Oleh: Zia H. Shah

Dalam studi evolusi, merupakan hal dasar yang harus dicatat bahwa Darwin telah membuat tiga kontribusi terpisah bagi konsep ini. Dengan kata lain, terdapat tiga aspek berbeda dari karya-karyanya yang terentang selama beberapa dekade kehidupannya dari 1809 sampai 1882. Karena kita tengah berbicara mengenainya, merupakan hal yang sangat penting untuk fokus kepada tiga karyanya ini secara terpisah.

Charles Darwin

Pencapaian utama Darwin adalah bahwa ia telah berhasil meyakinkan dunia sains bahwa evolusi telah terjadi dan hewan-hewan memiliki hubungan yang dekat antara satu sama lain, juga dengan saudara-saudara mereka yang jauh dari tumbuhan. Artikel ini akan menyinggung aspek tersebut.

Karya kedua Darwin adalah bahwa ia telah berhasil mengemukakan bagaimana evolusi terjadi. Ia mengemukakan bahwa seleksi alam adalah mekanisme utama di balik evolusi selama miliaran tahun. Akan tetapi, mungkin terdapat juga beberapa mekanisme tambahan yang berperan, seperti mekanisme-mekanisme genetik dan intraselular. Yang ketiga, Darwin atau setidaknya para neo-Darwinis mengusulkan ketidakikutsertaan kehendak suatu wujud hidup yang mengontrol proses dan hasil evolusi. Diusulkan bahwa evolusi secara keseluruhan merupakan sebuah proses buta yang hanya ditentukan oleh chance (peluang) dan survival of the fittest (kesintasan siapa yang paling kuat). Artikel ini melingkupi aspek pertama dari karya Darwin yang kita setujui secara utuh. Ini adalah sebuah topik yang tetap hangat sampai hari dan masa ini. Sebanyak 45% populasi Amerika Serikat mempercayai bumi muda atau kreasionisme.1 2

Bidang biologi molekular menyediakan bukti yang paling terperinci dan meyakinkan bagi evolusi biologis. Dalam penyingkapannya terhadap sifat alami DNA dan cara kerja organisme pada tingkat enzim dan molekul protein lain, ia telah menampilkan bahwa molekul-molekul ini mengandung informasi tentang hampir semua nenek moyang organisme. Hal ini telah memungkinkannya untuk merekonstruksi kejadian-kejadian evolusioner yang sebelumnya tidak diketahui serta untuk mengkonfirmasi dan menyesuaikan gambaran kejadian-kejadian yang telah diketahui. Presisi, yang dengannya nenek moyang dapat dilacak, seperti paternitas dalam perkara hukum, merupakan salah satu bukti dari biologi molekular yang sangat menarik.

 Analogi Sebuah Pohon

Dalam sebuah buku catatan, di tengah-tengah banyak gambar yang tak-pasti dan membingungkan, Darwin membuat sebuah sketsa sederhana untuk menangkap dengan tepat jalan konseptual teori yang terbentuk dalam pikirannya. Gambar tersebut adalah sebuah pohon bercabang yang lain dari biasanya, ditujukan untuk menyampaikan sejarah genealogis tumbuhan dan hewan: sebuah pohon kehidupan. Sebagai sebuah metafora, hal itu brilian, menyampaikan gagasan esensial bahwa kehidupan berasal dari suatu masa lalu yang samar dan jauh dengan kejadian yang unik lagi spontan. Dari nenek moyang tunggal ini, batang pohon kehidupan itu berdiversifikasi sepanjang waktu melalui percabangan berturut-turut dengan spesies-spesies baru yang terpisah dari yang lama. Akhir dari cabang-cabang tersebut merepresentasikan kepunahan, seperti dinosaurus. Menyadur kata-kata aslinya,

“Afinitas semua makhluk dari satu kelas yang sama terkadang telah direpresentasikan oleh sebuah pohon besar. Aku percaya bahwa kiasan ini sebagian besarnya menyuarakan kebenaran. Ranting yang hijau dan berpucuk mungkin merepresentasikan spesies-spesies yang masih eksis dan ranting-ranting yang dihasilkan pada tahun-tahun sebelumnya mungkin merepresentasikan suksesi panjang dari spesies yang telah punah.”3

