Ringkasan Khotbah Jumat

Keberkatan Allah Yang Tak Terhingga

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

3 April 2015 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) suatu kali mengatakan: Allah Ta’ala memberikan penekanan yang besar dalam menciptakan nur kebenaran guna mendukung misi kita namun mata orang-orang ini tidak juga terbuka. Beliau bersabda satu kali seorang penentang menulis kepada saya dengan mengatakan bahwa orang-orang tidak akan menyerah dalam melawan anda namun kami tidak mengerti satu hal, meskipun ditentang anda senantiasa sukses dalam berbagai hal yang anda kerjakan.

Tentu saja hal ini merupakan penggenapan janji Ilahi. Para musuh kita terus menerus berusaha hingga hari ini, namun dengan kasih karunia Tuhan Jemaat ini terus berkembang. Dimana pun Ahmadiyah ditekan atau ada upaya untuk melenyapkannya, Tuhan akan membangkitkan semangat pengorbanan para Ahmdi dari berbagai negara dan Dia akan membuka jalan baru bagi Jemaat di negara-negara yang lainnya.

Tentu saja tidak diragukan lagi bahwa Jemaat ini didirikan oleh tangan Tuhan Sendiri dan akan terus berkembang pesat sesuai dengan janji Tuhan. Berikut ini ada beberapa kisah tentang bagaimana qalbu condong kepada kebenaran pesan Jemaat.

Mubaligh kita di Niger menulis, “Satu kali kami pergi bertabligh ke penduduk desa-desa dengan menempuh jalan berlumpur. Tiga hari kemudian kami kembali melakukan perjalanan dengan menempuh rute yang sama, pada saat itu penduduk kampung menghentikan kami seraya mengatakan bahwa mereka telah ditunggu kedatangannya. Para penduduk membawa mereka kehadapan Imam setempat yang meminta formulir bai’at. Mubaligh kita mengatakan kepada mereka agar jangan terburu-buru menyatakan bai’at, namun Imam tersebut mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan keyakinan kepada mereka dan mereka tidak lagi ragu dengan kebenaran Ahmadiyah. Ketika ditanyakan kenapa hal itu bisa terjadi, dijawabnya bahwa setelah para Ahmadi pergi, sekelompok Wahabi datang ke desa tersebut dan mengatakan kepada para penduduk desa bahwa orang-orang Ahmadi itu kafir bagaimana bisa mereka menginjinkan orang-orang kafir tersebut untuk ceramah! Imam tersebut menjawab bahwa disini lah perbedaannya; Orang-orang Ahmadi tersebut cuma berbicara tentang al-Quran dan Hadis, sementara para Wahabi malah mengatakan orang lain itu kafir. Ulama Wahabi tersebut pulang dengan kegagalan sementara bai’at dilaksanakan di desa tersebut.

Mubaligh kita dari Tabore, Tanzania (Afrika Timur) menulis bahwa sebuah Jemaat besar didirikan diluar wilayah Tabora oleh seorang Ahmadi yang bernama Sulaiman Jummah Sahib. Beliau telah menyebarkan selebaran-selebaran (pamflet) di wilaya tersebut yang diikuti dengan Tabligh dan menghasilkan orang-orang yang bai’at. Dengan rahmat Allah Ta’ala jumlah orang-orang Ahmadi meningkat di wilayah tersebut. Meski mereka adalah orang-orang yang miskin dari segi duniawi namun mereka penuh dengan keimanan. Bahkan mereka telah membangun sebuah masjid dari tanah liat.

Amir dari Mali (Afrika Barat) menulis bahwa seorang Imam dari golongan at-Tijaniyah, Tn. Adam Tanggara telah bai’at dan berkata bahwa ia mendengarkannya melalui rekaman Audio Jemaat dan stasiun radio Jemaat dalam waktu yang lama. Ia mengatakan bahwa ayahnya juga seorang Imam yang telah mengubah banyak desa yang tak ber-Tuhan kedalam Islam. Ayahnya berkata kepadanya dalam mimpi bahwa Ahmadiyah adalah jalan kebenaran. Melalui Imam tersebut ribuan lebih orang menyatakan bai’at. Mereka pergi ke desa-desa lainnya untuk bertabligh. Orang-orang berdatangan dan beberapa dari mereka pulang ke rumah dan kembali dengan foto Hahdrat Masih Mau’ud (as), Huzur dan beberapa selebaran (pamflet). Mereka berkata bahwa mereka meyakini jika ini adalah komunitas yang sama dengan yang dikatakan almarhum saudara mereka. Mereka mengatakan bahwa saudara mereka bekerja di Ghana namun jatuh sakit saat berkunjung dan meninggal di tempat tersebut. Seribu orang pun berbaiat di tempat tersebut.

