Berdasarkan kitab Suci Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, tidak ada suatu pemerintahan atau siapapun juga yang dapat menyatakan seseorang itu Muslim atau bukan. Menurut Al-Qur’an hanya Allah swt saja yang berhak menentukannya. Ini adalah prinsip yang telah disepakati secara universal bahwa sebelum menentukan apakah seseorang atau suatu kelompok adalah bagian dari spesies tertentu, dibuatlah suatu definisi yang menyeluruh dan khusus, yang berfungsi sebagai pijakan. Selama definisi ada, maka akan mudah untuk memutuskan apakah pribadi atau kelompok tertentu adalah bagian dari suatu spesies tersebut atau bukan. Dalam konteks ini, maka penting untuk memperhatikan pengamatan berikut:

  1. Adakah definisi seorang Muslim di dalam Al- Qur’an, atau adakah definisi yang diterapkan tanpa pengecualian oleh Rasulullah saw selama masa hidup beliau? Jika definisi tersebut ada, maka seperti apa?
  2. Dapatkah dibenarkan bagi seseorang menentukan definisi sendiri di suatu masa tertentu, dengan mengabaikan definisi yang terdapat di dalam Al-Qur’an atau hadits Nabi saw, padahal definisi tersebut terbukti telah diterapkan di masa Nabi Muhammad saw?
  3. Ketika masa kekhalifahan Hazrat Abu Bakar As-Shidiq, terjadi pemberontakan terhadap Islam, apakah beliau atau para Sahabat Rasulullah saw merasa perlu merubah definisi yang telah berlaku di masa Rasulullah saw?
  4. Adakah contoh pada jaman Rasulullah saw atau selama periode Khalifah Rasyidah yang menyatakan seseorang sebagai non-Muslim meskipun ia mengucapkan kalimah la ilaaha Illallaahu Muhammadur Rasulullah, dan meyakini 4 rukun Islam lainnya seperti shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji ke Mekah, tetapi orang tersebut masih dinyatakan sebagai non-Muslim?
  5. Jika dibenarkan untuk menyatakan bahwa seseorang berada diluar islam, meskipun orang tersebut beriman kepada Rukun Islam, hanya karena penafsiran orang itu terhadap ayat-ayat tertentu dari Al-qur’an tidak diterima oleh beberapa ulama Islam dari aliran tertentu; atau jika orang tersebut dinyatakan berada diluar Islam karena memiliki keyakinan yang bertentangan dengan pandangan aliran Islam tertentu, maka penjelasan dan identifikasi keyakinan tersebut harus dibuat supaya dapat dimasukkan ke dalam definisi positif seorang Muslim, yaitu berupa pernyataan bahwa jika aliran apapun yang percaya kepada Rukun Islam tetapi ia menganut kepercayaan yang tersebut diatas, maka ia akan dinyatakan berada diluar Islam.

Satu-satunya definisi Muslim yang dapat diterima dan diterapkan adalah definisi yang berlandaskan Kitab Suci Al-Qur’an, yang secara shahih diriwayatkan oleh Rasulullah saw, dan sesuai dengan definisi yang ditetapkan dengan jelas selama masa hidup Rasulullah saw dan masa Khalifah Rasyidah. Setiap upaya untuk membuat definisi seorang Muslim yang bertentangan dengan paradigma ini, tidak akan luput dari kesalahan dan kekurangan, khususnya semua definisi yang dibuat di masa-masa kemudian (ketika Islam terpecah menjadi 73 sekte) layak untuk ditolak karena masing-masing definisi saling bertentangan dan tidak bisa menemukan titik temu. Menerima salah satu definisi tentang Muslim bukanlah solusi praktis, karena seorang yang dinyatakan Muslim (berdasarkan satu definisi) akan menjadi non-Muslim jika dilihat dari definisi yang lain. Tidak ada jalan keluar dari lingkaran ini.

Kita harus menerapkan suatu definisi yang pokok yang telah  dirumuskan secara tepat oleh Khatamul Anbiyaa Hadhrat Muhammad saw yang menjadi suatu pegangan agung bagi suatu negara Islam. Dalam konteks ini saya kutip di bawah ini, dua sabda Rasulullah saw:

  1. Hz Abu Hurairah ra meriwayatkan, Nabi saw bersabda

“Silahkan mengajukan pertanyaan”, tetapi (para sahabat) malu-malu untuk bertanya, sementara itu seorang pria datang dan duduk dihadapan Nabi saw dan bertanya: ‘Apa itu Islam?” Rasulullah saw bersabda: ‘Tidak menyekutukan Allah SWT , mendirikan sholat, membayar zakat dan melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, lalu orang tersebut mengatakan: ‘Engkau mengatakan kebenaran’. (Muslim – Kitabul Imaan)

  1. Nabi Muhammad saw bersabda: ‘Barangsiapa yang sholat sebagaiman sholat kita, menghadap kiblat kita, dan makan sembelihan kita maka dia adalah muslim yang berada dalam naungan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kamu menggugat lindungan Allah dalam hal ini (Bukhari – Kitabus Salat, Baab – Fadhl Istiqbal lil Qiblah)

Junjungan kita Nabi Muhammad saw telah memberikan kebaikan yang luar biasa dengan menjelaskan definisi secara konprehensif dan tidak ambigu, sehingga telah meletakkan dasar persatuan global Dunia Islam. Adalah tugas setiap pemerintahan Islam untuk menyesuaikan dengan pondasi pemersatu ini ke dalam konstitusi masing-masing. Kegagalan dalam penerapannya akan melestarikan perpecahan diantara penganut Islam dan ujian serta kesengsaraan mereka akan terus berlanjut.

