Cara Bangun Shalat Tahajud

 

Bagaimana supaya dapat bangun tengah malam untuk shalat tahajud? Saya pertama-tama akan menyebutkan cara yang rendah, walaupun di dalam cara itu ada juga kerugiannya, tetapi dapat juga ada faedahnya. Yaitu, dewasa ini jam-jam alarm dapat kita peroleh. Dengan perantaraan jam alarm itu kita dapat bangun. Akan tetapi, dari pengalaman ternyata cara ini bukan cara yang terlampau berguna. Sebabnya ialah, kita akan bergantung padanya untuk dapat bangun pada waktunya. Karena itu, pikiran yang seyogianya terpusat ke arah niatan suci untuk bangun menjadi tidak ada pada kita.

Seandainya kita berkeinginan untuk bangun dan dalam keinginan itu mata kita terlelap tidur, maka seakan-akan kita terus sepanjang malam beribadah. Selain itu kadang-kadang kalau kita merasa enggan untuk bangun, maka kita matikan saja bunyi alarm yang terus berdering. Akan tetapi, apabila kita tidur dengan niat dan iradah, maka kita akan bangun pada waktunya.

Kemudian, mereka yang bangun dengan perantaraan jam, mereka mengeluh bahwa dalam waktu Shalat mereka mengantuk. Sebabnya ialah karena mereka bangun karena jam, bukan karena keinginan untuk bangun sendiri. Oleh karena itu, cara ini tidak begitu berguna.

Pada hemat saya ada tiga belas cara yang dengan pertolongan cara itu kita bangun. Kalau seseorang mempergunakan cara-cara itu, maka saya yakin bahwa, dengan karunia Allah, niscaya ia akan berhasil. Semua hal yang saya akan terangkan nanti akan berdasar pada keterangan yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadits. Bukan keterangan saya sendiri, melainkan ini merupakan karunia yang dilimpahkan kepada saya.

Cara Bangun Shalat Tahajud Yang Pertama

Cara yang pertama adalah Allah Ta’ala telah meletakkan di alam ini kaidah-kaidah bahwa saat suatu benda tercipta, dan di waktu lain bila untuk kedua kalinya ia mncul kembali maka di dalam benda itu kemudian timbul gejolak. Contoh-contohnya terdapat banyak sekali.

Umpamanya, penyakit yang diidap oleh seseorang pada masa ia kecil, penyakit itu terulang kembali datang ketika ia sudah tua. Hal demikian terjadi pada dunia tumbuhan dan binatang. Berdasarkan kaidah ini, kita dapat memperoleh pertolongan untuk bangun malam dengan cara demikian: seusai Shalat isya kita hendaknya membaca zikir beberapa saat.

Cara yang Kedua

Cara yang kedua ialah setelah Shalat isya jangan berbicara dengan siapa pun. Rasulullah sendiri pun berhenti berbicara sesudah selesai Shalat isya. Seolah-olah hal demikian menunjukkan bahwa ada kalanya beliau biasa bercakap-cakap; akan tetapi seringnya beliau melarang bercakap-cakap. Penyebabnya ialah, bilamana orang sesudah isya mulai mengobrol maka orang akan lama jaga dan waktu subuh akan bangun terlambat. Sebab yang kedua ialah seandainya bukan membicarakan masalah agama maka perhatiannya akan berpaling dari agama.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda sesudah Shalat isya hendaklah berangkat tidur tanpa bercakap-cakap lebih dahulu agar tertidur dalam keadaan pikiran tertuang dalam urusan agama dan mata terbuka waktu subuh. Tidaklah terlarang untuk mengerjakan urusan kantor atau pekerjaan penting lainnya. Akan tetapi, yang penting adalah harus membaca zikir terlebih dahulu sebelum tidur. Inilah cara yang kedua.

Cara yang Ketiga

Cara yang ketiga ialah, jika seseorang selesai melakukan Shalat isya dan pergi tidur, biarpun ia masih mempunyai wudhu, ia mengambil wudhu lagi sebelum membaringkan diri di atas tempat tidur, maka perbuatan itu akan berkesan pada hatinya. Dengan kesan itu diciptakan semacam rasa riang yang istimewa. Dan, jika seseorang tidur dalam keadaan riang disebabkan oleh mengambil air wudhu yang baru, maka pada ia terjaga dan tidur pun pasti akan berada dalam perasaan riang.

Pada umumnya kita menyaksikan bahwa apabila seseorang tidur dengan menangis maka ia terbangun dengan berteriak. Tetapi, apabila ia tidur dengan tertawa, maka saat itu bangun pun wajahnya tampak cerah. Begitu pula halnya barangsiapa yang tidur dengan perasaan gembira karena lebih dahulu mengambil air wudhu, maka saat ia bangun pun akan merasa gembira. Demikianlah ia mendapat bantuan baru untuk bangun.

