Pencegahan Degradasi Moral Menurut Ajaran Islam

Nasir Mahmood Malik, Kanada

 

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak.  Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran. (Q.S 16:91)

 

Telah menjadi kesepakatan umum bahwa untuk melindungi masyarakat dari serangan penyakit yang berbahaya, para pemimpin yang bertanggung jawab serta memiliki pengetahuan yang mumpuni memperingatkan masyarakat tentang potensi riskan dari penyakit tersebut dan memberi arahan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Namun, karena pengetahuan manusia tidaklah sempurna dan berdasar pada pengalaman yang terbatas, peringatan-peringatan serta arahan semacam itu tidaklah lengkap dan tidak pula bersifat antisipasi. Namun demikian, mereka yang mengambil manfaat dari peringatan serta nasihat semacam itu secara relatif aman serta terhindar dari dampak penyakit tersebut.

Degragasi moral adalah sesuatu yang lebih buruk bila dibandingkan dengan suatu penyakit yang komplek dan serius yang memiliki dampak jangka panjang yang sangat merusak. Degradasi moral merujuk kepada suatu proses penurunan dari tingkat moral yang lebih tinggi kepada tingkat yang lebih rendah dan ia dipandang sebagai pembuka jalan atau juga beriringan dengan kemerosotan kualitas hidup serta kemerosotan masyarakat dan bangsa. Ia telah menghancurkan banyak individu, keluarga, dinasti dan negara-negara dari dalam. Ia muncul perlahan-lahan dan nampak seakan pilihan-pilihan yang tak berbahaya bagi sebagian individu namun kemudian ia menyebar laksana epidemi yang menjangkiti masyarakat luas.

Degradasi atau kemunduran akhlak dimulai ketika nilai-nilai moral rohaniah, yang dari waktu ke waktu terbukti sangat bermanfaat, dicampakkan demi dorongan nafsu yang sia-sia. Sebuah studi dari sejarah manusia menunjukkan bahwa kemerosotan moral dimulai ketika telah ada kemakmuran. Pada masa awal Amerika, kencenderungan menjauhnya orang-orang dari agama dimasa kemakmuran telah diamati oleh seorang pendeta puritan Cotton Mather (1663-1728) yang menyatakan: “Agama melahirkan kemakmuran, dan sang puteri memangsa ibunya sendiri.

Masyarakat sekuler, boleh jadi atas nama kebebasan berpendapat, enggan untuk menyalahkan atau mencegah meluasnya proses degradasi moral; dan kalaupun mereka mencobanya mereka tak mampu, karena keterbatasan pengetahuan manusia, pemikiran dan kebijaksanaannya. Masyarakat semacam itu lebih sibuk mengejar gejala-gejalanya, mengobati akibat-akibatnya daripada mengatasi akar penyebabnya. Di zaman sekarang ini, contoh fenomena tersebut begitu banyak; seperti hilangnya rasa malu, perzinahan, kumpul kebo, kehamilan diluar nikah, minuman keras, obat-obatan terlarang, pornografi, homoseksualitas, korupsi keuangan, politik dll.

Bercermin pada kondisi manusia saat ini, Almasih di zaman ini, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, menulis:

“Kemajuan materi yang luar biasa pada masa sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan pengimbangnya dengan proses penurunan rohaninya yang menyedihkan, sampai pada taraf dimana jiwa manusia telah kehilangan kemampuan untuk mengenali kebenaran yang jelas. Hal ini terlihat dari pengamatan yang cermat terhadap umat manusia bahwa sebuah kekuatan tersembunyi yang maha dahsyat telah menariknya ke taraf rendah, dan manusia dengan begitu cepat terseret ke dalam lubang yang disebut Asfalus Safiliin (terendah dari yang paling rendah). Perubahan yang paling nyata adalah terjadi pada kecerdasan manusia dimana mereka telah sampai pada taraf mengagumi dan memuja benda-benda yang menjijikkan dan memuakkan dalam pandangan rohaniah. Kebenaran hakiki telah menjadi bahan tertawaan dan diperolokkan, penyerahan diri kepada Tuhan telah dipandang sebagai sesuatu yang absurd. (Bagimana Terbebas dari Dosa, MGA)