Dengan kata lain, ia telah memvisualisasikan sebuah pohon dengan suatu batang yang akan sejalan dengan konsep Tuhan dari orang-orang Yahudi, Kristen Unitarian, dan Islam. Ia tidak mengajukan tiga pohon dan sebuah pohon dengan tiga batang yang masing-masing menampilkan penciptaan Tuhan Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus, sejalan dengan konsep ketuhanan trinitarian!

biologi molekular kreasionisme

Eksistensi suatu batang soliter tadinya hanyalah sebuah dugaan. Darwin tidak menyukai apa yang disebutnya sebagai gagasan ruwet nan berlebihan bahwa kehidupan muncul secara konstan, menciptakan suatu hutan kehidupan yang bercampur aduk di tempat sebuah pohon yang bersendirian. Hari ini, para biologiawan bersikeras bahwa dugaan Darwin pada dasarnya benar: kehidupan di muka bumi diturunkan dari suatu nenek moyang tunggal bersama.

Apa yang membuat mereka sangat yakin? Terdapat beberapa alasan istimewa untuk memercayai suatu nenek moyang tunggal. Sebagai sebuah pendahuluan, setiap organisme yang telah diketahui bersama-sama menggunakan suatu sistem fisik dan kimiawi yang seragam. Jalur-jalur metabolik bagaimana sel tumbuh, apa yang molekul kerjakan dan kapan, bagaimana energi digunakan dan dibebaskan, di mana protein-protein dibuat dan apa yang mereka kerjakan, semuanya pada dasarnya sama secara menyeluruh. Cara suatu sel menyimpan informasi genetik dan mereproduksinya juga umum untuk semua kehidupan. Mungkin bukti yang paling meyakinkan bagi adanya suatu asal-muasal yang seragam adalah bahwa instruksi-instruksi genetik diimplementasikan menggunakan suatu kode universal. Merupakan satu hal yang sangat berat untuk mempercayai bahwa semua fitur spesifik yang kompleks dan besar ini muncul secara terpisah berkali-kali. Lebih tepatnya, mereka merefleksikan sifat-sifat yang telah ada dalam suatu sel nenek moyang universal dan diwariskan oleh keturunannya.

DNA Yang Seragam di Kalangan Kera

DNA manusia dapat diandaikan seperti sebuah deretan huruf yang sangat panjang – kira-kira tiga juta di antaranya – yang terkadang membentuk kata (gen). Proyek Genom Manusia telah memberikan kita pemahaman yang terus meningkat tentang cetak biru manusia dan relasinya dengan kera lain, seperti simpanse dan gorila.

evolusi penciptaan manusia

Kerangka bayi manusia dan simpanse

Matt Ridley menulis dalam bukunya, Genome:

“Jika Anda memilih secara acak salah satu ‘paragraf’ dalam genom simpanse dan membandingkannya dengan paragraf sebandingnya dalam genom manusia, Anda akan mendapati sangat sedikit huruf yang berbeda: rata-rata kurang dari dua dari dua ratus. Kita, hingga 98% perkiraan, adalah simpanse dan mereka dengan tidak kurang percaya diri dari 98% adalah manusia. Jika hal itu tidak melekukkan harga diri anda, anggaplah bahwa simpanse hanyalah 97% gorila dan manusia juga 97% gorila. Dengan kata lain, kita lebih mirip simpanse daripada gorila.”4

Sebuah uniformitas yang luar biasa terjadi di dalam komponen-komponen molekular organisme – dalam pembawaan alami komponen-komponen tersebut juga dalam cara-cara mereka dirakit dan digunakan. Pada semua bakteri, tumbuhan, hewan, dan manusia, DNA mengandung suatu sekuens berbeda dari keempat komponen nukleotida, dan semua protein yang bervariasi disintesis dari kombinasi-kombinasi dan sekuens-sekuens berbeda dari 20 asam amino yang sama meskipun beberapa ratus asam amino lain juga tersedia. Kode genetik yang dengannya informasi yang terkandung dalam DNA sel diteruskan ke protein-protein sebenarnya sama di mana saja. Jalur-jalur metabolik yang serupa – rangkaian-rangkaian dari reaksi-reaksi biokimiawi (lihat metabolisme) – digunakan oleh organisme-organisme yang paling beraneka untuk memproduksi energi dan membuat komponen-komponen sel.