Cara yang Keempat

Cara yang keempat ialah, sebelum tidur, berzikirlah walaupun sebentar. Dampaknya pasti akan bangun lagi waktu malam untuk berzikir (tahajud, peny.). Itulah sebabnya maka Rasulullah selalu membaca zikir sebelum tidur. Membaca Ayat Kursi (Ayat 256 dari Surah Al-Baqarah), Surah Al-Ikhlash, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Naas*) masing-masing satu kali, kemudian, meniup kedua telapak tangan lalu mengusapkan ke seluruh badan dan membalikkan badan ke sebelah kanan dan membaca kalimat doa ini:

اللّهُمَّ اَسْلَمْتُ نَفْسِى اِلَيْكَ وَ وَجَّهْتُ وَجْهِىْ اِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ اَمْرِى اِلَيْكَ رَغْبَةَ وَرَهْبَةَ اِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَأَ اِلاَّ اِلَيْكَ اَمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى اَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ (رَوَاه الترمذى و البخارى)

“Ya Allah, hamba menyerahkan diri hamba kepada-Mu, dan menghadapkan wajah hamba kepada-Mu, dan mempercayakan urusan hamba kepada-Mu semata-mata baik oleh suka maupun takut kepada-Mu. Tidak ada tempat perlindungan dan keselamatan selain kepada-Mu. Hamba beriman kepada Kitab- Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” (HR. Tirmidzi dan Bukhari)

Seperti itulah hendaknya dilakukan oleh setiap orang mukmin. Kemudian hendaklah sambil berbaring di atas tempat membaca zikir di dalam hati seperti: Subhanallahi wa bihamdihi atau Subhanallahil ‘aziim atau zikir apa saja sampai, di dalam keadaan demikian, terlelap tidur.

Sebab, biasanya orang melewatkan malam sesuai dengan suasana perasaan dan pikirannya sebelum tidur. Oleh karena itu, barangsiapa yang berangkat tidur diantar oleh pembacaan tasbih dan tahmid ia seakan-akan sepanjang malam bertasbih dan tahmid.

Cobalah perhatikan para wanita atau anak-anak, bila mereka tertidur dalam keadaan sedih dan susah, maka disaat tidur bila mereka membalikkan badan mereka mengeluarkan suara mengharukan atau menyedihkan. Sebab, kesedihan pada waktu mereka berangkat tidur memberikan dampak kepada mereka. Akan tetapi, apabila seseorang membaca tasbih secara berkesinambungan lalu tertidur, maka ketika ia membalikkan badan dari mulutnya akan keluar tasbih. Itulah sebabnya maka Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’anul Karim bahwa orang-orang mukmin adalah mereka yang:

“Dan, sisi mereka terangkat dari tempat tidur mereka; dan mereka berseru kepada Tuhan mereka dengan ketakutan dan harapan, dan mereka membelanjakan dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.” (As-Sajdah: 17)

Tampak lahirnya hal ini tidak benar, sebab Rasulullah juga biasa tidur dan semua mukmin lainnya pun tidur. Akan tetapi, pada pokoknya ialah, oleh karena beliau tertidur setelah beliau membaca tasbih terus-menerus. Karenanya tidur beliau bukanlah tidur melainkan adalah bertasbih pula. Dan, kendatipun beliau tidur namun pada hakikatnya beliau tidak tidur. Rusuk beliau tetap terangkat dari tempat tidur dan beliau sibuk dalam mengingat kepada Tuhan.

Cara yang Kelima

Cara yang kelima ialah, saat tidur haruslah membulatkan niat bahwa pasti akan bangun untuk melakukan Shalat tahajud. Allah Ta’ala telah menanam kekuatan di dalam batin manusia yaitu: manakala ia memberi suatu perintah kepada dirinya sendiri, maka dirinya akan tunduk kepada perintah itu. Dan, ini merupakan sesuatu yang segenap orang berakal mengenalnya.

Jadi, apabila anda membulatkan niat pada waktu mau tidur bahwa anda pasti akan bangun pada waktu hendak bertahajud. Dalam berbuat seperti itu, walaupun Anda tidur, namun ruh Anda akan tetap terjaga (siap-siaga) karena mendapat perintah untuk bangun pada waktu tertentu dan tepat pada waktunya secara otomatis mata Anda akan terbuka.

Cara yang Keenam

Cara yang keenam ini diperuntukkan hanya untuk mereka yang keimanannya tampaknya cukup teguh, yaitu ia tidak menyertakan shalat witir pada Shalat isyanya, melainkan ia mengerjakannya pada waktu Shalat tahajud. Sudah biasa terjadi bahwa orang mengerjakan ibadah yang fardhu secara khusus, tetapi malas mengerjakan ibadah yang nafal.