Berbeda dengan masyarakat sekuler, masyarakat religius merujuk kepada kitab suci dan sunnah dalam rangka mencegah degradasi moral. Akan tetapi, semua agama lain tidak bersuara atau tidak memberikan solusi yang memadai terhadap masalah ini, kecuali agama Islam. Tidak ada agama lain yang menyatakan diri sebagai agama yang lengkap dan universal, kecuali Islam. Hanya Islam saja yang menyatakan dapat memberikan tuntunan yang sempurna bagi segala segi kebutuhan manusia: Fisik, moral dan spiritual. Hanya Islam yang membahas akar penyebab kemorosotan moral secara mendalam dan menyediakan obat mujarab untuk orang-orang yang beriman guna menyembuhkan penyakit yang fatal ini ketika Islam menyatakan:

Dan Kami turunkan Al-Qu’ran secara berangsur-angsur suatu yang merupakan menyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman… (17: 83)

Dalam beberapa menit kedepan, pertama saya ingin memberikan gambaran tentang bagaimana solusi yang ditawarkan Islam untuk mencegah degradasi moral, kemudian saya akan menyajikan suatu kerangka yang spesifik dimana filsafat dan ajaran Islam dapat diterapkan untuk mencegah degradasi moral, dan terakhir saya akan berikan beberapa tips Islami yang sederhana yang dapat kita gunakan sehari-hari demi menyelamatkan diri kita sendiri dan juga orang lain dari degradasi moral.

Gambaran Umum

Islam mencegah kemerosotan moral dengan cara berikut:

  1. Menjelaskan tentang sifat manusia (yaitu kekuatan dan kelemahannya, potensinya untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk berbuat jahat)
  2. Membedakan mana yang benar dan mana yang salah
  3. Memberi peringatan tentang risiko dan bahaya dari degradasi moral
  4. Memberikan tuntutan lengkap (apa yang boleh dan tidak) untuk menghindari risiko tersebut
  5. Mengemukakan Rasulullah saw sebagai teladan kesempurnaan akhlak. “Sesungguhnya kalian dapati dalam diri rasulullah saw teladan yang sempurna… (33:22)
  6. Menghimbau orang-orang yang bertabiat baik untuk mencegah degradasi moral dengan cinta, kebijaksanaan dan belas kasih: “Dan hendaklah ada di antaramu segolongan yang mengajak manusia kepada kebajikan, dan menyuruh kepada kebaikan dan melarang terhadap keburukan. (3:105)

Sebagai contoh, saya akan mengulas salah satu ajaran Islam yang mendalam tentang hubungan fundamental dari perkembangan moral dan kemerosotannya. Ini adalah ayat yang saya bacakan di awal. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat; dan melarang dari perbuatan keji, dan hal yang tidak disenangi, dan memberontak.  Dia memberi kamu nasihat supaya kamu mengambil pelajaran. (Q.S 16:91)

Menjelaskan ayat ini Hadhrat Khalifatul Masih II ra bersabda:

Ayat ini berisi tiga perintah dan tiga larangan yang secara jelas berhubungan dengan tahap-tahap perkembangan akhlak dan rohani manusia. Di sisi positif yaitu memerintahkan berlaku adil, berbuat baik kepada orang lain dan kebaikan kepada kerabat, dan dari sisi negatif yaitu melarang perbuatan keji, perilaku jahat dan pemberontakan. Adl (keadilan) menyiratkan bahwa seseorang harus memperlakukan orang lain sebagaimana ia diperlakukan oleh mereka. Lebih tinggi dari adil adalah Ihsan, dimana seseorang harus berbuat baik kepada orang lain tanpa memandang apa jenis kebaikan yang dia peroleh dari mereka… tahap terakhir dan paling tinggi dari perkembangan akhlak adalah ita’i dzil qurba (memberi seperti kerabat), dimana orang beriman diharapkan berbuat baik kepada orang lain sebagai hasil dorongan nurani laksana seorang ibu yang mencintai anak-anaknya yang muncul dari dorongan alami. Setelah seorang mukmin berhasil mencapai tahap ini, lengkaplah sudah perkembangan akhlaknya. Degradasi moral dapat diidentifikasi dengan tiga kata yaitu fahsya (perbuatan keji), munkar (kejahatan nyata) dan baghyi (pelanggaran). Fahsya merujuk pada perbuatan buruk yang tentangnya hanya diketahui oleh si pelaku, sedangkan munkar menunjuk kepada kejahatan lain dimana orang lain juga menjadi saksi dan mencelanya, meskipun mungkin mereka tidak menderita kerugian secara langsung atau hak-hak mereka menjadi terganggu oleh perbuatan tersebut. Sedangkan Baghyi meliputi semua keburukan dan kejahatan yang tidak hanya terlihat, terasa, dan dicela oleh orang lain bahkan juga merugikan mereka secara langsung. Ketiga kata sederhana itu mencakup segala keburukan yang dapat dikhayalkan [oleh manusia].

