Ajaran Alquran tentang Perdamaian Dunia

Imam Ataul Mujeeb Rashed

ajaran alquran tentang perdamaian dunia

Saya memulai tulisan ini dengan mengutip perkataan pengusung panji perdamaian dunia zaman ini, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, pemimpin tertinggi Jamaah Muslim Ahmadiyah. Beliau mengatakan:

“Menciptakan perdamaian merupakan isu utama di dunia saat ini. Kita menyaksikan banyak ketakutan dan kekacauan di sekitar kita. Persenjataan dan alat-alat penghancur sudah menjadi hal biasa. Diman mana orang menjadi musuh bagi yang lain. Kekuatan yang lebih besar menciptakan kekejaman terhadap mereka yang lebih lemah. Terorisme terjadi dengan mengatasnamakan pemberantasan terorisme. Media memainkan peran utama dalam menyebarkan rasa takut dan kekacauan. Bagi umat Islam, hanya ada satu jalan untuk keluar dari situasi ini; yaitu, berhenti mencemarkan nama Islam melalui ulah tindakan mereka. Umat Islam harus menerapkan ajaran Islam yang benar, dan harus menciptakan persatuan diantara mereka. Negara lain juga harusnya merangkul Islam, karena perdamaian dunia hanya terwujud melalui Islam.” (Weekly Badr, Qadian, 19-26 Dec 2013)

Al-Quran, Satu-satunya Solusi Perdamaian

Berdasarkan pernyataan diatas, saya ingin menyatakan bahwa tantangan dunia saat ini dapat dijelaskan dalam satu kalimat, permasalahan mendasarnya adalah karena tidak adanya perdamaian, dan lebih dari itu segala upaya untuk menyelesaikan permasalahan ini telah menemui jalan buntu.

Liga Bangsa-Bangsa telah gagal, dan sekarang PBB juga keliatannya juga gagal. Semua orang berpikir kapan, dimana dan bagaimana mereka dapat meraih kedamaian. Untuk mereka yang secara tulus telah terlibat dalam masalah ini, perhatikanlah baik-baik, hanya melalui ajaran-ajaran Al-Quran dunia akan mencapai kedamaian.

Al-Quran adalah firman suci Allah taala, yang diwahyukan kepada kita oleh Allah yang Maha Permurah dan Penyayang. Kitab-kitab suci yang diturunkan Allah sebelum Al-Quran memang mengandung banyak petunjuk yang bermanfaat bagi umat manusia, tetapi masa dan ruang lingkup penerapan mereka terbatas. Sebaliknya, Al-Quran adalah ajaran komprehensif dan lengkap serta relevan untuk setiap zaman. Tentang ini, Allah berfirman:

قَد جاءَكُم رَسولُنا يُبَيِّنُ لَكُم كَثيرًا مِمّا كُنتُم تُخفونَ مِنَ الكِتابِ وَيَعفو عَن كَثيرٍ ۚ قَد جاءَكُم مِنَ اللَّهِ نورٌ وَكِتابٌ مُبينٌ – يَهدي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخرِجُهُم مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النّورِ بِإِذنِهِ وَيَهديهِم إِلىٰ صِراطٍ مُستَقيمٍ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu Nur  dari Allah dan Kitab yang nyata. Dengan itu Allah menuntun orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya pada jalan-jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menuntun mereka kepada jalan lurus. (QS 5: 17-18)

Lebih lanjut difirmankan:

وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتابَ تِبيانًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ

Dan  telah Kami turunkan kepada engkau Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk dan rahmat dan khabar suka bagi orang-orang yang menyerahkan diri.” (QS An-Nahl 16: 90)

Hadhrat Masih Mau’ud menjelaskan:

“Inti dari agama saya adalah, Al-Quran adalah kitab yang lengkap dalam ajarannya, tidak ada pengetahuan sejati yang tak tercakup dalam ajarannya. (Al Haq Mubahasa Ludhiana,  Ruhani Khaza’in, Vol 4, hal 80)

“Wahai Tuhan, Kitab Mu ini adalah kitab untuk sekalian alam Yang di dalamnya, menyediakan segala kebutuhan yang ada” (Durru Tsamin)

Sekilas tentang Kehidupan Rasulullah saw

Sebelum menjelaskan ajaran Al-Quran tentang perdamaian, patut dikemukakan disini sebuah keberatan yang biasa dilontarkan, yaitu, memang terdapat ajaran mulia di dalam Al-Qur’an tentang perdamaian dunia, namun orang tetap perlu melihat contoh dari mereka yang mengikuti ajaran tersebut. Kita dapat menanggapi hal ini dengan mengaatakan bahwa di satu sisi Al-Quran memiliki ajaran yang mempromosikan perdamaian dunia, di sisi lain, sebuah teladan mulia telah ditunjukkan dalam praktek Rasulullah saw sendiri.