Jadi, bila akan menggabungkan ibadah wajib dengan ibadah-ibadah nafal maka ruhnya tidak akan merasa tenteram sebelum ibadah itu dikerjakan. Sebagai akibatnya pasti bahwa dirinya tidak akan menjadi malas.

Akan tetapi, seandainya witir telah dikerjakan dan mata pun terbuka pada waktu tiba untuk Shalat tahajud, maka dirinya berkata bahwa witir telah dikerjakan, kalaupun Shalat nafal tidak dikerjakan maka tidak mengapa. Namun, jika timbul pikiran bahwa Shalat witir pun akan dikerjakan maka sudah pasti ia akan bangun dan bila ia bangun ia akan mengerjakan Shalat nafal juga.

Akan tetapi, sebagaimana sebelumnya telah saya katakan, untuk itu ada syaratnya bahwa iman harus kuat. Seandainya iman kuat maka untuk witir ia akan bangun. Kalau tidak ia akan luput dan melakukan Shalat witir juga.

Cara yang Ketujuh

Cara yang ketujuh juga adalah untuk orang-orang yang kerohaniannya sangat maju, yaitu selepas Shalat isya mulailah mengerjakan Shalat nafal dan sekian lamanya sehingga datang kantuk selagi shalat dan begitu berat kantuknya sehingga tak tertahan lagi. Tidurlah pada waktu itu. Kendatipun demikian masih banyak waktu tersedia untuk tidur, akan tetapi pada waktu dini hari ia akan bangun. Ini merupakan senam rohani.

Cara yang Kedelapan

Cara yang kedelapan ialah, apa yang menjadi kebiasaan di kalangan para sufi kita, saya rasakan cara itu tidak perlu. Akan tetapi, faedahnya memang ada. Cara itu ialah, di dalam hari-hari ketika perasaan kantuk melanda dan mata tidak dapat terbuka (bangun) pada waktunya, di dalam hari-hari itu hindarilah tidur di atas alas tidur yang empuk.

Cara yang Kesembilan

Beberapa jam sebelum tidur makan dahulu, yakni, sebelum Shalat maghrib atau segera sesudah Shalat maghrib. Acap kali keadaan adalah demikian, ruh manusia menjadi sigap tetapi membuat jasmani menjadi malas. Jasmani merupakan satu belenggu yang mengikat ruh. Jika belenggu ini semakin memberat, maka ruh pun semakin tertekan. Oleh karena itu, pada waktu tidur hendaknya perut kita jangan terisi penuh; sebab, dampaknya sangat terasa pada hati dan menyebabkan manusia jadi malas.

Cara yang Kesepuluh

Kalau kita tidur malam hari, hendaklah jangan tidur dalam keadaan junub atau kotor. Pasalnya malaikat erat kaitannya dengan kebersihan. Ia tidak menghampiri bahkan menjauhi orang yang kotor.

Makanya ketika suatu makanan yang berbau tidak sedap dihidangkan kepada Rasulullah, beliau bersabda kepada sahabat, “Makanlah oleh engkau. Aku tidak akan memakannya.” Sahabat tersebut berkata, “Kami pun tidak akan memakannya.” Beliau pun bersabda lagi, “Makanlah! Malaikat-malaikat biasa bercakap-cakap denganku, karena itulah aku tidak suka makan itu. Sebab, mereka membenci benda-benda seperti itu.” Jadi, malaikat sangat tidak menyukai benda-benda yang kotor.

Hadhrat Khalifatul Masih I ra berceritera bahwa beliau pada suatu ketika beliau bersantap dan beliau tidur tanpa lebih dahulu membasuh tangan. Lalu beliau melihat rukya, kakak beliau telah datang dan hendak memberikan sebuah Kitab Suci Al-Qur’an. Akan tetapi ketika tangan hendak meraih Kitab itu, berkatalah kakak beliau, “Jangan menyentuh, tangan engkau tak bersih.” Jadi ternyata bahwa kebersihan badan sangat berpengaruh kepada hati. Malaikat datang membangunkan orang yang tidur dalam keadaan bersih. Akan tetapi, bila menjauhi keadaan bersih, malaikat tidak akan mau datang. Inilah cara yang berkenaan dengan kebersihan badan.

Cara yang Kesebelas

Hendaklah tempat tidur berada dalam keadaan bersih. Banyak orang tidak mengindahkan hal ini. Tetapi, hendaknya diingat bahwa tempat tidur bersih ada kaitan khusus dengan kerohanian. Oleh karena itu, hendaknya memperhatikan hal ini secara istimewa.

Cara yang Keduabelas

Mempraktikkan cara ini dapat mendatangkan kerugian kepada orang awam, tetapi untuk orang-orang tertentu cara ini tidak merugikan. Dan caranya ialah suami-istri jangan tidur satu ranjang.