Perintah dan pengetahuan tentang sifat manusia yang sangatlah mendalam dan penting sehingga ini selalu dibacakan pada setiap ibadah shalat jumat pada bagian kedua khutbah supaya jangan sampai kita lupa. Ini juga menunjukkan bahwa Islam sangat bertumpu pada sistem peringatan, karena manusia secara alaminya adalah pelupa.

Kerangka Mencegah Degradasi Moral

Sekarang saya akan menerapkan Filsafat dan Ajaran Islam pada suatu kerangka khusus guna mencegah kemorosotan moral. Sebagaimana individu dan keluarga adalah pondasi dasar dari suatu masyarakat yaitu individu dan keluarga, maka pondasi dasar bagi pencegahan degradasi moral adalah pemeliharaan akhlak dan integritas individu dan kemudian selanjutnya adalah keluarga.

Individu

Menurut Al-Qur’an, akar penyebab dari segala kejahatan adalah syirik (yaitu mempersekutukan sesuatu dengan Allah). Untuk memelihara akhlak indvidual, Allah taala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Tuhan engkau telah memerintahkan supaya jangan menyembah sesuatu selain kepada-Nya.. (17:24)

Dalam menjelaskan ayat ini, Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengatakan bahwa syirik dapat membuat karam akhlak dan rohani manusia. Keyakinan terhadap Tauhid Ilahi merupakan bibit yang darinya tumbuh semua kebajikan, dan ketiada keyakinan pada Tauhid Ilahi disana bersembunyi akar dari segala dosa. Kita saksikan banyak orang yang menyatakan bahwa mereka percaya pada Tuhan yang Maha Tunggal akan tetapi mereka masih juga berbuat dosa. Dalam menjelaskan paradoks ini, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis:

“Beriman itu artinya menerima sesuatu berdasarkan itikad baik, tetapi makrifat hakiki adalah ketika ia benar-benar merasakan keyakinan tersebut. Tidaklah mungkin bagi suatu ma’rifat hakiki dan dosa bermukim bersama sama dalam satu kalbu, sama sebagaimana tidak mungkinnya bagi siang dan malam terjadi dalam satu waktu.” (Bagaimana Terbebas dari Dosa, MGA)

Mengenai syirik Hadhrat Masih Mau’ud as menulis:

“Siapapun yang mengagung-agungkan rencana-rencana, kejahatan, rancangan-rancangan cerdik dirinya sendiri sebagaimana seharusnya hanya mengagungkan Allah, atau ia bergantung kepada orang lain sebagaimana seharusnya ia bergantung kepada Allah, atau memuja ego pribadi sebagaimana seharusnya ia memuja Allah, dalam semua kondisi seperti itu ia adalah penyembah berhala dalam pandangan Allah Taala (Siraj-ud-Din ‘Isa’i ke Char…)

Dalam hal ini, Hazrat Khalifatul Masih II ra mengatakan: Mempersekutukan siapapun baik dalam hal nama, tindakan atau penyembahan kepada Allah merupakan syirik, dan melaksanakan semua perbuatan baik semata-mata demi meraih keridhaan Allah inilah yang disebut ibadah.

Memperingatkan terhadap bahaya Syirik ini, Hadhrat Khalifatul Masih V bersabda:

Diantara penyakit yang menyerang tanpa kita sadari adalah syirik. Bahkan syirik yang hanya sehalus noda pun tetap tidak dapat diterima oleh Allah. Seorang Muslim yang mengaku berpegang teguh pada Tauhid Ilahi, perlu memahami tentang kehalusan konsep Tauhid Ilahi dan halusnya syirik, dan hendaklah sangat berhati-hati di dunia yang berkembang dengan cepatnya. (Syarat-syarat Baiat)

Jadi langkah pertama dalam memelihara akhlak individu adalah adanya keyakinan pada Tauhid Ilahi dan kebencian terhadap syirik.