Mengutip kata-kata Encylopedia Britannica versi online:

“Masing-masing dari ribuan gen dan ribuan protein yang terkandung dalam suatu organisme menyediakan sebuah tes independen tentang sejarah evolusi organisme tersebut. Tidak semua tes yang memungkinkan telah dilakukan, tetapi ratusan telah dikerjakan, dan tidak ada satupun yang memberikan bukti yang bertentangan dengan evolusi. Mungkin tidak terdapat gagasan lain dalam bidang sains apapun yang telah diuji dengan panjang lebar dan sepenuhnya disokong seperti asal-muasal evolusioner suatu organisme.”5

Pendeknya:

“Evolusi molekular telah menampilkan semua organisme hidup, dari bakteri sampai manusia, berkerabat lewat nenek moyang bersama.”6

Vitamin C Kita Yang Hilang

Vitamin C atau asam askorbat merupakan sebuah koenzim yang disintesis oleh semua tumbuhan dan hewan, kecuali manusia, kera, dan monyet. Sebagian besar mamalia dapat membuat sendiri vitamin C. Primata adalah sebuah kelompok yang mencakup manusia, kera, monyet, dan kukang. Primata yang berkerabat lebih jauh dari kera dan manusia, yakni kukang, memiliki gen-gen fungsional yang penuh untuk membuat vitamin C. Tampaknya kemampuan itu telah hilang di suatu tempat selama transisi dari kukang ke monyet. Pembuatan vitamin C memiliki beberapa langkah dan memerlukan banyak enzim untuk reaksi-reaksi kimia yang dibutuhkan. Enzim-enzim ini bertempat tinggal di hati. Salah satu dari enzim-enzim ini yang kurang dalam tubuh manusia, kera, dan beberapa primata disebut sebagai gulunolactone oxidase (GLO).

Mengutip kata-kata Prof. Kenneth Miller dalam buku terkininya:

“Kecuali jika ada rencana untuk memompa penjualan buah jeruk, mengapa kita telah didesain tanpa suatu gen yang seharusnya telah dapat membuat kehidupan diet kita menjadi jauh lebih sederhana? Orang-orang yang percaya bahwa genom kita memang telah didesain telah mendengar pertanyaan-pertanyaan ini sebelumnya, dan mereka memiliki jawaban yang sigap: sesuatu dapat benar-benar didesain, dan tetap jauh dari sempurna, seperti sebuah mobil yang buruk atau sebuah komputer yang sangat lelet. Desain, dengan demikian, tidak mengimplikasikan kesempurnaan, dan suatu desain yang buruk tetaplah desain. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa seorang desainer harus membuat kita sempurna secara metabolis. Cukup adil.

Akan tetapi, bagian yang menarik dari cerita ini adalah bahwa kita tidak seutuhnya kehilangan gen GLO itu. Kenyataannya, ia berada di dalam kromosom 8, lokasinya di dalam genom kita persis sama dengan mamalia lain. Masalahnya adalah bahwa salinan gen GLO kita telah mengakumulasi banyak sekali mutasi, dalam bentuk perubahan-perubahan sekuens dasar DNA yang tidak lagi bekerja. Kita telah memasukkan vitamin C ke dalam diet kita karena kita membawa suatu versi cacat dari gen GLO kita. Efeknya, kita semua menderita suatu penyakit genetik, yang hanya dapat diperbaiki dengan memasukkan vitamin C ke dalam diet kita. Apa yang mengikutinya, tentu, merupakan sebuah pertanyaan yang logis. Jika sang desainer menginginkan kita untuk bergantung pada vitamin C, mengapa dia tidak membuang seutuhnya gen GLO itu dari rancangan genom kita? Mengapa bangkainya masih tersisa di sana?”7

Semua manusia dan kera pada hari ini membawa gen yang pecah ini, kesimpulannya tidak terelakkan bahwa manusia, kera, dan primata berkerabat satu sama lain. Ini berarti bahwa nenek moyang bersama yang mula-mula kehilangan kapasitas membuat vitamin C bukanlah seorang manusia, melainkan seekor primata, sesosok nenek moyang yang menurut para penyuluh kreasionisme tidak seharusnya kita miliki. Dan inilah momen pencerahan!