Allah taala berfirman:

لَقَد كانَ لَكُم في رَسولِ اللَّهِ أُسوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya kamu dapati dalam diri Rasulullah suri teladan yang sebaik- baiknya.” (QS 33: 22)

Rasulullah saw tidak hanya memperkenalkan prinsip Al-Quran kepada dunia, ini adalah tugas utamanya, tetapi seluruh hidup beliau merupakan contoh agung untuk menjelaskan dan mengamalkan ajaran-ajaran tersebut. Satu kali seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah ra untuk menggambarkan akhlak Rasulullah saw. Jawaban beliau sangat komprehensif, beliau menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن

Setiap aspek kehidupan Rasulullah saw adalah contoh nyata dari asas-asas Al-Quran. (Musnad Ahmad Bin Hanbal, Hadith No 23460)

Kehidupan pribadi Rasulullah saw adalah contoh yang indah ajaran Al-Quran sehingga hal itu menjadi penjelasan terbaik tentang bagaimana menerapkan ajaran-ajaran tersebut.

Semua kehidupan mulia Rasulullah saw adalah saksi nyata bahwa beliau memperjuangkan perdamaian di seluruh dunia, terlepas dari segala rintangan dan tantangan, beliau membuktikan bahwa perdamaian hanya dapat ditegakkan di dunia ini dengan mengikuti ajaran Al-Quran. Kedua fase hidup beliau, di Mekkah dan Madinah, penuh dengan contoh bagaimana beliau menjadikan para pengikutnya sebagai pembela perdamaian.

Walau tidak memungkinkan untuk membahas semua detail, tetapi sejarah menjadi saksi bahwa Rasulullah saw lebih menginginkan perdamaian daripada perang atau perselisihan.

وَالصُّلحُ خَيرٌ

“…Dan perdamaian itu paling baik…” (QS 4: 129)

Inilah tujuannya sepanjang masa.

Perjanjian Hudaibiyah adalah contoh luar biasa permasalahan ini. Perjanjian yang kelihatannya mendapatkan kondisi yang merugikan, namun Allah taala mengubahnya menjadi kemenangan yang nyata. Beliau tidak pernah menginisiasi untuk menyerang musuhnya tanpa provokasi dari mereka sebelumnya. Ketika diserang terlebih dahulu oleh pihak lain, beliau berdoa, dan hanya melalui perintah Ilahi beliau akan melakukan perlawanan yang bersifat defensif, dan itupun akan berhenti seiring berakhirnya permusuhan.

Tiada contoh yang lebih baik tentang sifat damai dari akhlak beliau selain kenyataan bahwa beliau menciptakan kode etik selama peperangan bagi kaum Muslimin. Di dunia saat ini yang disebut sebagai dunia agama, etika dan kebaikan, kasih sayang dan keadilan benar-benar telah dilupakan. Sendangkan raja perdamaian dunia, Rasulullah saw mempertahankan prinsip damai bahkan saat berada di medan perang, sehingga ini menjadikan panutan yang menjadi pedoman sepanjang masa. Penaklukan Mekkah (fatah Mekkah) adalah contoh lain dari hal ini. Saat itu, semua musuh beliau yang haus darah dimaafkan, sehingga sekali lagi ini menjadikannya sebagai contoh yang tak tertandingi untuk waktu yang akan datang.

Menepati syarat-syarat perjanjian adalah hal lain dimana Nabi yang benar dan paling dipercaya ini telah memberikan contoh yang luar biasa. Begitu perjanjian Hilful Fuzul disepakati, beliau mengambil risiko dengan mendatangi musuh bebuyutannya demi memperjuangkan hak orang miskin. Pada saat perjanjian Hudaibiyah, beliau menjalankan semua prinsip-prinsip perjanjian bahkan sebelum proses kompilasi selesai, sehingga membangun daftar kepercayaan yang lain. Fakta sejarah yang menarik adalah meskipun musuh Nabi saw memiliki banyak waktu dengan tindakan kasar sepanjang kehidupan beliau, namun mereka sendiri tak pernah mengatakan bahwa Rasulullah saw melalaikan perjanjian.

Resep yang Paling Manjur

Masalah terbesar di dunia saat ini adalah kurangnya perhatian pada Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya. Kurangnya keimanan kepada Tuhan yang Maha Hidup adalah akar penyebab semua masalah ini. Sebelum kita dapat membangun keimanan hakiki dan kedekatan kepada Allah, baik di tingkat individu maupun sebagai masyarakat, kita tidak akan dapat memenuhi tujuan dalam menciptakan perdamaian dunia. Tanpa prinsip ini, dunia akan terus terjerumus dalam kegelapan, kekacauan dan kesengsaraan. Satu-satunya solusi yang tepat dan jitu untuk masalah dunia saat ini adalah membangun kembali hubungan kita kepada Tuhan dan patuh terhadap ajaran-ajaran-Nya. Salah satu sifat Allah adalah As-salam dan Dia telah memberikan kabar suka ini kepada umat manusia:

وَاللَّهُ يَدعو إِلىٰ دارِ السَّلامِ وَيَهدي مَن يَشاءُ إِلىٰ صِراطٍ مُستَقيمٍ

Dan Allah menyeru ke tempat keselamatan. Dan memberi petunjuk kepada siapa yag Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS 10: 26)

Allah menyeru Anda supaya mendekat kepada-Nya, dan yakinlah bahwa itu adalah seruan pada kedamaian. Jadi mendekatlah kepada-Nya. Dan penuhilah diri Anda dengan keberkahan dari-Nya.

Hazrat Mirza Tahir Ahmad telah menjelaskan:

“Tidak ada kedamaian tanpa Allah taala. Inilah rahasianya yang tanpa mengetahuinya maka tidak akan ada kepuasaan bagi individu manapun, dan tidak akan ada jaminan bagi perdamaian di masyarakat. Tidak ada cara lain yang membawa pada perdamaian dan kepuasan sejati. Merupakan sebuah kekeliruan dan kebodohan belaka menganggap manusia dapat bertahan tanpa Allah taala. Jika kita tidak ada ruang untuk Allah, maka tidak akan ada perdamaian, pilihan menempuh jalan ini, merupakan puncak dari segala kebijaksanaan.  (Islam’s Response to Contemporary Issues, hal. 313-14)

Al-Quran telah menunjukkan bahwa keimanan hakiki kepada Tuhan merupakan hal mendasar bagi perdamaian. Salah satu bukti akan hal ini adalah mereka yang memiliki keimanan sejati kepada Allah tidak akan mengalami kesusahan atau penderitaan jiwa sampai pada tingkat mereka kehilangan harapan dalam hidup. Kita melihat dari teladan mulia Rasulullah saw, beliau juga memenuhi hatinya dengan tingkat kedamaian dan kepuasan semacam itu, meskipun beliau menghadapi berbagai tantangan dan ujian yang besar ia menjalaninya dalam kondisi yang damai. Tidak ada utusan Allah yang menghadapi kesulitan semacam itu yang memutuskan untuk mengorbankan nyawanya sendiri. Diri mereka selalu menjadi tempat yang damai. Keimanan yang hakiki dan tak tergoyahkan terus menerangi hati mereka. Di saat-saat kekhawatiran, Allah melindungi dan membimbing mereka. Al-Quran telah menyebutkan prinsip ini sebagai berikut:

أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

“Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS 13: 29)

Yaitu, kita akan mendapatkan kedamaian sejati dengan mengingat Allah, dan kita akan mendapatkan kondisi yang berharga ini melalui keimanan yang teguh kepada Allah. Sesungguhnya, jika kita mengembangkan keimanan yang teguh terhadap keberadaan Allah, maka ia akan memberikan resep yang nyata untuk perdamaian dunia.

Al-Quran menjelaskan:

أَلا إِنَّ أَولِياءَ اللَّهِ لا خَوفٌ عَلَيهِم وَلا هُم يَحزَنونَ

“Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih.” (QS 10: 63)

Inti Pokok Perdamaian

Perjalanan menuju kedamaian dimulai dari individu. Sumber pertamanya adalah ditanamkan dari dalam hati masing-masing. Ketika ia berkembang dalam pribadi seseorang, maka keluarganya akan mendapatkan kedamaian. Dari keluarga, dampaknya akan berkembang ke masyarakat. Dan saat sebuah bangsa meraih kedamaian, maka ia akan berkontribusi pada perdamaian dunia. Ini bukanlah konsep teoritis, melainkan fakta yang nyata di seluruh dunia. Setiap langkah dari perjalanan ini telah dibahas secara komprehensif dalam Al-Quran, seperti yang ditulis oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad:

“Tidak ada kedamaian tanpa Allah taala. Inilah rahasianya yang tanpa mengetahuinya maka tidak akan ada kepuasaan bagi individu manapun, dan tidak akan ada jaminan bagi perdamaian di masyarakat. Tidak ada cara lain yang membawa pada perdamaian dan kepuasan sejati. Merupakan sebuah kekeliruan dan kebodohan belaka menganggap manusia dapat bertahan tanpa Allah taala. Jika tidak ada ruang bagi Allah, maka tidak akan ada perdamaian, dan menempuh jalan ini, pada dasarnya merupakan puncak dari segala kebijaksanaan.  (Islam’s Response to Contemporary Issues, p313-14)

Terkait dengan penyebutan prinsip utama ini, Al-Quran menggambarkan tahap menuju perdamaian yang dimulai dari keluarga. Untuk menciptakan sebuah contoh keluarga surgawi Al-Quran telah memberikan beberapa ajaran yang rinci. Suami istri telah digambarkan sebagai pakaian penutup satu sama lain.

هُنَّ لِباسٌ لَكُم وَأَنتُم لِباسٌ لَهُنَّ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS 2: 188)

Sementara laki-laki dinyatakan memegang tanggung jawab, Al-Quran juga memerintahkan:

وَعاشِروهُنَّ بِالمَعروفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara baik-baik” (QS 4: 20)

Hak dan tanggung jawab keduanya telah digambarkan di dalam Al-Quran:

وَلَهُنَّ مِثلُ الَّذي عَلَيهِنَّ بِالمَعروفِ

“Dan perempuan-perempuan mempunyai hak yang sama dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (QS 2: 229)

Islam mengajarkan kepada para orang tua:

اَكْرِمُوْا اَوْلَادَكُمْ وَ اَحْسِنُوْا اَدَبَهُمْ

“Muliakanlah anak-anakmu dan tingkatkanlah akhlak mereka.” (Ibnu Majah, Kitabul Adab)

Dan mendoakan mereka:

 وَأَصلِح لي في ذُرِّيَّتي

“Perbaikilah bagiku dalam keturunanku”. (QS 46: 16)

Dan pada saat bersamaan, anak-anak diajarkan untuk menunjukkan kebaikan kepada orang tua mereka dan senantiasa mendoakan mereka.

وَاخفِض لَهُما جَناحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحمَةِ وَقُل رَبِّ ارحَمهُما كَما رَبَّياني صَغيرًا

“Berlaku rendah hatilah untuk mereka berdua dengan kasih sayang, dan katakanlah, “Ya Tuhan, kasihanilah mereka berdua  sebgaimana mereka berdua telah memeliharaku semasa aku  kecil.” (QS 17: 25)

Setelah keluarga, tingkatkanlah kebaikan kepada kerabat, membangun hubungan yang bersahabat dengan tetangga, dan kemudian menyebarkan sikap saling hormat dan ramah kepadas semua anggota masyarakat. Semua ajaran ini menjadi landasan bagi pembangunan perdamaian.

Menjalin kebaikan dengan kerabat disebutkan sebagai berikut:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَساءَلونَ بِهِ وَالأَرحامَ

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan  tali kekerabatan.”(QS 4: 2)

Hubungan kedekatan yang baik ini diperluas dengan mencakup semua lingkungan sekitar, bahkan mereka yang berada di lingkungan mereka untuk sementara waktu. Dalam hal ini Rasulullah saw meringkas ajaran Islam sebagai berikut:

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah dia yang membuat selamat orang lain dari lisan dan tangannya.” (Sunan An-Nasai, Kitabul Iman)

Yaitu, seorang Muslim sejati adalah seseorang yang dari kata-kata dan tangannya, membuat orang lain tenteram. Tidak ada kerusakan atau menyakiti orang lain melalui ucapan maupuan tindakannya. Ajaran ini tidak membeda-bedakan antara Muslim atau non-Muslim, atau warna kulit dan keyakinan.

Sebuah masyarakat yang dibangun atas pondasi ini akan terus berkembang menjadi sumber keamanan dan perdamaian nasional, sehingga jika semua negara di dunia menghilangkan kepentingan pribadi dan bersatu dalam ajaran-ajaran Al-Quran ini, dapat dipastikan bahwa perdamaian dunia akan terwujud.

Al-Quran, Pembawa Panji Perdamaian Dunia

Islam adalah pembawa panji perdamaian dunia dan menyajikan ajaran yang dapat membangun pondasi yang kuat untuk perdamaian dunia. Tetapi, syaratnya, semua bangsa harus melepaskan kepentingan pribadi mereka dan dengan tulus mengikuti ajaran-ajaran ini.

Al-Quran penuh dengan wahyu kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Mengetahui segala pengetahuan tersembunyi. Di dalam Kitab ini, Allah telah menyajikan suatu prinsip bahwa untuk mencapai tujuan mulia, seseorang harus terlebih dahulu menyingkirkan penghalang yang merintangi jalan. Prinsip ini juga dihubungkan dalam upaya mencapai perdamaian.

Menyingkirkan Hambatan atau Penghalang

a. Diskriminasi ras dan arogansi

Salah satu kendala utama dalam mencapai perdamaian adalah diskriminasi ras dan sikap arogansi antara bangsa di dunia.

يا أَيُّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقناكُم مِن ذَكَرٍ وَأُنثىٰ وَجَعَلناكُم شُعوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفوا ۚ إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقاكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu dapat saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada.” (QS 49: 14)

Ayat ini menyebutkan sebuah prinsip emas bahwa siapapun yang paling depan dalam ketakwaan maka dialah yang paling berharga di sisi Allah. Perbedaan suku dan bangsa hanyalah sarana untuk saling mengenal. Adanya kesombongan akan entitas seseorang atau menyatakan orang lain lebih inferior hanya akan memciptakan kebencian dan perpecahan, yang pada gilirannya akan merusak perdamaian secara internasional.

Allah telah memberikan ajaran yang baik dalam saling menghormati.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا لا يَسخَر قَومٌ مِن قَومٍ عَسىٰ أَن يَكونوا خَيرًا مِنهُم وَلا نِساءٌ مِن نِساءٍ عَسىٰ أَن يَكُنَّ خَيرًا مِنهُنَّ ۖ وَلا تَلمِزوا أَنفُسَكُم وَلا تَنابَزوا بِالأَلقابِ ۖ بِئسَ الِاسمُ الفُسوقُ بَعدَ الإيمانِ ۚ وَمَن لَم يَتُب فَأُولٰئِكَ هُمُ الظّالِمونَ

“Hai, orang-orang yang beriman, janganlah suatu  kaum mencemoohkan kaum lain, mungkin mereka itu lebih baik daripada mereka, dan janganlah wanita mencemoohkan wanita lain, mungkin mereka itu lebih baik daripada mereka, dan janganlah kamu memburuk-burukkan dia antara kamu, begitu pula jangan panggil-memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruknya nama adalah fasik sesudah beriman, dan barangsiapa tidak bertaubat, mereka itulah orang yang aniaya.” (QS 49: 12)

b. Kebohongan

Kelemahan lain yang berperan pada rusaknya perdamaian adalah sikap dusta. Tindakan ini sudah menjadi lumrah di setiap tingkatan, sehingga antar pribadi dan antara negara kehilangan rasa kepercayaan satu sama lain. Kemunafikan dan tipu muslihat sudah biasa terjadi di masyarakat sehingga negara-negara kuat menjadikan negara-negara miskin sebagai budak yang sesungguhnya, dengan menambahkan kondisi tertentu sambil menawarkan bantuan kepada mereka. Tindakan yang tidak berakhlak ini benar-benar telah merusak perdamaian dunia.

Allah taala berfirman:

وَقولوا قَولًا سَديدًا

“Ucapkanlah perkataan yang jujur”. (QS 33: 71)

Dan juga Dia berfirman:

 وَاجتَنِبوا قَولَ الزّورِ

“Dan jauhilah ucapan-ucapan dusta”. (QS 22: 71)

Lebih lanjut Al-Quran menjelaskan bahwa seseorang harus menerapkan kejujuran dan perkataan yang benar termasuk saat ia menjadi saksi. Dalam hal di dalam Al-Quran dijelaskan:

 يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كونوا قَوّامينَ بِالقِسطِ شُهَداءَ لِلَّهِ وَلَو عَلىٰ أَنفُسِكُم أَوِ الوالِدَينِ وَالأَقرَبينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah  saksi karena Allah  walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat.” (QS 4: 136)

Mengingkari janji atau kesepakatan juga merupakan bentuk kebohongan. Melanggar kesepakatan atau janji akan membawa pada beberapa jenis permasalahan di masyarakat.

Di tempat lain Allah berfirman:

وَأَوفوا بِالعَهدِ ۖ إِنَّ العَهدَ كانَ مَسئولًا

“Tepatilah janji, sesungguhnya janji itu akan ditanyakan. (QS 17: 35)

Kemudian terdapat perintah yang tegas lagi di dalam Alquran:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا أَوفوا بِالعُقودِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala perjanjianmu.” QS 5: 2)

c. Sistem Riba

Salah satu masalah lain yang telah memperlemah struktur masyarakat adalah sistem ekonomi berbasis riba. Orang yang meminjam uang dengan sistem bunga karena kebutuhan, akhirnya terjerat dalam tekanan bunga yang semakin besar. Hal yang sama berlaku bagi negara-negara yang membutuhkan. Alih-alih memenuhi kebutuhan dan gaya hidup, mereka yang meminjam dengan sistem bunga, akan menjadi budak ekonomi tanpa akhir dari pemberi pinjaman.  Al-Quran menasihati supaya menjauhi riba dan bunga, karena  kedua hal ini menyebabkan terganggunya perdamaian di semua tingkat masyarakat, baik di level rumah tangga,  nasional maupun internasional.

Alquran mengatakan:

الَّذينَ يَأكُلونَ الرِّبا لا يَقومونَ إِلّا كَما يَقومُ الَّذي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيطانُ مِنَ المَسِّ

Orang-orang yang memakan riba tidak berdiri melainkan seperti berdiri orang yang syaitan merasuknya dengan penyakit gila. (Al – Baqarah 2:276)

Implikasi negatif lain dari riba adalah pada saat banyak negara meminjam dengan bunga untuk memperoleh persenjataan yang lebih banyak, mereka terikat dan kemudian merasa sulit untuk keluar dari sistem bunga ini. Salah satu pemrakarsa utama dari perang dunia adalah ekonomi  berbasis riba. Al-Quran telah menjelaskan sistem ekonomi alternatif, seperti zakat, pinjaman tanpa bunga, warisan, sedekah dan  dan perdagangan yang adil. dll.

Keserakahan yang tak henti-hentinya oleh negara-negara adidaya adalah sebab lain terjadi keretakan hubungan antara mereka dan negara-negara yang lebih lemah di dunia, sehingga terjadilah perang. Keserakahan mendorong negara-negara adidaya untuk mencampuri urusan negara-negara lemah guna mencapai tujuan mereka sendiri.

Quran mengecam keras hal ini. Qur’an menyatakan:

لا تَمُدَّنَّ عَينَيكَ إِلىٰ ما مَتَّعنا بِهِ أَزواجًا مِنهُم وَلا تَحزَن عَلَيهِم

Janganlah engkau tujukan pandangan kedua matamu ke arah apa yang telah Kami berikan sebagai bahan kesenangan sementara kepada beberapa golongan di antara mereka, dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka.” (QS Al-Hijr 15:89)

Ini harus menjadi prinsip utama bagi seluruh dunia. Jika diikuti dengan sungguh-sungguh, tidak akan ada negara yang memiliki maksud serakah pada saat berhubungan dengan negara lain, atau pun mereka yang berusaha mengambil harta orang lain dengan cara licik.

d. Penghinaan pada Agama Lain

Hal lain yang menghalangi perdamaian dunia adalah kecenderungan untuk menghina agama lain dan pengikut mereka. Hal ini telah menyebabkan munculnya ekstremisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama di masa sekarang ini. Kecenderungan ini telah meluas sehingga banyak negara di dunia yang mendapatkan bahayanya dan hampir tidak ada negara yang sepenuhnya aman dari dampaknya. Menghina kitab suci dan wujud-wujud suci telah menjadi tindakan lumrah atas nama kebebasan berbicara. Al-Quran, sekali lagi, mengecam dengan keras kecenderungan ini, dan mengajarkan bahwa setiap orang harus menghormati perasaan pengikut agama lain dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kekacauan dan kekerasan. Kebebasan perlu dibatasi dengan tanggung jawab dan kehati-hatian. Al-Quran menasihati orang-orang yang menyebarkan kekacauan dengan mengatakan:

