendiri maupun oleh para penceramah lainnya, langsung diamalkan disini juga maupun setelah kembali kerumah-masing-masing.

Didalam Khutbah Jum’ah yang lalu saya telah memberitahukan tentang kewajiban para petugas Jalsa dan para tetamu semua berdasarkan sebuah hadis Rasulullah saw; ” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhirat, ia harus berlaku baik dan berlaku hormat terhadap tetamunya.” Dan pada umumnya batas waktu melayani tetamu adalah tiga hari lamanya. Namun dalam keadaan tertentu melayani tetamu dapat dilakukan lebih lama lagi dari waktu yang telah ditentukan itu. Sesungguhnya dengan menyebutkan hanya tiga hari itu maksudnya untuk mengingatkan para tetamu bahwa sekalipun kewajiban tuan rumah untuk melayani tamu-tamunya dengan baik dan penuh hormat dan hal itu merupakan hak yang dibenarkan bagi tamu, akan tetapi tamu juga harus ingat terhadap batas waktunya sebagai seorang tamu. Jika tamu tinggal melebihi waktu yang telah ditetapkan menurut peraturan, maka kadangkala menimbulkan rasa gelisah terhadap tabi’at tuan rumah. Oleh sebab itu didalam hadis tersebut selanjutnya dijelaskan bahwa apabila tamu tinggal lebih dari batas waktu tiga hari akan menjadi sedekah bagi tamu itu. Jadi dengan memperpanjang waktu lebih dari tiga hari akan menjadi sedekah bagi tamu itu. Dan tidak ada orang mampu dan terhormat yang suka menerima makanan sedekah. Dan didalam hadis itu dikatakan juga bahwa tidak dibenarkan seorang tamu sekian lama tinggal dirumah orang sehingga menyusahkan orang itu. Maka jelaslah apabila seseorang dihadapkan kepada kesusahan ia pasti akan merasa gelisah. Setiap orang mempunyai kapasitas dan kesibukan tersendiri. Jema’at adalah sebuah Nizam, dapat dikatakan sebagai tuan rumah juga. Melayani tetamu adalah sebuah tatanan akhlak yang harus menciptakan suasana saling hormat-menghormati antara tetamu dengan tuan rumah dan memupuk rasa cinta-kasih dan persahabatan antar sesama mereka. Namun apabila tamu menciptakan rasa gelisah terhadap tuan rumah disebabkan perpanjangan waktunya sebagai tetamu, timbullah kesan-kesan sebaliknya yang  sangat tidak diinginkan. Jema’at juga telah menyediakan tempat tinggal secara kolektif, baik didalam mesjid ataupun dibeberapa dewan (ruangan) yang tersedia, namun para tamu dapat tinggal disitu dalam waktu yang terbatas. Setelah itu para petugas Negara akan datang mengawasinya, apakah akomodasi yang telah disediakan itu dipergunakan sesuai dengan syarat-syarat atau peraturan yang telah disepakati bersama atau tidak. Oleh sebab itu para tamu yang khasnya datang dari luar Negara-negara Eropah harus memperhatikan sepenuhnya peraturan itu bahwa akomodasi yang tersedia didalam kawasan Jalsa Salana dapat dipergunakan hanya untuk waktu yang terbatas. Jika seseorang ingin tinggal lebih lama lagi, ia harus mengurus akomodasi sendiri ditempat lain. Jika mendapat kesempatan tinggal dirumah seseorang maka ia harus memperhatikan sabda Rasulullah saw bahwa ia tidak diperkenankan membuat tuan rumah menderita kesulitan. Apa yang telah saya jelaskan secara rinci adalah semata-mata ajaran Islam yang sangat istimewa. Dan apa yang Hazrat Rasulullah saw telah kemukakan yang nampaknya sederhana namun sebenarnya ia merupakan sajian tarbiyyat dalam sagala segi bagi kepentingan kita semua. Jadi, menjadi kewajiban bagi setiap orang mukmin untuk mengamalkannya. Apa yang nampaknya seolah-olah perkara kecil saja namun jika dilaksanakan dengan cermat akan membuka jalan bagi kita untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lebih besar lagi dari itu. Dampaknya dari hal itu akan menciptakan rasa saling cinta-mencintai dan hormat-menghormati satu sama lain ditengah-tengah masyarakat. Dan untuk menciptakan susana demikianlah salah satu dari tujuan diselenggaraknnya Jalsa Salana yang telah dijelaskan oleh Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. kepada kita. Yakni untuk menegakkan pangkal kecintaan dan hormat-menghormati satau sama lain dikalangan masyarakat. Kita harus selalu ingat bahwa asas utama dari masyarakat yang hendak ditegakkan oleh Islam yaitu itha’at kepada Allah swt, kepada Rasul-Nya dan kepada ulil amri, yakni kepada para pemimpin kita. Maka berapapun tingginya mutu keta’atan kita atau berapapun akan semakin tingginya mutu keta’atan kita, maka harus demikian pula tingginya usaha kita untuk mendengar dan mengamalkan nasihat-nasihat itu. Jadi semua para pendatang disini harus ingat bahwa kita diwajibkan berusaha untuk meningkatkan mutu keitha’atan kita dan kita juga harus berusaha keras untuk mencapai tingkatan itu. Agar langkah kaki kita jangan mundur kearah belakang bahkan kita harus dapat meraih banyak berkat dan manfa’at dari pada Jalsa Salana ini.

