Perdamaian Dunia di Ujung Tanduk

Hazrat Mirza Masroor Ahmad
Simposium Perdamaian ke-10, Masjid Baitul Futuh, London, 23 Maret 2013

perdamaian dunia, simposium 2013

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Anda sekalian, para tamu yang terhormat, karena telah menerima undangan kami untuk menghadiri Simposium Perdamaian hari ini.

Kami sangat menyambut Anda semua, baik yang baru pertama kali menghadiri ataupun anda sekalian yang sudah lama bersahabat dengan kami. Kami sangat bersyukur karena Anda telah menyemarakkan acara ini dengan kehadiran anda sekalian. Mayoritas kalian adalah non-Muslim dan saya sangat menghargai langkah kedatangan kalian, meskipun kalian menyadari bahwa Jamaah Ahmadiyah merupakan aliran dalam Islam. Secara umum, menghadiri, suatu kegiatan kelompok lain yang berbeda agama bukanlah hal yang luar biasa ataupun tidaklah begitu penting. Kita sering menyaksikan orang-orang yang meski berbeda keyakinan dapat mengembangkan persahabatan yang erat satu sama lain, karena hati mereka terbuka dan pandangan yang luas. Tetapi meski demikian, ada sejumlah alasan mengapa kehadiran kalian sangat berarti dan patut dipuji. Pertama, kalian menerima undangan dari kelompok Muslim, itu merupakan hal yang berarti. Kedua, kedatangan kalian dengan suka hati pada acara yang diselenggarakan di lingkungan masjid juga patut dicatat. Dan ketiga, tindakan-tindakan tertentu oleh mereka yang disebut Muslim telah menyebabkan ketakutan atau keraguan di hati orang-orang non-Muslim.

Baca Juga: Masjid Sebagai Mercusuar Perdamaian

Melihat semua hal ini, kami sangat menghargai bahwa kalian telah mengambil langkah yang baik dan tenggang hati ini. Para sahabat lama non-Ahmadi sangatlah mengetahui bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah mempraktikkan dengan tepat apa yang di dakwahkan, dan apapun yang kami katakan dan terapkan didasarkan pada ajaran Islam yang sejati – yaitu love for all hatred for none. Namum, seperti yang saya katakan, kami juga memiliki sahabat-sahabat baru yang hadir pada hari ini dan sangat mungkin mereka menyimpan keraguan atau kecurigaan tentang kami atau tentang Islam, jadi saya ingin meyakinkan mereka dari awal. Hal yang sebenarnya adalah mereka hampir tidak akan menemukan siapapun atau kelompok manapun yang lebih lantang menentang kekejaman, ektremisme dan ketidakadilan sebagaimana yang dilakukan oleh Muslim Ahmadi. Menetapkan standar tinggi dalam hal cinta, kasih sayang dan persaudaraan adalah tujuan kami.

Dari pengantar ini, sekarang saya akan beralih ke tema utama acara malam ini. Setiap tahun, Jamaah Muslim Ahmadiyah mengadakan kegiatan ini sebagai sarana untuk menyampaikan dan menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa kami menginginkan dan memperjuangkan dunia yang penuh dengan kedamaian. Untuk mencapai tujuan yang luar biasa ini, kami juga membutuhkan bantuan dan dukungan kalian. Jadi hari ini, kita bergabung bersama untuk mengingatkan diri kita sendiri tentang pentingnya tujuan ini. Memperjuangkan perdamaian merupakan sebuah keinginan yang mulia, suatu hal yang sangat dibutuhkan dunia.

Jika kita melihat situasi dunia saat ini, kita menyadari bahwa, lebih dari sebelumnya, kebutuhan paling mendesak dunia saat ini adalah mencari dan mengupayakan perdamaian dan keharmonisan di dunia. Selama empat atau lima tahun terakhir, berbagai malapetaka dan kerusuhan yang telah dan sedang terjadi, telah mengarah langsung pada meningkatnya kekhawatiran dan kekacauan. Tidak diragukan bahwa hari demi hari terlewati, kedamaian semakin terancam. Kita tidak dapat menghubungkan hilangnya perdamaian dunia hanya pada satu atau dua faktor. Faktanya terdapat beberapa faktor yang semuanya berkontribusi terhadap kekacauan yang terus meningkat. Saya akan menyebutkan beberapa saja.