وَلا تُفسِدوا فِي الأَرضِ بَعدَ إِصلاحِها

“Dan, janganlah kamu berbuat kerusuhan di muka bumi sesudah perbaikannya (A’raf 7:57 – Al)

Selanjutnya dalam ajaran yang indah, Qur’an mengatakan:

وَلا تَسُبُّوا الَّذينَ يَدعونَ مِن دونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدوًا بِغَيرِ عِلمٍ

“Dan, janganlah kalian memaki apa yang diseru mereka selain Allah, maka mereka memaki Allah karena rasa permusuhan, tanpa ilmu”  (QS 6:109)

Al-Quran melarang segala bentuk kekacauan dan gangguan perdamaian di masyarakat. Dengan jelas Al-Quran menyebutkan:

وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الفَسادَ

“Dan Allah tidak menyukai kekacauan. (Al – Baqarah 2:206)

Dan kemudian mengecam kekerasan dan pembunuhan, ajaran Al-Qur’an adalah:

مَن قَتَلَ نَفسًا بِغَيرِ نَفسٍ أَو فَسادٍ فِي الأَرضِ فَكَأَنَّما قَتَلَ النّاسَ جَميعًا وَمَن أَحياها فَكَأَنَّما أَحيَا النّاسَ جَميعًا

“Oleh sebab itu Kami menetapkan bagi Bani Israil bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang padahal orang itu tidak pernah membunuh  orang lain atau telah mengadakan kerusuhan di bumi, maka seolah-olah ia membunuh sekalian manusia. (QS 5:33)

Petunjuk Nyata Al-Quran untuk Tegaknya Perdamaian

Di antara semua agama, Islam adalah satu-satunya agama yang menggabungkan filosofi dan tujuan mulianya dalam namanya yaitu penegakan perdamaian dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Inilah alasan mengapa Al-Quran berisi ajaran yang sangat komprehensif dan nyata dalam hal ini. Ajaran-ajaran tersebut mengandung semua aspek dalam pembentukan perdamaian di dalamnya. Sebagai contoh saya akan menyajikan beberapa diantaranya.

Islam dituduh sebagai agama yang berbahaya dan kejam secara tidak berdasar dan tanpa bukti. Padahal kenyataannya sangat berlawanan dengan yang dituduhkan. Islam adalah agama yang damai, aman dan persatuan. Al-Quran sarat dengan ajaran-ajaran seperti itu sehingga memberi akan klaim tersebut.

Alquran telah memerintahkan pengikutnya untuk bekerja sama dengan semua agama lain dalam hal kemanusiaan. Al-Qur’an mengatakan:

وَتَعاوَنوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقوىٰ ۖ وَلا تَعاوَنوا عَلَى الإِثمِ وَالعُدوانِ

“Dan, tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa; dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. (QS 5:3)

Dengan indahnya Al-Quran memberi kita petunjuk untuk tidak memandang siapa yang meminta pertolongan, tapi untuk tujuan apa ia minta tolong. Jika permohonan itu untuk tujuan yang baik, maka bekerja sama lah dengan siapa pun, terlepas dari agama atau etnis mereka.

Al-Quran mendukung kebebasan beragama dan toleransi. Hal ini disebutkan dalam Quran dengan sangat jelas:

لا إِكراهَ فِي الدّينِ ۖ قَد تَبَيَّنَ الرُّشدُ مِنَ الغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan;  (QS 2:257)

Sebuah argumen telah dijelaskan dengan indah bahwa bahwa tidak perlu memaksa orang dalam masalah agama, karena benar dan salah dapat dengan jelas dibedakan dengan kebenaran sejati.

Di tempat lain dalam Al-Qur’an kebebasan beragama dijelaskan sebagai berikut:

وَقُلِ الحَقُّ مِن رَبِّكُم ۖ فَمَن شاءَ فَليُؤمِن وَمَن شاءَ فَليَكفُر

“Dan katakanlah, ‘Inilah  hak dari Tuhan-mu; maka barangsiapa menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” (QS 18:30 )

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada jenis hukuman dunia apapun karena menolak mengikuti Islam.

Al-Quran telah mengajarkan prinsip lain dalam mempromosikan persatuan dan solidaritas antar pengikut semua agama; bahwa Allah taala telah mengirim utusan-utusan-Nya kepada semua bangsa di dunia dan kita harus mengakui bahwa semua utusan ini beserta kitab dan pesan mereka benar-benar berasal dari Allah taala. Al-Quran mengatakan:

وَإِن مِن أُمَّةٍ إِلّا خَلا فيها نَذيرٌ

“Dan tiada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi ingat. (QS 35:25)

Dan lagi Qur’an mengatakan:

وَلِكُلِّ قَومٍ هادٍ

Sesungguhnya engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum ada seorang pemberi petunjuk. (QS 13:8 )

Integrasi Islam yang luar biasa bagi semua orang ini dibukti oleh setiap Muslim dengan menyatakan:

لا نُفَرِّقُ بَينَ أَحَدٍ مِن رُسُلِهِ

“Kami tidak membeda- bedakan di antara seorang pun dari Rasul-rasul-Nya yang satu terhadap yang lainnya (QS 2:286)

Tidak hanya itu, Al-Quran lebih luas lagi menyatakan bahwa kita harus menghormati semua agama, pendiri semua agama, semua kitab agama dan pemimpin semua agama. Ajaran integrasi yang indah ini akan menciptakan hubungan saling menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama, mengurangi perbedaannya.

Alquran menyebutkan prinsip utama lain untuk mewujudkan perdamaian dunia, yaitu tentang pemilihan seorang pemimpin. Setiap orang berkewajiban untuk memberikan suaranya dengan penuh kejujuran agar pemimpin yang terpilih dapat melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya, dan mereka yang terpilih berkewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab dengan penuh keadilan dan ketekunan.

Al-Quran mengatakan:

 إِنَّ اللَّهَ يَأمُرُكُم أَن تُؤَدُّوا الأَماناتِ إِلىٰ أَهلِها وَإِذا حَكَمتُم بَينَ النّاسِ أَن تَحكُموا بِالعَدلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كانَ سَميعًا بَصيرًا

“Sesungguhnya, Allah memerintahkan kamu supaya menyerahkan amanat-amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menghakimi di antara manusia hendaklah kamu memutuskan dengan adil. Sesungguhnya Allah menasihatimu sebaik-baiknya dengan cara itu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS 4:59)

Jika kedua pihak mengikuti prinsip ini dengan benar, setiap negara dapat menjadi teladan dalam kedamaian dan keamanan sehingga dapat tercipta perdamaian dunia. Tentu saja jika prinsip ini dipraktikkan, niscaya akan tercipta keadaan yang aman dan damai.

Di masa sekarang ini, seluruh dunia telah menjadi sebuah desa global karena adanya sarana komunikasi modern. Dengan demikian, menjadi lebih penting lagi untuk membangun hubungan baik di tingkat internasional. Alquran telah mendasarkan integritas hubungan internasional dengan prinsip keadilan mutlak.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كونوا قَوّامينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالقِسطِ ۖ وَلا يَجرِمَنَّكُم شَنَآنُ قَومٍ عَلىٰ أَلّا تَعدِلُوا ۚ اعدِلوا هُوَ أَقرَبُ لِلتَّقوىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعمَلونَ

“Hai orang-orang yang beriman,  hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (QS 5: 9)

Prinsip ini memegang posisi kunci dalam pembentukan perdamaian internasional. Jika semua negara berpegang pada prinsip keadilan setiap saat, semua perbedaan mereka dapat hilang dengan cepat. Saat ini dunia kita tidak hanya membutuhkan Perserikatan Bangsa-Bangsa hanya nama saja, tetapi sebuah organisasi internasional yang kuat yang semata-mata berfokus untuk menegakkan keadilan sejati dalam hubungan internasional. Tanpa keadilan, orang tidak dapat memahami artinya kedamaian dunia.

Alquran adalah kitab Ilahi yang juga mengajarkan kita tentang kondisi tertentu. Misalnya urusan suatu negara yang mengangkat senjata ke negara lain  atau ketika perang penuh telah dimulai, Alquran mengatakan:

وَإِن طائِفَتانِ مِنَ المُؤمِنينَ اقتَتَلوا فَأَصلِحوا بَينَهُما ۖ فَإِن بَغَت إِحداهُما عَلَى الأُخرىٰ فَقاتِلُوا الَّتي تَبغي حَتّىٰ تَفيءَ إِلىٰ أَمرِ اللَّهِ ۚ فَإِن فاءَت فَأَصلِحوا بَينَهُما بِالعَدلِ وَأَقسِطوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُقسِطينَ

“Dan, jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya, maka jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain, maka perangilah pihak yang menyerang, hingga ia kembali kepada perintah Allah, kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.  (QS 49:10)

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ayat tersebut ditujukkan untuk orang-orang mukmin, ayat ini mengandung prinsip yang menjadi panduan bagi semua bangsa di dunia. Hal ini sangat penting dalam konteks situasi dunia saat ini. Jika sebuah negara kuat menyerang negara lain karena minyaknya atau sumber daya lainnya tanpa alasan yang dibenarkan, banyak negara lain akan ikut dalam kejahatan ini demi keuntungan mereka sendiri, sementara negara lainnya mengambil diam sebagai penonton. Kondisi inilah yang dapat ditangani secara tepat dengan penerapan prinsip di atas.

Satu pertanyaan yang sering diajukan adalah ‘Bagaimana Islam bisa dianggap sebagai agama damai sedangkan kita menemukan adanya perang dalam sejarah Islam?’ Menjawab pertanyaan ini, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Jika kita mempelajari Alquran dan kehidupan serta akhlak pendiri Islam, Nabi Muhammad saw,  nampak jelas bahwa umat Islam di masa awal tidak pernah memulai pertempuran atau perselisihan. Kalaupun umat Muslim terlibat dalam pertempuran, ini murni untuk memperhankan diri, dan tujuannya adalah untuk menghentikan para penyerang melakukan agresi mereka, dan supaya mereka tidak memaksakan kekuasaan mereka atas yang lain ataupun melakukan ketidakadilan. Sejarah menjadi saksi bahwa umat Islam periode ini tidak pernah berupaya untuk menaklukkan suatu negara atau wilayah lain atau berupaya memperbudak mereka.”[Al-Fazl International, 5 Desember 2015]

Ayat Alquran yang pertama kali mengizinkan umat Islam untuk mengangkat senjata dalam rangka mempertahankan diri adalah:

أُذِنَ لِلَّذينَ يُقاتَلونَ بِأَنَّهُم ظُلِموا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلىٰ نَصرِهِم لَقَديرٌ – الَّذينَ أُخرِجوا مِن دِيارِهِم بِغَيرِ حَقٍّ إِلّا أَن يَقولوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَولا دَفعُ اللَّهِ النّاسَ بَعضَهُم بِبَعضٍ لَهُدِّمَت صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذكَرُ فيهَا اسمُ اللَّهِ كَثيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزيزٌ

“Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya Dan sesunngguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa.  (QS 22: 40-41)

Sangat penting untuk dicatat di sini bahwa jika izin untuk membela diri ini tidak diberikan kepada umat Islam, semua tempat ibadah akan menghadapi risiko penghancuran oleh para penyerang, termasuk kuil-kuil, gereja-gereja, sinagog dan masjid-masjid. Izin ini pun bukan hanya untuk membela Islam saja, tetapi juga untuk melindungi semua agama dan kegiatan ibadah mereka.

Ciri khas lain dari ajaran Alquran sehubungan dengan izin berperang untuk melindungi diri ini merupakan contoh unik yang tidak ditemukan dalam ajaran agama lain. Mari kita kaji petunjuk-petunjuk tersebut. Alquran mengatakan:

وَقاتِلوا في سَبيلِ اللَّهِ الَّذينَ يُقاتِلونَكُم وَلا تَعتَدوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ المُعتَدينَ

“Dan perangilah di jalan Allah, orang-orang yang memerangimu, namun jangan kamu melampaui batas, Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. (QS 2:191)

Dan di tempat lain, Al-Qur’an menyatakan:

وَإِن عاقَبتُم فَعاقِبوا بِمِثلِ ما عوقِبتُم بِهِ ۖ وَلَئِن صَبَرتُم لَهُوَ خَيرٌ لِلصّابِرينَ

Dan jika kamu memutuskan akan menghukum, maka hukumlah mereka setimpal dengan kesalahan yang dilakukan terhadap kamu. Tetapi, jika kamu bersabar maka sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang sabar.  (QS 16:127 )

Kemudian, sebuah petunjuk istimewa supaya berbuat adil, Al-qur’an menyatakan:

وَقاتِلوهُم حَتّىٰ لا تَكونَ فِتنَةٌ وَيَكونَ الدّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوا فَلا عُدوانَ إِلّا عَلَى الظّالِمينَ

“Dan perangilah mereka sehingga tak ada fitnah lagi, dan agama itu hanya untuk Allah Tetapi, jika mereka berhenti, maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.  (QS 2:194)

Sekali lagi, keindahan Alquran menjadi terbukti dengan ajaran tentang berdamai kepada musuh.

وَإِن جَنَحوا لِلسَّلمِ فَاجنَح لَها وَتَوَكَّل عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّميعُ العَليمُ

“Dan, jika mereka condong kepada perdamaian, maka condong pulalah engkau kepadanya dan berwakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS 8:62)

Semua yang disampaikan diatas adalah ringkasan singkat tentang ajaran indah Alquran tentang perdamaian dunia. Ajaran ini ditujukkan untuk semua manusia di dunia dan kaum muslimin. Ajaran ini ditujukkan untuk siapapun yang tulus dalam mendirikan perdamaian dunia. Situasi dunia saat ini menuntut agar ajaran-ajaran ini dapat diterapkan sehingga segenap permasalahan dunia dapat diperbaiki dan dunia dibawa ke dalam kondisi yang damai!

Saya ingin menyimpulkan presentasi saya dengan mengutip perkataan dari yang pemimpin spiritual dan pembawa panji perdamaian yang terdepan di dunia, Hazrat Mirza Masroor Ahmad. Beliau menjelaskan:

“Saat ini, kebutuhan dunia yang paling penting dan mendesak adalah terciptanya perdamaian dunia  dan  mengenali Tuhan kita … Ini adalah kebutuhan penting saat ini supaya negara-negara menaruh perhatian mereka terhadap kedua hal ini, jika tidak dunia berada di tepi jurang kehancuran, sebuah bencana yang tak terbayangkan … Oleh karena itu untuk menyelamatkan diri dan demi umat manusia, kita perlu mengalihkan perhatian kita kepada Allah, dan mengembangkan hubungan kedekatan kita dengan Tuhan yang Maha hidup. ‘[Al Fazl, 11 April 2014, P11]

Beliau juga mengatakan:

“Di atas itu semua, sangat penting bagi dunia menyadari bahwa mereka telah melupakan Pencipta-Nya, dan perlu untuk mendekatkan diri pada-Nya. Inilah satu-satunya jalan yang dapat membantu mewujudkan perdamaian sejati. Tanpa ini tidak ada jaminan untuk mendapatkan kedamaian.” [Al Fazl International, 5 Desember 2014, hal.15]


Sumber: Teachings of the Holy Qur’an on World Peace – Alislam.org

Penerjemah: Jusmansyah & Khaerani Adnan

 

(Visited 79 times, 1 visits today)