Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 18 Tabligh 1390 HS/Februari 2011 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم. ]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Dua atau tiga hari yang lalu, tuan Missionary in-Charge [Raisut Tabligh] di sini [Jemaat UK], Ataul Mujib Rashid Sahib, menulis surat kepada saya, bahwa tahun [2011] ini merupakan penggenapan yang ke-125 sempurnanya nubuatan Ilahi mengenai Mushlih Mau’ud (Sang Pembaharu Yang Dijanjikan). Saya paham bahwa dari surat beliau tersebut beliau menginginkan agar saya satu khotbah yang membahas hal itu, walaupun tidak dengan lugas beliau menuliskan demikian.

Dua tahun yang lalu saya telah menyampaikan khotbah tentang hal ini. Akan tetapi topik ini tidak dapat tercakup bahasannya dalam satu khotbah. Sebelumnya perhatian saya tidak tertuju ke sana kemudian nurani saya condong kesana karena ini adalah satu nubuwatan agung yang sama sekali bukan menyangkut masalah pribadi seseorang, bahkan nubuatan ini terkait dengan kejayaan Islam yang kedua.

Pada dasarnya, nubuatan ini adalah nubuatan Hadhrat Rasulullah Saw. karena itulah penting untuk mengingatkannya. Tambahan lagi, di berbagai negara yang di dalamnya ada kebebasan untuk berkumpul, Ahmadi mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan Jalsah-Jalsah (pertemuan-pertemuan). Membahas berbagai topik. Topik nubuatan dipandang dari berbagai segi.

Para penceramah berusaha menjelaskannya dari berbagai sudut pandang. Akan tetapi di Pakistan [Jemaat] telah dilarang [oleh pihak pemerintah] untuk menyelenggarakan berbagai pertemuan keagamaan. Oleh karena itu topik seperti ini juga sangat diperlukan oleh generasi baru. Para pemuda pun hendaknya memiliki ilmu pengetahuan mengenai hal ini. Orang-orang yang baru masuk Jemaat hendaknya juga memiliki ilmu mengenai hal ini.

Kemudian tidak hanya pada para mubayyiin baru saja, boleh jadi juga ada beberapa kalangan Ahmadi-Ahmadi lama yang belum ada kecenderungan terhadap ilmu ini, para sesepuh Ahmadi juga sedikit banyak tidak mengetahui persis pembahasan masalah ini. Setelah saya merenungkan hal ini maka pada hari ini nurani saya pun condong pada hal ini. Walhasil oleh karena itu saya akan mengupas topik yang sedemikian penting ini.

Dengan diulang-ulangnya [pembahasan] hal itu baik yang baru maupun yang lama maka ilmu, iman dan irfan kita akan bertambah. Kemudian hal ini pula bahwa Jemaat atas karunia Allah Ta’ala menyebar dengan cepat di negara-negara baru dan tempat-tempat baru, para penceramah atau para muallim yang memberi ceramah tidak begitu mengetahui setiap hal. Mereka tidak mengetahui dengan tepat nubuatan-nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan tidak dapat menerangkan dengan begitu mendalam. Oleh karena itulah dari sudut pandang itu menurut hemat saya perkara tersebut perlu diterangkan.

Pendek kata seperti halnya telah saya katakan, meskipun Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan nubuatan ini, bahwa Allah Ta’ala akan menganugerahi beliau seorang anak laki-laki yang akan menjadi Mushlih Mau’ud, yang akan dianugerahi berbagai macam kemampuan istimewa. Tetap hendaknya diingat, nubuatan ini sebetulnya telah didahului oleh nubuatan Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. sejak 1.400 tahun yang lalu, لَه وَيُولَدُ فَيَتَزَوَّجُ إِلَى اْلأَرْضِ مَرْيَمَ ابْنُ عِيسَى يَنْزِلُ ‘Yanzilu ‘Iisa bnu Maryama ‘ilal ardhi fayatazawwaju wa yuuladu lahu.’ – “Tatkala Isa ibnu Maryam nanti akan turun ke bumi; ia akan menikah dan dikaruniai anak-anak.”[1]

Dan sebagaimana kita ketahui, dalam hadits-hadits lain, Hadhrat Rasulullah saw. dalam menjelaskan tentang Isa Ibnu Maryam, siapakah ia? Dalam hadits Bukhari, hadits Muslim juga serta beberapa kitab hadits yang lain juga mencantumkannya. Hadhrat Rasulullah saw. bersabda: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ». “Kaifa antum idzaa nazala ibnu Maryama fiikum wa imaamukum minkum’ dan فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ». [sedangkan pada Hadits lain disebutkan] ‘fa-ammakum minkum’, yakni, Hadhrat saw. bersabda, “Akan bagaimanakah keadaan kalian manakala [Isa] ibnu Maryam diutus yang akan menjadi imam bagimu sekalian, dan ia dari antara kalian.”

Kemudian dalam riwayat ini juga dikatakan, “Dikarenakan beliau adalah dari antara kalian, ia akan diberikan tanggung jawab menjadi imam diantara kalian.”[2] [Kepemimpinan atau imam bagimu sekalian (umat Nabi Muhammad saw. ) haruslah orang dari antara kalian. Red.] Kemudian dalam hadits lainnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti niscaya akan mendapati zaman Isa ibnu Maryam, dan dia akan menjadi Imam Mahdi dan Hakaman ‘Adalan (hakim yang adil) yang akan memecah salib dan membunuh babi.”[3]

Ringkasnya, nubuatan yang terkait dengan masa kebangkitan Islam yang kedua kali ini penguraiannya dengan perantaraan Pencinta Sejati Rasulullah dan Masih Mahdi, Allah Ta’ala sekarang sedang mengulanginya kembali, akan tetapi pada hakekatnya pondasinya telah ada pada nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. lebih dari 14 abad yang lalu sejak hari ini.

Walhasil, nubuatan-nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as dan nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau a.s. bukan semata-mata untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan Hadhrat Masih Mau’ud as, melainkan untuk memperlihatkan keagungan Aqa-o-Mutha, Sayyid-o-Maula, junjungan beliau yang ditaati, yakni Hadhrat Muhammad Mushthafa saw.. Demi untuk syiar dan berkibarnya bendera kebenaran Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. di seluruh dunia.

Berbagai macam tanda dan dukungan yang Allah Ta’ala perlihatkan bagi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada hakekatnya adalah semata-mata untuk kemuliaan derajat Hadhrat Muhammad Rasulullah saw.. Allah Ta’ala menganugerahkan nubuatan-nubuatan ini kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lalu menyempurnakannya untuk sebagai dalil bahwa Islam mempunyai Tuhan Yang Maha Hidup dan juga nabi yang hidup. Oleh karena itu Ahmadiyah tidak bisa dipisahkan dari Islam; juga tak ada pecinta dan pengabdi hakiki Rasulullah saw. yang lebih unggul di dunia ini selain dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Di satu tempat beliau bersabda; “Sekarang ini, dibawah bentangan langit hanya ada satu nabi dan hanya satu kitab yakni Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. yang paling tinggi, afdhal (utama) dari semua nabi dan Atim-o-Akmal (sempurna nan elok) dari semua rasul, Khaatamul Anbiya dan manusia terbaik yang dengan mengikutinya manusia dapat menemukan Tuhan serta mampu menyingkirkan kegelapan dan di alam ini akan mendapatkan keselamatan yang benar; dan Al-Quran Syarif yang di dalamnya terkandung petunjuk dan pengaruh yang yang benar lagi sempurna, yang dengannya didapat ilmu-ilmu Ilahiyah dan ma’rifat ruhaniah yang sebenarnya, yang menyucikan hati dari kontaminasi (kerancuan), dan bisa memurnikan manusia dari keraguan, kejahilan, kebodohan dan kelalaian serta mengantarkannya menuju maqam (kedudukan) haqqul yaqiin.”[4]

Ambillah sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Perhatikanlah sesuatu amal perbuatan dari kehidupan beliau a.s. Kutiplah tulisan-tulisan beliau a.s.. maka akan kita temukan bahwa seluruh perhatian beliau pasti tertuju kepada Allah Ta’ala, Al-Qur’an Majid dan Hadhrat Rasulullah saw..

Beliau as berkata kepada dunia dan mengumumkan dengan lantang, “Hari ini kalau ada agama yang hidup maka itu adalah agama Islam. Hari ini kalau ada rasul yang hidup yang dapat mempertemukan dengan Tuhan itu adalah Hadhrat Muhammad Musthafa saw. yang dengan mengikutinya berjumpa dengan Tuhan; dan pada hari ini kalau ada kitab yang sempurna yang suci dari segala macam bentuk perubahan dan kekotoran dan berada pada keadaan aslinya yang dengan membacanya mendapat ilmu-ilmu Ilahiyah dan ma’rifat ruhaniah yang sebenarnya, yang dengan membacanya hati manusia menjadi suci. Yakni membacanya dengan ikhlas. Kalau tidak, yang tidak suci, tidak ikhlas, maka membaca Al-Quran tidak memberikan faedah baginya. Inilah yang juga Allah Ta’ala firmankan dalam Al-Quran al-Karim.”