Langkah kedua dalam memelihara akhlak individu adalah menunaikan kewajibannya terhadap kedua orang tuanya. Allah Taala berfirman:

Dan Tuhan engkau telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain kepada-Nya, dan berbuat baiklah terhadap ibu-bapak… (17:24)

Hadhrat Khalifatul Masih II ra menyatakan bahwa orang tuanyalah yang pertama kali mengarahkan perhatian manusia kepada Allah dan melalui cermin orangtualah sifat-sifat Ilahi terpantul dan skala kecil manusia dinampakkan ungkapannya secara amaliah… manusia diberitahu bahwa karena tidak mungkin bagi kita untuk membayar lunas semua nikmat-nikmat Allah, setidaknya ia harus menghindarkan diri dari syirik. Namun, dalam kaitan dengan orangtuanya, seseorang dapat membalas cinta dan kebaikan mereka, meskipun sangat tidak memadai. Oleh karenanya ia diperintahkan agar bersikap lemah lembut dan murah hati kepada mereka.

Langkah ketiga dalam memelihara akhlak individu adalah menunaikan kewajibannya terhadap sanak saudara, fakir miskin dan musafir dan pembelanjaan harta kekayaannya secara tepat. Allah berfirman:

“Dan berikanlah kepada kaum kerabat haknya, dan kepada fakir-miskin dan orang musafir, dan janganlah engkau menghambur-hamburkan secara boros. (17:27)

Keluarga

Untuk memelihara akhlak dan integritas keluarga, Islam memberikan etika yang lengkap. Keluarga Islami yang ideal dimulai dari pernikahan yang harmonis antara seorang laki-laki beriman dengan perempuan beriman juga dimana puncaknya melahirkan anak-anak yang beriman pula. Untuk dapat berhasil mengarungi bahtera rumah tangga ini, Islam telah menentukan peran dan tanggung jawab dari pasangan yang menikah sebagai pasangan suami istri dan sebagai orang tua.

Mengenai pasangan suami istri, Allah mengingatkan:

Laki-laki itu pelindung bagi perempuan-perempuan… perempuan-perempuan saleh ialah yang taat dan menjaga rahasia- rahasia suami mereka dari apa-apa yang telah dilindungi Allah .. (4:35)

Qowaamun artinya adalah pemelihara, pelindung, atau pemimpin suatu urusan. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa suami bertanggungjawab secara fisik, akhlak, dan rohani istri dan anak-anak mereka. Suami seperti itu hanya dapat menjadi qowaamun jika istri mereka saling bekerjasama dan melindungi mereka dengan cara menjaga kepercayaan mereka.

Mengenai pasangan suami istri sebagai orang tua, Allah taala berfirman:

Hai, orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api… (66:7)

Jadi sebagai orang tua yang beriman ia bertanggungjawab untuk berupaya kuat dalam melindungi diri mereka dan keluarga mereka dari perbuatan yang melanggar batas akhlak manusiawi yang diperintahkan oleh Allah. Misalnya Allah taala memerintahkan:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan… (17: 32)

Dalam menjelaskan ayat ini, Hadhrat Khalifatul Masih II ra menjelaskan:

“Orang tua yang kikir, yang tidak memberikan pendidikan yang semestinya (pendidikan umum, akhlak, dan agama), makanan dan pakaian untuk anak-anak mereka, pada dasarnya, mereka berkontribusi bagi kematian jasmani dan akhlak mereka.”

Solusi Islam

Sekarang, saya akan menjelaskan beberapa tips Islam yang sederhana yang dapat kita terapkan setiap hari untuk menyelamatkan kita dan orang lain dari degradasi moral. Sebagai prinsip umum, Islam menyatakan bahwa:

Janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan” (2:169)

Siapakah setan itu? setan artinya pemberontak dan seseorang yang melampaui batas atau melewati batas-batas kewajaran. Jadi untuk melindungi diri dari setiap kelemahan akhlak, maka kita jangan mengikuti orang-orang yang melampaui batas-batas yang ditetapkan oleh syariat Islam, melainkan kita harus mengikuti suri teladan dari Rasulullah saw.