Mualim kita dari Mali menulis bahwa seorang Ahmadi pergi ke sebuah desa terdekat dimana orang-orang berkata kepadanya jika daerah tersebut sudah lama tidak turun hujan. Mereka berkata bahwa jika Jemaat ini adalah benar ia harus berdoa agar turun hujan maka mereka pun akan meyakini kebenarannya. Mualim tersebut melaksanakan shalat sunah nawafil dan berdoa dengan kerendahan hati yang mendalam agar tanda kebenaran Jemaat ini ditunjukan. Seketika hujan turun dengan derasnya dan penduduk desa tersebut berkata bahwa mereka mengakui jika Jemaat ini benar dan mereka seluruhnya masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah.

Seorang Mubaligh dari Ghana yang telah wafat menulis bahwa satu kali seorang Ahmadi yang sedang bertabligh diminta berdoa agar turun hujan. Ia berkata bahwa sejak itu setiap kali ia ceramah guna menyebarkan pesan Imam Mahdi (as) pasti akan minta hujan. Dengan rahmat Allah Ta’ala hujan turun dan sejumlah besar orang tersebut menerima Ahmadiyah.

Seorang wanita Mubayyin baru bernama Fatimah berasal dari Pantai Gading berkata bahwa ia menyadari apa itu Islam hakiki setelah bai’at. Ia meninggalkan semua bentuk amalan yang merugikan yang diikuti umat Islam lainnya.

Mubayin baru yang lainnya yang berasal dari Pantai Gading berkata bahwa kerohaniannya meningkat setelah baiat. Mengerjakan shalat adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan sekarang ini dan ia telah jauh lebih baik dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menjadi seorang Ahmadi kini mudah baginya untuk mengamalkan ajaran Islam yang sesunggunya dan ia pun lebih maju dalam hal wawasan dan pengetahuannya.

Raisuttabligh Republik Guinea (Guinea Conakry, Afrika Barat) menulis bahwa seseorang datang ke rumah misi meminta bantuan kepada Jemaat agar mendirikan sebuah masjid di desanya. Sebuah pengantar mengenai Jemaat diberikan kepadanya dan ia diberitahukan tentang kedatangan Isa yang dijajikan. Ia sangat puas setelah melewati sesi yang begitu panjang dimana segalanya dijelaskan kepadanya dan dikatakan bahwa kedua matanya kini telah terbuka. Ia menyarankan Jemaat untuk berkunjung ke desanya sehingga pesan tersebut tersampaikan ke semua orang. Ia mengatakan bahwa semenjak baiat ia merasakan perubahan ruhani di dalam dirinya yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Mubaligh dari Benin (Afrika Barat) menulis bahwa beberapa waktu yang lalu saat Masjid kita dibangun seorang pendeta Kristen lewat dan memuji keindahan bangunan tersebut dan bertanya Masjid apakah ini. Ketika dijelaskan bahwa itu adalah Masjidnya Ahmadiyah ia mengatakan bahwa ia akrab dengan pesan Muslim Ahmadiyah dan merasa jika orang-orang Ahmadiyah itu adalah orang-orang yang benar. Mubaligh kita bertanya bahwa jika ia yakin mereka itu orang-orang yang benar mengapa ia tidak menerima Ahmadiyah. Pendeta tersebut menjawab bahwa tentu saja Ahmadiyah adalah Islam yang benar dan ia berada dalam kondisi dimana karena alasan tertentu hal tersebut diluar dari kemampuannya.

Seorang Pendeta Kristen di Kongo (Afrika Tengah) menjadi Ahmadi dan mengatakan bahwa meskipun ia telah menjadi pendeta bertahun-tahun pada akhirnya ia tidak merasakan kepuasan batin dan kedekatan dengan Tuhan sebagaimana yang ia rasakan setelah menerima Ahmadiyah.