Banyak orang yang datang kesini dan berkata bahwa kita akan tinggal disini selama dua atau tiga minggu lamanya sesuai dengan akomodasi yang disediakan oleh Jema’at. Apabila tinggal lebih lama lagi kami akan menyediakan tempat tinggal sendiri. Namun pada kenyataannya banyak orang yang tinggal sampai beberapa bulan lamanya disini, sehingga para petugas Jema’at juga merasa sulit menghadapi mereka itu. Dan apabila Jema’at memerlukan dewan (ruangan) yang ditempati oleh para tamu itu, terpaksa mereka dipindahkan ketempat lain dan merekapun mulai menunjukkan keberatan untuk meninggalkan tempat itu sambil melemparkan tuduhan dan pengaduan-pengaduan terhadap Jema’at. Kadangkala saya menerima banyak sekali pengaduan-pengaduan. Bagi orang-orang demikian saya akan memohon agar pertama, apa yang telah mereka janjikan sebagai syarat untuk datang ke UK ini harus dita’ati dan dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Kedua, mereka harus menta’ati Nizam Jema’at. Menta’ati peraturan sekecil apapun membuat manusia mendapat taufiq untuk melakukan kebaikan yang lebih besar lagi dari itu. Sekarang jika perkara kecil-kecil itu tidak dianggap penting maka jangan-jangan hal itu akan menimbulkan kesan buruk terhadap lingkungan masyarakat. Dan hal itu jangan sampai menimbulkan kesan buruk terhadap akhlak manusia. Nabi Muhammad saw-pun tidak mungkin memberi tekanan khas kepada kita untuk mengamalkan nasihat beliau itu.

Terdapat sebuah riwayat didalam Hadis Muslim seperti berikut ini; Hazrat Raulullah saw bersabda bahwa batas waktu melayani tetamu adalah tiga hari. Dan pelayanan secara khas selama satu hari dan satu malam diperbolehkan bagi orang muslim. Seorang muslim tidak dibenarkan tinggal terlalu lama dirumah seorang muslim lain sebagai tamu sehingga membuat dia berdosa. Seorang sahabat bertanya : Ya Rasulallah bagaimana ia akan membuat tuan rumah berdosa ? Hazrat Rasulullah saw bersabda: Tamu itu demikian lama tinggal dirumah-nya dan ia tidak mempunyai sesuatu untuk melayani dan menjamu tertamunya. Sekarang jika tuan rumah tidak dapat melayani tamunya, ia tidak menunaikan hak kewajiban melayani tamu itu, sehingga membuat tuan rumah berdosa. Dan tidak hanya sampai disitu, sebagaimana telah dijelaskan didalam hadis pertama bahwa seorang tamu jangan melibatkan tuan rumah dalam kesulitan. Karena tuan rumah berakhlaq luhur, ia melayani tamunya dengan biaya dipinjam dari orang lain, tanpa menghiraukan dirinya dalam kesulitan. Kemudian jika wang pinjaman itu tidak dapat dikembalikan pada waktu yang telah dijanjikan sedangkan sipemberi pinjaman itu tidak mau menyelimuti kelemahan sipeminjam itu dianggapnya sebagai pelanggar janji, maka jadilah ia orang berdosa. Kadangkala tamupun tidak mau pergi segera dari rumah itu dan tuan rumahpun terpaksa dengan susah hati melayaninya untuk waktu yang cukup lama, mengakibatkan tuan rumah merasa tidak senang dan timbul perasaan marah didalam hatinya akhirnya mulailah ia menyampaikan bermacam-macam keluhan tentang tamunya itu, yang mengakibatkan ia terlibat dalam perbuatan dosa. Dari kejadian seperti itu maka kehormatan tamupun akan hilang lenyap. Sekalipun pada suatu ketika Hazrat Rasulullah saw bersabda bahwa tuan rumah menjadi orang berdosa jika ia tidak melayani tetamunya. Akan tetapi jika perkataan beliau itu diteliti dengan seksama dan dihuraikan secara rinci maka akan diketahui dengan pasti bahwa dalam satu perkataan saja beliau saw telah memberikan banyak sekali nasihat kepada kita. Pada suatu ketika beliau saw telah mengingatkan tuan rumah terhadap suatu perkara lain. Beliau bersabda : Jangan kalian anggap perkara kecil apabila kalian tidak melayani tetamu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan haknya. Jika kewajiban itu sengaja tidak kalian laksanakan dengan baik, maka kalian akan menjadi orang berdosa. Dan iman kalian terhadap Allah dan Hari Akhirat akan hilang sirna. Sebaliknya terhadap tamu juga beliau saw telah mengingatkan bahwa kalian juga akan memperoleh bagian dari pada dosa tuan rumah itu jika kalian telah berbuat melebihi batas waktu yang telah ditetapkan. Jadi, cobalah perhatikan perkara yang nampak sangat kecil kepada kita namun akibatnya dapat menyampaikan manusia kepada batas yang tidak diinginkan. Jika setiap orang dari kedua belah pihak menyempurnakan haknya masing-masing maka tuan rumah juga tidak akan menjadi orang berdosa dan tidak pula tetamu menjadi orang berdosa atau penyebab orang berdosa.