Pendek kata, beliau a.s. memenuhi kita dengan pemikiran ini. Hati dan pikiran kita dipenuhi dengan irfan ini bahwa kalau hari ini ada nabi yang hidup maka itu adalah zatnya [pribadi] Hadhrat Rasulullah saw. yang telah mempertemukan kita dengan Tuhan. Beliau saw. membimbing menciptakan satu hubungan langsung dengan Allah Ta’ala supaya kegelapan hati menjadi jauh dan menciptakan ikatan antara hamba dengan Tuhan.

Kitab beliau saw. merupakan kitab yang hidup yang berlaku hingga hari kiamat, di dalamnya diterangkan semua hukum secara sempurna, perintah-perintah secara mendetail dan juga larangan-larangan, dan dijelaskan jalan-jalan dalam pencapaian perjumpaan dengan Allah Ta’ala. [Kitab] yang tidak memberikan kesempatan untuk berpikir bagi manusia untuk mencari yang lebih baik di luar itu, sesuatu yang manusia tidak mempunyai kekuatan untuk dapat memikirkannya [memikirkan atau merumuskan bahwa ada ajaran yang lebih baik dari Al-Quran. Red.].

Nabi Agung dan yang senantiasa hidup ini saw. telah berhasil menghubungkan kaum pengikut beliau kepada Allah Ta’ala sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, demikian pula untuk zaman sekarang ini dengan nuansa kesegaran yang sama sebagaimana 1400 tahun yang lalu. Bahkan, manakala zaman penyempurnaan nubuatan Qurani tiba, yaitu {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ} ’Wa aakhariina minhum lamma yalhaquu bihim…’ maka disebabkan oleh kecintaan yang menggelegak dari seorang abdi kepada majikannya (beliau saw.) itu, diutusnya Masih Mau’ud untuk membumikan kembali keimanan yang telah terbang ke Bintang Tsurayya, dan dengan satu keagungan baru agama Muhammad saw. berdiri tegak kembali di dunia dengan perantaraan Masih Mau’ud, sehingga kaum Akhirin menjadi terhubung dengan kaum Awwalin. Dalam hadits juga diingatkan berkenaan dibawanya kembali iman dari Bintang Tsurayya disebut seperti ini.

Hadhrat Abu Hurairah ra meriwayatkan, “Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Hadhrat Rasulullah saw. turun surah Jumu’ah (ayat 4) pada beliau saw.. Ketika beliau membaca ayat ini, {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ}’Wa aakhariina minhum lamma yalhaquu bihim.’ yang maknanya adalah mengenai orang-orang yang datang belakangan digolongkan termasuk ke dalam para sahabat Rasulullah saw. walau tidak pernah berjumpa dengan mereka [para sahabat], maka seseorang bertanya kepada beliau saw.: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang itu?’ Mereka itu menempati derajat para sahabat akan tetapi kini tidak masuk di dalamnya. Hudhur saw.. (Rasulullah saw.) tidak menjawab pertanyaan itu. Orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali.

Perawi berkata, Hadhrat Salman Al-Farsi duduk bersama kami. Hadhrat Rasulullah saw. meletakkan tangannya di pundak beliau (Salman), dan bersabda: «لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلاَءِ». ‘Lau kaanal imaanu ‘indats Tsurayya lana lahu rijalun min haula-i’, yakni, “Manakala iman telah terbang jauh ke Bintang Tsurayya, (yakni telah diangkat dari bumi) seorang beberapa orang dari kaum beliau ini [bangsanya Salman Al-Farsi, yaitu Persia] pasti akan mengembalikannya lagi ke bumi.” Perkataan ‘rajulun au rijaalun’ “seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki” keduanya terdapat dalam riwayat.[5]

Walhasil Hadhrat Masih Mau’ud as jauh sebelum beliau mendakwakan diri sebagai Masih dan Mahdi telah bekerja dengan tekun dalam mengkhidmati Islam. Ketika beliau a.s. mengetahui berdasarkan ilham Allah Ta’ala kepada beliau, bahwa beliau itulah Mujaddid (Sang Pembaharu) untuk abad ini, maka beliaupun menerbitkan sebuah brosur cetakan dalam bahasa Inggris dan bahasa Urdu yang mengumumkan, “Allah Ta’ala telah menetapkan aku sebagai Mujaddid untuk Abad ini. Aku pun telah ditugaskan untuk pekerjaan itu yaitu untuk membuktikan kebenaran Islam diatas seluruh agama lainnya, memperlihatkan kepada dunia bahwa agama yang hidup, Kitab yang hidup, dan Rasul yang hidup sekarang hanyalah Al-Quran, Islam dan Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. ..”

Beliau juga bersabda, “Akupun secara keruhanian dikaruniai semua sifat istimewa seperti halnya dianugerahkan kepada Al-Masih Isa ibnu Maryam.” Kemudian beliau pun membuka tantangan kepada agama di seluruh dunia untuk tampil dalam perdebatan tentang kebenaran Islam dan kini hanya Islam sajalah yang mampu menjadi perantara pengobat penyakit-penyakit ruhaniah, bukan agama yang lain.

Pengumuman tantangan beliau ini telah menggemparkan agama-agama di Hindustan namun tak ada seorang pun di antara mereka yang berani menerima tantangan beliau berkenaan dengan menguji kebenaran Islam. Para pendeta besar yang tadinya Islam (Muslim) kemudian meninggalkannya dan berganti memeluk agama Nasrani, melarikan diri [tidak menjawab tantangan]. Sebagai contoh Imaduddin dan lain-lain, mereka memutuskan untuk tidak merasa perlu menanggapi tantangan tersebut.

Adapun seorang pendeta Kristen yang dijuluki nama Swift, dan juga seorang pandith Hindu Arya Samaj bernama Lekh Ram dan lain-lain yang mencoba tampil ke muka, berakhir dengan kehidupan yang sangat mengenaskan, peristiwa demi peristiwa menunjukkan bahwa keyakinan mereka hanyalah tipu muslihat belaka. Uraian tentang hal ini ada dalam literatur-literatur Jemaat. Ada dalam banyak buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan juga ada dalam sejarah Ahmadiyah. Saat ini tidak bisa diterangkan di sini karena masalah waktu. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bekerja keras dalam membuktikan bahwa Islam adalah yang teristimewa di atas segala agama dan beliau telah menuliskannya serta menyebarkannya lewat selebaran.

Dalam buku Izalah Auham juga beliau as telah memaparkannya. Beliau as bersabda: “Dengan kekuatan iman itulah hamba telah berdiri tegak untuk menyebarkan dakwah Islam secara umum. Sebanyak kurang-lebih 12000 selebaran dakwah Islam telah saya kirimkan melalui pos tercatat kepada para pembesar dan para pemimpin seluruh bangsa. Bahkan sebuah surat dan selebaran telah saya kirimkan melalui pos tercatat kepada Pangeran Inggris. Dan kepada Perdana Menteri Inggris, William Ewart Gladstone (1809-1898) pun saya kirimkan sebuah selebaran dan surat. Begitu juga halnya kepada Pangeran Otto von Bismarck (1815-1898) dari Jerman dan pemimpin-pemimpin bangsa lainnya, telah saya kirimkan berbagai selebaran serta surat yang jumlah keseluruhannya memenuhi satu peti besar. Dan sudah nyata sekali bahwa pekerjaan seperti ini tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya kekuatan iman. Hal ini [saya sampaikan] sama sekali bukanlah untuk memperbanggakan diri, melainkan untuk menampilkan kenyataan sebenarnya, sehingga tidak akan ada hal yang meragukan lagi bagi pencari kebenaran..”[6]

Pendek kata beliau a.s. berupaya dalam membuktikan kesempurnaan Islam diatas agama-agama lainnya. Secara khusus, upaya beliau itu telah berhasil menahan laju penyebaran agama Kristen. Dalam periode itu muncul hasrat dalam diri beliau untuk memfokuskan diri dalam doa-doa khususnya dengan melakukan Chilla (I’tikaf, bermunajat, berkhalwat). Untuk itulah, beliau pergi keluar dari Qadian guna memenuhi keinginan bermunajat (chilla) itu tadi, maka pada periode itu Allah Ta’ala menurunkan ilham kepada beliau, “Pembuka kesulitan engkau ada di Hoshiarpur.”