Seorang kawan dari Aljazair (Afrika Utara, Magribi) menulis bahwa ibunya bermimpi bahwa seorang Syeikh datang ke rumah mereka dan mengajarkan anak-anaknya ajaran Islam yang begitu positif dampaknya. Anak perempuannya menemukan MTA saat saluran televisinya diganti-ganti dan ketika wanita itu melihat foto Huzur ia begitu histeris (gembira) dan berkata bahwa orang yang ada di foto itu adalah orang yang sama yang dilihatnya dalam mimpi. MTA mengabarkan kepada mereka tentang kedatangan Imam Mahdi (as). Wanita itu menulis bahwa setelah mengambil baiat semua penderitaannya berubah menjadi kegembiraan (dengan mengamalkan ajaran Islam yang hakiki).

Mubaligh Kongo menulis bahwa seorang Ahmadi setempat telah bermimpi dimana ia mendapati dirinya sedang menghadap ke arah yang berbeda saat Shalat. Ia tidak mengerti arti dari mimpi tersebut. Kemudian, beberapa selebaran (pamflet) dari Jemaat diterimanya di tempat tersebut dan pria itu menempuh perjalanan sejauh 260 km untuk mengetahuinya lebih banyak lagi. Seorang Mualim Ahmadiyah dipanggil untuk menyampaikan pesan tersebut. Saat ditablighi oleh sang mualim orang itu pun menerima Ahmadiyah. Lalu ia menyadari bahwa mimpinya tersebut merupakan indikasi untuk menerima Islam Ahmadiyah. Banyak orang-orang yang lainnya pun yang baiat. Seorang mahasiswa kedokteran menyumbangkan sebidang tanah untuk pembangunan Masjid.

Arah kiblat semua umat Islam ketika Shalat adalah sama, jadi arti dari merubah arah shalat dalam mimpi tersebut adalah bahwa arah lahiriah bukan lah segalanya, kita harus merubah arah ruh yang ada didalam hati dan pikiran kita.

Mubaligh kita dari Republik Guinea (Guinea Conakry) menulis bahwa dengan rahmat Allah Ta’ala sebuah perkampungan yang besar yang terletak 200 km jauhnya serta beberapa desa yang berdampingan dengannya telah menerima Ahmadiyah. Pada saat Jemaat bermaksud untuk mengukuhkan keberadaannya di tempat tersebut kepala desa setempat berkata bahwa seluruh sumber daya manusia di desanya telah menyeberang ke Jemaat. Ia berkata bahwa mereka sangat bahagia telah bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah, Islam hakiki yang telah membuka mata mereka.

Amir Kongo menulis bahwa tabligh Ahmadiyah melalui selebaran-selebaran mencapai daerah yang jauh terpencil, hal ini mendorong orang-orang untuk bisa berhubungan langsung dengan Jemaat via email. Seorang mualim dikirim ke daerah tersebut kemudian menetap disana selama tiga bulan dan menyampaikan pertablighan kepada mereka. Banyak sekali pertemuan yang dilaksanakan dan dengan rahmat Allah Ta’ala lebih dari 60 orang menerima Ahmadiyah. Mereka adalah orang-orang yang mulia dalam ketulusan dan keikhlasannya bahkan salah seorang dari mereka menempuh perjalan sejauh 600 km untuk menghadiri Jalsah pada tahun 2013. 300 km ditempuh dengan perahu dan sisanya dengan sepeda tua reot yang dipinjamnya dari seorang teman. Ketika mubaligh kita mendengar kisah pengayuh sepeda tersebut yang telah menempuh perjalanan sejauh 300 km untuk menghadiri Jalsah ia seakan tidak percaya.

Mubaligh kita dari Lungi (Sierra Leone) menulis bahwa beberapa orang telah ditablighi dan mereka ingin sekali masuk kedalam Ahmadiyah. Namun, seorang Imam ghair Ahmadi yang belajar di Arab Saudi memberitahukan mereka hal-hal yang berlawanan tentang Jemaat yang kemudian membuat mereka menjauh. Mereka dan Imam tersebut diundang ke Jalsah. Pada hari kedua Jalsah sang Imam menghampiri mubaligh kita dan berkata ‘Demi Tuhan Jemaat Ahmadiyah adalah Islam yang benar, saya tidak akan menentangnya dan jika siapa saja yang ingin bergabung dengan Ahmadiyah saya akan katakan kepada mereka agar melanjutkan dan melakukannya.’