Alangkah besarnya rahmat dan karunia yang turun terhadap Jema’at Ahmadiyah bahwa 99.99% para anggauta Jema’at menaruh perhatian dan mendengar nasihat-nasihat serta petunjuk-petunjuk yang telah diberikan kepada mereka dan mereka berusaha menta’ati serta mengamalkan sepenuhnya. Namun ada saja beberapa orang yang menunjukkan kedegilannya. Maka orang-orang demikian juga haruslah menunjukkan akhlaq dan tauladan yang baik dan luhur. Dan suasana Jema’at yang sangat indah ini, harus dipertahankan agar nampak lebih cemerlang lagi. Jika nasihat diberikan kepada orang degil seperti itu maka jangan dianggap enteng mengapa perhatian harus difokuskan terhadap beberapa gelintir orang seperti itu. Sebetulnya nasihat yang diberikan kepada beberapa gelintir orang seperti itu membawa banyak faedah bagi yang lain dan juga bagi Jema’at secara keseluruhan. Oleh sebab itulah Hazrat Rasulullah saw apabila memberi nasihat kepada para Sahabah beliau tidak hanya memberi nasihat terhadap para Sahabah secara keseluruhan, melainkan ditujukan kepada satu-dua orang tertentu yang menjadi perhatian beliau saw. Sebagian besar standar akhlak dan tarbiyyat para sahabah telah mencapai martabah yang sangat tinggi. Bahkan para Muhajirin ketika hijrah dari Mekkah sampai ke Madinah, para Ansar (penduduk Madinah) menghidmati para Muhajirin untuk jangka waktu yang cukup lama sekali sehingga pengkhidmatan seperti itu tidak dapat dicari bandingannya. Hubungan mereka satu sama lain telah terjalin demikian erat dan mesranya sehingga menjadi laksana saudara kandung sendiri. Suasana persaudaraan telah terjalin sangat erat sekali sekalipun para Muhajirin merasa tinggal disana seakan-akan telah menjadi penduduk permanent, hubungan diantara kedua belah pihak sudah mulai terjalin sangat erat sekali, akan tetapi para Ansar (penduduk Medinah) mengkhidmati mereka sangat istimewa sekali seperti mengkhidmati para tamu. Mereka menyediakan makanan bagi para Muhajirin lebih baik dari pada makanan yang disediakan bagi keluarga mereka sendiri. Namun sebaliknya dengan lemah lembut sambil menunjukkan prilaku dan budi pekerti yang sangat baik dan luhur para Muhajirin juga mengingatkan para Ansar agar tidak melayani mereka seperti melayani para tamu, bahkan mereka meminta ditunjukkan lokasi pasar-pasar dimana mereka akan mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidup sehari-hari. Jadi sekalipun para sahabah telah faham dan telah memperoleh tarbiyyat yang luhur, namun Hazrat Rasulullah saw memberi nasihat kepada semua Sahabat sekalipun yang dimaksud hanya kepada beberapa orang tertentu saja. Oleh sebab itu jangan mengira nasihat itu tidak perlu disampaikan kepada semua jika yang dimaksud hanya terhadap segelintir orang saja. Hazrat Rasulullah saw selalu mengingatkan para sahabah terhadap akhlaq yang luhur secara dawam supaya mutu akhlaq mereka tidak berkurang. Berkat pengaruh quwat qudsiyah Rasulullah saw maka mutu akahlaq kedua belah pihak para sahabah (Muhajirin dan Ansar) telah ditegakkan sangat tinggi sekali. Beliau saw selalu berusaha untuk meningkatkan mutu akhlaq para Sahabah dan juga selalu memberi pelajaran kepada para pendatang baru dalam Islam baik yang termasuk kedalam kelompok Ansar maupun dalam kelompok Muhajirin. Dan Alqur’an telah menegaskan agar kita mengamalkan perintah fastabiqul khairaat berlomba-lomba-lah didalam amal kebaikan. Firman itu sebagai perintah kepada kita. Jadi dengan mengingatkan terhadap petunjuk yang telah ditetapkan itu, tujuannya agar manusia mendapat taufiq untuk melakukan kebaikan. Keduanya, jika seseorang sudah merasa dirinya lebih maju dalam amal kebaikan kemudian ia melihat saudara-saudaranya tertinggal dibelakang, maka hendaknya ia membimbing saudaranya itu untuk melangkah maju kedepan. Jika kalian sedang menaiki jenjang kemajuan dan kalian sedang berlomba dalam kebaikan dengan orang lain, dan pada waktu itu kalian melihat orang lain sedang tertinggal dibelakang maka kalian harus berusaha menarik tangannya dan membawanya kedepan. Agar setiap orang didalam masyarakat berusaha bersama-sama menempuh jalan menuju arah kemajuan. Dan jangan ada seorang-pun diantara kita yang sengaja tertinggal dibelakang dan tidak berusaha untuk menempuh jalan kemajuan. Dan prilaku indah seperti ini dapat tercipta apabila orang-orang mukmin sudah terhimpun didalam sebuah Jema’at. Apabila sebuah nasihat sedang diberikan dan nasihat itu ditekankan terhadap sekelompok orang tertetntu, maka kelompok yang dimaksud itu tidak perlu merasa malu atau merasa direndahkan dan jangan pula timbul suatu emosi yang tidak terkontrol. Sebab tujuan nasihat itu bukan untuk mengusik perasaan seseorang, bahkan sebaliknya untuk meningkatkan standar kebaikan mereka itu.