Dengan demikian beliau as mengadakan perjalanan ke Hoshiarpur pada tanggal 22 Januari 1886 dan Allah Ta’ala telah banyak memberikan kabar gembira kemajuan Islam sebagai hasil dari Cilla Kashshi (menyendiri untuk bermunajat, khusus berdoa dan beribadah) tersebut. Tatkala beliau as selesai berkhalwat (chilla) maka Hudhur a.s. dengan pena beliau sendiri menulis sebuah selebaran dengan nama ‘Risalah Siraj Munir bar Nisyaan hae Rabbi Qadir’ [Risalah Terang Benderang mengenai Tanda-Tanda Tuhan Yang Maha Kuasa] yang salah satu di antaranya adalah nubuatan mengenai kedatangan Mushlih Mau’ud yang beliau sebarluaskan pada tanggal 20 Februari 1886[7], yang juga diterbitkan dalam bentuk suplemen di majalah ‘Riyazi Hind’ Amritsar pada tanggal 1 Maret 1886, yang di dalamnya beliau a.s. menulis sebagai berikut: “Dari 3 jenis nubuatan yang insya Allah akan dijelaskan uraiannya dalam selebaran ini. (yakni, akan dijelaskan detail kemudian dalam risalah ini) Nubuatan pertama yang berkaitan dengan hamba yang lemah ini. Hari ini, 20 Februari tahun 1886 yang bersamaan dengan tanggal 15 Jumadil membatasi diri menuliskan bagian ilhamiyah saja secara penuh.” (secara ringkas saya tuliskan dengan padat) “dan di risalah ini akan dijelaskan secara rinci.”

Beliau a.s. bersabda (menulis): “Nubuatan pertama bi ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (Dengan perantaraan ilham dan pemberitahuan dari Allah Ta’ala) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim (Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepadaku lewat ilham: “Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat kepada engkau sesuai dengan permohonan engkau kepada-Ku. Maka telah Aku mendengar rintihan doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan doa engkau telah Aku kabulkan. Dan perjalanan engkau [perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka telah diberikan kepada engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat (kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau mendapat kunci Fath (kemenangan) dan kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan). Hai Muzhaffar (0rang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas engkau!’

Tuhan Yang telah berfirman ini, “Supaya mereka yang menghendaki kehidupan terselamat dari cengkeraman maut dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari padanya, dan supaya nampak kepada manusia kemuliaan agama Islam dan derajat tinggi Kalam Allah, dan supaya kebenaran tegak bersama semua berkat-berkatnya dan supaya kebatilan jauh sirna bersama kesialannya. Dan supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir (Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku. Supaya manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku ada bersama engkau. Dan supaya orang-orang yang tidak beriman kepada Wujud Tuhan dan memandang dengan pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya nampak jelas jalan orang-orang berdosa.

Maka kabar sukalah bagi engkau! Seorang anak lelaki yang bersih dan suci akan dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki yang suci. Anak itu akan lahir dari benih keturunan engkau. Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu engkau. Namanya Emanuel dan Bashir juga. Kepadanya diberikan ruh suci. Dia suci bersih dari dosa dan dia adalah Nur Allah. Penuh keberkahanlah dia yang datang dari langit. Dia didampingi Fadhl (karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan, wilayah), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan).

Dia akan datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi Nafs (jiwa, ruh Masih) dan Ruhul Haqq-nya dia akan menyembuhkan banyak orang dari penyakit-penyakit mereka. Dia adalah Kalimatullah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut, dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu pengetahuan zhahiri dan bathini, dan dia akan merubah 3 menjadi 4.”

Beliau a.s. menulis: (Saya tidak memahami maknanya) “Hari Senin! Beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan terhormat, مَظهر الأول والآخِر، مَظهر الحق والعلا، كأن الله نزل من السماء ‘mazhharul awwali wal aakhiri, mazhharul haqqi wal ‘alaa-i, ka-annallaha nazala minas samaa’ Mazhhar al-Awwal wal Akhir (manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Alaa-i (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha Tinggi), seakan-akan Allah turun dari langit. Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi sebab penampakan kegagahan Ilahi [jalaali Ilahi].

Cahaya datang. Cahaya yang Tuhan telah sirami dengan air harum keridhaan-Nya. Akan Kami masukkan ruh Kami ke dalamnya dan naungan Tuhan akan selalu di atas kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan dan dia akan menjadi pembebas para tawanan, dan dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok bumi, dan bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat dari padanya sampai titik jiwanya diangkat ke arah langit. وكان أمرًا مقضيًّا Maka sempurnalah seluruh pekerjaan.” [8]

Beliau as bersabda: “Kemudian Allah Ta’ala Yang Maha Mulia dengan Keagungan Tanda-Nya memberikan kabar gembira kepadaku, ‘Rumah engkau akan dipenuhi berbagai karunia dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas engkau. Engkau akan memiliki banyak anak keturunan melalui perempuan-perempuan yang diberkati, yang sebagian di antaranya akan engkau dapati di hari kemudian. Keturunan engkau akan sangat banyak dan Aku akan memperbanyak anak keturunan engkau dan memberkatinya; namun sebagian di antara mereka ada yang meninggal di usia dini.

Keturunan engkau akan banyak menyebarluas di berbagai negeri, dan saudara-saudara engkau dari kakek-kakek engkau yang menjadi penentang engkau akan terpotong, dan berakhir dalam kondisi tidak berketurunan. Jika mereka tidak bertobat, Tuhan akan menurunkan kepada mereka bencana demi bencana sehingga akan menghapus jejak mereka, rumah-rumah mereka akan dipenuhi para janda, dan azab Ilahi akan turun mengepung keempat dinding rumah mereka. Tetapi jika mereka bertobat, maka Tuhan pun akan menyambut mereka dengan sifat kasih-sayang-Nya.

Tuhan akan menyebarluaskan segala keberkatan engkau ke sekeliling engkau, dan akan memakmurkan sebuah bait (rumah) yang telah menjadi puing-puing dengan perantaraan engkau. Lalu akan mengganti ketakutan yang ada di dalamnya dengan berbagai keberkatan. Anak keturunan engkau tidak akan terputus, melainkan akan terus tumbuh berkembang hingga akhir hari [kiamat]. Tuhan akan memelihara nama baik engkau dengan penuh kemuliaan hingga ketika hari telah berakhir [kiamat], dan akan menyampaikan da’wa (klaim, pengakuan, pernyataan) engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia. Aku akan mengangkat nama engkau, dan memanggil nama engkau kepada-Ku.

Akan tetapi, nama engkau tidak akan pernah terhapus dari muka bumi, dan akan terjadi demikian, bahwa mereka yang berpikir hendak menghina engkau, berencana hendak menggagalkan dan menghancurkan engkau, justru mereka yang akan mati dalam keadaan mengalami frustrasi; nihil tanpa tercapai cita-cita mereka. Akan tetapi Tuhan akan mengaruniai engkau dengan segala keberhasilan, dan mengabulkan segala yang engkau cita-citakan.

Aku akan menambahkan [memajukan] bagi engkau golongan orang-orang yang menaruh kecintaan kepada engkau dan yang senantiasa menolong engkau, dan memberikan keberkatan kepada diri mereka dan juga harta benda mereka. Jumlah mereka akan terus bertambah dan unggul atas golongan lain dari kaum Muslimin yang mencemburui dan memusuhi engkau. Tuhan pun tidak akan melupakan mereka (para pengikut engkau yang penuh kecintaan); tidak akan meremehkan mereka; melainkan justru akan memberi ganjaran pahala sesuai dengan derajat keikhlasan masing-masing.

Engkau bagi-Ku adalah sebagaimana (seperti) para nabi Bani Israil. (Yakni, persamaan secara zhilli) Engkau bagi-Ku adalah seperti Tauhid-Ku. Engkau adalah dari Diri-Ku dan Aku adalah dari diri engkau. Saat itu akan datang bahkan sudah semakin dekat. Sungguh sudah dekat, manakala Tuhan akan memasukkan sikap kasih sayang kepada engkau ke dalam kalbu para raja dan para amir (pemimpin bangsa dan Negara) sedemikian rupa, sehingga mereka itu pun akan mencari berkat dari pakaian jubah engkau.

Wahai kalian yang menyangkal dan menentang kebenaran, jika kalian meragukan abdi-Ku ini; yakni jika kalian menyangkali segala karunia dan kebaikan yang telah Kami anugerahkan kepada hamba kami Kami, cobalah kalian perlihatkan beberapa Tanda rahmat semacam itu kepada diri kalian sendiri, jika kalian memang orang-orang yang benar, dan jika engkau tidak mampu memperlihatkannya; sesungguhnya kalian memang tidak akan sanggup untuk menunjukkannya, maka takutilah akan Api [Neraka Jahannam] yang telah disediakan bagi para pembangkang, pendusta dan pelampau batas (zalim).’”[9]

Beliau as telah menambahkan selebaran ini dalam Majalah Riyaz-e-Hind. Walhasil Allah Ta’ala telah banyak memberikan kabar gembira kepada beliau dalam munajatnya (Chilla/khalwat). Ini yang perlu diingat, dan juga terdapat kabar gembira mengenai seorang Putra yang memiliki berbagai keistimewaan tersendiri, Sang Putra tersebut memiliki sifat-sifat istimewa yang jika dihitung-hitung berjumlah ada 52 sifat. Bahkan pada satu kesempatan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sendiri pernah memaparkan ada 58 sifat.