Kesatuan ini menyingkapkan kontinuitas genetik dan nenek moyang bersama semua organisme. Tidak ada jalan rasional lain untuk menghitung uniformitas molekular mereka ketika berbagai struktur alternatif lain mungkin sekali setara. Kode genetik berperan sebagai sebuah contoh. Masing-masing sekuens khusus dari tiga nukleotida dalam DNA inti berlaku sebagai pola untuk produksi asam amino yang seutuhnya sama di dalam semua organisme. Tidak ada keharusan lain selain bahwa itu diperuntukkan bagi suatu bahasa untuk menggunakan suatu kombinasi huruf khusus untuk merepresentasikan suatu objek khusus. Jika ditemukan bahwa sekuens huruf-huruf tertentu, – planet, pohon, dan wanita – digunakan dengan arti-arti yang identik dalam sejumlah buku yang berbeda, seseorang dapat merasa yakin bahwa bahasa-bahasa yang digunakan dalam buku-buku tersebut berasal dari asal yang seragam.

Kromosom Nomor Dua Kita

Mengutip kata-kata Prof. Kenneth Miller dalam bukunya, Only A Theory: Evolution and The Battle of America’s Soul:

“Sejumlah 46 kromosom kita sebenarnya merupakan 23 pasang kromosom (karena kita mewarisi dua set komplit, satu dari ibu dan satu dari ayah), yang berarti bahwa kera besar memiliki 24 pasang kromosom. Jadi, jika kita berbagi suatu nenek-moyang bersama dengan organisme-organisme ini, kita, manusia, niscaya kehilangan satu pasang kromosom tunggal. Mungkinkah satu pasang kromosom tunggal itu hilang dalam satu lintasan yang memberikan kebangkitan untuk kita? Bukan suatu peluang. Kita cukup tahu perihal genetika primata untuk memahami bahwa hilangnya satu pasang kromosom komplit (dan semua gen yang dikandungnya) akan berakibat fatal bagi manusia dan simpanse. Kenyataannya, hanya terdapat satu cara untuk menjelaskan ketidakadaan sepasang kromosom yang terlihat pada spesies kita. Dalam lintasan yang mengarah ke kita, dua kromosom primata secara aksidental telah melebur untuk membentuk satu kromosom tunggal manusia. Keindahan hipotesis ini adalah bahwa itu dapat diuji. Jika salah satu kromosom kita memang diproduksi dengan cara ini, kita seharusnya dapat mengamati genom manusia dan mengidentifikasi suatu kromosom dengan dua paroh, yang secara harfiah tertempel bersama, dari nenek moyang primatanya. Jika kita tidak menemukan kromosom semacam itu, kenenekmoyangan evolusioner bersama yang dipostulasikan bagi spesies kita mungkin saja salah. Jika, di sisi lain, kita menemukan kromosom semacam itu, kita sekali lagi telah menemukan bukti yang mengonfirmasi evolusi. Sekarang, apa yang kita perlukan adalah sebuah cara untuk mengenali peleburan tersebut dan memecahkan ‘masalah kromosom yang hilang tersebut.’”8

Bagian sentral dari kromosom disebut sentromer dan ujungnya disebut telomer. Kromosom manusia nomor dua memang mengandung DNA telomer di tengahnya, pada titik peleburannya, dan ia membawa dua sekuens sentromer dari kromosom simpanse nomor 12 dan 13. Lebih lanjut, gen-gen dalam kromosom manusia nomor dua tersusun dalam suatu penyatuan yang hampir utuh untuk pola gen-gen yang sesuai dalam kedua kromosom simpanse itu. Penyatuan itu amatlah jelas, pada kenyataannya, bahwa para saintis yang bekerja menyoal genom simpanse sekarang telah mengubah penomoran kromosom simpanse nomor 12 dan 13 menjadi 2A dan 2B, untuk menyatukan kromosom manusia dengan kromosom simpanse yang sesuai. Perkara forensik tentang kromosom yang hilang tersebut selesai tanpa sedikitpun keraguan.

Matt Ridley menulis dalam bukunya, Genome, dimana ia mendedikasikan satu bab bagi masing-masing 23 pasang kromosom manusia, ia berkata tentang kromosom kedua:

“Ini sebenarnya lebih mengejutkan bahwa manusia tidak memiliki 24 pasang kromosom. Simpanse memiliki 24 pasang kromosom, demikian juga gorila dan orangutan. Di antara para kera, kita adalah pengecualian. Di bawah mikroskop, perbedaan yang paling kentara dan nyata antara diri kita dan semua kera besar lainnya adalah bahwa kita memiliki kekurangan satu kromosom. Alasannya, hal itu dengan cepat menjadi terlihat, bukanlah bahwa sepasang kromosom kera telah pergi hilang di dalam diri kita, tetapi dua kromosom kera itu telah melebur bersama-sama di dalam diri kita. Kromosom nomor dua, kromosom manusia terbesar kedua, pada kenyataannya terbentuk dari peleburan dua kromosom kera yang berukuran sedang, sebagaimana dapat dilihat dari pola pita hitam pada masing-masing kromosom.”9 Sedikit lebih lanjut pada bab yang sama, ia harus berkata: “Selain dari peleburan kromosom nomor dua, perbedaan-perbedaan yang tampak antara simpanse dan manusia adalah sedikit dan kecil.”10

Gen dan Protein

Mengutip kata-kata Encylopedia Britannica versi online:

“Gen dan protein adalah molekul panjang yang mengandung informasi dalam sekuens komponen-komponennya persis dengan cara yang sama kalimat-kalimat bahasa Inggris mengandung informasi dalam sekuens huruf-huruf dan kata-katanya. Sekuens-sekuens yang membuat gen diteruskan dari orang tua ke anak dan bersifat identik, kecuali untuk perubahan-perubahan sporadis yang dimulai oleh mutasi. Sebagai sebuah ilustrasi, seseorang mungkin berasumsi bahwa dua buah buku tengah diperbandingkan. Kedua buku tersebut adalah sepanjang 200 halaman dan mengandung jumlah bab yang sama. Pemeriksaan lebih dekat menyingkapkan bahwa dua buku itu identik halaman per halaman dan kata per kata, kecuali bahwa satu kata sporadis – katakanlah, satu dari 100 – berbeda. Dua buku itu seharusnya tidak dapat ditulis secara terpisah; salah satunya telah disalin dari yang lain, atau keduanya telah disalin, baik secara langsung maupun tidak, dari satu buku asal yang sama. Demikian juga, jika masing-masing komponen nukleotida direpresentasikan oleh satu huruf, sekuens nukleotida yang komplit di dalam DNA suatu organisme yang lebih tinggi, akan menuntut ratusan buku berhalaman ratusan, dengan ribuan huruf pada masing-masing halaman. Ketika ‘halaman-halaman’ tersebut (atau sekuens-sekuens nukleotida) dalam ‘buku-buku’ ini (organisme-organisme) diperiksa satu per satu, kesesuaian dalam ‘huruf-huruf’ (nukleotida-nukleotida) memberikan bukti tentang asal-muasal bersama yang tak-mungkin salah.”11

Sitokrom C

Organisme-organisme yang berbeda memiliki proporsi gen yang besar secara bersama, khususnya gen-gen yang mengode protein pada inti sentral dari mesin kimia sel. Sebagai contoh, kebanyakan organisme, memiliki sebuah gen yang mengode protein penghasil energi sitokrom C, dan lebih lanjut, gen ini memiliki suatu sekuens nukleotida yang serupa di dalam semua organisme (yakni, sekuens tersebut dilestarikan). Akan tetapi, sekuens-sekuens sitokrom di dalam organisme-organisme yang berbeda menampilkan perbedaan-perbedaan, dan kunci filogeni adalah bahwa perbedaan-perbedaan tersebut secara proporsional lebih sedikit antara organisme-organisme yang berkerabat dekat. Argumen itu, menyoal kemiripan dalam sekuens nukleotida-nukleotida di dalam DNA (dan, dengan demikian, sekuens asam amino-asam amino di dalam protein), mengatakan bahwa buku-buku dengan teks yang sangat mirip tidak dapat berasal dari asal-muasal yang terpisah.

kreasionisme

Bukti evolusi yang disingkapkan oleh biologi molekuler maju lebih jauh. Derajat keserupaan dalam sekuens nukleotida dan asam amino dapat dikuantifikasikan dengan tepat. Pada level selular enzim, terdapat sejumlah cerita menarik. Sebuah contoh cemerlang adalah enzim sitokrom yang terlibat dalam respirasi sel. Sekuens asam amino dalam protein ini telah diketahui untuk banyak organisme, dari bakteri dan ragi sampai serangga dan manusia; di dalam hewan, sitokrom c terdiri atas 104 asam amino. Di dalam manusia dan simpanse, molekul protein itu disebut sebagai sitokrom c, yang memerankan fungsi vital dalam respirasi di dalam sel. Ketika sekuens asam amino manusia dan monyet resus diperbandingkan, mereka didapati berbeda pada posisi 66 (isoleusin pada manusia, threonin pada monyet resus), tetapi identik pada 103 posisi yang lain.