Didalam khutbah Jum’ah yang lalu dikala saya menjelaskan tentang pentingnya pelayanan terhadap tetamu saya berkata bahwa, ada seseorang yang berkata bahwa orang-orang miskin sudah biasa dirumahnya makan masakan daal (masakan sederhana terdiri dari kacang-kacangan) bahkan dinegara-negara miskin daal juga kadangkala tidak ada, akan tetapi orang-orang kaya sudah terbiasa makan masakan daging. Oleh karena itu Langgar Khana hendaknya menydiakan masakan daal bagi orang-orang awam dan miskin yang biasa mereka makan setiap hari dan bagi orang-orang kaya yang sehari-hari-nya biasa memakan masakan daging hendaknya disediakan masakan daging atau masakan yang baik-baik. Hazrat Masih Mau’ud a.s. sangat tidak senang mendengar perkataan diskriminasi itu dan beliau menyuruh memasak makanan serupa bagi semua tamu. Akan tetapi pada suatu ketika beliau a.s. pernah memberi nasihat yang diriwayatkan oleh Syeikh Muhammad Ismail Sahib r.a. katanya saya biasa menghidangkan makanan bagi kedua majlis untuk makan tengah hari. Satu Majlis terdiri dari para tamu pendatang baru yang duduk dan makan bersama Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan Majlis satu lagi yang terdiri dari orang-orang kita semua. Hazrat Aqdas Masih Mau’ud a.s. diwaktu berpidato kadangkala beliau juga bersabda : ”Ingatlah ! Jika seorang miskin yang setiap hari dirumahnya selalu makan roti bersama daal, dan jika disini juga ia mendapat makanan terbuat dari daal, maka hendaknya ia jangan menganggap tidak baik. Kadangkala kami menyediakan makanan secara khas berupa gulai daging bagi para hartawan supaya mereka jangan jatuh sakit jika mereka makan daal karena tidak terbiasa makan masakan daal. Jika mereka jatuh sakit disini maka tujuan mereka datang kesini tidak dapat tercapai. Dan kesehatan mereka menjadi terganggu.” Oleh sebab itu sekarang di Jalsa kita ini juga dimasak berbagai macam makanan sesuai dengan tabiat para tetamu atau keadaan Bangsa-bangsa yang datang disini. Jadi, jika pada suatu waktu suatu makanan tertentu harus dimasak sesuai dengan keputusan yang telah disetujui, maka janganlah ada orang yang menganggap tidak baik atau tidak pantas atas kebijakan tersebut. Namun pada umumnya selalu diusahakan agar semua tetamu Jalsa mendapat makanan yang sama. Kecuali bagi orang-orang yang sakit atau tetamu asing yang datang dari luar negeri atau tetamau yang bukan Ahmady, disediakan makanan sedikit berbeda dan lebih baik. Akan tetapi tidak ada hak bagi para ptugas atau para anggauta panitya menyediakan makanan khas bagi kelompok mereka sendiri.

Pada suatu ketika di Qadian timbul perso’alan, yang saya pernah jelaskan didalam Khutbah Jum’ah yang lalu bahwa seorang Petugas telah memasakkan daging burung puyuh untuk dirinya sendiri dan seorang tetamu yang mengetahui tentang adanya masakan itu iapun meminta dari juru masak disana namun tidak diberinya. Ketika Hazrat Masih Mau’ud a.s. mengetahui hal tersebut maka beliau a.s. segera meminta kepada juru masak itu kemudian masakan burug puyuh itu beliau a.s. berikan kepada tetamu itu. Dan beliau a.s. kemudian bersabda : ” Besok akan kita masak daging puyuh untuk semua. Supaya keadilan dapat ditegakkan.” Mendengar sabda beliau a.s. itu ada seorang yang mengirim pesan kepada Petugas Jalsa itu sambil senda gurau katanya : ” Sekarang telah ditugaskan kepada engkau untuk memasak burung puyuh setiap waktu Jalsa Salanah.”