Seorang Ahmadi dari Italia menulis bahwa program siaran langsung MTA yang disiarkan dari Kababir (Haifa, Israel) amat mengesankan bagi dirinya, dan selama kurang lebih enam bulan ia menyatakan bai’at di dalam hatinya, meskipun ia belum menandatangani formulirnya. Ia mengatakan jika ia tinggal sendiri dan kegembirannya dalam menemukan kebenaran Islam Ahmadiyah tak terhingga. Ia menganggap jika dirinya merupakan tanda kebenaran Ahmadiyah tersebut. Ia katakan bahwa ia pertama kali menonton MTA tahun 2008 pada waktu itu ia tidak memiliki pengetahuan tentang Jemaat sama sekali. Ia terus menyaksikan program-program MTA karena sangat menyukainya dan secara bertahap ia menerima kebenaran Ahmadiyah. Ia bai’at pada tahun 2013.

Seorang Ahmadi menulis dari Aljazair bahwa pada tahun 1990’an ia bergabung dengan Pasukan Pertahanan Sipil hal ini disebabkan karena kelompok Islam radikal yang membawa kekejaman teroris telah mengatas-namakan Islam, dan Pasukan tersebut bertugas melindungi para penduduk dari mereka. Ia berkata bahwa ia menjauh dari Islam sejak itu dan tak habis pikir melihat orang Islam membunuh orang Islam atas nama Jihad dan Islam. Ia terkejut ketika tahu bahwa Imam Mahdi pun datang untuk memerintahkan pembunuhan tersebut. Kawannya yang merupakan seorang Ahmadi berbicara kepadanya dan menjelaskan tentang perkara tersebut dan menyampaikan kepadanya tafsir al-Quran tentang perkara tersebut yang memuaskan dirinya. Ia diberitahu bahwa Tuhan telah mengutus Imam Mahdi satu abad yang lalu di India dan beliau mempunyai sebuah Jemaat yang sudah didirikannya. Mendengar hal tersebut, ia merasa seakan Tuhan telah mendengarkan doanya dan ia pun mengisi formulir bai’at!

Tak lama setelah itu ia bermimpi. Seseorang yang suci menarik dirinya dengan tangannya dari tempat yang gelap dan berjalan ke tepi laut dimana sebuah perahu menunggu. Seorang suci yang lainnya juga berada di sana, dan ketiganya naik ke atas perahu. Orang suci tersebut berkata kepadanya bahwa ia adalah Rasulullah (saw) dan orang yang satunya itu adalah Imam Mahdi, Masih Mau’ud (as). Perahu tersebut mencapai kapal yang besar dan kedua orang suci tersebut menyuruhnya untuk naik ke Kapal tersebut dan bergabung dengan orang-orang yang ada diatasnya.

Seorang Mubayyin Baru menulis dari Maroko bahwa ia adalah seorang guru sejarah dan geografi, dan meskipun dlimpahi keberkatan dari segi duniawi, namun ia terjerat dalam keangkuhan dan keburukan. Ia diperkenankan untuk mengambil bai’at yang menuntunnya membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mana telah memurnikan ruhaninya.

Ketua Jemaat Nasional kita di Jepang menulis bahwa seorang yang berasal dari Jepang yang telah berhubungan selama enam bulan terpanggil setelah Huzur menyampaikan masalah kesyahidan para Ahmadi yang terjadi di Shiekupura, Pakistan pada saat khutbah Jumaat. Orang Jepang itu menyatakan keinginannya untuk menerima Ahmadiyah setelah mendengar berita kesyahidan tersebut.

Amir Yadgir, India menulis bahwa seorang pelajar Hindu melihat motto ‘Love for all hatred for none’ pada buku catatan temannya yang Ahmadiyah. Motto tersebut membawa dampak yang dalam bagi dirinya dan ia meminta informasi lebih lanjut. Ia diberikan buku-buku dan literature-literatur untuk dibaca. Setelah mempelajarinya dengan mendalam dan menyaksikan pengkhidmatan Jemaat bagi kemanusiaan, ia merasa yakin dan baiat pada bulan Maret 2014.

Seorang kawan dari Mesir menulis bahwa ‘Demi Allah Jemaat ini benar’ dan berkata bahwa semoga seluruh dunia mengikuti ajaran Jemaat ini. Ia amat bersyukur bahwa ayahnya dan kemudian berangsur-angsur seluruh keluarganya menyatakan baiat.

Mubaligh kita dari Bosnia menulis bahwa setelah mengikuti rangkaian khutbah Jumaat Huzur mengenai reformasi amalan (perbaikan amal perbuatan), terjadi peningkatan jumlah yang hadir pada waktu Shalat Subuh berjamaah. Kendati cuaca sangat dingin, turun salju dan sebagainya para Mubayyin baru rela melakukan perjalanan hingga 10 km demi melaksanakan Shalat berjamaah.