Krisis ekonomi dunia telah berkontribusi begitu besar terhadap gejolak global dan meningkatnya ketegangan di masyarakat. Penyebab utama lainnya dari perpecahan adalah perebutan kekuasaan internal di suatu negara. Kemudian di banyak negara, hak-hak masyarakat dirampas secara tidak adil. Faktor lain adalah beberapa pihak berupaya menunjukkan kekuatan dan kekuasaan mereka dengan memperlakukan orang lain begitu sangat kejam. Lebih jauh lagi, akar penyebab dari perpecahan adalah kurangnya keadilan di dunia. Hal ini mengarah langsung kepada kurangnya kepercayaan antar satu sama lain. Penyebab lain dari kerusuhan adalah orang-orang atau pemerintahan merasa iri dan serakah terhadap kekayaan serta sumber daya pihak lain. Bahkan mereka tidak hanya iri tetapi berusaha merebut apa yang bukan hak mereka.

Seperti yang telah saya sampaikan, ada daftar panjang berupa alasan-alasan mengapa dunia telah disergap oleh kebencian dan kekacauan dan saya hanya menyebutkan beberapa saja. Segala permasalahan ini sangat memprihatinkan dan kita harus memikirkan bagaimana menyelesaikannya, sehingga kita dapat berusaha membangun perdamaian global. Permusuhan dan pertentangan meningkat setiap harinya dan terus berputar tanpa kendali. Keadaan dunia berubah menjadi semakin buruk. Kata pepatah masa lalu, dan ini sangat tepat, bahwa sangat sulit mendapat teman yang baik dan sangat mudah untuk mencari musuh.

Jika kita menyaksikan dunia saat ini, kita menemukan bahwa dari skala masyarakat yang paling kecil sampai tingkat nasional dan internasional, hal ini merupakan kondisi yang lazim adanya. Orang-orang tidak hanya mendukung kebencian dan melakukan tindakan kejahatan tetapi mereka juga menghasut orang lain ke arah kekejaman dan penindasan semacam itu. Di satu sisi, jumlah orang-orang yang terlibat dalam konflik semakin meningkat, sementara di sisi lain jumlah orang yang bertindak dengan keadilan, moral yang baik dan berusaha melakukan rekonsiliasi semakin menurun. Dengan latar belakang ini, saya katakan lagi, bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah akan terus berjuang untuk membangun masayarakat yang lebih baik. Jadi acara hari ini juga dilakukan dalam upaya mempromosikan perdamaian yang sejati dan berkesinambungan.

Selama lima atau enam tahun terakhir, saya telah mengingatkan semua orang, sejauh yang dapat saya jangkau, tentang kondisi dunia yang memburuk. Saya berulang kali mengatakan bahwa iklim finansial dan politik yang memburuk mengarahkan dunia pada kehancuran yang sangat mengerikan. Sangat mungkin sekali, jalan yang ditempuh dunia ini akan berujung pada perang yang menakutkan. Lebih dari enam puluh lima tahun perang dunia terakhir telah berlalu, dan saya khawatir orang-orang telah lupa akan tingkat kehancuran dan kerusakan tiada tara yang ditimbulkannya. Dalam perang dunia tersebut, lebih dari 70 juta orang terbunuh – mayoritasnya adalah orang-orang tak bersalah, yang terseret ke dalam perang yang tidak mereka inginkan.

Hanya beberapa bulan setelah simposium perdamaian tahun lalu, saya berkunjung ke Amerika Serikat dan diundang untuk berbicara di hadapan para anggota Kongres di Capitol Hill (Baca: Jalan Menuju Perdamaian – Keadilan Antar Bangsa). Selain para politisi, para para pemikir dan akademisi penting juga hadir. Dalam pidato itu saya katakan bahwa sebagai negara adikuasa terbesar di dunia, Amerika Serikat harus sadar akan tanggung jawab mereka terhadap dunia yang lebih luas. Saya katakan bahwa jika mereka gagal memenuhi kewajiban mereka dan gagal memenuhi standar keadilan yang sepatutnya, maka mereka akan menuntun dunia ini menuju kehancuran yang mengerikan. Saya katakan bahwa generasi yang akan datang akan menyalahkan kita, khususnya negara-negara adikuasa saat ini. Anak cucu kita tidak akan mengampuni kita karena mereka akan mengetahui bahwa kita sebenarnya dapat menangkal hal yang mengerikan yang kita tinggalkan untuk mereka. Demikian pula, pada Desember lalu, di Parlemen Eropa di Brussels, sahabat baik kami, yang baru saja berbicara, Dr Charles Tannock MEP, menyelenggarakan sebuah acara sehingga saya dapat berbicara dengan para anggota Parlemen Eropa. Acara itu juga dihadiri anggota-anggota dewan dari berbagai parlemen nasional dan para pejabat tinggi dan orang-orang berpengaruh lainnya. Saya berkesempatan untuk mengingatkan negara-negara Eropa tentang tanggung jawab mereka sebagai negara anggota Uni Eropa.

Saya telah menyampaikan pesan yang sama, menyerukan perdamaian dan keadilan. Dalam banyak kesempatan di berbagai belahan dunia, saya melakukan hal yang sama. Saya tidak mengetahui seberapa besar dampak dari pandangan saya terhadap mereka yang mendengarkan dan saya tidak mengetahui sejauh mana mereka bekerja untuk mengembangkan perdamaian sesuai ruang lingkup mereka sendiri. Namun demikian, insyallah, saya akan terus melakukan tugas dan tanggung jawab saya untuk mendorong perdamaian, toleransi, keadilan dan kasih sayang ke seluruh dunia. Saya akan terus memberi tahu semua orang bahwa untuk terbebas dari kepedihan dan penderitaan yang kita hadapi saat ini, kita harus menerapkan keadilan dan kesetaraan yang hakiki. Apa yang dimaksud keadilan dan apa yang dibutuhkannya? Sekarang saya akan menjawab pertanyaan ini yang sepenuhnya berdasarkan ajaran Al-Quran.

Islam dan Keadilan Hakiki

Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa semua orang harus menerapkan keadilan sejati dan bersaksi atas nama Allah, bahkan seandainya mereka terpaksa memberikan kesaksian untuk diri mereka sendiri, orang tua atau orang-orang yang mereka cintai (QS 4: 136). Lebih lanjut Al-Quran mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh membiarkan permusuhan atau kebencian terhadap suatu bangsa menjadikan mereka bertindak tidak adil, melainkan mereka harus selalu bertindak dengan adil dan setara, karena itulah standar yang dituntut oleh Allah taala yang Maha Penyayang. (QS 5: 9). Untuk mengembangkan perdamaian, kita perlu pertama-tama menerapkan standar keadilan ini. Namun, jika kita menilik dunia saat ini, kita melihat bahwa standar moral tersebut tidak diterapkan pada tingkat manapun.

Bahkan, dengan penuh penyesalan saya harus mengakui bahwa standar keadilan seperti itu sejak lama telah dilupakan oleh sebagian besar umat Islam yang kepadanya ajaran ini diajarkan. Kami juga tidak menemukan standar keadilan ini diterapkan di suatu masyarakat, atau dalam hal hubungan antar masyarakat umum dan pemerintah mereka. Demikian pula, standar seperti itu tidak terlihat dalam hubungan internasional. Sangat sulit menemukan satu orang saja yang bersedia memberikan kesaksian terhadap dirinya atau orang-orang yang dicintainya, untuk menegakkan persyaratan kebenaran dan keadilan yang hakiki. Begitu juga, hampir tidak mungkin menemukan sebuah negara yang bertindak secara adil terhadap negara lain yang berselisih atau menganggapnya sebagai musuh.

Perlu dicamkan baik-baik, jika kita menginginkan kedamaian sejati dan jika kita ingin menyelamatkan dunia dari kehancuran maka kita harus bertindak dengan penuh keadilan, kejujuran dan berpegang teguh pada kebenaran. Jika kita menginginkan anak-anak kita dan generasi masa depan memandang kita dengan penuh kasih, bukannya memandang dengan kemarahan bahwa kita telah membiarkan mereka cacat dan terluka, maka kita harus bertindak sesuai dengan standar keadilan yang telah saya bicarakan. Jika kita gagal melakukannya maka tidak akan ada tempat tersisa untuk bersembunyi dan tidak ada jalan keluar dari kehancuran.

Saya sengaja menggunakan kata ‘cacat’ dalam hal warisan yang kita tinggalkan untuk generasi masa depan. Karena jika perang dunia terjadi, sangat mungkin senjata nuklir akan digunakan. Dampak peperangan nuklir tersebut ada di luar imajinasi kita dan akan berkelanjutan sampai kepada beberapa generasi selanjutnya. Oleh karena itu, standar keadilan yang saya jelaskan perlu diterapkan di seluruh pemerintahan, tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh non-Muslim dan semua bangsa. Tidak seorang pun akan terhindar dari dampak perang nuklir yang sangat menghancurkan, karena kehancurannya itu akan mustahil untuk dibendung. Orang-orang dari Timur maupun Barat akan terdampak.

Meskipun benar bahwa indikasi saat ini menunjukkan bahwa perang dunia kemungkinan akan berkobar dari Asia, tetapi kenyataannya Barat tidak akan luput darinya. Untuk mengilustrasikan hal ini, kita harus melihat konflik yang meningkat antara Korea Utara dan Korea Selatan. Hubungan mereka begitu cepat memburuk, tetapi meskipun itu terletak ribuan mil jauhnya, Amerika Serikat telah terlibat secara langsung. Korea Utara tidak hanya mengancam Korea Selatan, tetapi juga Amerika. Korea Utara dikenal memiliki senjata nuklir dan tidak segan untuk menggunakannya. Tampaknya Korea Utara tidak terlalu peduli atau memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan siap bereaksi. Inilah sebabnya mengapa minggu lalu, Amerika Serikat mengumumkan untuk memperkuat sistem pertahanan rudal di Pantai Barat. Semua kelompok besar, termasuk Rusia dan Cina, baru-baru ini mengutuk Korea Utara, meskipun pandangan jangka panjang kedua negara ini tidak sepenuhnya jelas.

Contoh konflik lain yang dapat kita lihat adalah hubungan antara Cina dan Jepang. Selama beberapa bulan terakhir, perselisihan telah meningkat tentang siapa yang memiliki serangkaian pulau di Laut Cina Timur. Sekali lagi kita tidak dapat mengatakan bahwa perselisihan ini akan terbatas hanya pada kedua negara itu, melainkan sangat mungkin Amerika akan terlibat dalam konflik ini juga. Sementara Amerika Serikat secara terbuka meminta kedua negara untuk menunjukkan kesabaran dan menahan diri, tetapi sejatinya simpati akan tertuju pada Jepang. Aliansi Amerika-Jepang adalah sedemikian rupa kuat sehingga jika perang antara Cina dan Jepang berlangsung, Amerika Serikat akan secara aktif berpihak pada Jepang.

Hari ini, strategi utama yang digunakan untuk mencoba dan membahayakan negara musuh adalah dengan menyasar perdagangan dan kepentingan bisnis mereka. Dunia saat ini bukan dunia yang sama seperti lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu. Meskipun dulu, tindakan satu bangsa akan berpengaruh pada negara lain, namun saat ini telah berada pada tingkat yang sangat berbeda, karena dunia telah menjadi sangat erat dan saling bergantung. China muncul sebagai kekuatan ekonomi yang terus berkembang, progresif, dan diprediksi menjadi ekonomi terbesar di dunia dalam beberapa tahun mendatang. Kekuatan ekonomi mereka begitu kuat sehingga para pengamat mengatakan bahwa kekuatan mereka telah menyebabkan keprihatinan besar bagi Amerika Serikat. Memang benar jika dikatakan bahwa Amerika Serikat akan berusaha untuk menghentikan kemajuan ekonomi Cina dan melakukan segala upaya untuk permasalahan ini. Sehingga dengan ini, ada kemungkinan China akan berhati-hati dan menahan diri dalam perselisihan mereka dengan Jepang tetapi tidak ada jaminan untuk ini. Terkadang ketika pihak yang lebih lemah terancam atau terpojok, seringkali terjadi suatu titik ketika mereka tidak dapat melihat jalan keluar selain dengan agresi, sehingga mereka menjadi lebih berbahaya. Barangkali, karena mereka sadari sebelumnya, dan mempertimbangkan sikap dan kebijakan Amerika serta efeknya yang paling memungkinkan pada negara-negara Barat lainnya, Cina mulai menjelajahi pasar baru. Seperti tahun-tahun belakangan ini kita melihat bahwa Cina telah menanamkan investasi besar di Afrika dan negara-negara berkembang, sehingga kepentingan ekonomi mereka di bagian dunia itu tersebar luas dan mengakar kuat. Sebagai catatan tambahan, saya juga harus mengatakan bahwa jika negara-negara Afrika menyadari pentingnya mereka, maka sangat mungkin jika terjadi perang antara negara-negara Barat dan Asia, Afrika dapat menjadi tempat keamanan dan perlindungan.

Singkatnya, bahaya yang dihadapi dunia saat ini sangat mengkhawatirkan. Kita harus selalu ingat bahwa ketegangan yang terjadi memiliki potensi yang secara tiba-tiba dapat meledak atau berkobar. Masalah kecil yang tampaknya tidak penting, jika tidak ditangani dengan hati-hati, akhirnya akan menjadi hal yang sangat membahayakan. Sejarah telah menjadi saksi untuk hal ini dan tentu saja ini telah kita lihat dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua.

Dengan cara yang sama saat ini, kondisi genting di Suriah juga tampaknya menuntun kita ke jalan menuju sesuatu yang jauh lebih luas, bahkan lebih dahsyat. Tampaknya korban peperangan antara pasukan pemerintah dan pemberontak oposisi, dengan cepat mendekati angka kematian 100.000 orang. Sejumlah negara besar berpikir bahwa jika pemberontak oposisi menang dan mampu membentuk pemerintahan maka situasi di Suriah akan stabil. Mereka meyakini bahwa kondisi Suriah dan hubungan antara Pemerintah Suriah dan komunitas internasional akan membaik. Namun, jika kita melihat contoh-contoh terkini di Libya dan Mesir setelah ‘revolusi’ mereka, kita harus menyadari bahwa situasinya tidak akan membaik. Tanda-tanda ini sudah disaksikan awal bulan ini ketika sekelompok orang Filipina yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB disandera oleh kelompok pemberontak Suriah. Lebih lanjut, para pemberontak mengatakan mereka tidak membutuhkan pasukan penjaga perdamaian atau bantuan makanan, tetapi mereka menginginkan persenjataan seperti misil anti-tank dan anti-pesawat. Tindakan dan pernyataan semacam itu tidak membangkitkan keyakinan bahwa perdamaian jangka panjang adalah tujuan mereka.

Lalu apa yang harus dilakukan di Suriah? Jika dunia melihat bahwa kekejaman dan penindasan terus terjadi dan orang-orang Suriah yang putus asa berteriak minta tolong, maka negara-negara tetangga harus bersatu untuk menghentikan kekejaman dan membangun perdamaian. Mereka seharusnya tidak mencari sesuatu untuk kepentingan pribadi tetapi tujuan mereka seharusnya semata untuk menciptakan kedamaian dan kemakmuran masyarakat setempat. Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketika kekejaman telah berhasil dihentikan dan agresor berjanji untuk berdamai, maka pembatasan yang tidak semestinya janganlah diterapkan sebagai sarana untuk menujukkan kekuatan dan kekuasaan. Meskipun prinsip ini secara khusus berlaku ketika satu negara menyerang yang lain, tetapi ini juga dapat diterapkan pada semua situasi untuk membangun perdamaian.

Baru-baru ini, Presiden Israel, Shimon Peres memberikan saran yang baik tentang bagaimana menangani situasi di Suriah. Beliau menyarankan bahwa daripada negara-negara Barat campur tangan untuk menyingkirkan Pemerintah, PBB harus mengirim pasukan pemelihara perdamaian ke Suriah yang hanya terdiri dari tentara Arab – sehingga tidak akan terlihat sebagai invasi Barat atau imperialisme. Dia lebih lanjut mengatakan bahwa karena Liga Arab adalah organisasi lokal yang sudah ada, mereka harus menggunakan pengaruhnya untuk mencoba membangun pemerintahan yang adil dan setara di Suriah. Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa di mana pun seseorang mendengar kata-kata bijak atau nasihat yang baik mereka harus mengambilnya dan jangan melihat siapa yang telah memberikan nasihat. Oleh karena itu, terlepas saran tersebut berasal dari Presiden Israel, negara-negara Muslim harus memperhatikan saran tersebut.

Sayangnya, Suriah bukan hanya masalah tunggal untuk diselesaikan, tetapi hambatan besar dalam menegakkan perdamaian adalah di negara-negara Arab terdapat sedikit sekali keadilan bahkan tidak ada. Ketika mereka tidak memperlakukan warganya sendiri secara adil, bagaimana mereka dapat memberikan keadilan di negara lain? Ini mengarah pada kesimpulan bahwa seluruh dunia dihadapkan oleh perpecahan dan berada di ambang bencana. Tidak akan ada pihak yang terhindar jika situasinya menjadi lebih buruk. Negara-negara Timur yang memiliki dukungan Barat, atau Pemerintah Barat sendiri, harus menanggung akibat dari keadaan dunia yang semakin merusak. Puncaknya adalah akan terjadi perang yang merusak dan mengerikan. Saya katakan sekali lagi bahwa perang seperti itu kemungkinan besar akan menggunakan senjata non-konvensional – yaitu senjata nuklir.

Di antara semua ini hanya ada satu harapan dan satu jaminan perdamaian, yaitu tegaknya keadilan dalam semangat yang sama yang telah diajarkan oleh Nabi Suci, bahwa Anda memperlakukan orang lain apa yang Anda sukai untuk diri sendiri. Jika keadilan semacam itu bisa berkembang, di mana setiap negara dan setiap pemerintah adikuasa memperlakukan orang lain sebagaimana apa yang mereka sukai, maka kita masih dapat menemukan kedamaian. Hal ini mengharuskan semua pihak untuk memberikan kesaksian yang jujur dan adil, bukannya memveto kekuasaan untuk beberapa pihak tertentu, harus ada demokrasi dan keadilan yang hakiki di seluruh pemerintahan. Jika langkah-langkah ini diambil maka kita akan menemukan kedamaian antar negara dan kita akan melihat organisasi-organisasi teroris akan mati dan kehilangan semua dukungan.

Hingga baru-baru ini, kelompok teroris utama yang berbasis di Afghanistan atau Pakistan, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kami melihat mereka juga telah muncul di beberapa negara Afrika dan tempat lain. Namun, jika perdamaian sejati yang berlandaskan keadilan berlaku, tentu saja masyarakat umum akan lantang menolak ekstremisme dan organisasi teroris akan mati. Ini adalah ironi yang tragis bahwa mereka yang disebut kelompok teroris Muslim telah mencemarkan Islam, dengan membenarkan tindakan mereka yang penuh kebencian atas nama agama. Kenyataannya adalah Islam mereka tidak ada hubungannya dengan Islam yang hakiki. Islam sejati adalah agama damai yang telah mencerahkan dunia dengan keindahan dan kemurniannya.

Seperti yang telah sampaikan sebelumnya, terdapat banyak penyebab mengapa dunia berada di ambang bencana, munculnya terorisme adalah salah satu penyebabnya. Ancaman perang dunia adalah ancaman terbesar bagi peradaban masa kini. Ini adalah ancaman nyata dan untuk mencegah akibatnya, kita harus memikirkan dengan cara yang adil dan jujur, sehingga kita dapat menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Krisis Ekonomi Dunia Ancaman Perdamaian

Patut dicatat bahwa salah satu penyebab terbesar dari kurangnya perdamaian sekarang ini adalah kondisi keuangan dunia yang semakin genting selama beberapa tahun terakhir. Dalam wawancara baru-baru ini, Perdana Menteri Luksemburg mengatakan bahwa iklim ekonomi saat ini sama seperti yang dihadapi oleh dunia sebelum Perang Dunia Pertama. Dia menambahkan bahwa keadaan keuangan yang gawat pada waktu itu menjadi penyebab utama perang. Apakah orang lain setuju dengannya atau tidak, dalam pandangan saya, analisisnya benar. Bahkan saya akan melangkah lebih jauh mengatakan bahwa situasi dunia saat ini juga sangat mirip dengan yang berlaku pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia Kedua. Kata-kata peringatan yang diutarakan oleh Perdana Menteri Luksemburg adalah sesuatu yang harus kita pertimbangkan dengan sangat serius dan menjadi perhatian mendesak. Perdana Menteri mengatakan:

“Siapa pun yang percaya bahwa masalah abadi dari peperangan dan perdamaian di Eropa secara permanen telah berhenti, maka ia dapat membuat kesalahan yang sangat besar.”

Jadi, kita tidak boleh duduk di sini dan hanya fokus pada kemungkinan terjadinya perang di Asia, tetapi kita juga harus memperhatikan masalah di ambang pintu rumah kita sendiri. Jika kita melihat krisis keuangan Eropa dan efek jangka panjangnya, kita melihat bahwa hal itu telah menyebabkan meningkatnya kegelisahan pada penduduk Eropa dan kecemasan ini meningkat dengan sangat cepat. Jika tidak ditangani dengan benar, akibat frustrasi dan keputusasaan seperti itu akan menjadi bencana besar. Jadi ini adalah tugas semua negara untuk memenuhi persyaratan keadilan dan saling bersatu. Semua pihak perlu meningkatkan dialog dan membuka jalur komunikasi sehingga mereka dapat berdiskusi dengan damai tentang cara terbaik untuk menyelesaikan permasalahan dunia. Langkah-langkah ini diperlukan agar perdamaian global dapat terwujud. Saya berdoa semoga Allah memberikan kemampuan kepada orang-orang di dunia ini untuk melakukannya.

Sebelum mengakhiri, saya hendak memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan ucapan selamat kepada Dr Boachie-Adjei, pemenang Ahmadiyya Muslim Peace Prize tahun ini. Saya sangat senang mendengar semua pengkhidmatannya untuk kemanusiaan.

Akhir kata, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang meluangkan waktu dan upaya untuk bergabung dengan kami hari ini. Saya berharap dan berdoa semoga Allah Anda semua menikmati dan mendapatkan manfaat dari acara ini. Semoga Allah memberkati Anda sekalian. Sekali lagi terima kasih.


Sumber: Review of Religions
Terjemah: Jusmansyah
Editor: Mln. Muhammad Idris