Rasulullah tidur bersama, tetapi kedudukan beliau sangat tinggi, mulia, dan agung. Sedikit pun tidak ada pengaruhnya atas beliau kalau beliau melakukan demikian. Akan tetapi orang lain hendaknya berhati-hati. ltulah pasalnya bahwa setiap dorongan syahwat jasmani menghentikan laju perkembangan rohani, menurut kadar pengaruhnya. Itulah sebabnya maka syariat Islam mengatakan bahwa semakin besar dorongan hawa nafsu akan semakin besar kerugian akan sampai kepada kerohanian.

Jadi, barangsiapa yang dapat mengendalikan nafsunya, apabila ia tidur bersama-sama istrinya maka tidak ada halangan baginya. Akan tetapi, orang-orang awam hendaknya menjauhi hal ini dan orang-orang yang tidak dapat dengan sepenuhnya mengendalikan hawa nafsunya, hendaklah jangan tidur bersama. Sebab, kalau mereka melakukan seperti itu, mereka akan terus-menerus diganggu oleh hawa nafsunya dan sering kali timbul nafsu ingin bersenggama atau bercumbu. Dengan demikian akan mendatangkan pengaruh buruk kepada kerohanian dan menjadi malas untuk bangun.

Cara yang Ketigabelas

Cara yang ketigabelas ini cara yang demikian tingginya sehingga bukan saja membantu serta menolong untuk bangun tahajud bahkan dengan mengamalkan cara ini orang dapat terhindar dari keburukan lainnya. Cara itu ialah sebelum tidur hendaknya memperhatikan apakah di dalam hati kita ada atau tidak ada perasaan benci atau dengki terhadap seseorang? Jika ada maka hendaklah perasaan itu diusir dari hati kita. Akibatnya ialah karena jiwa bersih maka kita akan mendapat taufik untuk bangun melakukan Shalat tahajud.

Walaupun pikiran semacam itu menguasai diri kita, akan tetapi sebelum tidur hendaklah kita harus mengusir pikiran itu dan sama sekali mengosongkan pikiran itu dari hati kita. Dalam hal ini apa kerugiannya kalau pikiran serupa itu dianggap berfaedah ditilik dari segi materi. Katakanlah kepada hati bahwa hendaklah ingat akan siang hari, malam hari waktu tidur tidak akan bertengkar dengan siapa pun karena pikiran semacam itu harus disimpan di dalam hati.

Pertama adalah apabila sekali pikiran buruk kepada seseorang dibuang dari hati maka pikiran itu kemudian tidak akan muncul kembali.

Kedua, dengan menahan pikiran yang merugikan semacam itu orang akan terpelihara dari pada kerugian.

Ini merupakan kenyataan yang sudah terbukti kebenarannya bahwa suatu benda sudah sekian lama sekali tersimpan pada orang lain, sekian besarnya pula pengaruhnya terkesan pada dirinya. Bila sebuah spon setelah diisi dengan air lalu dengan cepat digosokkan atas suatu benda, niscaya benda itu pasti akan basah sedikit. Akan tetapi, apabila lama terletak di atas benda itu, akan membasahi benda itu lebih basah lagi. Demikian pula halnya pikiran-pikiran yang lama tersimpan, pikiran-pikiran itu menjadi lebih-lebih mengendap di dalam hatinya.

Pada waktu tidur ruhnya sepanjang malam menayangkan kembali tayangan pikiran-pikiran yang tersimpan di dalam hatinya. Jika ada pikiran yang demikian pada waktu siang hari maka kerugian tidak akan seberapa seperti halnya pada waktu malam hari. Sebab, pada waktu siang hari, karena disibukkan oleh kegiatan-kegiatan lainnya, pikiran-pikiran itu terlupa. Akan tetapi, pada waktu malam pikiran-pikiran itu akan datang. Jadi, kalau terdapat pikiran buruk pada saat tidur, maka hendaklah pikiran itu dikeluarkan supaya pikiran yang seperti itu tidak masuk ke dalam hati. Kalau sudah begitu nantinya akan sangat sukar mengeluarkannya. Jika, tanpa terduga, jiwa melayang pada malam hari, maka sama sekali tidak akan mendapat kesempatan bertobat dari pikiran buruk ini. Karena itu, hendaklah memperingatkan diri kita akan hal tersebut. Sekali pikiran itu keluar, kita akan memperoleh keselamatan.

Pendek kata, hendaklah pikiran-pikiran buruk jangan dibiarkan tinggal di dalam diri kita. Kalau kita tidur dengan terlebih dahulu membersihkan hati kita, maka kita akan mendapat taufik untuk bangun pada waktu akan melakukan Shalat tahajud.


Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Dzikir Ilahi, Neratja Press, Jakarta, 2013, hal 51-61

 

(Visited 100 times, 1 visits today)