Ketika manusia diperbandingkan dengan kuda, didapati perbedaan 12 asam amino; tetapi ketika kuda diperbandingkan dengan monyet resus, hanya terdapat perbedaan 11 asam amino. Bahkan, tanpa mengetahui sesuatu yang lain tentang sejarah evolusi manusia, seseorang dapat menyimpulkan bahwa garis keturunan manusia dan monyet resus berdivergensi dari satu sama lain pada waktu yang lebih terkini daripada mereka berdivergensi dari garis keturunan kuda. Derajat keserupaan mencerminkan keterkinian nenek moyang bersama. Dengan demikian, kesudahan dari anatomi komparatif dan disiplin-disiplin ilmu lain menyangkut sejarah evolusi dapat diuji dalam studi-studi molekular tentang DNA dan protein dengan mengeksaminasi sekuens nukleotida dan asam amino mereka.

Kesimpulan

Mengutip kata-kata Francis S. Collins, Kepala Proyek Genom Manusia:

“Tidak ada satupun biologiawan-yang-serius meragukan teori evolusi untuk menjelaskan kompleksitas mengagumkan dan keanekaragaman kehidupan. Kenyataannya, kekerabatan semua spesies melalui mekanisme evolusi merupakan suatu pondasi besar untuk memahami keseluruhan biologi yang sulit untuk dibayangkan bagaimana seseorang akan mempelajari kehidupan tanpa itu. Akan tetapi, area penyelidikan saintifik apa yang telah menimbulkan pertentangan dengan perspektif-perspektif keagamaan yang lebih besar daripada pandangan evolusioner Darwin? Dari sirkus semisal ‘percobaan monyet’ Scopes tepat pada 1925 terus sampai perdebatan hari ini di Amerika Serikat tentang pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah, pertarungan ini tidak menampilkan satupun tanda untuk berhenti.”12

Sirkus semisal percobaan Scopes dapat disaksikan dalam sebuah film hitam-putih Inherit The Wind. Mereka yang menyukai film ini, yang menampilkan Scopes atau percobaan monyet pada 1925, tentang kreasionisme, mungkin siap untuk sekuelnya. Ada sebuah pertarungan legal terkini yang dimainkan oleh Intelligent Design, di Desa Dover, Pennsylvania, pada 2005. Sebuah film PBS yang hebat dan terperinci tentang percobaan ini dapat dilihat secara online.13 Pengadilan Federal dalam kasus ini mengatur bahwa Intelligent Design tidak secara jelas berbeda dari ‘kreasionisme’ dan, dengan demikian, harus dikeluarkan dari kurikulum di sekolah-sekolah publik berdasarkan pada keputusan-keputusan sebelumnya.14 Intelligent Design berusaha untuk mendefinisi ulang sains secara fundamental agar dapat menerima penjelasan-penjelasan supernatural.15

Darwin sendiri secara mendalam gelisah akan efek teorinya terhadap kepercayaan keagamaan meskipun dalam The Origin of Species ia menanggung kesakitan untuk menunjukkan sebuah interpretasi harmonis yang memungkinkan,

“Saya tidak melihat satupun alasan yang baik mengapa pandangan yang diberikan dalam volume ini harus mengguncangkan perasaan-perasaan keagamaan seseorang. … Seorang penulis tersohor dan cakap-agama telah menulis kepadaku bahwa ia ‘telah secara bertahap belajar melihat bahwa beriman bahwa Dia membutuhkan suatu kerja penciptaan yang cepat untuk menyuplai kekosongan yang disebabkan oleh kerja hukum-hukum-Nya sama mulianya dengan beriman kepada suatu konsepsi ketuhanan bahwa Dia telah menciptakan beberapa bentuk asal yang mampu berkembang sendiri menjadi bentuk-bentuk yang lain dan diperlukan.’”16

Kepercayaan pribadi Darwin tetap ambigu dan tampak bervariasi sepanjang tahun-tahun terakhir kehidupannya. Suatu kali ia berkata, “Agnostik akan menjadi deskripsi yang paling benar tentang keadaan pikiranku.” Pada waktu lain, ia menulis bahwa ia merasa amat tertantang oleh “Kesulitan ekstrem, atau bahkan ketidakmungkinan memahami alam semesta yang besar sekali dan hebat ini, termasuk manusia dengan kapasitasnya untuk melihat jauh ke belakang dan jauh ke masa depan, sebagai hasil dari peluang atau kemestian buta. Ketika, dengan demikian, bercermin, aku merasa tertarik untuk melihat suatu Sebab Pertama yang memiliki pikiran cerdas yang sampai derajat tertentu analog dengan pikiran manusia; dan aku pantas disebut sebagai seorang teis.”17