Seorang Ahmadi menulis dari Macedonia (Eropa Selatan) bahwa istrinya tidak memperhatikan Pardah. Ia mengutarakan rasa terimakasihnya bahwa setelah mendengar ceramah Huzur di tempat kaum Ibu pada saat Jalsah Jerman, Istrinya kini telah mengenakan pardah dan semakin meningkat dalam hal keimanan.

Semua cerita-cerita diatas hanyalah beberapa kilasan dari sekian banyak kisah yang tak terhitung jumlahnya yang diterima dalam laporan Huzur mengenai bagaimana Tuhan membimbing orang-orang tersebut kepada Kebenaran Ahmadiyah, Islam hakiki. Itu adalah tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as). Kisah-kisah tersebut adalah bukti tentang nubuatan Rasulullah (saw) akan kebenaran dan kesempurnaan agama yang dibawa oleh beliau (saw). Amat sangat disesalkan bahwa umat Islam tertarik dengan apa yang mereka sebut ulama dan menolak untuk menerima kebenaran.

Doa harus dipanjatkan untuk seluruh umat Islam. Dunia Islam ada dalam keadaan sangat menyedihkan. Para pemimpin Islam menindas rakyatnya dan akibat tidak adanya ruh kepemimpinan rakyat pun melawan pemimpinnya. Pembunuhan sekte (kelompok) sedang terjadi.

Pada masa dahulu pemerintahan ­Islam masih dapat mengendalikan dan mendamaikan aksi kekerasan antar sekte (kelompok) yaitu antara kelompok Sunni dan Syiah. Namun, pada masa sekarang pemerintahan Islam sendiri yang melibatkan diri dalam perselisihan tersebut. Situasi di Irak, Syiria dan Libia semakin bertambah buruk beberapa tahun belakangan ini. Kini situasi antara Arab Saudi dan Yaman pun memanas. Saudi Arabia mengobarkan perang dengan dalih menolong Yaman. Situasi menjadi rawan dan kita tidak tahu ujungnya sampai mana. Bahaya besar meletusnya peperangan dapat meluas. Lasykar-lasykar setan sukses dalam melemahkan umat Islam. Awalnya serangan mereka (yang memusuhi umat Muslim) dilancarkan secara langsung namun kini mereka menggunakan kekuatan mereka guna menyulut pertikaian di kalangan sesama Muslim. Umat Muslim tidak berhenti dalam pertikaian ini. Mereka pun tidak merenungkan  mengapa mereka sebagai pengikut nabi terakhir ini ada dalam kadaan kacau balau seperti ini!

Ada satu cara saja bagi mereka untuk menghindari terjadinya keburukan tersebut yaitu sebagaimana telah Allah ajarkan kepada kita, ialah dengan menerima al-Masih yang diutus Tuhan. Semoga Allah Ta’ala meridhoi mereka agar dapat melakukannya dan semoga Allah Ta’ala meridhoi kita untuk mendoakan mereka!

Dua Shalat Jenazah diumumkan.

Shalat Jenazah bagi Intisar Ahmad Ayaz Sahib yang wafat pada tanggal 28 Maret pada usia 50 tahun di Boston, Amerika Serikat. Beliau adalah cucu dari pihak ibunya Maulana Abu Ata Jalundhri. Beliau lahir di Tanzania (Afrika Timur). Beliau adalah orang yang saleh, dawam membaca al-Quran dan melaksanakan Tahajud. Beliau mengabdikan (mewaqafkan) dirinya bagi Nizam Jemaat dan Khilafat serta telah berkhidmat di Jemaat dalam berbagai posisi. Beliau sangat gencar bertabligh dan membaitkan. Beliau adalah anak, adik, suami dan ayah yang teladan. Beliau meninggalkan orang tua, saudara perempuan, istri dan seorang putra yang berusia sepuluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuninya dan menaikan derajatnya serta memberikan ketabahan bagi yang ditinggalkan.

Shalat Jenazah gaib untuk Waseem Ahmad, mahasiswa Jamiah Qadian. Beliau tenggelam di sungai Beas, India. Mayatnya tidak ditemukan setelah empat hari pencarian, namun tidak ada bekas pada tubuhnya dan tubuhnya nampak biasa tidak seperti orang yang mati tenggelam. Beliau adalah mahasiswa yang pintar dan pekerja keras yang selalu terdapan dalam hal Shalat Tahajud. Beliau meninggalkan ibu, dua kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatnya!