Argumentasi terdiri dari dua jenis, yaitu kesimpulan dan kenyataan.  Argumentasi kesimpulan memungkinkan kita untuk mengenali sesuatu menurut apa yang diindikasikan seperti jika kita melihat kepulan asap maka kita akan menyimpulkan pasti ada api. Dalam argumentasi kenyataan, kita bergerak dari kesimpulan ke arah kausanya atau penyebabnya. Sebagai contoh, jika kita melihat seseorang diserang demam tinggi, kita meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.

Kita mulai dengan argumentasi kesimpulan tentang perlunya ada wahyu. Kiranya tidak ada yang meragukan bahwa sistem fisikal dan spiritual manusia diatur oleh hukum alam yang sama. Dalam sistem fisikal kita melihat bahwa hasrat apa pun yang ditanamkan oleh Tuhan dalam diri manusia, Dia juga telah memberikan sarana untuk pemuasannya. Tubuh manusia merasakan lapar dan kebutuhan akan pangan, untuk itu Tuhan telah memberikan berbagai macam makanan untuk memenuhinya. Begitu pula manusia membutuhkan air guna menghilangkan rasa hausnya dan Tuhan menyediakan sumur, mata air dan sungai untuk itu. Manusia memerlukan sinar surya dan sinar dari sumber-sumber lainnya untuk membantu penglihatannya dan untuk itu Tuhan telah menyediakan sinar dari langit dalam bentuk matahari dan memberikan sinar dari berbagai sarana lainnya di bumi. Manusia membutuhkan udara untuk bernafas dan mendengar suara yang lainnya, dan untuk itu Tuhan telah menyediakannya. Begitu pula ketika manusia memerlukan pasangan untuk berkembang biak maka Tuhan telah menciptakan laki-laki sebagai pasangan wanita dan wanita sebagai pasangan laki-laki.

Singkat kata, hasrat apa pun yang telah ditanamkan Tuhan dalam diri manusia, maka Dia juga telah memberikan sarana untuk pemenuhannya. Sekarang kita perlu mempertimbangkan bahwa jika semua sarana telah disediakan bagi pemenuhan kebutuhan fisikal dari jasmani manusia, betapa pula yang disediakan bagi pemenuhan hasrat batin manusia akan kecintaan, pemahaman dan pengabdian kepada Tuhan. Sarana tersebut berbentuk kasyaf dan tanda-tanda Ilahi yang bisa mencerahkan pengetahuan dangkal seseorang dengan keyakinan hakiki. Sebagaimana Tuhan telah menyediakan sarana guna pemenuhan hasrat jasmani manusia, begitu juga Dia telah mengaruniakan sarana ruhani untuk pemenuhan kebutuhannya dan dengan demikian sistem fisikal dan spiritual akan menjadi selaras. Penalaran induktif seperti ini selanjutnya disempurnakan melalui penalaran deduktif atau dengan kata lain melalui contoh dari wahyu itu sendiri. Kesadaran akan kebutuhan terhadap sesuatu merupakan suatu hal terpisah dengan pencaharian akan cara pemenuhannya.

Kalian menyadari bahwa makanan dan air selalu tersedia bagi tubuh kalian, baik masa kini maupun bagi manusia di masa lalu. Namun jika disebutkan wahyu maka kalian membatasinya hanya ada di masa berabad- abad yang lalu dan tidak mempunyai rujukan untuk itu di masa kini. Lalu bagaimana mungkin akan tercipta keselarasan di antara hukum fisikal dan spiritual di alam ini? Cobalah diam dan renungkan. Kalian tidak bisa menyangkal bahwa kebutuhan jasmani kalian selalu tersedia setiap saat, tetapi kalian tidak punya apa pun sebagai sarana pemenuhan kebutuhan ruhani kalian kecuali dongeng-dongeng kuno. Kalian mengetahui bahwa sumber mata air fisikal yang kalian ambil airnya untuk memuaskan dahaga sekarang ini pun masih tetap mengalir, begitu pula dengan ladang-ladang kalian yang ditanami untuk memenuhi pemuasan rasa lapar sampai sekarang ini masih tetap menghasilkan. Lalu kemanakah mata air ruhani yang selama ini biasa memuaskan dahaga keruhanian kalian dalam bentuk wahyu Ilahi? Atau pun makanan ruhani guna menghidupkan jiwa kalian. Sepertinya kalian berada di gurun pasir tanpa makanan dan air.

(Chasmai Marifat , Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 63-66, London, 1984).