Setelah mendengar hal itu jangan-jangan Officer Jalsa Salana kita disini juga merasa gelisah mendengar berita ini! Untuk pertama kali menyediakan masakan burung puyuh tentu akan menyulitkan beliau, mengingat cuaca dan keadaan juga tidak memungkinkan. Berdo’alah untuk beliau agar Allah swt memberkati semua pengkhidmatan beliau. Officer Jalsah Sahib ! Tenang saja, permintaan masak daging burung puyuh bukan permintaan yang serius. Namun bagaimanapun semua petugas harus selalu ingat untuk menghargai perasaan para tamu dan menghormati kedudukan mereka. Boleh saja mereka diberi makan dengan masakan daal dari pada masakan daging, namun mereka harus dilayani dengan penuh khidmat dan hormat.

Mian Abdul Aziz Moghul r.a. meriwayatkan katanya, ketika Hazrat Masih Mau’ud a.s. datang ke Lahore untuk menyampaikan sebuah pidato. Beliau tinggal disana selama enam belas hari. Saya juga ikut bekerja dengan orang-orang yang ditugaskan untuk menyediakan makanan beliau a.s. Kalau tidak salah Khalifah Rashiduddin r.a. telah berkata kepada salah seorang tamu : ” Sambil memakan makanan minumlah air juga.” (Mungkin maksudnya jangan terlalu banyak makan, supaya cepat kenyang minumlah air juga. pent). Perkataan ini sampai juga kepada Hazrat Aqdas  Masih Mau’ud a.s. dan beliau mengira para tamu sedang disusahkan dan mereka tidak disuguhi makanan sebagaimana mestinya. Hazrat Aqdas keluar dan sambil berdiri didepan pintu beliau a.s. bersabda : ” Siapa petugas bagian konsumsi ?” Kami berkata : Kami, hamba-hamba Huzur! Huzur Aqdas bersabda : Saya dengar orang-orang tidak mendapat makanan yang baik. Dan telah dikatakan kepada orang-orang supaya mereka membeli sendiri makanan dari pasar. Apakah perkara ini semua betul?” Kami jawab : ”Huzur, mungkin sambil senda gurau ada orang-orang yang berkata demikian kepada beberapa orang tamu, padahal disini penyediaan konsumsi berjalan dengan baik.” Huzur Aqdas a.s. bersabda: ” Tidak ! Semua makanan akan kita uruskan sendiri, semua tamu yang datang disini adalah tamu kita dan keperluan makan mereka menjadi tanggung jawab kita semua.” Kemudian beberapa orang yang merasa bersalah datang bersama-sama menghadap Hazrat Aqdas a.s. untuk meminta ma’af dan mereka berjanji akan berhati-hati, tidak akan mengulangi lagi perbuatan demikian. Kemudian Huzur Aqdas-pun mema’afkan mereka dan penyediaan konsumsi terus dijalankan sepenuhnya oleh Jema’at. Jadi para petugas Jalsa harus menghormati para tamu dan harus berhati-hati dalam bersenda gurau dengan para tetamu sekalipun merela adalah teman-teman sendiri atau saudara-saudara kaum kerabat sendiri. Jika seseorang datang ke Langgar Khana Masih Mau’,ud a.s. sebagai tamu maka ia harus dihormati dan dihargai dan harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Jika seorang tamu datang terlambat bukan hanya sekali dua atau tiga kali bahkan jika berkali-kali-pun datang lambat, maka petugas Jalsa harus sabar dan menyediakan makanan baginya. Disini saya ingin mengingatkan para tetamu juga agar mereka jangan mensia-siakan makanan. Kadangkala saya melihat sendiri beberapa buah pinggan masih penuh dengan gulai atau makanan tercecer dimana-mana. Terhadap masakan gulai daging campur kentang (alu gosyt), biasanya orang-orang hanya suka makan daging beserta kuahnya saja sedangkan alu (kentang) nya ditinggalkan tidak dimakan. Kecuali orang-orang Eropah biasanya mereka makan juga kentang itu. Maka barangsiapa yang sama sekali tidak suka makan kentang, atau karena alasan tertentu banyak orang tidak memakannya, maka tuan rumah atau petugas harus cermat jangan sampai gulai yang telah disediakan itu terbuang sia-sia. Berilah atau ambillah makanan itu sesuai keperluan sendiri dan makanlah jangan dibiarkan terbuang. Sesungguhnya berkat adanya prilaku yang serasi antara tuan rumah atau petugas dengan para tetamu dapat menciptakan suasana yang sangat indah.

Pada suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan sangat marah kepada seorang petugas Jalsa sebab ia cepat-cepat mengangkat pinggan-pinggan dari hadapan para tamu yang masih sedang makan, walaupun waktu sudah berjalan agak lama, namun ada beberapa orang tamu yang masih menyantap makanan itu dengan sangat perlahan sekali lalu petugas segera mengangkat pinggan-pinggan dari hadapan tamu itu. Hazrat Aqdas a.s. bersabda kepada petugas itu : ” Selama tamu yang sedang makan itu tidak menyuruh mengangkat pinggan-pinggan itu, maka bukan tugas kamu untuk mengangkatnya segera dari hadapan tetamu itu. Dan nanti jangan sekali-kali berkata kepada tamu: Cepatlah makannya kami mau cepat-cepat membereskannya.” Akan tetapi kepada para tamu juga dinasihatkan secara umum bahwa setelah selesai makan harus segera pergi dari tempat makan itu, jika memang cara makannya perlahan-lahan tidak mengapa, akan tetapi setelah selesai makan janganlah terus berbual-bual kesana-kemari ditempat makan itu. Allah swt telah memberi nasihat melalui Hazrat Rasulullah saw, yaitu janganlah membuang-buang waktu yang tidak menentu. Para pekerja juga mempunyai tugas masing-masing, mereka harus membereskan semua pekerjaan dan mereka juga harus punya waktu untuk rehat (istirahat). Para tetamu juga harus memperhatikan kepentingan mereka itu.