Kami, Muslim Ahmadi meyakini semua ajaran Islam, sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an, Sunnah dan Hadits Rasulullah saw.

Kami beriman kepada enam Rukun Iman yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan dijabarkan berupa sabda Rasulullah saw.

Kami, sebagai Ahmadi Muslim beriman kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, beriman kepada Malaikat-Malaikat, beriman kepada semua Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada para Nabi, kendati Al-Qur’an lah satu-satunya kitab yang bebas dari perubahan akibat campur tangan manusia. Al-Qur’an adalah kitab yang terakhir dan petunjuk yang kekal. Kami beriman kepada semua Nabi yang Allah Ta’ala utus untuk membimbing umat manusia. Rasulullah saw adalah penghulu dan pemimpin semua nabi. Beliau saw membawa syariat terakhir dan Beliau saw adalah manusia yang paling sempurna. Kami beriman kepada Hari Penghakiman sebagai sesuatu yang tak diragukan lagi. Kami beriman kepada Takdir Allah. Allah adalah pemilik semua kekuatan, dan kami memiliki keimanan yang teguh terhadap segala ketentuan Allah.

Kami menjalankan Rukun Islam: (1) Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya (Kalimah syahadat) (2) Mendirikan shalat (3)Membayar  zakat (4) melaksanakan puasa di bulan Ramadhan (5) Menunaikan ibadah haji ke Baitullah

Setelah menjelaskan tentang keyakinan kami dan amalan yang kami lakukan, marilah kita pelajari apa yang membedakan kami dengan muslim lainnya. Rasulullah saw menubuatkan tentang akan datangnya Mujadid Agung (yaitu Almasih dan Imam Mahdi) di akhir zaman untuk kebangkitan Islam. Kami percaya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian adalah Almasih dan Imam Mahdi yang dijanjikan tersebut. Beliau datang sesuai dengan yang dinubuatkan oleh Rasulullah saw, yang juga memerintahkan kepada setiap Muslim untuk mengenali Almasih dan berbaiat kepadanya. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) mengikuti dan mengajarkan agama yang sama dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Perbedaan Ahmadiyah

Jika demikian lalu apa perbedaan yang mendasar yang membedakan pengikutnya dari umat Islam lainnya? Apakah perbedaannya hanya terbatas pada penerimaan kepada dakwah Almasih semata, atau ada perbedaan yang lain? Jawabannya adalah:

Muslim Ahmadi adalah Muslim yang percaya kepada Almasih Yang Dijanjikan seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw.

Pada tahun 1880-an Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan dirinya sebagai Isa AlMasih yang dijanjikan dan Imam Mahdi atas perintah Allah SWT. Bagi semua Umat Islam, adalah sangat penting untuk memahami misi beliau, sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah saw.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad telah melakukan pengkhidmatan yang tak ternilai tidak hanya bagi agama Islam, tetapi untuk semua manusia pada umumnya, berupa sangahan-sanggahan yang kuat terhadap akidah-akidah yang salah. Tetapi akibat dari ini, para pengikut beliau masih terus dianiaya oleh segolongan Ulama dan para pengikut mereka.

Pada tanggal 23 Maret 1889, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Al Masih dan Mahdi yang dijanjikan mendirikan Jamaah Muslim Ahmadiyah atas perintah Allah swt. Tujuan utamanya adalah untuk membangun kembali kemurnian dan keindahan Islam. Pada awalnya beliau hanya sendiri, dengan sumber daya duniawi yang terbatas, hanya beberapa orang yang menanggapi dakwah beliau. Sementara lawan-lawan beliau yang kuat telah menebarkan badai permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di masa-masa cobaan tersebut, Allah Yang Maha Kuasa membantu beliau dengan dukungan samawi berupa wahyu: Aku akan sebarkan tabligh ke engkau ke segala penjuru dunia. Hari ini, ada sebuah jamaah yang terorganisir dan maju dengan pengikut puluhan juta orang yang tersebar ke lebih 190 negara dunia termasuk Sri Lanka. Mereka sekarang dipimpin oleh Khalifah Kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

Adalah suatu karunia bahwa melalui Hadhrat Masih Mau’ud (al Masih yang dijanjikan) as, sebagaimana dinubuatkan oleh Rasulullah saw revolusi rohani di akhir zaman mendapatkan momentumnya di seluruh dunia. Ini adalah misi Ilahi yang ditakdirkan untuk berhasil. Tiada yang bisa menghalangi derap kemajuannya, Insya Allah.

LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE

Oleh A. Abdul Azis , dari Sri Lanka

Asian Tribune , tanggal 4 Mei 2008

Link sumber terjemahan: http://www.alislam.org/library/ahmadis-are-true-muslims.html

Penterjemah: Ahmad Tauhid, Jakpus.

(Visited 116 times, 1 visits today)