Dalam konteks ini, pengaruh dari teman-teman sepermainan memiliki dampak yang signifikan. Memang pengaruh teman-teman anak kita terkadang hal itu diluar kendali kita, akan tetapi memilih teman yang tepat sepenuhnya ada dalam kendali kita. Kita harus berhati-hati dalam dalam memilih teman-teman dan rekan, Allah Taala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (9: 119)

Nabi Muhammad saw mendefinisikan teman yang baik itu adalah seorang yang dengan hanya memandangnya mengingatkan kita kepada Allah taala, yang percakapannya meningkatkan pengetahuan dan perbuatannya mengingatkan kita akan akhirat. (HR. Bukhari)

Dalam membangun pertemanan, kita harus memiliki tujuan, dan kita semua memiliki kemampuan untuk menjadi mereka yang bila orang lain memandangnya mengingatkan mereka kepada Allah, yang dengan mendengar percakapannya dapat meningkatkan pengetahuan dan yang amal perbuatannya mengingatkan orang lain kepada akhirat. Sudah barang tentu, dalam hal profesi dan pendidikan kita tidak dapat memiliki pilihan yang cukup, tetapi teman yang shaleh harus menjadi aturan standar kita.

Kita bisa mendapatkan pergaulan dengan orang-orang saleh jika kita secara teratur datang ke masjid kita untuk shalat dan kegiatan-kegiatan jemaat atau badan-badan lainnya. Shalat, khususnya shalat berjamaah, sangat berperan penting dalam mencegah kemerosotan akhlak sebagaimana Allah taala berfirman:

“Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. (29: 46)

Demikian pula kita dapat membangun pergaulan dengan orang shaleh jika kita sering menonton MTA.

Yang terakhir adalah istighfar, yang merupakan tameng Islam utama melawan degradasi moral. Istighfar merupakan doa yang paling ampuh dalam pertobatan dan pengampunan dosa-dosa kita yang telah lampau serta perlindungan dari potensi-potensi perbuatan dosa dimasa yang akan datang.

Kesimpulan

Singkatnya, Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki pedoman yang lengkap dan sempurna dalam mencegah degradasi moral. Namun orang lain dapat saja mempertanyakan mengapa kita saksikan adanya degradasi moral dalam Islam? Jawabannya adalah bahwa panduan-panduan Islam hanya berfaedah bagi orang yang bertakwa dan percaya kepada akhirat, Allah taala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami telah menampak- kan indah bagi mereka amal mereka, maka mereka itu berkelana bingung. (27: 5-6)

Menjelaskan hal ini, Hadhrat Khalifatul Masih II menyatakan:

“Telah menjadi hukum alam apabila manusia melangkah menuju tidak kejahatan, karena beranggapan bahwa ia tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang telah ia perbuat, maka ia mulai menjustifikasi perbuatannya itu sebagai sesuatu yang baik dan tepat adanya.

Akhirat umumnya mengacu pada kehidupan sesudah mati. Tetapi dalam membuat suatu keputusan dalam keseharian kita, jika kita melihat kepada dampak jangka panjang dari pilihan-pilihan kita alih-alih kepuasan dan manfaat sesaat, kita dapat menyelamatkan diri kita dari banyak kedukaan. Ukuran benar dan salah serta potensi untuk menjadi baik telah tertanam di dalam DNA kita. Allah berfirman:

Dan  demi jiwa dan penyempurnaannya, Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya, Sungguh, beruntunglah orang yang mensucikannya, Dan tentu binasalah orang yang mengotorinya. (91: 8-11)

Menejelaskan ayat ini, Hadhrat Khalifatul Masih II ra menjelaskan:

“Allah telah menanamkan dalam fitrat manusia suatu naluri [untuk membedakan] apa yang baik dan apa yang buruk dan telah difirmankan bahwa ia dapat mencapai kesempurnaan rohani dengan menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk dan salah dan memilih sesuatu yang baik dan benar.

Sebagai pembawa obor Islam, maka ini adalah kewajiban pokok kita untuk mencegah terjadinya degradasi moral dalam masyarakat kita sehingga kita dapat menarik orang lain kepada keindahan Islam. Aamiin.


Sumber        : Alislam.org
Penerjemah: Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor          : Abdul Mukhlis Ahmad

 

(Visited 84 times, 1 visits today)