Salah satu tujuan Jalsa yang sangat besar adalah untuk menciptakan hubungan yang erat dengan Allah swt. Maka penting sekali bagi setiap peserta Jalsah, baik para tetamu maupun para petugas Jalsa untuk menciptakan hubungan erat itu. Mereka harus menaruh perhatian sepenuhnya terhadap kewajiban ibadah salat dan salat-salat nawafil. Dan didalam salat itu mereka harus memanjatkan banyak do’a dengan penuh konsentrasi. Sebab dengan melaksanakan semua kewajiban itulah kita dapat memperoleh kemudahan didalam semua urusan kita, terutama dalam menghadapi perlawanan dan penganiayaan dimasa sekarang ini. Tengoklah contoh tauladan yang telah ditunjukkan para Sahabah Hazrat Masih Mau’ud a.s. Beliau-beliau itu menunaikan salat dengan penuh ghairah dan semangat tinggi. Sebagai contoh dapat saya kemukakan disini. Hazrat Atha Muhammad Sahib r.a. mengatakan bahwa sebuah barkat yang sangat saya rasakan dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. walaupun saya masih kanak-kanak, namun begitu saya berdiri menunaikan salat dalam hati saya serentak timbul perasaan pilu sambil meneteskan air mata yang tak dapat ditahan sampai selesai salat yang diakhiri dengan mengucapkan salam. Pendek kata Allah swt telah menganugerahkan kepada saya banyak sekali kesempatan untuk berjumpa dengan Nabi-Nya tercinta, Nabiullah dan Jariullah fi hulalil Anbiya dan itu semua merupakan karunia yang sangat besar yang telah Dia anugerahkan kepada saya. Jika tidak, saya hanya mendengar isak-tangis Kakek saya saja dan tidak tahu kapan zaman Mahdi akan tiba sa’atnya. Tuhan telah menurunkan karunia-Nya kepada saya dan Dia telah memberi kesempatan untuk berjumpa dengan beliau a.s.. Alhamdulillahi Rabbil ’Alamin. Dan saya telah melihat beribu-ribu tanda kebenaran Huzur Aqdas a.s. Dengan tanda-tanda itu terbuktilah kebenaran beliau sebagai Nabi. Dan saya yakin sepenuhnya bahwa Huzur Aqdas a.s. adalah seorang Nabi Allah Ta’ala.”

Jadi, sekalipun kita tidak memperoleh kesempatan untuk berjumpa dengan beliau a.s. akan tetapi Allah swt telah memberi taufiq kepada kita untuk beriman terhadap da’wa beliau sebagai Utusan-Nya dizaman ini. Kita telah menjadi orang-orang yang telah menyempurnakan amanat dan nasihat Yang Mulia Hazrat Rasulullah saw. Maka kita harus banyak menaruh perhatian secara khas terhadap salat dan nawafil lainnya. Pada hari-hari Jalsa ini kita harus meningkatkan konsentrasi dengan penuh khusyuk didalam salat dan didalam do’a-do’a yang dipanjatkan diwaktu menunaikan salat-salat nawafil, sambil menyatakan rasa syukur sedalam-dalamnya kepada Allah swt secara khas bahwa Dia telah memberi taufiq kepada kita menjadi orang-orang beriman kepada Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Dan dalam siklus zaman ini dimana permusuhan dan perlawanan para penentang Ahmadiyah sudah sampai kepuncak akhir kekerasan dan kezaliman mereka, maka untuk menghancurkan dan memusnahkan segala kekuatan mereka itu kita hanya menggunakan senjata do’a yang khas yang dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif sambil meningkatkan hubungan yang lebih erat dengan Allah swt. Hal itu semua sangat diperlukan sekali pada masa sekarang ini.