Bahkan, Darwin menyimpulkan The Origin of Species dengan kalimat berikut, “Terdapat suatu kemegahan dalam pandangan hidup ini, dengan berbagai kekuatannya, yang dengan semula telah diembuskan oleh Sang Pencipta ke dalam beberapa bentuk atau ke dalam satu bentuk; dan itu, selagi planet ini berputar menurut hukum gravitasi yang tetap, dari sebuah awal yang sangat sederhana, bentuk-bentuk paling cantik dan paling hebat yang tak-pernah berakhir telah dan tengah berevolusi.”18

Mengutip kata-kata Francis S. Collins, Kepala Proyek Genom Manusia:

“Banyak orang yang telah mempertimbangkan semua bukti saintifik dan spiritual masih melihat tangan Tuhan yang berkreasi dan membimbing bekerja. Bagi seorang yang beriman, tidak ada secarikpun kekecewaan atau ketidakpuasan dalam penemuan-penemuan tentang asal-muasal kehidupan yang sangat bertentangan! Betapa mengagumkan dan rumit kehidupan berubah! Betapa memuaskan secara mendalam elegansi digital dari DNA! Betapa menarik secara estetis dan agung secara artistik komponen-komponen benda hidup, dari ribosom yang mentranslasi DNA menjadi protein sampai ke metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, sampai ke bulu burung merak yang menakjubkan yang menarik pasangannya! Evolusi, sebagai suatu mekanisme, dapat dan haruslah benar. Akan tetapi, ia tidak berkata apa-apa tentang asal-muasal pengarangnya. Bagi mereka yang beriman kepada Tuhan, tersedia banyak alasan sekarang untuk lebih terkagum, tidak sebaliknya.”19

Catatan Kaki

  1. Ian G Barbour. When science meets religion. Haper Collins Publisher, 2000. Page 1.
  2. US data from Gallup poll, Nov, 1991, see US News and World Report, 23 Dec, 1991, p 59.
  3. Charles Darwin, On the Origin of Species, 1909. Page 143.
  4. Matt Ridley. Genome: The autobiography of a species in 23 chapters. Harper – Perennial, 2006. Page 28.
  5. “Evolution” Encyclopædia Britannica. 2008. Encyclopædia Britannica Online. 03 Sep. 2008 <http://www.britannica.com/EBchecked/topic/197367/evolution>.
  6. “Evolution.” Encyclopædia Britannica. 2008. Encyclopædia Britannica Online. 03 Sep. 2008 < http://www.britannica.com/EBchecked/topic/197367/evolution>.
  7. Prof. Kenneth Miller. Only a Theory: Evolution and the battle for America’s soul. Viking Penguin, 2008. Pages 97-98.
  8. Prof. Kenneth Miller. Only a Theory: Evolution and the battle for America’s soul. Viking Penguin, 2008. Pages 104-105.
  9. Matt Ridley. Genome: The autobiography of a species in 23 chapters. Harper – Perennial, 2006. Page 24.
  10. Matt Ridley. Genome: The autobiography of a species in 23 chapters. Harper – Perennial, 2006. Page 28.
  11. “Evolution” Encyclopædia Britannica. 2008. Encyclopædia Britannica Online. 03 Sep. 2008 < http://www.britannica.com/EBchecked/topic/197367/evolution>.
  12. Francis S Collins. The language of God. Free Press 2006. Page 99.
  13. http://www.pbs.org/wgbh/nova/programs/
  14. http://www.britannica.com/eb/article-9432671/intelligent-design
  15. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligent_design
  16. Charles Darwin. On origin of species. Harvard Classics edition., edited by Charles W Elliot. Full view available in Google books. Page 520.
  17. Charles Darwin. On the Origin of Species by Means of Natural Selection – Edited by Joseph Carroll – Science – 2003. Page 433.
  18. Charles Darwin. On origin of species. Harvard Classics edition., edited by Charles W Elliot. Full view available in Google books. Page 528-529.
  19. Francis S Collins. The language of God. Free Press 2006. Page 106-107.

Terjemah: Iffat Aulia Rahman

Sumber: Alislam,org

(Visited 96 times, 1 visits today)