Hadhrat Rasulullah saw. telah bersabda bahwa Al-Masih akan datang dan akan memiliki anak sebagaimana yang telah saya bacakan tadi. Sekarang toh banyak sekali orang yang memiliki anak keturunan. Apa hal penting di dalamnya? Dalam nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. pasti ada sesuatu hal yang sangat penting, dan itu adalah bahwa beliau a.s. akan memiliki anak-anak keturunan dan akan memiliki keistimewaan-keistimewaan yang akan menjadi penyebab penyebarluasan agama, penyebarluasan Tauhid Ilahi, yang kesemuanya akhirnya akan memuliakan martabat Rasulullah saw. di seluruh dunia.

Tahun 1889 ketika Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra dilahirkan adalah tahun yang sama ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengambil baiat. Tahun itu Allah Ta’ala memerintahkan beliau agar mengambil baiat. Dalam tahun itu juga Jemaat ini didirikan guna menjalankan pekerjaan tabligh Islam, memperindah keadaan-keadaan [akhlak dan ruhaniah] masing-masing, menjadi penyempurna nubuatan Hadhrat Rasulullah saw. dengan baiat kepada Masih dan Mahdi tersebut, dan inilah tujuan didirikannya Jemaat ini.

Singkatnya, saya akan ulangi lagi tanda-tanda itu yaitu tanda-tanda Mushlih Mau’ud yang telah dijelaskan tadi. Atau, itu adalah keistimewaan-keistimewaan dan tanda-tanda yang dikabarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala berkenaan dengan putra yang dijanjikan tersebut. Melalui sang putra tersebut tabligh agama akan tersebar di dunia dan akan ada pekerjaan ishlah di dunia.

Pada tahun ketika Allah Ta’ala memberitahukan kepada beliau bahwa beliau adalah Mushlih Mau’ud, Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. telah menyampaikan pidato pada kesempatan Jalsah Salanah di tahun tersebut mengumumkan diri beliau sebagai Mushlih Mau’ud dan juga menjelaskan 52 tanda istimewa.

Saya menyampaikan [keterangan itu] dalam kalimat beliau r.a. sendiri. Beliau r.a. bersabda: “Apabila nubuatan ini ditelaah dengan seksama maka akan dapat diketahui tanda-tanda orang yang akan datang yang telah dijanjikan. Tanda-tanda ini telah dijelaskan di sana. Tanda pertama (1) telah dijelaskan bahwa ia akan menjadi Tanda Qudrat Kekuasaan-Nya, tanda kedua (2) telah dijelaskan bahwa ia akan menjadi Tanda Rahmat (Kasih-sayang Allah), tanda ketiga (3) ia akan menjadi Tanda Qurbat (Kedekatan dengan Allah), tanda keempat (4) ia akan menjadi Tanda Fadhl (Karunia Ilahi), tanda kelima (5) ia akan menjadi Tanda Ihsan (Kebaikan Ilahi), tanda keenam (6) ia akan menjadi Shahibi Syakwah (Pemilik Kehormatan), tanda ketujuh (7) ia akan menjadi Shahibi ‘Izhmat (Pemilik Keagungan), tanda kedelapan (8) ia akan menjadi Shahibi Daulat (Pemilik khazanah kekayaan), tanda kesembilan (9) ia akan menjadi Masihi Nafs (Memiliki sifat Al Masih dan Ruhul Qudus), tanda kesepuluh (10) ia akan mampu menyembuhkan banyak orang dari berbagai macam penyakitnya dengan berkat Ruhul Haqq, tanda kesebelas (11) ia akan menjadi Kalimatullah, tanda kedua belas (12) ia dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid – Pujian-Nya,

Tanda ketiga belas (13) ia menjadi orang yang sakhat dzahiin (Dia sangat pandai, jenius, banyak akal), tanda keempat belas (14) ia akan menjadi sakhat fahiim (sangat cerdas), tanda kelima belas (15) ia akan menjadi orang yang qalbunya sangat lembut (haliim), tanda keenam belas (16) dia akan dikaruniai dengan zhaahiri ‘uluum (segala ilmu duniawi), tanda ketujuh belas (17) dia akan dikaruniai baathini ‘uluum (ilmu-ilmu yang bersifat batiniah, segala ilmu ruhaniah), tanda kedelapan belas (18) dia akan merubah 3 menjadi 4, tanda kesembilan belas (19) dia akan memiliki keterkaitan khusus dengan hari Senin (Pada hari Senin, berberkatlah hari Senin itu), tanda kedua puluh (20) dia akan menjadi anak yang cemerlang [saleh lagi cerdas], tanda kedua puluh satu (21) dia akan menjadi orang yang mulia lagi penuh keberkahan,

Tanda kedua puluh dua (22) ia akan menjadi manifestasi Yang Maha Awwal, tanda kedua puluh tiga (23) ia akan menjadi manifestasi Yang Maha Akhir, tanda kedua puluh empat (24) ia akan menjadi manifestasi Yang Maha Benar, tanda kedua puluh lima (25) ia akan menjadi manifestasi Yang Maha Tinggi, tanda kedua puluh enam (26) dia akan menjadi penyempurnaan nubuatan “Seolah-olah Tuhan sendiri yang turun dari langit”, tanda kedua puluh tujuh (27) kedatangannya sangat beberkat, tanda kedua puluh delapan (28) dengan kedatangannya merupakan penampakkan kegagahan Ilahi, tanda kedua puluh sembilan (29) bahwa dia akan menjadi Nur, tanda ketiga puluh (30) bahwa ia akan dibasuh/disirami dengan air harum keridhaan-Nya,

Tanda ketiga puluh satu (31) bahwa Allah memasukkan Ruh-Nya ke dalam dirinya, tanda ketiga puluh satu (32) naungan Ilahi senantiasa berada diatas kepalanya, tanda ketiga puluh tiga (33) dia akan tumbuh pesat, tanda ketiga puluh empat (34) dia akan menjadi pembebas mereka yang tertawan (terjajah), tanda ketiga puluh lima (35) dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok dunia, tanda ketiga puluh enam (36) bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat darinya, tanda ketiga puluh tujuh (37) titik jiwanya akan dinaikkan ke langit, tanda ketiga puluh delapan (38) kedatangannya akan diundurkan, tanda ketiga puluh sembilan (39) dia datang dari kejauhan, tanda keempat puluh (40) dia akan menjadi kebanggaan para nabi, tanda keempat puluh satu (41) keberkatan lahiriahnya akan nampak menyebar ke seluruh dunia, tanda keempat puluh dua (42) keberkatan batiniahnnya akan menyebar ke seluruh dunia,

Tanda keempat puluh tiga (43) sebagaimana Hadhrat Yusuf as, saudara-saudara tuanya [abang-abangnya] akan menentangnya, tanda keempat puluh empat (44) dia akan menjadi Bashirud Daulah [negara tempatnya tinggal diberi kabar gembira kemenangan], tanda keempat puluh (45) dia akan menjadi Syadi Khan [ menikah beberapa kali], tanda keempat puluh enam (46) dia akan menjadi ‘Alami kabab [dia akan mengalami perang-perang besar mendunia dimana bagian-bagian dunia bagaikan potongan-potongan daging terbakar yang dibolak-balik atau sate. redaksi], tanda keempat puluh tujuh (47) dia akan menampakkan kebaikan dan keelokan laksana Masih Mau’ud itu sendiri, tanda keempat puluh delapan (48) dia merupakan Kalimatul ‘Aziz, tanda keempat puluh sembilan (49) dia merupakan Kalimatullah Khan, tanda kelima puluh (50) dia akan menjadi Nashiruddin atau penolong agama, tanda kelima puluh satu (51) dia akan menjadi Fathihuddin (pemenang agama), tanda kelima puluh dua (52) dia merupakan Bashir Tsani (Bashir kedua).[10]

Maka, tiap-tiap sifat istimewa tersebut dapat dibahas dalam topik pembicaraan yang terpisah, waktu tidak mencukupi jika dibahas sekarang. Ya, inilah sifat-sifat istimewa tersebut. Namun, bila kita menelaah kehidupan Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. dan merenungkannya, memperhatikan sepanjang masa 52 tahun Khilafat beliau r.a., kita dapat menyaksikan tiap-tiap sifat istimewa tersebut muncul satu per satu.

Seperti telah saya katakan, [saat ini] waktu tidak memungkinkan bagi saya untuk merinci lebih dalam [pada Khotbah yang singkat ini]. sebagian daripadanya akan saya bicarakan kemudian [dalam khotbah ini] sementara selebihnya dapat ditemukan dalam berbagai literatur Jemaat.