Satu hal yang harus diingat juga bahwa orang-orang datang untuk menghadiri Jalsah, disini mereka saling bertemu juga, banyak yang berjumpa satu sama lain setelah tenggang waktu yang lama. Banyak yang memperoleh perkenalan dengan teman baru didalam Jalsa ini, kemudian timbul keinginan untuk duduk bercengkerama dan menimba pengalaman-pengalaman, akan tetapi hal itu dapat dilakukan setelah acara-acara Jalsa selesai atau diwaktu rehat (istirahat) dengan bebas boleh duduk-duduk bercengkerama dan membuat majlis masing-masing untuk bertukar pikiran dan sebagainya. Lebih baik banyak berzikir mengingat kebaikan dan karunia-karunia Allah swt dari pada berbual-bual tak menentu membuang-buang masa. Banyak sekali saudara-saudara kita tercinta yang telah meninggalkan kita kealam baqa, hendaknya bercerita tentang kebaikan-kebaikan dan amal-amal soleh mereka, atau bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang baik didalam Jema’at. Banyak juga yang mempunyai hubungan keluarga satu dengan yang lain bertemu disini, duduk bersama dan bercerita, terutama kaum wanita hendaknya pada waktu break (jedah) harus dapat mengawal (mengontrol) diri masing-masing diwaktu berbicara, kadangkala karena asyiknya mengobrol tidak tahu waktu sampai larut malam tiada hentinya berbicara atau mengobrol, akhirnya lambat tidur yang membuat terlambat bangun akibatnya salat fajar-pun terlepas. Jadi, janganlah sampai terjadi demikian sehingga salat-salat nawafil dimalam hari terlepas tidak dapat dilaksanakan. Seharusnya selama Jalsa Salana peserta yang tinggal disini, dirumah-rumah atau dimanapun juga tinggal salat-salat nawafil harus dipentingkan dan dilaksanakan dengan penuh perhatian. Barulah suasana dan lingkungan keruhanian ini dapat dipetik faedahnya. Khasnya terhadap kaum wanita saya ingin mengingatkan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa Jalsa Salana ini bukanlah sebuah pesta duniawi. Oleh sebab itu perhatian para peserta harus selalu dipusatkan kepada maksud dan tujuan Jalsa ini yaitu untuk meningkatkan mutu akhlaq dan ruhani kita. Dan kita harus memetik faedah sebanyak-banyaknya dari suasana dan lingkungan pesta ruhani ini. Jika perhatian sudah terpusat demikian, maka para wanita yang biasa memakai busana dan perhiasan-perhiasan yang mentereng akan datang ketempat ini dengan busana yang sederhana. Atau mereka datang dengan maksud dan tujuan utama untuk mendengar dan menyimak program-program Jalsa. Hal itu semua harus diperhatikan oleh para wanita dan mereka harus memakai busana yang pantas sesuai dengan suasana keruhanian. Kadangkala banyak diterima laporan tentang busana yang dipakai oleh para wanita kita. Ada busana yang dipakai sangat melanggar kesucian jati diri sebagai orang Ahmady. Padahal busana yang dipakai para wanita harus betul-betul menutupi bahagian tubuh yang wajib ditutupi. Untuk itu Allah swt telah memberi petunjuk bahwa; Jika busana yang kalian pakai berdasarkan taqwa menutupi tubuh kalian, maka itulah busana yang dimaksud untuk menutupi keindahan tubuh kalian. Sebagaimana kepada laki-laki dan para wanita juga telah diperintahkan untuk merundukkan pandangan mata apabila berjalan ditengah keramaian, jangan melemparkan pandangan kesana-kemari mencari sasaran mata. Terdapat banyak tempat-tempat dimana laki-perempuan berjalan bersama-sama diwaktu itu harus berhati-hati untuk menjaga kesucian lingkungan kita. Hal itu sangat penting sekali untuk memelihara akhlaq. Hal itu semua harus mendapat perhatian sepenuhnya.

Sekarang saya merasa perlu untuk mengingatkan beberapa hal tentang management, pengurusan dan pengendalian. Demi menjaga keselamatan kita semua bagian security sangat tegas dan keras dalam menjalankan tugas mereka. Semua orang harus sabar dan tabah menghadapi hal itu. Proses scanning dan memeriksa barang-barang sangat penting sekali. Dan untuk itu setiap orang harus mempersiapkan diri, jika seandainya seseorang menjadi sasaran suspect atau kecurigaan, ia harus siap dan serahkan diri untuk diperiksa. Jangan mengira apabila sudah dichek lalu keluar dan kemudian kembali lagi kedalam tidak perlu dichek lagi. Berapa kali-pun pergi keluar dan hendak masuk lagi kedalam sesuai peraturan harus dichek lagi. Adalah tugas pemeriksa untuk memeriksa siapapun yang masuk kedalam arena Jalsa sekalipun ia seorang yang telah dikenal oleh petugas pemeriksaan, ia harus menjalani pemeriksaan. Oleh karena itu siapapun dari antara peserta Jalsa jangan menyinggung perkara security ini dan jangan merasa keberatan terhadap sistim kerja mereka. Akan tetapi terhadap para petugas lelaki maupun perempuan yang menangani tugas scanning saya ingin memberi petunjuk agar mereka melakukannya dengan sangat hati-hati dan secepat mungkin agar tidak terjadi queue (antrian) yang panjang menunggu giliran yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman, dan agar mereka dapat masuk kedalam tenda secepatnya untuk mengikuti acara yang akan dimulai. Terhadap para petugas security juga sebelumnya telah saya ingatkan bahwa dengan telah didirikan-nya pagar-pagar pengaman dibeberapa tempat tertentu jangan merasa cukup aman. Disana juga tugas pengamanan harus dilaksanakan dengan teliti. Dan setiap tugas security harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tugas security apapun dan ditempat manapun yang diberikan kepada seseorang hendaknya jangan dianggap sepele atau ringan. Siapaun dapat melakukan suatu kekacauan terhadap kita, jangan dianggap tidak mungkin. Oleh sebab itu bukan hanya para petugas keamanan saja melainkan semua para peserta Jalsa harus memperhatikan dan mengawasi situasi lingkungan masing-masing. Sebagaimana telah saya katakan setiap orang harus menggunakan waktu-nya untuk banyak-banyak berdo’a kepada Allah swt selama waktu Jalsa ini. Bahkan hendaknya berusaha mengeluarkan sedqah juga sesuai kemampuan.