Saya akan kemukakan juga disini yaitu ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerbitkan dan mempublikasikan nubuatan Ilahi ini, Pandit Lekhram tampil menandingi tiap aspek sifat istimewa nubuatan Ilahi ini dengan selebarannya yang menggunakan kata-kata penghinaan, sehingga dia sendiri terkena imbasnya dan akhlaqnya yang semrawut sudah diketahui banyak orang. Saya persembahkan perihal akhlak Pandit Lekhram dan imbas atas penentangannya terhadap nubuatan Ilahi ini, sulit juga jika harus menjelaskan semuanya, sehingga saya kemukakan satu atau dua contoh saja.

Pada tanggal 18 Maret 1886 Pandit Lekhram dengan kepongahan menyebarkan sebuah selebaran yang penuh kedustaan dengan kata-kata penuh caci-makian dimana di dalamnya ia menyatakan bahwa huruf demi huruf dari kata-katanya adalah atas nama perintah Tuhan. Dalam menjawab tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. [ilham nubuatan dalam selebaran beliau a.s.], “Aku akan melipatgandakan jumlah keturunan engkau.” Ia (Lekhram) menulis, “Keturunan anda segera akan diputus [tidak berketurunan]. Tidak lebih tidak kurang hingga 3 tahun hal itu akan masyhur (terkenal). Bila pun lahir seorang putra, alih-alih menjadi tanda rahmat seperti anda terangkan, malahan ia akan menjadi tanda celaka. Berarti dia tidak akan menjadi Mushlih Mau’ud (na’uudzubillaah) akan menjadi Mufsid Mau’ud [perusak yang dijanjikan].”

Ringkasnya, orang celaka ini [Lekhram] memilih berbagai macam kalimat bersifat merendahkan dan caci-makian terhadap nubuatan Ilahi tersebut, menentang setiap sifat yang disebutkan dalam nubuatan mengenai putra yang dijanjikan itu sampai-sampai ia menulis: Tuhan berfirman kepadaku, “Itu semua adalah dusta demi dusta. Aku tidak mendengar doanya. dan tidak pernah mengabulkannya.”[11] Dan kemudian bagaimana akhir hidup orang itu, seluruh dunia mengetahuinya.

Selebarannya penuh dengan kata-kata yang menyakitkan. Orang ini adalah seorang Hindu yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga telah mengajukan tantangannya. Demikian pula, beberapa pendeta Kristen yang menentang Islam juga menyampaikan kata-kata serupa. Akan tetapi selain itu, sebagian orang Islam juga menyampaikan kata-kata menyakitkan.

 Setelah mendengar kata-kata orang-orang itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyebarluaskan selebaran berikutnya. Di dalamnya, beliau a.s. menjelaskan keagungan nubuatan “putra yang dijanjikan” itu sebagai berikut: “Bukalah mata lebar-lebar dan perhatikanlah bahwa ini bukanlah sekedar suatu nubuatan, melainkan satu Tanda Samawi yang sangat agung, yang di dalamnya Tuhan Maha Mulia lagi Agung menunjukkan kebenaran dan keagungan Nabi kita yang mulia lagi ra’uuf (penuh kesantunan) dan rahiim (penuh kasih dan sayang), Muhammad Musthafa shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam.

Pada dasarnya, tanda ini ratusan kali derajatnya dalam hal ketinggian, kesempurnaan dan keutamaan daripada menghidupkan satu orang mati karena hakekat menghidupkan orang mati ialah memohonkan kepada Janab Ilahi agar satu ruh kembali lagi… di kesempatan ini atas karunia Ilahi, Ihsan-Nya dan keberkatan Hadhrat Khatamul Anbiya saw, Tuhan Yang Maha Mulia mengabulkan doa-doa hamba yang lemah ini menjanjikan mengirimkan ruh yang sedemikian rupa penuh berkat yang keberkatan lahiriah dan batiniahnya menyebar ke seluruh bumi [yaitu Mushlih Mau’ud]. Maka, jika secara jelas tanda ini sama saja dengan menghidupkan orang mati, namun bila diperhatikan lebih dalam akan diketahui bahwa tanda ini berderajat lebih baik daripada menghidupkan orang-orang mati. Ruh orang-orang mati [ruhaniahnya] akan kembali dengan doa dan di kesempatan ini juga dimohonkan agar satu ruh dikirimkan [yaitu Mushlih Mau’ud]. Namun antara ruh-ruh itu dan ruh ini ribuan Kos jarak jauhnya [1 kos = 2 mil]. Sebagian orang dari kalangan Muslim yang diam-diam murtad merasa tidak senang menyaksikan munculnya mukjizat Hadhrat Rasulullah saw. bahkan mereka menjadi sangat bersedih [bertanya] mengapa bisa demikian?[12]

Pendek kata, nubuatan yang penuh keagungan ini sepanjang 52 tahun era Khilafat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah membuktikan bahwa beliau telah tumbuh sedemikian pesat. Bagaimana beliau menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan cepat? Dengan cara mendirikan misi-misi Jemaat, pembangunan masjid-masjid. Hampir seluruh waktu beliau dicurahkan untuk membuka peluang kemajuan Islam. Meskipun Jemaat pada waktu itu memiliki sarana prasarana yang kurang, tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup, namun pada kenyataannya jemaat dapat didirikan di 34 atau 35 negara.

Al-Quran diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan misi-misi dakwah dibuka. Demikian juga nizam Jemaat pun dibentuk oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang masih terus berjalan hingga hari ini dan tidak ditemukan sistem yg lebih baik dari yang telah beliau ra tegakkan. Demikian juga bidang-bidang kepengurusan Jemaat yang beliau ra dirikan di masa Khilafat beliau, yang masing-masing tugas dan kewajibannya membuktikan keistimewaan kecerdasan beliau yang sampai sekarang tetap berjalan. Masih banyak lagi karya-karya yang beliau persembahkan dari pemikiran dan nasehat ataupun penjelasan beliau ra. Tafsir Al-Quran Karim dan karya ilmu-ilmu, ini merupakan buah dari ilmu-ilmu beliau ra baik ilmu zahir maupun bathini.

Di sini pun saya ingin menggarisbawahi bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri senantiasa meyakini bahwa putra beliau as itu yang bernama Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad adalah Mushlih Mau’ud. Demikian pula seperti yang Hadhrat Syaikh Muhammad Ismail Sarsawi ra katakan, “Kami pernah mendengarkan penjelasan dari Hadhrat Masih Mau’ud as tidak hanya sekali bahkan berkali-kali bahwa beliau as biasa bersabda, “Putra yang dijanjikan dalam nubuatan yaitu Mia Mahmud itulah.” Dan kami juga pernah mendengarkan beliau as bersabda, “Dalam diri Mia Mahmud nampak terdapat ghairat keruhanian yang sangat tinggi, makanya pada banyak kesempatan saya pun banyak berdoa secara khusus untuknya.’”[13]

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. sendiri sampai suatu waktu belum mendakwakan diri sebagai pengenapan nubuatan tersebut selama Allah Ta’ala belum memberitahukannya demikian. Ini adalah suatu rangkaian rukya (mimpi) yang panjang, yang mengenainya beliau r.a. bersabda bahwa di dalamnya terdapat bagian kasyaf dan ilham juga (Yang beliau saksikan) yang di bagian akhir beliau r.a. bersabda: “Saya bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Tinggi, mengumumkan hal ini bahwa, Tuhan telah menetapkan bahwa sesuai dengan nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as sayalah putra yang dijanjikan itu yang akan menyampaikan nama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. hingga ke pelosok-pelosok dunia.”[14] Dan beliau ra melihat ru’ya ini pada tahun 1944.

Sekarang saya ingin menyampaikan kesaksian berbagai kalangan bukan Jemaat yang menyatakan pengakuan dan penghargaan mereka kepada beliau r.a.. Salah satu cendekiawan ghair adalah Maulwi Samiullah Khan Faruqi yang sebelum berdirinya Pakistan menulis dalam satu selebaran berjudul ’Izhhar Haqq’ sebagai berikut:

“Beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) telah memperoleh pemberitahuan [dari Tuhan] bahwa, ‘Aku akan membangkitkan seseorang dari keturunan engkau untuk Jemaat engkau dan Aku akan karuniakan kepadanya kedekatan dan wahyu secara khusus. Kebenaran akan maju melaluinya dan banyak orang akan menerima kebenarannya.’ Perhatikan dengan seksama nubuatan itu. (Dia menulis lagi), “Setelah memperhatikan bersama secara seksama maka katakan oleh kalian dengan kejujuran iman, apakah nubuatan itu tidak sempurna? Pada waktu hal ini dinubuatkan, saat itu sang khalifah tersebut [Hudhur II r.a.] masih anak-anak, sementara dari pihak Mirza Sahib (Hadhrat Masih Mau’ud as) tidak membuat sebuah wasiat untuk menetapkannya [Hudhur II r.a.] sebagai khalifah. Bahkan, beliau meninggalkan soal pemilihan khilafat pada pandangan umum [Jemaat beliau]. Selanjutnya mayoritas [Jemaat] menerima Hakim Nuruddin sebagai khalifah waktu itu, sehingga atas hal ini para penentang pun menertawakan kesempurnaan nubuatan itu juga.

Akan tetapi setelah kewafatan Hakim Sahib, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ditetapkan sebagai khalifah. Inilah faktanya bahwa pada zaman beliau (Khalifah II) Ahmadiyah berkembang dengan pesat dan mengherankan.” Ini merupakan tulisan tokoh ghair Jemaat.

Kemudian beliau menulis lagi, “Pada zaman Mirza Sahib sendiri (Yakni Hadhrat Masih Mau’ud as) jumlah orang Ahmadiyah sangatlah sedikit, kemudian pada zaman Khalifah Nuruddin juga tidak ditemukan kemajuan yang signifikan tetapi pada zaman Khalifah yang ada sekarang (Khalifah II ra) Mirzaiyyat (Ahmadiyah) hampir telah sampai ke seluruh bagian-bagian dunia hingga dan terpaksa dikatakan keadaan ini bahwa di sensus mendatang jumlah orang-orang Mirzai akan dua kali lipat lebih banyak bila dibandingkan tahun 1931. Sementara pada periode itu, upaya-upaya pihak penentang yang dilakukan dengan terorganisir untuk mengalahkan Mirzaiyyat tak kunjung jua kelihatan contoh keberhasilannya.

Walhasil dengan adanya seseorang dari keturunannya yang dijanjikan dalam nubuatan tersebut maka Jemaat dapat berdiri dengan teguhnya dan Jemaat memperoleh kemajuan yang mengherankan melalui kiprahnya. Dengan itu semua telah jelaslah secara terang benderang bahwa nubuatan ini telah sempurna.” Ini pendapat mereka.[15]

Kemudian Jurnalis non-Muslim India dari kalangan Sikh bernama Arjund Singh, Editor Ranggin Amritsar, telah mengakuinya: “Pada tahun 1901 Mirza Sahib menyatakan nubuatan ini ketika khalifah yang sekarang, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Sahib masih kanak-kanak.” Ia [jurnalis itu] menuliskan kutipan syair Hadhrat Masih Mau’ud a.s.:

Bisyarat di keh ik betha tera jo hoga eik din mahbub mera

Karungga dur is mah se andhera dekhaungga keh alam ko phera

bisyarat kiya he ik dil ki ghadzari fasubhaanalladzi akhdzal a’aadii

“Kabar gembira diberikan kepadaku [dari Allah Ta’ala]: ‘Seorang putra akan dianugerahkan kepada engkau yang suatu hari akan menjadi orang yang menjadi kecintaan-Ku.

Aku akan menerangi kegelapan dengan perantaraan rembulan purnama nan terang benderang ini dan akan aku perlihatkan tajalliyat-Ku kepada alam ini.

Kabar gembira ini diberikan kepadaku laksana santapan lezat mengenyangkan bagiku. Maha Sucilah Dia yang menghinakan musuh-musuhku.”

Setelah menuliskan kutipan syair ini, ia menulis, “Tidak ragu lagi bahwa ada yang mengherankan pada nubuatan tersebut. Hal itu karena pada tahun 1901 Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad bukanlah seorang tokoh atau cendekiawan (belum dikenal) dan kemampuan politis diplomatisnya pun tidak ada. Pada waktu itu dikatakan olehnya bahwa Allah ta’ala memberinya kabar gembira bahwa putranya akan memiliki sifat istimewa begini dan begitu yang tentunya sebagai dalil besar atas kekuatan ruhaniahnya.

Ada yang mengatakan bahwa karena Mirza Shahib selama itu telah mendirikan asas pondasi bagi Jemaat [organisasinya], maka bukanlah hal yang aneh kalau ia mengatakan salah satu putranya akan menggantikannya setelah kewafatannya. Namun ini adalah pemikiran yang bathil (salah) karena perlu dijelaskan bahwa Mirza Sahib tidak mensyaratkan bahwa ia [khalifahnya] harus dari kalangan kerabat atau anak dari Mirza Sahib.

Faktanya demikian, Khalifah Awwal adalah seorang yang tidak ada hubungan kekerabatan apapun dengan Mirza Sahib. Kemudian, adalah hal yang sangat mungkin bahwa setelah kewafatan Maulwi Hakim Nuruddin Shahib Khalifah Awwal, ada sahabat lainnya yang menjadi khalifah [bukan Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad].”

Kemudian beliau menulis lagi “Padahal pada kesempatan itu juga Maulwi Muhammad Ali Sahib, Amir Jemaat Lahore mengharapkan menjadi khalifah tetapi kebanyakan [Ahmadi] memilih beserta Mirza Basyiruddin Sahib dan oleh karena itulah beliau yang ditetapkan menjadi khalifah.”

Beliau menulis lagi: “Kini yang menjadi pertanyaan adalah jika dalam diri Mirza Sahib tak ada kekuatan ruhaniah sebegitu rupa maka bagaimana mungkin ia mengetahui bahwa ‘salah satu putraku akan menjadi begini dan begini’. Pada waktu Mirza Sahib menerbitkan pengumumannya, beliau memiliki tiga putra. Beliau juga mendoakan bagi ketiganya tetapi yang berkaitan dengan nubuatan hanya satu orang saja. Kita juga menyaksikan, faktanya dia yang satu itu [Hudhur II r.a.] telah membuktikan [kualitasnya] sehingga ia menciptakan perubahan di dunia ini.”[16]

Berkenaan dengan putra yang dijanjikan, janji Allah Ta’ala adalah ‘woh ulul azmi hoga’ (dia akan berkepribadian kuat) dan ‘who ‘uluum-e-zhahiri-o-bathini pur kiya jaega’ (dia akan disempurnakan dengan ilmu-ilmu lahiriah dan batiniah). Mengenai hal ini seorang jurnalis terkenal di Hindustan bernama Khawaja Hassan Nizam Dehlwi (1878-1955), beliau menulis gambaran tentang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dengan tulisannya sebagai berikut: “Beliau menyandang banyak penyakit, namun itu tidak menghalanginya dalam berkarya walaupun mempunyai banyak penyakit. Beliau dalam keadaan mendapatkan badai penentangan tetap tenang tekun dalam berkarya yang membuktikan kepribadian laki-laki Mughal [Moghul] beliau.

Faktanya, orang-orang Moghul itu mengerti dengan mendalam pokok-pokok bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka memahami ilmu politik kenegaraan juga dan juga memiliki kedalaman dan kekuatan dalam memahami dan memikirkan agama, yakni mereka adalah orang-orang yang mahir dalam hal ‘qalami jang’ (perang pena, argumentasi lewat tulisan) dan ‘dimaaghi jang’ (perang otak, perang pemikiran, ghazwul fikri, war of ideas].” [17]  Kemudian berkaitan dengan putra yang Dijanjikan ada satu kabar yang sangat penting menulis bahwa, “Dia (Sang Putra) akan banyak membebaskan orang-orang yang terbelenggu.” Nubuatan ini pun telah sempurna dengan cemerlang, dia telah mencengangkan disertai perasaan ngeri bagi orang-orang berakal dan gerakan pembebasan Kashmir telah menjadi saksinya. Karena keberhasilan gerakannya dalam memimpin Komite perkawinan India Kasymir.

Komite yang terkenal ini didirikan pada tanggal 25 Juli 1931 oleh Hudhur dan tokoh-tokoh besar Muslim India-Pakistan seperti Sir Zulfikar Ali Khan, Allamah Sir Doktor Muhammad Iqbal, Khawaja Hasan Nizami Dehlwi, Sayyid Habib, editor majalah Riyasat dan lain-lain yang ikut mengadakan musyawarah di kota Simla. Kepemimpinan Komite itu dipercayakan kepada Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani dan sebagai dampak keberhasilah kepemimpinan beliau [di komite tersebut], kaum Muslim Kashmir yang dalam jangka waktu lama menjalani kehidupan dalam perbudakan (penjajahan atau pemerasan dari raja-raja Hindu) dan segala hak-hak mendasar kemanusiaannya juga telah hilang, dalam waktu singkat mereka menghirup udara kemerdekaan.