Kembali mengenai scanner, sekarang telah diusahakan untuk menyediakan jalan sebanyak mungkin untuk masuk kedalam, agar tidak mendatangkan kesulitan terhadap siapapun, terhadap orang-orang sakit, khasnya terhadap orang-orang tua dan para peserta yang membawa anak, telah disediakan kemudahan-kemudahan. Namun demikian kadangkala timbul juga beberapa macam kesulitan, oleh sebab itu diharap kepada semua untuk selalu bersabar dalam keadaan demikian. Sesudah itu sepanjang waktu mendengarkan pidato-pidato hendaknya jangan terlalu banyak meneriakkan slogan-slogan, kadangkala banyak saudara-saudara yang meneriakkan banyak sekali slogan-slogan. Sesungguhnya slogan-slogan itu harus dikumandangkan sesuai dengan nizam yang telah ditetapkan oleh Markaz. Apabila slogan diteriakkan harus dijawab dengan suara penuh semangat dan teratur, bukan dengan kekuatan suara sambil berteriak disana-sini sehingga suara menjadi parau dan habis. Dan jangan dengan intonasi yang kuat sehingga suara-pun tidak keluar. Saya sudah mengingatkan berulangkali bahwa selama pidato-pidato sedang diucapkan harus duduk dengan tertib sambil mendengarkannya dengan penuh perhatian, jangan ada yang mondar-mandir berjalan kesana-kemari. Agar maksud dan tujuan kita datang kesini dapat terpenuhi. Setiap pidato sedikit banyak terdapat perkara-perkara yang berkaitan dengan faedah anda, yang mungkin sifatnya baru bagi anda semua.

Kebersihan harus diperhatikan jangan membuang sampah sembarangan, bahkan jika nampak kepada anda kertas, disposal atau cawan-cawan plastik berserakan hendaknya segera anda ambil dan taruh kedalam dustbeen (tempat sampah) yang tersedia disekitar anda. Begitu juga pekerjaan kebersihan bilik air (kamar mandi) harus dipentingkan. Para petugas memang selalu membersihkannya dan dengan karunia Allah swt para petugas lelaki maupun perempuan dengan sangat cermat melaksanakan pekerjaan mereka dibidang kebersihan ditempat-tempat itu. Akan tetapi para tamu juga hendaknya menaruh perhatian terhadap hal itu, kamar mandi dan toilet setiap waktu harus bersih. Terutama orang-orang yang datang dari tempat yang kotor atau becek, alas kaki mereka harus dibersihkan dengan sebaik-baiknya. Sekalipun hujan telah berhenti namun keadaan tanah disekitar ini masih banyak yang tidak keras sehingga tanah menempel dialas kaki. Oleh sebab itu kebersihan harus mendapat perhatian sebanyak mungkin, jangan sampai terdapat kamar mandi atau toilet yang kotor dengan tanah. Selain itu apabila sudah masuk kedalam marki atau tenda perkara yang harus diperhatikan sepenuhnya adalah, orang yang datang lebih dahulu harus duduk dibahagian depan kecuali ada halangan tertentu, supaya orang-orang yang datang kemudian akan mudah mendapat tempat duduk disebelah belakang mereka. Begitu juga orang-orang yang datang kemudian harus duduk dimanapun mereka mendapat tempat untuk duduk, jangan berjalan melangkahi orang-orang yang sedang duduk. Hazrat Masih Mau’ud a.s. ketika melihat ada orang yang berjalan sambil melangkahi orang-orang yang sedang duduk beliau menunjukkan kemarahan sambil bangkit dari tempat duduk beliau a.s. bersabda kepada Hazrat Mlv Nuruddin r.a. ” Nasihatilah orang itu !” Maka beliau-pun dengan keras menasihati orang itu. Jadi, dimana saja mendapat tempat duduk hendaklah duduk disitu. Orang-orang yang datang lebih dahulu majulah kedepan dan orang-orang yang datang kemudian duduklah dimana saja mereka mendapat tempat untuk duduk. Harus diperhatikan bahwa tempat yang tersedia bagi orang-orang yang datang kemudian jangan dibiarkan kosong. Dimana terdapat tempat kosong disana harus diisi dengan tertib.

Selanjutnya saya ingin mengulangi nasihat saya bahwa selama hari-hari berberkat ini arena Jalsa ini harus dipenuhi dengan banyak do’a yang dipanjatkan secara khas dan khusyuk kehadirat Allah swt hingga tempat ini basah dengan tetesan-tetesan air mata. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua. Amin !

Alihbahasa dari Video Urdu oleh Hasan Basri