Hak-hak politik dan hak-hak sosial mereka pun diakui. Untuk pertama kalinya, mereka berdiri dalam Majlis Nasional setempat, perwakilan mereka dapat menyampaikan pandangan-pandangannya dengan bebas. Atas hal itu, Muslim Press [media massa Islam waktu itu] mengakui jasa-jasa agung Hadhrat Mushlih Mau’ud sebagai orang yang telah menunaikan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana tertulis sebagai berikut: “Pada waktu itu kondisi Kashmir dalam keadaan genting dan saat itu meskipun orang-orang dari berbagai firqah saling bertentangan namun mereka menerima Mirza Sahib (Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad) sebagai ketua [Komite Kashmir]. Beliau dipilih oleh mereka demi keberhasilan yang lebih baik dari bidang tugas mereka. Jika saat itu Mirza Sahib tidak dipilih hanya karena perbedaan akidah maka Tahrik (gerakan tersebut) tidak akan berfungsi dan umat Muslim yang harus dikasihi [keadaannya sedang memprihatinkan] akan merugi.” [18]

Abdul Majid Salik Sahib telah menulis tentang peringatan gerakan kemerdekaan Kashmir, “Syaikh Muhammad Abdullah (dijuluki Singa Kashmir) dan sebagian anggota pergerakan lainnya memiliki kontak yang terang-terangan dengan Mirza Mahmud Ahmad Sahib dan para penyokongnya. Penyebab adanya hubungan itu adalah Mirza Sahib telah banyak menyokong gerakan ini dalam bentuk bantuan berbagai macam sarana dari berbagai segi sehingga anggota gerakan Kashmir ini sangat bersyukur atas jasa-jasa beliau.”[19]

Allamah Niyaz Fatah Puri Sahib ketika mempelajari Tafsir Kabir yang mashur milik Hadhrat Mushlih Mau’ud ra maka beliau dengan penuh hormat menulis surat kepada beliau r.a.: “Tafsir Kabir jilid ketiga sudah di hadapan saya sejak beberapa hari ini dan saya melihat terdapat wacana yang luar biasa. Di dalamnya tidak ditemukan keraguan bahwa Anda telah menciptakan nuansa baru dalam memahami Al-Quran dan ini merupakan tafsir pertama dari segi jenis tafsir yang menggabungkan sisi aql (rasionalitas) dan naql (dalil, riwayat).

Ketinggian ilmu Anda, keluasan wawasan Anda, pola pikir dan firasat Anda yang luar biasa, keelokan susunan dalil Anda secara rinci, satu persatu menampakkan nuansa baru dan saya menyesal kenapa baru waktu ini saya mengetahuinya? Semoga terjadi demikian bahwa saya bisa menelaah seluruh jilidnya. Setelah mengetahui pemikiran Anda mengenai Hadhrat Luth a.s. dalam Surah Hud yang kemarin saya telaah segera saja saya berdecak kagum dan saya mau tak mau harus menulis surat ini bahwa tafsir Anda mengenai ہٰۤؤُلَآءِ بَنَاتِیۡ ‘haa-ulaa-i banaati’ – “inilah putri-putriku” sangat berbeda dengan hasil bahasan seluruh ahli tafsir dan kemungkinan menurut saya belum ada yang menafsirkan demikian seperti anda. Semoga Allah Ta’ala memperpanjang umur anda.” Hal ini ditulis pada tahun 1963[20]

Maulana Abdul Majid Dariya Abadi, yang juga adalah seorang Mufassir Al-Quran dan pemimpin redaksi Shidq-e-Jadid. Ketika Hudhur II ra wafat menulis, “Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kebaikan kepada beliau atas upaya-upaya beliau dalam hal penyebarluasan Al-Quran dan ilmu-ilmu Al-Quran yang mendunia dan tabligh Islam ke seluruh penjuru dunia, itu senantiasa beliau lakukan dengan penuh semangat dan dengan sifat Ulul ‘Azmi sepanjang hidup beliau yang panjang itu. Beliau menempati satu martabat yang tinggi lagi mulia dilihat dari segi kualitas keilmuan dalam penjelasan, penafsiran dan penerjemahan beliau mengenai hakekat-hakekat dan ma’rifat-ma’rifat Al-Quran.”[21] Saya menguraikan berkenaan dengan nubuatan itu, dengan demikian terpenuhinya nubuatan dan kesempurnaan nubuatan telah tergenapi dalam diri Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifatul Masih Tsani telah tersampaikan.

Jasa-jasa keilmuan beliau ialah sedemikian rupa memberikan wawasan baru hal mana dunia pun mengakuinya, yang beberapa contoh [pengakuan]nya telah saya sampaikan. Setiap kali beliau mengangkat pena atau berdiri untuk berpidato membahas mengenai kemasyarakatan, iqtishaadi (ekonomi), siyasi (politik), diini (keagamaan) dan ruhani (keruhanian) dan lain-lain, atau beliau memberikan nasehat dan saran untuk musyawarah kaum Muslimin atau memberikan arahannya bagi penduduk dunia, tidak ada satu pun kecuali terkesan atau terpengaruh atas kedalaman dan keluasan aliran ‘air’ keilmuan, firasat, kecerdasan dan keruhanian beliau. Beliau adalah Mushlih Mau’ud (juru perbaikan yang dijanjikan), Allah Ta’ala-lah yang mengirim beliau untuk meng-ishlah (memperbaiki) dunia. Termasuk hal yang beliau perbaiki ialah perihal keruhanian, akhlak dan perbaikan lainnya.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa selama 52 tahun era Khilafat beliau, selain khotbah-khotbah Jumat, beliaupun menulis banyak buku yang tak terhitung jumlahnya. Pidato-pidato yang beliau sampaikan bila ditulis dan dijadikan buku maka akan menjadi khazanah intelektual maupun spiritual yang sangat agung. Hal tersebut telah dan masih diupayakan. Fazl-e-Umar Foundation (Yayasan Fadhli Umar) dibentuk sepeninggal beliau r.a. oleh Hadhrat Khalifatul Masih Tsalis. Beliau memerintahkan agar mengingatkan kembali bahwa Yayasan ini ada bertugas antara lain untuk menerbitkan buku-buku dari berbagai macam karya beliau yang sangat besar tersebut. Dan mereka terus bekerja hingga hari ini. Sampai hari ini selain khotbah-khotbah beliau ra, mereka kemas dalam berbagai jilid yang dikenal dengan nama Anwarul ‘Ulum dan setiap jilid dari buku-buku ini terdiri dari 600 sampai 700 halaman. Dengan ini saya nasehatkan juga kepada Pengurus Yayasan Fadhli Umar agar Saudara-saudara menggalang kekuatan bekerja lebih cepat dalam tugas Saudara-saudara sekalian. Sesegera mungkin untuk menyelesaikan tugas penghimpunan dan penerbitan karya-karya beliau ra dalam bahasa Urdu, selanjutnya harus diikuti juga penerjemahan [karya-karya tersebut] ke dalam berbagai bahasa.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah bersabda di suatu tempat, bahwa Allah Ta’ala telah memudahkan pekerjaan kita dengan adanya beberapa bahasa populer diantara seluruh bahasa di dunia. Ada sejumlah bahasa yang tak terhitung banyaknya, akan tetapi beberapa bahasa yang populer mungkin demikian mendominasi di dunia. Maksud beliau ra ialah bahasa-bahasa selain Urdu dan Arab, ada bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Prancis dimana banyak penduduk di berbagai tempat di dunia memakai dan memahaminya. Oleh karena itu, bila [karya tulis beliau r.a.] itu selesai diterjemahkan dalam bahasa-bahasa itu, tentu pesan-pesan kita sudah dapat menjangkau 90% populasi dunia.

Penerjemahan beberapa karya tulis [buku] Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah terselesaikan, tetapi masih banyak buku yang belum terselesaikan sampai sekarang ini [karena begitu banyaknya khazanah-khazanah ilmu dunia dan ruhani beliau ra], sangat perlu menyampaikannya kepada dunia untuk melepaskan dahaga keilmuan dan keruhaniannya. Sampai sekarang toh departemen lain yang telah dan sedang melakukan penerjemahannya, sementara Yayasan Fazli Umar belum melakukannya. Namun inilah tugas utama Fazli Umar. Jika sebelumnya belum melakukannya maka sekarang ini perhatikanlah ke arah itu.

Hal itu dikarenakan departemen Jemaat lainnya sedang sibuk memfokuskan pada penerjemahan bermacam-macam buku karya Hadhrat Masih Mau’ud as dan terus melakukannya. Bersamaan dengan itu mereka juga — bila memungkinkan — menerjemahkan buku-buku dan juga literatur Jemaat karya Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a.

Pendeknya, Yayasan Fadhli Umar berkewajiban untuk menangani dengan leluasa bidang tugasnya sendiri. Dikarenakan tidak menerjemahkan buku-buku karya Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a., maka sebagian orang pun “mencurinya”, mereka telah menjiplak beberapa karya tulis beliau ra, menukilkannya dalam kitab mereka dan diatasnamakan dengan nama mereka.

Sebagai contohnya, ada laporan dari seorang Murabbi Sahib [Muballigh] di bagian Arabic Desk, bahwa Minhaajuth Thaalibin, salah satu karya Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. yang merupakan buku berpandangan mendalam mengenai akhlak dan tarbiyat, seseorang tokoh telah memanfaatkannya dengan menerbitkannya dalam bahasa Arab atas nama penelitiannya sendiri dan juga disediakan terjemahan dalam bahasa Urdunya.

Padahal mengenai hal itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menyatakan bahwa “Saya merenungi dalam-dalam masalah itu dan atas karunia Allah Ta’ala datanglah pemahaman baru berkaitan dengan masalah yang sedang saya pikirkan, dimana pemahaman ini menjawab semua masalah akhlak.”[22]

Memperhatikan karya-karya beliau dan keagungan dan kecemerlangan nubuatan Ilahi mengenai kedatangan Mushlih Mau’ud ini yang kita saksikan bersama, dan seperti telah saya katakan bahwa nubuatan ini asalnya adalah nubuatan Hadhrat Rasulullah saw., yang dengan adanya itu semua nampaklah ketinggian dan kemuliaan martabat Aqa-o-Mutha’ (Junjungan yang ditaati) kita Hadhrat Muhammad Mushthafa saw.

Akan tetapi, kita harus ingat juga bahwa kesempurnaan nubuatan ini bukan hanya berkaitan dengan kelahiran sosok seseorang dan karya-karya yang dilakukannya. Hakikat nubuatan ini akan terpancar cemerlang apabila diantara kita ada banyak orang yang memajukan pekerjaan [misi] tersebut, yang untuk itulah tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as, dan selanjutnya Allah Ta’ala telah menganugerahkan Mushlih Mau’ud untuk beliau as guna menyokong dan menolong beliau a.s., dimana beliau dengan segala kemampuan dan sarana yang ada padanya melakukan tabligh Islam dan ishlah di dunia.

Hari ini menjadi tugas kita semu bahwa kita hendaknya berusaha sekuat tenaga menjadi Mushlih (reformer) bagi daerah kita masing-masing. Dengan ilmu kita, lisan kita dan amal kita masing-masing untuk menyebarkan pesan-pesan keindahan Islam ke segala penjuru. Menaruh perhatian kepada ishlah-i-nafs (perbaikan dalam diri sendiri), kemudian anak keturunan, lalu masyarakat atau lingkungan sosial Saudara-saudara.

Berusahalah sepenuhnya untuk mendirikan penyebarluasan pesan dan perbaikan ini yang Allah Ta’ala telah jadikan Hadhrat Rasulullah saw. sebagai sumber pokoknya. Jika kita melewati waktu kehidupan kita dengan pemikiran demikian bersamaan dengan itu juga kita melakukan perbaikan dalam diri kita sendiri, maka berarti kita telah memenuhi hak Peringatan Hari Mushlih Mau’ud ini, jika tidak, tentulah hanya omong kosong belaka. Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk hal itu.

[1] Misykat Al-Mashabiih, kitab Ar Riqaq, bab Nuzul Isa, pasal III, hadits no 5508 Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, edisi 2003; Al-Wafau bi Ahwalil Mushthafa karya Ibni Jauzi, penerjemah Muhammad Asyraf Sialwi, halaman 843, Penerbit Fariid Bookstall Lahore. Ibnul-Jauzi dari Abdullah bin Amer radhiallahu ‘anhu dalam Kitab al-Wafa’ dan Misykatu Syarif, Jilid III/5253)

[2]Shahih Muslim, kitabul Iman, bab Nuzuli Isa bni Maryam bi syari’ati Nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ».

أَخْبَرَنِي نَافِعٌ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَأَمَّكُمْ».

عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ». فَقُلْتُ لاِبْنِ أَبِي ذِئْبٍ إِنَّ الأَوْزَاعِيَّ حَدَّثَنَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: «وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ».

Al-Bukhari kitab Ahadits al-anbiyaa bab nuzul ‘iisa bna Maryama ‘alaihas salaam,

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا». ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا}.

عَنْ نَافِعٍ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ».

Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38845).

[3]Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, jilid III, Hal. 479, Musnad Abu Hurairah, hadits no. 9312, ‘Aalimul Kutub, Beirut 1998

‘…Yuusyiku man ‘aasya minkum ay yalqoo ‘Iisa-bna Maryama Imaamam Mahdiyyan wa Hakaman ‘Adlan yaksirush shaliiba wa yaqtulul khinziiro..

Dalam Kitab hadits itu juga ada hadits yang semakna, sebagai berikut:

عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا يَكْسِرُ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ‏.

[4]Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, jilid. I, hal. 557, 558 hasyiah dar hasiyah no. 3

[5] Shahih Bukhari, Kitab tafsir, tafsir Surah Jum’ah, bab. Lafadz wa aakhariina minhum terdapat juga dalam Shahih Muslim, Kitab Fadhailish Shahabah. Nubuatan atau kabar gaib dari Nabi Muhammd s.a.w. mengenai seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki yang membawa kembali iman yang telah terbang ke bintang Tsurayya tergenapi dalam diri Hadhrat Masih Mau’ud a.s. (Imam Mahdi) dan para Khalifah beliau, termasuk Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. Beliau-beliau dengan keteladanan, keilmuan dan kerohaniannya telah dan tengah memasukkan kembali iman kedalam diri manusia di zaman ketika manusia kehilangan kepercayaan akan Allah, Al-Quran, Nabi Muhammad s.a.w., dan keimanan pokok lainnya.

عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْجُمُعَةِ: {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ} قَالَ قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلاَثًا، وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ، وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ ثُمَّ قَالَ: «لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ- أَوْ رَجُلٌ- مِنْ هَؤُلاَءِ».
عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلاَءِ».

[6] Izalah Auham, Ruhani Khazain, jilid. 3, halaman. 156, hasyiah

[7] ** Pada kesempatan setelah Khotbah Jumat Hudhur atba menyatakan bahwa atas petunjuk beliau maka dikutipkan di sini. Beliau bersabda: “Hal itu tidak penuh sampai 40 hari. Padahal, inilah rujukan yang biasa diberikan berdasarkan Tarikh (sejarah) Ahmadiyah.”**

[8] Majmuu’ah Isytihaaraat (Kumpulan Selebaran Pengumuman) jilid awwal halaman 95-96, isytihaar (pengumuman) number 33 ‘isythaar 20 Februari 1886’, Cetakan Rabwah.

[9] Isytihar 20 Pebruari 1886, Majmu’ah Isytiharat jilid I, hal. 102, 103 Mathbu’ah London

[10] Al-Mau’ud, Anwarul ‘Ulum, jilid 17, halaman 562 – 565, Mathbu’ah Rabwah

[11] Tarikh Ahmadiyah, jilid 1, halaman 280, Mathbu’ah Rabwah

[12] Isytihar Wajibul isyhar 22 Maret 1886, Majmu’ah Isytiharat, jilid 1, halaman 99 sampai 100, Mathbu’ah Rabwah. Halaman 114- 115, Mathbu’ah London

[13] Al-Hakam Jubilee no. 28 Desember 1939, jilid 42, Kesimpulan dari halaman 31 – 40, halaman 80, Kalam nomor 3

[14] Dakwah Mushlih Mau’ud, Anwarul ‘Ulum jilid 17, halaman 161, Mathbu’ah Rabwah

[15] Idzharul Haq, halaman 16-17 Mathbu’ah Nadzir Printing Press Amritsar, Bahitmam Sayyid Muslim Hasan Sahib Zidi, bihaulihi Tarikh Ahmadiyah, jilid I, halaman 286-287, Mathbu’ah Rabwah

[16] Risalah”Khalifah Qadian” Thaba’ awwal, halaman 7-8 … “Ranggin” Amritsar, Tarikh Ahmadiyah jilid Awwal, halaman 287-288, Mathbu’ah Rabwah

[17] Akhbar “Adil” Dehli, 24 April 1933, Tarikh Ahmadiyah Jilid awwal, halaman 288, Mathbu’ah Rabwah

[18] Sirgazzete, halaman 293 Abdul Majid Salk, Akhbar “Syasat” 18 Mei 1933 bihaulihi Tarikh Ahmadiyah, jilid awwal, halaman 289, Mathbu’ah Rabwah

[19]Dzikir Iqbal, halaman 188, bihaulihi Tarikh Ahmadiyah, jilid awwal, halaman 289, Mathbu’ah Rabwah

[20]Al Fazl 17, nomor 1963, halaman 3 bihaulihi Mahnamah/Bulanan “Khalid” Sayyidina Mushlih Mau’ud nomor Juni-Juli 2008, halaman 324-325. Surah Hud ayat 79. Makna dari tafsir dimaksud bisa dibaca dalam terjemahan dan tafsir terbitan Jemaat Indonesia. Juga bisa dibandingkan dengan tafsir lain umumnya.

[21] Bulanan Khalid Sayyidina Mushlih Mau’ud nomor Juli 2008, halaman 325)

[22] Minhajuth Thalibin, Anwarul Ulum jilid 9, halaman 179, Mathbu’ah Rabwah